.
.
Keterangan :
Naruto, Menma, and friends : 17 tahun (21 tahun)
Sasuke : 37 tahun (41 tahun)
Yuki, Yukio : 4 tahun
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Mama wa Doukyuusei © Azuma Yuki
'Mama' wa Doukyuusei : SasuNaru version © Heiwajima Shizaya
Chap 10 : It's not Our Ending
...
"Itu...ano... Uchiha-san.. Na..." sebelum Haruno menyelesaikan perkataannya yang gugup itu Sasuke langsung memotong, "Dapat lebih jelas Haruno-san?" dengan kalimat yang dengin, Haruno hanya dapat panas dingin.
"Na..Naruto-chan masuk ruang UGD sekarang Uchiha-san, ia sedang ditangani oleh Shizune-nee." jelas Haruno yang sanggup meruntuhkan ekspresi datar Sasuke.
"Kenapa dia Haruno?" tanya Sasuke kalut. Haruno menggeleng pelan, dan Sasuke mendecih seblum ia berlari dengan cepat kearah UGD. Haruno Sakura memang termasuk suster baru namun ia sudah tak asing lagi dengan bocah hyper Naruto yang sering kesini. Sedang Tsunade dan Orochimaru yang secara tak langsung mendangar perkataan Sakura langsung menysul Sasuke sebelum berucap kepada Sakura, "Sakura, kau ambil peralatan Sasuke sekarang." ucapnya sambil menutup lab dan bergegas ke UGD bersama Orochimaru, meraka benar-benar khawatir. Ini kah arti kekacauan yang sempat dirasa Sasuke tadi?
"Bertahanlah Dobe." Lirih Sasuke disela larinya, tak memperdulikan pandangan orang dan air mata yang mengalir kecil.
.
.
...
"Yuki, Yukio, dimana kalian nak?" panggil suara yang terdengar sangat keibuan itu, mencari keberadaan kedua anaknya yang sangat suka sekali bermain petak umpet terutama dengannya didalam rumah.
"Hihi Kaa-chan gak akan tau kita dicini ne kan Nii-tan?" suara cekikikan kecil yang terdengar imut tersebut menyadarkan sang ibu, 'oh mereka masih belum pandai sembunyi ternyata.' batinnya geli.
"Hihi ne Yuki-chan, Kaa-chan pacti keculitan mencali kita, kita kan jago cembunyinya." Tambah yang satunya lagi yang dipanggil Nii-tan tersebut dengan percaya dirinya.
"Iya, bialin caja Kaa-chan keculitan mencali kita, abic maca kita dilalang makan pelmen cih, ugh!" Gerutu suara yang pertama tadi yang kini terdengar kesal dan dibalas gerutuan yang lain dengan sama kesalnya juga.
"Iya, padahal kemalin kan kita makan cedikit caja, Kaa-chan pelit ih."
Sang ibu yang mendengar pembicaraan kedua anaknya yang ternyata bersembunyi dibawah meja makan membuatnya tersenyum geli, 'kerjain sedikit ah.' pikirnya jahil.
"Hiks... hiks... Yuki-chan, Yukio-kun hiks... kalian dimana nak? Hiks... Kaa-chan hiks... jangan tinggalin Kaa-chan~ hiks~" lirih sang ibu dengan suara menangis yang terdengar pilu, akting menggoda keduanya.
Mendengar lirihan pilu (yang akting) sang ibu membuat dua bocah yang sedari tadi terkikik terdiam sebentar, air mata pun telah mengenang dibocah yang berambut pendek dengan bibir yang bergetar sedang yang satunya lagi menatap kembarannya dengan sama sedihnya.
"HWEEEE KAA-CHAAAAN JANGAN NAGIS HWEEEE~"
Terkisap mendengar tangisan kedua anaknya yang bersamaan setelah muncul dari bawah kolong meja makan tersebut membuat sang ibu menyeringai menang. Kena kalian bocah nakal! Pikirnya sambil menyeringai senang
"Yuki~ Yukio~ anak pintar, akhirnya kalian keluar juga~"
Mendengar perkataan sang ibu yang ceria dan tak ada air mata sedikitpun yang terlihat membuat kedua anak berkulit putih dengan yang satu berambut pirang dan satunya lagi berambut hitam terdiam, menyesali kebodohan mereka yang entah sudah keberapa kali.
'Cial dikeljain Kaa-chan lagi.' Batin keduanya kesal. Pasalnya ini bukanlah yang pertama kali, melainkan sudah yang kesekian kali dan masih kena untuk dikerjai lagi oleh ibunya.
Gagal sudah acara mengerjain ibunya, yang ada malah dikerjain balik, padahal niat mereka kan demi mendapat asupan permen hari ini. ukh!
"Kaa-chan~ pelmen yah? Caaatuuu~ aja?" pinta bocah perempuan kecil dengan rambut yang diikat dua tersebut, memohon dengan puppy eyes ditambah tangan yang menunjuk jari telunjuknya, menunjukkan ia benar-benar hanya minta satu. Sedang bocah satunya lagi, sang kakak hanya mengangguk pelan membenarkan permintaan mereka.
"Tidak! Jika kalian masih tidak mau sikat gigi setelah makan permen."
"OKAY! Kami akan cikat gigi, Kaa-chan tenang caja yah?" kali ini sang kakak yang membujuk dengan mimik yang sangat lucu dan nada yang seolah-olah meyakinkan sang ibu bahwa mereka akan sikat gigi dengan rajin.
Sang ibu terlihat berfikir sebentar sebelum akhirnya mengangguk pelan dengan sama lucunya. Tak tega juga melihat kedua anak kembarnya memelas seperti ini, toh benar-benar hanya satu saja kan?
"Hum, baiklah asal kalian sikat gigi okay~?"
"Cip! Cikat gigi mah gampang~"
"Gampang sih gampang tapi kenapa kalian malas sekali sih, ne Yukio yuki?" ucap sang ibu gemas akan tingkah sok anak-anaknya ini, yang hanya dibalas dengan cengiran tak berdosa keduanya.
"Huh! Padahal ayah dan kakak kalian tak suka hal yang manis-manis, tapi kenapa kalian begitu tergila-gila sih." Meski gumaman sarat akan nada gemas itu pelan namun masih terdengar oleh salah satu anak kembarnya, sang kakak.
"Kan ikutin Kaa-chan." Cengirnya yang dibalas dengan cengiran sang ibu juga.
"Hehehe iya yah."
.
.
...
Menma sedari tadi tak mampu menahan isakan yang lolos dari bibirnya meski terdengar begitu pelan, ia seakan menangis dalam diam. Tangannya ia katupkan ke dada berdoa akan keselamatan sang ibu, ya Tuhan ia tak mau kehilangan ibu untuk kedua kalinya lagi, pikirnya merana.
'Kaa-chan, Menma tak ingin kehilangan Kaa-san lagi.' Batinnya kepada sang ibu disurga, berharap ibunya dapat memberitahu ke Tuhan bahwa cukup sekali saja ia kehilangan figur ibu.
Lain Menma lain Sasuke, ia sedari tadi hanya diam saja, tak menyahut apapun yang disekitarnya, ia bahkan tak menenangkan sang anak yang meski ia ketahui sedang menangis dalam diam, tidak dia tidak marah kepada sang anak, dia hanya... shock, yah shock yang teramat. Ini kah arti perasaan gelisahnya sedari tadi pagi? Ini kah arti ucapan hati-hatinya? Pikirnya mengerang.
Bertanya kenapa bukan Sasuke yang menolong sang 'istri' berjuang didalam? Jawabannya karena Tsunade melarang. Tsunade menyuruh Sasuke diam dan menunggu dalam doa, dia paham akan mental dokter satu ini yang sedang shock berat dan pastinya bukan akan menolong sang 'istri' dengan tanggap dan tepat malah mungkin akan menyusahkan Shizune yang sudah dari tadi didalam, maka Tsunade yang sudah lebih tenang dan Orochimaru membantu Shizune didalam.
Tiga puluh menit
Satu jam
Satu setengah jam
Dua jam
Dan
Ting!
Lampu merah didepan ruang UGD akhirnya mati, menandakannya berakhir kegiatan didalamnya, Sasuke langsung berdiri dengan sigap begitu pula Menma.
"Orochomaru-san..." lirih Sasuke saat melihat Orohimaru keluar dari pintu UGD dengan masker yang masih terpasang dan sarung tangan. Orochimaru mendekat sambil melepas maskernya, menepuk pelan pundak Sasuke.
"Dia baik-baik saja, kalian tenanglah." Ucapan Orochimaru tadi seakan air es yang mengguyur mereka, Sasuke dan Menma mendesah lega, dan Menma sendiri langsung terduduk sedang Sasuke seakan ingin bertanya kembali.
Orochimaru yang paham langsung menjelaskan, "Ia hanya mengalami benturan yang cukup kencang, sehingga mengalami luka robek didahi yang perlu dijahit hingga 5 jahitan." Perkataan Orochimaru membuat Sasuke shock, astaga dahi 'istri'nya robek?
Dokter berpengalaman dan telah diakui dunia itu tersenyum pelan, "Dia sudah baikkan, hanya saja ia mengalami shock pada otaknya yang mungkin akan mengakibatkannya tidak akan sadarkan diri selama 3 atau 7 hari, kalian tenanglah tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tsunade sedang didalam membersihkan Naru-chan." Jelasnya lagi.
Menma hanya mengangguk pelan, ia masih sedih meski sudah tenang, begitu pula Sasuke. Mereka diizinkan masuk setelah Tsunade keluar. Kelegaan terpancar diraut wajah mereka semua. Syukurlah tak ada yang mengkhawatirkan.
.
...
"Sa..sukhe?" suara yang terdengar parau itu membuat Sasuke sadar dari tidurnya, ia yang medengar suara lirihan 'istrinya' itu segera memandang wajah Naruto yang terlihat begitu menyedihkan. Tertidur selama 5 hari membuatnya menjadi sedkit pucat dan suaranya begitu parau. Mengerti keadaan 'istri'nya, Sasuke dengan tanggap membari air minum dengan sedotan kepada Naruto.
"Sa..." belum sempat Naruto berkata kembali bibirnya sudah dibungkam duluan dengan benda kenyal yang lembab, bibir Sasuke. Sasuke terus menyesap rindunya akan keberadaan makhluk mungil nan manis didepannya ini melalui cumbuannya yang membuatnya selama seminggu kebelakang bagai orang stress dengan pekerjaan yang terlantar. Dari penelitiannya yang langsung diambil alih oleh Tsunade dan Orochimaru, tugasnya sebagai dokter pun dialihkan ke Shizune yang meski hanya perawat sekaligus asistennya ternyata sama baiknya dengan dokter standar, rumahnya yang berantakan diambil alih oleh Konan, pembantunya, dan Menma yang ia terlantarkan, meski Menma paham akan hal itu dan sama kacaunya.
Pungutan penuh rindu itu terlepas dengan begitu pelan, menorehkan semburat samar dipipi tan pucat Naruto. Beruntung kali ini mereka hanya ada berdua, jadwal pengecekkan sejam lagi, Menma masih sekolah, sedang Tsunade dan Orochimaru masih dilab khusus mereka.
"Dobe, berhenti membuatku khawatir." Sasuke berkata pelan, tanpa sadar dua tetes air matanya jatuh tepat ditangan Naruto. Sedang Naruto iba melihat sang suami terlihat begitu kacau, ia mengusap pelan kedua pipi Sasuke, menatap dengan mata penuh meminta maaf.
"Ma..af, akhu tak bermaksud Te..meh" ucapnya masih sedikit parau dan terbata, efek tertidur selama satu minggu kurang. Ia kecup pipi Sasuke pelan, membuahkan kecupan lainnya dibibirnya kembali, menyesap kerinduan dari Sasuke yang seakan masih kurang dari cumbuan yang pertama dan menyalurkan perminta maafan mereka.
"Kaa-san?"
Sebuah suara yang diyakini milik Menma membuat pasangan pasutri tersebut melepas pungutan kedua mereka. Sasuke mendecih tak suka karena acara kangen-kangenannya diganggu, sedang Menma sendiri tak peduli, ia hanya ingin 'ibu'nya sekarang maka dengan segera ia menghambur kedalam pelukan 'ibu'nya.
"Hiks... Kaa-san..." lirihnya pelan dalam dekapan Naruto yang membuat Sasuke mundur sebentar. Ia tak peduli lagi terlihat begitu kekanakan, ia hanya merasa bersyukur karena 'ibu'nya telah sadar, sumpah ia takut jika akan kehilangan untuk kedua kalinya lagi. Ia pasti tak akan sanggup jika hal itu terjadi.
"Sstt, Kaa-san disini." Ucap Naruto menenangkan, sekuat tenaga menghilangkan suara parau dan terbatanya, sambil mengelus pelan dan dengan sayang puncak kepala Menma yang terbenam dibahunya.
"Ekhem, Menma kau bolos?" entah itu pertanyaan memang ingin mengetahui kenapa anaknya ada disini saat masih jam sekolah atau karena ia merasa iritasi akan kemesraan –baginya– ibu dan anak itu.
Mengusap pelan matanya yang telah basah, Menma mempoutkan bibirnya kedepan dan mengelembungkan pipinya sebelah, yang sukses membuat Naruto terkikik kecil dan mencubit pipinya.
"Aku hanya ingin melihat Kaa-san, siapa tahu ia sendirian disini." Alasan Menma, tak senang jika dikatakan membolos. Ia kan rindu sama ibunya ini.
"Hn." Balas Sasuke mengerti, 'Ya sudah lah sekali-kali membolos tak apa,' batin Sasuke mengizinkan.
Sedang Naruto kini tertawa pelan meski masih berbaring, kepalanya bisa pusing jika ia terduduk sekarang. Ia tak tahan akan reaksi ayah dan anak ini yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.
.
.
...
"WELCOME HOME!" suara sambutan yang tak terlalu meriah tersebut membuat Naruto tersenyum diatas korsi rodanya dan Sasuke –yang mendorong kursi roda tersebut– juga tersenyum samar.
Ino, Menma, Gaara, Neji, Shikamaru menyambut kepulangan mereka –Sasuke dan NAruto– setelah perawatan Naruto di rumah sakit selama sepuluh hari dengan beberapa hidangan dan cake kecil.
Yah mereka memang melakukannya berlima, Neji sudah tahu dari Gaara pastinya, sedang teman mereka yang lain karena masih tak mengetahui apa-apa (meski beberapa kali menjenguk, mereka tahunya Naruto yatim piatu dengan Sasuke sebagai dokter yang menanganinya) jadi lah hanya mereka berlima yang mengadakan pesta kecil-kecilan ini.
"Arigatou na Minna~" ucap riang Naruto.
"Naru-chan kami kangen~" ucap manja Ino sambil ingin memeluk yang sukses membuat Sasuke mengeluarkan aura tak enaknya dan Ino mundur perlahan tak jadi memeluk. Hehe ia masih sayang nyawa ternyata.
"Ehehe, lebih baik aku siapkan minum untuk kalian~" kata Ino canggung dan langsung ngibrit kedapur. Hiii aura Sasuke sangat mencekam bagi Ino
"Suke, tenanglah dia temanku!" gerutu Naruto yang sadar akan aura seram Sasuke dan ia tak suka akan sifat Sasuke yang sangat possesif ini –setidaknya bukan didepan teman-temannya–, ia poutkan bibirnya pelan. Tak sadar itu adalah undangan secara tak langsung.
Cup!
"Berhenti membuatku tergoda, Dobe." Tak peduli akan teman-teman anak dan istrinya Sasuke nekat mencium bibir Naruto, membuat mereka yang melihat berpura-pura tak tahu meski dengan rona yang kentara di wajah mereka.
"TEME!" meski ia masih lemah dan terkadang pusing ia masih dapat berteriak kencang rupanya.
Dasar tak tahu situasi!
.
.
...
Sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan terlewat begitu saja dengan nyamannya oleh keluarga Uchiha ini, kesehatan Naruto yang telah berangsur-angsur membaik dan rahasia kecil mereka yang masih terjaga membuat mereka semakin bahagia. Hidup itu indah bukan jika damai seperti ini?
Eits namun ternyata masih ada satu hal lagi yang menunggu dan mengganggu kedamaian mereka. UJIAN KELULUSAN! Yap! Ujian yang bagai momok menakutkan bagi seluruh siswa tingkat akhir seperti mereka, well sejujurnya ini bukan masalah hal besar sih bagi Naruto dan Menma yang memang terkenal akan kepintaran mereka, namun harus menjadi guru privat teman-temannya selama satu bulan terakhirlah yang membuat mereka bertiga –termasuk Shikamaru– sedikit kerepotan, mana ada yang susah mengerti lagi.
Dan inilah D-day pertama mereka.
"MENMA! CEPAT TURUN, KAU TAK INGIN TERLAMBAT BUKAN?" teriakkan Naruto dipagi buta membuat Menma ngacir kebawah dengan terburu-buru, terlihat tasnya yang belum tertutup sepenuhnya, celananya sendiri masih belum terpasang sempurna bahkan dasinya pun belum terpasang, masil mengelantung dengan apik dilehernya.
"Kaa-san~ ini masih terlalu pagi~" gerutu Menma, tak suka acara bersiap-siapnya terganggu oleh teriakkan super ibunya. Dan kini ia harus turun dengan keadaan super berantakan, karena tak tahan akan teriakan sang ibu sedari tadi.
"Terlalu pagi heum?" nada pelan namun mengancam itu membuat Menma menuguk ludah. "Lihat jam dengan benar, tiga puluh menit lagi kita masuk, Menma." Lanjut Naruto pasrah, astaga anak ini, pikirnya lelah.
"HEH? APA? Ta..tapi jam dikamar masih satu jam lagi?" katanya shock.
"Kaa-sanmu benar Menma, kalian masuk tiga puluh menit lagi, sebaiknya kau rapikan seragammu dengan cepat." Perkataan Sasuke dari belakangnya –baru selesai mandi namun sudah rapi kok– membuat Menma membeku. Oh shit jam di kamarnya telat tiga puluh menit ternyata! Bodohnya kau Menma!
Dengan segera Menma memasang seragamnya asal, ia tidak mau terlambat jadi lebih baik ia pakai asal yang penting terpasang dengan benar, bisa repot urusannya jika telat saat ujian iya kalau masih di izinkan masuk, nah jika tidak? Naruto dan Sasuke yang melihat hanya menggeleng-gelang pasrah, dan mereka melanjutkan makannya seakan tak peduli lagi.
"BERES!" ucap Menma riang akhirnya yang bertepatan akan suapan terakhir Naruto dan Sasuke, kompak.
"Ayo~ Kaa-san, kita berangkat!" seru Menma riang, yang membuahkan cubitan pelan dari Naruto.
"Sarapanmu?"
"Dimobil saja, ayo Tou-san antar kami~" kali ini Menma menarik Sasuke, sebelum mengambil dua potong roti dan meminum susunya dalam satu kali teguk.
Naruto hanya –dan kembali– menggeleng pasrah, sejak kecelakaannya yang lalu, kadang sifat Menma akan begitu manjanya terhadapnya, melupakan sosoknya yang seorang Uchiha dan sebentar lagi akan berusia 18 tahun.
.
.
...
Sret sret sret
Bunyi lembaran-lembaran terdengar begitu nyaring, padahal kini waktu menujukkan pukul 00.00 yang seharusnya ia gunakan untuk istirahat. Naruto, sang pelaku masih saja asik belajar dikarenakan besok adalah ujian sejarah Jepang, yang sebenarnya tak ia kuasai dengan begitu baik makanya malam ini ia begitu giat belajar, hari pertama tadi dapat ia lalui dengan baik begitu pula Menma. Namun besok adalah pertempuran yang sesungguhnya bagi Naruto, sejarah adalah pelajaran yang malas ia pelajari. Hey untuk apa kau belajar hal yang telah lalu? Belum lagi pembawaan gurunya yang seperti mendongeng saja! Murid serajin ia pun akan mengantuk jika didongengi oleh cerita yang jauh sudah ada sebelum ia terbentuk.
Sasuke yang sudah terlelap pun terbangun begitu saja karena terganggu oleh gesekan kertas yang dibuka Naruto, meski sudah dengan hati-hati dibukanya. Menguap pelan ia bangun dari ranjang mereka dan mendekap dari belakang punggung Naruto. Menyesap harum citrus sang 'istri' yang masih saja menguar.
"Istirahatlah, kau bisa mengantuk besok." Perintah Sasuke yang dibalas gelengan meski Naruto sendiri telah menguap beberapa kali. Ia belum sepenuhnya paham.
Cup!
Dikecupnya pelan pipi tan Naruto, sebelum ia kembali berbisik.
"Atau kau memilih memberiku jatah malam ini hn?"
Mendengar ucapan pervert sang suami membuat Naruto meremang dan dengan segera menutup bukunya. Dengan nyengir kecil ia berkata, "OK! Ayo tidur." Sasuke mendengus geli akan polosnya 'istri'nya ini. Mana mungkin ia menyerang sang istri saat ia akan ujian besok? Ia masih waras lagi pula.
"Ku buatkan susu untukmu, kau tunggulah sebentar." Kata Sasuke yang hanya dibalas anggukkan pelan oleh Naruto, ia juga sudah lelah dan susu sepertinya baik untuknya.
Tak lama setelah Sasuke kedapur, ia kini membawa segelas susu coklat untuk Naruto. Naruto menerima dengan senang, semoga saja dengan adanya susu semakin membuatnya mudah mengingat semua yang ia pelajari sedari tadi dan mudah terlelap.
Seteguk
Dua teguk
Tiga teguk
Naruto sedikit mengerenyit hingga semuanya tandas ia minum. Ia menyerahkan gelas kosong itu dan langsung ditaruh oleh Sasuke dinakas.
"Kenapa rasanya sedikit aneh yah?" gumam pelan Naruto, Sasuke yang mendengar hanya tersenyum samar.
"Hanya perasaan mu saja, sekarang ayo kita tidur." Tak menunggu balasan, Sasuke mendorong lembut Naruto agar berbaring, ia peluk erat dari samping istrinya itu. Membuat mereka berdua dengan cepat terlelap kedalam mimpi.
.
.
...
Waktu berputar sangat cepat bagi mereka, Menma dan Naruto, tahu-tahu saja mereka telah lulus dan kini mereka baru saja pulang dari acara perpisahan sekolah mereka. Tiga bulan lagi mereka akan bersiap menuju kebangku kuliahan yang disambut semangat oleh Menma, ia tak sabar mejadi dokter. Sedang Naruto masih bingung ingin lanjut atau tidak.
"Ukh!" ringisan pelan itu berasal dari Naruto.
"Kaa-san kau kenapa?" tanya Menma begitu khawatir melihat Ibunya meringis sakit memegang perutnya.
"E..entahlah, rasanya sakit sekalihh." Naruto kembali meringis, bahkan kini ia sudah terduduk padahal mereka masih didepan pintu.
Sasuke yang baru selesai memarkikan mobil langsung mendekat.
"Kau kenapa Dobe? Ada yang sakit?" tanyanya penuh khawatir apa lagi melihat muka Naruto telah pucat. Naruto hanya mengaguk pelan, sungguh sakitnya amat terasa kini.
Sasuke yang paham segera menggendong sang 'istri' kekamar. Ia menidurkannya dan menyuruh Menma mengambil air putih didapur.
"Kaa-san kenapa Tou-san?" tanya Menma saat telah menyodorkan air minum.
"Bukan hal serius, hanya sakit perut biasa, kau kekamar lah ganti baju biar Tou-san yang menjaga Kaa-sanmu." Perintah Sasuke yang meski ingin dibantah namun tetap dilaksanakan oleh Menma.
'Mungkinkan?' batin Sasuke menyeringai senang.
.
.
...
Sudah dua minggu dari rasa sakit diperut Naruto kemarin yang tanpa sebab –dan syukurnya telah berangsur membaik– kini ia sedang asik menonton. Namun ia masih tak dapat bergerak dengan tenang, bagaimana bisa jika bergerak sedikit saja bokongnya akan meronta kesakitan? Ini semua akibat keganasan suaminya semalam!
Memang suaminya itu telah puasa selama kurang dari sebulan, karena perpisahan dan sakit perut Naruto yang tanpa sebab tersebut, tapi haruskah ia membalas dengan 10 ronde sekaligus hingga pukul 6 pagi? Bahkan ia tadi baru bangun pukul 11 siang yang untungnya Konan belum pulang dan dapat diminta tolong memasak makan siang. Ia saja kedepan tivi tadi dibantu sang anak yang kini sudah kembali kedalam kamarnya. Entah bermain game atau apa.
'Ugh teme sialan.' Gerutunya pelan, sungguh kesal akan tingkah suaminya yang seenak jidat.
"Naruto-san, makan siang telah siap." Perkataan Konan membuatnya segera sadar.
"Ah, dapat kah kau panggil Menma diatas Konan-nee? Aku sedang tak enak badan sekarang." Alasan Naruto, tak mungkin kan dia bilang 'Patatku sedang sakit akibat dihajar Sasuke tadi malam Konan-ne.' bah bisa mati karena malu dia! Konan yang mengerti pun –hei dia bukan anak kecil tau! Lagi pula ia telah menikah jadi paham dong– memanggil Menma yang masih asik dikamarnya.
Dan sepertinya Naruto harus berpikir dua kali jika ingin menunda jatah sang suami.
10 ronde adalah hal tergila yang dialami Naruto selama ini, ia saja merinding jika mengingat bertapa gilanya kegiatan semalam. Belum lagi pantatnya yang nyeri dan terasa penuh ketika bangun semalam, untung saja tak robek, pikirnya.
"Tadaima."
Nah itu dia suaminya yang baru pulang, saatnya aksi ngambek, biar tau rasa dia, emang enak apa di'hajar' sampai pagi. 'Ehm enak sih tapi kan sakiiii~t.' batin Naruto meringis.
.
.
...
Hoek! hoek! hoek!
Waktu masih menunjukkan pukul 05.30 pagi dan kini Naruto sedari tadi bergumul dengan asiknya di kamar mandi, memuntahkan semua asupan makan malamnya, yang kini telah habis dan tinggal memuntahkan cairan saja.
Ia benar-benar lelah muntah-muntah begini, sedari kemarin ia tak berhenti muntah, maksudnya saat pagi ia akan muntah atau ketika mencium parfume sang suami ia pun akan muntah, entah kenapa pula ia yang memang suka manis semakin ingin makan yang manis-manis sedang makan yang lain rasanya begitu hambar dan membuatnya mual.
"Kau muntah lagi Dobe?" Sasuke tiba-tiba sudah dibelakangnya, membantu sang 'istri' muntah dengan memijit tungkuknya. Sedikit iba juga melihat betapa tersiksanya sang 'istri' sekarang.
"Kita kerumah sakit yah?" permintaan Sasuke yang dibalas gelengan Naruto.
"Kurasa ini hanya masuk angin biasa, Teme."
"Aku dokter ingat? Dan ku rasa ini bukan masuk angin biasa, mau tidak mau kau harus ke rumah sakit nanti, mengerti Dobe?" Perinta Sasuke yang terdengar absolut itu hanya dibalas anggukkan pasrah Naruto. Lagi pula ia sudah lemas untuk membalas Teme-nya ini.
"Bagus, untuk sekarang akan kuambilkan obat penghilang mual dulu." Ucap Sasuke bergegas mengambil obat tersebut dikotak P3K yang ada didekat lemari baju mereka.
Meski ia melihat Naruto kesulitan dengan muntahnya, ia tak terlihat sedih sedikitpun –hanya iba yang sangat sedikit– dan ia tersenyum bahagia sekarang.
'Akhirnya!'
.
...
"Jadi, Matsuri-san, apa maksud anda?" Naruto bertanya dengan nada pelan yang kentara sekali ia sedang linglung dan bingung. Matsuri hanya tersenyum pelan melihatnya, 'istri' dari rekan sesama dokter ini begitu imut jika sedang linglung begini.
"Selamat anda hamil sekarang Naruto-chan, tepat dua minggu usianya." Ucapan Matsuri bukan membuat Naruto semakin sadar malah semakin linglung.
"Ne, Teme, terakhir kau meniduriku aku masih pria bukan?" tanya polos Naruto tak peduli ia berkata vulgar didepan Matsuri, dokter kandungan. Tadi setelah diperiksa Tsunade, ia langsung diminta untuk periksa dengan Matsuri yang ternyata seorang dokter kandungan.
"Hn."
"Aku masih punya 'itu' kan?" kini sedkit ia sensor.
"Hn"
"aku belum mempunyai 'gunung' kan?"
Kesal akan pertanyaan yang semakin linglung tersebut Sasuke langsung memukul pelan Naruto.
"100% pria dan aku telah melihatnya sendiri." Ucapan Sasuke tersebut membuat Naruto menghela nafas lega sebelum ia menatap horor Matsuri.
"Dengarkan Matsuri-nee kalau aku ini pria jadi kemungkinan kau salah memeriksa."
Matsuri dan Sasuke menggeleng pelan, benar-benar.
"Ne, tapi kau benar-benar hamil Naru, kau tak percaya?"
"Bagaimana aku akan percaya jika Sasuke saja masih yakin aku laki-laki!" seru Naruto benar-benar shock kali ini. Hell ia pria tapi hamil? Mustahil!
"Percaya atau tidak itulah kenyataannya, Naru." Matsuri menjelaskan dengan tenang, sabar-sabar dia 'istri' dokter ternama dirumah sakit ini, sabar.
"Ta...ta-tapi.."
"Terimakasih, Matsuri-san, kami akan pulang sekarang. 'Ibu' hamil satu ini butuh perawatan." Ucapan Sasuke memotong perkataan Naruto dan langsung menyeretnya keluar, sedang Matsuri tersenyum maklum. 'Akhrinya pergi juga,' batinnya lega.
...
"TEME! Kau ini apa-apaan sih!?" geram Naruto, ia kan belum selesai bicara dengan Matsuri.
"Terima saja kalau kau itu sedang hamil Dobe." Perkataan Sasuke benar-benar membuat Naruto kesal, ingin sekali ia memuntahi suaminya ini. Eh?
"Tapi..." lirihnya pelan. Ia masih pria kan? kenapa mereka berdua ngotot kalau dirinya hamil sih?
"Akan ku jelaskan dirumah, semuanya." Perintah Sasuke sebelum menyuruhnya masuk kedalam mobil dan bergegas pulang kerumah.
.
...
Rumah mereka masih terlihat sepi, Konan sudah pulang sedang Menma tengah melakukan tes masuk kedokteran di universitas Tokyo. Mereka kini sudah sampai, dengan kesal Naruto masuk kedalam.
"Jelaskan!" perintah Naruto saat ia sudah duduk disofa besedekap di depan televisi, ia benar-benar kesal.
Tahu jika mood 'istri'nya yang tak baik, Sasuke dengan sabar duduk disampingnya, merangkul hingga membawa Naruto kedalam dekapan hangatnya dan memulai bercerita. Semuanya, dimulai dari keinginan tak bermaksud Naruto dulu, hingga penelitiannya bersama Tsunade dan puncaknya keberhasilan penelitiannya bersama Tsunade dan Orochimaru, tepat satu minggu sebelum Naruto dan Menma ujian. Serum male pregnant, sebuah serum yang diteliti dan diformulakan oleh Sasuke dan Tsunade demi terciptanya keajaiban baru, yaitu membuat seorang pria hamil. Yah pria dan ini adalah sebuah mimpi bagi seluruh pasangan gay yang memiliki darah daging sendiri. Serum yang dibuat mati-matian oleh Tsunade dan Sasuke berbekal tekat dan catatan dari mendiang Jiraiya ini adalah serum yang berfungsi untuk membentuk semacam rahim buatan didalam perut sang peminum, yang membutuhkan proses cukup menyakitkan seperti yang dialami Naruto selama dua minggu lalu –ingat akan susu yang terasa aneh bagi Naruto? Sasuke memang sengaja mencampurkan serum tersebut kedalam susu itu agar tak menimbulkan kecurigaan– sebelum akhirnya sempurna terbentuk diperutnya, meski kelahiran sang bayi yang kemungkinan besar akan lahir pada kandungan ketujuh atau jika beruntung saat sembilan bulan pas.
Naruto yang mendengar penuturan perjuangan Sasuke yang mau tak mau harus diakui karenanya pun menangis. Ia hanya ingin memeluk erat suaminya ini, sebegitu beratinya kah ia? Hingga permintaan tak bermaksudnya dulu pun dikabulkan begini? ia merasa sangat beruntung memiliki Sasuke sebagai pendamping hidupnya kini, sangat beruntung dan membahagiakan.
"Gomen." Lirih Naruto masih dalam dekapan sang suami, "Gomen membuatmu susah, Suke." Tambahnya dengan suara parau, menahan tangis.
"Sstt, kau sama sekali tak membuatku susah, kau adalah anugrah Naru." Ucap Sasuke menenangkan, ia kecup pelan kepala Naruto dan ia usap-usap pula bahu kecil yang bergetar tersebut.
"Ne, aku benar hamil Teme?" pertanyaan lugu dengan hiasan air mata yang masih mengalir kecil tersebut membuat Sasuke tersenyum lembut, ia kecup kedua mata berair tersebut.
"Ya, dan kau seutuhnya menjadi seorang Kaa-san sekarang."
Mendengar itu, Naruto yang sedari tadi tak percaya bahkan sempat menolak hanya tersenyum bahagia. Bolehkan ia bahagia kini? Tak apa jika kini ia seakan buka pria sejati, mengandung anak Sasuke adalah hal terindah baginya, jadi bolehkan ia bahagia sekarang? ia merasa ini adalah mimpi terindah dan memohon jangan dibangunkan dahulu.
Melihat binar bahagia sang istri dikedua mata biru jernihnya tersebut membuat Sasuke tak ayal tersenyum kembali, ia kecup bibir ranum itu sekilas.
"Arigatou, kau mau menerimanya, Kaa-san."
"Dengan senang hati, Tou-san."
.
.
...
Menma yang baru saja pulang dari tes kedokterannya kini ia disambut oleh sang ayah dan ibu dengan muka yang sangat bahagia. Tumben, ada apa nih? Pikirnya bingung.
"Okaeri, Nii-chan." Ucap sang ibu yang membuat Menma mengerenyit samar.
Nii-chan? Setaunya meski Sang ibu seumuran dan ia memenag lebih tua berapa bulan tetap saja tak pernah ia dipanggil Nii-chan, pikirnya bingung. Ditambah lagi sang ayah yang terus-terusan tersenyum, membuatnya merinding disko (?).
"Err, ada apa yah?" tanyanya pada akhirnya, dari pada ia menebak tidak jelas.
"Bagaimana tesmu, Menma?" tanya balik sang ayah membuatnya sedikit paham, mungkin karena tesnya? Err masa sih?
"Baik, berjalan dengan lancar."
"Kalau begitu, ayo kita rayakan~"
Menuruti permintaan ibunya yang begitu riang, kini Menma benar-benar bingung saat duduk dimeja makan yang penuh akan masakan ibunya.
"Err, ini bukan karena aku selesai tes bukan?"
Mendengar penuturan sang anak, Naruto dan Sasuke saling pandang, hingga akhirnya ayahnya berucap.
"Kau akan menjadi seorang kakak sekarang, Menma."
Menma yang baru saja akan meminum membuat gelas yang ditangannya mengambang begitu saja. Kakak? Ini bukan April fool kan?
Dengan perlahan ia taruh gelasnya kembali dan memandang serius Naruto dan Sasuke.
"Ini bukan April fool, ini juga bukan ulang tahunku dan ku yakin Kaa-san masih laki-laki meski manis, jadi bisa berhenti bercanda?"
Naruto yang mendengar Menma berkata seperti itu hanya terkikik geli, reaksinya sama seperti ia tadi pagi. Ia menggeleng pelan, "Kau tak ingin memberi selamat kepada kami?"
Menma masih mematung, ja-jadi?
"Benar, kami tak bercanda nak." Balas Sasuke kini yang sangat terlihat seklai aura kebapakannya.
"HAH?!" kini sukses sudah Menma menganga lebar.
Haruskan ia bahagia atau malah shock berkepanjangan sekarang?
.
.
...
"Tadaima." Sebuah oh tidak maksudku dua suara mengucap salam bersamaan terdengar dari pintu depan.
"OKAELIII~"
Dua anak kecil yang mendengar ada yang pulang itu berlari dengan riang, kakak dan ayahnya itu pasti. Saat dipintu mereka langsung menerjang sang tamu dengan pelukkan. Sang gadis cilik, berambut hitam kelam yang dikuncir dua dengan mata shapire namun memiliki garis rahang yang tegas memakai dress biru muda langsung memeluk sang ayah dengan begitu riangnya. Sedang kembarannya, sang kakak yang lahir 3 menit duluan, berambut pirang sedikit panjang bermata hitam dengan potongan wajah yang mirip sang ibu, manis itu memakai kaos biru dengan celana pendek langsung memeluk sang kakak.
"Wow pelan-pelan gaki!" kata sang kakak yang kerepotan menerima pelukan Yukio, sang adik laki-laki yang menerjangnya dengan pelukan hangat.
"Hihi tumben Nii-chan puyang baleng Tou-chan?" tanya Yukio dengan terkikik.
"Iya~~ Nii-tan cidak bolos kan?" selidik sang adik perempuan dengan polosnya, Yuki.
"Haha, Nii hanya pulang lebih cepat kok dan tadi mampir sebentar kerumah sakit sampai pulang bersama." Menma membalas dengan sedikit meringis, aduh sepertinya hobi bolosnya sudah ketahuan oleh dua malaikat kecil ini.
"Benelan?" Yukio bertanya saakan tak yakin, dan Menma membalas dengan anggukan mantap. Ia benar tak membolos kok, setidaknya hari ini.
"Sebaiknya kita masuk saja, kau semakin berat sekarang Yuki-chan." Perkataan Ayahnya tersebut membuat Yuki cemberut tak suka.
"UKH! Yuki gak belat Tou-chan!"
"Iya Tou-chan, Yuki-chan tidak belat hanya gemuk caja!" entah ia ingin membela sang adik atau malah ikut mengejek sang adik. Dan Yuki yang mendengarpun menambah beberapa centi kerucutan bibirnya, tidak ayah tidak kakak sama saja!
Menma pun tertawa terbahak melihat sang adik perempuan semakin memonyongkan bibir mungilnya sedang sang ayah mengusap pelan rambut Yuki.
"Mana Kaa-san kalian?" tanya Sasuke yang sudah masuk kedalam rumah dan tidak melihat keberadaan yang 'istri' tercinta yang biasa menyambut, Naruto.
"Mandi~" balas mereka berdua berbarengan, membuahkan rasa gemas pada Menma.
"Kalian sudah mandi?" kini sang kakak yang menanyakan setelah mereka duduk disofa ruang tengah.
"Cudah dong~" balas Yuki, tapi tiba-tiba Yukio mengambil sebuah album biru yang ada dibawah meja sofa tersebut. Album favorite mereka berdua.
"Ne Tou-chan, Nii-chan, ayo celitakan ici album ini lagi." Pintanya sambil menyodorkan album tersebut. Meski mereka sudah berkali-kali mendengar isi dan cerita yang ada dialbum tersebut entah mengapa mereka tak merasa bosan. Mungkin karena mengenai kisah mereka?
"Hum baiklah." Balas sang kakak. Sedang sang ayah tak ambil pusing, istirahat sebentar disofa.
Lembaran pertama terlihat ada foto Sasuke dan Naruto berdua, mereka memegang perut Naruto yang sidikit membuncit, karena memakai kaos ketat.
"Ini Kaa-san yang sedang mengandung kalian ketika sudah dua bulan." Terang sang kakak sedang yang mendengar hanya mengangguk lucu, dan Sasuke melihat interaksi itu tersenyum pelan, sambil mengingat masa-masa ketika dua bocah ini masih dalam kandungan.
"Telus yang ini kenapa Tou-chan cembelut?" tanya Yuki menunjukkan tampang Sasuke yang begitu tersiksa di lembar sebelahnya.
Menma tertawa kecil sebelum menjelasakannya, melihat album ini membuatnya selalu terkikik geli, "Tou-chan disuruh makan puding super manis oleh Kaa-san waktu itu."
Kembali bocah kembar itu manggut-manggut lucu seakan mereka mengangguk mengerti.
Satu lembar dijelaskan dengan baik oleh Menma begitu pula lembar-lembar berikutnya hingga ke lembar yang memuat gambar beberapa orang.
"Ne, Nii-chan yang ini Gaala-nii kan? telus yang ini Neji-nii?" tanya Yukio menunjuk gambar Gaara dan Neji yang ada disudut ruang tamu mereka. Sang kakak mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Telus ini Cika-nii, ini Kiba-nii, ini Nata-nee, ini Ino-nee." Kini tunjuk Yuki kearah Shika, Kiba, Hinata dan Ino yang berjejer didekat sang ibu, tak mau kalah dengan sang kakak kembarnya.
"Dan ini Karin-nee, Chouji-nii dan Juugo-nii." Lanjut menma kini, ia menjelaskan teman-temannya dan ibunya yang ada dipotret itu. Yah kini mereka semua memang mengetahuinya, sengaja dibongkar oleh mereka demi sahabat-sahabatnya itu, karena akan sulit menyembunyikkannya apalagi saat Naruto tengah hamil seperti itu dan tiba-tiba mereka datang sungguh repot bukan jika masih harus berkelit. Yang untungnya kisah mereka diterima baik oleh mereka, toh Kiba dan Shikamaru mengakui bahwa kini mereka sepasang kekasih gara-gara hal ini. Dan ternyata Hinata dan Karin adalah seorang fujoshi, sebuah fakta yang menggemparkan.
"Telus Nii, ini kenapa cih Nii halus pake make up? Ih jeyek deh, milip Olo-Jii-chan tau." Yukio kembali bekata dengan terkikik sambil menunjuk foto Menma dengan make up super tebal dan memakai baju yang blink-blink. Melihat foto tersebut membuat Menma bergidik ngeri, itu adalah hal terburuk yang pernah ia lalui, demi 'ibu'nya yang sedang mengidam itu ia harus berdandan ala banci kaleng dan menyanyi untuk sang ibu, jika ia tak mau jatah makan dan jatah uang sakunya akan dihilangkan, hiks betapa kejamnya sang 'ibu' ketika mengandung dulu, –tapi setidaknya ia menerima akan kenyataan Naruto yang mengandung dulu, tepat ketika berumur kandungan Naruto satu bulan Menma menerimanya.
"Err, itu Menma-nii sedang berakting hehe." Jelas Menma berbohong, bisa malu ia jika jujur, 'Itu Menma-nii sedang menjadi banci dan disuruh nyanyi oleh Kaa-san.' Hwaa hancur sudah jika begitu reputasinya sebagai kakak yang keren.
Yuki dan Yukio yang mendengar pun hanya mengangguk (sok) paham, tanpa sadar jika setiap ditanya mengenai foto sang kakak yang absurd tersebut selalu dengan alasan yang berbeda-beda, dasar bocah.
"Hihi Lalu yang ini? Kenapa Kaa-chan pakai deles?" tanya Yuki kali ini, menunjuk Naruto mememakai daster selutut berwarna kuning gading yang memang terlihat pas dan manis untuk ukuran Naruto beserta perut buncitnya yang besar. Sudah hampir diakhir album yang mereka lihat kini, dan foto yang menjadi fokus mereka adalah Naruto yang mengenakan daster tersebut karena semakin besarnya perutnya saat kandungan kedelapan. Yah akhrinya mereka dapat mencapai kandungan tepat kesembilan bulan dan melahirkan dengan selamat meski dengan operasi ceasar, sungguh keajaiban yang luar biasa.
"Itu daster namanya bukan dress, baju Kaa-san sudah tak muat semua saat itu." Kini Naruto lah yang menjawab, dengan satu handuk kecil melingkar dilehernya.
"Kaa-chaaaan~" teriak riang mereka kini saat Kaa-sannya telah selesai mandi.
"Sasuke kau mandilah sekarang, sudah kusiapkan air hangatnya, mukamu kusut sekali tau hehe." Kata Naruto menyuruh sang suami yang dibalas anggukkan dan kecupan ringan dibibir Naruto.
"Ich Tou-chan pelvet!" Yuki berkata tak suka akan tingkah seenak jidatnya sang ayah.
"Iya Tou-chan mencali kecempatan dalam kecempitan nih." Entah dari mana Yukio tahu istilah itu, yang pasti kini ia membantu sang adik kembaran untuk mengejek sang ayah, sedang yang dikatai tidak peduli.
"Bocah gendut." Balas Sasuke mengejek sambil berjalan kekamarnya.
"TOU-CHAAAAAN JEYEK!" kini Sang Yuki teriak begitu kencang mengahasilkan ringisan dari Menma dan Naruto sedang Yukio menutup pintu. Benar-benar, gadis cilik ini tak suka dibilang gendut.
Sasuke? Ia sih sudah dari tadi menutup pintu kamar tepat setelah mengejek kedua bocah itu.
"Ehehe Yuki sudah ya, yuk sekarang bantu Kaa-chan masak, Yukio kau mainlah dulu dengan Nii-chan mu ya?." Kini sang ibu yang menenangkan sambil menyuruh keduanya untuk beraktifitas masing-masing.
"Gak mau!" bantah keduanya sepontan dan secara bersamaan dengan kedua pipi yang menggelembung imut, sedang Naruto sudah paham akan tingkah anaknya ini yang akan membantah seperti ini –namun ia tak kapok menyuruh begitu, demi anaknya juga.
Naruto menghela nafas pelan, sungguh ia tak tahu darimana kesalahan ini bisa terjadi, Yukio yang laki-laki dan berwajah manis ini tak mau yang namanya bermain berdua saja dengan sang kakak, ia pasti lebih memilih memasak bersama sang ibu atau menonton saja dan yang perempuan kebalikan darinya, jika tak bermain dengan sang kakak kembarnya maka ia hanya ingin bermain dengan kakak tertuanya dan paling anti bermain boneka sama membantu Kaa-sannya memasak yang menurutnya tidak asik.
'Anakku tertukar jiwanya.' Miris Naruto meratapi tingkah ajaib kedua anaknya ini.
.
FIN
...
KYAAA akhirnya keluar juga tiga huruf FIN ini ulala~ #lempar-lempar doujin SN XD
Senangnya~~~ ne Minna semoga kalian tak pusing dengan alur kali ini yah hehe XD dan maaf tak dapat membuat masa-masa hamil Naru-chan, hanya sedikit dibagian album peace~ (dan jangan pula tanyakan kenapa diusia kandungan 2 bulan udah keliatan sedikit buncit, maaf~ XD)
Ini sudah panjang kan? O.o
Terimakasih banyak Minna karena dukungan kalian selama ini, ukh Shi senang bukan main dapat mengenal kalian atu-atu dan didukung kalian selama pembuatan FF ini #kecup satu-satu #muntah semua
Hehe okay~~ selamat hari FAIL-ENTINE MINNA~ muahaha ini adalah SHI–t day bagi Shi XD tapi demi kalian Shi publish buat mengawali hari ini dengan menamatkan FF ini XD gak terlalu lama kan nunggu the last chap ini? :P #lamawoy
Semoga kalian menyukai FF ini sampai sekarang~ dan dapat membayangkan betapa lucunya Yukio dan Yuki disini XD mereka manis bukan? Hihi
Sedikit balasan review yah~
Himawari Wia : aduh Wia~ gak papa kok yang penting kamu udah baca hehe semoga yang last ini gak ketinggalan lagi yah ^^
Fatahyn : yosh akhirnya FF ini kelar hehe, sudah puas belum? Maaf kalau bikin kamu gak sabar XD
Kkhukhukhukhudattebayo : gyaa maaf masa-masa hamil gak bisa Shi ceritakan, hiks hanya sekilas dari album saja, sequel? Are~ Shi belum tahu, lagi belum ada ide baru tentang FF sih
Neko twins kagamine : uhm maaf disini Shi tetap buat Naru cowok, gak ada gender bander lagi kec. Dei, jadi disini Naru hanya ada penambahan semacam rahim saja kok
Aurantiii13 : hehe iya thanks ya masukannya, jadi Shi bikin kecelakaan kecil deh, ini juga yang ngubah sifat Menma, iya emang berubah yah gak kayak awal kemungkinan gegara adanya Naru dan sudah adanya sosok figur ibu yang membuatnya jadi mudah keluar sifat turunan Dei gitu.
Vianycka Hime : hwaa maaf Hime tebakanmu sedikit kurang, hehe gak semuanya tentang album sih, Cuma beberapa aja X)
Kazekageashainuzukaasharoyani : iya Naru gak jd Fem, gomen mengecewakanmu Naru masih ada sampai chap terakhir ini :P
0706 : ketebak kan? hehe iya Sasu dong yang bikin Naru hamil dengan serumnya lewat *piiip* XD
Hyull : iya Chap ini udah ending, uhm req yah? Gomen bukannya mau nolak atau gimana, genre yang kamu mau itu sangat berat bagi Shi meski Shi sendiri suka bacanya, tapi req kamu Shi jadiin masukkan saja yah? Nanti (yg entah kapan) Shi ada ide dan berani, Shi usahakan untuk buat, selain itu juga ada beberapa req yang belum Shi kelarin jadi sulit buat nerima req yang baru, gomen~ tp sankyuu loh udah mau review yah X)
Uchikaze no Rei : semoga yang ini gak maraton lagi yah :P Uhm MenmaNaru? Gomen ne, Shi lagi gak bisa nerima req dan Shi gak ada feel MenmaNaru dlm artian pair, jadi gomen ne~ terpaksa Shi tolak, tp Sankyuu loh udah mau maraton dan ngereview X)
As always Shi ucapkan BIG THANKS bagi kalian yang sudah mereview~ :
Hanazawa kay, Vianycka Hime, Kkhukhukhukhudattebayo, Viviadra phantom, Himawari Wia, ila hunter, haruna aoi, manize83, megajewels2312, Mushi kara-chan, gici love sasunaru, tsunayoshi yuzuru, fatayahn, aurantii13, RaraRyanFujoshiSN, Dinda Clyne, Blacknightskyeye Yue-Hime, Chic White, Nauchi Kirika-chan, shikakukouki777, Elis kuchiki, 0706, Zen Ikkika, Uke Yesung xD, Kuro to Shiro, love kyuuuu, Yhanie . tea . 5, azucchi201, wookie, miira, Harpaairiry, Just Reader, uzumakinamikazehaki, Zhiewon189, diyas, Yun Ran Livianda, Nisa Bluesappir, miszshanty05, nasusay, The Servant of Lucifer, Konno Asuka, Chika ,tomoyo to yaroo, Neko Twins Kagamine, ichirukilover30, Akira no Shikigawa, kazekageashainuzukaasharoyani, Uchikaze no Rei, meyy-chan, Hyull.
Dan BIG THANKS juga bagi yang mem follow, favo dan hanya membaca FF ini :
Tanpa kalain FF ini tak akan Tamat minna~ :*
So, untuk penutup ini, sudikah kalian mereview untuk terakhir kalinya di ff ini dengan memberikan sedikit tanggapan kalian akan berakhirnya ini FF? Pwease~
Hehe Last but not least,
Jaa mata minna~
sampai jumpa di FF Shi yang masih abal lainnya kapan-kapan~ #lambai-lambai ala miss universe #dlempartomat
Salam Ketjup (?)
Heiwajima Shizaya
