"Pernikahan itu bagaikan perjanjian hati. Perjanjian hati untuk saling mengerti, saling memaafkan dan saling menjaga cinta satu sama lain."
EPILOG
Pagi hari yang mendung, hujan rintik-rintik turun di luar sana, membuat suasana pagi gelap dan temaram. Ryeowook menarik selimutnya sampai ke pundak, merasa lelah dan mengantuk luar biasa.
Lalu dia merasakan lengan itu melingkari pinggangnya, lengan yang kuat, memeluknya dengan posesif. Ryeowook mengerutkan kening, membuka matanya pelan dan menunduk melihat lengan itu, kesadarannya kembali... Itu lengan Yesung, suaminya.
Suaminya. Pipi Ryeowook memerah dan dadanya dipenuhi oleh perasaan hangat. Yesung benar-benar telah menjadi suaminya yang sesungguhnya, semalam. Ingatannya melayang kepada malam sebelumnya dimana Yesung berlaku sangat lembut kepadanya, menyentuhnya dengan hati-hati dan penuh penghormatan, lalu Yesung memberinya pengalaman luar biasa dan membuat mereka benar-benar menjadi suami isteri.
Lengan Yesung yang memeluknya bergerak, lelaki itu rupanya terbangun dan langsung mengecup pipi Ryeowook dari belakang dengan lembut.
"Selamat pagi." bisiknya serak di telinga Ryeowook.
Ryeowook menolehkan kepalanya dan tersenyum malumalu kepada Yesung, "Selamat pagi juga."
Yesung melirik ke arah hujan yang mulai turun dengan deras di luar, "Hari ini hari minggu dan diawali dengan hujan yang turun deras." lelaki itu mengedipkan matanya, "Sepertinya kita akan berada di atas ranjang seharian."
Ryeowook sempat tertawa geli ketika Yesung menariknya setengah menggoda ke dalam pelukannya dan menciuminya. Dan memang benar, mereka baru turun dari ranjang lama sekali sesudahnya.
Brown Afternoon
Ketika Ryeowook dan Yesung turun untuk makan siang dan melewatkan sarapan, mereka bertemu dengan Joy dan Sungjae yang sedang duduk di ruang makan, menikmati makan siang mereka. Sungjae memang sengaja datang untuk menjemput Joy ke sebuah acara kampus di hari minggu.
Joy mengangkat alisnya melihat pasangan itu dan tersenyum menggoda.
"Aku pikir kalian tidak akan bangun seharian." gumamnya penuh arti, membuat pipi Ryeowook merah padam karena malu.
Yesung hanya terkekeh menanggapinya dan merangkul pinggang Ryeowook erat-erat, "Kau tidak boleh protes, kami kan masih bisa disebut pengantin baru."
"Yesung!" Ryeowook berbisik pelan sambil menyikut pinggang suaminya pelan, membuat Yesung tergelak dan Joy serta Sungjae ikut tertawa.
Masih tersenyum Yesung menarikkan kursi makan untuk Ryeowook dan duduk di sebelahnya. Mereka lalu makan bersama.
"Ibu di rumah sendirian?" Ryeowook melirik ke arah Sungjae, memikirkan ibunya dan tiba-tiba ingin tersenyum, ibunya akan sangat bahagia dengan perkembangan ini, bahwa Ryeowook dan Yesung benar-benar berbahagia dalam arti yang sesungguhnya.
"Ibu ada acara dengan ibu-ibu sekitar rumah, tadi aku sudah mengajaknya ke sini tetapi dia tidak bisa karena sudah berjanji akan datang ke acara itu."
"Oh." Ryeowook menganggukkan kepalanya dan memusatkan perhatiannya kembali kepada makanannya.
"Kami akan berbulan madu ke Paris." gumam Yesung memecah keheningan.
Joy yang menanggapi pertama dengan senyum lebarnya, "Akhirnya kalian berbulan madu juga." desahnya.
"Kapan Eonnie?" tanyanya bersemangat. Ryeowook menggelengkan kepalanya, dia sendiri tidak tahu rencana ini, dia memang mendengar Yesung sempat mengatakannya kemarin, tetapi dipikirnya waktu itu Yesung masih akan melakukannya beberapa bulan lagi.
Ryeowook menoleh ke arah Yesung dengan penuh pertanyaan, "Aku juga tidak tahu..." jawabnya kepada Joy, "Memangnya kita akan berbulan madu kapan?"
Yesung tersenyum penuh rahasia, "Segera." gumamnya, "Minggu depan."
Joy tersenyum makin lebar, "Dan kuharap kalian membawakanku oleh-oleh calon keponakan sepulangnya kalian dari sana."
Pipi Ryeowook memerah mendengarnya, dan Yesung tersenyum lembut.
"Ada yang harus kukatakan kepada kalian," Yesung menatap Ryeowook meminta persetujuan, ketika Ryeowook mengangguk, Yesung melanjutkan.
"Aku harap kalian tidak marah kepada kami."
Joy dan Sungjae saling bertukar pandang, lalu menatap Yesung dengan bingung.
"Tentang apa oppa?" gumam Joy penasaran.
"Tentang pernikahan kami." Yesung menghela napas panjang. "Semula kami menikah hanya berdasarkan perjanjian."
"Perjanjian?" kali ini Sungjae yang menyela, menatap Ryeowook dengan was-was.
Yesung mengangguk dan menatap Sungjae dengan serius, "Jangan menyalahkan Ryeowook karena berbohong kepada kalian selama ini, sebenarnya akulah yang mengusulkan perjanjian ini kepadanya." Dia menghela napas, "Kau mungkin belum tahu Sungjae karena aku yakin Joy tidak cerita kepadamu... Kau pasti sudah tahu bahwa aku adalah anak angkat keluarga ini, bahwa aku dan Joy tidak ada hubungan darah. Jadi karena ingin menjaga keutuhan keluarga, Eomma kami ingin menjodohkan kami. Aku dan Joy ke dalam sebuah pernikahan. Tentu saja waktu itu Eomma kami belum mengenalmu, Sungjae."
Sungjae menoleh kepada Joy dengan pandangan bertanya-tanya, dan Joy mengangguk, membenarkan perkataan Yesung.
"Aku berpikir aku tidak mungkin menikahi Joy, dia sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri, dan aku yakin begitu pula sebaliknya." Yesung melempar senyum kepada Joy. "Kami berdua sangat ingin menolak pernikahan ini, tetapi mengingat kondisi Eomma waktu itu, kami sangat bingung dan tidak ingin membuat Eomma kecewa. Aku juga pusing memikirkan jalan keluar dari polemik ini, sampai kemudian kau membawa Ryeowook ke pesta itu dan mengenalkannya sebagai kakakmu." Yesung menggenggam tangan Ryeowook, menatap mata isterinya dengan lembut,
"Ide itu muncul begitu saja. Aku dan Ryeowook berkompromi untuk menjalankan hubungan pura-pura ini, supaya kalian bisa menentukan kisah cinta kalian sendiri."
Sungjae terperangah, "Jadi kalian berdua benar-benar baru mengenal pertama kali di pesta itu? Bukan sudah mengenal lama seperti yang kalian katakan?"
Yesung mengangguk, "Sekali lagi aku minta maaf karena kami telah membohongi kalian semua, tetapi waktu itu kami pikir itulah jalan yang terbaik." Yesung meremas jemari Ryeowook semakin erat, "Pernikahan itu pada awalnya hanyalah sebuah perjanjian. Tetapi kemudian kami saling mencintai. Dan kami mensyukuri perjanjian pernikahan itu."
Mata Joy berkaca-kaca, "Kalian... Kalian telah berkorban demi kami berdua... Kalian mengikat diri agar kami bisa bebas menentukan cinta kami." ditatapnya Sungjae yang berusaha menelaah semua ini, suaranya serak penuh perasaan,
"Terima kasih Oppa." Yesung tersenyum lembut kepada adiknya, "Sama-sama sayang, pada akhirnya aku menemukan perempuan yang akan aku cintai selamanya, isteriku."
Sungjae menghela napas panjang, "Aku juga harus mengucapkan terima kasih... Dan aku senang kalian akhirnya berujung bahagia." Matanya menatap lembut ke arah Ryeowook,"Selamat noona."
Ryeowook tersenyum kepada adiknya, "Sama-sama Sungjae." bisiknya tulus. Ternyata begitu mudah berterus terang kepada kedua adik mereka. Tidak ada kebohongan lagi sehingga Ryeowook akan lebih mudah melangkah ke depannya bersama Yesung
Brown Afternoon
"Aku mencintaimu." Yesung memeluk Ryeowook dari belakang dengan menggoda, dia baru pulang dari kantor dan memeluk isterinya dari belakang dan menggelitiknya setengah menggoda.
"Yesung!" Ryeowook berteriak kegelian dan menerima kecupan-kecupan sayang Yesung di pipinya.
Yesung terkekeh sambil masih menciumi Ryeowook, menghirup aroma isterinya yang sangat dirindukannya seharian ini, "Apakah kau merindukanku selama aku tidak ada di rumah?" bisiknya lembut, "Dan kau harus menjawab 'ya' kalau tidak aku akan marah."
"Ya." Ryeowook membalikkan badannya dan memeluk Yesung, membiarkan dahinya dikecup dengan lembut.
"Aku juga." Yesung mengaku. "Setiap saat yang kupikirkan hanya kau, aku tidak sabar untuk cepat-cepat pulang."
Pipi Ryeowook bersemu merah dan menatap suaminya penuh cinta. "Aku sangat bahagia bersamamu." Bisiknya kemudian membuat Yesung langsung memeluknya semakin erat.
"Syukurlah." gumam Yesung penuh perasaan, "Kau tahu kebahagiaanmu telah menjadi obsesi pribadiku. Aku berjanji akan menghabiskan seluruh sisa hidupku untuk membahagiakanmu." dikecupnya ujung hidung Ryeowook, "Ngomong-ngomong tentang berbahagia, kita akan berangkat ke Paris Sabtu ini. Aku sudah menyiapkan semuanya."
Mata Ryeowook berbinar, "Kau sudah bisa melepaskan diri dari kegiatan kantormu?" Ryeowook tahu Yesung sibuk luar biasa, karena lelaki itu bisa dibilang mengendalikan seluruh perusahaan dengan kepandaiannya. Dia adalah orang inti di perusahaan dan sangat sibuk, sehingga berbulan madu hampir sebulan di Paris tentunya memerlukan persiapan yang cukup lama bagi perusahaannya.
Yesung tersenyum, "Sesibuk-sibuknya aku, kaulah prioritasku, lagipula aku sudah membagi semua tugas kepada para asistenku, aku yakin mereka semua memiliki kemampuan yang baik untuk mengelola perusahaan selama aku tidak ada."
Ryeowook mendesah lega, "Jadi, kita akan berbulan madu?" Yesung menganggukkan kepalanya, "Kita akan meneruskan usaha untuk menciptakan Kim Junior di Paris." godanya, membuat pipi Ryeowook bersemu merah Lelaki itu terpesona melihat kecantikan isterinya, sehingga tidak bisa menahan diri untuk menunduk dan mengecup bibir isterinya dengan penuh gairah. Disesapnya bibir yang lembut itu dengan penuh kasih sayang.
Ketika mereka berdua mengangkat matanya, binar-binar kebahagiaan memancar dari mata mereka, penuh dengan cinta.
End
Hy~ maaf Chapter epilognya baru bisa dipublish dan maaf juga saya tidak bisa chapter epilognya versi saya jadi saya hanya bisa merremakenya ^^.
Thanks for review~
