Taekwoon membuka matanya. Dan pemandangan pertama yang Taekwoon dapat adalah Wonshik yang sedang tersenyum pada Taekwoon.
"Dear, kamu sudah bangun?"
"Wonshik-ah...? Kau disini...?"
"Tentu saja. Kekasihku sedang sakit dan aku harus merawatnya."
Wonshik membantu Taekwoon untuk duduk, lalu Wonshik mengambil semangkuk sup yang berada di meja kecil di sebelah ranjang tempat Taekwoon berbaring.
"Makanlah. Apa perlu aku suapi?"
"A-aku bisa makan sendiri!"
Taekwoon mengambil mangkuk sup itu lalu memakan sup nya dengan lahap. Wonshik tersenyum sambil memperhatikan wajah Taekwoon.
"Hyung, ada yang ingin aku bicarakan. Hyung cukup dengar dan jawab sesuai perasaan hatimu saja, ok?"
"Hm...apa yang mau kamu tanyakan?"
Wonshik menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Untuk mengatakan hal ini, Wonshik perlu menyiapkan dirinya semalaman.
"Aku tau...ini memang terlalu cepat...tapi...maukah kau menikah denganku, dear?"
Taekwoon terdiam. Taekwoon benar-benar terkejut. Apa yang terjadi kemarin sampai Wonshik tiba-tiba berfikir untuk menikahinya?
"Wonshik...kamu...yakin?"
"Ya, aku yakin. Aku sangat mencintaimu."
Taekwoon menganggukan kepalanya. Sebenarnya Taekwoon masih bingung apa yang membuat Wonshik tiba-tiba melamarnya, tapi Taekwoon memutuskan untuk menganggukan kepalanya. Hati Taekwoon benar-benar sangat senang saat ini.
"Aku mau."
Wonshik tersenyum tipis, lalu memeluk tubuh Taekwoon dan sambil mencium kening Taekwoon. Memang, Wonshik mulai ragu dengan Taekwoon. Apakah Taekwoon benar-benar mencintainya atau tidak. Tapi Wonshik hanya mencoba untuk melakukan apa saja demi seorang yang sangat ia cintai.
Tanpa mereka sadari, Hongbin melihat apa yang mereka lakukan dari celah pintu. Hongbin mengepalkan kedua tangannya, berusaha menahan emosi.
"Wonshik...kenapa..."
"Sedang apa kamu disini?"
Mendengar suara itu, Hongbin terkejut bukan main. Spontan Hongbin membalikkan tubuhnya, dan ternyata orang yang bertanya itu adalah Hakyeon. Sebenarnya Hongbin ingin marah, tapi Hongbin malah terdiam. Hongbin terpesona melihat Hakyeon di depannya itu. Hakyeon terlihat...cantik.
"Yaa! Siapa kamu? Lee Hongbin? Kamu dokter disini?"
Hongbin ikut melihat tanda pengenal yang terpasang di jas dokternya saat Hakyeon melihat tanda pengenalnya, lalu Hongbin menganggukan kepala untuk menjawab pertanyaan Hakyeon.
"Kamu dokternya Taekwoon? Lalu kenapa kamu tidak masuk ke dalam kamar rawatnya dan malah mengintip di depan kamar rawatnya? Masuklah."
Hongbin salah tingkah. Antara panik karena ketahuan kalau Hongbin sedang mengintip, juga salah tingkah karena jantung Hongbin berdetak semakin kencang saat Hakyeon melangkah semakin dekat.
"Ah...sepertinya saya salah jadwal. Ini masih jam makan dan jam besuk untuk pasien. Harusnya saya memeriksa pasien sekitar pukul sebelas siang nanti. Jeosonghamnida."
Hongbin langsung membungkukkan tubuhnya lalu pergi dari tempat itu. Ini memalukan, baru pertama kali ini Hongbin bisa salah tingkah melihat seorang yang sedang berkunjung ke rumah sakit. Sedangkan Hakyeon, diam karena bingung.
"Dasar orang aneh."
Hakyeon mengangkat kedua bahunya lalu meraih gagang pintu kamar rawat Taekwoon, hendak membukanya. Namun terhenti saat Hakyeon tiba-tiba membayangkan wajah Hongbin. Tanpa Hakyeon sadari pipinya bersemu merah.
"Ah, ige mwoya? Apa yang terjadi padaku? Aku jatuh cinta? Ah tidak tidak! Cintaku hanya untuk Jaehwan!"
Hakyeon kembali meraih gagang pintu kamar rawat Taekwoon, namun tiba-tiba pintu kamar rawat Taekwoon terbuka cukup kencang dan otomatis wajah Hakyeon terbentur pintu itu.
"Akhh!!"
"Hakyeon hyung?!"
Wonshik terkejut saat menyadari kalau Wonshik baru saja membentur Hakyeon cukup keras, dan otomatis membuat Hakyeon jatuh pingsan. Hidung Hakyeon pun berdarah, sepertinya karena terbentur.
Hakyeon membuka matanya. Hakyeon melihat sekelilingnya, sepertinya sekarang dia bukan di kamarnya. Hakyeon memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Apa yang terjadi padaku...?"
"Hyung sudah sadar?"
Hakyeon menoleh kesamping, dan mendapati Wonshik yang sedang berdiri disamping ranjang tempat Hakyeon berbaring saat ini. Setelah Hakyeon menganggukan kepalanya, Wonshik membantu Hakyeon untuk duduk.
"Apa yang terjadi padaku?"
"Aku tidak sengaja membuatmu tertabrak pintu dengan cukup keras, mianhae. Hidungmu sudah tidak sakit?"
Hakyeon menggeleng. Ya, memang Hakyeon sudah tidak merasakan sakit dihidungnya lagi. Mungkin dokter sudah mengobati hidungnya.
"Hyung, ada yang mau aku bicarakan."
"Mengenai apa?"
"Hubunganku dengan Taekwoon hyung."
Hakyeon mengedip-ngedipkan matanya. Masalah Taekwoon dengan Wonshik? Hakyeon mulai berfikir yang tidak-tidak. Apakah Wonshik dan Taekwoon mengalami masalah?
"Apa? Ada apa dengan kamu dan Taekwoon?"
"Tadi sebelum hyung datang ke rumah sakit, aku melamar Taekwoon hyung."
Hakyeon membulatkan mata tidak percaya mendengar apa yang baru saja dikatakan Wonshik.
"Lalu dia menerima lamaranku?"
"Ya..."
"Menurutku ini terlalu cepat...hubungan kalian belum ada sebulan dan kamu sudah memutuskan untuk menikahi Taekwoon?"
"Kupikir aku sudah yakin dengan perasaan ini."
"Yah, benar juga. Lebih cepat lebih baik."
"Benar. Dan sekarang aku butuh bantuanmu, hyung."
"Bantuan apa?"
"Hyung pernah mengurusi soal pernikahan 'kan? Saat hyung dan calon suami mu mempersiapkan pernikahan kalian? Bantu aku untuk mempersiapkan pernikahanku dan Taekwoon hyung sebaik mungkin. Aku tidak mau mengecewakan Taekwoon hyung."
Hakyeon tersenyum tipis, lalu mengacak-acak rambut dongsaeng kesayangannya itu. Hakyeon membalas perkataan Wonshik dengan anggukan. Itu membuat Wonshik sangat senang.
Tanpa mereka sadari, Hongbin mengintip dari balik pintu kamar rawat inap Hakyeon. Hongbin mendengar pembicaraan Wonshik dan Hakyeon.
"Menikah? Mana mungkin! Aku harus membuat rencana untuk membuat Wonshik membatalkan rencana pernikahan mereka."
Setelah bergumam seperti itu, Hongbin berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Disisi lain, Jaehwan melihat apa yang Hongbin lakukan tadi. Jaehwan tau niat busuk Hongbin untuk membuat Wonshik membatalkan niatnya untuk menikahi Taekwoon.
"Ottokaji? Apa yang harus aku lakukan? Seorang malaikat maut tidak boleh mencampuri urusan manusia...tapi..."
Jaehwan terus berfikir. Bagaimanapun juga Jaehwan sangat ingin Taekwoon dapat menikah secepat mungkin dengan Wonshik untuk mendapatkan kesempatan hidup itu, tapi Jaehwan tidak tau bagaimana cara menggagalkan rencana Hongbin.
"Hakyeon hyung...?"
Jaehwan melihat Hakyeon yang masih asik berbincang dengan Wonshik dari balik celah pintu yang terbuka. Jaehwan mendapatkan suatu ide.
Jaehwan berjalan menuju rumah Hakyeon. Jaehwan berdiri di depan pagar rumah Hakyeon lalu menekan bel rumah Hakyeon, tentu dengan menggunakan telekinesis nya.
"Jaehwan-ah!"
Tidak perlu waktu lama, pagar rumah Hakyeon langsung terbuka. Terlihat Hakyeon yang tampak bahagia melihat Jaehwan. Mungkin Hakyeon langsung berlari dengan semangat saat melihat Jahwan yang tampak di camera CCTV Hakyeon.
Jaehwan tampak di kamera?
Ya, Jaehwan memang menggunakan salah satu kemampuan malaikat maut yang baru saja Jaehwan ketahui setelah membaca buku panduannya.
Seorang malaikat maut boleh menggunakan kekuatan telekinesis, teleportasi, dan kemampuan menjadi manusia dalam waktu 7 jam. Namun hanya untuk urusan pejerjaan sebagai malaikat maut.
Jaehwan menghela nafas. Jaehwan sudah melanggar nya, Jaehwan menggunakan kemampuan malaikat mautnya demi keperluan pribadi, demi membantu Taekwoon. Namun Jaehwan tidak peduli, Jaehwan ingin membantu Taekwoon.
"Hyung, ayo kita bicara diluar."
"Sekarang?"
"Tentu."
"Tunggu sebentar...aku harus mengganti pakaianku terlebih dahulu."
Hakyeon kembali masuk ke rumahnya untuk berganti pakaian. Jaehwan menghela nafas sambil melihat jam tangan yang dia kenakan. Jaehwan berharap Hakyeon bisa berganti pakaian dengan cepat.
Ternyata benar. Tidak perlu waktu lama Hakyeon kembali keluar dari rumahnya mengenakan pakaian sederhana, kemeja bewarna hitam dan celana pajang jeans biru tua.
"Aku sudah siap."
Jaehwan menganggukan kepalanya, lalu menggenggam tangan Hakyeon dan mulai berjalan. Tanpa Jaehwan sadari wajah Hakyeon memerah saat Jaehwan menggenggam tangannya.
Jaehwan dan Hakyeon berjalan masuk ke dalam sebuah cafe, lalu menghampiri seseorang yang sudah menunggu disalah satu meja.
"Aku datang, kamu sudah menunggu lama?"
Orang itu menoleh pada Jaehwan. Dan seketika Hakyeon terkejut melihat orang itu.
"Kamu... Lee Hongbin?"
Benar, orang itu adalah Hongbin. Hongbin juga sama terkejutnya melihat Hakyeon yang datang bersama dengan Jaehwan. Sementara Jaehwan dengan ekspresi datar, tidak berbicara sama sekali. Dia sudah tau kalau akan begini.
-flashback on-Jaehwan menggunakan kemampuan dia untuk menjadi manusia untuk bertemu dengan Hongbin. Setelah Jaehwan mengetuk pintu ruangan Hongbin, terdengar suara dari dalam."Masuk saja."Jaehwan membuka pintu itu lalu berjalan mendekati Hongbin."Selamat siang, ada yang bisa saya ban_"Hongbin terdiam. Hongbin tampak terkejut melihat Jaehwan."Lee...Jaehwan? H-hyung-ah? Itu benar kamu? Kamu masih hidup? Mustahil..."Ya, Hongbin memang sangat mengenal Jaehwan. Hongbin adalah adik kandung Jaehwan. Awalnya Jaehwan tidak ingat, namun setelah Jaehwan melihat Hakyeon dan Hongbin berbicara di depan pintu kamar rawat inap Taekwoon, Jaehwan dapat mengingat Hongbin."Tidak, aku sudah mati.""Jangan bercanda. Lalu siapa yang aku lihat di depanku sekarang? Hantu?""Semacam itu."Hongbin tertawa pelan, namun tawanya menyiratkan kalau Hongbin tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jaehwan."Hongbin-ah, aku butuh bantuanmu.""Bantuan...apa, hyung?""Anggap ini sebagai permintaan terakhirku.""Permintaan terakhir...?""Ya, tunggu aku di cafe xxx. Aku akan menemui nanti."Jaehwan langsung pergi keluar dari ruangan Hongbin tanpa menunggu jawaban Hongbin. Jaehwan melihat jam tangannya, waktunya benar-benar terbatas.-flashback off-
Hakyeon dan Hongbin masih saling melemparkan tatapan terkejut. Jaehwan menghela nafas melihat mereka. Jaehwan duduk di salah satu kursi dekat jendela, lalu Jaehwan menarik Hakyeon untuk duduk di sebelahnya, berhadapan dengan Hongbin.
"Aku ingin mengenalkanmu dengan dia."
"Calon istrimu, hyung?"
"Mantan."
"Ah, arraseo. Mantan calon istrimu."
"Tunggu, Jaehwan-ah... apa hubungan kamu dengan namja ini?"
"Hyung lupa? Dia adikku!"
Hakyeon terdiam, mencoba mengingat-ingat saat dulu Jaehwan mengenalkan Hakyeon dengan keluarganya sebelum Jaehwan melamar Hakyeon.
-flashback-Jaehwan menggenggam tangan Hakyeon lalu masuk ke dalam rumah Jaehwan. Keluarga Jaehwan langsung menyambut mereka berdua."Hyung, ini pacar hyung?""Iya, yang akan aku lamar sebentar lagi."Namja berambut hitam agak ikal dengan kacamata tebal itu mengalihkan pandangannya pada Hakyeon, lalu mengulurkan tangannya pada Hakyeon."Wah, annyeonghaseyo, Hakyeon hyung! Namaku Lee Hongbin. Aku sudah banyak mendengar tentangmu dari Jaehwan hyung. Salam kenal!""Salam kenal juga Hongbin-ah."Hakyeon tersenyum lalu menjabat tangan Hongbin. Setelah itu keluarga Jaehwan mengajak Hakyeon untuk makan bersama.-flashback off-
Hakyeon tercengang. Hakyeon tidak menyangka ternyata yang duduk di depannya ini adalah Hongbin yang dulu. Penampilan Hongbin sudah sangat berbeda, rambut coklat lurus, dia sudah tidak mengenakan kacamata, dan wajahnya pun sekarang jauh lebih tampan.
"H-Hongbin...? Maaf aku tidak mengingatmu."
"Ah...hyung...Tidak apa-apa aku juga terkejut."
"Lalu... Jaehwan-ah. Apa maksud kamu mempertemukanku dengan adikmu?"
"Aku...ingin meminta adikku, Lee Hongbin. Tolong nikahi Hakyeon hyung."
-to be continued-
