Ruangan itu terlihat klasik. Desain interior yang mengambarkan suasana seakan berada pada hotel bintang lima. Ranjang tidur yang terkesan sederhana tapi mewah, jendela kaca yang berukuran besar, tempat duduk yang terbilang megah, dinding yang berwarna merah darah, lampu-lampu kaca yang sangat indah. Sinar lampu yang menghiasi ujung-ujung ruangan memberikan penerangan yang sempurna. Itulah orang kaya, apa lagi kalau kita bisa berbaring-baringan dan bermalas-malasan karena semuanya sudah ada tinggal bilang pasti langsung datang bagikan raja yang berkuasa.
"Bagaimana rasanya tidur di penjara selama sehari semalam Kyuu." Ucap seorang lelaki berambut merah jabrik yang memiliki rabut panjang seperti sulur pada kedua sisi. Orang yang di panggil namanya tadi langsung menoleh.
"Diam kau pak tua, aku tak mau lagi bicara dengan mu." Ucap Kyuubi dengan nada marah. Ha... bagaimana tak marah jika setelah engkau dikeluarakan dari penjara pagi tadi lalu dihukum didalam kamar dan tak boleh keluar dan menemui siapa pun hinga waktu makan malam. Bicara dengan pelayan pun tak akan diperbolehkan.
Minato yang mendengar ia dipanggil 'pak tua' oleh anaknya merasa marah dan berjalan mendekati sang anak.
"Kau berani bicara seperti itu pada Tou-san mu." Ucap Minato sambil menarik krah baju anaknya.
"Kenapa kau tak langsung membebaskan ku." Ucap Kyuubi dengan suara besar sambil meloto pada Minato. Namun Minato seperti tak merespon. Entah apa yang Minato rencanakan Kyuubi tidak tahu. Kenapa Minato tak memberikan uang tebusan pada kepolisisn agar ia bisa bebas, malah memilih memenjarakan anaknya selama sehari semalam. Padahal uang tebusannya terbilang sangat murah, bahkan lebih murah dari pada upah tukang semir sepatu di rumahnya(?).
"Hn... Bagaimana RASANYA?" Tanya Minato sambil masih melihat kearah Kyuubi dengan muka dingin. Rupannya dia tak mendengar rengekan Kyuubi. Membuat Kyuubi naik pitah.
"Chi... kau pikir aku senang apa berada di lingkunan Uchiha seharian hn." Ucap Kyuubi. Sebuah seringai terukir di bibir Minato. Karena mengerjai anaknya yang satu ini adalah suatu keuntungan.
"Ha...ha...ha... Bagus kau harus terus membenci mereka karena Uchiha adalah musuh kita." Ucap Minato masih dengan tertawa di susul dengan seringai mematikan Kyuubi karena di otaknya sudah tergambar semua hal yang berhubungan dengan uchiha.
OH... My Little Kitsune
by
uzumakinamikazehaki
.
.
.
Disclaimer:
Naruto cuma punya Mashashi Kishimoto
Pairing:
SasuNaru
Raiting: T
Warning:
AU, GE-je, OOC, BoyXBoy, Typos, dll.
.
Summary: Naruto adalah hasil percobaan gagal Orochimaru dan Kabuto / setelah sadar "Ku sudah sadar" ucap laki-laki itu / "Aku dimana? tanya naruto / Oh... My Little Kitsune / siapa kau?jangan mendekat.
.
.
.
No like, Don't Read...!
.
Disebuah ruangan didalam apartemen sederhana terdapat dua orang laki-laki. Laki-laki pertama bersurai raven a.k.a Itachi dan yang kedua bersurai pirang a.k.a Deidara. Setelah bel tanda pelajaran berakhir pukul 1 siang, tadi kedua laki-laki itu segera pergi meninggalkan sekolah. Ah untungnya ini sabtu jadi sekolah lebih singkat tak seperti hari-hari biasanya masuk jam 8.30 pulang jam 4 sore. Mereka sekarang sedang asyik menikmati makan siang bersama diruang makan. Makanan sederhana buatan tuan rumah yaitu Deidara. Meskipun laki-laki tetap harus bisa memasak, tak boleh kalah sama perempuan, ya meskipun terpaksa karena tinggal sendirian.
Diatas meja terdapat makanan sederhana yang selalu Deidara buat, sup jamur dan ikan panggang juga nasi. 'Doyōbi no tokusen' (masakan sepesial hari sabtu) seperti hari sabtu yang lalu makanan ini selalu menghiasi meja. Namun suasana makan hari ini terbilang aneh. Kenapa sebab si pirang yang paling berisik dan rakus saat makan kini sedang membaca koran. Akibatnya makanan yang ada di atas meja tak terjemah. Si raven agak penasaran dengan sikap temannya ini eh sodara angkatnya yang berubah 180 derajat dari biasanya. Deidara yang terkenal suka bergurau kini terlihat serius ketika membaca.
"Sedang baca apa serius amat." Deidara yang mendengar ucapan itu langsung memicingkan pandangan matanya pada si raven sebentar dan kembali pada koran.
"Oh aku sedang membaca koran Itachi." Jawab deidara datar, masih membaca koran tanpa melihat si raven.
'Apa ini sisi lain Deidara?' Batin Itachi. Karena selama ini dia tak berada di sisi Deidara sebagai sodaranya.
"Chi...Siapa yang tak tahu Dei kalau kau sedang membaca. Yang aku tanyakan adalah kau sedang membaca berita apa?" Ucap Itachi dengan nada agak marah karena merasa tak dihiraukan oleh Deidara.
Deidara yang mendengar ucapan Itachi yang sedang murka, langsung menutup koran. Untungnya Deidara sudah selesai membaca koran dan langsung pandangannya mengarah pada Itachi yang terlihat sedang marah.
"Hanya berita kasus pembunuhan narapidana yang kabur tadi malam. Pasti kau sudah tahu." Ucap Deidara dan Itachi pun hanya ber'oh' riya.
Pastinya si uchiha satu ini tak mungkin ketinggalan info seputar dunia kepolisian karena Tou-san a.k.a Fugaku adalah kepala polisi, jadi kasus apa saja pasti tahu.
"Apanya yang menarik dari kasus itu hingga kau tak menyentuh makanan mu?" Tanya Itachi dengan nada datar namun terkesan penuh perhatian. Bagaimana pun Deidara adalah saudara angkatnya jadikan wajar Itachi kuatir (brother complex).
Deidara yang mendengar ucapan itu hanya dapat menghelai nafas karena sifat (brother complex) Itachi kambuh.
"Bukan apa-apa. Aku hanya penasaran apa yang membuat mereka bisa terbunuh dengan teragis seperti itu." Uacap Deidara jujur. Bagaimana tidak penasaran bayangkan saja kedua nara pidana itu mati dengan cara teragis. Banyak terdapat luka memar ditubuh mereka dan patah tulang. Anehnya kenapa kejadian itu berada ditaman kota, yang jelas-jelas tempat itu aman dan apa yang menyebabkan mereka bisa mendapat luka seperti itu.
"Seandainya aku seorang ..." Ucap Deidara sambil mengantungkan kata.
"ANBU...! Apa kau menyesal keluar dari sana?"
"Bukan begitu Itachi, aku hanya ingin tahu penyebab mereka meninggal." Ucap Deidara dengan nada sedih.
Itachi yang melihat raut sedih Deidara merasa tersentuh.
"Bagaimana kalau besok kita berkunjung kekantor Tou-san?" Ucap Itachi. Deidara yang mendengar langsung bersorak ria membuat Itachi tersenyum. Satu hal yang tak ingin Itachi lihat yaitu raut sedih Deidara karena senyumnya bagai malaikat.
.
"Hai jangan Lari..."
"Kejar aku kalau bisa ha...ha...ha..."
"Aduh... ini taruh dimana ya..."
"Gambar ku sudah jadi..."
"Hey... jangan diambil."
"Chi... modekusai...hoa... mengganggu saja."
"Aku akan menempelnya di sini dan disini."
"Kriuk...kriuk... hm... enak..."
Ruangan ini sangat ramai. Banyak anak-anak yang berlari, mengambil, menata, mengambar dan menempel sekedar menghias ruangan yang luasanya hanya 10x15 m, dan banyak juga anak-anak yang asyik dengan kegiatannya sendiri. Kegiatan itu selalu mereka lakukan tiap tengah semester lebih tepatnya setiap tiga bulan sekali, ketika selesai ujian bertepatan dengan jam non efektif sekolah 'class meeting'. Murid-mirid ah lebih tepatnya anak-anak sangatlah antusias dan bersemangat melakukannya. Sejauh mata memandang hanyalah canda dan tawa yang terlihat dari mereka. Suasana inilah yang tergambar pada mata lelaki muda yang usianya 25th, hidung yang memiliki luka garis melintang adalah ciri-cirinya. Tanpa anak-anak itu ketahui seulas senyum terpampang dibibir sang laki-laki yang menyandang nama sensei.
"Anak-anak jika sudah selesai segera rapikan."
" Hai... SENSEI." Ucap semua murid dengan latah. Laki-laki itu hanya bisa terkekeh meliaht tingkah anak-anak didiknya. Jujur dalam hati yang paling dalam ia menyesali satu hal. Seandainya dulu ia tak menuruti keinginan anaknya untuk bersekolah di sekolah biasa pasti tak kan begini jadinya. Jadwal mengajar yang sangat padat membuatnya tak bisa bersama anaknya, dan sekarang anaknya hilang entah kemana. Jika saja 'Naruto' mau bersekolah di tempat ini pasti akan menyenangkan. Si laki-laki tak akan pulang sendirian dan mungkin akan sering atau lama bersama anaknya, meskipun jadwal sekolah sangat padat tak seperti sekolah lainnya. Jadwal mengajar pun tak bisa dianggap remeh sebab jika tak taat pastilah akan di pecat. Tak terasa kakinya mulai berjalan, melewati anak-anak yang masih asyik bekerja.
Laki-laki itu terus berjalan tanpa menghiraukan keadaan sekitar, pandangan matanya hanya lurus kedepan dengan pandangan kosong. Tiba-tiba laki-laki itu berhenti di tengah perjalannan akibat pikirannya yang redup. Di pejamkannya mata hitamnya. 'Ha... Kemana lagi kaki itu akan membawanya? Tentu saja menuju pintu keluar. Dia baru ingat akan ada rapat sore ini. Padahal ini adalah hari sabtu dan kenapa pula harus ada rapat segala'. Itu lah yang ia pikirkan sekarang. Namun sebelum ia melangkah pandangannya mengarah pada seorang anak yang tak asing di matanya. Tanpa aba-aba laki-laki itu berjalan mendekati muridnya. Dari pandangan matanya ia melihat sang anak sedang asyik menggambar. Entah apa yang sang anak itu gambar si Sense tidak memperdulikan sebab itulah dunia anak-anak. Tapi ia sangat tak suka jika anak muridnya hanya menyendiri dan tak bercanda dengan yang lain, meskipun bisa dibilang ia menjadi idola anak perempuan karena sifat dinginnya dan tampan.
"Sasuke-kun ..." Panggil sang guru pada nama Muridnya. Si murid yang tadi asyik menggambar, menghentikan pekerjaannya.
"Dō shita no... Iruka-sensei?" Ucap sang murid. Sang sensei hanya tersenyum ciri khas sang guru.
"Ah... Sasuke-kun kenapa tak bergabung dengan teman-teman mu?" Ucap Iruka dengan nada lembut.
"Hn..." Guman si raven dinggin sambil masih menggambar.
'Uh dia berguman tak jelas lagi. Dasar dingin. Tapi aku dengar dari kakaknya dia banyak bicara. Apa mungkin dia tak bisa bergaul?'
Dilihatnya si murid masih asyik menggambar membuat Iruka penasaran.
"Gambar apa? bisa perlihatkan pada sensei."
Sasuke mengangguk dan langsung memperlihatkan gambarannya pada sang sensei.
Iruka pun terkejut karena melihat gambar sang muridnya.
'Imajinasinya luar biasa sekali' Batin sang guru. Sebab gambar yang dibuat muridnya ini terbilang cukup aneh 'mana ada rubah berekor sembilan'.
Tring...tring...tring...
Suara bel penanda berahirnya sekolah semua murid bersorak ria. Iruka memandang murid-muridnya yang bergegas membereskan hasil kerja mereka dengan cepat dan berahir semerawut(?) eh... berantakan.
"Baik lah anak-anak kegiatan kita telah usai Murid-murid kelas 1-4 segera berdiri."
"Hai... Sensei." Ucap semua murid serempak. Iruka langsung berjalan menuju meja guru. Murid-murid menunggu Iruka sampai kemeja sebelum memberi salam.
"Berdiri beri hormat..." Ucap salah satu anak perwakilan dari murid-murid (pemimpin).
"Sensei Sayonara..." Ucap semua murid sambil membungkuk.
"Hai... Sayonara." Ucap Iruka. Semua murid berlari keluar sambil mengucap salam.
'Mataraishu..., sayonara..., mataashita...sensei'
Iruka hanya tersenyum melihat tingkah anak muridnya.
Setelah kelas sepi, Iruka merapikan meja kerjanya. Namun pandangan Iruka sekarang mengalih pada seorang siswa yang tak lain dan tak bukan adalah Sasuke. Dilihatnya Sasuke masih merapikan isi tasnya. Meskipun Iruka sudah mengajar lebih dari dua tahun namun ia baru bertemu dengan Sasuke selama satu semester. Ya meskipun Sasuke anak yang tak pandai bergaul tapi dalam pelajaran ia selalu mendapat nilai paling bagus malah sempurna.
Meja-meja terceceran serpihan kertas diatasnya, kursi-kursi yang berantakan tak pada tempatnya dan juga alat alat yang digunakan mereka masih berserakan. Iruka hanya bisa menghelai napas karena melihat ruang kelasnya yang super berantakan ditambah lagi setelah ini akan ada rapat jam 5 sore dan tak ada waktu bersantai sebelum jam lima nanti.
'ha... kurang 30 menit lagi mana kelar' batin Iruka. Karena merasa tak mampu akhirnya ia mencoba meminta bantuan Sasuke.
"Sasuke-kun bisa bantu sensei sebentar." Ucap Iruka. Sasuke hanya mengangguk.
"Baik lah... Tapi sebelumnya Sensei minta maaf ya sepertinya Sensei perlu bantu.-... Ah... bicara apa aku tadi aku tak boleh menyuruh muridku...Maaf ya Saske-...eh...hay apa yang...?" Ucap Iruka terpotong karena Sasuke sudah lebih dahulu mengelap meja. Iruka merasa agak tak nyaman sebab ia telah menyuruh muridnya.
.
Didalam sebuah kamar terdapat dua pria remaja yang asyik berbaring diatas tempat tidur 'king size' dengan membelakangi pundak, berada di tepi ranjang. Si raven berada di sisi kanan sedangkan si pirang yang bedada di sisi kiri. Mereka bukan 'pasangan' mereka hanyalah sepasang remaja yang melepaskan penat mereka dari rasa capek dan bosan saja. Hari semakin sore namun mereka masih saja tidur. Namun tiba-tiba si raven terbangun. Mata si raven masih terpejam namun tangan kirinya bergerak untuk merahi sebuah jam weker yang tepat berada diatas meja. Oh jangan heran meja itu berada di depan mukanya pas. Setelah si raven menemukan jam tersebut segeralah ia membuka mata dan melihat jarum jam.
"Aaagggghhhh..."
Ucap seseorang yang baru tersadar akibat melihat jarum jam weker. Si pirang yang tertidur menjadi terbanggun akibat triakan si raven.
"Ada apa Itachi..." Tanya si pirang a.k.a Deidara.
"Aku lupa menjemput Sasuke." Kata Itachi.
"Memangnya sekarang jam berapa?" Tanya Deidara santai.
"Pukul 16.35 pasti sekolah sudah bubar." Kata Itachi dengan nada frustasi karena pasti sang adik tak kan suka jika kakaknya tak tepat waktu. Deidara hanya bisa menghelai nafas melihat tingkah Itachi.
.
Semua sudah selesai, tak ada lagi serpihan kertas, kursi yang tak tertata dan semua peralatan yang dipakai sisiwa sudah tertata rapi pada tempatnya. Iruka tersenyum karena semua pekerjaan selesai tepat sebelum jam 5 dan untungnya kegiatan bersih-bersih itu hanya 15 menit saja. Ini semua berkat seorang muridnya yang baik hati. Ya meskipun muridnya yang satu ini pendiam dan tak muda bergaul. Sungguh 'ringan tangan' sekali muridnya ini. Iruka menghelai nafas. Setelah asyik memandang ruang kelas dari pintu masuk tiba-tiba tubuhnya berderak membelakanggi kelas, sekarang pandangan matanya mengarah pada Sasuke yang masih asyik duduk di luar kelas. Tempat duduk kusus untuk siswa diluar kelas dibuat menyatu dengan tembok sebagai sandaran punggung. Namun tiba-tiba didalam pikirannya terbesit sesuatu.
'Ini sudah mau jam lima tapi kok gak ada yang jemput?' Batin sang guru.
"Sasuke kenapa ta-..."
'tin...tin...tin...' Ucapan Iruka terpotong sebab terdengar bunyi kakson mobil 'toyota hitam'.
Iruka langsung memandang mobil yang terparkir dihalaman depan kelas. Dari dalam mobil keluarlah sesosok remaja laki-laki yang Iruka kenal.
"Sasuke maafkan Aniki ya, Aniki tadi ketiduran." Ucap Itachi. Namun Sasuke terlihat tak memperdulikan alasan sang kakaknya, buktinya dia sudah berjalan menjauhi sang kakak dan hampir sampai kemobil. Itachi lupa kalau didepannya terdapat seorang guru.
"Ah... ada Iruka-sensei maaf tadi saya tak menyapa anda, Saya sedang asyik memperhatikan Sasuke."
"Ah... tidak apa-apa saya juga tadi memperhatikan Sasuke."
"Kelihatannya Sasuke sedang 'Bad Mood' sejak tadi pagi. Apa di sekolah ia terlihat suram?"
"Menurud saya tidak. Sasuke-kun malah membantu saya Uchiha-san, dia anak yang baik. Apakah kalian sedang bertengkar?"
"Aku tidak tahu, mungkin yang Umino-sensei katakan ada benarnya saya akan mencoba bertanya padanya."
"Ia, karena saudara adalah hal paling utama."
"Saya permisi dulu ya Umino-san." Ucap Itachi sambil membungkuk. Iruka langsung membalasnya dengan membungkuk.
"Ya, hati-hati Uchiha-san" Ucap Iruka. Setelah acara perpisahan tersebut Iruka hanya melihat langsung Itachi memasuki mobil dan pergi. Iruka melihat jam tangannya. Kelihatannya jam sudah hampir menunjukkan pukul lima kurang tiga menit. Membuatnya cepat-cepat bergegas pergi.
.
Mobil Itachi sudah sampai di depan rumah. Sasuke langsung turun tanpa memberi ucapan 'terimakasih' kepada Itachi, membuat Itachi binggung karena tak tahu apa alasan sang adik membencinya. Apa ini ada hubungannya dengan kejadian tadi pagi atau sore ini. 'ha' Itachi menghelainafas karena tak tahu harus nembuat sang adik yang lagi 'bad mood' kembali ceria dan menjadi sosok Sasuke yang polos. Sebab jika Sasuke bertampang seperti itu membuat Itachi engan untuk mengodanya. Itachi tak ambil pusing ia langsung memasukan mobilnya kedalam garasi.
Kaki pemuda raven bersurai rambut panjang itu terus berjalan menuju pintu masuk rumah setelah memarkirkan mobil digarasi. Para maid dan butler memberi hormat dengan menundukan badan. Itachi sudah terbiasa dengan kadaan seperti ini jadi ia hanya lewat saja dan berjalan menuju kamar. Sesampainya didepan kamar Itachi langsung membuka lalu mengunci pintu kamar. Segeralah ia membanting tubuhnya diatas kasur king size miliknya. Di pejamkannya mata hitam onyx itu. Itachi ingat ia membuat janji pada Deidara. Besok ia harus mengantar Deidara ke kantor Kepolisian, pasti akan memakan waktu lama dan tenaga yang ekstra. Deidara dikenal sebagai 'pemecah kasus yang handal' karena ia tidak akan berhenti sebelum kasus itu terungkap. Tapi jika ia mengantar Deidara pasti Sasuke akan sendirian.
"Semoga saja Sasuke mau ikut, Tou-san pasti rindu padanya." Ucap Itachi dengan raut muka sedih sebab Tou-san nya jarang pulang, dengan melihat wajah Sasuke yang lucu pasti Fugaku akan luluh, tak akan memikirkan pekerjannya sebagai kepala kepolisi. Toh... besok hari minggu pasti kantor agak sepi sedikit.
.
Didapur, seorang wanita sedang menyiapkan berbagai macam masakan kesukaan anak-anaknya. Wanita itu bernama Uchiha Mikoto, istri dari Uchiha Fugaku. Mikoto adalah wanita yang baik dan penyayang. Meskipun bergelar 'Ibu Rumah Tangga' jangan salah dia adalah seorang koki masak terhebat didunia. Fugaku saja yang memiliki sifat datar alias dingin, setelah memakan masakan Mikoto pada acara 'Memasak Bersama Ratu Chef sedunia' pada acara ulang tahun Kantor Kepolisian Konoha yang XXX(#GAKTAHU) langsung bertekuk lutut dan menyatakan kalah pada sang 'Chef' dan poor untuk semua karyawan karena kemenangan yang mereka terima. Mereka bertaruh apa yang dapat membuat muka bosnya agar tak datar alias dingin kuadarat. Diam-diam seorang karyawan pernah mengintip sang Kepala Kepolisian sedang melihat acara memasak yang sedang bergengsi saat itu. Bintang utamanya sendiri adalah Uchiha Mikoto. Mikoto sendiri adalah keturunan Uchiha asli, namun ia dan Fugaku merupakan kerabat jauh dan dalam Klan Uchiha perkawinan sesama Klan itu wajar, demi keutuhan Klan. Sebab jika seorang wanita menika dengan Klan lain (suamai) maka ia harus memiliki nama klan Suami.
Mikoto masih terus bergulat dengan pekerjaannya, meskipun mereka mempunyai juru masak handal tapi bagi perempuan ini masakan original buatannya adalah hal paling baik dimata anak-anaknya. Tak heran dia sering membuat masakan baru dengan resep dan judul baru. Anak-anak dan Suaminya adalah inspirasi bagi masakannya.
Mikoto masih asyik memotong-motong lobak membujur dari ujung hingga pangkal, baru setengah perjalanan tiba-tiba pandangannya berubah. Bukan lagi memotong Lobak dengan pisau malah tangannya sekarang memegang bingkai foto.
"Ah... Suami ku apa yang sedang kau lakukan disana?" Ucap Mikoto sambil memandang foto sang suami beserta kedua anaknya dan satu anak angkatnya. Foto itu diambil empat tahun yang lalu ketika umur sasuke tiga tahun tepat setelah ia mengangkat seorang anak.
"Dei kapan kau pulang Kaa-san sangat merindukan mu!" Ucap Mikoto dengan nada sedih. Telunjuk jari kiri Mikoto yang sejak awal bebas mencoba menyentuh wajah Deidara.
"Kau mirip sekali dengan Kaa-san mu(Kushina)." Ucap Mikoto lirih.
"Sangat-sangat mirip. Bahkan sifat kalian mirip" Tiba-tiba air mata Mikoto keluar tapi masih terbendung dipelupuk mata.
"Maaf... Maaf... maafkan Kaa-san... Kaa-san adalah seorang pembunuh... hik... hik... hik... maaf... maaf..." Ucapnya bersamaan dengan jatuhnya air mata yang deras bagaikan keran yang dibuka. Oh Mikoto ternyata dibalik wajah cantiknya dia adalah seorang pembunuh.
Di dalam kamar bernuansa biru terdapat seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun berambut raven seperti pantat ayam sedang berbaring diatas kasur. Hari ini moodnya sedang dalam keadaan yang buruk. Dari pagi hingga sore semua yang berkaitan dengan sang Aniki a.k.a Itachi selalu mengganggu dirinya. Acara makan pagi yang tak menyenangkan dan acara menjemput sekolah yang terbilang lama. Sasuke sekarang sedang mencoba mengingat-ingat kejadian pertamanya yaitu tadi pagi yang berkaitan dengan kemarin malam. Kenapa Itachi berbohong padanya padahal Itachi bilang sendiri kalau 'berbohong itu tak boleh dan kita harus jujur'.#namanya juga pikiran anak SD...XD!
#Flash Back ON Pagi Hari#
- Ha... pagi ini aku bangun seperti biasanya, pukul 6 pagi. #Kata sensei: Bangun tidur... ku terus mandi dan tak lupa menggosok gigi, habis mandi ku tolong ibu membersihkan tempat tidur ku... Bang-... Haki: Stop!... kok jadi nyanyi sih Sas. Sasuke: Loh gue kan gepen ame Josua. Haki: ha...(?! )#mikir. Haki: Josua itu nama minuman ya, ekstra jos plus susu kan...!. #Sasuke menepuk jidatnya. Sasuke: Dasar Telmi lue waktu kecil suka nyanyi lagu... Diobok-obok airnya diobok-obokada ikannya kecil-kecil pada mabok... sambil obok-obok air kamar mandi yang loe masukin ikan koi. #Haki nyengir. Haki: Next...!
Sudah menjadi kebiasaan ku bangun jam 6 karena aku masih kecil jadi butuh tidur yang banyak. Entah mimpi atau bukan, tadi malam aku bertemu seekor 'rubah berekor sembilan' yang tak sengaja aku tabarak atau hewan itu yang menabrak(?). Ah... dimana-mana yang gede yang salah, tapi kok tadi malam aku lihat Aniki bersama rubah itu? ah nanti aku tanya Aniki saja. Tanpa pikir panjang aku langsung melangkahkan kaki ku menuju kamar madi. Setelah lima belas menit aku pun keluar dan langsung memakai seragam sekolah ku. Tak butuh waktu lama, hanya tiga puluh menit aku berkalud dikamar.
Aku segera membuka pintu lalu turun tangga menuju meja makan. Pertama kali aku lihat adalah Wajah Kaa-san yang cantik. Kaa-san selalu tersenyum padaku, bukan hanya Kaa-san namun Tou-san juga selalu tersenyum meskipun Tou-san jarang pulang. Ha... aku tak tahu seberapa sibuknya Tou-san. Aniki pernah bilang kalau Tou-san itu orangnya sangat dingin pada karyawannya. Aku tak percaya sebab Tou-san selalu tersenyum pada kami sekeluarga. Ah... aku lupa Aniki kan pernah bekerja dikantor Tou-san, mungkin yang dikatakan Aniki ada benarnya.
"Sasuke... kenapa kau berhenti ditengah tangga?" Ucap Kaa-san pada ku. Aku langsung tersadar namun masih tak beranjak.
"Otouto... kenapa kau bengong apa ada yang aneh?" Ucapan Aniki membuat ku tersadar dan mulai berjalan menuruni tangga.
"Tidak Aniki... aku hanya sedang merindukan senyum Tou-san." Ucap ku dengan lirih. Semuanya malah tertawa mendengar penuturanku. Akupun mencoba memajukan bibir ku pertanda tak suka. Kaa-san yang sejak tadi berada di sebelah kanan Aniki tiba-tiba berjalan menuju kearah ku.
"Jadi anak Kaa-san rindu Tou-sannya." Ucap Kaa-san sambil membelai rambut ku. Pipiku tiba-tiba terasa panas.
"Lihat Kaa-san pipi Sasuke merah." Perkataan Aniki malah membuat pipiku bertambah lebih panas lagi apa lagi ketika Kaa-san melihat ku. Aku tak dapat memungkirinya sehingga aku putar kepalaku kesamping agar mereka berhenti melihatiku.
.
.
.
Di atas piring ku sudah tersaji makanan kesukaan ku omelet dengan segelas susu coklat. Ah... Kaa-san selalu tahu apa yang aku suka. Setelah tadi Kaa-san mempresiapkan makanan pagi ku sekarang ia menata makaan pagi milik Aniki. Roti panggang dan secangkir kopi(?). Aku heran pada Aniki kok dia doyan makanan kayak orang dewasa gitu. Ah... aku lupa ada yang harus aku tanyakan pada aniki, tapi Kaa-san masih ada bagaimana ini. Aku makan saja makanan ku. Aku sendok dan lansung ku makan. Namun baru dederapa kunya terdengar suara yang tak asing.
'TUT...TUT...TUT...'
Ah... bunyi telpon pasti Tou-san.
"Kaa-san..." Ucap Aniki aku hanya memperhatikan saja Kaa-san pergi. Inilah kesempatan ku bertanya pada Aniki. Aku coba kunya lalu ku telan omelet buatan Kaa-san sebelum bertanya pada Aniki. Aku lihat Aniki sedang menyeduh kopi panasnya setelah rotinya habis. Aku mencoba memberanikan diri memanggilnya.
"Aniki..." Ucap ku, Aniki langsung menghentikan acara minum kopinya.
"Ada apa Sasu-chan." Ucapnya sambil tersenyum. Aku sebenarnya agak risih dipanggil dengan embel-embel 'chan' karena aku rasa itu panggilan anak perempuan.
"Aniki... Apa di dunia ini ada yang namanya keajaiban." Tanya ku. Siapa yang didunia ini tak tahu apa itu namanya keajaiban.
"Tentu saja." Ucap Aniki. Aku mengangguk saja. Lalu terbesitlah bayangan kejadian semalam yang berhubungan dengan Aniki.
"Apakah seseorang harus berkata jujur." Ucap ku sebab Aniki pernah bilang kita harus jujur pada semua orang.
"Bukankah itu yang aku ajarkan Otouto." Aku pun mengangguk lalu menatap piring Omelet ku lagi. Jujur aku masih bingung atau bagaimana ya, antara ngomong ama gak ngomong.
"KENAPA kau bertanya seperti itu, OTOUTO?" Ucap Aniki, Aku masih memantapkan hati ku sebab aku tahu sifat aniki.
"Aku...Aku ingin RUBAH BEREKOR SEMBILAN." Ucap ku dengan ada nada tinggi di akhir kalimat. Aniki langsung menjawabnya.
"Mana ada..." Hanya butuh satu kali oktaf untuk menjawab pertanyaan ku yang aneh. Namun dalam hati aku merasa marah karena Aniki sudah berbohong.
#Flash Back Off Pagi Hari"
Setelah kejadian itu Si Raven langsung memjadi Bad mood. Apa lagi ditambah Anikinya yang mengantarnya sekolah bersama Deidara, Nii-san angkatnya yang tak ia suka karena berbeda dengan Uchiha lainnya. Si raven mulai mengantuk. Si raven mencoba memejamkan mata hitamnya, namun...
Sebuah suara membuyarkan tidur si raven.
"Itachi... Sasuke... ayo turun makanan sudah siap!"
Si raven mencoba membuat dirinya tetap sadar meskipun masih dalam keadaan mengantuk karena kelelahan. Ia mencoba berjalan menuju kamar mandi. Mungkin dengan siraman air pastilah penatnya hilang.
.
.
.
.
-tbc-
.
Gomene... ini sebenernya bisa panjang lagi tapi mata haki dah suntup jadi malas nulis. Haki ingin buat percakapan Minato dengan Tsunade dan Jiraya yang mengasuh Kyuubi sejak kecil setelah perang usai. Apa saja yang mereka ajarkan. Jangan berpikir tentang hal mesum sebab ini reiting T bukan M juga bukan T+ jadi untuk acara aneh-aneh gak bakalan muncul. Dan chapter depan adalah sebab Kyuubi dipenjara dan analisis kasus yang dipecahkan Deidara. Tapi ia harus berbohong sebab... next chapter aja ya. Do'a in makin panjang.
Ucapan Thank aja ya buat yang nyempetin review chapter 9:
hanazawa kay : dah lanjut nih.
fatayahn : ia sasuke itu gemesin, bakal tahu tidak ya fugaku, ah mungkin karena keanehannya, deidara yang mecain nih kasuas.
Axa Alisson Ganger: dah lanjut nih.
Clein cassie: bentar lagi liburan sekolah sasu,dei,ita banyak kejadian seru yang terjadi. gara-gara kesalahan Itachi jadi (ceroboh) sasuke tahu. Pengembangan per cahapter masih ada jadi ni fic panjang bro...
greatest15 : Maakashi dah review.
ahmadbima27 : nagtuk semakin melanda. jika berani gadang ngerjain nih fic semalam maka harus dibayar 3 hari tidur lebih awal dan kelelahan di jam siang.
: pengembangan chapter, kayaknya minato yang tahu duluhan bagai mana caranya nanti juga tahu.
aikhazuna117 : ia masih diusahain.
chika : kayaknya nih chapter tak sesuai keinginan mu. Maaf ya alurnya agak sedikit datar belum mencapai puncak.
#Makasih atas review kalian...
Jangan Lupa PM or Review...
Yang dari KOTAK REVIEW akan dibalas di chapter berikutnya sedang yang PM akan langsung dibalas lewat InBook.
Akhirkata lagi-lagi... jangan lupa Review ne...
