Chapter 10

.

.

.

Ohayou, konichiwa, konbanwa… Ogenki desuka minna-san? Sebulan lebih tak muncul ada yang kangen?.. Gak ada ya? Ya sudah,…. Hiks..

Udah… lebay..

Tenang saja… ini FF akan sampai tamat kok. Diusahain pokoknya.. Muga aja akupanjang umur, jadi bisa terus menulis… Rasanya tuh kalau baca FF gak tamat SEBEL, BAPER gimana gitu. Karena aku tau rasanya, maka aku akan membuat pembaca setiaku untuk tidak merasakan hal yang sama… preettt bgt, hahahah…

Kalau cerita tentang perjodohan, yang kaya cowok yg miskin cewek, tidak saling mencintai, si cowok punya cewek lain yang disukai, terus ada masalah kekuasaan, pasti identic dengan prince hours drama Korea…. Ya saya terima kok.. Tapi, sebenernya untuk kisah romantisnya kebanyakan diambil dari kisah pribadi ma kisah temen tapi ditambah-tambahin biar alay gitu.. hahaha..

Untuk masalah INO… ya bagaimana ya, masalahnya tidak akan berat dan sekompleks itu.. yang penting bisa jadi bumbu kisah yang bagus..

GAARA? Saya cukup jahat memang menjadikan sosok Gaara di cerita ini. ya bagaimana, dia kebagian perannya kayak gitu pas casting.. heheh.. ampun buat fansnya maz Gaara…

"Gaara-san kau harus terima karena aku sutradaranya!" Haha itu kataku past ngecasting maz Gaara…

.

.

Terima kasih masih mengikuti.. terima kasih untuk reviewnya…

Selamat membaca… selamat mantengin karena kata-katanya bakal panjang banget dan aneh lebay, gaje… so yess bgt….

.

.

.

..

.

SAKURA'S LOVE STORY

.

Cast: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Sabaku no Gaara,

Uzumaki Karin, Ino Yamanaka, Shimura Sai, Namikaze Naruto, Madara Uchiha, Hatake Kakashi, yang lain menyusul seiring berjalannya cerita.

.

Naruto itu punya Masashi Kishimoto-sensei.

saya Cuma minjem nama dan karakternya.

Cerita murni dari saya.

.

=SATA ERIZAWA PRESENT=

.

WARNING: aneh, gaje, abal-abal, OOC,

.

Rated: T

.

ALUR SINETRON

.

===========ITADAKIMASU==========

.

.

,.

.

Malampun tiba, Sasuke tengah mengamati sang ibu yang sedang duduk melamun di balkon utama. Duduk sendiri sambil menatap langit yang hitam kelam tanpa bintang. Rupanya awan menutupi semua bintang-bintang yang ada di langit. Sepertinya tidak lama lagi akan turun hujan. Ibunya yang sudah semakin tua dapat Sasuke rasakan. Kulit ibunya yang dulu sangat halus, kini mulai terdapat kerutan-kerutan tipis meski tidak begitu kelihatan. Ibunya memang termasuk ke dalam kategori wanita kurus, tapi tidak mengalahkan jika ibunya adalah sosok wanita cantik. Dalam usia ke empat puluh limanya saja masih terlihat cantik, apalagi mudanya dahulu? Sasuke hanya membayangkan jika dulu ibunya pastilah sangat cantik.

Sasuke melihat sang ibu beberapa kali mengusap kedua lengan atasnya. Ia tahu jika ibunya merasa kedinginan. Yang membuatnya heran, kenapa ibunya tidak beralih ke kamar jika merasa kedinginan? Cuaca mendung seperti ini pastilah angina herhembus cukup kencang. Apalagi malam hari. Apa ibunya itu tidak memikirkan kesehatannya? Sasuke memang selalu mengkhawatirkan keadaan ibunya, apalagi setelah ayahnya meninggal sepuluh tahun yang lalu. Sejak saat itu, ia berjanji akan menjaga ibunya menggantikan sosok sang ayah.

Sasuke berjalan pelan menghampiri ibunya. Lalu ia melepaskan jaket yang ia pakai dan memakaikan jaket itu untuk menutupi bahu ibunya. "Jika ibu hanya memakai baju seperti itu, ibu akan sakit."

"Ah, kau Sasuke.. Malam ini langit tidak secerah biasanya ya?"

"Jika malam pernah cerah sebelumnya, makan akan kembali seperti sebelumnya.."

Ibu Sasuke tersenyum mendengar penuturan anaknya. "Kau memang paling bisa meluluhkan hati ibu.."

"Aku ini anakmu, Bu. Tentu saja aku tahu.. Aku juga tahu apa yang tengah ibu rasakan. Maafkan aku sebelumnya, Bu.. Aku tahu, aku sudah menyakiti hati ibu. Aku hanya merasa tertekan jika terus seperti ini. Bagaimanapun aku dan Gaara haruslah memiliki hak yang sama. Aku merasa egois jika aku sendiri yang menerima hak itu.."

"Ibu mengerti,, Kau memang anak yang baik. Hanya saja ibu merasa takut.."

Ibu Sasuke mulai meneteskan air mata. Sasuke berdiri setengah jongkok untuk mensejajarkan diri dengan posisi ibunya yang sedang duduk di kursi. Dengan lembut Sasuke mulai menghapuskan air mata ibunya. Sasuke tersenyum menatap ibunya. "Jangan khawatir, itu hanya masa lalu. Jika ada yang ibu takuti, maka aku akan menjadi tempat untuk ibu berlindung. Jika masih kurang, masih ada Sakura. Bukankah ibu juga menyayangi Sakura?"

Ibu Sasuke langsung terbangun dan menyuruh Sasuke untuk berdiri, lalu memeluk Sasuke dengan erat dan hangat. Pelukan tulus dari seorang ibu kepada anaknya. "Terima kasih, sayang. Ibu sangat menyayangimu dan tentu dengan Sakura juga.."

"Apa aku boleh ikut berpelukan?" Tanya Sakura yang tiba-tiba muncul di depan pintu menuju balkon utama. Ibu Sasuke menoleh, tersenyum, dan mengangguk. Dengan cepat Sakura berjalan menuju Sasuke dan ibu mertuanya. Ia langsung memeluk ibu mertuanya. Sasuke ikut tersenyum melihat kelakuan Sakura yang dengan cepat bisa membuat ibunya tertawa. Terbawa suasana akan hal itu, Sasuke ikut memeluk kedua wanita yang ada di hidupnya saat ini.

"Aku tidak tahu apa-apa tentang keluarga ini…" Batin Sakura.

Setelah mengantarkan sang ibu, Sasuke dan Sakura kembali ke kamar mereka. Kali ini mereka tidak berniat untuk berdebat atau bermain batu-kertas-gunting seperti biasanya. Melihat Sasuke yang berjalan tenang menuju kamar mereka menciutkan niat Sakura untuk mengganggu suaminya. Sebenarnya Sakura juga sedang tidak mau bercanda dengan Sasuke, tapi melihat Sasuke yang terdiam membuatnya gemas. Ia lebih menyukai Sasuke yang usil padanya. Mau tidak mau, Sakura hanya mengekor Sasuke sambil menatap punggung Sasuke penuh tanya. Apa ada yang Sasuke pikirkan batinnya. Aneh memang, ini pertama kalinya ia melihat Sasuke terdiam dengan begitu serius.

Sesampainya di kamar Sasuke masih diam. Sakura hanya memperhatikan Sasuke yang menyibakkan selimut, merebahkan diri di kasur mereka, lalu menariknya sampai setengah dada. Sasuke kemudian memiringkan badannya ke arah kanan. Apa Sasuke sudah mengantuk? Sakura juga melakukan hal yang sama dengan Sasuke, tapi ia memiringkan badannya ke arah kiri membelakangi Sasuke. Mereka tidur saling membelakangi seperti malam-malam biasanya. Sasuke tetap saja terdiam. Hal ini membuat Sakura semakin penasaran. Ingin sekali bertanya, tapi ia takut Sasuke akan memarahinya. Ia bingung harus bagaimana. Ia membalikkan badannya menatap punggung Sasuke yang tiduran membelakanginya, ia memutuskan untuk mengajak Sasuke berbicara, tapi tidak jadi, ia kembali ke posisinya. Malam semakin larut, tapi entah kenapa mata Sakura tak kunjung terpejam. Mungkin karena masih memikirkan kediaman Sasuke. tanpa sadar, akhirnya ia membuka mulut yang sedari tadi ia tahan untuk tidak mengeluarkan suaranya.

"Ne Sasuke, aku tidak bisa tidur….. Kau tahu, aku mengkhawatirkanmu. Apa kau sedang tidak baik-baik saja?... Hmm, kau sudah tidur ya? Ya sudah, selamat tidur.." Kata Sakura yang masih tidur membelakangi Sasuke.

"Jadi kau mengkhawatirkanku? Haruskah aku tertawa?" Sahut Sasuke pelan. Reflex Sakura membalikan badan dengan cepat menghadap ke Sasuke yang membelakanginya.

"Ka-kau belum tidur? Lalu kenapa kau hanya diam saja? Kau membuatku penuh tanya akan kediamanmu.."

".."

"Sasuke, jangan diam saja! Katakan sesuatu! Kau membuatku geregetan."

"Apa yang ingin kau tanyakan?"

Sakura senang, akhirnya ia berhasil membuat Sasuke mau ngobrol dengannya. "Soal ibu, maaf tadi aku tidak sengaja melihatmu menghapus air mata ibu. Aku tahu aku tidak sopan untuk menanyakannya, tapi aku mengkhawatirkan ibu. Aku yakin ibu sedang bersedih.."

Sasuke membalikan tubuhnya, lalu duduk dengan menggunakan bantalnya sebagai sandaran. "Kau benar, ibu sedang bersedih dan itu karenaku."

"Karenamu?" Sakura mengikuti apa yang Sasuke lakukan, ia juga duduk bersandar di samping Sasuke.

"Karena kau sudah menjadi bagian dari keluarga Uchiha, sepertinya kau juga harus mengetahuinya."

"Maksudnya? Aku belum mengerti.."

"Aku bukan cucu tunggal kakek."

"Ma-maksudmu kakek memiliki cucu lain? Bukankah kau itu pewaris tunggal kakek? Itu berarti kau cucu satu-satunya, kan?"

"Sayangnya tidak seperti itu. Ada Gaara. Dia kakakku."

Sakura melebarkan kedua matanya karena kaget bukan main. Setahu Sakura, sejak SMA ia mengenal Gaara, Gaara adalah anak tunggal. "Ti-tidak mungkin, Sasuke. Jangan bercanda! Gaara-senpai memang tidak pernah bilang jika ia memiliki saudara atau adik, tapi aku tahu dia anak tunggal.."

"Ayahku memiliki seorang anak sebelum menikah dengan ibuku dan anak itu adalah Gaara."

"Hah? Bagaimana mungkin? Berarti mendiang ayah mertua meninggalkan ibunya Gaara-senpai?"

"Ayah dijodohkan dengan ibuku."

Sakura masih berusaha mencerna setiap kata yang Sasuke katakan. Ia memang sulit mempercayainya. "Tapi rasanya ibu mertua sangat menyayangi mendiang ayah mertua.."

"Ibu memang menyayangi ayah. Tapi cinta ayah hanya untuk ibunya Gaara. Sampai ayah meninggalpun, ayah masih mencintai ibunya Gaara.

"Apa ada hubungannya dengan sifat kakek tadi sore? Aku merasa aneh saat Gaara-senpai mencoba berbicara, tetapi selalu saja dialihkan oleh kakek. Kakek bahkan sering mendiamkannya seolah menganggap Gaara-senpai tidak ada. Sebenarnya ada apa dengan kakek?"

Sasuke menghembuskan nafas beratnya. Memang istrinya itu bodoh atau memang tidak peka sama sekali. "Tentu saja karena kakek tidak menyukai Gaara."

"Tidak menyukai Gaara-senpai? Bukankah Gaara-senpai itu pintar, calon dokter berbakat juga?"

Sasuke kembali menghembuskan nafas beratnya. Sepertinya ia harus menjelaskan secara rinci kronologi ceritanya. "Gaara adalah anak di luar nikah Ayah dengan wanita yang sama sekali tidak kakek restui. Kakek menjodohkan ayah dengan ibukku, tapi ternyata ayah sudah memiliki anak dari wanita yang menjadi ibunya Gaara. Walau kakek membiayai biaya hidup Gaara, tapi tetap saja kakek enggan mengakui Gaara sebagai cucu pertamanya."

"Sasuke.." Sakura secara tiba-tiba memeluk Sasuke yang tengah duduk bersandar di sambingnya. Sasuke hanya pasrah menerima pelukkan dari Sakura. Rasanya saat ini Sasuke memang butuh sosok untuk menjadi sandarannya. "Aku tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Tapi, jika aku ada di posisimu, aku pasti tidak akan menerima begitu saja takdir yang harus dihadapi. Mungkin saja aku akan protes kepada mendiang ayah. Tapi, mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Apa yang harus disesalkan? Jika itu memang menyesalkan, tapi bisa kan memperbaikinya?"

"Aku merasa tidak adil pada Gaara. Aku menikmati hakku dari keluarga Uchiha, sementara dia hanya ingin diakui saja sangat sulit padahal di dirinya mengalir darah Uchiha juga, sama sepertiku."

"Kasihan Gaara-senpai, tapi ibu mertua pasti juga merasakan hal yang sama. Dia mencintai mendiang ayah mertua, tapi ternyata di hati mendiang ayah mertua ada wanita lain. Ibu mertua pasti mengalami hari-hari yang sulit. Aku rasa aku tidak mungkin bisa jika aku jadi ibu mertua. Pasti sangat berat dan menekan mental.."

"Ibu memiliki jiwa yang kuat."

"Semoga saja semua akan baik-baik saja.."

"Semoga saja.."

Sakura melepaskan pelukannya pada Sasuke. Sakura juga tak tahu kenapa ia bisa tiba-tiba memeluk Sasuke seperti itu, tanpa kecanggungan, itu berlangsung spontanitas. Mungkin karena malam ini suasananya terkesan mellow dan rada sedih.

"Ne Sasuke.. Apa dijodohkan sudah mendarah daging di keluarga ini?"

"Ya, dari dulu seperti itu. Sepertinya, ayah dan ibuku adalah contoh perjodohan yang gagal.."

"Kurasa tidak sepenuhnya benar. Jika ayahmu tidak mencintai ibumu, mana mungkin ada kau. Meski sedikit, aku yakin perasaan cinta itu pasti ada.."

"Haha, kau ini.." Sasuke mengacak-acak rambut Sakura.

"Merasa lebih baik?" Tanya Sakura. Sasuke mengangguk dan mereka melanjutkan tidur mereka yang sempat tertunda. Rasanya setelah berbicara dengan Sakura, Sasuke bisa tertidur dengan lelap. Mereka bahkan tak saling membelakangi. Pertanda baik?

.

.

.

.

.

Hubungan Gaara dan keluarga Uchiha semakin membaik, meski tidak dengan kakek Madara. Gaara memahami posisinya sebagai seorang cucu yang sama sekali tidak diharapkan oleh sang kakek. Ia bahkan lahir dari orang tua tanpa ikatan pernikahan. Ingin sekali ia protes kepada Tuhan dengan apa yang ia alami. Kenapa ia terlahir dalam keadaan seperti itu? Sulit mendapatkan pengakuan dari kakek kandungnya sendiri. Memang tak seharusnya menempatkan Gaara di tempat yang salah, tapi karena kisah cinta ibunya, ibu Sasuke, dan ayahnya membuatnya selalu tersudutkan. Gaara tidak bisa seenaknya saja menyalahkan ibunya yang mencintai ayahnya. Bagaimanapun ia juga sangat menyayangi ibunya. Perasaan ibunya adalah perasaan yang begitu saja mengalir, sama dengan perasaan sang ayah. Yang Gaara sesalkan, kenapa ayahnya tidak menyelesaikan masalah sebelum meninggal? Hal itu membuat ia dan ibunya semakin berat menjalani hidup.

"Saya benar-benar sangat gembira saat mendengar Nyonya kembali dari London.." Kata seorang lali-laki paruh baya bernama Tuan Pain.

"Mungkinkah ini menjadi titik terang dari usaha kita selama ini?" Lanjut seorang lali-laki yang berusia tak jauh beda dengan Tuan Pain, sebut saja Tuan Hidan.

"Apa hanya kalian saja yang berpihak kepadaku?" Tanya seorang wanita empat puluh enam tahuanan yang masih terlihat sangat cantik, Nyonya Kurenai. Ibu dari Gaara.

"Tentu saja tidak, Nyonya. Anda akan merasa tenang karena kami mampu membangun relasi cukup kuat dan tentu akan semakin kuat untuk ke depannya." Jawab Tuan Pain.

"Bahkan kami mampu menguasai 5 persen dari saham keseluruhan. Memang belum terlalu besar, tapi karena dukungan Nyonya, kami yakin semua akan semakin mudah." Kata Tuan Hidan.

Nyonya Kurenai tersenyum penuh arti. "Saya tahu, kalian bisa diandalkan. Terima kasih karena selama ini kalian masih setia kepada saya. Saya tidak akan pernah melupakan kesetiaan kalian.."

"Terima kasih, Nyonya…"

"Baiklah, sepertinya kami harus segera kembali ke kantor. Kami permisi, Nyonya."

"Terima kasih sudah meluangkan waktu mengunjungi saya.." Kata Nyonya Kurenai membungkuk hormat kepada dua tamunya.

Kedua tamu Nyonya Kurenai meninggalkan kediamannya. Di depan rumah ke dua tamu itu sempat berpasan dengan Gaara. Gaara hanya tersenyum menyapa kedua tamu ibunya itu. Tentu saja sambil membungkukan tubuhnya sebagai tanda hormat. Setelah meyakinkan diri jika kedua tamu itu pergi dari rumahnya, Gaara langsung memasuki rumahnya. Ia tersenyum melihat sang ibu sedang membereskan beberapa cangkir kopi yang ada di atas meja.

"Kaa-san, tadaima.." Kata Gaara.

Nyonya Kurenai menoleh ke arah suara yang mengagetkannya. Melihat anak semata wayangnya datang dan menyapa dirinya dengan senyuman manis membuat Nyonya Kurenai merasa senang. "Oh, Gaara, okaeri… Kau sudah pulang, sayang? Bagaiman kunjunganmu? Ibu akan mendengarkan ceritamu.."

Gaara tertunduk lesu."Masih sama seperti biasanya, Bu.."

"Heem, anak ibu tidak boleh patah semangat! Ibu akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu."

"Ibu, jangan bahas hal itu lagi! Aku tidak akan menyetujuinya!"

"Ibu hanya sedang memperjuangkan hakmu, sayang. Kau berhak mendapatkan kebahagiaanmu. Ibu hanya tidak mau kau terus-terusan menderita karena ibu dan mendiang ayahmu."

Gaara menghela nafasnya. "Aku sudah cukup bahagia bisa menjadi anak ibu…. Baiklah, aku akan kembali ke kamarku." Kata Gaara yang langsung menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua.

"Suatu saat kau akan mengerti dengan semua yang ibu lakukan untukmu, sayang. Kita tidak akan seperti ini jika bukan karena kakek tua itu. Harusnya ibu, ayahmu, dan kau bisa hidup bahagia.." Batin Nyonya Kurenai sambil memandangi anak tercintanya, Gaara.

,

.

.

"Ah, aku lelah sekali.." Kata Sakura yang langsung merebahkan tubuhnya di ranjang.

Sasuke tidak berniat menanggapi ocehan Sakura. Ia sibuk melepaskan dasi yang rasanya sudah seharian ini mencekek lehernya. Ia juga merasakan hal yang sama dengan Sakura. Lelah, letih, dan rasanya semua tenagannya sudah hampir habis. Setelah selesai melepaskan dasinya, lalu Sasuke duduk di tepi ranjang dan melepaskan sepatu kulitnya beserta kaos kakinya. Ia juga merebahkan tubuh lelahnya di samping Sakura.

"Sasuke, kau tahu tidak kalau akhir-akhir ini aku sedang bersedih?" Tanya Sakura tanpa menoleh ke arah Sasuke.

"Tidak."

"Isshh, kau memang tidak peka jadi laki-laki. Kau tidak mirip sama sekali dengan tumbuhan putri malu! Kata-katamu tajam seperti durinya, tapi kepekaanmu sama sekali berbeda. Tidak ada!"

"Akukan manusia yang memang bukan tumbuhan putri malu yang sangat peka akan rangsangan."

"Sasuke…" Sakura merajut karena lagi-lagi ia kalah berdebat dengan suaminya.

"Ceritakan apa yang mengganggu fikiranmu!" Sasuke akhirnya luluh.

"Sudah sebulan lebih aku tidak mengunjungi ibu. Meski setiap hari ngobrol lewat telefon tapi rasanya jika belum memeluk ibu, rasa kangenku belum terobati…"

"Lalu?"

"Besokkan kuliah libur, lusa hari minggu, hari seninnya tanggal merah, bagaimana jika kita mengunjungi ibu?"

"…"

Sakura menggembungkan pipinya. "Kalau kau sibuk, tidak apa-apa. Tapi, izinkan aku menginap di tempat ibu ya? Bantu aku juga meminta izin pada ibu mertua, nenek, dan kakek!"

"Aku akan menemanimu."

Sakura tidak menyangka jika Sasuke akan berkata seperti itu. "Benarkah?"

"Hn."

Sakura tersenyum senang. "Sasuke, terima kasih."

Sesuai janjinya pada Sakura, Sasuke menuruti apa yang Sakura inginkan. Mengunjungi ibu Sakura, ibu mertuanya. Setelah mendapatkan izin dari kakek, nenek, dan ibunya, Sasuke bersama Sakura langsung bergegas menuju rumah ibu Sakura yang memang agak jauh dari rumah Sasuke. Rumah ibu Sakura sekota dengan kampusnya.

.

.

Suasana rumah Sakura mengalami cukup banyak perubahan terhitung semenjak ia Bertunangan dengan Sasuke. Uang yang ibunya Sakura, Tsunade, dapatkan dari kakek Madara sangatlah banyak, cukup untuk merenovasi rumah sederhana dan tua itu. Ganti genting dan cat baru berwarna crem adalah hal yang sangat mencolok dari luar rumah. Di depan rumah juga nampak berbagai macam tanaman bunga dan sayuran yang terawat rapi di potnya.

Sambutan hangat dari Tsunade begitu menyejukkan. Wajah Sakura terlihat berbinar saat melihat ibunya yang sangat Sakura rindukan. Ibunya memang sangat cerewet, tapi juga sangat baik. Sakura sangat menyayangi ibunya….

Memasuki ruang tamu di rumah itu, mulai dari sofa, gorden, dan keramik lantai juga nampak baru. TV LED ukuran 32 inch, almari hias, hiasan dinding, bunga di vas juga terlihat baru di mata Sakura. Foto-foto pernikahannya dengan Sasuke juga banyak menghiasi setiap penjuru ruangan. Foto ayah dan sang ibu juga tak luput dari pandangannya. Bukankah bersyukur saat itu juga hal yang sangat perlu Sakura lakukan?

Ini pertama kalinya Sasuke berkunujung ke rumah Sakura. Pertama kalinya juga baginya masuk ke dalam kamar Sakura. Kamar yang rapid an minimalis. Kamar dengan warna pink soft itu nampak nyaman di mata gelap Sasuke. Sakura memang terkadang urak-urakkan dan berisik, tapi ia tahu jika setiap hari Sakura selalu merapikan tempat tidur mereka dengan tenaganya sendiri tanpa bantuan para maid atau pelayan lainnya.

"Maaf Sasuke, kamarku memang tak seluas kamar kita di rumahmu. Ranjangnya mungkin juga tak seempuk ranjangmu, tapi aku jamin, rumah ini sangat nyaman untuk ditinggali…" Kata Sakura. Ia memasukkan beberapa baju yang ia bawa ke dalam almari pakaian.

Sasuke menghentikkan kegiatannya melihat-lihat foto pernikahannya dengan Sakura yang ada di meja rias istrinya itu. "Jangan khawatirkan hal itu. Tempat yang bersih sudah cukup bagiku…"

"Souka.. Baiklah, kau lelah, kan?... Sebaiknya kau istirahat saja. Jika ingin cuci kaki, kamar mandi ada di sebelah kamar ini. Maklum, aku tak memiliki kamar mandi dalam seperti di kamar kita di rumahmu.. hehe… Aku akan ke bawah untuk membantu Shikamaru angkat barang…"

Sasuke hanya mengangguk ringan saja. Ia lalu melanjutkan acara melihat-lihat kamar Sakura. Ia juga melihat jendela yang cukup luas untuk ukuran sebuah jendela. Kini ia paham kenapa Sakura begitu menyukai bintang, rupanya, Sakura bisa melihat bintang dari tempat tidurnya tanpa harus ke luar kamarnya. Sasuke juga melihat beberapa foto Sakura saat masih kecil yang nampak sangat imut itu. Sakura berfoto dengan mulut berlumuran ice cream vanilla. Tak sadar ia tertawa pelan. Sakura memang sering bertindak konyol.

Semenatara itu, Sakura tengah sibuk membantu Shikamaru memindahkan barang bawaan mereka. Tak banyak memang, tapi lumayan juga. Ada beberapa kardus berisi kue kering, hadiah dari Mikoto untuk Tsunade. Ada juga teh hijau dan kopi organic pemberian nenek Chiyo da nada juga obat-obatan herbal yang menurut Sakura nampak aneh pemberian dari kakek Madara. Selain itu, masih ada beberapa parcel buah yang tadi Sakura beli tak jauh dari rumahnya.

Shikamaru juga akan menginap di tempat Sakura. Hal ini sudah jelas demi ke amanan Sasuke dan Sakura. Meski menurut Sakura itu cukup berlebihan mengingat, setahu dirinya jika kompleks pinggir kota rumahnya itu adalah tempat yang damai-damai saja selama ini. Tidak ada, bahkan tidak pernah terjadi kerusuhan yang berarti di daerahnya. Namun jika ia melihat sosok suaminya, Sasuke yang terkenal itu, rasanya membawa Shikamaru bersama mereka adalah keputusan yang sangat tepat. Bahkan ia berharap jika Temari juga ikut dengannya, hanya saja, sayangnya Temari sedang ditugaskan untuk ikut kakek Madara meeting di Korea selama 3 hari ke depan.

Shikamaru adalah teman sekaligus bodyguard Sasuke yang tak hanya jenius, tapi juga pandai bela diri. Sasuke bilang, Shikamaru pernah mengikuti latihan berbasih militer sebelum menjadi bodyguard Sasuke. Shikamaru bahkan memiliki izin untuk memiliki senjata api dan senjata api itu selalu Shikamaru bawa selama bertugas menjaga Sasuke.

"Shikamaru, ini kamarmu.. Kamar mandi ada di dekat dapur. Kau tinggal lurus saja lalu belok kanan. Maaf ya, rumahnya biasa saja…" Kata Sakura.

"Terimakasih, Sakura-sama… Rumah ini terlihat sangat nyaman. Saya akan betah.." Kata Shikamaru.

"Yokkata ne…"

Sakura bergegas membantu sang ibu di dapur yang sepertinya tak menduga jika akhir pekannya itu akan dikunjungi oleh anak dan menantunya. Sebagai seorang ibu mertua untuk Sasuke Tsunade pasti akan berusaha sekerasnya agar mendapat kesan yang baik di mata Sasuke. Mengingat betapa baiknya keluarga Uchiha memperlakukan Sakura selama ini. Ia memang masih merasa bersalah karena ia sudah tega 'menjual' anaknya sendiri pada orang kaya, tapi rasanya cukup berkurang jika ia melihat untaian senyum di bibir tipis anak semata wayangnya itu.

"Ibu, tomatnya ditambahin, Sasuke sangat menyukainya!" Pinta Sakura.

"Baiklah.." Tsunade mengambil beberapa tomat lagi dari kulkasnya.

Acara memasak pagi menjelang siang itu berjalan lanacar terbukti dengan sup tomat, ikan goreng, nasi, ayam goreng, dan sayuran mentah macam selada dan daun perliria juga ada di meja makan. Menggugah selera. Sakura, Sasuke, Tsunade, dan Shikamaru makan bersama saat itu juga.

.

.

.

Malam harinya, sepertinya Sasuke cukup kesulitan tidur karena merasa agak sempit tidur berdua dengan Sakura di ranjang yang tak begitu luas itu. Sakura memang tak banyak bergerak, hanya saja ketika Sakura bergerak saat tertidur di samping kali ini, kadang terlihat sangat… ah.. Sasuke tidak tahu bagaimana mengungkapkan apa yang mengganjal di otaknya. Pakaian Sakura nampak sangat cocok dengan kulit Sakura yang putih bak porselin itu. Baju tidur cantik, berenda itu cukup tipis sehingga saat Sakura bergerak baju tidur itu seolah menempel dan mengikuti bentuk indah tubuh Sakura. Memang bukan baju tidur yang sexy atau bahkan transparan, tapi yang membuat Sasuke sulit tidur itu karena rasa panas yang tiba-tiba saja muncul saat ia melihat baju tidur istrinya terbuka satu kancing di atas.

Posisi tidurnya yang miring ke kanan, berhadapan langsung dengan Sakura yang memang miring ke kiri yang entah sejak kapan posisi itu berubah. Seingat Sasuke, Sakura tidur membelakanginya. Seperti biasanya. Tapi, ketika ia terbangun, ia melihat Sakura begitu dekat dengan matanya. Sasuke memang tidak kaget dengan adanya Sakura yang tiba-tiba saja ada di depannya itu. Ia juga tidak berteriak kaget ketika mendapati sosok si depan wajahnya. Yang Sasuke lakukan hanya mengamati istrinya yang cerwet itu. Mulai dari rambut, jidat yang lebar, hidung kecil yang mancung, bibir tipis yang errrr…. Dagu yang cantik, leher yang indah, ke bawah, lalu.. yah.. ia mendapati kancing baju Sakura yang terbuka. Dengan posisi tidur Sakura yang miring seperti itu, Sasuke dengan sangat jelas bisa melihat belahan dada Sakura yang nampak…. Ahhh.. entahlah, rasanya sangat panas jika harus menjelaskannya. Sekilas melihatnya saja sudah membuat keringetan.

Sasuke berusaha mati-matian untuk membalikkan tubuhnya dan bersiap tidur kembali, tapi rupanya usahanya sia-sia saja. Ia justru semakin kepikiran sosok di sampingnya itu dan semakin membuatnya tak bisa tidur. Ia melirik jam dinding warna putih yang ada di kamar Sakura. Sudah pukul dua pagi. Tik tok tik tok.. detik demi detik jarum kecil itu berjalan. Waktu terus berjalan tapi bagi Sasuke, waktu itu berjalan sangat lambat.. Beberapa kali Sasuke merubah posisinya. Sepertinya ia sedang gelisah..

Entah kenapa, tak tahu apa, dan bagaimana, Sasuke justru kembali menghadap ke posisi tidur Sakura. Ia mengamati, memandangi kembali Sakura yang sedang tertidur lelap itu. Sakura nampak damai di tidurnya yang nyaman itu- sangat jauh berbeda dengannya yang justru sedang gelisah. Sasuke yakin, Sakura sedang mimpi indah karena Sakura bisa tidur di kamarnya yang sudah sangat Sakura rindukan.

Sasuke sedikit iri dengan kenyamanan tidur Sakura itu…

Sakura yang tertidur nyaman seolah menghipnotisnya. Tak tahu kenapa, tangan Sasuke tiba-tiba saja bergerak, mengusap pipi mulus Sakura. Mengusapnya lembut-sangat lembut. Sasuke sempat berhenti karena tiba-tiba saja Sakura bererak pelan. Tapi Sakura nampak tak terganggu oleh usapannya di pipi Sakura. Sasuke menghembuskan nafas leganya. Ia kembali mengelus pipi Sakura itu. Cukup lama mengelus pipi Sakura, tangan Sasuke bergerak ke bibir Sakura yang berwarna pink alami itu. Bibir tipis dan sedikit basah itu sangat menggoda. Jadi ingat kejadian beberapa waktu yang lalu ketika ia tak sengaja mencium Sakura. Ia tak munafik jika bibir itu rasanya sangat manis.

"Apa bibir Sakura masih sama dengan yang waktu itu?" Tanya batin Sasuke.

Rasa penasarannya sangat besar. Ada keinginan kuat untuk ingin sekedar merasakan kembali rasa manis bibir milik Sakura. Sasuke sangat merasa penasaran! Dengan tangannya, Sasuke mejibakkan poni Sakura yang menghalangi waah cantik Sakura. Ia mengusap pelan bibir tipis Sakura lalu dengan pelan ia mencium bibir itu dengan penuh perasaan.

Manis.

Rasa itu masih sama.

Bibir Sakura memang manis seperti ada gula yang menempel di sana. Atau mungkin ada madu karena bibir Sakura terlihat mengkilat… Rasanya… membuat ketagihan. Hasrat apa yang memasuki otaknya, mengendalikan otak normalnya membuat Sasuke berkeinginan untuk terus dan terus menikmati bibir milik Sakura itu.

Ada candu di bibir Sakura. Sasuke yakin itu. Buktinya ia tak mau segera pergi dari bibir itu. Ingin lagi dan lagi. Menciumi, menyesap penuh perasaan, menghayati setiap inchi bibir Sakura. Semakin nikmat saja… Astaga ini di luar kendali.. Sasuke semakin menginginkannya.. terus dan terus.. berpautan meski Sakura tak membalasnya…

Tidak…

Tidak…

Tidak.. sasuke kesulitan.. Sasuke semakin menginginkannya… Bahaya, ia tak bisa berhenti… ia ingin terus berlanjut.. ia ingin lebih… Sasuke ingin lebih dari sekedar ini.. . Rasanya nanggung..

Ini terlalu menggoda.. ini terlalu nikmat untuk hanya sekedar ciuman… ini bisa jauh lebih nikmat jika lebih.. ini membuat terbang.. ini lebih nikmat dari seton tomat di kebun pribadi pamannya, Obito… Ini lebih menggoda dari mobil sport edisi terbaru.. Ini lebih enak dari segala hal yang pernah ia rasakan selama ini… Ini gila..

GILA!

Rasa yang gila…

Menggila…

Membuatnya ingin lebih, ingin tambah, ingin lagi dan lagi…

Sial..

Sial…

Sial, Sasuke tak bisa menampiknya.. ia kesulitan mengendalikan otaknya yang selalu berfikir normal dan dalam kendalinya..

Ini tak seperti soal matematika dengan jawaban pasti. Ini tak seperti soal bahasa yang bisa di korek banyak opini… Ini jauh lebih mudah, hanya saja memiliki rasa yang rumit ddan sulit dijelaskan…

Bagaimana?

Ah, lupakan apa itu normal.. apa itu terarah.. apa itu batas kewajaran.. apa itu berfikir positif… yang ada hanya rasa nikmat.. enak.. sedap.. membuat ketagihan.. ingin lebih…

Lebih dan lebih….

Sasuke menciumi Sakura cukup lama. Anehnya, semakin ia mencium Sakura, semakin nikmat saja rasanya. Sasuke bahkan menyesap lama bibir Sakura. Yang membuatnya semakin gila dan hilang berfikir normal tangannya bergerak ke leher mulus Sakura terus ke bawah… ke bawah.. dan ke bawah dengan gerakkan sangat pelan…

Sudah..

Cukup..

Sasuke sudah tak peduli lagi..

Kepalang tanggung…

Ia juga tak bisa mengendalikannya…

Jika ia mencoba mengendalikannya, rasanya semakin tersiksa… Itu menyakitkan… Sungguh!

Gila! Sasuke yang menggilapun membuka kancing ke dua baju tidur Sakura. Menyibakkan sedikit sisi kain yang ada kancingnya. Mencoba melihat, mengintip 'tempat' yang membuatnya penasaran. Tempat memang sangat menggoda sedari awalnya. Tempat yang menggoda, membuat sangat penasaran yang bersembunyi rapat di balik baju tidur Sakura.

Putih dan mulus..

Kulit Sakura memang putih dan bersih sejak pertama kali Sasuke bertemu dengan Sakura. Namun baru ia sadari jika kulit Sakuri sekarang ini jauh lebih putih, bahkan sangat indah untuk dipandangi. Apa itu karena efek perawan di salon bersama Karin atau apa, yang jelas Sasuke menyukainya. Sasuke ingin melihatnya lebih, iapun membuka kancing ke tiga.

Ia ingin menyibakkan lebih lebar lagi kain yang ada kancingnya itu hanya saja, ada gejolak lain yang melarangnya. Protes untuk tidak melanjutkan aksinya tersebut. Ada sisi lain yang mengatakan jika tindakannya saat ini tidaklah benar. Meminta untuk berhenti. Meminta untuk kembali berfikir selaras dan normal. Berfikir tertata seperti bagaimana semestinya seorang Sasuke.

Apa yang baru ia lakukan adalah salah! Tak seharusnya ia melakukan hal tersebut tanpa sepengetahuan Sakura! Sakura akan merasa sakit hati jika mengetahuinya. Bagaimana bisa seorang Sasuke dengan segala kesempurnaan hidupnya bisa melakukan hal tak terhormat seperti itu.

Tak terhormat? Tak pantas?

Sebenarnya bisa juga bukan seperti itu. Dia suami sah Sakura, bukankah hal itu memang sudah wajar? Maksudnya memang itu adalah haknya, dan Sakura memang berkewajiban untuk memenuhi kewjibannya atas hak Sasuke itu.

Itu tidak salah, kan?

Tidak ada yang salah? Benar, tak salah juga…

Lalu apa masalahnya?

Apa?

Masalahnya, Sasuke merasa bersalah dengan perlakuannya pada Sakura. Tiba-tiba saa ia merasa menjadi laki-laki yang jahat, laki-laki pengecut yang mempermainkan wanita sepolos Sakura. Wanita yang tak seharusnya ikut dalam permainan yang ia mainkan dengan kakeknya.

Sasuke sudah terlalu dalam menyeret Sakura dalam permainan dan hidupnya, jika pada akhirnya Sakura hanya pion kemenangannya, maka Sakura akan menderita dan itu karena ulahnya. Bukankah itu keterlaluan? Ia selalu menjujung tinggi prinsipnya untuk tidak akan membuat seorang wanita menangis. Tapi jika pada akhirnya apa yang ia lakukan ini akan membuat Sakura menangis, atau menderita, menyebut dirinya laki-laki kejam sepertinya wajar.

Kegelisahannya rasanya semakin tak berujung. Semakin ia berperang dengan kemelut di otaknya. Hatinya yang sangat jarang berpartisipasi seperti inipun juga ikutan berperang. Apa yang sebaiknya ia lakukan?

Sasuke tahu, ia tak akan semudah itu seutuhnya dikuasai hasrat sisi gelapnya. Ita masih sadar batas kewajaran. Sudah saatnya ia berhenti dari kenikmatan setan yang menggoda ini.

Itu yang terbaik, kan? Setidaknya untuk saat ini…

Walau ia sadar benar, hasrat yang tak kesampai sangat menyesakkan…

Tanggan yang hampir menyibakkan kain baju Sakura langsung Sasuke hentikan. Ia lantas bangkit dari ranjangnya dan Sakura. Gerakkannya yang cukup cepat membuat ranjang ikutan bergerak. Hal itu cukup membuat Sakura terganggu. Sakurapun ikutan terbangun. Sakura mengucek pelan matanya yang masih sangat mengantuk itu.

Saat Sakura menggerakan tangannya untuk mengucek matanya, baju tidur Sakura yang terbuka tiga kancing terlihat menampilkan sebagian besar dadanya yang mulus bersih. Bahkan menampilkan sebagian harta penting wanita yang tertutupi bra pink milik Sakura. Sakura bahakan terlihat sangat sexy saat rambut panjangnya nampak berantakkan.

Sasuke tak sengaja melihatnya…

Dan itu rasanya semkin panas, jauh lebih panas dari yang tadi. Lebih panas dari ciumannya dengan Sakura tadi. Sasuke wajib untuk tidak tergoda. Ia tak boleh menyia-yiakan usahanya mengendalikan dirinya yang hampir menggila itu.

"Hooammm, Sasuke kau terbangun? Ada apa?" Tanya Sakura yang masih mengantuk.

Sasuke berfikir keras. Jujur saja ia kelabakan hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan sederhana Sakura. Jika ia menjawab dengan jujur, jawabannya tak sesederhana itu. Bisa sangat panjang dan belum tentu Sakura akan biasa saja saat mendengar pengakuannya. Lebih baik ia merahasiakannya saja. Ia tidak mau menimbulkan kecanggungan dengan Sakura. Bertingkah layaknya tak terjadi apa-apa sepertinya pilihan terbaik. Sasuke, terlalu banyak berakting!

"A-aku haus, aku ingin minum.. kau tidur saja!" Kata Sasuke gelagapan.

"Ah, souka.. terserah kau saja. Aku masih mengantukk.." Sakura melanjutkan acara tidurnya.

Sasuke benar-benar pergi ke dapir dan mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas. Ia meneguk habis air dalam botol itu. Lalu ia ke washtafle dan membasuh mukanya. Ia hampir saja keblablasan. Untung saja ia masih bisa mengendalikn dirinya yang hampir menggila itu. Ia beruntung bisa mengalahkan hasrat setan itu.

Sasuke memegangi dadanya, mencoba menenangkan detak jantungnya. Perlahan tapi pasti deru nafasnya kembali normal. Jantungnya juga kembali berdetak normal. Setelah itu, ia beranjak dari dapur dan duduk di ruang makan yang letaknya tak berdekat dari dapur. Ia duduk merenung.. pikirannya belumlah bisa ia gunakan untuk berfikir jernih.

"Sepertinya Tuan Muda tidak bisa tidur.. Ingin bergadang bersama?" Tawar Shikamaru. Ia juga menawari Sasuke secangkir kopi. Sasuke menyetujuinya.

"Kau bisa memanggil nama kecilku Shikamaru!"

Shikamaru mengambil dua cangkir kosong dari dalam almari penyimpanan. Menyobek sisi bungkus kopi instant rasa mocca, lalu menuangkannya ke dalam cangkir itu. Shikamaru juga mengambil sesendok kopi hitam dan menuangkan di cangkir yang satunya. "Tuan Sasuke adalah Tuan Muda saya yang harus saya lindungi. Tuan Muda adalah Tuan Muda sampai akhir…" Shikamaru menuangkan air panas ke dalam dua cangkir itu.

"Tapi kau tetap sahabatku. Kita sudah berjanji untuk lebih bersikap layaknya sahabat ketika tidak di depan umum."

Shikamaru tersenyum senang. Memang benar, ia tahu jika sebenarnya Sasuke ingin lebih bisa berekspresi. Sasuke memang teman yang baik meski nyatanya Sasuke tak memiliki teman banyak. Ia juga bersyukur jika Sasuke, tempatnya mencari uang, mau menerima dirinya menjadi sahabatnya tanpa memandang bagaimana asal usulnya.

Shikamaru mengaduk kopi buatannya itu. Ia lalu memberikannya pada Sasuke. "Sasuke… ini kopimu! Special tanpa gula.." kata Shikamaru.

"Arigato na.." Sasuke mengambil kopi hitam itu dan menyesapnya perlahan. Sangat pahit, tapi Sasuke menyukainya.

Mereka berdua duduk berhadapan di ruang makan. Sasuke menghangatkan tangannya yang dingin dengan memegang cangkir kopinya.

"Sepertinya kau terlihat sedang tak nyaman, sasuke.,? Apa kau sedang tidak enak badan? Haruskah aku memanggilkan dokter Kabuto untukmu?"

"Tidak perlu, Shikamaru! Aku hanya sedang gelisah saja dengan semua rencanaku. Kau sudah mengetahuinya, kan? Kita bahkan hampir tidak pernah saling merahasiakan.."

"Mengenai Gaara?" Sasuke mengangguk. "Jika memang kau merasa bersalah atas ketidak adilan ini, apa yang kau lakukan ini sudah tidak bisa kau hentikan. Kau pasti juga menyadari jika istrimu semakin jauh ikut terlibat. Ada yang cukup mengganggu dengan hadirnya Sakura yang tiba-tiba itu. Tuan besar pasti juga sudah menyusun rencana, tapi maafkan aku Sasuke, aku belum bisa mengendus rencana Tuan Besar. Kau tahu sendiri, usia yang menggerogotinya sama sekali tak mempengaruhi kinerja otaknya yang jenius itu…"

"Hn, kakek memang lawan yang sangat tangguh. Dia bahkan berhasil membuatku mempertaruhkan segala hal yang kumiliki. Hidupku juga menjadi taruhannya. Ia berhasil membuatku menikahi Sakura. Sakura terlihat tak mengerti apa-apa dengan permainanku dan kakek, tapi ia juga mengambil peran yang penting…"

"Jika kau tidak ingin merasa bersalah pada Sakura, sebaiknya kau menjag perasaannya. Jangan buat dirinya merasa terbebani karena menikah denganmu… Intinya, berusahalah untuk membahagiakannya.. Jangan kira aku tak tahu jika kau memiliki niat untuk menceraikannya setelah kau mendapatkan ambisimu dari Tuan Besar…"

Sasuke tak menampik tebakkan dari Shikamaru. Memang benar ia pernah memiliki niatan seperti itu, tepatnya setelah ia gagal mengajak Ino menikah dengannya. Menurutnya itu hal yang wajar karena pada saat itu ia sama sekali tak mengetahui siapa calon pengantin yang akan dijodohkan dengannya.

"Kurasa aku memang laki-laki yang jahat ya..'

"Ya.."

"Omae wa…"

"Nah Sasuke…"

"ya?"

"Kau harus segera meningkatkan citra baikmu di perusahaan, ada beberapa petinggi perusahaan yang menunjukkan gelagat mencurigakan. Kau paham betul jika dunia bisnis memang sangat kejam. Mereka juga memiliki saham di perusahan dan cukup berpengaruh. Kau harus bisa mempertahankan prestasimu untuk mendapatkan kepercayaan dari pemegang saham yang lain. Bagaimanapun kau adalah calon penerus bisnis keluarga ini.."

"Aku mengerti… Shikamaru, bisakah aku mempercayaimu sampai akhir?"

"Aku tak akan pernah menghianatimu, Tuan Muda…"

Dan mereka saling cheers dengan cangkir kopi mereka. Mereka berdua juga membahas rancangan proyek bisnis yang Sasuke kerjakan. Yaitu proyek pembangunan hotel mewah di Kiyoto. Shikamaru banyak membantu Sasuke. Otaknya yang setara Sasuke itu memang sangat berguna untuk hal seperti ini. Shikamaru adalah orang kepercayaan Sasuke.

Shikamaru tahu banyak dengan apa yang terjadi di perusahaan, termasuk adanya bisnis gelap yang tercium di perusahaan Uchiha itu. Hanya saja karena belum menunjukkan pergerakkan yang besar, Shikamaru hanya perlu mengawasinya dan mengumpulkan bukti untuk senjata pamungkas nanti. Ia memang tak bekerja sendiri, di bawah naungan Sasuke, ia juga memiliki mata-mata intel yang siap membantunya seperti Tenten, Juugo, dan Suigetsu.

Setiap keputusan yang saat ini diambil, akan mempengarruhi keputusan selanjutnya. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi. Meskipun kita percaya pada keputusan kita sendiri, atau percaya pada keputusan yang orang lain putuskan pada kita. Kita tidak akan pernah tahu apa hasilnya nanti. Ya, seperti itulah kata Erwin Smith dari Attack on Titan.

Sasuke tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi ia mencoba memastikan jika apa yang ia lakukan saat ini adalah yang terbaik dan benar. Keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang menguntungkannya dan memiliki sedikit resiko. Ia sudah mempertimbangkannya sebaik mungkin layaknya otak jeniusnya yang bekerja.

Sasuke, kadang hati juga ingin disejajarkan dengan otak. Hati juga bisa iri dan memberotak jika kau terus menerus mempreriotaskan otakmu untuk mengambil keputusan. Bukankah kau mulai menyadarinya?

.

.

.

To be continue….

Sakura's Love Story

.

.

.

Arigato sudah membaca… stttt… jangan mikir yang enggak-enggak! Ambil nafas dan sadarlah! Ini FF rated T soalnya.. hahaha.. aku tak bisa berbuat lebih jauh dari itu.. wlwkwkkwkw…

Kecewa?

Aku menunduk dan bilang… gomenasai… (dalam hati: 'rasain lu! Emangnya enak nanggung kek gitu.. hahaha'..) enggak kok.. bercanda… hahaha…

Atau ada yang mikir ini bromance di akhir cerita terasa banget di anatara Sasuke dan Shikamaru. Ciee.. SSL… Sasuke Shikamaru Lope lope.. enggak ding entar aku digebukin Sakura Lovers… hahahah

Karena alur sinetron, yang pasti long chapters… tapi aku berusaha untuk tetap menyisipkan kata-kata mutiara biar FF ini tak hanya sebuah cerita aja.. biar ada pesan moralnya juga…

Ya gitu deh pokoknya…

.

Hmmm…. Rencana.. AKU JUGA AKAN BUAT FF CERITA SUPER BAPER DAN SEDIH dengan kata-kata puitis dan sok ngesastra gitu. Sudut pandang orang pertama, biar bisa ngebayangin dan dapet feel sadnessnya… Jadi, readers bisa request chara idolannya juga. Chara x Reader! Yang setuju dan request, komen aja di review FF ini inget, tapi chara anime ya.. bukan kpop atau apa.. ntar aku buatin.. kata temenku aku cukup ahli dalam membuat kisah patah hati. Wkwkwkwkwk… bohong kok..

Udah ah..

Sampai jumpa di chapter selanjutnya/…

Yosshhhh… gamabrimasho buat semuanya…

Jaa….

.

.