Disclaimer : Masashi Kishimoto
Lost
Warning! : AU, OOC, typo, miss typo, dan kekurangan yang lainnya.
Chapter 10 : Epilogue
Don't Like? Don't Read. Please Leave This Page.
Enjoy and hope you like it!
One week later...
Menma meminum kopi susu hangat kaleng yang baru saja di belinya. Ia menghela napas lelah, ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi panjang yang ada di taman rumah sakit ini. Ia langsung merapatkan jaketnya ketika embusan angin pagi menyentuh permukaan kulitnya.
"Ternyata kau di sini."
Menma langsung menolehkan kepalanya ke sumber suara dan mendapati saudara kembarnya, Naruto sedang mendudukkan diri di sampingnya. Piyama rumah sakit masih melekat di tubuhnya sampai saat ini.
"Kenapa kau di sini? Apa tubuhmu baik-baik saja?"
Naruto tergelak sesaat sebelum akhirnya ia mengangguk. "Aku tidak apa-apa. Kenapa kau begitu khawatir? Lagipula aku sudah bisa berjalan sendiri sekarang dan aku sedang bosan di kamar." Naruto menyandarkan punggungnya.
"Memangnya salah seorang saudara mengkhawatirkan saudaranya sendiri?" Menma menatap Naruto tajam.
"Tidak, sih."
Menma terdiam untuk beberapa saat. "Hei, Naruto," panggilnya membuat Naruto menoleh ke arahnya. "Sebentar lagi, kau kan mau keluar dari rumah sakit, kau mau makan apa hari ini? Aku sangat yakin kau pasti sudah bosan dengan makanan dari rumah sakit." lanjut Menma tanpa menoleh ke arah Naruto.
Naruto melebarkan senyumannya, ia menoleh ke arah Menma dan langsung mengguncang tubuh Menma dengan keras. "Jadi, kau akan mentraktirku?! Belikan aku ramen! Belikan aku ramen!" ujar Naruto antusias membuat Menma menggeleng pelan.
"Terkadang aku heran, seharusnya yang jadi kakak itu kau atau aku?" Menma melirik Naruto yang sedang memasang senyum lebar ke arahnya. Menma beranjak dari tempatnya. "Tunggu di sini. Akan kubelikan untukmu." Menma langsung melangkah pergi dari sana.
Naruto menatap kepergian Menma sebelum saudaranya menghilang di perempatan koridor. Ia tersenyum. Selama seminggu ini –semenjak ia sadar, untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, ia kembali merasakan sebuah kehangatan yang sebelumnya hilang. Ia tidak begitu mengerti mengapa Menma menangis dengan tangan berlumuran darah saat ia baru membuka mata? Minato dan Kushina yang langsung memeluknya dengan derai air mata saat Tsunade selesai memeriksanya. Namun, dari semua keanehan itu, ada yang lebih membuatnya bingung.
Kehadiran seorang Haruno Sakura.
Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dalam tidur panjangnya saat itu, ia memang bermimpi panjang bersama Haruno Sakura, tapi kenapa saat ia sadar wanita yang di cintainya itu ada di sisinya saat itu? Tersenyum ke arahnya dan memanggil namanya. Naruto mengulas senyum karena saat ini Sakura sudah mengenalnya. Ia tidak perlu terus memandangi punggung wanita itu.
"Naruto?"
Suara yang begitu familiar di telinganya membangunkan Naruto dari lamunannya. Ia menolehkan kepalanya, mendapati Sakura berdiri dengan parsel buah di tangannya. Gadis itu melangkah ke arahnya, lalu mengambil posisi duduk di sampingnya.
"Kau kesini lagi, Sakura-chan?" tanya Naruto.
Sakura mengerutkan keningnya. "Apa kau tidak suka kalau aku datang kesini? Atau aku mengganggumu?"
Naruto menggeleng cepat dan langsung memasang seulas senyum. "Aku senang karena hampir setiap hari kau kesini."
"Tapi, asal kau tahu saja, kalau sebenarnya kita sudah sering bertemu sejak dua bulan lalu," gumam Sakura. Ia membuang wajahnya ke arah lain, raut wajahnya menyiratkan kekecewaan yang mendalam.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Naruto ketika menangkap bisikan kecil dari Sakura.
Tubuh Sakura menegang, ia menoleh perlahan menghadap Naruto dan menggeleng kecil. "Bukan apa-apa," sahutnya lemah.
Suasana kembali hening, membuat Naruto merasa canggung sendiri. Bagaimana ia tidak canggung kalau di sampingnya saat ini adalah wanita yang di cintainya? Tapi, kenapa Sakura begitu tenang dan nyaman di sisinya? Tidak mengeluarkan sepatah kata, pula.
"Naruto,"
Suara Sakura sukses membuat Naruto berjengit kaget. Ia menoleh perlahan ke arah Sakura. "Y-ya?" sahutnya kaku karena masih belum bisa menenangkan debaran jantungnya yang mendadak berpacu cepat.
"Aku ingin tanya. Apa yang kau alami selama kau koma?" tanya Sakura.
"Kenapa kau ingin tahu?" Naruto menyeringai.
Sakura mendengus sebal. Apa ia salah kalau bertanya seperti itu? Ia memutar bola matanya. "Tidak perlu di jawab juga tidak apa-apa."
Naruto tergelak. "Ternyata kau jauh lebih manis kalau di lihat dari dekat, Sakura-chan!"
Wajah Sakura memerah. Ia merasa darahnya mendidih hingga kepala, jantungnya langsung berdegup cepat seperti ingin melompat dari tempatnya. Sakura mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ia tidak mau Naruto melihat wajahnya yang panas seperti ini.
"Aku... mengalami mimpi yang panjang."
Sakura tersentak, ia memberanikan diri untuk menoleh.
"Aku bermimpi... aku menyelamatkanmu saat kau ingin bunuh diri, aku kehilangan ingatanku, aku mencari ingatanku, dan yang paling menyenangkan," Naruto menggantungkan kalimatnya. Ia menghirup udara sejuk ke dalam paru-parunya lalu menghembuskannya perlahan. "Kau mencintaiku, Sakura-chan."
Sakura melebarkan matanya. Parsel buah yang sejak tadi di genggamannya terlepas, membuat beberapa buah apel dan jeruk berserakan di atas rerumputan hijau. Sakura merasa matanya mulai panas, namun ia tersenyum. Ia tersenyum karena Naruto tak melupakan kejadian itu. Tak melupakan kenyataan bahwa ia memang mencintai lelaki itu, walaupun Naruto hanya menganggap itu adalah mimpinya.
"Itu bukan mimpi," Naruto menoleh ke arah Sakura. "Itu bukan mimpi!" Sakura menjatuhkan kepalanya di bahu Naruto, kedua lengannya langsung ia lingkarkan di tubuh lelaki itu. Sakura membenamkan wajahnya di bahu Naruto. Ia menangis, membuat piyama yang Naruto kenakan basah karena air mata.
Naruto sendiri merasa salah tingkah. Setelah bisa menguasai dirinya, Naruto memberanikan dirinya untuk menyentuh puncak kepala Sakura. Ia tersenyum, tangannya membelai rambut soft pink itu dengan lembut.
"Entah kenapa aku merasa, aku telah lama dekat denganmu Sakura-chan." ujar Naruto, masih membelai helaian rambut Sakura. Ia biarkan gadis itu menangis di bahunya, meskipun ia tidak tahu pasti apa yang membuat gadis itu menangis. Hanya ada satu yang ia rasakan saat ini. Sesak. Kenapa melihat Sakura yang saat ini membuat dadanya sesak?
"Aku mencintaimu! Itu bukan mimpi! Kau memang menyelamatkanku saat aku ingin bunuh diri, waktu itu kau hilang ingatan, lalu kau mencari ingatanmu, entah sejak kapan aku mulai jatuh cinta padamu. Kau sempat meninggalkanku, tapi kau kembali. Kumohon! Jangan tinggalkan aku lagi."
Naruto tercenung. "Apa kau sudah tidak mencintai Sasuke lagi?"
"Biar kutanya, apa di akhir mimpimu kita berpisah?" Sakura mengangkat kepalanya. Air mata membasahi pipinya yang putih.
Naruto menggigit bibirnya. "Ya, aku meninggalkanmu untuk alasan tertentu."
"Apa di mimpimu aku pernah mengatakan bahwa aku mencintaimu? Mencintai seorang Namikaze Naruto!"
Gambaran mimpi itu langsung terlintas di kepala Naruto.
"Dia sudah mencintaiku sejak dulu, karena itu aku akan membalas perasaannya."
"Bisa kau sebutkan nama orang itu?"
"Namikaze Naruto!"
Naruto tersenyum. Terlalu banyak hal yang membuatnya bahagia saat ini dan ia tidak tahu bagaimana mengekspresikan semua kebahagiaan itu.
Tangan Naruto terulur, ia menyentuh kedua pipi Sakura yang lembab, kedua ibu jarinya mengusap setitik air mata yang nyaris jatuh dari sana. "Jangan menangis. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi." Naruto bangkit dari posisi duduknya, ia berjongkok di hadapan Sakura sambil menggenggam kedua tangan gadis itu.
"Aku tidak mau mengutarakan perasaanku hanya dari sebuah mimpi yang sebenarnya nyata. Karena itu, aku akan langsung mengutarakan perasaanku yang sekarang, Sakura-chan," Naruto menatap emerald Sakura lekat-lekat. Ia kembali tersenyum simpul. "Sakura, would you be mine?"
Sakura tertawa kecil, wajahnya di hiasi rona merah yang menyala. "Yes! From now and forever. I love you." Sakura menarik tangannya dari genggaman tangan Naruto dan langsung menerjang Naruto dengan dekapan eratnya.
"I love you too, Sakura-chan."
.
"Astaga... aku tidak menyangka mereka akan bermesra-mesraan di rumah sakit." Menma menatap pemandangan di depannya dengan datar. Saudaranya tak sadar atau tidak tahu malu sampai-sampai tak mempedulikan beberapa orang yang melewati taman ini.
"Aku baru tahu kalau Naruto sudah punya pacar secantik Sakura-chan. Aku benar-benar Ibu yang buruk untuknya."
Menma memutar bola matanya bosan. Ia melirik Kushina yang sedang mengusap setitik air matanya dengan jaket yang ada di tangannya.
"Kaa-san, mereka itu baru jadian. Kau mengetahuinya di waktu yang tepat dan sekarang kau sudah menjadi Ibu yang baik untuknya. Jadi, please jangan lebay. Dan, apa yang Kaa-san lakukan disini?"
Kushina meringis. "Aku berniat membawakan jaket untuk Naruto, tapi saat aku tiba disini... ya begitu. Dan kau? Kenapa kau di sini? Harusnya kau sekolah, kan? Kau sudah mengambil izin selama hampir seminggu!" Kushina berkacak pinggang, menatap Menma galak.
"Apa Kaa-san lupa kalau hari ini hari minggu? Makanya Sakura datang pagi-pagi. Dan juga, bukan masalah kan kalau aku izin seminggu? Aku kan jenius!" Menma mendengus lalu tersenyum meremehkan.
"Ayahmu sedang bertemu nenekmu, setelah ini akan kubilang padanya kalau kau sudah cukup jenius untuk sekolah. Jadi, lebih baik kau tidak usah sekolah, kan?" Kushina menyeringai.
"Jangan! Aku masih terlalu bodoh untuk berhenti sekolah!"
Kushina tertawa keras. Mata violetnya menangkap bungkusan besar yang di bawa Menma sejak tadi. "Kau bawa apa?"
Menma menatap bungkusan hitam yang ada di genggamnya. "Aku membelikan Naruto ramen, tapi saat aku kembali, dia sudah bersama Sakura."
"Kau beli banyak?" Kushina menatap bungkusan itu dengan mata berbinar-binar.
Menma menatap Kushina masam. "Aku beli enam porsi. Kupikir Naruto akan banyak makan kali ini, karena selama seminggu dia hanya makan makanan dari rumah sakit."
"Yosh! Ayo kita makan bersama! Aku akan panggil mereka!" Kushina mulai melangkah, ia mendekati Naruto dan Sakura yang masih tertawa mesra di bangku taman itu.
"Naruto!" panggil Kushina, membuat Naruto menoleh ke sumber suara.
"Okaa-san?"
"Jangan terlalu lama berada di luar. Kaa-san khawatir saat datang kesini, kau tidak ada di kamar." Kushina tersenyum lembut, lalu menyampirkan jaket tebal di tubuh Naruto.
Naruto tersenyum. "Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Aku bosan di kamar terus. Otot-ototku juga sudah sepenuhnya pulih dan aku sudah bisa berjalan sendiri sekarang."
"Baiklah, Kaa-san percaya padamu!" Kushina mengacungkan ibu jarinya sambil mengedipkan sebelah mata. "Oh ya, Menma baru saja membeli enam porsi ramen, mau makan bersama? Sakura-chan juga ikut ya!" Kushina melirik ke arah Menma yang berdiri jauh beberapa meter darinya.
Sakura mengangguk kecil, ia mulai berdiri lalu menyodorkan parsel yang di bawanya. "Kushina-san, aku bawa parsel buah apel dan jeruk, tapi apelnya di cuci dulu ya, karena..."
"Ya, aku tahu! Buah-buah itu tadi terjatuh, kan? Aku melihatnya dari awal sampai akhir. Selamat untuk kalian." Kushina menyeringai lebar. "Sakura, would you be mine?" kata Kushina dramatis. Berusaha untuk menggoda Naruto.
Sontak, Sakura dan Naruto memerah mendengarnya.
"Eng... Menma sudah kembali, kan? A-ayo kita makan ramen bersama!" Naruto tersenyum canggung, masih dengan wajah memerah menahan malu.
Kushina tergelak. "Astaga! Tak kusangka wajah kalian akan semerah itu!" Kushina tertawa sambil memegang perutnya.
Jauh beberapa meter dari mereka, Menma tersenyum melihat pemandangan di depannya. Kapan terakhir ia melihat Naruto tersenyum selebar itu? Wajahnya secerah itu? Matanya mendadak panas. Tanpa ia sadari setetes air mata jatuh dari air matanya.
"Akhirnya... setelah sekian tahun, masalah ini selesai. Terima kasih, Kami-sama."
Setelah mengusap setitik air mata yang baru saja jatuh, Menma langsung menyusul ke tempat Naruto dengan senyuman lebar. "Hei, kita harus tunggu apa lagi? Ayo makan di kamar Naruto saja!"
"Jahatnya... kalian tidak mengajak Otou-san?"
Suara berat nan lembut itu menarik perhatian mereka semua. Tak jauh dari posisi mereka, terlihat Minato yang berjalan santai ke arah mereka dengan senyuman. "Tebak! Aku membawa kabar baik!"
Ke empat orang itu hanya mampu memiringkan kepala mereka.
"Naruto bisa pulang dua hari lagi!"
Menma, Sakura, terutama Naruto langsung tersenyum cerah. "Benarkah?!"
"Kyaa! Ayo buat party untuk kepulangan Naruto!" jerit Kushina tiba-tiba sambil memeluk Naruto.
Naruto menggigit bibir bawahnya ketika Kushina memeluknya. Matanya panas. Masih dalam posisi di peluk sang Ibu, Naruto langsung mengusap air matanya yang langsung tumpah mengalir melewati pipinya. Hangat, dadanya berdesir hangat ketika melihat Kushina dan Minato tersenyum ke arahnya, Kushina memeluknya, kapan terakhir mereka melakukan itu padanya? Naruto sudah lupa. Yang jelas, ia bahagia. Sangat bahagia.
"Ada apa?!"
Ke empat manusia yang melihat Naruto sibuk mengusap air mata memandang Naruto dengan khawatir.
"Ada apa? Apa tubuhmu masih terasa sakit?" Minato langsung mendekat ke arah Naruto.
"Tidak, jangan khawatir, aku baik-baik saja. Aku... hanya bahagia. Sudah lama aku tidak merasa sehangat ini!"
Kushina terdiam sesaat. Sedetik kemudian ia baru sadar maksud perkataan Naruto. Ia kembali memeluk Naruto dengan erat. "Naruto, maafkan kami! Seharusnya kau marah pada kami." Kushina menitikan air mata.
Naruto tersenyum. "Biarkan saja yang sudah terjadi. Aku mau kita semua seperti dulu lagi." Naruto melepaskan dekapan Kushina, lalu menghapus air mata yang meleleh dari iris violet Ibunya. "Ayo! Bukankah kita mau makan ramen?!"
xxx
Minato dan Kushina mengadakan pesta untuk menyambut kepulangan Naruto. Keluarga, teman-teman sekolah Naruto dan beberapa rekan kerja Minato turut hadir. Semuanya heboh dan langsung menghambur ke pelukan Naruto saat melihat lelaki pirang itu.
"Astaga, Naruto! Akhirnya kau kembali! Kau temanku dari sekolah dasar! Aku benar-benar akan tersakiti kalau kau benar-benar pergi! Kau tahu? Aku sempat shock saat Sasuke bercerita kalau kau sempat mati, tapi... kau hidup!" Kiba kembali memeluk Naruto.
Naruto hanya bisa tersenyum maklum. "Tapi aku sudah baik-baik saja sekarang, Kiba."
"Sudahlah, hentikan pelukanmu itu! Aku tahu kalian teman sejak kecil, tapi bukannya aneh sesama lelaki berpelukan cukup lama?" kata Ino setelah ia menarik tubuh Kiba dari Naruto. Setelah itu, berbagai ucapan selamat datang dan pertanyaan pun terucap.
"Okaeri, Naruto-kun!" seorang lelaki dengan potongan rambut mangkok mengedipkan sebelah matanya ke arah Naruto.
"Welcome back, dobe."
"Senang melihatmu kembali, Naruto."
"Naruto, kapan kau kembali sekolah lagi?"
"Apa tubuhmu masih sakit?"
"Apa kepalamu masih terasa pusing?"
"Kalian ini, ocehan kalian akan membuat Naruto sakit kepala, tahu!" kali ini Haruno Sakura mulai angkat bicara. "Lebih baik jangan memberikan Naruto terlalu banyak pertanyaan!" Sakura mendorong Naruto menjauh dari kerumunan orang-orang itu.
"Melihat kalian berdua, aku jadi merindukan seseorang," celetuk Menma ketika melihat pasangan Naruto dan Sakura yang begitu dekat.
Naruto menghentikan langkahnya dan menatap Menma jahil. "Merindukan? Apa dia pacarmu?"
Wajah Menma langsung memerah. "Urusai! Itu bukan urusanmu!" Menma langsung melengos pergi.
Tak lama, seorang maid menghampiri Naruto. "Naruto-sama, di luar ada orang tak di kenal ingin bertemu Menma-sama."
Naruto mengerutkan keningnya. "Aku akan menemuinya. Terima kasih."
Setelah maid itu undur diri, Naruto dan Sakura langsung pergi ke depan pintu. Terlihatlah sosok gadis mungil, berambut pirang pucat panjang dan tergerai hingga pinggang sedang memunggungi mereka.
Naruto berdehem pelan. "Kau ingin mencari Menma?"
Gadis itupun menoleh, memperlihatkan iris keunguannya. "Ya, aku ingin mencari Menma. Apa kau... Naruto-kun?"
Naruto tersenyum lalu mengangguk pelan. "Silahkan masuk dulu." Naruto mempersilahkan gadis itu masuk. "Sakura-chan, tolong temani dia sebentar. Aku ingin memanggil Menma."
Sakura mengangguk paham.
.
"Hei, ada wanita yang sedang mencarimu," ujar Naruto ketika mendapati Menma sedang berada di kamarnya bermain game.
Menma mengerutkan keningnya. "Siapa?"
Naruto mengangkat bahunya. "Entahlah. Tubuhnya agak pendek, rambut panjang pirang pucat, dengan iris mata ungu. Aku sudah menyuruhnya masuk dan menunggumu di bawah."
Mata Menma membelalak. "Baka! Kenapa kau menyuruhnya masuk?! Lebih baik kau usir saja dia!"
Naruto memutar bola matanya. Ia mendekat ke arah Menma, lalu menarik kerah baju yang Menma kenakan. "Dasar tidak sopan! Ayo turun!"
.
"Tidak! Lepaskan aku!" teriakan Menma terdengar ke seluruh penjuru rumah. Membuat beberapa orang menoleh ke arahnya. Ketika mata Menma bertemu dengan mata sosok wanita yang di kenalnya, saat itu juga ia menghela napas panjang.
"Menma! I miss you so much!" gadis itu menerjang tubuh Menma dengan pelukan erat. Membuat orang-orang di sekitarnya melongo.
"Tuh kan! Sudah kubilang, lebih baik kau usir saja dia dari sini. Dia ini memalukan!"
Gadis itu mengerucutkan bibirnya. "Hidoi, kenapa kau bilang begitu?"
Naruto memiringkan kepalanya. "Menma, siapa dia?"
Menma tampak terdiam beberapa detik, lalu mendesah keras. "Orang yang sedang kurindukan. Namanya Shion, dia orang Jepang yang juga sekolah di London. Dia..." Menma menggantungkan kalimatnya ketika melihat mata Shion berbinar-binar. "Dia pacarku."
"Yoroshiku, Minna! Watashi wa Shion desu, Menma no kanojo!" balas Shion semangat sambil melingkarkan lengannya di lengan Menma.
"Nani?!" semua orang di sana membelalakan mata mereka.
"Menma! Kenapa Kaa-san tidak pernah tahu?" tanya Kushina. Wanita itu menghampiri Menma dan Shion.
"Kushina, kumohon jangan berlebihan," sahut Minato, menyusul istrinya.
"Karena waktu itu keluarga kita masih berantakan. Sekarang Kaa-san boleh mengenal cewek berisik ini."
Plak
"Ittai! Kenapa kau memukulku?!" Menma menatap Shion kesal.
"Ciuman spesial dariku karena kau tidak menghubungiku selama sebulan. Oh ya, aku juga pindah ke sekolahmu yang sekarang. Jadi, kita akan satu sekolah lagi." Shion kembali memeluk lengan Menma.
"Hei, sudah lepaskan! Banyak orang, tahu!"
Naruto dan Sakura tergelak. "Sepertinya dia sangat merindukanmu, Menma!" ujar Sakura.
Naruto mengangguk setuju. "Kalau kau malu di peluk di depan banyak orang, kau mungkin tidak berani menciumnya saat di pelaminan nanti."
Wajah Menma memerah. "Urusai!"
Sakura tersenyum ketika melihat raut wajah Naruto yang cerah. "Perasaanku saja atau bukan, kelihatannya kau sedang bahagia."
Naruto tersenyum lebar, ia merangkul pundak Sakura. "Aku sangat bahagia! Karena keluargaku, saudaraku, sahabatku, dan pujaan hatiku membuatku bahagia!" Naruto langsung mengecup kening Sakura sesaat.
.
THE END
A/N : A-akhirnya... akhirnya! Fanfic ini tamat juga! Setelah melewati berbagai rintangan menulis. Mulai dari sibuk dengan dunia nyata atau bad mood nulis dan lain sebagainya, fanfic ini dapat di selesaikan dengan baik! :'D Ini adalah fanfic multichap pertamaku yang complete! Karena dari dulu tiap bikin multichap selalu berakhir di tengah jalan dan akhirnya di hapus :")
Terima kasih banyak, sebanyak-banyaknya, untuk para pembaca yang sudah mengikuti fanfic ini dari awal sampai selesai, ataupun pembaca yang baru membaca fanfic ini sampai selesai. Yuki ucapkan terima kasih :D
Masih di terima saran, masukan, serta kritikan yang membangun dari kalian semua :D waktunya melanjutkan fict yang lain. :D
See You in Another Story, Minna!
