N A U G H T Y
By Hanluxx1220
Main cast: Xi Luhan-Oh Sehun
Pairing: HunHan
DLDR! Siders? Bengkak~
Disclaimer: All cast milik TYME dan orangtua masing-masing. Semua ide cerita milik author dan author hanya meminjam namanya saja.
.
.
Summary:Wajah si manis ini menipu sekali. Berbanding terbalik dengan sifat nakal yang dimilikinya. "Astaga, bocah ini. Bisakah kau berhenti?"-Sehun. "Seh-, maksudku sunbae tampan! Tunggu aku!"-Luhan.
.
"Jauhkan tanganmu, Sehun." Ujar Luhan. Sehun langsung menjauhkan tangannya dan menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Lanjutkan saja. Aku harus mengurus sesuatu di tenda." Sehun berdiri kemudian berjalan canggung ke tendanya. Bagus sekali. Semua orang melihat ke arahnya sekarang.
"AYO KITA LANJUTKAN. GANTI PEMAIN!" Ujar Minhyun mencairkan suasana.
"Minhyuk, aku pergi sebentar ya?" Ujar Luhan.
"Oke."
Luhan pun pergi menyusul Sehun. Dilihatnya Sehun sedang berbaring dengan menutupi wajahnya menggunakan bantal hitam.
"Sehun, jangan tutup wajahmu. Nanti kau bisa mati kehabisan nafas." Ujar Luhan yang berusaha melepaskan bantal yang dipakai Sehun. Tapi Sehun semakin menekankan bantal itu pada wajahnya.
"Sehun!"
"Jangan ganggu aku!" Kesal Sehun yang suaranya terendam bantal.
"Kkk... Jangan malu-malu dengan calon suamimu sendiri." Kekeh Luhan.
"Yang ada, kau yang jadi istriku. Bukan suamiku!"
"Ei, ei, ei... Berarti, secara tidak langsung kau mau menikah denganku, kan? Pada akhirnya kau akan mengakuinya juga, Oh Sehun..."
"T-TIDAK! B-BUKAN BEGITU!" Teriak Sehun sembari menjauhkan bantal dari wajahnya.
"Hm? Wajahmu merah. Manisnya..." Sehun menghela nafasnya pelan dan tak mau menatap Luhan. Ia mengubah posisinya menjadi duduk dengan perasaan antara kesal dan malu.
"Kalau kau kesal, kau cukup menyebut namaku sebanyak tiga kali." Ujar Luhan.
"Dan kesalku akan semakin menjadi jika namamu aku sebutkan sebanyak itu."
"Jinjja?"
"Bisa kau pergi? Aku ingin tidur."
"Ini masih siang."
"Tapi aku mengatuk."
"Ya sudah. Aku per– Akh!"
"Luhan?"
Luhan meringis ngeri saat melihat darah keluar dari betis kanannya.
"Astaga. Kenapa kau ceroboh sekali, hah?" Sehun membengkokkan paku di pinggiran tenda yang membuat kaki Luhan terluka. Dengan cekatan Sehun menutup luka Luhan menggunakan kain yang ada di dekatnya untuk menghentikan darah yang mengalir.
"Kenapa bisa ada paku di situ?!" Tanya Sehun kesal.
"Mana aku tau!"
"Kau ini merepotkan sekali." Luhan hanya melengkungkan bibirnya ke bawah sambil melihat Sehun yang repot menutup lukanya.
"Kau bukan sedang ada di rumah sekarang. Jadi, berhati-hatilah. Sulit untuk mencari plester, alkohol, obat merah dan sebagainya disini." Ujar Sehun yang sudah selesai dengan urusannya.
"Iya, iya. Kemarikan tanganmu!"
"Untuk apa?" Luhan tidak menjawab dan menarik tangan Sehun. Ia mengambil tisu basah di saku bajunya dan membersihkan tangan Sehun yang ada noda darah miliknya.
"Tanganmu kotor karena darahku." Gumam Luhan. Sehun hanya tersenyum tipis melihat Luhan yang tampak kesakitan.
"Tidak apa. Kembalilah ke tendamu dan istirahat. Kalau masih sakit, jangan banyak bermain dulu. Dengar?"
"Tapi ini cuma luka kecil." Jawab Luhan dengan tampang memelas.
"Luka kecil tapi kau sampai meringis terus seperti itu."
"Nanti akan sembuh. Aku pergi dulu. Bye!"
"Hm. Kau bisa jalan sendiri?"
"Kalau tidak, apa kau akan menemaniku?"
"Tidak. Pergi sendiri sana!"
"Ck! Jual mahal sekali." Luhan pun keluar dari tenda Sehun dan berjalan normal seperti tidak ada apa-apa. Bukan Luhan namanya jika luka karena tergores paku begitu saja sampai membuatnya tidak bisa berjalan.
.
.
.
.
.
.
.
"LUHAN! KEMARI!" Minhyuk melambaikan tangannya menyuruh Luhan duduk di sampingnya. Sedangkan yang dipanggil tersenyum dan menghampiri Minhyuk.
"Kita akan bermain apa kali ini?" Tanya Luhan.
"Rahasia. Nanti kau akan tau sendiri." Jawab Minhyuk sambil mencubit gemas hidung bangir Luhan. Yang dicubit hanya tertawa seperti anak TK entah karena senag atau geli.
"Ekhm!"
"Sehun?/Sehun sunbae?"
"Jangan bermesraan disini. Disini bukan tempat bermesraan." Ujar Sehun datar.
"Kami tidak!"
"Apa sunbae cemburu?" Tanya Minhyuk asal.
"Jangan konyol." Sehun duduk di sebelah Luhan yang entah kenapa mulai merasa tidak enak dengan suasana di kanan kirinya.
"Aku duduk di sini karena di tempat lain sudah tidak ada yang kosong. Jangan salah paham." Ujar Sehun. Luhan memiringkan kepalanya bingung. Ia melihat ke sekitar dan masih banyak tempat yang kosong. Sepertinya Sehun baru saja minum soju dan sedikit mabuk. Oke. Luhan akan memarahinya setelah ini.
"ANNYEONG! KRIS TAMPAN DISINI! AKU YANG AKAN MEMBAWAKAN ACARANYA. JADI, AKU TIDAK AKAN IKUT BERMAIN. HAHAHAHAHAHAHA!!!" Ujar Kris lewat mic. Seluruh siswa menatap datar pada Kris yang ada di tengah-tengah lingkaran. Luhan hanya mampu menutup wajahnya menahan malu karena memiliki kakak yang bentuk dan rupanya seperti Kris ini.
"EKHM! AKU MINTA MAAF. BAIKLAH, SEBELUM AKU BERITAHU PERMAINANNYA, AKU INGIN BERTANYA. SEBAGAI HUKUMAN JIKA KALAH, SEBAIKNYA YANG KALAH HARUS MINUM TELUR MENTAH ATAU JERUK NIPIS?"
"Rrhhh... Semuanya tidak menyenangkan." Gumam Luhan miris. Sedangkan para siswa-siswi sibuk berteriak "Telur" dan "Jeruk".
"Aku mohon... Jeruk nipis saja..." Ujar Luhan.
"Uhh... Itu pasti asam sekali." Ujar Minhyuk.
"Lebih baik jeruk dari pada telur. Telur mentah itu menjijikkan." Timpal Sehun datar.
"Tapi jeruk nipis akan membuatmu sakit perut!"
"Pokoknya harus jeruk!" Tegas Luhan dan diangguki oleh Sehun. Sedangkan Minhyuk yang merasa tidak ada regu telur mentah di dekatnya hanya memasang wajah masam.
"SEPERTINYA KITA AKAN MEMAKAI JERUK NIPIS SAJA. TANPA GULA, OKE?" Ujar Kris. Sedangkan Luhan dan Sehun refleks melakukan high five.
"Yeay!"
"PERMAINANNYA CUKUP MUDAH. KALIAN HARUS MENCARI PASANGAN MASING-MASING. SATU PASANGAN 2 ORANG. SETIAP PASANGAN AKAN BERLARI DARI GARIS START DI TEMPAT BAEKHO BERDIRI DISANA SAMPAI GARIS FINISH TEMPAT IRENE MANIS BERDIRI DENGAN BALON YANG DIAPIT KENING DUA ORANG PASANGAN ITU. JIKA BALONNYA JATUH ATAU MELETUS, MAKA PASANGAN ITU AKAN MEMINUM AIR JERUK NIPIS YANG ASAM INI TANPA GULA SAMA SEKALI SEBANYAK SATU GELAS. GELASNYA KECIL. TENANG SAJA... SEMUA MENGERTI?"
"NEEE...!"
"BAIKLAH! SEKARANG CARI PASANGAN KALIAN!"
"Luhan, Luhan! Kita berdua, ya?" Pinta Minhyuk. Luhan yang baru saja memegang tangan Sehun jadi tidak enak hati pada Minhyuk.
"E-eh... Itu..."
"Aku bersama Wendy." Ujar Sehun datar. Luhan mengerutkan keningnya tidak suka. Kenapa tiba-tiba ada nama Wendy?
"Ya sudah. Minhyuk, cepat ambil balonnya."
"Oke!"
Dengan senyum lebar yang membuat Sehun ingin memutilasi orang seketika, Minhyuk berlari ke arah Luhan dengan membawa balon berwarna biru muda. Tanpa basa-basi Minhyuk langsung menempelkan balon di antara keningnya dan kening Luhan.
'Sama-sama pendek begitu, tidak akan cocok!' Batin Sehun konyol. Walaupun memang benar, Luhan dan Minhyuk sama-sama pendek. Ani, Luhan lebih tinggi sedikit dari pada Minhyuk. Lupakan!
"Huh?" Sehun sedikit terkejut saat Wendy tiba-tiba menempelkan balon di keningnya.
"Kita pasangan, kan?" Ujar Wendy sambil tersenyum. Sehun hanya membalas "Hm" seperti biasanya.
"BAIKLAH, AMBIL POSISI MASING-MASING."
"AKU AKAN BERHITUNG SATU SAMPAI TIGA. DI HITUNGAN KETIGA, BERLARILAH KE GARIS FINISH."
"SIAP? HANA, DUL..., SET!"
"Minhyuk! Ayo cepat! Dan jangan sampai jatuh!" Ujar Luhan dengan tawa renyahnya. Minhyuk pun ikut tertawa dengan memegang tangan Luhan supaya mereka tidak terpisah. Jelas saja, karena lari Luhan cukup cepat. Minhyuk jadi sedikit kesulitan mengimbanginya.
Sedangkan Sehun sesekali melirik pada Luhan yang selalu tertawa seakan-seakan ada yang sangat lucu disini.
"Sehun, jangan melihat kemana-mana. Fokus pada jalur kita!" Ujar Wendy. Sehun hanya mendengus kesal. Ia paling malas mengikuti hal-hal seperti ini. Namun karena ia ketua OSIS, ia harus ikut serta dalam apapun. Ditambah lagi karena melihat Luhan dan Minhyuk kesalnya semakin menjadi. Kenapa kesal? Hanya Sehun yang tau.
"Ya! SEDIKIT LGI SAMPAI!" Teriak Luhan.
"SEHUN! KITA JUGA AKAN SAMPAI!" Girang Wendy. Namun kenyataan tak sesuai harapan. Tinggal 4 langkah lagi mencapai garis finish...
"AAA!/KYAA!/AW!/Huh." Wendy, Luhan dan Minhyuk berteriak saat Sehun tiba-tiba menginjak kaki Wendy dan kehilangan keseimbangan kemudian terjatuh mengenai Minhyuk. Otomatis Luhan dan Wendy juga terjatuh. Luhan jatuh menimpa Minhyuk, dan Wendy jatuh menimpa Luhan. Sehun? Dia berada di bawah tiga orang itu. Lebih tepatnya di bawah Minhyuk.
"Ouh, astaga! Menyingkir dari tubuhku, sipit!" Kesal Sehun.
"Sunbae, kau juga sipit." Ujar Minhyuk yang juga merasa tulang belakangnya akan patah. Wendy dan Luhan segera menyingkir dan berdiri, begitu pun dengan Minhyuk.
"Kita kalah." Ujar Luhan murung.
"Tidak apa. Yang penting kita sudah bersenang-senang. Oke?" Bujuk Minhyuk.
"Ck. Sok romantis sekali." Gumam Sehun pelan namun masih dapat terdengar oleh Wendy.
"Kau cemburu?" Tanya Wendy.
"Jangan konyol."
"TIM YANG KALAH ADA TIM REN-JONGHYUN, YOONA-YURI, SEHUN-WENDY DAN LUHAN-MINHYUK. BAIKLAH, SILAHKAN MINUM YANG SUDAH DISEDIAKAN IRENE DISANA."
Minhyuk menggigit bibirnya takut saat melihat air jeruk yang terlihat mengerikan di matanya. Ia memiliki trauma dengan air perasan jeruk. Saat SD, ia pernah meminum air jeruk karena kalah dalam lomba dan berakhir dengan sakit perut berkepanjangan sehingga ia tidak masuk sekolah selama satu minggu. Karena banyak ketinggalan pelajaran, nilai ujian fisika dan matematika Minhyuk merah dan sepeda kesayangannya harus dijual kepada tetangga. Ia tidak mau hal itu terjadi lagi.
"Rasakan." Gumam Sehun yang melirik pada Minhyuk.
.
.
.
.
.
.
"Kalian mau rasa apa?" Tanya Luhan.
"Macha!"-Minhyuk.
"Terserah."-Sehun.
"Haish... Biasakah kau berbicara dengan detail? Kau membuat aku bingung kalau begini." Keluh Luhan.
"Hhh... Coklat saja."
"Baiklah. Kalau aku... Yang enak rasa apa, ya?"
"Macha saja. Supaya kita sama." Ujar Minhyuk.
"Coklat lebih enak." Timpal Sehun.
"Macha!"
"Coklat."
"Macha!"
"Coklat."
"MACHA!"
"Coklat."
"MA–"
"YYA! Semua orang melihat ke arah kita! Hanya tentang rasa es krim saja kalian ribut sekali. Aku pilih rasa coklat saja. Aku tidak terlalu suka macha. Aku beli dulu. Jangan kemana-mana!"
Setelah Luhan sudah melangkah jauh ke stan es krim, Sehun tersenyum kecil entah karena alasan apa.
"See?"
"Itu hanya es krim. Lain kali Luhan akan memilihku." Ujar Minhyuk malas.
"Memangnya aku mengejekmu?"
"Ani. Wajahmu yang mengejekku."
"Darimananya?"
"Tanya pada rumput yang berdisko."
"Tidak ada rumput di sini."
"Ya sudah. Pulang ke rumahmu agar kau bisa bertanya pada rumput di rumahmu. Dan juga agar aku bisa bebas bersama Luhan disini."
"Jangan kurang ajar pada kakak kelasmu."
"Huh... Aku jadi serba salah."
Selepas itu, tidak ada lagi yang berbicara. Hanya menunggu Luhan datang membawa es krim pesanan mereka. Sehun menggelengkan kepalanya saat melihat Kris yang sedang mencoba merayu Irene yang sedang berdandan. Sepertinya Kris tidak mau menyerah walaupun Irene sudah jelas menyukai Sehun.
"Maaf lama. Tadi disana banyak orang." Ujar Luhan. Minhyuk tersenyum dan mengambil es krim yang dibawa Luhan.
"Duduk disini./Duduk disini." Ujar Sehun dan Minhyuk bersamaan. Luhan tersenyum canggung dan menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Aku duduk disini." Ujar Luhan yang mengambil tempat di tengah-tengah Sehun dan Minhyuk.
"Coba ini. Mungkin kau akan suka." Ujar Minhyuk yang mendekatkan sendok berisi es krim machanya ke dekat mulut Luhan. Tanpa canggung Luhan mencoba es krim milik Minhyuk.
"Bagaimana?"
"Mashitta!"
"Sebentar lagi matahari tenggelam. Pasti akan sangat bagus." Gumam Sehun yang mengalihkan perhatian Luhan.
"Kau benar. Sehun... Aku..."
"Hm?"
"Aku pinjam kameramu, ya?"
"Memorinya habis."
"Ayolah... Kau pelit sekali."
"Pakai punyaku saja, Lu." Tawar Minhyuk.
"Tidak perlu. Pakai punyaku saja. Sepertinya aku punya memori cadangan." Ujar Sehun. Luhan tertawa dan mengacungkan jempolnya. Sedangkan Minhyuk hanya memandang wajah datar menyebalkan Sehun kesal.
"Tenang saja... Aku hanya akan memotret pemandangannya." Ucap Luhan sembari mencubit pipi pucat Sehun..
"Mataharinya mulai tenggelam! Sehun, mana kameranya? Cepatlah!" Sehun melepas kamera yang menggantung di lehernya dan memberikannya pada Luhan. Tidak perlu waktu lama untuk Luhan dapat mengambil foto yang sangat indah. Luhan memang jagonya potret-memotret.
"Bagaimana? Cantik, tidak? Aku memang hebat." Kekeh Luhan.
"Hm. Cantik."
"Sunbae. Luhan bertanya tentang fotonya. Bukan wajahnya. Kenapa kau berkata "cantik" tetapi melihat Luhan? Bukan fotonya. Kau memang aneh." Ujar Minhyun yang menggelengkan kepalanya heran. Ucapan Minhyuk barusan membuat Sehun menatap tajam padanya seakan-akan Minhyuk harus gosong saat itu juga. Sebenarnya Minhyuk itu polos atau bodoh? Sedangkan Luhan hanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang terasa hangat.
"OY! KALIAN SEMUA CEPAT KEMARI! ORANG TAMPAN MAU BICARA!" Ujar Kris lewat mic dengan tak tahu malu dan tak tahu sopan santun. Tak berbeda jauh dengan adiknya.
"APA LAGI, BODOH?!" Teriak Luhan kesal.
"DIAM KAU KIJANG PENDEK."
"Jangan mengumpat." Tegur Sehun. Luhan hanya memasang wajah masam menggemaskan andalannya.
"JANGAN KEMANA-MANA. SEMUA HARUS SALING MEMBANTU. KITA AKAN MEMBAKAR IKAN, DAGING, DAN JAGUNG MALAM INI. JADI SEMUA HARUS IKUT BEKERJA. OKE? YANG TIDAK BEKERJA AKAN KU DENDA JIKA SUDAH SEKOLAH NANTI. MENGERTI?"
"APA-APAAN ITU?!" Protes Luhan.
"Luhan..." Luhan langsung menutup mulutnya saat Sehun kembali memberi teguran.
"MARI KITA MEMASAK! YUHUUU~"
"Luhan, kita ke sana." Ajak Sehun.
"Kemana?"
"Ikut saja."
"Tapi... Kita harus membantu mereka juga."
"Bukannya kau tidak mau?"
"Memang. Tapi nanti aku dihukum."
"Tidak akan. Tenang saja. Aku ketua OSIS-nya."
"Ya, ya. Aku tau." Sehun menarik tangan Luhan menuju bebatuan besar yang tak jauh dari tempat piknik sekolah. Minhyuk sudah pergi ikut memasak bersama Sungjae dan yang lainnya. Sehun menggenggam tangan Luhan jika Luhan kesulitan menaiki batu.
"Kenapa kau mengajakku ke sini?"
"Duduk saja dulu." Luhan duduk ragu-ragu di sebelah Sehun karena takut ia akan jatuh dari atas batu ini.
"Tidak akan jatuh. Asalkan kau hati-hati."
"Hm."
"Aku lelah. Tadinya aku ingin mengajak Chanyeol. Tapi ia sedang sibuk dengan Baekhyun. Sedangkan kakakmu, dia sedang tergila-gila dengan mic silvernya. Jadi aku mengajakmu saja."
"Tidak apa. Aku juga tidak perlu repot-repot membakar disana, kan." Kekeh Luhan.
"Minhyuk menyukaimu."
"Eh?"
"Iya. Dia menyukaimu."
"Kau ini senang meracau, ya?"
"Tidak. Aku serius. Dia menyukaimu. Apa kau tidak melihatnya?"
"Kalau dia menyukaiku, memangnya kenapa?"
"Tidak. Aku hanya memberitahumu. Apa kau tidak menyukainya?" Tanya Sehun yang menatap pada Luhan.
"Kenapa kau masih bertanya? Bukankah sudah jelas kalau aku hanya menyukai sunbae di sebelahku?" Kekeh Luhan. Sehun terdiam mendengar jawaban Luhan. Luhan memang manis. Ia menyadari hal itu. Tapi... Entahlah.
"Siapa ciuman pertamamu?" Pipi Luhan memerah saat Sehun tiba-tiba bertanya hal seperti itu padanya.
"Kenapa tiba-tiba bertanya itu?"
"Aku hanya penasaran. Siapa tau Minhyuk sudah pernah menciummu."
"ANI! Bibirku masih suci! Aku belum pernah berciuman!"
"Benarkah?"
"Iya. Mungkin saja kau yang akan jadi first kissku." Canda Luhan. Sehun tertawa mendengar tuturan Luhan. Namun tawa indah itu tidak berlangsung lama.
"Jangan terkejut."
"Hm?" Luhan mengerjapkan matanya berkali-kali saat benda aneh dan asing dalam sekejap menempel lembut di bibir mungilnya. Dilihatnya wajah Sehun yang sangat-sangat dekat dengan wajahnya dengan mata elang Sehun yang tertutup rapat.
Sehun tersenyum tipis saat dirasanya tubuh Luhan kaku karena terkejut. Ia menangkup wajah Luhan agar lehernya tidak sakit karena terlalu menunduk. Hal yang Sehun rasakan pertama kali di bibir Luhan adalah manis dan tekstur yang sangat lembut. Perlahan namun pasti, Sehun melumat kecil bibir Luhan yang benar-benar terasa pas di bibirnya. Sedangkan Luhan masih benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan Sehun. Ia tidak percaya jika Sehun benar sedang menciumnya sekarang.
Sehun menggigit pelan bibir bawah Luhan dan melepaskan bibirnya dari bibir Luhan. Sehun tersenyum geli saat melihat wajah blank Luhan.
"Jangan memasang wajah seperti itu. Permintaanmu sudah terkabul." Kekeh Sehun.
"Cepatlah kembali. Kita harus membantu yang lain juga, kan?" Ujar Sehun. Ia mengusak gemas surai Luhan dan menuruni batu meninggalkan Luhan sendirian.
"S-sehun menciumku..." Gumam Luhan sambil memegang bibirnya.
.
.
.
.
.
TBC
Next or No?
Review Juseyo...
A EN JE A YE... DEMI APA, DD BARU MUNCUL TAPI UDAH BIKIN MEREKA CIUMAN! :(... GAPAPA? KALO GA BOLEH NTAR DIEDIT DEH, HEHEH...
"Gpp. Soalnya ena."- Oh Sehun kurbel 2K17.
Rada nganu ga? Soalnya ini satu chap dikebut dari pagi sampe sekarang. Soalnya udah harus diupdate ini :"(. Udah lama banget soalnya. Maapkeunnn :"(
.
Siyu~
17.35 WIB
1 Agustus 2017
