Happy Reading
BREATH
Disclaimer : Masasahi Kishimoto
Pair : (Naruto x Hinata) Itachi, Sakura
Warning : AU, Typo (s) dan segala kekurangan lainnya
DON'T LIKE! DON'T READ!
Chapter 10
Hinata duduk termenung sendirian di taman belakang rumahnya. 40 menit lalu Naruto pergi untuk menemui Sakura. Wanita itu terus-terusan saja menghubungi suaminya, tanpa mengenal waktu. Dan karena akhirnya Hinata kasihan juga dengan wanita itu, dia menyuruh Naruto untuk menemuinya. Lagipula Naruto sudah berjanji untuk membantu Sakura, barangkali memang Sakura mau membicarakan hal penting dengan suaminya. Tadi sebenarnya Hinata di ajak untuk bersama-sama menemui Sakura, tapi dia menolak. Bukan apa-apa Hinata tidak mau Naruto beranggapan kalau dia tidak mempercayai suaminya sendiri.
Namun sekarang bolehkah dia menyesal karena tidak ikut dengan Naruto. beberapa menit yang lalu, Sakura menghubunginya dan mengatakan bahwa dia dan Naruto sedang makan di restaurant romantis. Hahh benar saja kan wanita itu sudah di kasih hati malah minta jantung. Apalagi wanita bersurai pink itu mengatakan sesuatu yang membuatnya was-was, bagaimana jika apa yang dia katakan benar-benar kejadian.
"ya bagaimana jika Naruto memang masih mencintai Sakura, apalagi jika Sakura benar-benar akan mengatakan bahwa dia sekarang mencintai Naruto? dan.. dan kemudian mereka bersama, Bagaimanapun cinta pertama kan sulit untuk di hilangkan" Hinata bergumam sendirian dengan air mata yang mulai turun dari wajahnya mengingat apa yang Sakura tadi katakan padanya.
"hiks..apa dadymu akan meninggalkan kita untuk mendapatkan cinta pertamanya baby?" lanjutnya lagi sambil mengusap perutnya lembut dengan isakan yang mulai keluar dari bibirnya. Usia kandungannya sudah menginjak 8 minggu saat ini dan mood Hinata semakin buruk seiring dengan usia kandungannya yang bertambah. Menurut dokter kandungannya, itu adalah hal wajar yang di alami oleh ibu hamil, nanti juga jika sudah melewati trimester pertama akan membaik.
Hinata harus melakukan sesuatu, sumpah dirinya tak tenang jika harus duduk disini, sementara fikirannya mulai melayang-layang memikirkan hal-hal buruk yang akan menimpa nasib rumah tangganya.
"hiks.. Naru"
"Hinata... ya ampun kau kenapa bunny?" Karin yang tiba-tiba datang langsung duduk di hadapan sahabatnya yang sedang menangis itu. dia sengaja datang kesini untuk mengembalikan mobil Hinata yang di pinjammnya. Ya selama mobilnya di bengkel, Hinata meminjamkan mobilnya untuk di pakai Karin. Toh selama ini juga mobilnya hanya di simpan di rumah utama. Namun dia jadi keenakan dan akibatnya sampai hampir sebulan dia terus memakainya padahal mobilnya sudah beres di perbaiki sejak 2 minngu yang lalu lagi pula Hinata tak keberatan mobilnya masih di gunakan oleh Karin.
Saat datang ke rumah sepupunya itu Pelayan rumah mengatakan sang nyonya sedang berada di taman, makanya Karin langsung menuju ke sini. Tak tahunya Hinata sedang menangis sendirian
"hei..Hinata!" Karin memanggil Hinata
"ahh.. Karin.." jawab Hinata yang baru sadar bahwa sepupu suaminya sudah duduk berhadapan dengan dirinya. salahkan saja fikirannya yang kemana-mana jadi dia tidak tahu kedatangan sahabatnya itu. Hinata langsung menghapus air matanya.
"kau kenapa bunny, apa Naruto menyakitimu lagi?" tanya Karin penasaran saat melihat pipi Hinata yang basah
Hinata menggeleng tapi kemudian mengangguk. Membuat Karin yang melihatnya menjadi bingung.
"apa maksudnya itu Hinata? kau tahu kan aku bukan mind reader yang bisa membaca fikiranmu tanpa kau harus bicara" ujarnya sarkatis
"Naruto pergi menemui Sakura.." Jawab Hinata lemah
"apa! Dasar pria bodoh, lalu kau diam saja?" kenapa jadi Karin yang marah
"mmm.. sebenarnya aku yang menyuruhnya.." jawab Hinata yang langsung di hadiahi delikan tajam dari Karin. "maksudku, aku menyarankan Naruto menemui Sakura karena wanita itu terus-terusan menghubunginya mengatakan bahwa ada hal penting yang ingin dia katakan." Lanjutnya ragu
"lalu maslahnya apa? Kau menyuruh Naruto menemui Sakura, namun sekarang kau menangis seperti tidak rela?" tanya Karin sedikit menyinggung
"itu..karena barusan Sakura menghubungiku dan berkata, bahwa dia..dia akan mengatakan cinta pada Naruto..hiks.." Hinata mulai menangis lagi. Karin hanya mengangkat alisnya sebagai respon "bagaimana kalau Naruto masih mencintai Sakura, lalu mereka akhirnya bersama kemudian.. aku di tinggalkan sendiri.. aku tidak ..hiks. bagaimanpun kan Sakura itu cinta pertamanya Naruto" Hinata mulai menangis keras, yang membuat Karin malah bersweat drop ria.
"ya ampun.. Hinata. kalau begitu Kenapa kau tak ikut saja saat kau menyuruh suamimu menemui wanita itu?" tanya Karin gemas
"sebenarnya Naruto tadi mengajakku, tapi.. tapi aku menolak, aku takut nanti di anggap tidak percaya pada suamiku sendiri" jawabnya dengan air mata tetap mengalir
"hahh.. dan sekarang lihatlah siapa yang ketakutan suaminya berpaling. Bukankah itu berarti kau memang tidak percaya pad suamimu Hinata?" tanya Karin mulai kesal dengan sahabatnya itu
"itu..itu.."
"sudahlah, jadi apa yang bisa ku bantu bunny?" tanya Karin memotong ucapan Hinata. dia sudah tahu ujung-ujuungnya wanita di hadapannya itu akan meminta bantuannya. Lihat saja matanya yang tiba-tiba berbinar saat akhirnya Karin mengucapkan kata-kata sakral itu. "hentikan pandanganmu itu Hinata, aku tahu dari tadi kau memang berniat menyusahkanku. Aku heran kemana Hinata yang kata orang-orang selalu bersikap dewasa dan tenang, karena yang ada dihadapnku sekarang adalah wanita cengeng yang ketakutan suaminya direbut oleh wanita lain" lanjutnya sarkatis dan hanya di tanggapi senyum bahagia Hinata, padahal tadi wanita itu menangis tersedu-sedu. Karin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, heran dengan mood Hinata yang berubah dengan cepat. Apa setiap wanita hamil bisa berubah sikap secepat itu, atau jangan-jangan itu hanya terjadi pada istri sepupunya saja.
"mmm.. aku mau kau menemaniku untuk mematai-matai Naruto dan sakura, mau kan Karin?" pinta Hinata dengan jurus puppy eye nya. Dan Karin hanya bisa menatap horor mendengar permintaan Hinata
"maksudmu jadi stalker?" Karin bertanya ngeri
"uhum" Hinata mengangguk semangat
"tidak..tidak..tidak. aku tidak mau melakukan perbuatan bodoh seperti itu" tolak Karin mentah-mentah
"aku akan membayarkan biaya salonmu selama 3 kali berturu-turut Karin" sogok Hinata
Karin menggelengkan kepala
"aku akan meminjamkan mobilku sampai kau bosan, bagaimana?"
Tetap menggeleng
"mm bagaimana jika loubotine yang sedang kau incar itu Karin?" goda Hinata mulai menyerang kelemahan sahabatnya
Karin mulai menimbang-nimbang.. sepertinya dia akan kalah jika dihadapkan dengan hal-hal berbau fashion tersebut.
"baiklah aku akan membantumu, tapi kau harus membelikanku loubotine dan 1 cK OK." tawar Karin
"sekalian saja kau minta kartu kreditku Karin" ujar Hinata sarkatis
"hei.. aku hanya memanfaatkan situasi. Sudah sana siap-siap untuk segera melakukan aksi, tapi aku pinjam ponselmu sini"
Hinata beranjak menuju kamarnya untuk bersiap-siap sementara Karin mengutak atik ponsel Hinata. dia mengirim pesan pada seseorang sebenarnya.
.
.
.
.
Setengah jam kemudian mereka sudah berada di pusat perbelanjaan tempat di mana Naruto menemui Sakura. Seharusnya mereka sudah sampai disini 10 menit yang lalu, salahkan saja Hinata yang berkostum aneh dengan memakai coat hitam panjang semata kaki kemudian memakai topi lengkap dengan masker dan kaca mata hitam. Dia fikir mereka akan merampok bank. Hinata beralasan bahwa dirinya sedang menyamar agar tidak ketahuan suaminya bahwa mereka mengikutinya diam-diam, namun Karin tidak menggubris alasan itu dan segera menyuruh wanita itu berganti busana. Lagi pula dia punya rencana yang lebih baik ketimbang menjadi stalker. Jadi akhirnya mereka terlambat 10 menit.
"Karin apa ini tidak terlalu berlebihan? Kau menyuruhku memakai baju yang lumayan terbuka ini, padahal kita kan berniat untuk memata-matai Naruto. bukannya dengan berpakaian seperti ini aku akan ketahuan apalagi ini kan baju yang dibelikan olehnya?" tanya Hinata yang mulai tidak nyaman dengan pandangan beberapa pria di sekitarnya.
Karin memaksa Hinata memakai dress bermotif bunga berwarna biru, salah satu dress favorit Naruto karena dia sendiri yang membelikan dress ini. Sebenarnya dressnya cantik sih tapi masalahnya bagi Hinata ini kependekan bayangkan saja panjangnya 10 centy di atas lutut. Jika dia memakai dress ini saat berjalan dengan Naruto memang tidak masalah tapi kan Hinata dalam misi menyamar sekarang. Sementara bagi Karin dressnya wajar-wajar saja Hinata hanya terlalu berlebihan.
"sudahlah Hinata, aku sudah bilang aku punya rencana yang lebih baik ketimbang menjadi stalker, jadi ikuti saja semua saranku OK" perintah Karin.
Mereka berdua memasuki mall di mana terdapat Restaurant tempat Naruto dan Sakura janjian. Tadi Karin menanyakan keberadaan pria itu melalui ponsel Hinata saat Hinata sedang ganti baju jadi mereka bisa tahu. Sekitar 10 menit kemudian mereka menemukan tempat yang di cari. Hinata baru akan memasuki restaurant itu saat matanya menangkap pemandangan yang membuatnya mematung di tempat.
.
.
.
.
Sakura mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Sementara Naruto terlihat canggung sambil melirik ke sekeliling. Hah sangat membingungkan bukan jika sedang berhadapan dengan wanita apalagi wanita hamil. Masih mending jika wanita hamil itu istrinya bisa dia peluk atau cium untuk menenangkan. Nah ini? Ya meskipun notabenenya Sakura adalah sahabatnya jadi mungkin akan wajar jika dia memeluk Sakura untuk menenangkan wanita itu. tapi dia sadar, dirnya sudah beristri dan bagaimana nanti tanggapan istrinya? apalagi sang istrilah yang berbaik hati percaya padanya untuk menemui Sakura seorang diri.
"Sakura sudah lah jangan menangis, kau tahu orang-orang sedang memperhatikan kita. nanti mereka mengira aku yang menyakitimu bagaimana?" ujar Naruto serba salah
"kau tega sekali Naruto. bukankah kau yang berjanji akan membantuku. Tapi kenyataannya kau menghilang beberapa minggu ini, bahkan telfonku pun tak pernah kau jawab" ujar Sakura "kau malah menyuruhku tinggal dengan orang yang tidak aku kenal, apa memang kau sudah tak ingin membantuku?" Sakura terus berbicara
Naruto yang tadinya duduk berhadapan dengan wanita bersurai pink itu beralih tempat duduk menjadi di samping Sakura. Naruto mulai tidak nyaman dengan orang-orang yang memandang aneh padanya.
"hei bukan itu maksudku Sakura, tapi aku juga mempunyai kehidupan yang harus aku urus. Istriku sedang hamil dan dia lebih membutuhkan aku di sisinya" bisik Naruto
"tapi kau berjanji akan membantuku. Seandainya Sasuke masih ada.." Sakura mengusap air mata lagi dan saat mengangkat muka dia melihat Hinata yang disusul oleh Karin akan memasuki Restaurant yang sama dengannya. Naruto sepertinya belum mengetahui keberadaan istri dan sepupunya itu karena dia duduk menyamping menghadap dirinya, dia punya rencana.
"seandainya Sasuke masih hidup dia..dia.." Sakura menangis keras dan secara tiba-tiba memeluk tubuh Naruto. Naruto yang kaget karena tiba-tiba di peluk hanya bisa diam. Sementara Hinata yang melihat apa yang dilakukan Sakura dan Naruto masih mematung di tempatnya berdiri sampai suara Karin menyadarkannya
"Hei kenapa berhenti?" Karin reflek berujar keras karena tiba-tiba Hinata berhenti dan dia jadi menabrak wanita itu. akibat ucapannya yang cukup keras itu Karin membuat semua mata pengunjung restaurant mengarah padanya termasuk dengan Naruto. Pria itu membatu melihat Hinata berdiri di sana dengan mata yang mulai berkaca-kaca
"ahh..Karin aku harus pergi.." ujar Hinata menunduk dan kemudian segera berbalik dan berlari. Karin hanya terdiam belum bisa mencerna suasana yang terjadi.
"astaga.. Hinata tunggu!" Karin yang kini bisa melihat pemandangan di depannya mengumpat dan berteriak memanggil sahabatnya yang berlari menjauhi restaurant. Sekilas dia menatap tajam Naruto yang hanya terdiam dengan posisi yang sama memeluk Sakura. Naruto yang melihat tatapan tajam sepupunya segera tersadar dan reflek melepas pelukannya
"oh..shit.. Sakura maaf aku pergi dulu" ujarnya sambil berdiri kemudian berlari mengejar Karin. Tak butuh waktu lama Naruto sudah berhasil menyusul Karin yang kebingungan di persimpangan lorong sambil memegangi pergelangan kakinya yang memakai sepatu high heels.
"mana Hinata?" tanya Naruto setelah berdiri di samping Karin
Karin hanya memandang Naruto tajam tanpa menjawab pertanyaan sepupunya itu " ya tuhan kenapa larinya cepat sekali, apa dia lupa kalau dia sedang hamil bagaimana jika terjadi sesuatu, anak itu" gumam Karin pada diri sendiri sebenarnya, namuun karena Naruto berdiri di sampingnya ucapan Karin terdengar juga ditelinga tajammnya dan membuat Naruto semakin panik.
"Karin di mana Hinata? ke arah mana dia lari?" dengan tak sabaran Naruto mengguncang-guncang bahu sepupunya.
"apa-apaan kau Naruto.." protes Karin "aku tidak tahu, aku kehilangan jejak." Jawabnya cuek. "lagian untuk apa kau ikut mengejar, bukannya kau sedang bermesraan dengan si pinky itu?" tanyanya ketus
"ya ampun Karin jadi kau.. ah kalian salah faham, semuanya tidak seperti yang terlihat. Nanti aku jelaskan kejadian sebenarnya sekarang aku akan mencari Hinata. sebaiknya kau kembali ke retsaurant dan temani Sakura" ujar Naruto
"kenapa aku di suruh menemani wanita itu?" Karin protes tapi tak di dengar oleh Naruto . Pria iu kemudian sedikit berlari sambil mengambil ponselnya dari dalam saku celana, untung dia sempat memasang GPS di ponsel istrinya setelah kejadian Hinata menghilang selama beberapa hari waktu itu. terlihat tombol hijau yang berjalan di lcd ponselnya saat dia mengaktifkan mode GPSnya menandakan istrinya sedang bergerak, sepertinya hendak menuju lift. Naruto sedikit mempercepat larinya agar bisa menyusul ketika tiba-tiba tombol hijau yang menandakan keberadaan Hinata berhenti, membuat Naruto khawatir dengan keadaan istrinya.
.
.
.
.
Hinata berlari sekuat tenaga untuk menghindari suaminya, dia yakin Naruto pasti mengejarnya dan dia belum siap berhadapan langsung dengan suaminya itu setelah apa yang dia lihat tadi. Untung saja lantai ke 4 di mall ini di khususkan untuk resaturant dan bar jadi tidak terlalu banyak orang –orang yang berkeliaran seperti di lantai 2 dan 3 yang menjadi pusat berbelanja. Jadi dia tidak khawatir menabrak seseorang saat sedang berlari. 200 meter lagi mencapai lift, Hinata merasakan perutnya sedikit kram. Dia langsung berhenti berlari dan berjongkok memegangi perutnya yang terasa sedikit sakit itu mengabaikan pandangan beberapa orang yang keheranan melihat dirinya. Ahh bodohnya saking panik, dia lupa jika dirinya sedang hamil, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan calon anaknya? Dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri dan Naruto pasti akan meninggalkannya.
Fikirannya yang mulai melantur itu menyebabkan dia ketakutan dan meneteskan air mata yang dari tadi di tahannya. Dia harus menghubungi seseorang, Karin.. ah iya tadi dia juga meninggalkan Karin di resaurant. Hinata mengambil ponselnya dari dalam tas untuk menhubungi Karin. Saa membuka ponsel dia melihat ada satu pesan masuk dari nomor tidak di kenal. Hinata membukanya dan membaca isi sms itu
"bagaiman Hyuga kau suka apa yang aku lakukan bersama Naruto tadi?"
Ahh tanpa harus tertera nama di sms itupun Hinata sudah tahu sms itu dari siapa. Ini semakin membuatnya kesal, jadi wanita itu sengaja? Tunggu saja pembalasan darinya.
"dasar wanita sialan, brengsek!" umpatnya lumayan keras saking kesalnya dia mengabaikan segala tatakrama dan kesopanan yang di junjung tinggi olehnya.. ah masa bodo.
"siapa yang kau sebut brengsek sayang?" suara baritone seorang pria bertanya pada Hinata. dia tau suara siapa itu, suara suaminya Naruto Namikaze. Jadi akhirnya pria itu bisa menyusulnya juga.
Naruto berjongkok di hadapan Hinata menyejajarkan dirinya dengan sang istri. Dia melihat pipi istrinya yang basah sepertinya habis menangis. Dia mengira mungkin karena kesalah fahaman tadi tapi dia ragu jangan-jangan istrinya sedang kesakitan, karena Hinata yang berjongkok dan memegangi perutnya.
"sayang... apa ada sesuatu yang sakit? Apa perutmu terasa sakit?" tanya Naruto sambil menumpukan tangan kanannya di atas tangan Hinata yang sedang memegangi perutnya.
Hinata sebenarnya masih merasa kesal pada suaminya tapi dia tetap menjawab pertanyaan suaminya dengan mengangguk lemah. Sakitnya sih sudah agak berkurang tapi masih terasa sedikit.
"kita harus cepat ke dokter kalau begitu" ujar Naruto sedikit panik. Sementara Hinata hanya menggeleng pelan
"Karin mana?" tanya Hinata
"dia sedang bersama Sakura sekarang, sebaiknya kita ke dokter sayang aku takut terjadi sesuatu denganmu dan baby kita" Naruto membujuk Hinata lagi
Hinata yang mendengar bahwa Karin sedang bersama Sakura mempunyai sedikit rencana untuk membalas wanita itu.
"kita temui Karin saja, dia juga dokter kandungan kan." Usul Hinata. sebenarnya dia punya rencana untuk membalas Sakura.
Naruto langsung menggendong Hinata bridal style menuju restaurant yang tadi di tinggalkannya. Dia tak memperdulikan bisikan-bisikan dari setiap orang yang di lewatinya. Paling mereka hanya iri saja pada kami. Bisiknya pada diri sendiri.
.
.
.
.
"untuk apa kau kemari?" tanya Sakura tajam saat Karin datang menghampirinya
"suka-sukaku memanggnya ini restaurant nenek moyangmu" jawab Karin tak kalah ketus kemudian menarik kursi untuk duduk di tempat Naruto sebelumnya duduk, berhadapan dengan Sakura
"hei.. kenapa kau duduk di sini, cari meja lain sana" usir Sakura tapi hanya di tanggapi masa bodo oleh Karin, terbukti dari dirinya yang memabaca menu dan kemudian memanggil pelayan untuk memesan. " Dimana Naruto?' tanya Sakura akhirnya setelah Karin selesai memesan dan si pelayan telah pergi
"ya Naruto bersama istrinya lah dimana lagi? pasti sekarang mereka sedang bermesraan, aduh aku jadi iri pada mereka. Kau tahu, Naruto selalu bersikap mesra pada Hinata. dan sikapnya itu tak pernah aku lihat dilakukannya pada siapapun kecuali Hinata. pantas sih, soalnya Hinata itu kan wanita yang baik, perhatian dan juga dari keluarga terhormat pula, jadi sudah selayaknya dia di perlakukan seperti itu. ahh aku jadi ingin suatu saat nanti..." Karin terus-terusan berceloteh mengenai Hinata dan Naruto membuat Sakura mulaii gerah
Brengsek pasti si rambut merah ini ingin membuat aku cemburu batin Sakura berusaha tidak mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Karin. Matanya melirik kesana kemari asalkan tidak pada wanita yang tak berhenti bercerita ini. Tapi sialnya pandangannya malah tertuju pada Naruto yang menggendong Hinata sedang memasuki restaurant dan sontak membuat hatinya semakin kesal. Ingin rasanya menyiram segalon air kepada pasangan lovey dovey itu.
Sakura meneguk minumnya dengan cepat dan meletakan kembali gelasnya dengan kasar, sambil matanya tetap memandangi Naruto dan Hinata yang sebentar lagi datang ke meja mereka. Karin yang keheranan dengan tingkah Sakura membalikan badannya ingin mengetahui pemandangan apa yang membuat seorang Haruno Sakura kesal. Saat berbalk kebelakang bibirnya dia tersenyum bahagia.
"kenapa Hinata?" tanya Karin antusias saat Naruto tiba di hadapan mereka
"perutnya terasa sakit Karin, cepat kau periksa. Aku takut terjadi sesuatu dengan istri dan anakku" jawab Naruto khawatir. Sementara Karin hanya manggut-manggut.
"Ayo baringkan Hnata di sofa sana" tunjuk Karin ke sudut ruangan yang terdapat loveseat berwarna merah dan berbantal hati. Karin tidak membawa perlengkapan pemeriksaan saat di luar tugas tapi setidaknya dia bisa menenyakan beberapa pertanyaan yang akan menentukan ada tidaknya gangguan dengan kandungan Hinata.
"apa perutmu terasa sangat sakit Hinata?" tanya Karin pada sahabatnya yang kini tengah berbaring di sofa berbantalkan paha Naruto dan kakinya yang terbuka di tutupi oleh jas Naruto.
"tidak terlalu, hanya sedikit terasa keram tapi sudah mulai menghilang" jawabnya lembut
"mm mungkin pertanyaan ini terlalu pribadi tapi ini harus di tanyakan. Ekhm apa kau merasa ada sesuatu yang keluar dari daerah pribadimu?" tanya Karin berusaha biasa sementara wajah Hinata mulai memerah
"kenapa kau menanyakan hal mesum seperi itu Karin?" Naruto bertanya dengan sedikit merona
"ini penting, aku takut terjadi pendarahan. Seharusnya kita memeriksanya tapi kan tidak mungkin jka di tempat ramai seperti ini" jawab Karin sedikit marah
"tidak.. Karin aku tidak merasakan apa-apa" jawab Hinata akhirnya demi menghindari 2 saudara untuk saling menegangkan urat mereka.
"baiklah untuk sementara kau baik-baik saja. Tapi sebaiknya kau segera cek ke dokter kandungan jika perutmu terasa kram berlebih atau kram ringan tapi dengan intesitas sering, atau ada darah yang keluar dari area pribadimu OK!" perintah Karin dengan tegas menunjukan wibawanya sebagai dokter dan Hinata hanya bisa mengangguk
"baiklah.. kalau begitu berbaringlah dulu sebentar karena aku akan kembali untuk memakan pesananku. Kau tahu aku sangat lapar, dan Naruto sebaiknya pesankan dia air hangat dan makanan. Hinata juga belum makan tadi sebelum berangkat denganku" ujar Karin
"aku sudah tahu itu Karin kau kira aku suami yang bodoh tak memesankan makanan untuk istruinya yang nafsu makannya sedang besar akhir-akhir ini" jawab Naruto sambil mengecupi rambut Hinata yang sedang cemberut karena di ledek
"ya sudah oh dan jangan lagi kau berlari sekencang tadi Hinata kau tahu itu sedikit berbahaya untuk wanita hamil. Ya kecuali kau sudah tidak sudi lagi mengandung benih suamimu yang suka meluk-meluk wanita lain di hadapan istrinya" ujar Karin menyinggung sambil beranjak kembali ke meja yang dia duduki sebelumnya.
"apa maksudnya dia itu, aku kan tidak pernah meluk-meluk wanita lain selain istriku. Hei sayang jangan dengarkan omongannya yang ngelantur" ucap Naruto pada istrinya sambil membelai kepala Hinata
"tapi kau tadi memang memeluk Sakura" jawab Hinata sedikit bergetar
"ya ampun sayang, itu tadi hanya salah faham. Kau tahu tadi Sakura sedang menangis dan tiba-tiba memlukku" belanya
"tapi kau diam saja saat di peluk, jangan-jangan kau senang" cecar Hinata dengan mata yang mulai bekaca-kaca
"sayang, aku sudah bilang aku tak punya perasaan apa-apa pada Sakura, aku hanya mencintaimu Ok. tadi itu dia sedang bersedih karena di fikirnya aku tak mau membantunya lagi sehingga menyuruhnya untuk tinggal bersama dengan orang lain. Tapi aku jelaskan bahwa istriku yang imut ini sedang membutuhkan suaminya yang tampan ini jadi aku tidak bisa meninggalkanmu. Kemudian Sakura mulai membahas tentang Sasuke dan tiba-tiba memelukku, sepertinya dia belum bisa menerima kepergian si teme itu. hah.. padahal Sasuke sudah mencapakannya. Cinta memang rumit" Naruto mengakhiri ucapannya
" jangan sedih lagi sayang, ketahuilah dirimu itu seperti Nafas di tubuhku yang berfungsi menghidupkan segala gerak tubuhku, jadi jika aku tidak bersamamu aku akan kehilangan nafasku dan kau tahu jika seseorang sudah tidak bisa bernafas mereka akan mati" lanjut Naruto melankolis kemudian menunduk dan mengecup lembut bibir istrinya tak peduli bahwa mereka sedang berada di restaurant yang cukup ramai. Sebenarnya dia sedikit mengutip sebagian kata-katanya dari sebuah lagu. Tak apalah lihatlah aksinya berhasil mengembalikan senyum istrinya yang cantik.
"gombal.." ujar Hinata dengan wajah yang memerah dan membalikan badannya memeluk perut suaminya
"awas sayang aksimu bisa membuat bangun sesuatu yang sedang tertidur di bawah sana" ujar Naruto menggoda Hinata. sementara itu wajah Hinata sudah memerah sempurna dan menghadirkan gelak tawa pada Naruto.
"mesum" jawab Hinata tetap menyembunyikan wajahnya di perut sixpack suaminya yang terutupi kemeja.
"aku hanya bercanda sayang.. baiklah kau mau makan apa? Kita akan memesan"
"mmm... ramen" Hinata berucap manja
"no ramen.. itu kurang sehat" tolak Naruto
"say who addictive to it" sindir Hinata dengan sedikit terkikik
"bagaimana kalau steak dan salad buah?" Naruto mengalihkan pembicaraan dari ramen karena sedikit tersinggung dengan perkataan istrinya itu. Hinata hanya mengangguk menyetujui.
Naruto memanggil pelayan dan memesan kemudian membantu Hinata yang ingin duduk namun tetap memeluknya protektif menyandarkan kepala istrinya di dadanya dan sesekali mengecupi puncak kepala Hinata. ahh betapa bersyukurnya dia memliki wanita ini sebagai istrinya, dan merutuki kebodohannya yang tidak menyadari cintanya sehingga pernah melihat sang wanita tersakiti.
.
.
.
.
Sakura sebenarnya sudah muak melihat Naruto dan Hinata yang bermesraan di depan matanya belum lagi bisik-bisik orang-orang di sekitarnya yang membicarakan tentang kemesraan kedua orang itu. Niatnya kan dia yang ingin memanas-manasi Hinata tapi malah jadi senjata makan tuan. Ingin rasanya dia cepat pergi dari situ tapi dia tidak mau menunjukan sikap aneh di hadapan Naruto dan membuat pria itu curiga, apalagi dia yakin jika dia pergi Hinata akan merasa di atas angin. Jadi dia hanya bisa meremas gelas di tangannya dengan kuat untuk menyalurkan seluruh emosinya yang terpendam.
"hei Sakura kau bisa memecahkannya jika kau memegang gelasnya seperti itu" ujar Karin geli melihat tingkah wanita di hadapannya.
"diam kau Karin" Sakura mendesis dia hampir melupakan eksistensi manusia menyebalkan satu lagi di depannya.
"ow..ow.. kenapa jadi marah padaku. Harusnya kau memarahi dirmu sendiri yang tidak tahu malu ingin berharap lebih dari sepupuku. Kau tahu apapun cara yang kau lakukan Naruto tidak akan pernah berpaling lagi padamu. Dia sangat mencintai istrinya kau bisa melihat dari matanya saat memandangi Hinata begitu penuh dengan cinta dan pendambaan" Karin memanas-manasi
"kalau aku mau Naruto bisa langsung berlutut di hadapanku. Kau lupa aku cinta pertamanya, dia mencintaiku selama bertahun-tahun Karin. Dia pasti akan lebih bahagia hidup dengannku dibanding dengan wanita yang dinikahi karena permintaan ibunya itu. Kau harus mengerti cinta pertama sulit untuk di lupakan" jawabnya penuh percaya diri
"ah.. ternyata kau naif sekali Haruno. Ya..ya cinta pertama memang sulit untuk di lupakan terserah apa katamu. Kita lihat realiti saja lah Sakura. Apa kau fikir setiap pasangan yang bahagia dan saling mencintai di dunia ini karena mereka hidup dengan cinta pertama mereka? Tentu tidak. Pasangan yang di jodohkanpun bisa hidup bahagia dan penuh cinta meskipun pada awalnya tak ada cinta diantara mereka atau bahkan banyak pasangan yang malah tidak saling mengenal sebelum mereka menikah. Apalagi Hinata adalah orang yang tulus dan tak sulit untuk mencintainya. Lihatlah pada akhirnya Naruto sangat mencintai Hinata. Dan rasa cinta yang di tunjukannya pada Hinata belum pernah sama sekali aku lihat pernah dia lakukan pada siapapun termasuk padamu" Karin berkata santai
"oh dan satu hal Sakura, Naruto menikahi Hinata bukan hanya karena di pinta ibunya. Itu semua atas keinginannya sendiri. Aku sangat mengenal sepupuku, dia telah hidup serumah denganku semenjak dia pindah dari London. Naruto bukan tipe orang yang akan langsung menurut apa yang orang lain katakan jika dirinya sendiri tidak mau melakukan hal itu termasuk oleh orang tuanya" lanjutnya
"Tapi bibi Khusina menyayangiku, dia pasti lebih menyetujui anaknya bersamaku Karin. Apalagi aku dan bibi Khusina sudah lama saling mengenal dari pada Hyuga itu. dan lagi beliau tahu kalau putranya mencintai aku."
"Jadi kau fikir bibiku tidak menyayangi Hinata begitu? jika bukan karena dia menyayangi Hinata, kau fikir kenapa bibikku meminta putranya menikah dengannya?"Karin bertanya pendapat Sakura
"Pasti karena keluarga wanita itu yang memintanya pada bibi Khusina dengan iming-iming merger perusahaan" jawab Sakura
"ah.. Sakura wanita malang yang tak pumya siapa-siapa di dunia ini sehingga minta bantuan sepupuku untuk menyembunyikan kehamilannya. Maaf aku harus berkata seperti ini Sakura, kau sendiri yang memulainya dengan mengaku seperti itu pada Naruto. begini Sakura, kalau kau fikir bibi menikahkan putranya karena harta, berarti kau tidak mengenal bibiku dengan baik. Kau tahu siapa bibi Khusina sebelum menikah dengan paman Minato?" pertanyaan retoris sebenarnya tapi Karin tetap melontarkannya untuk mengetahui seberapa jauh Sakura tahu tentang keluarga Naruto tapi karena tak ada jawaban Karin melanjutkan
"Dia pemilik sah dari perusahaan Uzumaki yang diturunkan oleh ayahnya, adapun sekarang di kelola oleh kakaku Nagato, namun kepemilikan sahnya tetap ada di bibi Khusina. Ah belum lagi paman Minato adalah pemilik dari kerajaan bisnis Namikaze dan jangan lupakan beliau juga merupakan pewaris tunggal Perusahaan Senju yang sekarang masih di kelola oleh kedua orang tuanya nyonya Tsunade dan tuan Jiraya. Jadi kau bisa bayangkan kekayaan yang di miliki bibikku." Karin menyesap minumannya untuk membasahi tenggorokannya yang mulai kering karena terus berbicara
"sebenarnya untuk ukuran orang yang di kasihi bahkan di berikan beasiswa sampai menjadi gelar dokter oleh bibiku kau termasuk orang yang tidak tahu terima kasih Sakura. Sudah di kasih kebaikan tapi memandang rendah bibiku dengan mengatakan beliau menikahkan putranya hanya untuk merger usaha. Kau bisa bayangkan apa yang bisa di miliki Naruto dengan semua harta yang akan diwarisinya sebagai satu-satunya keturunan paman dan bibiku. Jadi dia tidak akan kekurangan uang dan harus melakukan merger usaha untuk peningkatan taraf hidupnya" Karin berhenti sebentar memandang Sakura yang sepertinya cukup kaget dengan semua ucapannya.
Entahlah kaget akan perkataan yang menyebutnya orang tidak tahu berterima kasih, atau dengan kenyataan bahwa Naruto akan menjadi pria terkaya dengan mewarisi perusahaan-perusahaan multi bilyuner, Sehingga membuatnya menyesal karena tak pernah melirik Naruto dari awal dan malah mengejar-ngejar Sasuke Uchiha yang pada akhirnya mencampaknnya juga.
"Jadi aku tegaskan tak pernah ada perjanjian merger perusahaan atau apapun dalam pernikahan sepupuku. Semuanya murni karena keinginannya sendiri Sakura, kau harus fahami itu dan satu hal lagi yang belum kau ketahui. Bibiku sudah mengenal dan menyayangi Hinata jauh sebelum dia bertemu denganmu karena Ibu Hinata adalah teman baik bibiku dan dulu saat Hinata masih kecil dia sering di asuh oleh bibiku" Karin memberikan penekanan pada kata keinginannya sendiri untuk menegaskan pada Sakura bahwa tidak akan ada celah lagi untuknya bisa mendapatkan Naruto.
"kalau begitu kenapa Naruto merahasiakan pernikahannya Karin? Jika dia menginginkan pernikahan ini kenapa dia tak mengundang sahabat-sahabatnya, kau jangan membodohiku. Bahkan diantara semua teman-teman Naruto ataupun Hinata tidak ada yang mengetahui bahwa mereka berdua sudah menikah" senyum Sakura sinis namun seketika senyum itu luntur saat melihat orang yang memasuki restaurant dan mendekat ke arah meja mereka.
Karin yang melihatnya mengerutkan kening heran, apa yang terjadi dengan wanita di hadapannya ini? Dia seperti melihat hantu tiba-tiba. Karena penasaran Karin memalingkan wajahnya kearah Sakura memandang dan seketika menyeringai senang saat melihat sosok seorang pria dewasa memasuki restauran yang mereka tempati bahkan mendekat kemejanya. Itachi..
.
.
.
.
Hah baru juga 3 minggu yang lalu Itachi berada di kota Tokyo, sekarang dia sudah berada di sini kembali. Itu semua di karenakan Ada Client di kota ini yang membutuhkan jasa perusahaannya yang bergerak di bidang advertising itu. Sebenarnya bisa saja Itachi menyuruh bawahannya untuk menghandel, tapi berhubung client ini istimewa karena telah menyewa jasa perusahaan sejak dulu saat perusahaan itu masih di pegang oleh Fugaku Uchiha, Maka untuk menghormati client tersebut Itachi yang sekarang menjabat sebagai Direktur Utama setelah ayahnya lengser, memutuskan melayani sang client istimewa langsung.
Urusan pekerjaannya sudah selesai dan Itachi niatnya langsung pulang ke Konoha, namun tadi dia mendapat ajakan hangout dari Deidara sahabatnya di Akatsuki. Yah hitung-hitung menghilangkan penat serta fikiran-fikiran yang akhir-akhir ini bersarang di kepalanya. Maka disinilah dia, berdiri di lift yang sedang berjalan menuju lantai 4 sebuah mall, untuk datang ke pub tempat yang di janjikan oleh Deidara. Itachi masih berjalan ke arah pub yang disebutkan oleh Deidara saat dirinya melihat seseorang yang di kenalinya, berada di sebuah Restauran yang di batasi dinding kaca di lantai yang sama dengan pub yang di tujunya. Itachi memutuskan untuk menyapanya, bagaimanpun wanita itu adalah mantan calon adik iparnya yang lumayan sudah lama tak dia temui. Sekedar menanyakan kabar mungkin tak ada salahnya.
Saat mendekat Itachi mulai sadar bahwa wanita itu tidak sendirian melainkan ada seseorang di hadapannya dan sepertinya belum menyadari dirinya yang mendekat. Itachi samar-samar mendengar obrolan mereka namun tak terlalu jelas karena jaraknya yang masih agak jauh.
"kau tidak apa-apa Sakura, wajahmu pucat sekali, apa terjadi sesuatu dengan kandunganmu? Hah Sasuke itu memang keterlaluan dia meninggalkan kau yang sedang mengandung anaknya tega sekali" itu suara Karin wanita yang ada dihadapan Sakura. seketika Itachi berhenti berjalan saat mendengar ucapan Karin.
Sakura Hamil anak Sasuke?. Entahlah dia yang salah dengar atau Karin yang salah bicara. Yang di tahu saat akan membuka suara untuk menyapa 2 manusia yang sekarang berada di hadapannya itu, Sakura sudah beranjak dan pergi menuju arah kamar mandi entah untuk apa.
"Karin!" panggil Itachi memberi tahu keberadaannya, karena posisi Karin yang membelakanginya pasti tidak menyadari bahwa dia mendekati mereka.
Karin langsung menoleh saat Itachi memanggilnya
"ah Kak Itachi!" ujarnya sedikit menunjukan kekagetan seperti tak tahu saja kalau Itachi berada di situ.
"hai Karin, bolehkah aku bergabung denganmu? sepertinya ada sesuatu yang perlu kita bicarakan mengenai ucapanmu barusan" Itachi to the point
"ah ucapan yang mana kak Itachi?" tanya Karin pura-pura tidak tahu
"tentang Sakura yang mengandung anak adikku" jawab Itachi datar
"oh.. tapi sebenarnya aku tidak berhak memberi tahu masalah ini" Ujar Karin
"ceritakan saja Karin, lagi pula aku sudah terlanjur mendengarnya tadi. Jadi percuma saja kau menyembunyikannya dariku" Itachi memaksa
"baiklah jadi begini..." Karin mulai bercerita.
.
.
.
.
Naruto membelai rambut istrinya yang tertidur di pangkuannya. Tadi setelah makan dia menyuruh Hinata untuk berbaring kembali. Matanya sedikit melirik ke arah meja Sakura dan Karin dan heran dengan pemandangan di depannya. Disana hanya ada Karin dan Itachi? untuk apa lelaki itu ada disini. Hah naruto masih kesal pada sulung Uchiha itu, saat Hinata sedang di Rumah Sakit pria itu datang dan tiba-tiba memukulnya dan berdalih itu sebagai balasan karena dia telah menyakiti Hinata yang sudah di anggap adik olehnya. Heh adik dari mana? Adik ketemu gede.
Naruto tak melihat keberadaan Sakura di meja itu, apa dia sengaja menghindar dari Itachi? bisa jadi, mungkin Sakura takut kalau Itachi mengetahui kehamilannya. Lagipula untuk apa Itachi ke sini bukankah seharusnya dia sudah berada di Konoha.
"Hinata..!" Sakura tiba-tiba muncul dan berdiri di hadapan Naruto dan Hinata
"Kau kenapa Sakura? Hinata sedang istirahat" Ujar Naruto dengan suara yang sedikit berbisik takut mengganggu sang istri
"kau jangan tertipu olehnya, dia hanya berpura-pura tidur. Bangun Hinata" Sakura sedikit membungkukan tubuhnya untuk mengguncang tubuh Hinata agar terbangun.
"hmmm.. ada apa?" Hinata yang merasa terganggu karena tubuhnya di guncang akhirnya bangun dengan di bantu oleh suaminya "Sakura! ada apa?" ujarnya sedikit linglung
"jangan pura-pura polos, Kau merebut Sasuke dariku sehingga dia mencampakan aku dan sekarang kau ingin mengambil satu-satunya miliku. kau kan yang sengaja mengundang Itachi kesini, agar dia tahu kehamilanku. Kemudian nanti keluarga Uchiha akan menyuruhku aborsi dan aku akan kehilangan semuanya. Itu yang kau inginkan kan. Puas kau sekarang?" Sakura berkata sambil menangis kemudian berlari meninggalkan Hinata yang memandang bosan dan Naruto yang kaget.
Huh dasar ratu drama Hinata berkata dalam hati tentunya.
"Hinata apa maksud perkataan Sakura tadi?" Naruto kebingungan "apa benar Sasuke mencampakan Sakura karena kau merebut Sasuke darinya?" lanjutnya
"mana ku tahu Naru. Untuk apa aku merebut Sasuke darinya." Jawab Hinata santai
"ya ampun sayang jangan-jangan wanita yang di maksud Sakura waktu dia bercerita bahwa Sasuke sudah mencintai wanita lain, wanita itu adalah kau.. kasihan sekali Sakura. sayang aku akan mengejarnya. Kau tetap disini aku akan segera kembali setelah mendengar penjelasan dari Sakura." Naruto mengecup kening Hinata kemudian berlalu keluar lewat pintu samping, restaurant, jalan yang sama di lalui oleh Sakura tadi saat pergi.
"huh selalu begitu" gumam Hinata pada diri sendiri. Dia sedikit risih dengan suaminya yang terlalu baik ini, kenapa tak bisa membedakan antara acting dan kejadian sebenarnya. Ah entahlah suaminya itu terlalu baik atau bodoh
"Hinata ada apa?" Karin datang menghampirinya sementara Itachi masih terdiam di kursinya semula mencerna semua informasi yang di berikan Karin.
"biasa Ratu drama sedang beraksi" Hinata berujar tidak peduli
"lalu Naruto mengejarnya" tebak Karin, karena dia tadi melihat sepupunya yang pergi tak lama setelah Sakura keluar dan Hinata mengangguk mengiyakan. "bodoh seperti biasanya" gumamnya
Karin duduk di samping Hinata. "hei.. kau tahu informasi apa yang aku dapatkan?" tanya karin, Hinata hanya menggeleng sepertinya nyawanya belum sepenuhnya kembali
"aku tadi mengobrol dengan Itachi" lanjutnya sambil melirik ke meja tempatnya tadi mengobrol dengan Itachi, tapi si pria berambut panjang sudah tidak ada disana. Mungkin dia sudah pergi
"huh kak Itachi, berarti tadi dia benar ke sini. Apa yang kau obrolkan dengannya Karin?" Hinata mulai penasaran
"jadi begini, aku menceritakan kehamilan Sakura, tadinya tidak sengaja terdengar oleh kak Itachi saat aku sedikit mengkhawatirkan kehamilannya" ujar Karin tapi Hinata malah menatapnya tajam
"jangan berpura-pura Karin aku tahu kau sengaja membahas kehamilan Sakura agar terdengan oleh Itachi kan? Kau tak mungkin mengkhawatirkan kehamilannya tanpa alasan. Jangan-jangan kau yang mengundang Itachi datang kesini?" tanya Hinata sarkatis
"hei..iya aku mengaku aku sengaja membahas kehamilan Sakura saat tahu Itachi datang menghampiri mejaku, tapi aku tidak mengundangnya datang kesini. Lagi pula aku tak punya contacnya" Karin membela diri tapi juga mengaku kebohongannya
"ya tuhan Karin kenapa kau melakukan itu?" Hinata terlihat frustasi
"aku sudah tak tahan dengan wanita itu, dan benarkan Hinata yang aku katakan bahwa kemungkinan bayi yang di kandung Sakura bukan anak Sasuke" Karin antusias untuk bercerita
"apa maksudmu?"
"jadi begini Hinata, setelah aku bercerita tentang kehamilan Sakura dan permintaannya pada Naruto aku berkata bahwa aku sedikit curiga kemungkinan ayah bayi yang di kandung oleh Sakura bukannlah Sasuke dengan menceritakan proses pembuahan pada janin seperi waktu aku bercerita padamu"
"lalu apa kata kak Itachi?"
"tentu saja karena dia lebih pintar darimu yang kadang-kadang bodoh seperti suamimu. Dia langsung faham dan mengatakan bahwa Sasuke tidak mungkin berhubungan dengan Sakura dalam jangka waktu tersebut, karena muulai dari tanggal 27 Februari sampai tanggal 1 Maret dia dan Sasuke berada di Kyoto, untuk urusan bisnis. Sore tanggal 2 Maret mereka baru tiba di Konoha, dan Sasuke baru keluar rumah sekitar jam 7 malam hari itu.
Kemudian jam 10 malam Sasuke pulang ke rumahnya, Itachi melihatnya waktu itu karena kebetulan dia sedang ke luar kamar untuk mengambil air minum. Ke esokan harinya Sasuke berangkat menemani bibi Mikoto ke Paris selama seminggu"
"tapi mungkin saja mereka berhubungan di malam Sasuke memutuskan Sakura"
"itu juga tidak mungkin Hinata, karena kau tahu apa? Neji kakakmu beserta sahabat-sahabatnya sedang berada di tempat yang sama dengan mereka. Dan Itachi mengatakan bahwa Neji melihat Sakura di tinggalkan sendiri oleh Sasuke "
"berarti kak Neji tahu dengan siapa Sakura setelah bersama Sasuke?"
"aku tidak tahu dan aku yakin Itachi juga tak bertanya pada Neji"
"berarti aku harus pulang ke Konoha" ucap Hinata tiba-tiba
"huh, apa katamu. Untuk apa kau pulang ke Konoha?"
"tentu saja untuk menyelidiki Karin, aku sudah tak tahan melihat suamiku di bodohi oleh si ratu drama itu"
"suamimu memang bodoh"
"siapa yang kau sebut bodoh?" Naruto tiba-tiba datang dengan nafas berat seperti sehabis berlari.
"tentu saja kau, mengejar wanita lain dan meninggalkan istrimu sendirian di sini, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya. Lihatlah wajahnya sudah pucat seperti itu" Ujar Karin berusaha membuat Naruto tidak menanyakan apa yang mereka bicarakan
Naruto duduk di samping Hinata kemudian mengelus lembut perut sang istri "benarkah? Sayang apa perutmu terasa sakit lagi?" tanya Naruto khawatir. Hinata menaruh tangannya di atas tangan Naruto yang berada di perutnya kemudian menggelang
"kau yakin? Apa tidak sebaiknya kita pergi saja ke dokter Shizune untuk memastikan?" Naruto berusaha membujuk sementara di kening Karin sudah muncul siku-siku
"hei.. aku juga dokter Naruto!" Karin tersinggung, di hadapan matanya ada dokter secantik ini tapi Naruto malah mengajaknya menemui dokter Shizune yang tak lain adalah dokter pembingbingnya.
"Aku tidak akan menyerahkan kesehatan istri dan anakku pada dokter magang sepertimu tahu" jawab Naruto yang membuat wajah Karin memerah, bukan karena malu tapi karena kesal. Hinata yang melihatnya langsung berbicara
"aku tak apa-apa Naru, ini hanya sedikit pusing sepertinya dengan istirahat juga sembuh" Ujarnya memotong Karin yang sudah siap mengeluarkan amarahnya pada Naruto "aku mau pulang saja, ayo Karin!" ajaknya sambil berdiri
"kau pulang denganku Hinata" cegah Naruto
"kau kan harus ke kantor Naru, ini sudah jam berapa" tolaknya lembut
"tapi ada yang ingin aku bicarakan mengenai Sakura" ujarnya lagi
"itu kan bisa nanti Naru cepat pergi ke kantor sana, aku akan pulang bersama Karin. Ups jangan lupa bayar tagihannya ya sayang" Hinata mengecup pipi kanan Naruto kemudian berlalu meninggalkan suaminya yang mempoutkan bibirnya kesal.
"huh siapa yang makan? Siapa yang bayar. Dasar nasib.." gumamnya pada diri sendiri sambil melirik meja di hadapannya kemudian beralih ke meja yang tadi di tempati oleh Sakura dan Karin. Disana sudah banyak piring- piring dengan sisa-sisa makanan.
.
.
.
.
Neji masih menatap pria dihadapannya yang tak lain adalah partner kerja sekaligus sahabatnya itu
"jadi bisa kau jelaskan kemana saja kau selama 3 bulan terakhir ini Lee, kau tahu semua kasus yang harusnya kau tangani terpaksa aku ambil alih" Neji kesal dengan sahabatnya yang menghilang entah kemana selama 3 bulan ini. Terakhir dia bertemu dengan Lee saat mereka merayakan kemenangan Lee menangani kasus seorang client di salah satu bar di Konoha.
"handphonmu mati, aku mendatangi apartemenmu pun kata tetanggamu kau tak pernah pulang, apa yang kau fikirkan Lee. Kau tahu bagaimana khawatirnya kami" lanjut Neji lagi
"maafkan aku Neji, aku butuh menenangkan diri" jawabnya lemah
Neji mengernyitkan dahi. Huh.. di mana Lee yang selalu mengumbarkan semangat masa muda itu, ya meskipun sejak beberapa tahun belakangan penampilan Lee membaik dalam artian dia sudah tidak memakai baju ketat berwarna hijau melainkan baju-baju biasa seperti yang lainnya dan rambutnya tidak lagi berbentuk mangkuk dan lebih rapi namun semangat masa mudanya tetap bertahan. Tapi yang sekarang ada di hadapannya seperti bukan Lee saja ada apa dengan sahabatnya ini?
"Lee kau bisa bercerita padaku atau Ten-ten jika ada masalah, jangan bersembunyi seperti itu. kau tahu kami sahabtmu. Jadi di mana kau tinggal selama 3 bulan?"
"aku pergi ke kota Ame, Neji apa yang akan kau lakukan jika kau meniduri seorang wanita yang bukan pasanganmu?"
"apa maksudmu? mana ku tahu. Aku belum pernah melakukannya Lee, kau salah orang jika bertanya seperti itu padaku"
"cukup jawab pertanyaanku menurut pandanganmu Neji"
"baiklah begini, kalau menurutku jika itu di lakukan dengan suka sama suka artinya tidak ada pemaksaan, sah-sah saja mungkin ya walaupun aku tetap tidak setuju karena seharusnya hal seperti itu hanya di lakukan untuk pasanganmu. Kenapa sih Lee apa ini mengenai kasus client mu?" Neji mulai penasaran, tumben sekali Lee bertanya hal seperti itu
" aku meniduri seorang wanita dalam keadaan mabuk, kau tahu aku begitu mencintai wanita ini namun selama sekian tahun cintaku tak pernah bersambut dan saat aku melihatnya sedang mabuk kemudian dia menyerang aku duluan aku pun tak dapat menahannya lagi aku mengikuti instingku dan melakukan hal bejat itu meskipun pada pagi harinya aku langsung menyesal dan memutuskan untuk pergi . demi tuhan Neji aku sekarang menyesal aku..aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan".
"oh Shit Lee, apa yang kau lakukan. Kau meniduri seorang wanita yang sedang mabuk dan kau meninggalkannya pada pagi harinya dan tak kembali selama 3 bulan. Apa yang ada di otakmu Lee, bagaimana perasaan perempuan itu, bagaimana jika dia mengandung benihmu? Aku yakin kau tak memakai pengaman saat itu mengingat kau sama sekali tak merencanakan hal itu kan?" Neji menyesali perbuatan bodoh sahabatnya. Semantara Lee membulatkan mata mendengar pernyataan Neji
"Ne-Neji aku..aku.. ya Tuhan bagaiman jika apa yang kau katakan benar, bagaimana jika wanita itu hamil, bagaimana?" Lee mulai terpuruk
"siapa wanita itu Lee? Kau harus segera menemuinya dan meminta maaf" Neji menasehati
"dia..dia.." ucapan Lee terpotong saat terdengar dering ponsel Neji. Neji beranjak dan pergi sedikit menjauhi Lee namun tak lama dia kembali lagi
"maaf Lee aku harus pergi dulu, Ayah membutuhkanku. Aku harap kau segera menemui wanita itu dan meminta maaflah Lee" ujar Neji sambil mengusap bahu sahabatnya kemudian berlalu pergi meninggalkan Lee ya menatapnya menjauh.
"Sakura.." lirih Lee sambil mengusap wajahnya.
