You're Mine
Chapter 9
Oh Sehun and Xi Luhan (GS)
AU, Romance || Chaptered
2016©Summerlight92
.
.
.
"Eungh ..."
Suara lenguhan itu mengusik pendengaran Sehun, mendorongnya untuk segera bangun dari tidurnya. Mata Sehun mengerjap lembut, lalu ia menghalau pandangannya dari cahaya yang masuk melalui celah jendela kamar. Suara berderit ranjang sempat terdengar ketika Sehun mengubah posisinya menjadi duduk. Ia pandangi dua orang yang masih bergelung dalam selimut—Luhan dan Dennis. Semalam, Sehun menyusul Luhan yang tidur bersama Dennis, dan mereka bertiga tidur bersama dengan posisi Dennis berada di tengah Sehun dan Luhan.
Sudut bibir Sehun tertarik membentuk lengkungan senyum yang sempurna. Membayangkan jika posisi yang ditempati Dennis sekarang milik anaknya dengan Luhan kelak, rasanya pasti membahagiakan. Oh, sungguh Sehun tak sabar menantikan hari itu—hari di mana ia dan Luhan resmi menjadi sepasang suami istri, membangun rumah tangga yang bahagia dengan anak-anak mereka nanti.
Tangan Sehun terulur ke samping, merapikan helaian rambut Luhan yang menutupi wajah gadis itu. Ia terkikik geli melihat reaksi Luhan yang semakin meringkuk seperti bayi, di balik selimut yang mereka gunakan semalam.
"Pamaan ..."
Sehun menoleh dan sedikit membeliak kala melihat sosok mungil yang duduk di atas ranjang, tengah mengucek kedua matanya sambil sesekali menguap lebar.
"Dennis sudah bangun?" tanya Sehun sedikit berbisik. Sengaja ia pelankan volume suaranya agar tak membangunkan Luhan yang masih tertidur di sebelahnya.
Dennis mengangguk imut, lalu tangannya terentang—memberi isyarat pada Sehun untuk menggendongnya. Sehun tersenyum melihat wajah menggemaskan Dennis. Ia merangkak ke depan, membawa tubuh Dennis ke dalam gendongannya. Tangannya mengusap lembut punggung Dennis. Sehun masih mendengar lenguhan Dennis, tanda bahwa keponakan kesayangannya itu masih dikuasai rasa kantuk.
"Mau mandi sekarang?" tawar Sehun.
Dennis mengangguk pelan, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Sehun.
"Dennis mandi sama paman, ya?" Sehun terkekeh yang kemudian membuat Dennis tersenyum geli. Dennis ikut terkekeh mendengar ajakannya, lalu terdiam sejenak begitu melihat seseorang yang masih bergelung di balik selimut.
"Bibi belum bangun?" tanya Dennis dengan wajah polosnya.
Sehun hanya menjawabnya dengan tawa kecil, "Nanti kita bangunkan jika sudah selesai mandi," katanya lalu membawa Dennis pergi ke kamar mandi.
Hampir 30 menit sejak Sehun dan Dennis berada di kamar mandi, Luhan masih tertidur pulas di atas ranjang. Sehun memang tak berniat membangunkan Luhan lebih awal. Sebab laki-laki itu sadar, ia sendirilah yang sudah membuat Luhan tidur larut.
Flashback
Luhan bersiap memejamkan matanya setelah menidurkan Dennis, namun ia justru merasakan sesuatu melingkar di pinggangnya. Gadis itu menolehkan kepalanya ke samping, dan seketika membeliak mendapati sosok Sehun sudah berbaring sambil memeluk pinggangnya dengan erat. Lelaki itu hanya terkekeh ketika Luhan menghadiahi sorot mata kesal padanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Luhan, khas dengan wajah kesalnya yang terlihat menggemaskan.
"Aku ingin tidur bersamamu," jawab Sehun santai.
Luhan memutar bola matanya jengah, "Tidurlah di sebelah Dennis, jangan di sebelahku. Posisinya terlalu sempit untukmu, Hunnie."
"Tidak, aku maunya tidur di sebelahmu, Lu," tolak Sehun, seperti biasa keras kepala dan selalu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Sudah jelas posisi Luhan hampir di pinggir ranjang, yang pastinya jika Sehun memilih tidur di sebelahnya, laki-laki itu hanya mendapatkan sedikit ruang untuk berbaring.
"Ini sempit, Sehunnie ..." Luhan mulai kesal karena ruang geraknya semakin terbatas, "Aku tidak bisa bergerak."
"Kalau begitu jangan bergerak," bisik Sehun dengan nada jahil. "Tetap diam dan biarkan aku memelukmu seperti ini, Lu."
"Ish, kau menyebalkan!"
Sehun terkekeh, lalu semakin mengeratkan pelukannya pada Luhan. Ia menghirup aroma madu yang menguar dari rambut gadisnya itu.
Tanpa Luhan sadari, Sehun mulai memejamkan matanya dan perlahan pergi ke alam mimpi. Luhan menghela napas frustasi. Sejujurnya ia ingin sekali lekas tidur, seperti halnya Dennis dan Sehun. Namun hembusan napas Sehun di tengkuknya membuat gadis itu terjaga cukup lama dengan wajah meronanya. Belum lagi dengkuran halusnya yang terdengar—err, seksi.
"Kau memang menyebalkan, Tuan Oh ..." gumamnya dengan wajah cemberut, namun detik selanjutnya berganti dengan senyuman lebar.
Flashback off
Suara gemericik air dari kamar mandi membuat Luhan terbangun dari tidurnya. Luhan masih berusaha menyesuaikan cahaya terang yang memenuhi kamar. Ia berganti posisi, duduk di atas ranjang, masih dengan selimut yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Begitu mendapati sisi ranjang di sebelahnya kosong, pandangan Luhan langsung mengedar ke sekeliling,
"Ke mana mereka?" gumamnya bingung. Namun kemudian terdiam saat mendengar suara berisik dari kamar mandi, yang ia yakini adalah suara Sehun dan Dennis.
CKLEK!
Kaki Luhan baru saja menyentuh lantai, bersamaan dengan pintu kamar mandi yang dibuka oleh Sehun.
"Oh, kau sudah bangun?"
Luhan menengok ke belakang setelah mendengar suara Sehun. Tetapi setelahnya, ia menyesal atas pemandangan yang tersaji di sana.
Di depan pintu kamar mandi, Sehun berdiri dengan bertelanjang dada, dan handuk yang melilit di sekitar pinggang menutupi bagian bawah tubuhnya. Rambutnya masih setengah basah dengan butir-butir air yang menetes dan jatuh ke bawah.
Glek! Luhan kesulitan meneguk ludahnya. Ini kali pertama bagi Luhan melihat tubuh atletis Sehun yang sangat menggoda itu.
"Pamaan ... kenapa Dennis ditinggal?"
Luhan buru-buru mengalihkan pandangannya saat mendengar seruan keras dari Dennis. Bocah itu muncul dari belakang Sehun dengan langkah tergopoh-gopoh. Entah apa yang ada di pikiran Sehun. Di saat ia sendiri hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, ia justru mengenakan bathrobe pada Dennis.
Apa dia sengaja memamerkan tubuhnya di depanku?—batin Luhan.
DUG!
Tanpa diduga kaki Dennis tersandung lantai kamar yang sedikit lebih tinggi dari lantai kamar mandi. Tubuh Dennis terhuyung ke depan—tepat mengarah pada Sehun. Tangannya tidak sengaja menyentuh handuk yang melilit pinggang Sehun, hingga akhirnya-
SRUT!
-handuk itu terlepas dan seketika memperlihatkan tubuh polos Sehun.
"KYAAAAAAA!"
Well, selamat menikmati pemandangan indah di depanmu, Xi Luhan.
..
..
..
Bibi Jung menatap heran pada dua orang dewasa yang sedari tadi bersikap aneh selama menikmati sarapan. Sesaat yang lalu, ia—mungkin juga beberapa pelayan lainnya—mendengar teriakan Luhan yang begitu nyaring dari kamar Dennis. Apa terjadi sesuatu lagi?
Jawabannya, iya.
Bagi Luhan, kejadian melorotnya handuk Sehun karena ketidaksengajaan Dennis, mengingatkannya lagi pada kejadian beberapa waktu lalu—saat ia pertama kali datang ke rumah Sehun. Jika sebelumnya Luhan yang berada di posisi memalukan itu, kali ini Sehun yang menempatinya. Hanya saja, reaksi laki-laki itu benar-benar di luar prediksi Luhan. Bukannya merasa malu, Sehun justru tertawa saat mengambil kembali handuknya. Dan lagi, celetukan Dennis sukses mengacaukan pikiran Luhan.
"Woah, lihat itu, Bi! Punya paman besar sekali, ya. Kapan punyaku bisa sebesar itu?"
Kalau saja Luhan tidak ingat jika Dennis adalah anak Chanyeol dan Baekhyun, ia pasti akan menyumpal mulut bocah itu.
"Lu?"
"APA?!"
Sehun mencibir atas reaksi Luhan, "Galak sekali."
"Diamlah! Aku sedang tidak mau berbicara denganmu!"
Sehun mengerucutkan bibirnya, lalu menatap melas pada Dennis yang sedari tadi memandang mereka kebingungan.
"Dennis, tolong paman!" pinta Sehun dengan nada merengek yang dibuat-buat. "Bibi Luhan tidak mau berbicara dengan paman."
"Kenapa?" Dennis mengerjap polos sambil menikmati suapan dari Bibi Jung.
"Bibi marah sama paman karena kejadian tadi pagi," jawab Sehun asal. "Seharusnya 'kan paman yang marah, karena bibi sudah melihat paman telan—"
"STOP!" Luhan berteriak keras memotong ucapan Sehun. Gadis itu menatap jengah pada kekasihnya yang kini terkekeh puas di depannya.
"Kenapa, Lu?" Sehun semakin bersemangat menggoda Luhan, apalagi saat melihat warna merah yang menghiasi pipi gadisnya itu. "Itu benar 'kan? Kau tadi melihatku telan—"
"SEHUN!"
Dennis dan Bibi Jung sampai melonjak kaget karena teriakan keras Luhan yang memekakkan telinga.
"Kau mengagetkannya, Lu ..." ujar Sehun seraya mengedikkan dagunya ke arah Dennis. Luhan yang masih dalam mode marah melirik Dennis. Dilihatnya bocah itu tampak cemberut dengan bibir melengkung ke bawah.
"Oh, bibi minta maaf, Sayang," Luhan buru-buru meminta maaf pada Dennis, mengusap pipi bocah itu dengan lembut, lalu menghadiahinya kecupan sayang.
Dennis hanya mengangguk lucu sebagai respon atas permintaan maaf Luhan, "Bibi jangan berteriak, Dennis jadi kaget," katanya masih dalam mode merajuk.
"Iya, bibi tidak akan berteriak lagi," Luhan mengusap pucuk kepala Dennis, lalu melirik sekilas ke arah Sehun. Lelaki itu meringis lebar, lalu tersenyum kikuk—merasa bersalah karena mengacaukan suasana hati Luhan. Sebenarnya ia sendiri cukup terkejut mendengar teriakan Luhan yang kelewat keras tadi—rasanya benar-benar seperti rusa betina yang sedang mengamuk. Padahal niat awal hanya menggoda saja, tapi sepertinya candaan Sehun sedikit—mungkin—kelewatan.
"Dennis sudah selesai sarapannya?" tanya Luhan.
"Eum."
"Bagus, ayo kita pergi jalan-jalan!"
"Yeay!" Dennis langsung melompat turun dari kursi. "Kita mau pergi ke mana, Bi?"
"Mengunjungi teman bibi."
"Kau mau pergi ke tempat Yixing-noona?"
Luhan hanya mengangguk, tanpa berniat mengatakan apapun.
"Lu, kau masih marah?" Sehun tidak tahan melihat Luhan seolah mengabaikannya. "Ayolah, aku hanya bercanda, Lu."
Sejujurnya Luhan tidak marah. Ia hanya masih merasa malu dan enggan menatap Sehun berlama-lama karena kejadian tadi pagi. Tetapi, melihat bagaimana wajah frustasi laki-laki itu yang tampak bersalah, Luhan terkikik geli dalam hati. Sekali-kali membalas Sehun tidak ada salahnya 'kan?
"Diamlah, aku masih marah padamu," Luhan sengaja memasang wajah kesalnya. "Bercandamu kelewatan, Sehunnie."
"Lu?"
"Sampai aku memaafkanmu, kau tidak akan mendapat jatah dariku," lanjut Luhan.
"Apa?!" Sehun tentu tahu jatah apa yang dimaksud Luhan—ciuman. "Tapi, Lu—"
"Ayo, kita pergi sekarang, Dennis," ajak Luhan menggandeng tangan mungil Dennis, mengajaknya keluar meninggalkan ruang makan, dan mengabaikan Sehun yang terlihat memelas di tempatnya.
"Lu, kau tidak boleh pergi begitu saja. Bagaimana dengan jatahku?"
Luhan tetap berjalan meninggalkan Sehun. Sedangkan Dennis hanya menengok ke belakang dengan wajah bingungnya.
"Satu saja, Lu," pinta Sehun. "Hanya di pipi juga tidak apa-apa."
Luhan berhenti sejenak lalu menengok dengan sorot mata tajamnya, "Tidak!"
"Ayolah, Lu ..." Sehun merengek seperti anak kecil.
"Aku bilang tidak, ya tidak!"
"Luuuuuuuu ..."
Bibi Jung tidak percaya dengan pemandangan yang ada di depannya, begitu pun dengan pelayan yang lainnya. Untuk pertama kali—setelah beberapa tahun kepergian orang tuanya—mereka kembali melihat Sehun bersikap manja seperti anak kecil. Dan semua itu karena Luhan.
..
..
..
"Sayang, tolong buka pintunya."
Joonmyun yang sudah berpenampilan rapi dengan setelan jas formalnya itu melangkah cepat ke pintu apartemen mereka.
"Siapa yang datang?" tanya Yixing dari kamar putri mereka—Jinhee.
Joonmyun tersenyum setelah melihat tamu yang datang melalui intercom, "Luhan," jawabnya lalu menekan tombol pada layar intercom, kemudian membuka pintu untuk Luhan dan—Joonmyun terdiam sejenak saat melihat bocah laki-laki yang digandeng gadis itu—Dennis.
"Selamat pagi, Oppa," sapa Luhan ramah, khas dengan senyuman terbaiknya.
"Selamat pagi, Lu," balas Joonmyun lalu melirik Dennis. "Dia Dennis 'kan? Anak Chanyeol dan Baekhyun?"
Luhan mengangguk. Ia memang sudah mendengar dari Yixing jika keduanya satu angkatan dengan Chanyeol semasa kuliah dulu. "Ayo, Dennis. Beri salam pada Paman Joonmyun," katanya pada Dennis.
"Selamat pagi, Paman."
"Selamat pagi, Dennis," Joonmyun terkekeh melihat sikap sopan bocah itu, "Aigo, sekarang kau sudah tumbuh besar, ya? Kau sudah setinggi ini untuk anak seusiamu."
"Kurasa karena gen ayahnya yang lebih dominan, Oppa," celetuk Luhan yang membuat keduanya tertawa. Sedangkan Dennis hanya menatap mereka dengan wajah polosnya.
"Omo! Dennis?!"
Ketiga orang itu sontak menoleh mendengar seruan keras dari belakang Joonmyun. Yixing sedikit berlari menghampiri Luhan dan Dennis yang baru saja disambut oleh suaminya. Tanpa ragu, ibu muda itu langsung memeluk Dennis erat dan menghadiahinya kecupan di pipi.
"Dennis ingin melihat Jinhee, Bi," ujar Dennis polos yang membuat ketiga orang dewasa itu tertawa. Dia memang sudah diberitahu oleh orang tuanya jika Yixing dan Joonmyun sudah mempunyai seorang putri. Dan setelah mendengar cerita dari Luhan saat perjalanan ke tempat mereka, Dennis tampak bersemangat. Mengingat ini kali pertama baginya bertemu dengan Jinhee. Sebelumnya Baekhyun dan Chanyeol sudah menjenguk Jinhee, namun tidak mengajak Dennis karena bocah itu dititipkan pada kakek dan neneknya.
"Dennis bisa melihatnya di kamar," balas Joonmyun lalu melirik Yixing yang sedang tersenyum, "Aku berangkat dulu."
Yixing membalas pelukan Joonmyun, "Hati-hati di jalan."
Joonmyun mengangguk lalu mengambil tasnya di sofa ruang tengah, "Bersenang-senanglah," ujarnya pada Luhan.
"Tumben kau berangkat terlambat, Oppa?"
Joonmyun terkekeh pelan, "Itu karena tadi Jinhee sempat rewel."
"Dan Jinhee menginginkan ayahnya yang menggendongnya," lanjut Yixing dengan wajah cemberut yang dibalas tawa renyah milik Joonmyun.
"Dia memang mewarisi sifatmu, Sayang," goda Joonmyun dan seketika membuat wajah Yixing merona hebat. Sedangkan Luhan hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan pasangan suami istri itu.
"Sudah ya, Lu. Sampai jumpa," pamit Joonmyun, lalu mengerling nakal ke arah Yixing.
"Ish, dia suka sekali menggodaku," cibir Yixing begitu suaminya pergi berangkat kerja. Luhan tertawa mendengarnya.
"Berarti tidak jauh beda dengan Sehun," tawa Luhan masih terdengar, "Dia juga suka sekali menggodaku."
Mendadak ekspresi wajah Yixing berubah, terlebih disertai seringaian yang muncul di bibirnya. "Ceritakan padaku," katanya sambil menaik-turunkan alisnya.
Luhan sedikit terkejut dengan perubahan ekspresi wajah Yixing yang begitu tiba-tiba. "Ce-cerita soal apa, Eonni?" tanyanya pura-pura tidak tahu. Ada alasan kenapa Luhan mulai memanggil Yixing dengan sebutan eonni. Ini permintaan Yixing sendiri yang ingin dipanggil seperti itu olehnya.
"Jadi," Yixing sengaja menjeda kalimatnya, "bagaimana rasanya sudah resmi menjadi kekasih Sehun?"
Selanjutnya yang dilihat Yixing adalah wajah memerah dari Luhan. Bahkan melebihi dirinya tadi yang sekarang semakin mirip seperti kepiting rebus.
..
..
..
Chanyeol terheran melihat kondisi Sehun yang sejak pagi tadi tampak tak bersemangat. Jika kemarin laki-laki itu lebih sering mengumbar senyum, maka tidak untuk hari ini.
"Kau kenapa lagi?" itu pertanyaan pertama yang terlontar dari Chanyeol sewaktu mendatangi ruangan Sehun. Lelaki dengan telinga lebar itu memang sudah hapal kebiasaan adik sepupunya yang kerap berubah mood seperti ini.
"Bertengkar lagi dengan Luhan?"
Hanya gadis itu yang mampu membuat Sehun tampak frustasi seperti ini—batin Chanyeol puas dengan seringaian khasnya. Ia nyaris menyemburkan tawa melihat reaksi Sehun yang langsung menatap tajam ke arahnya—seolah ingin menunjukkan kemarahan yang sedang ia rasakan. Padahal di mata Chanyeol, Sehun justru lebih mirip seperti anak anjing yang ditinggal pergi majikannya.
"Ini karena ulah anakmu, Hyung," kata Sehun setelah terdiam cukup lama.
Chanyeol menaikkan salah satu alisnya, "Dennis?"
Sehun menghela napas panjang. Setelahnya menceritakan semua kejadian tadi pagi yang segera disambut tawa menggelegar dari Chanyeol. Ugh, Sehun jadi menyesal karena sudah menceritakan kejadian itu pada kakak sepupunya. Lihat saja bagaimana lelaki yang usianya terpaut 2 tahun di atasnya itu, masih tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. Dasar idiot!
"Hentikan tawamu itu, Hyung!"
Chanyeol menyudahi tawanya—sesuai permintaan Sehun, lalu berdeham pelan. "Sudah tahu Luhan malu karena melihat tubuh polosmu itu, tapi kau masih saja menggodanya. Wajar kalau dia marah," ujarnya setelah mengetahui penyebab Sehun tampak murung.
"Kurasa begitu," lirih Sehun. "Dan lagi, sebelumnya kami juga pernah mengalami kejadian seperti tadi. Waktu itu, aku yang tidak sengaja melihat tubuh polos Luhan."
"APA?!"
Sehun nyaris terjungkal karena teriakan keras Chanyeol. "Astaga, Hyung! Kau mengagetkanku!" umpatnya kesal.
Chanyeol masih terbengong di tempatnya dengan mulut menganga lebar. "Ya ampun, Sehun. Aku tidak menyangka kau benar-benar mesum," cibirnya dengan tampang bodoh.
"Ck, aku tidak sengaja, Hyung!" Sehun mencoba membela diri. "Kejadian waktu itu sama persis dengan kejadian tadi pagi."
Chanyeol terdiam sejenak, sebelum akhirnya menyeringai dengan tatapan nakalnya. "Jadi, kalian sama-sama sudah pernah melihat tubuh polos masing-masing, ya?"
Sebenarnya siapa yang lebih mesum di sini?
"Terserah kau sajalah, Hyung," Sehun mulai malas meladeni setiap kata yang keluar dari mulut Chanyeol. Kakak sepupunya itu memang selalu berhasil membuat Sehun tak berkutik membalas kata-katanya.
Chanyeol terkekeh puas melihat wajah Sehun yang merah padam.
DRRT! DRRT!
Perhatian Chanyeol teralih pada ponsel Sehun yang bergetar. Ia sedikit melongokkan kepalanya, bermaksud melihat nama kontak yang tertera di layar ponsel. "Ada panggilan masuk," ucapnya memberitahu Sehun.
"Biarkan saja. Aku sedang malas menerima telepon."
"Ya sudah, aku saja yang menjawabnya," Sehun mengernyit saat Chanyeol mengambil ponselnya tanpa meminta izin lebih dulu, bahkan dengan seenaknya menjawab panggilan yang masuk itu.
"Halo?" Chanyeol melirik sekilas ke arah Sehun yang diketahuinya masih cuek, memilih layar netbook sebagai fokus utamanya.
"Ah, Lulu. Ini oppa," ia sengaja mengeraskan suaranya. Sesuai perkiraan, Sehun langsung menoleh kaget saat mendengar nama Lulu meluncur bebas dari mulutnya.
"Sehun?" Chanyeol tersenyum remeh pada Sehun yang terlihat sudah berdiri dari posisi semula. Bahkan mulai berjalan mendekatinya.
"Dia sedang keluar, Lu. Ponselnya tertinggal di ruangannya," kata Chanyeol tak peduli dengan ekspresi Sehun yang terlihat melotot padanya.
"Aku tidak tahu, tapi tadi aku melihatnya pergi bersama peremp—arrghh! Sakit, Oh Sehun!"
Masa bodoh dengan teriakan kesakitan Chanyeol setelah mendapat hadiah gratis darinya. Sehun lebih peduli dengan nasib ponselnya yang dikuasai Chanyeol, dan lagi si penelepon yang tidak lain adalah Luhan—gadis yang berhasil membuatnya uring-uringan sejak tiba di kantor.
"Luuu ..."
"Sehun? Apa yang terjadi pada Chanyeol-oppa? Kau apakan dia?"
"Tidak ada," Sehun melirik sinis ke arah Chanyeol. "Ada apa kau meneleponku?"
"Tunggu, tadi Chanyeol-oppa bilang kau sedang pergi."
"Jangan dengarkan Chanyeol-hyung. Dia bohong. Aku ada di ruanganku sejak dia menjawab teleponmu," ia masih setia menghadiahi tatapan tajamnya untuk Chanyeol. "Ada apa, Lu?"
"Ngg ... apa pekerjaanmu sudah selesai? Kau ingat janjimu untuk mengajak Dennis ke Lotte World 'kan?"
"Tentu saja aku ingat," Sehun memperhatikan jam tangan yang ia kenakan, "Sebentar lagi aku keluar kantor. Kalian masih di tempat Yixing-noona? Biar nanti aku menjemput kalian di sana."
"Tidak perlu. Kau jemput saja di halte bus dekat apartemen Yixing-eonni."
"Baiklah," Sehun mengambil jeda sejenak untuk menghembuskan napas panjang, "Lu, apa kau masih marah padaku?"
"..."
"Luhan?"
"..."
"Sayang?"
Chanyeol ingin muntah saat melihat ekspresi wajah Sehun.
"Ngg ... sebenarnya aku sudah tidak marah, tapi aku ingin kau melakukan sesuatu untukku."
"Apa setelah aku melakukannya, kau akan memaafkanku?"
"Ya, bahkan kau bisa menerima jatah yang tidak kuberikan tadi pagi."
Seketika mata Sehun berbinar mendengar ucapan Luhan, "Sungguh? Kau mau memberikannya?"
"Iya, Sehunnie. Asalkan kau mau memenuhi permintaanku."
"Tentu, Sayang. Apapun akan aku lakukan untukmu," jawab Sehun cheesy. Sungguh, Chanyeol benar-benar membutuhkan kantong plastik sekarang.
"Aku dan Dennis baru saja sampai di halte bus dekat apartemen Yixing-eonni. Kau harus segera ke sini untuk menjemput kami. 15 menit dari sekarang."
"A-apa?"
"Terlambat satu detik saja, maka hari ini sama sekali tidak ada jatah untuk Sehunnie."
"Tu-tunggu dulu!"
"Sampai jumpa, Sehunnie."
PIP!
"Halo? Halo?" Sehun menggeram frustasi karena sambungan diputus sepihak oleh Luhan. "Aish, rusa betina itu benar-benar membuatku gila."
"Kau mau ke mana?"
Terlalu fokus dengan permintaan Luhan, Sehun hampir saja melupakan Chanyeol yang masih berada di ruangannya. Ia menengok ke belakang dan kali ini memasang wajah polosnya.
"Hyung, tolong gantikan aku mengurus semua pekerjaan hari ini."
"A-apa?"
"Aku ada janji dengan Luhan dan Dennis. Kami mau pergi ke Lotte World," lanjut Sehun sambil berlari keluar dari ruangannya. "Aku menyayangimu, Hyung."
"YA, OH SEHUN!"
..
..
..
Beberapa orang di halte bus menatap heran ke arah Luhan. Gadis itu terlihat cekikikan sambil memandangi layar ponselnya. Luhan sepertinya tak menyadari pandangan orang-orang di sekitar yang menganggapnya tidak waras alias gila.
"Bibi?"
Satu-satunya yang mampu mengalihkan perhatian Luhan hanyalah suara Dennis. Gadis itu sontak menoleh pada bocah laki-laki yang duduk di sebelahnya. "Ada apa?" tanyanya penasaran, terlebih saat melihat wajah ketakutan keponakan Sehun itu.
"Kenapa semua orang melihat ke sini, Bi?"
Luhan tak langsung menjawab, melainkan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sontak saja mata Luhan membulat lucu ketika menyadari semua orang memang sedang melihat ke arahnya.
Mengetahui gadis yang menjadi pusat perhatian itu sadar atas situasi di sekitar, semua orang buru-buru mengalihkan pandangan. Tak sedikit dari mereka meninggalkan halte, kendati bus yang mereka tunggu belum datang. Sebagian beranggapan lebih baik segera pergi meninggalkan tempat itu, sebelum tertular virus gila dari Luhan.
"Ada apa dengan mereka?" gumam Luhan heran dan hanya mengedikkan bahu sebagai respon cuek. Ia pun kembali memandangi layar ponselnya yang sedang menunjukkan aplikasi timer. Luhan memang sudah mengaturnya setelah mengakhiri pembicaraan dengan Sehun.
Sekarang waktu sudah berjalan 10 menit. Artinya, Sehun hanya mempunyai sisa waktu 6 menit saja.
Diam-diam Luhan kembali menyunggingkan bibirnya. Ia membayangkan bagaimana wajah Sehun yang terlihat kacau dan frustasi karena ulah jahilnya ini. Ya, Luhan memang sedang mengerjai Sehun, sama sekali tidak bersungguh-sungguh untuk tidak memberikan jatah—ehem, ciuman—untuk kekasih tercintanya itu.
"Kenapa paman belum datang, Bi?"
Luhan mengusap lembut kepala Dennis. Tampaknya bocah laki-laki itu mulai bosan karena sudah menunggu di halte hampir setengah jam. Well, sebenarnya Luhan berbohong pada Sehun ketika mengatakan baru sampai di halte bus sewaktu menelepon laki-laki itu. Ia dan Dennis sudah tiba di lokasi sekitar 15 menit yang lalu, sebelum Luhan menelepon Sehun.
"Sebentar lagi, Sayang," ujar Luhan memberi pengertian pada Dennis. Di sela kegiatannya yang sibuk memainkan rambut Dennis, Luhan kembali teringat dengan obrolannya bersama Yixing sesaat yang lalu.
Flashback
"Jadi kau sudah bertemu dengan Kris?" tanya Yixing terkejut mendengar pengakuan Luhan. Gadis bermarga Xi itu mengangguk pelan. Sesekali mengawasi Dennis yang terlihat masih betah berdiri di samping boks yang ditempati Jinhee.
"Dia sudah menceritakan semuanya padaku. Alasan kenapa ia memilih mengakhiri hubungan kami," jawab Luhan.
"Apa itu termasuk masa lalunya yang juga dipermasalahkan ayahmu?"
Luhan mengangguk, "Tapi aku tahu masa lalunya bukan dari Kris sendiri, Eonni."
"Apa maksudmu?" Dahi Yixing berkerut, "Jika bukan dari Kris, lalu dari siapa?"
"Aku mengetahuinya dari Sehun."
"A-apa? Sehun?" Kerutan di dahi Yixing semakin kentara. "Tapi, bagaimana bisa, Lu?"
Luhan tersenyum tipis, "Awalnya aku juga tidak bisa menerimanya, Eonni. Sayangnya, memang demikian adanya. Tanpa sepengetahuanku, diam-diam Sehun menyelidiki latar belakang Kris sewaktu aku memintanya mencari keberadaan laki-laki itu."
"Benarkah?"
Luhan mengangguk, "Kau tahu, Eonni. Saat aku mengetahui apa yang dilakukan Sehun di belakangku itu, aku benar-benar kecewa padanya. Kami bahkan sempat bertengkar hebat, terlebih saat Sehun ternyata sempat melihatku bertemu dengan Kris. Waktu itu dia marah-marah, sampai tega mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan untukku."
Yixing terdiam sejenak. Sedikit ia mulai bisa menebak apa yang dikatakan Luhan setelah ini.
"Dia," Yixing mengulum senyum, "cemburu?"
Luhan tidak mengatakan apapun. Hanya anggukan kecil darinya yang ia berikan pada Yixing.
"Dan setelah itu dia mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya padamu. Benar?"
"Ya," Luhan tanpa sadar tersenyum lebar ketika mengingat kembali pengakuan cinta Sehun waktu itu.
"Syukurlah. Tidak percuma aku memperingati Sehun agar berjanji untuk membahagiakanmu," jawaban Yixing sontak saja membuat Luhan menoleh kaget.
"Apa maksudmu, Eonni?"
Yixing tersenyum, "Sewaktu kau tidur di apartemenku hari itu, Sehun datang menjemputmu setelah aku menyuruh Kyungsoo meneleponnya. Aku meminta Sehun agar mau berjanji untuk membahagiakanmu, jika dia benar-benar tulus mencintaimu, Lu."
"Be-benarkah?"
Yixing mengangguk tanpa keraguan. Diraihnya tangan Luhan, lalu digenggamnya dengan erat. Ia menatap Luhan dengan mata berbinar penuh harapan.
"Kris adalah masa lalumu, dan Sehun adalah masa depanmu. Berjanjilah padaku, Lu. Kau harus hidup bahagia bersama Sehun."
Luhan terharu mendengar permintaan Yixing. Ia menghambur dalam pelukan sahabat yang sudah ia anggap layaknya kakak kandung sendiri.
"Terima kasih, Eonni," Luhan berkata dengan lembut dan penuh kesungguhan. "Aku berjanji akan hidup bahagia bersama Sehun. Aku janji."
Flashback off
"PAMAN!"
Lamunan Luhan seketika buyar ketika mendengar teriakan Dennis. Pandangan Luhan kontan tertuju pada mobil BMW seri 7 warna hitam yang sudah berhenti di depannya. Luhan nyaris menyemburkan tawanya kala melihat penampilan Sehun yang baru saja keluar dari mobil. Laki-laki itu sudah menanggalkan jas formalnya, begitu juga dengan dasi yang melingkar di bawah kerah kemeja. Kancing bagian atas dibuka, dan lengan kemejanya yang digulung sepanjang siku hingga memperlihatkan urat otot lengannya.
Luhan memeriksa aplikasi timer di ponselnya yang sudah ia hentikan sejak melihat kedatangan Sehun.
"Lu ..."
"Kau terlambat 5 menit, Sehunnie."
"APA?!"
Dalam hati Luhan ingin tertawa melihat wajah frustasi kekasihnya ini, "Sayang sekali. Aku tidak bisa memberimu jatah, karena kau datang terlambat," katanya dengan mata berkedip-kedip. Terlihat sangat imut.
"Luuuuuu ..."
Selesai sudah pertahanan Luhan. Gadis itu tertawa puas karena ekspresi memelas Sehun yang kini berubah dengan ekspresi kebingungan. Tangan Luhan terulur ke depan, membelai wajah lelaki itu dengan penuh kelembutan, "Aku hanya bercanda, Sehunnie ..."
CUP! Satu kecupan singkat berhasil Luhan berikan di pipi kiri Sehun. Gadis itu terkekeh pelan melihat Sehun masih terbengong dengan bola matanya yang membulat lucu.
"Sehunnie?" Luhan menggamit lengan Sehun, berusaha mengembalikan kesadaran kekasihnya itu. Sementara tangan yang satunya menggandeng tangan Dennis.
Mata Sehun mengerjap polos. Ia menoleh dan mendapati Luhan tengah tersenyum jenaka padanya. "Kenapa hanya di pipi, Lu?"
"Tadi pagi kau bilang tidak masalah jika hanya di pipi dan," Luhan mati-matian menahan tawanya, "satu kali."
"Aku belum puas, Luuuu ..." rengek Sehun manja, "Setidaknya aku mendapat hadiah karena sudah memenuhi permintaanmu tadi."
"Tapi kau terlambat 5 menit, Sehunnie."
"Luuuuu ..."
"Iya,iya," Luhan terkekeh. Senang rasanya bisa menggoda Sehun seperti ini. "Mendekatlah."
Mendapat sinyal dari Luhan, Sehun bersorak gembira. Laki-laki itu langsung mendekatkan wajahnya pada Luhan yang kini mulai memejamkan matanya. Perlahan wajah keduanya semakin dekat, hanya tinggal sedikit lagi bibir mereka bersentuhan dan ...
"Paman?"
Oh, mereka melupakan si kecil Dennis.
"Kapan kita berangkat ke Lotte World? Dennis ingin segera ke sana, Pamaaaan ..."
Sehun mendesah frustasi. Keponakan kesayangannya itu memang mewarisi sifat jahil ayahnya, selalu merusak suasana karena tingkah polosnya itu.
Luhan benar-benar tidak kuasa lagi menahan tawanya. Hal itu membuat wajah Sehun semakin kusut.
"Kita lanjutkan nanti ya, Sehunnie," bisik Luhan seduktif.
"Rusa nakal," balas Sehun dengan bibir melengkung ke bawah, tapi setelahnya ia tersenyum sambil mendaratkan kecupan singkat di pipi gadisnya itu.
..
..
..
Lotte World, salah satu lokasi wisata yang terkenal di Korea Selatan. Terletak di jantung kota Seoul, tepatnya sebelah selatan Sungai Han. Di sini menyajikan berbagai wahana, baik di dalam ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor). Kawasan ini juga tidak hanya menyediakan wahana permainan saja, namun juga kedai makanan, toko souvenir, terkadang juga digelar parade dan aksi sinar laser.
Sehun, Luhan, dan Dennis sudah sampai di sana. Ketiganya baru saja memasuki gerbang masuk Lotte World. Decak kagum tidak hanya keluar dari Dennis, tapi juga Luhan yang untuk pertama kalinya mendatangi tempat tersebut.
"Paman, ayo kita ke sana!" ajak Dennis mulai tidak sabar untuk menikmati wahana permainan yang ada. "Ayo, Bibi!"
"Sebentar, Dennis ..." Luhan memeriksa brosur yang berisi daftar wahana permainan yang ada di Lotte World. Ia tengah mencari wahana untuk anak-anak.
"Sudah menemukannya, Lu?"
Luhan mengangguk, "Wahana untuk anak-anak ada Kiddie Land, Petit Pang Pang, dan Fantasy Dream. Aku belum menemukan yang lainnya lagi, Sehunnie," jawabnya.
"Ya sudah, sementara kita ke sana saja dulu. Nanti sambil melihat-lihat, kita bisa mencari wahana mana lagi yang khusus untuk anak-anak," kata Sehun sambil tersenyum. Luhan mengangguk paham. Walau sebenarnya ia juga ingin menikmati beberapa wahana yang ada, tapi untuk hari ini, prioritas utama adalah Dennis. Jadi, wahana yang mereka datangi nanti harus yang aman atau khusus untuk anak-anak.
Wahana pertama yang mereka pilih adalah Petit Pang Pang atau kereta anak-anak. Di sini nanti mereka menaiki mobil klasik Eropa dengan kapasitas untuk 4 orang, yang nantinya akan mengelilingi danau sesuai jalur yang sudah tersedia.
Dennis terlihat senang saat duduk di bagian depan—tepat di belakang kemudi. Sementara Sehun dan Luhan duduk di belakang. Well, aturan memang mengharuskan wali untuk tetap mendampingi anak-anak mereka yang menaiki wahana tersebut.
"Dennis, lihat ke sini!" seru Luhan senang sambil mengarahkan layar ponselnya ke depan. Tepat saat Dennis menengok ke belakang ...
KLIK!
Luhan berhasil memotret Dennis yang sedang tersenyum lebar, dengan kedua tangan yang memegang kemudi mobil itu.
"Aigo, keponakanmu itu benar-benar menggemaskan," bisik Luhan sambil tertawa geli.
Sehun mengangguk setuju, lalu mendekatkan wajahnya pada Luhan, "Kau jauh lebih menggemaskan, Lu," balasnya disertai seringaian jahil.
CUP! Dengan gerakan cepat, Sehun mengecup bibir Luhan. Sontak saja wajah Luhan merah padam. Gadis itu mengalihkan wajahnya dan setelahnya membelalak saat menyadari apa yang dilakukan Sehun padanya barusan dilihat oleh orang lain—yang kebetulan sedang berjalan melewati wahana tersebut.
Luhan buru-buru menutupi wajahnya dengan tangan karena merasa malu atas tingkah kekasihnya itu.
"Ada apa, Lu?" Sehun bingung karena Luhan tiba-tiba menunduk sambil menutupi wajahnya.
"Kau membuatku malu," lirih Luhan.
"Kenapa?"
"Lihat saja sendiri!" tunjuk Luhan pada beberapa orang yang masih betah memandangi mereka.
Sehun hanya mengernyitkan dahinya, tapi samar-samar ia bisa mendengar obrolan dari mereka.
"Lihat pasangan muda itu! Anak mereka benar-benar tampan dan menggemaskan!"
"Kau benar, ayahnya tampan dan ibunya cantik. Benar-benar keluarga yang sempurna."
"Aigo, ayahnya pandai sekali memanfaatkan situasi. Selagi anak mereka asyik sendiri, diam-diam ayahnya mencium ibunya."
Sungguh, Sehun ingin tertawa mendengar yang satu ini. Rasanya seperti mendapat kesempatan untuk berbalas menggoda Luhan. "Kau mau lagi, Sayang? Bagaimana jika kali ini kubuat lebih lama dari sebelumnya?"
"Sehunnieee ..." Selanjutnya hanya terdengar tawa menggelegar dari Sehun yang puas karena berhasil menggoda gadisnya yang imut itu.
Dari wahana Petit Pang Pang, mereka beralih ke wahana Kidde Land. Di sini terdapat bianglala dengan 8 sangkar berwarna pink dan biru muda. Dennis langsung memilih warna biru muda, diikuti Luhan dan Sehun. Selama menaiki bianglala, Dennis minta duduk di pangkuan Luhan.
"Sehunnie, tolong foto kami!" pinta Luhan sambil menyodorkan ponselnya.
Sehun tersenyum kecut. Ia merasa seperti juru foto, sementara Luhan dan Dennis seperti berkencan saja. Astaga Sehun, apa kau baru saja cemburu dengan keponakanmu sendiri, eoh?
Wahana terakhir yang mereka datangi di area Magic Island—Petit Pang Pang dan Kiddie Land juga termasuk di area ini—adalah Fantasy Dream. Mereka menaiki kereta api fantasi yang menelusuri bawah tanah untuk lahan fantasi, di mana ada permen manis dan boneka hewan yang lucu menyambut sepanjang jalan yang dilalui kereta tersebut.
"Dennis suka?" tanya Sehun setelah mereka selesai mendatangi wahana Fantasy Dream.
"Eum," Dennis mengangguk senang, "Dennis masih ingin main lagi, Paman."
"Baiklah, kita masuk dan memilih wahana yang ada di lantai 1," usul Luhan setelah memeriksa brosur yang dipegangnya. Mereka mulai memasuki area indoor dan sekarang sudah berada di Adventure 1st Floor. Wahana yang mereka pilih ada Swing Pang Pang, Boong Boong Car, dan The Bumping Jesters.
Luhan menggelengkan kepalanya. Dennis benar-benar gembira berada di sini, sama sekali tidak terlihat kelelahan. Sedangkan ia sendiri sudah kelelahan, bahkan merasa haus.
"Sehunnie, aku haus ..." rengek Luhan di sela waktu istirahat mereka. Sekarang ketiganya sedang duduk di salah satu bangku panjang untuk pengunjung.
"Baiklah, aku akan membeli minuman. Tunggu di sini," balas Sehun, lalu menatap Dennis, "Dennis di sini dulu ya sama Bibi Luhan. Paman mau membeli minuman dulu. Dennis juga haus 'kan?"
Dennis mengangguk imut, lalu tertawa kecil saat Sehun mengusap kepalanya.
"Aku pergi dulu," Sehun dengan jahilnya sempat mengecup pipi Luhan, meninggalkan semburat rona merah di pipi gadisnya itu.
"Dasar tukang curi kesempatan," desis Luhan sambil tersenyum geli. Ia melirik Dennis yang sedang menggoyang-goyangkan kakinya di atas bangku yang mereka duduki. Luhan mencubit gemas pipi Dennis hingga bocah itu cemberut. Namun setelahnya kedua orang itu saling menggelitiki satu sama lain dengan tawa canda mereka.
"Ngg ... permisi ..."
Luhan terkesiap ketika mendengar orang lain memanggilnya. Ia melihat ada pasangan suami-istri muda dengan anak mereka yang masih kecil. Mungkin seumuran dengan Dennis.
"Maaf, apa kau tahu wahana untuk anak-anak yang ada di lantai 1 ini?" tanya si laki-laki dengan wajah kikuknya. "Ini pertama kalinya kami datang ke sini dan kulihat kau tadi sedang bersama anakmu. Kupikir kau bisa merekomendasikannya untuk anak kami."
Luhan sempat merona sewaktu mereka mengira jika Dennis adalah anaknya. Jangan-jangan saat ia bersama Sehun dan Dennis, semua orang yang melihatnya mengira mereka adalah satu keluarga? Karena pemikiran polos ini wajah Luhan justru semakin merah padam.
"Tentu," Luhan menyodorkan brosur yang sedari tadi ia genggam, "Kalian bawa saja brosur ini."
"Lalu, kau sendiri bagaimana?"
"Jangan khawatir," Luhan terlihat tenang sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya, "Lihat, kebetulan aku tadi mengambil dua lembar brosur."
Pasangan suami-istri tersenyum geli melihat ekspresi wajah Luhan.
"Ah, seharusnya tadi kau mengambilnya di pintu masuk, Sayang," ucap si perempuan pada suaminya.
"Maaf, aku kelupaan," balas sang suami. "Sekali lagi terima kasih atas bantuanmu. Ayo Hara, ucapkan terima kasih pada bibi ini."
"Terima kasih, Bi."
"Sama-sama Hara. Selamat bersenang-senang," balas Luhan ramah. Ia pun membungkuk sopan pada orang tua Hara, lalu melambaikan tangan pada gadis mungil yang terlihat menggemaskan itu.
"Nah, Dennis. Sekarang kita lihat—" Seketika wajah Luhan berubah kala tak mendapati Dennis di sebelahnya. "Dennis?"
Luhan mengedarkan pandangan ke sekeliling, bahkan sampai beranjak dari bangku panjang yang ia duduki. "Dennis!" ia berteriak panik karena sama sekali tak menemukan keberadaan bocah itu di sekitarnya.
"Ya Tuhan, bagaimana ini?" Luhan menggigit bibir bawahnya dengan kedua tangan yang menangkup di depan dada. Kentara sekali raut kekhawatiran mendominasi wajahnya yang kini terlihat pucat. Matanya mulai berkaca-kaca karena berbagai pemikiran buruk terhadap Dennis memenuhi kepalanya.
"Lu?"
Luhan berbalik dan ia tak bisa lagi menahan tangisnya kala melihat kedatangan Sehun.
"Astaga, apa yang terjadi, Lu? Kenapa kau menangis?" Sehun bingung melihat Luhan menangis, lalu ia menyadari ada yang janggal karena kekasihnya itu sendirian. "Di mana Dennis?"
"Hiks ... Sehunnie ..."
"Ada apa, Lu? Dennis di mana?"
"Di-dia menghilang ..."
"Apa?!"
..
..
..
Seorang laki-laki berambut blonde tampak berdiri di dekat toilet. Wajahnya sedikit tertekuk karena bosan menunggu kekasihnya yang tak kunjung keluar dari tempat itu. Sesekali matanya mengedar, memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di tempat wisata yang sedang ia kunjungi bersama kekasihnya itu—Lotte World.
Pandangan matanya berhenti di satu titik, tepatnya pada sosok bocah laki-laki yang tampak kebingungan dengan mata berkaca-kaca.
"Kris?"
"Astaga, kau mengagetkanku, Zi!"
Gadis bermata panda itu terkikik geli melihat reaksi kekasih alias calon suaminya ini. Lalu sesuatu yang janggal menarik perhatiannya. Ia mencari tahu apa yang sedang diperhatikan oleh lelaki itu. "Kau melihat apa?" tanyanya penasaran.
"Lihat anak itu, Zi. Dia sendirian," jawab Kris sambil mengedikkan dagu ke arah bocah laki-laki yang mengenakan kaos dengan gambar tokoh kartun Arpo.
"Kurasa dia terpisah dari orang tuanya, Kris," ujar Zitao setelah melihat bocah laki-laki yang ditunjuk Kris. "Lihat, dia mulai menangis. Astaga, kenapa tidak ada satu pun yang mau menolongnya?"
Kris terkesiap melihat Zitao langsung berlari menghampiri bocah itu. Dilihatnya Zitao dengan penuh kelembutan mencoba berinteraksi dengan bocah yang tersesat itu.
"Adik kecil kenapa kau menangis?"
Bocah laki-laki itu mendongak, "Hiks ... Dennis mencari Paman Sehun dan Bibi Luhan. Mereka menghilang, Bi ..."
Zitao ingin sekali tertawa mendengar kalimat polos Dennis. Padahal Dennis sendiri yang tersesat, tapi malah mengira paman dan bibinya yang menghilang.
"Tunggu," Zitao merasa ada yang tidak asing dengan nama yang terlontar dari bibir Dennis. "Tadi Dennis mencari siapa?"
Dennis masih sesenggukan, "Dennis mencari Paman Sehun dan Bibi Luhan ..."
"Kau dengar itu, Kris?" Zitao bertanya pada Kris yang juga bereaksi sama. "Apa menurutmu Luhan yang dia maksud—"
"Entahlah, Zi. Aku juga ragu, tapi," Kris menggigit bibir bawahnya, "namanya sama seperti Luhan. Apa mungkin itu memang dia? Dan lagi, tadi anak ini bilang pamannya bernama Sehun?"
Zitao mengangguk, "Kenapa? Apa kau juga mengenalnya?"
"Sebentar," Kris sedikit berjongkok agar setara dengan posisi Dennis, "Adik kecil, apa nama pamanmu itu Oh Sehun?"
"Eum, dari mana paman tahu?"
"Ngg ... itu karena aku mengenal pamanmu," jawab Kris seadanya. "Lalu, apa nama bibimu itu Xi Luhan?"
Dennis mengangguk kecil. Beruntunglah dia yang mewarisi kepintaran sang ayah, sehingga mempunyai daya ingat yang tinggi untuk anak seusianya. "Paman juga mengenal Bibi Luhan?"
"Kris ..."
"Hhhh ... ternyata memang Luhan," lirih Kris. Mengabaikan fakta soal Dennis yang mengenal mantan kekasihnya itu, Kris lebih penasaran tentang hal lainnya. Apa orang yang dibicarakan Luhan waktu itu adalah Oh Sehun?
"Sebaiknya kita bawa ke pusat informasi, Kris," bujuk Zitao. "Kurasa itu akan lebih mudah memanggil mereka. Aku yakin saat ini mereka sedang panik dan kebingungan mencari anak ini."
"Baiklah, ayo kita bawa ke sana."
..
..
..
"Hiks ... Sehunnie ..." isak tangis Luhan terus terdengar. Hampir 30 menit mereka mencari, namun keberadaan Dennis tak kunjung ditemukan.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu buruk padanya? Bagaimana kalau dia diculik dan—"
"Sshhh ... tenanglah, Lu," Sehun memeluk tubuh Luhan yang gemetar ketakutan. "Dennis pasti baik-baik saja. Kita akan segera menemukannya."
"Hiks, maafkan aku," entah sudah berapa kali kata maaf itu terlontar dari bibir Luhan. "Aku lalai menjaganya. Maafkan aku ..."
Sehun harus ekstra sabar menenangkan Luhan yang dalam kondisi kalut seperti ini. Sejujurnya, ia sendiri merasakan hal yang sama seperti Luhan, namun Sehun berusaha tetap tenang, agar pikirannya tidak kacau dan bisa lebih fokus mencari keberadaan Dennis. Dalam hati ia sendiri juga merasa bersalah. Seandainya terjadi hal buruk pada keponakannya itu, apa yang harus ia katakan pada Chanyeol dan Baekhyun? Semoga saja tidak.
"Berpikir Sehun ... ayo berpikir!" Sehun memegangi kepalanya yang serasa nyaris pecah. Dan benar saja, sebuah tempat yang ia yakini sebagai solusi dari masalah ini terlintas dalam kepalanya.
"Lu, bagaimana jika kita melapor ke pusat informasi?"
"Kau benar," Luhan buru-buru menghapus air matanya, lalu menarik lengan Sehun. "Ayo kita segera ke sana, Sehunnie."
"Tunggu sebentar," Sehun terlihat menghampiri salah satu petugas keamanan yang kebetulan lewat di depan mereka. "Maaf, di mana pusat informasi?"
Petugas keamanan itu sempat menanyai alasan Sehun mencari bagian pusat informasi. Sehun dan Luhan kemudian bercerita jika mereka kehilangan keponakan mereka. Laki-laki setengah baya itu dengan senang hati mengantar Sehun dan Luhan ke sana.
Namun belum sempat mereka sampai di pusat informasi, sebuah pemberitahuan terdengar melalui pengeras suara. Sehun dan Luhan kompak terdiam dan berhenti sejenak, ketika informasi yang disampaikan itu menyebutkan nama dan ciri-ciri anak hilang yang baru saja mereka temukan.
"Dennis?!" pekik Sehun dan Luhan bersamaan. Keduanya lalu meminta petugas keamanan tadi untuk bergegas mengantar mereka ke sana.
..
..
..
"Kami sudah menyampaikan kepada seluruh pengunjung. Kami yakin, wali dari Park Dennis tak lama lagi akan segera ke sini. Kalian tidak perlu khawatir."
Kris dan Zitao mengangguk, lalu mengulum senyum pada salah satu petugas di bagian pusat informasi.
"Terima kasih atas bantuan Anda," ucap Kris seraya membungkuk sopan. Ia pun menyusul Zitao yang sudah mengajak Dennis duduk di salah satu kursi yang disediakan.
Kris kagum melihat Zitao begitu mudah akrab dengan Dennis. Atau mungkin memang sifat Dennis yang memang disukai banyak orang? Lihat saja di depannya sekarang, dua orang itu tengah asyik tertawa sambil menikmati permen kapas yang dibeli Zitao.
"Calon ibu yang baik," bisik Kris membuat Zitao tersipu malu. Ia meninju pelan lengan Kris yang disambut rintihan bohongan dari kekasihnya itu.
"Paman, kenapa Paman Sehun dan Bibi Luhan belum ke sini?" tanya Dennis dengan wajah polosnya.
"Sebentar lagi Dennis," jawab Kris sambil duduk di sebelah bocah itu.
"Ish, mereka sudah besar kenapa harus hilang? Seperti anak-anak saja," celetuk Dennis dengan pipi menggembung lucu.
Bolehkah Kris dan Zitao tertawa sekarang? Dennis benar-benar polos dan menggemaskan.
"Permisi ..."
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Ngg ... kami wali dari Park Dennis."
Samar-samar Kris mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Ia sontak berdiri, dan seketika pandangannya bertemu dengan gadis pemilik suara barusan. "Luhan?"
Gadis itu pun tak kalah terkejutnya, "Kris?"
Dennis dan Zitao ikut menoleh.
"BIBI LUHAN!"
Pandangan Luhan beralih pada si kecil yang baru saja berteriak, "DENNIS!" ia langsung berlari menghampiri Dennis yang juga berlari ke arahnya. Bocah itu langsung menghambur ke dalam pelukan Luhan.
"Maafkan bibi, Sayang," Luhan menghujani kecupan di wajah Dennis. "Kau baik-baik saja 'kan? Tidak ada yang terluka?"
Dennis menggeleng lalu mengecup lembut pipi Luhan.
"Syukurlah kau baik-baik saja," ujar Luhan tak henti-hentinya mengucap syukur pada Tuhan atas keselamatan Dennis.
"Pamaaaan ..." kali ini Dennis merengek dan minta digendong oleh Sehun.
Sehun langsung memeluk Dennis dan melakukan hal serupa dengan Luhan. "Dennis tadi pergi ke mana?" tanyanya lembut, namun juga kesal. Sebab ia tahu dari mana kebiasaan Dennis yang suka mengeluyur begitu saja saat berada di tempat umum. Sudah jelas dari ibunya—Baekhyun.
"Tadi Dennis ingin beli topi balon," jawab Dennis dengan bibir mengerucut, "Tapi Paman dan Bibi malah menghilang."
Tawa Zitao terdengar setelah jawaban polos yang diberikan Dennis. Sadar dengan situasi yang ada, gadis itu buru-buru menutup mulutnya. "Ma-maafkan aku," ucapnya merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Dia memang anak yang lucu," Luhan ikut tersenyum. "Apa kalian yang membawa Dennis ke sini?"
"Eum. Tadi kami menemukan Dennis menangis di depan toilet. Dia bilang, dia sedang mencari paman dan bibinya yang hilang."
Meski canggung, Luhan akhirnya ikut tertawa bersama Zitao. "Terima kasih," ucapnya tulus.
"Senang bisa membantu," balas Zitao ramah.
Kris mengabaikan interaksi antara Luhan dan Zitao. Pandangannya lebih tertuju pada Sehun yang diketahuinya datang bersama Luhan.
"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini," ucap Kris sekedar basa-basi.
"Aku juga," jawab Sehun datar. Lalu menatap senang ke arah Luhan yang justru tampak gugup dengan interaksi dua laki-laki itu. "Sayang, kemarilah."
Luhan menunduk dan berjalan mendekati Sehun. Gadis itu memekik kaget saat tangan kiri Sehun melingkar di pinggangnya. "Kau tidak ingin mengenalkan mereka padaku, hm? Sepertinya kalian sudah saling mengenal."
"Bukannya kau sendiri juga sudah mengenalnya?"
"Tentu saja, dia rekan bisnisku," Sehun menjawabnya dengan gaya angkuh, "Tapi aku tidak tahu ada hubungan apa antara kau dan Kris."
Luhan melotot, lalu menghela napas kasar sambil memejamkan matanya. "Jangan dengarkan dia, Kris. Dia hanya bepura-pura tidak tahu."
Kali ini giliran Sehun yang melotot.
"APA?" Luhan kembali pada sikap galaknya. "Berhenti bersikap kekanakkan!"
"Ck, menyebalkan!" Sehun beralih menatap keponakannya, "Dennis masih ingin membeli topi balon tidak?"
"Iya, Paman. Dennis mau!"
"Bagus, ayo kita cari bersama-sama," ajak Sehun bersiap pergi meninggalkan 3 orang itu. Ia sempat berbisik di telinga Luhan, "Kuberi kau waktu untuk menuntaskan masalahmu dengan mereka."
Luhan tersenyum mendengarnya. Dalam hati ia berterima kasih karena Sehun memang sosok kekasih yang pengertian.
CUP!
Mata Luhan mengerjap polos, Zitao menutup mulutnya, sedangkan Kris terbengong di tempat. Jangan lupakan teriakan histeris dari orang-orang di sekitar mereka yang baru saja melihat adegan kissing layaknya drama di TV berlangsung secara live di depan mereka.
Ya, dengan seenaknya Sehun baru saja mencium bibir Luhan.
..
..
..
Setelah kejadian memalukan tadi, Luhan mengajak Kris dan Zitao untuk mengobrol bersama di sebuah kafe yang berada di dalam Lotte World. Sedangkan Sehun mengajak Dennis pergi jalan-jalan, sekaligus memberi waktu kepada Luhan untuk menuntaskan semua permasalahannya dengan dua orang itu.
"Ah, kita belum berkenalan," Luhan melempar senyumnya untuk Zitao. "Aku Xi Luhan."
Zitao membalas uluran tangan Luhan, "Huang Zitao. Senang bisa bertemu denganmu."
"Ya, senang bisa bertemu denganmu," balas Luhan tersenyum ramah. Kemudian ia melirik ke arah Kris yang sejak tadi masih terdiam. "Bagaimana kabarmu, Kris?"
"Aku baik, seperti yang kau lihat," Kris menjawab seadanya. "Kau sendiri?"
"Aku—"
"Ah, tidak perlu menjawabnya. Aku sudah tahu," kali ini Kris mengeluarkan senyum smirk-nya. Luhan yang melihatnya sedikit terkejut. Kapan terakhir kali ia melihat Kris mengeluarkan senyum smirk-nya itu? Tentu saat mereka masih menjalin hubungan.
"Kau terlihat baik, sangat baik dan bahagia," lanjut Kris, "bersama Oh Sehun."
Uhuk!
"Ya ampun, Kris. Kau membuatnya tersedak," Zitao buru-buru mengambil tissue untuk Luhan. Sedangkan Kris hanya terkekeh melihatnya.
Luhan berterima kasih pada Zitao, dan juga Kris karena setidaknya suasana tidak lagi canggung seperti sebelumnya.
"Kalian terlihat cocok," kata Luhan memuji pasangan kekasih di depannya.
"Sebentar, Lu. Sebelum kau ingin menanyakan kami, aku masih penasaran soal hubunganmu dengan Sehun."
Luhan mengerucutkan bibirnya, "Ish, kebiasaanmu yang satu ini memang tidak pernah hilang, ya?" sindirnya mengingat salah satu kebiasaan Kris yang kerap mencari tahu kehidupan orang lain yang dikenalnya.
Lagi, Kris tertawa menanggapi sindiran Luhan. Sedangkan Zitao hanya mengulum senyum, tidak terkejut jika Luhan tahu kebiasaan Kris. Bagaimanapun keduanya pernah menjalin hubungan cukup lama.
"Jadi," Kris menjeda ucapannya sejenak, "Sehun adalah laki-laki yang kau sukai itu?"
Luhan mengangguk imut. Wajahnya mulai merona.
"Bagaimana kalian bisa saling mengenal?" Kris semakin mirip seperti wartawan yang sedang memburu berita skandal artis ternama.
"Ceritanya panjang, Kris," jawab Luhan diiringi helaan napas panjang yang keluar dari sela-sela bibirnya.
Dan Luhan mulai menceritakan semuanya.
Baik Kris dan Zitao terkejut dengan alasan kedatangan Luhan di Korea Selatan, lalu bagaimana pertemuan awal Luhan dan Sehun, dan keterlibatan laki-laki itu yang dimintai bantuan Luhan untuk mencari keberadaan Kris.
Kris sendiri tidak menyangka jika keputusannya waktu itu yang memutuskan hubungan mereka secara sepihak, benar-benar mempengaruhi kondisi Luhan, sampai gadis itu nekat datang seorang diri hanya untuk menemuinya. Kris menyesal dan merasa bersalah karena memutus kontak dengan gadis itu. Kalau saja ia menjelaskan alasannya lebih awal dengan baik-baik, Luhan tidak akan jauh-jauh datang ke sini hanya untuk menemuinya.
"Kris, aku sudah tahu bagaimana masa lalumu ..."
Pengakuan Luhan yang satu ini membuat Kris dan Zitao terkejut, tapi tetap Kris yang paling terkejut. Zitao menatap cemas ke arah Kris yang terlihat tegang di sebelahnya.
"Kau tahu dari mana?"
Luhan menunduk, "Sehun ... diam-diam menyelidiki latar belakangmu sewaktu aku memintanya mencari keberadaanmu. Aku tidak sengaja melihat laporan yang berisi informasi seputar latar belakangmu."
Kris tersenyum masam, "Kau pasti menganggapku monster, setelah tahu tanganku ini sudah ternodai oleh darah mendiang ayahku," ujarnya sedikit sarkastik.
"Tidak, Kris. Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu," Luhan menggeleng keras, "Aku tahu, kau pasti punya alasan melakukannya, dan kau juga tidak sengaja melakukannya. Kau hanya ingin menolong ibumu."
Zitao menggenggam erat tangan Kris saat dilihatnya tubuh lelaki itu gemetar.
"Maafkan aku, Kris. Kau pasti berat menanggung semuanya sendirian, tapi," wajah Luhan terlihat sedih dan kecewa, "kenapa kau tidak menceritakannya padaku lebih awal? Kenapa kau tidak membagi bebanmu padaku, Kris?"
"Aku hanya tidak ingin membuatmu terbebani dengan masalahku," Kris berkata lirih.
Luhan terdiam, lalu matanya beralih menatap Zitao. Ia tersenyum melihat bagaimana gadis itu menggenggam tangan Kris dengan begitu erat.
"Lalu, apa Zitao sudah tahu semuanya soal masa lalumu itu?"
Kali ini giliran Zitao yang menoleh kaget dengan wajah tegangnya. Sedangkan Kris hanya mengangguk pelan dengan senyum tipisnya.
"Ya, dia sudah tahu. Sejak awal kami berteman, aku langsung menceritakan semuanya pada Zitao."
Zitao sudah ketakutan jika Luhan akan marah padanya, tapi ia terkejut mendapati Luhan justru tersenyum hangat padanya.
"Itu artinya, Zitao memang orang yang kau pilih, Kris."
"Apa maksudmu?" Zitao tidak mengerti.
"Kris lebih memilih menceritakan masa lalunya padamu dibandingkan padaku," Luhan tersenyum, "Itu artinya, dia lebih mempercayaimu karena kau akan sepenuhnya menerima Kris, terlepas dari masa lalunya yang kelam itu."
"Jangan berpikir seperti itu, Lu. Kris juga mempercayaimu," sanggah Zitao.
"Tidak, dia meragukanku, Zi. Karena saat ayahku mengungkit masa lalunya, aku terlalu takut untuk mengetahui kebenarannya." Luhan tersenyum kecut, "Dia tidak menceritakannya padaku bukan karena tidak ingin membebaniku, tapi karena dia meragukanku. Benar begitu 'kan, Kris?"
"Maafkan aku," ujar Kris merasa bersalah.
"Tidak, Kris. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu," Luhan menundukkan kepalanya, "Waktu itu aku benar-benar kekasih yang bodoh, terlalu polos, dan tidak peka. Maafkan aku."
Kris dan Zitao saling memandang. Keduanya hanya menghela napas melihat gadis di depannya itu menunduk dengan wajah bersalah.
"Sudahlah, kita lupakan saja masalah ini," wajah Luhan sudah kembali cerah seperti semula. "Kita mulai lagi dari awal dengan hubungan pertemanan. Kalian setuju?"
Tanpa ragu pasangan itu pun mengangguk kompak. Memang tidak baik terlalu berlarut-larut dalam kesedihan karena masalah di masa lalu. Akan lebih baik jika kita menatap ke depan, menyambut masa depan yang lebih baik dari sebelumnya.
"Aku dan Zitao akan segera menikah," ujar Kris.
Mata Luhan berbinar terang. "Benarkah?"
Kris mengangguk, lalu tersenyum ke arah Zitao yang tampak menunduk malu.
"Kalian memang pasangan yang serasi. Kudoakan semoga kalian bahagia," kata Luhan dengan penuh perasaan bahagia.
"Kau merestui kami?" tanya Zitao tidak percaya.
"Tentu saja," jawab Luhan, "Jika kalian hidup bahagia, maka aku juga bahagia."
"Kau tidak marah padaku? Maksudku, aku menjalin hubungan dengan Kris di saat kalian masih—"
"Aku tidak pernah marah padamu, Zi," Luhan memotong ucapan Zitao. "Sebaliknya, aku berterima kasih padamu karena kau sudah berada di sisi Kris. Selama aku tidak menjalankan peranku sebagai kekasih yang baik untuknya, karena jarak yang memisahkan kami."
"Luhan ..."
Luhan menggenggam tangan Zitao dengan erat. "Kupercayakan Kris padamu. Berjanjilah, kau harus hidup bahagia bersamanya."
Zitao tak kuasa lagi menahan air mata harunya. Ia pun langsung berdiri dan menghambur dalam pelukan Luhan, "Terima kasih. Kudoakan semoga kau juga hidup bahagia bersama Sehun."
Luhan tersenyum dan membalas pelukan Zitao. Ia melirik ke arah Kris yang juga terlihat bahagia melihat dirinya bersama Zitao saling berpelukan seperti ini.
"Lu?"
Luhan melepas pelukannya dari Zitao. Ketiga orang itu menoleh ke arah Sehun yang baru saja memasuki kafe.
"Sehunnie ..."
"Apa kalian sudah selesai?" tanya Sehun. Ia hanya melirik sekilas ke arah Zitao dan Kris.
"Eum, kami sudah selesai," jawab Luhan lalu mengambil tasnya. "Mau pulang sekarang?"
Sehun mengangguk, "Ayo."
"Tunggu!" Kris menahan Luhan dan Sehun yang bersiap pergi meninggalkan kafe. "Bisa kita bicara sebentar, Sehun."
Sehun menatap Luhan untuk meminta izin. Gadis itu mengangguk, lalu mengambil alih Dennis dari gendongan Sehun. Dilihatnya Sehun berjalan mengikuti Kris yang memilih berbicara di luar kafe. Luhan jadi penasaran. Kira-kira apa yang mereka bicarakan?
..
..
..
Luhan tersenyum memandangi Dennis yang tertidur di jok belakang. Namun senyumnya perlahan memudar saat melihat wajah serius Sehun yang sedang fokus menyetir. Luhan penasaran, kira-kira apa yang dibicarakan Sehun dan Kris sebelum mereka pergi meninggalkan Lotte World. Sampai-sampai wajah Sehun terlihat murung seperti ini.
DRRT! DRRT!
Luhan terkesiap mendengar dering ponselnya. Ia merogoh ponselnya di dalam tasnya. Wajah Luhan berubah cerah mengetahui Baekhyun yang meneleponnya.
"Halo?"
"Lu, Chanyeol bilang kau dan Sehun mengajak Dennis ke Lotte World. Benarkah itu?"
"Iya, Eonni. Sekarang kami dalam perjalanan pulang ke rumah," jawab Luhan, lalu melirik ke belakang. "Dennis sedang tidur, Eonni. Dia kelelahan."
Luhan ikut tertawa mendengar tawa keras Baekhyun di seberang sana. Namun setelahnya ia terdiam karena mendengar pengakuan Baekhyun jika perempuan itu sempat mempunyai firasat yang tidak enak pada Dennis. Well, firasat seorang ibu memang tidak bisa terbantahkan jika sudah berhubungan dengan darah daging mereka.
"Ngg ... sebenarnya tadi memang ada masalah, Eonni. Dennis sempat terpisah dari kami," Luhan sedikit berjengkit karena teriakan kaget Baekhyun. "Eonni tidak perlu khawatir, dia baik-baik saja. Untungnya tadi ada kenalanku yang menolong Dennis."
"Hhhh ... syukurlah. Aku lega mendengarnya. Dia memang sepertiku, suka keluyuran sendirian sekali pun di tempat umum," ada nada geli dari pengakuan Baekhyun yang membuat urat ketegangan di wajah Luhan menghilang secara perlahan.
"Iya. Sehun sudah menceritakannya padaku, Eonni," diam-diam Luhan melirik ke arah Sehun. Tak ada tanggapan yang keluar dari kekasihnya itu, membuat Luhan sedikit takut. Ia menebak jika suasana hati Sehun sedang buruk. Apa ada hubungannya dengan pembicaraan yang dia lakukan bersama Kris tadi?
"Ah, iya. Aku masih mendengarmu, Eonni," Luhan merasa bersalah karena sempat mengabaikan Baekhyun. "Baiklah, nanti jika dia sudah bangun, aku akan meneleponmu."
PIP!
Luhan memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu memandang Sehun dengan cemas. "Kau baik-baik saja?"
Hening, tak ada jawaban yang keluar dari bibir Sehun.
"Sehunnie?"
"Oh, maafkan aku," Sehun memijit pelipisnya sejenak, "Tadi kau bilang apa, Lu?"
Luhan menghela napas panjang. Ia tahu, Sehun sedang dalam tidak kondisi baik untuk diajak bicara. Bahkan sepertinya laki-laki itu juga tidak mendengar obrolannya dengan Baekhyun barusan.
"Tidak jadi. Kau fokus saja menyetir," Luhan memilih menyimpan pertanyaannya untuk Sehun. Nanti jika situasi sudah tepat, barulah ia mengajak Sehun untuk mengobrol berdua saja, tepatnya menanyakan apa yang dibicarakan kekasihnya itu dengan Kris.
..
..
..
Setibanya di rumah, Sehun bergegas keluar dari mobil. Ia berjalan menuju kursi belakang, lalu menggendong Dennis dengan hati-hati. Luhan yang melihat Sehun buru-buru masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apapun padanya, hanya bisa terdiam dengan tatapan sendu ke arah punggung Sehun yang semakin menjauh .
"Hhhhh ... ada apa lagi dengannya?" gumam Luhan mulai frustasi.
"Nona?"
Luhan menoleh ke arah Bibi Jung yang datang menghampirinya. Gadis itu masih berdiri di dekat mobil, sama sekali belum beranjak dari sana. Seolah enggan untuk mengikuti Sehun yang sudah masuk ke dalam rumah lebih dulu.
"Sebaiknya Nona segera masuk dan beristirahat," Bibi Jung memberi saran. "Nona terlihat lelah."
"Aku baik-baik saja, Bi. Kau tidak perlu khawatir," balas Luhan menenangkan. "Ngg ... apa sebelum ke sini, Bibi berpapasan dengan Sehun?"
"Iya, Nona. Begitu masuk ke dalam, Tuan Sehun langsung membawa Tuan Muda Dennis ke kamarnya."
"Apa Sehun mengatakan sesuatu?"
"Tuan Sehun bilang, beliau tidak akan kembali ke kantor karena kelelahan dan ingin beristirahat di rumah saja," jawab Bibi Jung. "Beliau juga berpesan pada Nona untuk segera beristirahat di kamar."
Mendengar hal itu Luhan tersenyum, "Terima kasih, Bi," ia pun melangkah dengan perasaan jauh lebih baik dibandingkan saat mereka baru saja sampai beberapa menit yang lalu.
Luhan pergi ke kamarnya. Ia letakkan tas dan juga cardigan yang membalut tubuhnya. Kemudian ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Cuaca hari ini cukup panas dan Luhan tidak sabar ingin segera memanjakan tubuhnya yang pegal-pegal dan berkeringat dengan berendam di dalam bathtub.
"Ah, segarnyaaa ..."
CKLEK!
Luhan yang masih terbuai dengan aroma buah-buahan yang ia gunakan, tidak menyadari jika ada seseorang yang baru saja masuk ke kamar mandi.
"Lu?"
Gadis itu mengernyit saat mendengar suara Sehun. Ia sempat berpikir jika dirinya baru saja mengalami halusinasi, karena menurutnya Sehun tidak mungkin masuk ke kamar mandi dengan kondisi pintu yang ia kunci.
Kecuali jika Luhan memang lupa mengunci pintu kamar mandi.
"Sayang?"
"Se-Sehun?" Luhan menatap horor pada sosok yang berdiri di samping bathtub. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Masih dengan wajah datarnya, Sehun hanya menjawab, "Tadi aku ke kamarmu, tapi kau tidak ada dan ternyata sedang di sini."
Luhan kesulitan meneguk ludahnya ketika melihat perubahan ekspresi Sehun.
"Salahmu yang tidak mengunci pintu kamar mandi," lanjutnya santai, dan seringaian itu semakin kentara. Membuat Luhan mengumpulkan busa-busa sabun yang untuk menutupi tubuh polosnya.
Wajah Luhan semakin mirip kepiting rebus, "Me-memangnya ada apa kau mencariku?"
"Aku ingin bicara denganmu, tapi," Sehun semakin mendekatkan wajahnya pada Luhan, "melihatmu seperti ini aku jadi berubah pikiran."
"A-apa maksudmu?"
"Aku ingin mandi bersamamu."
"APA?!"
"Tidak ada penolakan, Sayang," Sehun mulai menanggalkan kemejanya, meninggalkan singlet polos yang melekat pas di tubuhnya.
"Tu-tunggu dulu, Sehunnie ..." Luhan semakin panik ketika laki-laki itu sudah melepas semua atribut yang melekat di tubuh atasnya. Dan ketika Sehun beralih pada atribut di tubuh bawahnya-
"KYAAAAA!"
-terdengar jeritan histeris dari rusa betina. Oke, sepertinya Sehun sudah kembali dalam mode nakalnya.
..
..
..
Tawa Sehun tak kunjung berhenti. Sekarang ia masih berada di kamar Luhan, dengan mengenakan kaos warna abu-abu dan bawahan celana panjang berbahan katun warna hitam. Handuk masih melingkar di lehernya, dan sesekali ia gunakan untuk mengusap rambutnya yang masih setengah basah.
Sedangkan Luhan, jangan ditanya bagaimana kondisi gadis itu. Mood-nya benar-benar buruk setelah Sehun berhasil mengerjainya.
Ia merutuki kebodohannya yang mempercayai ucapan Sehun—soal ajakan mandi bersama.
Karena kenyataannya laki-laki itu sedang mengerjainya. Sehun mandi di kamar mandi yang ada di kamarnya sendiri. Tidak mandi bersama Luhan.
Tepat setelah jeritan histeris Luhan terdengar, tawa Sehun meledak seketika. Laki-laki itu mengambil kemeja dan singlet miliknya, lalu melangkah keluar dari kamar mandi yang digunakan gadisnya itu.
"Karena kita belum menikah, aku masih bisa menahannya. Tapi, setelah kita menikah nanti, jangan harap aku bisa menahannya. Kita pasti akan sering mandi bersama, Sayang ..."
Ugh, Luhan ingin sekali menenggelamkan dirinya ke dasar laut. Ia benar-benar malu, sangat malu.
"Lu?"
"..."
"Kau masih marah?"
"..."
Sehun terkikik lalu merangkak naik ke atas ranjang, mendekati Luhan yang masih setia memunggunginya dengan duduk di sisi kiri ranjang. Sedangkan Sehun sebelumnya berada di sisi kanan.
Luhan kembali berteriak saat tangan kekar Sehun melingkar di sekitar pinggangnya. Sehun bahkan meletakkan dagunya di bahu kanan Luhan, lalu dengan gerakan cepat mengecup leher jenjang Luhan yang mulus.
"Kau masih marah, ya?"
"..."
"Lu?"
"..."
"Sayang?"
"Bercandamu kelewatan, dan—" bibir Luhan mengerucut imut, "—kau benar-benar mesum."
Tawa Sehun kembali pecah, "Sudah kubilang aku hanya mesum padamu, Nyonya Oh."
"Sehunnieeee ..."
"Baik, baik. Aku tidak akan melakukannya lagi," Sehun masih cekikikan sambil membelai lembut pipi Luhan yang kini menggembung lucu.
"Alasan! Besok pasti kau akan melakukannya lagi," kali ini Luhan menatap kesal pada Sehun.
"Hhhh ... mau bagaimana lagi?" mata Sehun berkedip-kedip, lalu ia tersenyum nakal. "Kau selalu menggemaskan jika sedang kugoda."
BLUSH!
"Lihat, bahkan wajahmu kembali memerah seperti ini. Kau benar-benar menggemaskan, Lu." Sehun tertawa kecil sambil menempelkan pipinya pada pipi Luhan. "Aku sangat mencintaimu."
Benteng pertahanan Luhan akhirnya runtuh. Luhan mengulum senyum dan menolehkan kepalanya ke arah Sehun. Kemudian ia mengalungkan kedua tangannya di leher Sehun, dan menghadiahi kecupan lembut di bibir kekasihnya itu.
"Aku juga sangat, saaaangaaaat mencintaimu," balas Luhan dengan wajah imutnya.
Sehun terkekeh, lalu menggesek-gesekkan hidungnya dengan hidung Luhan, hingga akhirnya kening mereka menempel sempurna.
"Jadi, apa sekarang kau memenuhi permintaanku?"
"Permintaan?"
"Ceritakan soal keluargamu."
"A-apa?" Tubuh Luhan seketika menegang. Sehun bisa merasakannya, dan ia pun mengusap lembut punggung gadisnya itu.
"Tidak apa-apa, Sayang. Ceritakanlah padaku soal keluargamu," Sehun tersenyum lembut. "Kita sudah resmi menjadi sepasang kekasih dan kau sudah mengenal keluarga, juga teman-temanku. Sekarang, giliranku yang mendengar cerita tentang keluargamu."
Luhan menggigit bibir bawahnya, "Kau sungguh-sungguh ingin mendengar cerita tentang keluargaku?"
"Tentu saja."
Melihat kesungguhan di mata Sehun, Luhan pun tak punya pilihan untuk menolak permintaan kekasihnya itu. "Baiklah, aku akan menceritakannya padamu."
"Bagus, ceritakan saja pelan-pelan."
Luhan mengangguk, "Aku putri tunggal di keluargaku. Ayahku seorang pengusaha di bidang kuliner dan perhotelan. Sedangkan ibuku lebih aktif di bidang sosial, dengan mengurusi beberapa yayasan sosial miliknya."
"Kau tidak menyebutkan nama mereka."
"Haruskah?"
"Setidaknya aku harus tahu nama orang tua calon istriku, karena mereka juga calon mertuaku."
Luhan meninju pelan lengan Sehun, "Kau mulai lagi."
Sehun terkekeh puas.
"Nama ayahku Xi Guangzuo dan ibuku Yu Jinglei. Sudah?"
Sehun mengernyit, "Hanya itu?"
"Memangnya aku harus menceritakan apa lagi," jawab Luhan acuh.
"Keluarga besarmu? Temanmu?"
"Keluarga besarku ada di Beijing," Luhan terdiam sejenak, "Teman ... aku tidak mempunyai banyak teman. Sejak kecil, ayahku sangat ketat dalam menjaga dan mengawasiku. Selalu ikut campur ketika aku memilih seseorang untuk kujadikan teman."
"Kenapa?"
"Ayahku khawatir jika mereka mendekatiku karena ada maunya—maksudku, tidak tulus dan punya niat terselubung. Mengingat ayahku adalah seorang pengusaha kaya raya di Beijing. Banyak orang yang mendekatiku, tapi tujuan mereka sebenarnya adalah ayahku. Bisa dibilang, memilih berteman denganku hanya untuk mendapat keuntungan dari keluarga kami," jelas Luhan sedih. "Satu-satunya orang yang tulus berteman denganku hanya Yixing-eonni."
"Kalian sangat dekat, ya?"
Luhan mengangguk, "Itu karena kami sudah mengenal sejak duduk di bangku sekolah dasar. Dia sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Begitu pun orang tuaku yang juga menganggapnya seperti anak mereka sendiri."
Hening sejenak. Luhan tampak menikmati setiap sentuhan Sehun yang lembut wajahnya. Ditambah lagi dengan kondisi tubuhnya yang kelelahan setelah mereka pulang dari Lotte World.
"Sehunnie?"
"Hm?"
"Apa yang kau bicarakan dengan Kris tadi?" Luhan tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya yang kelewat besar. "Apa dia mengatakan sesuatu yang mengusik pikiranmu? Sejak pulang dari Lotte World, kau selalu melamun."
Sehun hanya tersenyum, lalu menggeleng pelan. "Tidak ada. Dia hanya berpesan padaku untuk membuatmu bahagia."
"Benarkah?"
Sehun terkekeh saat melihat Luhan mulai memejamkan matanya. Gadis itu sudah memposisikan diri dengan kepala bersandar pada dada bidang Sehun. Sedangkan tubuhnya berada di pangkuan lelaki itu. Namun detik selanjutnya, wajah Sehun perlahan berubah, kembali murung seperti ketika ia baru saja selesai berbicara dengan Kris beberapa saat yang lalu.
Flashback
"Jadi, kau menjalin hubungan dengan Luhan?"
Sehun mengangguk, "Kenapa? Kau keberatan?"
Kris tertawa melihat reaksi Sehun. "Tentu saja tidak. Aku justru senang jika kau yang menggantikan tugasku sebelumnya."
Sehun mengernyitkan dahinya, tanda belum mengerti maksud ucapan Kris.
"Tugas untuk membahagiakan Luhan," lanjut Kris menjelaskan. "Saat aku masih menjadi kekasihnya, itu adalah tugasku, dan sekarang itu menjadi tugasmu."
Sehun kembali diam, tapi ia mulai mengerti apa yang dikatakan lelaki berambut blonde itu.
"Sehun, bisakah kau berjanji padaku?"
Sehun mendongak. Ia bisa melihat sorot mata penuh harapan dari Kris.
"Bersikaplah terbuka pada Luhan. Maksudku, jangan melakukan kesalahan yang sama sepertiku. Menyembunyikan sesuatu dari Luhan selama kalian menjalin hubungan. Kau tahu, dibohongi adalah satu hal yang sangat dibencinya," lanjut Kris. "Aku tidak heran jika Luhan sangat kecewa padaku setelah dia mengetahui masa laluku, dan juga alasanku mengakhiri hubungan kami. Aku sudah terlalu banyak berbohong padanya, termasuk hubunganku dengan Zitao."
Kris menatap heran pada Sehun yang diketahuinya terlihat tegang. Namun setelahnya ia tersenyum, "Jangan khawatir soal orang tuanya. Aku yakin, ayahnya akan merestui hubungan kalian. Karena kau adalah orang yang pantas untuk berada di sisi putrinya."
Sehun masih terdiam, enggan merespon rentetan kalimat yang disampaikan Kris soal restu orang tua Luhan.
"Dan kau juga mendapat restu dariku," Kris tersenyum lalu meremas lembut bahu Sehun. "Semoga kalian hidup bahagia."
Flashback off
"Sehunnie ..."
Sehun terkesiap menyadari Luhan belum sepenuhnya tertidur, "Apa?"
"Bisakah kita saling terbuka satu sama lain? Aku tidak mau kejadian di masa lalu dengan Kris, terulang lagi dalam hubungan kita. Aku ingin kita saling jujur dan tidak ada yang ditutup-tutupi."
Tubuh Sehun seketika menegang. Ucapan Luhan ini tidak jauh berbeda dengan ucapan Kris sebelumnya.
"Berjanjilah, kau tidak akan menyembunyikan sesuatu dariku, dan bersikap terbuka padaku jika kau sedang ada masalah atau ada sesuatu yang mengusik pikiranmu. Bisakah kau melakukannya itu, Sehunnie?"
Sehun memejamkan matanya sejenak, seiring helaan napas yang keluar darinya. "Ya, aku akan melakukannya. Bersikap terbuka dan tidak menyembunyikan sesuatu darimu. Aku berjanji."
Sehun bisa melihat lengkungan senyum yang sempurna di bibir Luhan.
"Terima kasih, Sehunnie ..." kesadaran Luhan semakin berkurang. Tampaknya rasa kantuk itu sudah menguasai tubuhnya. "Aku ... sangat ... mencintaimu ..."
Sehun tersenyum tipis, lalu mengecup singkat bibir Luhan, "Aku juga sangat mencintaimu."
..
..
..
Setelah memastikan Luhan tertidur, Sehun segera keluar dari kamar gadis itu. Ia menutup pintu kamar dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Kemudian berjalan menuju kamar Dennis. Keponakannya itu juga masih tertidur pulas di atas ranjangnya.
Sehun turun ke lantai 1 dan berjalan menuju ruang kerjanya.
"Bawakan aku teh herbal di ruang kerjaku. Seperti biasa," titah Sehun pada pelayan yang tidak sengaja berpapasan dengannya.
"Baik, Tuan."
Sehun memasuki ruang kerjanya dengan wajah tak bersemangat. Ia meraih ponselnya dari saku celana. Jemari tangannya bergerak cepat mencari salah satu nomor kontak yang akan ia hubungi.
Sambil menunggu nada sambung yang terdengar, Sehun beberapa kali membuang napasnya dengan kasar.
"Halo?" terdengar suara laki-laki di seberang sana.
"Paman, ini aku," Sehun mulai menundukkan kepala. "Tidak, aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu."
Sehun bisa mendengar ada nada kekhawatiran dari laki-laki yang sedang diteleponnya itu.
"Ini memang ada hubungannya dengan Luhan," Sehun tersenyum tipis, "tapi percayalah, dia baik-baik saja. Justru aku yang tidak baik-baik saja, Paman."
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak bisa membohonginya lagi, Paman. Maksudku," Sehun menggigit bibir bawahnya dan semakin terlihat gelisah, "aku tidak bisa berpura-pura lebih lama lagi. Tidakkah sebaiknya aku berkata jujur jika sejak awal aku sudah tahu jati dirinya?"
"Tidak, Sehun. Ini belum waktu yang tepat untuk mengaku pada Luhan."
"Tapi, Paman—" kegelisahan Sehun semakin menjadi, "—aku takut dia akan marah jika tahu lebih dulu sebelum aku mengaku padanya."
Sehun menghela napas panjang. Tidak tahu lagi harus berkata apa mendengar ucapan lawan bicaranya itu yang tengah berupaya menenangkannya.
"Aku mengerti," Sehun memijat pelipisnya. "Baiklah, kita bicarakan lagi di lain waktu. Maaf sudah mengganggu waktumu, Paman."
PIP!
Sehun meletakkan ponselnya, lalu mulai menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya yang empuk. Perhatiannya teralih sejenak ke arah pintu, tepatnya pada pelayan yang sedang mengantarkan teh herbal untuknya. "Terima kasih. Kau boleh pergi," ucapnya pada gadis yang baru saja mengantarkan pesanannya itu.
"Hhhh ..." Desahan napas frustasi kembali keluar dari sela-sela bibir Sehun. Lelaki itu tampak meraih cangkir teh di depannya, lalu mulai menyesap teh herbal kesukaannya. Untuk sesaat, suasana hati Sehun sedikit lebih rileks.
"Bisakah kita saling terbuka satu sama lain? Aku tidak mau kejadian di masa lalu dengan Kris, terulang lagi dalam hubungan kita. Aku ingin kita saling jujur dan tidak ada yang ditutup-tutupi."
Rentetan kalimat itu membuat kepala Sehun berdenyut.
"Berjanjilah, kau tidak akan menyembunyikan sesuatu dariku, dan bersikap terbuka padaku jika kau sedang ada masalah atau ada sesuatu yang mengusik pikiranmu. Bisakah kau melakukannya itu, Sehunnie?"
Sehun tidak bisa lagi berpikir dengan jernih. Permintaan Luhan itu, jelas mengarah pada masalah kepercayaan satu sama lain dalam sebuah hubungan antara pria dan wanita. Inilah yang membuat Sehun didera rasa bersalah.
Karena pada kenyataannya, ia menyembunyikan sesuatu dari Luhan.
"Maafkan aku, Lu ..."
.
.
.
TO BE CONTINUED
31 Januari 2016
A/N : Ngomong-ngomong, chapter ini panjang lho. Saya nggak sadar waktu nulis tahu-tahu udah nyampe 10ribu lebih jumlah words-nya kekeke
Maaf ya baru bisa update sekarang. Ada yang bisa nebak, kira-kira siapa yang ditelepon Sehun di bagian akhir itu? Ini juga sebagai clue dari konflik utama nanti. Tenang konfliknya nggak berat kok, tapi nggak mudah juga #nyengir
Eniwei, saya ada FF baru. Bagi yang mau baca, kalian bisa langsung aja ke menu My Stories di bagian profilku. Setelah baca, jangan lupa kasih review ya :)
Special Thanks to :
Nurul999, minrin-oh, Light-B, Seravin509, Vinka668, Angel Deer, Navizka94, ElisYe Het, deerhanhuniie, kenlee1412, Juna Oh, Selenia Oh, Aura626, MeriskaLu, Arifahohse, LieZoppii, BiEl025, deva94bubletea, Misslah, OneKim, artiosh, 1220beehoney, OhXiSeLu, Yohannaemerald, Baekkiechuu, JonginDO, Guest, Sherli898, Ririn Ayu, munakyumin137, lala, chadijah1, Lisasa Luhan, RealCY, yousee, Guest, Kim YeHyun, HunHanCherry1220, cassiewol, niasw3ty, Skymoebius, JungHunHan, chocovanila, EviL L, nik4nik, Khairunnisa, Soohee, hatakehanahungry, Annisawinds, Joan363, HunHan, anaknyaChanbaek, xiaodult, HUNHANyue
Terima kasih sudah review (^_^)
