'She's My Wife'

Genre : Romance, A bit angst.

Cast: Lee Donghae x Lee Hyukjae

Rated : M (Mature)

Warning : Genderswitch for uke, out of character, Typo(s)

.

.

.

.

.

.

"Lagi-lagi aku menyukai rancanganmu, Spencer-ssi."

Gadis itu tersenyum teramat manis hingga menampakkan gummy khas miliknya. Jangan lupakan matanya yang ikut menyipit mengikuti kontur senyum lebar yang disuguhkan. "Ah jangan terlalu melebihkan, gamsahamnida."

"Tidak, memang gaun rancanganmu sudah membuatku jatuh cinta. Simple namun tidak meninggalkan kesan elegan, sangat pas." Wanita dihadapannya tertawa kecil penuh wibawa, dengan sedikit menutupi bbir tipis berbalut lipstick merah maroonnya. "Semoga adikkku akan suka,"

Wanita didepannya tersenyum anggun, membuat Hyukjae membalas dengan senyuman yang tak kalah memikat. Namun sepersekian detik berikutnya, wjah lembut itu ikut berubah ketika melihat ekspresi sang costumer yang perlahan menyendu. Senyumnya turun, dan matanya terlihat seperti terlapisi kabut tipis.

"Ah ya, adikku akan melangsungkan pernikahan dengan calon yang diplih orang tua kami."

Wanita berusia 30 tahun-an itu menghela nafas lirih, menjawab raut muka Hyukjae yang seolah bertanya ada apa dengan ekspresinya tadi. "Dia dipisahkan dari kekasih tercintanya yang sekarang entah menghilang kemana, ada yang bilang bahwa pemuda itu sudah dibunuh oleh suruhan appa-ku."

Mata menggemaskan Hyukjae membulat, mungkit kaget. Tapi memang ia dan pelanggannya ini memang bisa dikatakan cukup dekat, si pelanggan yang mudah nyaman dengan seseorang dan Hyukjae yang juga sangat welcome teradap orang-orang di sekitarnya mungkin menjadi salah satu penyebab. Tak heran bahkan masalah yang terbilang sangat privasi pun bisa dijadikan bahan obrolan oleh mereka. "Astaga kenapa bisa begitu?"

"Molla. Mungkin karena orang tuaku memang tidak merestui mereka sejak awal dan ya, bisnis. Kau pasti mengerti apa yang ku maksud, Spencer-ssi."

Hukjae mengangguk pelan, cerita klise. Perjodohan beralaskan bisnis. Dan si tokoh utamalah yang akan mendapatkan madu paling pahit diantara semua pemain.

"Memang tidak ada yang lebih kejam dari dunia yang justru selalu kita cari kebahagiannya." sahut Hyukjae purau. Kilatan-kilatan masa lalu yang bahkan terlalu perih melintas di kepala gadis tersebut. Benar, bahkan orang-orang berlomba untuk merasakan sakitnya realita kejam demi mengejar sebuah kebahagiaan semu.

"Kau benar." Sahut wanita tersebut seraya mengangguk pelan. "Dan mereka berhasil merubah adikku, melenyapakan semua kecerahan di wajahnya."

"Mereka hanya orang-orang yang tak mengerti seperti apa bentuk nyata dari sebuah perasaan." Sudut bibir itu tertarik pelan, tangan putihnya terjulur untuk mengusap bahu wanita berpakaian semi formal dihadapannya. "Kuharap adikmu bisa mendapatkan yang terbaik, Han-ssi. Karena walaupun rasa cinta itu membuatnya lemah dan tersiksa, aku salut dia masih mau bertahan."

Wanita itu kembali tersenyum, dipegangnya tangan yang sedari tadi mengusap sayang bahunya. "Terimaksih Spencer-ssi. Akan aku ajak dia kapan-kapan kesini untuk menemanimu, siapa tahu ia bisa kembali cerah seperti seorang Spencer-ssi yang bersinar bagaikan permata."

Hyukjae terkikik pelan. Membuat wajahnya terlihat semakin bersinar, begitu pula dengan senyum manisnya yang tak pernah lepas sekalipun sang costumer izin berpamitan dengan alasan sang suami sudah menjemputnya. Tangan putih tersebut masih menggantung di udara guna membalas lambaian sang costumer ketika suara rintikan hujan mulai terdengar.

Kaki jenjangnnya berjalan kearah sudut dimana daun jendela teduh itu terbuka lebar, sedikit mencipratkan air dan menghantarkan dinginnya angin dari luar. Hyukjae mengusap kulit bahunya yang meremang.

Terpaku.

Bukannya menutup jendela yang terbuka lebar itu, Hyukjae justru termenung menatap sejuknya suasana guyuran hujan diluar sana. Hujan. Sesuatu yang sangat disukai oleh shabat kecilnya, Hae. Satu bulan lebih menjadi teman yang selalu menghabiskan waktu setiap hari bersamanya cukup membuat ia mengenal sosok itu dengan apik dulu. Ah, bagaimana kabarnya yang sudah menikah sekarang?

Hyukjae menggelengkan kepalanya panik. Kini ia sudah menjadi milik seorang Aiden Lee, bagaimana bisa ia masih memikirkan sosok Lee Donghae? sekalipun yang Hyukjae tahu kedua lelak itu memiliki ikatan persaudaraan, tentu saja tak sepantasnya ia bertanya macam-macam. Bertanya bagaimana kehidupan Donghae sekarang kepada Aiden misalnya. Tidak mungkin terjadi, karena ia tidak merindukan Donghae sama sekali.

Entahlah ia merasa perasaan rindu yang dulu kosong sudah terisi kembali. Apa ini karena Aiden? Entahlah. Tapi ia ia bisa bersyukur karena hal tersebut, toh yang ia rasakan pada Donghae bukan perasan merindu, tapi lebih ke rasa penasaran atau apapun itu yang ia juga tak paham.

"Hey,"

Persendian di tubuh Hyukjae seketika menegang ketika sebuah lingkaran hangat tangan kekar seseorang tersemat diatas bahunya. Bibir merah tersebut menyunggingkan senyum kecil ketika menyadari siapa pemilik suara berat seseorang yang tengah berbisik pelan di belakangnya. "Aiden-ah,"

Pemuda itu tersenyum simpul.

"Kenapa ku berdiri disini, huh?" Dahi mulus Aiden berkerut samar. "Dan lagi, apa yang kau lamunkan barusan?" Mata kebiruan itu mengintip tak tahu malu dari sela pipi mulus Hyukjae. Ya, pemuda itu menyanggakan kepalanya diatas bahu Hyukjae dengan tangan yang berpindah melingkupi pinggang ramping gadisnya.

"Tidak apa-apa," Kekehan pelan meluncur hangat dari bibir semerah cherry milik Hyukjae. "Aku hanya sedang menikmati hujan."

Aiden mengerutkan alisnya samar. "Menikmati?" Apa itu maknanya bisa disamakan dengan kau menyukai hujan?"

"Huh? Memangnya kenapa?

"Atau bahkan mencintai hujan?"

"Apasih maksudmu?

"Hanya jawab saja."

Hyukjae berdecak gemas mendengar nada perintah mutlak tersebut. "Tidak selamanya bermakna seperti itu Aiden-ah." Hyukjae mengelus lengan berotot pemuda di depannya lembut. "Baiklah, aku-menyukai-hujan. Tapi tak perlu terlalu dipikirkan, asalkan yang aku cintai hanya seorang Aiden Lee, tidak ada masalah kan?"

Aiden menebarkan senyum tampannya ketika mendengar kicauan manis sang kekasih. Begitulah kekasihnya, memiliki feromon hangat yang membuat siapapun tak segan untuk berdekatan dengan perempuan energik tersebut. Sang pencair suasana, Spencer Lee. "Arraseo. Hanya saja kau harus tau bahwa hujan adalah hal yang paling aku sukai walaupun urutannya sekarang tergeser satu peringkat dibawahmu." Kedipan nakal tercipta, berniat menggoda balik sang pujaan hati.

Deg

Hyukjae reflek menolehkan kepalanya kesamping kiri, membuat iris matanya dan Aiden sempat bertubrukan beberapa saat. Kepalanya tiba-tiba saja sedikit pening. Aiden dan Donghae adalah orang yang sama-sama menyukai hujan? Sangat menyukai jika dianalisis kembali. Satu fakta sederhana namun cukup mengejutkannya. Dan seketika juga Hyukjae menyadari bahwa pengetahuannya mengenai Aiden bisa dikatakan minim walaupun keduanya sudah resmi berhubungan selama 2 bulan.

Apakah saking nyamannya kau dengan seseorang bisa sampai melupakan fakta bahwa kalian sebenarnya baru saling mengenal? Entahlah, tidak ada perasaaan bergejolak yang memaksa Hyukjae untuk mengorek informasi mengenai Aiden terlalu dlalam.

"Kenapa?"

"Tidak apa-apa." Hyukjae menggeleng kecil. "Oh, tumben kau datang di jam-jam sibuk seperti ini?" Tanya Hyukjae sedikit keheranan setelah menangkap gerakan jarum jam yang tertempel di dinding ruangan sebelah kanan.

Rengkuhan itu semakin mengerat, bisa Hyukjae rasakan hidung mancung Aiden mengedus rambut halus miliknya. "Hanya merasa sedikit stress." jawab pemuda itu pelan.

Bibir perempuan berkulit putih susu itu sedikit mencebik lucu. "Lalu? Apa hubungannya dengan kau mendatangiku secara mendadak seperti ini?"

"Karna aku percaya kau bisa menyerap semua rasa penat-ku, tanpa meninggalkan bekas."

Hyukjae mengernyit. "Kenapa kau berbicara seperti itu?"

"Karena aku yakin."

"Dan mengapa kau bisa seyakin ini?"

Kekehan pelan terdengar dari bibir tipis seorang Aiden Lee yang membuat kerutan semakin menjalari dahi mulus Hyukjae. "Karna aku selalu merasa kau adalah matahariku, permataku yang akan selalu bersinar dan menghangatkan apapun disekitarmu. Aku tak salah kan?"

Huh?

Hyukjae mendesah lirih. Hal konyol macam apa ini? Tidak hanya Aiden yang menyebut dirinya hangat dan bersinar bahkan sampai disandingkan seperti permata, yang ia akui itu semua cukup berlebihan. Ia tak habis pikir, kenapa orang-orang itu berteduh dibawah Hyukjae yang jelas-jelas batin dan jiwanya lebih bisa dikatakan abstrak? Atau mereka termasuk orang-orang yang tak mengenal bentuk nyata dari sebuah perasaan?

"Kenapa kau mempercayaiku seyakin itu? Bahkan jika kau tak lupa, hanya perlu waktu kurang dari sebulan untuk kita meresmikan hubungan ini, Aiden-ah."

Aiden berdecak pelan ketika mendengar nada penuh keraguan tersemat dibalik ucapan gadisnya tersebut.

"Entahlah, walaupun kita baru saling mengenal tapi aku tak merasakan sebuah perasaan asing." Lingkupan tangan itu sedikit mengendur. "Hanya perasaan seperti aku telah bersamamu sejak lama, ya semacam begitulah aku juga tak mengerti."

Hyukjae menghela nafas dalam-dalam, sedikit tak puas mendengar jawaban Aiden yang malah menambah kerutan samar di kening mulusnya.

Aiden mengintip wajah sang kekasih yang tampak tengah sibuk dengan pikirannya. "Mungkin kita seoulmate? Haha. " timpal pemuda jenaka itu kemudian.

Wush

Kelopak mata Hyukjae tertutup seiring dengan angin yang berhembus menyapa dirinya dan Aiden yang masih berdiri terpaku didepan jendela yang terbuka lebar. Seolah tersadar secara tiba-tiba, rengkuhan itu terlepas dan Aiden melangkah menghampiri jendela tersebut. "Kenapa anginnya besar sekali? Tidak ada berita yang menyebutkan akan ada badai hari ini." sahutnya seraya menarik daun jendela dengan sedikit kesusahan karena tekanan angin yang lumayan besar.

Hyukjae tersenyum lirih. "Badai bisa datang kapan saja Aiden-ah, tanpa diduga dan diharapkan namun dengan beringasnya akan menghancurkan apapun." obsidian bening itu kembali mengamati keadaan diluar, awan hitam pekat menutupi seluruh langit walaupun saat ini masih disebut jam makan siang. Hanya gerimis namun dilengkapi intensitas angin yang sangat besar, bisa terlihat beberapa baliho bergerak dan barang-barang ringan ikut tersapu angin.

"Maka dari itu," Aiden berbalik seraya melepaskan jaket kulit hitamnya dan menyampirkan kain berbahan mahal tersebut ke pundak kekasihnya yang terbuka. "Kau harus berhati-hati, dan jangan mudah tertipu. Nanti cuaca akan sangat bagus pada awalnya namun tiba-tiba akan berubah mengerikan beberapa saat kemudian. Dan boom, menghancurkan semuanya."

Senyuman terkembang di atas bibir merah merekah tersebut. Merasakan perhatian dari sang kekasih lalu kembali sibuk merenungkan ucapan pemuda berbadan tegap namun tak terlalu tinggi dihadapannya tersebut.

"Aiden-ah,"

Pemuda yang masih sibuk dengan engsel yang bertaut dengan daun jendela itupun seketika menoleh, "Hum?"

"Bagaimana kalau aku yang seperti yau kau ucapkan? Dielu-elukan dan disukai orang-orang tadinya namun tak disangka aku berubah menjadi sebuah badai yang kau ibaratkan akan mengacaukan segalanya."

"Apa yang kau maksud dengan kau berubah menjadi sebuah badai? Hey, ini bukan kartun anak-anak sayang." Aiden terkekeh pelan mentertawai ucapan sang kekasih yang menurutnya lucu dan sedikit tak masuk akal.

Hyukjae menghela nafas. "Bagaimana jika sebuah masa lalu yang suram akan berperan sebagai badai yang nantinya akan meluluh lantahkan apapun. Bisa saja kan?" terbesit nada purau ucapan yang dilontarkan Hyukjae. Tiba-tiba saja masa lalu kelamnya entah mengapa bisa berkeliaran dengan ganas didalam benak gadis berkulit putih susu tersebut. Kebenaran masa lalu, tidak ada seorangpun yang tahu termasuk kekasih yang sangat mempercayainya ini.

Aiden menggigit bibir bawahnya gusar, menerka-nerka apa maksud dari perkataan Hyukjae barusan.

"Hey, kenapa?" tangan berotot itu mengangkat dagu Hyukjae yang sedari tadi menunduk dalam. "Jangan bebicara omong kosong. Masa lalu memang bisa saja sangat berharga, tapi kehidupan akan bergerak dinamis dan sangat buruk jika kau terlalu menjadikannya sebuah tumpuan."

Diusapnya pipi halus tersebut. "Yang kau pikirkan seharusnya bukanlah bagaimana dan apa yang harus dilakukan ketika badai itu akan datang menyerang kita, tapi memperkuat tempat yang bisa melindungi diri kita dari badai akan jauh lebih banyak membantu. Dan tak perlu takut, aku bersedia membantumu untuk membangun tempat seperti itu apapun yang terjadi. "

Terenyuh. Hyukjae tersenyum lebar, pemuda di hadapannya ini terlalu manis dan sudah berhasil membuatnya melayang. Niatan untuk jujur pun rasanya tak lagi menjadi beban jika seorang Aiden sudah berkata seperti itu.

"Benarkah seperti itu?"

Chup.

Hyukjae mengerjap ketika Aiden mencuri ciuman singkat darinya. "Hanya percaya padaku."

Dan kedua tangan Hyukjae hanya bisa bertumpu lemas diatas dada bidang Aiden ketika pemuda didepannya mulai memangut mesra bibirnya. Mungkin pemuda tersebut sudah bosan mendengar celotehan tak jelas dari bibir saang kekasih. Lumatan dan gigitan kecil membuat Hyukjae tergugah untuk membalas, lengan putih itu merayap menyentuh tengkuk Aiden dan menekan kepala pemuda itu untuk memperdalam ciumannya.

Gerakan lidah yang intens membuat dua sejoli itu terlarut. Ciuman yang semakin dalam membuat mereka tak terkontrol, mereka tenggelam dalam pusaran kenikmatan. Mengabaikan gaduhnya daun jendela yang terhantam kuat oleh angin besar badai dari luar sana.

.

.

.

.
.

"Aku kecewa."

Donghae menoleh, memandang kearah sang tetua Lee yang tengah berdiri dengan raut lelah disampingnya. Saat ini mereka sedang berada di taman belakang rumah kelauarga Lee. Taman hijau yang cukup luas dengan beberapa tanaman yang menghiasi hampir separuh bagian taman, suasana-nya yang hening memang cocok untuk sekedar mengobrol santai.

"Maaf."

Sahut pemuda itu lirih.

"Aku kecewa kenapa Hyukjae manisku berbohong."

Donghae menundukkan kepalanya dalam. Ia membenarkan ucapan sang Halmonie, jika ditanya siapa yang paling kecewa disini, tentu saja dirinya akan berteriak paling keras. Pemuda yang notabenenya merupakan suami dari Lee Hyukjae itu juga bahkan baru mengetahui hal mengejutkan tersebut. 'Lebih dari kecewa' mata kehijauan Donghae terpejam.

"Dan aku jauh lebih kecewa dengan jiwa pengecutmu, Lee Donghae."

Deg

Kepala itu reflex mendongak, memandang sang nenek dengan pandangan meminta penjelasan dan penuh kekagetan. Lee Halmonie tersenyum lirih, memandang sang cucu kesayangan dengan pandangan sayu. "Kau memilih untuk berdiam disini meninggalkan istrimu begitu saja, Hae-ah."

Donghae tersentak. "Tap-tapi eomma yang memintaku untuk disini menemani Sungmin," jawabnya terbata. Entahlah, ia merasa seperti sesuatu menyangkut di tenggorokannya saat ini.

"Dan kau dengan mudahnya menuruti kemauan eomma-mu? Bahkan keledai saja bisa memilih mana yang pantas ia pilih atau abaikan." Lee Halmonie menghela nafas berat. "Aku tau kau lebih kecewa kepada istrimu dibanding diriku."

"Hm." Donghae menggumam pelan. Ia bahkan terlalu malu dan enggan untuk mengeluarkan suaranya didepan sang nenek saat ini.

"Apa yang paling membuatmu kecewa? Karna Hyukjae membohongimu."Jeda sejenak. "Atau karna perasaan tak rela dengan tubuh istrimu yang sempat menjadi penari striptease?"

Tubuh Donghae menegak, pandangannya menerawang. "Keduanya. Aku membenci dua fakta itu, Halmonie."

"Tapi semuanya sudah terkuak, apa lagi yang menjadi masalah? Apa kau bisa merubahnya? Memilih takdir seperti apa yang harus dimiliki istrimu? Tidak semudah itu, Donghae-ah." Lee Halmonie berseru seraya mengusap dadanya pelan. Entahlah, ia sedikit merasa tak enak dengan bagian tubuhnya tersebut.

Donghae termenung. Mecoba untuk tak menyela ucapan wanita paruh baya didepannya.

"Jika mengenai tubuh istrimu, bahkan aku yakin kau yang pertama mengambil kegadisannya. Lalu hal apalagi yang membuatmu kecewa, Lee Donghae?"

Tuk

Donghae ternganga, sedikit tak percaya sang nenek akan berbicara se-frontal ini. Dan ia berani bersumpah baru pertama kali melihat neneknya berbicara panjang lebar tak seperti biasanya.

"Halmonie tak mengerti apa alasanku yang sebenarnya," jawab Donghae purau.

Lee Halmonie mendengus pelan. "Aku boleh tak mengerti bagaimana rasa kecewa suami yang telah dibohongi oleh istrinya," wanita itu mendesah lirih. "Tapi aku sangat sangat mengerti bagaimana perasaan seorang wanita yang dicampakkan oleh orang yang pernah berjanji didepan tuhan bahwa orang itu akan mendampinginya dalam keadaan apapun."

Donghae menggigit bibir bawahnya gelisah, merasa terpojok. Kepalanya mendongak ketika merasakan usapan lembut di bahu sebelah kirinya. Wanita paruh baya dihadapannya tengah tersenyum hangat. "Untuk apa kau menyalahkan seseorang sekarang hanya karna sebuah kesalahan yang terjadi di masa lalu?"

Donghae hanya bisa terpaku ketika tubuh ringkih itu berlalu dari hadapannya. Meninggalkan dirinya bersama rintik hujan yang perlahan turun membasahi tanah, membuat aroma basah tercium cukup kental di sore hari yang bahkan beberapa saat lalu masih terlihat cerah. Pemuda itu mendongakkan kepalanya ketika merasakan sentuhan air mengenai kulitnya. Langit perlahan gelap dan semakin menggelap. Kedua mata itu terpejam ketika merasakan air tersebut menghantam kulit wajahnya. Tak lama, hanya sepersekian detik kemudian kedua kelopak itu kembali terbuka, menantang luasnya langit dan tetesan air hujan yang terus menghujam kelopak matanya. Pemuda itu tiba-tiba mencebikkan bibirnya, tertawa lirih.

"Aku mengerti, Hyukkie."

.

.

.

Sungmin mengangkat sudut bibirnya ketika melihat pemuda yang tengah duduk disampingnya tersenyum kecil. Petikan gitar terdengar memenuhi ruangan, menyelaraskan suara barithone yang tengah menyenandungkan lagu beritme pelan tersebut. Sungmin disana, terduduk di salah satu kursi seraya memegang sebuah gitar putih. Memetiknya pelan, menemani suara halus yang keluar dari mulut seorang Cho Kyuhyun.

"Zhi yuan yitian ni kan de jian my love for you~"

Obsidian Kyuhyun terlihat sibuk memperhatikan rentetan huruf piyin yang terdapat diatas kertas di pangkuannya. Menggunakan pensilnya untuk menandai jika dirasa ada nada yang kurang pas ataupun pengucapan yang terdengar tidak sesuai. Diberi tanda untuk lebih dipelajari lebih intens lagi nantinya.

"Wo de ai ta shi shou bu hui..."

Kyuhyun mengangkat tangannya, secara tidak langsung untuk menyuruh petikan gitar Sungmin berhenti. Dahi gadis itu mengerut sebelum akhirnya menghentikan petikannya. Ia ingat, karna memang sepertinya lagu tersebut tidak benar-benar berhenti di bagian ini.

"Aku sudah beberapa kali mendengar suaramu tapi rasanya rasa kagumku tidak pernah berkurang, Huh." ujar Sungmin seraya memandang kearah Kyuhyun yang terlihat tengah meneguk air mineral guna membasahi kerogkongan keringnya. Pemuda itu tertawa kecil, "Terimakasih, petikan gitarmu juga yang paling banyak menggunakan perasaan menurutku."

Sungmin mendengus kecil. Tatapannya terarah pada kertas yang sewaktu menyanyi tadi dipegang oleh Kyuhyun, mengambil lalu mencoba membaca isinya. Matanya menyipit lurus ketika melihat bentuk huruf-huruf pinyin yang sedikit membuatnya pusing, belum lagi berbagai coretan disekitar huruf-huruf tersebut. Ia memang tidak terlalu mengenal piyin, dia lebih menguasai bahasa Jepang karena memang gadis itu pernah singgah disana untuk bersekolah sewaktu kecil.

"Kau tak merasa pening membaca semua huruf-huruf ini?"

Kyuhyun terkikik kecil. "Awalnya iya, namun karena aku pernah mengenal huruf-huruf seperti itu sebelumnya jadi tidak terlalu terasa."

Sungmin mengangguk. "Dosen tua itu memberi tugas kenapa semenyebalkan ini? Untung saja aku tidak mendapat bagian untuk menyanyi lagu-lagu berlirik piyin seperti ini. Bisa hancur semuanya,"

"Yang penting aku memilih berpartner denganmu untuk bermain gitar dan menutupi kelemahanmu dalam menguasai huruf piyin." Kyuhyun tertawa melihat gadis dihadapannya cemberut. Dosennya yang memang kalau tak salah berketurunan China, menugasi anak-anak muridanya untuk tampil membawakan lagu-lagu dari negri tirai bambu tersebut. Terdiri dari dua orang. Dan alasan Kyuhyun mengajak Sungmin karena selain gadis itu masih termasuk mahasiswa baru, ia juga pernah mendegar bahwa permainan gitar Sungmin sangat bagus. Dan tidak ada yang rugi disini, Kyuhyun yang diiringi permainan gitar penuh rasa Sungmin, dan Sungmin yang terbebas dari tugas menyanyi lagu-lagu berhuruf aneh itu.

"Dan sampai saat ini aku tak mengerti apa yang dibahas dalam lagu ini."

Kyuhyun menggaruk pelipisnya pelan ketika mendengar ucapan Sungmin. Ia menghela nafas dalam-dalam, "Yang bisa aku tangkap hanya seseorang yang sangat ingin bersama dengan orang yang dicintainya bahkan sampai rela memberikan apapun untuk orang tersebut. Tapi yang justru aku simpulkan kalau rasa cinta seseorang itu seperti tak terbalas atau mungkin belum."

Sungmin mengangguk kecil. "Jalan cerita yang umum." sangat umum, batinnya menimpali.

"Kau benar, banyak disekitar kita yang mempunyai jalan cerita seperti itu. Tapi aku menyukai lagu ini karena cara penyampaian rasa ingin memiliki didalamnya tidak digambarkan dalam lirik dan nada yang menyayat hati."

Sungmin tercenung. Ia memandang Kyuhyun yang tengah menggerakan pensilnya kembali diatas kertas lirik tersebut. "Apa menurutmu-" Sungmin menggit bibir bawahnya ketika melihat Kyuhyun balik memandang kearahnya. "Orang yang digambarkan dalam lagu ini sedikit berlebihan sampai rela memberikan apapun untuk orang yang dicintainya sekalipun orang itu belum tentu mau melihat kearahnya?"

Dahi Kyuhyun sedikit mengerut. "Menurutku tak ada yang salah selama orang itu tak melebihi batas."

"Sekalipun ia mencintai orang yang sudah memiliki cinta lain yang lebih berarti untuknya?"

Kyuhyun mengamati kembali kertas dihadapannya, menelaah isi dan mencoba mengingat arti dari rentetan huruf piyin tersebut. "Orang ini juga merasakan gelisah ketika ia berkata 'apakah mencintaimu adalah benar atau salah?' bahkan di paragraf paling atas." Kyuhyun menoleh dan matanya menyipit ketika melihat Sungmin termenung dalam. "Kenapa?"

"Jadi menurutmu?"

"Orang itu bodoh."

Sungmin tersentak mendengar jawaban lugas Kyuhyun. "Dia berharap pada seseorang yang sudah memberikan hatinya untuk orang lain. Lalu apa yang ia harapkan untuk menyiksa dirinya sendiri? Hal-hal sepahit cairan empedu? Konyol sekali."

"Tapi aku mendengar pepatah bahwa hanya orang munafiklah yang berkata bahwa ia rela melihat orang yang dicintainya bersama orang lain selama orang itu bahagia."

Kyuhyun meremas kertas ditangannya. "Setidaknya orang munafik lebih berguna dari orang bodoh." seru Kyuhyun keras. Ya, pemuda itu merasakannya.

"Dengarkan aku Lee Sungmin," pemuda itu memandang lurus kearah manik foxy gadis yang juga tengah menatapanya dalam tersebut. "Lupakan dia yang tak mau melihatmu dan cobalah melihat orang yang hanya selalu melihat kearahmu."

Perempatan samar seketika tercetak jelas di kening mulus Sungmin. Huh?

.

.

.

.

Hyukjae terus berjalan menyusuri koridor panjang Universitas. Ia merenung, pandangannya sedikit tak fokus. Hari ini ia hanya menghandiri satu kelas dimulai dari siang hari. Dan ketika ada pemberitahuan seluruh anggota klub dance harus berkumpul, membuat Hyukjae tentu saja harus hadir. Langkahnya terhenti persis didepan pintu bertuliskan dance room tersebut, mengambil nafas dalam-dalam lalu membuka pintu coklat tersebut.

Cklek

Hyukjae tersentak ketika melihat hampir separuh ruangan sudah terisi oleh beberapa orang. Dan kerja jantungnya terasa mencepat ketika melihat sosok seorang Lee Donghae tengah duduk dipojok sana bersama teman-temannya. Ingin rasanya ia kembali menutup pintu lalu berlari pergi namun tekad kuat dan suara sang pelatih yang memanggilnya membuat Hyukjae mau tak mau masuk lalu memberi salam pada rekan-rekannya.

"Akhirnya kau datang."

"Mianhae, seonsangnim." Hyukjae membungkuk lalu mengambil tempat duduk tepat disebelah Taemin. Hyukjae menoleh, "Apa yang mereka bicarakan?"

"Hanya ketentuan kompetensi dance yang akan digelar dalam waktu dekat ini."

Hyukjae mengangguk. Lalu pandangannya terfokus ke depan, memperhatikan kearah sang pelatih yang tengah berbicara. Menjelaskan ketentuan kompetisi yang akan dibahas, dan sudut bibirnya tertarik ketika mendengar hadiah dan penghargaan yang akan didapat nantinya. Ucapan pelatih seketika terhenti ketika melihat Hyukjae mengangkat tangannya, membuat beberapa member juga ikut terdiam.

"Ada yang ingin kau tanyakan, Hyukjae-ah?"

"Eumh," Hyukjae menggigit bibir bawahnya pelan. "Itu... apakah pemenang kontes itu sudah pasti akan menerima semua hadiah yang telah dijanjikan?"

"Tentu saja. Itu sudah menjadi ketentuan, memangnya kenapa?"

Hyukjae tersentak. "A-ah aku hanya bertanya saja, ya benar seperti itu."

Taemin mencebik lucu, "Jangan takut kau akan kekurangan hadiah seperti itu eonni."

Pelatih muda itu tertawa kecil dibarengi dengan kikikan pelan dari semua anggota. Hyukjae tersenyum malu, "Tidak seperti itu, Taemin-ah." ujarnya memerah lucu. Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya kikuk ketika hampir semua yang ada di dalam ruangan tersebut menatap penasaran kearahnya. Hampir saja ia menenggelamkan kepalanya keatas tas ketika suara sang pelatih yang menyuruh mereka untuk kembali memperhatikan apa yang diarahkan berhasil membuat perhatian hampir semua orang teralihkan kecuali satu orang.

Hyukjae mendesah lirih. 'Huft, syukurlah.'

.

.

.

.

.

.

"Kau sudah berjanji dan aku harap kau tak akan ingkar."

Hyukjae menggenggam handphone putihnya erat ketika mendengar suara menyebalkan tua bangka itu bergema di sebrang sana. Dengusan nafas kesal makin kian memenuhi ruangan serba putih berbau cairan pembersih beraroma pohon pinus ini. Ya, memang saat ini gadis manis itu tengah berada di dalam toilet universitas. Ia meminta ijin untuk keluar terlebih dahulu ketika tua bangka yang dibencinya itu terus menerrornya melalui pesan singkat.

"Aku berjanjinji akan memenangkan kontes itu. Dan kau tak perlu khawatir, uang yang aku dapat juga akan aku serahkan semua padamu lalu kau akan pergi membawa semua yang kau mau."

Hyukjae hampir saja berteriak ketika mendengar suara berat disebrang sana seolah meledeknya melalui tertawaan kecil. "Ya, aku akan melakukan semua yang kau mau jika aku memang kalah dalam kontes itu. Kau tak perlu takut, karena aku tak sepengecut itu."

Pik!

Hyukjae mencuci muka letihnya intens setelah memasukan handphone miliknya kedalam tas. Ia menunduk menatap air yang perlahan surut, meninggalkan dirinya yang termenung sendirian ditemani deru nafasnya yang mulai tak beraturan.

OH?

Gadis itu tersentak ketika merasakan pinggangnya dicengkram lalu dibalikkan kuat. Matanya membulat ketika melihat Donghae yang saat ini tengah menatap intens dirinya. Hyukjae tergagap dan hampir saja berbicara ketika Donghae meraup bibirnya gemas. Menyelipkan lidahnya didalam gua hangat tersebut. Tangan-tangan halus Hyukjae mencengkram bahu tegap Donghae ketika dirasa ciuman itu semakin dalam dan liar sehingga ia tak bisa mengontrol gerakan lidah terlatih tersebut. Tubuhnya terhimpit tembok dan dada jantan Donghae, terus menekan dinding hingga ia merasa dada berisinya sudah tak berjarak dengan tubuh bagian depan sang suami. Ia membalas, menyalurkan perasaan merindu yang teramat sangat. Rambut tebal Donghae tak terlewat untuk diremas ketika Hyukjae merasakan pemuda tersebut mengemut bibirnya seperti anjing liar.

Hyukjae terengah hebat ketika ciuman tak biasa itu terlepas. Merasakan kepala Donghae bersembunyi dibalik lehernya, membuat nafas panas dan memburu itu menerpa leher putih jenjangnya. Hyukjae memejamkan matanya ketika merasakan tangan Donghae melingkari pinggangnya, lembut namun erat. Tak peduli dengan dada mereka yang bersentuhan telak dan semakin menyatu ketika deru nafas saling memburu, mereka tetap bertahan dengan posisi tesebut.

"Ikut denganku."

Hyukjae membuka matanya. "Ma-maksudmu?"

"Ikut aku tinggal bersama disana, dirumah eomma."

Mata kucing itu membulat sempurna. Apa Donghae gila? Membawa Hyukjae kesana justru akan semakin membuatnya diambang celaka. Hyukjae menggeleng, pipi chubby-nya menggesek bahu tegap Donghae.

"Senista-nistanya aku, to-tolong jangan sampai eomma mengetahui hal ini dengan begitu cepat. A-aku butuh waktu, Hae ."

"Aku tak menerima penolakan." Lingkaran tangah Donghae mengendur, membuat Hyukjae sedikit bernafas lebih lega. Namun matanya kembali membulat ketika merasakan tangan kekar tersebut mengcengkram pinggangnya lalu mengangkatnya keatas bahu tegap Donghae. Hyukjae seketika merasa pening mengetahui kepalanya menghadap kearah bawah sedangkan perutnya berada tepat diatas bahu kokoh sang suami.

Donghae membenarkan letak tubuh Hyukjae diatas bahunya. Ia menghela nafas dalam-dalam, "Sudah kubilang kau tidak perlu menghindar, cukup berada disampingku dan aku akan melingkarkan tanganku untuk menghindarkan mereka yang akan mengganggu dirimu. Diam!"


.

.

.

.

.

Baaaaaaaaaaaaaaaaaaaaasi. Apa ini? /bantinglaptop/ Halloooooo ada yang masih inget ini? Aduh tolong ini makin absurd. Niatnya mau ngehapus ff ini tapi- Thanks buat semua yang masih nunggu dan bersedia membaca ff sampah ini, saya banyak-banyak berterimakasih. Cuap-cuapnya nanti lagiya ini waktunya mepet, dan thanks to nya nyusul :D

sorry for all typos, ini bikinnya ngebut. kkkk

Maaaf bangettttttt, i love you my beloved readers jangan lupa review ff aneh ini lagi jika ini emang layak dilanjut. 3

I LOVE YOU!

Mind to review?