Memories
Cast: Kim Ryeowook
Kim Jongwoon a.k.a Yesung
Lee Sungmin
Cho Kyuhyun
Kim Kibum
Choi Siwon
Others
Disclaimer: all characters belong to GOD. But this story is mine. And forever mine^^. Jika ada kesamaan nama itu memang disengaja –tapi Cuma minjem kok^^-.
Genre: family, hurt/comfort (mungkin)
Rate: T
Warning: YAOI, Sho-ai, B x B, BoysLove, OOC, typo(s) bertebaran, ide pasaran –setidaknya jalan ceritanya 'sedikit' berbeda- dan gaje. Cerita mungkin gak sesuai judul dan plotnya gak jelas ada atau gak.
DLDR! No bash!
Happy Reading^^
.
.
.
.
Ryeowook menatap namja cantik yang sedang duduk di sofa dengan sebungkus snack berukuran jumbo di tangannya. Seeokor kucing yang tengah mengejar tikus kecil terpampang di layar datar besar yang menyala di depannya. Rambut blondienya diikat satu agak ke atas, menampilkan tengkuknya. Namja itu bahkan sangat berkonsentrasi sampai tidak menyadari kehadirannya. Ryeowook melangkah pelan dan mendudukkan dirinya di samping namja itu setelah merebut snack kentang itu dari tangannya. Namja cantik itu menoleh dengan mata melotot. Namun ketika melihat senyum manis Ryeowook, matanya kembali normal dan lengkingannya-lah yang kemudian terdengar menggelegar memenuhi sudut ruangan itu.
"WOOKIE HYUNG~~~~"
Ryeowook terpaksa menutup telinganya dan meringis. Astaga! Sejak kapan anak ini jadi begini heboh ketika dirinya datang? Oh, oke, ini sudah nyaris dua minggu dirinya tidak pulang ke rumah. Mungkin ini wajar? Anggap saja seperti itu.
"Yah Ren. Kau ingin membuat Hyeong tuli muda eoh?"sungut Ryeowook bercanda.
Namja cantik itu, Ren, tersenyum lebar sebelum kemudian menyambar tubuh Hyung-nya untuk segera mendekapnya dalam pelukannya yang hangat.
"Hyeong kenapa lama sekali baru datang? Ren kan kangen Hyeong…"adu Ren dengan manja.
Ryeowook terkekeh pelan dan membalas pelukan adiknya dengan hangat. Seperti biasa. Tangannya mengusap kepala bersurai blondie itu lembut.
"Mianhae… Tugas Hyeong sangat banyak dari kampus, jadi Hyeong baru bisa datang hari ini karena kebetulan Hyeong juga sedang free."jelas Ryeowook.
Memang, selama nyaris dua minggu terakhir ini, Ryeowook begitu sibuk. Dan ini tidak bohong. Kecuali tugas dari kampus yang sebenarnya selesai lebih dari satu minggu yang lalu. Jangan tanyakan kemana Ryeeowook pergi setelah satu minggu itu. Yesung atau Sungmin juga tidak tahu. Taemin-pun sama. Ryeowook selalu pulang ketika dirinya sudah tidur dan berangkat ketika Taemin belum berangkat ke sekolah.
"Sebagai gantinya, Hyeong harus membuatkan Ren cheese cake sekarang."
Ryeowook tertawa mendengar ucapan Ren.
"Baiklah. Tapi bagaimana kalau Ren juga ikut bantu Hyeong? Enak sekali Ren selalu tinggal makan tapi tidak mau buat?"
Ren mem-pout-kan M shape lips-nya mendengar ucapan Ryeowook. Namun kemudian mengangguk semangat. Setidaknya itu akan lebih menyenangkan dibandingkan melihat kucing yang mengejar tikus kecil dan berakhir mengenaskan.
"Tidak masalah. Ayo kita buat!"seru Ren semangat dan melepas pelukan Ryeowook segera.
"Hey, kau mau kemana?"Tanya Ryeowook ketika melihat Ren berlari menuju dapur.
Ren menghentikan langkahnya dan menoleh pada Ryeowook dengan alis bertaut bingung.
"Bukankah kita akan membuat chees cake, Hyeong?"
"Kita harus belanja dulu, sayang. Kajja, kita ke supermarket."ajak Ryeowook sambil berdiri dari duduknya.
"Pakai jaketmu, baby."ingat Ryeowook karena Ren langsung berlari –lagi- ke arahnya dengan pakaiannya tadi. Celana jeans putih selutut dan kaos berlengan panjang berwarna pink.
"Diluar masih cukup dingin. Ambil jaketmu dan Hyeong tunggu di mobil, arachi?"
Ren mengangguk dan segera meluncur menuju kamarnya secepat yang dia bisa. Tidak ingin melewatkan barang satu detikpun untuk bisa bersama Ryeowook. Hyeong manisnya itu sangatlah sibuk, katanya. Mungkin Hyeong-nya yang tidak sejenius Hyeong-nya yang satu lagi itu dibuat pusing dengan segala tetek bengek kuliah ekonomi dan bisnis-nya. Sebisa mungkin Ren tidak akan merengek pada Hyeong-nya itu untuk datang setiap hari ke rumah. Dan Ren sudah mencobanya sampai sekarang. Meskipun itu menyebalkan. Sangat.
"Hyeong~~"
Ryeowook tersenyum melihat Ren yang memakai jaket tebalnya. Tubuhnya yang kecil itu tenggelam dalam tebalnya jaket. Ini sudah penghujung musim dingin. Udara masih cukup untuk sekedar membuat orang menggigil. Dan itu berarti sebentar lagi akan memasuki musim semi.
"Ayo." Ryeowook membukakan pintu AM Vanquish-nya untuk Ren sebelum menduduki kursi kemudi.
.
.
.
Yesung terus merutuk pelan sementara jari-jari mungilnya itu terus mengetuk meja atau cangkir di depannya. Sungmin dan Kyuhyun menatapnya bosan. Nyaris satu jam Hyeong mereka seperti itu. Dan itu terlihat sangat membosankan. Lebih baik mereka adu mulut dari pada melihat Yesung mengetuk meja atau cangkir itu tidak jelas.
"Kau yakin tidak tahu, Min-ah?"
Dan untuk ke sekian kalinya Kyuhyun dan Sungmin memutar bola mata mereka jengah.
"Aku sudah mengatakannya nyaris seratus kali, Hyeong. Jangan bertanya itu lagi." Jawab Sungmin –lagi- kesal. Yesung mendengus pelan.
"Kenapa tidak di telpon saja , Hyeong?"
Yesung melotot pada Kyuhyun. Astaga! Bukankah Kyuhyun itu pintar, pandai dan jenius?
"Kau pikir sudah berapa kali aku menelponnya sejak dia tidak menghubungiku satu minggu yang lalu? Kurasa sudah lebih dari seratus kali aku menghubunginya. Hhhh~~"desah Yesung. Diteguknya sisa mocca yang ada di cangkirnya sampai habis.
Kyuhyun dan Sungmin melakukan hal yang sama. Meneguk sisa minuman mereka sampai habis. Mereka kembali terdiam. Tidak ada yang berniat mengusik keheningan yang mengurung mereka saat ini. Mungkin dalam keadaan seperti ini, mereka bisa berikir sedikit lebih realistis dengan kepala dingin. Memikirkan kemungkinan yang lebih positif akan membuat mereka lebih tenang bukan? Dan untuk kali pertama sejak mereka duduk disana lebih dari satu jam yang lalu, ketiganya menghela nafas panjang bersamaan.
"Apa Taemin tidak tahu?"tanya Yesung berharap mendapat sedikit pencerahan.
Ingin rasanya Sungmin dan Kyuhyun membenturkan kepala mereka ke tembok. Atau meja yang tidak sekeras tembok. Sungguh, mereka merutuki Yesung dengan sumpah serapah dalam hati. Tidak menyangka kebodohan Hyung kepala besar mereka bisa sampai kelewat batas seperti ini.
"Kurasa aku akan mengaalami penuaan dini."gumam Kyuhyun sambil memijit pelipisnya pelan.
"Jadi Hyeong belum bertanya pada Taemin?"akhirnya Sungmin yang melontarkan pertanyaan dengan nada suara dibuat setenang mungkin meskipun sebenarnya dirinya ingin sekali membenturkan kepala Yesung ke meja di depannya.
"Belum. Aku tidak kepikiran dia karena terlalu panic."
Sungmin ikut memijit pelipisnya. Hyeong-nya Kyuhyun ini benar benar bodoh. Rutuknya dalam hati.
Sungmin diam memperhatikan Yesung yang mungkin akan menelpon Taemin. Dalam diamnya, Sungmin memikirkan banyak hal. Apa yang dilakukan Ryeowook selama itu tanpa memberi kabar pada Yesung atau setidaknya padanya? Baiklah. Sebenarnya pikiran Sungmin sudah melalang buana entah kemana. Berbagai pemikiran muncul di kepalanya. Apa mungkin terjadi sesuatu pada Ryeowook mengingat pertemuan terakhir mereka, Ryeowook pingsan tepat sebelum membuka pintu mobilnya ketika hendak pulang dari Bareknuckle. Bahkan dokter sudah mengatakan kalau lebih baik jika Ryeowook mendapatkan perawatan di rumah sakit menlihat kondisinya yang jauh lebih buruk dari terakhir kali masuk rumah sakit lebih dari satu bulan yang lalu.
"Hhhh~~~ sebenarnya kemaana Ryeowook itu?" gumaman Yesung menyadarkannya dari pemikiran-pemikiran yang jujur saja itu membuatnya takut.
Sungmin menatap Yesung yang kali ini melempar pandangannya keluar jendela. Menatap kesibukan kota sepertinya lebih menarik untuknya saat ini. Sungmin beralih menatap Kyuhyun dengan tatapan bertanya yang hanya dibalas dengan gelengan pelan oleh Kyuhyun.
"Waeyo, Hyeong?"Tanya Sungmin akhirnya.
Yesung menolehkan kepalanya pada Sungmin dengan tatapan putus asa. Putus asa karena tidak juga mendapatkan kabar dari kekasihnya. Putus asa karena kekhawatirannya benar benar memuncak. Dan putus asa karena rasa rindunya seakan mencekik dirinya.
Sungmin menghela napas pelan. Seolah mengerti arti tatapan mata Yesung.
"Mungkin aku akan coba mencarinya dirumah orang tuanya nanti, Hyeong. Kau tenang saja."ucap Sungmin mencoba menenangkan sambil dalam hatinya berharap Ryeowook memang ada di rumahnya.
Yesung hanya menganggukkan kepalanya. Rumah orang tua Ryeowook adalah kemungkinan terakhir karena hubungannya yang sama sekali tidak dekat dengan mereka itu. Baik Yesung maupun Sungmin berharap sama. Bisa menemukan Ryeowook disana.
.
.
.
"Yak Hyeong! Kenapa lama sekali?"
Seruan Ren hanya disambut dengan diam oleh Ryeowook. Dongsaeng cantiknya itu begitu cerewet. Bukannya membantu membuat kuenya, namja cantik itu hanya malah merusak dapur. Ck, sejak pulang berbelanja tadi memang Ren tampak sama sekali tidak sabar. Namja yang masih duduk di bangku elementary school itu bahkan menyeret Ryeowook ke dapur begitu mereka sampai di rumah.
"Hyeongie~~~"
"Sabarlah sedikit Ren-ah. cake-nya tidak akan selesai kalau ka uterus berisik seperti itu." Jawab Ryeowook sambil membersihkan kekacauan yang dibuat Ren selagi menunggu cake yang dibuatnya siap makan.
"Berapa lama lagi?"rengekan Ren masih terdengar setelah Ren diam selama tidak lebih dari tiga menit.
Ryeowook melirik jam tangan putih yang melingkari pergelangan tangan kirinya yang kecil.
"Lima menit lagi, okay?"Ryeowook menatap Ren dengan senyum manisnya yang tidak hanya disukai Ren tapi juga Yesung.
"Bersihkan dulu tubuhmu. Kau penuh tepung, Ren."suruh Ryeowook ketika dirinya menyadari kalau Ren sangatlah berantakan.
Rambutnya yang berwarna blondie itu kini nyaris seluruhnya tertutup tepung. Bajunya yang berwarna pink itu juga banyak ternoda. Entah apa saja yang Ren tumpah dan tempelkan ke bajunya itu. Ren menatap bajunya dan meraba rambutnya sebelum tersenyum lebar dan melarikan kaki mungilnya menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya secepat yang dia bisa. Ryeowook hanya menggelengkan kepalanya pelan dan kembali melanjutkan acara membersekan dapurnya.
"Ryeowook-ah,"
Suara seseorang yang memanggil namanya terpaksa membuatnya menghentikan kegiatannya merapikan dapurnya. Kepalanya menoleh ke belakang dan mendapati saudaranya yang selalu bersifat dingin –kecuali pada kekasihnya, meskipun itu hanya sedikit- kepada semua orang berdiri di ambang pintu dapur. Ryeowook tersenyum melihat saudaranya itu.
"Hai Kibum-ah. Kau sudah pulang?"balas Ryeowook sebelum kembali melanjutkan kegiatannya.
Kibum melangkah masuk ke dalam dapur dan mendudukkan dirinya di kursi di depan counter yang sebelumnya ditempati Ren.
"Kau sedang membuat apa?"
Ryeowook mencuci tangannya dan mengeringkannya sebelum berjalan menuju oven yang sudah berdenting menandakan cake yang ada di dalamnya sudah bisa dimakan.
"Ren merengek ingin makan cheese cake dan memaksaku untuk membuatkannya."
Ryeowook membawa cheese cake yang sudah matang itu ke meja counter, tepat di depan Kibum dia meletakkannya. Kibum bisa menghirup aroma lezat cheese cake itu dari asap yang masih mengepul. Harum. Dan itu terlihat sangat enak. Tanpa sadar bahkan Kibum meneguk ludahnya sedikit sulit. Ryeowook terkekeh pelan melihatnya. Kibum seolah lemah terhadap cheese cake.
"Tunggu Ren sebentar. Dia sedang mandi."
Kibum mendongakkan kepalanya dan menatap Ryeowook penuh Tanya. Tapi hanya senyuman yang di dapatnya.
'Apa aku ketahuan? Memalukan.' Batinnya kesal pada dirinya sendiri.
"Eoh, Kibum Hyeong?"
Ren masuk ke dapur dengan kaos v-neck yang kali ini berwarna putih. Celana kain selutut yang juga berwarna putih. Rambut blondie-nya basah.
"Whoaa~~ sudah jadi Hyeong? Hmmmm… Baunya harum sekali..." sambungnya sambil melangkah menuju Kibum yang segera mengangkatnya ke pangkuannya.
"Kau benar. Baunya harum."setuju Kibum yang sama tergodanya dengan cake di depannya. Masih panas. Akan sedikit lebih enak kalau sudah lebih dingin. Hangat mungkin.
"Hyueong mau?"
Kibum menatap Ren yang juga tengah menatapnya sementara Ryeowook hanya menatap keduanya dalam diam. Entah apa yang ada dipikirannya ketika memperhatikan dua dongsaengnya yang seingatnya dulu tidak pernah sedekat ini kini menjadi cukup dekat. Bahkan Kibum tadi langsung mengangkat Ren dalam pangkuannya ketika namja berwajah cantik itu berjalan ke arahnya. Seingatnya dulu mereka tidak seperti itu.
"Silahkan, Tuan Muda."
Belum sempat Kibum menjawab pertanyaan Ren, suara seorang maid terdengar dari depan pintu dapur. Ketiganya menoleh dan mendapati seorang namja manis tengah memicingkan kedua matanya dan menatam tajam salah satu dari mereka.
"Kim Ryeowook."
Bahkan suara desisannya terdengar jelas di telinga ketiganya. Kibum dan Ren melirik ke arah Ryeowook bersamaan. Namun namja manis itu hanya menunjukkan ekspresi kebingungan yang kental.
"Sungmin Hyeong? Ada apa? Tumben sekali kau datang."sambut Ryeowook tanpa menyadari kalau Sungmin sudah nyaris menangis.
Sungmin menatap Ryeowook dengan tatapan yang entah apa artinya. Setelah selesai acara mari-memicingkan-mata-ke-Ryeowook, namja berparas manis itu malah diam dan menatap Ryeowook dengan pandangan yang membuat tiga orang lainnya bingung.
"Eh?"
Ketiganya menatap kaget bercampur bingung pada Sungmin yang kini malah meneteskan bulir beningnya.
'Apa terjadi sesuatu padanya?'pikir Kibum dan Ryeowook.
Ryeowook berjalan pelan ke arah dimana Sungmin masih berdiri di tempat yang sama.
"Hyeong? Gwaenchanha?"Ryeowook menyentuh bahu Sungmin pelan. Membalas tatapan mata Sungmin yang masih terarah padanya.
"Dari mana saja kau hah!"seru Sungmin tepat di depan muka Ryeowook. Ryeowook yang terkejut reflex memundurkan kakinya satu langkah.
"Hyeong, waeyo?"tanyanya pelan. Berharap Sungmin tidak lagi berteriak padanya.
Ryeowook terkaget ketika detik berikutnya Sungmin malah memeluknya. Ryeowook menolehkan kepalanya bingung ke arah dua dongsaengnya yang juga menatap Sungmin dan dirinya dengan bingung.
"Hyeong-ah…"
"Kau dari mana saja heum? Kemana saja? Kami bingung mencarimu babo."bisik Sungmin.
Ah! ternyata karena ini. Ryeowook mengerti sekarang. Dirinya memang salah dalam hal ini. Tapi Ryeowook sudah tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi. Apapun bisa terjadi bahkan satu detik ke depan, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Ryeowook terkekeh pelan.
"Gwaenchanha Hyeong... Aku baik-baik saja. Kau lihat kan."
Sungmin melepas pelukannya dan menatap Ryeowook menuntut penjelasan.
"Akan kujelaskan nanti. Sekarang, bergabunglah dengan kami."ucap Ryeowook sembari tangannya menghapus air mata Sungmin.
Sungmin hanya menurut ketika Ryeowook menariknya menuju counter dan mendudukkannya di kursi di sebelah Kibum.
"Annyeong Sungminnie Hyeong~"sapa Ren dengan senyum cantiknya.
"Annyeong, Sungmin Hyeong."sapa Kibum dan menatap pada Sungmin yang membalas sapan keduanya dengan senyum.
"Annyeong Minki-a, Kibum."
.
.
.
Yesung merebahkan tubuhnya dengan nyaman di atas kasur empuknya. Masih memikirkan tentang dimana kekasih mungilnya itu berada.
"Ahhhh~~~ aku merindukannya…"serunya.
Dengan malas, Yesung meraih ponselnya yang bergetar. Sebuah pesan masuk. Yesung mengerutkan keningnya. Sungmin? Yesung tersentak dan kemudian membukanya dengan cepat. Membaca secepat yang ia bisa isi dari pesan yang dikirim oleh Sungmin. Dan senyumnya mengembang begitu selesai membaca pesan itu. Pesan yang megatakan kalau Ryeowook memang berada di rumah orang tuanya dan Sungmin sedang bersamanya. Menuntut penjelasan atas apa yang sudah dilakukan Ryeowook nyaris dua minggu ini –dan satu minggu tidak menghubungi Yesung. Tidak memberi kabar sama sekali karena sesuatu yang rahasia yang harus dilakukannya sesegera mungkin. Lalu dengan cepat dan tanpa menunggu lebih lama lagi, Yesung menekan speed dial nomor 9 agar terhubung dengan kekasihnya.
Dua kali nada sambung membuat Yesung bosan. Dan setelah nada sambung ketiga, barulah tenor yang dirindukannya itu terdengar. Ah~ akhirnya, dirinya bisa juga mendengar suara manis ini lagi setelah nyaris seminggu lebih tidak bisa mendengarnya. Hanya sebuah pesan singkat yang kadang didapatnya satu minggu terakhir ini. Dan kini, telinganya bisa kembali menangkap tenor manis itu menyambangi pendengarannya.
"Yeoboseyo, Hyeong-ie~"
Yesung begitu lega ketika suara itu terdengar lagi olehnya.
"Yeoboseyo baby-ah~ kau dimana eoh? Tidak memberitahu Hyung sama sekali? Tega sekali…"rajuk Yesung setelah menjawab sapaan Ryeowook.
Yesung bisa mendengar suara kekehan pelan di seberang line. Ah~ Yesung merasa ada sesuatu yang menjadikan dirinya merasa begitu ringan saat ini. Yesung tersenyum ketika kekehan sang kekasih masih bisa di dengarnya.
"Baby-ah~~~"rajuknya lagi. Dan kali ini malah menghasilkan tawa yang sudah sangat dirindukannya.
"Arra… Mianhae Hyeong-ie~ aku tidak bermaksud begitu. hanya saja ini sangat penting dan harus kuselesaikan secepatnya. Aku akan mengganti waktu kita yang sudah dua minggu ini terbuang, Hyeongie~ tenang saja."
Yesung merasa ada sesuatu yang menggelitiknya hingga dia ingin berteriak girang saat ini. Namun disela kegirangannya itu, entah kenapa terselip rasa takut dan khawatir yang tidak kalah besar dengan rasa senangnya.
"Baiklah, kalau begitu kita makan malam besok. Bagaimana?"usul Yesung.
Terdengar dengungan pelan disana.
"Besok? Sebenarnya aku ingin mengajak Hyeong-ie makan malam di rumah besok."
Yesung melebarkan manic sipitnya. Ya? Oh Tuhan Kim Ryeowook! Apa namja itu serius dengan ucapannya? Apa dia tidak salah dengar? Ah Ryeowook sayang… Aku begitu menantikan saat ini... Ingin Yesung rasanya meneriakkan kata itu. Tapi tentu saja tidak dilakukannya. Image-nya image itu tentu akan berubah. Dan well, untuk apa Yesung masih memikirkan tentang image sementara Ryeowook sudah menunggu jawabannya di seberang sana.
"Besok? Apa itu berarti bertemu orang tuamu, Baby?"Tanya Yesung mencoba memastikan.
Dadanya berdebar sekarang ini.
"Tentu saja."
Dan setelah mendengar jawaban itu, Yesung merasa begitu bahagia. Akhirnya Ryeowook membawanya untuk bertemu dengan orang tuanya yang sejak kecil belum pernah ditemuinya. Yea, meskipun kali ini pasti akan berbeda dengan dulu.
"Baiklah, Hyeong akan datang baby. Istirahatlah."
"Arasseo. Selamat malam Hyeong-ie~ saranghae,"
"Selamat malam Baby. Nado saranghae,"
.
.
.
Seperti yang dikatakan Ryeowook kemarin malam di telepon, hari ini Yesung datang berkunjung ke rumah Ryeowook yang well, belum pernah dikunjunginya. Tidak kalah besar dengan rumahnya. Jam 7 malam Yesung sudah berdiri di depan pintu rumah Ryeowook yang berdaun dua itu. Setelah mengetuk pintu tiga kali, sosok manis Ryeowook-lah yang pertama kali dilihatnya. Namja manis itu tersenyum dengan begitu lebarnya. Wajah manisnya tampak berseri. Terlihat begitu bahagia. Yesung balas tersenyum sebelum akhirnya tubuhnya diterjang oleh makhluk manis di depannya ini. Yesung balas memeluk namja yang sudah dirindukannya hingga putus asa itu.
"Ekhem,"
Suara deheman itu memutuskan pelukan Ryeowook pada Yesung. Ryeowook menoleh ke belakang dan menemukan Kibum tengah memutar bola matanya malas. Ryeowook hanya menatap malas padanya. Kibum terkekeh.
"Masuklah Hyeong."
Yesung memasuki rumah besar Ryeowook dengan Ryeowook di sampingnya. Yesung mengerutkan keningnya ketika menemukan seorang namja kecil yang tengah menatap layar televise besar dengan seorang yeoja cantik yang sedang memangku sebuah majalah.
"Eomma,"panggil Ryeowook.
Yeoja yang Ryeowook panggil eomma itu menoleh dan mendapati Ryeowook berdiri di samping seorang namja tampan dengan kepala yang tampak lebih menonjol, ehm, besar dan Kibum di belakangnya.
Ryeowook menarik Yesung untuk duduk di samping eomma-nya di sebuah single sofa.
"Eomma, ini Yesung Hyung. Dan Yesung Hyeong, ini eomma-ku."ucap Ryeowook memperkenalkan.
Ren yang sedang asik menonton tv menolehkan kepalanya pada namja yang dibawa Ryeowook.
'Tampan.'pikirnya.
'Tapi masih lebih tampan Minhyun.'
Ck. Dasar anak kecil. Plin plan.
"Annyeonghaseyo ahjumma. Kim Jongwoon imnida. Ahjumma bisa memanggilku Yesung."sapa Yesung ramah dengan senyum tampannya beserta tundukan dalam kepalanya.
Heechul tersenyum. Sopan. Pikirnya.
"Annyeonghaseyo Yesung-ah."balasnya.
"Annyeonghaseyo Yesung Hyeong. Kim Minki imnida. Wookie Hyeong sering memanggilku Ren."sahut Ren tiba-tiba. Yesung mengalihkan tatapannya pada namja berwajah cantik itu. Senyumnya terkembang.
"Annyeonghaseyo, Ren-ah."balas Yesung dan Ren tersenyum lebar. Ck.
"Eomma, jam berapa appa pulang?"Tanya Ryeowook setelah sesi mari berkenalan selesai.
"Mungkin sebentar lagi."
"Baiklah. Aku akan menyiapkan makanannya. Hyeong-ie, aku ke dapur dulu ne. Mengobrol-lah dengan eomma. Kibum-ah, bantu aku."
Kibum memutar bola matanya malas. Nyatanya juga tetap meminta bantuannya. Tapi kenapa cara bicaranya seperti itu? Ckckck…
"Jadi, kenapa kau tiba-tiba membawa Yesung Hyeong ke rumah?"Tanya Kibum saat mereka tengah menata makanan di meja makan panjang itu.
"Tidak ada. Hanya melakukan apa yang ahrus segera kulakukan. Wae? Kau tidak suka?"
"Che, sempit sekali pikiranmu Kim Ryeowook."
Ryeowook hanya mengangkat bahunya acuh.
"Tapi ngomong-ngomong, kira-kira apa yang akan eomma obrolkan dengan Yesung Hyeong?"
Ryeowook tampak berpikir sejenak.
"Semoga bukan yang aneh-aneh."
Kibum terkekeh pelan melihat ekspresi Ryeowook. Namja ini tampaknya takut jika eomma-nya menanyakan yang macam macam.
"Hahaha~ jangan tegang begitu, Ryeowook-ah."
Ryeowook hanya tersenyum menanggapi ucapan Kibum. Akan dirindukannya tawa ini nanti. Benaknya.
.
.
.
"Jadi? Hyeong benar sudah bertemu dengan bumonim Ryeowookie?"
Kyuhyun bertanya antusias. Saat ini dirinya tengah dalam acara mari-menginterogasi-Yesung-Hyeong. Kyuhyun sudah mendengarnya dari Sungmin semalam. Dan jujur saja, dirinya merasa penasaran dengan cerita langsung dari Yesung. Well, sebenarnya Sungmin juga sama sekali tidak menceritakan apa yang dibicarakan bumonim Ryeowook dengan Yesung. Karena Ryeowook sendiri bahkan tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Sungmin menyuruh Kyuhyun untuk bertanya langsung pada Yesung. Dan saat inilah, ketika Yesung hanya membaca di kamarnya di apartemennya, Kyuhyun melancarkan aksinya menginterogasi seorang Kim Jongwoon.
"Apanya yang jadi?"
Dan Yesung hanya membalas pertanyaan Kyuhyun dengan pertanyaan yang lain.
Ck.
Kyuhyun mendecak kesal.
"Aku tahu kau tahu maksudku, Hyeong. Ceritakan padaku…"rengek Kyuhyun yang sialnya rengekan itu sama sekali tidak terdengar cute atau sekedar menyentuh seujung perasaan Yesung untuk iba.
"Kurasa Sungmin sudah menceritakannya padamu."
"Tsk, bagaimana Sungmin Hyeong mau menceritakan sesuatu sementara dirinya tidak tahu apapun. Ayolah Hyung~ apa yang kau bicarakan dengan bumonim Ryeowookie?"desak Kyuhyun.
Yesung menghela nafas. Ditutupnya buku yang tengah dia baca dan menatap Kyuhyun yang menatapnya antusias. Yesung memutar bola matanya malas. Kyuhyun terlihat aneh dengan senyum lebarnya yang menggelikan itu.
"Baiklah. Sebenarnya tidak banyak yang kami bicarakan. Mereka pikir aku hanya teman Ryeowookie. Tapi tentu saja aku menjelaskannya dengan detail. Heechul ahjumma bertanya tentang kelanjutan hubungan kami nanti. Apa yang akan kulakukan jika aku tidak mendapatkan restu darinya. Dan hal-hal semacam itu. Tak lupa dengan pekerjaan. Dan ternyata, Heechul ahjumma itu mengenal eomma-ku. Aku jadi berpikir betapa sempitnya dunia yang luas ini."cerita Yesung singkat.
Tidak banyak memang yang Yesung bicarakan dengan kedua orang tua Ryeowook. Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya. Tidak puas dengan cerita Yesung yang menurutnya sama sekali tidak menarik.
"Lalu, bagaimana tanggapan mereka? Eomma Ryeowook misalnya?"
Yesung diam sejenak mendengar pertanyaan Kyuhyun. Yeah, sebenarnya memang tanggapan awal Heechul sedikit tidak mengenakkan. Sedikit sinis memang. Tapi ketika tahu kalau dirinya putra dari serang Park Leeteuk –temannya semasa High School-, istri Kim Youngwoon, berubahlah sudah sikap yang ditunjukkan. Ck, seperti manusia bertopeng bukan?
"Sedikit tidak menyenangkan awalnya. Tapi yeah, kau tahu kan? Aku tidak mungkin meninggalkan jejak tidak mengenakkan untuk orang lain apalagi di pertemuan pertama. Dan sepertinya Heechul ahjumma cukup menerimaku, meski kelihatannya sedikit tidak suka dengan hubunganku dengan Ryeowookie, sepertinya. Dan adik terakhir Ryeowook juga menyambutku baik. Hankyung ahjussi juga."
"Dan itu terdengar sangat berlebihan, Kim Jongwoon."
Yesung terbahak mendengar komentar Kyuhyun.
.
.
.
Pagi-pagi sekali, terdengar suara yang sedikit ribut dari arah dapur di kediaman keluarga Kim. Di dapur itu, seorang namja tengah berkutat dengan entah apa itu karena ada begitu banyak barang tercecer di counter dapur dan juga beberapa di dekat wastafel cuci piring. Beberapa makanan siap santap juga sudah tampak menghiasi meja makan panjang rumah mewah itu.
Waktu menunujukkan pukuol 6 lebih 30 menit ketika memasuki dapur. Diamatinya putra pertamanya yang tampak sibuk sendirian itu. Ini hari minggu, dan sudah mendengar acara yang diadakan putra-putranya itu.
"Kau sedang membuat apa?"
Namja itu, Ryeowook, menoleh ke belakang dan mendapati Kim Heechul, eomma-nya, berdiri dengan gelas di tangannya yang berisi air putih yang tinggal separuh. Ryeowook tersenyum menatap eomma-nya dan mengangkat apa yang tengah dipegangnya.
"Selamat pagi, eomma. Aku sedang membuat sushi untuk piknik nanti."jawabnya dengan senyum manis yang sejak beberapa hari lalu tidak pernah lepas dari plum tipisnya.
Tentu saja. Setelah acara makan malam bersama Jongwoon dan kedua orang tuanya, Ryeowook banyak menghabiskan waktu bersama kekasih tercintanya itu. Beberapa kali berkunjung untuk bertemu dengan Leeteuk, lalu makan malam bersama dengan keluarga Yesung. Berjalan-jalan berdua. Pergi ke rumah Ryeowook dan mengunjungi panti asuhan yang tidak jauh dari rumah Ryeowook di daerah perbukitan itu. Banyak waktu yang dilaluinya bersama Yesung di jam bebasnya. Mengunjungi Song Zio dan harus rela mendengar omelan Taemin yang memang belum sempat marah-marah padanya. Mendatangi Bareknuckle dan sekali lagi harus merelakan telinganya mendengar gerutuan dari Henry. Ke taman bermain bersama Ren di hari libur dan bahkan double date dengan Kibum dan Siwon. Bertanding game bersama Kyuhyun dan Sungmin. Keluar bersama dengan teman-teman kuliahnya. Menjahili Eunhyuk atau memasak bersama Jaejoong, mencoba beberapa resep baru juga. Banyak kebahagiaan yang dilaluinya hingga pertengahan musim semi yang paling ditunggunya ini. Dan itu cukup untuk membuat senyumnya tak pernah terhapus dari bibir tipisnya.
Eomma Ryeowook mengangguk dan menghabiskan air mineralnya sebelum kemudian meletakkannya di bak cuci piring. Wanita anggun itu mendekati Ryeowook dan mencomot satu sushi yang sudah selesai dibuat Ryeowook. Ryeowook memperhatikan eomma-nya. Senyumnya terus tersungging terlebih ketika sang eomma berkomentar, senyumnya semakin lebar hingga telinga.
"Ini enak, Ryeong"
Namun pujian itu membuat gerakan tangan Ryeowook berhenti. Panggilan itu… panggilan yang hanya didapat dari sanga appa dulu. Appanya dulu selalu memanggilnya begitu. Eomma-nya tidak setiap saat memanggilnya begitu. Dan juga Jongwoon Hyung-nya yang sekarang sama sekali tidak pernah memnaggilnya begitu. Hanya baby. Ah~ Ryeowook merasa dirinya terlihat begitu dimanja dengan panggilannya itu. Ryeowook tersenyum diam-diam.
"Kau kenapa?"Tanya eomma Ryeowook ketika melihat gerakan tangan Ryeowook terhenti ketika dirinya berkomentar.
"Ah, ani. Gwaenchanhayo eomma. Benarkan itu enak?"
Eomma Ryeowook mengangguk dan mencomot satu sushi lagi.
"Eomma~ mandilah dulu baru makan sushi ini sampai eomma puas."suruhnya pada eomma-nya yang kini malah mendudukkan dirinya di meja makan.
"Ryeowook-ah,"panggil eomma Ryeowook, Heechul.
Ryeowook mengangkat kepalanya untuk menatap eommanya yang juga tengah menatapnya dari meja makan yang well, sebenarnya cukup berjarak dari tempat Ryeowook. Tatapannya terlihat seirius.
"Ne, eomma?"
"Apa kau serius dengan Yesung?"
Ryeowook yang baru akan melanjutkan pekerjaannya sontak berhenti dan menatap eomma-nya yang masih menatapnya dari meja makan sana. Ryeowook menghela nafas dalam. Berusaha untuk tidak terlalu terlihat eomma-nya kalau dirinya sedang menghela nafasnya.
"Tentu saja. Wae, eomma?"jawabnya mencoba tenang.
"Sebenarnya eomma sedikit tidak suka dengannya."
Jawaban eomma-nya tentu saja mengundang kerutan bingung dari Ryeowook. Tidak suka? Kenapa? Apa yang salah dengan Yesung?
"Wae?"Tanya Ryeowook singkat. Tangannya yang terkepal bersembunyi di bawah hingga tertutupi oleh meja counter.
"Eomma hanya tidak suka. Ah, ani. Hanya sedikit tidak suka. Eomma sudah menyiapkan seseorang untukmu."
"Tidak akan ada orang lain, eomma. Hanya akan ada Yesung Hyeong. Selamanya."
Setelah berucap demikian, Ryeowook berjalan menuju wastafel, mencuci tangannya, dan membereskan sisa pekerjaannya yang berserakan. Tidak menghiraukan eomma-nya yang masih setia menatapnya dengan pandangan yang Ryeowook sendiri tidak tahu apa maksud dan artinya.
Suasana dapur yang mendadak hening itu kemudian terpecahkan oleh suara Kibum dan Hankyung yang memasuki dapur.
"Selamat pagi, Ryeo. Apa yang kau buat untuk piknik hari ini?"sapa Kibum. Mengabaikan suasana hening yang sebelumnya melanda dapur.
"Selamat pagi Kibum. Kau bisa lihat di counter. Aku sudah menyiapkannya. Kita hanya perlu bersiap kemudian berangkat."jawab Ryeowook dengan tangan yang masih sibuk bekerja.
"Apa ini kopi untuk appa, Wookie-a?"suara berat yang lain membuat Ryeowook menoleh dan menarik senyumnya.
"Selamat pagi, abeoji. Ne, itu kopi untuk abeoji."
"Ah, terima kasih, Wookie."
"Cheonmanneyo, abeoji."
Dan dapur itu kembali hening untuk beberapa menit sebelum suara nyaring Ren kembali memecah hening pagi yang kembali mengungkung dapur.
.
.
.
Musim semi. Musim yang ditunggu oleh Kim Ryeowook demi mengajak dongsaeng cantiknya berpiknik bersama. Musim yang sudah ditunggunya selama satu minggu lebih. Namun baru dipertengahan musim semi inilah niatnya terlaksana. Memikirkan bagaimana indahnya taman dengan banyak bunga yang bermekaran sudah membuat Ryeowook begitu bersemangat menyiapkan bekal piknik mereka tadi pagi. Dan disinilah Kim bersaudara ditambah dengan Kim Jongwoon dan Choi Siwon serta seorang lagi tetangga sekaligus teman dekat Minki, Hwang Minhyun namanya.
"Hyeong~~~ ini enak sekali…"Ren berseru senang dengan satu sushi ditangan putihnya.
Ryeowook hanya tersenyum menanggapi. Tangannya dengan cekatan memisah semua kotak bekal yang dibawanya tadi. Saat ini mereka tengah berada di sebuah taman yang memang banyak dipakai untuk piknik bersama. Ren yang baru saja bermain berama Minhyun -teman sekolahnya yang dipaksa ikut- lalu Yesung dan juga Siwon –yang sama dipaksanya oleh Kibum- segera mencomot satu sushi buatan Hyeong-nya yang paling manis dan berseru jika makanan itu sangatlah enak.
"Jja, mari kita makan~"seru Ryeowook ketika semua kotak bekal sudah terpisah dan tertata rapi di alas kota-kotak merah yang mereka duduki.
Keenam orang itu sudah duduk melingkari makanan yang jujur saja, itu memang menggoda selera. Ren menatap lapar semua makanan yang ada di depannya. Minhyun hanya bisa menatap kagum dengan mulut terbuka lebar. Sementara ketiga namja dewasa lain hanya tersenyum menatap ekspresi dua namja cilik yang ada di depan mereka. Ryeowook merekam dengan baik reaksi dongsaeng cantiknya yang kini matanya berbinar dengan cerahnya.
"Yak Hwang Minhyun! Tutup mulutmu itu. Kau menjijikkan! Lihat air liurmu yang sudah diujung bibir itu! Aish!"
Minhyun segera menutup mulutnya dan mengelap liurnya yang nyaris menetes tak lupa dengan cengirannya yang dihadiahi satu pukulan kecil di jidatnya membuatnya meringis dan mengusap jidatnya. Ke empat namja lainnya hanya terkekeh melihat adegan di depan mereka.
"Kau yang membuat ini semua, baby?'"Tanya Yesung yang mengikuti jejak Ren untuk mencomot satu sushi yang seolah tengah melambai pada mereka dan mengatakan 'Ayo makan aku~~~' dengan nada menggoda.
"Ne. Hyeong suka?"jawab Ryeowook dan ikut mengambil makanan yang dibuatnya.
Kibum hanya diam dengan tangan yang ikut bergerak menyuapkan makanan pada mulut Siwon yang sepertinya juga cukup menyukai masakan Ryeowook. Kibum tidak sepandai Ryeowook dalam hal memasak, kalau kalian ingin tahu.
"Tidak ada yang tidak kusuka darimu, baby."
Jawaban Yesung mengundang rona merah muda pada pipi tirus Ryeowook. Melupakan fakta bahwa mereka disini tidak hanya berdua. Masih ada satu pasangan lain dan juga dua anak kecil belum cukup umur yang tidak seharusnya mendengar kalimat gombalan dari Yesung seperti itu.
"Hyeong, ingatlah masih ada Ren yang masih dibawah umur disini."tegur Siwon main-main yang ditanggapi dengusan oleh Yesung.
Beberapa menit berlalu dengan celotehan Ren tentang betapa enaknya sushi buatan Hyeong-nya. Atau teriakannya karena Minhyun begitu bersemangat menyantap nasi kepal buatan Ryeowook. Sebelum kemudian teriakan Minhyun menghentikan semburan Ren untuk Minhyun.
"Hyeong, hidungmu berdarah!"seru Minhyun tiba-tiba.
Semua mata sontak menoleh pada Ryeowook kecuali Ren yang bingung dengan Hyeong mana yang dimaksud oleh Minhyun. Namun matanya membulat seketika saat matanya menangkap bahwa Hyeong yang dimaksud oleh Minhyun ada Ryeowook. Matanya sudah berkaca kaca sementara Yesung sudah mendongakkan kepalanya agar darahnya berhenti.
"Hyeong-ie kenapa?"Tanya Ren dengan suaranya yang sudah mulai bergetar.
Kibum menarik Ren yang mendekati Ryeowook ke pangkuannya. Tidak ada ekspresi berlebihan yang ditunjukkan Kibum. Namun matanya jelas menyiratkan kekhawatiran yang sangat. Tangannya mengelus punggung kecil Ren dengan pelan. Bahu kecilnya mulai bergetar. Sementara Siwon mematung, Minhyun tidak tahu harus berbuat apa sehingga dirinya hanya diam melihat Yesung yang masih menekan pangkal hidung Ryeowook berharap darahnya segera berhenti mengalir.
"Sudah?"Tanya Siwon ketika Yesung dan Ryeowook sudah kembali ke posisi awalnya.
Yesung mengangguk dengan tangan gemetar. Ryeowook hanya diam dan menyeka bawah hidungnya yang masih berbekas merah dengan sapu tangan yang sudah tidak lagi berwarna biru muda.
"Wookie Hyeong kenapa? Hyeong sakit?"Tanya Ren dengan air mata yang sudah menggantung.
Ren bukan namja yang mudah menangis meski wajahnya sangat cantik untuk seorang namja. Ren orang yang tegar. Bahkan ketika salah seorang temannya menarik rambutnya, Ren hanya menepis tangannya dan balas menarik rambut temannya itu. Tapi kali ini tidak. Hidung Ryeowook mengeluarkan darah dan itu cukup untuk membuatnya merasa sangat panic. Ryeowook itu Hyeong kesayangannya. Tentu saja dirinya tidak mau terjadi apa-apa pada Hyeong kesayangannya itu.
"Gwaenchanha Ren-ah. Hyeong hanya kelelahan. Jangan khawatir, ne."ujar Ryeowook menenangkan. Senyumnya terkembang di wajahnya yang sedikit lebih pucat dari pada sebelumnya. Tangannya mengusap helai blondie Ren lembut.
Kibum menatap Ryeowook dengan tatapan bertanya. Ryeowook membalasnya dengan senyum. Dan menggerakkan bibirnya mengucapkan kata 'gwaenchanha' tanpa suara. Suasana mendadak hening hingga ketiganya menyadari bahwa hari sudah semakin sore. Ke-enamnya memutuskan untuk pulang dengan Ren dan Minhyun ikut mobil Yesung dan Ryeowook. Karena tadi berangkat dengan mobil Kibum, jadilah kini Ryeowook bersama Yesung.
"Mianhae Ren-a, Hyeong tidak bisa tidur di rumah malam ini. Besok saja ne?"bujuk Ryeowook pada Ren yang tengah merajuk.
Mereka baru saja mengantarkan Minhyun pulang. Dan saat ini, mereka -Yesung, Ryeowook dan Ren- sudah berada di depan rumah besar keluarga Kim. Dan Ren memaksa Ryeowook untuk tidur di rumah hari ini. Ren berkata bahwa dirinya khawatir pada Hyung-nya satu itu. Namun Ryeowook menolak.
"Hey Ren, bukankah dua hari kemari Hyeong sudah menginap disini? Besok lusa, Hyeong akan menginap disini. Maka dari itu, sekarang izinkan Hyeong untuk tidur di apartemen Hyeong ne? Hyeong janji besok lusa Hyeong akan menginap disini."
Sebenarnya, Ren ingin menolak permintaan Hyeong-nya itu. Tapi melihat bagaimana ekspresi memelas Ryeowook, tidak tega juga Ren melihatnya. Ren menghela nafas panjang. Mencoba mendramatisir keadaan agar terlihat betapa dirinya terpaksa menuruti keinginan Hyeong-nya itu.
"Baiklah. Tapi Hyeong harus janji kalau besok lusa Hyeong akan menginap disini. Awas kalau tidak!"putus Ren akhirnya.
"Ne, Hyeong janji."
Dan Ryeowook mengulurkan jari kelingkingnya untuk membuat pinky promise yang disambut semangat oleh Ren. Dan akhirnya Ren turun dengan senyum di wajah cantiknya.
.
.
.
Mobil yang ditumpangi Ryeowook dengan Yesung berada di belakang kemudi itu melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Seoul menjelang malam ini. Tidak ada percakapan diantara keduanya. Bahkan sejak mereka dalam perjalanan pulang dari taman tadi, Yesung sama sekali tidak membuka suaranya.
"Eh? Kita mau kemana, Hyeong.?"Tanya Ryeowook ketika sadar jalanan yang mereka lalui kini bukan menuju ke apartemennya.
"Ke apartemen Hyeong. Waeyo?"balas Yesung tanpa mengalihkan perhatiannya dari lalu lalang kota.
Sebenarnya, Ryeowook juga tahu kalau jalanan ini adalah jalanan menuju apartemen Yesung. Hanya ingin memancing Yesung supaya namja bermata sipit menawan itu bersedia menyuarakan baritone lembutnya yang menenangkan.
Dan setelahnya, suasana kembali hening. Namun anehnya, keheningan ini terasa begitu nyaman mengungkung keduanya. Tak ada yang terganggu dengan keheningan ini. Terasa begitu nyaman seolah keheningan seperti inilah yang mereka butuhkan untuk beberapa lama.
Mobil berbelok dan memasuki basement sebuah gedung apartemen mewah berlantai dua puluh. Yesung mematikan mesin mobil namun tidak keluar. Begitu pula dengan Ryeowook. Seolah masih ingin menikmati suasana hening itu.
"Tidak bisakah kau berubah pikiran?"
Akhirnya baritone itu bersuara lebih dulu dibanding tenor lembut yang lain.
Ryeowook menatap Yesung yang juga tengah menatapnya dengan tatapan memohon. Memohon untuk berubah pikiran. Memohon untuk mengerti ketakutannya. Memohon untuk kelanjutan hubungan mereka.
"Mianhae,"jawab Ryeowook dengan kepala menunduk. Menyesal tidak bisa menuruti keinginan seseorang yang begitu dicintainya ini.
"Mianhae, Hyeong-ie… Aku… aku tidak bisa melakukannya. Kumohon, biarkan saja semuanya seperti ini. Aku tidak akan meminta apapun lagi. Tapi kumohon biarkan semuanya mengalir seperti ini. Jangan perlakukan aku seperti orang sakit, Hyungie-ya."mohon Ryeowook.
Yesung menghela nafas panjang. Sebenarnya, Yesung juga tahu jawaban seperti inilah yang akan Ryeowook berikan atas permohonannya. Tapi Yesung juga berharap Ryeowook bisa berubah pikiran. Yesung sudah berjanji bahwa ini adalah kali terakhir dirinya memohon untuk Ryeowook berubah pikiran. Dan ini juga kali terakhir Yesung akan memohon pada Ryeowook untuk berubah pikiran. Namun ternyata apa? Ryeowook bahkan sama sekali tidak goyah mendengar nada memohonnya. Bahkan, sekian menit yang lalu –memang sudah lebih dari satu jam yang lalu sebenarnya- Ryeowook melihat betapa panic dongsaeng cantik yang begitu disayanginya melihat Ryeowook mengeluarkan darah dari dua lubang hidungnya. Tapi tetap saja, Ryeowook tidak berubah pikiran. Dan tetap pada keputusannya sejak awal. Membiarkan semuanya mengalir tanpa harus bersusah payah melakukan operasi atau semacamnya. Toh pada akhirnya nanti akan pergi juga, ucapnya ketika Yesung bertanya saat itu.
"Kau harus berjanji untuk terus bertahan dan tetap berada di sampingku, Baby. Percayalah, aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku dengan mudah. Ayo kita masuk."ajak Yesung dengan suara lembut di kalimat terakhirnya setelah suaranya tegas sebelumnya.
Yesung membuka pintu bersamaan dengan Ryeowook kemudian meraih tangan berjari nyaris sama dengan miliknya itu dan menggenggamnya erat namun hangat dan lembut bersamaan.
"Aku berjanji sekuat tenagaku, Hyeong-ie~"
"Aku percaya padamu baby."
Dan setelahnya kembali hening hingga Yesung menyuruh Ryeowook untuk membersihkan dirinya seblum keduanya berbaring berdampingan di tempat tidur King Size milik Yesung. Yesung mengecup bibir tipis Ryeowook dan keningnya dalam sebelum memeluk tubuh mungil itu untuk segera menjemput lelapnya.
.
.
.
TBC
Let's go to next chap~~~~ :D
