Author: Athiya064/Kyung064
Tittle: Swallowed by the Dark
(
asli judulnya ambil dari Pricked nya Winner, bagus bgt lagunya!)
Cast: Jeon Wonwoo, Kim Mingyu, Seventeen
Other Cast:
YG&SM&JYP's artists, and other
Rated: T
Genre: Family, M-Preg, Vampir-fict, Romance, Drama, etc.
Language: Indonesian
Desclaimer: I do not own the character(s) but the plots are mine.
Notes: sorry for hiatus for some months, Sorryyyy:'(
Words: 10479
Contact Here: Athiya Almas (Facebook)
Athiya064 . wordpress . com
Happy reading

Aroma kue jahe favorit keluarga Jeon membuat kedua anak Jeon itu berlarian menuju dapur, memiliki anak dengan jarak umur hanya satu tahun kadang membuat keluarga itu sedikit kepayahan mengurusnya. Mereka sering sekali berebutan banyak hal, namun tidak pernah bisa dipisahkan.

Ibu Jeon sampai sedikit menjinjit dan menengahkan adonan kuenya, sementara menjaga anak-anak itu agar tidak mendekati oven yang panas. "Ibu akan berikan kuenya kalau kalian duduk dengan manis, arachi?" kedua jagoan tampannya mengangguk patuh dan duduk manis di sofa cokelat mereka. "Baiiikkk ibu," ucap mereka.

Sang ibu tersenyum dan menghidangkan kue jahenya di atas piring besar disertai dengan dua gelas susu hangat, mereka memekik semangat dan kembali merebutkan kue jahe bergambar mr. ginger itu.

Selesai makan Wonwoo meraih kertas tidak terpakai dan melipatnya menjadi pesawat-pesawatan, Jungkook ikut melipatnya namun memilih kapal sebagai objeknya. "Lihat, kapal punyaku tidak jauh belbeda dengan punya hyung." Pamernya dengan nada cadel, Wonwoo mencibir namun tetap tertawa kemudian bercanda memainkan pesawat miliknya dengan kapal milik Jungkook.

"Hyung,"

"Hm?"

Jungkook menatapnya dengan matanya yang berbinar, "Hyung jangan tinggalin Kookie ne, Kookie tidak bisa kalau tidak cama hyung. Kookie takut petil, Kookie mau menyelinap ke celimut hyung kalau ada petil," Wonwoo yang mukanya lebih sering berekspresi datar seperti ayahnya mengacak rambut hitam Jungkook. "Memangnya hyung mau kemana?"

Adiknya nampak berpikir, "Hyung bilang mau ke Ceoul? Pokoknya kemana caja hyung pelgi, aku mau ikut, titik!" Wonwoo mengangguk paham lalu mengaitkan kelingkingnya dengan kelingkin adiknya, "Arasseo, hyung berjanji."

"Benalkah? Kalau begitu hyung halus janji tidak boleh bohong cama Kookie, celamanya!"

"Ya,"

.

..

Gelap.

Itu yang pertama kali ia rasakan, Wonwoo seketika bergidik ngeri. Tidak pernah seumur hidupnya ia merasa sendirian sesendirian seperti saat ini. Tidak ada siapa-siapa, juga tidak ada apa-apa untuk meneranginya.

Ia ingin melangkah maju, namun takut menabrak. Lagipula dimana ini? Wonwoo ingin meraba-raba, namun kedua lengannya seakan terkunci di sisi tubuhnya, tidak dapat digerakkan sama sekali. Lampu! Ia butuh lampu! Batinnya sudah berteriak sedari tadi, namun tidak sepatah katapun keluar dari bibirnya.

Dan kepalanya benar-benar pening, hidungnya panas sampai ke pangkalnya. Ingin bernafas dengan baik tapi rasa sakitnya semakin menjadi, apa jangan-jangan ia sedang tenggelam saat ini? Ya, bisa saja, ia tenggelam tapi tidak ada yang menyelamatkannya. Parahnya tidak ada yang sadar bahwa ia tenggelam.

Yang ia rasa kematian sudah jauh lebih dekat daripada kehidupannya, kalau ia melangkah satu langkah saja ia yakin ia tidak akan kembali ke kehidupannya. Tapi tidak, ia tidak boleh seperti itu. Wajah ibu dan ayahnya yang sudah tidak pernah ia lihat selama empat tahun ini masuk ke dalam pikirannya. Selain perayaan Natal dan Tahun Baru, ia dan Jungkook tidak pernah kembali ke Changwon.

Dan astaga, Jungkook. Ia tidak boleh meninggal, ia tidak mungkin meninggalkan adiknya sendirian. Ia berjanji untuk selalu bersama adiknya tersebut. Ia bukan tipe orang yang mengingkari janjinya.

Jadi Wonwoo berharap seseorang saja akan mengangkat tubuhnya, menyelamatkannya, dan menariknya ke permukaan. Ia bisa berenang, namun ia yakin akan tetap tenggelam jika ia tidak mampu menggerakkan kaki dan tangannya barang sedikit saja.

Kemudian suasana hening yang sempat ia rasakan tadi perlahan-lahan berubah, ia dapat mendengar suara degup jantung maupun seseorang menarik nafas lambat-lambat. Dan itu membuatnya bahagia, kemungkinan ia akan selamat pasti jauh lebih besar daripada tadi. Ia benci keheningan dan kegelapan, itu membuatnya tidak punya harapan.

Kalau diizinkan bangun, Wonwoo berjanji tidak akan menyia-nyiakan hidupnya. Ada banyak orang yang ingin ia temui, salah satunya yang selalu menyembutnya dengan senyum manis dan tampan sekaligus, gigi taring yang mengintip di setiap tawanya, kulit kecokelatannya, tubuh besarnya yang selalu melindunginya. Ia ingin bertemu Kim Mingyu, dan… anak mereka.

Ia tidak boleh kalah, jadi perlahan-lahan Wonwoo merasakan kedua tangan dan kaki yang awalnya terkunci di tubuhnya dapat digerakkan. Rasanya ganjil, seperti kebas karena lama tidak bergerak. Wonwoo menggerakkannya, meraba-raba, kemudian entah dapat kekuatan darimana ia mendekati cahaya putih yang sedari tadi seolah menunggunya. Tanpa ragu Wonwoo memasuki cahaya tersebut.

. . .

"Wonwoo, sayang?" adalah suara yang ia dengar pertama kali. Sama seperti ketika ia bangun dari koma waktu itu, Mingyu selalu ada di sisinya. Membuat Wonwoo percaya lelaki itu tidak akan pernah meninggalkannya, tidak akan pernah meski ada perempuan cantik seperti Tzu Yu misalnya.

Meski mendapati Mingyu menyambutnya, Wonwoo menatap tubuhnya yang masih berbaring. Tidak seperti hari-hari kemarin, tidak ada perban, gips, maupun infus di tubuhnya. Ia bahkan mengenakan pakaian santai biasa, bukannya pakaian rumah sakit.

Ia memandang langit-langit, sekali pandang saja Wonwoo dapat melihat garis-garis aneh karena bekas cat yang dioleskan dengan kuas yang tidak merata. Ia juga dapat langsung mengetahui besarnya ruangan tersebut dan menemukan batasannya, 6x8 meter, pantas saja luas.

Kembali memandang ke sekeliling, kali ini ia menemukan box bayi tak jauh dari tempat duduknya. Ia hendak bangkit namun Mingyu menggeleng, "Akan aku bawa kesini," gumamnya. Lelaki tinggi itu berdiri, dan menggendong sosok asing yang begitu mungil dalam genggamannya. Pas sekali, dan Mingyu seolah-olah sudah menggendong anak tersebut bertahun-tahun lamanya, terampil.

Mingyu duduk kembali dan mengulurkan anak dalam gendongannya tersebut, "Laki-laki." Terangnya, terlihat jelas dari pakaian berwarna biru yang dikenakan. Bergambar penguin mungil dan celana garis-garis berwarna senada, terima kasih pada paman Soonyoung yang berjasa memberi peralatan bayi selama Wonwoo tidak sadar dan Mingyu yang menungguinya sepanjang hari. Wonwoo langsung punya segudang nama yang akan ia berikan untuk anak tersebut, namun Mingyu tersenyum ganjil. "Jisoo hyung sudah menamainya lebih dulu, dapat inspirasi dari tokoh terkenal, kau tahu yang menciptakan telegraf.. Samuel Morse. Tapi tenang aku tidak akan menamai anakku sandi morse kok hehe, kenalkan, ini Kim Samuel."

Nama yang bagus, sungguh, tapi kebarat-baratan sekali. Wonwoo mendengus tidak suka, ia ingin nama anaknya Minwoo atau bagaimana, tapi tiba-tiba ia membaca pikiran Mingyu 'Sudah dicatatkan dalam akta keluarga,' oh iya, ia lupa sekarang dia adalah vampir pasti waktu perubahannya lama sekali sampai Jisoo berinisiatif begitu. Yaampun Jisoo itu benar-benar.

Wonwoo memandangi anaknya dengan tatapan lembut, "Mingyu, kenapa dia jauh lebih besar daripada ingatanku ya? Memang aku tidak sadar berapa hari?" tanyanya bingung, "Kau tidak sadar tiga hari, lagipula kehamilanmu saja begitu cepat, itu berpengaruh. Dia juga tumbuh dengan cepat," Wonwoo mencium pipi anaknya itu, begitu menggemaskan, tetapi anaknya tidak mirip ia maupun Mingyu sama sekali.

"Benar! Itu yang aku tanyakan, jangan-jangan gara-gara kau sering dekat dengan Hansol dan Jisoo hyung makanya Samuel berwajah bule? Aku harap anakku mirip Daehan-Minguk-Manse, tapi malah bule yang keluar." Mingyu mendengus, Wonwoo terkekeh. "Tetap saja kita orangtuanya, sudahlah,"

Karena takut akan terjadi apa-apa, Wonwoo membiarkan Mingyu menggendong Samuel terlebih dahulu. Ia berdiri dan berjalan dalam gerakan yang cepat, mungkin hanya butuh waktu sepersekian detik saja. Tetapi pandangannya tidak mengabur, semuanya terasa normal, mungkin karena indera manusia dan vampir yang berbeda.

Tangan kokoh Mingyu menahan pintu sebelum Wonwoo membukanya, ia telah meletakkan Samuel di strollernya. "Jeonjonhi, ingat sayang kau adalah manusia sebelum ini. Dan manusia tidak akan memakan manusia, bukan?" peringatnya, Wonwoo mengangguk kaku. Sejujurnya, ia tidak terlalu merasa lapar saat ini. Aneh, padahal ini hari pertama ia sebagai manusia.

Mingyu membukakan pintu untuknya, dan ia mendapati semua mata menatap ke arahnya. "Wow, ada apa?" tanya Wonwoo berusaha rileks, saudara-saudara Mingyu itu masih menatapnya dengan tatapan.. kagum? "Kami kira akan kehilanganmu," Soonyoung buka suara, Wonwoo tersenyum tipis, ya, ia kira juga begitu.

Matanya menatap sosok Jisoo, dan ingin rasanya ia meluapkan kemarahan sejenak pada dosennya itu. Memberi nama anaknya tanpa menunggu persetujuan darinya, tapi ada yang aneh. Suasana di ruang tengah jadi sedikit tegang, Jeonghan dan Jisoo duduk di sofa dengan tangan Jeonghan yang melingkar di lengan Jisoo. Sementara Seungcheol tampak berapi-api dalam posisi berdiri.

"Choi Jeonghan!" tampaknya Seungcheol mengabaikan keberadaan Wonwoo, Jeonghan mendongak dengan tatapan tegas. "Jangan ganti margaku seenaknya, aku sudah mempersilahkanmu, jadi kenapa kau tetap ada di rumah ini? Kau bilang kau punya pasien penting,"

Dan Wonwoo berubah jadi penonton tiba-tiba, tubuh vampirnya membuatnya nyaman meski harus berdiri berjam-jam. Seungcheol beralih menatap Jisoo, yang ditatap hanya tersenyum tipis sambil mengendikkan bahu –isyarat bahwa dia tidak punya solusi—. Tampaknya mereka masih memperdebatkan Seungcheol yang lebih sering menghabiskan waktu di kantor dan jarang bersama Jeonghan.

Lelaki cantik itu menunjuk Seungcheol dengan jari lentiknya, "Kalau tahu akan seperti ini, aku sungguh menyesal. Aku sadar hanya Jisoo yang selalu ada untukku, kapanpun aku membutuhkannya," suara Jeonghan sedikit pecah di akhir kalimatnya, mungkin kalau bisa ia sudah menangis saat ini. "Jangan bawa-bawa orang lain dalam rumah tangga kita!"

Oke.. rumah tangga? Apa mereka sudah menikah selama Wonwoo menjalani masa perubahan?

Tanpa babibu Seungcheol menarik lengan kecil Jeonghan dan membawanya ke lantai dua, meninggalkan Jisoo yang masih diam memandang mereka. "Hyung?" panggil Chan menyadarkan, Jisoo tersenyum kecil dan berjalan ke ruangan tempat Wonwoo dirawat. "Aku boleh melihat Sammy dulu?" baik Mingyu dan Wonwoo hanya mengangguk menyetujui.

Sementara itu dua orang yang masih berseteru tadi tampak sama-sama tidak mau mengalah, Jeonghan memunggungi Seungcheol sembari melipat kedua tangannya di dada, sementara Seungcheol menatapnya dengan tatapan menusuk. "Jadi kau mau bicara apa?" tanya lelaki dengan rambut panjang itu.

Tatapan Seungcheol melembut, "Apa kau kira aku akan bicara dengan punggungmu, hm?" ia membalik tubuh Jeonghan perlahan, membuat Jeonghan menatap lelaki asal Daegu itu kebingungan. "Jangan permainkan Jisoo, dia tidak pantas menerimanya," suara Seungcheol berubah pelan, berupaya supaya Jisoo tidak dapat mendengarnya. "Apa maksudmu?"

Nada Jeonghan terdengar sekali kalau ia tidak terima, permainkan? Siapa yang mempermainkan siapa sebenarnya? "Jisoo mengakhiri semuanya untuk kita, jadi aku harap kau tidak memperlakukannya seperti kekasih, jangan pergi ke Jisoo ketika kita punya masalah. Itu akan menyakitinya, aku tahu kau paham apa maksudku. Mungkin bagimu Jisoo sahabat terbaikmu karena kalian bertemu lebih dahulu, tetapi meski dia yang memutuskan tetapi dia tidak begitu. Dia masih mencintaimu, jadi jangan beri dia harapan semu,"

Pemuda dengan marga Yoon itu terdiam sebentar, kata-kata Seungcheol ada benarnya juga.. tetapi bagaimana? Ia sudah terbiasa dengan keberadaan Jisoo, rasanya ingatannya saat menjadi manusia masih berbekas. "Maafkan aku karena tidak bisa selalu ada untukmu, maaf karena selalu selangkah lebih lambat daripada Jisoo. Aku akan berusaha meluangkan waktu lebih banyak untukmu,"

Seungcheol menariknya ke dalam pelukan, Jeonghan hanya terdiam dengan kedua tangan masih berada di sisi tubuhnya. Bukannya dia tidak mau balas memeluk, tetapi menyenangkan sekali terperangkap di dalam tubuh Seungcheol seperti ini. "Mau berburu bersama?" tawar Seungcheol jahil, berusaha mengalihkan suasana.

"Kau ini!" kesal Jeonghan, tapi kemudian ia tertawa dan mengangguk setuju.

. . .

"Damn, gawat!"

Matahari baru saja terbit di ufuk timur, bahkan udara belum menghangat sama sekali. Dan sebenarnya Seungkwan masih ingin cuddling dengan bantal dan gulingnya lebih lama, kalau saja ia tidak mendengar suara makian itu. Sebelah matanya terbuka dan mendapati Hansol sedang mengacak-acak almari pakaiannya.

Jadi Seungkwan memutuskan duduk, dan menyingkirkan selimut putih ke sisi tempat tidur, kemudian tangannya meraih segelas air mineral di meja nakas. "Oh aku membangunkanmu, maaf Boo." Hansol melirik sekilas, kemudian kembali fokus dengan kegiatannya. Seungkwan yang memang menginap semalam hanya mengangguk sekilas, ia baru tidur jam satu dini hari tadi karena Samuel tidak berhenti rewel. Sungguh rumah ini jadi lebih ramai semenjak Samuel lahir.

Dan jadi menyebalkan karena di pukul tujuh Hansol membangunkannya dengan kegaduhan, "Kau cari apa sih?" tanyanya penasaran, ia berdiri –berniat ke kamar mandi sebenarnya— tapi malah mendatangi Hansol. "Aku tidak punya kemeja warna merah yang bagus, kau ingat dengan jadwal foto angkatan bukan? Kelompokku kebagian warna merah," ah, Seungkwan saja lupa. Tapi ia kebagian warna biru mint, dan ibunya sudah membelikannya.

Seingatnya foto buku tahunan itu masih dua hari lagi, "Lalu?" tanyanya bingung, "Aku mau beli, kau mau ikut?" Hansol menanyainya dengan senyum lebar, "Demi Tuhan Chwe, ini masih jam tujuh! Mana ada mall yang buka? Kau sukses menghancurkan tidurku," dan Seungkwan berbalik kemudian mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.

Hansol sih tertawa kecil melihat Seungkwan yang merajuk kesal, habisnya setelah berburu tadi dini hari ia tiba-tiba teringat. Ia lupa ada Seungkwan yang masih tidur, jadi ya begitulah.

Dengan gerakan cepat ia merapikan kembali baju-bajunya dan menutup lemarinya rapat. Kemudian bergabung dengan yang lain di lantai bawah, ada aroma daging kornet yang sedang dimasak di atas teflon. Bau bawang, entah kenapa Jeonghan masih tahan dengan bau itu, kalau Hansol sih tidak terima kasih. Bawang putih itu baunya sudah mirip dengan kaos kaki busuk baginya, mungkin hidung Jeonghan tidak terlalu sensitif.

Chan setia menanti sarapan berupa bubur dan daging kornet tadi, sambil menunggu Seungkwan. Karena hanya mereka berdua ditambah Samuel yang butuh sarapan. Wajah Wonwoo terlihat sedikit kusut, semalaman menenangkan Samuel sambil berdiri. Untung saja dia sudah bukan manusia lagi, tapi bukan itu sih masalahnya, yang lebih masalah adalah Samuel suka sekali menggigit ketika rewel. Mungkin Wonwoo rela Samuel meminum darahnya, jadi ia terlihat tidak segar seperti itu.

Mengingat Samuel yang suka menggigit membuat Hansol meringis, teringat kejadian beberapa hari lalu ketika Samuel baru lahir, ia harus jadi korban yang pertama. Padahal dia hanya menggendong bayi itu sebentar karena Jeonghan berusaha memakaikannya popok ketika dia mulai rewel. Dan gigitannya sakit, tidak jauh berbeda dengan gigitan vampir dewasa.

"Hyung, kau berantakan," ia berkomentar. Wonwoo mengangguk lesu, "Tidak mau digendong siapapun tadi malam, digendong Mingyu saja ia menjerit keras." Dan itu sukses membuat Hansol tidak punya keinginan untuk punya anak. Dia bisa adopsi satu saja di masa depan, kalau bisa adopsi yang usianya sudah agak besar sehingga mengerti ketika diberitahu dan tidak terlalu rewel.

Tapi tidak bisa dielakkan sih kalau Samuel itu lucu sekali, apalagi ketika matanya terpejam seperti sekarang. Wonwoo mendekapnya sambil mengusap-usap punggung anaknya itu, dan itu membuat Samuel tidur lebih lelap.

Seungkwan akhirnya turun dengan rambut masih basah, ia duduk di meja makan bersama Chan. Menikmati sarapan mereka sambil ditemani oleh Jeonghan yang menceritakan kegiatannya di agensi. Kabar baik, soalnya KJ&W sudah bergabung dengan agensi Jun. setelah selesai makan dan membantu Jeonghan mencuci piring, Seungkwan mendatangi Hansol.

Ia menatap Hansol sekilas, "Jadi tidak?" tanyanya, Hansol langsung mengangguk semangat. "Ya! Mau kemana kalian?" tanya Soonyoung penasaran, "Mall. Kenapa? Jangan ikut!" Hansol langsung melarang kakaknya mengikutinya, bisa hancur rencanya berdua dengan Seungkwan saja.

Soonyoung berdecih, "Dih, bukan. Titip belikan aku jaket baru ya, jaketku robek dicakar singa kemarin." Hansol terkekeh, Soonyoung sih kalau berburu sambil atraksi makanya pakaiannya tidak pernah awet. Tapi ia mengangguk saja.

Segera ia menjalankan mobilnya dalam kecepatan sedang, mall akan buka setengah jam lagi. Jadi ia tidak terlalu terburu-buru, Seungkwan menatap keluar jendela dan membuka jendelanya, mengabaikan fakta kalau AC mobil Hansol menyala. Angin musim dingin menerpa wajah dan rambutnya. "Boo, nanti kau sakit." Tapi ia menggeleng.

Mobil Hansol berhenti di parkiran, mereka berdua keluar. Hansol menggenggam tangan Seungkwan dan mereka mulai mencari kemeja yang pas untuk Hansol itu.

Tetapi Sudah satu jam berputar-putar di dalam departement store tetapi Chwe Hansol belum menentukan pilihannya juga, ia dan Seungkwan mungkin sudah keluar-masuk sepuluh toko tetapi belum ada yang pas menurutnya.

Biar begitu Hansol itu sangat perhatian terhadap penampilannya, jadi Seungkwan diam saja membuntuti kekasihnya. Mereka memasuki toko paling besar dan segera menuju ke bagian kemeja, mata Hansol menangkap dua kemeja merah yang lebih baik daripada yang sebelum-sebelumnya.

"Boo, menurutmu bagus yang mana? Ini atau ini?" tanyanya sambil menunjukkan dua buah kemeja itu, yang kiri warna merahnya lebih gelap, sementara yang kanan merah terang. Kalau Seungkwan sendiri sih suka yang kiri, lebih lembut. "Coba saja keduanya," saran Seungkwan.

"Kajja!" ia kaget soalnya Hansol menggeretnya ke fitting room terdekat. Hansol menanggalkan pakaiannya dan hanya menyisakan kaos dalaman berwarna hitam saja, kemudian mencoba memakai kemeja yang berwarna merah terang. Ia mematut dirinya di kaca, alisnya bertautan.

Kemudian lelaki itu berbalik dan menghadap Seungkwan, "Bagaimana?" tanyanya, Seungkwan memandangi Hansol. "Aku tidak terlalu suka yang ini, modelnya bagus sih." Jawab Seungkwan, "Aku juga berpikiran begitu," kemudian ia melepaskan kancing-kancing kemeja itu kembali.

Dan kali ini menggunakan kemeja yang berwarna lebih gelap, entah kenapa Hansol terlihat jauh lebih dewasa –well memang seharusnya begitu, umurnya dan Seungkwan saja berjarak bertahun-tahun— tapi maksudnya, selama ini Hansol kan berpenampilan layaknya anak SMA. "Tampan," gumam Seungkwan tanpa sadar.

"Benarkah?" tanya Hansol jahil, ia mengangkat kedua alisnya. Wajah Seungkwan langsung memerah, "A—Apa sih kau ini," bantahnya kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain.

Hansol terkekeh geli, "Kalau begitu aku ambil yang ini saja." Seungkwan mengangguk setuju tapi masih memalingkan wajahnya, pemuda asal New York itu maju beberapa langkah hingga tidak ada jarak lagi di antaranya dan Seungkwan. Ia mengelus pipi chubby itu, kemudian Hansol mengecup bibir pink Seungkwan.

Sukses membuat lelaki imut itu membatu, Hansol menciumnya tepat di bibir. Ciuman pertama mereka..

"Well, actually not." Gumam Hansol menjawab pikiran Seungkwan, masih sambil menempelkan bibirnya. Ia menggerakkan bibirnya sedikit kemudian memagut bibir Seungkwan yang sedikit terbuka, menyesapnya lama. "Aku sering mencuri ciuman darimu, tapi kalau yang kau maksud ciuman ketika ketika berdua sadar maka ya, ini ciuman pertama kita." Tambahnya lagi sambil tersenyum.

Seungkwan tidak bergerak, Hansol memejamkan mata setajam elangnya, tetapi kali ini Seungkwan ikut memejamkan matanya dan berusaha membalas ciuman itu.

.

..

Sudah pukul lima sore, hampir menjelang petang sebenarnya. Tetapi seorang Lee Jihoon masih betah tinggal di dalam ruang latihan vokal. Sebenarnya ia ingin pulang, tetapi ia tidak akan pulang sebelum ia mampu menyelesaikan lagu yang akan ia tampilkan di acara amal kampus dengan baik.

Latihan vokalnya sendiri sudah selesai dua jam yang lalu, dan berakhir mengecewakan. Vocal trainernya, Bumzu hyung, memarahinya karena ia tidak dapat menampilkan lagu dengan baik. Bahkan lebih ke arah kecewa karena Bumzu sudah mempercayainya alih-alih mempercayai Lee Seokmin untuk membawakan lagu tersebut, padahal Seokmin terima-terima saja, karena baginya Jihoon punya pengalaman lebih banyak ketimbang dirinya.

Tetapi tidak, Jihoon adalah seorang perfeksionis. Ia tidak ingin ada sedikit kecacatan, apalagi bila kecacatan itu ia sendiri yang membuatnya. Kali ini ia begitu kecewa dengan dirinya sendiri, tapi entah kenapa tenggorokannya seolah tidak mau bekerjasama dengannya. Ia kesusahan mencapai nada-nada tinggi tersebut, mungkin Bumzu benar, suara tenor Seokmin akan jauh lebih pantas.

Namun ia ingin, setidaknya sebelum ia mundur dari posisinya untuk tampil solo di acara amal itu ia harus mampu menguasai lagu ini. Supaya dirinya tahu dimana tempat yang tepat untuknya melakukan improvisasi, tetapi tidak bisa, suaranya jadi sedikit tercekik rasanya.

Dan itu membuat Jihoon mendekam di ruangan tersebut sambil memeluk lututnya, partitur musik miliknya sudah tercecer di lantai ruangan itu, sementara microphone tanpa kabel milik klubnya ia biarkan tergeletak begitu saja. Jihoon benci dirinya yang tidak bisa melakukan apa-apa.

"Hiks," satu isakan lolos dari bibir mungilnya, sakit sekali perasaannya. Biar bagaimanapun menyanyi dan bermusik itu adalah hidupnya, ia merasa tidak berharga sekarang.

Tokk.. tokk..

Pintu ruangan vokal diketuk dari luar, Jihoon buru-buru mengusap air matanya. Siapa tahu itu dari penjaga kampus yang akan menutup kampus, ia bangkit dan membuka pintu tersebut. Namun yang didapatinya malah orang dengan baju biru gelap dan topi hitam yang menutupi setengah wajahnya.

"Delivery gurita bakar dan takoyaki kesukaan Lee Jihoon," orang asing itu mengulurkan satu kantong plastik dengan makanan yang masih panas, aromanya masuk ke dalam penciuman Jihoon. Tanpa sadar perut Jihoon berbunyi pelan, ia ingat, ia belum makan. "Mohon tanda tangan disini—"

"Soonyoung?" panggil Jihoon pelan, ia tahu pasti orang di depannya ini bukan tukang delivery, melainkan kekasihnya Kwon Soonyoung. Sebaik apapun Soonyoung mencoba menyamarkan suaranya, telinga Jihoon tidak dapat dibohongi, itu suara Soonyoung. Apalagi Jihoon dapat dengan jelas mencium bau parfum khas Soonyoung. Tetapi orang di depannya menggeleng, malah menekuk telapak tangannya, dan menumpuk teapak tangan yang lain di atas punggung tangan yang satunya.

Jihoon mematung, tiba-tiba tangan lelaki asing itu bergerak kekiri-kekanan. "Layanan gurita lezat untuk Lee Jihoon~ kyaaak~" mau tak mau seulas senyum tampil di bibir Jihoon, Soonyoung selalu punya seribu cara untuk menghiburnya. "Mwohaneun geoya? Ya Kwon Soonyoung!" ia tertawa lalu menghentikan octopus dance lelaki itu.

Lelaki di depannya membuka topinya, kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ketahuan ya?" Soonyoung tertawa sampai menampilkan deretan giginya yang putih, Jihoon mengangguk, "Eum, sedang apa kau disini? Ayo masuk diluar dingin sekali,"

Keduanya masuk dan duduk di tengah ruangan, Jihoon membuka kotak foam berisi gurita bakar itu. Ia menusukkan tusuk gigi ke salah satu gurita itu dan memasukkannya ke mulutnya, "Aku ingat kau punya latihan vokal hari ini, tapi kuhubungi ponselmu tidak aktif, dan ibumu bilang kau belum pulang. Jadi aku tahu kau pasti disini," jelasnya. Jihoon tersenyum getir, Soonyoung memang selalu menghubunginya untuk memastikan apa Jihoon sudah pulang atau belum, sudah makan atau belum, dan hal-hal sepele lainnya.

Yang lebih mungil menunduk, "Mian, ponselku mati." Jawabnya singkat dan sedikit dingin, Soonyoung tahu Jihoon punya masalah, pikirannya terlalu jelas. Jadi Soonyoung membiarkan Jihoon untuk terus makan, ia mengeluarkan minuman energi kaleng dari saku celananya. "Ini, minum dulu," lelaki bersurai biru itu menyodorkan minuman kalengnya.

Benar-benar perhatian sekali, pikir Jihoon. Ia mendongak menatap Soonyoung yang balik menatapnya dengan raut wajah yang ceria—dalam arti menenangkan, kekasihnya itu tersenyum sampai matanya membentuk segaris. "Aku tidak perlu cerita kan," Jihoon berkata datar, menyingkirkan kotak gurita bakarnya yang sudah habis.

Sebenarnya dia ingin beralih pada takoyakinya, tetapi Soonyoung lebih dulu meraupnya dalam pelukan. "Gwaenchana, jangan salahkan dirimu. Setiap orang tidak bisa menjadi sempurna secara instan, mereka butuh waktu. Semua itu merupakan proses belajar yang benar bukan? Kalau tidak pernah gagal dan dapat ujian, mereka tidak akan pernah naik ke tingkat yang lebih tinggi. Untuk hari ini berhentilah berlatih, bisa-bisa kau malah kehilangan suaramu. Makan saja oke? Kemudian berlatih kembali, jangan terlalu cepat menyerah," Soonyoung berkata di bahu Jihoon, sambil menepuk-nepuk pundaknya lembut.

"Lee Jihoon bukan manusia super, dia harus istirahat terlebih dahulu baru bisa sempurna." Soonyoung menoleh kemudian mencium pipi Jihoon, tapi tanpa diduga Jihoon malah meneteskan air matanya terus. Ia mengusap kasar air matanya dengan lengan bajunya, "Hiks—aku tidak mau menangis, tapi hanya kau yang bisa berkata begitu padaku S—Soonyoung.." Soonyoung mengangguk, menyenderkan kepala Jihoon di dadanya. Tangannya beralih ke tengkuk Jihoon dan mengelus surainya.

Jihoon kadang suka memaksa dirinya sendiri terlalu jauh, mengabaikan waktu istirahatnya. Padahal itu benar-benar tidak baik, kalau bisa Soonyoung sudah membeli waktu istirahat untuk Jihoon.

Cklek!

Lelaki dalam pelukan Soonyung nampak terkejut, sebenarnya Soonyoung sudah mendengar langkah kaki mendekat—indera vampirnya kan tajam— tetapi ia sengaja diam. "Soonyoung! Kita terkunci!" pekik Jihoon panik, Soonyoung hanya mengangguk tanpa melepaskan Jihoon dari pelukannya. "Aku tahu, biar saja. Tidurlah, kau butuh tidur. Hei kau tahu anak Wonwoo sudah lahir, bagaimana kalau besok kita lihat?"

Mendengar itu kepanikan Jihoon menurun sedikit, "Benarkah?" Soonyoung mengangguk. Namun Jihoon memaksa lepas dari pelukan Soonyoung, "Jihoon, aku memang bisa mendobrak pintu itu dengan mudah, tapi aku mau—"

"Sst diam, aku mau makan takoyaki. Sesekali terkunci di kampus tidak buruk, lagipula ada kau." Ternyata Jihoon bukannya ingin keluar, tetapi ingin makan. Dasar tsundere, dan itu membuat Soonyoung tertawa. "Ah jeongmal, kecil-kecil makanmu banyak juga. Aaa ampuuunn!"

Dan Soonyoung lagi-lagi merelakan rambutnya dijambak Jihoon.

. . .

"Samuel, cookie?" tawar Wonwoo yang baru pulang dari supermarket, baru saja selesai berjalan-jalan. Sementara Mingyu ada di kampus mereka, mengirimkan tugas-tugas yang terbengkalai akhir-akhir ini. Jisoo yang mengantarnya menyusul dari arah belakang, Samuel ada di ruang tengah yang sudah diberi pagar pengaman supaya balita itu tidak terbentur.

Anaknya merangkak ke arahnya, Samuel sedikit banyak mirip dengan dia dan Jungkook, suka sekali makan cookies cokelat. Memang seharusnya belum waktunya, tapi tidak tahu kenapa Samuel sudah punya gigi, bahkan sedari lahir. Ingat Hansol yang sudah digigit oleh Samuel ketika usianya baru dua hari.

Jadi di umur sekarang Samuel sudah bisa makan makanan manusia, Jisoo datang dengan setumpuk buku dongeng anak-anak berbahasa Inggris. Karena muka Samuel yang tidak mirip orang Korea, jadi Jisoo dan Hansol sering sekali menyerangnya dengan bahasa Inggris. Dan waktu favorit Samuel adalah sebelum tidur, karena Jisoo samchun akan membacakan dongeng untuknya. Padahal ia tidak mengerti, Jisoo bilang itu bisa membuat otak anak-anak berkembang pesat.

Ya Wonwoo senang-senang saja sih, ia baru masuk kamar Samuel setelah anaknya tertidur. "Samuel, samchun bawakan buku cerita baru untukmu. I'll read it for you tonight," Jisoo tersenyum ramah, Samuel hanya menoleh-noleh saja, tidak tahu apa arti kata-kata Jisoo. Ia masih memakan cookies hingga remahannya mengotori pipi putihnya.

Dengan cekatan Wonwoo meraih tisu basah dan mengusap pipi Samuel lembut, tapi anak itu malah merengut karena merasa ibunya mengganggu acara makannya. "Aigoo, lihat muka merajukmu, mirip ayahmu." Gerutu Wonwoo, lalu menyudahi kegiatan mengelap bibirnya.

Lelaki itu malah mengambil ponselnya, lalu memfokuskan kamera ke wajah merajuk Samuel. Satu foto telah terambil, dengan segera ia mengunggah foto tersebut ke akun jejaring sosialnya.

Wonwoo: Lihat wajah merajukmu kkkk

Dan ia membiarkan ponselnya berdenting beberapa kali, kebanyakan bertanya siapa itu. Wonwoo menjawabnya kalau itu adalah 'adik angkatnya'. Tetapi komentar dari adiknya membuat Wonwoo was-was.

JeonJungkook: anak siapa?

Jadi Wonwoo buru-buru mengetikkan jawaban atas komentar adiknya itu, ia berdoa semoga Jungkook tidak curiga.

Wonwoo: Anak angkat Seungcheol hyung.

Beberapa menit berlalu, Wonwoo menatap cemas pada ponselnya. Apakah adiknya akan percaya? Seharusnya Jungkook percaya bukan, tidak mungkin Wonwoo yang bulan lalu baru saja hamil sudah punya anak sebesar Samuel.

JeonJungkook: Oh, eh hyung eomma datang hari jumat.

Dan Wonwoo bersyukur adiknya tidak bertanya macam-macam lagi.

.

..

"Samuel, andwae! Andwae, okay?" Mingyu menyilangkan tangannya di depan dada, anaknya yang baru saja bisa merangkak menatapnya bingung. Mungkin tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud ayahnya tersebut, "Tidak boleh memberantakkan mainan, kasihan Jeonghannie eommeoni."

Mata Samuel yang bulat menggemaskan itu menatap Mingyu dan berubah terisak, membuat ayah kandungnya itu hampir membenturkan kepalanya sendiri ke dinding terdekat. Ia tidak suka membuat anaknya menangis, tetapi ia harus mengajarkan anaknya itu untuk disiplin.

Sementara ia masih terlarut dalam pikirannya, Seungcheol sudah mengangkat anaknya itu ke dalam gendongan, menggerakkan Samuel dalam gerakan pelan keatas-kebawah membuat anaknya tertawa kecil. "Oh hyung, jangan manjakan dia terus!" pekik Mingyu, Seungcheol itu selalu bertindak sebagai 'kakek' yang menyenangkan, selalu memberi permen Samuel diam-diam padahal Wonwoo sudah bolak-balik bilang Samuel belum bisa makan permen –demi Tuhan Seungcheol kan dokter!-, memberi darah lebih sering daripada memberi susu formula, dan hal-hal lain. Dasar!

Tapi Seungcheol sepenuhnya mengabaikan Mingyu, malahan ia menggoda Samuel sampai balita itu terkikik senang. "Samuel! Hyung punya susu cokelat!" nah, itu dia, satu lagi yang suka memanjakan Samuel. Dino alias Lee Chan, padahal dia itu sudah sering mengorbankan darahnya yang jadi sasaran empuk Samuel tetapi ia tidak pernah menyerah. Samuel menatap susu kotak tersebut berbinar, "Ya! Chan-ah! Ada peringatan susu itu tidak baik untuk anak di bawah dua tahun!" Mingyu seperti kebakaran jenggot melihat anggota keluarganya yang sedikit ngawur dalam memanjakan anaknya.

Lee Chan mendengus, "Samuel sudah sering meminumnya kok, dan dia tidak pernah sakit." Mingyu mendelik, ternyata Dino sering meminumkannya diam-diam. "Nah, Sammy, kau mau minum susu cokelat dari Dino hyung atau minum darah fresh? Yang kali ini AB, kesukaanmu kan?" Seungcheol mengeluarkan kantung darah dari balik punggungnya, sekali hirup saja Mingyu tahu itu darah yang masih fresh, Seungcheol baru pulang dari rumah sakit sepertinya.

Dan insting vampir Samuel keluar, tangan mungilnya menggapai-gapai kantung darah tersebut, Seungcheol tertawa dan menusuk kantung darah itu dengan sedotan. "Iya, iya, boji akan berikan padamu." Seungcheol selalu membahasakan dirinya sendiri dengan 'Boeji' yang bisa berarti 'Aboeji' maupun 'Halaboeji' ya ia sendiri bingung ingin dipanggil ayah atau kakek oleh Samuel. Jadi karena Samuel sering berceloteh 'Meoni-meoni' ketika memanggil Jeonghan, ia ikut saja ingin dipanggil 'Beoji.'

"Ew, aku suka lupa kau juga vampir." Lee Chan mengalihkan pandangannya ketika Samuel minum dengan rakus, sesering apapun ia bergaul dengan vampir tetap saja ia manusia.

Seusai minum darah, Seungcheol mengusap bibir Samuel dengan sapu tangannya, kemudian memberikan air putih untuk menghilangkan bau tajam darah di mulut Samuel. Kali ini balita berumur sebulan itu merangkak ke pangkuan Chan, ternyata ia masih ingat dengan susu cokelat itu. "Kau masih lapar ya?" Chan menyodorkan kotak susunya, Samuel mengangguk pelan, -entah mengerti kata-kata Chan atau tidak—.

"Dda—dda! Yung!" Dino menatap Seungcheol, "Di pikirannya sih itu semacam 'terima kasih hyung' begitu." Jelasnya, Dino mengangguk. "Sama-sama," jawab Dino riang lalu mengelus-elus rambut tipis Samuel.

Sementara yang dari tadi memperhatikan dari jauh bangkit dengan kesal, kemudian masuk ke kamarnya di lantai dua. "Hyung! Aku kesal, mereka memanjakan Sammy terus, padahal aku mau mendisiplinkannya sedikit." Gerutunya pada Wonwoo, "Mana selalu memberi hal-hal yang tidak patut dikonsumsi anak kecil, keterlaluan, bagaimana kalau Sammy-ku sakit?"

Wonwoo sudah biasa menerima laporan ini-itu dari Mingyu, setelah punya anak bukannya makin dewasa Mingyu malah makin mengeluarkan sisi kanak-kanaknya, Wonwoo terkadang suka bingung yang mana bayinya. Perlukah ia mengingatkan Mingyu kalau umurnya sudah delapan puluh tahun sekian?

"Biar saja," jawab Wonwoo santai, Mingyu makin kesal dan hanya berbaring di ranjang mereka, menatap punggung Wonwoo yang sedang fokus dengan sesuatu di laptopnya. Tampaknya Wonwoo berusaha mengejar ketertinggalannya di kampus dan mengerjakan tugas-tugasnya secara online, kebetulan sedang libur semester juga. "Kau jadi mau ke rumahmu?"

Yang ditanya mengangguk, "Eomma sudah datang dari Changwon tadi pagi, dia bilang sudah masak banyak. Hei, bagaimana rasa makanan manusia? Kau tahu aku sudah tidak pernah makan makanan manusia lagi sejak berubah," Mingyu menerawang, "Biasa saja tidak ada rasanya, seperti makan keripik kentang tanpa bumbu. Hanya terasa di mulut tapi tidak mengenyangkan."

Mendengar penjelasan itu Wonwoo jadi sedikit santai, "Baguslah. Aku akan mengepak barang-barang Sammy dulu, untung saja aku sudah beli botol susu yang tidak bening. Aku bisa masukkan darah di dalamnya," balas Wonwoo tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop. "Kita akan menginap?" tanya Mingyu penasaran, dibalas Wonwoo dengan gelengan.

"Kita bisa beralasan kalau Jeonghan hyung tidak mengizinkan Samuel pulang terlalu malam. Aku sampai rela menahan tidak makan dua hari ini supaya suhu badanku normal," Mingyu terkekeh, Wonwoo benar-benar berusaha menjaga identitasnya sebagai vampir.

Wonwoo turun lebih dahulu sementara Mingyu yang membawakan barang-barang mereka, "Aigoo, uri Muel sedang minum apa itu?" tanya Wonwoo begitu sampai di anak tangga terbawah—ada-ada saja panggilan Wonwoo untuk anaknya—,Samuel menatapnya riang, beralih dari pangkuan Chan ke ibunya, dan bukannya merangkak seperti biasanya ia malah berdiri dan melangkah dengan langkah kaki yang belum tegap benar.

Lelaki yang berstatus ibunya itu sukses dibuat terkejut, "Omo! Kau sudah bisa jalan!" Seungcheol yang pertama kali bereaksi, baru lima langkah saja, dan ketika ia akan terjatuh Wonwoo sudah melesat untuk menangkap tubuhnya. "Jalhanda! Sudah bisa jalan," ia mencium pipi Samuel, tidak menyangka hari ini akan datang begitu cepat. Rasanya baru kemarin ia bertemu Samuel.

Balita itu tersenyum lepas, "Jja, ayo kerumah halmeoni." Ajak Wonwoo, mata Samuel beralih menatap Jeonghan, mungkin maksudnya 'Halmeoni yang mana? Bukankah ada Jeonghan?' begitu. "Annio, ini eommaku. Kau harus bertemu dengan halmeoni, kalau kau sudah besar nanti, mungkin halmeoni akan membuatkanmu kue jahe seperti ketika ia membuatkanku dan Jungkook samchun—ah anni panggil dia hyung, ketika kami kecil."

Dan Samuel tampak bersemangat, seperti apa wajah halmeoninya? Dan samchun baru?

.

..

Mobil sedan putih milik pribadi Mingyu itu berhenti di pekarangan rumah mungi Wonwoo, Wonwoo melepaskan safety belt dari baby seat Samuel. "Kau siap?" tanya Mingyu ambigu, namun Wonwoo mengangguk yakin.

"Aigoo, segarnya, aku selalu suka suasana di rumahmu. Lebih hidup daripada di mansion kami," komentar pemuda bermarga Kim tersebut sambil mengambil alih anaknya, "Geurae, di rumahmu itu menyeramkan,"

Wonwoo terdiam sejenak di pintu rumahnya, ragu-ragu untuk menekan bel. Ia memandangi Samuel yang ada di gendongan Mingyu, "Samuel ingat, jangan gigit sembarangan. Kau tidak bisa menggigit halmeoni dan Jungkook hyung, andwae!" ia menirukan cara Mingyu mendisiplinkan anak semata wayangnya itu, dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Eum!" gumam Samuel entah mengerti atau tidak.

Jadi Wonwoo sedikit lega dan menekan bel rumahnya, beberapa detik menunggu akhirnya pintu berwarna cokelat kayu itu terbuka. Sang ibu yang sudah berbulan-bulan tidak ditemuinya kini ada di hadapannya. Wonwoo memejamkan mata sekilas, aroma darah ibunya sungguh menggiurkan, tetapi ia harus menahannya.

Wanita cantik yang melahirkannya belasan tahun yang lalu itu masih mengenakan apronnya, bahkan sebelah tangan masih membawa spatula. Wonwoo tersenyum meski wajahnya datar sekali.

Plak!

Bukannya dapat pelukan atau adegan romantis antara ibu-anak ia malah dapan pukulan di kepala, iya nyonya Jeon baru saja memukul kepalanya dengan spatula. Wonwoo pura-pura meringis sakit, untung saja ia vampir sekarang, karena pukulan ibunya tidak dapat dibilang pelan. "E—Eomma!"

"Nappeun jasshik! Membuat ibu khawatir karena tidak memberi kabar! Anak macam apa yang hanya menemui ibunya ketika Natal? Kau tidak tahu dalam sehari ada tiga keberangkatan kereta api dari Seoul ke Changwon? Atau kau tidak tahu gunanya ponsel? Hah? Ayo bicara!" ibunya mengomel dengan nada tinggi sambil menunjuk-nunjuk Wonwoo dengan spatulanya.

Habis sudah.

Salahkan Wonwoo—ah salahkan Mingyu karena membuatnya tidak dapat menghubungi ibunya dan dapat omelan seperti ini. "Ehehe~" suara tawa kecil dapat menghentikan omelan nyonya Jeon sebentar, wanita berumur empat puluh tahunan itu beralih menatap balita yang baru saja menertawainya. "Ige nuguya? Kau bawa anak siapa kemari Jeon Wonwoo? Dan siapa lelaki ini? Kau membuatku bisa terkena serangan jantung saat ini juga, jigeumeun daedaphae!(answer me right now!)"

Samuel langsung berhenti tertawa dan Mingyu membungkukkan badannya sekilas, berniat menyapa ibu kekasihnya itu. "Eomma, bagaimana bisa aku jelaskan semuanya di pintu seperti ini? Kau tidak ingin mempersilahkan anakmu masuk? Dingin eomma~" Wonwoo merajuk imut, jurus satu-satunya ketika ibunya marah.

Sang ibu menatap anaknya dan bayi yang ada dalam gendongan lelaki asing tersebut, bayi itu wajahnya kebarat-baratan, jelas tidak mirip dengan anak kandungnya maupun lelaki yang menggendongnya. Pipi bayi itu memerah karena suhu yang terlalu dingin, akhirnya nyonya Jeon itu tidak tega. "Masuklah, aku sudah buatkan teh dengan perasan lemon untuk kalian."

Ya sebelumnya Wonwoo memang sudah bilang kalau ia tidak akan datang sendiri, tapi tidak seperti ini juga. Ibunya menggeleng-geleng dan kembali ke dapur, Jungkook mengintip dari balik dapur—ia dapat tugas untuk membalik daging panggang ibunya agar tidak gosong— Wonwoo melambaikan tangan pada Jungkook. "Bawakan tehnya ke ruang tamu Kookie," Jungkook mengangguk dan meninggalkan daging kemudian membawa nampan berisi teh untuk kakaknya.

"Jadi ini anak angkat Seungcheol hyung?" Jungkook membuka suara, Wonwoo mengangguk sekilas. "Iya, dari sepupunya yang berasal dari Amerika. Tapi ia memanggilku eomma dan memanggil Mingyu appa, kami senang-senang saja. Kau tahu kami baru saja kehilangan—" Wonwoo tidak meanjutkan kata-katanya, ia berbicara dengan sedikit berbisik takut-takut ibunya dengar. Dan ia berbohong kalau anaknya keguguran. Untung saja Jungkook percaya.

Mingyu mengambil cangkir teh lemon dan meminumkannya sedikit pada Samuel, "Loh tidak apa-apa dia minum tehnya?" tanya Jungkook, "Tidak apa-apa asal tidak terlalu banyak." Jawab Mingyu dengan senyuman.

Beberapa saat kemudian ibunya selesai memasak, "Dapurnya tidak pernah kalian gunakan sama sekali ya? Ibu bahkan menemukan makanan basi di lemari es," kakak-beradik Jeon itu nyengir, tidak ada dari keduanya yang jago di dapur. Jadi mereka lebih sering delivery dan tidak terlalu memperhatikan isi kulkas. "Bahkan Kimchi dan persimmon yang ibu bawakan Natal dulu masih ada, keterlaluan."

Mereka diam saja mendengar gerutuan ibunya, sampai ibunya memilih bergabung dengan mereka. Ibu Jungkook dan Wonwoo ini mungil –mereka dapat keturunan tinggi dari ayahnya— tetapi ibunya sangat fashionista, cantik, dan sedikit memiliki ehem—swag—ehem. Mungkin terlalu banyak lihat acara style di Channel M.

Sang ibu duduk di tengah, sementara Mingyu sudah menemani Samuel yang ingin duduk di lantai. Untung saja mereka bawa mainan, "Jadi bisa jelaskan kenapa kau tidak menghubungi ibu? Ibu dengar kau bukannya liburan tapi kecelakaan?" Wonwoo mendeath-glare adiknya, ternyata benar adiknya cerita pada ibunya.

Jadi Wonwoo menghela nafas sejenak, "Ne, aku kecelakaan. Segalanya begitu cepat, ketika aku menyebrang ada truck yang lewat. Aku koma dan dirawat oleh kakak Mingyu yang merupakan seorang dokter, dan keadaanku cepat membaik jadi kami rasa tidak perlu mengabari ibu, aku takut ibu khawatir." Jelasnya jujur, ibunya mendesah kesal. "Biar bagaimanapun kau itu anak ibu, ibu perlu tahu apa kau baik-baik saja atau tidak. Ibu sampai hampir terserang demam malam itu, ternyata benar kau sedang tidak dalam keadaan baik. Feelingku tidak bisa dibohongi,"

Lalu mata ibunya beralih pada Samuel dan Mingyu, "Bisa jelaskan siapa mereka?" tanyanya sedikit dingin. "Ah, Samuel! Insahaeyaji(let's greet her) ini halmeoni," Samuel menatap Wonwoo kemudian menatap neneknya itu. "Hah? Halmeoni? Bagaimana bisa aku jadi nenek? Dia anakmu? Kapan kau menikah?! Wonwoo kau tahu ibu—"

"Ibu dengarkan aku dulu, please? Namanya Kim Samuel, anak angkat hyungnya Mingyu, tetapi perwaliannya diserahkan pada kami." Wonwoo kembali harus berbohong, tetapi ibunya sedikit lega. "Ibu kira kau, ah sudahlah, tidak ingin membayangkannya. Lalu dia?"

Akhirnya setelah lama diam Mingyu akan buka suara, ia membungkuk dalam posisi berlutut di depan ibu Wonwoo. "Kim Mingyu imnida, aku kekasih Wonwoo. Dan aku berharap nyonya akan merestui hubungan kami," ia berkata dengan sangat pelan dan menggunakan diksi yang paling sopan.

"M—Musun.."

"Ibu, aku mencintai Mingyu, aku harap ibu akan mengerti." Wonwoo memotong kata-kata ibunya, ikut berlutut di hadapan ibunya bersama Mingyu. Ibunya menyenderkan tubuhnya di sofa, "Aku bisa benar-benar kena serangan jantung sekarang, menerima berita mengejutkan dalam waktu bersamaan. Bagaimana aku akan menjelaskan ke ayahmu nantinya,"

Wonwoo mengelus punggung tangan ibunya, "Biarkan aku dan Mingyu yang berbicara pada ayah, ibu hanya perlu diam saja. Maaf aku mengejutkanmu bu, aku tahu aku bukan anak yang baik." Tetapi ibu mana yang tega membenci anaknya atau sekedar tega merampas kebahagiaan anaknya? Jadi selama Wonwoo bahagia dengan Mingyu, maka sebagai ibu ia akan turut berbahagia.

Tanpa banyak bicara ibunya mendekapnya, mengabaikan fakta suhu badan anaknya yang lebih rendah dari yang ia ingat. "Ibu akan coba mengerti, ibu merindukanmu Wonie." Wonwoo mengangguk paham, "Aku juga bu,"

"Err—aku rasa aku mulai lapar,"

Suara Jungkook menghancurkan suasana haru antara ibu dan kakaknya, "Ah iya, ayo makan." Mereka berjalan ke meja makan, Mingyu mendudukkan Samuel yang tidak bisa diam di atas meja makan. Memang saatnya makan siang juga untuk Samuel, dan biasanya segelas darah segar akan menenangkannya.

Tetapi Mingyu memperingatkan Samuel lewat tatapannya, ia tidak bisa memberikan anaknya itu darah di meja makan seperti ini. Samuel cemberut dan memukul-mukul meja dengan sendok melamin yang ia dapatkan. "Sammy! Kim Samuel! Jangan lakukan itu," Mingyu mengambil sendok dari tangan anaknya dan itu malah menyebabkan anaknya menangis. "Hueee," ia makin kebingungan.

Ibu Wonwoo terkekeh, "Wajahnya tidak mirip kalian, tapi aku yakin kalian punya hubungan yang sangat dekat. Aigoo kemarilah, anak lelaki tidak baik menangis seperti ini," bukannya makan, nyonya Jeon malah menggendong Samuel. Berusaha mendekatkan diri pada cucunya tersebut. "Himdeulji?(it's hard, right?)" tanyanya pada Mingyu, Mingyu mengangguk malu-malu. Teringat ketika Samuel rewel sepanjang hari karena demam atau hanya sekedar lapar.

"Nyonya Jeon, biar saya saja," Mingyu tidak enak pada ibu Wonwoo yang harus meninggalkan hidangannya hanya karena menggendong Samuel. "Ibu, kau bisa panggil aku eomonim atau eomma seperti Wonwoo. Kau anakku juga sekarang, aku dengar dari Jungkook kau yang menjaganya selama ini, aku percaya padamu." Kata-kata itu membuat lelaki tinggi itu tersenyum lebar. Ia berhasil menaklukan ibu mertuanya.

"Lagipula sudah lama rasanya aku tidak menggendong bayi lagi, kau makanlah." Mingyu mengangguk kikuk dan bergabung di meja makan, sementara ibu Wonwoo menenangkan Samuel dengan menggendongnya sampai ruang tamu.

Jungkook menatap pemandangan itu heran, "Hyung, tidak biasanya ibu suka anak-anak. Apa Samuel terlalu menarik perhatian ya?" gumamnya, "Imut bukan dia?" tanya Wonwoo sambil menyendokkan daging ke mulutnya, "Sangat. Aku saja suka, boleh kita main ke rumahmu?"

Dijawab dengan anggukan yakin, "Tentu. Main saja,"

Dan mereka menghabiskan hari itu dengan damai, Samuel sudah tertidur begitu Wonwoo memberikan darah di dalam botol susu itu padanya. Hari juga sudah beranjak petang, keduanya memilih pamit. "Ibu kira kalian akan menginap, padahal ibu akan pulang besok pagi." Wonwoo tersenyum meminta maaf, "Seungcheol hyung tidak membolehkan kami menginap dulu bu, kemarin Samuel baru saja sakit. Ibu hati-hati di jalan, aku akan mengunjungimu dengan ayah liburan depan."

"Ya, ya, ya, terus saja berjanji palsu." Membuat Wonwoo terkekeh, ibunya memeluk Wonwoo lagi tetapi cukup hati-hati karena takut membangunkan Samuel. Nyonya Jeon berjinjit sedikit dan mencium kedua pipi anaknya, "Sampai jumpa bu, aku mencintaimu, sampaikan salamku pada ayah. Dan bye Kookie~"

"Selamat malam, eo—eomma.." sapa Mingyu kaku, sudah lama sekali rasanya tidak memanggil seseorang dengan sebutan 'ibu'. Mereka melambaikan tangan dan berpisah dengan keluarga Wonwoo.

Begitu mobil berjalan, Mingyu menggenggam tangan Wonwoo. "Berhasil,"

. . .

Suara kotak bekal ditutup beradu dengan suara piano mainan yang ditekan-tekan dengan agresif oleh satu-satunya balita disana. Jeonghan menyerahkan dua buah kotak bekal berisi roti selai itu pada Dino dan Seungkwan, sementara Mingyu memberikan kotak bekal yang berisi lasagna bikinannya. "Eomma, aku dan Seungkwan hyung jadi mirip anak-anak lagi kalau dibawakan bekal terus," gerutu Dino.

Membuat Jeonghan dan Mingyu tertawa, "Sudah terima saja, sebelum perhatian kami beralih pada Samuel." Candanya, Dino makin mendengus, "Dino—ya, nugu aegi?" gurau Jeonghan dengan gurauan yang paling dibenci Dino. "Jeonghan eomma aegi," jawabnya setengah tidak rela.

Jawabannya membuat Jeonghan tersenyum lebar, "Jalhaesseo," lalu mengelus-elus rambut Dino, "Ugh, sampai kapan kalian akan begitu terus." Kali ini giliran Seungkwan yang protes, "Boo Seungkwan, nugu kwiyeomdeongi?" Jeonghan tidak berhenti melakukan candaannya.

Dan pertanyaan itu membuat Seungkwan memutar kedua bola matanya, "Jeonghan hyung—argh! Aku tidak mau melakukannya!" protesnya kesal, yang lain hanya menertawai ekspresi Seungkwan yang epic.

Mereka melambaikan tangan pada Dino dan Seungkwan yang pergi sekolah bersama Hansol, Jeonghan sendiri baru akan ke agensi nanti siang, sementara Mingyu, Soonyoung, dan Wonwoo kan dalam masa libur semester begitu pula Jisoo selaku dosen mereka. Seungcheol turun dari tangga dengan senyum misterius.

'Ada apa?' tanya Jeonghan dalam pikirannya. "Coba tebak, kita akan kedatangan tamu istimewa hari ini,"

"Omo! Jinjja? Mereka akan datang?" Soonyoung melonjak dari kegiatannya menemani Samuel bermain, sampai-sampai Samuel terkejut sendiri. Jeonghan bingung, mencoba membaca pikiran Seungcheol tapi tidak tahu siapa yang dimaksud.

Sementara Soonyoung dan Mingyu sudah bereuforia sendiri, "Sepupu Jun, bos dari agensimu saat ini." Mata Jeonghan melebar, dia memang tidak pernah bertemu dengan Junhui secara langsung meskipun agensi milik Jiwon sudah menjadi milik lelaki asal Shenzhen tersebut.

Itu sukses membuatnya penasaran seperti apa rupa sepupu itu, "Minghao-er juga ikut kan?" tanya Soonyoung lagi, Seungcheol mengiyakan. Mereka pernah bertemu dengan Jun dan Minghao beberapa kali sebenarnya tetapi itu sudah lama sekali. Sekitar dua belas tahun yang lalu, JunHao adalah orang sibuk dan keduanya sama-sama suka travelling. Jadi frekuensi untuk bertemu dengan mereka sangat kecil, mereka bisa ada di Korea hari ini dan ada di belahan dunia yang lain besok.

Pantas saja Seungcheol tiba-tiba membawa banyak kantung darah, ternyata ada tamu. Mereka menunggu kedatangan sepupu mereka itu, karena menurut Seungcheol pesawat mereka akan sampai siang hari ini.

Pukul tiga siang, Wonwoo baru saja memandikan Samuel yang sudah lebih aktif daripada sebelumnya. Ia memakaikan bedak bayi beraroma lavender dan buru-buru mengancing bajunya, samar-samar ia mendengar suara deru ban mobil beradu dengan aspal. Suaranya asing, tidak seperti pembawaan Jisoo yang kalem ketika mengendarai, tidak seperti Seungcheol yang membawa mobil dengan kecepatan rata-rata, maupun tidak mirip dengan Mingyu, Hansol, dan Soonyoung yang suka ngebut.

Dan samar-samar ia mendengar percakapan dalam bahasa asing yang tidak ia mengerti, jadi bisa dipastikan itu adalah sepupu Junhui dan Minghao. "Mma, eomma.." suara itu menyadarkan Wonwoo, "Eh, anak eomma sudah bicara," tapi mendadak ia geli, "Ah anni, appa! Bukan eomma, kenapa aku menyebut diriku sendiri eomma?" gumamnya bingung.

"Eomma!" tiba-tiba Samuel mengeraskan suaranya, "Ah arasseo, panggil saja aku begitu. Kalau sudah besar pasti kau akan mengerti," Wonwoo terkekeh karena Samuel belum fasih berbicara, ia hanya mampu mengucapkan beberapa kata saja dengan benar. Lelaki itu menggendong Samuel dan membawanya ke ruang tamu.

Tak lama deru mobil itu terdengar makin dekat, sang pengemudi memelankan laju kendaraan di halaman rumah keluarga Choi. Kemudian menghentikan mesin dan memarkirkan mobil berwarna merah tersebut. Seungcheol dan Soonyoung berhenti di depan pintu dengan senyum mereka, seorang lelaki dengan rambut cokelat karamel dengan gaya rambut spike berjalan mendekat.

Wajahnya mengingatkan Wonwoo pada seseorang, lebih tepatnya pada artis Kim Heechul. Mungkin dia versi lebih manly daripada Heechul, yang jelas lelaki itu sangat tampan. "Hyung!" ia berubah ceria begitu menemui Seungcheol, memeluk sekilas lelaki tersebut. Dan beralih pada Soonyoung yang menyapanya dengan 'salam-tinju'. Di belakang lelaki itu muncul lelaki lain dengan rambut ungu tampak berjalan dengan berbagai tas di tangannya. "Ya! Junnie hyung, tidak ingin membantuku?" kesalnya dengan aksen Korea yang aneh.

Bukannya membantu Jun malah melangkah masuk dengan santai, Soonyoung menawarkan diri untuk membantu. "Dia sangat menyebalkan," gerutu lelaki yang bisa dipastikan bernama Minghao itu. Seungcheol mempersilahkan mereka berdua untuk duduk di sofa.

Jeonghan muncul dari belakang, "Annyeonghasseyo sajangnim," sapa Jeonghan sambil menundukkan kepala sekilas pada Jun, "Eh, jangan memanggilku begitu Jeonghan hyung. Senang ada model seterkenal dirimu bergabung dengan kami, dan aku tidak menyangka kekasih Choi Seungcheol akan secantik ini di kehidupan nyata." Jeonghan tampak bingung, tapi kemudian ia tahu kalau Jun membeku di usia yang lebih muda darinya. "Ah—ye, kalau bukan karena perusahaanmu, aku pasti sudah tetap menjadi mesin uang KJ&W. lagipula aku bukannya cantik hehe,"

Mata Junhui menatap ke anggota-anggota baru keluarga tersebut, "Namamu siapa?" tanyanya tanpa basa-basi pada Wonwoo dan Samuel, Minghao sampai mencubit lengannya untuk mengingatkan. "Ah, aku Jeon Wonwoo. Dan ini Samuel—"

"Anak Mingyu? Kau istrinya?" kali ini giliran Mingyu yang menggeplak kepala Jun, lelaki itu memang suka sedikit aneh. "Iya itu anakku," jawab Mingyu setelah selesai menyerang Junhui. "Hah? Jinjja? Beda sekali," komentar Junhui, membuat Wonwoo terkekeh. Ternyata sepupu mereka itu sangat lucu.

Kembali Jun mengamati mereka, "Aku tidak lihat Hansol." Gumamnya, "Hansol sekolah, tidak ingat? Lagipula ada Chan dan Seungkwan juga," jawab Seungcheol. "Aish, apa kalian tidak lelah berulangkali mengulang sekolah dan kuliah?" protesnya kesal.

Minghao meringis meminta yang lain memaklumi Jun, "Ah ya, kami punya berita untuk kalian. Kebetulan kami baru saja pulang dari Italia," perkataan Minghao membuat perhatian mereka teralihkan, "Kalian bertemu dengan Leo? Apa yang ia katakan? Apa ia akan datang kemari? Bagaimana nasib Chan dan Seungkwan nantinya?" Seungcheol bertanya bertubi-tubi.

Mereka ingat benar bagaimana dinginnya Leo, "Ada dua hal. Kabar buruk, dan kabar baik. Kabar buruknya adalah, Tzu Yu dieksekusi, kami hadir dalam upacaranya." Minghao berkata lirih, tidak ingin mengingat bagaimana kepala wanita itu dipisahkan dari tubuhnya. Jujur saja ia tidak tega, lagipula Tzu Yu masih sangat muda.

"Ne?!" Wonwoo menyuarakan keterkejutannya, sekesal apapun ia dengan wanita itu tidak mungkin ia setega itu untuk membunuhnya. "Bagaimana bisa? Apa yang ia lakukan sampai membuatnya dieksekusi?" Soonyoung tak mengerti, menurut cerita Seungcheol dulu, kerajaan tidak akan mengeksekusi vampir dengan mudah. Bagaimanapun mereka juga keluarga meski ada di klan yang berbeda.

Jun menegakkan tubuhnya, "Pengkhianatan. Sebenarnya Tzu Yu hampir saja menikah dengan Yugyeom setahun lalu, bahkan Jackson sudah berencana merekrut Yugyeom ke dalam klannya. Namun ternyata Yugyeom jatuh cinta pada orang lain. Ia frustasi dan entah mengapa ia menjadikan Mingyu pelampiasan, aku dengar ia sempat merebut Mingyu?" Mingyu mengangguk menanggapi pertanyaan Jun.

Kemudian Jun melanjutkan perkataannya kembali, "Tetapi Mingyu mengabaikannya, ia kesal dan malah pergi ke Leo seorang diri untuk melaporkan bahwa klan Seungcheol hyung memiliki manusia di dalamnya. Bukannya dapat dukungan, Leo malah santai saja, ternyata diam-diam ia sudah tidak membenci manusia lagi. Ada seseorang bernama Cha Hakyeon membuatnya jatuh cinta—dan orang itu manusia. Leo sendiri mengaguminya sebagai manusia, dan tidak ingin merubahnya sebagai vampir cepat-cepat."

Penjelasan Jun sedikit tertunda karena Jisoo datang, lelaki itu baru saja pergi rapat dengan dosen-dosen lain. Ia terkejut mendapati Jun dan Minghao ada di rumah mereka, kemudian menyapa mereka dengan pelukan. "Dan sepertinya Hakyeon-ssi membuat Leo tidak dingin dan kejam lagi, bahkan mungkin ia dibutakan oleh cinta, karena ia sampai berencana merubah peraturan vampir dilarang berinteraksi dengan manusia itu,"

Semuanya terkejut, mereka tidak tahu apa-apa soal itu. "Dan itu tentu membuat Tzu Yu marah, malah sempat membeberkan keadaan Samuel yang merupakan anak setengah imortal. Kau tahu itu juga terlarang dalam kehidupan vampir. Tetapi Leo marah dan langsung menghubungi Jackson sebagai ketua klan, menurutnya Tzu Yu melanggar peraturan bahwa vampir harus menjaga kedamaian, bukannya saling mengkhianati. Apalagi Seungcheol dan Jackson cukup dekat,"

Ternyata seperti itulah kejadiannya, dan itu bertepatan ketika Jun dan Minghao ada di Italia. Jeonghan membawakan gelas-gelas berisi darah untuk mereka, bertepatan dengan Seungkwan, Hansol, dan Chan datang dari sekolah mereka. Rumah itu jadi bertambah ramai, Seungcheol juga menawarkan agar Jun dan Minghao bergabung saja ke klan mereka dan berhenti jadi nomaden. Tetapi Jun dengan halus menolak permintaan tersebut, ia dan Minghao suka mengeksplor tempat baru. Dan belum siap untuk terikat di dalam sebuah klan.

Seungcheol mencoba memaklumi hal itu dan tidak memaksa mereka, tetapi mengingatkan apabila Junhui kehabisan uang untuk jalan-jalan—yang mana itu sepertinya tidak mungkin karena ia selalu menerima royalti— Seungcheol dan keluarganya siap menampung mereka.

"Ppa~ ppa~" Samuel merengek, sepertinya mengantuk. Sudah jam sembilan malam, terlewat satu jam baginya untuk tidur. Orangtuanya sepertinya terlalu asyik berbincang sehingga lalai sedikit. Mingyu sendiri ada di lapangan belakang ikut menyaksikan ssireum yang sedang seru, Soonyoung baru saja terpental karena dibanting oleh Seungcheol dalam first match mereka. Dan Wonwoo sedang berusaha mengenal lebih jauh sepupu barunya. Jadi Samuel yang tadi bermain dengan balok mainannya hanya sendiri di ruang keluarga.

Jisoo mendengar rengekannya dan berjalan mendekat, "Mau Samchun nyanyikan lullaby untukmu hingga kau tertidur?" tawarnya, selain orangtuanya dan JeongCheol, Samuel sangat lekat dengan Jisoo. Lelaki itu memainkan perannya sebagai paman yang baik dan selalu memanjakannya, membacakannya buku sebelum tidur, meninabobokannya dengan suara yang merdu.

Langsung saja Samuel melingkarkan kedua tangan mungilnya di leher Jisoo, sementara pamannya itu membawanya masuk ke kamarnya. Jisoo membaringkan Samuel yang sudah setengah terlelap itu. Jisoo menyanyikan sebuah lagu berbahasa Inggris berjudul 'You are My Sunshine' yang sering ia lantunkan untuk menidurkan Samuel, tak lama Samuel benar-benar terlelap.

Jisoo menyelimutinya dengan selimut bergambar Pororo. "Selamat tidur Sammy," gumamnya lalu mencium dahi keponakannya itu sekilas. Pintu kamar terbuka, Wonwoo mengintip dan mengucap terima kasih tanpa suara.

Sebuah hari panjang telah mereka lewati.

. . .

"Samuel! Kim Samuel!"

"Samuel appa bilang jangan lari-lari lagi hei! Hei Samuel JANGAN GIGIT SOONYOUNG SAMCHUN— ugh terlambat."

Anak kecil berumur –umur aslinya sih baru satu tahun—tapi karena gen vampirnya ia jadi terlihat seperti anak berumur empat tahun, dan mulutnya sedikit dipenuhi darah, "Ya! Aish anak sial—eh maksudku siapa! Kim Mingyu, jauhkan anakmu ini, ini sudah hampir ke dua puluh tiga kalinya aku digigit."

Mingyu tersenyum meminta maaf, Samuel yang takut dengan nada suara Soonyoung yang meninggi berlari kecil ke pelukan ayahnya. Setelah umurnya satu tahun Seungcheol menemukan Samuel memiliki kekuatan yang sedikit berbeda dengan orangtuanya, ingat bukan ketika Mingyu tidak dapat menghapus pikiran Wonwoo? Samuel menggabungkan kekuatan kedua orangtuanya, yaitu ia mampu membaca pikiran sekaligus memanipulasi pikiran orang lain, tetapi tidak ada yang bisa menembus pikirannya kalau Samuel tidak menghendakinya. Keistimewaan itu tentu membuat orangtuanya terkejut sekaligus senang, Samuel bisa melindungi dirinya nanti. "Samuel, no no, tidak boleh. Tidak boleh menggigit orang lain, kalau kau lapar bilang pada appa."

"Nanti appa akan memberiku kantong darah lagi, aku tidak mau, rasanya pahit." Rajuk anak semata wayangnya itu, Mingyu menatap Samuel bingung, "Aku maunya berburu seperti Hansol samchun dan yang lain, keren. Makanya aku latihan berburu," jawab Samuel dengan bahasa Korea yang lumayan fasih.

Soonyoung bangkit dibantu Jihoon yang membalut luka gigitannya, "Dan menjadikanku dan Hansol sebagai bahan percobaan buruan? Tidak Samuel, itu tidak boleh!" protes lelaki berambut biru mencolok itu, Soonyoung benar-benar memilih warna yang kelewat ekstrim untuk rambutnya.

Wajah hispanic Samuel menatap Mingyu dengan tatapan memohon, jangan tanyakan pada Mingyu dan Wonwoo kenapa anaknya bisa berwajah bule seperti ini. Tidak, Wonwoo bukannya selingkuh atau bagaimana, ia juga tidak tahu kenapa yang keluar dari rahim Wonwoo bentuknya seperti ini. Mungkin karena waktu hamil Wonwoo kebanyakan dekat dengan Jisoo—Mingyu benci mengingatnya— atau mungkin karena ia dan Wonwoo jadi sering nonton film Hollywood di bioskop, atau karena Hansol jadi suka dekat-dekat dengan Wonwoo ketika kekasihnya hamil. Tapi benar-benar deh Mingyu sendiri masih penasaran kenapa memiliki anak berwajah bule.

Jadi banyak orang yang terkejut juga kalau ternyata Samuel lancar sekali berbicara bahasa Korea, ia jago berbahasa Inggris juga karena terlalu dimanja Jisoo dan terlalu sering diajak bermain Hansol. Kalau dekat dengan ayahnya terus sih jangan harap bahasa Inggrisnya bagus.

Tapi Samuel mewarisi sifat orangtuanya, matanya perpaduan milik Mingyu dan Wonwoo, kulit putih pucatnya jelas saja menurun dari Wonwoo, dan sifat jahilnya menurun dari Mingyu. "Eomma!" Samuel melonjak-lonjak ketika melihat Wonwoo keluar dari rumah dengan kue di tangannya, ia berlari dan merebut kue itu, Wonwoo sih diam saja toh hanya Samuel yang makan makanan manusia di rumah ini.

Wonwoo berjongkok dan mensejajarkan tingginya dengan Samuel, mengusap sudut bibir anaknya yang ada bercak darahnya. "Jadi siapa yang kau gigit hari ini? Paman Hansol atau paman Soonyoung?" Samuel nyengir, ia lebih takut pada ibunya daripada ayahnya. "S—Soonyoung samchun eomma,"

Ia mengaku lirih, Wonwoo jadi tidak enak pada Soonyoung. "Jangan lagi, kalau begini terus kapan kau bisa masuk sekolah dan berbaur dengan manusia? Yang ada kau membunuh teman sekelasmu," nasihat Wonwoo, Samuel merajuk imut, ia ingin sekolah, bosan di rumah terus. Lagipula semua yang di rumah ini akan kembali mendaftar SMA seperti rutinitas mereka biasanya, Seungcheol juga akan segerah pindah ke rumah sakit, dan begitupula Jisoo dan Jeonghan yang mulai mencari tempat kerja baru.

"Mianhae, eomma."

Lelaki itu menghela nafas pelan, meski sebenarnya tidak diperlukan. "Baiklah, jangan diulangi kembali. Nanti dimarahi Seungcheol samchun, kasihan Hansol samchun dan Soonyoung samchun, okay? Dan satu lagi, jangan panggil eomma, biasakan panggil appa atau daddy atau apa saja. Aku bahkan bukan perempuan,"

Samuel menggeleng keras, "Tapi aku lahir dari perutmu, jadi maunya panggil eomma, atau mau dipanggil mommy saja?"

Sebelum anaknya itu berbicara macam-macam, Wonwoo sudah buru-buru mendorongnya ikut kelas bahasa Inggris bersama Jisoo. "Sana, belajar bahasa Inggris supaya cocok dengan wajahmu, anak nakal." Meski kata-katanya sedikit jahat, tapi Wonwoo mencium kedua pipi gembil anaknya itu, dan Samuel mengangguk kemudian berlari ke dalam rumah.

Wonwoo dan Mingyu memang berencana memasukkan Samuel ke sekolah tahun ini, namun tidak jadi. Karena Seungcheol bilang Samuel masih bertumbuh dengan pesat sehingga bisa mencurigakan bagi manusia, selain itu Samuel belum bisa menjaga sikapnya dengan baik. Mau bicara apa mereka kalau Samuel menggigit temannya –atau lebih buruk lagi menggigit gurunya?—.

Soonyoung baru saja diwisuda, dan itu membuatnya lebih sering ada di rumah atau sekedar memberi tutor pada Jihoon yang menjalani tahun senior di kampus. Jisoo duduk di depan Samuel yang tidak mau diam, padahal ia sudah menuliskan banyak hal di papan tulis. "Samuel, kalau kau berhasil fokus selama pelajaran samchun akan belikan kau mainan baru, mengerti?"

Mendengar tawaran tersebut Samuel langsung fokus, ia percaya pamannya ini karena paman Jisoo tidak pernah berbohong.

"Fuck!"

Jisoo langsung menoleh mendengar kata kurangajar itu keluar dari mulut adiknya, "Vernon!" tegurnya, ia selalu memperingatkan yang lain agar tidak berkata kasar di depan Samuel, kalau bisa tidak berkata kasar selamanya. Apalagi adiknya tadi berkata kasar hanya karena kalah dalam permainan, benar-benar! Hansol menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan, tanda peace.

Sementara Samuel mendongak penasaran, "Uncle, what does 'fuck' mean?" tanyanya polos. Hansol langsung kabur tak bertanggungjawab, sementara Jisoo mematung sejenak. Mau jawab apa dia? Apa dia harus menjelaskan arti kata itu sebenarnya—yang tidak patut didengar anak kecil— ataukah ia menjelaskan arti kata itu sebagai makian?

"Samuel, nonton pororo saja ya. Lihat, dubbingnya bahasa Inggris."

Sayangnya Hong Jisoo masih merupakan orang baik dan alim yang tidak akan mengotori pikiran keponakannya sendiri.

Epilogue

Sudah empat tahun berlalu, kali ini Samuel sudah benar-benar berhenti bertumbuh. Pertumbuhannya setahun ini adalah yang paling pesat, ia sudah berubah setara dengan anak-anak atau remaja berusia empat belas tahun.

Dan tahun ini pulalah Seungcheol memutuskan pindah ke Daegu, tanah kelahirannya. Orang-orang di Seoul tampaknya mulai curiga dengan dokter Choi yang terlalu awet muda dan keluarganya yang tidak menua. Sebelum kecurigaan itu bertambah maka mereka harus pindah dan menyamar sebagai penduduk baru lagi.

Untuk data diri, Soonyoung dengan segala kenalannya membantu mereka membuat data diri yang baru. Termasuk untuk Samuel yang dicatatkan sudah berumur empat belas tahun. Oh iya, kali ini klan Seungcheol genap berjumlah sebelas—ah mungkin akan segera menjadi dua belas atau tiga belas?

Jihoon, Seungkwan, dan Dino telah diubah menjadi vampir. Jihoon sendiri ternyata menderita Leukimia, baru stadium dua, tetapi ia selalu kabur dari agenda kemoterapi rutinnya. Soonyoung bahkan menemukannya di atap rumah sakit ketika ia berniat bunuh diri, Jihoon bilang ia tidak kuat lagi merasakan sakitnya dan tidak mau menyusahkan orangtuanya karena perawatan kanker membutuhkan biaya yang sangat besar. Karena tidak tega Soonyoung menjanjikan satu hal; merubahnya menjadi vampir. Dan Jihoon menyetujuinya.

Sementara Dino dan Seungkwan malah terkena bencana tidak diduga, yaitu sebuah terserang virus yang mematikan. Akhir semester kemarin, sekolahnya mengadakan perjalanan wisata ke Asia Tenggara. Seungkwan, Dino, dan Hansol turut serta. Tanpa diduga disana mereka terserang virus. Bahkan beberapa tidak dapat diselamatkan, untung saja Seungkwan dan Dino belum terlalu parah. Karena tidak memiliki pilihan lain –virus itu belum memiliki penangkalnya— akhirnya Hansol merubah Seungkwan, dan Dino.

Sehingga sekarang klan Seungcheol terdiri dari; Seungcheol, Jisoo, Jeonghan, Soonyoung, Jihoon, Mingyu, Wonwoo, Vernon, Seungkwan, Dino, Samuel. Dino sendiri, ketika sudah berubah menjadi vampir ia sempat ikut bersama Jun dan Minghao berkeliling dunia, dan di Jepang dia bertemu dengan seseorang yang lebih muda darinya setahun. Seseorang itu tersesat dan Lee Chan menawarkan bantuan pada anak itu, dia adalah Kim Dongjin. Dan Chan tidak tahu mengapa ia bisa terpesona pada seseorang dalam pandangan pertama?

Masih ingat dengan Hanbin dan Seokmin? Teman Wonwoo di kampus dulu? Hanbin sudah mewujudkan mimpinya untuk debut di bawah agensi bos Jeonghan, Kim Jiwon. Setelah Hanbin melangsungkan konser bersama grupnya untuk pertama kali, Jiwon melamar Hanbin dan keduanya menikah di Amerika, tempat Jiwon dibesarkan. Jeonghan, Seungcheol, Wonwoo, dan Mingyu hadir ke acara mereka. Wonwoo senang temannya bahagia, dan Jiwon bukan merupakan orang yang jahat meski ia pernah dekat dengan Seolhyun maupun menjadikan Jeonghan sebagai mesin uang. Dibalik itu ia adalah sosok yang cukup baik.

Sementara Dokyeom sendiri awalnya mengajar di sekolah vokal di Seoul, namun Wonwoo malah menyarankannya untuk masuk ke cabang agensi J&M entertainment yang ada di Korea. Tanpa diduga Seokmin lulus tanpa halangan, bahkan masa traineenya hanya sekitar enam bulan. Ia kemudian didebutkan sebagai solois, dan lagunya cukup sukses merajai beberapa chart online di Korea. Suatu saat Jisoo kebetulan datang ke agensi itu, dan bertemu Seokmin –nama asli Dokyeom—. Dokyeom tentu saja masih ingat dengan dosen tampan itu, karena tidak ada schedule Dokyeom memutuskan mentraktir Jisoo di restauran favoritnya. Keduanya ternyata cukup cocok dan dekat dengan cepat, dan Jisoo saat ini sedikit ragu apa ia harus memberitahukan identitas aslinya atau tidak?

Wonwoo dan Mingyu sendiri setelah lulus memutuskan untuk tidak masuk ke universitas baru karena ingin fokus mengasuh Samuel, Mingyu sendiri sedang membangun restauran karena tangan jeniusnya mampu menghasilkan masakan-masakan baru bercitarasa tinggi. Sementara Samuel mereka kirim untuk sekolah bersama paman-pamannya, tetapi di sekolah ia memanggil Dino, Seungkwan, dan Hansol sebagai 'kakak' walau kadang keceplosan juga sih.

Keluarga kecil ini sedang berlibur di Jeju-do, Mingyu memutuskan untuk berlibur bersama keluarga karena hal itu jarang sekali terjadi. Wonwoo melepaskan sepatunya dan berjalan ke bibir pantai dengan kaki telanjang, membiarkan kakinya diterpa deburan ombak. Ia mengawasi Samuel yang malah berenang di pantai yang tidak terlalu dalam, air yang hangat karena disinari matahari musim panas memang sangat cocok untuk berenang.

Sepasang lengan memeluk Wonwoo dari belakang, "Menikmati pemandangannya hum?" tanya lelaki itu dengan suara rendahnya, Wonwoo mengangguk. "Sangat, tidak heran kenapa Seungkwan selalu berceloteh tentang Jeju. Tapi kau tidak harus menyewa pantainya untuk kita juga, Kim! Pantainya jadi terlalu sepi sekarang," gerutu Wonwoo main-main, tetapi itu benar, Mingyu memang menyewa pantainya hanya untuk mereka bertiga seharian ini.

Gerutuan itu membuat Mingyu terkekeh pelan, masih belum melepaskan pelukannya. "Karena aku ingin memberikanmu ini," tiba-tiba ia sudah mengulurkan sebuah kotak ke depan wajah Wonwoo, kotak beludru berwarna biru itu membuatnya penasaran, kemudian membukanya. "Kalung?" tanya Wonwoo bingung.

Mingyu mengangguk, "Kalung menyimbolkan keeratan sebuah hubungan, aku ingin hubungan kita semakin erat. Tidak ingin mendengar perpisahan, apalagi sekarang sudah ada Samuel. Sebenarnya aku ingin mengatakannya sedari lama, tapi entah mengapa aku ingin menundanya sampai Samuel sudah benar-benar tidak bertumbuh lagi—"

"Kau melamarku?" tanya Wonwoo langsung.

"Eum.. aku rasa—yeah?"

Plak!

Orang bilang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, sepertinya itu benar adanya. Ingat ketika ibu Wonwoo memukul kepala anaknya begitu melihatnya di pintu rumah mereka? Wonwoo juga baru saja memukulnya di kepala ketika ia sedang melakukan sesuatu yang romantis, benar-benar apa mereka tidak tahu arti romantis? Kesal Mingyu.

Ia merengut, "Kenapa kau memukulku?" tanyanya bingung, "Kenapa baru melakukan sekarang? Kukira kau tidak serius denganku, kukira kau hanya bertahan karena ada Samuel. Dan apa-apaan ini? Kalung? Kau kira aku yeoja hah? Dengar tuan Kim yang terhormat, lebih baik kau segera membawaku ke altar dan berikan cincin pernikahan itu disana, kau buruk sekali! Harusnya kau itu—"

Komentar panjang dan pedas yang sangat jarang keluar dari mulut Wonwoo akhirnya terhenti begitu Mingyu mencium bibirnya lembut. "Kenapa kau cerewet sekali? Aku ingin melakukannya bertahap," jelas Mingyu dan kembali melumat bibir Wonwoo. "Bodoh," kesal Wonwoo namun pipinya merona samar, Mingyu mengelus pipi pucat Wonwoo. Ia senang karena mereka merupakan jenis vampir yang masih memiliki sedikit darah di tubuh mereka, karena pipi merona Wonwoo adalah favoritnya.

"Eomma, appa?" ciuman mereka terputus, ternyata Samuel sedang menatap mereka berdua. "Ya, kenapa sayang?" tanya Mingyu, Samuel menggeleng. "Nope, I thought you were fighting," ia menjawab jujur kemudian berjalan menjauh, seperti tidak ingin mengganggu kegiatan ayah dan ibunya.

"Dia bicara apa sayang?" tanya Mingyu, Wonwoo mengangkat kedua bahunya. "Dia kira kita bertengkar, sepertinya yang harus belajar bahasa Inggris sekarang kau, bukannya Samuel." Mingyu mendengus dan berbalik karena lagi-lagi Wonwoo mengejeknya.

Sebenarnya Wonwoo suka sekali bercanda dengan Mingyu, setelah cukup lama bersama dengan lelaki itu, ia sadar Mingyu adalah orang yang menyenangkan dan orang yang tepat untuk menemani kehidupannya sampai nanti. Wonwoo mengeluarkan ponsel berwarna gold miliknya, "Kim Mingyu!" Mingyu menoleh dan Wonwoo memfoto wajah derp Mingyu.

Ia buru-buru melihat hasilnya, dan mendesah kecewa. Mingyu tetap terlihat tampan meski difoto tiba-tiba, "Ayo berfoto bersama." Mingyu merangkul bahu Wonwoo untuk mengurangi kekecewaannya, ia meraih ponsel Wonwoo dan dengan tangannya yang lebih panjang ia mengambil foto mereka menggunakan kamera depan. "Kita tidak pernah punya foto bersama ya, ternyata. Bahkan di ponselku hanya ada foto Samuel dan foto kita bersamanya, kemudian foto bersama keluarga. Benar-benar tidak ada yang hanya kita berdua," Wonwoo mengingat-ingat.

Mingyu mengangguk, "Ayo ambil foto yang banyak," mereka mengambil foto sesaat. Samuel tampaknya menyadari kedua orangtuanya sudah mengabaikan keberadaannya. Jadi ia berlari dan melompat ke punggung Mingyu, meminta digendong. Akhirnya Mingyu menggendongnya dan Wonwoo mengambil foto mereka bertiga.

"Kimchi!" sorak Samuel dan membiarkan Mingyu serta Wonwoo memberikannya ciuman di masing-masing pipinya.

Wonwoo memang tidak bisa menemui kedua orangtuanya bersama Samuel mungkin sampai delapan tahun lagi, karena tidak ingin orangtuanya curiga dengan pertumbuhan anaknya. Wonwoo memang tidak bisa sering bertemu dengan temannya karena ia bisa ketahuan tidak bertambah tua, dan ia juga harus selalu berkenalan dengan orang-orang baru. Tetapi asal itu bersama Mingyu dan anak kesayangannya, Wonwoo yakin ia akan baik-baik saja.

Lagipula.. siapa sangka ia akan sampai ke fase sejauh ini? Siapa tahu vampir benar-benar ada di dunia, dan bisa jatuh cinta pada salah satunya? Hidup memang terkadang tidak dapat ditebak akan membawanya kemana.

END

Ditulis tanpa dibaca kembali, maaf bila ada kesalahan ketik :(

Aduh gila aku nulis 26 lembar dan memasukkannya ke dalam satu chapter final, aku harap kalian suka dengan alurnya^^ maaf kalau aku banyak kekurangan, senang banget bisa selesein ff ini. Terima kasih buat yang selalu review/fav/follow termasuk yang add aku di SNSku. Kalian baik bangeettt! aku gabisa nyebutin satu-satu yang jelas aku selalu baca review kalian, thanks for made me smile like a crazy hihihi:3

Buat yang nebak anaknya Samuel iyaaa kalian bener banget^^ seneng ya liat mereka ada kesempatan bareng, dan selamat buat Seventeen sukses di encorenya. Sekaligus haloo CARATS hihihi.

Maaf juga kalau aku belum bisa nampilin cerita yang terbaik, terus suka banyak yang ga sesuai di chapt sebelumnya I'll try harder! Maaf updatenya lama, aku ngumpulin idenya nih hehehe gila susah banget dapet ide :( aku sampe nyempetin nulis waktu anterin nenek ke rumah sakit lol bener2 ga patut XD

Oiya aku nulis ff Verkwan baru nih, judulnya 'Shouldn't Have' aku udah nyelesaiin ceritanya dan upload tiga hari sekali, doain ga mager ya. Aku upload chapt barunya ntar malem.

Ppyong! See you di ff lain ya^^

BIG THANKS sekali lagi to: Reviewer, reader, laptop warna mint favoritku XD maaf sudah menyiksamu dengan memakaimu setiap hari buat ngetik, The Return of Superman yang ngasih inspirasi nulis chapt terakhir ini, twilight saga, video2 operasi lol. dan lain-lain kkkk~

Last, give me review for this last chapt, KAMSAHAMNIDA^^