Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Since I Found You

.

Sakura tengah menikmati udara pagi dari sudut lain rumah megah ini. Sesekali ia nampak memainkan jemari kakinya yang telanjang. Pemandangan pagi ternyata lebih indah dari sini. Balkon kamar Sasuke menghadap timur, sehingga Sakura bisa menikmati pemandangan sunrise dari sini. Sesekali angannya kembali mengingat kejadian semalam, dimana dirinya dan pemuda yang kini memandangnya intens itu saling berbagi kehangatan.

Pemuda itu terlihat tak tertarik ketika Sakura memberikan isyarat untuk bergabung dengannya menikmati udara pagi bersama, meski akhirnya bangkit juga dari ranjang mewahnya. Sasuke hanya mengenakan celana tidurnya, sementara atasannya dikenakan Sakura untuk menutupi tubuh bagian atasnya meski terlihat kebesaran.

Penampilan Sasuke berantakan, namun tak dapat menutupi ketampanan dan aura memikat dalam dirinya. Sakura bahkan sampai menahan nafas ketika pemuda itu mengambil posisi di belakangnya dan mengatur posisi sedemikian rupa hingga Sakura berada dalam dekapannya. Sepasang lengan kokoh itu mendekapnya dari belakang, memposisikan tubuh mungil ratunya di antara kakinya yang bebas sehingga posisi Sakura sekarang terkunci diantara tubuh bidangnya.

Sakura terbelalak bingung, sikap Sasuke yang tiba-tiba berubah lembut membuatnya merasa asing. Ia bahkan hanya bisa diam saat Sasuke menuntunnya untuk bersandar pada dada bidang pemuda itu sementara dagunya sendiri berada di pucuk kepala Sakura.

Gadis yang baru saja menjelma menjadi wanita muda itu baru bisa kembali bernafas secara teratur setelah beberapa menit berselang, mencoba menikmati sentuhan pria yang kini tengah memainkan jemarinya yang bebas.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Sasuke, mencoba membuka pembicaraan.

"Tidak ada." Jawaban singkat Sakura membuat Sasuke mengrenyit tak suka. Gadis dalam pelukannya ini biasanya menjawab pertanyaannya dengan antusias, kenapa kini terkesan acuh? Marah-kah? "Aku terlalu bahagia hingga tak sanggup memikirkan apapun," sambungnya antusias. Nada bicaranya tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat.

"Bahagia?"

Sakura tersenyum sembari memandang wajah angkuh yang kini menatapnya penuh tanya. "Kau melengkapiku," ucap Sakura setengah berbisik, sukses membuat wajah Sasuke menunjukkan ekspresi langka lagi. Entahlah, rasanya Sasuke mempelajari banyak ekspresi dari gadis dalam dekapannya itu.

"Kau memang aneh," sahut Sasuke diiringi dengusan geli sembari mengeratkan pelukannya.

"Orang aneh yang merebut hatimu," ledek Sakura diiringi tawa girang.

Sasuke hanya mendecih acuh sembari memandang hamparan hijau lapangan di belakang kamarnya. Ini menyenangkan, pemandangan yang hampir setiap hari menyambut paginya terlihat lebih indah hari ini. Aroma rerumputan yang tersapa embun ditambah wangi wanita dalam pelukannya ini begitu serasi. Begitu menenangkan dan memanjakan indra penciumannya.

"Aku suka kalau kau marah," ucap Sakura tiba-tiba.

"Apa?"

"Kau terlihat lebih perhatian kalau sedang marah. Aku menjadi merasa penting."

Sasuke terdiam. Ia bisa mati muda kalau Sakura terus menerus memancing emosinya begini. "Kau memang menyebalkan," sahut Sasuke frustasi, sukses membuat Sakura tergelak senang.

Untuk beberapa saat, mereka saling terdiam lagi. Nampaknya sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Hari ini libur, meskipun begitu Sakura yakin Sasuke akan memaksanya melakukan latihan fisik seperti biasa, menyebalkan!

"Ayo kita ke pantai. Ini kan akhir pekan," ajak Sakura penuh semangat sembari membalikkan tubuhnya menatap Sasuke, sementara yang diajak bicara hanya memasang wajah tak tertarik.

"Hari ini waktunya latihan ketahanan fisik," jawab Sasuke datar sambil lalu. Ia beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan menuju lemari, meningalkan Sakura yang masih merengut kesal.

"Hari ini kan libur Sasuke," rengek Sakura kesal.

"Kau lupa peraturan kita?"

Sakura hanya mendesah kesal sembari menghentakkan kakinya frustasi. Tatapan menusuk sengaja dilayangkan kepada manusia super menyebalkan yang tengah menyiapkan peralatan mandinya tanpa menghiraukan Sakura yang kini berdiri di belakangnya.

"Aku menyesal menghabiskan malam bersamamu!" ucap Sakura setengah berteriak sebelum akhirnya melangkah kesal keluar dari kamar, meninggalkan Sasuke yang tertawa geli dibuatnya.

###

Setelah membersihkan diri, Sakura segera bergabung dengan saudara-saudaranya yang tengah menikmati sarapan lebih dulu. Wajahnya yang terlihat kusut berhasil memancing perhatian seisi ruang makan.

Mereka telah mendengar kesaksian Naruto tentang Sakura yang 'bermalam' di kamar Sasuke purnama kemarin. Awalnya mereka khawatir dan berusaha mencari tahu keadaan Sakura, tapi ketika suara geraman penuh amarah Sasuke terhenti, mereka akhirnya mengurungkan niat dan berusaha pura-pura tak ingin tahu mengenai kejadian semalam.

"Tidurmu nyenyak Sakura?" tanya Sakumo dari ujung meja, memperhatikan ekspresi putri kecilnya yang nampak bingung.

"Ayah bicara padaku?"

"Kudengar semalam Sasuke mengamuk lagi. Apa suaranya mengganggu tidurmu?" Sakumo mencoba memperjelas pertanyaannya. Suasana tiba-tiba hening, semua mata tertuju pada gadis pink yang kini melongo sembari menggenggam sendok berisikan makanan siap santap. Sakura sadar apa maksud pertanyaan Ayah-nya itu. Pria setengah baya itu ingin tahu apa yang terjadi semalam.

"Tidurnya lebih dari nyenyak Ayah," jawab sebuah suara yang baru saja bergabung dengan mereka.

Sasuke muncul dari balik pintu masuk ruang makan dan segera duduk di samping Sakura setelah sebelumnya mengecup lembut pipi gadis itu, mengabaikan tatapan heran saudara-saudaranya ditambah Sakumo di ujung meja.

Sakura tak kalah bingungnya dengan sikap Sasuke yang mendadak berubah manis begini. Seperti bukan dirinya yang sebenarnya. Pemuda menyebalkan itu bahkan berpura-pura tidak menyadari tatapan aneh yang mengarah padanya sekarang, tak terkecuali gadis pirang di seberang tempatnya duduk yang kini tengah menatap Sakura dan Sasuke bergantian dengan tatapan tak suka.

"Baiklah kalau begitu," sahut Sakumo kemudian, meski kesan kurang puas terdengar jelas. "Soal rencanamu berlibur ke pantai bersama, kau mau menggunakan resort pribadi kita? Ayah baru saja meresmikannya dua hari yang lalu, kalian bisa mencoba fasilitas di sana kalau mau."

Sakura hampir saja menyemburkan susu dalam mulutnya ketika mendengar penuturan Sakumo. Liburan bersama? Ke pantai? Dan Sasuke yang mengajukan ide? Apa telinganya tidak salah dengar?

Sementara itu, pria di sampingnya masih sibuk menikmati santap paginya. Seperti biasa, ia takkan menanggapi apapun yang dikatakan orang saat acara makan berlangsung,

"Waaw...tumben sekali si Teme mengajukan ide berlibur, biasanya ia akan memaksa kita untuk tetap latihan fisik di akhir pekan. Apa yang membuatmu berubah pikiran teme?" tanya Naruto takjub, sementara Sasuke hanya menjawab dengan isyarat mata sebelum akhirnya menyeringai jahil. Naruto langsung paham apa yang dimaksud kawan sekaligus saudara terdekatnya itu.

"Jadi kita semua libur dari misi?" sambut Tenten antusias. Jarang sekali rasanya mereka dibebas tugaskan seperti ini walaupun hanya sehari.

"Sasuke mengajukan ide untuk berlibur bersama sebelum kalian menghadapi ujian. Agar kalian nantinya bisa lebih fokus dan pikiran lebih segar. Meskipun menghadapi banyak misi, kalian tetaplah anak-anakku yang harus sukses dalam pendidikan," terang Sakumo tenang. "Kalau kalian lulus nanti, kalian bisa bergabung dengan perusahaan Ayah, seperti Sasori dan Shikamaru."

Sakura merenung sejenak. Jadi setelah lulus nanti, mereka akan bekerja untuk Hatake Group?

Masa depan mereka nampaknya telah ditentukan dengan matang. Berbaur dengan masyarakat pada umumnya dan menjadi pekerja kantoran sebagai 'usaha sampingan'. Sejauh ini, hampir seluruh karyawan Hatake Group adalah anggota Eksterminator. Baik yang masih bertugas dalam misi, maupun telah berhenti dan menjadi pegawai biasa.

Sasuke nampak memperhatikan wanitanya yang tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sepertinya gadis itu kehilangan nafsu makannya, terlihat dari sup yang mulai mendingin dan makanan dipiringnya yang tak tersentuh lagi.

"Kau nampak tak senang," ucap Sasuke setelah mengakhiri acara makannya.

Sakura menghela nafas sebelum menyahut santai. "Aku hanya tak paham dengan pikiranmu."

Sasuke mendengus menahan tawa, "Kau kecewa karena kita pergi bersama-sama padahal kau ingin berdua saja denganku?" goda Sasuke sembari merangkulkan tangannya ke pinggang Sakura –membawanya mendekat.

Sepasang emerald itu mengrenyit bosan, ternyata pemuda ini juga memiliki sisi narsis yang tak terduga. "Terkadang aku begitu ingin menamparmu," aku Sakura jujur.

"Lalu kenapa tak kau lakukan hm?"

"Aku rasa panah racun akan jauh lebih cocok untukmu." Entah sejak kapan, Sakura mulai tertular gaya bercanda Sasuke.

"Ah...aku tersanjung nona," sahut Sasuke meremehkan seperti biasa.

Kedua anak manusia itu saling tatap dalam jarak dekat. Sesekali Sakura mengalihkan pandangannya untuk menghindari kerlingan nakal onyx di hadapannya.

Tanpa disadari, interaksi mereka berdua telah menarik perhatian seisi ruangan. Sesekali para penonton saling berbisik menanggapi cara Sasuke memperlakukan gadis di sampingnya yang kini nampak mulai mengomel sementara Sasuke hanya memandangnya dengan senyum terkembang. Pemuda itu nampak sangat menikmati lantunan kalimat pedas yang terlontar dari mulut manis Sakura, bahkan sesekali tertawa ringan, membuat Sakura semakin menaikkan nada bicaranya. Satu kesimpulan yang dapat diambil oleh semua saksi mata, Sasuke keluar dari karakter yang biasa dia tunjukkan.

###

Sakura kembali dibuat kagum dengan kamar tempatnya menginap. Entah sedang beruntung, atau memang takdir Tuhan, ia mendapatkan kamar dengan view terbaik di resort terbaru milik Hatake Group yang bahkan belum diresmikan. Begitu membuka balkon kamarnya, tersuguhlah pemandangan laut yang begitu Indah. Kamar ini adalah kamar yang paling eksklusif dan menjadi rebutan saudara-saudaranya. Sakura langsung melonjak senang sekaligus heran ketika hasil undian memunculkan nama Sasuke. Tunggu dulu, Sasuke?

Ya, pemuda itu menawan Sakura dan mengelabuinya untuk tidur di kamar yang sama dengannya. Hanya dengan permainan kata, dan Sakura lagi-lagi berhasil terjebak.

"Kamar mana yang kau suka?"

"Yang menghadap langsung ke laut."

"Kau ingin mendapatkannya?"

"Tentu saja."

"Kalau ternyata aku yang mendapatkannya, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan tidur denganmu," jawab Sakura tanpa berfikir panjang. Nampaknya nona muda kita ini memang harus lebih hati-hati dalam berucap.

"Sudah kubilang untuk hati-hati padaku," goda Sasuke sembari mengangkat koper-koper mereka masuk. "Kau yang memintanya nona," sambungnya penuh kemenangan.

"Sialan kau Uchiha!" gumam Sakura sebal yang hanya disambut dengusan geli Sasuke.

Untuk beberapa saat, mereka hanya saling terdiam. Sakura masih sibuk menikmati angin laut sementara Sasuke memandangnya dari belakang.

"Sasuke..."

"Hn?"

"Kau apakan alat pengundi itu?" tanya Sakura penuh selidik.

Sasuke hanya menyeringai jahil sembari mendekati tubuh kekasihnya. "Tidak ada."

"Kau mau aku percaya?"

Sasuke mengendikkan bahu dengan acuh sembari membanting tubuhnya ke tempat tidur di samping tempat Sakura berdiri. "Bukankah akan sangat menyenangkan jika kita menghabiskan malam bersama sekali lagi?"

Sakura menyipitkan matanya jengah. Entah kenapa tingkah Sasuke hari ini benar-benar menyebalkan. Pada akhirnya, Sakura hanya bisa mendesah pasrah dan duduk di samping Sasuke yang masih berbaring seraya memandangi langit-langit kamar.

"Kau mencintaiku?" tanya Sasuke tiba-tiba, sukses membuat Sakura terlonjak kaget.

"Bisa kau ulangi?"

"Apa kau mencintaiku Sakura?" ulang Sasuke ringan dan tanpa emosi.

"Kau peduli?" keheranan terdengar jelas dari nada bicara Sakura.

Kali ini Sasuke tertawa lepas, entah apa yang dianggapnya lucu. "Lupakan skenario bodoh itu, jadilah kekasihku yang sesungguhnya," tawar Sasuke sembari menatap wajah cantik yang kini memandangnya heran. Sepasang emerald miliknya mengerjap beberapa kali.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sakura sembari menyentuh kening manusia aneh yang tengah menatapnya menggoda. "Kau pasti salah makan."

"Jadi kau menolakku?"

"Aku belum menjawab!" potong Sakura cepat.

Sakura's POV

Kupandangi sepasang onyx yang kini tengah menatapku menggoda. Beberapa menit yang lalu, lelaki ini baru saja memintaku menjadi kekasihnya. Kekasih resmi, bukan berdasar skenario yang dibuat Sakumo-sama. Apa yang ada di pikirannya? Kenapa tiba-tiba mengajukan pertanyaan aneh dengan ringannya seolah-olah mengatakan 'Hai sakura, aku baru saja mendapat mainan baru. Mau mencobanya?'

Kurasakan sentuhannya merayap ke dalam blus-ku. Meraba punggungku dengan jemari hangatnya, sukses membuatku sedikit tersentak akibat sensasi menyenangkan yang menyerang permukaan kulitku. Ia tak bergerak lebih jauh, hanya menggerakkan jemarinya membentuk pola khusus.

"Aku ingin kau tetap di sisiku," ucapnya datar sembari memijat lembut pinggangku. Perlakuannya tak urung membuatku terlena juga namun tetap tak ingin takhluk semudah itu. Aku ingin dia mengucapkannya, sekali saja. Aku ingin mendngarnya mengatakan bahwa dia mencintaiku.

"Kenapa?" bisikku hampir tak terdengar.

"Karena aku menginginkanmu."

"Apa kau mencintaiku?"

Diam. Pria itu tak menjawab. Ia hanya menggerakkan jemarinya melingkari perutku yang datar dan menariknya dari belakang sehingga aku mendarat dalam pelukannya. Wajahnya begitu dekat, bisa kurasakan hembusan nafas hangat yang menerpa wajahku. Entah seperti apa rupaku saat ini, pastilah terlihat sangat bodoh karena Sasuke tengah menyeringai geli sekarang.

Didekatkannya wajahnya ke leherku, membuatku tak mampu bergerak dan hanya sanggup mematung tak berdaya. "Haruskah aku menjawabnya?" bisiknya parau tepat di telingaku.

"Aku ingin mendengarnya," jawabku susah payah. Pasalnya Sasuke semakin membuaiku dengan kecupan serta pijatan lembutnya pada setiap jengkal tubuhku.

Tak ada jawaban, Sasuke hanya menggerakkan bibirnya semakin liar dan mulai menciumi leherku –bagian favoritnya. Aku mencoba menolak, meski sadar itu sia-sia saja. Sasuke tak mungkin menghentikannya sebelum ia bosan.

Kutolehkan wajahku sehingga kecupannya terlepas, sepasang onyx sekelam malam itu menatapku lembut. Oh Tuhan...jangan tatapan itu. Aku tak pernah tahan jika ia sudah begini. Aku takkan sanggup menolaknya jika Sasuke sudah menunjukkan wajah penuh keinginan seperti ini.

"Kau melukai perasaanku Sakura," bisikinya parau, masih menatapku dengan pandangan yang sama. Aku mengerenyit bingung. Belum sempat aku bertanya, Sasuke telah menelan kata-kataku dengan ciuman lembutnya. Ini berbeda, caranya menciumku sangat berbeda. Dengan tetap memberikan pijatan lembutnya, ia mengulum bibirku dengan penuh perasaan. Aku tak tahu mengapa, tapi aku baru merasakan sensasi ini sekarang. Caranya menciumku perlahan, caranya memohon ijin untuk menjelajahi mulutku lebih dalam, caranya memanjakan tubuhku dengan sentuhannya, semua ini membuatku mabuk kepayang.

Aku menikmatinya, hingga tanpa sadar tanganku yang mulanya menahan dadanya mulai bergerak menyambut tubuhya. Aku tak ingin melepaskannya, aku tak ingin Sasuke menghentikan semua ini. Bahkan tanpa sadar aku mendesah kecewa saat Sasuke melepaskan ciumannya dan kembali menatapku penuh damba. "Jadi bagaimana? Masih menolakku?" tanyanya setengah menggoda.

Berani bertaruh, wajahku pasti kini semerah buah kesukaannya. Haruskah ia menanyakan pertanyaan yang aku yakin dia sendiri tahu jawabannya? "Bodoh jika aku menolak," jawabku setengah berbisik sebelum kembali menariknya untuk menghapus jarak diantara kami. Ia sempat terkekeh ringan menanggapi aksiku yang cenderung agresif.

"Seharusnya kalian mengunci pintu dulu," potong sebuah suara cempreng yang tiba-tiba saja muncul merusak suasana. Dengan setengah kesal, Sasuke melepaskan tubuhku dan mengalihkan pandangannya pada manusia durian yang tengah bertolak pinggang setelah menonton adegan panas kami. Benar-benar perusak suasana!

"Kau ini, sudah bosan hidup rupanya," sahut Sasuke pedas sembari merapikan kemeja santainya yang nampak sedikit kusut dengan dua kancing atasnya yang terbuka. Astaga...apakah aku yang membukanya?

"Semua sudah berkumpul di bawah. Kalian malah membuat acara sendiri." Naruto mulai mengomel tak jelas.

"Hn."

Wajah Sasuke terlihat kesal, sepertinya Naruto akan berakhir di dalam oven kalau tidak hati-hati.

"Kami akan menyusul," ucapku sembari berdiri di samping kekasihku yang nampak ingin menghajar manusia durian di hadapan kami.

"Baiklah Sakura-chan, kami menunggumu di bawah," sahut Naruto penuh semangat seperti biasa. Ia selalu menggunakan nada seperti itu jika bicara denganku, sengaja menggoda Sasuke yang akan langsung melayangkan pandangan membunuhnya.

Aku hanya tersenyum sembari memberinya isyarat untuk pergi mendahului kami. Naruto yang paham langsung keluar tanpa pamit pada Sasuke.

"Harusnya kau diamkan saja dia," ucap Sasuke sembari bersiap turun dan bergabung bersama yang lain.

"Teganya kau cemburu pada saudaramu sendiri," ledekku sembari mengikuti langkahnya keluar kamar.

"Berhenti menyebutnya saudaraku." Ah...rupanya kekasihku ini mudah sekali terpancing.

Aku hanya mendengus menahan tawa menanggapi ucapannya.

Dan benar saja, sesampainya kami di tempat anggota lain berkumpul, semua menyambut kami dengan tawa menggoda. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan mulut Naruto yang menyebalkan itu? Sasuke yang kesal akhirnya menyerang Naruto dan memiting kepala saudara dekatnya itu hingga Naruto memohon ampun, sementara yang lain hanya tertawa hangat sembari mendukung Sasuke untuk meneruskan aksinya.

Aku hanya mampu tersenyum. Suasana seperti ini sangat langka karena kami selalu disibukkan oleh misi.

Untuk sementara waktu, segala tugas dan misi akan dialihkan kepada anggota senior hingga kami menyelesaikan ujian. Karena aturan utama dalam Exterminator adalah, keseimbangan antara dunia manusia dan dunia iblis, dimana kami berdiri diantara keduanya.

End Sakura's POV

###

Gaara kembali mendesah bosan untuk kesekian kalinya. Gadis yang paling dicintainya sedang berlibur ke suatu tempat dan ponselnya tidak aktif. Terakhir kali mereka bicara via telefon, dengan sengaja manusia super menyebalkan yang selalu bertindak bak bodyguard Sakura itu merebut ponselnya dan rasa khawatir sekaligus kurang suka dalam hati Gaara atas tindakan semena-mena rival abadinya itu.

Akhir-akhir ini bahkan Sasuke menjaga gadisnya itu ekstra ketat. Tak membiarkan siapapun bicara dengannya tanpa ada Sasuke di sampingnya. Gaara kesal, tentu saja! Mereka berdua ada dalam satu kelompok dan harus menyelesaikan tugas dalam waktu dekat. Tapi berkali-kali Sasuke mencegah Sakura untuk pergi bersama bocah merah itu dengan berbagai alasan tak masik akal seperti :

"Kau harus menyiapkan makan siang."

"Aku tak bisa menyetir kalau kau tak di sampingku."

"Hari ini Ayah ulang tahun, ia mau kau datang dan memberikan selamat."

"Kerja kelompok kan bisa dilakukan kapan-kapan."

"Kau bisa bertukar dengan pasanganku kalau ingin pekerjaanmu cepat selesai," begitulah jawaban Sasuke saat Gaara yang berusaha mewakili Sakura untuk meminta ijin.

Gaara bukan tak sadar bahwa manusia es itu tak menyukainya. Ia bahkan sangat menyadarinya.

Sekali lagi Gaara mencoba menghubungi, aktif! Nada sambung terdengar beberapa kali.

"Halo?" sapa sebuah suara dari seberang. Lagi-lagi bukan suara gadis pujaannya, membuat Gaara tak urung meraup wajahnya frustasi. "Kau mencari siapa?"

"Berikan ponselnya pada Sakura, aku ingin bicara!"

"Kau bisa bicara denganku," sahut Sasuke ngeyel.

"Kumohon Sasuke!"

Tidak ada jawaban. Panggilan diputus seara sepihak sebelum Gaara menyampaikan maksud. Setelah dicoba kembali, seperti yang sudah diduganya, ponselnya mati!

"Arrrrrggggh...!" Gaara menggeram frustasi. Nampaknya manusia pantat ayam itu mulai menangkap sinyal ganjil yang dilayangkan Gaara sehingga memperketat pengawasannya pada Sakura.

"Aku bersumpah akan menyiksamu Sasuke!" geram Gaara penuh kebencian.

###

"Siapa yang menelfon?" tanya Sakura ketika melihat Sasuke mematikan sambungan sebelum akhirnya memisahkan batrai dari ponselnya kasar.

Sasuke tak menjawab dan hanya membawa ponsel yang masih terhitung baru itu menuju ke meja tempat mereka meletakkan semanggkuk es dengan potongan buah segar. Tanpa ba-bi-bu lagi, Sasuke menceburkan ponsel tak berdosa itu kedalam mangkuk yang masih terisi setengahnya.

"Apa yang kau lakukan!" jerit Sakura tak suka.

"Diamlah. Ponselmu itu sudah tidak berfungsi baik. Besok kubelikan lagi!" sahut Sasuke sembari berlalu. Sementara Sakura hanya sanggup mendengus kesal. Ia tahu, pasti yang baru saja menelfon adalah Gaara. Pemuda baik hati yang selalu dianggap ancaman oleh Sasuke.

"Kau mau aku percaya?"

"Memangnya mau bagaimana?" sahut Sasuke acuh.

.

.

.

.

Semua kembali larut dalam suasana kekeluargaan yang mereka ciptakan. Saat ini Naruto sedang berkaraoke ria di hadapan saudara-saudaranya diiringi tepukan tangan yang lainnya. Hinata hanya sanggup tersenyum malu akibat tingkah kekasihnya yang menyebalkan.

Sementara itu, Neji nampak sibuk membenahi posisi Tenten yang telah terlelap dalam dekapannya. Gadis mungil itu nampak nyaman ketika Neji merengkuhnya semakin dalam dan membiarkannya bersandar. Ah..mereka memang pasangan serasi.

Lain halnya dengan pasangan baru kita. Sasuke lebih memilih untuk duduk berjauhan dari Sakura yang kini mengobrol bersama yang lainnya. Sementara Sasuke mengawasinya dari kejauhan.

"Apa perlu kupasang alarm padanya agar kau tak perlu memelototinya setiap waktu begitu?" sindir Sasori yang mengambil tempat di samping Sasuke duduk.

"Hn," gumam Sasuke tak jelas sebagai tanggapannya.

"Kau begitu mencintainya ya?" sambung Sasori ringan, meski tahu Sasuke tak mungkin menjawabnya. "Dia memang sangat cocok denganmu yang begitu dingin. Sakura itu...dia memang gadis yang menarik," lanjutan Sasori tak urung menarik perhatian Sasuke. Kalau dia tak salah dengar, Sasori sepertinya tertarik dengan kekasihnya itu. Oh Tuhan...jangan lagi!

"Tidak, aku takkan mengulanginya Sasuke," sambung Sasori seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran saudaranya itu. "Cukup sekali, aku takkan mengecewakanmu lagi," lanjutnya diiringi senyuman kasih. Sasuke hanya mendecih bosan meski dalam hati ia sangat menghargai ucapan Sasori.

Tanpa diduga, Sasuke tiba-tiba mendengus menahan tawa. "Kau tau? Kadang aku sangat ingin membunuh gadis merepotkam itu," ucap Sasuke sembari menunjuk Sakura dengan dagunya, membuat Sasori mengalihkan tatapannya pada gadis bersurai pink yang nampak tengah bersenda gurau dengan saudara-saudaranya. "Dia benar-benar mengacaukanku."

"Aku bisa melihatnya."

"Lebih dari itu," Sasuke menjeda kalimatnya, ekspresinya mendadak berubah dingin. "Ia membangkitkan nafsuku untuk membunuh dan segera mengakhiri semua ini."

"Maksudmu Akatsuki?"

"Semakin cepat kita menghancurkan organisasi biadab itu, maka semakin cepat semua kegilaan ini berakhir."

"Apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Sasori penasaran.

Sasuke nampak menimbang apa yang ada di pikirannya. Ia tersenyum ketika mendapati Sakura mengejeknya dari kejauhan dengan gaya kekanakannya. "Memberikan kehidupan normal untuknya," sahut Sasuke tanpa mengalihkan tatapannya dari sang kekasih.

Tanpa mereka sadari, seseorang telah mendengarkan pembicaraan mereka sembari meremas jemarinya kesal. Seseorang yang mulai merasa diabaikan, seseorang yang merasakan cemburu yang teramat sangat, seseorang yang amat berbahaya bila tak segera ditindak lanjuti.

.

.

.

"Tidurlah Sakura, caramu memandangku membuatku risih," ucap Sasuke pedas. Ia tengah membaca sebuah buku sembari menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang sementara Sakura berbaring di sampingnya sembari memandangi kekasihnya itu.

Sakura tertawa ringan sebelum menyahut enteng, " Kau terlihat semakin tampan akhir-akhir ini."

Sasuke mengalihkan pandangannya pada wanitanya sekarang, "Karena aku berubah menjadi peri baik hatimu?"

Sakura tersenyum, nampak begitu menikmati ekspresi Sasuke yang berubah-ubah. Akhir-akhir ini wajah stoic itu sepertinya baru saja mengupdate ekspresi-ekspresi baru. "Aku senang wajahmu tak lagi seperti angry bird."

"Apa kau bilang?" sahut Sasuke kesal sembari menutup bukunya dan meletakkannya di meja. Kini perhatiannya tercurahkan sepenuhnya kepada kekasih menyebalkannya.

"Biasanya kau selalu memasang wajah marah seperti angry bird," ulang Sakura enteng.

Sasuke menyipitkan matanya membuat Sakura tergelak senang karena merasa berhasil menggodanya. "Lihatlah wajahmu itu, hahaha." Sakura kembali tertawa terbahak-bahak sembari memegangi perutnya.

"Katakan sekali lagi," nada mengancam dalam kalimat Sasuke bahkan tak membuat Sakura menghentikan tawanya. Hingga akhirnya Sasuke yang geram menyerang tubuh kekasihnya.

"Ampun Sasuke, ampuuun," pinta Sakura diiringi tawanya ketika dengan kejamnya Sasuke menggelitik pinggangnya.

"Katakan sekali lagi kalau kau berani," Sasuke nampak tak berminat menghentikan kegiatannya. Tanpa sadar ia ikut tertawa melihat ekspresi Sakura yang tersiksa menahan geli. Nampaknya kehangatan Sakura telah meluluhkan gunung es dalam pribadi Sasuke.

Malam itu hanya mereka habiskan dengan saling berbincang dan bercanda bersama. Sasuke sesekali nampak bersemu merah ketika Sakura menyindirnya tentang beberapa hal yang menurutnya memalukan. Terutama tingkah protectivenya akhir-akhir ini. Bersama Sakura, Sasuke menemukan bagian dirinya yang hilang.

###

I hate Monday! Mungkin itulah yang tengah diserukan seluruh pelajar di dunia. Akhir pekan berakhir, maka berakhir pula hidup mereka. Hari-hari yang tersisa pastilah terasa bagaikan neraka hingga akhir pekan selanjutnya menyapa.

Tak terkecuali anak-anak manis yang akan segera melaksanakan ujian akhir di Konoha High School. Tiba-tiba saja mereka telah sampai di saat paling menentukan dalam hidup mereka.

Diantara manusia-manusia berwajah kusut, pemandangan berbeda justru terlihat dari sepasang remaja yang baru saja resmi menjadi kekasih yang sesungguhnya. Terutama si wanita. Alasannya sederhana, setelah sekian lama berusaha membujuk bahkan terkesan merengek, akhirnya dengan suka rela Sasuke mau juga mengenakan cincin pemberian Sakumo. Di jari manisnya kini melingkar cincin yang menjadi simbol hubungan mereka berdua.

Sasuke tak henti-hentinya mendengus menahan tawa mendengarkan ocehan wanita muda yang tengah menceritakan betapa sempurnanya hari-harinya minggu ini.

"..kau harusnya tahu wajah Naruto saat..." ucapan Sakura tiba-tiba terhenti saat Sasuke menghentikan langkahnya. Nampakna ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Benar saja, segerombol siswa tengah memenuhi mading sekolah. Sepertinya ada berita menghebohkan yang telah menarik perhatian mereka.

Dengan langkah santai, Sasuke menhampiri gerombolan yang langsung memecah sembari berbisik-bisik melihat kehadirannya, sementara Sakura mengekor di belakangnya.

Sasuke mengrenyitkan matanya demi melihat judul yang terpampang di sana, berharap mata minusnya salah melihat dan semua ini adalah kesalahan. Judulnya terpampang jelas dengan huruf kapital.

"SANG PUTRI YANG BERKHIANAT"

Di bawahnya terpampang beberapa foto dengan berbagai artikel sebagai pemanis. Tubuh Sasuke mendadak kaku, matanya melebar dari ukuran biasa. Bagaimana tidak, saat ini di hadapannya terpampang foto Sakura bersama bocah merah itu tengah berjalan bersama sembari bergandengan tangan. Bukan, bukan itu yang membuat darahnya mendidih, melainkan sebuah foto dimana Sakura dan Gaara tengah duduk di sebuah bangku di taman kota dan mereka tengah berciuman! Sasuke sampai harus menahan emosinya agar tak meledak di hadapan puluhan siswa yang nampak menunggu reaksinya.

Di belakangnya, Sakura tak kalah terkejutnya. Ia ingat gambar itu, saat dirinya dan Gaara menghabiskan hari bersama ketika Sasuke menjalankan misi. Tapi demi Tuhan! Itu bukan gambar dirinya yang berciuman dengan Gaara, melainkan pemuda itu tengah bicara dengannya sembari berusaha menghiburnya. Foto ini diambil dari samping, sehingga seolah-olah Gaara tengah menciumnya di depan publik.

Beberapa saat kemudian, Naruto dan yang lainnya muncul dan bergabung bersama mereka. Keringat dingin langsung muncul dari pelipis Naruto ketika melihat gambar yang mati-matian ditutupinya dari Sasuke. Dia juga ada di sana, dia tahu apa yang mereka berdua lakukan tak sampai sejauh itu. Tapi tetap saja...

"Kau berhutang penjelasan padaku," ucap Sasuke dingin dan ditujukan untuk gadis di sampingnya yang nampak bergetar takut.

"Ini tak seperti kelihatannya teme," sela Naruto mencoba menengahi.

BUAGH!

Hantaman keras mendarat ke pipi Naruto, membuatnya terhuyung ke belakang dan hampir terjatuh jika saja Hinata tak memeganginya.

Sakura merasakan sesak di dadanya melihat pertengkaran dua sahabat itu. Rasanya begitu menakutkan melihat emosi yang menguar jelas dari tubuh Sasuke. Beberapa siswa yang ada di sana bahkan langsung pergi karena terlalu enggan mencari masalah dengan Uchiha yang tengah mengamuk. Tanpa mengucapkan apapun, Sasuke meninggalkan lokasi dengan langkah panjangnya. Sakura mencoba mengejar, namun Ino menahannya.

"Biarkan dia sendiri," ucap Ino tegas.

"Lepaskan aku."

"Kau hanya akan membuat suasana semakin rumit Sakura. Biarkan dia sendiri dulu untuk menenangkan emosinya," sambung Ino menerangkan.

"Ino benar Sakura, kita tak tahu apa yang bisa dilakukannya kalau sedang emosi begini," Neji menimpali.

Sakura akhirnya menyerah. Tatapan bersalah dilayangkannya kepada Naruto yang kini tengah mengusap sudut bibirnya yang berdarah. "Sekarang kau mengerti kenapa aku mati-matian mengikutimu seharian?" geramnya setengah marah. "Jika bukan karena saudaraku yang menggantungkan nyawa hidupnya padaku, aku takkan memperjuangkan sekeras ini untuk menutupi apa yang telah kau lakukan bersama bocah itu Sakura," sambungnya parau sebelum akhirnya Hinata memapahnya pergi.

"Kau harusnya mendengarkan kata-kataku, jangan pernah kecewakan kepercayaan yang Sasuke berikan. Jadi belajarlah dari kejadian ini," timpal Ino dengan nada mengejek sebelum akhirnya turut meninggalkan Sakura.

Kini gadis itu hanya mampu menatap kosong lantai putih di bawahnya. Rasanya ia sendiri sekarang. Kalau saja ia mau bersabar dan menuruti kata-kata Naruto. Kalau saja...ah, rasanya percuma saja berandai-andai. Sekarang yang harus dipikirkannya adalah bagaimana cara agar Sasuke mau memaafkannya.

Sementara itu, Gaara nampak menikmati adegan yang baru saja terputar di hadapannya. "Kau terlalu meremehkanku Uchiha," gumamnya penuh kemenangan.

.

.

.

.

Sasuke's POV

Kulangkahkan kakiku menuju lapangan parkir sekolah. Aku terlalu enggan mengikuti pelajaran hari ini, mengingat apa yang terjadi pagi tadi. Beberapa kali ponselku berdering, ada nama wanita yang kucintai di sana, tapi aku terlalu malas mengangkatnya. Biarkan saja, biar dia tahu apa akibatnya bila merusak kepercayaanku.

Aku tak percaya baru saja memintanya menjadi kekasihku tanpa tahu apa yang dilakukannya di belakangku selama ini. Bagaimana mungkin? Aku yakin si Dobe itu selalu bersamanya seharian, jadi dia juga berbohong? Tiba-tiba saja aku merasa bagaikan orang bodoh diantara orang-orang yang diam-diam mengelabuiku. Rasanya ingin kucongkel saja mata si bocah merah yang telah berani menyentuh kekasihku tanpa sepengetahuanku. Tentu saja, aku akan langsung memisahkan kepala dari tubuhnya jika berani melalukannya di hadapanku.

Tunggu dulu, apa aku baru saja merasakan cemburu? Kepada bocah itu? Cih...jangan harap. Aku takkan cemburu pada seseorang yang tak selevel denganku.

Kulirik lagi ponselku, lima pesan masuk. Aku masih duduk di bangku kemudi dan belum menjalankan mobilku meski mesin dalam keadaan menyala.

End Sasuke's POV

Pesan 1 : Dobe

Aku bisa menjelaskannya teme. Ini tak seperti yang kau sangka.

Pesan 2 : Ino

Kau dimana? Kami semua khawatir.

Pesan 3 : Cherry 3

Maafkan aku, ini tak seperti yang kau duga.

Sasuke mengrenyit jijik melihat nama kontak Sakura di ponselnya. Seingatnya, Sasuke menyimpan nomor baru itu dengan nama 'Manusia Aneh' bukannya Cherry ditambah simbol menjijikkan di belakangnya seperti ini.

Pesan 4 : Cherry 3

KAU INI KEMANA SAJA? JANGAN BUAT KAMI SEMUA KHAWATIR! KEMBALI KE KELAS SEKARANG ATAU KUADUKAN PADA AYAH!

Sasuke tak bergeming meski pesan yang ditujukan padanya sarat akan emosi.

Pesan 5 : Cherry 3

Baiklah aku mengaku salah. Beri aku kesempatan dan kita akan membicarakannya bersama, bagaimana?

"Dasar tidak punya pendirian," gumam Sasuke kesal.

Baru saja hendak melajukan mobilnya, sebuah pesan lagi-lagi memaksanya berhenti.

Pengirim : Cherry 3

Apapun akan kulakukan, maafkan aku :(

Kali ini Sasuke menyeringai ganas."Apapun?" gumamnya pada diri sendiri sembari memandangi pesan Sakura. "Kau akan membayar perbuatanmu karena telah merusak suasana hatiku. Kita lihat saja nanti," ucapnya seperti orang gila karena bicara pada ponsel sebelum akhirnya melajukan mobilnya melesat menembus keramaian kota.

###

Sakura bergegas berlari menuju ruang kebutuhan setelah mendapat panggilan dari Kakashi. Langkahnya terhenti ketika kakinya membawanya menuju spy room yang berfungsi sebagai tempat pengawasan. Dari sini kita bisa melihat apa saja aktivitas yang dilakukan di dalam ruang kebutuhan dari balik cermin satu arah.

Nafas Sakura langsung tercekat begitu melihat peristiwa di hadapannya. Nampak seorang pria setengah telanjang tengah merintih menahan sakit. Tubuhnya dipenuhi sayatan dan luka lebam di wajahnya. Pemandangan ini sebenarnya biasa, yang membuatnya tak biasa adalah, sosok lain beriris semerah darah yang tengah duduk di sebuah meja di hadapan pria itu dengan seringai buasnya.

Sasuke kambuh. Ia tiba-tiba mendobrak ruang interogasi dan memerintahkan semua keluar serta mengambil alih tugas mereka. Tak ada yang berani melawan, semua hanya mampu menuruti kemauan manusia yang mulai dirasuki iblis itu. Semua informasi yang dibutuhkan telah didapat, namun Sasuke menolak untuk cepat-cepat melakukan eksekusi. Karena tak tahan, Kakashi akhirnya memutuskan untuk memanggil Sakura, entah mengapa instingnya mengatakan Sasuke begini karena gadis itu.

Tubuh mungil gadis cantik ber-iris klorofil itu mendadak bergetar. Baru kali ini ia merasakan ketakutan melihat aksi Sasuke. Bukan karena apa-apa, melainkan ia mulai sadar betapa dirinya sangat berpengaruh terhadap kestabilan emosi Sasuke. Sakura sampai menggeleng tak percaya sembari mundur beberapa langkah saking terkejutnya.

Seperti seorang vampir yang baru saja menghirup aroma darah favoritnya, Sasuke memejamkan matanya sembari menarik nafas dalam-dalam. Ia menemukan aroma kesukaannya diantara manusia-manusia yang tengah mengawasinya dari balik cermin. Dapat dirasakannya detak jantung tak beraturan yang menandakan pemiliknya tengah ketakutan setengah mati.

Sasuke menyeringai puas. Buruannya ada di sini. Dengan satu sentakkan, ditodongkannya pistol berisi peluru khusus yang dapat menembus kaca anti peluru sekalipun tepat ke arah buruannya.

"Suruh gadis itu masuk!" titah Sasuke pelan namun dalam.

Kakashi yang mengerti sekilas memandang gadis yang kini nampak menggeleng takut. Kakashi hanya sanggup mengangguk memberi semangat, ia yakin Sakura bisa mengatasi kondisi ini.

Mendadak udara terasa tak menyenangkan bagi Sakura. Rasanya oksigen di sekitarnya mendadak menjadi jahat dan menusuk paru-parunya tanpa ampun. Perlahan, diselingi nafas yang memburu serta jantung yang terus berpacu, Sakura melangkah memasuki ruang kebutuhan.

Melalui kode yang diberikan Sasuke, Sakura perlahan melangkah mendekat. Nafasnya semakin tak teratur dan berkali-kali ia menelan ludah meski tenggorokkannya terasa kering. Pistol Sasuke masih mengarah padanya, rasanya ia ingin menangis meski sadar itu percuma.

"Kau melewatkan mata pelajaran pentingmu sayang," ucap Sasuke memecah keheningan di antara mereka. Matanya masih tertuju pada sesosok pria yang tak lagi berbentuk manusia di hadapannya. Suara Sasuke terasa menggema dan menakutkan, selebihya hanya suara nafas pria sekarat itu yang mendominasi. "Kami menyebutnya interogasi meski ini lebih mirip penyiksaan," sambungnya sembari mengusap pistol di tangannya. "Tapi inilah bagian yang paling kusukai."

"Hentikan Sasuke, ini bukan dirimu," sahut Sakura dengan nafas tercekat.

Diluar dugaannya, Sasuke justru memberinya kode untuk mengambil posisi di hadapannya. Sepasang mata elang itu masih semerah darah, sehingga Sakura sadar senyuman itu hanyalah senyuman palsu.

Perlahan, Sakura menuruti ucapan Sasuke dan mengambil tempat di depannya –berhadapan langsung dengan tawanan mereka. Sakura hampir menangis saat menyaksikan kondisi menyedihkan pria di hadapannya. Wajahnya rusak dan tubuhnya penuh luka. Rintihan kesakitan berkali-kali terdengar dari bibirnya yang juga tak lagi berbentuk. Tak tahan dengan pemandangan di hadapannya, Sakura memejamkan matanya sembari berusaha menahan air mata.

"Buka matamu sayang," bisik Sasuke sembari mencengkeram dagu Sakura dari belakang. "Lihatlah betapa indahnya karyaku ini. Kau menyukainya Hm?"

Sakura bisa merasakan nafas panas pria di belakangnya. Hatinya terasa mencelos, namun keberanian untuk melawan tiba-tiba muncul dalam dirinya. Ia tak mengerti apa tujuan Sasuke mengatakannya, namun dengan wajah angkuh, Sakura mengangguk sembari memandang sepasang mata elang itu melalui cermin di hadapannya.

Sasuke menyeringai puas. "Kalau begitu, apa kau akan senang kalau kulakukan hal yang sama kepada kekasih kesayanganmu itu?" bisik Sasuke penuh ancaman.

Sakura tersentak, ia tak menjawab dan hanya memandang tak percaya wajah iblis yang terpantul melalui cermin di hadapannya. Sasuke semakin menyeringai lebar. Dugaannya benar, gadis ini tengah ketakutan.

"Hentikan leluconu ini Sasuke," ucap Sakura susah payah sembari tetap berusaha memasang wajah tanpa emosi meski hatinya benar-benar ketakutan.

"Cih..lelucon kau bilang?"

"Kau adalah kekasihku, aku adalah milikmu. Kau lupa? Bahkan cincin pengikat kita belum lama kau kenakan," ucap Sakura berusaha menarik diri Sasuke yang sesungguhnya. "Aku mencintaimu," dan lagi-lagi Sakura menggunakan mantra andalannya.

Kali ini Sasuke tak cepat luruh. Disentuhnya jemari Sakura kemudian ia menyelipkan pistol yang mulanya ada dalam genggamannya. "Kalau begitu selesaikan semua ini untukku."

Sakura tak bergeming. Ia berusaha mengatur nafas sebelum akhirnya mengarahkan pistol dalam genggamannya tepat ke arah jantung pria di hadapannya. Tanpa ragu, Sakura melakukan apa yang diperintahkan kekasihnya. Ditariknya pelatuk pistol dalam genggamannya dan berakhir sudah segala penyiksaan ini. Pria di hadapannya tewas tanpa perlawanan.

Seluruh manusia yang menyaksikan aksi menyedihkan di hadapan mereka hanya sanggup menunduk prihatin.

Sementara itu, Sasuke menghirup nafas dalam-dalam sekali lagi sembari menutup sepasang mata elangnya. Iris semerah darahnya langsung berubah menjadi onyx setelah kelopak matanya terbuka. Di depannya, tanpa air mata Sakura masih berdiri dengan tegar. Mereka saling bertatapan melalui cermin yang berjarak sekiar lima meter di depan tempat mereka berdiri.

"Kau puas?" tanya Sakura dengan mata berkaca. Bukan karena cengeng, melainkan karena emosi dalam dirinya yang tak terbendung.

Sasuke tak menjawab, bahkan sama sekali tak mengubah ekspresi datarnya. "Kau tahu betul apa yang membuatku begini," jawabnya tanpa ekspresi berarti.

"Kau tak mau mendengarkanku lagi?"

"Apa itu penting?"

Dengan kesal, Sakura membanting pistol dalam genggamannya dan beralih menatap Sasuke. "Kau pikir aku selamanya akan diam hah? Kau pikir aku selamanya akan rela bila terus kau injak?"

"Siapa yang menginjak siapa?"

"Demi Tuhan Sasuke! Kau selalu menjadikan kelemahanku sebagai hukuman untuk segala hal tidak masuk akal yang kau tuduhkan padaku! Kau tak pernah mengijinkanku memberikan penjelasan. Kupikir kau mengerti yang kurasakan. Kupikir kau–"

"Kau pikir aku adalah manusia tak berperasaan yang tak memiliki emosi apapun? Kau salah Sakura, aku manusia biasa yang juga bisa marah bila milikku tersentuh."

"Kau adalah manusia picik yang tak pernah bisa menerima kenyataan! Kau hanyalah manusia yang selalu terbayang masa lalu hingga lupa dengan siapa sekarang kau hidup! Kau anggap aku apa Sasuke?" Segala emosi meluap begitu saja. Disaksikan belasan pasang mata, mereka saling melempar perasaan yang selama ini tertahan. "Aku bukan Ino. Aku adalah Sakura Haruno. Gadis yang jatuh cinta padamu dan telah merelakan segalanya untukmu. Tak bisakah kau melihatnya? Sampai kapan kau akan menyiksaku dan membuatku terlihat menyedihkan di hadapan seluruh manusia yang menyaksikan kisah kita?" lirih Sakura setengah berbisik.

Bukannya menjawab, Sasuke justru mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bukan karena tuduhan tak beralasan Sakura, melainkan karena ucapan gadis itu sepenuhnya benar.

"Aku tahu kau hanya ketakutan. Di sini, aku tahu rasanya sangat sakit," ucap Sakura sembari menyentuh dada Sasuke. Tepat di tempat segala rasa sakit dan menyesal yang selama ini menghantuinya berasal. "Jadi berhentilah melakukan semua ini Sasuke. Percayakan hatimu padaku," pinta Sakura tulus.

Dengan halus, Sasuke meraih tangan Sakura yang semula menempel di dadanya. tanpa bicara apapun, Sasuke berlalu dan meninggalkan gadis itu sendirian. Yang dibutuhkannya hanya waku, Sakura tahu itu. Sasuke akan kembali padanya, pasti.

###

Pertengkaran Sakura dan Sasuke ternyata sampai ke telinga Sakumo. Dengan sengaja, Sakumo memanggil putrinya untuk bicara dari hari ke hati. Ia sadar Sasuke bukanlah tipe orang yang suka mencurahkan isi hatinya, jadi ia memutuskan untuk bicara dengan Sakura dan membiarkan saja saat Sasuke meminta ijin untuk tinggal di luar markas untuk sementara waktu.

"Kalian bertengkar?" tanya Sakumo sebagai pembuka.

Sakura hanya diam. Seharian ini seisi rumah seolah mengacuhkannya. Selain Hinata, anggota lain memilih diam dan tak mengajaknya bicara sama sekali bahkan untuk sekedar bertegur sapa. Sebesar itukah kesalahannya? Mengapa mereka hanta diam saat Sasuke menjalankan misi tanpanya dan memilih Ino untuk mendampinginya? Jujur saja, Sakura merasa semua ini tidak adil.

"Hanya masalah kecil Ayah," jawab Sakura tenang. "Kami hanyalah remaja yang tengah beranjak dewasa."

Sakumo mengangguk maklum. "Anehnya Sasuke sampai memutuskan tinggal di luar untuk sementara waktu. Sebesar apa permasalahannya?"

"Hanya salah paham. Aku yakin Sasuke hanya membutuhkan waktu untuk berfikir," terang Sakura masih tanpa emosi yang berarti. Ia tak ingin membesar-besarkan masalah kecil seperti ini.

"Baiklah. Aku biasanya tak mengambil keputusan seperti ini, tapi apakah kau mau mengambil misi ke luar kota? Hanya mengantarkan paket ke markas kita di sana. aku yakin kau juga butuh waktu untuk mengambil jarak sebentar," tawar Sakumo.

Sakura berfikir sejenak. Mungkin ada baiknya ia mengambil jarak sebentar hingga emosi Sasuke reda. Akhir-akhir ini memang emosi Sasuke sedang labil. Selain karena masalah ini, pergerakan bulan juga mempengaruhi emosi dalam dirinya.

"Baiklah," sahut Sakura mantap.

Sakumo hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sembari menandatangani surat tugas di hadapannya. Sementara Sakura berkutat dalam pikirannya sendiri. Ia ingat Sasuke pernah mengatakan untuk tidak menerima misi apapun tanpa dirinya. Kira-kira apa yang akan dilakukanya bila tahu Sakura akan berangkat ke Suna tanpa pengawalan seperti sekarang?

TBC...

Author's note :

Lama fakum sementara, begitu hadir langsung disambut dua berita duka sekaligus. Syok? Pasti. Terutama saat tahu kalau salah satu dari dua author yang mendahului kita minggu ini adalah author yang saya kagumi. Jujur ortu saya sampek bingung waktu lihat saya nangis, apalagi waktu tahu yang saya tangisi bukanlah orang yang saya kenal dekat. Tapi sekali lagi, ngga tau kenapa rasanya sesak bgt ini dada. Cs Raffa-senpai adalah salah satu author yang menjadi inspirasi saya. Semoga kedua sosok hebat yang telah berpulang mendahului kita (Kak Arnanda Indah dan Kak Chirstian Raphael) diterima di sisi Tuhan YME dan diampuni segala dosanya. Serta sema yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.

Back to fic.

Maaf bgt atas kealpaan saya. Minggu-minggu ini sibuk banget ngurus sekolah. Mulai dari ujian, nyelesaiin tugas, serta remidi (sedihnya yang remidi kok yaa mata pelajaran bhs Jepang) -.-
Yaa...ampun...

Terimakasih buat reader yang udah bersedia nunggu, saya ngga tau harus bilang apa selain maaf... dan atas saran salah satu readers yang setia, saya akan berusaha membalas review satu-satu sekarang. : )

empatapme : Makasih ripiunya.. iya, ini update. Maaf kalo ada kurang-kurangnya, bilang aja...gapapa kok... Saya menerima segala macam masukan...

oh : Ini kukabulkan...hehe... makasih yaa idenya... Maaf telat updatenya,,, ;)

me : Makasih yaa... : ) *lirik tanggal terakhir update* mm...kayaknya lebih dari batas yang dijanjikkan yaa? Maaf bgt, lagi banyak bgt urusan kmaren... alhamdulillah ini sempet... Happy ending? Diusahakan ya? :p ga bakal di discont apalagi delete. Exterminator adalah salah satu fic impian saya.. : )

Yuna-Kimi-Diny : Hehe..iyaa makasih...

Devi lauramora : Makasih yaa... : )

Fufufu : Makasiih :)

Trancy Anafeloz :Oke..makasih...ini diusahakan wat memperlihatkan sifat protective Sasuke.

Sakura's fans :Ini lanjut.. : ) Ikutin terus yaa...

Dwi A : Ngga berani bikin yg asem-asem..hehe... pengen cowok kayak Sasuke? Saya juga... ._. Sampe berapa chap? Mm...maunya siih ngga lebih dari 20... ngga suka kalo cerita kepanjangan n malah bikin readers bosen...

ononovia : Makasih yaa,, : )

HanRieRye : Makasih yaa,,,, :)

princess'nadeshiko : Iya niih..kurang asem tapi katanya... hehe... emang ga jago bikin lemon... Makasih udah mengikuti... :)

uchiharuno phorepeerr : Sasu kan setia...makannya sulit membuka hati... tapi udah kelihatan kan sayangnya Sasu ke Saku? Bentar lagi kita siksa si Sasu. Wkwkwk...
Makasih yaa... When The Love Falls apdetnya bareng kok... :)

BlackLily : Iya...ini update,.. :)

always sasusaku :eeeh..udah terjawab di chap ini belom? Hehe...semoga puas yaa...

Kikyo Fujikazu :Ga berani bikin lemon yang asem2 niih ._.

Voila Sophie : Hay...kamu kamu kamu lagi.. hehe... makasih yaa udah mengikuti sampe segini.. senseless? Udah diupdate kok...

kudoamie : maksih yaa...mau repiew walau cuma sekali rasanya udah seneeeeeeeng bgt... : )

ghostgirl-inthebottle : ini sedang berusaha menyadarkan sii Sasu.. *digemplang Sasuke. Hehe... Gaara merasa tahu segalanya tentang Sakura n ga terima Sasuke yang berhasil dapetin hati Saku.

zetta hikaru :Oke... Ijin fav?Boleh.. BOLEH BANGET malahan... :D hehe... makasih yaa udah mengikuti.. :)

cerry Hishikawa : Makasih...jangan bosan read n ripiu yaa... :)

Haruno Cherry-hime : Makasih yaa,... : )

inai chan : Ini udah yg paling hot yg bisa kubuat... -.- hohoho...

MemelSasusakuLove : Makasih...maaf yaa telat pake banget ini malah... -.-

Sung Rae Ki : Makasih yaa doanya... : ) ujiannya sukses, kecuali bahasa Jepangnya... ._. Sasuke mulai sadar kok...pelan2 kita bikin dia terlihat bodoh karena cinta...hehehe...

kakkoii-chan : ngga tau harus bangga atu sungkan ._. hehehe... makasih ripiewnya... iya...sii Sasu udah mulai luluh pelan-pelan meskipun masih ga mau ngakuin perasaannya... mulai kelihatan ya? alhamdulillah berarti berhasil.. hehe

Kyuhyuncho : Hehe.. iya... :D eh? Maunya siih ngga lebih dari 20... :) ga engenbikin readers bosen soalnya...

miyank : Oke...makasih,,,,ini lanjuuuuut..:)

Kirara Yuukansa : Ijin fave? BOLEH BANGEEEEEET :D makasih yaa...

kuchiki lover : Maaf telat, maaf...bgt.. kamu deg2an bacanya? Yang bikin apalagi... ._. paling deg dgan nunggu komentar kalian semua... hehe makasiih...

Tsukiyomi Aori Hotori : Kenapa ya? -.- habisnya ide selalu datang dan pergi di saat yang tak terduga... saya sedih jadinya.. ._. maaf yaa lamaaa pake bangeeeet

Uchiha Hime Is Poetry Celemoet :Nanti kita buat dia cemburu sampe hampir mati.. hehehe... sabar yaa...

Gracia De Mouis Lucheta : *Dengan mata melotot* hehehe...
Sakura itu...meskipun manja n terkesan lemah...tapi sebenernya dialah yang memegang kendali atas Sasuke... hehehe... makasih yaa...jangan bosan ripiu... : )

Karasu Uchiha : Udah lebih bagus blm? : )

beby-chan : Maaf lama...pake banget malah... -,- kecewa pasti ya? tapi saya benar-benar bingung ujian, ditambah ide yang naik turun... semoga chap ini memuaskan...

SS : Ngaku langsungnya ntar dulu...kita siksa dulu si Sasu. Untuk sekarang sepertinya Sakura belum hamil dulu..,.tugasnya masih banak, kasian entar,,,,hehe...

celubba : Makasih ya...tapi kayaknya kali ini berantemna agak lamaan ini...hehe..

Yukina Itou Sephiienna Kitami : Emang dasar tu si sasu...mari kita paksa dia mengaku... hehe... makasih yaa.. :)

pussygirl : Makasih yaa... :)

Yoo -Yu : Hajar aja tuh sii Sasu...ckck... payah dia ga mau ngakuin perasaan *dijitak Sasuke. Wkwk... mudah-mudahan Sakura mau bertahan lebih lama n ga berpaling... hehe..

Uchiha Annisuke ELF : Maaf yaa...makasih udah berkenan menunggu... : )

Junsuina Ao Yuki : Makasih yaa...ikuti terus ceritanya... hehe...

Wakamiya Hikaru : Maaf atas apdet lemot ini... moga puas yaa.., besok deeh kita kupas kisah masing-masing anggota... hehe...

Sindi 'Kucing Pink : Udah pacaran resmi tuh mereka... hehe... tapi berantem lagi deeh... gapapa yaa? Namanya juga bumbu-bumbu cinta... wkwk... tengkiu yaaa... : )

meyrin kyuchan : Jangan lumutan doong... :( hiks...
yang ini masih kurang panjang ngga.? Mudah2an engga yaa...
maaf lagi-lagi bikin km nunggu sampek lumutan... ._.
aku juga ga ngerti kenapa ngga pernah bisa update kilat kayak dulu.,..

exterminating angel : Si Sasu masih galau...dia pengen ngikat Sakura tapi masih belum bisa mengaku secara blak-blakan. Berharap Sakura bisa membaca dari cara dia bersikap... maaf yaa updetnya telat lagi... ._.

Makasih semua...yang udah nunggu, fav, dan ripiu... maaf saya masih aja suka telat update... ._. ini ru bisa kelar semua... makasih yaa... :)

Minta ripiu lagi boleh?

Makasiiiih...