Tittle : Return

Author : Kim Joungwook

Pairing : YunJae

Length : 10

Genre : Romance, Family, Hurt/comfort

Summary : seorang namja yang ingin kembali kepada cintanya setelah pergi meninggalkan sang kekasih demi dunia semu yang ia impikan. Mencampakkan sang kekasih bersama dengan sang titipan Tuhan. Mencoba sepenuh hati untuk kembali membina kasih yang sempat terputus justru saat sang kekasih sudah berhasil hidup tanpa dirinya. YunJae fic! Bad summary! Just read!

Warning : YAOI, Mpreg! Typo(s)

.

.

.

"jadi tak salahkan jika aku marah?" gumam Jaejoong lirih. Ia berjalan lemas keluar dari kediaman Jung.

"aniya, kau salah, hyung." Sebuah suara husky menghentikan langkah Jaejoong. Ia sedikit berjengit kaget saat mendapati Yoochun berdiri tak jauh darinya.

"kau mengagetkanku, Chun." Ucap Jaejoong pelan sembari mengelus dadanya sendiri. Yoochun menyeringai dan berjalan mendekat ke arahnya. Ia melingkarkan lengannya ke sekeliling pundak Jaejoong, mendekatkan mulutnya ke telinga Jaejoong dan berbisik sepelan mungkin.

.

"Ingin kuberitahu rahasia Jung Yunho padamu, hyung?"

.

.

.

Part 10 [Flashback time]

.

[2000 ]

"Jaejoong ah."

Suara berat dengan intonasi pelan itu membuat Jaejoong berbalik, memandang sang pemanggil dengan dahi yang berkerut.

"ada apa, Yunho ya?" Tanya Jaejoong begitu mendapati Yunho berdiri disamping mejanya. Yunho tersenyum tipis, mengusap tengkuknya gugup. Dan Jaejoong tanpa sadar terkikik kecil melihatnya.

"apa kau bisa ikut denganku sebentar?" Yunho bertanya dengan pandangan memohonnya. Jaejoong menoleh, memandang teman sebangkunya sebentar sebelum mengangguk pada Yunho.

"ne." jawab Jaejoong singkat. Yunho mengangguk dan mengajak Jaejoong keluar dari kelas.

Mereka berjalan sampai lorong samping kelas mereka, dekat dengan kamar mandi.

"eum, begini Jaejoong ah, sebenarnya aku tak tahu harus bagaimana mengatakannya padamu. ini petama kalinya bagiku merasakan hal seperti ini." Ucap Yunho mengawali. Jaejoong hanya diam, bersandar santai pada dinding dibelakangnya. Ia tersenyum geli memandang awkward act milik Yunho.

"jadi, sepertinya aku menyukaimu, Jaejoong ah. Bolehkah aku menjadi pacarmu?" Yunho memandang Jaejoong ragu.

"eh?" Jaejoong tersentak kaget. Tidak! Dia tidak kaget dengan pernyataan suka dari Yunho. ia sudah tahu hal itu hanya dengan melihat perhatian Yunho padanya. Tapi kalimat terakhir itu cukup membuatnya kaget.

"waeyo, Jaejoong ah? Kau tidak menyukaiku?" Tanya Yunho bingung. Jaejoong menggeleng cepat.

"ani, aniya. Bukan begitu maksudku. Aku juga menyukaimu. Tapi, kau menawarkan dirimu untuk menjadi kekasihku?" Tanya Jaejoong. Yunho mengangguk ragu, masih tak mengerti mengapa Jaejoong bertanya seperti itu. bukankah jika mereka saling menyukai sudah cukup untuk berpacaran? Dan sekarang Jaejoong justru tertawa kecil sendiri.

"lalu, apa jawabanmu?" Tanya Yunho akhirnya. Jaejoong mengangguk cepat, mengganti tawa itu dengan sebuah senyuman lebar seketika.

"aku mau, Yunho ya. aku mau kau menjadi kekasihku!" ucap Jaejoong tanpa sadar melonjak kecil, ia sangat bahagia. Yunho tersenyum lebar dan reflek memeluk tubuh Jaejoong dihadapannya.

"gomawo Jaejoong ah, gomawo~" ucap Yunho pelan. Ia memeluk erat Jaejoong dan menggoyangkan tubuh mereka ke kanan-kiri. Sangat bahagia pernyataan cintanya diterima.

"eum, Y-Yunho ya. ini masih disekolah." Gumam Jaejoong gugup. Ia belum siap mendapat pelukan erat seperti ini. Yunho terdiam dan langsung melepas pelukan itu dnegan kikuk.

"M-mianhae."

.

Mereka kelas 2 Senior High School saat itu. saat mereka pertama kali menyatakan suka satu sama lain. Awal hubungan percintaan mereka semuanya berasal dari sini. Dari awal, tak ada yang menyangka bahwa dua namja paling berpengaruh dalam kelas itu akan berakhir menjalin hubungan asmara.

Jung Yunho sang ketua kelas yang tenang, dengan Kim Jaejoong sang flower boy. Dua pribadi yang sebenarnya cukup bertolak belakang. Tapi dengan semua itu, teman mereka hanya diam dan membiarkan saja selama mereka tidak menggaggu dan merugikan. Lagipula, saat itu kelas untuk namja dan yeoja terpisah, sehingga tidak terlalu banyak gossip beredar.

.

.

.

[2001 ]

Malam ini malam perpisahan. Setelah kemarin mendapat pengumuman keluusan, dan akhirnya sekarang diadakan farewell party untuk melepas kelas tiga yang baru saja lulus. Berbagai kegiatan Pensi diadakan malam ini. Para hobae dan sunbae saling bercerita dan bercengkerama di halaman belakang sekolah untuk terakhir kalinya. Sebuah mini panggung sudah disiapkan, dengan kursi yang tertata rapi.

Terlihat Jaejoong dan Yunho tengah duduk dibaris paling belakang kursi, menyaksikan aksi band yang tengah tampil di panggung.

"jadi Yunho ya, kau akan melanjutkan kuliah di mana?" Tanya Jaejoong. Tangannya memeluk lengan Yunho dan menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih. Yunho tersenyum, tangannya membelai lembut rambut Jaejoong.

"kalau kau akan kemana, Jae?" Yunho justru balik bertanya. Jaejoong tersenyum kecut. Sudah kesekian kalinya ia bertanya pada Yunho tentang kelanjutan sekolah mereka, dan namja tampan itu selalu berhasil melarikan diri untuk tidak menjawab.

seperti saat ini.

"aku bertanya padamu, Yun. Jawablah, jangan balik bertanya. Lagipula kau sudah tahu aku akan melanjutkan kemana. Sekarang kau harus menjawab pertanyaanku." Balas Jaejoong tak terima. Yunho tertawa dan mencium rambut Jaejoong.

"aku akan melanjutkan ke tempat kau akan pergi. Kau ke Hankook University kan? Aku juga akan kesana. Tapi, jika kau mengambil seni music kontemporer, aku harus mengambil manajemen bisnis." Jelas Yunho. Jaejoong tersentak, ia melepas pelukannya dan duduk tegak memandang Yunho.

"jeongmalyo? Bukankah Jung ahjussi berencana membawamu ke jepang?" tanya Jaejoong. Yunho mengangguk.

"memang appa ingin aku ke sana. Tapi aku menolak. Aku tak mau berpisah denganmu, oleh sebab itu aku diperbolehkan sekolah di sini dengan syarat harus langsung masuk ke perusahaan appa begitu lulus." Jawab Yunho dengan senyumnya. Jaejoong tersenyum, matanya berkaca-kaca mendengar pernyataan itu.

"gomawo, Yun. jeongmal saranghae." Ucap Jaejoong. Yunho tersenyum dan tanpa berkata apa-apa, ia mendekatkan wajahnya. Tangannya membelai lembut sisi wajah Jaejoong, membuat Jaejoong tersenyum dan menutup matanya.

Dan ciuman itu akhirnya terjadi. Setelah lebih dari satu tahun mereka bersama, baru kali ini mereka berciuman. Ciuman pertama di akhir masa Senior High school. Tidak terlalu romantis, tapi cukup berbekas di benak masing-maisng.

"aku sangat mencintaimu, Jae." Gumam Yunho saat ciuman itu terlepas. Jaejoong tersenyum, tangannya terulur untuk ikut membelai wajah Yunho,

"aku juga sangat mencintaimu." Balas Jaejoong. Mereka saling melempar senyum sebelum akhirnya berpelukan. Sejak tadi sore acara ini dimulai, mereka tidak bisa menghabiskan waktu berdua. Banyak hobae dan juga teman mereka mengucapkan selamat dan ucapan perpisahan. Sehingga baru saat ini mereka bsia bersama.

.

Dan memang saat itu adalah masa paling mebahagiakan mereka. Masa SMA dimana tidak banyak hal yang terjadi diantara mereka. Jaejoong dan Yunho sudah mengantongi restu dari eomma dan appa Jung saat itu. Kedua bumonim Yunho itu tidak mempermasalahkan orientasi mereka, cukup dengan sang aegya bahagia semua sudah cukup.

Walau mereka harus menelan kekecewaan karena tidak bisa mendapat keturunan Jung langsung dari darah mereka. bukankah Jaejoong seorang namja?

.

.

.

[2005 ]

Sudah lebih dari 5 tahun mereka menjalin hubungan, dan selama itu pula mereka mencoba meyakinkan bumonim mereka untuk merestui hubungan ini. Appa dan eomma Jung sudah mendukung mereka, merestui hubungan ini. Meski Appa Jung sudah berpulang ke hadapan Tuhan, setidaknya ia sudah merestui hubungan Yunho dan Jaejoong. Kini, tinggal meyakinkan appa dan eomma Kim. Meski sudha berkali Yunho dan Jaejoong meyakinkan keduanya bahwa mereka saling mencintai dan semua akan baik-baik saja, tetap saja mereka bersikeras menentang hubungan ini.

Mereka masih tak mau Jaejoong, sebagai anak lelaki satu-satunya keluarga Kim mempunyai pasangan seorang namja juga, karena hanya Jaejoong yang bisa melanjutkan maraga Kim. Meski Yunho justru anak satu-satunya keluaraga Jung, tapi itu tetap tidak mempengaruhi pendirian eomma dan appa Kim.

Dan saat ini, Yunho dan Jaejoong duduk bersimpuh di depan eomma dan appa Kim, sekali lagi mencoba meyakinkan mereka bahwa semua akan berjalan lancar dan baik-baik saja.

"kalian memang sangat keras kepala." Ucap appa Kim sembari memijat pelan pelipisnya. Ia pening setiap kali melihat Yunho dan Jaejoong bersimpuh seperti ini. Yunho dan Jaejoong mendongak, menegakkan kepala mereka setelah sekian lama hanya diam dan menunduk,

"kami hanya ingin mempunyai penerus keluarga Kim. Hanya itu, tidak lebih." Tambah appa Kim. Ia memandang bergantian antara Jaejoong dan Yunho.

"tapi sekarang, noona mu justru sudah memberikan kami cucu yang sangat lucu dan tampan." Kali ini eomma Kim bersuara, di pangkuannya terlihat seorang bayi yang baru beberapa bulan di dunia ini. Eomma Kim terus tersenyum memandang sang cucu.

"dan karena itu, kami juga ingin menyelesaikan perseteruan antara kita berempat. Perang dingin selama hampir 6 tahun ini." Ucap eomma Kim. Appa Kim menghela nafasnya, ia menegakkan tubuhnya dan memandang serius kearah Jaejoong dan Yunho.

"Jung Yunho, sekali lagi aku ingin bertanya. Janji apa yang bisa kau berikan padaku jika kau bersama Jaejoong?" Tanya appa Kim. Yunho menelan ludahnya gugup, meski sudah berulang kali menjawab pertanyaan itu, tetap saja ia merasa gugup.

"aku akan terus menjaga Jaejoong, aku akan berusaha memenuhi semua kebutuhan Jaejoong, baik itu materi maupun batin. Kami sadar, dengan cinta saja kami tidak akan hidup dengan baik. oleh karena itu, untuk materi dan semuanya, aku yakin bisa memenuhinya, appa. Dan aku akan berusaha menjaga perasaanku untuk Jaejoong,tetap berada disampingnya kapanpun ia butuh. Aku ingin menjadi tempatnya pulang dan bersandar." Jawab Yunho tegas. Jaejoong hanya diam, walau ia sudah mendengar jawaban itu berulang kali, tetap saja ia masih juga terharu.

Eomma dan appa Kim tersenyum, saling berpandangan sesaat sebelum mengangguk.

"Yunho ya, Jaejoong ah. Eomma dan appa sudah sepakat untuk merestui hubungan kalian. Kami sudah cukup lelah melarang kalian selama ini. Dan kegigihan kalian sudah berhasil meyakinkan kami bahwa semuanya akan baik-baik saja." Ucap eomma Kim. Yunho dan Jaejoong langsung memandang eomma dan appa Kim tak percaya.

"jeongmal appa? Eomma?" Tanya Jaejoong dengan matanya yang berkaca-kaca. eomma dan appa Kim mengangguk yakin.

"ne."

Dan air mata Jaejoong mengalir saat itu juga. Ia bukan seorang yang cengeng, tapi mendapat berita menggembirakan ini membuatnya mau tak mau menangis, perjuangan dan penantian mereka selama ini berbuahkan hasil yang tidak mengecewakan.

"Gomawo appa, eomma."

Dan dua namja itu memeluk eomma dan appa Kim, menyampaikan betapa mereka sangat bahagia mendapat restu dari mereka.

.

Saat itu awal musim dingin. Di tengah libur semester yang sedang dijalani, mereka pulang ke rumah Jaejoong. Dan dengan diterimanya restu dari eomma dan appa Kim, Yunho dan Jaejoong sudah tenang untuk terus melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Karena memang, mereka sudah merencanakan untuk menikah begitu lulus kuliah. Terkesan terburu-buru memang, tapi tidak bisa lagi ditunda jika sudah sangat lama mereka menjalin hubungan ini.

.

.

.

[2007 ]

Tak ada yang menyangka bahwa kedua namja itu akan berakhir di sebuah pelaminan. Tak ada yang tidak tertarik dengan berita 'penerus satu-satunya Jung corp akan menikah di Belanda dengan seorang namja bermarga Kim' yang tengah tayang dimana-mana. Hampir semua stasiun TV menayangkan berita tersebut, meski identitas sang pendamping Jung Yunho masih dirahasiakan. Tetapi, sebagai salah satu tonggak ekonomi Korea, Jung corp sangat terkenal. Dan berita itu cukup menggemparkan di Korea.

Tapi tidak mempengaruhi apapun di gereja tempat perayaan itu diselenggarakan. Bahkan keadaan gereja cukup sepi dan hening. Hanay ada beberapa bisikan para tamu undangan yang datang.

"Hyung? Kau baik-baik saja?" pertanyaan Yoochun itu membuat Yunho menggeleng kecil.

"aku tidak baik-baik saja, Chun." Jawab Yunho lemas. Ia duduk di kursi rias sejak 10 menit yang lalu, dan tidak melakukan apapun. Padahal 15 menit lagi pemberkataan akan dilakukan.

"aku membawakan hyung seseorang." Ucap Yoochun setelah menepuk pelan pundak Yunho. Yunho berbalik, memutar kursi riasnya.

"hai, Yun." Panggilan kecil itu membuat tulang pipi Yunho terangkat. Ia tersenyum lebar mendapati Jaejoong berdiri diambang pintu. Ia langsung berdiri dan menghambur ke pelukan Jaejoong.

"aku benar-benar bersyukur kau datang." Gumam Yunho menyusupkan kepalanya ke leher Jaejoong. Ia benar-benar merasa nyaman begitu menghirup aroma Jaejoong disekitarnya.

"kau pikir aku akan kabur di hari pernikahanku sendiri?" Tanya Jaejoong pelan, ia membelai lembut punggung Yunho, mencoba menenangkan calon mempelainya itu.

"hahaha, sangat konyol memang aku memikirkan kemungkinan itu." jawab Yunho. Jaejoong terbebelalak, ia mendorong tubuh Yunho menjauh dan memandang tak percaya ke arahnya.

"kau benar-benar berpikir seperti itu? pabbo!" teriak Jaejoong diakhir kalimatnya. Ia mendorong dahi Yunho dengan telunjuknya.

Yunho mem-pout-kan bibirnya tak terima, "aku hanya terlalu paranoid, itu saja." Bela Yunho. Jaejoong terkekeh dan mengecup sekilas pipi kanan Yunho.

"aku akan kembali. Riasanku belum selesai saat tadi aku diseret Yoochun kesini." Ucap Jaejoong pamit. Yunho mengangguk kecil, senyumnya kembali terlihat.

"kiss?" Yunho menunjuk bibirnya sendiri. Jaejoong tersenyum lalu menggeleng kecil.

"tunggu nanti di altar." Jawab Jaejoong sebelum melambaikan tangannya dan keluar dari ruangan Yunho. namja tampan itu tertawa, pandangannya mengikuti kearah hilangnya Jaejoong.

"hah~"

.

Saat itu awal musim semi. Saat bunga tulip bermekaran dnegan indah di negeri kincir angin itu. saat sebuah ciuman sederhana menjadi awal dari tahap akhir kehidupan cinta mereka.

Pernikahan.

Awalnya, Jaejoong dan Yunho tak pernah menyangka bahwa mereka akan sampai di altar seperti ini. Saat mereka hanya mengalami cinta masa remaja, saat SMA. Dan berlanjut sampai kuliah. Masa paling berat bagi mereka, karena banyak rintangan dan juga orang-orang baru yang masuk ke dalam perjalanan cinta mereka. dan semua itu berakhir di sini, di tengah tepukan tangan para undangan dan juga hembusan angin musim semi yang menenangkan. Mereka berjanji di depan Tuhan.

"I do."

.

.

.

Sudah hampir 4 bulan berlalu sejak hari pernikahan Jaejoong dan Yunho. dan selama itu tak ada kejadian berarti dalam keluarga mereka. eomma Jung yang meminta Jaejoong untuk tinggal di kediaman Yunho, hingga Jaejoong hanya bisa menurut. Apalagi ia memang tinggal sendiri sejak eomma appanya sudah tiada 1 tahun yang lalu. Tapi entah mengapa, sudah lebih dari seminggu ia merasa cepat lelah. Bahkan saat ia tidak melakukan pekerjaan berat apapun, ia tetap merasa letih. Ia pikir ia terkena anemia, sehingga ia meminta pendapat Yunho untuk memeriksa ke dokter.

"Yun, bagaimana kalau besok aku ke rumah sakit? Aku ingin memeriksa tubuhku yang entah mengapa cepat lelah akhir-akhir ini." Ucap Jaejoong saat Yunho baru saja keluar dari kamar mandi, berendam sebelum tidur.

"jeongmalyo? Kau tidak bekerja kan selama ini?" Tanya Yunho menyelidik. Memang sejak mereka menikah, Yunho sudah berjanji akan membuatkan café untuk Jaejoong, tidak mengijinkan istrinya itu Jaejoong juga sudah menyetujui itu, meski ia tetap saja kesal karena ia jadi pengangguran. Walaupun akses belanjanya tidak terbatas dengan gold card milik Yunho.

"tentu saja tidak! Aku lebih baik belanja dengan kartu unlimited mu daripada bekerja sampai membuatku kelelahan." Jawab Jaejoong tak terima. Yunho terkekeh dan ikut merebahkan tubuhnya disamping Jaejoong yang sudah lebih dulu berbaring.

"baiklah. Lebih baik kau memang memeriksakan dirimu. tapi maaf, besok aku ada meeting, jadi tak bisa menemanimu, chagi. Gwenchana?" Yunho bertanya dengan raut penyesalan di wajahnya. Jaejoong tersenyum, ia membelai lembut sisi wajah Yunho.

"gwenchana."

Dan Yunho mengecup singkat bibir Jaejoong sebelum merengkuh tubuhnya untuk tidur.

.

Jaejoong duduk diujung ranjangnya dalam diam, membuat Yunho yang baru saja keluar dari kamar mandi mengernyit heran.

Sejujurnya ia sudah memaksa Jaejoong untuk memberitahunya hasil check up hari ini, tapi Jaejoong menolaknya dan baru akan memberitahunya setelah makan malam. Dan Yunho semakin khawatir saat selama makan malam Jaejoong hanya diam dan menjawab pertanyaan eomma Jung apa adanya.

"jadi, jae. Bagaimana hasil periksamu tadi?" Tanya Yunho. ia mendudukkan dirinya disamping Jaejoong dan menyentuh pelan paha sang istri. Jaejoong menarik nafasnya dalam-dalam sebelum memandang Yunho.

"berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku apapun yang akan kukatakan!" pinta Jaejoong. Yunho terdiam sejenak sebelum mengangguk.

"aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. Kemarilah, kau membuatku takut." Balas Yunho. ia menarik lembut lengan Jaejoong dan menyuruhnya untuk duduk dipangkuannya. Ia memeluk tubuh Jaejoong dan menenggelamkan wajahnya di leher sang anae. Dan semua pikiran buruknya langsung menghilang begitu mencium aroma harum dari tubuh Jaejoong.

"jadi?" Tanya Yunho saat Jaejoong belum membuka mulutnya. Jaejoong menarik nafasnya dalam-dalam dan memeluk punggung Yunho erat.

"aku sudah memeriksakan tubuhku tadi. Dan jawaban dokter membuatku nyaris gila!" ucap Jaejoong frustasi, Yunho mengernyitkan dahinya bingung. Ia mengangkat wajahnya dan memandang wajah Jaejoong dihadapannya.

Yunho tersenyum kecil dan menyibak rambut Jaejoong yang jatuh di wajahnya, "jadi, apa kata dokter?" Tanyanya pelan. Ia mengecup lembut pipi Jaejoong, mencoba meyakinkan sang istri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"dokter bilang aku hamil."

"…."

"…."

Loading please…

"MWO?!" dan teriakan Yunho terdengar sanngat memekakkan telinga karena jarak bibirnya yang sangat dekat dengan teliga Jaejoong. Namja cantik itu hanya meringis mendapati respon terlambat dari sang nampyeon.

"kau tak bercanda?" Tanya Yunho sembari mencengkeram pelan bahu Jaejoong.

Jaejoong mengerucutkan bibirnya dan mengangguk, kesal saat Yunho bahkan meragukannya.

"astaga, Jae~ aku tak akan meninggalkanmu karena berita bahagia ini! Aku sangat bahagia! Ya ampun Jae, aku mencintaimu~" dan Yunho menghujani wajah Jaejoong dengan kecupannya, ungkapan rasa bahagia yang bahkan ia tak tahu lagi bagaimana mengungkapkannya. Jaejoong terkikik geli mendapati respon sang nampyeon yang sedikit berlebihan dan kekanakan. Bahkan ia mengangkat tubuh Jaejoong dan memutarnya.

"aku juga mencintaimu, Yun~"

.

Yunho dan Jaejoong tak pernah menyangka akan mendapat berita bahagia seperti ini. Sejujurnya, sejak awal mereka memutuskan untuk menikah, tak ada niatan dari mereka untuk memiliki anak. Bahkan mereka sudah memikirkan untuk mengadopsi seorang anak jika nanti mereka menginginkan pelengkap bagi keluarga mereka. dan mendengar kabar kehamilan Jaejoong ini, membuat keluarga Jung sangat bahagia.

Dan bagi Jaejoong yang merasa tak pernah berkorban untuk Yunho, hal ini sangat melegakan. Setidaknya, ia bisa memberikan kebahagian yang sangat besar untuk suaminya.

.

.

.

[2008 ]

Yunho terdiam, setelah setengah jam yang lalu ia membawa Jaejoong ke rumah sakit, kini ia hanya berdiri tenang di depan kamar operasi. Bersandar di dinding dengan kaki yang menyilang dan tangan yang terlipat di depan dada. Ia mengabaikan keributan yang diakibatkan oleh Ryeowook dan Yoochun yang mondar-mandir tidak jelas didepannya. Bahkan eomma Jung juga ikut-ikut menggerutu dengan Ryeowook.

"apa kau tidak merasa khawatir dengan jae hyung didalam, Yunho hyung?" Tanya Ryewook akhirnya. Ia sedikit tak mengerti arah pikiran kakak ipar sepupunya itu yang sedari tadi justru terlihat tenang dan tidak menunjukkan ekspresi apapun.

"aku khawatir. Sangat khawatir malah." Jawab Yunho datar. Yoochun dan eomma Jung yang mendengarnya menghentikan aktifitas mereka dan memandang Yunho penuh keingintahuan.

"dan hyung masih bisa berdiam diri seperti itu?" Tanya Ryewook lagi. Yunho menghela nafasnya lelah.

"aku sudah tak punya tenaga lagi untuk sekedar mondar-mandir seperti kalian. Aku benar-benar lelah hanya untuk memikirkan keadaan Jaejoong dan calon bayiku didalam sana." Jawab Yunho. Ryeowook entah mengapa tertawa mendengar jawaban itu, mengundang pandangan bertanya dari yang lain.

"hyungie jeongmal meosisseo!" ucap Ryeowook sembari memeluk tubuh tegap Yunho.

"kenapa kau–"

"Jung Yunho-ssi?"

Kalimat Yoochun terpotong saat panggilan uisanim terdengar.

"ne, cheoyo." Jawab Yunho, ia segera melepas pelukan Ryeowook dan berjalan mendekat kea rah sang uisa.

"selamat, bayi anda laki-laki dan saat ini sedang dibersihkan oleh para suster. Dan keadaan Jaejoong-ssi juga baik-baik saja. Anda bisa menemuinya setelah kami pindahkan ke ruang perawatan."

Dan Yunho tak bisa menahan rasa bahagianya hingga ia tanpa sadar memeluk sang dokter.

"gomawo, uisanim, jeongmal gomawo."

.

Senyuman tak pernah menghilang dari bibir Yunho sejak ia duduk disamping ranjang Jaejoong dikamar VIP itu. apalagi kini digendongannya tengah tertidur sang aegya. Sang aegya yang baru 5 menit lalu diberikan oleh salah satu suster padanya.

"jae, kau sudah bangun." Ucap Yunho pelan saat melihat sang anae mengerjapkan matanya pelan. Jaejoong tersenyum dan akan mendudukkan tubuhnya saat nyeri tiba-tiba menyerang bagian bawah perutnya.

"ssstt.. jangan bergerak terlalu banyak, Jae. Luka jahit di perutmu belum kering. Berbaringlah dulu." bisik Yunho lembut. Jaejoong hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Ia kembali berbaring dan menoleh, memandang lembut pada makhluk mungil yang berada digendongan Yunho.

"biarkan aku melihatnya, Yun." Pinta Jaejoong. Yunho mengangguk dan membantu Jaejoong sedikit bergeser untuk memberikan space yang cukup untuk sang aegya. Yunho meletakkan dengan hati-hati anaknya disamping Jaejoong, membiarkan sang eomma melihatnya.

"dia sangat tampan." Gumam Jaejoong, tangannya dengan hati-hati membelai wajah makhluk mungil itu. dan tanpa sadar, air matanya mengalir, melihat bagaimana aegyanya tengah memejamkan matanya nyaman.

"kau sudah memberinya nama, Yun?" tanya Jaejoong sembari menatap Yunho. Yunho tersenyum lembut, membelai wajah Jaejoong sekedar menyeka air mata bahagia namja cantik itu.

"ajik. Tapi aku sedang memikirkan nama untuknya." Jawab Yunho. Jaejoong tersenyum dan kembali memandang sang aegya.

"bagaimana dengan Changmin, Jung Changmin?" Jaejoong meminta pendapat sang suami. Dan Yunho hanya bsia mengangguk, mengiyakan ucapan Jaejoong.

"ya, aku setuju. Namanya Jung Changmin."

.

18 Februari 2008

Sebuah tanggal yang sangat berarti bagi Jaejoong dan Yunho. saat angim musim dingin sudah mulai enggan untuk berhembus di penghujung musim. Hari kelahiran putra pertama mereka, pelengkap keluarga kecil mereka.

Jung Changmin

Sudah tak terkira berapa besar rasa syukur mereka terhadap Sang Pencipta, yang sudah memberikan anugrah yang sangat berarti. Menitipkan sesosok malaikat mungil ditengah-tengah mereka. malaikat yang mereka sudah bertekad dalam diri masing-masing untuk menjaganya sepenuh hati.

.

.

.

[2009 ]

Ruangan itu sepi, hanya ada tiga orang namja didalam ruangan itu. dan ketiganya hanya diam, tak ada yang membuka mulutnya untuk sekedar memulai pembicaraan. Sudah lebih dari 10 menit berlalu sejak mereka duduk di sana, dan sejak itu pula keadaan hening terus menyelimuti ketiganya.

Yunho menghela nafsanya pelan, mencoba tak membuat suara dari hembusan nafas itu. ia memandang Jaejoong datar, mencoba tidak menunjukkan ekspresi apapun saat ini. Ia sedang menata hatinya, menata seluruh tubuhnya untuk tetap sejalan dengan otaknya. Logika yang sudah susah payah ia bangun untuk menghadapi saat ini, dan tubuhnya harus menuruti otaknya, bukan hatinya.

"jadi, apa bisa kita lakukan sekarang?" suara Jaejoong terdengar nyaring memecah kesunyian. Yunho hanya diam, sedangkan namja yang didepannya mengangguk kecil, sedikit ragu untuk mengeluarkan apa yang diminta.

"b–baiklah." Jawab namja itu pelan. Ia segera membuka tasnya dan mengambil sebuah map berwarna hijau dan menaruhnya diatas meja yang ada didepannya.

"dimana aku harus tanda tangan?" suara Yunho menyahut cepat saat Jaejoong sudah akan bertanya. Namja cantik itu memanang sekilas kearah Yunho yang masih memandang datar kearah depan, tepatnya kearah map hijau itu.

, namja lain yang berada disitu menelan ludahnya gugup, atmosfer yang dibangun oleh Jung Yunho cukup menekan mentalnya saat ini. Ia dengan cepat membuka map itu dan memperlihatkan selembar kertas putih dengan bubuhan tinta hitam diatasnya.

"d–disini, Yunho ssi," ucap sembari menunjuk salah satu bagian kertas itu. Yunho tanpa berkata apapun langsung mengeluarkan penanya dan menandatangani dengan cepat kertas itu. menutup lagi pulpennya sebelum menyimpannya dalam saku jas.

"sudah. Jadi, tugasku sudah selesaikan?" Tanya Yunho sembari menatap tajam. Namja itu hanya mengangguk kecil, tak berani membalas tatapan Yunho.

"biarkan sekarang bagianku." Suara Jaejoong membuat mengangkat wajahnya dan memandang Jaejoong, ia membawa map itu ke depan Jaejoong dan menunjuk bagian dimana namja cantik itu harus menanda tanganinya.

"silahkan." Ucap . Jaejoong terdiam, ia memandang lekat-lekat ke tempat dimana Yunho membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu. ia menarik nafasnya berat dan menoleh, memandang Yunho yang duduk disampingnya.

"kuharap kau tidak menyesal, Yun" ucap Jaejoong sebelum menanda tangani kertas itu.

Yunho tanpa sadar mendengus, menatap balik ke arah Jaejoong yang kini juga kembali menatapnya setelah menyelesaikan apa yang harus ia lakukan pada kertas itu.

"seharusnya aku yang mengucapkannya. Semoga kau tak menyesali keputusanmu ini, KIM Jaejoong" balas Yunho dengan penekanan pada nama Jaejoong.

Jaejoong tersentak, setelah sekian lama ia tak pernah mendengar Yunho memanggil nama lengkapnya, kini ia harus mendengar itu dengan nada yang tidak terlalu bersahabat.

Dan ia juga baru sadar, bahwa sejak ia menanda tangani kertas tadi, kini ia resmi keluar dari keluarga Jung, yang berarti ia tak berhak lagi menyandang marga Jung didepan namanya. Dan ia bukan lagi seorang 'istri' dari Jung Yunho.

"semoga kau bahagia."

Dan Jaejoong hanya merasakan sebuah bisikan lembut itu sebelum Yunho dan meninggalkannya didalam ruang itu sendiri. Jaejoong menundukkan wajahnya, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan untuk keluar menetes membasahi wajahnya.

Ia menangis, terisak hebat seorang diri. Tak ada lagi Yunho yang memeluknya, tak ada lagi seseorang yang akan menjadi tempatnya bersandar dan membisikkan kata-kata menenangkan. Tak ada lagi Jung Yunho disampingnya. Kini ia sendiri. Dan entah bagaimana, ia sudah merindukan namja itu meski baru beberapa saat mereka bertemu.

"semoga aku memang bahagia, Yun"

.

Tak pernah ada yang mengingat kapan pastinya peristiwa itu terjadi. Saat secara sah Yunho dan Jaejoong tak lagi bersama. Sebuah akhir yang tak pernah terbayangkan dalam kehidupan cinta Yunho. ia tak pernah menyangka Jaejoong akan memintanya untuk bercerai, dengan alasan yang sangat sepele menurutnya.

'aku ingin memenuhi keinginan terakhir eomma. Aku ingin menjadi penyanyi, Yun. Tidak, bukan hanya keinginan eomma, tapi juga obsesiku terhadap music sejak dulu yang kini benar-benar memaksaku untuk menjadi penyanyi. Kali ini saja, aku mohon padamu untuk melepaskanku. Aku ingin bercerai denganmu.'

Dan seorang Jung Yunho tak akan pernah menolak keinganan Jaejoong saat itu, bahkan untuk berpisah dengan istrinya. Meski ia sudah berkali-kali meminta Jaejoong untuk membatalkan niatnya untuk pergi, tapi tetap saja Jaejoong teguh pada pendiriannya. Ia benar-benar pergi meninggalkan Yunho dan seorang aegya manis yang baru saja genap berumur 1 tahun beberapa minggu yang lalu. Jung Changmin juga menjadi hak Yunho untuk merawatnya. Dan perpisahan Yunho dan Jaejoong membuat Changmin tidak bisa merasakan sebuah keluarga lengkap lagi.

.

.

.

[2014 ]

[NOW]

"hyung pasti sudah tahu seluruh perjalanan hidup Yunho hyung sampai hyung pergi. Benarkan?"

Suara Yoochun memecah keheningan sejak 10 menit yang lalu mereka duduk di bangku taman tak jauh dari kediaman Jung.

Jaejoong dengan ragu mengangguk, "kurasa begitu." Jawabnya. Yoochun tersenyum tipis, memandang lurus ke depan, kearah manapun asal tidak memandang Jaejoong.

"tapi hyung tak pernah tahu kehidupan Jung Yunho setelah itu." lanjut Yoochun. Jaejoong terdiam, ia tak tahu harus berkata apa untuk membalas kalimat itu.

Yoochun mengangkat ujung bibirnya lalu memejamkan matanya erat, mencoba memanggil kembali ingatan lama yang ingin ia hapus.

"Yunho hyung tak pernah hidup dengan benar setelah itu. tepatnya seminggu setelah hyung meninggalkannya. Ia tidak makan dengan benar, bekerja seperti tak ada hari esok. Ia berusaha untuk pulang ke rumah selarut mungkin, bahkan ia sampai menginap di kantor. Ia benar-benar tak terurus. Dan selama itu, eomma yang mengurus Changmin. Bahkan keponakanku itu sampai tidur dengan eomma." Jelas Yoochun. Jaejoong hanya diam, tak ingin menginterupsi apapun yang akan diceritakan Yoochun padanya.

"Yunho hyung tak pernah menangis selama itu, tidak mengeluh pada eomma ataupun diriku atas kehilanganmu. Dia berusaha terlihat tegar dan baik-baik saja untuk dirinya. Tapi Yunho hyung melupakan satu hal. Ia melupakan Changmin. Changmin yang masih kecil yang ditinggal eommanya, ia bahkan selalu menangis setiap malam dan memanggil sang eomma selama seminggu. Dan Yunho hyung hanya bisa diam dan menyerahkan keponakanku itu pada eomma." Tambah Yoochun. Jaejoong masih diam, tapi air matanya mulai turun dan membasahi hampir seluruh wajahnya. Ia berusaha untuk tidak mengeluarkan isakan sekecil mungkin.

Yoochun menarik nafasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan ceritnya, dadanya menjadi sesak begitu saja saat ia teringat masa-masa itu, "aku tak tahu apa yang dilakukan eomma hingga Yunho hyung menangis malam itu. tepat sebulan setelah hyung meninggalkan kediaman Jung. Belum pernah aku melihat Yunho hyung menangis sehebat itu. seluruh tubuhnya bergetar, bahkan ia memeluk eomma sangat erat. Yunho hyung benar-benar menumpahkan segala perasaan sedihnya saat itu. ia meminta maaf berulang kali, berjanji akan lebih baik dan tak akan menyia-nyiakan hidupnya. Yunho hyung menangis semalaman dan untuk pertama kalinya sejak Jae hyung pergi, Yunho hyung tidur dengan Changmin. Menenangkan namja mungil itu saat menangis tengah malam dan memanggil sang eomma. Yunho hyung ikut menangis dalam diam saat melihat Changmin menangis dan menjerit memanggil eommanya." Yoochun terdiam, kembali menarik nafasnya dalam-dalam untuk menormalkan kembali sesak di dadanya yang semakin menjadi. Ia melirik Jaejoong lewat ujung matanya, dan dapat ia pastikan namja cantik itu menangis hebat, meski tak ada isak tangis yang terdengar.

"Yunho hyung tak pernah menyalahkan hyung atas semua yang telah terjadi. Dan ia tak pernah mengungkit soal hyung dan juga sang eomma didepan Changmin. Karena itu, ia tak tahu bahwa Jae hyung adalah eommanya sampai hari itu. tapi Yunho hyung memang berubah, dihadapan orang lain ia menjadi pribadi yang lebih dingin dari sebelumnya. Tapi Yunho hyung tetap menjadi appa yang sangat hebat dan hyung yang baik bagiku. Setidaknya ia tidak berubah didepan kami." Kalimat Yoochun itu mengakhiri cerita panjangnya. Ia menegakkan tubuhnya dan mencoba meregangkan tubuhnya yang cukup lama duduk disana.

Yoochun menoleh dan terseyum kecil melihat wajah Jaejoong yang memerah dengan mata sembab dan jejak air mata di pipinya. "jadi jika hyung sudah selesai mendengar ceritaku, apa hyung mau ikut aku kembali ke rumah?"

Jaejoong mengangkat wajahnya, memandang Yoochun bingung. Namja itu mengangkat keuda bahunya dan memandang Jaejoong acuh.

"yah, jika hyung mau kurasa tidak ada salahnya hyung kembali memperbaiki apa yang pernah hyung rusak."

.

.

.

Yoochun membuka pintu kediaman Jung perlahan, berusaha tidak menimbulkan bunyi apapun saat pintu itu terbuka. Jaejoong yang berjalan beberapa langkah dibelakangnya hanya diam dan mengikuti jejak Yoochun memasuki rumah itu lagi.

"jadi, hyung, apa perlu aku menunjukkan dimana Yunho hyung berada?" Tanya Yoochun. Jaejoong menatap Yoochun, mencoba mencari keseriusan dengan ucapannya tadi. Dan ia hanya bisa menghela nafsanya pelan saat ia melihat Yoochun benar-benar serius kali ini.

"kurasa aku tahu dimana ia berada sekarang." Jawab Jaejoong hampir berupa bisikan. Dan tanpa mengucapkan apapun lagi, ia meninggalkan Yoochun dan mulai melangkah untuk memasuki rumah itu. ia segera berjalan menuju tangga dan menaikinya perlahan, mencoba meyakinkan hatinya sekali lagi bahwa ia tak akan menyesali keputusannya kali ini.

"semangat hyung!" ucapan Yoochun terdengar cukup menggelegar karena keadaan yang sunyi dimalam seperti ini. Jaejoong hanya menoleh dan tersenyum tipis menanggapinya.

Yoochun menghela nafasnya saat melihat Jaejoong sudah menghilang dari pandangannya, berusaha mengembalikan senyum yang beberapa saat lalu terpatri di wajahnya.

"semoga kali ini aku tidak salah, hyung."

.

Jaejoong menghentikan langkahnya tepat didepan pintu kamar itu, menarik nafasnya berulang kali sebelum memutuskan untuk membukanya. Ia masih berusaha menanangkan dirinya yang entah kenapa luar biasa gugup.

Saat pintu itu terbuka, senyuman tipis langsung hadir diwajahnya. Melihat sang aegya dan appanya tengah tidur dalam satu ranjang dan terlihat cukup nyenyak membuat hatinya lega dan sesak secara bersamaan. Meski sneyuman itu terlihat, tapi air matanya juga ikut turun. ia melangkah emmasuki kamar itu dan menutup kembali pintunya. Berusaha tidak menimbulkan bunyi yang dapat menganggu mereka.

Ia perlahan mendekati ranjang itu dan semakin tersenyuh saat melihat Yunho yang tidur menghadap Changmin yang tidur telentang. Ia mengusap pelan wajah sang aegya dan merunduk untuk mengecup lama dahinya. Membisikkan 'saranghae' sebelum menjauhkan wajahnya. Ia beralih ke samping dan memandang wajah Yunho yang masih belum berubah sampai sekarang. Pose tidur yang tetap sama, mulut yang sedikit terbuka dan mata yang tidak tertutup sempurna.

Jaejoong menaiki ranjang itu dan ikut berbaring disamping Yunho, tidur menyamping dan langsung berhadapan dengan punggung lebar Yunho. entah mengapa, air matanya mengalir semakin derasa saat ia menyadari betapa dirinya sangat merindukan namja yang berada didepannya saat ini, dan tanpa berpikir apa-apa lagi, Jaejoong memeluk punggung Yunho, menenggelamkan wajahnya pada punggung itu. ia masih menangis, membuat punggung Yunho ikut basah terkena air matanya.

"mianhae, Yun. Jeongmal mianhae." Gumam Jaejoong di tengah isakannya, ia mengeratkan pelukannya pada Yunho. dan tanpa ia sadari, Yunho membuka matanya, tapi ia cukup bijak untuk tidak menginterupsi apapun yang dilakukan Jaejoong saat ini.

Yunho hanya diam dan membiarkan Jaejoong memeluknya sepanjang malam, mendengar isakan dan juga gumaman permintaan maaf dari namja cantik itu sampai akhirnya Jaejoong kelelahan dan tertidur. Masih memeluknya erat dari belakang.

"saranghae, Yun."

Dan kalimat itu adalah gumaman terakhir Jaejoong yang dapat didengar Yunho sebelum namja itu tertidur dibelakangnya. Yunho menghela nafasnya lelah dan kembali menutup matanya, membiarkan posisi mereka tetap seperti ini. Setidaknya untuk malam ini ia biarkan Jaejoong melakukan apaun yang ia inginkan.

Karena ia tak yakin apa yang akan ia lakukan pada Jaejoong besok.

.

.

.

TBC

Aloha~ Bertemu lagi dengan saya! Adakah yang menantikan lanjutan fic ini?!

Wkwkwkw, maafkan kekhilafan diri ini yang terlalu sibuk dengan tugas sekolah yang menumpuk. Apalagi sudah memasuki bulan Ramadhan, ah, puasa. Untung rate FF ini aman~ fiuh~

Untuk semua yang melaksanakan, Selamat Berpuasa~ dan karena sebentar lagi lebaran, saya mengucapkan maaf yang setulus-tulus atas segala kesalahan selama di sini~ Dan tak lupa Terima Kasih sebesar-besarnya atas semua reviewer dan juga reader yang sudah mau membaca apalagi me-review fic abal ini. Masih merasa belum pantas menerima semua balasan dari reader deul semua!

Dan juga maaf, tidak bisa meng-absen satu persatu review yang masuk. Keterbatasan waktu~

Jadi, review lagi boleh?