Disclaimer:
Naruto [Masashi Kishimoto] and Sword Art Online [Reki Kawahara]
My Love is You
Hurt/Comfort, Family, Drama, Friendship, Romance and etc.
Rate : M
Warning! : OOC, OC, Typo(s), AU, AR, AT and many more!
Author tidak mengambil keuntungan materi apapun dari fanfiksi yang di-pubilsh.
.
.
Chapter 10 Perjanjian
.
.
Pukul 7 malam waktu setempat…
Naruto pulang agak malam karena harus menyelesaikan tugas yang dipesankan sang ibu. Sesampai di rumah, Asuna sudah menunggunya. Ia duduk mengenakan daster tipis selutut berwarna krim yang hampir saja mengelabui penglihatan Naruto.
"Asuna, kau sudah kembali?" Naruto sedikit terkejut melihat Asuna tengah duduk menekuk lutut di depan sebuah meja makan yang kecil.
"Selamat datang, Naruto-kun. Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu," jawab Asuna sambil tersenyum menutupi kesedihan di dalam hatinya.
Rasanya, lelah dan dahaga di hari itu hilang seketika saat ia mendapat sambutan hangat dari sang kekasih, selepas bekerja seharian. Dengan segera ia mandi untuk membersihkan tubuhnya lalu kemudian makan malam bersama Asuna, kekasihnya. Selepas makan malam, barulah Asuna mengutarakan maksud hatinya kepada Naruto.
.
.
.
Di teras atap rumah…
Keduanya berdiri bersampingan sambil memandangi lampu pemukiman yang hidup dari teras atap rumah. Naruto mengenakan kaus biru biasa dan celana santainya yang berwarna cokelat pendek. Sedang Asuna masih dengan pakaian yang sama hanya saja ditambah jaket sebagai pelindung tubuh dari dinginnya udara malam.
"Naruto," Asuna menyapa sambil menundukkan wajahnya, "aku ...," Ia sedikit ragu untuk memulai perkataannya.
"Asuna?" Naruto memperhatikan sikap Asuna yang sedikit aneh.
"Aku ingin meminta izin kepadamu, Naruto," lanjut Asuna sambil menahan ragu di hatinya.
"Izin?" Naruto pun bingung dengan ucapan Asuna.
"Iya, izin. Aku ingin bekerja, Naruto," ucap Asuna kemudian.
"Asuna." Naruto menghadapkan badannya ke arah Asuna, ia memegang kedua pundak sang kekasih dengan kedua tangannya. "Katakan padaku, apa ada kebutuhanmu yang belum terpenuhi? Atau jumlah yang kuberikan padamu itu kurang?" tanya Naruto dengan tatapan yang serius, ia merasa ucapan Asuna membuat dirinya seperti tidak berguna.
"Naruto," Asuna membalas tatapan Naruto, "aku … aku hanya ingin meringankan bebanmu saja. Selama ini aku selalu merepotkanmu," sahut Asuna yang berusaha tidak memalingkan pandangannya dari sorot tajam kedua mata Naruto.
"Apa katamu, beban?" Naruto melepaskan kedua tangannya dari pundak Asuna. "Hah, Asuna. Sejak kapan aku menganggap dirimu sebagai bebanku? Dan kapan aku merasa direpotkanmu, Asuna. Semua yang kuberikan kepadamu itu tulus. Tapi mengapa kau malah berkata seperti itu?" Naruto kesal kepada dirinya sendiri.
"Naruto …," Asuna kemudian memegang kedua tangan Naruto. "Ini kemauanku sendiri. Tolong izinkan, ya? Aku mohon." Asuna mulai memelas kepada Naruto, yang membuat Naruto tidak kuasa untuk menolak permintaannya.
"Lalu bagaimana dengan kuliahmu, Asuna?" tanya Naruto lagi.
"Aku akan ambil kuliah malam, Naruto," jawab Asuna.
"Apa kau tidak lelah? Nanti kau sakit jika terlalu memporsir tenagamu." Naruto sejujurnya sangat keberatan akan permintaan Asuna, ia berusaha menolak secara halus.
"Tidak." Asuna menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku janji, aku tidak akan sakit. Karena ini sudah keputusanku dan aku berani mempertanggungjawabkannya di hari kemudian," balas Asuna sambil tersenyum.
Melihat senyum permohonan dari Asuna, akhirnya Naruto mengizinkannya.
"Baiklah, tapi kau janji padaku. Jangan sampai sakit, ya?" Naruto berucap sambil menyentuh lembut hidung Asuna.
"Hem." Asuna mengangguk mengiyakan.
"Ya sudah, mari kita istirahat, Asuna. Besok aku harus datang ke kantor lebih awal," ucap Naruto sambil mengusap poni Asuna, ia kemudian beranjak pergi meninggalkan Asuna sendiri di teras atap itu.
Asuna sebenarnya merasa sangat sedih karena harus berbohong kepada Naruto, tapi ia pun tak kuasa untuk berkata jujur. Ia hanya berharap masalah yang dihadapi ini dapat cepat selesai dengan baik.
.
.
.
Esok hari, pukul sepuluh pagi waktu setempat di kampus Asuna…
Asuna mengajukan cuti satu semester kepada rektor kampusnya. Padahal ia baru satu semester menjadi mahasiswi di kampusnya itu. Ya, keputusan itu harus ia ambil demi keselamatan ibu dan kedua adiknya. Dan juga demi membayar utangnya kepada sang ayah yang telah membuat keluarganya menderita.
"Ada apa, Asuna? Sepertinya kau kedapatan masalah lagi?" tanya Ino yang kebetulan bertemu Asuna di depan ruang rektor.
"Tidak. Aku baik-baik saja, Ino," sahut Asuna menutupi.
"Ceritakan kepadaku jika kau mempunyai masalah. Mungin aku dapat sedikit membantu," lanjut Ino.
Keduanya berbincang sambil berjalan menuju parkiran kampus.
"Terima kasih, Ino. Tapi sungguh tidak terjadi apa-apa denganku," jawab Asuna. Saat itu ia memakai jas almamater berwarna biru dan jeans hitam beserta sepatu sandalnya yang juga berwarna hitam.
"Lalu mengapa kau ke ruangan rektor tadi? Apa kau mengajukan cuti, ya?" tanya Ino lagi yang juga mengenakan pakaian yang sama.
"Iya, aku mengajukan cuti sementara. Tapi hanya satu semester saja, Ino. Karena aku ingin fokus bekerja terlebih dahulu," jawab Asuna disertai senyuman kecil.
"Hah, bekerja?!" Ino terkejut mendengar jawaban Asuna.
"Iya. Doakan aku, ya?" sahut Asuna sambil tersenyum.
Ino hanya bisa mendoakan sahabatnya itu walaupun ia merasa ada yang sedikit aneh terhadap gerak gerik Asuna saat ini.
Dari kejauhan Karin beserta ketiga temannya melihat Asuna yang tengah berjalan bersama Ino. Mereka bergosip ria tentang Asuna dan kejadian yang telah menimpa Asuna bersama Kirito saat itu.
"Lihat, gadis yang sok suci itu! Dia terlalu naif untuk ukuran mahasiswi di kampus ini," ucap Karin kepada ketiga temannya.
.
.
.
Beberapa hari kemudian...
Asuna tengah menjalani diri sebagai mata-mata ayahnya. Ia harus berani mengambil resiko terburuk dari pekerjaan yang ia emban sekarang.
Hari ini Hari Sabtu pukul dua siang waktu setempat, Asuna datang ke bandara Tokyo untuk menjalankan tugasnya. Ya, ia bertugas untuk mendekati Deidara yang telah dipesankan sang ayah.
Di parkiran, Asuna telah menunggu kedatangan Deidara, yang sebelumnya Sasori sudah menghubungi Deidara terlebih dahulu.
"Lama sekali." Asuna bergumam di parkiran sambil memegang papan yang bertuliskan nama Deidara.
Tak lama dari itu Deidara datang bersama seorang pengawal pribadinya.
"Deidara-nii!" Asuna berteriak sambil melambaikan tangannya ke arah Deidara.
Deidara pun melihat siapa gerangan yang memanggil namanya. Ia kemudian menemui gadis itu.
"Selamat datang, Deidara-nii, aku Asuna." Asuna mengucapkan salam kepada Deidara sambil membungkukkan badan.
Deidara tidak menjawabnya, ia langsung masuk ke dalam mobil setelah pintu mobil dibukakan pengawalnya. Sebuah mobil anti peluru dan anti ledakkan.
Di dalam mobil, pengawal pribadi Deidara duduk di samping supir, sedangkan Asuna mengikuti Deidara duduk di belakang.
Deidara hanya dapat menahan dirinya saat duduk bersampingan dengan Asuna. Bagaimana tidak, saat itu Asuna memakai short dress tanpa lengan yang berwarna merah ketat. Sangat seksi di mata laki-laki jika berpakaian terbuka dan mini seperti itu.
"Deidara-nii, aku ditugaskan ayahku untuk mengantarkanmu sampai di apartemen. Kau tidak keberatan, bukan?" tanya Asuna dengan manja.
Deidara merasa aneh sendiri dengan sikap Asuna yang berani dan manja itu, padahal mereka baru saja bertemu.
"Baiklah," jawab Deidara singkat yang saat itu mengenakan seragam jas lengkap berwarna krim.
Asuna berusaha mengambil hati Deidara agar tidak curiga kepadanya. Ia banyak bertanya walaupun kadang tidak ditanggapi oleh Deidara. Mereka pun terus melaju sampai ke apartemen Deidara yang terletak cukup jauh dari bandara Tokyo tersebut.
.
.
.
Setengah jam kemudian, di apartemen Deidara…
Sesampainya di apartemen Deidara, Asuna ikut masuk ke dalam apartemen yang membuat Deidara menjadi kebingungan. Deidara kemudian menelepon Sasori untuk memastikan apa benar semua yang dilakukan Asuna adalah perintahnya. Ia mengambil handphone yang ada di saku kanan celana lalu menelepon Sasori.
Tak perlu waktu lama bagi Deidara untuk menunggu telepon itu diangkat. Suara dari seberang telepon itu terdengar dengan jelas.
"Sasori, apa benar semua yang dilakukan Asuna ini diperintahkan olehmu? Aku tidak habis pikir dengannya." Deidara mengawali pembicaraan sambil melihat Asuna yang tengah membereskan barang bawaannya dari L.A.
"Itu benar, aku yang menyuruhnya. Mulai saat ini Asuna akan menemanimu dan mengurus segala keperluan pribadimu," balas Sasori dari seberang telepon.
"Tapi apa dia tidak keberatan melakukannya? Aku senang jika ada seseorang yang mau mengurus keperluanku. Tapi ini terlihat sangat berlebihan." Deidara sedikit risih kala melihat Asuna yang memakai pakaian mini.
"Dei, aku pernah bilang ingin menjodohkanmu dengan anak sulungku dan aku menepatinya. Apa itu salah?" tanya Sasori sambil menahan tawa.
"Ya, baiklah, jika niatmu begitu. Aku harap dia dapat bertahan bersamaku," sahut Deidara.
"Asuna akan bersamamu dari pukul sembilan pagi sampai sembilan malam. Karena selanjutnya dia harus bekerja. Aku harap kau tidak terlalu memporsir tenaganya untukmu," pesan Sasori.
"Itu tidak mungkin. Sebenarnya aku bisa saja menyewa orang untuk mengurusi segala keperluanku. Tapi kau tahu sendiri, aku punya banyak dokumen penting yang harus kujaga. Jadi jika Asuna dapat kupercaya, maka aku pun dapat mempercayaimu," lanjut Deidara.
"Kau tenang saja," balas Sasori.
"Baiklah, sampai nanti." Deidara kemudian memutus teleponnya.
Dari kejauhan, Asuna memperhatikan ucapan Deidara yang membuat Deidara menjadi gugup.
"Deidara-nii, pakaianmu sudah kurapikan. Mandilah. Aku akan merapikan seluruh ruangan apartemenmu ini." Asuna berucap sambil menghadap ke arah Deidara.
Ini gila, tapi … aku menyukainya. Walau begitu, aku harus tetap berhati-hati, gumam Deidara dalam hati. "Baiklah." Deidara lalu menuju kamar mandi.
"Asuna." Deidara memberhentikan langkah kakinya sebelum ia membuka pintu kamar mandi.
"Iya, Deidara nii. Ada yang bisa kubantu?" tanya Asuna disertai senyuman manisnya.
Seketika hati Deidara tersentuh di saat melihat seorang gadis tersenyum sangat manis di hadapannya.
"Sebaiknya kau berganti pakaian. Pakailah pakaianku yang panjang. Dan jangan memakai pakaian seperti itu dihadapanku, Asuna," pesan Deidara sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
"Baik," jawab Asuna seraya tersenyum.
Deidara kemudian mandi, membersihkan dirinya setelah melakukan perjalanan bisnis yang melelahkan. Asuna pun berganti pakaian yang ia pinjam dari Deidara, berupa kemeja lengan panjang berwarna putih dan celana boxer milik Deidara yang berwarna hitam. Setidaknya ada pakaian yang bisa Asuna pakai, walaupun pakaian yang ia pakai sekarang tampak aneh.
Ia kemudian membersihkan apartemen milik Deidara yang telah ditinggal selama satu minggu tersebut.
.
.
.
Di rumah kecil Naruto dan Asuna…
Siang itu, Naruto pulang ke rumah selepas bekerja. Rumah yang didiaminya bersama Asuna tampak sangat sepi. Ia pun makan seadanya, makan sendiri yang biasanya Asuna selalu menemani sambil berbincang ria. Tapi di hari itu kesepian mulai melanda hatinya. Tiap malam pun selama beberapa hari terakhir ia tidak bertemu Asuna. Asuna selalu pulang dini hari saat Naruto tengah tertidur lelap. Di pagi harinya, Naruto tidak tega untuk membangunkan Asuna, karena dari raut wajahnya tampak jika Asuna sangat lelah sekali.
"Sepi sekali rasanya, ya." Naruto menghabiskan makanannya, ia kemudian meneguk segelas air putih.
"Biasanya Asuna selalu menemaniku. Tapi sudah empat hari ini jangankan mengobrol, bertatap muka pun tak pernah. Apa aku salah ya mengizinkannya untuk bekerja? Padahal aku sampai bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya. Apa masih kurang atau ...?" Ia bertanya-tanya sendiri, hatinya sangat sedih saat semua kebiasaan itu mulai menghilang.
"Aku temui Shikamaru dan Chouji saja, daripada aku sendirian di rumah ini." Naruto kemudian mengambil handphone dari saku celana sebelah kanan. Ia kemudian menelepon Shikamaru.
"Halo, Naruto, ada apa?" jawab Shikamaru dari seberang telepon.
"Kau di mana sekarang, Shikamaru?" tanya Naruto kepada Shikamaru.
"Aku masih di kampus, tepatnya di lapangan basket. Aku sedang bermain basket bersama Chouji," jawab Shikamaru.
"Oh. Boleh aku ke sana?" tanya Naruto yang takut kehadirannya akan mengganggu kegiatan teman-temannya.
"Hah, merepotkan! Kau ini seperti dengan orang lain saja. Sudah cepat kemari. Aku tunggu!" kata Shikamaru.
"Baiklah," sahut Naruto kemudian menutup teleponnya.
Naruto segera bergegas menemui Shikamaru dan Chouji di kampusnya. Ia tidak lagi mengganti kemeja biru lengan panjang dan celana dasar hitam yang ia pakai bekerja tadi. Hanya saja ia mengenakan sandal gunungnya yang berwarna cokelat dan tak lagi memakai sepatu hitamnya. Naruto kemudian melaju mengendarai mobil BMW hitam menuju kampus Shikamaru.
.
.
.
Di kampus Shikamaru dan Chouji…
Di lapangan basket, terlihat Chouji dan Shikamaru yang sedang bermain basket bersama. Keduanya mengenakan seragam basket yang berwarna biru.
Tak lama kemudian, Naruto datang dan melihat keduanya bermain. Sambil menyilangkan kedua tangan di dada, Naruto sangat menikmati pertunjukkan kedua temannya itu dalam melempar bola basket dari jarak jauh.
"Shikamaru, lihat Naruto datang!" Chouji memberitahu kedatangan Naruto kepada Shikamaru, Shikamaru kemudian melihat ke arah Naruto.
Shikamaru kemudian melemparkan bola basket yang dipegangnya kea rah Naruto.
"Hai, Pemuda! Jangan kau berdiam saja. Ayo bermain bersama!" Shikamaru mengajak Naruto untuk bermain bola basket bersama.
"Huufft, baiklah."
Naruto kemudian menggulung kemeja lengan panjangnya sampai di siku, kemudian ia segera berlari dan melakukan dribble ke arah keranjang bola basket, melewati pertahanan Shikamaru dan Chouji. Bola pun masuk melewati ring basket itu, Naruto melempar tepat pada sasaran.
Mereka bermain bola basket bersama selama setengah jam lamanya. Satu menyerang dan dua lagi bertahan. Tampak keceriaan di wajah mereka saat bola basket itu diperebutkan.
.
.
.
Tiga puluh menit kemudian...
"Minumlah ini, Naruto." Chouji memberikan sebotol air mineral kepada Naruto untuk melepas dahaga.
"Terima kasih, Chouji," sahut Naruto yang kemudian meminum air mineral itu.
Ketiganya duduk di pinggir lapangan bola basket sambil melepas dahaga.
"Tidak biasanya kau kemari. Apa kau sedang berduka?" tanya Shikamaru sambil meluruskan kedua kakinya.
"Iya. Aku kesepian, Shikamaru," sahut Naruto sambil menunduk sedih.
"Bukankah Asuna selalu bersamamu?" Chouji ikut bertanya.
"Ya, itu benar, tapi sudah empat hari ini kami jarang bertatap muka," jawab Naruto.
"Mengapa begitu?" Shikamaru mulai serius bertanya.
"Dia bekerja sekarang ini. Jadi waktu untuk kami bersama sudah mulai berkurang." Naruto berwajah muram.
Seakan mengerti keadaan Naruto saat ini, Chouji dan Shikamaru berinisiatif untuk menghiburnya.
"Sudahlah, Naruto. Masih ada kami." Chouji merangkul Naruto.
"Ya, itu benar. Bagaimana kalau nanti malam kau ikut kami ke klub saja?" Shikamaru menawarkan.
"Klub?" tanya Naruto.
"Iya, klub malam. Di sana kita bisa bersenang-senang bersama," jawab Shikamaru.
Naruto sedikit berpikir akan tawaran kedua temannya.
"Hmm, sepertinya lebih baik aku ke rumah ayahku saja." Naruto menolak secara halus.
"Eh, bukannya kau sedang bersedih. Aku berani menjamin jika kau akan senang berada di sana," rayu Chouji.
"Tidak, ah. Setahuku, siapapun yang masuk ke dalam klub malam pasti tidak baik dalam pandangan orang." Naruto berusaha mengelak.
"Naruto, sini kuberi tahu, ya. Di klub malam, kita tidak harus meminum minuman yang beralkohol apalagi sampai memabukkan. Di sana juga kita bisa minum air putih ataupun kopi hangat. Tinggal kita pilih saja, Kawan." Shikamaru merayu.
"Kau ini, kataku tidak, ya tidak!" Naruto mulai kesal terhadap ulah sahabatnya itu.
"Hahahaha." melihat Naruto marah, Chouji dan Shikamaru tertawa bersama.
"Mengapa kalian menertawakanku?!" tanya Naruto yang kesal.
"Naruto-naruto." Shikamaru menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Naruto, kami lebih senang melihatmu marah daripada bersedih seperti tadi. Baiklah, lakukan apa yang kau mau. Selama itu positif, kami akan selalu mendukungmu." Chouji melanjutkan.
"Kau ini!" Naruto menggerutu.
"Hahaha, sudah-sudah." Shikamaru menepuk bahu Naruto.
Ketiga sahabat itu selalu berbagi dalam suka dan duka. Walaupun sudah bersahabat sejak lama, mereka tetap saling menghargai akan keputusan dan keyakinan pribadi.
.
.
.
Pukul 7 malam waktu setempat…
Malam ini malam Minggu, Asuna belum pulang ke rumah. Naruto terlihat sedang bergegas pergi ke rumah sang ayah. Ya, Naruto berniat bermalam di rumah ayahnya malam ini.
Suara pintu terketuk tiba-tiba terdengar. Naruto yang saat itu sedang mengemasi pakaiannya langsung berhenti sejenak. Ia berpikir jika yang mengetuk pintu adalah Asuna. Ia segera beranjak membukakan pintu.
"Asuna, kau sudah pu—kau?"
Naruto terkejut melihat siapa gerangan yang datang. Seorang wanita berambut tergerai, memakai kardigan abu-abu dan celana pensil berwarna hitam, lengkap dengan sepatu kasual yang berwarna putih.
"Selamat malam, Naruto-kun." Wanita itu memberi salam seraya membungkukkan badannya.
"Hinata. Ada apa kau kemari?" Tanya Naruto yang kecewa karena yang mengetuk pintu bukanlah Asuna, melainkan Hinata.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Hinata lagi.
"Ti-tidak. Tapi—"
"Naruto, aku ingin meminta tolong kepadamu." Hinata menyela perkataan Naruto.
"Meminta tolong?" Naruto terkejut.
"Tolong temani aku berjalan-jalan malam ini, ya?" pinta Hinata dengan memelas.
Saat itu, Naruto ingin menolak permintaan Hinata. Selama beberapa hari ini Hinata selalu menghubunginya, tapi sangat jarang ia tanggapi. Tapi kali ini saat Hinata datang langsung ke rumahnya, mau tidak mau Naruto memenuhi permintaan gadis bermata lavender itu.
"Baiklah."
Tanpa perlawanan berarti, akhirnya Naruto pergi bersama Hinata. Mereka berjalan kaki sampai di gang kecil rumah Naruto. Di sana, mobil milik Hinata beserta seorang supir telah menunggu kedatangan keduanya.
Mereka lalu masuk ke dalam mobil menuju suatu tempat yang Hinata inginkan. Keduanya menghabiskan waktu bersama sampai pukul sepuluh malam.
.
.
.
Sementara itu...
"Hmm, ternyata masakanmu sungguh lezat, Asuna."
Deidara memuji masakan yang telah dimasak oleh Asuna untuknya. Saat itu pria berambut kuning terkuncir mengenakan pakaian santai berupa kaus hitam lengan pendek beserta celana hawai berwarna cokelat setinggi lutut.
Asuna hanya membalas pujian Deidara dengan senyuman manis seperti biasanya. Mereka makan malam bersama di teras luar apartemen Deidara.
Suasana malam itu sungguh saat romantis untuk ukuran Deidara saat ini, sudah lama ia menantikan momen-momen seperti ini. Hatinya telah lama kosong setelah Sakura meninggalkannya dan memutuskan untuk menikah dengan Sasuke.
Ya, Deidara adalah dalang dibalik pembunuhan terhadap puluhan orang yang berada di perguruan bela diri milik Uchiha. Sampai saat ini kenangan buruk itu masih selalu teringat di alam bawah sadarnya.
"Asuna." Deidara memanggil Asuna.
"Iya," sahut Asuna yang sedang menyantap makanannya.
"Aku tidak menyangka jika Sasori mempunyai seorang putri yang begitu cantik seperti dirimu," ucap Deidara sambil menunduk malu, ia tidak berani menatap Asuna secara langsung.
"Deidara-nii, apa kau menggodaku?" tanya Asuna seraya tertawa kecil.
Mendengarnya Deidara menjadi malu sendiri, ia tidak pernah mengucapkan kata seperti itu kepada wanita selain Asuna.
"Hm, aku—"
Deidara mencari pengalihan topik, Asuna menatapnya dengan sesekali mengedipkan kedua mata saat melihat seorang pria yang sedang duduk di hadapannya.
Naruto, biasanya aku selalu makan malam bersamamu. Tapi kali ini, aku makan malam bersama pria lain. Maafkan aku, batin Asuna berbisik lirih.
"Asuna! Bagaimana kalau temani aku berjalan-jalan di taman yang ada di sekitar gedung apartemen ini?" tanya Deidara mengagetkan.
"Ap-apa? Maksudku, kita jalan-jalan di sekitaran sini?" tanya Asuna yang sedikit kaget.
"Iya. Apa kau mau menemaniku?" Deidara bertanya lagi.
"Hm, bagaimana, ya? Jam sembilan nanti aku harus masuk kerja. Lain kali saja, tak apa kan?" Asuna menolak secara halus.
"Hmm. Deidara pun sedikit kecewa.
"Tenang, masih ada hari esok, Deidara-nii," ucap Asuna sambil memegang tangan kiri Deidara dengan tangan kanannya.
Semilir angin pun berembus melewati tubuh Deidara, ia merasakan sentuhan hangat dari tangan Asuna. Hatinya mulai terketuk gadis berambut cokelat keemasan ini. Rasa nyaman pun didapati dirinya dari kelembutan Asuna saat memperlakukannya.
Asuna ... Deidara memandangi Asuna dengan lembut.
.
.
.
Pukul 10 malam waktu setempat…
"Naruto-kun, terima kasih telah menemaniku malam ini." Hinata berjalan bersama Naruto. Mereka baru saja mengunjungi festival Sakura di Kota Tokyo malam itu.
"Iya. Aku juga," jawab Naruto singkat.
Keduanya kemudian terdiam, saat itu Naruto masih kaku untuk berbincang dengan Hinata. Mereka cukup lama berdiam diri. Karena tidak enak, Naruto membuka pertanyaan agar mereka dapat berbincang kembali.
"Hinata, apa kau selalu pergi diantar oleh supir?" tanya Naruto memecahkan keheningan.
"Hmm, iya. Itu benar, Naruto," jawab Hinata sambil terus berjalan ke parkiran mobilnya.
"Mengapa? Apa aku boleh mengetahui apa sebabnya?" tanya Naruto lagi.
Tak terasa akhirnya mereka tiba di parkiran, keduanya kemudian masuk ke dalam mobil.
"Ayahku melarang untuk membawa mobil sendiri, Naruto-kun," jawab Hinata.
"Begitu, ya," sahut Naruto.
"Adikku mengalami kecelakaan saat dia mengendarai mobil sendiri di jalan raya. Dan pada akhirnya dia meninggal dunia." Hinata berkata lirih.
Naruto menjadi tidak enak hati karena mengajukan pertanyaan yang membuat Hinata sedih. "Maafkan aku, Hinata. Aku tidak tahu kalau—"
"Tak apa. Kejadiannya pun sudah lama sekali. Oh, ya. Kau jadi bermalam di rumah ayahmu?" Hinata mengalihkan pembicaraan agar hatinya tidak terlarut dalam kesedihan.
"Eh, iya. Aku hampir lupa," sahut Naruto sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Baiklah. Kita ke rumah Paman Minato dulu, Paman," ucap Hinata kepada supirnya.
"Baik, Nona," jawab supir pribadi Hinata.
Mobil itu kemudian melaju menuju kediaman Minato yang jaraknya cukup jauh dari tempat mereka sekarang. Tak lama Hinata pun tertidur karena lelah. Ia tertidur di bahu kanan Naruto.
"Hinata."
Naruto berusaha membangunkannya, tapi Hinata tak kunjung bangun. Melihat Hinata tertidur, Naruto kemudian menyelimuti Hinata dengan jaket jeans-nya yang berwarna hitam.
Asuna, maafkan aku.
Ia merasa sangat bersalah saat berjalan bersama wanita lain. Tapi ia pun tidak dapat menolaknya.
Selang empat puluh menit, Naruto akhirnya sampai di kediaman ayah dan ibunya. Ia kemudian bermalam di sana untuk melepas kesepian.
.
.
.
Pukul 01.00 dini hari…
Asuna pulang ke rumah dengan pakaian short dress merah miliknya yang dilapisi mantel tebal berwarna hitam. Digenggaman tangan kanannya terlihat ia membawakan bungkusan yang sepertinya dibeli untuk sang kekasih tercinta, Uzumaki Naruto.
Pintu pun dibuka, Asuna kemudian masuk ke dalam rumah.
"Naruto, aku pulang." Asuna menutup lalu mengunci pintu.
Keadaan rumah tampak sepi, di ruang tamu pun tak terlihat sang Uzumaki tertidur.
"Ke mana ya, dia?" tanyanya pelan.
"Naruto! Kau di mana? Aku bawakan ramen miso kesukaanmu!" seru Asuna sambil mencari keberadaan Naruto.
Asuna kemudian masuk ke dalam kamarnya, berharap sang Uzumaki itu sedang terlelap. Tapi ternyata di kamar pun tidak didapatinya. Ia kemudian mencari ke dapur lalu ke kamar mandi dan tak kunjung dijumpai belahan hatinya. Karena lelah, Asuna beranjak membuka kulkas satu pintu miliknya untuk mengambil air dingin. Saat ia ingin membuka pintu kulkas itu, didapatinya pesan dari sang kekasih yang ditempel pada pintu kulkas tersebut. Pesan itu berisi...
Asuna...
Malam ini aku bermalam di rumah ayahku.
Sedari siang aku mencoba menghubungimu tapi nomormu tidak aktif.
Nanti jika kau telah pulang segera istirahat ya. Jangan cemaskan aku.
Oh iya, tadi aku membelikanmu beef steak yang aku taruh di meja makan.
Makanlah selagi panas lalu beristirahatlah.
Kau jangan sampai sakit ya, Asuna. Kau sudah janji kepadaku kalau tidak akan sakit.
By Naruto
Begitulah isi pesan yang Asuna baca. Setelah membaca pesan tersebut ada rasa sesak di dadanya. Napasnya mulai tidak teratur dan pikirannya mulai kacau. Jantungnya berdegup lemah mendapati sosok yang dicintainya begitu perhatian terhadap kesehatan dirinya.
Sambil memegang secarik kertas berisi pesan tersebut, Asuna memundurkan langkah kakinya. Ia menyandarkan tubuh mungilnya itu pada dinding tembok dapur, sambil mencoba menahan tangis yang akan pecah.
"Naruto …" Asuna perlahan-lahan duduk di lantai.
Isak tangis dan air mata mulai berlinang. Air mata itu semakin lama semakin deras. Ia tidak kuasa untuk membendung air matanya itu. Ia kemudian menekuk kedua lututnya, menyandarkan kepala pada kedua lutut sambil menangis karena duka di hatinya. Duka yang tercipta karena ketidakmampuannya melawan ancaman sang ayah.
"Naruto … maafkan aku … maaf ... maaf."
Ia terus berkata maaf seraya membiarkan kristal bening itu bercucuran dari kedua matanya.
.
.
.
Hari ini Hari Minggu, tepat pukul tujuh pagi waktu setempat. Di sana, di dalam sebuah kamar berukuran 4x4 meter itu, terlihat seorang pemuda memakai kaus berwarna hijau toska yang tertutup selimut tebal berwarna biru tanpa motif.
Terdengar sayup-sayup suara dengkurannya karena lelah melewati hari. Bukan hanya fisiknya yang lelah, tapi batinnya pun mulai merasakan letih akibat merasa kehilangan. Ya kehilangan sesuatu yang sangat berharga untuk dirinya, yaitu kebiasaan saat-saat bersama sang kekasih tercinta, Yuuki Asuna.
"Naruto!"
Suara pintu terdengar diketuk dari luar kamar yang dilanjuti seruan seorang ibu yang sangat sayang kepada anak semata wayangnya itu.
"Naruto!"
Sang ibu mengetuk pintu kamar lagi. Tapi sayang, tak ada sedikit pun jawaban dari panggilannya.
Pintu itu akhirnya dibuka dari luar dan terdengarlah langkah kaki sang ibu mendekati anaknya yang sedang tidur tengkurap di atas kasur busa nan empuk.
"Naruto! Cepat bangun!"
Ibunya menarik cepat selimut yang menutupi tubuh anaknya. Seketika membuat sang anak mulai menyadarkan diri dari tidurnya yang lelap.
"I-bu …?"
Sang anak perlahan membuka matanya dan mendapati ibunya yang mengenakan kaus berwarna orange, celana biru selutut yang tertutupi apron berwarna hijau.
"Cepat bangun! Kalau tidak, ibu akan menyirammu dengan air panas!" ancam sang ibu.
"Air panas, ya? Hhmm ..." Naruto belum tersadar penuh. "Apa?! Air panas?!" Seketika Naruto tersadar dan ia pun segera bangun dari tidurnya.
"Ayoo cepat!"
Sang ibu menarik tangan kiri anaknya lalu beranjak keluar kamar tanpa mempedulikan keadaan sang anak yang belum tersadar penuh.
.
.
.
20 menit kemudian...
Ketiganya memulai sarapan paginya. Terlihat sang ayah, Minato yang memakai kemeja lengan panjang biru laut serta celana dasar hitamnya. Tak lupa sepasang sepatu pantofel hitam mengkilat menyertai.
"Ini makanlah, Naruto." Sang ibu memberikan Naruto sepiring nasi goreng untuk dimakan.
Tampak Naruto yang masih menguap panjang karena mengantuk. "Hoooaaaammmm..."
Melihat Naruto menguap, Kushina menjadi kesal. "Cepat makan lalu antar ibu ke pasar, Naruto!" seru sang ibu mengagetkan.
"Iya, Naruto, nanti kau antar ibumu, ya?" Minato menambahkan.
"Hm, memangnya ayah mau ke mana? Kenapa harus aku yang mengantar ke pasar? Aku masih ngantuk, Yah," sahut Naruto kepada ayahnya dengan nada yang malas.
"Ayah sedang banyak acara penting, Naruto. Jadi ayah tidak bisa mengantar ibu hari ini." Kushina yang menjawab pertanyaan anaknya.
"Hari Minggu pun ayah masih bekerja. Apa tidak ada waktu senggang untuk keluarga?" Naruto berucap sambil menyantap nasi gorengnya.
Ucapan Naruto itu seakan mengingatkan Minato jika sang anakmembutuhkan perhatian darinya. Kushina pun sedikit terenyuh mendengar ucapan dari anaknya itu.
"Maafkan ayah, Naruto. Lain kali kita akan berlibur bersama." Minato berusaha menghibur anaknya.
"Ya, ya. Baiklah," sahut Naruto lalu meneruskan sarapan paginya.
.
.
.
Setengah jam kemudian...
Terlihat Naruto yang sedang bersiap mengantar ibunya ke pasar. Ia tengah menunggu Kushina di depan rumah sambil duduk di atas motor matic kepunyaan sang ibu.
"Ibu! Masih lama tidak?!" teriak Naruto dari luar.
"Tunggu, Naruto. Sebentar lagi. Ibu sedang mencari handphone!" jawab Kushina sambil ikut berteriak.
"Handphone, ya?" gumam Naruto. "Astaga! Handphone-ku lowbat! Jangan-jangan Asuna menghubungiku!"
Naruto seketika teringat dengan Asuna. Segera saja ia berlari ke kamarnya mencari handphone yang entah diletakkan di mana.
"Aduh, di mana, ya?"
Ia seakan lupa dengan handphone-nya sendiri. Ia terus mencarinya. Dan akhirnya, diketemukan.
"Ya ampun. Aku sampai lupa jika meletakkannya di bawah bantal." Naruto segera mencharger ulang handphone-nya.
"Naruto! Ibu sudah siap!"
Baru saja ingin menghidupkan handphone-nya, sang ibu sudah berteriak memanggilnya.
"Tunggu sebentar, Bu!" teriak Naruto sambil menunggu handphone-nya hidup.
Kushina merasa kesal karena ditanggap oleh sang anak. Ia segera berjalan cepat menemui anaknya yang sedang berada di dalam kamar.
"Naruto!" Sang ibu berseru geram kepada anaknya itu.
"Ibu—"
"Sudah. Cepat!" Kushina memasang wajah yang menakutkan.
Akhirnya, mau tak mau Naruto membiarkan handphone itu di atas meja sambil menunggu baterainya terisi penuh.
"Baiklah."
Ia berjalan lemas di depan ibunya lalu segera mengantar dan menemani sang ibu ke pasar untuk membeli keperluan mingguan.
.
.
.
Sementara itu...
Asuna tengah bersiap menuju ke apartemen Deidara. Ia sepertinya lebih pantas disebut sebagai seorang asisten rumah tangga dibandingkan dengan sebutan 'teman dekat Deidara'. Karena ia mengerjakan segala pekerjaan rumah di sana.
"Nomornya tidak aktif."
Berulang kali Asuna menghubungi Naruto, tapi sayang nomor tujuannya belum juga aktif sampai saat ini. Beberapa pesan pendek pun dikirimkan, tapi tidak satu pesan pun yang terbalas.
"Baiklah, kukirim pesan lagi saja."
Asuna kemudian mengirim pesan pendek ke nomor Naruto. Setelahnya ia pun pergi menaiki taksi menuju apartemen Deidara, yang jaraknya sekitar 40 menit perjalanan dari rumah yang ia tempati bersama Naruto.
.
.
.
TBC
