CHAPTER 10

.

Friday, the 9th of August. 13:00 pm

Semua anggota tim akai sibuk mempersiapkan presentasi yang akan dilaksanakan 2 jam lagi, tepat pukul 15.00 pm . Kali ini tidak hanya sang direktur tapi juga sang presdir Hyuga Corp akan menilai langsung presentasi mereka.

Gaara sudah menyiapkan diri menghadapi keduanya. Ia bertingkah seakan akan tak ada masalah apapun dengan kedua orang iu. Ekspresi seorang ketua tim sudah nampak di wajah mulusnya sejak menginjakkan kaki di perusahaan pagi ini. Tak nampak kesedihan dalam bentuk apapun di wajahnya. 'Ini harus sukses' hanya itu yang ada di pikirannya saat ini.

Melihat aura si merah yang kembali seperti biasanya membuat Naruto sedikit lega. Ia merasa bersyukur kaichounya bisa kembali bersemangat.

"Yosh! Semuanya siap!", ucap Kiba tak kalah bersemangatnya.

Kali ini Gaara yang merasa bersyukur memiliki anggota tim yang hebat yang selalu mendukungnya seperti mereka. Kekhawatirannya untuk mengundurkan diri berkurang saat menyadari bahwa tanpa dirinya pun tim ini akan tetap menjadi tim hebat. Mungkin nanti ia akan merindukan saat saat seperti ini, saat semua bekerja sama untuk menyukseskan proyek mereka. Ekspresi sedih terlintas di wajahnya, namun ia segera menyembunyikannya dengan senyum tipisnya.

….

16.15 pm

Presentasi berlangsung lebih lama. Tapi ia, iie mereka berhasil menyelesaikannya, meskipun Gaara sempat berdebat dengan Sang Presdir yang sepertinya sengaja menguji kecerdasan sekaligus kesabarannya. Gaara berhasil menanggapi semua pertanyaan dan komentar yang diluncurkan Sang Presdir dengan tenang. Planning mereka untuk produk baru diterima. Gaara merasa lega dengan itu. Namun, dibalik rasa lega ini, ada hal menyedihkan yang harus ia terima.

Mengingat janjinya dengan Sang Presdir waktu itu bahwa dia akan resign dari perusahaan setelah presentasi berakhir, dengan perasaan berat hati ia menemui Sang Presdir beberapa menit setelah ia selesai membereskan sisa-sisa presentasi dan secara langsung memberikan surat pengunduran dirinya kepada kepala keluarga Hyuga tersebut.

"Arigatou gozaimasu atas kerjasama dan kebaikan hati anda. Saya berharap pengalaman anda disini bisa membantu anda untuk menggantikan posisi Ayah anda nanti," tutur Sang Presdir dengan senyum yang menyiratkan kepuasaan hatinya.

Gaara tak menunjukkan ekspresi apapun, wajahnya begitu datar saat mendengar penuturan itu. Setelah memberi hormat dengan membungkukkan badannya 90 derajat, ia keluar meninggalkan ruangan tersebut.

Untuk memutuskan semua ini, dia sudah berusaha meyakinkan hatinya bahwa dia tak akan menyesali keputusannya itu. Hanya saja…mungkin ia akan merindukan saat-saat bersama tim hebatnya.

Ia menghentikan langkahnya tepat di depan ruangan tim akai. Entah kenapa, ia jadi ingin melakukan sesuatu bersama rekan setimnya untuk terakhir kalinya. Mungkinkah ia harus mengajak mereka untuk makan malam seperti waktu itu lagi? Sepertinya itu ide yang bagus.

Dengan langkah yang mantap, ia memasuki ruangan dan berhadapan langsung dengan rekan timnya.

"Otsukare samadeshita!", ucap mereka bersamaan.

"Otsukare", jawab Gaara singkat. Denagn berusaha untuk tetap tersenyum, ia lanjut berbicara, "Minna…"

"H-Hai."

"Sepulang dari kantor nanti, aku ingin menraktir kalian di kedai yakiniku yang kemarin kita datangi."

"…" semuanya cengo, takut-takut kalau mereka salah dengar tadi.

Melihat ekspresi heran dari semua anggota timnya, Gaara bertanya,"Bagaimana? Kalian bisa kan?"

"EEEHH"

"Kenapa?"

"Iie… hanya saja…."

"Ini sebagai ucapan terima kasihku karena kerja keras kalian," ucap Gaara sembari tersenyum simpul.

"Arigatou Gozaimasu Gaara-kaichou! Kami dengan senang hati menerimanya", jawab Chouji dengan tangkas, anggota yang lain menganggukkan kepala dengan kompak.

.

"Kalian boleh pesan apapun yang kalian mau," tutur Gaara saat mereka sudah duduk di kedai yakiniku

"Kaichou yakin?", tanya Chouji, makhluk satu ini benar-benar tak bisa menyembunyikan kecintaannya pada yakiniku.

Gaara hanya menananggapinya dengan anggukan.

"Jyaaa~double big portion of the best yakiniku, please!", teriaknya terlalu antusias

"Beer please!", Kiba tak mau kalah.

Mendengar Kiba meneriakkan bir, Gaara jadi sedikit mengerutkan keningnya. Entah kenapa firasatnya menjadi buruk mendengar kata "bir". Ia melirik ke arah Shikamaru yang langsung memberi isyarat "jangan" dengan menyilangkan kedua jari telunjuknya. Selang sedetik saja, Naruto yang kebetulan duduk di sebelahnya menyelipkan selembar kertas untuknya.

'Saya siap mengantar anda pulang ke apartemen dengan selamat', itulah bunyi pesan yang tertulis di lembar kertas tersebut. Kontan saja Gaara mengalihkan pandangannya ke arah si pirang dan langsung disuguhi dengan senyuman hangat.

Senyum hangat si pirang langsung membuat wajah Gaara memerah. Dengan cepat ia membuang muka ke arah lain. Entah kenapa, dari kemarin jantungnya jadi berdegup lebih keras tiap kali melihat senyum itu. Seingatnya ia bahkan tak pernah merasakannya saat pertama kali bertemu dengan Neji.

Sementara di seberang meja, Sai yang menyadari keanehan diantara kaichou dan rekan kerja barunya itu mulai tersenyum penuh arti. Sepertinya dia mencium bau bau orang lagi kasmaran. Dan…entah kenapa dia jadi ingin melakukan sesuatu untuk membantu rekannya itu.

"Ano….bagaimana kalau weekend besok kita pergi berlibur ke Kyoto? Sekali-kali refresing bersama pasti menyenangkan kan?", usul Sai tiba-tiba.

"Benar juga. Lagipula selama ini kita sudah terlalu kerja keras," tungkas Kiba.

"Em…bagaimana menurut kaichou?" kali ini Chouji yang bertanya.

"Eh? Aku….." jika diingat-ingat terakhir kali dia pergi berlibur dengan kedua kakaknya sebelum memutuskan untuk berkuliah dan menetap di Tokyo. 6 tahun yang lalu? Selama itukah?

"Kaichou?" panggilan si pirang membangunkannya dari sesi nostalgianya. "Bagaimana?", lanjut Naruto.

Lagi-lagi Gaara melirik kea rah Shikamaru yang hanya menjawabnya dengan isyarat tangan berartikan 'terserah', benar-benar tidak membantu sama sekali. -_-

Gaara menarik nafas panjang, menghembuskannya, kemudian menjawab "Aku ikut kalian"

"Yosshaa! Teriak Kiba dan Chouji bersamaan. Shino dan Shikamaru hanya terdiam pasrah dengan ide rekannya. Naruto di sebelah si merah tersenyum lebar. Sementara senyum mencurigakan berkembang di bibir si makhluk pucat, Sai.

Kayaknya rencananya akan berjalan lancar.

"Kalau begitu kita berkumpul dimana nanti?"

"Kalau bisa berangkatnya harus pagi-pagi sekali"

"Ehh!"

"Kenapa? Tak bisa bangun pagi? Kau bisa melanjutkan tidurmu dalam perjalanan ke Kyoto nanti."

Blah…blah….blah…

Dan sesi makan-makan pun berubah menjadi sesi diskusi rencana liburan ke Kyoto.

.

Sekitar jam 6 pagi, semua tim akai sudah berkumpul di Stasiun Tokyo. Malam sebelumnya mereka sudah memutuskan akan ke Kyoto dengan menaiki Shinkansen, karena perjalanan Tokyo-Kyoto yang cukup jauh. Sebenarnya Gaara lebih memilih untuk naik pesawat saja, tapi karena Chouji, Naruto, dan Kiba yang cukup takut dengan ketinggian menentang idenya mati-matian. Akhirnya, disinilah mereka, dengan mata yang masih berat, duduk di bangku stasiun, menunggu jam keberangkatan Shinkansen tepat 10 menit lagi.

.

Setelah 2,5 jam perjalanan, mereka sampai di Kyoto. Mobil yang di sewa Shikamaru beserta supirnya sudah menunggu mereka di stasiun Kyoto. Pertama mereka akan pergi ke Nishiyama Ryokan, sebuah penginapan bergaya Jepang yang cukup terkenal dengan "onsen" nya. Ya…..salah satu tujuan mereka ke Kyoto adalah berendam di pemandian air panas setelah berkeliling ke tempat-tempat wisata di wilayah ini. Sai lah yang merekomendasikan penginapan ini.

"Selamat datang di penginapan kami," salah satu pelayan yang mengenakan yukata berwarna biru langit dengan motif bunga sakura putih menyambut mereka dengan hangat. Lalu si pelayan tersebut mengantar mereka ke kamar yang sudah di pesan Sai sebelumnya. Satu kamar untuk 5 orang dan satu kamar untuk 2 orang, dua-duanya adalah kamar bergaya jepang.

"Ini kamar yang untuk 5 orang dan di sebalah sana kamar untuk 2 orang," ucap si pelayan ramah. "Jika ada yang anda butuhkan, bisa memanggil kami dari nomor telpon yang sudah tersedia di buku telpon tiap kamar. Ada yang bisa saya bantu lagi?," semuanya hanya menggelengkan kepala mereka. "Kalau begitu saya permisi dulu," lanjut si pelayan sebelum pergi melanjutkan tugasnya yang lain.

"Baiklah, kalau begitu Saya, Shino-san, Kiba-kun, Chouji, dan Shikamaru-kun akan satu kamar disini. Sementara Gaara kaichou sekamar dengan Naruto-kun," jelas Sai dengan senyum sok innocent.

"Nande?" tanya Gaara langsung setelah mendengar bahwa ia harus sekamar dengan si pirang bodoh.

"Ada apa kaichou? Anda tidak keberatan kan kalau harus sekamar dengan Naruto-kun?"

"Kenapa Uzumaki tidak sekamar dengan kalian saja. Biar aku sendirian," protes Gaara tak terima.

"Gomenasai ne Gaara-kaichou. Di penginapan ini, kamar terbesar hanya diperuntukkan untuk 5 orang, bukan 6 orang. Jadi ya…. Terpaksa….," balas Sai mulus.

"Kalau begitu aku sekamar saja dengan Shikamaru."

"Maaf lagi kaichou, Saya harus mendiskusikan beberapa hal dengannya. Jadi kami harus sekamar. Kami tidak ingin saja mendiskusikan saat di tempat wisata nanti"

"Atau, apa anda mau sekamar bersama kami? Biar Naruto-kun dengan Chouji saja?", mendengar penuturan si pucat Sai membuat Gaara merengut persis seperti anak TK tak kebagian lollipop gratis.

'Sekamar berlima? Yang benar saja…..lebih baik berdua dengan si pirang kan?' pikir Gaara

"Tidak perlu. Aku sekamar dengan Uzumaki saja," jawab Gaara yang langsung nyelonong menuju kamar yang ditunjuk si pelayan tadi. Sementara Naruto mengikutinya dari belakang. Grogi juga sih harus sekamar dengan kaichounya itu, tapi hatinya juga luar biasa senang. Pasalnya kesempatan seperti ini amat sangat langka.

Ada dua tempat tidur lipat yang diletakkan berdampingan dengan sangat rapi, dan satu kamar mandi di pojok kiri kamar. Satu lukisan bunga sakura di musim semi tampak terpajang di dinding tepat di atas tv, menghadap ke arah tempat tidur. Kalau diperhatikan, ini ruangan seperti kamar untuk pasutri aja. Dan Gaara tak habis pikir jika nanti dia harus tidur di ruangan ini dengan si pirang. Sementara Naruto, pikirannya sudah kemana-mana sejak tadi sampai-sampai tak menyadari ekspresi mupengnya tergambar jelas. Melirik kea rah si pirang yang entah sedang memikirkan hal aneh apa, Gaara langsung bersuara, "Nanti kau tidurnya di sebelah sana! Jauh-jauh dariku! Jaga jarak minimal 5 meter! Kau dengar tidak?" buyar sudah pikiran hentai Naruto mendengar titah Sang Hime-sama.

"Cepat letakkan barang-barangmu! Jangan hanya berdiri di situ. Sebentar lagi kita akan mengunjungi Kiyomizudera," lanjut Gaara

"H-hai!", jawab Naruto gelagapan, ia langsung meletakkan tas besarnya.

Tim akai kembali berkumpul di lobby penginapan dan siap melanjutkan perjalanan mereka ke tempat wisata yang paling dekat dari penginapan, Kiyomizudera, kuil paling terkenal di Kyoto.

"Huwaaaaa…hontou ni kirei~~~~," Naruto teriak-teriak persis kayak anak kecil yang baru diajak liburan ke tempat keren. Shikamaru dan Shino hanya berdiri menikmati pemandangan indah yang tak bisa mereka temukan di Tokyo. Kiba dan Chouji sibuk selfie sendiri-sendiri. Sai langsung ambil sketch book dan pensilnya buat nglukis pemandangan di depan indera penglihatannya itu. Sementara Gaara hanya mengambil beberapa foto pemandangan dan foto rekan timnya secara sembunyi-sembunyi dengan kamera yang ia bawa.

Turun dari atas kuil Kiyomizudera, Chouji memborong beberapa makanan khas Kyoto yang dijual para pedagang di pinggir jalan pulang.

Selanjutnya mereka menuju Fushimi Inari Taisha, sebuah kuil yang terletak di kaki gunung Inari yang terkenal dengan "Senbon Torii" nya.

Gaara berjalan mendahului lainnya yang masih cukup jauh di belakang sambil sesekali mengambil foto indahnya jalur menuju kuil yang dibatasi torii-torii bercat merah.

Sampai di tengah perjalanan, Gaara menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ia dapati Naruto berdiri tepat di belakangnya. Sepertinya si pirang memang membuntutinya dari tadi.

"Hoey, Uzumaki!"

"H-hai, kaichou," jawab Naruto nervous karena merasa malu sudah ketahuan berjalan mengekori Gaara. Disisi lain Gaara malah tidak terlalu mempedulikannya. Ia hanya menyodorkan kameranya pada si pirang.

"Fotokan aku," ucapnya sembari berjalan 7 langkah lagi ke depan, lalu berhenti dengan postur tubuh tetap seperti orang yang sedang berjalan ke depan, dengan kepala menoleh sedikit ke belakang, lalu ia tersenyum.

'Ckrek!' satu foto berhasil diabadikan oleh si pirang.

Melihat hasil bidikkannya itu membuatnya tersenyum pula. Gaara dengan gaya alaminya berdiri di bawah deretan torii yang selaras dengan warna rambutnya sambil tersenyum ke kamera, benar-benar gambaran yang sempurna.

'Tottemo kirei', ucapnya dalam hati.

"Kenapa kau tersenyum? Apa hasilnya lucu?", pertanyaan dari Gaara membuyarkan sesi aku-takjub-dengan-kemanisanmu-kaichou nya itu.

"Hasilnya sangat bagus. Bagus sekali malah,' jawabnya dengan nada gembira.

"Sini! Aku ingin melihatnya," pinta si merah.

Naruto mendekati kaichounya, lalu menunjukkan foto hasil bidikannya itu dengan kamera masih berada di tangannya. Posisi mereka sangat-sangat dekat waktu itu.

'Ckrek'

Dan tanpa sepengetahuan Naruto ataupun Gaara, Sai mengabadikan momen langka itu.

'Sepertinya liburan kali ini akan menjadi lebih menarik lagi,' tuturnya dalam hati, senyuman penuh arti pun menghiasi wajah pucatnya lagi.

.

To be continued~

.

AN: Maunya author panjangin sekalian, tapi gak jadi, lanjut chapter 11 aja. :""D Maaf ya author gak bisa update secepat yang dulu. Waktu luang author gak sebanyak yang dulu soalnya. Jadi mohon dimakhlumi! Btw, jangan lupa review ya!