Tuan dan Nyonya Byun berada di dalam kamar. Setelah perdebatan yang cukup pelik antara Tuan Byun dan Baekhyun, Nichkhun membawa istrinya untuk beristirahat, melepas rasa penat akibat perjalanan bisnis yang cukup melelahkan.
"Sayang..." Victoria yang saat itu sedang duduk di depan meja rias menatap pantulan sang suami yang sedang membaca sebuah buku lewat cermin yang ada di depannya.
"Hm..." Nichkhun hanya menjawab seadanya panggilan dari sang istri.
"Tidakkah kita kelewatan pada Baekhyun?" Victoria menundukkan kepalanya mencoba berpikir jernih. "Anak itu... tidak seharusnya kita merahasiakan ini darinya."
"Kau seperti tidak mengerti Baekhyun saja." Nichkhun hanya cuek dan masih fokus dengan buku di depannya.
"Aku tahu dia dengan baik, aku ini ibunya." Sedikit Victoria merasa tidak suka dengan perkataan Nichkhun.
"Kau tahu dia dengan baik, maka ini adalah keputusan yang tepat."
"Tapi tidak dengan mengorbankan perasaan Baekhyun!"
Mendengar nada yang di ucapkan sang istri, Nichkhun menutup buku yang dia baca dengan kasar. Fokusnya kini beralih melihat Victoria yang menatapnya lewat cermin.
"Siapa yang mengorbankan perasaannya?" tanya Nichkhun mengerutkan dahi.
"Kau... kau secara tidak langsung mengorbankan perasaan anak mu. Tidak seharusnya Baekhyun yang menanggung semua akibat dari perbuatan kita di sini. Dia tidak tahu apa-apa. Kau dengan sengaja membuat Baekhyun harus berpikir keras tentang hubungan Luhan dan Chanyeol" Victoria memutar tubuhnya untuk langsung menatap sang suami.
"Aku tahu apa yang aku lakukan." Nichkhun masih berusaha menyangkal fakta yang di beberkan istrinya.
"Tidak. Kau tahu ini tidak benar sayang." Victoria masih berusaha merobohkan kekerasan hati sang suami. "Lebih baik kita batalkan saja perjodohan ini."
"Perjodohan ini tidak akan batal. Baekhyun sudah menyetujui permainan ini, sayang. Dan ini semua demi Luhan."
"Sayang..." Victoria memasang wajah memelas.
"Kau tahu Luhan bagaimana. Aku hanya berusaha menyiapkan kehidupan yang layak untuknya. Luhan butuh seseorang yang bisa menjaga dan memenuhi semua kebutuhannya sayang. Anak itu butuh pendamping yang pantas untuknya, dan dia adalah Park Chanyeol." Jelas Nichkhun panjang lebar.
"Tapi tidak dengan mengorbankan Baekhyun. Kau seolah menumbalkannya, agar Luhan nanti hanya menerima kebaikan dari Chanyeol, yang jelas-jelas semua itu ada Baekhyun dibaliknya. Kau tidak memikirkan perasaan anak kita Baekhyun." Victoria terlihat marah.
"Haruskan kita berdebat tentang ini?" Nichkhun merasa dadanya bergemuruh. Dia emosi karena perkataan Victoria.
"Bisakah kau sedikit mengerti dengan keadaan Baekhyun? Kau tidak sadar bahwa dia menuruni 90% sifatmu. Seharusnya kau mengerti, Nichkhun."
Victoria beranjak meninggalkan Nichkhun sendiri di kamar mereka. Nichkhun sangat mengerti sifat istrinya. Jika Victoria telah memanggil namanya, tandanya dia sedang marah. Nichkhun hanya menghela nafasnya lelah. Dia mengerti Baekhyun dan mereka berdua hampir sama. Jika Nichkhun memiliki pikiran seperti ini, maka tidak ditutup kemungkinan jika Baekhyun juga memiliki pemikiran yang sama, dari keyakinan itulah dia berani mengajukan misi kepada Baekhyun. Nichkhun yakin Baekhyun akan menerima pemikirannya.
Atau mungkin tidak?
.
.
.
Byun?
Main Cast:
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Support cast:
Xi Luhan (Byun Luhan)
Oh Sehun
Do Kyungsoo
Kim Jongin
Kim Jongdae
Wu Kris
Rating:
T (berubah sesuai alur cerita)
Gendre:
Romance/Drama-School live
YAOI
Summary:
Kembar identik tidak membuat sifat keduanya sama. Keadaan yang terjadi membuat mereka tumbuh dengan karakter yang berbeda. Byun Luhan dan Byun Baekhyun. Apa yang akan terjadi jika mereka bertukar peran?
.
.
.
Chapter 9
Ini adalah hari senin. Dan Baekhyun masih berada di Korea. Masih berada di sekolah Luhan, masih menempati kelas yang sama, masih dengan teman sekelas yang sama, masih duduk di kelas yang sama. Tapi, ada satu hal yang membuat mood nya jelek pagi ini, yaitu ketidak hadiran Kyungsoo.
Tadi pagi saat membuka mata, Baekhyun dikejutkan dengan isi pesan singkat yang mengatakan bahwa si burung hantu tidak dapat sekolah hari ini dikarenakan sakit. Moodnya yang memang sedang dalam kondisi yang tidak bagus, tambah hancur di karenakan pemberitaan itu.
Saat ini, Baekhyun sedang duduk sendiri di dalam kelas. Ini adalah jam istirahat. Duo Kim yang biasanya datang ke sekolah juga absen, mereka bilang ada urusan mendadak. Baekhyun memutuskan untuk diam di kelas saja menanti pelajaran selanjutnya.
Hampir satu jam Baekhyun duduk mematung di kursinya. Dengan ogah-ogahan anak itu mengangkat kepala saat mendapati guru sudah masuk ke dalam kelas yang diikuti dengan rapinya posisi murid di tempat duduk masing-masing. Kim saem, tersenyum manis mengawali jam pembelajarannya.
"Karena kalian akan menghadapi ujian akhir, maka ini adalah kelas spesial terakhir untuk bulan ini."
Anak-anak yang sedari tadi hanya diam tiba-tiba ribut dan terlihat antusias. Hanya beberapa anak lelaki yang terlihat malas, mendecakkan lidah tidak suka. Baekhyun yang melihatnya hanya mengerutkan kening heran.
"Ayo kita ke ruang memasak!" seru Kim saem semangat.
Bagai tersambar petir, mood Baekhyun yang memang sedang sangat jelek sekarang hancur lebur saat dia mendengar kata memasak keluar dari mulut guru lelaki bermarga Kim yang imut itu.
Baekhyun hanya diam dan tidak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya. Berniat membolos, atau lebih baik pulang ke rumah dan tidur, dari pada sendirian di sekolah dan di suruh memasak. Tapi semua rencana itu hilang saat dirinya merasakan tarikan di lengan kanannya. Baekhyun mendongakkan kepala melihat sang pelaku.
"Apa yang kau lakukan?" desis Baekhyun tidak suka.
"Ayo! Kita akan terlambat." Chanyeol. Orang itu Park Chanyeol.
Dengan kekuatan penuh, Chanyeol menarik Baekhyun untuk mengikutinya ke arah kelas memasak. Kelas yang khusus di rancang oleh pihak sekolah bagi para murid. Chanyeol dengan tidakberperikemanusiannya menyeret tubuh kecil Baekhyun yang sibuk meronta minta di lepaskan.
"Ya! Lepaskan brengsek!" ronta Baekhyun dan hanya di anggap angin lalu oleh Chanyeol.
"Yaak! Ini sakit idiot! Aku bisa jalan sendiri!" teriaknya lebih keras diikuti rontaan yang lebih kuat lagi.
Tanpa Baekhyun sadari dan salahnya sendiri yang sibuk meronta, dengan sukses bocah kecil itu menabrak punggung Chanyeol yang berhenti tiba-tiba di depannya.
"Aissh..." keluh Baekhyun seraya memegangi dahi yang terlihat memerah.
"Gwencanha?" datar, tapi terselip nada khawatir di dalamnya.
"Bisakah kau tidak bertindak semaumu? Monster gigi!" seru Baekhyun murka. Dia merasa hari ini adalah hari yang paling sial sepanjang hidupnya.
"Ratu lebah sedang mendengung." Dengan cuek Chanyeol memutar badan dan berjalan meninggalkan Baekhyun sendiri.
Baekhyun hanya diam dan hendak memutar tubuh dan berjalan berlainan arah sebelum suara rendah Chanyeol menginstrupsi langkahnya.
"Tidakkah kau salah jalan ratu lebah? Kelas memasak ada di sana-" tunjuk Chanyeol pada sebuah ruangan di depan mereka. "Bukan di sana." Tunjuk Chanyeol lagi pada arah yang hendak di tuju Baekhyun. "Aku pikir kau sekarang cukup pintar untuk tidak membolos kelas spesial ini." Ejek Chanyeol lagi.
"Aku. Tidak. Akan. Membolos. Park. Brengsek. Chanyeol." Tekan Baekhyun kata perkata.
"Yah.. kau dan sifat aroganmu Byun." Chanyeol hanya memutar bola matanya malas saat mendapat respon negatif dari kekasihnya itu.
.
.
.
Ini akan menjadi salah satu penyebab Baekhyun tambah membenci memasak, khusunya kelas memasak yang ada di sekolah. Lihat saja, saat memasuki ruangan yang penuh dengan alat memasak, segerombolan siswi menghampiri mereka-tepatnya Chanyeol-agar mau berpasangan dengan siswi-siswi di kelas itu. Baekhyun yang notabenenya berbadan kecil harus merasakan dorongan kuat yang mengakibatkan tubuhnya tersingkir dengan tidak elitnya.
"Dasar sialan." Desis Baekhyun tidak suka.
"Wow.. wow.. wow... sorry gadis-gadis. Aku akan berpasangan dengan kekasihku hari ini." Chanyeol yang tadinya berada di kerumunan sekarang sedang merangkulnya dengan sok manis.
Baekhyun yang diperlakukan seperti itu mendelik tidak suka.
"Aku tidak butuh." Baekhyun berkata dingin. Dia muak melihat sikap Chanyeol belakangan ini.
"Tapi aku ingin." Chanyeol sengaja berbisik di telinga Baekhyun dan mengakhirinya dengan seringai tampan yang membuat gadis-gadis memekik heboh. Baekhyun yang diperlakukan seperti itu hanya mendengus keras dan berjalan meninggalkan Chanyeol.
"Disini tempat kita!" Baekhyun berjalan dan berhenti di salah satu counter, menklaim bahwa tempat itu miliknya dan Chanyeol.
Chanyeol hanya tersenyum maklum melihat kelakuan orang labil yang sedang berdiri di hadapannya itu.
"Ya. Tempat yang bagus sayang..."
.
.
.
"Aku baru tahu ada orang bodoh sepertimu Kim Jongin." dengus Chen tidak suka.
"Aku tidak bodoh Kim Jongdae."
"Kalau tidak bodoh apa namanya? Tolol? Idiot?" Chen dan mulut pedasnya.
"Yak! Bisakah kau tidak membuat kepalaku bertambah pusing?"
Jujur saja Chen sangat kesal dengan perilaku sahabatnya ini, Kim Jongin. Dengan otak genius seorang Kim Jongin yang ternyata sangat bodoh, anak itu pulang ke apartemen dengan keadaan basah kuyup di tengah musim dingin, mengakibatkan si tolol Kim jatuh sakit dan dirinya yang terpaksa merawat orang tolol tersebut.
"Katakan pada penyakit sialanmu itu." dengus Chen malas.
"Aku tidak mau bertengkar okey?" Jongin menyembunyikan tubuh panasnya di dalam selimut tebal, gabungan selimutnya dan selimut Chen.
Chen hanya diam dan fokus pada sesuatu yang dia kerjakan. Dia bertekat harus membuat namja bodoh yang sedang sakit itu sembuh sepecatnya, apapun caranya. Jongin yang tidak mendapat jawaban dari sahabat bermulut pedasnya itu pun perlahan-lahan memejamkan mata, mencoba merilekskan tubuh panas yang sampai sekarang masih di rutukinya.
"Yak! Ireona!" dengan kasar Chen menguncang tubuh Jongin yang hampir terlelap.
"Wae?!" seru Jongin emosi. Dia baru saja ingin tidur, tidak dapatkah Chen mengerti.
"Ini. Habiskan." Ucap Chen datar, seraya menyerahkan sebuah mangkuk keramik.
"Apa ini?" Jongin duduk di tempat tidur. Dengan ragu, bocah tan itu mengambil mangkuk yang di sodorkan Chen, mengendusnya dan di akhiri dengan kernyitan di dahi. "Yak! Ini bau!" serunya protes.
"Minum saja. Itu demi kebaikanmu." Chen melengos dari hadapan Jongin dan mengambil segelas air putih. "Itu sedikit pahit." Sambungnya memperingatkan.
"Oh ayolah Chen. Aku hanya meminta obat yang normal. Obat penurun demam yang biasa di konsumsi manusia." Dengus Jongin protes. Secara tidak langsung dia menjadi bahan percobaan lelaki berwajah kotak ini.
"Itu obat yang paling bagus dan jangan banyak protes. Minum dan habiskan. Kalau tidak aku akan mengatakan kau dan ide kencan bodohmu itu pada Baekhyun." ancam Chen tidak berbelas kasih.
Dengan terpaksa, Jongin meminum obat yang telah di racik Chen dengan tangan yang memencet hidungnya. Saat telah menelan semua ramuan racik itu, dengan kalap Jongin menyambar gelas yang ada di tangan Chen dan meneguknya rakus.
"Aku mengharapkan Sehun yang ada di sini sekarang. Bukan seorang ilmuan gila yang terobsesi menjadi ahli farmasi." Rutuk Jongin nelangsa.
"Jangan banyak protes dan simpan saja omong kosongmu itu Kai. Tidurlah. Dua atau tiga jam lagi kau akan sembuh." Chen berdiri dan beranjak meninggalkan Jongin.
"Ah, satu lagi. Lain kali jangan bermain hujan-hujanan lagi. Kekanakan sekali." Ejek Chen dan hilang di balik pintu kamar.
Kai hanya mendengus malas mendengar ocehan Chen. Dia sama sekali tidak main hujan oke! Dia kehujanan dan sialnya saat mau pulang ke rumah, bus yang ingin mereka-Jongin dan Kyungsoo-tumpangi telah pergi. Mereka terlambat beberapa menit. Dan berakhirlah dengan mereka yang menahan dingin di halte bus hampir dua jam. Wajar saja kan jika mereka demam pada akhirnya. Salahkan hujan yang tidak mau berhenti.
"Ini namanya akhir kencan yang tragis." Lirih Kai sebelum jatuh ke alam bawah sadarnya.
.
.
.
"Akh!" Sehun menjerit terkejut saat kopi yang diminumnya terlalu panas. "Sial." Umpatnya lagi.
Dengan cepat namja albino itu mengambil sebuah sapu tangan yang ada di kantong jas dokternya dan membersihkan tumpahan kopi yang mengenai baju operasi yang sedang di kenakan.
"Kau ceroboh juga dokter Oh." Suara dengan nada merdu menyapu gendang telinganya. Sehun mengalihkan atensinya pada seorang namja cantik yang tengah duduk di depannya sekarang.
"Lu.. Luhan..." lirih Sehun. Sedikit tidak peracaya memang. Bagaimana Luhan bisa ada di sini? Bukankah mansion keluarga Byun itu jauh dari pusat kota? Dan mengapa bocah manis itu berkeliaran pada jam dini hari begini?
"Ya.." Luhan yang ada didepannya masih tersenyum cantik. "Hei..." kali ini Luhan menguncang lengan Sehun.
"Ini benar-benar kau? Apa aku sedang berhalusinasi?" tanya Sehun pada diri sendiri.
"Tidak Sehun. Ini benar-benar aku. Byun Luhan." Dengan gerakan lembut, Luhan membawa tangan Sehun ke arah pergelangan tangannya. Memaksa dokter pale itu merasakan denyut nadi. "Lihat. Aku memiliki denyut nadikan?" Luhan tersenyum lagi kali ini dengan rona merah.
Sebenarnya rusa manis itu ingin membawa tangan Sehun ke arah jantungnya, agar Sehun merasakan yakin jika Luhan yang ada di depannya ini nyata. Tapi, Luhan takut Sehun merasakan ketidak normalan jantungnya yang sekarang berdetak sangat cepat. Jadi, nadi pergelangan tangan menjadi pilihan Luhan.
"Yak!" Sehun menyentak tangan Luhan dan menatapnya nyalang. "Kenapa kau keluar malam-malam begini hah? Jika terjadi apa-apa bagaimana?" seru Sehun khawatir.
Luhan memasang wajah ketakutan. Ya, dia masih trauma dengan bullyan yang biasa di terimanya di korea.
"Ma...maafkan aku..." sahut Luhan bergetar. Anak itu ingin menangis sekarang.
Sehun yang melihat reaksi Luhan merutuki dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia lupa dengan keadaan emosi Luhan yang belum stabil seperti sekarang. Bagaimanapun juga Luhan adalah korban kekerasan.
Perlahan, Sehun berdiri dan berlutut di depan Luhan yang saat ini sedang duduk dengan tubuh gemetar menahan tangis. Namja pale itu menarik Luhan ke dalam pelukannya, mencoba memberikan ketenangan. Sehun dengan hati-hati mengusap punggung Luhan dengan sayang.
"Maafkan aku Lu. Aku hanya terkejut melihatmu." Sehun bertutur lembut mencoba memberi kenyamanan pada yang lebih kecil.
"Se... Sehun..." lirih Luhan.
"Hmm?"
"Aku merindukanmu." Sambungnya lagi.
"Aku juga." Sehun tersenyum manis. Sangat manis. Sehun hendak melepas pelukannya, dia ingin melihat wajah seorang Byun Luhan yang beberapa hari ini tidak dilihatnya.
"Ja-Jangan dilepas." Luhan menahan dan tambah mepererat pelukannya pada Sehun.
"Kenapa?" tanya Sehun lagi. "Aku ingin melihat wajahmu."
"Jangan dilihat~" kali ini diiringi rengekan manja khas Byun Luhan.
"Oke oke."
Lama mereka pada posisi saling memeluk. Bukan tanpa alasan Luhan meminta Sehun terus memeluknya. Tapi, dia sama sekali tidak mau Sehun tahu bahwa wajahnya semerah tomat sekarang.
"Tadi aku ke flat. Tapi, tidak ada orang di sana." Luhan yang sedari tadi diam membuka suaranya dengan lirih.
"Makanya kau mencariku ke rumah sakit?" Sehun menguraikan pelukannya. Kali ini tidak ada bantahan.
Luhan yang mendengar pertanyaan Sehun hanya mengangguk lucu.
"Dan Sehun juga tidak perlu khawatir. Aku pergi ke sini diantar oleh supir nenek. Seharusnya kami sampai tepat waktu bila tidak ada kemacetan panjang." Luhan memberi alasan kenapa dirinya bisa datang pada jam segini.
"Arasho.." Sehun tersenyum mengerti. "Ay-"
"B?" saat ingin mengajak Luhan ke dalam ruangan pribadinya, seorang lelaki memanggil Luhan dengan nama lain Baekhyun. Luhan langsung saja mengalihkan perhatiannya pada Sehun, mencoba mencari penjelasan.
"Hai, aku sudah lama sekali tidak bertemu denganmu." lelaki itu dengan seenaknya memeluk Luhan yang tampak binggung. Tentu bingung, lelaki ini berbicara dengan bahasa belanda!
"Apa katanya?" Luhan sekali lagi melihat pada Sehun yang sedang berdiri dengan tatapan datar.
"Maaf Bill, tapi kami harus pergi keruanganku sekarang, B sedang ingin beristirahat." Sehun menyahuti dengan nada datar.
"Oh benarkah? Baiklah aku akan pergi kalau begitu. Sampai jumpa B." Lelaki itu pergi menyisakan Luhan dan Sehun berdua.
Sehun menatap Luhan dengan pandangan yang sulit diartikan. Sejujurnya, dia tidak terima jika Luhan disentuh oleh orang lain oke! Luhan itu miliknya sekarang!
O-Oh.. apa yang aku pikirkan?
Rutuk Sehun dalam hati.
Luhan yang melihat perubahan mood Sehun hanya menatap heran.
"Sehun?" panggil Luhan
"N-ne?"
"Kau tadi ingin bicara apa?"
"A-ah.. itu, sebaiknya kita ke ruangan ku saja. Aku mendapat tugas jaga malam ini. Jadi, kau beristirahat di dalam ruanganku."
"Ay ay captein!" seru Luhan dan di akhiri dengan cengir kekanakan.
Deg deg deg
Tamatlah aku!
Ini buruk untuk kondisi jantung Sehun.
.
.
.
"Sekarang aku mengerti kenapa selama ini kau ingin selalu berpasangan dengan Kyungsoo." Chanyeol berkata datar dan terus menonton pertunjukan mutilasi di depannya.
"Diam dan jangan ganggu konsentrasiku sialan." Desis Baekhyun tidak suka. Dia sedang konsentrasi memutilasi seekor ayam oke!
"Konsentrasi? Kau bilang konsentrasi saat potonganmu seperti itu." tunjuk Chanyeol pada potongan ayam Baekhyun. "Tidak ada bentuk sama sekali."
"Bisakah kau hanya diam? Siapa suruh berpasangan denganku!" kali ini Baekhyun melotot pada Chanyeol. "Apa pisau ini tumpul! Aku benci ini!" teriak Baekhyun frustasi.
Kali ini Chanyeol hanya menelan ludah gugup. Jujur saja dia sedikit takut dengan pisau yang Baekhyun pegang.
"Kemarinkan! Biar aku saja!" Chanyeol dengan terpaksa membatalkan niatnya untuk menghina masakan Luhan. Dengan cekatan namja tinggi itu memotong ayam dengan terampil.
"Kalau bisa kenapa tidak kau lakukan dari tadi saja." Dengus Baekhyun.
"Karena kau yang akan ada di posisi istri." Dengan cuek, Chanyeol mejawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari ayam yang malang.
Chanyeol benar. Luhan adalah seseorang yang pintar memasak. Apa tidak apa-apa jika meluluhkakun hati Chanyeol untuk Luhan?
Baekhyun terus tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sama sekali tidak mendengar perintah Chanyeol untuk memecahkan dua butir telur.
"Hei! Kau dengar tidak?" kali ini Chanyeol berteriak tepat di telinga Baekhyun.
"Aish! Aku tidak tuli bodoh!" teriak Baekhyun tidak terima.
"Aku juga tidak tuli! Pecahkan telur itu!" perintah Chanyeol lagi.
"Pecahkan telur?" lirih Baekhyun.
"Ya!" Chanyeol masih sibuk dengan ayamnya.
Bagaimana cara memecahkan telur?
Disana ada dua buah telur dan satu buah mangkuk. Dengan insting memasak yang sangat buruk, Baekhyun mengambil telur dan memecahkannya di dalam mangkuk. Benar-benar memecahkan bersama kulit-kulitnya, membuat Chanyeol membolakan mata takjub.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Chanyeol lagi.
"Kau bilang memecahkan telur, itu sudah aku pecahkan." Jawab baaekhyun enteng.
"Kau benar-benar.." Chanyeol memejamkan mata, memaksa dirinya menelan kembali emosi yang hendak meledak. "Baiklah, sekarang ambil kan tepung dan tuangkan di sini, ingat, tuangkan oke." Kali ini biar Chanyeol saja yang memecahkan telur baru toh dia sudah selesai memotong ayam dan sedang merebusnya.
Dengan cekatan Baekhyun mengambil sebungkus tepung dan mengunting kemasan. Anak itu datang dengan tepung yang sudah terbuka ke arah Chanyeol dan bersiap untuk menuangkan isinya.
"Tuangnya pelan-pe-"
BRUSH!
Putih... semua putih. Chanyeol terlambat satu langkah.
Baekhyun dengan sifat sombongnya menuangkan tepung dengan hentakan keras sehingga tepung bertebaran ke arahnya dan Chanyeol yang sedang berdiri mematung di tempat. Kali ini mereka berdua menjadi pusat perhatian di kelas memasak.
"Kau..." desis Chanyeol geram. "Tidak bisakah kau melakukan segala sesuatu dengan benar?" Chanyeol marah, emosinya yang sudah di tahan meledak.
"Aku tidak tahu akan jadi seperti ini." Dasar Byun Baekhyun tidak tahu diri. Dia sama sekali tidak merasa bersalah.
"Yak! Pendek! Bersihkan kekacauan yang kau buat! Sialan!" Chanyeol dengan kesal melepas apronnya dan pergi meninggalkan ruang memasak dengan Baekhyun yang menundukkan kepala menerima takdir.
Baekhyun itu sportif okey. Dia salah kali ini. Jadi dengan berat hati Baekhyun harus membersihkan kekacauan yang dirinya buat.
.
.
.
Ini adalah hari sial.
Hari sial.
Sial.
SIAL!
Begitulah isi hati Baekhyun sekarang.
Namja manis itu sekarang sedang merutuki mobilnya yang tidak mau di hidupkan. Sebenarnya itu bukan masalah jika dia memiliki uang dan ponsel. Tapi akan menjadi sial jika dompetnya tertinggal di rumah dan baterai ponsel habis. Baekhyun rasanya ingin menangis dan berteriak seperti orang gila.
Baekhyun hanya duduk di atas kap mobilnya, seperti anak hilang yang menunggu orang tua menjemput. Sekarang sudah malam. Sekolah sudah sepi. Andai saja dia tidak di hukum menyusun buku di perpustakaan tadi oleh Kim saem. Iya, dia di hukum lagi, akibat tidur karena kelelahan membersihkan kelas memasak.
Baekhyun memutuskan untuk berjalan kaki ke rumahnya. Walaupun sedikit jauh, tapi dari pada dia bermalam di sekolah yang gelap dan menyeramkan. Baekhyun berjalan dengan senandung merdu keluar dari bibirnya.
Saat sedang berada di depan sebuah minimarket, Baekhyun melihat Chanyeol yang sedang duduk di bangku tempat mereka bertemu beberapa hari lalu. Niat Baekhyun hanya masa bodoh dan pergi melewati Chanyeol, sebelum tarikan kuat pada lengannya. Siapa lagi kalau bukan Park Chanyeol.
"Mana mobilmu?" Chanyeol mendelik ingin tahu.
"Apa pedulimu?" balas Baekhyun dengan hentakann tangan yang kuat.
"Kenapa berjalan kaki?" kali ini tarikan dirasakan Baekhyun lagi, membuatnya ikut dengan Chanyeol duduk di tempat beberapa hari yang lalu.
"Karena aku ingin." Jawab Baekhyun cuek.
"Aku serius Byun." Chanyeol sedikit kesal dengan sikap bocah di depannya ini.
"Mobilnya tidak mau di hidupkan alias mogok." Jawab Baekhyun sekenanya.
"Kau bodoh? Mana ponselmu?" kali ini Chanyeol menggunakan nada mengejek.
"Sayangnya ponselku mati dan dompetku tertinggal. Jadi aku memutuskan berjalan kaki dari pada menginap di sekolah." Jelas Baekhyun panjang lebar agar mosnter gigi di depannya ini mengerti.
KRYUKK
Itu adalah suara perut Baekhyun. Dia belum makan dari tadi siang.
"Kau lapar?" tanya Chanyeol dengan nada geli.
"Ya." Jujur saja Baekhyun sedikit malu.
"Kalau begitu ayo!" seru Chanyeol seraya menarik tangan Baekhyun.
"Tidak! Aku tidak mau naik motor denganmu lagi!" teriak Baekhyun.
"Hei... aku membawa mobil kali ini."
Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan menyeretnya memasuki mobil. Dengan cekatan Chanyeol mengemudi di tengah ramainya jalanan seoul.
"Bisakah kau antar aku ke rumah saja?" pinta Baekhyun saat sadar mereka keluar jalur ke arah rumahnya.
"Kita harus makan dulu. Aku akan mentraktirmu." Kali ini Chanyeol tersenyum.
"Ayo pulang saja. Aku akan menguras isi dompetmu nanti." Bujuk Baekhyun lagi.
"Tenang, aku kaya."
"Tapi kau bisa bangkrut."
"Tidak bila hanya mentraktirmu makan."
"Aku ingin masak masakan rumah."
"Aku tahu tempatnya."
"Kau menyebalkan."
"Itulah aku."
Yahh.. kali ini perdebatan di menangkan oleh Park Chanyeol. Namja tinggi itu menyeringai senang saat melihat Baekhyun diam tak berkutik akibat perdebatan mereka kali ini.
.
.
.
Mereka berdua telah selesai makan. Kali ini Chanyeol sedang mengendarai mobilnya menuju rumah Baekhyun. Anak itu terlihat merajuk padanya. Chanyeol jadi ingin mencubit pipi tembam yang sedang mengembung lucu itu.
"Jangan marah lagi okay." Chanyeol membuka suara.
"Kau menyebalkan!" teriak Baekhyun.
"Aku hanya menyarankan kau makan makanan yang bergizi." Chanyeol membela diri.
"Tapi aku tahu mana yang baik buatku!" protes Baekhyun lagi.
"Junk Food tidak baik Lu!" kali ini Chanyeol terlihat serius.
"Aku mau makan pizza Chanyeol~" kali ini suara dengan nada merenggek.
"Tidak boleh."
"Huh.."
Baekhyun merajuk. Anak itu marah saat Chanyeol membelokkan mobilnya ke arah berlawanan dengan restoran pizza yang mambuat mata Baekhyun berbinar-binar. Chanyeol membawanya ke sebuah restoran dengan menu rumahan seperti yang Baekhyun pinta di awal keberangkatan mereka. jadi, bukan salah Chanyeol kan?
Chanyeol sekali lagi mendengus geli saat melihat posisinya sekarang. Dia dan Baekhyun seperti pasangan yang sedang bertengkar karena permintaan pasangan wanitanya tidak dituruti.
Ahh... pasangan ya?
"Stop!" tiba-tiba, simungil yang dari tadi terdiam berteriak membuat Chanyeol yang sedang megendarai kendaraan menginjak rem mendadak.
"Wae?"
"Aku mau makan itu. Traktir aku oke!" kali ini baekyun menunjuk kedai jajanan malam yang berada di pinggir jalan.
"Oke."
Akhirnya mereka berjalan kearah kedai setelah memarkirkan mobil. Baekhyun dengan semangat memesan jajanan malam seperti tteokpokki dan lainnya. Setelah menerima pesanan mereka duduk di berhadapan.
"Ini enak sekali." Dengan rakus Baekhyun menyantap makanan yang terhidang di depannya.
"Yak! Pelan-pelan, nanti kau tersedak." Kali ini Chanyeol memperingati.
"Geure! Kau tidak makan Park?" tanya Baekhyun di sela-sela kunyahannya.
"Aku sudah kenyang. Kau habiskan saja." Chanyeol menuangkan soju yang sempat dia pesan tadi ke dalam sebuah gelas kecil.
"Apa itu?" tunjuk Baekhyun dengn sumpit yang ada di tangannya.
"Kau tidak tahu?" Chanyeol melebarkan matanya. "Ini soju."
"Soju? Merek produk minuman?" tanyanya lagi.
"Bukan Lu. Ini soju, minuman khas korea." Jelas Chanyeol.
"Begitu..."
"Kau belum pernah mencobanya?" kali ini Chanyeol menatap Baekhyun menyelidik.
Baekhyun hanya menggelengkan kepala. Melihat gelengan Baekhyun, Chanyeol menepuk dahinya dramatis.
"Sudah sebesar ini tidak pernah minum soju? Cckck... kau belum dewasa Byun." Ejek Chanyeol di sela seringainya.
"Apa kedewasaan seseorang di ukur dengan soju Park idiot?" Baekhyun menatapnya nyalang.
"Tentu saja, bahkan aku pertama kali minum ini saat aku masuk SHS." Terang Chanyeol panjang lebar.
"Apa hebatnya." Dengus Baekhyun malas.
"Tentu saja hebat ratu lebah." Chanyeol terkekeh melihat wajah Baekhyun yang cemberut masam.
"Kau dan omong kosongmu."
"Ini." Chanyeol menyodorkan segelas soju pada Baekhyun. "Cobalah."
"Oke."
Tanpa tahu menahu tentang soju, Baekhyun menegak minuman itu dengan satu tegukan. Rasanya pahit dan tenggorokannya terasa terbakar.
"Ini alkohol?" tanya Baekhyun seraya mengerjabkan mata, mencoba fokus.
"Ya." Chanyeol menyeringai. "Kau tidak bisa minum ya?" nada mengejek sangat kentara dalam ucapan yang terlontar dari mulut Chanyeol.
"Apa kau bilang?" Baekhyun merasa di rendahkan.
"Kau. Seperti. Perempuan. Lemah. Byun."
Perkataan Chanyeol berhasil menaikkan emosi Baekhyun. Tanpa perhitungan sama sekali, Baekhyun berdiri dari duduknya dan dengan kasar mengambil botol soju yang masih penuh dan menegak isinya langsung dari mulut botol hingga habis tak bersisa.
"Lihat! Aku bisa minum!" seru Baekhyun dengan wajah memerah.
Anak itu dengan sempoyongan mendudukan diri di depan Chanyeol dan kembali menyantap makanannya.
"Tambah lagi sojunya ajummha!" teriak Baekhyun.
"Yak! Kau tidak boleh minum lagi. Kau sudah mabuk Lu!" Chanyeol mencegah Baekhyun yang hendak meminum soju yang baru di antar langsung dari botolnya.
"Persetan!"
Baekhyun langsung meminum soju yang ada di depannya sebelum isinya tumpah mengenai baju seragam yang dia pakai akibat ulah Chanyeol yang menarik paksa botol itu.
"Kita pulang." Nadanya tegas dan terkesan dingin. Dengan paksa, Chanyeol menarik Baekhyun yang memberontak setelah meletakkan beberapa won diatas meja. Tidak habis akal, Chanyeol mengendong Baekhyun seperti mengangkut karung beras agar memudahkannya membawa bocah mabuk ini pulang ke rumah.
.
.
.
Chanyeol memutuskan membawa Baekhyun ke mansionnya. Setelah berpikir panjang, tidak mungkin dia mengembalikan 'Luhan' ke orang tuanya dengan kondisi teler berat seperti sekarang.
Dengan kasar, Chanyeol membanting tubuh Baekhyun ke atas ranjang empuk di kamarnya. Chanyeol sedikit merutuk di dalam hati menyadari bau kamarnya yang berubah menjadi bau minuman keras. Ini semua karena baju yang di kenakan bocah teler itu terkena soju.
"Yak! Byun Luhan! Yak!" Chanyeol menepuk-nepuk pipi Baekhyun berusaha menyadarkannya.
"Hei! Bagun! Ganti bajumu!" kali ini dengan guncangan keras.
"Errngghhh" terdengar geraman protes dari makhluk kecil yang meringkuk di ranjangnya.
"Kau harus ganti baju! Nanti kau bisa sakit." Peringat Chanyeol.
"Yak Byun!"
"Ne~"
Baekhyun berdiri dengan sempoyongan. Anak itu berjalan ke arah lemari Chanyeol dan seenak jidat membukanya. Chanyeol yang melihat kelakukannya hanya mendengus malas dan menarik asal sebuah kaus yang di pastikan sangat besar di tubuh kecil Baekhyun.
"Pakai ini. Aku mau mandi."
Baekhyun hanya diam dan memandang kaus di depannya dengan pandangan sulit di artikan. Tak lama sebuah senyuman mesum tersemat di bibirnya. Dengan penuh perasaan, Baekhyun mendekatkan kaus itu ke arah indra penciuman dan menghirup aroma Chanyeol yang ada di kaus dalam-dalam.
"Chanyeollieehh~" desahnya manja.
.
.
.
TBC
.
.
Hayo Baekhyun kenapa?
Hahahahhaa...
Apa kabar?
Sudah masuk sekolah ya?
Yang ngampus udah masuk belum?
Ini lama banget ya? Iya pasti lama kan? pasti yang baca cerita ini udah pada lupa tbc nya gimana kemarin. Hahahah...
Saya habis hibernasi soalnya, maklum 11 12 sama beruang...
Maaf kalau bagian ini mengecewakan, saya udah berusaha yang terbaik buat lanjutin ceritanya. Tenang aja, bentar lagi tamat kok. Hahahha
Buat yang review chap kemarin terima kasih banget yah... saya jungkir balik sampe koprol-koprol baca tulisan kalian sangking senengnya.
Kali ini saya gak bakal nyepam banyak-banyak *takut di tipuk masa
Kalp ada typo maafin yahh...
Review please?
