Fairy Tail © Hiro Mashima

A Fairy Tail Fanfiction

Between Us

By Yusa-kun

Warning : AU, Typo(s), OOC.

.

.

.

.

.

Hari-hari pun berlalu, Lucy pun sudah kembali beraktivitas seperti biasanya. Saat ia dirawat, teman-temannya menjenguknya dan juga Ibunya masuk keruang rawatnya untuk melihat sang putri yang jatuh sakit.

"Lucy-san..Ohayou.." Sapa Juvia

Lucy menoleh kebelakang dan mendapati Juvia, Erza, dan Levy yang sedang berjalan beriringan. Mereka menghampiri Lucy menghentikan langkahnya.

"Ohayou"

"Lu-chan, tumben pagi sekali kesekolahnya. Semangat banget niiiih" ujar Levy, seperti biasanya ia sangat ceria.

"Biasa saja" jawab Lucy.

Lucy tersentak kaget saat melihat Natsu dan kawan-kawan menuju kearahnya.

"Hmm aku masuk kelas duluan. Jaa" Lucy berlari untuk masuk kedalam sekolahnya. Levy, Erza, dan Juvia saling memandang.

"Ada apa dengannya?" Tanya Erza.

"Lihat kebelakang" ucap Levy.

Erza dan Juvia melihat kebelakang dan mendapati Natsu cs sedang berjalan. Juvia pun berfangirling.

"Aaaaaahhhh Gray-sama~ sutekiiii aaah~"

"Ah ohayou, Minna.." Sapa Natsu dengan riang.

"Ohayou"

"Ohayou"

"Ohayou, Natsu-san. Ohayou, Gray-sama~"

Natsu melihat kekanan dan kekiri. Ia seperti mencari sesuatu.

"Tadi aku melihat Lucy, dimana dia?" Tanya Natsu.

"Lucy? Dia sudah kekelas duluan" jawab Erza.

"Dia aneh.." Tambah Levy yang rambutnya sekarang sedang di pegang-pegang oleh Gajeel.

"Jangan menjahiliku, Gajeel!" Omel Levy.

"Gee hee" Gajeel hanya nyengir kuda.

"Aneh kenapa?" Tanya Gray

"Lucy-san seperti menghindari Natsu-san. Entahlah, sepertinya perasaan Juvia saja" jelas Juvia

Natsu pun berpikir.

"Jangan-jangan dia mulai menyukaimu, Flame-head" ujar Gray dengan asal. Terlihat semburat merah di kedua pipi Natsu.

"Ah Salamander blushing.." Ledek Gajeel. Yang lainnya hanya tertawa.

"Urusai!"

Natsu pun berlari untuk masuk kesekolah. Yang lainnya hanya terkikik melihat tingkah Natsu yang malu-malu itu.

Dilain pihak, ada Sting yang mendengarkan percakapan mereka. Ia tertunduk dan mengepalkan tangannya.

'Lucy menyukai Natsu-san?' Batinnya.

XXX

Lucy duduk diam dikelasnya sambil memakan pocky yang dibelinya dikantin. "Dooor!" Sting berusaha mengangetkan Lucy tapi tidak berhasil.

"Kenapa kau?" Tanya Lucy, datar.

Sting duduk disebelah Lucy dan memandanginya. "Setidaknya kaget kek. nggak seru, ah!" gerutu Sting.

Lucy memutar kedua bola matanya, "Ah, aku kaget.." ucap Lucy dengan nada datarnya. Sting sweatdrop. "Jangan buat ekspresi kagetmu seperti itu"

"Kau tidak makan dikantin?" Tambah Sting.

Lucy menggeleng, "Aku sudah beli ini, kantin ramai sekali" jawabnya sambil memperlihatkan pocky miliknya. Sting mengangguk-angguk. Lucy mengambil stick pockynya dan menyodorkan kotak pocky kehadapan Sting.

Lucy menggigit pocky yang ada ditangannya. "Mau?" Tanya Lucy.

Sting mengerjapkan matanya beberapa kali dan tersenyum. Tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya dan..

Kress!

Lucy melongo dan Sting tersenyum. Sting mengigit stick pocky yang sedang dipegang oleh Lucy.

"Arigatou.." Sting bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Lucy.

Lucy memandang stick pocky miliknya dan Sting secara bergantian.

"Baka" gumamnya.

Lucy kembali mengambil stick pockynya yang baru dan memakannya. Tanpa diketahui oleh mereka, Natsu melihat mereka dari luar kelas. Natsu mengepalkan tangannya. Entah ia merasakan apa, apa inikah rasanya cemburu? Hati merasa terbakar? Natsu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berjalan meninggalkan kelas Lucy.

XXX

"Ya, bulan depan, kita akan mengadakan study tour. Silahkan kalian membuat kelompok dan dalam satu kelompok terdiri dari lima orang ya" ucap Mira-sensei.

Lucy hanya diam dan menghela nafas.

"Berapa hari Study tour-nya, Mira-senei?" Tanya salah satu anak dikelas.

"Tiga hari. Kalian harus membawa baju ganti, alat tulis, dan jangan lupa membawa jaket atau syal. Bulan depan sudah masuk ke musim gugur, dan udara akan semakin dingin. Sensei tidak mau ada siswa yang tiba-tiba masuk angin..Paham?" Terang Mira-sensei.

"Ha'iii!" jawab seluruh anak dikelas itu. Lucy hanya memandang teman-temannya yang begitu antusias dengan kegiatan itu. Ia berpikir untuk tidak ikut study tour itu, karena keadaannya yang sekarang, ia tidak bisa meninggalkan Ibunya sendirian. Lucy yang sibuk melamun, tidak menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan oleh Sting. Sting bangkit berdiri untuk menghampiri Lucy.

Lucy tersentak kaget saat tangan Sting menyambar tangannya. Lucy menoleh dan mendapati Sting sedang berdiri.

"Ada apa?" Tanya Lucy.

"Kau tidak mencari kelompok?" Tanya Sting. Lucy menggeleng.

"Kalau begitu, satu kelompok denganku saja ya. Kita buat dengan Erza dan Levy" ajak Sting dengan antusias. Sting memamerkan deretan giginya pada Lucy. Lucy pun tercengang dan menjadi ingat kenangan saat ia masih sekolah dasar.

'Natsu..' Batinnya.

Lucy memalingkan wajahnya, "Aku tidak berniat untuk ikut study tour itu"

"Oh tidak bisaaa! Kau harus ikut.. Anak kelas 1 diwajibkan ikut loh kata Sensei" terang Sting. Lucy menghela nafas, ia pun mengalah.

"Terserah dirimu, atur saja seenakmu" jawab Lucy.

"Yessss! Levy..Erza.. Ayo kita buat kelompok dengan Lucy!" teriaknya.

Levy dan Erza menoleh dan tersenyum.

"Okeeey!" Sahut Levy.

Sting memandang Lucy yang sedang memalingkan wajahnya. Sting tersenyum tipis.

"Study tour sangat menyenangkan loh. Dijamin" bisik Sting membuat Lucy tersentak kaget. Lucy reflek menoleh dan mendapati wajah Sting sangat dekat dengannya. Mereka saling memandang dan akhirnya saling menjauhkan wajah mereka.

Sting menyembunyikan semburat merahnya, begitu juga Lucy.

"Gomen, aku akan kembali duduk" pamit Sting dengan gugup. Lucy mengangguk.

XXX

"Lu-chan. Kelompok kita kurang satu orang lagi. Siapa ya kira-kira yang belum ada kelompok.." Ucap Levy sambil menoleh sana-sini untuk melirik anak kelasnya.

"Jellal?" Usul Lucy. Erza tersentak kaget dan wajahnya memerah. Levy dan Lucy menyadari hal itu.

"Kau kenapa? Demam?" Tanya Lucy

Erza menggeleng.

"Ah aku tahu! Pasti karena Lu-chan menyebut nama Jellal. Ya kan Erza?" Ujar Levy dengan gembira. Lucy memiringkan kepalanya dan memperhatikan Erza. Wajahnya tambah memerah.

"Jellal!" Panggil Lucy. Jellal pun menoleh. Erza pun menjadi panik. Oh Erza, kenapa jadi kau yang panik?-_-

"Kau sudah dapat kelompok untuk study tour?" Tanya Lucy dengan datar.

"Ehmm..belum, kan kemarin aku tidak masuk" sahutnya dengan santai.

"Masuk kelompok kami saja ya, kami kurang satu orang lagi" timpal Levy dengan suara lantang. Sedangkan Erza sedang tertunduk malu.

Jellal melirik Erza dan tersenyum. "Baiklah kalau begitu.." Jawabnya.

"Erza, lihat Jellal senyum loh tadi? Kau lihat tidak? Dia ganteng kaaaan?" Ledek Levy.

"Urusai, Levy!" Sahut Erza.

Levy hanya terkikik melihat tingkah Erza, sedangkan Erza hanya menggerutu dan mengomel tidak jelas. Lucy hanya memandang mereka berdua dan tersenyum tipis.

XXX

Minggu demi minggu pun telah berlalu, dalam jangka waktu itu, Lucy tidak pernah membolos sekolah lagi. Ibunya masih menjalani perawatan intensif dirumah sakit. Hanya dimalam hari, Lucy bisa menjenguk Ibunya, karena kesibukkannya soal sekolah dan juga melakukan tiga pekerjaan sampingan.

Dan malam ini, Lucy sedang berada didalam ruang rawat Ibunya, ia memakai kacamata bacanya dan sedang membaca buku pelajarannya. Sesekali ia menggaris bawahi kalimat yang menurutnya penting.

"Lucy.." Panggil Ibunya. Lucy langsung menoleh.

"Ada apa, Bu? Aku menganggumu ya?" Tanya Lucy.

Layla menggeleng. "Kau sedang belajar?"

Lucy mengangguk. "Ada apa? Kau merasa lapar? Haus?" Tanya Lucy.

Layla menggeleng lagi. "Lalu? Kenapa kau terjaga?" Tanya Lucy.

Layla tersenyum dan membelai kepala Lucy.

"Sudah mau musim gugur ya? Udara mulai dingin.." Ucap Layla dengan lembut. Lucy mengangguk.

"Lusa, aku harus pergi untuk mengikuti study tour. Sebenarnya aku tidak ingin ikut, tapi karena murid tingkat satu sepertiku diwajibkan untuk ikut, jadi aku tidak bisa menolak" terang Lucy. Layla tersenyum lagi.

"Pergilah, jangan khawatirkan Ibu. Ibu disini ada yang menjaga kok. Ada dokter dan suster yang baik hati.." Ucap Layla.

Lucy mengangguk. "Kau akan baik-baik saja kan jika aku tinggal selama tiga hari?"

Layla mengangguk dan tersenyum. Tangannya meraih kepala Lucy dan mengelusnya. "Aku akan menunggumu pulang dan melihat oleh-oleh yang kau bawakan untukku"

Lucy mengangguk.

XXX

Tiba waktunya study tour dilaksanakan. Lucy telah membawa peralatan yang diperintahkan, dan juga membawa beberapa baju ganti untuk disana. Ia memakai seragam sekolahnya beserta almamaternya. Benar, udara mulai dingin. Musim gugur telah tiba.

Lucy masuk kedalam bus dan duduk bersama Levy. Sedangkan Erza duduk bersama dengan Jellal. Dan demi Mavis, entah kenapa Erza merasa mati gaya dekat dengan Jellal. Lucy memandang keluar jendela bus, ia bisa melihat bus yang akan dinaiki oleh kelas Natsu, ia pun tersenyum.

'Dia benar-benar antusias kalo ada acara seperti ini..' Pikir Lucy.

Lucy mengeluarkan earphone yang ada disaku almamater yang dipakainya beserta dengan ipodnya. "Nih" Lucy menyodorkan satu earphone pada Levy, Levy hanya melongo.

"Mau dengar tidak?" Tanya Lucy.

Levy tersenyum dan mengangguk. Levy menerima dan memasangkan earphone itu ketelinganya. Ia tersenyum.

'Lu-chan baik sekali' batin Levy.

Terdengar alunan musik instrumen piano. Levy menoleh kearah Lucy.

"Kau menyukai instrumen piano-piano seperti ini?" Tanya Levy.

Lucy mengangguk. "Ini akan membuatku terlelap" jawabnya.

"Benar..hehehe" sahut Levy.

Lucy pun memejamkan matanya dan terlarut dalam alunan piano tersebut, begitu pula dengan Levy.

XXX

Dirumah sakit, Layla meminta sebuah pena dan juga beberapa kertas pada seorang suster yang sedang memeriksanya.

"Baiklah, nanti akan aku ambilkan" ucap sang suster.

Layla mengangguk dan tersenyum.

"Memangnya untuk apa, Layla-san?" Tanya Suster.

"Untuk menulis surat" jawabnya.

"Surat?"

"Tidak ada jaminan kalau aku dapat bertahan lebih lama. Sel kankerku dengan cepat menyebar. Ya kan Sus?" Ucap Layla sambil tertunduk.

Suster tersebut tidak menjawab dan menyerahkan beberapa kertas dan pena.

"Arigatou" ucap Layla sambil menerima kertas dan pulpen. Ia dengan perlahan membuka tutup pena dan bersiap untuk menuliskan sesuatu.

Ia tersenyum tipis.

"Ibu akan menunggumu..aku ingin mendengar ceritamu saat disana, Lucy.." Gumam Layla

XXX

"Baiklah, kita sudah sampai ditempat pertama yang kita akan kunjungi. Dengarkan baik-baik. Kalian tidak boleh berpisah dengan anggota kelompok kalian.." Ucap Mira-sensei.

"Kalian boleh beristirahat saat pukul 1 siang. Kalian diberi waktu 1 jam untuk beristirahat. Jangan coba-coba untuk melakukan hal yang dapat memalukan nama sekolah..kalian mengerti?" Tambah Laxus-sensei dengan tegasnya.

"Baikkkkkk..!"

Lucy, Levy, Erza, Sting dan Jellal berjalan bersama. Mereka memutuskan untuk menentukan ketua dari kelompoknya.

"Jadi siapa yang akan jadi ketua?" Tanya Sting.

"Erza" jawab Lucy

"Aku juga pilih Erza" timpal Levy.

"Aku setuju" tambah Jellal.

"Kenapa aku! Kan ada Lucy yang lebih pintar" gerutu Erza.

"Kau tegas, Er. Sedangkan kalau Lu-chan yang menjadi ketua, yang ada kita ditelantarkan haha" ucap Levy dengan nada meledek Lucy.

Lucy memalingkan wajahnya, "Urusai"

Semuanya pun tertawa.

Setelah berbincang-bincang, dan mengambil peta. Mereka pun berjalan mengelilingi museum tersebut. Lucy yang membawa ponsel, merekam apa yang dikatakan oleh tour guide yang ada dimuseum itu. Ia pun dibantu oleh Levy.

Sting sibuk mengambil foto disana dan disini. Jellal sibuk membantu Erza membaca peta.

Lucy melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 1. Ia pun menoleh kearah teman-temannya yang sedang sibuk masing-masing.

"Hey, bukannya sudah waktunya istirahat?" Ucap Lucy.

Jellal melirik jam tangannya begitu pula dengan Sting. "Ah iya. Benar!" Ujar Sting. Sting mengalungkan kamera miliknya di lehernya dan memandang Lucy.

"Kau sudah tidak sabar untuk istirahat ya, Nona?" Ledek Sting.

Lucy memandangnya datar. "Aku lapar"

Semuanya bersweatdrop. Mereka tidak menyangka kalau Lucy begitu jujur. Sting pun terkikik.

"Ayo kita cari makanan." Sting menarik tangan Lucy, Lucy pun melongo. Levy, Erza, dan Jellal hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sting! Lucy! Janjian bertemu ditempat ini ya. 1 jam dari sekarang. Oke!" Teriak Erza. Sting mengangguk dan kembali menyeret Lucy. Lucy hanya diam saja.

XXX

"Aaaarrrggghh ini membosankan, masa aku disuruh nyatet kayak ginian sih" keluh Natsu.

"Sudah diam, kan disini aku yang ketua" jawab Gray.

"Ini sudah waktunya istirahat, Ice-head!"

"Selesaikan tugasmu dulu, baru aku kasih istirahat" sahut Gray.

Gajeel hanya terkikik. "Kau juga, kau harus memfoto ini dan itu, untuk dokumentasi tau. Dasar Metal-head" ucap Gray sambil menunjuk keobjek yang harus diabadikan oleh Gajeel.

"Lagi pula kenapa kelompok kita hanya berempat, sedangkan yang lain berlima" keluh Natsu lagi sambil terus menulis.

"Kau tahu kan jumlah siswa dikelas kita yang tidak pas. Jadi yasudahlah terima saja!" Sahut Gray.

"Ini sudah selesai! Aku mau mencari makan dulu. Jaa!" Natsu langsung kabur setelah melemparkan beberapa lembar kertas yang berisi tulisannya yang tidak begitu bagus pada Gray. Gray pun membacanya.

"Astaga, benar-benar jelek tulisannya!" Ejek Gray.

XXX

Lucy dan Sting sedang berada direstoran siap saji. Mereka berdua duduk didekat jendela dan duduk bersebelahan. Sting melirik Lucy. Lucy hanya memesan satu buah hamburger dan orange juice.

'Apa itu mengenyangkan perutnya?' Pikir Sting.

"Kau tidak makan nasi?" Tanya Sting. Lucy menggeleng sambil menggigit hamburger yang dipegangnya.

"Kenapa memangnya?" Tanya Sting lagi.

"Duh, tidak usah banyak nanya. Makan saja, oke" jawab Lucy.

Sting pun mulai memakan makanannya, sampai dia terkejut melihat Natsu yang masuk kedalam restoran yang sama dengannya.

"Natsu-san?"

Lucy menoleh saat mendengar nama Natsu disebut. Saat menoleh, Lucy pun menemukan sosok Natsu yang sedang mengantri untuk memesan makanan. Natsu yang merasa diperhatikan pun menoleh dan bertemu pandang dengan Lucy. Lucy dengan cepat memalingkan wajahnya.

"Cepat makannya" perintah Lucy pada Sting.

"Loh memang kenapa?"

"Jangan nanya kenapa, cepat!" Ujar Lucy.

"Hoy" sapa Natsu tiba-tiba. Ia sedang berdiri dibelakang Lucy dan menepuk pelan bahu Lucy dan Sting. Membuat keduanya menoleh.

"Hey, Natsu-san" sahut Sting

"Hey" sahut Lucy.

Natsu duduk disebelah Lucy dan memperhatikannya.

"Kau makan ini doang?" Tanya Natsu. Lucy mengangguk. "Kau tidak memesan makanan? Antriannya makin panjang tuh" ucap Lucy sambil menunjuk kearah antrian.

"Jangan kemana-kemana, tunggu aku disini! Ngerti?" Ujar Natsu sambil berlari kearah antrian. Lucy menghela nafas.

"Seenaknya saja" gerutu Lucy. Sting hanya memandang Lucy dan Natsu bergantian.

XXX

Setelah makan siang, Natsu, Lucy dan Sting berjalan-jalan santai dalam diam.

"Luce.."

Lucy menoleh, "Kenapa?"

"Hmm aku ingin satu busss denganmu..aaarrrggghh!" Rengek Natsu membuat Sting dan Lucy yang mendengarnya sweatdrop.

"Yasudah" jawab Lucy dengan datar.

"Hah? Kok yasudah?" Tanya Sting.

"Dia ingin satu bus dengan kita, kenapa ia tidak masuk saja kedalam bus kita. Apa susahnya" ujar Lucy sambil mengangkat bahunya sambil terus berjalan. Natsu sudah melompat-lompat kegirangan.

"Tapi kan dia kelas lain, Lucy. Yang benar saja.." Tukas Sting.

"Loh, biarkan saja. Nanti juga dia yang kena omel. Kau peduli memangnya?" Ucap Lucy sambil menunjuk Natsu.

"Lucy kejaaaammmmm" rengek Natsu.

Sting pun terkikik. Lucy memandang kedua pemuda itu dan tersenyum tipis. Ia pun melanjutkan langkahnya.

XXX

"Oke kita sudah sampai dipenginapan" ucap Laxus-sensei.

Lucy dan kawan-kawan turun dari bus dengan membawa barang-barangnya.

"Errr..Erza, kau bawa apa sih? Kenapa bawaanmu banyak gitu?" Tanya Levy.

"Hanya persiapan" jawab Erza dengan nada yang tegas.

"Hmm aku pikir gara-gara ada Jellal jadinya kau membawa pakaian yang banyak.." Timpal Lucy dengan nada datarnya. Sontak membuat Erza blushing.

"Ap—ap—apa yang kau katakan Lucy!" Ujar Erza dengan gugup. Levy terkikik. Dipipi Jellal pun terlihat semburat merah. Ah manis sekali.

"Ayo kita masuk keruangan kita masing-masing, aku sudah mendapatkan kuncinya" ucap Sting sambil memberikan satu per satu kunci yang didapatnya. Jellal dan Sting satu kamar. Levy, Lucy, dan Erza dalam satu kamar. Mereka berjalan beriringan.

"Lucy, kau tidak ingin pindah kekamarku?" Goda Sting. Lucy menatap Sting dengan death-glarenya. Selamat, Sting!

"Aku hanya bercanda ha-ha" sahut Sting dengan gugup.

"Baiklah, sampai bertemu nanti saat makan malam" ucap Erza. Semuanya menangguk dan masuk kedalam kamar.

XXX

Lucy meletakkan tasnya didekat tempat tidurnya. Ia duduk dipinggirnya dan meraih ponselnya.

To : Ibu

Bu, aku sudah sampai dipenginapan? Kau sedang apa? Kau tidak apa-apa kan?

Send!

Lucy meletakkan ponselnya dimeja terdekat dan memandang teman-temannya.

"Saat makan malam, kau harus memakai pakaian yang manis, Er" saran Levy membuat Erza lagi-lagi blushing.

"Itu benar" timpal Lucy.

"Kau juga, Lu-chan" ujar Levy.

"Eh? Kenapa aku juga?" Tanya Lucy dengan datar.

"Karena kau punya dua fans yang tergila-gila padamu.." Jawab Erza.

"Fans? Ah, maksudmu Natsu dan Sting? Mereka hanya pengganggu" ucap Lucy sambil meraih beberapa pakaian untuk berganti.

"Hmm? Benarkah mereka hanya pengganggu?" Desak Levy dengan nada meledek.

"Lalu apa kalau bukan pengganggu? Mereka suka mengikutiku kemana pun aku pergi, belum lagi suka berkelakuan aneh, dan suka mengurusi urusan orang" jawab Lucy tanpa menoleh kearah Levy ataupun Erza.

Levy dan Erza berjalan menghampiri Lucy dan duduk ditempat tidur Lucy.

"Memangnya kau tidak ada rasa pada mereka berdua?" Tanya Erza. Pertanyaan itu sontak membuat Lucy menoleh.

"Rasa? Ah, mungkin rasa sebal?" Jawab Lucy dan itu bukan sebuah pernyataan melainkan pertanyaan.

"Bukan, Lu-chan. Maksud kami seperti kau merasakan jantungmu berdebar lebih cepat dari biasanya kalau didekat mereka, wajahmu memanas dan yang lain-lain.." Terang Levy. Lucy diam dan berpikir sejenak.

"Ah pernah, tetapi apa itu maksudnya? Aku menyukai mereka?" Tanya Lucy.

Levy dan Erza saling memandang dan mulai antusias.

"Siapa?! Siapa yang membuatmu merasakan itu, Lu-chan?! Katakan..ayo cepat!" Desak Levy.

"Hmm keduanya. Kan tadi sudah aku bilang, mereka suka melakukan hal-hal aneh" jawab Lucy dan duduk berhadapan dengan kedua temannya.

"Sudahlah tidak usah dibahas" tukas Lucy.

"Tidak..tidak! Ini harus dibahas! Kau berbahaya sekali, Lucy. Kau menyukai dua orang sekaligus? Itu tidak bisa" ujar Erza.

"Kenapa tidak bisa? Hmm aku pernah menyukai salah satunya. Tapi aku ditolak mentah-mentah" ungkap Lucy.

Erza dan Levy pun tercengang. Lucy pernah menyukai salah satu dari mereka? Tidak salah lagi, pasti Natsu.

"Natsu ya? Berani-beraninya dia menolakmu!" Geram Erza, tetapi akhirnya Levy menenangkannya.

"Hmm dia tidak tahu perasaanku padanya, dulu. Aku hanya mendengarnya saat ia bercerita pada teman-temannya saat SMP kalau ia tidak akan menyukaiku" tepis Lucy.

"Ah ya, kau kan sudah bersahabat lama dengan Natsu..lalu apa kau menyukainya lagi?" Tanya Erza. Lucy menggeleng.

"Aku tidak sempat untuk memikirkan hal itu. Aku berusaha untuk tidak melibatkan satu orang pun dalam kehidupanku yang rumit" jawab Lucy sambil memandang keluar jendela.

"Aku..tidak bisa membiarkan mereka yang ceria, yang sudah baik padaku, hanya terjebak pada kehidupanku yang begini.." Tambah Lucy.

Levy dan Erza menatapnya dengan pandangan khawatir. Tetapi tiba-tiba Lucy tersenyum tipis.

"Tetapi mereka berdua..benar-benar keras kepala. Aku sudah menyuruh mereka untuk tidak dekat-dekat denganku, dan sekarang mereka membuat pernyataan kalau mereka akan mencoba merubahku..mereka terus mendekatiku..memberi semangat entah itu dengan kelakuan aneh mereka yang menyebalkan" Lucy diam sejenak dan menoleh kearah Erza dan Levy.

"Aku ingin melihat usaha mereka..usaha mereka untuk menepati janji yang mereka buat" Lanjut Lucy.

Erza dan Levy tersenyum.

"Aku tidak ingin berpikir akan jatuh cinta ataupun menyukai salah satu dari mereka. Aku tidak mau memikirkan hal itu. Aku hanya ingin menjalani hidupku.." Jawab Lucy.

Levy mendekati Lucy dan menggenggam kedua tangannya. "Perasaan cinta dan suka ataupun sayang itu tidak dapat dipikirkan. Itu hanya bisa dirasakan, Lu-chan. Jika perasaanmu sudah merasakan cinta, semua yang ada dipikiranmu semuanya tersingkirkan. Perasaan itu tidak bisa ditahan dengan hanya sebuah pemikiran.." Terang Levy.

Lucy tertunduk. Erza pun mendekatinya dan membelai kepala Lucy.

"Kau punya kami berdua, dan hmm—mungkin Juvia bisa membantumu juga. Kalau kau butuh saran kami, atau mau menceritakan apapun, kami siap mendengarkan.." Ucap Erza.

Lucy mengangguk. "Arigatou"

XXX

Waktu makan malam pun tiba. Lucy dan kawan-kawan telah berkumpul di satu meja makan.

Lucy memakan dress berwarna vanili dan cardigan hitam panjang. Rambutnya yang panjang ia kepang satu dan dibiarkan diletakkan disebelah bahunya . Sting tidak dapat melepaskan pandangannya sedetik pun pada Lucy. Menurutnya Lucy begitu manis. Lucy yang menyadari dia diperhatikan oleh Sting pun menoleh dan akhirnya bertemu pandang.

"Ada apa?" Tanya Lucy. Terlihat semburat merah di kedua pipi Sting.

"Ti—tidak ada apa-apa" jawab Sting, gugup. Levy dan Erza hanya terkikik. Mereka tahu kalau Sting terpesona melihat Lucy yang berpakaian seperti itu.

Pintu ruang makan pun terbuka dan menampakkan Natsu dan kawan-kawan masuk kedalam. Natsu melihat kesekitar dan pandangannya terkunci saat melihat Lucy sedang berbicara dengan teman-temannya.

"Kalian cari tempat duluan ya. Aku ingin kesana" Natsu menunjuk kearah tempat duduk dimana Lucy berada.

"Ah aku ikut!" Ujar Gajeel. Ia melihat Levy dari kejauhan.

"Masak gua sendirian! Yang bener aja, entar aja lah kesananya" ucap Gray.

"Tidak bisa, ini penting" ujar Natsu.

"Tidak! Makan dulu, ayo!" Protes Gray.

Natsu memasang bukan masam. Dan hanya bisa memandang Lucy dari kejauhan.

XXX

Setelah makan malam, semua siswa pun beristirahat dikamarnya. Lucy yang sedang berbaring ditempat tidurnya sedang menatap ponselnya dengan gelisah. Kenapa ibunya tidak membalas pesannya? Lucy bangkit duduk dan memutuskan untuk menelpon ibunya.

Tuuut..tuuuuut..

"Hallo"

"Ibu? Ibu baik-baik saja kan?"

"Hah, Lucy..gomen aku tidak membalas pesanmu. Ternyata pulsa Ibu habis"

"Oh begitu..Ibu belum tidur?"

"Belum kok, Ibu habis diperiksa oleh Dokter"

"Oh begitu. Baiklah, istirahatlah. Aku juga akan tidur"

"Hati-hati disana. Oyasumi"

"Oyasumi"

Lucy pun menutup teleponnya dan meletakkan ponselnya dimeja. Lucy merasa matanya belum ingin terpejam. Ia memutuskan untuk memakai cardigannya dan keluar dari kamar untuk membeli minuman. Mendengar pintu terbuka, Erza pun membuka matanya.

"Mau kemana kau Lucy?" tanya Erza

"Aku ingin membeli minuman" jawab Lucy

"Baiklah, Aku tidur duluan ya. Oyasumi" ucap Erza

"Oyasumi" sahut Lucy. Lucy pun menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju mesin minuman yang disediakan oleh penginapan tersebut.

XXX

Lucy memasukkan uang kedalam mesin minuman dan memilih minuman hangat. Ia merasa malam ini sangat dingin. Saat ia berbalik, ia melihat Natsu yang sedang menuruni tangga.

"Natsu?"

Natsu menoleh dan mendapati Lucy sedang menatapnya.

"Hey. Kau belum tidur?" Tanya Natsu sambil berjalan menghampiri Lucy.

Lucy menggeleng. "Kau mau?" Lucy menyodorkan minumannya. Natsu memandangi minuman itu dan tertawa. Saat Natsu ingin meraih minuman itu, Lucy menarik minumannya dan meminumnya serta berjalan meninggalkan Natsu.

"Beli sendiri" ujar Lucy. Natsu memutar bola matanya dan mengejar Lucy.

"Kau mau kemana?" Tanya Natsu

"Berjalan-jalan keluar" jawab Lucy

"Aku ikut" ujar Natsu.

"Terserah saja." Sahut Lucy

Lama berjalan, mereka pun sampai disebuah taman dekat penginapan. Suasananya begitu asri. Walaupun dimalam hari, taman ini begitu indah dilihat.

"Indah ya?" Tanya Natsu. Lucy mengangguk.

Natsu meraih tangan Lucy yang bebas dan menarik masuk kedalam pelukannya. Lucy pun tersentak kaget dan akhirnya memberontak.

"Kau tidak kedinginan?" tanya Natsu. Lucy menggeleng.

"Bohong" tukas Natsu. Natsu melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Lucy. Natsu membuka syal yang ia pakai dan melilitkannya pada leher Lucy. "Pakai ini"

Lucy menyentuh syal milik Natsu, 'Hangat..' batinnya.

"Arigatou" ucap Lucy terlihat semburat merah tipis dipipi Lucy. Menambah kesan manis. Natsu memperhatikan Lucy, menurut Natsu Lucy benar-benar manis saat ini dan secara tidak sadar, Natsu sudah menarik Lucy kedalam pelukannya. Lucy agak tersentak. "Natsu?"

"Sebentar saja, Oke" ucap Natsu. Lucy hanya diam dan menjawab.

Lucy bisa mendengar detak jantung Natsu yang cepat? Kenapa jantungnya berdetak dengan cepat? Dia sakit ya?

Lucy bisa menghirup harum wangi tubuh Natsu. Lucy tersenyum tipis.

'Dia tidak berubah..' batin Lucy.

"Kau mengendusku, Lucy" ujar Natsu. Natsu melepaskan pelukannya. Lucy memalingkan wajahnya yang malu.

"Kenapa sih dari dulu kau suka mengendusku seperti itu? Aku wangi?" Tanya Natsu dengan nada meledek.

"Ah urusai. Siapa yang mengendusmu, dasar" elak Lucy. Natsu hanya tertawa.

Natsu melirik jam tangan yang dipakai Lucy dan tersenyum. "Kau memakainya?" Tanya Natsu. Lucy menoleh dan mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti dengan pertanyaan Natsu.

"Memakai apa?" tanya Lucy. Natsu menunjuk kearah jam tangan Lucy. Lucy melihat dan mengangguk.

Natsu membuka lengan jaketnya dan memperlihatkan jam tangan yang dipakainya. "Lihat" ucap Natsu.

Lucy tercengang, ia terdiam.

"Aku juga memakainya loh" ujar Natsu.

Lucy mengangguk, "Baguslah.."

"Gitu aja reaksimu?" Tanya Natsu.

"Harusnya?" Lucy bertanya balik.

"Hmm yasudahlah" ujar Natsu.

Mereka pun terdiam, Lucy menyesap minumannya begitu juga dengan Natsu. Mereka berdiri bersampingan. Detik kemudian, Natsu menoleh dan memandang serius Lucy.

"Luce" panggil Natsu

"Ada apa?" jawab Lucy tanpa menoleh.

"Apa kau menyukai Sting?" tanya Natsu dengan to the point.

Lucy membulatkan matanya dan menoleh kearah Natsu. "Apa?! Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Hanya ingin tahu" jawab Natsu dengan santai. Ia berusaha menutupi rasa ingin tahunya tentang perasaan Lucy yang sebenarnya.

"Yasudah, aku tidak akan memberi tahumu" jawab Lucy

"Eeeeehhhh? Ayolah Luce~~" rengek Natsu.

Lucy memutar kedua bola matanya. "Sudah malam, aku akan kembali kekamar. Bagaimana denganmu?"

"Haaah, Yasudahlah. Aku masih mau disini" jawab Natsu.

"Baiklah. Oyasumi" pamit Lucy sambil melepaskan syal Natsu yang dipakainya dan dikembalikan kepada pemiliknya.

"Oyasumi.." sahut Natsu. Lucy pun berjalan meninggalkannya.

Beberapa langkah Lucy berjalan, langkahnya tertahan karena Natsu tiba-tiba memeluknya dari belakang. Lucy tersentak dan menoleh. Ia pun mendapati wajah Natsu dibahunya.

"Nat-su..."

"Aku mencintaimu, Luce.." bisik Natsu

Lucy membulatkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

.

.

.

.

.

.

.

.

To be continued


HALLO SEMUAAA! AUTHOR UPDATE AUTHOR UPDATEEEEE~~~~

Bagaimana..bagaimana chapter ini? biasa aja? emang XC

Hayoooo, Natsu udah menyatakan perasaannya loh ama Lucy, gimana ya reaksinya Lucy?! Penasaran? Ya harus review dulu biar author semangat lanjutinnya! hehe XD

Oke deh, langsung aja bales review chapter sebelumnya~

LRCN : AMIIINN, doain Lucy ya XD

ft-fairytail : Masa sih sedih? Yes! akhirnya tujuan author tercapai untuk menyentuh perasaan para readers walaupun dengan kalimat seadanya wkwk XD Iya dong, pasti Lucy bahagia ;D

desty nalu4ever : Hehe arigatou na~ Baiklah ini udah update, bagaimana..bagaimanaaa?

Pororo-chan : Author pengennya juga sama Natsu, tapi entah kenapa kepengen juga Lucy jadian ama Sting :3 #digaplokinamanalushipper# aduh ati-ati kalo dipojokan sendirian, nanti ada yang ikut nangis bareng lagi XD

K. C. Dragfilia : Hehe ini udah lanjut loh! bagaimana? XD

dsakura2 : Hehe Arigatou! Ini udah update XD

Nah udah selesai semua balesin reviewnya.. sekarang waktunya promosi fanfic baru~~~ Author buat fanfic yang judulnya Tsubasa no Nai Tenshi loh, Pairnya itu LucyxNatsuxGray! Dibaca ya dan jangan lupa di review XD

Udah ah segitu aja, Author pamit undur diri ya~~

Jaa nee

Yusa-kun