Nyaaaa… Selesai…
Frau berusaha untuk update lebih cepat sebagai permintaan maaf gegara kemarin-kemarin terus kemarinnya lagi telat banget untuk update. Frau tahu pasti banyak yang kesal ama Frau ya… Bukannya Frau sengaja lho… Gomen ya…
Nah kali ini dan untuk chepi depan kayaknya bakal banyak adegan action yang bakal Frau buat di fict ini, Frau mulai belajar sedikit demi sedikit buat adegan action, jadi gomen kalo jelek or agak aneh…
Kali ini juga ada OC, hewan namanya Yuki…
Dari pada banyak kata silahkan minna-san…
.
.
.
My Beloved Boy
Author : Frau – chan si pecinta kucing
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rating : M
Pairing : SasuNaru, ItaKyuu, ShukakuNagato, NejiGaa, dll.
Warning : Shonen Ai, Yaoi, Lemon, Lime, Abal, AU, OOC, OC, Typo, dll
.
.
.
Love 10 : Truth or Falsehood
Sudah dua hari si blonde tersekap di kastil milik Rikudo, dia tidak peduli Rikudo yang dimaksud Deidara adalah Rikudo yang pernah dia temui di Jepang atau bukan, intinya dia ingin keluar dari tempat ini dan segera bertemu Sasuke. Sejak dua hari yang lalu juga dia sudah mengamati tempat dimana dia di sekap, ruangan yang di tempatinya di lengkapi kamera pengawas yang mengintai setiap gerak-geriknya selama 24 jam.
Tak tanggung-tanggung, ada 10 kamera di dalam ruangan ini yang di sebar di beberapa titik, satu di atas pintu masuk, dua di sisi jendela, satu diatas tempat tidur, dua di rak buku, dua di perapian, satu di dekat kursi, dan satu di langit-langit kamar, semua kamera dapat berputar 180 derajat sehingga dapat memaksimalkan pengamatan terhadap si blonde.
"Cih! Bagaimana aku bisa keluar dari sini…" Gumam si blonde, pura-pura membaca, mencoba mencari akal agar bisa keluar dari sini.
.
.
.
Di ruangan lain, terlihat Rikudo memperhatikan setiap gerak-gerik cucunya di 10 LCD TV berukuran besar, sesekali dia akan tersenyum kecil melihat tingkah Naruto. Di belakangnya terlihat seorang pemuda berambut merah yang setia menemani sang tuan, wajahnya tetap datar, tak tertarik dengan apa yang dilihat sang tuan.
"Rikudo-sama, sampai kapan hanya akan melihat saja? Sebaiknya rencana itu segera dilaksanakan. Keluarga Uzumaki juga sudah bergerak," ucap Sasori datar.
Rikudo hanya menanggapi ucapan sang tangan kanan dengan gumaman pelan yang tidak jelas, mata lelaki tua itu tidak bosan-bosannya menatap Naruto.
"Rikudo-sama, saya harap anda–" Ucapan Sasori terputus, sebuah moncong besi berwarna perak tepat mengarah di dagunya, sang tuanlah pelakunya.
Tanpa melepaskan pandangan matanya di layar, Rikudo mengarahkan hand gun itu ke atas, tepat didagu Sasori. "Jangan pernah memerintahku, Sasori. Siapa tuanmu, hm? Kau hanya perlu melihat dan menunggu."
Sasori menghela napas panjang, "Saya mengerti Rikudo-sama, maafkan saya…"
Rikudo menyeringai lebar, menurunkan hand gun itu perlahan, lalu menyimpannya kembali di balik jas putihnya, "Bagus…"
.
.
.
Pulau Prince Edward, tempat para Uzumaki, Uchiha, dan Sabaku menunggu waktu yang tepat menyelamatkan Naruto. Tempat itu di pilih karena jauh dari pusat kota Canada, sebuah losmen sederhana yang terbuat dari kayu menjadi tempat mereka menyusun rencana.
Seorang pemuda berambut merah tampak asik di dalam kamarnya sejak pagi, mengutak-atik laptop miliknya, sesekali mengerutkan kedua alisnya, "Hell! Aku tidak bisa menembus sistemnya!" Kesalnya menggebrak meja.
Itachi yang sejak tadi membaca dan mengamati peta negara berlambang daun maple itu datang mendekat dan duduk di sebelah Kyuubi. "Sistem di sini memang lumayan kuat Kyuu. Kenapa tidak kau serahkan pada yang lebih ahli?"
"Orang yang ahli itu sedang dalam perjalanan ke sini!" Jawabnya masih terus berusaha.
Itachi menghela napas melihat ke-keras kepala-an Kyuubi, "Sasuke tidak mau keluar kamar, Karin juga di saat genting seperti ini malah belanja, Sabaku brengsek itu juga entah kemana, dan kau sibuk… Tak bisakah kau luangkan waktumu sedikit untukku?" Tanya Itachi berharap.
Kyuubi hanya menatap Itachi dari ujung matanya dan kembali fokus di depan laptop, "Mati sana!"
Satu ucapan yang dapat membuat sulung Uchiha itu berdiri di pojok kamar dengan aura-aura yang gloomy, pundung. Melihat Itachi yang ngambek di pojok kamar, membuat mata Kyuubi tidak enak, "Dari pada kau seperti itu, bagaimana kalau kau membantuku dengan otak jenius Uchiha-mu," ucap si rambut merah sinis.
Itachi berbalik memandang pemuda tampan itu dengan mata berbinar-binar, menembakkan flash light yang seketika di hindari Kyuubi. "Akan kulakukan kalau kau mau memohon padaku~" Itachi bangkit dari tempatnya dan berjalan mendekati Kyuubi dengan seringai lebar. "Beg for me~"
Kesal, Kyuubi memukul perut Itachi kuat, "Uzumaki Kyuubi tidak pernah memohon, keriput mesum!" Jawabnya sambil mengangkat tangan kirinya, memberikan Itachi 'jari tengah'. "Fuck!"
Itachi menyeringai lebar dan menangkap tangan Kyuubi yang masih bersarang di perutnya. Pukulan dari sang uke sama sekali tak sakit baginya, malah sekarang tangan itu dia bawa ke bibir lalu mengecupnya. "Tak kusangka, kau ingin aku melakukan 'itu', Kyuu-chan nakal~"
Seketika wajah Kyuubi merah merona, ucapan yang dimaksudkan untuk memaki Itachi malah berbalik membuatnya malu bukan main, "Baka hentai!" Seketika wajah tampan Itachi sukses merusak laptop milik Kyuubi, akibat si rambut merah menghantamkan kepala Itachi ke laptop.
Poor Itachi… Poor laptop…
.
.
.
Jauh dari kamar pasangan seme masochist dan uke tsundere, deringan ponsel milik si raven membuyarkan lamunannya yang tenang. Sasuke menatap ponsel biru metaliknya dan melihat nama yang tertera di sana, alisnya mengernyit melihat nama 'orang itu' yang tertera.
"Ada apa?" Tanyanya tanpa basa-basi, mengangkat telepon itu.
'Dimana sepupu tersayangku! Ponselnya tidak aktif! Tega sekali dia membiarkanku didepan losmen murahan ini, di tengah hujan salju pula!' Amuk suara di ujung telepon itu, membuat si raven menjauhkan ponselnya dari telinga, demi kesehatan pendengarannya.
"Berisik. Aku tidak tahu,"seketika Sasuke memutuskan sambungan telepon itu.
Di depan losmen tampak pemuda berambut merah yang memakai jaket yang warnanya senada dengan rambutnya, menendang koper miliknya, "Shit! Uchiha sialan! Bisa-bisanya dia matikan telepon dariku!" Maki si pemuda marah-marah tak jelas di depan losmen, beberapa kali warga sekitar melihatnya dengan aneh.
"Nagato? Kenapa kau ada di sini?" Tanya seseorang yang suaranya sangat familiar di telinga si pemuda, perlahan Nagato menengokkan kepalanya kebelakang dan betapa terkejutnya dia saat tahu siapa orangnya.
Tampak seorang pemuda rupawan, berambut panjang bergelombang, warna rambutnya sama dengannya, Sabaku Shukaku, dari semua orang yang dia harapkan muncul hanya pemuda satu ini yang paling tidak ingin di temuinya. "Kupikir kau tidak ikut, bukannya kau yang mengurus agensi di Jepang?" Tanyanya menghampiri pemuda yang lebih pendek darinya itu.
"Aku tidak sudi berdiam diri di sana selagi kalian sok keren menyelamatkan Naru-chan! Lagi pula aku punya kemampuan yang akan kalian butuhkan," ucapnya bangga.
Shukaku hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan sepupu jauhnya itu dan mengusap rambut Nagato lembut, "Aku tahu," jawabnya. Wajah Nagato memerah mendapati dirinya di perlakukan begitu lembut dari orang yang ingin dia hindari, bisa-bisa perasaan yang sudah lama terkubur akan terkuak.
"Jangan menyentuhku! Cepat panggilkan Kyuubi," perintahnya sambil memalingkan wajahnya, menyembunyikan rona merah yang menjalar. Entah kenapa kalau bicara dengan pemuda satu itu Nagato jadi meledak-ledak, padahal dia termasuk anggota keluarga Uzumaki yang paling tenang dan santai.
Shukaku menghela napas dan mengambil koper Nagato, menyeretnya masuk ke dalam losmen, "Hei, mau kau bawa ke mana? Di dalamnya ada barang yang penting!" Protesnya sambil mengejar Shukaku.
Pemuda tampan itu menghentikan langkahnya sebentar lalu menatap Nagato, "Kamarku double bed, kita sekamar," jawab Shukaku seenaknya lalu kembali melangkah pergi, menuju kamar mereka. Yup, kamar mereka.
Nagato terdiam, terlihat kalau sekarang ini wajahnya sudah merah padam. "APA!" Teriaknya nyaring, terlambat menyadari ucapan Shukaku.
.
.
.
"Mangetsu, bisa minta tolong ambilkan jepit rambut? Aku mau cuci muka, poniku panjang nanti piyamaku bisa ikut basah," pinta si blonde sambil memegangi ujung poninya yang mulai memanjang.
Pemuda berumur 15 tahun itu mengangguk, mengerti. Segera dia beranjak pergi, keluar dari kamar sang tuan muda sebentar, lalu kembali dengan menyerahkan dua jepit rambut berwarna hitam polos yang terbuat dari kawat.
Setelah mencuci muka, dimasukkannya jepit rambut itu dalam kantung baju piyamanya. Mematikan lampu dan tidur, lebih tepatnya pura-pura tidur. Setelah dia tidur Mangetsu dan Suigetsu pasti hanya akan berjaga di luar pintu kamarnya, kamar yang gelap ini hanya mendapat penerangan dari perapian, sedangkan kamera yang ada di seluruh penjuru kamar aktif selama 24 jam non stop dan di lengkapi infra red.
Tapi, semua sudah di rencanakan si blonde. Tepat pukul 00.00 jam berdentang nyaring dan si blonde bangun, menuju kamar kecil, hanya di tempat inilah kamera sama sekali tidak di pasang. Menuju sebuah jendela kecil yang hanya muat satu tubuh, tepat di atas kloset, Naruto naik di atas kloset yang sudah di tutupnya terlebih dahulu dan sedikit berjinjit, menjangkau lubang kunci jendela itu. Memasukkan jepit rambut dalam lubang kunci dan beberapa kali mengutak-atiknya, setelahnya terdengar bunyi 'klik' pelan, si blonde menyeringai lebar.
Di ambilnya sepatu dan jaket yang sebelumnya dia sembuyikan dalam lemari kecil dekat kloset, memakainya dengan cepat, Naruto segera memanjat jendela itu dan keluar dengan perlahan, setelah itu di jatuhkan tubuhnya di sisi tembok, membuatnya terjatuh di tumpukan salju. Naruto membersihkan serbuk salju yang menempel ditubuhnya, matanya menatap berkeliling dengan waspada, untung malam ini hujan salju jadi pengawasan sedikit longgar di kastil ini. Tempat di mana dia melarikan diri tepat di belakang kastil yang lumayan gelap, hanya ada beberapa lampu berpendar lemah yang menempel di tembok.
Udara dingin segera menusuk tulangnya, tapi sekarang bukan waktunya untuk mengeluh atau bermanja-manja, dia harus segera pergi dari tempat ini, dalam pikiran si blonde hanya ada kata lari dan lari. Sesegera mungkin berlari menjauhi tempat ini sebelum pagi menjelang. Setelah berlari kurang lebih 15 menit dia melihat tembok besar setinggi 7 meter yang sengaja di buat mengelilingi kastil.
Si blonde mengambil beberapa langkah ke belakang, lalu berlari sekencangnya dan melompat. Yap, melompat melewati tembok setinggi 7 meter dengan sempurna, kedua kakinya menjejak salju di luar tembok dengan kedua tangan terentang, menjaga keseimbangan. Senyum puas terukir di wajahnya, "Hebat… Aku masih bisa melakukan ini. Kalau Sasuke melihatku melakukan ini, pasti dia akan kaget sekali…" Cengirnya. "Yosh! Waktunya pergi lagi!" Ucapnya bersemangat dengan tangan terkepal ke atas. Naruto kembali berlari diantara tumpukan salju dan rimbunnya pohon pinus. Tak di sadarinya berpasang-pasang mata melihat gerak-geriknya sedari tadi, mata berwarna merah dalam gelapnya malam.
.
.
.
Entah sudah berapa jam si blonde berlari, tak di pedulikan langkah kakinya yang semakin susah melewati tumpukan salju setinggi lututnya, yang dia lakukan tetap berlari dan berlari, di udara yang dingin keringat membasahi tubuhnya. Berhenti sebentar di sebuah batang pohon besar, Naruto terengah-engah mengambil nafas sebanyak-banyaknya dan menyeka keringat dengan punggung tangannya. Si blonde melihat langit di kejauhan mulai berwarna, fajar mulai tiba, sebentar lagi akan pagi.
Naruto putuskan untuk istirahat sedikit lebih lama, tapi hal itu sebaiknya dia urungkan. Tiba-tiba tubuhnya menegang, menatap berkeliling dengan waspada. Tak jauh dari hadapannya, tepatnya di belakang sebuah batu besar muncul seekor serigala besar berwarna kecoklatan, matanya berwarna merah dalam gelap, menatapnya tajam. Serigala itu melolong nyaring menggema di dalam hutan, Naruto terpaku setelah melihat 20 ekor lebih serigala muncul, mengepungnya, sepertinya lolongan itu tanda makan bagi mereka. Para serigala membuat lingkaran besar membuat si blonde benar-benar terpojok.
"Ini bohong kan…" Gumam Naruto dengan keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya. Melindungi diri dari seekor serigala liar saja sudah cukup susah, sedangkan kali ini dia di hadapkan satu gerombolan besar serigala, lebih baik dia bertarung dengan gerombolan mafia saja. "Aku bisa mati nih…" Ucapnya pada dirinya sendiri, bersiap-siap dengan posisi kuda-kuda, entah akan ada kesempatan atau tidak dia akan bersiap melawan, apapun resikonya dia harus tetap hidup.
Serigala yang paling besar tampak maju sedangkan sisanya mengambil satu langkah ke belakang, tampaknya serigala itu pemimpin mereka. 'Weww… Serius ini, aku di tantang bos serigala?' Ucapnya dalam hati, ngawur. 'Nggak mungkin menang! Siapapun tolong aku!' Jeritnya dalam hati. Serigala itu segera berlari dan mencoba menerjang si blonde, reflek pemuda manis itu menendang perut si serigala sekuat tenaga, membuat hewan liar itu terpelanting kebelakang, jatuh di tanah bersalju.
Serigala yang lain tampak menggeram marah padanya, Naruto hanya bisa tersenyum kecut. "Maaf! Itu refleks!" Si blonde berlari dengan kejaran kawanan serigala yang menatapnya marah dan… Lapar.
Seekor serigala tampak berhasil mengejar si blonde, Naruto tampak ketakutan melihat serigala itu semakin mendekatinya. Serigala itu mencoba menerjangnya lagi, sama dengan apa yang dilakukan ketua kawanan serigala. Hampir saja gigi tajam itu bersarang di lengannya, tapi walau berhasil menghindar tetap saja luka cakaran serigala menggores lengan kanannya, menghasilkan luka gores memanjang, darah mulai mengucur dari lukanya membuat suasana semakin pansa dalam gerombolan itu. Si blonde segera menggenggam lengannya agar darah tak semakin merembes ke luar, tapi percuma saja.
Meringis nyeri akibat luka itu, Naruto melihat serigala yang menyerangnya menjilati moncongnya, tertarik dengan bau darah si blonde, membuatnya bergidik. Serigala itu tampak mundur, mempersilahkan ketua kawanan yang sebelumnya di tendang oleh Naruto untuk maju ke depan. Bos serigala memperlihatkan giginya yang tajam, melolong nyaring–yang diikuti kawanannya, dan menggeram.
Naruto diam dengan pasrah, dia sudah lelah, tenaganya habis. Di pejamkan matanya rapat-rapat, tak berani membukanya saat serigala itu menerjang lagi, 'Mati aku! Sasuke!' Jeritnya dalam hati. Terpejam beberapa menit, si blonde mulai mendapati kejanggalan, dia tidak merasakan sakit dan yang di dengarnya malah suara-suara serigala yang kesakitan dan bau darah. Sedikit demi-sedikit di bukanya kedua matanya, betapa terkejutnya dia melihat tubuh serigala itu mengambang di udara dengan sebuah pedang menembus jantung hewan yang telah tak bernyawa, bergalon-galon darah mengucur dari hewan buas itu, mengotori salju. Bilah pedang itu tampak tertarik ke belakang, membuat tubuh serigala itu jatuh di atas tanah bersalju.
Naruto tampak kaget saat melihat orang yang baru saja menyelamatkan nyawanya, Rikudo, bersama beberapa orang berpakaian serba hitam, dan si kembar Mangetsu dan Suigetsu. Sepertinya mereka baru saja menghabisi satu koloni hewan liar itu. Lelaki yang cukup berumur itu memakai setelan putih-putih, tak tampak setitikpun noda darah dari serigala yang mengotori pakaiannya, dia profesional. Rikudo tersenyum lembut padanya, Rikudo yang di temuinya saat di Jepang, lelaki tua yang memiliki senyum mirip ayahnya. Tangan kanannya yang memegang pedang berlumuran darah, di buangnya di tanah bersalju.
Naruto mengamati gerakan lelaki itu tanpa berkedip, Rikudo merogoh sebuah sapu tangan dari balik jasnya dan mengikatnya ke lengan si blonde yang terluka. "Pasti sakit, setidaknya pendarahanmu akan sedikit berkurang. Setelah ini akan kuobati. Untung saja Yuki berhasil melacakmu," jelasnya sambil menunjuk seekor serigala besar berbulu putih dengan mata sebening es, menatap keduanya dengan lembut. "Tak perlu takut, dia jinak. Peliharaan terbaikku," ucapnya melihat gesture tubuh si blonde yang sedikit menegang melihat serigala lagi, trauma.
"Kenapa kau menculikku ke sini! Apa motivmu!" Tuntut Naruto, tak mengerti dengan semua yang terjadi sampai saat ini.
Setelah selesai mengikat luka si blonde dengan sapu tangan, Rikudo melepaskan jas tebalnya dan menaruhnya di pundak Naruto, menyelimutinya lalu mengangkatnya–menggendong dengan sebelah tangan. "Banyak sekali yang harus di jelaskan, kita kembali dulu. Oke?" Naruto mengangguk–mengiyakan, seolah terhipnotis dengan senyumannya.
.
.
.
Sudah susah-susah melarikan diri tapi pada akhirnya tertangkap lagi, itulah yang saat ini sedang di rasakan oleh si blonde. Saat ini dia sedang duduk di sebuah kursi empuk dengan segelas cokelat hangat di tangannya. Pakaiannya sudah diganti dengan yang lebih hangat dan lukanya sudah di balut. Terlihat–Yuki, serigala itu tampak bergelung nyaman di depan perapian, beberapa kali dia menguap, mengantuk. Mata si blonde sejak tadi tak berkedip memandang Yuki, masih jelas kalau dia trauma dengan hewan pemakan daging itu.
Tak lama Rikudo masuk, membawa semangkuk ramen yang mengepul hangat, baunya membuat perut Naruto berbunyi, Rikudo tersenyum kecil dan menyodorkannya pada si blonde. "Makanlah, kau pasti lapar. Akhirnya aku mendapat koki yang bisa masak makanan Jepang, kuharap kau suka," ucapnya tetap tak melepaskan senyum dari wajahnya.
Naruto segera menghabiskan ramen itu, sudah lama sekali rasanya makanan Jepang tidak menyentuh lidahnya. Makanan dari negeri daun maple ini sama sekali tak cocok di lidahnya. Yuki, serigala itu tampak terusik dengan bau lezat dari makanan berkuah kental itu, dia bangun dari tempatnya dan melangkah perlahan ke arah Rikudo yang saat ini sudah duduk di sebelah Naruto. Serigala itu tampak manja saat Rikudo mengelus belakang telinganya, melihat hal itu Naruto berjengit, "Dia yang berhasil melacakmu dan mengetahui kau kabur dari rumah," ucapan Rikudo sedikit membuatnya tersentak. "Sepertinya dia menyukaimu, coba elus kepalanya," Naruto agak kesal saat Rikudo memintanya untuk mengelus hewan besar itu. "Tenang saja, hewan peliharaan tidak akan menggigit majikannya."
Takut-takut Naruto mengelus kepalanya, Yuki tampak nyaman dan manja pada si blonde, beberapa kali dia menjilati tangan Naruto dengan sayang. "Artic wolf, canis lupus arctos nama ilmiahnya, kutemukan saat pesiar di pantai utara Greenland."
"Kenapa kau melakukan hal sampai sejauh ini?" Desak si blonde, tak peduli dengan penjelasan Rikudo.
Rikudo sendiri tampak menyandarkan tubuhya pada kursi dan menatap Naruto lembut. "Aku tidak menculikmu kok, aku hanya ingin bertemu dengan cucu yang selama 20 tahun tak pernah kutemui," jawab Rikudo enteng.
Naruto terbelalak mendengarnya, "Cu… Cucu? Siapa?"
"Tentu saja kau, Namikaze Naruto. Ah… Kau pakai marga ibumu ya, Uzumaki Naruto," jawab Rikudo santai.
Naruto terdiam, shock. Tidak mengerti dengan semua ini. "Namikaze? Apa maksudmu!" Kesal si blonde.
Rikudo tersenyum lebar, mengelus rambut Naruto lembut, "Namikaze Minato, anakku dan juga ayahmu."
"Ka…Kakek? Kau kakekku? Kata Mito-san, ayah adalah anak yatim-piatu. Kau bohong!" Ucapnya tak percaya.
"Yatim-piatu? Jahat sekali mereka… Apa nenekmu yang mengatakan hal itu?" Rikudo bangkit dari duduknya, berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil beberapa dokumen yang di sodorkannya pada si blonde. "Ambil dan bacalah…"
Naruto mengambil dokumen itu dan terkejut melihat isinya. Akte kelahiran ayahnya, beberapa foto lama, dan surat-surat penting yang menunjukkan keabsahan Minato adalah anak dari Rikudo. Semua bukti memang mengarah kalau dia adalah cucu dari lelaki tua itu. "Ke…kenapa bisa? Ini, kenapa aku tidak tahu tentang hal ini? Kenapa mereka berbohong?" Gumam si blonde sedih.
Rikudo memeluk cucunya dengan penuh kasih, "Entahlah… Minato bilang kalau dia pergi ke Jepang untuk jadi photographer, ternyata dia malah menikah dengan ibumu, tanpa restu dariku," jelasnya sambil melepas pelukannya dan duduk di samping si blonde. "Jujur saja, aku tidak merestui pernikahan itu. Saat itu ayahmu masih memiliki tunangan dan perkawinannya dengan ibumu terkesan tiba-tiba. Aku mendapat kabar itu pun dari salah satu kolegaku di Jepang."
Jeda sebentar, Rikudo menatap wajah Naruto yang tampak kalut. "Setelahnya aku tidak pernah menghubunginya, tapi bukan berarti dia tidak kuanggap anak lagi. Aku menunggunya untuk menjelaskan semuanya padaku. Tapi, dia sama sekali tak pernah menghubungiku, sampai suatu hari aku mendapat kartu pos dengan selembar fotomu yang baru lahir," Naruto tertegun melihat wajah Rikudo yang tampak melembut.
"Lalu?" Tanya Naruto tak sabar menunggu kelanjutannya.
"Tentu saja aku senang, akhirnya aku punya cucu tampan dengan wajah mirip Minato. Mirip sekali…" Lanjutnya dengan senyum lebar. "Waktu itu aku berencana mengunjungi ayahmu dan kau. Tapi, kabar yang tersebar di Uzumaki menjadi awal semua ini."
"Kabar? Kabar apa?"
Rikudo menatap si blonde tajam, "Kedatangan untuk berkunjung, terganti dengan kabar kedatangan untuk merebutmu. Gara-gara hal itu ayah dan ibumu melarikan diri dariku, aku ingin menjelaskan semuanya. Tapi terlambat, mereka segera melaju dengan mobil dan aku mengejarnya, ingin menjelaskan kesalah pahaman ini. Lalu, kecelakaan itu terjadi…" Rikudo tampak sedih saat menceritakannya.
Sedang Naruto sejak tadi tak berhenti mengeluarkan air mata, "Apa itu benar? Kenapa aku tidak pernah tahu tentang hal ini? Kenapa Mito-san tidak pernah menceritakannya, apa Kyuu tahu tentang hal ini?"Gumamnya. "Lalu, siapa yang telah menyebar kabar palsu saat itu?"
Rikudo tampak terdiam sebentar lalu menghapus air mata cucunya itu, "Mito, Uzumaki Mito. Dia yang menyebarkan kabar palsu itu dan Kyuubi, dia tahu semuanya dan ada di pihak nenekmu, entah kenapa."
Naruto seperti tersambar petir di siang bolong, dia tak menyangka neneknya akan sejahat itu. Dia tahu kalau neneknya sangat tegas, tapi hal ini sangat membingungkannya dan lagi kenapa kakaknya tidak pernah menceritakannya. "Jangan terlalu dipikirkan. Sebaiknya kau istirahat saja, kau pasti lelah," ucap Rikudo menggendong Naruto dan membaringkannya di ranjang, diikuti Yuki yang ikut naik ke ranjang milik Rikudo, bergelung nyaman di dekat kaki si blonde.
"Aku tidak memaksamu untuk percaya semua kata-kataku, tapi tolong pikirkan baik-baik apa yang baru saja kuceritakan, yang perlu kau ketahui adalah aku sangat menyayangimu…" Ucapnya sambil menyelimuti tubuh si blonde. "Bonne nuit, cher petit-fils…"
Saat Rikudo akan keluar dari kamar, gerakannya terhenti saat memutar kenop pintu. "Merci, grand-père…" Ucap Naruto pelan namun masih dapat di dengar Rikudo. Lelaki tua itu tersenyum lebar lalu menutup pintu kamar miliknya perlahan. Membiarkan sang cucu di buai mimpi.
.
.
.
Rikudo berjalan di koridor kastil miliknya dengan senyum puas, Sasori yang berjalan di belakangnya tetap berwajah stay cool. "Bagaimana Rikudo-sama? Apa dia percaya pada anda?" Tanya sang tangan kanan.
"Tentu saja, Sasori. Dia percaya semua ucapanku. Aku akan melakukan segala cara agar anak itu berpihak padaku. Akan kubuat para Uzumaki merasakan pahit yang selama ini kurasakan," ucapnya tajam.
"Tidak sia-sia kita melepaskan Naruto-sama tadi malam, padahal semua gerak-geriknya saat melarikan diri terekam dengan sempurna," ucap Sasori tersenyum kecil. "Anda memang hebat, Rikudo-sama."
"Tentu saja," jawabnya percaya diri. "Bukankah ini akan jadi semakin menarik? Permainannya baru saja dimulai, Sasori…" Jelasnya dengan seringai lebar.
.
.
.
Jauh di pulau Prince Edward, seorang lelaki berambut merah tampak dikerubungi oleh banyak pria tampan. "Lama sekali! Kalau kau sampai tak bisa, akan kupulangkan kau ke Jepang dengan kapal cargo!" Ancam seorang lelaki dengan surai merah lembut, Uzumaki Kyuubi.
"Tenang Kyuu, Nagato perlu konsentrasi tinggi," bela Itachi yang melihat uke-nya tak sabaran.
"Kalau sampai tak bisa, kuhajar kau!" Ancam Sasuke dan Gaara bebarengan, keduanya tampak saling perang glare.
"Kenapa mengikuti kata-kataku!" Protes si tato Ai dengan tak suka.
"Percaya diri sekali… Kau yang mengikutiku! Dasar manusia panda!" Ejek si raven ,merendahkan pemuda bermarga Sabaku itu.
Keduanya kembali perang glare, "Tenanglah… Kalian selalu saja bertengkar. Dewasalah sedikit," lerai Shukaku.
Gaara dan Sasuke balik menatap Shukaku dengan tajam, "Diam kau!" Bentak keduanya.
Karin, satu-satunya wanita di kelompok itu tampak asik menikmati perkelahian para pria tampan itu. "Hahahaha… Ramai ya~" Sepertinya wanita itu tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi sekarang dan pertengkaran para pria di matanya hanya seperti sebuah tontonan menarik yang wajib di lihatnya.
"Kalian bisa diam atau ku-delete informasi yang baru saja dikirim ini," ancam Nagato. "Kalau kalian masih saja bertengkar, akan ku-delete~" Ucapnya menyeringai iblis.
"Bagaimana kau bisa! Sistem untuk membobol informasi itu sangat kuat tahu!" Protes Kyuubi tak percaya kalau sepupunya itu bisa mengalahkannya dalam hal meng-hack.
"Hohohoho… Tidak semuanya akan kita dapat dari meng-hack sistem, Kyuu sayang~ Tidak sia-sia Uzumaki memiliki mata-mata dalam Namikaze," jawabnya sombong.
"APA!" Ucap semuanya tak percaya, minus Nagato.
"Hyuuga, Hyuuga Neji. Sudah 3 tahun ada dalam klan Namikaze. Mata-mata penting dari Uzumaki," jelasnya sambil memperlihatkan sebuah foto seorang pemuda berambut cokelat panjang, bermata violet, dengan wajah yang tampan.
"Kenapa aku tidak tahu tentang hal ini!" Kyuubi sedikit emosi, hal sepenting ini sama sekali tak diberi tahukan oleh neneknya itu.
"Tentu saja, hal ini sangat rahasia. Hanya aku yang diserahi tugas sebagai penghubung oleh nenek~" Jawabnya senang, seakan menang lotre dari Kyuubi. "Nah… Sebaiknya kita perlu banyak melakukan persiapan, karena kita harus memanjat gunung bersalju." Semuanya terdiam, bingung mendengarnya.
Sasuke sendiri mengeratkan genggaman tangannya sampai-sampai telapak tangannya berdarah, 'Kali ini akan kuselamatkan kau. Aku pasti akan melindungimu Naru, tunggu aku!'
.
.
.
Esoknya Naruto terbangun dan mendapati dirinya masih ada di kamar milik Rikudo, segalanya terasa aneh saat ini, pembicaraan kemarin seperti mimpi, entah nyata atau hanya ilusi. Saat si blonde bangun dari tidurnya, Yuki juga ikut terbangun, serigala itu tampak menguap lebar memperlihatkan giginya yang tajam. Setelah membersihkan dirinya, satu setel pakaian lengkap yang terdiri dari jas berwarna kuning gading sudah di siapkan oleh seorang wanita berambut biru dengan hiasan bunga di rambutnya.
"Selamat pagi, Naru-sama… Saya Konan, salah satu orang kepercayaan Rikudo-sama…" Ucapnya memperkenalkan diri sambil menyerahkan satu setel pakaian itu pada sang tuan muda baru.
Naruto mengambilnya dan dengan segera Konan keluar dari kamar itu, membiarkan si blonde memakai pakaiannya. Setelahnya dia keluar dan berjalan di sepanjang lorong kastil, Konan setia mengikutinya di belakang, beberapa pengawal maupun pelayan yang tidak sengaja bertemu si blonde langsung menunduk hormat.
Mereka berdua sampai di sebuah ruangan dengan pintu besar yang terbuat dari pohon oak, Konan membukanya, mempersilahkan si blonde masuk. Tak segan Naruto masuk ke dalamnya, sebuah ruang makan. Rikudo dan Deidara tampak sedang menikmati sebuah hidangan, melihat sang sepupu tersayang muncul Deidara segera bangkit dari kursinya dan menghampiri pemuda itu.
"Naruuu… Akhirya kakek membiarkanmu keluar ya?" Ucapnya sambil menerjang si blonde, memeluknya dengan erat.
Naruto agak kesulitan saat melepaskan pelukan mematikan dari sang sepupu, "Dei, jangan terlalu erat, nanti Naru tidak bisa bernapas. Nah, Naruto… Duduklah, sarapan pagi ini ala Jepang…" Rikudo menatap kedua cucunya dengan lembut.
Deidara segera saja menarik tangan Naruto untuk duduk di sebelah kanan Rikudo sedangkan si rambut blonde panjang sendiri duduk di sebelah kiri lelaki tua itu, menunggu para pelayan menghidangkan sarapan sendiri duduk di dekat kaki Naruto menunggu sarapan pagi juga. Rikudo tersenyum senang melihat sang binatang peliharaan tampak lebih nyaman dengan cucunya itu.
"Wah… Kau sudah terbiasa dengan Yuki ya?"
Naruto sedikit tersentak dan menatap si serigala ramah itu dari ujung matanya, "Mungkin juga, dia selalu mengikutiku. Apa tidak apa?"
"Hahahaha… Tentu tidak masalah, sepertinya dia memilihmu dari pada aku," jawab Rikudo senang.
Deidara tampak menggembungkan kedua pipinya, kesal, "Curang! Si Yuki lembut padamu dan kakek saja, kalau di dekati oleh orang lain dia pasti menggigit, padaku saja dia tak mau…" Protesnya.
"Mau bagaimana lagi Dei, dia ini pemilih sih…" Mendengar jawaban itu, Deidara tampak lebih kesal dan membuang muka.
Melihat suasana akrab yang sedikit asing di meja makan itu sedikit membuat Naruto rindu dengan keluarganya di Jepang, dia sudah memutuskan untuk meminta kejelasan dari sang nenek, saat ini dia hanya ingin menikmati tinggal bersama kakek yang sudah 20 tahun tak pernah di ketahui dan di temuinya. Alasan lainnya, dia masih kesal dengan sikap sang nenek yang menyembunyikan hal sepenting ini, pastinya kakaknya sudah tahu tentang kejadian yang lalu, kejadian yang merenggut kedua orang tua mereka.
Merasa di pandangi terus, Rikudo menatap cucu yang mirip sekali dengan anaknya itu, menyentuh kening Naruto lembut. "Ada apa? Dari tadi kau bengong saja, apa kau sakit?" Tanya sang kakek khawatir. Deidara juga tampak menatap si blonde khawatir.
Naruto menggeleng, senyum lebar tak lepas dari wajahnya. "Hu-un, tidak kok… Ayo kita makan…"
.
.
.
Enam orang pemuda dengan pakaian serba hitam tampak berjalan dalam hutan pinus, salju tebal yang menyulitkan langkah mereka sama sekali tak di hiraukan, tidak semuanya sih ada beberapa yang pasti tetap mengomel dalam misi kali ini.
"Dasar salju sialan! Udara dingin brengsek!" Tampak Kyuubi dengan memakai cadar hitam untuk menghindari udara dingin masuk ke paru-parunya, memaki alam, seperti biasa.
Itachi yang berjalan di belakang si pemuda tampak ber-sweat drop mendengarnya, "Sabar Kyuu, ayo sedikit lagi…" Ucap Itachi memberi semangat.
"Sedikit lagi palamu peyang! Target masih jauh tau, kenapa juga si centil Karin menurunkan kita sejauh ini dari helikopter! Tua Bangka Namikaze itu juga, kenapa membangun rumah di pedalaman seperti ini!" Makinya tak henti-henti.
"Bisa kau buat dia diam tidak, baka aniki," sinis Sasuke.
Sang kakak hanya bisa menghela napas, semetara Kyuubi tetap saja ngomel. Gaara sendiri tampak diam sejak tadi, memikirkan banyak hal sepertinya. Berbeda dengan sang kakak, Shukaku. Beberapa kali dia tampak mencuri pandang ke arah Nagato. Bukannya Nagato tak sadar, sejak tadi dia menyadarinya dan berusaha untuk pura-pura tak sadar kalau sedari tadi pemuda itu menatapnya.
Itachi menghentikan langkahnya, mengangkat tangannya tanda untuk berhenti bagi yang lain, sulung Uchiha itu menatap kawanan serigala yang terbantai dengan sadisnya, yang lain tampak memeriksa bekas luka seriga-serigala itu. "Sepertinya baru saja ada pembantaian," gumamnya sambil menyentuh darah yang tersisa di tubuh salah satu serigala.
"Luka tusuk dan sisanya akibat senjata api, sepertinya yang membantai mereka bukan pemburu. Kalau pemburu pasti yang tersisa hanya jejak darah, tapi tubuh serigala sengaja di tinggalkan, berarti seseorang atau sekelompok orang yang membantai mereka ini untuk melindungi diri," analisa Kyuubi cepat.
Hal itu di setuju oleh Itachi, menganggukkan kepalanya. "Benar, tapi untuk melindungi siapa? Tempat ini cukup jauh dari pemukiman, jarak terdekat hanya kastil milik Namikaze itu."
Kyuubi terdiam tampak memikirkan sesuatu lalu wajahnya jadi mengeras, "Mungkin Naruto…" Semuanya menatap sulung Uzumaki itu, mengernyit heran. "Heh, jangan salah. Biar Naruto terlihat lemah, dia itu sudah di didik untuk menjadi seorang Uzumaki sejak kecil, hal-hal seperti melarikan diri itu mudah baginya," jelasnya bangga pada sang adik.
"Mungkin saja, tapi kali ini dia berhadapan dengan seorang profesional. Kemungkinan Naruto memang berhasil melarikan diri lalu terkepung kawanan serigala dan akhirnya di tolong oleh Namikaze dan di bawa kembali ke kastil miliknya," terang Itachi. "Yah… Itu hanya pikiranku saja sih, benar-tidaknya kita tidak akan tahu sebelum bertemu orangnya sendiri…"
"Selesaikan analisa itu nanti saja, sekarang kita harus tetap bergerak," peringat Nagato, semuanya mengangguk dan kembali melanjutkan perjalanan.
Sasuke terdiam, kata-kata Kyuubi terngiang di kepalanya juga kejadian saat orang-orang itu datang ke apartemennya. Naruto yang terlihat tak bisa bela diri bisa bergerak dengan gesit, rasanya susah membayangkannya. Bukannya dia tidak suka, tapi banyak hal yang tidak diketahuinya sebagai kekasih si blonde.
"Wajar kau tak tahu tentang Naruto, karena kau baru saja bertemu dengannya. Kuberi tahu saja, dia itu jago bela diri, selama ini hanya Kyuubi dan Itachi saja yang tidak bisa dikalahkannya," jelas Gaara yang akhirnya buka suara juga.
Sasuke menatap pemuda bermata panda di sebelahnya, "Apa artinya kau juga kalah di tangannya?"
Gaara terdiam sejenak dan menghela napas panjang, "Benar dan kakakku juga kalah telak di tangannya. Dia pernah bilang, hanya orang yang bisa mengalahkannya saja yang pantas menjadi kekasihnya, kuharap kau berpikir dua kali untuk menjadi kekasih Naruto. Kalau kau lemah maka kau akan di diskualifikasi."
Sasuke menyeringai lebar mendengar semua penjelasan si mata panda, "Heh! Kau pikir aku akan kalah? Akan kubuktikan aku bisa menang, kau cukup melihat dari jauh saja, karena kau sudah di diskualifikasi…" Komentar Sasuke senang, wajahnya yang terlihat menyebalkan sangat ingin Gaara tonjok.
"Apa tim ini akan baik-baik saja…" Gumam Itachi tak yakin melihat anggota pilihan sang nenek Uzumaki.
.
.
.
"Menurut informasi yang didapat Nagato, setelah kita melewati tembok ini jarak ke kastil milik Rikudo kurang lebih dapat di tempuh selama 15 menit. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi setelah melewati tembok ini, jadi kita akan membagi menjadi 3 team," terang Itachi saat mereka sudah mendekati pagar tinggi pembatas antara wilayah luar dengan milik Rikudo. "Aku dan Kyuubi, Shukaku-Nagato, dan Sasuke-Gaara," kedua team lain tampak tak suka dengan pembagian kali ini.
"Kali ini kita bukan bermain-main, jadi jangan protes!" Kesal Kyuubi. "Lanjutkan keriput mesum!"
"Hn. Team 1 aku, team 2 Shukaku, dan tim 3 Sasuke. Team 2, kalian bertugas membuka jalan untuk team 1 dan 3," terang Itachi menatap Shukaku dan Nagato bergantian. "Team 3 membantu team 1 untuk mencari target dan melindungi team 1."
"Kenapa kami harus melindungi kalian? Aku yang akan menyelamatkan Naruto!" Protes Sasuke tak suka dengan tugasnya.
Itachi menghela napas dan menepuk lembut kepala adiknya itu, "Kali ini kita menghadapi seorang profesional Sasuke, kau jarang terlibat hal-hal seperti ini. Salah langkah sedikit saja, kau bisa membahayakan nyawa Naruto. Apa itu yang kau inginkan?" Pertanyaan Itachi membuat Sasuke terdiam, wajahnya kalut.
Melihat hal itu Kyuubi berdecih dan menepuk pundak Sasuke, "Aku mengerti apa maksudmu anak ayam, tapi saat ini bukan waktunya kau bertingkah dan berlagak seperti seorang ksatria. Hal ini bukan main-main jadi biarkan aku dan Itachi yang maju, lagi pula lukamu belum sembuh benar," jelas Kyuubi.
Sasuke tersentak dengan ucapan Kyuubi, di sentuhnya lengannya yang masih sedikit sakit. Wajahnya tambah kalut mendengar hal itu, dialah yang ingin melindungi si blonde, bukan orang lain, bukan kakaknya maupun Kyuubi. Kali ini dia ingin membuktikan kalau dia juga bisa.
"Dengan memberi jalan untuk team 1, kau sudah menyelamatkan Naruto lho, walau tidak secara langsung. Lagi pula kalau kau maju sendiri, Naru-chan bisa khawatir setengah mati. Apa kau mau melihat Naru-chan menangis?" Pertanyaan dari Nagato membuatnya terbelalak, akhrnya dia mengerti dan menatap kakaknya dan Kyuubi.
"Aku mohon, selamatkan dia…" Pintanya sambil menundukkan tubuhnya.
Itachi dan Kyuubi membelalak kaget, keduanya mengacak rambut si raven dengan gemas. "Naruto itu bukannya hanya penting untukmu saja lho… Kami ke sini karena Naruto penting dalam hidup kami," ucap Itachi dan Kyuubi bebarengan.
"Nah, ayo siapkan senjata kita untuk kali ini…" Ucap Nagato mengingatkan.
Shukaku segera mengeluarkan dua hand gun jenis Glock 19 dari sebuah kotak berwarna hitam yang dibawanya, round box magazine dan semi automatic. Sasuke dan Itachi sendiri mengeluarkan pedang mereka dari sarungnya, Itachi tentu memakai dua pedang sedangkan Sasuke memakai Kusanagi, pedang yang dibuat khusus. Gaara memilih memakai hecler & kochUSP dari Jerman, untuk Kyuubi FN Five-Seven yang sudah di rakit ulang olehnya sendiri. Sepupu mereka, Nagato malah mengeluarkan condor knife dengan ukuran 10 cm yang membuat senjata itu mirip sebuah pedang kecil dengan pegangan yang berwarna hitam. Semuanya menatap Nagato heran, minus untuk Itachi dan Kyuubi. "Kenapa melihatku seperti itu? Apa aneh?" Tanyanya protes.
Sasuke mengendikkan bahunya, "Serius kau mau pakai itu?" Sinisnya. "Ini bukan permainan."
Nagato malah menyeringai lebar dan menjilat kedua condor knife miliknya, "Ini akan jadi permainan yang menarik~" Seketika mereka semua merasakan aura yang tidak enak dari salah satu keturunan uzumaki itu.
"Psttt… Kyuu, apa tidak apa membiarkan dia satu tim dengan Shukaku. Bagaimana kalau dia lepas kendali, saat itu kawan maupun lawan akan terlihat sama di matanya…" Bisik Itachi kecil pada Kyuubi.
Pemuda berambut merah itu sedikit menyipit lalu menatap Itachi dengan wajah datar, "Kurasa tidak apa, mungkin…" Jawaban yang tak jelas seperti itu malahan membuat Itachi lebih khawatir. "Sudah biarkan saja, sudah lama dia tidak di lepas dari kandang."
"Kau pikir dia itu singa apa…" Itachi sweat drop. "Ah, hampir lupa. Di dalam kastil itu sinyal akan susah masuk, jadi kita tidak bisa berkomunikasi satu sama lain, hanya dengan peta dari Nagato kita akan menjalankan misi ini," jelasnya lagi sambil membagikan peta. Setelah semuanya menyiapkan senjata masing-masing Itachi berdiri di dekat tembok dan melihat satu persatu teman-temannya, "Kita akan melewati tembok ini, lalu kerjakan tugas masing-masing sesuai pembagian team. Ayo!"
.
.
.
"Kita mau ke mana?" Tanya Naruto. Setelah sarapan pagi dia diajak Rikudo ke kastil sebelah barat, di temani Yuki, Deidara, dan Sasori. Naruto sedikit tak suka dengan lelaki bermata dingin itu, Sasori dan lagi dia membencinya karena sudah melukai Sasuke.
Rikudo hanya tersenyum sampai mereka berhenti di sebuah kamar dengan pintu berwarna hitam, lelaki tua itu mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya dan memasukkannya ke dalam lubang kunci, membukanya. Keempatnya memasuki ruangan yang gelap yang hanya di sinari oleh 15 layar monitor LCD TV yang memantau setiap sudut kastil milik Rikudo. Naruto di tuntun duduk di sebuah kursi tepat di tengah ruangan itu, sehingga memungkinkannya melihat seluruh LCD TV dari berbagai sudut.
"Kali ini kita akan memulai sebuah permainan, Naru-chan dan kau adalah Raja-nya, kau yang akan memutuskan bagaimana akhirnya. Kau hanya boleh melihat dan tidak boleh ikut campur," jelas Rikudo, Naruto mengernyit heran. "Sampai black knight bertemu sang Raja kau tidak boleh melakukan apapun."
Sasori tampak memasang wajah puas, permainan yang sudah di rencanakan olehnya dan sang tuan akhirnya bisa dilaksanakan hari ini. Tak sabar dia melihat ekspresi Naruto nantinya. Sedangkan Deidara tampak muram, wajahnya gelisah, dia sudah tahu tentang semua rencana ini dari kakeknya sendiri, yang bisa dia lakukan hanya mengeratkan genggaman tangannya di lengan kirinya.
"Permainan? Raja? Black knight? Apa maksudmu?" Tanya Naruto bingung.
"Anggaplah, kita ini sisi putih dalam catur sedangkan mereka adalah sisi hitam," tunjuk Rikudo pada layar di ujung sebelah kiri. Mengikuti arah telunjuk sang kakek Naruto seketika terdiam, shock. Terlihat enam orang yang melewati pagar pembatas kastil milik Rikudo, wajah mereka semuanya terekam jelas dan dia tahu siapa saja orang-orang itu. "Lihat, mereka mencoba untuk mengambilmu dariku lagi. Mereka ingin menciptakan kebohongan baru setelah mendapatkanmu, apa yang akan kau lakukan nantinya Naru?"
Naruto mencengkeram erat lengan kursi sampai kulitnya terkelupas, menatap kesal pada sang kakek. "Aku akan melihatnya, sesuai ucapan kakek. Aku akan melihat, baru memutuskan akhirnya," jawabnya dingin.
Rikudo menyeringai lebar dan berdiri di belakang Naruto, memeluk cucu lelakinya itu dengan penuh kasih. Menanti permainan yang sudah lama dia rencanakan.
.
.
.
Setelah melewati tembok pembatas itu mereka segera di hadang berpuluh-puluh penjaga yang memakai pakaian serba hitam. Shukaku dan Nagato maju untuk membuka jalan bagi yang lain. Shukaku, pemuda berambut merah panjang itu dengan lihai menembakkan pelurunya dengan tepat, dalam 10 detik dia berhasil menembak sebanyak 5 orang. Sedangkan Nagato, pemuda itu benar-benar lincah. Menghindari peluru dari beberapa orang lalu bergerak cepat dan menyabetkan condor knife-nya tepat di leher mereka, membuat percikan darah mengenai sedikit rambut dan wajahnya.
"Cepat maju!" Teriak Nagato saat melihat ada jalan keluar untuk team 1 dan 3. "Kami serahkan padamu, setelah selesai cepat menyusul!" Ucap Kyuubi, cepat-cepat memasuki kastil milik Rikudo.
"Heh… Itupun kalau sudah selesai, mereka banyak sekali. Seperti kecoa!" Nagato menghindari sebuah peluru dengan menundukkan tubuhnya, berlari maju dengan cepat, berjongkok tepat di bawah musuhnya dan menyabetkan lagi senjatanya.
Sambil menyerang dengan dua hand gun di tangannya, Shukaku tampak takjub dengan kelincahan Nagato, mengesankan sekaligus mengerikan di saat yang sama. 'Sampai menyiapkan orang sebanyak ini, berarti Namikaze itu sudah tahu kedatangan kami,' gumam Shukaku dalam hati, seorang lelaki yang mengarahkan senjata tepat di belakangnya denga jarak satu meter siap menembakkan pelurunya lagi. Tapi si lelaki kalah cepat dari Shukaku, karena peluru milik pemuda tampan itu sudah bersarang di bahu musuh, membuat si penyerang mengaduh kesakitan dan jatuh ke lantai. Menembak tanpa melihat, dia hanya memakai instingnya saja.
Tak butuh waktu sampai 20 menit, mereka berhasil menghabisi para penjaga yang tak terhitung jumlahnya, mereka semua terbaring di halaman luar kastil membuat salju berubah warna seperti warna rambut kedua pemuda itu. Shukaku menghela napas panjang, sudah lama dia tidak mendapat adrenalin seperti ini, matanya menatap Nagato yang membersihkan noda darah di wajah dan rambutnya dengan sebuah sapu tangan berwarna orange.
"Yuck! Kotor…" Omelnya tak suka. Melihat kehebatan Nagato membuat Shukaku sadar, kalau pemuda itu juga seorang profesional. Dilangkahkan kakinya melewati tumpukan tubuh-tubuh penjaga yang tak bernyawa maupun yang terluka parah, mendekati Nagato dan membantu membersihkan darah yang menempel di rambut pemuda itu.
"Kau terlalu berlebihan…"
Nagato mendongak menatap Shukaku, matanya tajam seakan belum puas dengan apa yang baru saja dia lakukan. "Kau yang terlalu lembek. Melukai mereka tanpa menyerang organ vital, mereka musuh yang pantas untuk di habisi," ucapnya dingin.
Shukaku mengendikkan kedua bahunya dan menatap Nagato lembut, "Maaf saja, aku tidak suka membunuh…"
"Naif…" Sinis Nagato tak suka.
"Wah…wah…wah… Kalian mengotori halaman Rikudo-sama, membersihkannya akan repot tahu!" Protes sebuah suara dari belakang mereka.
"Tidak akan repot, tinggal membawa semuanya ke dalam tempat pembakaran di belakang dan mereka akan menjadi gumpalan asap," jelas satu orang lagi di samping pemuda yang pertama.
Nagato dan Shukaku segera membalikkan tubuh mereka, melihat dua orang asing yang sedikit unik. Pemuda yang satu jangkung melebihi Shukaku, berpakaian serba hitam dengan gigi seperti hiu, wajahnya juga terlihat seperti predator haus darah, rambut hitamnya yang di model spike menambah kesan beringasnya. Sebatang rokok tampak menyelip di bibirnya, mengepulkan asap yang tak henti-hentinya. Sedangkan pemuda di sebelahnya tampak lebih kecil–setinggi Nagato, dengan wajah yang memakai topeng berwarna hitam, menutupi sebelah wajahnya dan warna rambut yang unik, hijau. Wajahnya tampak datar memainkan sebuah PSP keluaran terbaru, tak peduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya.
"Zetsu, berhenti memainkan permainan bodoh itu! Suaranya mengganggu," protes si lelaki hiu.
"Ini bukan permainan bodoh, Kisame-san," tetap tak mengalihkan tatapannya dari PSP di tangannya.
Shukaku dan Nagato tampak bersiap dengan kuda-kuda, menghindari serangan mendadak dari kedua orang asing dengan aura pembunuh itu. "Hum, kita harus segera menyelesaikan ini. Aku ada janji kencan hari ini," gerutu lelaki yang memiliki nama Kisame itu, menyisir rambutnya kebelakang dengan jari-jarinya. "Aku tidak mau di potong gaji dan kehilangan kencan perdanaku."
Pemuda yang memakai topeng itu berhenti menggerakkan jari-jarinya dan menatap Kisame, "Kencan? Lelaki atau perempuan?"
"Perempuan!" Jawab Kisame sebal.
Zetsu tampak membulatkan mulutnya dan menyimpan PSP-nya di kantung celananya. "Aku akan merayakan kenormalan Kisame-san dengan membunuh mereka," tunjuknya tak sopan pada dua pemuda berambut merah itu.
"Apa maksudmu, Zetsu! Aku ini normal tahu! Memangnya aku pernah kencan dengan pria!" Jawab Kisame sebal, membuang rokoknya di salju lalu menginjaknya.
Zetsu tersenyum dengan wajah datar dan menatap sang senior dengan meremehkan, "Bukankah kau pernah pergi kencan denganTobi?"
"Kau–"
"Jangan pernah meremehkan kami!" Teriak Nagato, dengan kecepatan kilat dia sudah ada di belakang Zetsu, membuat Shukaku terbelalak. Condor knife miliknya melayang di udara hampir mengenai leher pemuda berambut hijau itu, Zetsu tak kalah cepat dengan Nagato karena sudah menendang pemuda itu tepat di perut, membuat si pemuda berambut merah terpental ke belakang.
"Fiuh… Good job Zetsu! Hampir saja, semangat yang menggebu-gebu itu tida baik bocah. Perkenalkan, kami anggota Akatsuki, tidak akan membiarkan penyusup seperti kalian begitu saja mudah keluar dari tempat ini," jelasnya menyeringai lebar, sehingga gigi-giginya yang tajam terlihat dengan jelas. "Nah, ayo maju~"
.
.
.
Empat orang pemuda memasuki kastil itu, berlari diantara lorong-lorong panjang dan gelap. Beberapa kali Sasuke dan Gaara menyerang penjaga di dalam kastil, melindungi diri mereka juga untuk melindungi Itachi dan Kyuubi, berbeda dengan di luar, penjagaan di dalam kastil sangat sedikit, membuat mereka heran.
"Di mana Shukaku dan Nagato, ini terlalu lama untuk menyusul," ucap Kyuubi sambil berlari.
"Entah. Um, Kyuu… Keadaan di sini sedikit aneh…" Gumam Itachi yang di sambut anggukan kepala Kyuubi, menyetujui. Belum selesai mereka bicara, keempatnya di hadang dua orang lelaki berpakaian rapi, seketika keempatnya berhenti.
"Cih! Aku di panggil pagi-pagi sekali hanya untuk melayani cecunguk ini," ucap pemuda berambut putih dengan wajah yang tak suka.
"Berhenti mengeluh, Hidan. Bos bilang akan menambahkan kita bonus spesial kalau berhasil mengalahkan mereka," jelas seorang lelaki dengan cadar hitam.
Lelaki yang memiliki nama Hidan itu mengerutkan alisnya tak suka, "Aku tidak peduli dengan bonusnya, mata duitan! Liburanku terganggu karena harus mengurus sampah seperti mereka!" Tunjuknya tak sopan pada keempat pemuda itu. "Kau saja yang mengurus mereka, Kakuzu!" Perintah seenaknya pada si lelaki bercadar.
"Boleh, tapi semua gaji dan bonus milikmu harus kau serahkan padaku," ucapan Kakuzu membuat Hidan terdiam, membatu.
"Dasar mata duitan! Dewa Jashin akan mengutukmu!"
"Maaf saja tapi aku ini atheis."
Kyuubi mengerutkan alisnya, memandang kedua orang asing itu dengan tak suka. Pemuda berambut merah itu mengeluarkan hand gun miliknya dan melepas satu tembakan tanpa berpikir panjang, suara memekakkan terdengar di koridor itu. Walau sudah memakai kecepatan yang tidak biasa dia gunakan, lelaki berambut putih–Hidan, berhasil mengelak peluru itu dan terlihat peluru yang dikeluarkan Kyuubi menancap di dinding belakang tubuhnya. Membuat sebuah luka gores di pipi lelaki berpakaian rapi itu.
Hidan menatap nyalang pada Kyuubi, "Dasar sial! Kau akan di kutuk Jashin-sama!" Teriaknya mengeluarkan sebuah SVD Dragunov, menembakkan senjata laras panjang itu dengan membabi buta. Otomatis keempat pemuda itu segera melindungi diri dengan bersembunyi di balik pilar. Hidan mengelap darahnya yang menetes di pipi, "Dasar sampah! Akan kubunuh kalian untuk tumbal Jashin-sama, hahahaha…" Tawanya gila.
Melihat partner-nya mulai sinting, Kakuzu hanya menghela napas panjang dan mengeluarkan Glock. Kyuubi menyeringai melihat Kakuzu, "Hum… Sesama pemakai Glock, ya? Menarik…" Gumam Kyuubi.
"Ini bukan bagian kita Kyuu," Itachi mengingatkan si rambut merah. "Sasuke, Gaara. Aku serahkan orang-orang itu pada kalian," mintanya yang dijawab dengan anggukan oleh kedua pemuda itu. "Ayo Kyuu…" Ajaknya.
Itachi dan Kyuubi segera berlari dengan cepat melewati kedua lelaki itu. Belum ada satu meter mereka melewati keduanya, Hidan sudah membalikkan tubuhnya, melepas sebuah peluru ke tubuh Kyuubi, dengan cepat Itachi mengeluarkan salah satu pedang yang ada di punggungnya dan menangkis peluru yang mengarah pada kekasihnya itu, membuat peluru meleset dan menembus langit-langit kastil. Itachi menatap Hidan tajam dan segera pergi dari tempat itu.
"Che! Tikusnya melarikan diri," gumamnya tak puas.
Kakuzu menyentuh pundak Hidan, membuat si rambut putih mengalihkan pandangannya pada partner-nya. "Tidak apa, kita juga masih memiliki dua tikus yang tertinggal di sini…" ucapnya tenang, mata Hidan tertuju pada dua pemuda yang memiliki warna rambut berbeda, bersiap untuk menyerang mereka.
Hidan tambah menyeringai lebar, "HAHAHA… Serang kami, tikus got!"
Jauh di depan, Itachi dan Kyuubi mendengar suara rentetan senjata, pertarungan sepertinya di mulai. Itachi tampak khawatir saat mendengar rentetan senjata itu, Kyuubi beberapa kali melihat wajah sulung Uchiha yang tampak tak tenang.
"Mencemaskan anak ayam?" Tanya Kyuubi, Itachi tersentak mendapat pertanyaan itu, tapi setelahnya dia mengangguk dengan senyum masam terpasang di wajahnya. "Percayakan padanya, dia pasti akan menyusul kita untuk menyelamatkan Naru."
Mendengar ucapan yang menghangatkan hatinya dari uke yang biasanya galak dan cuek, membuatnya tersenyum lebar dan mengacak-acak rambut Kyuubi. "Aku sudah tahu, terima kasih…"
.
.
.
Pemuda berambut blonde tampak tegang melihat semua yang terjadi di layar monitor, menggeretakkan giginya, marah. Yuki yang berdiri di samping kakinya tampak ketakutan. "Apa maksudnya ini, kakek!" Bentaknya pada lelaki tua yang duduk tak jauh darinya, menikmati secangkir kopi panas.
Rikudo memejamkan matanya sejenak lalu membukanya, menatap cucu kesayangannya tajam, menyeringai lebar. "Bukankah penyusup harus di bereskan? Mereka mengacau di rumah milikku, aku hanya mencoba membereskannya saja," jawabnya ringan. Naruto bangkit dari duduknya bersiap untuk pergi, "Bukankah aku sudah mengatakan kalau dalam permainan ini kau hanya perlu melihat saja sampai sang black knight datang?"
Naruto menatap kakek yang baru saja di kenalnya itu dengan tatapan tajam, kalau tatapan bisa membunuh maka sejak tadi Rikudo akan mati. Dia tak menyangka kalau kakeknya ini kejam, "Kalau aku tidak mau?" Tanya Naruto tajam.
Rikudo tersenyum simpul dan mengeluarkan sebuah ballpoint berwarna hitam dengan ujung berwarna merah yang menyala–berkedap-kedip, dari balik saku jas-nya. "Kalau aku menekan tombol di atas ballpoint ini maka seketika, BUM! Mereka akan mati."
"Kami sudah memasang beberapa bom dan ranjau di tempat mereka bertarung, kalau kau sendiri mengambil langkah yang salah maka Rikudo-sama tak akan segan membunuh semuanya," jelas Sasori yang menuangkan kembali kopi dalam cangkir Rikudo.
"Sudah kukatakan kalau kau adalah sang Raja, Naru. Jadi, ambil keputusan dengan bijak atau mereka semua mati dalam reruntuhan kastil ini. Aku tak peduli istana ini hancur, demi tercapainya tujuanku," seringainya lebar.
Deidara tampak menatap Naruto dengan kasihan, pemuda berambut pirang itu menggigit ujung bibirnya. Setelah menuang kopi, Sasori berjalan menghampiri Deidara, menarik lengan yang lebih kecil darinya itu. "Giliran kita, Dei…" Ucapnya lalu keduanya keluar dari ruangan itu, meninggalkan Rikudo dan Naruto.
Si blonde kambali mendudukkan tubuhnya, tak henti menatap tajam Rikudo. "Kau mengancamku? Kukira kau menyayangiku."
Rikudo dengan hati-hati menaruh cangkir kopinya pada tatakan gelas, mengangkat sebelah kakinya, menumpukan pada kaki yang satu lagi, bersandar di kursi dengan nyaman. "Tentu aku menyayangimu, Naruto. Aku hanya ingin memperlihatkan apa yang selama ini di sembunyikan oleh nenekmu."
"Apa ini ada hubungannya dengan bisnis nenek yang satunya?"
"Benar. Cucuku memang pintar. Inilah hal yang selama ini di kerjakan oleh nenekmu, yang di sembunyikannya darimu, yang tak ingin di perlihatkannya padamu. Sebagai calon penerus Namikaze, aku ingin kau mengetahuinya."
Naruto membelalak, "Siapa yang mau jadi pewarismu! Aku tidak akan jadi seorang pewaris!"
Senyum di wajah Rikudo berganti dengan sebuah tatapan tajam mematikan untuk sang cucu. "Kau harus mau, atau aku akan memaksamu. Aku tidak menjamin keselamatan orang-orang itu, selain kupasangi bom, mereka juga di hadang oleh anggota terbaik Akatsuki, para pembunuh bayaran profesional."
Naruto mengeratkan genggamannya, "Mereka juga profesional, jangan meremehkan mereka."
"Kepercayaan yang tinggi, sebenarnya kau memihak siapa, Naru? Bukankah aku sudah mengatakan segalanya tentang kebusukan keluarga Uzumaki, kenapa kau masih saja menatap tinggi keluarga itu?"
"Karena keluarga itu yang telah membesarkanku dengan cinta," ucapnya lantang. "Mungkin aku memang tidak di ijinkan untuk melihat sisi lain dari Uzumaki, karena mereka menyayangiku atau ada alasan lainnya. Sama seperti kebohongan itu, aku ingin mendengar penjelasan dari nenek, baru aku bisa memutuskannya."
Rikudo menatap Naruto dengan wajah tak suka, "Apa ini artinya kau tidak percaya dengan ucapanku?"
Si blonde menyeringai lebar, "Mana bisa aku mempercayai ucapan orang yang baru saja aku kenal, diluar semua itu aku percaya kalau kau kakekku."
"HAHAHAHA…" Rikudo terpingkal-pingkal, seolah ucapan Naruto sangat lucu. "Wajah yang sama dengan Minato, bukan hanya wajah, tapi sifat kalian juga sama."
Naruto terdiam, menutup matanya sebentar lalu kembali menatap Rikudo dengan tajam. "Hentikan semua ini kakek. Hentikan membuatku menjadi copy-an ayah," ucapan Naruto membuat kedua mata Rikudo terbelalak. "Aku Naruto dan bukan Minato. Aku tidak akan menjadi pewaris Uzumaki maupun Namikaze, walaupun di paksa."
'PLAK!'
Rikudo menampar pipi kanan si blonde dengan keras, menatap marah pada sang cucu. Si blonde menatap Rikudo dari ujung matanya, pipinya terasa sakit dan panas. "Apa semua yang kakek ceritakan semalam adalah bohong belaka?" Tanya Naruto dengan suara bergetar.
Rikudo menggeretakkan giginya dengan kesal, "Kalau aku mengatakan ya, bagaimana?" Tantangnya.
Naruto hanya tersenyum simpul sambil memegangi pipinya yang terasa sakit, ini pertama kalinya dia di tampar oleh seseorang. Di tampar oleh kakeknya sendiri. "Kau kasihan sekali, kakek." Mendengar ucapan dengan nada mengejek dari sang cucu menyulut kemarahannya.
Rikudo memukul belakang kepala si blonde dengan kuat, membuatnya tak sadarkan diri. Sebelum tubuhnya ambruk menghantam lantai, lelaki tua itu memeluknya. Yuki tampak tak suka dengan cara tuannya memperlakukan tuan muda barunya, dia menggeram. Hanya dengan sekali menatap si hewan peliharaan dengan tatapan membunuh, membuat serigala itu menundukkan kepalanya. Takut.
Di gendongnya Naruto lalu kembali di dudukkannya pemuda itu di kursinya, "Ayah dan anak sama saja. Kenapa semuanya menentangku?" Tanyanya pada dirinya sendiri, mengelus bekas tamparannya di pipi sang cucu. "Untuk kali ini saja, akan kubuat kau berada di sisiku, Naru. Apapun caranya, walaupun nantinya kau membenciku…"
.
.
.
TBC
.
.
.
Se… Selesai… Chapter ini kayaknya yang paling panjang dari fict Frau yang laen deh… Fiuhhh…
Seneng akhirnya bisa buat adegan action, setelah sekian lama nih fict tenang dan aman sentosa #plak! Frau masih belajar untuk buat fict action, jadi kalau ada adegan yang aneh silahkan complain, jadi Frau bisa memperbaiki…
Untuk Neji, dia bakal muncul di chepi depan, jadi di tunggu aja… Terus Frau usahakan untuk update cepat, kalau enggak terhalang ama tugas kuliah, semoga para reader maklum…
Nah, kali ini Frau masukkan karakter OC, serigala dengan nama Yuki. Kepikiran begitu aja waktu buat fict chepi ini. Gegara Frau pengen pelihara serigala, tapi nggak mungkin, hahahahaha…
Nah-nah, waktunya balas review…
UzuChiha Rin :
Rinnn… Gomen ya kemarin lama update, Rin sampai jamuran, nih Frau kasih kalpanak…#plak!
Errr… Sebaiknya nggak usah duduk di depan kompor sambil baca nih fict, selain bahaya, juga boros, hahahahaha…
Hahahaha… Kaget si Naru bisa bela diri? Sebenarnya udah lama mau ngeluarkan sifat asli Naru tapi belum sempat. Si Kyuubi mau di cium Itachi tuh cuma gegara belum nyadar aja, coba di keadaan normal, pasti sudah dead, nyehehehehe…
Huweeee… Typo tuh susah ngehilanginnya, padahal udah Frau cek baik-baik tetap aja kecolongan, apa ada tips untuk Frau soal Typo?
Makasih udah review, Rin…
:
Gomen, Kushi-chan ampe lumutan nunggu fict Frau, udah kayak sunan kalijaga yang lagi bertapa aja…#plak!
Udah Frau usahakan cepat update nih…
Makasih udah review, Kushi-chan…
Ukkychan :
Hahahaha… Gomen belum ada lemon, nanti pasti ada, gegara sekarang-sekarang ini chepi serius jadi di tunda dulu…
Naru emang dasarnya hebat, gimana di chepi ini? Chepi depan bakal Frau lihatkan kehebatannya lagi…
Errr… KKN-nya enak… Frau di tempatkan di daerah yang T.O.P! Baru seminggu datang udah di ajak liburan ama kepala desanya. Mana ke pulau Derawan lagi, berasa kayak bule Frau di sana, berjemur, snorkling, berenang, ampe kulit Frau item, gak enaknya ya belang, hahahahaha…
Owh, Ukky ada PPL ya? Karena Frau anak ekonomi jadi nggak ada PPL, insyaAllah kalau gak ada halangan semester depan Frau udah bisa ambil skripsi… Masalahnya bingung nih mau ambil judul apa buat skripsinya, hahahahaha…
Makasih udah review, Ukky…
Desroschan :
Yoroshiku juga Ros-chan… #kalo boleh di panggil begitu…
Hahahaha… Banyak yang lumutan ya? Gomen… Gomen… Semoga chepi kali ini Ros-chan puas…
Makasih udah review, Schan…
Akaneko SeiYu :
Happy FID juga…#telat
Frau berusaha untuk buat adegan actionnya detail, apa ini sudah bagus? Naruto di sini girly ya? Hahahaha… Baru nyadar…#plak! Gomen kemarin-kemarin kebawa ama mood Frau… Jadinya yah… OOC, gomen Frau berusaha untuk memeperbaikinya…
Makasih udah review, Aka…
Azusa TheBadGirl :
Fujoooo…#Nemplok ke Fujo kayak Koala
Makasih udah menyempatkan review di fict Frau yang payah ini… Eh, chepi ini suspens ya? Gak Frau kira…
Soal ngehajar Sasori, lihat aja chepi depan…#smirk
Gomen chepi ini baru sedikit pembantaiannya, chepi depan akan Frau usahakan full pembantaian, MUAHAHAHAHAHA #sebenarnya fict apa ini…
Makasih udah review, Fujo…
Akane Fukuyama :
Frau pengen ngerekam Akane nari hula-hula…#kamera siap…
Errr… Frau belum skripsi…
Makasih udah review, Akane…
Ichigo bukan Strawberry :
Wah… Pen name-nya lucu… Kalo bukan strawberry apaan dong? Chery? Tomat? Apel? #plak!
Ini udah di lanjut, semoga puas di chepi ini…
Makasih udah review, Ichi…
PRINCE AKUMA KAZUHITO999 :
Makasih udah review Akuma, semoga puas di chepi ini…
nami asuma :
Namiiii… #peluk balik
Frau kira udah lupa ama Frau, hehehehehe…
Sasuke udah pasti beneran cinta ama Naru, kalau sampai main-main, neraka nunggu, hahahahaha… Owh, Nami orang Bali? Asiknya… Pengen pindah ke sana…#hayal
Makasih udah review, semoga semua pertanyaan nami terjawab di chepi ini…
Imperiale Nazwa-chan :
Nezzzz… Gak apa telat review, makasih udah sempat nge-review…
Perang-perangannya bakal memanas di chepi depan, tunggu aja, hahahahaha…
Makasih udah review, Nez…
I don't care about Taz :
Tazzz…#hugs
Makasih udah sempet review, padahal lagi di RS… Tinggal nunggu kak Udu nih, mana janjinya mau review…#plak!
Gimana chepi ini? Apa udah lebih panjang dari sebelumnya? Buat fict panjang itu capek dan buat mata Frau jereng… Tapi, demi reader Frau rela…#apaan coba
Tachi punya Frau di sini kalem… Frau malah iri ma Tachi di tempat Taz, suki… suki… Hahahahaha… Kyuu-nya aja yang nggak terlalu perhatiin waktu di cium Tachi, coba kalo dia sadar, euh…
Actionnya Frau rasa masih payah, belajar dari action di fanfict Frau yang satu lagi, Bloody Holic di sana payah banget, di sini Frau berusaha memperbaikinya, semoga pada puas kali ini…
Makasih udah sempat nge-review pake hape pula…
Makasih Taz…
Nara Hikari :
Eh, kok sedih… Jangan nangis…#kasih tissue
Kali ini Frau udah berusaha cepet update, semoga puas…
Makasih udah review, Hikari…
.
.
.
~ So, mind to review, minna-san… \(^^)/
