AI (Sehun-sama)

Title : AI

Author : Fina

Main Cast(s) : Kim Jong In, Oh Sehun, Park Chanyeol

Other Casts : Xi Luhan, Byun Baekhyun

Rate : T

Explanation : Latar pada keruntuhan pemerintahan joseon oleh penjajahan Jepang

WARNING : NO COPAS ! Yaoi, crack pair. (don't like don't read), TYPO(S)

Author ….. ?

Terima kasih buat yang udah review atau RCL di chapter sebelumnya. Benar-benar minta maaf karena nggak bisa bales satu persatu. Maaf updatenya lama, aku tahu nggak banyak yang nungguin atau malah nggak ada yang nungguin FF abal ini (hiks) tapi, semoga Chapter ini bisa memuaskan rasa penasaran kalian. Bagi yang pengen happy ending, aku mencoba sebisa mungkin TT . Love You READERSDEUL 3 Saranghaja ^_^ . RCL juseyo …

Sehun-sama begins …

Kami tertidur di atas tebing itu. Jika saja aku bisa memilih, aku ingin terus berada di tebing itu. Tanpa harus kembali dan menghadapi semua fakta menyakitkan yang sudah menunggu kami berdua. Aku pernah mendengarkan seorang pendeta dalam sebuah peribadatan, takdir adalah suatu garis yang harus ditempuh oleh seorang manusia. Pada saat itu, aku tidak mengerti kenapa banyak orang dewasa yang bermuka suram saat pendeta itu mengatakannya, sekarang aku mengerti. Terkadang, takdir membuat hidup kita tidak adil.

Saat aku terbangun di atas bantalan rumput hijau itu, aku merasa lega ketika melihat Oh Sehun yang masih terbaring di sampingku. Dan aku bersyukur mengetahui bahwa dia masih bernafas.

Kuusapkan tanganku dengan lembut di permukaan pipinya. Dingin, pasti karena angin yang semalaman berderu di atas tebing. Tapi syukurlah angin itu tidak membuat wajahku keras seperti batu es. Baju samurai biru tuanya masih tetap terbalut rapi, pedang di tangan kanannya masih tergenggam dengan kuat. Itulah yang kutakutkan, ketika seorang samurai menggenggam kuat pedangnya bahkan ketika dia mengistirahatkan tubuhnya. Maka insting samurai itu tengah bekerja, dan artinya, akan terlalu berbahaya hanya untuk meletakkan pedangnya.

Oh Sehun mengerjapkan matanya saat tanganku menyentuh lembut bekas luka di pipi kirinya. Matanya tampak serasi dengan embun yang menempel di bantalan rumput yang ada di bawahnya.

"kau menyukainya ? bekas lukaku ?"

Kusunggingkan tawa kecilku saat mendengarkan suamiku mengucapkan hal pertama yang ia katakan padaku di pagi itu.

Aku belum menjawab pertanyaannya namun tubuhnya telah terangkat dan mulai mencium bibirku lagi. Di pagi yang dingin, di bibir tebing. Dia benar-benar laki-laki yang menakjubkan dan terlalu berbeda dengan yang lainnya.

"kurasa kita harus kembali, aku tidak mau mereka khawatir"

Oh Sehun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis. Kemudian dia menggenggam tanganku dan mengajakku kembali menuju gua persembunyian kami. Kami tidak berbicara banyak selama di tengah perjalanan, hutan itu terlalu indah dan genggaman tangan Oh Sehun terlalu nyaman untuk dirasakan oleh tanganku.

Tapi Oh Sehun mulai mengeluarkan suaranya di tengah perjalanan. Dan itu bukan kata-kata yang kusukai.

"aku takut"

Aku terperangah mendengar kata yang diucapkannya. Oh Sehun bukanlah seorang pria yang mudah untuk sekedar mengatakan 'takut', apalagi memperlihatkan ketakutannya. Bahkan nadanya yang tegas masih dapat menyiratkan ketakutan yang besar dalam dirinya.

Kami memalingkan kepala kami berdua, menatap satu sama lain. Mata Oh Sehun terlihat sayu saat menatap bola mataku.

"aku tidak mau orang yang akan melindungiku ketakutan layaknya anak anjing yang kedinginan"

Oh Sehun tertawa saat mendengar perkataanku yang cukup kasar. Sedangkan aku tidak bisa menemukan kalimat lain yang lebih pantas dari itu. Aku tahu itu kasar, tapi aku tidak tahu kenapa lidahku mengatakaannya.

"haruskah orang itu menjadi anjing galak ? atau menjadi serigala untuk menolongmu ?"

"aku hanya ingin dia menjadi samurai yang kukenal"

Kami terdiam.

Oh Sehun tidak mengeluarkan sepatah katapun saat aku menjawab pertanyaannya. Mungkin jawabanku memang sedikit menyakiti hatinya, tapi aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya. Bahwa aku telah kehilangan sosok samurai yang melindungiku.

Ketakutan Oh Sehun membuatku mulai berfikir rasional. Rasional yang sinting, aku berfikir bahwa Oh Sehun harus mengorbankanku. Tapi aku tahu mengatakan hal itu hanya akan membuat ketakutan Oh Sehun semakin buruk.

Kami terdiam sambil terus berjalan menerobos pepohonan yang berada di kanan-kiri kami. Pagi yang berembun membuat gigi kami bergemeletuk merasakan angin dingin yang memasuki kain-kain kimono yang kami kenakan. Bukan hanya itu, mungkin saat itu aku berfikir bahwa itu hanyalah salah satu firasat burukku. Tapi aku merasa seolah kami tidak sendirian di hutan itu. Beberapa pasang mata sedang memata-matai pergerakan kami.

Saat Oh Sehun menghentikan langkah kakinya, lalu menatap was-was pada sekitar. Aku tahu firasatku benar. Tangannya menggenggam pangkal pedangnya, sedangkan matanya tetap menatap sekelilingnya dengan tajam. Tangan kirinya mendekap bahuku. Kami telah terkepung.

Satu persatu samurai dengan wajah Joseon keluar dari semak-semak dan batang pohon besar. Raut wajah mereka menunjukkan kepuasan dan dendam yang tersulut dalam diri mereka. Aku tidak tahu berapa banyak pemberontak yang mengepung aku dan Oh Sehun, namun kurasa sedikit atau banyak tidak akan membuat perubahan yang signifikan.

"tetap dekat denganku"

Oh Sehun memperingatkan.

Awalnya aku tidak tahu kenapa dia mengatakan hal itu, karena aku berfikir bahwa aku sudah cukup dekat dengannya. Tapi saat melihat arah pandangan Oh Sehun, aku tahu alasannya.

Jantungku hampir berhenti berdetak, nafasku seolah berhenti secara tiba-tiba, seluruh bagian tubuhku (terutama mataku) menolak melihat kenyataan yang muncul di hadapan kami berdua. Jenderal Park keluar dari kerumunan pemberontak dengan perban di sekujur tubuhnya.

Matanya beradu tatapan dengan Oh Sehun, mata Jenderal Park mengeluarkan kilatan marah serta setumpuk besar dendam yang ia rasakan pada Oh Sehun. Di kedua tangannya, dua buah pedang kokoh dengan mata pedangnya yang tampak tajam seakan sudah membidik korbannya. Aku tidak perlu melihat raut wajah Oh Sehun saat itu, dari tangannya yang semakin erat menggenggam bahuku dan lehernya yang mengeluarkan urat-urat tegangnya. Aku tahu dia terkejut sekaligus sangat membenci kedatangan Jenderal Park, tapi aku tidak mencium ketakutan dalam Bahasa tubuh Oh Sehun.

"lepaskan Kim Jong In, pengkhianat keji"

Jenderal Park berbicara dengan suara lantangnya. Namun Oh Sehun malah beralih mengenggam pergelangan tanganku dengan erat.

Seringaiannya yang mematikan ia paparkan pada Jenderal Park. Saat itu, aku benar-benar tidak bisa membaca pikiran Oh Sehun. Bahkan saat ia melemparkan tubuhku dengan keras ke hadapannya. Membuatku mau tidak mau menatap kilatan marah pada bola mata Jenderal Park.

Aku mengutuk Oh Sehun habis-habisan dalam pikiranku. Dia membuangku seolah aku bukanlah hal yang berarti baginya. Seringaian kejinya masih terpatri dengan jelas. Tatapan matanya tampak sangat merendahkanku. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kenapa dan bagaimana Oh Sehun memperlakukanku semudah itu.

"kau bisa memilikinya, lagipula dengan mengetahui hatinya yang sudah kumiliki, sepertinya sudah cukup untuk membuatmu benar-benar merasakan kekalahan Park Chanyeol"

Aku tidak ingin mendengar kata-kata itu dari mulut Oh Sehun. Hatiku seolah teriris oleh pedangnya sendiri. Tatapan matanya yang tampak sangat jijik padaku benar-benar tidak bisa kulupakan. Tenggorokanku seolah tertambat dengan sebongkah batu besar yang menyesakkan seluruh dada dan paru-paruku.

Kim Jong In adalah alat balas dendam seorang Oh Sehun. Air mataku turun dari pelipis mataku dengan derasnya, kutatap mata Oh Sehun dengan seluruh kekecawaan dan amarah yang sudah sangat sesak di dadaku. Namun Oh Sehun membalas tatapanku dengan seringaian rendah dan tatapan tak berperasaannya.

"seorang penyuka sesama jenis. Hah, kurasa aku memainkan peranku dengan baik. Sebagai pendamping, tentu Aoko lebih baik. Seorang wanita normal dengan dua lubang manis yang dapat kucumbu setiap malam. Kau pikir aku bertugas di luar kota selama seminggu tanpa menikmatinya dan menikahinya ? Kim Jong In ? Aku tidak sepertimu"

Sebuah kalimat panjang yang membuat hatiku seolah beku dan mati. Tubuhku bergetar hebat, tangisan tanpa suara yang masih keluar dari bola mataku. Pelukan itu, ciuman itu, kasih sayang yang diberikan olehnya padaku. Aku sangat membencinya, namun aku juga merindukannya. Aku menginginkan secuil saja perkataan tulus darinya.

Oh Sehun dan aku masih bertukar tatapan, aku tidak tahu jika tatapan memohonku padanya saat itu terlihat jelas. Namun Oh Sehun masih saja tersenyum dengan ukiran kemenangan di setiap gerakan wajahnya.

"kau ditahan Oh Sehun, pasukan Jepang telah menyerah pada Joseon"

Suara Jenderal Park menggema dengan sarat kekhawatiran di belakangku. Namun tatapan Oh Sehun tetap terfokus pada bola mataku.

Oh Sehun menjatuhkan pedang samurainya, melemparnya tepat di hadapanku. Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan olehnya. Dia menyerahkan dirinya. Seutuhnya.

"bahkan kau boleh memenggal kepalaku Park. Misiku telah selesai"

Anak buah Jenderal Park bergerak dengan sigap memborgol tangan Oh Sehun dan memaksa badannya untuk mengelak dan menunduk pada Jenderal Park yang sudah ada di hadapannya. Aku tidak mendengar sedikitpun pemberontakan dari Oh Sehun. Dengan langkah puas, dia mengikuti anak buah Jenderal Park menuju arah utara.

Jenderal Park meraih bahuku yang masih bergetar, tanpa mengatakan sepatah katapun dia mengelusnya sayang. Kemudian tangannya memelukku, mencium keningku lama lalu mengelus rambutku sayang.

"aku di sini Kim Jong In, aku di sini"

Tangisku semakin menjadi, aku terdengar sangat menyedihkan dengan isakan pilu yang keluar dari mulutku. Fakta bahwa Jenderal Park memelukku tidak membuatku semakin baik. Dengan tidak waras aku berfikir, aku ingin memeluk Oh Sehun.

Aku berada di Joseon beberapa hari lamanya, namun berdiam diri di kamar telah menjadi keseharianku. Aku menolak memainkan haegeum dan menolak semua makanan buatan ibuku. Ya, ayah dan ibuku bebas. Dan mereka terlihat mengkhawatirkan keadaanku. Panglima Xi serta Byun Baekhyun juga telah diampuni dan mereka boleh tinggal di Joseon setelah mendapat cambukan sebanyak lima puluh kali, begitu pula dengan kedua teman Panglima Xi. Sedangakan Oh Sehun, aku hampir gila karena memikirkannya, dia berada di penjara bawah tanah Joseon dengan pengamanan ketat dan juga terancam hukuman mati, yang mana akan dilaksanakan keesokan harinya di siang hari.

Pergelutan batin telah berlangsung dalam diriku selama berhari-hari, aku masih sangat mencintai Oh Sehun. Tuduhan yang diberikan pada Oh Sehun tentang penyuka sesama jenisnya yang membuatku jatuh pada perangkapnya, semuanya salah. Tapi Ayah dan ibuku menyuruhku untuk diam tanpa memberika protes apapun. Lagipula, aku tidak akan melakukannya.

Panglima Xi dan Byun Baekhyun mengunjungiku dan berusaha membuatku lebih baik. Aku berterima kasih atas usaha mereka, tapi itu tidak berhasil. Mungkin menampar keras pipi Oh Sehun lalu menangis di pundaknya selama beberapa hari akan membuatku lebih baik. Tapi itu gila.

Pintu kamarku terbuka, ibu dan ayahku muncul di balik pintu kamarku sambil membawa beberapa makanan. Tapi aku tidak menyukainya.

"Jong In, makanlah. Mukamu semakin kurus dan pucat nak"

Ibuku mengatakan hal yang sama setiap harinya. Tetapi aku tidak bosan mendengarnya, aku senang masih ada yang memperhatikanku. Namun itu tidak terlalu menyemangatiku.

"Jong In, aku ingin mengingatkanmu bahwa besok siang-"

"pergilah, aku ingin sendiri"

Aku tidak bermaksuda kasar pada ayahku, namun aku tahu yang akan diucapkannya hanya akan membuatku semakin terpuruk dalam kegelisahanku. Jujur saja, mereka tidak membantu.

Ayahku seakan ingin memprotesku, namun aku bertaruh dia tidak tega melihat keadaanku saat ini. Jadi dia hanya mengatakan hal lain yang membuatku –sedikit- terkejut.

"Jenderal Park di sini, dia mengkhawatirkanmu"

Belum selesai ayahku berbicara, aku melihat Jenderal Park yang sudah berada di ambang pintu dengan seragam kepolisiannya. Topi lebarnya membuat wajahnya tampak lebih gagah.

Dengan segera, ayah dan ibuku pergi meninggalkan kamarku dan Jenderal Park duduk di depanku. Wajahnya tidak berubah dari terakhil kali kami bertemu, tirus dan tampak lelah. Kudengar masih banyak tentara Jepang yang mencoba merobohkan pemerintahan Joseon, pasti itu juga menambah pekerjaannya.

"kau tampak lebih buruk"

Aku hanya diam mengiyakan apa yang dikatakannya. Lagipula Jenderal Park selalu jujur padaku, meskipun itu sedikit menyakitkan.

"Oh Sehun pasti ingin menemuimu di saat terakhir hidupnya"

"berhenti membicarakannya. Aku membencinya"

Aku tidak menyangka Jenderal Park akan menyerah semudah itu, dia bangkit dari duduknya dan keluar dari kamarku. Aku mengacuhkannya, tidak juga, sebenarnya, aku mencoba mengacuhkan apa yang ia katakan.

Namun sepasan mataku menatap sebuah pedang samurai yang berada di atas kasur gulungku. Pedang milik Oh Sehun, aku tidak tahu kenapa, tapi aku ingin menyimpannya. Tanpa sangkar pedangnya, tentu terlihat berbahaya. Tapi aku tidak mengkhawatirkannya.

Aku telah menyimpan pedang itu bahkan sebelum kembali ke Joseon. Namun entah karena gucangan hebat yang terjadi padaku atau karena kesadaranku yang lemah, aku melewatkan ukiran kecil yang ada di sisi kanan pedang itu. Ukiran yang membuat hatiku memanas dan air mataku kembali terurai keluar.

Lindungi Kim Jong In

Ukiran dengan kalimat itu seolah sebuah perintah dari sang majikan kepada pedangnya yang setia. Tangisku pecah, semua pikiranku tertuju pada Oh Sehun. Jika memang dia menggunakanku sebagai alat pembalas dendamnya, jika memang kebenciannya padakumerasuk hingga tulangnya, kenapa dia mengukir kalimat ini di atas permukaan pedang berharganya.

Kukenakan handbook biru tua kerajaanku dan mulai beranjak keluar dari kamarku. Dengan air mata yang masih menetes, kunaiki kudaku dan melaju menuju istana. Mencari kebenaran suamiku, Oh Sehun.

Sehun-sama ends Here …

Pendek banget ya ? iya, aku tahu ini benar-benar nggak memuaskan dan terlalu GJ untuk kelanjutan Chapter sebelumnya. Mohon maaf sekali karena updatenya lama TT. Susah cari inspirasi. Buat yang minta Happy Ending, berdo'a ya . Hehe :D Love you readers, terima kasih sudah support sampe bisa nulis chapter ini ^_^ Saranghaja ! ^_^ 3 #BowBIGBow