We Love You, hyung..
Kim Tae Hyung-BTS,
Byun Baek Hyun-EXO (GS),
Park Chan Yeol-EXO,.
Amd other cast
(nama tokoh bisa berubah sebagaimana alur cerita)
.
.
EXO - BTS
"seharusnya kau melaporkannya ke polisi, siapa tahu anak itu ada masalah, atau mungkin saat ini dia sedang di cari keluarganya" tegur dokter Yixing mengingat masalah yang sedang di alami Chanyeol juga hampir sama. "ngomong-ngomong siapa namanya?"
"kalau aku tidak lupa, Park Taehyung"
Pergerakan tangan Chanyeol terhenti seketika begitu mendengar nama yang sangat tidak asing terucap oleh dokter itu. Chanyeol langsung segera merapikan jaket yang di kenakan Jackson dan tangan kirinya menarik lengan Jesper yang berdiri tidak jauh darinya.
"Jesper, kau tunggu ayah di dalam mobil dan jaga Jackson sebentar disana. Oke? Nanti ayah akan belikan cokelat untukmu" ucapnya dengan suara pelan.
Jesper sempat menatap ayahnya bingung namun kemudian ia mengangguk. Lalu kedua anak kecil itu menurut ketika di bawa keluar menuju mobilnya dan duduk manis sambil menunggu sang ayah di dalam.
Setelah itu Chanyeol bergegas kembali masuk ke dalam klinik, untuk menemui wanita yang menyebut nama putranya. Dan wanita itu masih berbincang dengan dokter Yixing disana.
"permisi" ucap Chanyeol kemudian disambut oleh tatapan kedua wanita yang kompak menengok ke arahnya.
"maaf karena saya sudah mendengar percakapan kalian. Tadi anda menyebut nama Park Taehyung. Apa usianya sekitar 17 tahun? Dan...dan tubuhnya setinggi...ini. Ya setinggi ini" tanya Chanyeol yang langsung meragakan ukuran tinggi badan putranya.
Namun wanita itu hanya menatapnya dengan wajah bingung. Karena pria ini tanpa perkenalan tiba-tiba langsung bertanya padanya.
Dokter Yixing memperhatikan kedua orang yang berdiri tidak jauh dari hadapannya, dan matanya fokus menatap wajah Chanyeol yang dengan ekspresi serius. Dalam sekejap pun dokter Yixing langsung mengangguk pelan seakan paham apa yang di tanya oleh Chanyeol.
Dokter Yixing mengangkat tangannya dan menepuk pelan bahu Chanyeol sehingga membuat Chanyeol menoleh kearahnya.
"tenanglah tuan Park. Mari saya perkenalkan dulu. Dia adalah adik sepupu dari suamiku. Dia juga seorang dokter spesialis. Namanya Kim Seokjin" kemudian dokter Yixing beralih menatap wanita di sebelah nya "Seokjin perkenalkan, beliau adalah salah satu pasien langgananku, tuan Park Chanyeol"
Dan Chanyeol langsung membungkuk hormat setelah dokter Yixing memperkenalkannya kemudian di balas oleh dokter bernama Kim Seokjin itu.
"Begini. salah satu anak dari tuan Park Chanyeol hilang dan sampai saat ini belum ada kabar tentang putranya. Barangkali ada persamaan dari anak yang kau maksud dengan putra dari tuan Park" kata dokter Yixing menatap dokter Seokjin itu dan menjelaskan apa yang di tanya oleh Chanyeol sebelumnya.
Dokter Seokjin beralih menatap dokter Yixing kemudian kembali menatap Chanyeol. Lalu dia hanya mengangguk pelan " ...ssekitarr... 16-17 tahun".
Mendengar itu Chanyeol langsung buru-buru mengambil ponselnya dan membuka salah satu folder di dalamnya.
'Park Taehyung, berumur 17 tahun, yang telah menghilang dan di temukan dengan luka memar di tubuhnya'. Kalimat itu terus berputar dalam pikirannya. Dan sekarang Chanyeol telah mendapat informasi tentang Taehyung setelah pencarian selama beberapa hari ini.
Jemari Chanyeol sedikit gemetar saat menggeser layar ponselnya. Ketika sudah menemukan apa yang ia cari, Chanyeol segera menunjukkan layar ponsel itu kepada dokter.
"apakah anak itu seperti ini?" tanyanya, tiba-tiba saja ia merasa semakin gugup.
Dokter wanita itu memandang layar ponsel Chanyeol dan memperhatikan sebuah gambar seorang anak laki-laki berseragam sekolah.
Awalnya dokter itu menatap bingung dan mengerutkan dahinya cukup lama saat menatap gambar itu, sehingga membuat Chanyeol yang melihatnya hampir merasa kecewa jika ternyata anak yang di maksud bukan Taehyung putranya walau bukti yang di katakan sudah cukup kuat.
Hingga akhirnya dokter itu mengangguk pelan dan tersenyum simpul.
"ya, persis. Anak laki-laki ini mirip dengan anak yang sedang kami rawat disana" lalu ia kembali menatap Chanyeol "jadi dia adalah putra anda?"
Chanyeol sebenarnya hampir ingin berteriak bergembira sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan dari dokter Seokjin dengan mengangguk cepat dan tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang rapih.
"ya, dia putraku. Putra pertamaku"
"jadi dia berasal dari sini? dia bermain sangat jauh sekali".
Chanyeol terdiam kemudian dan hanya tersenyum sesaat sambil mengangguk pelan. Ucapan dokter itu seakan menyindirnya, tapi itu memang ia rasa benar. Karena Chanyeol merasa bahwa ini adalah kesalahannya yang membuat Taehyung pergi terlalu jauh. Ya, seandainya ia lebih memperhatikan Taehyung tanpa melihat asal usulnya.
"tapi tidak apa, anak remaja memang selalu begitu, kadang pergi kemana saja tanpa ijin seakan mereka bebas, padahal ada orang tua yang khawatir menunggu di rumah" sambungnya.
Chanyeol sekali lagi hanya mengangguk paham. Walau sebenarnya ia merasa miris pada dirinya sendiri karena selama ini tidak ada perasaan khawatir tentang kepergian Taehyung yang padahal selama ini Taehyung sedang dalam kondisi yang tidak baik.
"ah iya, ngomong-ngomong, apakah puteramu sudah pergi cukup lama? Karena kondisinya tidak bisa di bilang baik-baik saja"
Lipatan di dahi Chanyeol semakin dalam dan ekspresi wajahnya bertambah serius.
"apakah kondisinya parah?"
"bisa di bilang-"
"maaf memotong pembicaraan kalian. bagaimana jika kalian duduk berbincang sambil minum kopi? Agak riskan jika ngobrol dan berdiri cukup lama bukan?" tawar dokter Yixing di sela pembicaraan.
"ide bagus. Tapi sayangnya kedua puteraku sudah menungguku di mobil" sahut Chanyeol sambil menatap ke arah pintu masuk. Memastikan kedua putranya tidak keluar dari dalam mobil.
Kedua dokter itu diam sejenak dan saling tatap. Lalu terdengar suara hembusan nafas dari dokter Seokjin.
"boleh aku minta nomor ponselmu? Hari ini aku ada jadwal operasi sampai pukul 7 malam. Aku akan menceritakan kondisi putramu satu jam setelah operasi"
"Apakah tidak bisa di ceritakan hari ini juga? Aku mau tahu bagaimana kondisinya" protes Chanyeol.
Dokter Seokjin menarik nafas "anda bilang putra anda sudah menunggu di mobil."
"ya tapi..."
"tenanglah" dokter Yixing mencoba menengahi dan itu berhasil. Kedua sosok itu langsung terdiam dalam sekejap. Lalu kemudian dokter Yixing tersenyum pada Chanyeol "percalah anda tidak perlu khawatir, putra anda sekarang baik-baik saja. Dia pasti di rawat dengan baik oleh suamiku disana" ucapnya penuh yakin.
Chanyeol pun akhirnya kemudian mengangguk paham tanpa penolakan ia segera memberi sebuah kartu pengenalnya kepada dokter Seokjin. Lalu dokter itu pun menerima dan membaca kartu pengenal itu sebentar sampai kemudian ia memasukkan nya ke dalam tas.
"Aku akan segera menghubungi setelah operasi selesai. Tetap dekat dengan ponselmu" pesannya.
Chanyeol hanya mengangguk kemudian membungkuk dan berpamitan kepada kedua dokter tersebut. Sebenarnya ia sudah sangat tidak sabar untuk mengetahui kondisi Taehyung disana dan segera memberikan kabar baik ini kepada istrinya tercinta. Tapi yang di hadapinya barusan bukanlah orang sembarangan. Sebagai karyawan yang baru saja akan di naikan jabatannya ia akhirnya memilih menurut dan yakin dengan ucapan kedua dokter tersebut.
.
we love you, hyung...
.
Taehyung terbangun dari tidurnya ketika ia merasakan sengatan yang terasa di tangan kirinya. Ketika matanya terbuka ternyata salah seorang dokter sedang memberikan obat melalui selang infus yang terpasang di bagian pergelangan tangannya.
"ah selamat siang. Aku jadi membangunkan mu ya. Maaf ya" ucap dokter itu dengan wajah ramahnya dan senyumannya yang begitu menyejukan bagi siapa saja yang melihat.
"bagaimana kondisimu sekarang? Apa tubuhmu masih terasa sakit?" lanjutnya bertanya setelah menyimpan alat suntikan di sebuah wadah dan meminta perawat yang menemaninya untuk membereskannya.
Taehyung menggeleng pelan dan tersenyum tipis.
"tidak terlalu. emmmm...jam berapa sekarang?"
"jam dua siang. Kau tertidur sangat lelap. Malah kau tidak sarapan dan hampir melewatkan jam makan siang" sahut dokter itu.
Taehyung terkejut tentunya karena belum pernah tidur selama itu ketika kondisinya lumayan sehat. Tapi sekilas dia teringat semalam tubuhnya terasa amat sangat sakit, bahkan ia mengeluarkan makanan yang ada di dalam perutnya sampai habis. Untung saja salah satu perawat menolongnya dan segera memberikan suntikan obat. Mungkin itu yang membuatnya tidur cukup lama.
"namamu Park Taehyung kan? Dimana rumahmu nak?" tanya dokter itu lagi.
Taehyung menatap dokter itu, tapi pikirannya entah berada dimana. Sejujurnya pertanyaan itu sangat mudah. Dia bisa menjawab alamat rumahnya. Tapi lagi-lagi karena kejadian-kejadian dan cerita sebelumnya membuat suaranya tertahan dan seolah mulutnya terkunci rapat.
Rumahnya...keluarganya...
"hey nak? Kau baik-baik saja?"
Suara dan lambaian tangan di depan wajahnya langsung menyadarkan Taehyung dari segala lamunannya. Anak remaja itu hanya diam dan tersenyum simpul.
"tidak apa-apa. Kami hanya bertanya alamat rumah dan tidak bermaksud mengusirmu. Kau boleh pulang jika kondisimu sudah 100% pulih. Jadi...Sekarang kau boleh istirahat kembali dan-"
"ayah!"
Suara anak perempuan yang datang berhasil mengejutkan orang yang berada di ruang inap itu. Termasuk sang dokter. Karena anak perempuan itu langsung memeluknya dari belakang .
"hey. Kenapa kau sudah pulang? Kau tidak bolos kan? Ah... Atau jangan-jangan kau kabur dari mata pelajaran heh?"
Gadis itu melepaskan pelukannya, ia cemberut dan memasang wajah kesal. Namun entah kenapa itu justru membuatnya semakin terlihat gemas. Seperti kelinci merajuk yang habis direbut makanannya.
"hahaha ayah percaya kau bukan anak bandel. Tapi kenapa kau tidak ganti bajumu dulu sebelum datang kesini?"
"aku bawa baju pengganti. Nanti aku ganti bajuku. boleh ayah pergi dulu sekarang?" pintanya dengan memasang senyum manisnya.
"eyyyy...sejak kapan kau berani mengusir ayah?" tanyanya balik. Karena sejujurnya ia belum pernah melihat putrinya banyak bicara seperti saat ini.
Hingga tatapan dokter itu jatuh kepada remaja yang masih terbaring sambil memegang tangannya yang sedang di infus. dan senyuman jahil muncul dari bibirnya "ah...apa mungkin..."
"ayah cepat keluar. Banyak pasien menunggumu" anak gadis itu segera mendorong ayahnya sampai depan pintu kamar inap. Ia tidak peduli dengan siapa ia berhadapan. Karena ia merasa pipinya menghangat dan sepertinya mulai memerah.
"baik lah...ayah keluar. Sampai bertemu lagi putri ayah yang sudah mulai beranjak de-"
Brak!
Pintu pun di tutup rapat-rapat dan terdengar hembusan nafas dari mulutnya. Kemudian ia berbalik dan berjalan pelan mendekati remaja yang masih terbaring tenang di atas matras rumah sakit.
Tirai pun di buka dan sosok anak laki-laki itu langsung menatapnya. Entah kenapa perasaannya justru semakin gugup ketika mata tajam itu menatapnya.
"bagaimana kabarmu hari ini?" sapanya sekaligus menghilangkan rasa gugupnya yang terasa sangat aneh.
Anak remaja itu masih menatapnya "sudah lebih baik" jawabannya dengan tersenyum tipis.
Sayangnya senyuman sesederhana itu justru membuat si gadis semakin gugup.
"hey kenapa berdiri terus disana? Ayo duduk" perintahnya. Dan gadis itu menurut untuk duduk di kursi yang berada tidak jauh dari ranjang tempat Taehyung beristirahat.
"Pagi tadi...aku kesini dan membawa buku komik. Aku takut kau merasa bosan. Tapi kau masih tidur dan aku tidak berani membangunkan mu. Tapi aku masih membawa buku komikku" gadis itu, Jungkook, langsung mengambil tasnya dan mengeluarkan beberapa buku komik dengan bermacam cerita.
Kemudian ia langsung memberikan buku itu kepada Taehyung.
Taehyung menatap tumpukan buku komik itu sedikit heran "anak gadis juga membaca komik?"
"kenapa?"
"setahuku anak gadis lebih suka membaca novel ketimbang komik" sahut Taehyung.
"aku tidak mungkin meminjamkan novel untukmu kan?"
Dan jawaban itu langsung membuat Taehyung terdiam. Kenapa juga ia harus bertanya soal itu.
"errr...ya... ngomong-ngomong terimakasih ya. Aku jadi tidak merasa bosan" Taehyung mulai memilih salah satu komik yang menurutnya menarik, lalu menyimpan komik yang lain di atas nakas.
"aku senang jika melihat orang lain senang"
Kemudian suasana mulai hening, hanya terdengar suara lembaran kertas komik yang sedang di buka oleh Taehyung. Sedangkan Jungkook beberapa saat yang lalu ia mengeluarkan buku bergambar nya dan melanjutkan bakat terpendamnya.
"sepertinya...aku akan segera kembali"
Ucapan itu menghentikan pergerakan tangan Jungkook sejenak dan beralih menatap Taehyung yang masih membaca komiknya.
"kapan?"
"emmm...mungkin secepatnya. Karena barusan ayahmu bilang aku sudah boleh pulang jika kondisiku sudah 100% pulih dan..."
"tapi kau belum sembuh total!" Jungkook menyela cepat. Tapi kemudian ia tertunduk karena merasa malu terutama saat Taehyung langsung menatap ke arahnya dengan tatapan heran.
"maksudku...kau baru 2 hari di rawat...dan..."
Taehyung tertawa renyah "aku anak laki-laki. Ini hanya luka kecil dan semua anak laki-laki pasti pernah merasakannya"
Ya, itu benar. Semua anak laki-laki pasti pernah merasakan rasa sakit. Dan mereka mampu bertahan dari rasa sakit itu. Tapi bukan itu yang membuat Jungkook mengkhawatirkan Taehyung. Jika Taehyung kembali ke rumahnya, maka...
"kita masih bisa mengirim surat dan bicara lewat telepon kan?"
Jungkook mengangkat wajahnya ketika Taehyung mengatakan hal tersebut. Apa yang di ucapkannya barusan? Mengirim surat? Telepon?
"itu juga jika kau mau. Kalau tidak mau ya tidak apa-apa" sambung Taehyung lagi.
Sebuah senyuman langsung terukir di wajah gadis bermata bulat itu. Karena mulai hari ini akan bertambah satu orang yang akan menemani harinya nanti selain ayah Junmyeon dan ibu Yixing.
.
we love you, hyung...
.
Malam ini salju kembali turun dan jalanan pun hampir seluruhnya tertutup oleh butiran salju. Meski suhu udara semakin rendah, tidak membuat Chanyeol berleha-leha setelah sepulang kerja satu jam yang lalu.
Pria kantoran itu masih berjibaku dengan tumpukan kardus berisi barang-barang yang akan di bawa besok ke ibu kota.
Ia menoleh ke samping dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Lalu kemudian ia kembali membawa satu buah dus ke dekat pintu masuk rumah.
Tak berselang lama terdengar suara getar dari ponselnya yang di letakkan di atas meja tidak jauh dari tempat Chanyeol berdiri.
Pria itu segera mengambil ponselnya dan melihat notifikasi chat dari nomor yang baru ia kenal.
"selamat malam, saya dokter Seokjin. Apa benar ini dengan Tn. Park?"
Chanyeol terdiam sebentar.
Dokter Seokjin.
Ah...dokter yang tidak sengaja di temuinya pagi tadi.
Chanyeol segera melepas semua sarung tangannya dan membalas chat tersebut.
"maafkan saya karena baru mengabari anda. Saya sekarang berada di Busan dan belum kembali ke ibukota jadi saya belum memastikan kondisi anak anda.
Tapi dokter yang menggantikanku disana bilang kondisi anak anda sudah lebih baik dari malam kemarin. Dan kakakku juga bilang anak anda sudah bisa pulang.
Tapi saya pastikan anda jangan menjemputnya hari ini karena kondisi cuaca sedang tidak baik. Karena sangat berpengaruh dengan kondisi putra anda"
Chanyeol lalu berjalan pelan untuk mengambil duduk di salah satu kursi yang masih tersedia disana. Masih dalam membaca pesan, Chanyeol duduk dan mengambil sebotol air mineral yang sudah ia sediakan sebelumnya. Dia juga menyempatkan diri untuk membalas pesan tersebut.
Sampai satu pesan membuat keningnya mengerut dalam.
"apa dia punya masalah di rumah? Dia selalu mengigau memanggil ibunya saat kondisinya masih lemah"
Lalu kemudian Chanyeol menyempatkan untuk membalas pesan tersebut. Dengan jawaban yang cukup masuk akal dan tidak menyimpan curiga bagi orang lain. Karena tidak mungkin ia harus menceritakan permasalahan rumah tangganya kepada orang lain.
Dan suara tangisan Jiwon di kamarnya mengalihkan perhatian Chanyeol. Pria itu segera bangkit dari kursinya dan beranjak menuju kamarnya.
Sampainya di kamar, Chanyeol mengedarkan pandangannya tapi yang ia lihat justru bayi kecilnya merengek menangis di atas tempat tidur tanpa ada orang dewasa yang menjaga atau menemaninya.
Pria itu segera melangkah masuk ke dalam kamar dan mengangkat tubuh Jiwon lalu menepuk pelan mencoba menenangkan anak bungsunya.
"Pergi kemana ibumu. tenanglah, ayah ada disini" Chanyeol menimang Jiwon dan membawanya keluar dari kamar.
Pria itu segera mencari keberadaan istrinya mulai dari kamar anaknya yang lain, lalu ke ruang keluarga hingga dapur namun ia tidak menemukan keberadaan istrinya.
Dan ketika hendak keluar untuk mencari Baekhyun, langkah kakinya terhenti karena orang yang ia cari sedang berdiri di luar menghadap ke arah pintu gerbang. Hanya menggunakan piyama biasa tanpa pakaian hangat yang melindungi tubuh kecilnya.
"Baekhyun..." panggil Chanyeol dengan suara pelan.
Wanita itu menoleh, lalu tersenyum ketika menghadap ke arah suaminya. Ia juga melihat bagaimana Chanyeol berusaha menenangkan Jiwon yang masih terisak karena menangis.
"sedang apa? Kenapa berdiri disini? Masuklah. Kau bisa sakit karena kedinginan"
Tapi Baekhyun tidak menjawab. Ia hanya berjalan menghampiri Chanyeol dan mengambil alih Jiwon dari suaminya itu. Tanpa berkata apapun, Baekhyun langsung berlalu begitu saja, berjalan masuk ke dalam sambil menggendong Jiwon.
Chanyeol mendengus pelan. Sikap aneh istrinya kembali muncul. Tapi tidak ada yang bisa Chanyeol lakukan selain mengikuti Baekhyun dan berjalan di belakangnya.
Kemudian mereka sampai di kamar mereka. Baekhyun yang melihat kamarnya sedikit berantakan karena beberapa buku bergambar milik dua putranya tergeletak di lantai langsung mencoba untuk merapikannya tapi kemudian Chanyeol dengan sigap mencegahnya.
"tidak usah. Istirahatlah. Biar aku yang membereskan" ucapnya seraya membawa Baekhyun menaiki tempat tidur. Dan Baekhyun hanya menurut tanpa banyak berkata.
Baekhyun berbaring dengan Jiwon yang berada di sebelahnya. Chanyeol mengambil selimut dan menutupi tubuh keduanya lalu mengecup kepala mereka bergantian.
"istirahatlah" kemudian ia bangkit dan beranjak meninggalkan kamarnya.
Sampai di lantai dasar, Chanyeol langsung duduk menyender dan menghela nafas panjang menatap langit-langit ruangan. Di ambilnya sebotol air mineral yang sudah ia sediakan di atas meja sebelumnya lalu meneguknya.
Tidak ada yang di pikirkannya pada saat ini kecuali keadaan istrinya. Sikap Baekhyun tadi benar-benar membuat Chanyeol khawatir dan ia tidak mungkin terus berdiam diri melihat sikap Baekhyun.
Di ambilnya ponsel yang sempat ia tinggalkan di atas meja. Lalu Chanyeol mulai mengirim pesan ke seseorang. Dan setelah selesai pria itu kemudian beranjak kembali ke kamar untuk mengambil jaket tebal dan kunci mobil.
Tapi sebelum pergi, Chanyeol kembali memperhatikan orang tersayang yang berada disana. Timbul senyuman kecil dan tatapan hangat dari wajah Chanyeol. Dan pria itu kembali mengecup kepala Baekhyun cukup lama.
"aku akan membawanya kembali "
.
we love you, hyung...
.
"dia tidak mau, bahkan dia ingin bayi itu di gugurkan"
.
"Taehyung jangan dulu berkunjung ke rumah ayah"
.
"ibu menyayangi kalian bertiga"
"bagaimana dengan Taehyung-hyung?"
.
.
"tinggalah dengan ayahmu dan pergi dari sini!"
.
Taehyung membuka lebar matanya. Ia melihat ke sekeliling, Keadaan ruangan masih gelap dan hanya di terangi cahaya temaram dari lampu pijar.
Terasa peluh mengalir di dahinya. Mimpi buruk itu datang lagi. Selalu datang ketika ia sedang tertidur di malam hari. Membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya dan tangannya pun tanpa sadar sudah mencengkeram sprei ranjang rumah sakit.
Taehyung mencoba mengambil nafas dalam-dalam. Tapi yang ia rasakan justru rasa sesak bahkan dadanya terasa sangat sakit hingga membuat ia tak sadar menekan dadanya dan membuatnya hampir meringis kesakitan.
Tapi rasa sakit itu tidak berselang lama. Seolah hanya angin lalu dan bahkan sakit itu tidak terasa di detik selanjutnya. Dan Taehyung mulai mengambil nafas perlahan-lahan.
Setelah nafasnya mulai lancar ia mencoba merubah posisi tidurnya menjadi menghadap ke langit-langit kamar. Ia mencoba menenangkan dirinya sebisa mungkin dari mimpi yang dirasanya barusan. Mungkin bagi orang lain ini bukanlah mimpi buruk. Tapi ini adalah mimpi yang menyakitkan.
Rasa sakit di dadanya terus muncul. Terutama saat wajah ibunya yang menatapnya penuh kebencian muncul dalam mimpinya dan rasa bersalahnya kembali menyeruak mengisi pikirannya.
Taehyung melihat pergelangan tangannya yang sudah terbebas dari jarum infus beberapa jam yang lalu. Dan salah satu perawat -atas ijin dokter yang menanganinya- juga mengatakan bahwa besok ia boleh meninggalkan rumah sakit.
Tapi jika ia sudah keluar dari rumah sakit dan kembali ke kotanya, dimana ia akan tinggal nanti? Apakah akan terus berada di rumah Jimin dan bekerja di tempat bibi Kim setelah beberapa hari tidak hadir bekerja? Atau kembali ke rumah orang tuanya yang sudah jelas-jelas memintanya untuk tidak kembali ke rumah?
Taehyung memejam matanya erat cukup lama, hingga bulir air mata keluar dari sudut matanya.
"maaf...maafkan aku..."
.
we love you, hyung...
.
Chanyeol tiba di ibukota setelah hampir 4 jam berkendara di tengah malam. Setibanya disana ia segera mencari informasi keberadaan rumah sakit tempat dimana Taehyung di temukan dan di rawat.
Pria itu tidak melepaskan pandangannya dari ponsel dan jalan sekitar tidak peduli dengan tubuh dan pandangan mata yang sudah lelah. Ia hanya ingin segera ke tempat tujuan dan membawa pulang puteranya. Setelah setengah jam berkeliling, Chanyeol menemukan rumah sakit yang di cari. Pria itu segera memarkirkan mobilnya dan keluar menuju gedung rumah sakit.
"ada yang bisa kami bantu tu-"
"aku mencari anak laki-laki bernama Taehyung, Park Taehyung" sela Chanyeol cepat tanpa menunggu resepsionis selesai berbicara.
Resepsionis itu langsung gugup ketika mendapat tatapan intens dari pria bertubuh tinggi di hadapannya. Ia segera mencari daftar nama pasien yang di rawat di rumah sakit.
"Park Taehyung, di bawah pengawasan dokter Kim Seokjin, dia berada di lantai 3 nomor 312-"
"terimakasih" Chanyeol segera menuju ke tempat yang di beritahu oleh resepsionis.
Tapi resepsionis itu langsung berjalan menyusul Chanyeol dan menghentikannya sebelum pria itu masuk ke dalam lift.
"Mohon maaf tuan. Saya berhadapan dengan siapa? Maafkan kami, jam besuk sudah habis. Anda harus menunggu besok jika anda ingin menjenguk"
Chanyeol berhenti melangkah lalu berbalik menghadap si resepsionis itu. "saya ayahnya, dan saya ingin menjemput putraku sekarang"
"tapi anda belum bertemu dengan dokternya"
Tanpa banyak bicara, Chanyeol segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan bukti pesan yang ia kirim dengan salah satu dokter.
"saya sudah berbicara dengan dokter Seokjin juga dengan dokter Yixing"
Resepsionis itu terdiam dan melihat bukti pesan yang si tunjukkan oleh Chanyeol. Meski ada perasaan ragu, resepsionis itu memanggil salah satu perawat yang berada disana lalu memintanya untuk mengantar Chanyeol ke salah satu ruangan. Dan akhirnya resepsionis itu melangkah mundur dan memberi hormat pada Chanyeol.
Dan akhirnya pria itu segera melangkah masuk ke dalam lift yang saat itu dalam keadaan terbuka bersama salah satu perawat.
Pergerakan lift dirasanya sangat lambat hingga Chanyeol terus mengetuk ujung kaki ke lantai. ketika terdengar suara denting dan baru beberapa senti pintu itu terbuka, Chanyeol langsung memaksa keluar dan berjalan cepat melewati lorong rumah sakit. Bahkan mengabaikan perawat yang berjaga disana. Dan perawat yang mengantarkan terpaksa berlari kecil karena sulit menyeimbangi langkah kaki Chanyeol.
Di lihatnya satu persatu nomor kamar inap yang ia temui hingga akhirnya perawat yang mengantarnya berhenti di salah satu kamar dengan nomor yang sesuai disebutkan oleh resepsionis barusan. Dan jaraknya pun cukup jauh dari letak lift berada.
Perawat itu membukakan pintu dengan gerakan pelan, tahu kalau pasien di dalam sedang beristirahat.
"silahkan masuk tuan"
Chanyeol melangkah masuk kedalam. Ruangan dengan cahaya minim langsung menyambut pandangannya sebelum perawat itu menyalakan lampu dengan cahaya lebih terang tapi tidak menyilaukan mata.
Pria itu mengikuti kemana perawat itu berjalan. Dan di ruangan itu hanya ada satu tirai yang menutupi tempat tidur yang Chanyeol duga disanalah puteranya beristirahat.
Entah kenapa perasaan sebelumnya yang menggebu ingin segera bertemu sekarang justru timbul perasaan gugup dan khawatir. Karena sudah cukup lama ia tidak bertemu Taehyung dan baru hari ini dia mencarinya.
Bagaimana jika anak itu marah karena tidak ada yang peduli padanya selama ia pergi?
Chanyeol menelan ludah. Ia merasa bahwa ia kini tidak begitu dekat dengan anak tirinya itu. Dan bagaimana cara meyakinkannya nanti?
Chanyeol berusaha yakin, dia akan berusaha untuk berbicara, melakukan pendekatan dan pasti anak itu akan mengerti. Pria itu mengangguk penuh yakin.
"anak anda kami rawat dengan baik. Dia juga memiliki kondisi tubuh yang bagus sehingga tidak memerlukan waktu lama dalam pemulihan" gumam perawat itu pada Chanyeol dan tersenyum.
Lalu perawat itu membuka tirainya perlahan agar pasiennya tidak terbangun. Chanyeol melihat gerakan tirai itu sampai tirai itu terbuka dan memperlihatkan tempat tidur kosong di dalamnya.
Tunggu. Tempat tidur kosong?
Chanyeol membelalakkan matanya. Dimana Taehyung? Di hadapannya hanya ada kasur kosong. Hanya ada guling yang di tutupi selimut.
"tunggu sebentar, mungkin dia ke kamar kecil" perawat itu berjalan ke tempat lain dimana letak kamar mandi berada.
Tapi setelah di tengok tidak ada siapa-siapa di dalam kamar mandi. Wajah perawat itu mulai pucat. Ia segera bergegas keluar dan meninggalkan Chanyeol yang masih berdiri di dalam untuk mencari informasi.
"dimana pasien disana?"
"tentu saja berada disana"
"tidak ada siapa-siapa disana"
"jangan bercanda. Kau pikir selama ini kita merawat hantu?!"
"aku tidak bercanda!"
Suara keributan antar perawat yang berjaga terdengar dari luar sana. Chanyeol memejamkan matanya sejenak dan mengambil nafas dalam-dalam. Padahal hanya beberapa langkah lagi untuk bertemu dengan puteranya. Tapi kenapa seolah sesuatu menghalangi.
Pria itu mengepalkan tangannya erat-erat. Lalu ia bergegas keluar lalu berjalan ke arah lain dimana para perawat itu berada.
Langkahnya berjalan cepat menyusuri tiap lorong rumah sakit. Menoleh dan melihat ke setiap sudut. Tapi anak itu tidak juga di temukan. Dan hanya ada satu tempat yang dapat membantu mencari putranya.
"Dimana ruang kontrol cctv?" tanya Chanyeol pada salah satu perawat di ruang lain.
"maaf itu ruang privasi tuan. Anda-"
"puteraku dirawat disini dan dia hilang!" sentak Chanyeol pada perawat itu hingga menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
Dengan perasaan takut, perawat itu langsung menurut dan mengantarkan Chanyeol ke salah satu tempat dan letaknya pun cukup jauh dari tempat sebelumnya mereka bertemu.
Setibanya di salah satu ruangan, Chanyeol dan perawqt itu langsung masuk ke dalam. Staff dan security yang berada disana langsung menoleh dan memandang Chanyeol curiga.
"apa yang-"
"salah satu pasien kita hilang, tolong cari dimana keberadaannya sekarang" sergah perawat itu memberi tahu.
Staf itu masih menatap dingin dan bersikap segan ketika menatap beberapa layar di hadapannya. Bagaimana tidak, siapa yang jengkel ketika seseorang masuk tanpa ijinnya.
Namun sikap staf itu seakan sengaja menunda-nunda dan membuat Chanyeol terpancing lalu pria itu langsung mengambil alih tempat tersebut.
"tak bisakah kau menunjukkan sopan santunmu di tempat orang lain?!" ucap staff itu dengan nada tinggi.
"tidak bisakah kau bersikap profesional ketika seseorang membutuhkan bantuan?!" balas Chanyeol tak mau kalah. "apa sulitnya langsung melacak daripada hanya duduk santai dan menikmati hasil gajimu di awal bulan"
Staff itu hampir terpancing namun segera di tenangkan oleh security yang menemaninya.
"kau bahkan tidak tahu bagaimana cara-"
'klik'
Staff itu langsung terdiam tertegun. Melihat bagaimana lincahnya Chanyeol mengoperasikan sistem keamanan rumah sakit.
Perlu di ketahui, Chanyeol merupakan salah satu kandidat karyawan yang di promosikan untuk menggantikan posisi manajer IT perusahaan yang akan memasuki masa pensiun. Kecerdasan dan kerja keras menguasai perangkat lunak membuatnya di lirik petinggi perusahaan. Dan akhirnya ia lolos setelah berbulan-bulan menjalani test dan masa training.
Ketiga karyawan rumah sakit itu hanya diam berdiri di belakang Chanyeol dan memperhatikan layar monitor. Hingga salah satu dari mereka menyadari sesuatu di layar.
"tunggu, perbesar ini" tunjuknya pada layar ke tujuh.
Chanyeol memperbesar layar tersebut dan ikut memperhatikan sesuatu.
Disana layar menunjukkan keberadaan suasana di atas gedung rumah sakit. Sangat terlihat gambar langit,lampu-lampu bangunan yang lebih kecil dan menara.
Chanyeol menajamkan penglihatan nya pada layar. Tampak bayangan seseorang dengan berpakaian pakaian rumah sakit berjalan pelan. Orang itu berjalan pelan menuju pinggiran atas gedung.
"apakah pintu atap sudah di kunci?" tanya perawat itu pada security.
"aku tidak mengawasi bagian itu. Tapi sepertinya ruangan itu tidak pernah di kunci"
Mendengar jawaban tersebut membuat Chanyeol menoleh dan menatap tajam. Pria itu langsung bangkit dan bergegas keluar. Kaki jenjangnya melangkah cepat menuju salah satu tempat. Walau ini adalah pertama kalinya Chanyeol berada di rumah sakit ini, ia seakan tahu setiap sisi dan letak ruangan yang ada di rumah sakit.
Dan soal seseorang yang berada di atas atap tadi, Chanyeol belum yakin bahkan tidak ingin menduga bahwa itu adalah Taehyung. Tapi melihat postur tubuh dan cara jalannya mengingatkan pada putra sulungnya. Lagipula apa yang dilakukan pasien di atas gedung rumah sakit?
Tiba di tangga darurat, Chanyeol melangkah cepat menuju lantai teratas gedung rumah sakit. Pria itu semakin mempercepat langkah kakinya tidak mempedulikan rasa sakit yang timbul di area betisnya.
Pintu terakir mulai terlihat. Pria itu semakin cepat menaiki anak tangga lalu membuka pintu itu ketika sudah ada di hadapannya.
Angin malam langsung menerpa ketika Chanyeol berdiri di atas gedung. Cahaya lampu bangunan di bawah ikut menunjukkan keindahannya. Tapi Chanyeol tidak mudah terpana akan pemandangan malam. Ia segera berlari ke tempat yang ia lihat di layar cctv.
Gedung rumah sakit ini sangat luas. Dan banyak benda-benda berukuran besar berada di atas atap hingga mempersulit penglihatan Chanyeol. Namun pria itu tidak menyerah dan terus berlari dan mencari.
Hingga langkahnya terhenti ketika melihat seseorang berdiri di ujung atap. Sesuai dengan apa yang di lihat di layar. Orang itu menggunakan pakaian rumah sakit dan posisi sudah berada di ujung atap gedung.
Chanyeol segera berjalan maju saat orang itu mengangkat kakinya untuk menapak di pinggiran atap gedung. Langkah kakinya semakin cepat untuk mendekati pasien itu.
Semakin mendekat, sosok perawakan pasien itu semakin terlihat jelas. Bahkan sosok itu tampak tidak asing di mata Chanyeol. Ada rasa ingin berteriak memanggilnya, tapi sesuatu seakan menahannya.
Pasien itu mulai terlihat membentangkan kedua tangannya membuat Chanyeol melebarkan matanya dan mulai berlari lebih cepat.
'brak!'
"tuan!"
Suara dari kejauhan menarik perhatian pasien yang berdiri di ujung atap gedung dan membuatnya menoleh ke belakang. Tapi tubuhnya yang lemah dan angin malam yang menghembus cukup kencang membuat tubuhnya kehilangan kendali. Kakinya bergerak hendak menapak ke sisi lain namun ia tidak menyadari bahwa salah satu kakinya berada di atas udara.
Sisi lain, pasien itu melihat ke arah lain. Dan ia melihat seseorang yang ia kenal berlari menghampirinya. Matanya terbelalak namun tubuhnya terlanjur goyah ke belakang.
"a...yah"
.
.
t
.
b
.
c
.
Hay semua...
apa kabar? moga kalian gak terkejut dan gak naro dendam karena aku hiatus gak bilang-bilang. hehehe
aku benar-benar minta maaf karena udah hilang tanpa kabar. karena di rl aku benar-benar sibuk sama pekerjaan, jadi aku harus berangkat pagi dan pulang malam dalam beberapa bulan ini, dan sekarang kebetulan tugas pekerjaan sedikit longgar. Aku jadi keingetan sama hutangku buat lanjutin ff ini. syukur karena masih ada ide walauu ala kadar. aku harap semoga kalian suka dan gak marah kalau cerita ini jauh dari ekspektasi kalian semua.
jika ada pertanyaan boleh di ajukan, tapi dengan bahasa yang baik ya. hehehe
baiklah sudah cukup basa basinya. selamat menikmati ceritanya.
sampai jumpa di chapter selanjutnya ^_^
