Some Secrets

Summary

Do Kyungsoo. Seseorang yang paling bahagia hidupnya, sebelum ia kehilangan noona tersayangnya. New York, mempertemukan ia pada seseorang yang mampu menyembuhkan keterpurukannya. Tapi, siapakah Kim Jongin?

Rate : M

Cast : KAISOO

Genre : Romance, Hurt

YAOI, Boys Love

Don't Like, Don't Read

Happy Reading

Chapter 10

.

.

.

.

.

[REVIOUS]

aku mendengar langkah kakinya yang semakin menjauhiku dan menutup pintu ruanganku,

"AAAAHHHHHH!" aku berteriak frustasi kemudian menangis sejadi-jadinya diatas kasurku. Insungie hyung mendekatiku dan merengkuh tubuhku,

"aku mencintainyaaaaaaaaa hikss... aku mencintainyaa... tapi kenapa takdirnya begini hyunggg... aku sungguh mencintainyaaa...hiks..hikss..." teriakku sambil terus menangis didalam pelukannya.

.

.

.

.

Some Secrets

.

.

.

.

.

Mungkin menjadi waktu yang cukup berat bagi Insungie Hyung menemaniku yang hampir tak pernah mengerti apa yang dia katakan. Pikiranku seperti kosong dan jiwaku terasa hilang. Hyung selalu berusaha membantuku menyelesaikan kasus noona, setiap hari, ia menghabiskan waktunya untuk itu. Dia juga mungkin sudah jengah denganku yang sesekali diam saat ia ajak bicara, meneteskan airmata tiba-tiba, atau bahkan memarahinya tanpa alasan. Cukup sulit memulihkan ku lagi untuk menjadi Kyungsoo yang seperti biasanya, tapi Insungie Hyung, ia selalu setia disisiku, menjadi hyung terbaikku, sampai aku bisa kembali menerima kenyataan, walau nyatanya hatiku berkata tidak.

"Heenim ternyata punya banyak kasus, Kyung, dan itu kasus pembunuhan juga" ujarnya,

"apa dia seorang psikopat?"

"entahlah, tapi yang jelas, banyak yang ingin dia tertangkap juga. Kemarin pemilik perusahaan meiwa menghubungiku dan mengajak bekerja sama. Pengacaranya adalah sahabatku kyung"

"Tapi, hyung, bukannya tidak ada pengacara Korea yang mau menyelesaikan kasus ini karena appanya adalah komjen kepolisian Korea?"

"Bukan tidak ada, Kyung. Tapi hanya satu dari seribu yang mau rela meneruskan kasus ini yang nyatanya sudah ditutup kasusnya."

"iyasih, dan kau adalah satu dari seribu orang itu" ucapku sambil tersenyum manis membuatnya ikut tersenyum juga ke arahku,

"sepertinya banyak kasus dia yang juga tidak diselesaikan ke jalur hukum, mungkin dari pihak sang korban tidak menyanggupinya untuk menuntut Heenim" jelasnya membuat ku mengangguk ria,

"sekretaris Kim juga bilang begitu padaku, makanya, malah appa yang jadi sasaran karena terus berupaya mau melanjutkan kasus ini"

"sementara meiwa company ini adalah perusahaan besar, Kyung, mana mungkin mereka tidak bisa mengeluarkan uang habis-habisan untuk membayar pengacara dan menyelesaikan kasus mereka, ya, kan?"

"hm, tapi aku tidak mau bekerja sama dengan siapa-siapa hyung. Aku hanya ingin dia menerima balasan atas apa yang sudah dia lakukan pada noona" jawabku

"ne, hyung juga tidak akan bekerja sama dengan siapa-siapa. Bukti yang kita punya juga sudah sangat kuat, hanya tinggal menyeretnya ke pengadilan" ucapnya kemudian tersenyum ke arahku.

"gomawo hyung sudah berjalan sejauh ini untuk kasus noona, aku tidak tahu harus bagaimana jika tidak ada hyung"

"hehehehe, jangan berterima kasih dulu, selangkah lagi kasus kita selesai, baru kau boleh berterima kasih padaku heheheh" ucapnya sambil mengusak rambutku, "yasudah, kita cari makan dulu, perut hyung sudah lapar, kau tidak dengar daritadi ada yang bernyanyi?"

Aku tertawa bersamanya kemudian bergegas keluar dari kantornya dan menuju mobilnya.

Insungie hyung menghentikan mobilnya didepan sebuah toki roti sebelum sampai pada restoran tujuan, roti memang selalu jadi favorit dia untuk persediaan cemilan dirumahnya, hanya saja... sepertinya dia tidak tahu bahwa toko roti hanya mengingatkanku pada seseorang. Iya, sudah hampir dua bulan lamanya aku berdiri tanpanya dan sebentar lagi liburan musim panas berakhir, itu artinya aku harus kembali ke New York dan melanjutkan kuliahku lagi, dan tentu saja, bertemu dengan Jongin. Aku mengatakan padanya untuk tidak saling mengenal lagi, tapi aku sendiri? Aku bahkan tidak bisa melupakannya walau dalam sedetik saja. Aku tidak tahu, apa dendam menguasai diriku? Jongin hanyalah anggota keluarga pembunuh bagiku. Dan seburuk-buruknya prasangka ku, mungkin benar bahwa Jongin bekerja sama dengan Heenim untuk menghancurkan keluargaku. Entahlah, mungkin sudah waktunya aku melupakan dia.

Aku mencuci tanganku di depan wastafel sebuah restoran dan menatap wajah senduku dicermin, aku pikir kemarin benarlah masa-masa yang cukup sulit bagiku. Terlihat dari lingkar mataku yang mulai menghitam, dan warna kulitku yang semakin pucat.

BRUKK!

Aku menabrak tubuh seorang pria saat membalikkan tubuhku dari depan cermin, aku seperti mengenali aroma tubuhnya, bahkan bagaimana bentuk tubuhnya saat menggapai tubuhku yang hampir terjatuh. Aku menatap matanya sebentar tanpa sadar dan dengan segera menjauhkan tubuhku saat aku mulai sadar bahwa pria itu adalah orang yang setiap hari ku pikirkan. Ia tidak mengatakan apa-apa, dan tidak sedikitpun menahan atau mengejarku saat akhirnya aku langsung bergegas pergi darinya. Aku menghampiri Insungie hyung dengan wajah yang cukup tegang membuatnya yang sedang mengaduk makanan heran melihatku. Jika bertanya pada diriku sendiri, akupun tidak tahu apa yang membuatku seperti ini. Aku yakin, jika Jongin menahanku, mungkin sekarang aku sudah menangis karena bertengkar dengannya. Hati dan pikiranku lagi-lagi bertengkar. Aku mendudukkan tubuhku dikursi makan didepan Insungie Hyung,

"Setelah ini aku mau mengajakmu refreshing Kyung, sudah cukup pusing kan dengan kasus noona mu?" tanya Hyung mencairkan suasana setelah melihat wajahku yang tiba-tiba berubah menjadi dingin. Aku berusaha keras menanggapi perkataannya kemudian mengiyakan apa yang dia bilang.

Maka setelah makan, kami langsung bergegas pergi ke sebuah taman bermain untuk jajan eskrim bersama.

.

.

Jongin POV

.

.

.

Aku hampir gila karena terus merindukan seseorang selama dua bulan terakhir ini. Bukan berarti rindu karena tidak melihat wajahnya, tapi rindu karena tidak bisa menjadi satu lagi dengannya, sungguh, itu hal paling menyakitkan bagiku dibandingkan diusir dan diasingkan oleh keluarga sendiri.

Setiap hari aku selalu melihat wajahnya, mengikutinya kemanapun dia pergi tanpa dia tahu. Aku bahkan mengkhianati keluarga ku sendiri, tapi kenyataannya memang kesalahan ada pada hyung ku sendiri, kan? Aku berusaha keras mencari tahu berbagai bukti mengenai kematian noonanya, setiap hari Insungie hyung memerintahkanku mencari bukti yang 'ini' atau bukti yang 'itu', merekam video yang 'ini' atau yang 'itu', mewawancari Heenim hyung secara diam-diam atau bahkan mencuri sidik jarinya. Disetiap sidang aku hadir, bahkan tanpa sepengetahuan Heenim Hyung. Dia tahu bahwa yang menuntutnya adalah temanku, tapi dia tidak tahu bahwa aku menjebaknya juga secara diam-diam. Aku semakin tahu bahwa Heenim Hyung bersalah karena Hyuk Jae semakin panik mencari-cari pengacara terbaik, bukankah itu menjadi suatu celah bagiku untuk menunjukkan bahwa Heenim hyung memang pelakunya? Aku terus berusaha membantu Kyungsoo tanpa dia tahu, aku bahkan melarang Insungie Hyung mengatakan yang sebenarnya pada Kyungsoo mengenai status hubunganku dengan Heenim Hyung. Dalam keadaan ini, memang hanya Kyungsoo yang belum tahu apa-apa, eomma dan appanya bahkan sudah bertemu denganku, dan mereka sudah mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kalian tahu? Kemanapun Kyungsoo ada, aku pasti ada, hanya saja dia tidak mengetahuinya. Aku benar-benar menyesal membuat syndromnya semakin parah, bahkan selalu muncul setiap malam, bagaimana aku tidak tahu? Setiap kali gejala syndromnya muncul tengah malam, aku yang selalu mendekap dan menenangkannya kembali. Seperti yang pernah aku herankan sebelumnya, Kyungsoo selalu terlihat baik-baik saja walau sebelum tidur gejala syndromnya muncul, itu karena dia memang tidak menyadari apa yang terjadi pada dirinya, dan tentu saja, dia tidak akan ingat siapa yang mendekapnya setiap malam. Saat-saat itulah saat paling bahagia untukku ditengah kerenggangan hubunganku dengannya, mungkin dia menganggap hubungan kami sudah berakhir, tapi aku? aku akan selalu memperjuangkannya, memperjuangkan hubungan ini.

.

.

.

"kau dimana?" tanya Insungie hyung melalui telepon.

"tentu saja disekitarmu"

"kau jadi bicara pada Kyungsoo?" tanyanya pelan.

"aku gugup, hyung"

"pali, aku akan meninggalkannya sendirian ditaman!"

Ucapnya dengan sedikit membentak kemudian langsung menutup panggilannya. Aku bisa melihat Insungie Hyung berpamitan pada Kyungsoo kemudian pergi, entah alasan apa yang dia buat untuk meninggalkan Kyungsoo sebentar. Aku menarik nafasku panjang sebelum akhirnya memberanikan tubuhku menghampiri Kyungsoo. Jujur saja, walaupun selalu melihatnya, bahkan setiap malam mendekap tubuhnya, aku sudah tau bagaimana resiko yang harus ku terima saat ia melihat wajahku dihadapannya.

Kyungsoo membelalakkan matanya saat aku berdiri didepannya,

"siapa kau?" tanyanya dengan dingin setelah cukup lama terdiam melihat kehadiranku. Aku tak menjawab pertanyaannya,

"how are you, Kyung?" aku bersikap seolah-olah lama tak bertemu dengannya, ia kemudian berdecih,

"i'm fine without you."

"and i'm fine with you, Kyung"

Aku bisa melihat Kyungsoo menitikkan setetes airmatanya kemudian membangunkan tubuhnya dan pergi dariku. Aku menarik tangannya dan menahannya pergi,

"kau mau apa Jongin-ssi?"

"apa kau mempercayaiku?"

"ne, tapi dulu. bagaimana bisa sekarang aku mempercayaimu?"

"kau mencintaiku?"

"iya, tapi aku rasa dendamku lebih besar dari rasa cintaku, mianhae"

Kyungsoo melepaskan genggaman tanganku sebelum akhirnya meneteskan lagi airmatanya lagi, kemudian... pergi.

Aku mengerti mengapa Kyungsoo pada akhirnya harus menjauhiku. Bukan tidak menyakitkan mengetahui kekasihmu sendiri adalah bagian dari dendammu,bukan? walaupun kenyataannya bukan seperti itu. Tapi sebisa mungkin aku berusaha memahami bagaimana diposisi dia, mungkin sudah banyak prasangka buruk dibenaknya mengenai ku, dan aku tau, dia hanya perlu waktu. Syndrom PTSD pada dirinya juga yang mempengaruhi mengapa Kyungsoo seperti itu, penderita PTSD tidak suka atau bahkan bahkan membenci segala sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan traumanya. Bukannya aku sengaja menyembunyikan segalanya dari Kyungsoo, lagipula mana mungkin aku sanggup seperti ini terus, tapi aku pikir aku perlu waktu yang tepat mengatakan padanya, setidaknya setelah sidang kasus noonanya selesai, aku pikir mood dan rasa dendamnya sudah membaik disaat itu.

Aku menghela nafasku panjang menatapi Kyungsoo yang terus berjalan menjauhiku, Insungie Hyung menghampiriku dari belakang dengan menepuk pundakku.

"gwaenchana..." ucapnya menenangkan,

"ne... aku akan terus berusaha" jawabku sambil tersenyum tipis.

.

.

.

Kyungsoo POV

.

.

Besok adalah hari dimana sidang memutuskan kebersalahan sang pelaku pembunuhan atas kematian Taeyeon noona. Ini bahkan sudah sidang ketiga dan akan menjadi sidang terakhir yang akan memutuskan siapa yang bersalah. Aku harap begitu. Harusnya aku bahagia, tapi kehadiran Jongin membuat hatiku semakin tidak karuan.

Apa aku orang yang munafik? Ayolah, aku sudah bilang bahwa dendamku lebih besar daripada rasa cintaku. Tapi apa Jongin bersalah? Tentu saja hatiku mengatakan tidak, tapi pikiranku kukuh mengatakan bahwa ada sesuatu dibalik kehadiran Jongin dalam hidupku, dan prasangka buruk terus membayangi pikiranku. Aku tidak tahu apa alasannya, aku bahkan mencoba mengelak, tapi tidak bisa.

Aku pergi ke rumah Insungie Hyung untuk mempersiapkan diri menghadapi sidang besok pagi. Aku yang sedang menunggu bis datang sambil memainkan handphoneku tiba- tiba merasakan tubuhku lemas dan pandanganku gelap. Aku kembali dapat melihat pandanganku setelah berapa menit berlalu, dan rasanya seperti bangun dari tidur, pandanganku berubah dan agak sedikit buram, aku melihat segerombolan pria sedang asik tertawa bersama, mungkin empat atau lima orang, sekarang aku malah merasa sedang bermimpi. Hingga akhirnya, aku merasa bahwa aku kini terduduk dan tidak bisa teriak saat aku mencoba berteriak, bahkan tubuhku tak bisa bergerak sedikitpun, merasakan hal itu, aku mulai sadar sepenuhnya dan membelalakkan mataku, mulutku tertutup dan terikat oleh sebuah saputangan, tubuh dan tanganku terikat oleh tali tambang di sebuah kursi, aku ternyata sedang terduduk lemas dan pria yang ada dalam pandanganku, ternyata itu nyata. Mereka menengok ke arahku disaat aku sedang menggeliatkan tubuhku dan membuat kursi yang ku duduki menghasilkan bunyi. Aku terus berteriak tapi tak ada gunanya, aku menangis dan terus bergerak membebaskan tubuhku, tapi sia-sia.

Seseorang menarik kepalaku dari belakang kemudian ia menampakkan tubuhnya dihadapanku.

"Hai! Ingat aku?!"

Mataku semakin memerah dan sepertinya akan mendidih karena melihat sosok tersebut ada dihadapanku, aku bahkan terus melototinya tapi dia hanya tertawa,

"kau pikir kau berhadapan dengan siapa? menjebloskanku kedalam penjara juga tidak ada gunanya" ia tertawa licik sebelum akhirnya membuka ikatan saputangan yang menghalangi bibirku. Ia mengangkat daguku dan menatapku dengan tajam,

"mau kau yang menghentikan kasusnya? atau aku yang menghentikan detak jantungmu?"

Aku semakin menatapnya tajam dengan ancaman bodoh itu,

"Cih! Aku bahkan rela mati untuk menyelesaikan kasus ini!" jawabku dengan tegas didepan matanya

Dia tertawa lagi, "kau pikir aku tidak tahu rencanamu? Bahkan menggunakan adik tiriku untuk menyelidiki semuanya? Menjijikan!"

Aku menatapnya bingung dan memutar bola mataku, apa maksudnya?

Tiba- tiba, gerombolan pria yang tadi kulihat datang mendekat ke arahku dan menyeret seseorang,

"JONGIN-AAAHHH!"teriakku secara tiba-tiba mendapati tubuh Jongin tak berdaya.

Tanpa sadar, aku menangis dan menumpahkan airmataku sejadi-jadinya, aku berteriak frustasi menyebut nama Jongin. Aku melihat pipinya berlumur darah dan banyak terkena goresan, bahkan tubuhnya sudah sangat membiru karena terikat dengan kencang. Matanya sayu dan hampir tertutup, pun dengar bibirnya yang sudah mengeluarkan darah,

"Hyung... lepaskan Kyungsoo..." Jongin memohon dengan suara seraknya menatap mata hyungnya dengan nanar.

"Hyung, aku mohon... jangan sentuh Kyungsoo. Jangan sedikitpun melukainya..." Jongin terus memohon dengan tubuhnya yang semakin melemah, tapi Heenim terus tersenyum puas melihat keadaan yang ada didepan matanya,

"HYUNGG! LEPASKAN KYUNGSOOOO!" Jongin akhirnya berteriak membentak dengan sekuat tenaganya, tapi aku tahu, dia sudah tak berdaya lagi.

"KAU MEMBELA DIA ATAU MEMBELA HYUNGMU?!" teriaknya sambil terus menendang tubuh Jongin, suaraku bahkan hampir habis karena berteriak memohon pada siapapun untuk berhenti menyakiti Jongin.

"KAU BUKAN HYUNGKU! AKU TIDAK PUNYA SEORANG KAKAK PEMBUNUHHHH!" Jongin berteriak didepan wajah Heenim yang sedari tadi membungkuk menatap mata Jongin. Heenim hanya tertawa, ia kemudian mendekati tubuhku dan melepas ikatan tubuhku pada kursi kemudian menarik tubuhku dan menghempaskannya ke dekat tubuh Jongin. Aku dengan spontan memeluk tubuh Jongin kemudian memegang pipinya, aku menatap matanya sambil menangis, "jongin-aahh...hikss..." aku terisak didepan wajahnya.

"Oh ayolah! Aku sedang tidak ingin menonton drama!" Heenim sekarang mengejek sambil menendang punggungku membuatku berteriak kesakitan. Jongin melototi hyungnya sendiri, "HYUNGGGGG! SAKITI AKUUU! CUKUP SAKITI AKUUUU! JANGAN SAKITI KYUNGSOOO!"

"Cih! kau mencintainya? kalau begitu bujuk dia untuk pergi dan tidak ikut campur dengan urusanku" ucapnya dengan kasar,

"hyung... begitu kan aku memanggilmu dulu?" aku berucap lirih sambil menahan air mataku, ia diam menoleh ke arahku,

"bagaimana bisa noona mencintai orang sepertimu? cih!" ucapku membuatnya terdiam sejenak,

"YA! Kau tahu apa Kyungsoo-aah? Tidak usah ikut campur masalahku! KALIAN INGIN MATI BERSAMA DITANGANKU, EOH?" Heenim hyung menendangku lagi, kemudian mendekatkan tubuhnya ke arahku, ia menekan kedua pipiku dengan satu tangannya,

"kyungsoo-aahh, aku tidak akan membunuhmu, tenang saja... kasian eomma dan appamu akan kehilangan dua anaknya nanti" ucapnya kemudian tertawa kecil.

"biar seimbang, aku akan membunuh Jongin saja, otte? Kau kehilangan noonamu dan aku.. akan kehilangan adik tiriku" ia kembali tersenyum tipis sebelum akhirnya menendang tubuhku, lagi.

Aku menatap Jongin dengan nanar, tapi Jongin malah tersenyum. Aku mengusap lagi pipinya yang penuh luka dan darah,

"gwaenchana Kyung..." aku semakin menangis dan terisak melihat Jongin yang dengan kuatnya berkata baik-baik saja didepanku, sementara Heenim Hyung tertawa melihat kami,

"sudah? apa ingin mengucapkan selamat tinggal?" tanyanya sambil memainkan pistol yang ada ditangannya.

"aku tidak akan menyiksanya Kyungsoo-aah... hanya menarik pelatuk daaaaan... fyuuhh~~~ Jongin pergi dengan tenang" ucapnya tanpa sedikitpun merasa bersalah, bahkan ia terus tertawa. Ia kemudian menarik tubuh Jongin menjauh dari tubuhku kemudian meletakkan pistolnya tepat di pelipis Jongin,

"Jongin-aaaahhh... kau itu seharusnya sudah mati sejak kecil, kenapa masih hidup disini, eoh?" ucapnya membuatku semakin menangis dengan kencang, berteriak memanggil nama Jongin.

"HENTIKAAANNN! KUMOHON HENTIKAAANNN!" teriakku sambil menangis terisak,

Heenim hyung melirikku sebentar sambil tersenyum tipis, "ini waktunya, hm?"

.

.

.

.

.

.

.

.

To be continued

HAYO HAYO HAYOOOO!

Aku selalu ngasih clue untuk chapter-chapter selanjutnya loohhh, dan yang pasti tebak-tebakan wkwkwk

Jadi bacanya dicermati dan dipahami, halah :D

INI APASIH YA? GREGET PISAN SAMA HEENIM HYUNGNYA

BTW aku mau nanya deh, emang kalian ngga bosen apa romantis mulu?

Nyampe pada marah-marah gitu pas tiba-tiba konflik dateng wkwkwkw

Ini konflik udah lama aku simpen nunggu Kaisoonya balik dulu ke korea HAHAHA

THANK YOU GAISSS, LOVE!