AUTHOR'S NOTE:
Terima kasih aku ucapkan pada Readers yang masih tetap setia mereview fict pertama saya ini.
Girlinlightblue: memilih ichigo...hehehehe,aku terus usahakan mereka bersama.
Aya-na-rifai: aku selalu berusaha update secepet mungkin hehehe.
Ruki chan pippy: makasih atas pertanyaannya. Yg kumaksud adalah ciuman pertama Rukia UNTUK Ichigo, bukan ciuman yang pertama kali. Penekanannya adalah untuk Ichigo secara person, bukan pada ciuman hehehehe...
Yuu Ika: memilih ichigo juga ...hehehehe
Zheone Quin: pasti memilih Rukia hoeney dengan Ichigo kan? Hehehe, iya ini udah update, hampir jam 2 pagi nih dan besok berangkat lagi jam 5.30 pagi wkwkwkwkwkk...
Hwarang kurasaki: turut berdukacita dg pulsamu*hikhik* makasih author dibilang keren hehehee...pasti pilih Ichigo kan?
Riztichimaru: review kamu bikin hepi hehehehe..pst juga pilih Ichigo kan?
Jiya mukherjee: ga jelas sebenernya mereka ngapain di dalam gua. Author Cuma menulis kata-katanya, silakan Readers menginterpretasikan sendiri wkwwkwkwkkk*dibankai sama Jiya*
Kurosaki Kuchiki: makasih Fiki. Ini lagi dibikin yg ada Ichirukinya, karena chapter 1-7 kan mereka ga satu scene wkwkwkwkwkk...
So chand luph phlend: jadi malu baca review kamu xixixixixi..km juga pilih Ichigo kan..
Hiru20 chan: bener2 semangat! Ichiruki gitu kan ya? Hehehe
Kuroi no yuki: hahahahaha...Ichi itu emang bakat klepto! Byakun yg malang..halahhhh..author dodol wkwkwkwkwk..
Sarsawaray20: ngelakuin apa ya? Hehehe..interpretasi aja sendiri Say. Aku juga ga tega sm Byakun, tp ternyata banyak kok Fict yg bikin Rukia jd sama Byakun...Ichigo yg malang wkwkwkwwkk..
Haniya Kuchiki: makasihhhhhhhh atas review perchapternya. It really means a lot to me.
IN A VERGE OF A LOVE
Pairing: Ichiruki or byakuruki ..masih menimbang dan menimbang hehehehe..
Disclaimer: Bang Tite Kubo lah, siapa lagi. I only unleash my imagination.
Chapter 10
WHAT IS LOVING?
Seireitei. Kantor Divisi 10. Pagi hari.
Seperti biasa Matsumoto Rangiku duduk di depan meja kerjanya dengan setengah pusing. Sisa sake semalam masih tertinggal di kepalanya. Yah, tapi pagi ini sudah lumayanlah jika dibandingkan dengan minggu-minggu lalu. Lagipula ia tidak ingin terlalu mabuk untuk bisa mencerna kejadian yang kemarin terjadi di Soul Society. Ia harus tahu dan tidak boleh ketinggalan satu berita pun, apalagi cuma gara-gara terlalu mabuk.
Kira Izuru kondisinya tak jauh beda. Setengah hangover dan setengah pusing, tapi juga tidak mau melewatkan pertemuan pagi ini yang digelar Matsumoto di kantor Divisi 10. Jadi begitu bangun ia langsung minum tiga gelas teh pahit dan kabur dari kantor Divisi 3, setelah mengamanatkan banyak kerjaan ke bawah officer di bawahnya.
Hisagi Shuuhei paling sadar di antara mereka bertiga. Apa yang terjadi di pernikahan Kuchiki kemarin tidak mungkin membuatnya mabuk. Ia sadar dengan posisinya di divisi 9, bisa saja ia ditugaskan membantu pencarian Kuchiki Rukia. Mabuk cuma cari masalah di masa-masa seperti ini.
"Matsumoto, apa tidak apa-apa kita mengadakan pertemuan di sini?" tanya Kira sambil celingukan melihat sekeliling kantor.
Matsumoto menyeringai,"Aman! Hitsugaya Taicho tadi pagi dipanggil ke Divisi 1, sepertinya para Taicho akan membahas masalah Kurosaki dan Rukia."
Hisagi masih kurang percaya, "Kau yakin? Merinding kalau ada Hitsugaya lupertemuan gosip seperti ini."
Matsumoto mengibaskan tangannya," Jangan khawatir. Aman." Ia melirik Hisagi lalu mengerling sesaat,"Kau suka gosip juga kan Hisagi?"
Hisagi menyeringai. Siapa sih yang tidak suka gosip?
"Jadi...apa yang terjadi pada Kuchiki taicho?" tanya Kira.
"Kudengar ia mengunci diri sejak kemarin di Mansionnya. Seluruh pelayan disuruhnya pulang," jawab Matsumoto.
"Fiuhhh...ia pasti sangat kecewa," tukas Hisagi.
"Kecewa saja tidak cukup menggambarkan hatinya saat ini, pasti lebih dari itu," Matsumoto berkata dengan lirih.
"Kuchiki taicho bagaimanapun juga seorang bangsawan. Mana mungkin ia pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi padanya? Jika ia mau, ia bisa tunjuk satu wanita manapun di Soul Society ini dan wanita itu akan langsung datang bersimpuh di kakinya," ujar Kira.
"Masa?"
"Yah paling tidak, kau mau kan Rangiku?"
Matsumoto mendelik,"Kiraaaa...aku kan bukan wanita yang mudah tergoda harta," protesnya.
Kira terkekeh,"Oh ya aku lupa, kau memang tak tergoda harta, tapi tergoda ketampanan kan? Betul Hisagi?"
Wajah Matsumoto memerah. Kira sahabatnya, tentunya ia tahu persis perasaannya pada Hisagi. Kalau dia sedang mabuk kan Kira yang menemaninya. Pastilah satu dua kali ia pernah menyebut nama Hisagi. Atau malah tiap kali mabuk? Yare, yare... sake itu memang menjerumuskan.
Hisagi—tinggi, cukup tampan, meski agak cuek dan terlihat agak macho dengan tato di wajahnya—tersenyum tipis. Ia ada hati terhadap Matsumoto, tapi ia masih merasa bahwa Matsumoto belum benar-benar bisa melupakan cintanya pada Gin Ichimaru. Sabar sedikit lebih baik kan?
"Apa ia akan mengejar Rukia?" tanya Kira.
"Siapa?"
"Ya Kuchiki taicho lah."
"Pastinya. Rukia kan bukannya sengaja pergi."
Matsumoto menggeleng berkali-kali,"Tidak sengaja pergi kan bukan berarti tidak menginginkan pergi."
"Maksudmu?"
"Maksudku adalah...aku tinggal cukup lama di dunia dan sudah lama menyaksikan hubungan Rukia dengan anak itu," Matsumoto menghela nafas sebentar dan melanjutkan perkataannya,"Aku sering melihat bagaimana Rukia menatap Kurosaki kun dengan tatapan yang sulit dijelaskan, tapi aku yakin kalau kalian melihatnya kalian pasti mengerti. Kurosaki kun juga sudah berkali-kali menyelamatkan Rukia. Jika hanya karena persahabatan belaka, tidak mungkin ia segigih itu menyelamatkan Rukia."
"Begitu ya?" Kira mengangguk-angguk.
"Jadi salah kalau kalian menganggap Kurosaki adalah orang ketiga dalam hubungan Rukia dan Kuchiki taicho. Justru Kuchiki taicho lah orang ketiga dalam hubungan mereka," lanjut Matsumoto.
"Aku tak bisa bayangkan kalau aku yang berada di posisi Kuchiki taicho," ujar Kira lagi-lagi dengan nada lirih.
Hisagi mengepalkan tangannya,"Kalau aku dalam posisi Kuchiki taicho, aku pastikan kazeshini mematahkan kaki laki-laki yang merebutnya dariku!"
Matsumoto mendadak tersipu, hatinya jengah mendengar Hisagi ternyata tipe yang akan mempertahankan wanitanya meski dengan kekerasan.
"Tapi Kurosaki kun hanya mempertahankan apa yang ia rasa memang miliknya!" tegur Matsumoto setelah hilang rasa deg-degannya,"Aku kan sudah pulang, cinta di antara mereka itu sudah ada sejak lama. Sebelum Kuchiki taicho melamar Rukia. Lama sebelum itu."
"Aku yakin Kuchiki taicho akan merebut Rukia kembali," tukas Hisagi.
Kira yang orangnya lebih sentimentil menggeleng,"Tidak mudah. Aku rasa Kurosaki tidak akan menyerah begitu saja. Rasanya ini skandal paling gila yang pernah terjadi di Soul Society."
"Sejak bocah itu datang ada banyak hal yang terjadi kan?" Matsumoto tertawa dan membayangkan wajah Ichigo saat menghentikan pernikahan,"Harus aku akui bocah itu punya nyali."
"Cinta itu aneh, orang jadi nekad,"tukas Hisagi.
"Aku pegang Kurosaki,"sahut Matsumoto.
Kedua temannya terperangah.
"Yang kalah harus mentraktir sake tiap malam,"lanjut Matsumoto lagi.
"Whatttt?"teriak Hisagi dan Kira. Matsumoto tergelak melihat reaksi keduanya, dikibaskannya kedua tangannya ke udara seakan menganggap remeh keduanya,"Jangan bilang kalian takut kalah dengan wanita secantik aku ya?"
"I'm in. Aku pilih Kuchiki taicho,"desis Hisagi.
Kira tersenyum sinis,"Restuku untuk Kurosaki Ichigo."
Mereka bertiga tertawa dengan senang. Yah selalu ada sisi positif yang dapat diambil dari tiap kejadian kan—seburuk apapun itu, paling tidak itu berlaku untuk tiga sahabat itu.
...
...
Suatu tempat di Soul Society. Pagi hari.
Cahaya matahari mengintip masuk ke dalam pintu masuk gua. Cahayanya yang hangat menembus masuk dan menggelitik wajah mungil seorang gadis, memberikan kehangatan yang membangunkannya.
Rukia membuka matanya dengan malas. Ia tidak ingin bangun dari tidurnya. Mimpinya sangat indah. Mimpi yang tak pernah ia alami sebelumnya. Bagaimana tidak, ia memimpikan Ichigo. Indah sekali.
Mimpi?
Dalam mimpinya, Ichigo menghentikan pernikahannya dengan untaian kata-kata cinta yang mencengangkan, lalu pemuda itu membopongnya setengah terbang membawanya ke sebuah tempat...seperti sebuah gua di atas bukit.
Gua?
Rukia memicingkan matanya. Ia melihat bebatuan di atas kepalanya. Ia memang seperti berada dalam sebuah gua. Tangannya menyentuh tanah dan mendapati ada kain di sana. Kain?
Rukia tersentak dan segera bangkit dari tidurnya.
Shiromukonya sudah tak tentu arah, agak terbuka di bagian atas dan bagian lainnya. Tidak dibuka dengan paksa karena tidak sobek. Lalu kenapa ia berpakaian seperti ini?
Perlahan ingatan atas mimpinya kembali satu persatu. Ia dan Ichigo berciuman, saling merayu dan saling...
Wajahnya memerah mengingat sisa mimpinya. Cepat-cepat ia berdiri mencoba merapikan baju pengantinnya, tapi kemudian sebuah suara mengingatkan bahwa apa yang ia alami mungkin bukanlah mimpi belaka.
"Tidak perlu ditutupi, Rukia. Aku sudah lihat semuanya kok," Ichigo berdiri di mulut gua dengan seringai nakal.
Rukia melayangkan pandangannya dengan sangat malu. Ia tak berani melihat wajah Ichigo saat ini. Wajahnya memanas dan rasanya ia tak sanggup berdiri di depan Ichigo.
Ichigo mendekati Rukia dan menyentuh dagu gadis itu, memaksanya menatap wajahnya. Perlahan Rukia memandang wajah Ichigo—masih dengan rasa malu yang menjalar di seluruh tubuhnya.
"Kau menyesal, Rukia?"bisiknya.
Matanya yang coklat menatap mata violet Rukia, berusaha menjelajah isi hati gadis itu. Berusaha menemukan jawaban yang ia cari. Ia melihat mata indah Rukia membias malu.
"Apa kau menyesal bahwa malam pengantinmu tidak ditemani Byakuya, tapi olehku?"tanyanya lagi dengan nada nakal.
"Ichigo...baka!"Rukia mendengus sedikit kesal, tapi kemudian ia tersenyum. Manis sekali.
"Kau indah sekali, Rukia."
"Sudah berapa kali ya kau bilang begitu?"
"Satu kali, dua kali, sepuluh kali dan terus akan kukatakan sampai kau bosan mendengarnya."
"Baka. Sejak kapan kau jadi pintar merayu? Bukan seperti Ichigo yang kukenal," Rukia menjulurkan lidahnya. Ichigo tertawa. Hatinya merasa senang sekali.
Ichigo menunjuk satu arah di dekat mulut gua. Ada kimono dan hakama hitam di sana. Juga zanpakutonya, sode no shirayuki.
"Kau bisa ganti baju, Rukia. Kau tidak mungkin terus mengenakan baju pengantin itu kan."
"Bagaimana kau mendapatkan zanpakutoku Ichigo?"tanya Rukia setengah tak percaya.
"Aku ambil di kamarmu, sebelum aku pergi mengacaukan pernikahanmu. Aku tiba di Soul Society sehari sebelum pernikahanmu dan merencanakan segalanya."
"Merencanakan?"
Ichigo tersenyum,"Kau pikir aku bisa menembus Soul Society tanpa bantuan orang lain?"
Tentu saja. Ichigo pasti harus melewati senkaimon yang menghubungkan dunia dengan Soul Society dan tidak sembarang orang bisa melakukannya.
"Urahara heh?"desis Rukia.
"Yah susah sih pada awalnya membujuk dia—byakuya membayarnya sangat mahal untuk pernikahan kalian, tapi dengan bantuan Yoruichi yang membujuk Urahara, dia mau akhirnya. Meski menghabiskan tabungan universitasku sih..."
Mata Rukia terbelalak lebar,"Hei...tabungan universitasmu kan penting! Isshin sudah lama menabung, Bodoh!"
Ichigo menepuk kepala Rukia dengan pelan,"Uang itu tidak ada harganya dengan apa yang telah kau berikan padaku tadi malam, Rukia."
Lagi-lagi wajah mungil Rukia memerah. Malu lagi.
"Lagipula ayah juga tak setuju saat ia dengar kau mau menikah dengan Byakuya. Bawa Rukia chan kembali, Anakku! Itu katanya."
"Tapi uang itu penting untuk masuk universitas dan sekarang semuanya masuk ke kantong Urahara. Dasar mata duitan!"Rukia terlihat kesal.
"Hei...siapa bilang aku mau kuliah?"
"Ichigo...kuliah itu penting! Kau kan harus kuliah supaya bisa bekerja yang baik, lalu menikah dan..." ucapan Rukia terhenti karena bibirnya keburu ditutup Ichigo dengan sebuah ciuman kilat.
"Kau mau aku menikah denganmu, yo Rukia?"
"Ichigo..."
"Kau takut kalau suamimu ini tidak bisa memberimu makan ya kalau tidak punya pekerjaan?" lagi-lagi nada nakal Ichigo terdengar.
"Suamiku? Kau tidak salah? Kapan kau menikahiku, Jeruk?"
"Tadi malam, Istriku."
PLAKKK!
Sebuah jitakan mendarat dengan sempurna di kepala Ichigo yang langsung meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya yang dipastikan benjol.
"Rukiaaaaa...kenapa memukulku?"
"Itu karena kau seenaknya saja bicara! Berani-beraninya menyebutku istrimu!"
"Tapi tadi malam kita..."
PLAKKKK!
Jitakan kedua mendarat tak kalah sempurna.
"Rukiaaaa!"
"Jangan bahas soal tadi malam, Baka!"
Ichigo langsung tahu ia harus cari selamat. Rukia kalau sedang marah sadisnya minta ampun. Lebih baik tutup mulut dn tunggu kemarahannya mencair. Pemuda itu keluar dari gua, memberikan waktu bagi Rukia untuk mengganti pakaiannya.
Tak berapa lama kemudian Rukia keluar dari gua dengan memakai pakaian shinigaminya. Zanpakuto-nya sudah tersemat manis di pinggangnya dan rambutnya yang hitam sudah kembali tergerai dengan lembut. Ichigo yang duduk menunggu di depan gua langsung tersenyum. Rukia yang manis, pujinya dalam hati.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"tanya Rukia begitu Ichigo berdiri di hadapannya.
"Pulang."
"Kemana? Ke rumahku?"
"Hah...dan bersiap ditebas Byakuya?"
"Iya ya...tapi kemarin kau bilang padanya, ke neraka pun kau sanggup."
Wajah Ichigo memerah,"Rukia...bisa...tidak mengingatkanku akan hal-hal bodoh yang kuucapkan?"
"Oh...jadi itu ucapan bodoh ya? Apa aku mencintaimu itu juga ucapan bodoh?"desis Rukia tajam.
"Rukia...bukan begitu..."
"Kalau begitu kenapa melarikanku dari pernikahan?"
"Itu kan karena..."
"Karena apa?"
"Karena..."
"Karena itu ucapan bodohmu saja?"
"Ahh..Rukia, masa harus kukatakan lagi!"
"Oke...lupakan yang semalam. Aku pulang ke rumahku. Nii-sama pasti tetap menerimaku. Tinggal lanjutkan saja pernikahan kami..."
Detik berikutnya ia sudah berada dalam pelukan tangan kekar Ichigo. Tubuh hangat pemuda itu merapat pada tubuhnya dan mengalirkan reiatsu besarnya yang hangat. Hangat dan erat.
"Jangan..."suara Ichigo terdengar memelas,"Maafkan aku yang bodoh ini. Jangan kembali pada Byakuya. Aku akan katakan yang kau mau. Aku mencintaimu. Cukup?"
Rukia tertawa,"Bilang begitu saja susah! Dasar baka."
Ichigo melepaskan pelukannya. Ia menatap mata Rukia dalam-dalam.
"Kita kembali ke dunia. Kita tunggu keadaan sudah tenang, baru kita menghadap Byakuya lagi. Bagaimana?"
"Apa itu keputusan yang terbaik? Aku tidak mau terjadi apa-apa pada Nii-sama. Aku khawatir padanya."
Ichigo merasa telinganya memanas. Ada secercah cemburu yang menyergap hatinya. Rukia adalah gadisku, batinnya.
"Oke...kalau Karakura kurang aman, kita ke Hueco Mundo saja. Aku bisa minta Urahara membuka garganta untuk kita. Las Noches tidak buruk-buruk amat kok. Dengan sedikit perbaikan di sini dan di sana, aku yakin kita bisa menyulap tempat itu menjadi istana kita berdua. Dengan mode hollow, aku rasa aku cukup pantas memerintah di Las Noches."
Rukia lagi-lagi tertawa. Bagaimana pun juga Ichigo tetap seorang pemuda yang mementingkan darah muda di atas pemikiran yang matang. Tapi jika bukan karena darah mudanya itu, mungkin saat ini ia sudah terbaring di ranjang pengantin menjadi milik Nii-sama, kata Rukia dalam hati.
"Kita ke Karakura saja dan memikirkan caranya untuk menghadapi Nii-sama,"akhirnya Rukia memtuskan.
Ichigo mengangguk. Ia menggenggam tangan Rukia erat-erat. Keduanya tersenyum, lalu secepat kilat ber-shunpo menuju senkaimon terdekat yang sudah disiapkan oleh Urahara.
End of this chapter.
