Disclaimer: Harry Potter bukan milikku, tapi milik dari J.K Rowlings
Warning: Au, OOC, Slash, Powerful! Draco, Creature! fic, Bashing, gaje, typo, etc.
Pairing: DMHP, LMNM, THDG, BZNL, AMHG.
Rating: T dulu baru M nanti
Genre: Romance, adventure, drama, friendship, etc.
AN: Wah, ini rekor dunia bagi aku untuk bisa mengupdatenya setelah 3 hari update yang chapter 9. hmm... setelah kubaca ulang kok rada gaje juga ya, tapi nggak tahu juga bagaimana pendapat kalian. Langsung saja, selamat membaca
CHASING LIBERTY
By
Sky
Hogwarts, Britania Raya
Di bawah guyuran air dingin, Harry berpikir pelan. Jujur ia akui kalau Harry telah mengambil langkah yang sangat cepat dengan mengatakan kalau ia adalah mate dari Chris tanpa mengetahui bagaimana pemikiran pemuda itu, Harry merasa ia telah memaksa Chris untuk menerima dirinya, kini perasaan bersalah mulai menghantui dirinya karena itu. Harry sedih memikirkan hal itu, mungkin ini adalah langkah yang kurang pintar, dan mungkin saja ia harus meminta pertolongan dari Hermione daripada mengambil langkah sendiri, Harry tahu kalau gadis itu jauh lebih pintar darinya dalam menghadapi situasi apapun.
Saat ini yang ada di benak Harry adalah apa yang akan dikatakan oleh Daphne seperti yang dijanjikannya? Harry memejamkan matanya karena itu, tiba-tiba ia tersadar dan merasa tubuhnya sangat dingin ketika menyadari sesuatu yang sangat penting, sebuah hal yang tadi sama sekali tidak terbesit dalam benaknya sekalipun. Di mana Chris berada?
Dengan cepat-cepat Harry mematikan shower kamar mandi tersebut, ia mengambil handuk putih tebal yang ada di tempat itu dan dengan segera mengeringkan tubuhnya. Ketika ia akan mengambil piama yang ia kenakan tadi, Harry menemukan sebuah lipatan baju berada di sampingnya. Mungkin Daphne yang menyiapkan ini semuanya. Harry pun memakainya, baju yang dikenakannya sedikit besar dan bagian bawahnya pun hampir mencapai lututnya.
"Baju milik Chris." gumam Harry pelan, ia mencium kemeja berwarna biru laut itu dengan penuh sayang, memang benar kalau baju itu adalah milik Chris karena dari baju itu Harry menemukan bau tubuh Chris melekat di sana.
Harry membuka pintu kamar mandi setelah selesai berpakaian dan ia menemukan Daphne Greengrass telah menantinya di sana sambil membawa senampan roti bakar serta segelas susu hangat yang sepertinya adalah sarapan untuk Harry, gadis itu memberikan senyuman kecil saat melihat Harry hanya berdiri dengan ekspresi imut di wajahnya. Namun yang membuat Harry terkejut adalah ia melihat Hermione temannya tengah beradu mulut dengan Alexander Malfoy di ruangan itu juga, bahkan keduanya tampak terlihat begitu akrab. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Harry, syukurlah kau sudah bangun." ujar Hermione, gadis berambut kecoklatan itu segera menghampiri Harry dan memeluknya dengan erat, "Aku sangat mengkhawatirkanmu, semalam kau tidak kembali ke menara Gryffindor setelah keluar dari pesta. Aku mencarimu menggunakan peta perampok, dan aku tidak menduga kalau kau ada di sini."
"Lalu, bagaimana kau bisa masuk kemari?" tanya Harry lirih, ia gembira karena ia memiliki orang sebaik Hermione yang masih memikirkan dirinya. Bahkan saat Harry merasa bimbang, Hermione selalu ada di dekatnya untuk membantunya.
Saat Hermione akan membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan dari Harry, tiba-tiba Malfoy berdehem keras yang membuat kedua sahabat itu menoleh ke arahnya.
"Granger memaksaku untuk memberitahukan password asrama, dia itu wanita yang sama sekali tidak memiliki etika." ejek Malfoy dengan seringai khas di wajah tampannya, ok... Harry mendapati Malfoy itu tampan dan sedikit mirip dengan Chris, sedikit memang tapi sayangnya sifatnya itu jauh lebih jelek dari mate Harry.
"Apa kau bilang? Kau memanggilku wanita tidak tahu malu begitu?" ujar Hermione, nadanya meninggi dan terdengar begitu kesal. "Perlu kau ingat, Malfoy, kau itu tidak lebih baik dariku."
Alis kanan Malfoy naik, ia tetap bersender dengan santai di depan dinding tidak jauh dari mereka.
"Oh, ya? Apa kau perlu bukti kalau aku jauh lebih baik darimu, Granger?" tantang Malfoy, "Kau itu sama sekali tidak ada apa-apanya, begitu emosional. Tidak heran kalau tidak ada laki-laki yang berani mendekati dirimu, mana kekasihmu si Weasel itu?"
Hermione memberikan glare ganas pada Malfoy, bila sebuah tatapan dapat membunuh seseorang maka dapat dipastikan Malfoy sudah tewas terkapar sejak dulu. Sayangnya harapan Hermione tidak akan terkabul, sebenci apapun ia pada Malfoy kalau pemuda itu tidak memberinya ejekan atau hinaan, hidupnya pasti sudah hampa sejak dulu. Ia benci harus menjadi wanita single seperti ini dan yang paling parah adalah mengapa Malfoy harus dilahirkan begitu seksi dan tampan? Hermione ingin sekali mengutuk Merlin karena ini. Ia tidak ingin menjadi korban Malfoy selanjutnya.
Sebuah deheman pelan dari Daphne membuyarkan suasana hening di antara mereka, Harry melihat Daphne tampak terhibur, terlihat jelas dari kilatan matanya itu. Sepertinya gadis itu menemukan kalau pertengkaran di antara Hermione dengan Malfoy begitu menarik, tapi Harry juga tidak bisa menyalahkannya sebab ia juga menemukan hal ini sangat menarik dan terlalu sayang untuk dilewatkan.
"Well, ini memang menarik menjadi penonton dalam pertengkaran kalian. Tapi sepertinya aku harus menyudahi ini untuk sementara waktu karena our own prince barusan keluar dari kamar mandi dan membutuhkan sarapan paginya. Jadi kalau kalian masih ingin bertengkar seperti sepasang kakek dan nenek yang telah lama menikah, aku sarankan kalian bertengkar di luar saja." ujar Daphne dengan mulus.
Harry tambah terkejut saat ia melihat rona merah muncul di wajah Hermione dan Malfoy, wow... gadis ini benar-benar tahu bagaimana cara memainkan lidahnya secara tepat. Daphne memberikan seringai tipis kepada Harry.
"Tunggu sampai Blaise tahu masalah ini, sayang sekali dia harus mengunjungi kekasih tercintanya untuk sementara." gumam Daphne, "Well, kau tampak imut mengenakan baju milik Chris, Harry, meskipun baju itu nampak terlalu besar untukmu. Butuh bantuan untuk mengecilkannya?"
Harry menggeleng pelan, "Tidak, aku ingin baju miliknya tetap apa adanya, tidak berubah sedikitpun." jawab Harry singkat, ia sedikit memerah karena itu tapi ia mencoba untuk menghiraukannya.
Kedua gadis yang ada di sana hanya bisa tersenyum pelan melihat tingkah Harry yang menurut mereka sangat manis, sementara Alex yang mengetahui Harry itu sangat menyukai adiknya hanya bisa memberikan tatapan aneh padanya, ia sama sekali tidak mengerti apa yang Draco lihat dari anak laki-laki ini, tapi ia memilih untuk bungkam saja dan tidak mengatakan apa-apa, terlebih lagi setelah ia mendapatkan ceramah yang panjang lebar dari Zabini kemarin malam untuk tidak mengganggu Potter lagi. Huh... hiburannya tahun ini berarti adalah mengganggu Granger saja.
Mendengar bagaimana keadaan Draco saat ini tentu saja Alex mengurungkan niatnya untuk menantang duel adiknya, ia akan menundanya dulu sampai Draco baikan seperti sedia kala.
"Harry, sebaiknya kau sarapan dulu. Aku tidak ingin kau sakit hanya gara-gara menunda waktu makanmu." kata Hermione yang kembali seperti ibunya saja.
"Tapi Daphne bilang..." protes Harry.
"Tidak ada tapi-tapian, kau harus sarapan dulu. Lihat, kau terlalu kurus untuk ukuranmu saat ini." sergah Hermione, ia menuntun Harry menuju ke arah tempat tidur dan mendudukkannya di sana. Dengan cepat gadis yang merupakan kelahiran muggle itu meletakkan sepiring roti bakar dan segelas susu di atas nampan yang ia taruh di hadapan Harry. "Kau selesaikan ini dulu, aku menantinya."
Melihat kegigihan Hermione yang menyuruhnya untuk sarapan serta Daphne yang hanya memberikan tatapan penuh canda itu membuat Harry tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan kedua Slytherin yang berada dalam satu ruangan dengan dua orang Gryffindor itu pun sama sekali tidak melakukan usaha apapun untuk mengusir mereka, malahan baik Malfoy dan Daphne hanya berdiri di sana, menemukan apa yang Hermione lakukan itu cukup mengagumkan.
"Kami akan menunggumu di ruangan Chris bagian depan, Harry." kata Daphne sebelum ia beranjak mendekati Malfoy dan menggenggam lengannya, keduanya keluar dari kamar itu bersamaan.
Harry mengambil segelas susu hangat dan meminumnya, kedua matanya memperhatikan kedua Slytherin itu sebelum tertuju pada Hermione. Temannya itu terlihat sedikit kesal, ada sesuatu yang tersirat di kedua bola mata kecoklatan itu, apakah emosi yang terpancar di mata Hermione adalah kecemburuan? Harry pasti bermimpi, itu pasti hanya perasaannya saja. Sebab, bagaimana mungkin Hermione bisa cemburu pada mereka berdua? Sama sekali tidak masuk akal.
"Hermione." panggil Harry, mencoba untuk mengalihkan perhatian Hermione pada sesuatu.
Hermione menoleh ke arah Harry, ia tersenyum kecil melihat kekhawatiran di wajah Harry. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Harry pelan.
"Tentu saja, mengapa kau bertanya demikian?" gantian Hermione yang bertanya.
"Entahlah." Harry mengangkat bahunya tanda ia tidak tahu, "Hanya saja aku merasa sedikit aneh saja dengan hal yang barusan terjadi."
"Aneh?"
Harry mengangguk pelan, ia memberikan senyuman pada sahabatnya. "Mungkin ini hanya perasaanku saja atau apapun itu aku juga tidak tahu sendiri, tapi dari pengamatanku tadi kelihatannya ada sesuatu di antara kau dengan Malfoy."
Tiba-tiba saja Hermione berdiri, "Aku dan Malfoy? Yang benar saja, kami tidak ada hubungan apa-apa!" protes Hermione, suaranya meninggi.
"Aku tidak mengatakan kalau ada hubungan antara kau dengan Malfoy, aku tadi hanya mengatakan kalau ada sesuatu di antara kalian berdua. Ya ampun, Mione... kau terlihat begitu panik."
"Aku tidak panik, Harry, hanya terkejut saja."
Harry tertawa kecil, ia tahu akan sesuatu tapi tidak akan ia ceritakan pada Hermione. Reaksi sahabatnya itu sungguh lucu, pasti yang ia lihat di mata Hermione tadi adalah kecemburuan. Sangat menarik. Tapi yang membuat Harry bingung adalah mengapa Hermione harus menyukai seorang Slytherin juga? Apakah ini memang takdir kalau seorang Gryffindor dan Slytherin itu memang ditakdirkan untuk bersama? Ini sungguh ironi, keduanya saling membenci namun takdir memang aneh, menyatukan dua pribadi yang berlawanan menjadi satu.
"Ok, ini pasti hanya perasaanku saja." sahut Harry. Wajah Hermione langsung memerah karena itu, dan gadis itu benci untuk mengakuinya.
Untuk beberapa menit keduanya mengobrol hal-hal yang tidak terlalu penting sambil menunggu Harry menyelesaikan sarapannya, Hermione sempat memeluk pemuda manis itu ketika Harry menceritakan apa yang terjadi ketika berada di pesta Slughorn semalam, bahkan ia harus menahan malu saat ia menceritakan betapa sempurnanya ketika Chris menciumnya untuk yang pertama kali di ruangan rahasia. Kalau saja Harry bisa mengulang waktu, ia ingin merasakan bibir lembut itu untuk selamanya. Semburat warna merah menghiasi kulit kecoklatan Harry, mungkin kalau ia bertemu lagi dengan Chris, Harry ingin meminta ciuman itu lagi dan kalau ia beruntung mungkin Harry akan mendapatkan sesuatu yang lebih.
Lamunan Harry melayang ke mana-mana, hal itu pulalah yang membuat tubuh Harry sedikit memanas karena keinginan yang sangat kuat. Wajahnya semakin memerah.
Lima menit kemudian Harry selesai sarapan, ia dan Hermione keluar dari kamar Chris untuk menuju ke ruang duduk yang masih berada dalam satu ruangan. Mereka berdua menemukan Daphne tengah membaca sebuah buku tebal yang terletak di atas pangkuannya, mendengar deret bunyi pintu yang terbuka membuatnya menoleh ke arah mereka berdua. Gadis itu menutup buku yang tengah ia baca tadi, dengan melambaikan tongkat sihirnya ia me-leviate buku tersebut untuk kembali ke tempatnya semula di salah satu rak perpustakaan kecil yang ada di sana.
"Duduklah!" ujar Daphne kepada Harry dan Hermione.
"Ke mana Malfoy? Bukankah tadi ia berada di sini bersamamu?" tanya Hermione dengan nada yang sedikit ketus.
Harry menyikut Hermione, ia tidak ingin temannya itu menciptakan kesan buruk pada teman Slytherin barunya yang pada akhirnya akan membuat Hermione dan Daphne menciptakan permusuhan baru lagi. Harry mengambil tempat duduk di atas sofa empuk di dekat perapian yang hangat itu di hadapan Daphne dengan Hermione mengambil tempat duduk di samping Harry. Hari memang masih pagi, mungkin masih pukul setengah enam sehingga tidak heran kalau perapian masih dinyalakan untuk memberikan rasa hangat pada mereka bertiga.
"Oh, Alex ada urusan sebentar. Kelihatannya masalah Ketua murid yang aku sendiri tidak mengerti, bukankah kau sendiri adalah ketua murid perempuan? Jadinya kau pasti lebih tahu." jawab Daphne, begitu santai. Ia tersenyum kecil saat melihat Hermione menghela nafas lega. Berarti dugaannya memang benar.
Mata emerald Harry bertemu dengan mata amethyst itu, "Katanya kau ingin menjelaskan sesuatu padaku mengenai Chris." kata Harry tiba-tiba.
"Apa yang ingin kau ketahui terlebih dahulu?"
"Apa hubunganmu dengan Chris?" kedua gadis yang ada di sana terdiam mendengar pertanyaan Harry, sebelum pada akhirnya mereka berdua mencoba untuk menahan tawa. Harry sendiri yang menyadari kalimat itu terucap begitu saja dari mulutnya langsung saja merasa malu, "Maksudku, aku ingin tahu kalau kalian ini berteman biasa atau punya hubungan khusus."
Suasana hening itu pecah ketika Harry mendengar suara tawa Daphne, kelihatannya gadis itu menemukan pertanyaan Harry sangat lucu.
"Aku dan Chris itu sudah mengenal satu sama lain sejak kami masih bayi, dia dan Blaise adalah temanku sejak kecil jadi wajah kalau kami terlihat sangat akrab yang mungkin membuat orang-orang berpikiran yang tidak-tidak mengenai kami. Mereka itu sudah aku anggap seperti saudara sendiri, jadi tidak mungkin kalau aku menganggap Chris ataupun Blaise lebih dari itu, apalagi sampai menganggap mereka berdua seperti kekasih. Terlebih lagi aku sendiri sudah mempunyai tunangan." jawab Daphne dengan ceria.
"Laki-laki yang bernama Tristan tadi?" tanya Harry.
Daphne mengangguk mengiyakan.
Harry menarik nafas panjang, ini adalah pertanyaan yang sering mengganggu pikirannya selama ia berada di kamar mandi tadi dan saat ini adalah saat yang tepat untuk mengetahui yang sebenarnya.
"Aku ingin tahu siapakah Chris sebenarnya dan siapa orang yang bernama Draco itu? Mengapa laki-laki tadi sering menghubungkanku dengan orang yang bernama Draco?"
Remaja perempuan yang berambut pirang panjang itu terdiam untuk beberapa saat sebelum menatap Harry dan Hermione bergantian, ia ingin memastikan sesuatu sebelum memberi jawaban yang pasti.
"Sebelum aku menjawab pertanyaan itu, aku ingin kalian berdua berjanji untuk tidak mengatakannya kepada siapapun. Gunakan Blood Oath (=perjanjian darah) untuk membuktikannya." kata Daphne pelan.
"Mengapa kami harus melakukannya? Bukankah Blood Oath itu sangat berbahaya dan masuk dalam kategori sihir hitam!" protes Hermione.
"Benar, tapi menggunakan Blood oath adalah satu-satunya cara untuk melindungi informasi yang akan aku berikan kepada kalian."
Harry mempertimbangkan permintaan dari Daphne, kalau hanya sebuah Blood Oath saja bisa memberi informasi yang sangat berharga, maka Harry akan melakukannya. Ia ingin mengenal Chris dan mempelajari siapa dirinya yang sebenarnya.
"Aku akan melakukannya." jawab Harry secara tiba-tiba.
Hermione yang mendengarnya hanya mendelik terkejut ke arah Harry, ia ingin protes tapi ia menemukan dirinya tidak bisa. Ekspresi Harry menunjukkan keseriusan, kalau temannya itu memang ingin melakukan Blood Oath saat ini juga maka Hermione akan melakukannya supaya Daphne mau memberitahukan informasi mengenai Chris. Dalam lubuk hati terdalam sebenarnya Hermione sendiri juga ingin mengetahui siapa Chris, murid pindahan dari Italia tersebut begitu misterius yang membuat tangan Hermione gatal untuk mengungkap jati dirinya.
"Baiklah. Aku, Hermione Jane Granger berjanji dan bersumpah atas sihir yang mengalir dalam tubuhku untuk tidak mengatakan informasi yang diberikan oleh Daphne Greengrass kepada siapapun kecuali pada mereka yang sudah tahu." ujar Hermione.
Harry tersenyum bahagian kepada temannya, ia mengucapkan sumpahnya juga, "Aku, Harry James Potter berjanji dan bersumpah atas sihir yang mengalir dalam tubuhku untuk tidak mengatakan informasi yang diberikan oleh Daphne Greengrass kepada siapapun kecuali pada mereka yang sudah tahu." Kata Harry.
Harry dan Hermione merasakan sihir yang begitu kuat datang ke arah mereka, menyelimuti tubuh mereka seperti selimut tebal sebagai jawaban dari perjanjian darah yang sudah mereka ucapkan tadi. Dengan begini mereka tidak akan bisa mengucapkan informasi yang sangat vital itu kepada mereka yang tidak tahu. Sebab bila mereka melanggar sumpah itu maka sihir akan berbalik menyerang mereka.
"Bagus. Aku akan mengatakan ini untuk sekali saja. Christopher Hammond yang kalian kenal itu sebenarnya tidak pernah hidup pada masa ini, dia sudah meninggal sejak ratusan tahun yang lalu." ujar Daphne, ia tersenyum kecil melihat ekspresi shock dari mereka berdua. "Chris yang menjadi mate-mu itu adalah orang yang bernama Draconis Malfoy, Harry. Putra kandung dari Lucius Malfoy dan Narcissa Malfoy, serta adik kembar dari Alexander Malfoy yang juga menjadi musuhmu."
"Tidak mungkin." desah Harry yang masih belum sadar dari rasa keterkejutannya.
"Ini sangat mungkin, Harry. Sebelum aku melanjutkan lagi, aku ingin bertanya. Apa yang kalian pikirkan mengenai Dumbledore?"
Mendengar nama Dumbledore disebutkan, emosi kemarahan Harry kembali muncul. "Aku benci orang itu, dia terlalu banyak memperalatku dan menganggapku sebagai boneka yang siap ia jadikan tameng kapan saja." jawab Harry.
"Kurasa itu jawaban yang bagus, karena aku tidak mungkin memberi tahu ini kepada kalian bila kalian berdua masih berada pada pihak Dumbledore." Kata Daphne.
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan? Jangan bilang kalau Chris... maksudku adalah Draco ada hubungannya dengan kau-tahu-siapa?" tebak Hermione yang sudah tidak sabar untuk mendengar kelanjutannya. Sedikit yang diketahui oleh gadis itu kalau sebenarnya ia memang benar.
Melihat senyuman Daphne yang semakin mengembang itu membuat Harry dapat menyimpulkan sendiri. Orang yang ia anggap adalah Christopher Hammond ternyata bernama Draco Malfoy, dan dari apa yang ia tangkap dari penjelasan Daphne kalau Draco itu ada hubungannya dengan Voldemort. Ini sangat mengejutkan, sebuah pukulan telak bagi Harry. Ia tidak tahu apakah Harry harus tertawa, sedih, merasa kecewa, atau marah. Ia benci bila ada orang yang membohonginya seperti ini.
"Apa hubungan Draco yang sebenarnya dengan Voldemort?" tanya Harry dengan suara kecil, tubuhnya masih bergetar menahan segala macam emosi.
"Kurasa kau tidak akan menyukai ini." jawab Daphne yang sedikit khawatir dengan keadaan Harry.
Tiba-tiba Harry berdiri dari tempat duduknya, "Beri tahu aku, damn it! Sudah cukup kebohongan selama ini yang diberitahukan padaku, apa kau pikir aku tidak berhak untuk mengetahui apa yang sebenarnya?" teriak Harry, sihirnya bergerak secara liar yang mengakibatkan beberapa barang yang terbuat dari keramik serta kaca di sana pecah dan buku-buku terjatuh dari raknya. "Sudah cukup... beri tahu aku, Daphne!"
"Draco adalah putra angkat dari Dark Lord, Potter." ujar sebuah suara baru yang tiba-tiba muncul.
"Blaise!" hardik Daphne. Ia berdiri dari tempat duduknya ketika ia menyadiri kehadiran Blaise di sana.
Baik Harry dan Hermione menoleh ke arah pintu dan menemukan anggota terakhir dari grup Slytherin yang hilang ini berdiri bersender di mulut pintu dengan kedua lengannya dilipat di depan dadanya. Ekspresinya begitu santai, baik Harry maupun Hermione tidak merasa aneh dengan sikap Blaise yang seperti itu. Namun yang membuat keduanya terkejut setengah mati adalah mereka menemukan Neville berada di sana dengan senyum manis yang terkembang di bibirnya, seorang NEVILLE LONGBOTTOM yang terkenal begitu takut pada Slytherin malah berada di sarang ular dengan posisi begitu dengat pada sang pangeran ular itu sendiri! Bahkan ia sama sekali tidak terlihat takut dan sebagainya, begitu relaks dan nyaman seperti berada di dalam rumah sendiri.
"Ooh... aku ingin pingsan karena ini." ujar Hermione lemah, tentu saja hal itu dihiraukan oleh semuanya.
"Daphne, kurasa Potter berhak tahu atas semuanya bila ia menginginkan Dray kita sebagai mate-nya." kata Blaise dengan tegas. Ia berjalan menghampiri mereka semua dengan Neville yang mengikutinya setelah menutup pintu ruangan milik Draco.
"Neville, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Harry.
Pemuda manis yang berambut kecoklatan dan bermata biru itu memberikan senyuman pada Harry, Neville tidak menjawab pertanyaan itu karena begitu ia berdiri di samping Blaise, pemuda itu langsung dicium oleh Blaise tepat di bibir. Kedua mata mereka berdua terbelalak lebar melihat ciuman antara Blaise dengan Neville tepat di depan mereka, apalagi saat mereka melihat Neville tampaknya begitu tenggelam pada ciuman yang diterimanya. Tangan kanan Neville memeluk leher Blaise dengan erat sementara Blaise sendiri memeluk pinggang ramping milik Neville.
Harry dan Hermione yang masih membeku melihat adegan itu hanya bisa diam, sementara Daphne sendiri menemukan hal itu begitu manis tapi semanis apapun yang ia lihat itu, ia harus menyelesaikan urusan ini secepat mungkin.
"Oke, lover boys, pertunjukannya memang menarik tapi bisakah kalian untuk tidak memperlihatkan kemesraan kalian berdua di sini. Kedua Gryffindor yang malang ini akan mengalami trauma berat gara-gara melihat kalian berciuman." kata Daphne, ia lelah karena ini.
Baik Blaise dan Neville langsung menghentikan ciuman mereka, Neville yang melihat ekspresi terkejut pada kedua temannya langsung malu sendiri dan ia membenamkan wajahnya pada dada Blaise agar yang lainnya tidak melihat semburat merah pada wajahnya.
"Kukira kau suka pertunjukan yang menarik, Daph." ujar Blaise, ia mengeluarkan sebuah koin perak berukiran seekor naga di tengahnya dari dalam saku kemeja yang ia kenakan.
"Aku memang suka melihat pertunjukan ini, namun sayangnya pertunjukan yang kau lakukan itu terlalu berat untuk diterima mereka berdua." jawab Daphne.
Blaise melemparkan koin perak yang ia pegang tadi pada Harry, Harry sendiri yang tersadar dari rasa keterkejutannya langsung menangkap benda itu dengan refleks seeker yang dimilikinya. Harry melihat benda itu dengan seksama sebelum melemparkan tatapan tidak mengerti pada Blaise.
"Benda itu adalah sebuah portkey ke Riddle manor, kalau kau ingin tahu semuanya sebaiknya kau bertanya sendiri pada Draco. Dia ada di sana." jawab Blaise.
"Bukankah dia ada di Hogwarts?" tanya Hermione. "Dia itu masih murid di sini, tidak bisa keluar masuk seenaknya."
Kali ini yang menjawab pertanyaan Hermione bukanlah Daphne maupun Blaise, yang paling mengejutkan adalah Neville yang menjawab pertanyaan itu. Ia melepaskan tubuh kecilnya dari Blaise dan menghampiri Harry.
"Tidak, Hermione. Saat ini Draco berada di Riddle Manor." jawab Neville, ia menatap Harry lekat-lekat. "Dia membutuhkan dirimu, 'Ry. Semalam ketika ia berduel dengan Sanguini, secara tidak sengaja Draco terkena racun dari vampire itu. Keadaannya begitu kritis kalau aku boleh mengatakan. Rasa marah yang ada di hatimu tolong kau pendam dulu, temui Draco sekarang atau kau tidak akan memiliki kesempatan kedua untuk menemuinya lagi."
Suara Neville yang lembut itu menggetarkan tubuh Harry, jantungnya berdegup keras ketika ia membayangkan mate-nya berada dalam bahaya, terlebih lagi Draco berada dalam keadaan kritis seperti yang Neville katakan tadi. Instingnya menyuruh Harry untuk segera menemui Draco tidak peduli apapun yang terjadi.
"Apa passwordnya? Cepat katakan!" perintah Harry dengan suara tegas, ia sudah memutuskan untuk menyimpan amarahnya dulu.
"Harry, ini konyol. Kau tidak akan bisa menggunakan Portkey di dalam kastil." ujar Hermione. "Ward yang melindungi Hogwarts tidak akan mengijinkan portkey manapun untuk bekerja di sini."
"Kalau portkey biasa mungkin tidak akan bekerja, tapi kau melupakan satu hal kalau portkey khusus dari Dark Lord itu mampu menembus ward setebal apapun." jawab Daphne.
Hermione langsung diam seribu bahasa karena itu, mungkin ia harus mencari tahu bagaimana bisa dan mantra apa yang digunakan untuk membuat portkey penembus ward seperti yang dijelaskan oleh Daphne.
"Avena. Itu adalah password yang diberikan Dark Lord padaku, ucapkan password itu dan kau akan menemukan dirimu berada di dalam Riddle manor." kata Blaise yang menjawab pertanyaan Harry tadi.
Harry mengangguk, dan sebelum Hermione bisa mencegahnya Harry terlebih dahulu mengatakan passwordnya, ia menghilang dari hadapan mereka berempat yang berada di ruangan itu.
"Ooh, ini sungguh bencana." ujar Hermione lirih. "Merlin, tolong lindungi Harry."
Riddle Manor, Little Hanglington
Harry merasakan tarikan portkey yang bekerja begitu tidak mengenakan, pada satu saat ia berdiri di dalam ruangan yang tepatnya berada di ruang bawah tanah di mana ruangan para Slytherin berada, namun di sisi lain setelah ia mengucapkan 'avena' secara pelan Harry menemukan dirinya berada di dalam sebuah tempat yang sangat besar dan mewah. Pilar-pilar yang menyangga ruangan itu begitu kokoh, bahkan beberapa lukisan yang ada di sana juga terlihat begitu keramat. Namun bukan itu yang membuat hati Harry terasa tidak begitu nyaman, hal yang membuatnya serasa ingin mati di tempat adalah tatapan dari orang-orang yang ada di sana diberikan padanya.
"Itu Harry Potter!" teriak salah seorang yang mengenakan jubah hitam.
Harry menelan ludah saat mereka semua geram padanya dan mengacungkan secara serempak tongkat sihir mereka padanya, Harry merogoh saku celananya tetapi ia sama sekali tidak menemukan tongkat sihirnya. Harry baru ingat kalau tongkat sihir miliknya itu tertinggal di meja kecil yang ada di kamar Draco. Ok... nasibnya akan berakhir di sini.
"Hentikan semuanya!" perintah sebuah suara dingin yang sangat Harry kenal.
Pemuda berwajah manis itu mendongak ke arah seseorang yang duduk di kursi besar yang ada di sana. Orang itu berdiri dari kursinya, ia menyingkapkan kerudung jubahnya. Betapa terkejutnya Harry saat ia melihat wajah dari Tom Riddle yang dulu pernah ia temui di kamar rahasia kini berada di depannya, Tom Riddle versi dewasa lebih tepatnya. Voldemort menatap Harry dengan kedua mata ruby-nya yang sangat dingin, wajahnya sama sekali tidak mengisyaratkan emosi apapun, begitu terkontrol seperti ia tidak pernah bertemu dengan Harry atau melakukan duel dengannya pada tahu keempat Harry di Hogwarts. Keduanya saling bertatapan sebelum Tom memberikan instruksi kepada para pengikutnya yang lain untuk menurunkan tongkat sihir mereka dari Harry.
"Harry Potter, lama kita tidak bertemu." sapa Tom dengan nada yang masih dingin. "Aku masih belum melupakan pertemuan terakhir kita di kementrian sihir beberapa minggu yang lalu, tentu saja penampilanku tidak sesempurna seperti sekarang ini."
Harry hanya memberikan glare pada Tom, sihirnya kembali menjadi liar dan siap menerkam apa saja. Meski emosinya sedang bergejolak untuk menyerang laki-laki yang dijuluki sebagai Dark Lord itu, namun insting Seraphine-nya berkata lain dari itu, menyuruh Harry untuk segera pergi dari sana untuk menemui mate-nya. Harry bisa mencium bau Draco, sangat jelas di tempat itu sehingga dapat dipastikan kalau mate-nya berada tidak jauh dari ruangan di mana Harry berada saat ini. Tanpa mengucapkan apa-apa Harry segera berlari dari tempat itu untuk menuju di mana Draco berada, beberapa pelahap maut yang mencoba untuk mengejarnya langsung mendapat perintah dari Tom untuk tidak melakukannya, membiarkan Harry untuk menemui putranya.
Pemuda berambut hitam itu terus berlari, ia tidak mengenal tempat itu secara pasti dan sudah dipastikan ia akan tersesat di sana, namun ia merasa tertolong karena Harry merasakan sihir familier milik Draco yang membimbingnya sampai ke sebuah ruangan besar yang ada di sisi manor. Draco ada di balik pintu ini, pikir Harry dengan sedikit ragu.
Secara perlahan Harry membuka pintu berat yang ada di depannya, ia berjalan masuk ke dalamnya dan sampailah ia di hadapan sebuah pintu yang ia yakini adalah pintu yang menghubungkan ruangan itu dengan kamar Draco.
"Masuklah." ujar sebuah suara wanita dari dalam.
Pintu itu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya, Harry merasakan air matanya keluar secara perlahan saat ia melihat siapa yang ada di sana. Di atas tempat tidur yang sangat besar itu tergolek Draco yang masih memejamkan kedua matanya, ia terlihat begitu pucat serta tidak bergerak sedikitpun, meskipun keadaannya begitu Harry masih bisa merasakan sihirnya yang sangat lemah, mencoba menyelimuti tubuh Draco untuk melindunginya dari apapun. Di samping tempat tidur Draco, Harry melihat seorang wanita yang sangat cantik duduk di atas sebuah kursi. Wanita itu mengenakan gaun panjang yang begitu mempesona, terlihat begitu anggun dan mirip seperti seorang Lady agung. Di atas pangkuan wanita itu terdapat sebuah buku bersampul merah yang terbuka, Harry mengasumsikan wanita itu tengah membaca buku itu sebelum Harry masuk begitu saja.
"Masuklah, Draco sudah menunggumu sejak tadi." suara wanita itu sangat lembut, mirip seperti seorang ibu yang ditunjukkan kepada anaknya.
Rasanya otak Harry tidak bekerja secara maksimal, secara otomatis ia melangkahkan kakinya menghampiri mereka. Harry tidak tahu harus melakukan apa, ia hanya ingin memeluk Draco dan membuatnya baik-baik saja saat ini, namun kehadiran wanita yang ada di hadapannya itu sama sekali tidak bisa ia tolak.
Perenelle berdiri dari kursinya, ia memeluk tubuh kecil Harry untuk beberapa saat dan mencium pipi pemuda itu dengan lembut. Diberikannya senyuman kecil pada Harry ketika ia mengetahui mate dari putra baptisnya tersebut terlihat begitu sedih. Secara perlahan Perenelle menghapus linangan air mata yang jatuh dari pelupuk mata Harry.
"Ssst... jangan menangis, dear. Draconis baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Nah, karena kau sudah ada di sini maka aku akan memberikan waktu untuk kalian berdua. Kalau ada sesuatu kau bisa memanggilku di luar, Harry." ujar Perenelle dengan lembut.
Kehadiran wanita itu membuat Harry begitu tenang, ia merasa berterima kasih saat wanita itu memberitahukan keadaan Draco yang sudah membaik. Harry tidak bisa mengucapkan kata apapun karena ia terlalu shock, ia melihat wanita yang sangat cantik itu berjalan keluar dari dalam kamar. Dengan senyum kecil yang tersungging di bibir mungilnya, wanita itu menutup pintu kamar, meninggalkan Harry sendirian saja dengan Draco yang masih tertidur di sana.
Harry mengambil nafas secara perlahan-lahan untuk menenangkan dirinya, pemuda manis itu berjalan menghampiri Draco dan duduk di pinggir tempat tidurnya. Secara perlahan ia meletakkan telapak tangan kanannya di pipi kanan Draco dan membelainya, Harry ingin sekali membangunkan mate-nya dari tidur panjangnya tapi ia tidak tahu bagaimana caranya.
Harry melepas sepatunya, dengan perlahan ia membaringkan tubuh kecilnya di samping Draco. Harry melingkarkan tangannya pada tubuh Draco dan membenamkan sisi wajahnya pada lengan kanan pemuda berambut pirang itu, tentu saja Draco tidak memberikan reaksi apa-apa karena ia memang tidak sadarkan diri.
"Draco, aku ada di sini sekarang bersamamu. Aku tidak tahu harus memulainya dari mana, karena aku yakin kau juga menemukan hal ini terlalu rumit. Sekarang aku tahu siapa kau yang sebenarnya, Daphne memberitahuku kalau namamu bukanlah Chris, namamu yang sebenarnya adalah Draconis. Awalnya aku merasa sakit hati karena kau membohongiku, tapi aku tidak bisa marah padamu." ujar Harry lirih, ia harap Draco dapat mendengarnya. Ia mengusap air matanya yang mulai turun ke pipinya, ia tidak suka harus menangis seperti ini. "Aku mungkin tidak tahu apa alasanmu melakukan ini semua, tapi Draco, aku senang kau bisa datang ke Hogwarts karena dengan ini kita bisa bertemu. Meskipun dalam jalan yang sama sekali tidak kuharapkan. Draco, aku harap kau segera bangun dan berbicara padaku lagi. Memang kita baru mengenal, tapi rasanya kita seperti sudah lama mengenal satu sama lain. Apa ini dikarenakan ikatan mate di antara kita? Aku tidak tahu juga."
Harry membelai wajah halus milik Draco secara perlahan dan mencium ujung bibir Draco, ia melakukan itu untuk melepas rindunya pada pemuda tersebut. Hampir saja Harry kehilangan Draco hanya karena sebuah alasan yang tidak jelas.
Pemuda berambut hitam tersebut membenamkan wajahnya pada sisi kanan tubuh Draco, ia memejamkan kedua kelopak matanya dan perlahan-lahan rasa kantuk mulai menguasainya. Saat kesadaran Harry menghilang, ia tidak tahu kalau jari-jari tangan Draco bergerak dan menggenggam tangannya dengan lembut.
Sinar matahari yang lembut membelai wajah Harry, memberi kehangatan bagi tubuh Harry yang terasa sedikit dingin. Secara perlahan ia membuka kedua kelopak matanya, pemuda itu menemukan kalau sinar mataghari yang berwarna keemasan itu menandakan kalau hari telah sore. Saat ia menoleh ke samping ia menemukan sisinya kosong, secara refleks Harry langsung bangun dan menoleh ke kanan-kiri untuk mencari Draco. Sebuah suara tawa kecil membuyarkan rasa paniknya, ia menoleh ke samping dan menemukan dirinya ikut tersenyum.
Draco, yang duduk di atas beranda jendela mengalihkan pandangannya dari pemandangan indah alam yang ada di luar manor untuk melihat ke arah Harry yang sepertinya sudah terbangun, sepasang mata silver kebiruan itu menatap Harry begitu lekat tanpa berkedip sekalipun. Pemuda berambut pirang platinum itu hanya memandang mate kecilnya yang terlihat begitu innocent di atas tempat tidurnya sebelum memberikan senyuman tipis padanya. Meski ia memberikan senyuman itu, namun Harry bisa melihat raut wajah lelah berada di ekspresi Draco. Kelihatannya pemuda itu memang belum sembuh secara total.
"Draco." seru Harry dengan suara kecil.
Draco tidak menjawab panggilan itu, ia hanya memberikan anggukan kecil sebelum menghela nafas pelan. Harry ingin sekali menjangkau Draco yang terlihat begitu damai di sana, dengan perlahan Harry menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya itu dan menurunkan kedua kakinya ke lantai. Ia sedikit menggigil karena rasa dingin tiba-tiba menusuk kulitnya yang tidak beralaskan kaki, Harry menghiraukan dinginnya lantai yang menusuk kulitnya dan berjalan menghampiri Draco.
Mate-nya kembali menatap ke arah luar, udara di sana begitu hangat dan sangat nyaman melihat iklim yang tidak terlalu panas ataupun tidak terlalu dingin. Harry menemukan kalau Riddle manor itu berada di tengah hamparan hutan luas seperti ini, bahkan Harry juga menemukan sebuah danau jernih yang terletak tidak jauh dari kediaman Riddle manor. Untuk sesaat mereka berdua tidak mengatakan apa-apa, Harry sama sekali tidak keberatan asalkan ia bisa merasakan kehadiran sihir Draco yang membuatnya sangat nyaman.
"Bagaimana kau bisa ke tempat ini?" tanya Draco secara tiba-tiba.
Suaranya sama sekali tidak terdengar parau seperti orang yang lama tidak menggunakan suaranya, suara Draco begitu lembut dan pelan saat ia menggunakannya berbicara dengan seseorang, Harry menyukai suara milik mate-nya itu.
"Zabini yang memberitahuku, ia memberikanku sebuah koin perak yang ternyata adalah portkey untuk datang ke tempat ini." jawab Harry, ia tidak ingin berbelit-belit.
"Koin Avena, aku tidak tahu kalau ayah masih menyimpan benda itu." gumam Draco pada dirinya sendiri, ia menoleh ke arah Harry dan menatap lekat kedua mata emerald milik Harry. "Jadi kau sudah tahu siapa aku kalau kau bisa berada di sini!"
Harry mengangguk, namun ia tidak menjawabnya. Dia ingin melihat ke mana arah pembicaraan ini akan berada.
"Bagaimana perasaanmu mengenai ini?" tanya Draco lagi, ia kembali menatap ke luar. Draco tidak berani menatap mata Harry karena ia pasti akan mendapatkan kekecewaan atau mungkin penolakan yang sangat menyakitkan, yang akan membuatnya terluka untuk waktu yang sangat lama. Ini adalah salah satu alasannya mengapa Draco tidak ingin berhubungan serius dengan orang lain, ia tidak siap untuk menerima semua perasaan negatif yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan.
Draco sedikit terkejut ketika ia merasakan kedua tangan kecil milik Harry tiba-tiba merangkul lehernya dari belakang, kedua tangan tersebut memeluknya dengan sangat erat namun juga lembut pada saat yang sama. Apa yang tengah Harry lakukan padanya? Bukankah seharusnya ia marah dan mengutuknya? Beribu pertanyaan muncul di benak Draco, namun tidak satupun dari semuanya akan ia ucapkan, hanya akan ia simpan sendiri di dalam kepalanya.
"Awalnya aku memang marah padamu, aku tidak suka dibohongi oleh orang lain dengan alasan apapun. Aku ingin mengutukmu dan menyumpahimu karena kau telah membuatku menjadi seperti ini." bisik Harry lembut di telinga Draco, membuat Draco memejamkan kedua matanya untuk menyembunyikan perasaan sakit yang mungkin akan terlihat begitu jelas di matanya.
"Perasaan marah, kesal, dan kecewa menjadi satu di dalam benakku. Ini sangat berat bagiku, sudah banyak orang yang tega mempermainkan hidupku dan aku tidak ingin kau melakukannya padaku seperti yanga mereka lakukan. Tapi aku menemukan kalau aku sama sekali tidak bisa membencimu. Kesal dan marah memang iya, namun aku tidak akan pernah membencimu, tidak akan pernah meski itu berada di dalam mimpiku sekalipun." kata Harry yang begitu lirih.
Draco membuka matanya karena pernyataan Harry, ia menyentuh tangan Harry yang masih memeluk lehernya. Secara perlahan ia melepaskan pelukan Harry dari tubuhnya, ia menoleh ke arah Harry untuk mengetahui bagaimana emosi dari mate-nya tersebut. Hanya kejujuran yang bisa Draco lihat, sebuah perasaan lega tiba-tiba menjalari tubuhnya dan ia menemukan dirinya memberikan senyuman tipis pada Harry. Pemuda itu menarik tubuh kecil Harry untuk semakin mendekat padanya, ia meletakkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri pinggang Harry.
"Kalau kau benar tidak membenciku karena telah membohongimu, lalu apa yang kau inginkan dariku, 'Ry?" tanya Draco, ia senang saat Harry meletakkan kedua tangannya pada bahu Draco.
Harry menatap mata silver kebiruan milik Draco begitu lekat, ia mendekatkan tubuh kecilnya sampai keduanya bersentuhan. Dengan perlahan Harry menjatuhkan dirinya di atas pangkuan Draco dan memeluk leherrnya tanpa melepaskan tatapan mata mereka, ia tersenyum lembut sebelum mengecup bibir Draco secara pelan dan penuh kesabaran.
"Aku menginginkanmu, Draco." bisik Harry pelan, ia menyandarkan kepalanya pada bahu Draco.
Tangan kanan Harry meremas-remas jari tangan milik Draco dengan lembut, sekali-kali ia menautkan jari-jari keduanya dan dilihatnya kontras perbedaan yang tercipta di antara mereka.
"Apa kau yakin?" tanya Draco yang sedikit tidak pasti dengan keputusan dari Harry.
Draco merasakan Harry mengangguk pelan, "Aku akan mencobanya. Mungkin hubungan ini memang tidak sempurna seperti yang aku bayangkan, tapi aku tidak ingin kehilanganmu hanya karena kesalahpahaman ini. Draco, aku harap kau sependapat denganku." jawab Harry.
"Aku hanya bisa berharap seperti itu, 'Ry." kata Draco.
Pemuda berambut pirang platinum itu membiarkan Harry menggunakan tubuhnya sebagai kursi dan sandarannya untuk sesaat, ia sama sekali tidak keberatan dengan itu, selain Harry yang sebenarnya tidak terlalu berat juga dikarenakan Draco menemukan posisi mereka berdua sangat nyaman. Ia menginginkan hal ini, hubungan di antara mereka berdua maksudnya. Mungkin masalah semacam ini terasa begitu asing seperti alien di dalam hidup Draco, tetapi bila ia tidak mencobanya dari sekarang maka ia tidak akan tahu bagaimana rasanya di kemudian hari. Apapun yang akan terjadi di masa depan di antara dirinya dengan Harry, itu akan menjadi misteri masa depan yang akan mereka ketahui pada suatu saat yang tepat. Draco hanya berharap hubungan di antara mereka merupakan salah satu langkah yang dapat membimbingnya untuk meraih kebebasan seperti yang Tristan maksud beberapa minggu yang lalu. Mungkin ia memang membutuhkan kebebasan untuk menentukan hidupnya sendiri, dan Draco berjanji untuk akan mengejarnya.
'Chasing Liberty, kupikir itu adalah hal yang konyol. Aku harap aku berada di jalan yang benar.' Pikir Draco.
Harry dan Draco menikmati suasana tenang di antara keduanya dalam diam, Harry yang masih berada di pangkuan Draco hanya bisa berharap mereka dapat menikmati saat-saat damai seperti ini di masa depan. Ia menikmati belaian tangan lembut Draco pada rambutnya, sementara itu ia juga menemukan matahari sore terasa begitu hangat menyelimuti tubuhnya. Keduanya memandang ke arah luar yang memiliki pemandangan begitu indah, bahkan keduanya bisa melihat kerlipan air danau yang jernih akibat ditimpa oleh cahaya matahari. Sore itu adalah waktu yang sangat tepat bagi mereka berdua untuk memulai sebuah awal yang baru.
AN: Terima kasih sudah mampir dan atas review yang telah diberikan pada chapter 9 kemarin. Maaf kalau chaper 10 ini sangat gaje
Author: Sky
