"Jeun!"
Jeun hee mengangkat kepala. Jonghyun berdiri di dekat mobilnya. Jeun hee merapatkan jaket, menghampiri kakaknya. "Kenapa masih jemput? Aku bilang kan pulang dengan Changmin."
"Changmin mengirimiku pesan, dia akan pulang sangat sore hari ini. Lagipula aku akan mengantarmu ke dokter hari ini."
"Aku tidak apa-apa. Kenapa harus pergi ke dokter?" jeun hee protes. Dia semakin merapatkan jaketnya. Bibirnya terlihat kering dan wajahnya pucat. Seperti itu masih bilang baik-baik saja dan berserikeras masuk sekolah. Siapa yang tidak khawatir.
"Karena kau sangat keras kepala. Ayo masuk." Jonghyun menarik tangan Jeun hee. Memasukkannya ke mobil.
Mereka sampai di rumah sakit. Jeun hee enggan untuk turun. Jonghyun harus menariknya dan memeganginya agar tidak berbalik kabur.
Jeun hee menghentakkan kakinya berjalan mendahului Jonghyun keluar dari ruang dokter. Jonghyun cekikikan di belakang. Mereka baru saja keluar dari ruangan dokter. Sakit Jeun hee hanya sakit biasa. Itu cukup melegakan. Tapi Jeun hee jadi histeris saat dokter mengeluarkan suntikan dan mengisinya dengan obat cair. Jeun hee hampir melompat dari ranjang periksa, tapi Jonghyun dengan cepat menahannya. Jeun hee memohon agar dia tidak disuntik. Tapi Jonghyun memalingkan wajah, menghindari puppy eyes adiknya. Dan inilah hasilnya. Jeun hee marah dan ngambek padanya.
"jeun hee jangan cepat-cepat." Jonghyun mencoba menyusul. Jeun hee mempercepat langkahnya. Dia sangat kesal dan marah pada hyungnya. Pantatnya masih sakit dan dia ngeri ingat jarum suntik yang berkilau itu. Dia bergidik dan sedikit berlari. Jonghyun menghela nafas panjang.
Jeun hee sampai di tikungan, dari arah lain seseorang juga sedang berjalan. Mereka bertabrakan di sana.
"Maafkan saya, maaf." kata Jeun hee membungkukkan tubuhnya.
"Gweanchana. Berhati-hatilah lain kali."
Jeun hee mengangkat wajahnya dan terkejut. begitu juga dengan orang yang ditabraknya. "Kyuhyun?!"
Kyuhyun mundur selangkah. "Leeteuk hyung…" gumamnya sangat pelan.
"Kau bagaimana bisa ada disini?!" tanya Leeteuk.
Jeun hee semakin mundur dengan langkah yang sulit. 'Jonghyun hyung!'
"Kyuhyun!" Leeteuk meraih tangan Jeun hee. "Kau kemana saja? Kau membuat semua orang kesulitan. Kau sembunyi dimana saja selama ini, ha?!"
Jeun hee semakin menunduk. Dia mencengkram dadanya. Disaat seperti ini, kenapa dia tidak bisa menjadi Jeun hee. Dia kehilangan kontrol akan dirinya lagi. Hanya satu yang dia harapkan sekarang. Jonghyun.
"Lepaskan adikku, tuan!"
Jeun hee merasakan seseorang menarik tubuhnya. "Apa yang anda lakukan?!"
"Adikmu?" Leeteuk bertanya sanksi.
Jonghyun balas menatap tajam Leeteuk. Dia merasakan tubuh adiknya bergetar hebat. Dia mendekatkan Jeun hee padanya. "Anda menyakitinya, tuan." desis Jonghyun marah.
"Aku mengenalnya. Biarkan aku bicara dengannya."
Jonghyun menggeleng. "Kami baru pindah ke Seoul beberapa bulan lalu. Bagaimana kau bisa mengenal adikku?"
"Apa?!" Leeteuk terkejut. mereka baru pindah? Sekali lagi Leeteuk mencoba meyakinkan dirinya dengan melihat wajah Jeun hee. Tapi anak itu menunduk seolah ketakutan. Jonghyun tidak ingin berlama-lama. Dia segera menarik Jeun hee pergi tanpa pamit. Dia menyalahkan diri sendiri yang memaksa Jeun hee ke rumah sakit.
Leeteuk masih tertegun di tempatnya berdiri. Wajah itu sangat mirip dengan Kyuhyun. Tapi namanya berbeda. Dia tidak percaya jika ini hanya sebuah kebetulan berupa wajah yang mirip. Bahkan Kibum yang saudara kembarpun tidak memiliki kemiripan dengan Kyuhyun. Leeteuk mengeluarkan HP, menghubungi sekretarisnya. "Proposal kerja sama dari Lee's group, siapkan itu di mejaku besok pagi."
Jonghyun terus menerus menengok ke sebelah. Jeun hee tidak lagi gemetar, namun Jonghyun tetap khawatir. Adiknya tidak mengatakan apapun dan terus menatap keluar. Jonghyun tidak percaya dengan reaksi Jeun hee saat bertemu Leeteuk. Sesakit itukah perasaannya hingga mengalami reaksi yang tidak lazim? Dia ingat Jeun hee bahkan menyebut rumahnya sebagai neraka. Meskipun dia tahu masa lalu Jeun hee namun sedetail apa itu Jeun hee belum pernah menceritakannya.
Jonghyun menepikan mobil sebelum sampai di rumah. Dia sengaja. Dia ingin adiknya lebih tenang dulu. "Gweanchana, saeng?"
Jeun hee menoleh. Wajahnya murung. "Maaf, hyung. Aku tidak bisa mengendalikan diriku."
Jonghyun mengerti. "Tidak apa-apa. Apa sekarang sudah tenang? Kita bisa lanjutkan perjalanan?"
"Kibum hyung, bagaimana aku harus menghadapinya?"
Jonghyun melupakan itu. Oemma sudah mengatakan tentang pertemuan Jeun hee dengan Kibum. Sialnya mereka satu sekolah. Jonghyun meraih tangan Jeun hee, digenggamnya dengan erat. "Dengar Jeun, seperti yang usianim dulu katakan, kau sendiri yang bisa melawan ketakutanmu. Kami hanya bisa memberimu dukungan."
"Tapi aku tidak bisa mengendalikan diriku. Aku takut, hyung."
"Aku tahu. Karena itu kau harus lebih kuat. Yakinkan pada dirimu, mereka tidak bisa membawamu pergi tanpa kemauanmu. Kau sendiri yang putuskan untuk pergi, jadi kuatlah demi keputusanmu itu. Tunjukkan kau bisa menepis semua ketakutan dan kekhawatiranmu. Kau bisa Jeun, kau kuat."
Setelah Jeun hee lebih yakin, Jonghyun kembali melajukan mobilnya. Sudah lama Jeun hee tidak lagi berkonsultasi ke psikiater karena terus bermimpi buruk. Itu dulu saat Jeun hee baru mereka temukan hingga beberapa bulan menjadi adiknya. Dia terlihat baik-baik saja. Tentunya karena dia merasa aman dan pergaulan di sekitarnya. Tapi sekarang hal itu terjadi lagi. Jonghyun merasa ketakutannya pindah ke Seoul jadi kenyataan. Setelah ini entah apa lagi yang akan terjadi.
Di ruang musik Yesung saem sedang mengajar. Dia mendengarkan beberapa anak yang sedang bernyanyi untuk acara seni bulan depan. Ada lima orang anak. Dua untuk bernyanyi solo dan tiga untuk bernyanyi duet. Jeun hee ada di antara mereka. Dia bernyanyi solo dan duet dengan seorang teman wanita. Ditengah latihan, pintu ruang musik terbuka. Beberapa anak masuk dengan tenang dan hati-hati takut mengganggu latihan. Jeun hee melihat Changmin diantara mereka, tersenyum kecil. Kemudian senyumnya pudar saat melihat Donghae yang menarik tangan Kibum.
"Kau harus mendengarnya, suaranya sangat indah. Rasanya disini jadi hangat." kata Donghae seraya menyentuh dada Kibum.
Doghae mendudukkan Kibum disalah satu bangku yang di tata rapi di tepi ruangan. Bangku-bangku di letakkan mengikuti jalur tembok, hingga menyisakan ruangan tengah yang luas. Di tengah ruangan diletakkan sebuah piano dan di salah satu sudut lain di letakkan beberapa alat musik seperti gitar dan drum. Yesung saem yang sengaja mengaturnya seperti itu dan membiarkan orang luar datang untuk melihat latihan. Katanya untuk mengasah mental mereka saat perfome. Tapi karena ruangan yang terbatas tentu saja ada batasan untuk yang datang. Jika sekiranya sudah penuh dan malah membuat ruangan jadi panas, Yesung saem tidak segan-segan mengusir mereka.
Kibum memperhatikan saat Jeun hee dipanggil untuk menyanyikan lagu yang akan di nyanyikannya di pentas seni nanti. Jeun hee nampak menghela nafas sebelum berdiri dari bangkunya. Dia berdiri di depan piano, Yesung saem berdiri tidak jauh darinya kali ini orang lain yang akan memainkan pianonya. Yesung saem mendengarkan sekaligus mengevaluasi mereka.
Jeun hee mulai bernyanyi di nada yang tepat. Satu baris dia selamat, dua baris Yesung saem memejamkan mata. Memasuki baris ketiga Yesung saem mendekat dan menggeplak kepala Jeun hee. Lagu seketika berhenti. Jeun menatap Yesung saem seraya mengelus kepalanya.
"Apanya yang salah? Nadaku benar." keluh Jeun hee sedikit memanyunkan bibirnya.
Yesung melototkan matanya. Dia mengangkat tangannya lagi tapi Jeun hee buru-buru menutupi kepalanya dengan kertas lagu.
"Ishh kau ini! Sudah sering kukatakan pakai perasaanmu saat bernyanyi! Begitu sulitkah kau memakai perasaanmu?! Kau memiliki perasaan atau tidak?!" sembur Yesung saem tidak tanggung-tanggung. Jeun hee semakin memajukan bibirnya. Yesung saem memberi kode untuk mengulang.
Changmin cekikikan. Siwon disampingnya menyodok perutnya. "Apa yang lucu? Kau akan kena marah saem, jika terus tertawa."
"Dia tidak semengerikan itu. Jeun hee saja masih memasang wajah itu." bantah Changmin. Siwon, Minho, Yunho,Donghae kecuali Kibum yang memang sejak awal terus memperhatikan Jeun hee, melihat ekspresi Jeun hee yang tidak seperti wajah orang yang sedang dimarahi. Jeun hee masih memanyunkan bibir sampai saat dia kembali bernyanyi.
"Anak itu, padahal saem segalak itu." heran Yunho.
"Tidak ada yang salah dengan nadanya, tapi dia kurang berekspresi. Aku bisa melakukannya lebih baik." perkataan Minho mengundang tatapan yang lain. Dia meringis ditatap seperti itu dan kembali memperhatikan Jeun hee yang rupanya lagi-lagi kena geplakan dari Yesung saem.
"Yesung hyung jangan memukul kepalaku terus! Sakit." jeun hee protes dan menggunakan panggilan hyung kali ini. Yesung mulai gregetan dan gemas. Dia meraih kertas lagu dan menggulungnya dengan semangat. Jeun hee meringis.
"Mianhe, aku akan mengulang. Hyung pianis tolong sekali lagi ne?" katanya buru-buru.
Yesung menghela nafas panjang, mengelus dadanya, yang lain menahan senyum. Menghadapi Jeun hee perlu banyak kesabaran. Itulah yang baru dia sadari beberapa waktu kemarin. Saat Jeun hee masuk ke ruang musik dulu, sewaktu menghindari Kibum, mereka jadi lebih dekat. Yeah bisa dibilang menjadi lebih mengenal. Dia juga baru tahu ternyata Jeun hee sangat cerewet. Entah itu sifat aslinya atau hanya untuk menutupi kegugupannya. Dia juga merasa nyaman. Sejak saat itu ekskul musik jadi tidak sekaku dulu. Sekarang ada Jeun hee yang akan terus membuat keonaran bagi Yesung, dan mencairkan suasana tegang bagi murid ekskul yang lain.
Jeun hee tidak langsung bernyanyi. Dia menatap kertas lagu dan tidak ada tanda akan bernyanyi. Yesung mengetukkan jarinya di piano, memberi kode pada pianis untuk berhenti. "Kau butuh berapa lama, ha?"
Jeun hee mengangkat wajahnya, menatap Yesung. "Aku baru tahu lagu ini saat saem memutuskan aku bernyanyi di pentas seni. Mari bertaruh, jika aku menyanyikannya dengan baik dan menjiwai seperti yang hyung katakan, traktir kami makan jjangmyun selesai latihan."
Yesung mengangkat dagu, tersenyum. Pikirnya, anak ingusan mana yang ingin bertaruh dengannya? Tadi saja dia gagal, apa bedanya dengan nanti? Tanpa ajarannya apa Jeun hee bisa? "Baiklah."
"Deal." Jeun hee tersenyum senang. "Beri aku waktu 15 menit."
"10 menit."
Jeun hee mendecak. Tapi tidak protes lagi. Dia kembali menekuni kertas lagunya. Dia membaca dan mencoba memahami setiap baris kalimat dalam lagu tersebut. Hingga 10 menit waktu habis. Yesung saem memberi kode pada pianis untuk memulai. Jeun hee melihat sekilas kertasnya, lalu mengangguk sebagai tanda dia siap.
Semua orang terdiam mendengarkan. Yesung saem menurunkan kedua tangannya. Dengan hikmat mendengarkan setiap kata yang dinyanyikan Jeun hee. Dia tersenyum. Penilaiannya benar. Sejak awal Jeun hee masuk untuk mendaftar dia tahu suara anak itu berbeda. Maka tanpa banyak bicara dia hanya ingin Jeun hee segera bernyanyi. Dia terpesona. Sungguh, dia hampir tidak bisa mengutarakan penilaiannya waktu itu. Untung dia disadarkan oleh tepukan teman Jeun hee. Kali ini pun dia disadarkan oleh teriakan melengking itu.
Yesung menelengkan kepalanya, menahan sakit di telinganya akibat suara jeritan itu. Dia menoleh dan mendapati si tiang listrik, teman Jeun hee jadi orang pertama yang memecahkan keheningan. Changmin beranjak lalu memeluk Jeun hee. "Semua orang akan terhipnotis di pentas seni nanti! Kau memang yang terbaik, Jeun! Saranghae!"
Jeun hee mendorong Changmin jauh-jauh. "YAK! Pabbo!" Jeun hee bergidik dan mengusap tubuhnya berlaku seolah jijik dengan pelukan Changmin. Namun Changmin tidak peduli.
Kibum tidak berkedip selama itu. Dan tersadar juga oleh lengkingan Changmin. Di matanya sekarang saudara kembarnya sangat berbeda. Benar-benar berbeda. 'Hidupmu pasti jauh lebih menyenangkan sekarang.' dia mengulas senyum kecil. Donghae yang melihatnya mengernyit heran. Namun kemudian ikut tersenyum. Jarang-jarang dia melihat si dingin itu tersenyum. Dan dia tahu siapa yang membuatnya jadi seperti ini.
"Kyuhyun." panggil Kibum pada Jeun hee yang keluar paling belakang dari ruang musik.
"Kau salah orang, Kibum-ssi." jawab Jeun hee malas. Dia merasa rileks. Entah karena apa, tapi ini bagus kan. Dia juga tidak mau kalau terus-terusan seperti orang paranoid bila berhadapan dengan orang-orang di masa lalunya.
"Tidak. Aku yakin itu kau."
"Siapa yang kau maksud? Kyuhyun? Siapa dia? Sudahlah, Yesung saem menunggu kau ikut tidak? Dia bilang akan menraktir semua yang ada di ruangan tadi." tidak menunggu jawaban Kibum, Jeun hee melangkah pergi. Kibum menghela nafas dan ikut berlalu. Bagaiman bisa dia melewatkan kesempatan bersama dengan saudaranya?
Tbc-
