Disclaimer. Masashi Kishimoto
Warning. AU,OOC, typo
.
.
.
Tenth Year
Wanita berusia 23 tahun itu bernama Amaru. Hanya Amaru tanpa nama keluarga. Ia adalah salah satu mafia terbaik yang dimiliki Jepang. Agak ganjil sebenarnya menempatkan kata terbaik dan mafia, tapi begitulah kenyataannya. Ia terbaik diantara semua mafia yang pernah dikenal oleh Gaara.
Amaru merupakan anak angkat dari Shinnou, seorang tetua mafia yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia hitam tersebut. Masa kanak-kanak yang dihabiskan dengan mengikuti Shinnou, membuat wanita berkulit coklat itu mau tak mau terlibat dalam bisnis sang ayah. Dengan pengalaman tersebut, tidak heran kalau Amaru memiliki kemampuan di atas rata-rata, terutama dalam mencari informasi rahasia.
Organisasi mafia tempatnya dibesarkan memiliki berbagai sektor penanganan. Penghilangan jejak seseorang, penyelundupan senjata, perjudian, serta investasi hitam. Hal itu melatih dirinya untuk bisa mendapatkan berbagai informasi dari berbagai sumber rahasia. Tak jarang banyak orang yang tertarik menggunakan jasanya untuk kepentingan mereka dengan bayaran yang tidak murah.
Amaru tidak serta merta langsung mengiyakan tawaran yang datang padanya. Walaupun bayaran yang diberikan mahal, ia sangat selektif memilih 'misi' yang akan dilakukannya. Kalau pekerjaannya sederhana dan tidak menantang, ia tidak akan tertarik, berapapun orang membayarnya. Memang terdengar menyebalkan.
Namun, ada sedikit orang yang berada pada daftar spesial Amaru. Ia akan melaksanakan tugas sesuai dengan permintaan orang tersebut tanpa melihat bayaran ataupun bentuk misinya, Salah satu orang tersebut adalah Gaara.
Ia tertarik pada pemuda berambut merah itu. Bukan secara romansa, tapi lebih kepada kehidupan Gaara yang menurutnya menarik dan menantang. Gaara yang merupakan pewaris perusahaan raksasa nomor satu di Jepang – Sabaku Corp., di usianya yang masih belasan telah mengenal dunia mafia. Bahkan seingatnya, Gaara mendatangi markas mereka masih dengan seragam Junior High-nya. Ironisnya, Kazekage Sabaku sang ayah pernah mencatatkan namanya sebagai salah satu daftar pengusaha yang menolak keberadaan mafia. What a wonderful family…
"…jadi, mereka semua memberikan hibah pada Orochimaru?" suara pertama Gaara setelah membaca file laporan yang diberikan Amaru.
Amaru melipat tangannya di dada,"Seperti yang tertera di data itu, setelah menerima proposal perusahaan dari Orochimaru, mereka setuju untuk memberikan hibah guna pendirian Orch Group. Tidak sulit bagi Orochimaru mempersuasi mereka, karena telah mengenal satu sama lain. Hal itu menjadi salah satu faktor yang mendorong mereka untuk membantu. Kemungkinan adalah balas jasa karena Orochimaru pernah menolong mereka ketika ia masih tergabung dalam organisasi mafia."
Gaara memandang kembali daftar perusahaan yang menghibangkan harta pada Orch Group. Senju Company, Akatsuki Group, Haruno Inc., Uchiha Corp.,dan Inuzuka Corp. Dengan kata lain, perusahaan-perusahaan ini pernah berinteraksi dengan mafia selama karirnya.
"Bukan berarti perusahaan lain tidak pernah berhubungan dengan mafia. Mereka mungkin berteman dengan mafia yang berbeda," kata Amaru seolah membaca pikiran Gaara.
"…"
"Hyuuga juga ikut," Amaru membukakan halaman berikutnya untuk dilihat oleh Gaara. "Dana hibah yang mereka berikan paling banyak,"
Gaara memperhatikan halaman yang ditunjuk Amaru dan membacanya dengan cepat. Lalu mengerutkan kening.
"Seperti yang kau lihat, ini cukup mencurigakan," Amaru tersenyum melihat ekspresi Gaara. Seperti dugaannya.
"Secara resmi Hyuuga Foundation tidak menyetujui pendanaan apapun untuk Orch Group. Sehingga bisa kau lihat bahwa surat perjanjian ini cacat, namun tetap dianggap sah," Amaru menunjuk halaman pengesahan yang telah ditandatangani dan segera paham maksud Amaru.
"Jadi, seseorang yang berkepentingan membuat surat perjanjian atas nama Hyuuga untuk membiayai Orch Group. Orang tersebut tak diragukan lagi berasal dari Hyuuga sendiri," kata Amaru lagi.
"Hizashi Hyuuga…" simpul Gaara.
"Setelah medapatkan dana yang cukup untuk membangun perusahaan sendiri, Orch Group diam-diam bekerjasama dengan Hizashi dan bersekongkol untuk menjatuhkan Hyuuga Foundation, yaitu dengan membangun perusahaan boneka bernama Uzumaki. Setelah Hyuuga bangkrut, seluruh aset Hyuuga berpindah tangan ke Uzumaki yang juga berarti milik Orochimaru dan Hizashi. Namun entah bagaimana Orochimaru mengkhianati Hizashi dan menghilangkan jejak Hizashi,"
"Dalam menjatuhkan Hyuuga Foundation, mereka tidak berdua. Dan seperti dugaanmu sebelumnya, ada perusahaan lain yang berada di balik layar untuk menyokong Orochimaru menghancurkan Hyuuga Foundation dan mengkhianati Hizashi," jelas Amaru.
"Benar. Karena tidak mungkin bagi perusahaan baru seperti Orch Group menghancurkan Hyuuga yang saat itu berada di posisi tiga besar The Ten big Bosses." Sambung Gaara.
"Bisa saja perusahaan itu adalah salah satu dari yang menghibahkan dana pada Orch Group," kata Amaru.
Gaara menyetujui pendapat wanita itu. Ya, itu kesimpulan yang sangat masuk akal. Pertanyaannya siapa?
Gaara berpikir sejenak. Ia mencoba menelaah satu-satu perusahaan yang ada di daftar Amaru. Pertama Inuzuka Corp., mereka tidak lagi ada di The Ten Big Bosses sejak tahun 2000. Mengalami kerugian akibat investasi yang buruk. Aneh rasanya apabila mereka memberikan hibah di tahun-tahun krisis. Kalau tujuan mereka membantu Orochimaru adalah untuk kembali ke The Ten Big Bosses, mungkin Inuzuka perlu diwaspadai. Tapi dengan krisis di investasi yang tak kunjung membaik rasanya hal tersebut tidak masuk akal.
Kesimpulannya, perusahaan yang membantu Orch Group untuk menghancurkan Hyuuga adalah perusahaan yang stabil dan besar. Selain Inuzuka Corp., semua perusahaan yang memberikan hibah pada Orch. Group stabil, namun siapa yang berambisi untuk menghancurkan Hyuuga?
"Kurasa kita perlu menyelidiki hubungan perusahaan-perusahaan ini dengan Hyuuga," Gaara mengakhiri kesimpulannya.
"Haruno Inc., Senju Company, Akatsuki Group, dan Uchiha Corp.,"
.
..Ͼ╒..
.
"Hinata!"
Seruan juga tarikan kuat dirasakan si gadis Hyuuga di lengan kirinya. Sentuhan keras tersebut membuat ia membelalakkan mata sembari melihat siapa yang melakukan hal tidak ramah itu padanya. Lalu di detik berikutnya, ia tidak kuasa menyembunyikan keterkejutannya.
'Sabaku Gaara!'
Pagi ini Hinata pergi ke kampus dengan suasana hati yang baik. Ia bangun tepat waktu dan tidak ada tugas di mata kuliah hari ini. Juga yang lebih menyenangkan, Uchiha Sasuke menjemputnya di flat untuk berangkat bersama. Namun baru saja sampai di kampus dan Sasuke sedang tidak dengannya, ia kemudian dihadapkan pada situasi yang membuat dirinya sadar bahwa hari ini bukan miliknya seorang. Rasanya sudah lama sekali ia tidak berhadapan dengan jade hijau milik Gaara yang mengerikan itu.
Gaara memandanginya seperti biasa, mengintimidasi dengan seluruh perhatian yang hanya terpusat pada Hinata. Ia takut, namun di sisi lain merasa berharga.
"A-ada apa?" cicitnya hampir tak terdengar.
Pemuda berambut merah itu bisa merasakan kedua rahangnya menyatu karena menahan geram. Gadis ini masih bertanya ada apa di saat keduanya tahu hal apa yang tengah terjadi di antara mereka. Mereka harusnya masih punya kisah.
"Kau…" Gaara menahan emosi yang hampir memuncak.
"Le-lepaskan aku!" Hinata menampik cengkraman kuat Gaara. Terlalu beresiko untuk menatap iris Gaara saat ini.
"Dengar," Gaara melepaskan cengkramannya di lengan Hinata lalu memojokkan gadis itu ke sudut.
"Kalau kau menghindariku karena kejadian di pesta itu, aku minta maaf… hei, dengarkan aku!" bentaknya kemudian. Benar-benar tidak sabar dengan sikap Hinata yang tidak kooperatif.
Hinata spontan menahan napas.
"Aku tidak terima kau menghindariku, Hinata. Dan apapun yang terjadi antara kau dan Uchiha itu, aku tidak peduli. Sekarang kita perlu bicara, ada hal penting yang harus kusampaikan padamu," jelas Gaara.
"T-tidak ada yang perlu disampaikan lagi," Suara Hinata masih pelan, tapi ia sudah mengatur napasnya kembali.
"Ini belum berakhir, Hinata. Masih ada hal yang harus kau ketahui," kata Gaara lagi.
"M-maksud Sabaku-san? Akh!"
Gaara tak lagi bisa mengontrol diri. Ia remas lengan Hinata dan mendorong tubuh gadis itu ke dinding koridor. Hinata ini, sungguh… harusnya ia bahagia karena bisa mencuri perhatian seorang Sabaku Gaara. Akan tetapi gadis berponi itu lebih memilih membuat Gaara naik pitam dengan sedikit perkataan yang keluar dari bibir indahnya.
Gaara juga tidak mengerti mengapa seorang Hinata bisa membuatnya seperti ini. Ia memang sering hilang kesabaran, namun demi seorang gadis dan perasaan romansa, tentu ini yang pertama.
Pertama, dan terasa menyesakkan.
"Panggil namaku, Hinata!"
"Ga-gaara-san," koreksi Hinata dengan wajah pias dan mata yang berkaca-kaca.
Gaara mendecih, kesal dan merasa bersalah di waktu bersamaan.
"Sejauh mana kau mengetahui kasus Hyuuga Foundation? Kau sudah tahu siapa dalangnya?" kata Gaara setelah beberapa saat diam.
"E-eto, a-aku sudah tahu siapa pelaku sebenarnya. Sasu– eh, Uchiha-san membantuku untuk mengetahui semuanya," kata Hinata sambil menunduk.
Hinata lalu menceritakan perjalanannya bersama Sasuke ke tempat Hyuuga Hizashi disekap. Ia juga memberitahu Gaara tentang ayahnya, kerjasama Hizashi dan Orochimaru, juga pada kesimpulan bahwa Orochimaru-lah dalang utamanya.
Hinata terus bercerita walaupun agak tergagap, terutama ketika menyebut nama Sasuke. Hinata seolah merutuki bibirnya yang selalu menyebut Sasuke alih-alih Uchiha. Gadis itu seakan tidak ingin Gaara tahu bahwa ia sudah memanggil pria Uchiha itu dengan nama kecilnya. Namun sayangnya, pesan itu ditangkap Gaara.
Gaara terus menggeram, walaupun ia tetap mendengarkan cerita Hinata. Ternyata dirinya telah didahului oleh Uchiha sialan itu. Kesalahannya pada Hinata ditangkap Sasuke sebagai kesempatan untuk mengambil Hinata. Tapi, ia tidak menyerah. Gaara tidak akan menyerah, ia tidak akan membiarkan Sasuke mengambil Hinata.
"Kau sudah sangat dekat dengan 'Sasuke' itu?" sindirnya dengan air muka yang jelas memperlihatkan ketidaksukaan. Tak pelak, wajah Hinata memerah.
"Saba– ahk! Gaara-san!"
Hinata terdorong ke tembok dingin yang ada di belakangnya. Iris Gaara seperti bersinar dalam cahaya temaran di lorong tersebut. Hinata baru menyadari bahwa tidak ada seorang pun di tempat itu kecuali dirinya yang tengah terjepit oleh pria Sabaku.
"Mungkin kau sudah lupa atau kau tidak dengar dengan yang kukatakan waktu itu, Hyuuga Hinata…" Gaara berbisik di telinga Hinata dengan suara yang berubah dingin.
"Tidak apa. Aku akan mengatakannya sekali lagi," lanjutnya.
Kedua tangan Gaara mengurung tubuh Hinata, yang satu menempel pada dinding dan tangan satunya lagi membelai rambut halus gadis itu. Gaara memajukan tubuhnya, mendekatkan bibirnya pada telinga Hinata. Lalu berbisik.
"Aku menyukaimu…"
Gaara meraih dagu Hinata, memaksa iris tanpa pupil itu memandang jadenya. Ini serius. Tidak bisakah gadis itu melihatnya? Gaara tidak pernah berpikir untuk mempermainkan gadis itu. Dia benar-benar menyukai Hinata, menginginkan gadis itu menjadi miliknya. Apakah terlihat kasar? Apa boleh buat, ini memang gayanya.
"Dan… kalau kau melupakannya lagi…" Tubuh Hinata menegang.
"Akan kupastikan kau tidak akan bisa lepas dariku, Hinata,"
"Juga,…" Gaara menempelkan bibirnya pada daun telinga Hinata.
"Ini belum selesai. Orochimaru bukanlah dalang utama dari kejatuhan ayahmu…"
.
..Ͼ╒..
.
Apa maksud semua ini?
Apa yang tengah terjadi sebenarnya? Hinata sungguh terkejut dengan apa yang diucapkan Gaara beberapa jam yang lalu ketika pria itu mencegatnya di lorong sepi kampus. Setelah mengatakan hal itu, Gaara meninggalkan Hinata yang terpaku. Membiarkannya mencerna lebih jelas informasi yang disampaikan pria tersebut.
Siapa yang harus diwaspadai sebenarnya?
Kalau benar apa yang dikatakan Gaara, maka Hinata harus cepat memberitahu ayahnya. Mungkin saja mereka akan kembali mengancam Hiashi karena telah mengetahui tempat penyekapan Hizashi Hyuuga dan kerjasamanya dengan Orochimaru. Atau perlukah ia memberitahu Sasuke? Memberitahu pria Uchiha itu informasi yang diberikan Gaara?
Tidak. Itu kelihatan kejam. Seolah memanfaatkan Gaara.
Tapi, demi kejelasan kasus harusnya dirinya memilih hal itu, kan? Maksudnya, tidak perlu peduli darimana datangnya informasi, kalau dirinya ingin mengungkap penyebab kejatuhan Hyuuga seutuhnya. Namun dari penilaiannya sendiri, Hinata sadar bahwa ia sudah memasukkan perasaan pribadi dalam hal ini.
Ya, masalah pribadi tentang Sasuke dan Gaara.
Memilih.
Seolah itu yang telah Hinata lakukan. Bersama Sasuke dan menghindari Gaara.
Lega?
Entahlah, Hinata hanya ingin percaya bahwa ia telah melakukan hal baik. Jasa Sasuke-lah yang membuat dirinya mengetahui apa yang terjadi pada keluarganya. Ia ingin terus mempercayai pemuda itu. Ia tidak memilih, dirinya hanya menerima sesuatu yang dipilihkan untuknya. Hinata masih belum kenal bagaimana hatinya. Kedua pria ini membuatnya berdebar, dengan irama jantung yang berbeda. Ia yakin pada Sasuke, tapi perasaan Gaara tidak bisa diabaikannya.
Hinata juga tidak ingin tamak. Ia tidak mau membandingkan dan tidak suka melakukannya. Oleh karena itu, ia menerima Sasuke yang lebih dulu membuatnya merasa nyaman. Ia ingin percaya itu.
Tapi…
'Aku menyukaimu…'
"Hinata,"
"…"
"Hinata?"
"Ah… I-iya Sasuke!" kejut Hinata. Tersadar dari lamunannya.
"Kau memikirkan sesuatu?" Sasuke memandang Hinata heran. Hinata hanya menggeleng guna menganggapi perkataan pemuda itu. Ia tidak sadar sedang bersama dengan pria itu sekarang. Keduanya sedang berada di mobil Sasuke.
Mungkin pikirannya saat ini perlu ditunda. Ada hal yang lebih mendesak sekarang. Ia sedang dalam perjalanan. Akan kemana mereka? Ah benar, rumah Sasuke. Jantung Hinata berdetak lebih cepat secara otomatis. Bukankah sekarang lebih baik memikirkan salam perkenalan seperti apa yang tepat untuk keluarga Uchiha.
Eh… bukan! Maksudnya, ia tidak seserius itu menanggapi permintaan Sasuke untuk berkunjung ke rumahnya. Sasuke juga tidak khusus mengajak Hinata untuk berkenalan dengan keluarganya. Maksudnya, bukan Hinata ingin berkenalan dengan keluarga Uchiha atau apa… ah, Hinata tidak tahu mengapa ia langsung memikirkan itu. Dirinya sungguh gugup.
Puluhan menit telah berlalu dan kelihatannya mereka telah sampai di tempat tujuan. Terbukti dengan Sasuke mulai melambatkan laju mobil Range Rover hitam miliknya.
Hinata memandang gapura yang baru saja mereka lewati. Bertanya dalam hati apa arti lambang kipas yang tercetak di tengah-tengah gapura tersebut. Jalan yang mereka lewati lebih kecil dengan aspal yang terlihat licin. Mobil Sasuke melewati beberapa bangunan dengan berbagai bentuk yang dikelilingi rerumputan dan taman kecil. Bangunan-bangunan itu terlihat sunyi, sesekali satu dua orang berseragam pelayan lalu lalang dari satu bangunan ke bangunan lain.
Hinata tidak tahu apa yang berada di dalam bangunan itu, namun ada satu bangunan kaca yang menyimpan banyak sekali peralatan gym, layaknya ruang olahraga pribadi.
Sekilas Hinata juga bisa melihat bangunan yang lebih besar dengan banyak jendela. Ia menyadari, mungkin tempat itulah yang menjadi tujuan mereka. Rumah Sasuke.
Tapi, alih-alih mengikuti jalan ke bangunan tersebut, Sasuke membelokkan mobilnya ke jalan lain dan tak berapa lama berhenti di depan sebuah bangunan yang terlihat menarik. Arsitekturnya sederhana dengan eksterior yang didominasi kaca besar dan kayu berpelitur licin. Kesederhanaannya membuat bangunan itu terlihat berkelas juga misterius. Sangat Sasuke.
Sasuke keluar dari mobil dan menuntun Hinata mengikutinya. Hinata berjalan lambat sembari menggenggam tangannya di depan dada. Ia merasa gugup sekarang. Otaknya masih memutar pikiran sebelumnya. Seperti apakah keluarga Uchiha itu?
Ruangan luas dan kosong itu didominasi warna putih. Hanya beberapa perabot dasar yang menghiasi sudut-sudut ruangan tersebut. Sebuah tangga kayu menghubungkan lantai dasar dan lantai berikutnya yang berisi sebuah tempat tidur bernuansa gelap juga sekat yang terlihat seperti kamar mandi terbuka.
"Ini kamarku,"
Hinata memandang ke seluruh ruangan. Satu bangunan ini, kamar Sasuke? 'Oke', Hinata menghela napas. Apa yang ia harapkan?
"Kau bisa menonton TV, aku akan panggil pelayan untuk membawakan makanan," kata Sasuke. Ia kemudian mengambil gagang telepon yang ada di dekat sofa kemudian berbicara dengan seseorang untuk membawa makanan ke kamarnya.
"J-jadi dimana keluargamu?" tanya Hinata takut-takut.
Sasuke berpikir sebentar, "Bangunan yang paling besar itu tempat orang tuaku, aniki ada di bangunan sebelah timurnya,"
Hinata tidak lagi berkomentar. Pasrah. Ia terlalu tidak biasa dengan kehidupan mewah orang-orang seperti Sasuke. Kamar pria ini bahkan lebih besar dari rumahnya sendiri.
Dengan canggung Hinata mendudukkan tubuhnya ke sofa, duduk bersebelahan dengan Sasuke. Sofa di ruangan itu hanya satu walaupun berukuran besar, padahal Hinata ingin duduk terpisah dari Sasuke. Keadaan ini malah membuat dirinya makin canggung.
"E..eto, jadi, untuk apa kita kesini?" Hinata memulai pembicaraan.
"Menghabiskan waktu, mungkin?" jawab Sasuke acuh, mengabaikan mata bening Hinata yang melebar karena jawabannya.
Sasuke tidak bohong. Ia ingin menahan Hinata di sampingnya. Pemuda berambut raven itu punya firasat bahwa Sabaku Gaara telah menemui Hinata di kampus. Ia tidak asal tebak, hanya saja seringai pria berambut merah itu menjawab semuanya ketika mereka berpapasan di tempat parkir. Belum lagi sikap Hinata yang lebih cenderung diam dan menunduk. Sasuke tahu, tidak mungkin orang seperti Gaara akan menyerah karena Hinata mengacuhkannya. Hal itu tidak akan sebanding dengan waktu yang telah dihabiskan untuk mencari gadis itu.
Sasuke mendorong Hinata ke sandaran sofa, lalu dengan acuhnya ia sandarkan kepalanya ke bahu kecil gadis itu. Hinata gelagapan karena tidak siap dengan aksi yang diberikan Sasuke. Ia berusaha membuat jarak dengan menggeser sedikit tubuhnya. Namun sia-sia, Sasuke lebih dulu menangkapnya dengan menyamankan kepalanya di perpotongan leher Hinata.
"Sas– "
"Aku ngantuk," kata Sasuke sekenanya.
Hinata menegang saat kedua lengan Sasuke memeluk pinggangnya, menipiskan jarak diantara mereka. Kepalanya pening karena darah yang naik ke ubun-ubun. Belum lagi rona merah akut yang setia di wajahnya. Ini, terlalu intim dan menyesakkan.
"Sasuke, kau sudah pulang?"
"!?"
Hinata kaget bukan kepalang karena seorang pria yang tiba-tiba masuk ke kamar Sasuke. Pria itu berpostur tinggi dan tegap dengan rambut panjang terikat. Matanya berwarna hitam pekat dengan rahang tirus yang terlihat jelas. Mirip Sasuke.
Hinata spontan bangkit dari sofa, namun karena tubuhnya terkurung dalam pelukan Sasuke, ia tidak bisa membuat gerak refleks, alhasil dirinya menggeliat tak nyaman karena Sasuke yang tak segera mengubah posisi mereka.
Merasakan kegelisahan Hinata, dengan malas Sasuke melepaskan gadis itu dan berdiri untuk mendekati pria tersebut. Hinata pun dengan segera merapikan pakaiannya kemudian membungkuk formal.
"M-maaf mengganggu," katanya cepat tanpa memandang wajah pria tersebut.
Pria berambut hitam itu tidak bereaksi apa-apa. Ia hanya diam kemudian berlalu seolah tidak peduli. Pria itu kemudian mengisyaratkan Sasuke untuk mengikutinya.
"Itachi,"
"Ada apa?" tanya Sasuke setelah Itachi berhenti di dekat jendela.
Itachi memandang ke belakang Sasuke, memperhatikan gadis berambut panjang yang tampak sangat salah tingkah. Itachi memejamkan matanya kemudian beralih memandang Sasuke dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Siapa gadis itu?" tanya Itachi.
Sasuke tidak segera menjawab, membuat Itachi tahu benar artinya. Sesungguhnya ini sebuah kejutan, Sasuke tiba-tiba membawa seorang gadis ke kediaman Uchiha. Yah, terserah apa yang akan mereka lakukan, Itachi tidak ingin peduli. Seingatnya, hanya Karin gadis yang pernah ke rumah mereka. Itupun karena Fugaku yang memberikan izin.
"Otou-sama bisa marah kalau kau membawa gadis lain, Sasuke," kata Itachi. Menyerah karena Sasuke tidak menjawab secara pertanyaan sebelumnya.
"Jangan membawa gadis sembarangan kalau kau hanya ingin bersenang-senang,"
"Dia bukan gadis sembarangan. Dia milikku," desis Sasuke.
Itachi tersenyum misterius. Selalu menarik mengetahui sisi Sasuke yang seperti ini. Pemarah, cepat tersinggung, dan yang mengejutkan, posesif. Itachi baru tahu bahwa adiknya memiliki sifat tersebut. Pasti menyenangkan kalau dirinya mengganggu gadis manis milik Sasuke itu.
"Setidaknya kau harus mengenalkannya pada Otou-sama," kata Itachi sambil berlalu.
"Ada apa kau menemuiku?" tanya Sasuke.
"Hm, tidak ada," Itachi berpikir sebentar. "Aku hanya ingin melihatmu. Kita jarang bertemu, kan…"
"…"
"Aku akan memberitahumu nanti," lanjut Itachi kemudian. Sasuke memang tidak mudah percaya begitu saja.
Itachi meninggalkan Sasuke lalu melangkahkan kakinya pelan ke arah Hinata dan melaluinya begitu saja. Ia mendapati gadis berambut indigo itu kembali membungkuk hormat kepadanya. Gadis itu terlihat kaku dan tidak percaya diri. Itachi ingin tahu siapa gadis ini. Gadis seperti apa yang bisa membuat Sasuke berpaling dari perintah ayah mereka. Ya. Sasuke harusnya bisa menjelaskan nanti pada Fugaku mengapa ada gadis selain Karin.
Karin adalah satu-satunya gadis yang secara resmi disetujui oleh Fugaku untuk berhubungan dengan Sasuke. Titah Fugaku tidak bisa dibantah. Dan kalau Sasuke dengan berani membawa gadis lain ke kediaman Uchiha, Itachi mungkin sedikit banyak menunggu hal menarik yang akan terjadi.
Hal menarik…
"Nona, boleh kutahu namamu?"
Itachi membalikkan tubuhnya, namun tidak berusaha mendekati gadis itu. Ia memajang senyum ramah yang hanya bisa dipahami oleh dirinya sendiri.
Tubuh Hinata bergetar. Kehilangan diri beberapa saat karena ekspresi Itachi yang tidak terprediksi sama sekali. Ia menelan ludah, berusaha tidak gugup. 'Tenang', katanya pada diri sendiri.
"Hinata. Hinata Hyuuga …"
.
..Ͼ╒..
.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam ketika Hinata memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia dan Sasuke menghabiskan waktu kurang lebih tiga jam dengan menonton film. Tidak ada percakapan yang berarti, mereka lebih fokus pada layar yang menampilkan film action pilihan Sasuke.
Sebenarnya, Hinata tidak benar-benar fokus menonton film tersebut. Gadis itu lebih memilih untuk menikmati pikirannya yang tertuju pada hal lain, mengingat kembali pertemuannya dengan Itachi, kakak Sasuke. Orang itu tidak menyeramkan. Dari senyumnya yang ramah, Hinata tahu bahwa pria itu memiliki kepribadian yang berbeda dari Sasuke. Namun, entah mengapa ada perasaan ganjil setelah pria itu pergi. Apakah Itachi kurang menyukai dirinya? Atau ada yang salah dengan dirinya?
Benar. Hinata kurang memperkenalkan dirinya dengan baik waktu itu. Ia tidak menghampiri Itachi dan mengucapkan salam dengan sopan sebagai tamu yang baru pertama kali berkunjung. Terlebih lagi, ia seorang gadis yang bertamu ke kamar seorang pemuda. Hinata bisa membayangkan apa pikiran Itachi tentang dirinya.
Tapi, tapi…
Tetap saja perasaan ganjil itu masih terasa. Seperti ada alasan lain.
Lalu sampai di dalam mobil Sasuke yang mengantarnya pulang pun, Hinata masih setia dengan pikiran tersebut. Kegundahan Hinata tersebut membuat Sasuke menyadari bahwa ada yang tengah dipikirkan gadis itu. Sasuke lalu menggenggam tangan Hinata, membuat gadis indigo itu tersentak dari lamunannya.
"Kau kenapa?" tanya Sasuke.
"Ah, ti-tidak apa-apa," elak Hinata. Berusaha memajang senyum pertanda bahwa ia sudah kembali bersama Sasuke.
Sasuke menarik bibirnya sedikit guna menandakan kelegaannya. Perlahan dilepaskannya genggaman dengan Hinata walaupun sedikit tidak rela. Kedua tangan Sasuke kini fokus kembali pada kemudi.
"Sasuke, Itachi-san…" kata Hinata ragu-ragu setelah lama terdiam.
"Hm?"
"…"
"Aa…t-tidak…" Hinata menahan diri.
Hinata kemudian memandang jendela, sesekali melirik Sasuke dari sudut matanya. Ia bingung bagaimana menyampaikan apa yang dirasakannya. Pun, pemuda itu terlihat tidak begitu tertarik. Perlahan dihelanya napasnya. Mungkin dirinya yang terlalu khawatir mengenai penilaian Itachi. Mungkin hanya perasaannya saja bahwa ada hal lain yang tersembunyi dibalik senyum pudar Itachi. Sudahlah, Hinata tidak ingin ambil pusing. Kalau bertemu Itachi lagi ia berjanji akan bersikap lebih baik.
Tak berapa lama, mereka telah sampai di flat Hinata.
"Terima kasih Sasuke," kata Hinata sembari membuka pengait sabuk pengamannya.
Ketika akan meraih pintu, tiba-tiba lengan Hinata ditarik oleh Sasuke.
"A-ada apa?"
Sasuke tersenyum tipis. Hinata sepertinya tidak tahu apa yang akan Sasuke lakukan padanya. Tidak mungkin gadis itu keluar hanya dengan meninggalkan ucapan terima kasih. Sasuke tidak semurah hati itu.
Perlahan Uchiha bungsu itu mencondongkan tubuhnya ke arah Hinata. Sengaja melakukannya lambat agar sulung Hyuuga itu sadar dan mengeluarkan ekspresi malu-malu yang Sasuke sukai. Wajah merona dengan mata yang bergerak-gerak gelisah.
Gadis itu menelan ludah. Sasuke telah sampai padanya. Wajah mereka hanya dibatasi helaan napas. Sasuke bisa merasakan napas hangat yang sedikit beraroma anggur yang tadi mereka makan. Wajah Hinata memerah sepenuhnya. Tapi Sasuke masih setia menikmati rona yang membuatnya semakin ingin menggoda Hinata.
"Boleh…?"
Ambigu. Tapi Sasuke yakin sang Hyuuga tahu maksudnya. Hinata semakin melesakkan punggungnya ke belakang yang tidak berarti mengurangi jarak. Ia benar-benar terjepit oleh Sasuke dan tidak punya pilihan.
Hinata menelan ludah lagi. Terbawa arus pesona Sasuke agar membiarkan pria itu menuntutnya. Dan Hinata benar-benar terbuai, ditutupnya matanya dan membiarkan satu kecupan tercuri darinya.
Sasuke hanya menempelkan bibirnya sesaat, kemudian menekan dan melumat bibir Hinata yang lembut dan kenyal. Ia suka rasanya. Namun Sasuke tahu ia harus membatasi diri. Respon kaku Hinata menyadarkan Sasuke bahwa gadis ini tidak pernah punya pengalaman sebelumnya. Yah, kecuali dengan Sabaku brengsek yang telah dengan lancang mencurinya.
Sasuke lalu merasakan dorongan di dadanya. Kedua tangan Hinata berada disitu, mengisyaratkan Sasuke untuk menghentikan aksinya. Ia masih belum selesai, tapi ia juga tidak ingin gadis ini menangis. Kemudian dengan berat hati dilepasnya bibir Hinata dan mengamati wajah gadis Hyuuga itu.
Bola mata pucat itu berbinar dengan rona merah yang berkumpul di pipi. Ditambah lagi bibir terbuka yang mnghembuskan napas pendek yang lebih hangat.
Hinata…
Gadis itu tidak membenci perlakuan Sasuke.
Lama dipandangi Sasuke, Hinata pun menunduk. Malu. Salah tingkah. Semua terasa panas di wajahnya. Sasuke mengusap surai indigonya lalu berbisik di telinga Hinata yang juga memerah.
"Sama-sama…"
Sasuke membalas ucapan terima kasih Hinata.
.
..Ͼ╒..
.
Sasuke mengendarai mobil dengan kecepatan lambat. Di samping karena jalanan yang sempit, ia juga tengah mengingat rasa bibir Hinata yang masih tersisa. Ia menarik ujung bibirnya membentuk seringai dan senyum senang. Respon gadis itu benar-benar manis, dengan ekspresi malu-malunya.
Tidak disangka gadis kecil keras kepala itu akan berubah menjadi pemalu. Namun tidak masalah, Sasuke suka itu.
Ketika hampir mencapai jalan besar, sebuah mobil dari arah berlawanan menembakkan lampunya ke arah Sasuke. Pemuda berambut raven itu menyipitkan matanya, semakin mendekat terlihatlah warna hitam mengkilap mobil tersebut.
'Cih'
Sasuke sudah bisa menebak pemilik mobil sialan itu. Ia pun menghentikan Range Rover-nya tepat di depan mobil yang diyakini milik bungsu Sabaku. Pemuda itu keluar dengan membanting pintu kemudinya, meladeni permainan arogan dan kekanakan Gaara.
"Kau sudah tahu kalau aku mengikutimu," kata Gaara retoris. Ia menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil hitamnya yang masih menyala.
"Aku tidak suka basa-basi, jadi langsung saja," desis Sasuke pada pria itu.
Sasuke tahu Gaara menunggunya di persimpangan jalan besar ini. Karena sebelumnya ia sudah melihat mobil Gaara. Sabaku sialan itu tentu menunggu Hinata pulang ke flatnya dan menghasut gadis itu dengan berbagai akal bulusnya. Tapi, Sasuke pastikan itu tidak akan terjadi.
"Hinata bukan milikmu. Kau tak berhak menahannya," ancaman Gaara hanya dibalas delikan tidak setuju dari Sasuke.
"Ia bersamamu karena kau membantunya mengetahui rahasia kejatuhan Hyuuga. Ia hanya menghargai jasamu. Itu saja," Gaara kembali bersuara.
Sasuke menggeram. Namun ia berusaha sabar menghadapi perangai keras Gaara. Mereka memang tidak bisa sekata. Bagaikan dua kutub yang saling tolak-menolak. Sasuke kemudian menggerakkan tangannya, bersidekap.
"Terserah. Nyatanya Hinata memilih untuk bersamaku," Sasuke memaksa Gaara untuk rasional.
Gaara diam, namun kedua rahangnya saling menekan. Kedua tangannya pun mengepal, siap menumpahkan bogem mentah ke wajah menjijikkan Uchiha sombong itu. Namun ia menahan diri, 'akan ada waktunya', pikir Gaara. Sebagai gantinya, ia berikan seringai ejekan pada Sasuke.
"Nampaknya kau menjadi sombong karena itu ya, Uchiha?"
"Sehingga kau tidak memikirkan bahwa kau telah melewatkan sesuatu yang penting." Gaara memberikan seringai terbuas yang pernah Sasuke lihat. Pria itu kelihatan sangat bergairah.
Kini Sasuke yang diam. Ocehan Gaara menurutnya tidak penting. Pria itu hanya ingin membuatnya panas, pikir Sasuke.
"Kau kira ini sudah berakhir, heh..Uchiha?"
Sasuke memaksakan matanya memandang Gaara. Apa maunya?
"Kau besar kepala, sehingga kau lemah! Orochimaru bukan satu-satunya..."
Gaara melempar sebuah map yang Sasuke tahu diambil dari dalam mobilnya. Map coklat itu jatuh tepat di kaki Sasuke setelah menyentuh perutnya.
"Baca itu! Aku yakin kau akan kehilangan sifat sombongmu setelahnya..."
.
.
.
.
.
-TBC-
a/n: Wuahh.. hisashiburii :D
Apakah masih ada yang ingin SasuHinaGaa yang ini? Tiga bulan nggak update.. #nyengir
Terima kasih buat readers yang masih setia mengikuti fict ini.
And how is this?
