[Remake] 'Story'
Story belong to Samuel903 (Remake from Wattpad)
Remake by Olivia Oh
.
Main cast :
Oh Sehun as Jung Sehun
Kim Jongin as Jung (Kim) Jongin
.
Other cast :
Jung Yunho as Jung Yunho
Kwon Yuri as Jung Yuri
Kim Heechul as Kim Heechul
Jung Sooyeon as Kim (Jung) Sooyeon
EXO Member
Yoon Bomi (Apink)
SHINee Member
.
Rate : T (Semi M)
Length : Chapter
.
Warning! : YAOI, Boys Love, Typo(s), Crack Pairing
Don't Like, Don't Read!
.
A/N : Cerita ini seluruhnya milik Samuel903 (Wattpad), Oliv hanya me-remake dengan Pairing dan nama tokoh yang berbeda tanpa mengubah alur cerita (Oliv sudah mendapat izin dari penulis aslinya). Cerita asli bisa dilihat di www wattpad com/story/98365482-story (ganti spasi dengan titik) dengan pairing JaeYong. Perubahan nama marga digunakan untuk jalannya cerita.
.
HUNKAI STORY
.
.
Chapter 10
.
.
'Tak sempurna'
.
.
Terlalu lama didalam kamar mandi.
Itulah alasan Chanyeol memanggil semua saudaranya yang lain. Tentu dia tak ingin hari pertama kedatangan anak kandung Daddy-nya itu akan membuat kedua orang tuanya yang selama ini mencukupi kebutuhannya merasa kecewa padanya hanya karena Jongin yang pingsan terpeleset di dalam atau bahkan menenggelamkan dirinya karena tak ingin tinggal di Mansion Jung.
"Satu jam, aku ingin mendobrak pintu itu sedari tadi. Tapi aku tak ingin berurusan dengan anak itu."1
Alasan Chanyeol mereka anggap benar, bahkan Sehun hanya diam tanpa mencela mengenai betapa pengecutnya Chanyeol.
Toh mereka belum mengenal siapa dan bagaimana sifat Jongin. Apa dia sedingin ibunya -Jung Yuri, atau sekejam ayahnya -Jung Yunho. Dua sifat itu sangat berpengaruh untuk nama mereka dikeluarga Jung.
"Kenapa dengan kalian? Kita hanya tinggal mengetuk pintu dan menyuruhnya keluar. Jika memang dia tidak menjawab , nah! Kita dobrak saja. Bagaimana jika terjadi sesuatu didalam sana." si anak paling bungsu membaringkan tubuhnya pada ranjang Queen size miliknya.
"Jongin Hyung itu, bukankah matanya terlihat kejam saat menatap kita tadi? Dia bahkan tanpa ragu masuk ketempat ini dengan bau yang sungguh luar biasa." lanjut Tao menatap langit-langit ruangan mereka.
"Aku saja yang memanggilnya." Kris berdiri dari posisi duduknya, menghampiri satu dari empat kamar mandi di kamar mereka. Yang lain hanya mengamati Kris yang mengetuk pintu kamar mandi itu.
"Kurasa dia hanya bingung karena tak ada paka-" Suho yang hendak mengutarakan hasil pemikirannya terpotong oleh wajah konyol Kris yang berjalan tergesa kearah mereka.
"Kalian! Dia tak memiliki pakaian ganti!" ucap Kris semangat karena jujur saja dia geli dengan nada suara Jongin yang ragu ketika menjawab panggilannya beberapa saat lalu.
"Kenapa dia tidak bilang dari tadi? Aku bahkan menunggunya hingga satu jam." keluh Chanyeol menatap datar pintu kamar mandi yang dipakai Jongin.
"Aku berikan dia pakaianku saja. Lagipula koper yang dia bawa ada didalam mobil." ujar Jongdae dengan dengusan kesal karena waktunya untuk sarapan pagi kembali tertunda hanya karena kebodohan Jung Jongin. 'Dia bahkan tidak bisu untuk sekedar meminta.' lanjutnya dalam hati.
Semua namja tampan dalam ruangan itu terlihat kesal dengan kelakuan Jongin, kecuali Kris dan Luhan yang menahan wajah geli karena kebodohan Jongin yang rela mendekam dalam kamar mandi hanya karena tak memiliki pakaian ganti.
"Harga dirinya begitu tinggi." komentar Yixing.
"Membuang waktu sarapan kita, aku heran dengan Mom dan Dad yang bahkan tak memanggil kita untuk sarapan." lanjut Kyungsoo yang ikut membaringkan tubuhnya diranjang. "Jika dia sudah selesai, bangunkan saja aku."
.
.
Tak lama setelah Jongin menerima pakaian yang Jongdae berikan, dia dengan santai keluar dari dalam kamar mandi.
Mengamati sekelilingnya kagum.
Jumlah ranjang yang banyak dilengkapi dengan sofa mewah dan satu televisi berukuran empat kali lipat dari televisi miliknya dirumah. Setiap sisi ranjang mereka terselip meja sepanjang kira-kira satu meter hanya untuk diselingi ranjang lainnya, dimana setiap meja terdapat Laptop, tumpukan buku dan sepertinya barang-barang pribadi setiap pemilik.
Ruangan yang seperti ukuran rumahnya, 'Wow.. sepertinya Heechul Appa takkan percaya dengan ini.' puji Jongin dalam hati.
Ini seperti Mansion Kim yang terdiri dari dapur, kamar, dan ruang tamu digabung menjadi satu. Luas dan begitu megah, sayang karena warna tembok ruangan ini begitu suram. Hanya putih dan coklat. Sangat tak menarik. Lebih luas dibanding lima tahun lalu saat dia datang ketempat ini bersama Heechul, namun tetap dengan warna dinding dan suasana yang tak cerah.
Menengokkan kepalanya kebelakang, kamar mandi. Itu hanya seperti yang ada di Mansion Kim, hanya saja disini sepertinya ada lebih dari satu kamar mandi.
'Sepertinya pemilik rumah ini begitu tak mau repot dengan mengetuk satu-persatu pintu kamar anak-anaknya.' pikir Jongin.
"Sudah puas dengan observasimu?"
Suara Sehun membuat Jongin tersentak, suara yang Jongin kenal dengan baik. Si pria tampan dengan tempramen buruk yang kini berdiri telah didepannya. Sehun mendekatkan wajahnya pada Jongin, sedikit benci dengan wajah yang begitu mirip dengan Daddy nya, wajah tegas yang terlihat begitu menantang. "Kau bisa melanjutkan kegiatanmu yang lainnya, tapi kita harus sarapan sekarang."
"Barangku. Dimana mereka?" Jongin merasa tak terganggu walau dadanya berdebar begitu kencang karena perasaan tertekan yang ia terima dari Sehun. Tatapan Sehun padanya begitu tak baik, Jongin jelas tau bila namja didekatnya itu tak menyukainya. "Oh? Kau bisa memiliki barangmu kembali setelah mobil itu selesai dicuci karena perbuatanmu. Cepat ikut kami turun dan jangan banyak bertingkah." jawab Sehun dengan cengkraman erat dilengan Jongin.
Suho menepuk kaki Kyungsoo untuk bangun, "Waktunya sarapan." ucapnya menghiraukan Jongin dan Sehun.
"Dia mulai lagi?" tanya Kyungsoo setelah keluar dari ruangan mereka.
"Abaikan saja." tegur Minseok melihat beberapa saudaranya yang ragu untuk keluar ruangan.
Jika Sehun adalah tangan kanan Yunho, maka Minseok adalah mata Yuri.
Diantara kedua orang itu, anak angkat lain lebih menurut pada Minseok. Namja yang perhatian dan tak pernah memukul ataupun mengancam mereka.
"Mulai sekarang kursi kosong disamping kanan Mommy takkan pernah kosong lagi. Momen pertama ini jangan kau isi dengan kecemburuanmu Hun." ucap Minseok sebelum mengikuti semua saudaranya yang lain keluar.
Sehun mendengus dan Jongin yang memiringkan kepalanya untuk melihat siapa namja yang membantunya untuk lolos dari Sehun, sayangnya ia hanya melihat punggung Minseok.
"Kita sarapan." Sehun melepaskan tangannya dari Jongin. "Cepatlah!" bentak Sehun lagi karena Jongin tak beranjak dari tempatnya. "Apa?" tanya Jongin yang tak mengerti alasan Sehun memarahinya lagi. "Kau! Apa kau tau ruang makan! Cepat jalan dan ikuti aku! Jangan bertingkah seperti idiot!"
"Baiklah. Cepatlah jalan dan aku akan mengikutimu." ucap Jongin berusaha menahan air matanya untuk suasana hatinya yang sangat mendung hari ini.
Berpisah dengan keluarganya hanya untuk dimarahi dan diabaikan. Sejujurnya ia merasa lelah dan hanya ingin istirahat sejenak. Memikirkan bagaimana keadaan kopernya dan bagaimana dengan keluarga Kim disana. Apa yang Appa-nya lakukan dan bagaimana keadaan para guru privat-nya.
Tak taukah semua orang disini bila ia saat ini tengah menahan rasa sedih karena harus mengubah semua sikapnya. Ia lelah untuk memikirkan apa yang harua ia ucapkan, dia juga lelah untuk terus melotot pada semua orang ditempat luas ini. Matanya terasa panas dan dahinya begitu pegal. Terlihat kuat itu melelahkan.
.
.
Sarapan tanpa kedua orang tua mereka adalah sesuatu yang tak pernah terjadi selama mereka tinggal di Mansion Jung. Oleh karena itu mereka menanti kembali untuk Yunho dan Yuri yang tak kunjung hadir di meja makan.
Mata kesepuluh namja yang duduk tenang di kursinya masing-masing itu fokus pada dua orang namja lain yang hadir diruang makan. Sehun yang diikuti Jongin, dua orang yang tampan dan sangat memanjakan mata setiap orang yang melihat mereka. Tapi untuk Jongin, sangat mencekam , tatapan mata yang penuh dengan arogansi. Seakan ia memandang rendah semua obyek yang ia lihat. "Ini tempatmu." ucap Sehun mengantarkan Jongin hingga kekursinya. -tepat disamping Minseok.
"Kursi kosong di sebelahmu adalah milik Mommy dan kursi yang kau duduki ini selalu kosong sebelum kau ada. Kuharap kau merasa nyaman disini." Minseok menyunggingkan sedikit senyumnya pada Jongin. Masih merasa canggung dengan anak yang selalu ibunya nantikan. Si pemilik kursi kosong telah hadir untuk melengkapi Keluarga Jung.
Ah, seseorang yang menegur Sehun. Jongin ingat warna baju dan juga suara namja disisi kirinya ini. "Tentu aku merasa nyaman. Bagaimanapun ini adalah rumahku." balas Jongin tanpa menatap lawan bicaranya.
Mata tak pernah bisa menipu jika kau sanggup untuk memahami pancaran mata seseorang. Jongin terbiasa dengan tatapan lembut dan sayang dari keluarganya sebelumnya. Dan kini ia menerima tatapan lain yang asing baginya. Itu mengganggu dan Jongin jelas tak sanggup untuk membalas semua tatapan yang ia terima dari semua orang yang duduk diruangan ini.
Kecemburuan yang mendominasi, itu yang terjadi disini. Bagaimanapun ramahnya Minseok, jelas bagi Jongin bila Minseok juga memiliki tatapan yang serupa dengan Sehun.
Ia mampu melihat kemurnian dari satu orang disini, hanya saja dia terlihat begitu jauh dan sangat suram. Namja dengan ekapresi wajah datar.
"Tuan muda.. Nyonya dan Tuan Besar tak akan turun untuk Sarapan."
Itu perintah untuk mereka memulai sarapan pagi mereka yang tertunda selama hampir dua jam. "Jongin, makanlah." Minseok kembali berusaha mengundang Jongin untuk berinteraksi dengan mereka.
"Tidak. Aku kenyang."
Kesebelas namja ditempat itu mengabaikan Jongin dan mulai melahap menu makanan mereka tanpa ragu.
Yunho menatap Jongin dari atas tangga. Ia melihat bagaimana wajah anaknya yang terlihat masa bodoh dengan sekitarnya, sangat tenang.
Bahkan seorang ayah tak mampu melihat keresahan anaknya. Tak semua ikatan itu kuat bukan?
.
.
Jung tak pernah dipandang sebelah mata, begitupun dengan setiap anak angkat mereka. Namun bagaimana jika darah dari Jung sendiri adalah nilai cacat ?
Kekhawatiran terjadi didalam Mansion Kim. Setelah Heechul dan yang lainnya mulai dapat mengontrol diri dari kesedihan mereka. Dengan spontan Taemin mengucapkan sebuah kalimat yang membuat wajah ketiga orang paruh baya disekitarnya mendadak buruk.
"Meskipun dia menyandang nama Jung. Dia tetaplah Kim."
Mereka tau Taemin mencoba menghibur dirinya sendiri, tapi kata itu membuat hati ketiga orang lainnya merasa tak nyaman. Mereka sadar bila selama ini Jongin tak pernah memiliki satupun prestasi. Ia bahkan baru belajar segala hal dalam waktu 5 tahun. Jika Yunho tau bila anaknya tak sebanding dengan semua anak angkatnya. Apa yang akan Jongin jalani disana?
Taemin bahkan tak tau apa yang membuat Heechul dan kedua orang tuanya diam dan pergi begitu saja meninggalkannya didepan teras rumah mereka. Ia hanya memikirkan apa yang Jonginnya lakukan disana.
.
.
"Mom meminta kami untuk menjagamu." -Kyungsoo
"Seperti yang kau lihat, kita bersebelas adalah saudaramu mulai sekarang. Jika kau butuh bantuan, kau bisa meminta salah satu dari kami." -Suho
"Jika kau merasa tak nyaman, datang saja padaku." -Luhan.
Ketiga namja itu pergi setelah menunjukkan ranjang miliknya. Ternyata dia juga di tempatkan diruangan besar ini. Jika ini panti asuhan maka ini benar-benar panti asuhan termewah diseluruh dunia. (Jongin bahkan tak tau apa itu panti asuhan.)
Jongin sangat heran dengan pemikiran si pemilik rumah dengan menempatkan semua anaknya dalam satu ruangan. Tak ada privasi sama sekali bagi mereka, seperti sebuah kesengajaan untuk memata-matai setiap aktivitas dari masing-masing orang. Jung Yunho memang selalu berfikir luas. Tak bercelah bahkan pada keluarganya sendiri.
Tak heran dia tega melenyapkan kakak kandungnya serta melumpuhkan kakak iparnya sendiri.
Di tempat ini bahkan seorang saudara bisa menjadi musuh.
Jongin menepuk ranjang King size miliknya, hanya miliknya saja yang lebih besar. Semua ranjang selain miliknya hanya berukuran separuhnya saja. Bahkan Kedua orangtuanya menunjukkan perbedaan mereka dengan sangat jelas.
"Mereka semua terlihat pintar seperti Taemin Hyung. Bagaimana jika kedua orangtua kandungku tau bila aku hanya setara dengan anak berusia 15 tahun?"
Jongin menyadari kelemahannya. Dia tak selamanya akan menampilkan raut wajah yang menyeramkan pada semua orang di Mansion Jung, ia bahkan tak bisa terus menutupi jati dirinya. "Aku butuh bantuan. Tapi aku tak bisa untuk percaya pada ketiga orang tadi."
Jongin ragu pada Suho karena senyuman SUho yang begitu memukau, terlalu lebar dan membuatnya curiga. Nyatanya itu memang ciri khas Jung Suho. Tak selamanya pula senyuman tulus terlihat menenangkan. Lihat saja bagaimana Jongin yang menaruh perasaan resah pada Suho.
Jongin berusaha mengalihkan pikirannya dengan menata setiap pakaian yang ia masukkan kedalam kopernya. Ya, barang bawaannya telah diantarkan padanya dan kini ia hendak menata semua barangnya didalam lemari yang bahkan bersatu dengan ranjangnya. "Appa.. mereka sangat luar biasa." gumam Jongin sembari mengagumi setiap detail pemikiran simple Jung Yunho.
Ranjang setinggi setengah meter dan dilengkapi dengan beberapa laci dibagian bawahnya untuk menyimpan semua pakaian dan barang pribadi mereka. Simple dan begitu rapi. "Pantas saja tak ada lemari diruangan ini. Benar-benar hemat tempat." lagi.. Jongin bergumam dalam kegiatan menatanya.
Tiba-tiba senyuman selebar milik Suho tersungging dibibirnya. "Coklat! Banyak Coklat!" tawa itu bergema dalam ruangan luas yang sepi.
Tawa mengerikan Jung Jongin.
Terbahak hanya karena bulatan coklat yang sengaja keluarga Kim selundupkan dalam kopernya. Tiga koper dan salah satunya berisi penuh dengan coklat mahal dari Neneknya di Swiss. Ia mengagumi, mengidolakan bahkan mencintai rasa manis dan pahit yang ada dalam Coklat. Setiap keresahan bahkan tekanan akan hilang hanya dengan benda kecil dan mudah lumer itu. Percayakah kalian bila coklat dapat menurunkan stress?
Itulah yang menenangkan Jongin dari tekanan belajar yang ia terima setelah tinggal didunia lain ini, ingat bahwa sebelumnya dia hanya anak hutan.
.
.
HUNKAI STORY
.
.
Malam tak pernah berakhir baik bagi Jongin sejak ia tinggal ditempat barunya.
Setiap langit mulai menghitam hatinya merasakan kesepian yang begitu tajam.
Ruangan yang dihuni dua belas orang termasuk dirinya, seakan hanya dia sendiri ditempat itu.
Dalam seluruh hidupnya ia tak pernah sekalipun tidur seorang diri. Pelukan Appa-nya yang menemani, bahkan tak jarang Taemin ikut bergabung bersama di ranjangnya. Kebiasaan buruk yang ditinggalkan Heechul pada Jongin.
Dia menghabiskan sisa malamnya dengan beberapa bungkus coklat yang sengaja ia sembunyikan, menunggu setiap mata tertutup untuk menikmati malamnya sendiri.
Dia jelas tak bahagia, dia jelas tak nyaman tapi mengapa kedua orang tuanya hanya mendiamkannya? Mengapa orang yang berniat mengambilnya dari Heechul begitu mengacuhkannya?
Seorang wanita yang harus dia panggil Mommy memang selalu perhatian bahkan setia mengobrol dengannya setiap waktu. Tapi mengapa wanita itu berpura-pura tak tau bagaimana tatapan sedih yang selalu terpancar dimata Jongin?
Dan namja paruh baya yang ia sebut Daddy, mengapa dia begitu memaksa Jongin untuk melakukan pekerjaan yang sama sekali tak Jongin ketahui? Berkas? Grafik? Laporan? Jongin sungguh tak mengerti.
Apa tatapan resahnya tak tersampaikan juga pada orang yang ia panggil Daddy itu?
"Appa? Mereka memberikanku banya kertas yang tak kutau. Mereka memintaku membuat kolom kolom yang tak pernah kulihat sebelumnya."
"Kenapa kau dan yang lain tak mengajariku sebelumnya? Mengapa Jonghyun Hyung tak pernah mengajari cara berhitung dengan angka sebanyak ini."
"Makanan disini tak seenak masakanku. Aku ingin kembali. Aku ingin bersama kalian saja."
"Appa.. kau memintaku untuk tak menangis. Aku berjanji untuk tak menangis. Tapi aku begitu merindukan semua yang kalian berikan."
"Aku sendirian disini. Aku sendirian disini. Aku hanya sendirian disini."
Jongin bergumam, mendudukan dirinya dilantai untuk memakan setiap bulatan coklat yang ia miliki. Jika bisa dia ingin untuk berhenti untuk memakai topeng saat semua mata semua orang terbuka. Tapi dia tau bila Yunho begitu membenci kelemahan. Dia ingat bagaimana Yunho membentak bahkan menampar wajah Tao saat anak itu tak masuk dalam universitas pilihan Yunho.
Bahkan wanita lembut yang melihat kejadian itu hanya diam.
Dia tak bisa dan takkan pernah bisa tidur tanpa seseorang di sampingnya. Apa kalian pikir dia tak pernah tidur selama ini? Tidak.. Jongin tak pernah bisa menahan kantuk terlalu lama, dengan hati-hati setelah selesai dalam ritual menenangkan hatinya ia akan memilih salah satu dari kesebelas saudaranya untuk menemaninya tidur.
Satu-satunya namja yang tak pernah menatapnya secara langsung.
Jung Yixing, namja yang berasal dari panti asuhan China. Pribadi yang begitu tenang dan suram. Dari yang Jongin tau dia adalah salah satu pemegang perusahaan Jung di daerah Myunggeyom bersama dengan Jongdae dan Suho. Kembali ke Korea karena kabar kepulangan Jongin.
Ia menaiki ranjang Yixing yang masih begitu luas karena memang ukuran ranjang setiap orang disini cukup lebar. "Jaljayo." gumam Jongin sebelum tidur.
Ia berpikir waktu pulas tidur seseorang adalah saat jam dua pagi, maka ia hanya akan berani naik di tempat Yixing disaat waktu menunjukkan pukul 2 pagi.
Tiga jam cukup untuknya tidur, ia tak ingin semua orang tau kelemahannya. Dia harus bisa untuk bertahan sejenak bukan? Jika waktunya semua orang tau maka biarlah mereka tau.
Berjarak dua ranjang dari tempat Yixing, Baekhyun menyeringai karena ia tau dengan pasti kebiasaan Jongin dalam tiga minggu ini. Musuhmu akan lebih perhatian padamu dibanding dengan kekasihmu bukan?
"Untuk Jung Jongin benar-benar tak ada kesulitan untuk menanganinya. Jadi dia bukanlah sesuatu yang harus aku khawatirkan." pikirnya setelah puas dengan aksi mematai-matai Jongin.
Baekhyun tau bagaimana Jongin yang terlihat selalu melamun, bahkan kebiasaan Jongin yang kerap memilin ujung pakaiannya saat berbicara pada semua orang di Mansion-nya.
Tipuan yang begitu sempurna, dan dia tak sabar untuk melihat reaksi Daddy dan Mommy-nya yang begitu membanggakan Jongin ketika tau bila anak itu bahkan tak bisa mengerjakan soal matematika untuk anak SMA.
Semua pekerjaan yang Baekhyun serahkan pada Jongin hanyalah kamuflase untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat kecerdasan Jung Jongin ini.
Wajah tak perduli dan tatapan tajam Jongin hanyalah kepalsuan, menyegarkan bagi Baekhyun karena dia satu-satunya yang tau rahasia Jongin.
Benarkah?
Yixing mengusap rambut halus milik namja kurus disampingnya ketika ia merasakan tangan yang memeluk tubuhnya. "Jaljayo Jung."1
.
.
Seperti biasa, Jongin akan bangun lebih awal dari yang lainnya. Jujur itu membuat Chanyeol yang selalu bangun lebih awal merasa tersaingi.
"Hyung? Hari ini kau akan ikut Kyungsoo Hyung ke perusahaan. Kau bisa meminjam pakaian milik Baekhyun Hyung. Kurasa itu seseuai dengan ukuran tubuhmu." Tao lebih sering menetap di kamar bersama Jongin selesainya mereka sarapan, yahh lagipula hanya dia dan Jongin yang tak memiliki kegiatan pasti seperti saudara mereka yang lain. Tao yang lebih fokus pada pendidikannya sedangkan Jongin yang hanya duduk dikursi sebelah ranjangnya dengan tumpukan berkas yang hanya dia bolak balik tanpa arti.
"Baekhyun Hyung sudah menyiapkan kemeja-nya, tapi mungkin ukuran celana kalian akan berbeda, kau memiliki celana yang cocok untuk jas ini?" jujur saja Tao kesal dengan sikap Jongin yang begitu acuh, 'Apa karena dia anak kandung Daddy jadi dia bersikap begitu sombong?' itu pikiran hampir seluruh anak-anak Jung yang lain.
"Ya. Letakkan saja diranjangku." Jongin menyahut dingin.
'Menyebalkan!' batin Tao setelah melakukan apa yang Jongin perintahkan. Jongin melirik kemeja serta jas yang Tao letakkan di kasurnya. 'Aku akan kekantor? Apa yang akan kulakukan disana?'
Jika Tao mau sekedar melihat pada Jongin maka dia akan terkejut dengan keringat yang mengalir di pelipis namja tampan itu. Jongin gugup dan takut.. ia belum siap untuk bekerja! Dia bahkan tak tau apa yang harus dia lakukan dengan berkas ditangannya.
'Ini karena aku berbohong hingga Tuhan menghukumku.'
.
.
Kim adalah masa lalu baginya. Tapi sanggupkah dia menganggap mereka hanya masa lalu? Tentu tidak karena hidupnya ia jalani bersama Heechul.
Bagaimanapun Jongin menyembunyikan jati dirinya semua itu hanya berakhir sia-sia. Mata Yunho tak pernah lepas darinya, tangan Yuri bahkan tak pernah absen untuk mengusap kepalanya. Dan kesebelas saudara angkatnya yang selalu mengawasinya. Hanya dalam waktu kurang dari sebulan topeng Jongin hancur begitu saja.
Jongin merasakan amarah Yunho dan juga kekecewaan Yuri. Tapi dia bisa apa? Ia hanya diam menerima setiap bentakan yang Yunho tujukan padanya, ia melihat bagaimana Minseok yang berusaha untuk menghibur Yuri karena wanita itu ternyata begitu mendambakan Jongin.
Sempat pertengkaran hebat terjadi di Mansion Jung, perdebatan sengit antara Yunho-Yuri dan Jongin.
Yunho dan Yuri yang menyalahkan Heechul membuat hati Jongin memanas, dengan segala keberaniannya Jongin membantah ucapan kedua orang tuanya yang menganggap Heechul tak berguna. Tak taukah mereka bagaimana Heechul juga berusaha mengajarinya untuk dapat berbicara dan mengerti tulisan? Heechul yang selalu menemani setiap belajarnya dan Heechul yang mendengarkan setiap bacaan yang Jongin coba pelajari? Apa hak mereka untuk meragukan Heechul?
"Jangan katakan hal buruk tentang Appa!"
"Jongin! Jaga suaramu!" Yuri memperingatkan Jongin karena berani meninggikan suaranya dihadapan Yunho dan dirinya.
"Heechul Appa mengajariku dengan baik. Jadi kumohon jangan salahkan dia." Jongin menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Heechul Appa? Cih!"
Semua berawal dari Jongin yang membuat kekacauan kecil di perusahaan, ia tak tau apa yang Yunho maksudkan saat ayah kandungnya itu memintanya untuk menjelaskan beberapa bagian dari berkas yang ternyata adalah file berisi presentasi rapat mereka pagi itu, yang membuat Yunho begitu marah. Yunho secara kasar memerintahkan Kyungsoo untuk membawa Jongin pulang dan berakhir dengan cerita singkat yang membuat Yuri menatapnya sendu.
Dia bahkan kecewa karena ternyata kedua orang tuanya hanya menginginkan anak yang sempurna.
Memang benar kasih sayang yang sementara tak sekuat kasih yang terjalin dalam waktu yang lama.
Minseok yang hanya anak angkat mampu membuat Yuri merasa jauh lebih baik.
Baekhyun yang bisa meredakan amarah Yunho walau hanya dengan janji untuk mengajari Jongin kedepannya.
Mengapa Mommy-nya juga hanya diam? Dia bersedih untuk Jongin? Atau karena Jongin jauh dari harapannya?
Jongin merasa tak diperlukan ditempat ini, tapi mengapa mereka harus memisahkannya dengan Heechul?
Kedua orang tuanya serta semua saudaranya kecuali Tao mengelilinginya, menatapnya dengan berbagai arti. Mereka berada tepat di ruangan yang biasa Yunho gunakan untuk bekerja. Yunho yang duduk di bangkunya bagai seorang raja dan Yuri dan Minseok yang berdiri tepat di samping Yunho, sedangkan kesebas anak mereka yang berdiri di depan kedua orang tua itu, dimana Jongin yang maju satu langkah lebih dekat dengan kedua orang tuanya.
"Jung Jongin. Mulai dari saat ini kau akan bersama Sehun dan Baekhyun. Mereka berdua akan selalu mengawasimu dan mengajari semua hal yang telah Daddy ajarkan pada mereka." kata terakhir dari Yunho sebelum ia membawa Yuri keluar dari ruangan itu.
Dalam senyumannya Sehun mendekat pada Jongin. "Kau lihat? Siapa kau dan siapa kami. Kau hanya anak tak berguna yang tiba-tiba hadir ditempat ini, kau seperti noda hitam yang sengaja masuk dalam kubangan susu. Dan kau yang akhirnya membuat warna putih susu menjadi seperti dirimu."
Jongin sendiri tak begitu perduli, pikirannya tak sejauh itu! Ia hanya berfikir bahwa kedua orang tuanya akan marah karena dia tak sehebat saudara-saudaranya yang lain. Ia bahkan tak mengerti dengan susu dan noda hitam yang Sehun maksud.
"Sehun? Apa kau juga marah padaku karena aku bodoh?" Jongin membalikkan tubuhnya untuk menatap langsung pada Sehun. "Kau tidak marah padaku, kau begitu senang." ucap Jongin saat ia melihat bagaimana mata Sehun yang terlihat berbeda dari biasanya. "Ya, aku senang."
Raut wajah dan sorotan mata tajam yang begitu menyebalkan milik Jongin, dimana mereka? Sehun melihat wajah Jongin yang tersenyum pertama kali untuknya. "Sehun? Apa Mom dan Daddy akan memulangkanku pada Appa?"
Sehun tertegun dengan setiap perbuatan Jongin padanya, suara itu begitu berbeda dengan nada rendah yang biasa Jongin keluarkan setiap menjawab setiap obrolan yang mereka lakukan selama sebulan ini.
Ada apa? Sebegitu pintarkah Namja di depannya ini berakting? Seperti apa kepribadian Jongin yang sebenarnya? Si arogan itu? Ataukah si polos ini?
"Kau seorang Jung. Meskipun kau bodoh dan tak berguna sekalipun Mommy akan tetap mempertahankanmu karena kau anak kandungnya."
"Tapi kau akan merasakan nerakaku.. dan itu dimulai dari sekarang." bisik Sehun merangkulkan lengannya pada pundak Jongin, menuntunya untuk keluar dari ruang kerja Yunho.
.
.
"Melihat senyumanmu sekarang.. kau terlihat manis. Jangan macam-macam padanya. Karena aku mengawasimu." Yixing mengusap rambut Baekhyun tanpa sedikitpun ekspresi diwajahnya. Membuat Baekhyun mengerutkan bibirnya "Yixing dan Jongin. Ck!" decaknya kesal.
Chanyeol tersenyum ganjil pada kedua namja yang dari awal menjadi sorotannya itu 'Aku memikirkan rencana luar biasa untuk mereka.'
Baekhyun dan Sehun yang begitu mengganggu lingkaran damai persaudaraan mereka.. waktunya balas dendam!
"Wah! Kau lihat Sehun dan Jongin tadi? Mereka benar-benar keren jika berjalan bersama seperti itu!"
"Ya, sangat keren sampai bulu kudukku berdiri! Aku tak menyangka jika anak itu begitu -umm kurang- nghh? Aihh tak seperti yang kita bayangkan selama ini!" Kyungsoo menyusap wajahnya yang terlihat masih shock dengan Jongin yang seperti itu.
"Memang kenapa? Itu bukti bila tak semua Jung begitu sempurna." Jongdae menepuk kepala Kyungsoo sedikit keras membuat korban pukulannya itu mengangguk membenarkan.
Luhan masih dalam mode kagumnya pada sosok Sehun dan Jongin, seolah melihat bintang baru di dunia entertaiment. "Mereka benar-benar keren! Terutama wajah memelas Jongin tadi. Dia seperti memiliki kepribadian lain. Astaga! Dia sangat tampan bagaimanapun ekspresi wajahnya."
"Abaikan dia." tegur Minseok pada Kris yang terlihat sedikit antusias dengan ucapan Haechan. "Suho, kau awasi saja kedua ora-"
"Tidak! Mulai saat ini aku yang mengawasi Jongin seperti yang Daddy perintahkan.
Minseokie mengertilah, Mom sendiri tak keberatan dengan keputusan Daddy. Jadi jangan melakukan sesuatu yang tak perlu." Baekhyun berbicara bijak.
Cih..bijak?
"Biarkan saja mereka Minseok-ah." Kali ini Chanyeol memandang Minseok dengan disertai kedipan matanya. 'Serahkan saja mereka padaku.'
"Kh..baiklah." kekeh Minseok , merasa semua bisa diatasi.
.
.
HUNKAI STORY
.
.
Taemin menatap foto Jongin dan dirinya yang dua tahun lalu berlibur ke rumah nenek mereka -Swiss.
"Kau sungguh gadis kecil yang malang." gumamnya melihat bagaimana tatapan Jongin yang tak fokus pada kamera, ia ingat saat itu Jongin terus menatap Heechul yang sedang berbincang dengan nenek mereka.
"Hyung merindukanmu Jongie-ah, kau gadis hutan gila yang berhasil membuat Hyung ketakutan setengah mati kini berubah menjadi seorang pangeran."
Taemin ingat ketika tiga tahun lalu Jongin mengamuk karena mereka mencoba untuk memisahkan anak itu dari Heechul selama tiga hari. Awalnya mereka pikir dengan begitu Jongin akan bisa belajar mandiri. Tapi anak itu bahkan tak mampu untuk menyembunyikan tekanan yang ia terima terlalu lama. Meskipun mereka telah mendapatkan perhatian Jongin tapi hati anak itu akan selalu bersama Heechul.
Tak mereka duga ketika mereka mengobrol dengan menceritakan mengenai Heechul, Jongin yang semula tertawa tiba-tiba menagis lirih dan seiring waktu tangis lirih itu berubah menjadi tangisan histeris dengan memanggil Heechul. Semua terkejut termasuk Nenek mereka yang masih tinggal disana. Jongin menatap sekelilingnya tanpa tujuan dan hanya menagis dengan panggilan "Appa" -hanya beberapa kata yang Jongin mengerti saat itu. Itu cukup membuat Taemin takut dengan Jongin, dia tak berbeda seperti orang gila yang hilang kendali.
Heechul yang saat itu berada di hotelpun segera dijemput oleh Kibum. Dan saat itu juga Jongin dapat ditenangkan walau dalam kondisi yang sangat diluar dugaan.
Mentalnya tertekan karena mereka memaksakan sesuatu yang baru dan itu terlalu cepat Jongin terima sebelum dia mengerti dengan lingkungannya. Jongin diharuskan dalam kondisi stabil dan tenang.. dia tidak diijinkan terlalu tertekan, ia tetap bisa belajar dengan disertai permainan untuk merefresh otaknya.
Metode Kim yang begitu memaksa untuk Jongin berkembang secepat mungkin membuat mental dan jiwa anak itu terguncang. Beruntung karena Jongin dapat ditenangkan dengan kehadiran Heechul, hanya Heechul yang membuat Jongin tenang. Dan cokelat sebagai alternatif untuk memperbaiki stress ringan yang Jongin terima setiap mereka memberikan Jongin pelajaran baru.
Heechul yang begitu setia untuk menemaninya dan mendengar ocehannya. Taemin, Kibum dan istrinya serta keempat gurunya yang begitu sabar menjelaskan sedikit demi sedikit setiap hal baru pada Jongin.
"Jonginie, Hyung dan yang lainnya sangat merindukan sikap manjamu itu. Jaga dirimu disana adikku sayang." usapan tangan Taemin yang begitu lembut pada wajah gelisah Jongin didalam foto.
.
.
Jika semua seperti yang Yunho lakukan maka akan lebih baik.
Jika dia mau mendengar suaminya itu pasti akan baik. Dia merasa gagal sebagai seorang ibu. Bagaimana dia bisa membiarkan seseorang yang membencinya untuk merawat anaknya?
Bodoh, Jung Yuri yang begitu bodoh!
Yunho dan Yuri meyakini bila Heechul sengaja untuk membuat Jongin terlihat lemah di depan mereka, jadi selama ini empat orang yang datang ke mansion Kim setiap harinya bukanlah seorang profesional seperti yang mereka kira. Seharusnya Yunho tak lengah seperti istrinya, jika terlanjur seperti ini maka ia tak bisa untuk menyewa Guru Privat sekalipun untuk anaknya itu, akan memalukan bila kabar ini tersebar. Bagaimana bisa anak Kandung seorang Jung tak sesempurna saudara-saudara angkatnya?
"Baekhyun dan Sehun cukup untuk Jongin, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri yeobo."
"Kali ini aku yang salah, aku terlalu mudah untuk percaya bila Heechul Oppa menyayangi Jongin."
Marah? Tentu Yunho sangat merasakan itu saat ini, tapi apa yang bisa dia lakukan? Ini juga karena istrinya sendiri dan dia pun yang ikut terlalu melonggarkan hatinya untuk Heechul dulu. Sudahlah!
.
.
Waktu demi waktu berlalu dengan setiap jenis pengajaran tak berarti yang Jongin terima.
Bagaimana mau menerima jika yang diajari bahkan tak memahami apapun yang diberikan? Baekhyun yang hanya namja berumur 20 tahun dengan kepribadian yang serba tergantung dengan Mood atau situasi hatinya sangat tak membantu Jongin dalam hal apapun itu. Seperti Taemin Hyung-nya yang dulu, selalu mengomel dan terus mengeluh lelah padahal pekerjaannya lebih banyak marah-marah dari pada mengajari Jongin. Sedangkan Sehun yang setia dengan tatapan memusuhi pada setiap pergerakan Jongin.
Disisi lain mereka juga sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Inti dari semua ini hanyalah sia-sia untuk menyerahkan Jongin pada orang sibuk seperti Baekhyun dan Sehun.
Banyak file yang berceceran di sekitar lantai ruangan para namja muda Jung dan tentu hal itu mampu membuat Jongin yang begitu mencintai kebersihan hanya fokus menata setiap kertas ataupun map yang Baekhyun dan Sehun lempar ketika mereka mulai stress mengajari Jongin.
Yang lain?
Telah diputuskan dan dimentori oleh Jung Minseok bila tak ada satupun yang harus dan diijinkan untuk membantu Baekhyun ataupun Sehun. Salahkan kesombongan dan metode pengajaran kedua namja itu yang kelewat berlebihan.
Tak ada murid yang senang bila gurunya begitu galak dan selalu memukul tangannya jika salah menulis jawaban dipapan tulis bukan? Tak ada murid yang mampu bertahan bila memiliki guru yang selalu tak pernah berhenti memberinya tatapan seolah kau berniat untuk mencontek jawaban saat ujian berlangsung.
Sayangnya setiap masukan yang datang tak pernah mereka terima, selalu berbalik dengan kata-kata yang membuat siapa saja kesal. Terutama mereka tinggal satu atap dan mengenal kepribadian masing-masing dari semua. "Kau pikir kau lebih baik dariku?"
"Jika kau memang lebih bisa mengurus dia tak mungkin Daddy menyerahkan Jongin padaku."
Sok pintar !
Nyatanya Daddy menyerahkan Jongin pada keduanya memang karena mereka berdua yang lebih banyak turut serta dalam Jung Corp. Tapi bukan berarti yang lain serendah mereka berdua, lihat saja Chanyeol dan Yixing yang memang sama seperti Baekhyun dan Sehun. Sayang karena Yunho tau otak fantastik kedua anak angkatnya itu maka Yunho takkan setuju dengan keikut sertaan keduanya untuk mengajari Jongin.
Untuk yang lainnya? Seberapa baiknya sikap mereka didepan Yunho mereka akan tetap kurang dibanding dengan empat nama diatas.
"Jelaskan pada kami apa saja yang kau pelajari di tempatmu dulu." Yuri mengusap rambut hitam Jongin yang begitu lembut. Heran karena shampoo yang semua anaknya pakai sama tapi mengapa rambut Jongin bisa begitu halus?
(Beri tepuk tangan pada Bomi yang mengajari Jongin segala hal mengenai cara merawat diri ala wanita)
Introgasi mulai dilancarkan anggota keluarga Jung saat laporan mengenai ketidak mampuan Jongin dalam hal dasar berbisnis. Bahkan anak itu tak tau arti Debit Kredit!
Mereka harus tau apa yang selama ini Jongin lakukan, metode pelatihan keras sangat ditentang Yuri karena Jongin bukan anak kecil, dia 20 tahun dan sisa waktu kebersamaan mereka takkan lama bukan?
Kembali berkumpul di ruang kerja milik Yunho, ruangan yang cukup nyaman jika suasana hati tak selalu buruk tiap memasuki tempat itu, satu-satunya ruangan berwarna biru di Mansion serba putih itu.
Kali ini semua dalam posisi duduk disofa yang cukup untuk menampung dua belas namja bertubuh beraneka macam itu, ditambah dengan Yuri yang setia menempel pada Jongin hingga membuat ruang duduk mereka sedikit sempit.
Yunho sendiri tetap duduk disofa khusus miliknya, menatap langsung pada Jongin yang dihimpit Yuri dan Sehun. 'Posisi duduk yang tak nyaman.' pikir Yunho melihat bagaimana Jongin sedikit memiringkan badannya berusaha memberi ruang nyanan untuk Yuri.
Sehun menyerngit ketika dia merasakan sesuatu yang meremat baju belakangnya.
Jelas yakin bila itu perbuatan Jongin. Baekhyun sering menjadi korban keusilan tangan namja disampingnya ini.
"Mereka mengajarkanku segalanya. Tapi tidak seperti yang kalian ajarkan." Jongin membuka suaranya setenang mungkin.
Jongin POV
Semua menatapku lagi, sepertinya itu yang selalu mereka lakukan padaku. Mom sesering mungkin mengusap rambutku membuatku merasa nyaman. Tangan halus yang senyaman milik Appa.
"Jelaskan pada kami apa yang kau pelajari di tempatmu dulu." Mom menanyakan sesuatu yang membuatku bingung. Apa yang harus ku jawab? Mereka mengajari segala hal.. mulai dari cara berbicara, menerjemahkan arti setiap huruf, segala hal! Apa yang harus ku jawab untuk ini?
Sungguh aku tak tau bagaimana cara menjelaskan pada mereka semua, apa yang rumah Kim ajarkan sangat jauh berbeda dengan yang Sehun dan Baekhyun berikan. Aku tak mengerti tentang daftar ataupun garis garis yang mereka tunjukkan.
"Mereka mengajarkanku segalanya. Tapi tidak seperti yang kalian ajarkan."
Aku tidak bisa menceritakan segalanya jika Daddy terus menatapku seperti itu, dia terlihat tak menyukai Heechul Appa sejak awal, aku tak ingin kedua orang yang kuanggap orang tuaku terus saling membenci.
"Apa saja hal yang mereka ajarkan?" suara datar Daddy membuatku berdetak.
Apa yang aku katakan untuk membuat mereka berhenti berharap lebih padaku tetapi tidak membenci Appa?
Aku mengeratkan genggamanku pada benda di sekitarku, apa yang harus kujawab?
"A-aku.. mereka me-mengajarkan semua, se-semua, segalanya..."
Aku sungguh tak tau apa yang kuucapkan selanjutnya. Mereka hanya terdiam dengan tangan Mommy yang berhenti mengusap rambutku. Aku mendongakkan kepalaku tanpa menatap Daddy disana, hanya melihat wajah Sehun, Kyungsoo dan Kris yang berada disamping kiriku. "Mereka mengajarkanku segalanya." ucapku lagi sebelum Daddy membentak Sehun untuk membawaku kekamar.
Sehun menggenggam tanganku.
Tanganku?
Biasanya dia hanya menarik lenganku jika Daddy meminta dia untuk membawaku pergi. "Jangan bicara apapun lagi dan berhenti membelanya."
Dia menatapku setelah mengunci kamar kami, tatapan yang berbeda lagi darinya. "Kau membuatku merasa bodoh Jung Jongin. Kau membuatku begitu bersalah karena membencimu."
"Sehun? Ada apa denganmu?"
Aku tak mengerti dengan perubahan suara serta pancaran mata Sehun padaku. Apa penjelasanku pada Daddy dan Mommy tadi menyinggung mereka? Apa artinya mereka takkan memaksaku untuk mengerti setiap kertas yang mereka berikan?
"Aku begitu membencimu karena kau muncul dan membuat segala yang menjadi milikku berpindah padamu. Aku lupa jika ini hanyalah milikmu."
Sehun terus mengucapkan hal-hal yang begitu asing bagiku. Apa yang kurebut hingga membuatnya marah padaku? Apa yang kumiliki? Aku hanya punya cokelat jika itu yang Sehun maksud, tapi tak ada satupun yang tau dengan cokelatku -tidak! Sampah itu! Aku membuang bungkus cokelat itu di dapur, apa mungkin Sehun juga diam-diam ikut memakan cokelatku? Pantas saja persediaan cokelatku cepat menipis. Pencuri cokelat!
Tapi cokelat itu milikku sendiri, apa maksudnya dengan 'merebut semua milikku.'?
"Jung Jong-"
"Aku lebih suka Kim Jongin."
Itu! Kata itu yang selalu ingin aku ungkapkan dan terlalu lama tersangkut ditenggorokanku, sangat lega saat mengatakannya. Hehe.. sangat melegakan, Kim Jongin merindukan keluarganya dirumah. Ya, aku merindukan semuanya disana. Saat ini nafasku terasa begitu sesak , aku.. aku ingin sesuatu yang selalu muncul dimimpiku.
Jongin POV End
.
.
Sehun POV
Tawa itu lagi.
"Kim Jongin?" ini aneh bagiku mendengar dia menyebut dirinya sendiri seorang Kim.
"Aku adalah Kim Jongin, aku ingin mengatakan itu pada kalian jika kalian memanggilku dengan Jung. Aku Kim Jongin." dia tertawa lagi dengan ucapannya sendiri, selama ini aku memang sering melihat, bahkan mendengarnya melakukan kebiasaan aneh. Tapi Kim Jongin adalah hal aneh yang berbahaya.
"Kau Jung.. jangan mengatakan sesuatu yang membuat kami terkejut lagi Jong."
Jika Daddy tau dia akan benar-benar menghukummu. Dan bagaimana dengan perasaan Mommy jika dia mendengar ini?
Anak ini memang harus lebih mengerti dimana dia berada.
"Aku membuat kalian terkejut? Sehun? Aku merindukan Heechul Appa. Kau tau? Rasanya disini sesak sekali."
Saat kufikir dia begitu arogan dengan mata tajamnya dulu.. ketika aku begitu marah dengan pancaran kepercayaan dirinya yang begitu tinggi beberapa bulan ini.
Kini aku merasa begitu asing dengan mata bulatnya yang membendung air mata disana. Dia menepuk dadanya beberapa kali sebelum aku menghentikan tangannya, "Kau.. hei? Ada apa denganmu?"
"Aku merindukan Appa.. aku merindukan Ahjumma, ahjussi, Taemin Hyung, Minho Hyung, Jonghyun Hyung, JInki Hyung, Bomi Noona, Halmeoni.. bawa aku pada mereka Sehun.. kumohon."
Apa? Ada apa dengannya? Dia tertawa beberapa saat lalu.. bahkan aku ingin mengatakan perasaan bersalahku padanya, tapi kenapa dia menangis sekarang? "Jongin? Hey ada apa denganmu?"
"Bawa aku! Aku ingin Appa! Appa! Appa!"
Jongin menarik tangannya dariku, dia berteriak tanpa menghentikan tangisannya yang semakin lama makin mengeras, berteriak tepat di depan wajahku dan itu sangat berisik! "Yak! Apa-apaan kau!" balasku mendorongnya menjauh. Dia sangat aneh.
"Appa! Aku ingin Appa! Appa!"
"Jangan seperti bayi! Diam!" Aku menarik tangannya, mengguncang tubuhnya beberapa kali karena dia berteriak seperti orang gila. "Jung Jongin ! Diam!" kesabaranku bisa habis jika menghadapi namja idiot sepertinya.
Sehun POV End
Teriakan Jongin tak terdengar di luar kamar karena memang ruangan kamar mereka dibuat kedap suara. Sehun menampar wajah Jongin beberapa kali untuk membuat namja di depannya itu untuk berhenti berteriak seperti orang gila itu, tapi bukannya berhenti justru teriakan Jongin makin menjadi.
Bingung! Sehun yang tak tau dengan apa yang terjadi pada Jongin pun segera memutar tubuhnya menuju pintu yang tadinya ia kunci.. meninggalkan Jongin yang masih memanggil Appa-nya.
Dengan tergesa Sehun berlari menaiki tangga tempat dimana sebelumnya semua anggota keluarganya berkumpul.
"Mom! Dad!" melupakan sopan santunnya, Sehun dengan liar membuka pintu ruangan Yunho.
"Ap-!"
"Dad! Jongin dia..-dia, Dad dia terus saja berteriak!"
Semua yang awalnya terkejut dengan dobrakan pintu kini beralih terkejut dengan Sehun yang membentak Yunho. "Mom! Jongin terluka dan dia tak berhenti berteriak!"
Dengan penjelasan itu Yunho segera berdiri dan bergegas keluar ruangan menuju kamar anaknya.
.
.
-Jongin Story
Aku dan Heechul Appa tinggal dihutan hingga usiaku 15 tahun.
Di hutan Appa menjagaku, dia berburu untuk makan dan aku akan memasak untuk makanan kami.
Appa mengajarkanku cara memancing, tapi Appa selalu melarangku untuk ikut memotong hewan buruannya. Setiap hari Appa dan aku tidur di tanah, rumah kami hanya gubuk kecil yang Appa buat agar aku tak kedinginan.
Setiap aku sakit Appa akan selalu terlihat lebih sakit dari pada aku, Appa selalu merapikan rambutku. Dulu rambutku sepanjang pinggang dan aku begitu lama jika bersisir, Appa sangat kesal jika aku menyisir begitu lama. Dia akan merampas sisirku dan mulai merapikan rambutku.
Saat aku berusia 15 tahun, aku tak tau apa yang membuat Appa membawaku keluar dari hutan, aku tidak tau semua yang aku lihat ditempat baru ini.. sangat asing dan juga aku tak bisa berbicara. Bahkan aku tak tau bagaimana cara berbicara.
Tapi sekarang aku bisa karena Appa dan semuanya mengajarkanku segala hal.
Jangan mengatakan bila Appa tidak baik. Heechul Appa sangat baik padaku.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Yuhuuu, Chap 10 update, kelamaan ya? Maapkan Oliv yaa, sebagai gantinya buat chap ini Oliv bikin long chap? Seneng nggak? 6k+ lho ini.. semoga yang nungguin puas ya.
Yeahh siapa nih yang nungguin HunKai momentnya? Ini baru proses pendekatan yaa, jadi maklum momentnya belum yg romatis2 bnget, kan nggak lucu awalnya Sehun benci Nini tiba-tiba suka sama Nini?
.
Oh ya, buat penempatan cast-nya, semisal ada yg aneh atau kedouble misalnya, harap dimaklumi ya, Oliv masih bingung nempatin member EXO nya, secara kan NCT+SMRB 17, jadi mau nggak mau EXO ada yang jadi 2 peran (kecuali : HunKai)
Maaf juga kalo banyak typo bertebaran -_- baru hari ini Oliv bikin, jam 8 tadi, ehh keinget belum up lama banget, jdi buru-buru bikin, nggak sempet baca ulang, 6k+ sekaligus lho..
Ini emang sengaja Oliv bikin panjang, karena apa? Karena reviewnya udah lebih dari 100, yeaaaa.. seneng banget chap kemaren reviewnya agak tambah, kalo selalu gini mah Oliv bakal selalu panjangin per chapnya. Kkkkk~
.
Oh ya, Oliv juga mau ngucapin Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan, Minal Aidzin wal Faidzin ya, maafin Oliv kalo Oliv banyak salah ke kalian, apalagi Oliv sering ingkar janji ke kalian, maafkan Oliv yaa.. huhuhuuu
.
Target nih, semisal chap ini reviewnya bisa sampek 125 (syukur lebih), Oliv bakal up panjang kayak chap ini, kali ini Oliv nggak bakal ingkar deh, suerrr..^^ tapi kalo misal lho, kalo nggak jga nggak papa, yg baca bejibun pun Oliv ttep seneng kok xD
[26 Juni 2017]
