Tanpa sedikitpun menghiraukan adiknya yang sedang mengayun-ayunkan sabit yang dipilihnya dengan asal, malaikat bersurai putih yang telah berhasil menghentikan peperangan besar antar tiga kubu akhirat, kini sedang duduk terpaku di sebuah kursi bersama salah seorang malaikat yang ia kenal dekat sejak beratus tahun silam.

Satu hembusan kecil menghentikan kegiatan berpikirnya yang sudah terjadi sejak belasan menit tadi, membuat perhatian dari malaikat perempuan di sampingnya akhirnya teralih. Satu alis dari malaikat berambut biru itu terangkat, yang secara tidak langsung dia meminta penjelasan.

"Jadi, rumor itu sudah tersebar luas?"

Malaikat perempuan yang masih melihat lawan bicaranya itu mengangkat bahu, "Tentu saja. Jika malaikat yang tak sering bersosialisasi sepertiku saja sampai mengetahuinya, maka berarti berita itu bisa menjadi benar."

Malaikat dengan perawakan tampan itu mendesah sejenak, kemudian dia menoleh. "Bisakah kau membantuku, lagi?"

Malaikat dengan rambut biru yang bernama Sariel itu mencubit dagu, pandangannya kini menengadah ke arah lain. "Hm... biar aku pikirkan dulu, aku harus memprioritaskan masalahmu ini atau pedang pesananmu terlebih dahulu?"

Mendengar gumaman yang memang sengaja dikeraskan itu, Aziel yang memang tak memiliki ekspresi berlebihan hanya membalas godaan itu dengan wajah yang datar. "Kau harus memprioritaskan keduanya."

Sariel yang kaget sontak menoleh, "Apa!? Tidak, tidak, tidak, itu sangat mustahil!"

"Kenapa kau berpikir demikian? Kau hanya harus membantuku sekaligus membuat pedang yang kumaksud, mudah 'kan?"

"Memang mudah jika hanya berbicara, tapi –"

Masih dalam perseteruan yang tak berbobot, tak jauh dari lokasi kedua malaikat yang sedang cekcok verbal itu ada dua malaikat lain yang sedang melihat mereka. Yang satunya hanya melirik datar sosok di sampingnya, sedangkan yang dilirik tak sedikitpun menggubris dan terus saja menggigit kesepuluh jarinya dengan ganas, dan tak lupa memasang ekspresi sangar di wajahnya.

"Michael-niisama, sebenarnya siapa sih malaikat berambut biru yang kegatelan itu!? Berani-beraninya dia mendekati Onii-sama kesayanganku!"

Ditanya seperti itu, akhirnya Michael mengalihkan pandangannya ke depan. "Oh, dia itu namanya Sariel, salah satu malaikat khusus yang bertugas untuk membuat senjata. Dan kalau tidak salah, dia pernah membantu Onii-sama dulu sekali. Namun entah dalam urusan apa."

"Grrr..."

Mendengar kalau Gabriel sudah mulai menggeram seperti kucing pemarah, Michael hanya bisa menghela nafas pasrah.

[Second Life: Azriel]

Disclaime: I don't own anything

Warning: Just Spin-off, Just Fiction (not real), not for education, Short Fic, Violence, OC (Main Chara).

Summary: Membahas tentang kehidupan satu-satunya Malaikat yang paling disegani di Surga. Sejarah dimana ia memulai perjalanan dari awal ia membuka mata dan menghembuskan nafas, sampai ia hidup untuk sekarang ini.

Azriel Present

[...]

(Arc II: Problem with God of Nordic)

Saat masih bersitegang dengan Sariel, Azriel terpaksa berhenti bercekcok lagi tatkala seorang malaikat bersayap empat datang menghampirinya. Malaikat yang datang itu memberi hormat sebelum pada akhirnya memberikan sebuah bola kristal putih yang Azriel ketahui sebagai projektil sihir komunikasi.

Setelah mengambil bola tersebut dan mengijinkan malaikat itu pergi, Azriel mengalirkan sedikit energi sihirnya untuk menyambung kembali jalur komunikasi yang terjeda itu. Dan alangkah terkejutnya bahwa wajah yang tergambar di bola kristal itu adalah wajah dari sosok yang tak ingin Azriel lihat.

"Athena..."

Sosok di dalam kristal itu melambai dan tersenyum, "Yuhu~ Azriel-sama, lama tidak berjumpa, bagaimana kabarmu? Apa kau baik saja di Surga? Oh iya, selamat ya atas kemenanganmu memberhentikan perang kubu akhirat, mendengar hal itu aku jadi semakin mencintaimu."

"Onii-sama."

Ingin Azriel bertanya tentang maksud Athena menghubunginya tapi suara Gabriel yang memanggilnya seketika langsung mengalihkan perhatiannya. Ditatapnya Gabriel yang kini berdiri tepat di depannya, dan dari sorot mata gadis malaikat itu dapat Azriel lihat rasa kebencian yang sangat dalam.

"Onii-sama, boleh aku tahu siapa cewek ganjen yang menghubungimu ini?"

Azriel terdiam sejenak, "Namanya Athena, dia salah satu dewa Nordic. Memangnya ada apa?"

"Tidak ada." Gabriel berbalik dan kemudian berjalan pergi, "Aku hanya ingin melenyapkan dewa yang sudah berani merayu Onii-sama di depan mataku."

Azriel segera menyusul gadis malaikat itu dan menghentikan langkahnya dengan memegang salah satu bahunya, "Berhenti, Gabriel. Jangan buat pertempuran yang sia-sia, apa kau lupa dengan apa yang sudah terjadi? Tuhan sudah tiada, dan aku tak ingin kehilangan seseorang lagi."

Keheningan melanda tempat itu selama beberapa menit sampai Gabriel berbalik lagi dan kemudian menicum bibir malaikat yang menghentikannya, semua sosok yang melihat itu langsung ternganga tak percaya, bahkan Shini yang polos bukan buatan sampai berbinar ketika melihat adegan dewasa tersebut.

"Terima kasih." Setelah tersenyum sedimikian rupa, gadis malaikat berambut pirang yang sudah membuat beberapa sosok melongo pergi dengan bersenandung ria.

Azriel hanya menatap datar kepergian Gabriel, tak lama kemudian dia membuang nafas.

"Apakah tidak apa-apa dibiarkan begitu saja, Onii-sama?" Michael bertanya saat dia sudah di dekat Azriel.

"Biarkan saja, masih lebih baik seperti ini dibandingkan dia pergi dan menyerang kastil Athena sendirian."

"Jika boleh tahu, sebenarnya apa yang pernah terjadi antara Onii-sama dan Athena ini?"

Sebelum Azriel menjelaskan lebih dalam, dia kembali mengalirkan energi sihir pada bola kristal yang dipegangnya untuk kembali mengkoneksikannya dengan Athena, dan saat sosok Athena kembali muncul Azriel bicara. "Besok lusa aku akan menemuimu." Bola kristal itu kemudian diremas sampai hancur berkeping-keping.

Azriel mengajak Michael dan Shini untuk duduk berdekatan dengan Sariel, dan setelah itu Azriel mulai bercerita.

"Dulu, sangat dulu sekali, saat aku masih bertugas mencabut nyawa manusia dan pada waktu itu aku masih bekerja dengan Azazel, aku tidak sengaja berhadapan langsung dengan Athena yang sedang memimpin peperangan manusia melawan sekumpulan monster. Pada waktu itu aku menyamar sebagai manusia, namun aku dengan sengaja tidak menyembunyikan aura yang kumiliki sebagai seorang malaikat, sontak saja Athena merespon auraku, dan kebetulan aku juga tidak menyadari keberadaan sosok dewa di sana."

"Athena turun dari kuda perangnya, dengan perlahan dia berjalan mendekatiku dengan zirah dan senjata suci miliknya. Tatapannya tajam dan dingin, namun postur tubuhnya seperti sedang menyombongkan diri, dia kemudian bertanya; siapa kau? Dan tepat setelah itu aku menunjukkan jati diriku sebagai seorang malaikat, aku melepaskan semua kekang, karena aku tahu bahwa pada akhirnya aku akan bertarung habis-habisan."

"Kami berdua pindah ke lokasi yang tidak berpenghuni, dan di sana kami menghancurkan segalanya. Di tengah pertarungan yang masih belum terlalu menguras tenagaku, datang satu sosok dewa lagi yang bernama Ares. Aku dikeroyok habis-habisan, tapi pada akhirnya aku menang, dengan mendapat luka gores di wajah dan satu sayap yang patah. Saat aku berniat melenyapkan mereka, datanglah empat sekutu mereka, Zeus, Odin, Hermes, dan Hercules."

"Waktu itu aku sudah bersiap untuk kehilangan beberapa sayapku, tapi mereka tidak menyerang dan hanya memperkenalkan diri. Setelah selesai Athena kemudian angkat bicara, dan tiba-tiba saja dia melamarku menjadi suaminya. Tepat saat itu Azazel datang dengan Sariel yang kebetulan berada di dekat tempat kejadian, tak buang waktu lagi aku langsung mencium Sariel untuk dijadikan sebuah bukti kebohongan bahwa aku sudah berpasangan dengannya."

Azriel melirik Sariel yang mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah, sementara Michael kembali melongo dongo dengan muka bego.

Setelah beberapa saat, Michael berdehem. "Ehem, aku sudah mengerti ceritanya, lalu kenapa Athena kembali mencarimu, Onii-sama?"

Azriel menoleh. "Karena dia sudah pasti berhasil membongkar kebohongan yang kubuat."

To be Continued...

Note: di sini Azazel yang dimaksud masih menjadi seorang malaikat.