WARNINGS: tsukkomi!Gumi, lebih ke KyoGumi daripada MiyaGumi orz, tsundere!Gumiya?
Main pair for this chapter: MiyaGumi (Nakajima Gumiya/Gumo X Nakajima Gumi)
Slight pair for this chapter: Masih KyoGumi?, SoraTeto (maaf, Tecchan, ini guilty ship saya D"8), KaiMiku, KyoYuka (Aoyama Kyo X Yuzuki Yukari)
=x=x=x=x=x=
Kali ini, Kyo menyengir. "Coklatnya boleh buatku?"
Gumi terdiam, menatap Kyo ― seakan laki-laki itu baru menumbuhkan kepala kedua ― dengan cukup lama. "… Hah?"
Kyo, masih dengan cengiran di wajahnya, mengulangi perkataannya dengan lebih pelan, "Coklatnya," ia menunjuk kolong meja Gumi, "boleh buatku?" dan kemudian menunjuk dirinya.
Gumi masih menatap Kyo dengan aneh. "Buat apa?" tanyanya kemudian, menaikkan sebelah alisnya. "Maksudku, bukannya kau sudah mendapat lumayan banyak coklat hari ini?" ia menambahkan, menunjuk ke meja Kyo ― yang terletak di dekat jendela paling depan ― yang di atasnya terdapat dua buah tas kertas besar berisi hadiah-hadiah Valentine untuknya.
"Tapi aku kan belum dapat dari kamu~"
"…" Mendengar jawaban bernada manja dari Kyo itu, Gumi menatapnya dengan datar dan dingin, jadi illfeel. "Omae, kimochi warui."
Kyo tertawa dengan riangnya, "Cuma bercanda, kok, ahaha!"
Gumi merasa ingin menonjok Kyo sekarang.
Tawa Kyo berganti menjadi senyum kecil. Ditatapnya mata emerald green Gumi dengan matanya yang berwarna sapphire blue. "Aku hanya mau coklat dari Nakajima-chan, kok. Itu saja."
"Eh?" Entah kenapa, wajah Gumi merona merah ketika mendengar itu. "A-apa maksudmu?" tanyanya, kembali membuang muka dari hadapan Kyo ― berusaha untuk tetap bersikap dingin dan cuek kepadanya. "K-kau ngomong apa, sih?"
"Aku bilang, 'aku hanya mau coklat darimu, Nakajima-chan'."
Wajah Gumi semakin memerah. Kenapa saat Kyo mengatakan itu, ia merasa jadi sedikit besar kepala? "K-kau―J-jangan pikir kau bisa merayuku dengan kata-kata gombal seperti itu!" serunya, yang kemudian mendengus pelan dan menambahkan, "Asal kau tahu saja, ya, aku tidak seperti para siswi yang gampang jatuh kepadamu karena sebegitu desperate-nya untuk mendapatkan cowok, tahu!"
"Eeeh, Nakajima-chan, ucapanmu ketus sekali," respon Kyo, masih tersenyum, sama sekali tidak terlihat tersinggung. Apakah Kyo ini sebegitu airhead-nya, sampai-sampai ia tidak sadar bahwa dirinya baru saja Gumi hina? "Pantas saja, tidak ada laki-laki yang mau denganmu, Nakajima-chan, ahaha."
Dan setelah itu, ia bahkan cuma membalas sambil terta―Tunggu, apa?
Memicingkan matanya, Gumi menoleh dengan tajam ke arah Kyo. "Kau… bilang… apa…?" tanyanya dengan suara berat dan secara perlahan, seakan memberikan Kyo kesempatan untuk mengubah jawabannya.
Sayangnya, Kyo bukanlah orang pintar dan bijak. " 'Pantas saja, tidak ada laki-laki yang mau denganmu―"
Suara kretek! yang cukup keras yang berasal dari kedua tangan Gumi yang disatukan membuat Kyo menghentikan ucapannya. "Kenapa berhenti? Hmm?" tanya Gumi sambil tersenyum. Senyum a la iblis, maksudnya.
"… Bukan apa-apa, kok. Ahaha," Kyo menjawab setelah terdiam beberapa saat. Ia rasa, ini sudah bukan waktunya untuk bercanda lagi. Ia harus segera bersikap serius kalau masih sayang nyawanya!
Gumi mendengus kesal.
Kemudian, Kyo, yang dari tadi hanya berdiri di samping Gumi, berlutut tiba-tiba, membuat siswi berambut hijau itu heran melihatnya. "Nakajima-chan," sahutnya dengan suara yang dibuat seseksi mungkin ― suara yang selalu berhasil memikat hati perempuan. Kedua tangannya menggenggam tangan Gumi yang kosong. "aku benar-benar menginginkan coklat darimu."
"H-huh!?" Wajah Gumi kembali memerah. "A-apa―"
Tiba-tiba saja, karena merasakan ada tension yang tidak biasa di dekatnya, seorang siswa menoleh ke arah Gumi dan Kyo. "Ada apa? Ada apa?" tanyanya penasaran. "Are? Aoyama dan Nakajima? Kalian sedang apa?"
Mungkin, karena mendengar dua nama yang sepertinya tidak akan pernah bisa bersatu itu, siswa-siswi lain yang duduk di dekat siswa bernama Suiga Sora itu langsung ikut menoleh ke arah Gumi dan Kyo.
"Lho? Aoyama? Sedang apa dengan Nakajima?"
"K-Kyo-kun! J-jangan bilang kalau Kyo-kun…"
"Eh!? Seriusan!? Dengan Nakajima!?"
"Tidaaak! Aoyama-kun kan sudah menerima coklat dariku!"
"Dariku juga!"
"Dariku juga, kan, Kyo-kuuuun!"
"Uwah, Aoyama, kau nekat sekali!"
Dalam sekejap, kelas 2-A menjadi ramai dengan topik yang membawa nama Kyo dan Gumi itu. Para siswi yang tidak rela Kyo "menembak" Gumi (kecuali Iroha yang hanya tertawa melihatnya dan Miku yang masih bermadesu ria) dan para siswa yang menertawakan, menyemangati, dan memberitahu Kyo untuk tidak dekat-dekat dengan si mak comblang keramat.
Dalam hati, Gumi bersumpah akan membuat Teto memutuskan hubungannya dengan Sora, si biang keladi keributan ini.
"J-jangan bercanda!" seru Gumi yang tampak kesal, menarik kembali tangannya dari Kyo dengan kasar. Ia berdiri dari tempat duduknya dan kemudian menatapnya. "Mana mau aku pacaran dengan seorang playboy sepertimu!"
Ucapan Gumi itu ditimpali oleh para siswi yang mendukungnya (karena mereka juga tidak mau Kyo berpacaran dengan perempuan lain) dan yang kemudian mengomelinya (karena tidak terima Kyo-kun mereka dikatai playboy). Sementara itu, para siswa tampak syok. Di depan mereka, jurus "berlutut dan menggenggam tangan" milik Kyo yang selalu ampuh kini ditolak begitu saja oleh Gumi. Padahal, perempuan normal lainnya pasti akan langsung jatuh hati dengannya!
Kyo terdiam, menatap Gumi dengan mulut sedikit terbuka. Ia tampak kaget. Di hadapannya, Gumi terus menatap Kyo dengan tajam, seakan menyuruh siswa berambut coklat itu untuk menyerah.
Setelah terdiam selama beberapa saat, Kyo kembali tertawa. "Hahahaha! Kau lucu sekali, Nakajima-chan!"
Sekarang, gantian Gumi yang tampak kaget saat mendengarnya. "A-apa maksudmu?" tanyanya, masih berusaha menjaga image "aku-benci-playboy-sepertimu-mati-saja-sono"nya.
Kyo kembali berdiri, membersihkan debu dari celananya, dan menjawab sambil terkekeh geli, "Aku? Playboy? Hei, aku memang banyak dikelilingi perempuan, tapi aku tidak mempunyai pacar seorangpun, lho?"
Mendengar ucapan Kyo itu, para siswi langsung berteriak girang "Kyaaaa! Aku masih punya kesempatan dengan Kyo-kuuun!", sementara Gumi, entah kenapa, jadi merasa sedikit bersalah telah mengatainya playboy. Tapi Gumi tetap tidak akan kalah!
"T-tetap saja! Aku tidak peduli! Aku tetap tidak akan mau menjadi pacarmu!"
Kyo tertawa lagi. "Nakajima-chan, kau dengar apa yang kubilang, tidak, sih? Aku bilang kalau aku cuma mau coklat darimu. Aku tidak bilang kalau aku mau menjadi pacarmu, kan?"
"… Oh." Gumi langsung diam.
Para siswi juga langsung diam. Awkward silence semakin terasa di kalangan para siswa.
"T-tapi tetap saja…!" Gumi kembali berkilah, membuat Kyo tersenyum geli. "K-kau bilang itu―K-kau cuma mau coklat dariku! I-itu kan terdengar seperti kalimat ngajak jadian, tahu!"
Kyo, sambil berusaha menahan tawanya, berkata, "Nakajima-chan, aku bilang, 'aku hanya mau coklat darimu', lho," ia akhirnya tertawa, lalu melanjutkan, "bukan 'aku mau coklat hanya darimu'."
Gumi kembali diam. Wajahnya juga kembali memerah ― kali ini lebih merah daripada sebelumnya.
Siiiiing. Semakin awkward silence.
Tawa riang Iroha memelan karena merasa suasana di kelasnya semakin tidak enak dan berubah menjadi tawa canggung, lalu ia ikut terdiam. Ia baru saja mau membuka kembali mulutnya, ketika Maika-sensei masuk ke dalam kelas sambil meminta maaf karena datang terlambat. Berikutnya, para murid kembali ke tempat duduk mereka masing-masing dan memulai pelajaran.
Pelajaran sejarah dan seterusnya berlangsung dengan suasana awkward yang membuat para guru bingung.
.
.
.
Ketika bel jam pulang sekolah berbunyi, seakan mendapat semangat baru, para murid kelas 2-A langsung melupakan kejadian di jam pelajaran sejarah tadi. Setelah mengucapkan salam dan terima kasih kepada guru, mereka langsung berlarian keluar kelas.
Miku, yang masih saja terus bermadesu ria, masih berada di tempat duduknya. Kepalanya ditidurkan di atas mejanya dengan lesu, kedua tangan yang diletakkan di atas kepalanya menutupi wajahnya. "Miku… bego…" gumamnya pelan dengan suara serak. "Hiks… Coklatnyaaa… Maaf…"
Gumi, melihat Miku, menyemangati dirinya untuk tidak terus memikirkan masalah di jam pelajaran sejarah tadi dan untuk menghibur Miku. Ia dan Iroha lalu menghampiri Miku dan menggoyangkan tubuhnya. "Miku-chan, ayo pulang~"
"Hiks…" Miku, dengan wajahnya yang memelas, menoleh pada dua sahabat baiknya itu dan berkata, "Kalian pulang saja duluan. Aku nanti mau ke perpustakaan dulu…"
Gumi dan Iroha saling bertatapan. Mereka tahu, Miku sedang berbohong. Si rambut teal itu sebenarnya masih sangat sedih karena tidak bisa memberikan coklatnya kepada Kaito.
"… Baiklah," respon Gumi kemudian "Jangan lama-lama, ya, Miku-chan."
"Kalau ada masalah, ceritakan saja pada kami, Miku-chan!" timpal Iroha sambil tersenyum kecil, berusaha meyakinkan Miku.
"… Ya…" Miku mengangguk pelan. Poninya yang mulai panjang menutupi matanya, sehingga ekspresi wajahnya tidak terlalu terlihat.
Gumi dan Iroha memandang Miku dengan cemas, sebelum akhirnya mereka keluar kelas, meninggalkan Miku sendirian.
"Aku jadi merasa bersalah…" Gumi menghela napas seraya menutup kembali pintu kelas, menundukkan kepalanya.
"I-itu bukan salahmu, kok, Gumi-chan!" Iroha berujar, berusaha menyemangati Gumi. Ia tidak mau melihat kedua sahabatnya sedih di saat bersamaan!
Gumi menghela napas lagi. "Terima kasih, Iroha-chan," ia tersenyum kecil. Memang, sih, Miku menyukai Kaito itu bukan salah Gumi, tapi Gumi yang bilang kalau Miku akan cocok dengan Kaito, jadi ia juga merasa bersalah.
Iroha tersenyum lebar. "Aku yakin, Miku-chan akan baik-baik saja! Kita pulang, yuk!"
Gumi baru saja mau mengangguk, ketika seseorang memanggilnya.
"Yo, Nakajima-chan."
Mendengar suara itu, aura gelap kembali menyelimuti Gumi. Dengan sinis, ia menoleh kepada Kyo yang memanggilnya dari belakangnya. "Apa maumu."
Gumi masih kesal dengan Kyo, ternyata.
"Ahaha, Nakajima-chan, kau dingin sekali."
"Iroha-chan, kau pulang duluan saja," ujar Gumi tanpa menoleh pada perempuan pecinta kucing itu sama sekali. "Aku ada urusan dengan Aoyama."
Iroha terdiam, namun setelah melihat mood Gumi yang memburuk, ia segera mengangguk. "K-kalau begitu, a-aku pulang duluan, ya!" serunya dengan panik seraya berlari-lari kecil meninggalkan Gumi dan Kyo. "S-sampai besok, Gumi-chan!"
Setelah Iroha pergi, Kyo menghampiri Gumi, masih dengan senyum khasnya di wajahnya ― membuat Gumi merasa semakin kesal.
Gumi membuka mulutnya, namun ketika Kyo tersenyum tipis sembari mengedipkan sebelah matanya dan menunjuk ke belakang Gumi dengan tangan kanannya, gadis berambut hijau itu pun menoleh ke belakangnya. Jantungnya terasa seperti berhenti berdetak seketika ketika ia melihat siapa yang Kyo tunjuk.
Seorang laki-laki tampan dengan rambut dan mata biru, dan syal berwarna senada.
"K-Kaito―"
Melihat Gumi, Shion Kaito segera meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, mengisyaratkannya untuk tidak bicara. Laki-laki itu berjalan menuju pintu kelas 2-A. Dengan tangan kanan di gagang pintu, bersiap membukanya, ia bertanya pada Gumi tanpa menoleh padanya sama sekali, "Si kuncir dua itu―Hajime Miku(1)… di dalam?"
"I-iya… D-di dalam kelas…" Gumi mengangguk pelan, masih agak kaget. "S-siapa itu Hajime Miku!? Namanya 'Hatsune Miku', tahu!"
Sekilas, Gumi sempat mendengar Kaito mendengus pelan dan melihatnya tesenyum kecil. Tanpa banyak bicara lagi, laki-laki itu membuka pintu kelas 2-A dengan perlahan dan kemudian masuk ke dalam. Ia menutup kembali pintunya, tapi tidak rapat dan menyisakan sedikit celah, sepertinya agar tidak menghasilkan bunyi agar Miku tidak menyadari kedatangannya.
Kyo menepuk pelan bahu Gumi, masih sambil tersenyum. Ia merangkul bahu Gumi (tapi langsung ditepis dengan kasar kemudian), mengajaknya untuk mengintip keadaan di dalam kelas melalui celah pintu.
Dari celah itu, terlihat Kaito yang memotong sebagian coklat Miku dan memakannya. Miku tampak kaget dengan keadatangan Kaito yang tiba-tiba. Mereka berdua lalu berbicara dan Miku tersenyum lebar. Entah apa yang mereka bicarakan (suara mereka tidak terdengar sampai ke koridor ini), tapi Gumi yakin, perasan Miku terbalas. Happy end.
Gumi menarik kembali dirinya, menjauh dari pintu kelas, menyenderkan dirinya di tembok, lalu menghela napas lega dan tersenyum kecil.
Kyo menghampiri Gumi. "Selamat, ya," ucapnya, tersenyum dengan lembut.
"Hah?" Gumi mendongakkan kepalanya, menatap bingung Kyo. "Untuk apa? Kau aneh, ah."
"Kau yang memasangkan Hatsune-chan dengan Aonoyatsu-senpai(2), kan?"
"Namanya 'Shion Kaito', tahu!" balas Gumi dalam hatinya. "Dan ngaca, sono! Kau sendiri juga biru, kan!"
"Otsukaresama desu," Kyo menepuk-nepuk kepala Gumi. "Usaha kerasmu tidak sia-sia. Ehehe."
Gumi menundukkan kepalanya. Entah kenapa, wajahnya memanas. "B-baru kali ini ada orang yang mengucapkan 'otsukaresama' kepadaku…"
Melihat Gumi hanya diam dan tidak marah seperti biasanya, Kyo berhenti menepuk kepala Gumi. "Nakajima-chan, ada apa? Kok, diam saja?"
Gumi semakin menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajah merahnya. "A-aku nggak apa-apa―"
"Ah, jangan-jangan," Kyo memotong ucapan Gumi, "kau baru menyadari pesonaku dan akhirnya jatuh kepadaku, ya?"
Jeduagh!
Gumi menjedutkan dahinya ke dagu Kyo, sama seperti yang dilakukanya ke Gumiya tadi.
"~~~!" Kyo langsung jatuh terduduk sambil memegangi dagunya. Sakit, lho. Pake banget. Sumpah. Besok pasti bakal biru, nih.
Gumi, yang sama sekali tidak merasa kesakitan, melipat kedua tangan di depan dadanya sambil mendengus kesal, memandang rendah Kyo ― secara literal. "Mimpi saja kau! Ngarep banget aku mau menyukaimu!"
"U-uuh―Ng-nggak usah sampai meng-headbutt-ku juga, kan. N-Nakajima-chan…"
Gumi mendengus lagi, lalu membalikkan tubuhnya, berjalan meninggalkan Kyo yang masih meringis kesakitan. Satu, dua langkah, Gumi berhenti. Dan masih dengan tatapan matanya yang dingin, ia kembali menoleh kepada Kyo.
Kyo mendongakkan kepalanya, menatap Gumi, dan dugh!, Gumi melemparinya dengan sesuatu. Langsung saja, Kyo mengelus-elus kepalanya dengan setitik air mata di ujung matanya.
"Ambil saja!" seru Gumi sambil berjalan meninggalkan Kyo. "Aku nggak butuh itu!"
Kyo menatap kepergian Gumi dengan heran. Lalu, diambilnya benda yang Gumi lempar tadi. Kedua mata birunya langsung berbinar-binar begitu melihat kotak berwarna ngejreng itu. Dengan wajah merona merah dan hati gembira, ia berteriak, "NAKAJIMA-CHAAAAN, AKU CINTA KAMUUUUUU, DASAR TSUNDEREEEEEE―"
"DAMARE, AHOYAMA(3)!"
Kyo tersenyum lebar, memandangi kotak coklat itu dengan gembira. Namun hal itu berlangsung tidak lama, karena kemudian, pintu kelas 2-A dibuka, menampakkan Miku yang tampak malu dan Kaito yang menatap Kyo dengan tatapan yang mengerikan yang seolah mengatakan "Kau menguping, ya? Huh?"
Kyo tidak mempedulikan Kaito yang sekarang sedang menendanginya dan Miku yang panik berusaha menghentikannya. Masih sambil memandang kotak coklat itu, ia bergumam pelan, "Terima kasih, Nakajima-chan," sebuah senyum penuh maksud tersungging di bibirnya, "Sekarang…"
.
.
.
"… biarkan aku yang menjadi matchmaker-mu."
"Kyo."
Mendengar suara yang lembut itu, Kyo menoleh ke sampingnya. "Yucchan," ia tersenyum lembut. "ada apa?"
Gadis berambut lavender itu, Yuzuki Yukari, menatap Kyo dengan cemas. "K-kau benar mau melakukan ini?"
"Tentu saja," Kyo mengangguk, lalu tertawa kecil, "Ahaha, Yucchan khawatir aku tidak akan berhasil, ya?"
Yukari terdiam, mengalihkan pandangannya dari Kyo. Wajahnya merona merah.
Tersenyum kecil, Kyo menepuk-nepuk kepala Yukari. "Aku tidak akan tidak berhasil. Aku sudah berjanji padamu kalau aku akan membalas jasanya, bukan?"
Yukari kembali menatap Kyo, ikut tersenyum kecil.
"Lagipula, kalau bukan karena Nakajima-chan, kita tidak akan pernah tahu kalau ternyata kita saling suka, kan?"
"T-tapi, dari ceritamu tadi, sepertinya, Nakajima-imōto sendiri sudah lupa kalau dia pernah memasangkan kita…"
"Ahahaha," Kyo tertawa kecil. "Daya ingat Nakajima-chan jelek, ya~"
"K-Kyo…"
.
.
.
"Na-ka-ji-ma-se-n-pa~i!"
"… Omae, kimochi warui," sahut Gumiya dengan suara datar, menatap Kyo yang sedang berdiri di hadapanya dengan dingin. "Kau laki-laki, kan. Jangan panggil aku 'senpai'. Aku tidak suka dipangil 'senpai' oleh laki-laki, apalagi dengan nada genit seperti tadi. Menjijikan."
Kyo jadi merasa déjà vu dengan kejadian di kelas tadi, tapi ia tidak terlalu mempermasalahkannya. "Eeeeh? Tapi Nakajima-senpai kan seniorkuuu~"
Bletak!, Gumiya menjitak kepala Kyo dengan kesal dan illfeel. "Seenggaknya, jangan pakai nada genit itu, deh!"
"Ehehe, sumanai, Senpai~" Kyo tersenyum bodoh, mengelus-elus kepalanya.
Gumiya menghela napas, menatap jengkel adik kelasnya yang terkenal sebagai ladies' man itu. "Terus? Ada apa kau memanggilku ke rumahmu malam-malam begini?" ia mengetuk satu kakinya, "Aku tadi sedang sibuk dengan game-ku, tahu! Aku sedang melawan final boss-nya! Tapi tiba-tiba saja, Wil meneleponku dan bilang 'Kyo sedang sekarat'! Sebenarnya, aku tidak peduli denganmu, tapi karena kau adalah teman Wil, aku jadi khawatir! Aku langsung keluar dari game-ku di saat Health Point final boss-nya tinggal 10 persen dan langsung menuju rumahmu! Aku bahkan sampai nyaris tertabrak mobil di tengah jalan tadi! Dan begitu aku sampai, KENAPA KAU MALAH CENGAR-CENGIR SEPERTI INI, KONO YARŌ!?"
Jujur, Kyo bisa melihat tubuh Gumiya bergetar hebat. Wajahnya bahkan terlihat merah. Ia benar-benar sedang antara-marah-dan-mau-nangis. Kyo jadi merasa sedikit bersalah, tapi kalau tidak begini, rencananya tidak akan berjalan.
Dengan senyum khasnya, Kyo mengeluarkan tangan kirinya yang dari tadi disembunyikan di belakang tubuhnya. "Senpai, lihat, ini apa?"
"Hm?" Gumiya melihat sesuatu yang Kyo tunjukkan itu. Sesuatu berbentuk kotak, dengan warna oranye dan hijau yang ngejreng… "Gumi?"
"Bweee! Salaaah!" Kyo membentuk tanda silang dengan kedua tangannya sambil menjulurkan lidahnya. "Ini coklat!"
"Aku juga tahu itu coklat, Ahoyama!" balas Gumiya yang semakin kesal dengan juniornya itu. "Maksudku, itu dari Gumi?"
"Ting-tong! Benar!" Kyo membentuk tanda peace.
Entah kenapa, melihat senyum lebar Kyo, Gumiya jadi ingin menghajarnya. "Terus kenapa?" tanyanya dengan dingin. "Kau mau pamer, huh?"
Kyo menghela napas dan memasang wajah kecewa yang dibuat-buat. "Areee, Nakajima-senpai, kau tidak peka, ya~ Aku jadi heran dengan para kōhai yang menyukaimu~ Apa Senpai memakai jampi-jampi?"
JEDUAGH!
Kyo memegangi dagunya yang lagi-lagi di-headbutt. "T-tulang rahang bawahku bisa retak kalau begini terus, nih…"
Laki-laki yang berambut hijau mendengus kesal. "Aku mau pulang," ia membalikkan tubuhnya dan hendak melangkahkan kakinya, namun keburu dihentikan oleh Kyo. Ia pun menoleh padanya dan menatapnya dengan sinis. "Apa lagi?"
Tangan kanan memegang coklat pemberian Gumi, Kyo menatap seniornya itu dengan dalam (membuat Gumiya jadi merasa sedikit terintimidasi) dan bertanya, "Kau tidak marah? Kau tidak mau merebut coklat pemberian Nakajima-chan ini dari tanganku, Nakajima-senpai?"
Suara Kyo yang terdengar serius dan sedikit lebih berat dari biasanya membuat Gumiya memutuskan kontak mata mereka tanpa sadar. Dilepaskannya tangannya dari Kyo, dan tanpa menoleh padamya sama serkali, ia menjawab setelah terdiam sebentar, "… A-aku tidak―U-untuk apa aku marah?" ia mengepalkan kedua tangannya, merasa tidak nyaman, "K-kalau memang Gumi menyukaimu, a-aku kan―Aku tidak punya hak untuk melarangnya untuk menyukaimu!"
Kyo menghela napas panjang, memijat dahinya. Ia rasa, ia harus menggunakan kalimat jika dengan tingkah laku tidak berhasil. "Nakajima-senpai," panggilnya, dan Gumiya secara refleks menoleh kepadanya. "apa kau menyukai Nakajima-chan ― adikmu sendiri?"
Mendengar pertanyaan itu, wajah Gumiya langsung memerah hebat, tapi ia mengelaknya. "HAAAAH!? K-k-k-kau ngomong apa, sih!?" (Melihat reaksinya, Kyo hanya tersenyum kecil. Dugaannya benar.) "M-m-m-mana mungkin aku menyukai adikku sendi―M-m-maksudku, tentu saja aku menyukainya! T-tapi hanya sebagai adik! D-dia kan adikku! Te-tentu saja aku suka dia! T-tapi hanya sebagai adik, lho! Hanya sebagai adik!"
Kyo terkekeh geli. "Tidak usah dianggap serius. Aku hanya bercanda, kok, Nakajima-senpai."
"H-huuuh!?" Wajah Gumiya semakin memerah. "A-a-apa maksudmu!?"
Kyo hanya tersenyum. Ia mengambil tangan Gumiya, menengadahkan telapak tangannya, lalu meletakkan coklat itu di atasnya. "Untuk Nakajima-senpai."
"E-eeeh!? T-tunggu, tunggu!" Gumiya hendak memberikan kembali coklat itu kepada Kyo, tapi Kyo sudah menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuhnya. "A-aku tidak bisa menerima ini! I-ini untukmu, kan!"
"Sebenarnya, coklat ini untuk Nakajima-senpai."
"Eh?"
"Senpai ingat, tidak, saat di kelas Senpai tadi, Nakajima-chan terus memanggil Senpai dan seperti mau memberikan sesuatu, tapi akhirnya tidak jadi? Aku dengar dari Keine-senpai."
Gumiya terdiam sebentar, mengingat kejadian di kelasnya tadi. Ah, iya, dia ingat, meski itu bukan hal yang paling berkesan baginya. (Entah kenapa, ia lebih ingat dengan apa yang terjadi setelahnya ― di mana ia dan Gumi saling berpelukan karena kaget dan takut, lalu Gumi menjedutkan dahinya ke dagunya.) Gumiya pun mengangguk. Sesaat, ia tampak bingung, tapi kemudian, kedua matanya terbelalak lebar ketika ia menyadari sesuatu. "AAAAAH!"
Kyo menyengir.
"J-jadi―Y-yang tadi itu―U-untukku!? Coklat!?"
Sengaja tidak menghiraukan Gumiya yang kaget, Kyo berujar, "Aku dengar dari Hatsune-chan, katanya, Nakajima-chan membuat coklat ini dengan sepenuh hatinya, lho. Kemarin, ia pulang telat, kan?"
Ah, benar juga. Kemarin, Gumi tiba di rumah sekitar pukul 7 malam. Padahal, biasanya, Gumi tidak pernah pulang di atas jam 6 sore, kecuali jika ia sudah meminta izin terlebih dahulu. Ia membawa dua buah tas kertas ― satu berisi peralatan papercraft, satunya lagi entah apa (apa itu berisi coklatnya?). Ia bahkan tidak makan malam meski ia tahu menu makan malam hari itu adalah sup wortel favoritnya.
Gumiya menundukkan kepalanya. Ia jadi merasa bersalah telah mengatai Gumi "lalat hijau" di kelas tadi, juga karena ia tidak memikirkan perasaannya, dan karena ia telah bersikap kasar kepadanya, dan karena ia lebih mengutamakan para junior manis yang mengelilinginya, dan banyak lagi… "Gumi…" Ia mendongakkan kembali kepalanya. Tangan kirinya dikepalkan, tangan kanan memegang kotak coklat milik Gumi dengan hati-hati. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan Kyo, menuju rumahnya. "Makasih, Aoyama!"
Kyo bersender di ambang pintu seraya melipat kedua tangan di depan dadanya, menghela napas, tersenyum kecil. "Ganbatte, ne."
.
.
.
Tok tok
Seraya mengetuk pintu kamar Gumi yang berwarna oranye wortel, Gumiya mengunyah sesuatu. Di tangan kirinya, terdapat sebuah kotak coklat yang telat dibuka, menampakkan coklat putih berbentuk hati yang bagian atasnya telah digigit. "Ugh, aku nggak suka coklat putih."
Gumi membuka pintu kamarnya, lalu mendongakkan kepalanya, dan matanya dan mata Gumiya saling bertemu. Ekspresi wajah Gumi lanngsung berubah dingin. "Apa maumu, Ulat hijau?"
Gumiya menahan diri untuk tidak membalas ucapan Gumi itu. Ia memejamkan kedua matanya, menarik napas dalam-dalam, dan berikutnya, tanpa sang adik duga sama sekali, ia mendaratkan sebuah ciuman di pipi kiri Gumi.
Gumi membatu di tempat.
Tidak sampai satu detik, dan Gumiya menarik kembali dirinya. Kemudian, seraya membuang muka, ia berkata, "Coklat buatanmu terlalu manis. Sama sepertimu," ia lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya. "Tapi makasih. Aku suka."
Setelah Gumiya tidak tampak lagi, Gumi menutup kembali pintu kamarnya. Ia duduk memunggungi pintu itu sambil memegangi wajahnya yang terasa sangat panas. "A-apa yang itu tadi…?"
Sementara itu, Gumiya yang juga sudah berada di dalam kamarnya, langsung mengacak-acak rambutnya. "Aaargh! A-apa yang tadi kupikirkan, sih!? Begobegobegobego! Gumiya begoooo! Kalau dia jadi makin membenciku, gimana!? Begobegobegoooo!"
Wajahnya merah padam.
-MiyaGumi: Owari-
Entah kenapa, yang MiyaGumi ini lebih ke KyoGumi, ya orz *memang*
Ending-nya juga agak ngegantung, lagi, ya =w="
Kyooo, aku suka kamu yang di siniiii. Kamu begitu baiiik ;w; *krik*
Maaf, ya, setelah chapter lalu, saya nggak jadi update satu minggu kemudiannya, te-he. *tehe-pero* *digampar*
Tapi berbahagialah, chapter ini lumayan panjang! *tebar confetti* *apaan sih*
Sebenarnya, saya mau bikin chapter MiyaGumi ini jadi 3 bagian, tapi nanti bagian ketiganya malah kependekan. Jadilah 2 bagian dengan bagian kedua yang sedikit panjang ini. *krik*
Chapter berikutnya, pairing terakhir, PikoMiki!
Mohon jangan terlalu banyak berharap, ya ._. *plak*
Ngomong-ngomong, hari ini hari ulang tahun saya, lhooo 8"D *terus apa*
Sudah lama saya tidak publish atau update fanfic di hari ulang tahun saya ini~ *ngek*
Minta hadiah, dong 83 *buagh*
~Seiryuu Sakurane
Keterangan
(1): Hajime (初め) dan Hatsune (初音). Arti kanji 初 itu "awal" atau "pertama", jadi wajar kalau Kaito salah ngomong, ya. :3 *apanya*
(2): Aonoyatsu-senpai. Ao no yatsu. Artinya "si biru itu". Kaito dan Kyo sama-sama biru, kan.
(3): Ahoyama. Aho (tolol) + Aoyama. Mengerti, kan? Ahaha. *apaan sih*
