EPILOG

Malfoy Manor tidak pernah terasa seriuh ini. Puri yang suram itu kini selalu ramai dengan derap kaki kecil yang berlarian kesana kemari. Menuruni tangga, menyusuri tiap ruangan disertai gumaman tak terdefinisi dari seorang bocah perempuan berambut coklat ikal yang kini berlari menuju ruang keluarga.

"Oh tidak, Nessa. Tidak perabot milik grandma." Hermione -yang kini telah menyandang nama belakang Malfoy- berjalan dengan lelah mengikuti si gadis cilik yang tak kenal letih berkeliling Manor yang luar biasa besar. Ia menjejak dilantai perlahan sambil memegangi perutnya yang membesar. Hermione sudah akan mencegah Nessa mengacak-acak tatanan perabotan lux diruangan itu saat seorang pria dengan kemeja putih yang lengannya dilipat sampai siku berkata dengan halus namun bernada tegas dari pintu.

"Vanessa. Kemari, sayang."

Gadis cilik itu menoleh mendengar suara Draco. Begitu pula Hermione. Nessa berlari dan mendarat dipelukan ayahnya.

Vanessa Allegra Malfoy nama gadis cilik itu. Dua tahun yang lalu saat Nessa lahir, Lucius mengumumkannya secara besar-besaran kelahiran putri Malfoy pertama dengan keturunan darah campuran tersebut. Seluruh warga dunia sihir Inggris pun mengenal Nessa dalam sekejap. Seorang putri pewaris tahta kerajaan bisnis Malfoy. Setelah kerajaan bisnis keluarga Malfoy pulih dari semua masalah, Lucius sibuk menantikan pewaris tahta baru setelah putra kebanggaannya mengambil alih seluruh bisnis tersebut. Meski pada awalnya Lucius lebih menginginkan cucu laki-laki agar tetap bisa menjaga nama Malfoy dibelakang namanya, tapi akhirnya Lucius bisa menerima dengan lapang karena Vanessa justru lebih mewarisi sifat-sifat Malfoy walaupun wajah dan fisik Nessa mirip sekali dengan Hermione.

Pernikahan kedua orangtua Vanessa sendiri dilaksanakan 1 tahun sebelumnya. Selama 2 tahun masa pacaran mereka, sudah beberapa kali keluarga Granger dan Malfoy bertemu. Awalnya kecanggungan masih tidak bisa ditahan karena pertemuan keluarga darah murni dan muggle -apa lagi untuk menyatukan anak mereka- memang jarang terjadi. Tapi lambat laun mereka jadi semakin dekat. Pengetahuan Mr dan Mrs Granger tentang dunia sihir yang tidak bisa dibilang sedikit, berkat cerita-cerita dari Hermione, membuat keluarga Malfoy senang dengan pasangan itu dan membiarkan anak-anak mereka menyatukan hubungan.

Acara dilaksanakan dengan sangat meriah. Hijau dan merah sangat dominan sehingga bukannya terlihat seperti pesta pernikahan, malah lebih mirip dengan perayaan Natal. Keluarga besar Orde datang ke halaman Malfoy Manor yang menjadi lokasi pesta. Hubungan baik diantara mereka benar-benar telah terwujud sepenuhnya. Hermione begitu lega dan bahagia hari itu.

Hermione menjatuhkan diri dikursi yang biasa diduduki oleh ayah mertuanya untuk membaca koran atau sekedar menikmati api perapian. Draco bisa menangkap raut kelelahan yang tergambar jelas disana. Ia menurunkan Nessa dari gendongannya, menyuruhnya kembali bermain lalu menghampiri Hermione.

"Kau tak apa-apa?" Draco mengelus rambut Hermione pelan lalu beralih menyentuh perut wanita itu.

"Entahlah. Aku lelah sekali."

Belum sempat Draco mengatakan sesuatu lagi, tangisan Nessa terdengar dari kejauhan. Hermione sontak bangkit berdiri dan sedikit berlari menuju arah datangnya suara. Draco mengikuti dibelakangnya.

Hermione melongok ke beberapa ruangan dan menemukan gadis ciliknya sedang berada di perpustakaan milik kakeknya yang kini menimang-nimang Nessa. Hermione meraih Nessa dalam pelukannya.

"Apa yang terjadi?"

Lucius dengan wajah sabar menenangkan ketegangan Hermione dan menunjuk buku-buku berserakan diujung, "Ia tadi berlari dan menabrak buku-buku itu sebelum aku sempat mencegahnya."

"Oh, astaga." Hermione mengusap dahi Nessa yang masih menangis, "Maaf mengganggu, Dad."

"Tak apa, Hermione. Nessa sedang senang bermain. Kau harus maklum."

Hermione mengangguk dan berpamitan untuk keluar dari ruangan itu. Ia menghampiri Draco yang berdiri diluar perpustakaan, menyerahkan Nessa. Entah kenapa Nessa bisa lebih cepat tenang bila bersama dengan ayahnya. Mungkin karena persamaan sifat mereka. Padahal saat Nessa lahir, Harry dan Ron bersyukur luar biasa karena gadis kecil itu memiliki fisik yang mirip dengan ibunya. Dari rambutnya yang mengembang sampai mata coklat madunya. Tapi sebaliknya, sifat Draco menempel sepenuhnya dalam diri Nessa.

Draco menggendong Nessa disatu tangan dan tangan yang lain mengelus rambut istrinya yang terlihat letih. Ia tidak tahu kenapa tapi wanita disampingnya itu sepertinya sedang dalam keadaan tidak baik hari ini. Sedari tadi wajahnya kusut dan gerak badannya tidak bersemangat. Karena, meskipun dalam keadaan hamil tua, biasanya Hermione masih lincah kesana kemari mengurus berbagai keperluan rumah tangga. Bahkan ia masih rajin berangkat bekerja dan tidak mengindahkan larangan Draco.

"Kau sakit?"

Hermione menoleh dan mendapati suaminya menatapnya dengan cemas, "Hanya kelelahan kurasa."

"Karena….Nessa?" tanya Draco. Hermione mengernyit dan menggeleng lalu mengusap dahi putrinya yang memainkan rambut pirang Draco. Pria itu lalu mengamati istrinya, "Perutmu tak apa-apa?"

Wanita itu menggeleng pelan lalu tersenyum dan berjalan meninggalkan Draco tanpa suara menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Draco mengikuti dibelakang Hermione sambil bercanda dengan Nessa hingga beberapa kali gadis kecil itu tergelak senang. Sesampainya didapur, Hermione langsung sibuk mengayunkan tongkat sihirnya kesegala arah untuk menggerakkan alat-alat dapur. Nessa bertepuk tangan takjub melihatnya, membuat Hermione menoleh dan kembali tersenyum. Draco mendudukkan Nessa dikursi makan yang disihir khusus agar Nessa tidak bertingkah saat sedang makan dan lalu bergerak kesamping Hermione.

"Hey, ada apa?"

Hermione memutar badannya sehingga berhadapan dengan suaminya, "Tidak. Tak ada apa-apa, Draco."

"Oh ayolah, Hermione. Kau tidak bisa berbohong denganku." Draco mengedipkan mata menggoda Hermione. Istrinya tertawa.

"Karena kau raja dari segala kebohongan. Iya kan? Hh.. semoga saja Nessa tidak juga mewarisi bakatmu yang satu itu." Hermione kembali terbahak.

Mau tak mau Draco ikut tertawa namun hanya sesaat dan kembali menanyakan hal yang sama pada istrinya, "Jadi ada apa?"

Hermione hanya menatap Draco dengan pandangan aneh.

"Apa?"

"Kau kenapa sih?"

Pria itu menghela napas, "Hermione, kau tidak sedang bercanda kan? Karena aku benar-benar cemas kali ini."

Hermione tertawa dengan sangat puas hingga tergelak, "Untuk apa kau secemas ini, Draco? Aku tak apa. Percayalah. Aku.. hanya saja…"

"Ada apa?" Draco memotong perkataan Hermione saking penasarannya.

"Entahlah. Aku hanya merasa tidak siap dengan…." Hermione melirik kearah perutnya yang membesar dan Draco mengikutinya dengan alis mengernyit tajam, "…kau tahu, Nessa saja sudah membuatku kelimpungan dengan kenakalannya berkat warisan darimu." Hermione menarik sudut bibirnya sementara Draco menunduk menahan geli, "Lalu harus tambah satu lagi? Dengan kenakalan yang sama? Aku rasa akan membutuhkan bantuan satu orang lagi, Draco."

"Bantuan?"

"Didunia muggle kami mengenalnya dengan sebutan baby sitter. Kau tahu, seperti asisten untuk membantu menangani anak."

"Aaah…" Draco mulai memahami maksud Hermione, "Kurasa itu tidak perlu, sayang. Kau masih ingat saat aku akan melamarmu?"

Hermione mengangguk, "Memangnya kenapa?"

"Yaaa… ditengah hujan saat kau sedang marah denganku karena kelakuanku yang kelewatan, aku membawakanmu apapun yang kau minta padaku saat itu meskipun kau hanya bercanda, kau memukuliku dan aku tidak memprotes sedikitpun, aku mencarimu kesetiap sudut London saat kau tiba-tiba menghilang." Hermione tersenyum kecil mendengar kilas balik itu, "Kau paham maksudku? Aku akan ada disisimu, Hermione. Selalu ada disisimu. Seperti yang kuucapkan saat pernikahan kita. Kau tak perlu bantuan orang luar untuk menangani satu lagi pewaris kenakalanku. Kau masih punya aku."

Tiba-tiba semua perabot dapur berhenti bekerja karena tidak lagi mendapat perintah dari Hermione yang meletakkan tongkat sihirnya dimeja sementara ia terperangah dengan kata-kata Draco barusan.

"Sudah terlalu banyak yang kubuat sehingga membuatmu marah atau bahkan murka, Hermione. Bahkan saat masa pacaran kita selama 2 tahun dulu. Aku hanya tidak ingin membuatmu seperti itu lagi. Oh dan aku sudah pernah merasakan bantingan pintu tepat dihidungku."

Hermione tersenyum sangat manis pada pria dihadapannya. Saat 2 tahun mereka berpacaran, sudah ratusan kali Hermione merasa tidak kuat dan ingin mengakhiri semua karena kelakuan Draco yang terkadang masih sangat keterlaluan. Tapi setiap kali ia marah atau mendiamkan pangeran Slytherin itu, Draco selalu meminta maaf dengan melakukan hal yang tidak masuk akal. Pernah ia membawakan Hermione satu truk bunga mawar putih, meminta James Sirius –putra pertama Harry dan Ginny- yang masih belajar berbicara untuk mengucapkan permintaan maaf Draco dengan membawa sebuah boneka yang mengiringi bocah kecil itu dengan musik, atau menyusul Hermione ke Australia saat gadis itu marah besar pada Draco dan pergi untuk menemani ayahnya yang sudah lebih dulu berada disana untuk liburan, pernah juga ia tidur diteras rumah Hermione yang mungil dengan hujan salju yang turun dengan lebat hanya berjarak beberapa senti dari tempat ia berbaring untuk menunggu Hermione keluar dan memaafkannya.

"Kau percaya padaku, kan?"

Bukan jawaban yang diterima oleh Draco, melainkan pelukan dari istri yang amat dicintainya. Vanessa berteriak-teriak gembira melihat kedua orangtuanya yang kemudian menghampirinya dan memberinya pelukan erat.

"Kau punya ide untuk nama adikmu, Nessa?" Hermione menyihir dua buah kursi dari udara sehingga mereka bisa duduk disamping gadis kecil yang masih tertawa gembira itu.

"Apa mereka benar-benar yakin bahwa ia laki-laki?"

Hermione mengangguk. Ia sudah mengeceknya di rumah sakit muggle dan tes menunjukkan bahwa yang dikandungnya adalah bayi laki-laki.

"Well, kalau begitu bagaimana dengan Joshua?" usul Draco. Hermione menggeleng keras.

"Aku sudah memikirkan nama. Bagaimana kalau Orlando? Terdengar bagus kan?"

"Joshua Orlando Malfoy. Bagaimana?"

Hermione kembali menggeleng sambil menunjukkan mimik muka tidak suka, "Orlando nama depannya. Kita pikirkan lagi nama tengahnya nanti atau ambil saja namamu. Orlando Draco Malfoy, bagaimana?"

Draco mengangguk-angguk setuju, "Ya sepertinya bagus juga. Bagaimana Nessa?"

Nessa masih tersenyum-senyum dan terlihat sangat bersemangat.

"Cocok sekali dengan namanya. Allegra. Kau pintar sekali memilih nama, sayang."

"Oh, Draco. Aku yang mengandungnya selama 9 bulan, ingat?" Hermione lalu tergelak sambil bercanda dengan Vanessa.

Draco tersenyum. Tidak ada lagi yang bisa merusak kebahagiaan mereka. Ia, Hermione, Nessa, dan Orlando yang masih tertempel diperut ibunya. Tidak badai sekalipun. Karena mereka akan mengatasinya bersama.


huaaaaaa akhirnya ff chapter ku yang satu ini selesai jugaaaaaaaaa! *sujud syukur depan laptop* :D

makasih buat selama ini yang udah jadi pembaca yang baik dan bersedia review buat kebaikanku. I love you so much! :)))

untuk yang mau kenal sama aku silahkan pm aja atau kunjungin halaman jejaring sosialku karena aku bakal jarang ngunjungin ffn lagi untuk waktu yang agak lama mungkin. so... bye guys :')

thanks buat Kazuki Namikaze, atacchan, Lily love snowdrop, DraMione faaans, Abcd buat review kalian di chapter 9. merci :)

buat Abcd, karena kmu ga login jadi aku bales disini ya :)

makasih banget kritikannya. aduh aku jadi malu banget sama banyaknya kesalahan penulisanku :(

untung kamu ngingetin sama kebodohanku. hehe. merci beaucoup :)

lanjut review ya.. aku seneng banget dapet kritik biar aku bisa lebih baik lagi dalam tiap penulisan story ato chapter.

buat reviewers lain juga makasiiiiihhhhh banyak ya :D

jangan bosen2 ngereview :)

buat lily love snowdrop sama Dramione faaans, makasih juga buat reviewnya :)

yang lain aku bales lewat pm ya :)

so, here they are

lalalalalala~