The Secret Of Triplets Brothers
Chapter 10
Author : AtikahSparkyu
Genre : Brothership, family, drama
Cast : park Jungsoo as Choi Jungsoo
Lee Donghae as Choi Donghae
Kim Kibum as Choi Kibum
Cho Kyuhyun as Choi Kyuhyun
Choi Siwon (ayah Jungsoo, donghae, kibum, dan kyuhyun)
Jung Jessica (ibu Jungsoo, Donghae, Kibum, dan Kyuhyun)
Kim Ryeowook as Kwon Ryeowook (Teman Kyuhyun)
And other member
Summery :
Kini mereka berdua sudah kembali memulai pencarian, mereka sudah tiba di halte bus lagi. Tapi Donghae malah terlihat seperti orang bingung, "Kibum, kita harus naik bus yang mana?"
"Astaga.. Hyung kau ini bagaimana sih? Bukannya kau pernah ke rumah Yesung hyung waktu itu bersama appa?" Kibum mendengus kesal.
"Aku memang pernah ke sana. Tapi kan aku tidak naik bus waktu itu, aku hanya ikut saja dengan appa, duduk di mobil, kemudian menunggu sampai tiba di rumah Yesung hyung." Jawab Donghae polos. Rasanya Kibum ingin sekali menjitak kepala hyungnya itu, andai saja yang di ajak appanya waktu itu adalah dirinya. Setidaknya daya ingat Kibum lebih bagus daripada Donghae.
"Kau menyebalkan, hyung. Yasudah, katakan padaku apa nama daerahnya! Nanti kita naik bus yang menuju ke sana." Hanya itu cara yang bisa mereka lakukan, setelah mengetahui nama daerah yang dimaksud, Kibum dan Donghae melihat jadwal keberangkatan bus yang akan membawanya ke tujuan.
"Jungsoo hyung.. Kyuhyunie.. kami akan segera datang." Ucap mereka dalam hati.
-Selanjutnya-
"Kyuhyun-ah!" Teriak seseorang dari kejauhan. Kyuhyun yang baru saja keluar dari perpustakaan dan merasa dirinya dipangil pun menoleh ke asal suara.
"Waeyo? Kenapa buru-buru sekali?" Tanya Kyuhyun karena Ryeowook berlari terburu-buru dengan dua buah tas yang disangkutkan pada pundaknya yang mungil itu.
"Hosh.. hosh.. aniyo.. tidak apa-apa.. aku hanya ingin mengantarkan tas milikmu.. jadi kau tak perlu.. repot ke kelas.. lagi." Jawab Ryeowook putus-putus karena lelah sehabis berlari.
"Ah.. Kau ini baik sekali, sih. Hanya mengambil tas di kelas tak akan membuatku repot." Kyuhyun pun mengambil tas miliknya kembali, melihat Ryeowook kesusahan membawa dua buah tas yang isinya tentu saja berat.
"Ku pikir kau sedang sakit, setidaknya kau tak perlu berjalan jauh-jauh ke kelas hanya untuk mengambil tasmu. Akhirnya aku memutuskan untuk membawakannya ke sini. Kajja, sebaiknya kita pulang." Ajak Ryeowook pada Kyuhyun. Lagi-lagi Ryeowook membuat Kyuhyun tersenyum. Melihat kebaikan hati seorang Ryeowook sekarang, membuat Kyuhyun melupakan sejenak tentang masalah yang sedang dihadapinya. Tentu saja, masalah dirinya yang terkena skors akibat berkelahi dengan Jonghyun. Salahkan dirinya yang tak bisa mengontrol emosi, meskipun kejadian ini tak akan terjadi kalau bukan Jonghyun yang memulainya duluan. Tetap saja, Kyuhyun tetap bersalah kali ini.
"Kau pulang sendiri?" Tanya Kyuhyun memecahkan keheningan diantara mereka berdua. "Iya, aku sendirian. Kau?" Ryeowook balik bertanya.
"Seperti biasa, hyungku akan datang menjemput." Jawab Kyuhyun. Sejujurnya Ryeowook merasa iri dengan Kyuhyun, temannya itu masih memiliki orang tua yang lengkap dan memiliki seorang kakak. Tak seperti dirinya, kedua orang tua Ryeowook bercerai saat dirinya baru saja duduk di bangku SMP. Kini yang ia miliki hanyalah ibunya seorang. Setelah bercerai, ayah Ryeowook pergi meninggalkan ia dan ibunya begitu saja, sehingga membuat Ryeowook dengan usia yang masih belia itu harus merelakan waktunya untuk bekerja part time. Mau bagaimana lagi, Ryeowook tidak tega harus melihat ibunya bekerja banting tulang sendirian. Terkadang Ryeowook berpikir, andai saja ibunya menikah lagi, maka ibunya tak perlu bekerja seperti sekarang dan bisa hidup selayaknya keluarga normal.
"Kau beruntung, Kyu. Kadang aku merasa kesepian karena aku adalah anak tunggal dikeluargaku. Apalagi aku hanya tinggal berdua dengan ibuku setelah perceraian kedua orang tuaku. Senang sekali rasanya jika aku bisa memiliki seorang kakak." Kyuhyun dapat melihat pancaran kesepian dari kedua mata Ryeowook. Ia tersenyum miris ketika ryeowook mengatakan bahwa dirinya dalah orang yang beruntung. Sejauh ini Ryeowook belum tahu tentang bagaimana rumit kisah hidupnya. Orang tua yang tinggal bersamanya saat ini hanyalah orang tua angkatnya. Hanya Jungsoo lah satu-satunya saudara kandung yang ia miliki saat ini. Bahkan sampai saat ini ia tidak tahu keberadaan dua saudara kembarnya. Apa ini yang disebut beruntung?
"Wookie.. Ku rasa itu panggilan yang cocok untukmu." Ryeowook bingung ketika Kyuhyun mengalihkan pembicaraan. "Bolehkah aku memanggilmu seperti itu.. Wookie?" Kyuhyun memandang Ryeowook yang duduk di sebelahnya. Ya, mereka berdua kini sedang duduk di bangku taman sekolah, Ryeowook menemani Kyuhyun yang sedang menunggu sang hyung menjemputnya.
"Kau ini ada-ada saja. Tidakkah kau merasa panggilan itu terdengar seperti anak kecil?" Ryeowook tertawa kecil mendengar permintaan Kyuhyun itu.
"Yasudah, tidak jadi kalau kau tidak suka panggilan itu." Sedikit kecewa ketika Ryeowook sepertinya tidak menyukai nama panggilan yang dibuat olehnya, tetapi ia juga tidak bisa memaksa.
"Kata siapa aku tidak suka? Bukankah aku hanya bilang itu seperti panggilan anak kecil? Dan asal kau tau saja, aku sangat senang dengan nama panggilan buatanmu. Ketika aku masih kecil dulu, appa ku sering memanggilku dengan panggilan itu. Saat kau mengucapkannya kembali, rasanya kerinduanku pada appa seperti terbalas." Tanpa sadar air mata Ryeowook keluar begitu saja. "Ah, mianhae.. Kenapa aku jadi cengeng seperti ini, ya?" Ryeowook menghapus air matanya dengan kasar, kemudian tertawa miris.
"Sudahlah, aku tahu bagaimana perasaanmu, Wookie-ah. Ketika kita menangis, bukan berarti kita cengeng. Kita menangis karena kita adalah orang yang kuat. Kau tau kenapa? Karena di saat banyak sekali orang yang memilih jalan pintas dengan mengakhiri hidupnya ketika merasa tak mampu lagi menanggung beban hidup yang berat, tetapi kita hanya cukup menuangkannya dengan tangisan. Awalnya memang akan terasa sangat sakit, tetapi kau akan jauh lebih baik setelah kau mengeluarkan air matamu. Setelah itu, maka kau akan kembali menjadi orang yang lebih tegar." Sebenarnya apa yang diucapkan oleh Kyuhyun, semuanya adalah pengalaman hidupnya. Ryeowook terkesiap mendengarkan penuturan temannya itu, seorang Kim Kyuhyun yang terkenal menjadi anak yang suka di bully, ternyata merupakan sosok yang bijak. Pikiran Ryeowook menjadi tenang setelah mendengarkan perkataan Kyuhyun.
"Kyuhyun-ah, gomawo.. Aku tahu, kau ini adalah anak yang baik. Tidak seperti apa yang orang lain ucapkan tentangmu. Aku memang baru mengenal dirimu beberapa hari yang lalu, tapi melihat bagaimana sikapmu selama ini, aku tidak akan ragu lagi untuk menjadi temanmu. Aku tidak akan menjadi seperti mereka yang hanya takut pada seorang Kim Jonghyun." Kata Ryeowook dengan yakin.
"Wookie.. aku tahu maksudmu itu baik. Tapi, apa kau belum juga sadar kejadian apa yang menimpamu hari ini? Kim Jonghyun tak akan pernah berhenti mengganggu siapa saja yang menghalangi kesenangannya. Bagi Jonghyun mempermalukanku adalah hal yang menyenangkan, aku tidak ingin kau diperlakukan sama halnya sepertiku." Jelas Kyuhyun pada Ryeowook, sungguh ia tidak mau melibatkan orang lain. Apalagi orang itu adalah Ryeowook, teman baru dikenalnya beberapa hari ini.
"Aku tidak akan menyesal berteman denganmu, Kyu. Ibuku bilang aku harus selalu menolong siapa saja yang kesusahan selama aku mampu." Sahut Ryeowook meyakinkan Kyuhyun tentang keinginannya.
"Tapi aku tak ingin kau bantu! Aku bukanlah teman yang baik untukmu, dan aku tak akan bisa berteman dengan siapapun. Aku hanya anak pembawa sial yang hanya akan merusak hidupmu. Kau hanya perlu datang ke sekolah dan belajar dengan tenang, anggap saja kau tidak penah mengenalku!" Tanpa sadar Kyuhyun membentak Ryeowook.
Kyuhyun berlari meninggalkan Ryeowook seorang diri, sungguh perasaan sedang kalut saat ini. Bukannya Kyuhyun jahat pada Ryeowook, hanya saja ia tak sudi jika orang sebaik Ryeowook harus menderita hanya karena orang seperti dirinya. 'Mianhae.. Wookie-ah..' ucap Kyuhyun dalam hati.
Melihat mobil milik sang hyung telah bertengger di depan gerbang sekolah, dengan cepat Kyuhyun masuk ke dalam sebelum Ryeowook berhasil mengejarnya.
"Jalan sekarang, hyung!"
.
.
Suasana salah satu kedai kecil di sudut Korea, nampak tak terlalu ramai hari ini. Mungkin saja karena cuaca hari ini sangat panas, membuat orang-orang enggan melangkahkan kakinya ke luar rumah.
Berbeda dengan sosok lelaki yang masih tampan dalam usianya tengah mempersiapkan sebuah kejutan besar untuk seseorang.
"Anyeong.. Yuri-ah.." Sapa laki-laki itu.
"oh.. Anyeong, Siwon-ah. Silahkan, duduk dan pesanlah sesuatu!" Balas wanita yang bernama Kwon Yuri itu dengan ramah. Nampaknya pertemuan Siwon dengan Yuri kala itu terus berlanjut sampai sekarang. Keduanya sering sekali saling bertemu hanya untuk sekedar berbincang sampai mengobrol tentang urusan hati.
Ternyata, kelembutan hati Yuri selama ini yang membantu Siwon bangkit dari keterpurukannya, mampu mengobati luka hati Siwon karena kehilangan istri tercintanya. Yuri yang memang teman masa remaja Siwon dulu, membuat Siwon sudah mengetahui bagaimana sifatnya selama ini. Akhirnya, Siwon pun jatuh hati padanya. Lalu, bagaimana dengan Yuri sendiri? Tentu saja, sejak dulu Yuri memang sudah menaruh hati pada Siwon. Namun persahabatnnya dengan Jessica membuat ia harus merelakan Siwon yang lebih memilih Jessica sebagai pendamping hidupnya. Tetapi takdir berkata lain, kini Siwon dan Yuri dipertemukan kembali. Cinta yang dahulu sempat pupus, kini bersemi lagi.
"Yuri.. Tentu kau sudah tahu apa maksud kedatanganku kali ini. Ini mengenai pembicaraan kita beberapa hari yang lalu, apa kau bersedia?" Memang, beberapa hari yang lalu Siwon sudah mengutarakan keinginan meminang Yuri menjadi istrinya, namun saat itu Yuri meminta waktu untuk mempertimbangkan.
"Kau bersedia menjadi pendamping hidupku?" Tanya Siwon lagi. Terlihat semburat merah yang memancar dari kedua pipi Yuri. Tetapi wajah itu sarat akan keraguan, "Aku.. tidak tahu..." Jawab Yuri pada akhirnya.
"Kenapa? Apa ada yang membuatmu ragu?" Siwon menggenggam jari lentik Yuri yang terlihat sedikit bergetar. "Tenanglah, jangan cemas seperti itu. Begini.. Jika kau ragu, maka tanyakanlah pada hatimu, apakah kau mencintaiku?" Tatapan lembut Siwon mampu menenangkan Yuri yang terlihat gelisah itu. Yuri memejamkan matanya sejenak. Ia coba mengetahui perasaan sesungguhnya pada Siwon.
1 detik
2 detik
3 detik
'Aku mencintaimu, Siwon-ah. Sungguh, aku benar-benar mencintaimu. Ayolah, apalagi yang membuatku ragu? Bagaimana pun juga anakku masih membutuhkan seorang ayah.' Batin Yuri berkata.
"Bagaimana? Kau sudah mendapat jawabannya." Siwon kembali bertanya.
Yuri meyakinkan hatinya sebelum menjawab, "Ya, aku mencintaimu.. dan aku bersedia menjadi pendamping hidupmu, Choi Siwon." Suara itu terdengar seperti angin surga bagi Siwon, sebelumnya ia tampak cemas karena melihat keraguan Yuri dengan keputusannya.
"Gomawo, Yuri-ah. Kalau bisa, kita akan menikah dalam waktu dekat ini. Kita akan tinggal di Seoul lagi, karena anakmu bersekolah di sana, bukan?" Ucap Siwon sambil menunjukkan senyum bahagianya.
"Itu benar, aku baru saja memindahkan sekolah anakku di Seoul beberapa hari yang lalu. Ku pikir kualitas pendidikan di sini tidak sebaik di Seoul, jadi aku memutuskan menyekolahkannya di sana. Apapun akan aku lakukan demi anakku, meski harus kerja banting tulang sekalipun." Oh, betapa beruntungnya Siwon bisa mendapatkan Yuri. Meski sampai kapan pun posisi Jesicca di hatinya tak akan pernah berubah, tetapi keberadaan Yuri benar-benar membuat Siwon merasa hidup kembali.
"Anakmu sangat beruntung memiliki ibu seperti dirimu. Kau terlihat sangat menyayanginya." Puji Siwon akan sikap Yuri itu. "Kau ini.. Justru aku yang beruntung bisa memiliki anak seperti dirinya. Hanya dia satu-satunya harta berharga dalam hidupku. Bukan hanya tenaga, bahkan aku rela mengorbankan nyawaku sekalipun untuk anakku, asalkan ia bisa bahagia."
Jlebb..
Hati Siwon mencelos mendengar ucapan Yuri barusan. Pikirannya melayang pada bayang-banyang Jessica sang istri tercinta yang telah meninggal dunia. Ucapan itu, membuat hati Siwon bergetar.
'Aku rela memberikan nyawaku sekalipun untuk anakku, asalkan ia bisa bahagia.'
Dengan sedikit ragu Siwon meluncurkan sebuah pertanyaan yang membuat Yuri mengernyit bingung, "Kau bilang kau rela memberikan nyawamu asalkan anakmu hidup bahagia? Apa semua ibu akan melakukan hal itu?"
Yuri tertawa renyah, membuat Siwon terlihat bingung. "Hey, pertanyaan macam apa itu. Haha.." Yuri berhenti tertawa melihat mimik serius Siwon. "Aku serius, Yuri? Apa semua ibu akan melakukannya?" Tanya Siwon lagi.
Yuri menghela nafas sejenak sebelum memulai bicara, "Tentu saja, Siwonnie.. Aku menyayangi anakku melebihi aku menyayangi diriku sendiri, aku rela jika aku harus mengorbankan nyawaku demi anakku. Menurutku semua ibu akan melakukan hal yang sama seperti itu, Siwonnie.. Memangnya ada apa kau bertanya seperti itu, hmm?"
Siwon menggelengkan kepalanya. "Aniyo, aku hanya bertanya saja." Nampaknya Yuri belum percaya dengan alasan Siwon.
"Apa ada masalah yang mengganggu pikiranmu? Mungkin kau bisa berbagi denganku. Mulai sekarang aku akan berusaha menjadi pendamping yang baik untukmu. Jangan sungkan kalau kau ingin bercerita mengenai masalahmu." Tawar Yuri pada Siwon. Namun, Siwon malah terdiam.
"Baiklah, kalau kau belum siap bercerita, aku tak akan memaksa dirimu. Aku selalu bersedia mendengarkan kapan saja kau siap bercerita." Yuri mengusap lembut pundak kekar Siwon, seakan menyalurkan kehangatan pada dirinya.
"Jeongmal gomawo, Yuri-ah. Saranghae..."
"Nado Saranghae..."
.
.
"Jalan sekarang, hyung!"
Pinta Kyuhyun ketika tiba di dalam mobil. Hyungnya sendiri nampak sedikit terkejut dengan kedatangan Kyuhyun yang tiba-tiba dan mendengar ucapan Kyuhyun dengan nada dingin, seperti bukan Kyuhyun yang biasanya.
"Ayo, jalankan mobilnya, hyung!" Barulah setelah mendengar ucapan Kyuhyun yang kedua kalinya Jungsoo mulai melajukan mobilnya. Jungsoo belum bertanya apapun pada adiknya yang tiba-tiba muncul dengan wajah yang kacau itu.
Kyuhyun sendiri terus membuang pandangannya ke arah jendela, ia terus menyembunyikan wajahnya yang terdapat luka memar yang mulai membiru. Apa yang harus ia katakan jika hyungnya tau bahwa ia habis berkelahi hari ini? Sungguh, pikirannya lelah sekali hari ini. Ia lebih memilih tertidur agar hyungnya tak bertanya apa-apa atas perubahan sikapnya itu.
"Kyu?" Akhirnya Jungsoo memutuskan untuk membuka pembicaraan diantara mereka berdua. Nampaknya Jungsoo tak menyadari bahwa Kyuhyun sudah tertidur. "Apa harimu sangat melelahkan, Kyu? Tidak biasanya kau tertidur di mobil seperti ini." Jungsoo bermonolog. Kemudian Jungsoo memutuskan untuk meminggirkan mobilnya sebentar sekedar untuk menengok keadaan Kyuhyun. Diletakkannya punggung tangannya itu pada dahi sang adik.
"Huhh.. Kenapa kau ini keras kepala sekali sih? Tentu saja karena kau terlalu memaksakan dirimu yang masih harus beristirahat, suhu tubuhmu langsung naik seperti semalam lagi." Ucap Jungsoo sambil mengusap lembut wajah Kyuhyun.
"Auww.." Kyuhyun meringis saat tangan Jungsoo menyentuh wajahnya. Jungsoo menarik lagi tangannya ketika melihat Kyuhyun terbangun, "Gwenchanayo? Ah, maaf hyung membuatmu terbangun."
Mimik Jungsoo langsung berubah ketika meihat jejak kebiruan di sudut bibir Kyuhyun. "Wajahmu.. kenapa?" Tanya Jungsoo menuntut penjelasan Kyuhyun.
'Kyuhyun pabboya.. mengapa malah memperlihatkan lukamu pada Jungsoo hyung..' Rutuk Kyuhyun dalam hati.
"Hyung, ini tak seperti yang hyung pikirkan. Aku.. aku bisa menjelaskannya." Berbagai kata Kyuhyun ucapkan agar Jungsoo hyungnya tidak berpikiran negatif mengenai dirinya. Ia sendiri juga bingung bagaimana harus menceritakan pada hyungnya itu.
"Kau.. berkelahi?" Itulah yang adadipikiran Jungsoo saat ini. Tapi, bagaimana mungkin? Kyuhyun bahkan tidak bisa berkelahi. "Hyung.." panggil Kyuhyun takut. Bibirnya nampak bergetar, lidahnya terasa kelu untuk mengeluarkan sepatah kata pun.
"Aku melakukannya bukan karena kemauanku. Dia yang memulainya dan aku tak tahan terus diperlakukan seperti itu. Aku.. aku.." Kyuhyun katakan saja apa yang ada dipikannya saat ini, berharap sang hyung dapat mengerti mengapa ia berbuat demikian.
"Ku tanya sekali lagi. Kau.. berkelahi?" Suara Jungsoo memang tidak seperti orang yang marah meledak-ledak. Bahkan suara itu begitu pelan, tetapi ketegasan yang ada di dalamnya, mampu membuat Kyuhyun tak berani menatap hyungnya saat ini.
"Tidak." Jawab Kyuhyun seadanya. Itu memang benar, Kyuhyun tak berkelahi, ia hanya melempar Jonghyun dengan kotak bekal saja. Hanya saja, jejak pukulan Jonghyun pada wajahnya membuat Kyuhyun terlihat habis berkelahi.
"Hyung tak marah jika kau jujur, Kyu. Apa sekarang kau sudah mulai berani berbohong?" Lanjut Jungsoo lagi sambil menatap ke arah Kyuhyun yang masih merundukan kepalanya.
"Tidak.. aku tidak berkelahi, hyung. Dia yang memukulku.. Hyung percaya padaku, kan?" Bela Kyuhyun lagi. Entahlah bagaimana cara mengatakannya agar hyungnya ini mau percaya.
Jungsoo membuang pandangannya dari sang adik, "Ckk.. Bahkan tadi pagi saja kau sudah membohongi hyung." Tercetak jelas kekecewaan pada wajah Jungsoo, membuat Kyuhyun semakin merasa bersalah. "Hyung.." panggil Kyuhyun lagi.
"Sudahlah, Kyu. Sebaiknya kau tidur saja, akan aku bangunkan saat tiba di rumah nanti." Kyuhyun menatap sedih ke arah hyungnya itu, bahkan Jungsoo menyuruhnya untuk tidur, apa itu karena hyungnya sedang tak ingin bicara padanya?
'Sakit sekali hyung rasanya.. Mengapa aku selalu disalahkan atas kesalahan yang bukan kuperbuat?' Rasa sesak yang sejak tadi ditahannya kembali menyeruak. Ingin sekali Kyuhyun berteriak untuk mengusir sesuatu yang terus menekan dadanya yang semakin sesak. Ia tahu kondisi jantungnya semakin memburuk dari hari ke hari, tetapi keadaan yang membuatnya memilih untuk tetap bungkam dan menahan rasa sakitnya seorang diri.
'Aku tidak boleh sakit. Aku harus bisa menahannya. Setelah ini, eomma dan appa pasti akan jauh lebih marah padaku setelah mereka tahu bahwa aku di skors. Aku harus bisa menahan rasa sakit ini sendirian. Harus..' Batin Kyuhyun berkata.
.
.
Sejak pertemuan dengan Yuri siang tadi, Siwon masih terngiang-ngiang mengenai pembicaraan itu. Bahagia sekali rasanya karena sebentar lagi Siwon akan membentuk cerita baru dengan keluarga barunya. Apalagi seperti yang ia ketahui bahwa Yuri sendiri juga memiliki seorang anak laki-laki, tentu akan memberi warna baru bagi keluarganya kelak. Walau tidak sering bertatap muka langsung dengan anak Yuri tersebut, tetapi Siwon sedikit mengenal kepribadian calon anaknya itu. Anak Yuri itu terlihat pemalu jika di depan orang lain, tetapi Yuri bilang bahwa anaknya sangat manja jika hanya sedang berdua dengan dirinya saja. Oh ya, sepertinya sifat itu juga dimiliki oleh salah satu anak Siwon.
"Kyuhyun.." Tiba-tiba nama itu terlontar begitu saja saat mengingat bagaimana sifat dari anaknya Yuri itu.
"Aish.. kenapa aku jadi teringat anak itu?" Siwon pun mulai menyesap secangkir teh yang masih panas itu sambil menikmati udara malam di teras rumahnya.
'Aku rela memberikan nyawaku sekalipun untuk anakku, asalkan ia bisa bahagia.'
Lagi-lagi kalimat itu terbayang di pikirannya. Keheningan malam membuat pikirannya menjelajahi banyak hal. Rasa kesepian mulai mengerubungi jiwanya lagi. Sebenarnya hampir setiap malam ia selalu merasa tersiksa dengan rasa ini. Ditambah lagi kepergian Donghae dan Kibum yang lebih memilih tinggal di asrama sekolah.
Satu persatu memori masa lalunya mulai mendatangi pikirannya. Mulai dari saat ia menikah dengan Jessica dulu, kemudian kehamilan pertama Jessica, kelahiran anak pertamanya, hingga kehamilan kedua Jessica yang ternyata langsung dianugerahi tiga bayi kembar. Namun kebahagian itu sirna begitu saja, saat sang dokter memberitahu mengenai kondisi salah satu bayinya. Ternyata anak bungsunya harus menderita kelainan jantung sejak masih berada dalam kandungan. Saat itu ia benar-benar menangis, bagaimana mungkin bayi mungil yang tak berdosa itu harus menderita penyakit mematikan seperti itu. Sejak saat itu ia bertekad akan melakukan apa saja agar anak bungsunya itu dapat memperoleh kesembuhan.
Kyuhyun, anak bungsunya itu masih mampu bertahan hidup dengan kondisi jantungnya yang lemah. Hingga pada usia Kyuhyun yang ketujuh, Kyuhyun pun mendapat kesempatan untuk mendapatkan donor jantung. Entah karena penjelasan medis apa yang Siwon sendiri pun tak begitu paham, sang dokter mengatakan bahwa tubuh Kyuhyun menolak jantung barunya itu, hingga sampai saat ini penyakit itu masih bersama dengan tubuh anak itu.
Siwon seakan lupa dengan janjinya sendiri bahwa ia rela melakukan apapun demi kesembuhan Kyuhyun. Mengapa ia justru sekarang malah menyesali telah menerima donor jantung sewaktu itu untuk Kyuhyun? Walau sebelumnya harus ada keributan besar dengan keluarga Tan Hankyung karena anak mereka berdua sama-sama membutuhkan donor jantung tersebut.
Siapa sangka Tan Hankyung masih menyimpan dendam itu sampai sekarang. Sampai teganya ia berniat mencelakai Kyuhyun. Tetapi di saat yang sama, Jessica justru mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Kyuhyun dari rencana jahat Hankyung itu. Jadilah Siwon berpikir, andai ia tidak egois telah merebut donor jantung yang seharusnya milik anak dari Hankyung, mungkin saat ini Jessica masih ada bersamanya sampai saat ini. Toh, penyakit jantung Kyuhyun pun tak sembuh meski operasi itu telah dilakukan.
Tetapi, kalau mengingat ucapan Yuri siang tadi. Siwon kembali berpikir, apakah selama ini dirinya salah telah membenci Kyuhyun karena kejadian itu? Bukankah Yuri berkata bahwa setiap orang tua, apalagi seorang ibu akan rela mengorbankan nyawa demi anaknya. Itukah yang Jessica pikirkan saat ia menyelmatkan Kyuhyun?
"Otteohke? Haruskah aku berhenti membencinya? Aku sungguh ingin menghentikan semua ini, tetapi mengapa semuanya terasa begitu sulit? Di saat aku ingin berubah, kejadian itu seakan terus berulang-ulang di otakku. Bagaimana aku harus melakukannya?" Siwon menenggelamkan wajah lelahnya pada kedua lengannya yang bertumpu di atas meja.
.
.
Kediaman keluarga Kim Yesung yang biasanya terasa sangat damai saat ini benar-benar berbeda. Raut-raut wajah orang-orang di dalamnya menunjukkan bahwa keluarga tersebut sedang tidak baik-baik saja.
"Jelaskan pada Appa, Kyu! Mengapa kau bisa sampai seperti ini? Apakah Appa terlalu sibuk sampai tidak tahu bahwa anak appa sekarang telah berubah menjadi nakal?" Kyuhyun menunduk takut.
"Katakan, Kyu! Kau membuat Appa merasa gagal mendidik seorang anak." Yesung sepertinya sudah mengetahui perihal panggilan orang tua yang harus dihadirinya besok untuk mengurusi masalah perkelahian Kyuhyun dengan Jonghyun. Entah apa yang disampaikan pihak sekolah pada Yesung, sampai Yesung terlihat marah seperti ini. Lihat saja, Yesung yang baru pulang dari tempat kerjanya pun langsung menegur Kyuhyun.
"Yeobeo.. Tenangkan dirimu. Kau tidak perlu berteriak seperti itu pada Kyuhyun. Kita dengarkan dulu penjelasannya, aku percaya Kyuhyun pasti punya alasan melakukannya." Seohyun berusaha menenangkan suaminya itu. Diusapnya punggung sang suami agar amarah tersebut dapat berkurang.
Kyuhyun berlutut di depan Yesung, sang appa. "M-mianhae, Appa.. Sungguh, aku tidak bermaksud melakukannya."
"Appa tidak tahu harus mengatakan apa padamu. Seharusnya kau contohlah hyungmu yang selalu tenang dalam mengahadapi situasi apapun. Pernahkah appa mengajarimu berkelahi, hmm? Tidak, kan?" Suara Yesung mulai merendah, tetapi sama sekali belum menghilangkan kekecewaannya pada Kyuhyun, anak yang selama ini begitu ia sayangi seperti anaknya sendiri.
"Appa kecewa padamu, Kyu.. pikirkan baik-baik, dimana kesalahanmu. Appa tidak membutuhkan kebohongan seperti ini." Ucap Yesung sebelum berlalu meninggalkan Kyuhyun yang masih dengan posisi berlututnya. Jungsoo menghampiri Kyuhyun, lalu mangatakan sesuatu yang membuat Kyuhyun menoleh ke arahnya, "Appa hanya ingin kejujuranmu, Kyu. Sebaiknya minta maaflah pada appa setelah ini." Jungsoo pun meninggalkan ruangan itu dan memilih masuk ke dalam kamarnya. Hanya menyisakan Kyuhyun dan Seohyun di ruangan itu.
"Eomma.. hiks.." Kyuhyun mulai terisak membuat Seohyun menoleh ke arahnya. Betapa kagetnya Seohyun saat melihat Kyuhyun bersimpuh di lantai dengan isak tangis yang menyayat hatinya.
"Eomma, mianhae.. hiks.. aku bersalah.. pukul aku saja, eomma! Aku anak nakal.. Aku hanya anak pembawa sial yang selalu membuat masalah. Hiks.. Pukul aku! Tapi.. hiks.. tapi aku mohon jangan tinggalkan aku.. hiks.. aku takut sendirian.. eomma.. hiks.. hiks.." Kyuhyun menarik tangan Seohyun dan memukul-mukulkannya pada dirinya sendiri. Seohyun sendiri masih terkejut dan terus memperhatikan setiap yang Kyuhyun lakukan.
Akhirnya Seohyun pun tak kuat terus melihat Kyuhyun yang seperti ini. Ia coba untuk menghentikan tangan Kyuhyun yang terus menggenggam tangannya dan terus berucap 'pukul aku, eomma', Seohyun benar-benar tidak sanggup lagi.
"Hentikan,Kyu. Jangan seperti ini. Uljimae.. Ada eomma di sini. Kau anak baik, tak akan ada yang memukulmu, jadi berhentilah berbicara seperti itu." Seohyun membawa Kyuhyun ke dalam pelukannya.
"Eomma.. hiks.. tapi..tapi appa marah padaku. Appa membenciku. Hiks.. Jungsoo hyung juga. Kalian akan meninggalkanku lagi.. Aku harus bagaimana? Hiks.. Aku tidak mau.. hiks.." Tangis Kyuhyun semakin menjadi. Seohyun mulai menagkap kemana arah pembicaraan Kyuhyun. Sepertinya Kyuhyun kembali mengingat luka lamanya saat ia ditinggalkan oleh appa kandungnya dan dua saudara kembarnya dulu.
Kyuhyun bahkan terlihat seperti kehilangan akalnya, tangannya sampai bergetar hebat. Wajah pucatnya sudah dihiasi oleh jejak air mata dan keringat dingin yang menjadi satu. Namun, ia terus menceracau ketakutan membuat Seohyun tanpa sadar juga ikut menangis sambil mendekap Kyuhyun. Seohyun juga bisa menangkap deru nafas Kyuhyun yang sudah tidak beraturan lagi. Begitu juga dengan suhu tubuh Kyuhyun yang meningkat, bisa terasa karena bersentuhan dengan kulitnya yang kini sedang memeluk Kyuhyun.
Trauma lamanya itu membuat kepala Kyuhyun menjadi berdenyut sakit. Otaknya yang dipenuhi oleh berbagai beban pikiran di hari ini rasanya sudah benar-benar mencapai batasnya. Tubuhnya lelah, begitu juga dengan perasaannya, sampai-sampai membuat Kyuhyun mimisan dibuatnya.
"Eo-eomma.. ukhh.." Rintih Kyuhyun masih di dalam pelukan sang eomma. Refleks, Seohyun melepaskan pelukannya ketika mendengar lenguhan Kyuhyun.
"Astaga, hidungmu berdarah, Kyu?!" suara Seohyun memekikan keheningan ruangan tersebut. Kyuhyun mulai kehilangan kesadarannya ketika tubuhnya benar-benar terasa lemas.
.
.
Seohyun menggenggam tangan panas Kyuhyun yang masih terbaring lemah di rumah sakit. Setelah mendengar pekikakan kerasnya beberapa saat yang lalu, Yesung, suaminya itu menemukan keadaan Kyuhyun dengan kondisi yang tidak bisa dibilang baik. Kyuhyun mimisan, dan akhirnya jatuh pingsan di dekapannya setelah sebelumnya berdebat dengan Yesung dan sang kakak. Yesung yang mengetahui hal tersebut, langsung membawa Kyuhyun ke rumah sakit saat itu juga.
Mereka semua tidak tahu bahwa akan terjadi hal seperti ini, mereka memang kecewa dengan Kyuhyun, anak yang selama ini dikenal baik, tiba-tiba harus mendapat skors dari sekolahnya karena terlibat sebuah perkelahian dengan kawan sekelasnya. Karena kekecewaannya terhadapnya, mereka sampai tidak sadar bahwa anaknya itu sudah sakit bahkan sejak sebelum anak itu tiba di rumah.
"Tidurlah, Kyu. Kau butuh istirahat." pinta Seohyun pada anak bungsunya itu yang sejak terbangun dari pingsannya tak kunjung memejamkan matanya kembali. Padahal ini sudah hampir lewat tengah malam, namun Kyuhyun masih terjaga.
"Eomma tidak akan kemana-mana. Eomma akan di sini sampai kau terbangun." Seohyun mengusap lembut wajah Kyuhyun yang tak berwarna itu. Kantung matanya sudah menghitam, pipinya yang dahulu terlihat chubby, kini nampak tirus. Kyuhyun masih pada pendiriannya, bukannya tertidur Kyuhyun justru mengeratkan genggamannya pada sang eomma.
Cklek..
Seseorang masuk ke dalam ruangan itu. "Eomma?" panggil orang itu yang tak lain adalah Jungsoo. Ia bisa melihat Kyuhyun yang terbaring di ranjangnya dan juga sang eomma yang masih dengan wajah kacaunya itu.
"Kyuhyun masih belum tidur, eomma?" Tanya Jungsoo pada akhirnya. "Jungsoo-ah.. Apa yang harus eomma lakukan?" Ucap Seohyun putus asa. Jungsoo merengkuh bahu sang eomma dengan lembut, sejak tadi eommanya terus saja menangis karena mencemaskan keadaan Kyuhyun.
"Istirahatlah, eomma. Kau juga membutuhkannya, biarlah aku saja yang menjaga Kyuhyun, ne?" Jungsoo berusaha menenangkan sang eomma.
"Eomma baik-baik saja, Jungsoo-ah. Eomma sudah berjanji akan menemani Kyuhyun agar ia mau tertidur." Seohyun masih tak tega untuk meninggalkan Kyuhyun.
"percaya padaku, eomma. Kyuhyun akan baik-baik saja bersamaku di sini." Akhirnya Seohyun membiarkan Jungsoo untuk menemani adiknya itu. Sejujurnya ia juga sudah sangat lelah, namun hatinya tetap tidak tega melihat keadaan anak bungsunya yang seperti ini.
"Eomma.. khh.. jangan.. pergi.." Setetes air mata kembali meluncur dari sudut mata Kyuhyun.
Tetapi Jungsoo memberi isyarat agar eommanya itu segera meninggalkan ruangan tersebut. Jungsoo tidak mau kalau sampai eommanya juga jatuh sakit karena kelelahan menjaga Kyuhyun. Ia adalah kakak Kyuhyun, ia bertanggung jawab atas adiknya itu. Sudah cukup keluarga Kim bersedia mengangkat mereka berdua sebagai anak, ia tidak mau membebani dua orang yang sangat berjasa dalam hidupnya itu.
"Jangan.. pergi.. eunghh..." Kyuhyun mecoba untuk bangun mengejar sang eomma. Namun apa daya tubuhnya terasa lemas. Hanya tangannya saja yang berusaha menggapai-gapai bayangan sang eomma. Seohyun pun berbalik kembali menuju Kyuhyun, sungguh dirinya tidak bisa melihat Kyuhyun seperti ini.
"Kyu.. Kyuhyunnie..hiks" Seohyun meraih tangan Kyuhyun yang masih berusaha menggapainya.
"Uljimae.. Eomma tak akan meninggalkanmu." Pada akhirnya Jungsoo tak bisa berbuat apapun. Sekarang ini bukan hanya fisik Kyuhyun saja yang sakit, namun kondisi psikisnya pun sedang tidak baik. Sekeras apapun Kyuhyun mencoba untuk tetap terjaga, tubuhnya yang sudah sangat kelelahan itupun tertidur dipangkuan sang eomma.
.
.
Kedua bocah berwajah serupa itu nampak berjalan dengan gontai. Lelah? Tentu saja. Sejak turun dari bus yang membawa mereka berdua ke daerah ini, mereka masih saja terus berjalan. Hey, ini sudah tengah malam, bukan? Apa yang dilakukan oleh mereka di tengah malam seperti ini? Kita lihat saja apa yang mereka lakukan.
"Hyung ini bagaimana sih? Kenapa kita tak sampai-sampai dari tadi. Sebenarnya kau ini tahu tidak sih dimana rumah Yesung hyung?" Omel Kibum pada Donghae.
"Kau jangan memarahi aku terus, dong. Kau sendiri saja tak tahu dimana rumah Yesung." Donghae balik mengomel pada Kibum. Adiknya itu terus menggerutu karena sampai saat ini rumah yang dicari mereka tak kunjung ditemukan juga.
"Yasudah, aku akan mencarinya sendiri saja kalau begitu. Kau benar-benar menyebalkan, hyung." Kibum berjalan mendahului Donghae.
"pergilah sana kalau kau tahu. Paling-paling kau juga akan tersesat dan tak bisa pulang." Donghae dan Kibum sama-sama keras. Keduanya masih berjalan saling berjauhan. Kibum tiba-tiba berhenti melangkah, Donghae yang berjalan sambil merunduk itu tak melihat Kibum yang berdiri di depannya. Alhasil, Donghae menabrak punggung Kibum dari belakang.
Dugg..
"Ishh.. jangan berhenti tiba-tiba seperti ini, pabbo." Lagi-lagi Donghae mengumpat kesal pada Kibum. Tapi umpatannya kali ini tak dibalas oleh adiknya itu.
"Hey, kau kenapa?" Tanya Donghae melihat Kibum yang masih terdiam. Tiba-tiba Kibum mengucapkan sesuatu yang membuat Donghae terkejut.
"I.. itu.. Ye-yesung h-hyung.." Kibum menunjuk kesebuah mobil sedan berwarna hitam yang kini sudah melaju meninggalkan mereka berdua di tengah keramaian malam Kota Seoul. Mobil itu baru saja keluar dari sebuah mini market 24 jam yang ada di pinggir jalan.
"Yesung hyuuuung.." Teriak kedua bocah itu bersamaan mengejar sedan hitam tersebut.
To be continue..
Hai, readers-readersku tercinta.. Apa kabar? Kangen banget pengen cepet publish chapter ini, tapi baru bisa terwujud hari ini.
Ngomong-ngomong itu Yesung ngapain ya di mini market? Bukannya jagain Kyu. Hehe.. Biarlah dia mau ngapain aja di situ. Hehe.. Si Donghae dan Kibum apakah akan kembali kehilangan jejak Yesung? Kita lihat aja nanti, ya.^^
Buat 'Mifta Cinya' yang mengingatkanku untuk cepat update, akhirnya aku bisa juga untuk update malem ini.
Buat readers dan reviewers, gomawo atas review dan kesediaan untuk meluangkan waktunya membaca FF ini. Jeongmal gomawo.. Sampai jumpa di chapter depan.. ^^
