Haii lama tidak berjumpaa!

Masih inget sama cerita sebelumnya? jika tidak, silahkan baca ulang wkwk

kali ini dengan sudut pandang Jack xD (aku sih lebih suka nulis sudut pandang elsa heuheu)

jangan lupa review, karna itu yang bikin saya semangat ngelanjutin ceritanya :D/

Salam,

Farha.

Frozen as Frost

Chapter 9. Jack

.

.

.

Chapter 9. Penjelasan

Aku menapakkan kakiku dengan cepat begitu ujung portal terasa olehku. Dalam hitungan detik, aku sudah kembali sampai ke kamarku di tempat North, dan dalam hitungan detik pula, portal yang tadi kugunakan menghisap dirinya sendiri, lalu berubah menjadi debu yang tertiup olehku yang langsung berlari keluar kamar, berniat menuju perpustakaan North—di dekat globe besar milik North.

Aku melompat beberapa lantai, terlihat terburu-buru melihat buku-buku North. Oh ayolah, buku mana yang berisikan tentang kerajaan Arandelle itu? Ditengah tumpukan buku sebanyak ini?

Dengan gemas, aku meremas rambutku sendiri, mencari cara lain untuk mengetahui, setidaknya sedikit penjelasan tentang Arandelle. Aku menghempaskan tubuhku ke sebuah sofa, tak jauh dari sana.

Terlihat para Yeti yang sedang sibuk dengan mainan—yang sedang dikerjakan—mereka, sedikit menoleh melihatku rusuh seperti ini. Oh iya, Yeti, benar juga.

Baru saja aku ingin bertanya pada salah satu dari mereka, saat aku mengingat suatu hal. Hampir setiap saat mereka bekerja, mana mungkin sempat membaca-baca buku tebal tanpa gambar seperti ini? Yang ada lebih baik mereka menghabiskan waktu libur mereka dengan bermain satu sama lain.

Yang paling besar kemungkinan untuk membaca buku-buku ini adalah North, dan Tooth, tapi mereka sedang tidak ada disini sekaran—Tooth! Benar, Tooth bisa membantuku. Kenapa tidak terpikir sejak tadi.

Dengan senyum lebar, aku langsung melesat terbang keluar dari tempat North, menuju tempat Tooth. Udara dingin langsung bertebaran mengikuti, membekukan sekitar, kepergianku diikuti oleh sorak-sorak (kesal) para Yeti yang mainannya beku. Aku hanya tertawa melihat mereka, ah aku juga memiliki hal penting sekarang.

Huangshan, China.

"Gigi seri, 11."

"Ah yang ini gigi pertama, hebat sekali."

Suara riang Tooth terdengar dari jarakku. Aku terbang mendekat, mendekati ratu para makhluk kecil di sekitarnya. Tampaknya dia tidak menyadari kedatanganku.

Aku mendarat diatas tongkatku, disampingnya.

"Hei, aku menganggu?" Sapaku.

Tooth dengan cepat menoleh, sedikit terkejut dengan keberadaanku.

"Oh hai Jack, kau mengagetkanku,"dia memukul pelan pergelangan tanganku.

"Apa kehadiranku menganggumu?" tanyaku lagi. Beranjak turun dari atas tongkatku, berjalan di sampingnya.

"Tidak, terlebih kalau kau mau membantu para baby-tooth kau tidak menganggu sama sekali." Dia tersenyum lebar, kembali terbang melihat-lihat pekerjaannya.

"Sayang sekali, aku sedang tidak berminat sekarang." Aku mengerdikkan bahu, kembali terbang, menuju kedekatnya. "kau ada waktu sekarang?" tanyaku.

Tooth mendongak, melihatku. "Kalau sebentar, tentu." Dia menapakkan dirinya, saat aku turun. "ada apa?"

"Aku ingin bertanya sedikit," kataku, memgangi tongkatku. "tentang kerajaan Arandelle."

Salah satu hal tentang sihir yang bisa dilakukan Tooth adalah ini, Tooth dalam sedang bekerja, berbeda saat sedang berada di tempatnya, maksudku, tempat beristirahatnya, dia berubah menjadi manusia biasa, seperti North dan aku.

Versi manusianya—maksudku, benar-benar wujud seorang perempuan—tidak memiliki sayap, jadi, dia tidak bisa terbang. Rambutnya yang di jalin, bewarna cokelat, dengan gaunnya yang bewarna hijau-kuning-biru. Dia terlihat seperti 'ratu' sungguhan, ratu dari peri gigi, bukan seorang peri gigi biasa.

Aku sedang duduk di atas sebuah batu, memegangi tongkatku, agar tidak membekukan air di dekatku.

"Ada apa Jack? Kau terlihat serius sekali," tanya Tooth, ia duduk di dekat pinggiran kolam, merendamkan kakinya disana. "rasanya tidak pernah meihatmu seperti ini,"

Aku sedikit berjongkok, melihat kearahnya. "Ada yang ingin kutanyakan," kataku.

"Oh ya, apa itu?" tanya Tooth, menoleh kearahku.

"Tentang Arandelle, kau tahu tempat itu?" tanyaku.

Tooth tampak berpikir sejenak, mungkin mengingat-ingat. "Ah ya, aku tahu cerita tentang kerajaan itu. Kenapa?" tanyanya.

"Kau mengetahui cerita itu dari buku di tempat North?" tanyaku.

Tooth mengangguk. "Tapi aku memiliki bukunya sekarang, aku suka cerita tentang kerajaan itu." Kata Tooth lagi. "sebentar, kutunjukkan." Dia segera berdiri, lalu berlalu.

Aku jadi terpikir satu hal tadi. Apa jika aku melakukan sesuatu di masa lalu, maka masa depan akan berganti?

Masalahnya, aku sudah melakukan sesuatu,

Dan apa akan ada masa depan yang berganti?

Yah, mungkin cerita Tooth nanti akan menjawab pertanyaanku. Aku kembali duduk di atas batu, menunggu Tooth kembali.

Rasanya sudah lama aku tidak mengistirahatkan diriku, aku merasa sedikit lelah sekarang. Terlebih Tooth tidak kunjung kembali. Sebentar saja, aku ingin memejamkan mata.

"Apa yang kau lakukan disini, bodoh? Orang-orang mencarimu untuk kerja bakti di desa."Dia berkata dengan nada suara sarkastik. Kebiasaanya saat berbicara denganku. Tapi tidak apa, aku lebih suka dia yang seperti ini, lebih dari kebiasaannya yang tersenyum kaku dan tersenyum sopan, hampir setiap orang. "hei, kau mendengarku Jack?"

'Jack' itu namaku, jelas aku tahu. Tapi rasanya, sudah lama tidak mendengarnya memanggilku seperti ini.

Aku membuka mataku dan sontak tersenyum tipis melihat pemandangan di depanku. Sebuah pohon besar, dengan cahaya matahari siang di sela-sela daunnya yang tidak lebat sempurna, dan wajah gadis itu yang memperhatikanku dengan gemas, rambut pirangnya tergerai di samping telinganya. Haha, wajahnya sedikit memerah, mungkin karna panas.

"Hei, Jack bangunlah, orang-orang desa sedang mencarimu. Mereka membutuhkan tenagamu juga,"Gadis itu menendang-nendang kakiku. Membuatku terbangun sempurna, dan mendudukkan diri.

"Kau ini apa-apaan sih, menganggu istirahat orang saja."ucapku sambil menggaruk kepalaku yang sedikit kotor oleh kerikil kecil di tanah.

Gadis itu duduk di sampingku, lalu membuka buku di tangannya. "Istirahat apa, jelas-jelas kau kabur dari acara kerja bakti di desa,"katanya, melihat kearahku. "sudah sana pergi, aku ingin membaca bukuku." Dia duduk melipat kedua kakinya ke samping.

Enak saja menggusur tempatku.

Aku tidak akan pergi dari sini, lagipula, aku hanya dianggap mengangguk di setiap acara kerja bakti di desa, karena aku hanya mengacau setiap tahunnya. Aku tidak yakin apa mereka masih mau menerimaku untuk ikut walaupun aku yang mendaftar dengan sukarela. Intinya, aku tidak ingin pergi tempatku sekarang, terlebih hanya untuk kembali di usir dari acara itu.

Jadi, aku hanya menyandarkan kepalaku pada pangkuannya, kembali beranjak tidur.

"Hei, kau ini! Apa-apaan, berat, Jack!"dia mengomel kembali, tapi sedikitpun tidak mengusirku darinya.

Haha, dia memang selalu begitu. "Aku tidak akan menganggumu membaca, tenang saja."Kataku sambil tetap memejamkan mataku. Aku bisa merasakannya merona, hanya tebakan sih. Terlalu malas untuk membuka mata, dan melihat sinar matahari yang sedikit menyilaukan.

"Kau ini, 'kan tetap saja!"

"Jack,"

"Hei, kau tertidur?"

"Bangun, Jack—"

Suara seseorang membangunkanku, mataku terbuka tiba-tiba, melihat rambut Tooth yang jatuh kedekat lehernya. Segera aku mendudukkan diri.

Tadi itu ... aku memimpikan ... apa? –maksudku, siapa?

Wanita berambut pirang, yang rasanya, sangat aku kenal. Wajahnya terasa familar bagiku, walau aku tidak yakin apa aku pernah bertemu dengannya.

"Ini, kau menjatuhkannya." Kata Tooth. Aku menoleh melihatnya, tangannya terulur memberikan 'kotak memoriku' yang selama ini kusimpan di dalam kantung hoodie-ku. "dan ini, buku yang kau tanyakan." Kata Tooth lagi, memegang buku bersampuk cokelat tua. Seperti buku-buku lawas.

"Ah ya terima kasih," kataku, mengambil kotak memoriku, memasukkannya lagi kedalam kantung bajuku.

"Kau mau membacanya disini?" tawarnya, dia membuka halaman tempat cerita kerajaan Arandelle. Baru saja aku ingin membacanya, saat aku melihat bahasa yang digunakan dalam buku itu. Russia, tentu saja.

"Ah ya," aku memandangnya dengan menaikkan sebelah alis. "terima kasih sudah menawarkan, kau tahu aku tidak bisa membaca bahasamu."

Dia tersenyum, "Haha ah iya, benar juga, aku melupakannya. Jadi ... aku harus membacakannya?"

"Mungkin, tepatnya—menceritakannya. Aku sering mengantuk saat dibacakan dongeng."

"Hahaha, baiklah, aku akan menceritakannya padamu." Dia kembali merendam kakinya kedalam kolam kecil di depannya, sedikit membaca buku bersampul cokelat yang di pegangnya.

Arandelle. Itu adalah kerajaan yang ada sejak awal abad ke-17. Sebuah kerajaan yang terletak di benua eropa, tepatnya di norwegia, dengan istana kerajaan yang bertemu langsung dengan laut. Tidak seperti istana-istana pada umumnya, yang memilih dibangun di atas dataran tinggi untuk melihat seluruh kerajaanna-

"Oke stop sebentar." Aku menumpukan dagu, Tooth baru saja memulai bercerita. "bisa kita langsung pada intinya? Kau tahu, hal menarik tentang ratu melarikan diri dari cerita itu, aku tidak begitu tertarik dengan keadaan fisik kerajaan itu." Kataku.

Tooth berdecak, "Cerita selalu memiliki prolog 'kan? Ya anggap saja itu pembukannya."

"Sudah, langsung saja intinya."kataku.

"Kau ini banyak maunya."

Ada satu hal ganjil, yang terjadi pada kerajaan itu, adalah saat pertengahan abad ke 19. Keluarga kerajaan tiba-tiba menutup diri dari masyarakat, menutup diri dari peradaban, menutup diri dari dunia luar. Tidak ada yang tahu pasti penyebabnya apa. Bahkan hingga saat pemakaman raja dan ratu, putri mahkota tidak menghadiri pemakaman itu.

Hingga saat penobatan, sang ratu tiba-tiba menghilang, melarikan diri dari kerajaan itu. Semua orang panik, terlebih, musim panas yang seharusnya, berubah tiba-tiba menjadi musim salju. Putri Anna, putri kedua kerajaan Arandelle bermaksud mencari Ratu, tapi dia tidak pernah benar-benar berhasil.

Putri Anna akhirnya menikahi pangeran negeri sebelah, dan mengambil alih takhta. Sayang, 5 tahun setelah masa kepemimpinannya, Arandelle runtuh, karena ekonomi kerajaan yang tidak stabil, kerajaan itu menggabungkan diri dengan kerajaan tetangga, kerajaan Kaeven yang ada di utara. Dan putri Anna menjadi bangsawan kerajaan setelahnya.

"Begitu." Tooth menyudahi ceritanya.

Tapi entah kenapa, aku merasa tidak puas dengan ceritanya tadi.

"Kenapa keluarga kerajaan menutup diri?" tanyaku, memicingkan mata.

"Tidak ada yang tahu, tadi sudah kubilang, bukan?" Tooth balik bertanya.

"Dan kenapa ratu itu melarikan diri? Apa yang terjadi?" aku kembali bertanya.

Tooth mengerdikkan bahunya. "Entahlah,"

Aku menghela napas, masih tidak merasa puas. Lagi, aku bertanya. "Jika aku mengubah masa lalu, apa cerita-cerita ini akan tetap sama?" tanyaku, tidak yakin.

Tooth menoleh melihatku. "Maksudmu? Kau berniat mengubah masa lalu? North sudah bilang kira tidak boleh bertemu diri kita di masa lalu?"

"Aku tidak bilang ingin mengubah masa laluku."kataku, menggaruk kepalaku. "lagipula hanya bertanya."

"Kau tahu apa itu paradoks waktu?" tanya Tooth.

Aku melihat kearahnya. "Apa itu?"

"Semacam teori kalau takdir tidak bisa diubah, bahkan walau kita campur tangan sekalipun, takdir sudah menentukan kalau kita memang campur tangan." Jelasnya.

"Aku tidak mengerti."

"ng ... mungkin seperti ini, saat kau melihat seseorang butuh bantuan, di masa itu kau tidak menolongnya, akhirnya dia meninggal. Dan saat kau kembali dari masa depan, kau menolongnya. Lantas, apa dia tidak akan meninggal? Mungkin sebenarnya dia meninggal saat kau mencoba menolongnya, jadi kau menolong ataupun tidak, dia akan tetap meninggal."

"Jadi ... apapun yang kulakukan di masa lalu, sebenarnya memang sudah di takdirkan langit, begitu? Bagaimana kalau aku kembali kemasa itu, dan mencegah kejadian itu terjadi?"

"Saat kau mencoba mencegah itulah kau justru membuatnya terjadi. Hei, lagipula, kau tidak diperbolehkan untuk melihat dirimu di masa lalu 'kan? Itu sudah takdir langit Jack."

"Ya ... ya, aku mengerti, hanya bertanya." Aku meregangkan tanganku, kembali merebahkan diri di atas sebuah batu. "kau bisa kembali bekerja, terima kasih waktumu, nona sibuk."

Tooth berdiri dari tempatnya, sekejab, ia kembali berubah menjadi seperti peri sungguhan. Sedikit mencibir kearahku saat dia beranjak pergi.

Hening setelahnya, hanya suara air yang terdengar sekarang. Aku tidak berniat kembali sekarang juga, jadi, mungkin aku akan beristirahat sebentar disini. Bintang yang jatuh tidak dapat kembali ke langit, apa yang sudah kulakukan tidak bisa ku ubah sekarang. Bukan hanya karena larangan North yang tidak membenarkan menggunakan 'mesin waktu'nya untuk pergi ke masa lalu, untuk bertemu 'diri' kita yang lain, tapi juga dari perkataan Tooth.

Paradoks waktu hm? apapun yang kulakukan, takdir mengatakan kalau itu memang akan terjadi. Menarik sekali. Takdir sudah menentukan kalau aku akan membuat gadis itu memiliki sebagian kekuatanku.

Walau itu juga membuatku sedikit resah. Kenapa gadis itu terlihat ketakutan saat menggunakan kekuatannya? oh iya, dia manusia, memiliki kekuatan seperti itu pasti membuatnya berpikir dia memiliki sihir yang berbahaya. Pikiranku melayang memikirkan kekuatanku yang berada di dalam gadis itu, saat tanganku bergerak menyentuh kotak memoriku. aku mengambilnya dari kantungku, melihatnya dengan seksama.

Persetanan dengan itu sekarang.

Kalau dipikir-pikir, aku mengetahui masa laluku, dari benda ini.

Masa laluku heh? Aku sempat bertanya-tanya dulu apa aku memiliki kehidupan yang layak sebelumnya. Dan ini menjawab semuanya. Dia kembali mengingatkanku dengan Emma, adik perempuanku yang kutolong saat itu.

Aku tersenyum tipis. Apa aku memiliki masa lalu lainnya yang patut di kenang? Tiba-tiba itu terlintas dalam pikiranku. Benar juga, aku hanya sekali melihat benda ini, dan benda ini menjawab pertanyaan tentang apakah aku memiliki keluarga.

Sekarang, apa akan ada masa laluku yang bisa kulihat lagi? Aku tidak benar-benar yakin.

Tapi, apa salahnya mencoba?