Author : Yo! Rin-chan come back!

Rin : *pingsan*

Len : *histeris* RIN! RIN! BERTAHANLAH!

Author : *iri* Cih, udahlah! Update!

Len : *bergumam* Author rese'! Author kampret!

.

.

Disclaimer : Vocaloid bukan milik saya ! ^^

Warning : GAJE ! Aneh ! -_-"
Siapkan air minum, karena chapter ini akan panjang.. ^^


Normal POV

"Engg?" desis Rin pelan. Len, Teto, dan Ted langsung menoleh bebarengan ke arah Rin.

"Rin?" panggil Len senang. Dia langsung mendekatkan tubuhnya dengan Rin. Mata azure Rin pelan-pelan terbuka.

Dia menyapu seluruh ruangan dengan tatapan lemah. Matanya berkunang-kunang.

"A-aku di ma— " kalimat Rin yang terbata-bata dan SANGAT lemah terpotong.

"Sudahlah Rin, kau istirahat dulu. Jangan pikirkan apa pun selain kesehatanmu," potong Len sambil menyingkirkan poni yang menutupi wajah Rin. Entah sejak kapan jepit rambut yang biasa ia pakai di poni bagian kanan dan kiri hilang.

Rin diam. Teto menutup mulutnya menahan tangis. Ted menundukkan kepalanya.

"Rin-chan, ke-kenapa kau bi-sa begini?" gumam Teto bergetar. Dia lalu menggenggam tangan Rin pelan.

.

Rin's POV

Setelah Len menasehatiku, aku diam dan membiarkan Len menyingkirkan ponik yang menutupi wajahku. Kulihat Teto membekap mulutnya.

Aku lalu mengingat kejadian dengan Al. Aku tidak ingat lagi setelah Al melepaskan cengkeramannya di leherku.

Sama sekali tidak ingat. Semuanya hitam setelah itu.

Aku pun teringat perkataan Al.

"Aku disuruh Ritsu untuk menghajarmu karena kau mendekati pacarnya,"

Memang Ritsu itu mau apalagi dariku? Bukankah dia sudah puas membuat Len diskors! Sudah puas sering menjelek-jelekkanku?

Cih, dasar dia itu anak manja.

(Skip time)

Aku, Len, Ted, dan Teto terus berbincang-bincang santai, setelah alat bantu pernafasanku dilepas. Sesekali Len mengusap punggung tanganku dan berkata, "Semua akan baik-baik saja,"

Yah, setidaknya itu membuatku sedikit tenang.

Tidak terasa, jam sudah menunjukkan 07.45 pm.

"Ah, Rin. Aku dan Ted pulang dulu ya. Permisi," pamit Teto sembari tersenyum. Sedangkan Len membalas senyumnya dengan anggukan.

Aku ikut tersenyum.

Lalu, Ted dan Teto pulang. Sekarang tinggal Len dan aku di ruangan ini.

"Le-len, kau tidak pulang?" tanyaku pelan sambil mencengkeram baju Len. Len tersenyum ke arahku dan mencondongkan wajahnya.

"Bagaimana aku bisa pulang, kalau sang putri ada di sini? Bukankah pelayan harus ada di samping tuan putri terus?" jawab Len. Jarak wajahku dengan wajah Len tidak kurang dari tiga cm sekarang ini.

Mukaku langsung memerah.

"J-jauhkan mukamu, Len!" seruku sambil memalingkan wajahku. Len tertawa.

"Kenapa? Bukankah kita sudah jadi pasangan?" Len membela diri. Aku menatap mata azure milik Len yang sama denganku, hanya saja miliknya lebih indah dariku. Kulihat, pandangannya sayu.

Pelan, aku kembali menghadapkan wajahku. Len tersenyum dan mencengkeram tanganku, berusaha agar aku tidak berontak.

"Eh? Ap— " belum selesai, mulutku sudah dibungkam oleh bibir lembut Len. Jantungku berdebar dengan sangat cepat. Beda sekali waktu ciuman pertamaku dulu.

Tidak lama, Len melepaskan ciumannya dan menghirup udara sebanyak mungkin.

"Hehe," Len tertawa ke arahku. Mukaku memanas.

"Le-len," desisku pelan.

"Ya?" jawab Len. Aku menatap Len sayu.

"Ar-arigatou," ucapku. Lalu, senyum tersunggih di bibirku. Aku merasa senang bisa berada di dekat Len sekarang ini. Padahal, dulu aku sungguh tidak peduli dengan yang namanya cinta.

"Kenapa? Kenapa berterimakasih kepadaku?" tanya Len bingung. Aku menatapnya sesaat. Lalu, aku duduk dan langsung menarik Len, dan memeluknya. (Rin : Seumur hidup, kalau bukan karena Author kampret ini aku gak bakal meluk Len! Len : Ri-rin, kau jahat!)

"Karena kau sudah memberikanku apa arti cinta yang sebenarnya. Sekaligus menjadi cinta pertamaku!" jawabku dan terisak pelan. Entah kenapa, aku sekarang sering menangis ya?

.

Len's POV

"Karena kau sudah memberikanku apa arti cinta yang sebenarnya. Sekaligus menjadi cinta pertamaku!" jawab Rin. Mukaku panas.

Ja-jadi, aku ini cinta pertamanya? Hah! Yang benar? Gadis cantik seperti ini belum penah terpikat cowok mana pun, se-selain aku?

Kini, dia terisak sambil memelukku. Pelan, aku mengusap rambut honey blond miliknya yang berbau jeruk.

"Sama-sama," jawabku dan langsung membalas pelukannya. Rin masih terisak. Lalu, dia melepas pelukannya. Kutatap matanya.

Mata biru itu yang dulunya kosong, sekarang terlihat cerah.

Rin tersenyum manis— Tidak! SANGAT manis.

"Len, sebaiknya kau pulang deh. Besok kau kan harus sekolah?" ujar Rin. Aku mengangkat alis.

"Tapi aku mau me— " belum selesai, Rin memotong perkataanku.

"Sudahlah, pulanglah. Aku tidak apa-apa kok," potong Rin, berusaha meyakinkanku.

"Err- baiklah. Aku pulang dulu ya. Kamu juga jangan banyak bergerak dulu," ucapku dan langsung mengecup kening Rin.

"Aku sudah kuat kok. Nih lihat!" ujar Rin sambil memperlihatkan ototnya -yang sebenarnya tidak terbentuk sama sekali (_ _")-.

Aku terkekeh dan langsung menjauhi Rin.

"Bye," ujarku sambil melambaikan tangan dari ambang pintu. Rin membalasku dengan anggukan, tidak lupa dengan senyum manisnya.

.

.


Normal POV

Pelajaran sudah dimulai. Di kelas, dua bangku kosong.

"Hm? Di mana Kagamine dan Kagami itu?" tanya Megurine-sensei. Semua anak bingung dan menengok ke arah bangku milik Rin dan Len.

Teto sambil gemetar mengangkat tangannya dan menunduk dalam.

"A-anu sensei, Kagamine berada di Rumah Sakit sekarang. Sedangkan Kagami, saya tidak tahu." Ujar Teto. Murid-murid berbisik-bisik.

"Kita berhasil Ritsu!" bisik Sonika sambil mengacungkan ibu jarinya kepada Ritsu.

Ritsu dengan senyum liciknya mengangguk.

"Tapi, kenapa Len ikut-ikut tidak berangkat?" tanya Lily. Sonika mengernyitkan dahi dan menimpali, "Benar juga ya?"

"Mungkin mereka sudah jadian?" cerocos Yuki dengan kilatan kebencian di matanya.

"Oh ayolah! Jangan berkata seperti itu! Bila memang benar, mati saja kau Rin!" ujar Ritsu setengah berbisik. Ketiga temannya mengangguk tanda mengerti.

Teto yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka berempat merasa telinganya terbakar karena kebencian.

"Awas kau Ritsu!" gumam Teto sambil mengepalkan tangannya.

.

.

"Heh, Kasane! Mana Len?" tanya Ritsu dengan nada membentak. Teto yang merasa dirinya dipanggil menoleh.

"Memang Kagami itu siapamu sih?" tanya Teto sinis.

"Tentu saja pangeran kami!" sahut Sonika kesal.

"Kalau pangeran kalian, kenapa NAMINE membuat Kagami diskors?" tanya Teto sambil menekankan nama Ritsu.

"Err— " belum sempat Ritsu menjawab, sudah dipotong oleh Teto.

"Jawabannya mudah. Karena NAMINE itu orang yang egois. Dan juga dia itu 'bagaikan air di daun talas'. Pendiriannya berubah-ubah. Dasar," potong Teto.

"Beraninya kau bicara seperti itu pada Ritsu, Kasane!" bentak Lily.

"Dan juga, kau ini sama-sama ganjennya seperti Kagamine!" timpal Yuki.

"Peduli apa?" ujar Teto sembari meninggalkan Ritsu dan komplotannya.

"Cih," dengus Sonika dan Lily.

"Yang penting Kagamine tidak berangkat, Miku." Di balik tembok, Neru membisikkan kalimat itu pada Miku.

"Ya. Tapi yang membuat aku kecewa, Len juga enggak berangkat. Apa dia menemani Rin ya?" jawab Miku cemas.

"Alah, enggak mungkin deh. Paling-paling dia sakit atau apalah," jawab Neru.

"Hah? Sakit? Jangan dong," ujar Miku sambil mendengus pelan.

"Hahah.. Enggak mungkin deh. Ayo, mending kini kita ke kelas!" ajak Neru sambil menarik pergelangan tangan Miku.

Di sisi lain, Teto berhasil menguping pembicaraan yang merupakan musuh baginya itu.

"Kena kau, Akita dan Hatsune!" gumam Teto sambil menekan tombol stop di ponselnya.

.

Di lain tempat

"Tidak apakah kau bolos Len?" tanya Rin cemas. Di tangannya ada jeruk yang siap ia makan.

"Aku cemas denganmu. Makanya aku ke sini saja daripada ikut pelajaran di sana," jawab Len sambil tersenyum.

"Kau baik sekali. Maafkan aku yang dulu berpikiran buruk padamu," ujar Rin sambil menunduk dalam-dalam.

"Emm, aku maafkan. Tapi ada syaratnya lho," jawab Len sambil menyeringai. Rin memiringkan kepalanya dan bertanya, "Apa?"

"Cium aku!" ucap Len santai dan langsung menunjuk bibirnya dengan jari telunjuk.

Glek!

"Hah?" Rin kaget. Mukanya merah padam. Len tersenyum.

"Dan juga, Rin tidak boleh menolaknya." Lanjut Len. Rin bingung.

"Entahlah Len. Kau ini gila ya?" ujar Rin sambil menggembungkan pipinya. Len terkekeh.

"Ayolah," bujuk Len dengan nada merengek dan— menggoda.

Len mendekatkan wajahnya dengan Rin. Rin terpaksa tidak memalingkan wajahnya. Mukanya merah dan SANGAT merah.

Tidak lama, nafas Len sudah terasa di wajah Rin.

Entah reflek atau spontan atau pun apalah, Rin langsung memajukan wajahnya dan mencium Len.

"Hm," gumam Rin menandakan bahwa dia tersenyum di dalam hatinya. Len membalas ciuman Rin.

Beberapa detik kemudian, Rin melepaskan ciumannya dan menatap Len sayu.

"Hehe," Rin tertawa pelan. Len ikut tertawa. Lalu, dia menggeledah tas yang dibawanya -yang seharusnya dibawa ke sekolah-.

Lalu, Len mengeluarkan sesuatu yang berbentuk kotak kecil berwarna— merah?

Klek.

Len membuka kotak itu.

"Untukmu," ujar Len sambil tersenyum dan mendekatkan kotak itu di depan Rin.

Mata azure Rin membulat dan menatap benda itu. Sesekali dia mengucek matanya -agar dia tidak berhalusinasi-.

"Le-len?" ucap Rin pelan.

"Ya, ini untukmu. Terimalah," jawab Len dan langsung mengangkat benda yang ada di dalam kotak itu.

Benda berbentuk bulat dan memiliki permata berwarna orange. (Author : Ngaco banget. Hehe, saya memang lagi stress -_-")

Tangan Len sibuk mengangkat tangan Rin yang putih bersih dan lembut. Lalu, benda itu yang tidak lain adalah cincin dimasukkan dalam jari manis Rin.

"Bagaimana? Pas kan?" tanya Len sambil memperhatikan jemari Rin yang indah saat mengenakan cincin pemberiannya.

Rin diam dan ikut memperhatikan jemarinya. Tidak lama, dia mengangkat kepalanya dan menatap Len.

"I-ini indah sekali! Terimakasih Len!" seru Rin. Len tersenyum dan langsung menarik tubuh Rin dalam pelukannya.

Rin yang merasa terharu terisak dan bersandar di dada bidang milik Len.

"Sama-sama," jawab Len dan dia mengusap kepala Rin. Lalu, sepasang kekasih itu mempererat pelukan mereka.

.

"Kau mau makan tidak, Rin?" tanya Len sembari merapikan seragamnya -niatnya tadi ke sekolah, tetapi memutuskan untuk menemani Rin saja-.

"Asal kau juga, aku mau!" jawab Rin sambil tersenyum. Len ikut tersenyum dan menjawab, "Baiklah. Aku ke luar dulu ya?" ujar Len dan langsung meninggalkan Rin.

Rin yang ditinggal Len tersenyum dan memperhatikan cincin yang baru saja diberikan Len padanya.

"Mungkin memang ini yang rasanya cinta? Hihihi, indahnya!" gumam Rin senang dan terus memperhatikan cincin itu sambil memainkan jemarinya.

'Tok tok tok'. Seseorang mengetuk pintu ruangan tempat Rin dirawat.

"Silakan masuk," respon Rin. Seorang dokter masuk. Rambutnya merah merona, wajahnya putih dan sangat ganteng! Tidak kalah keren dari Len.

"Nona Kagamine, iya kan?" tanya dokter itu. Rin mengangguk.

"Bagaimana keadaan anda?" tanya dokter itu lagi.

"Saya? Saya sudah baik kok," jawab Rin sambil tersenyum. Dokter itu memandangnya seperti—

"Ah iya, kenalkan. Saya Kagamine Rin. Dokter sendiri?" Rin mengulurkan tangannya, mengajak berkenalan.

"Saya Akaito Hoshine. Senang berkenalan dengan anda Nona Kagamine," jawab dokter yang bernama Akaito itu sembari tersenyum dan membalas uluran tangan Rin.

"Akaito? Nama yang bagus, Hoshine-san!" puji Rin dengan mata berbinar-binar.

Jujur saja, Rin cukup terpesona dengan Akaito. Rambut Akaito mirip dengan rambut kakaknya, Kaito. Hanya saja, milik Akaito berwarna merah. Jadi, Rin merasa bahwa ada Kaito di sini.

"Te-terima kasih, Nona Kagamine." Jawab Akaito gugup sambil menggaruk kepalanya. Rin tersenyum.

"Ah iya, di mana saudara anda tadi?" tanya Akaito. Rin menjawab, "A-anu, dia itu bukan saudara saya. Tetapi p-pacar saya!" jawab Rin tergagap.

"Oh. Ya sudah,saya ke luar dulu. Mau memeriksa pasien lain. Permisi," ujar Akaito. Ekspresinya berubah drastis. Tadinya wajah Akaito lembut, sekarang tegang dan seperti kaget.

Sepertinya—

KLEK!

Lalu, Akaito ke luar. Tepat saat itu juga, Len masuk dan langsung menatap Akaito tajam. Bagaikan rivalnya.

"Siapa dia, Rin?" tanya Len. Tangannya ada kantung plastik berisikan makanan untuk Rin dan dirinya.

"Ah, dia Akaito Hoshine. Dokter di Rumah Sakit ini. Orangnya ramah lho Len," jawab Rin sambil tersenyum. Len yang melihat Rin menceritakan orang yang bernama Akaito itu menampakkan wajah kesal.

"Tampan juga ya," timpal Len sambil menatap kosong objek-objek lain. Rin memiringkan kepalanya.

"Iya sih. Lumayan juga," jawab Rin sambil terkekeh. Hati Len sudah seperti tertusuk ribuan jarum. Bisa-bisanya Rin, yang sudah resmi jadi PACARnya itu bilang kalau Akaito tampan.

"Oh. Kau suka dengannya?" tanya Len menyelidik. Rin menoleh dan mengangguk pelan.

Hancur sudah hati Len.

"Oh. Ya sudah, makanlah." Ujar Len sambil menyodorkan makanan yang tadi dibelinya. Rin mengangguk dan langsung memakannya.

'Riiiiiiiing'. Ponsel Rin yang ada di atas meja berdering. Langsung Rin menghentikan makannya dan langsung mengangkat teleponnya.

"Moshi-moshi, Rin-chan!" sapa orang dari seberang.

"Moshi-moshi. Ah? Kaito!" seru Rin senang. Orang yang dirindukannya saat ini menelponnya juga -sebenarnya Rin malas menelpon Kaito-.

Len mengernyitkan dahi mendengar nama 'Kaito'. Lalu, dia teringat akan E-mail mesra yang dibicarakan Teto, dan telepon dari seseorang dulu dan memanggil Rin dengan sebutan 'sayang'.

"Aku? Baik sayang! ...Hah? ...Dua bulan? ...Hore! Nanti aku bisa sama Kaito lagi ya? ... Ya ya!" Rin menjawab telepon itu dengan girang.

Hati Len makin hancur. Rin sama sekali belum pernah memanggilnya sayang. Tapi, siapa sih laki-laki itu! Berani-beraninya dia memanggil Rin dengan itu.

"Tch," gumam Len. Tidak lama, Rin menutup teleponnya dan langsung cengar-cengir sendiri.

"Ah iya, Len. Dua bulan lagi, aku akan mengenalkanmu dengan seseorang yang sangaaaaat aku sayangi! Oke?" ujar Rin sambil mengacungkan ibu jarinya.

Terlihat sekali bahwa Rin senang.

Dengan berat hati, Len mengangguk dan tersenyum -terpaksa- manis ke arah Rin.

.

.

"Rin, tadi aku melihat Kagami bermuka kusut sekali sih? Ada apa memangnya?" tanya Teto. Ya, Teto berkunjung ke Rumah Sakit.

"Gak tahu deh. Eh Teto, kau ini kenapa sih? Kan aku nanti sudah pulang. Kenapa kamu masih menjenguk aku?" Rin balik tanya.

"Ada yang mau aku ceritakan sama kamu! Dan ini penting!" ujar Teto bersungguh-sungguh.

"Ya deh," jawab Rin pasrah. Lalu, di ambang pintu berdiri Len.

"Ah Len," gumam Rin sambil tersenyum.

"Oh iya Rin. Aku lupa bertanya ini. Memangnya yang membuatmu pingsan di gudang itu siapa sih?" tanya Teto.

"Err, nanti kalau aku udah pulang aku ceritakan," jawab Rin.

"Tch," desah Len pelan sambil menatap tajam objek yang menjadi mangsa tatapannya.

"Nee, kau ini kenapa sih Kagami? Bukannya menemani kekasihnya, malah memasang muka kusut. Payah kau," ejek Teto sambil terkekeh.

"Diam kau," balas Len dan langsung men-death glare Teto. Teto hanya cengar-cengir saja mendapatkan hadiah itu dari Len.

.

Len's POV

Tch, kenapa sih Rin? Kau lebih memuji orang lain daripada aku?

Memang aku kurang apa?

Cool? Banget. Tampan? Lebih dari banget! Baik? Mungkin. (Author : Pede kau LEN!)

"Lalu, kau mau pulang kapan Rin?" terdengar Teto bertanya. Rin diam sejenak.

"Sore! Aku ingin ke kamarku langsung. Kangen," ucap Rin.

"Lalu, si &(#&# pulangnya kapan?" Teto tidak mengucapkan nama itu.

"Dua bulan lagi! Yay! Aku udah kangen berat sama dia," jawab Rin girang.

Sial, sial, sial!

Jika aku tahu pemuda itu, aku akan hajar dia biar dia tahu, siapa yang lebih pantas mendapatkan Rin!


Author : Kasihan kau Len. Sakit hati ya? Ckck

Rin : Akaito.. Cakep deh.. *tersepona #plak!# eh, salah! terpesona.. heheh

Meiko : RIN! AKAITO MILIKKU!

Len : AKAITO! MEIKO! RIN MILIKKU!

Author : Eh Meiko, kan aku enggak pernah buat cerita tentang kamu. Ngapain kamu ikut nimbrung di sini? Ah iya, cerita ini milikku.. #dilempar sake+jeruk+pisang +,+"

Rin : xx milikku.. ^^

Len : *nangis* si-siapa?

Rin : *meluk Len* Lenny~

Meiko : So sweet.. Author : Biarlah! Ikut nimbrung ae ra enthuk

Author : Boso jowo -_-"

Rin+ Len : R&R PLEASE.. ^^