Warning: GS, OOC, Typo, Bahasa Campuran, AU
.
2016 ©kenlee1412
Proudly Present
It's Not Love, Honey
.
.
.
Happy Reading
Enjoy~
Chapter 8
Baekhyun melangkah keluar dari rumahnya dan menghampiri Camaro yang terparkir apik di pelataran rumah. Setelah masuk ke dalam mobil, senyum lebar Chanyeol menyambut pandangan Baekhyun yang membuat Baekhyun ikut tersenyum manis.
"Selamat pagi princess. Siap untuk ujian hari ini?" Tanya Chanyeol sambil mengelus jemari Baekhyun lembut.
"Pagi sayang. Tentu saja siap. Hehe" jawab Baekhyun lucu.
Chanyeol hanya tersenyum sambil memandangi wajah manis Baekhyun.
"Jadi? Apa lagi yang kau tunggu Chan? Tidak ingin berangkat sekolah?" Tanya Baekhyun
Chanyeol menggeleng dan Baekhyun mengeryitkan dahinya kebingungan.
"Aku tidak mau ke sekolah Baek."
"Lalu? Membolos? Hari ini kita ujian Chan. Ayo pergi ke sekolah Channie" rengek Baekhyun.
"Shireo! Aku inginnya pergi ke pelaminan bersamamu Baek" goda Chanyeol.
Baekhyun tersipu malu sambil menetralkan detak jantungnya yang berdebar mendengar ucapan Chanyeol. Chanyeol yang melihat rona merah di wajah Baekhyun tertawa gemas dan mengusak lembut rambut Baekhyun.
"Ja-jangan mengada-ada pagi-pagi Chan, cepatlah ayo ke sekolah" ucap Baekhyun sambil menahan senyum di wajahnya.
"Aku tebak kau pasti saat ini lebih memilih pergi ke pelaminan bersamaku kan dibandingkan pergi ke sekolah? Mengaku sajalah" goda Chanyeol lagi.
"Yak! Berhenti menggodaku. Kau ini ish. Kau tidak mau mengantarku? Oke, aku akan pergi sendiri" Baekhyun bersiap keluar namun belum sempat membuka pintu tangan Baekhyun kembali ditarik oleh Chanyeol dan kini mereka saling berhadapan dengan jarak yang tipis.
Chanyeol tersenyum tampan dan menunjuk bibirnya di depan Baekhyun, "Miss you. Berikan aku sarapan dulu"
Baekhyun mendengus malas dan mengecup bibir Chanyeol. Ketika Baekhyun akan menyudahi ciumannya tengkuk Baekhyun ditahan oleh Chanyeol dan Chanyeol mulai melumat bibir Baekhyun.
"Chanyeol!" sungut Baekhyun ketika ciuman mereka terlepas.
"Apa? Aku hanya mengambil bayaranku atas batalnya kencan kita kemarin." Jawab Chanyeol sambil membawa mobilnya pergi menuju sekolah.
Baekhyun hanya terdiam mendengar ucapan chanyeol barusan. Dirinya bertanya apakah Chanyeol akan tetap menciumnya jika mengetahui pekerjaan apa yang dia lakukan weekend kemarin. Baekhyun menghela nafas lirih dan tersenyum kearah Chanyeol yang memanggilnya.
-INLH-
Kai berjalan cepat menyusuri lorong kelas 11. Beberapa sunbae menyapanya dan dibalas senyuman sopan oleh Kai. Langkah kakinya kembali ia percepat menuju kelas Kyungsoo. Pagi tadi ketika dia berniat menjemput Kyungsoo, dia tidak menemukan kekasihnya di rumah dan dia mendapat kabar jika kekasihnya itu sudah berangkat pagi-pagi sekali. Kai yang saat itu juga langsung bergegas menuju sekolah. Semalam dia sudah tak bisa tidur memikirkan pertengkarannya dengan Kyungsoo, melewatkan sarapan supaya segera bertemu dengan kekasihnya dan kini Kyungsoo kembali menghindarinya.
Sesampainya di kelas Kyungsoo, Kai mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas namun tidak mendapati Kyungsoo dimanapun. Kai tetap kembali menelisik isi kelas dengan matanya sampai seseorang menepuk pundaknya.
"Mencari Kyungie?"
"Ah, iya sunbae. Hyunsik sunbae tau dimana Kyungie?" Tanya Kai pada Hyunsik –teman sekelas Kyungsoo- yang barusan menepuk pundaknya.
"Entahlah, tadi pagi aku sih melihatnya memasuki sekolah, tapi ketika aku sampai kelas sampai sekarang aku belum melihatnya padahal itu sudah 30 menit yang lalu. Mungkin dia sedang di perpustakaan."
"Ah begitu. Terima kasih sunbae, kalau begitu aku kembali ke kelas saja." Ucap Kai lesu
"Tidak ingin menitip salam atau pesan?" tawar Hyunsik.
"Tidak usah sunbae, nanti aku kembali kesini saja. Permisi sunbae." Hyunsik mengangguk sambil memperhatikan punggung Kai yang berlalu.
"Bahkan tas nya masih tersampir di punggungnya. Mereka sedang bertengkar ya? Hmm" gumam Hyunsik dan memasuki kelasnya.
Kai terduduk lesu di bangkunya dan menelungkupkan wajahnya di meja. Zitao yang di sebelahnya memandang Kai kebingungan. Baru saja ZItao hendak memanggil Kai, pundaknya ditepuk oleh Sehun yang sudah berdiri disampingnya.
"Kenapa dia?" Tanya Sehun sambil mengarahkan dagunya ke Kai.
"Molla. Datang-datang sudah seperti ini. Kai-ya kau kenapa hmm?" Tanya Zitao sambil mengusap lembut kepala Kai.
TUK
"Yak!" teriak Kai sambil mengelus kepalanya yang terkena lemparan bolpoin. Kai melihat Zitao terkikik geli dan wajah Sehun yang datar. Kai hanya mendengus malas dan menopang wajahnya.
"Aku tak apa. Jangan khawatir." Ucap Kai kemudian.
ZItao dan Sehun saling berpandangan lalu mengangguk mengerti. ZItao menepuk pelan kepala Kai dan Sehun kembali ke bangkunya. Kai masih menopang wajahnya dengan pandangan ke depan.
"Berhenti melamun. Sebentar lagi ujian dimulai." Tegur Zitao sambil merapikan mejanya.
Kai hanya mengangguk malas namun ikut bersiap mengikuti ujian.
Bel berakhirnya ujian baru saja berbunyi namun Kai sudah bergegas mengumpulkan lembar ujiannya dan langsung berlari keluar tidak peduli pengawas ujian yang belum keluar dari kelas. Sehun dan Zitao hanya berpandangan dan saling melempar tatapan tak mengerti. Keduanya kemudian ikut mengumpulkan lembar jawaban mereka dan pergi keluar menuju kantin bersama Ravi.
Sesampainya di depan kelas Kyungsoo, Kai langsung melongok kedalam dan lagi-lagi dia tidak menemukan kekasihnya berada di dalam kelas. Sempat terpikir olehnya bahwa kekasih hatinya itu membolos namun pemikiran tersebut segera hilang ketika Kai mendapat pesan dari Kyungsoo di handphonenya untuk menemuinya di atap sekolah. Tanpa berpikir dua kali Kai langsung berlari menuju atap sekolah menemui Kyungsoo.
Kyungsoo sedang mendengarkan music lewat earphone dengan buku di tangannya ketika Kai sampai di atap sekolah. Kai terengah-engah sambil mengatur nafas dan berjalan menghampiri Kyungsoo. Kyungsoo menyadari seseorang berdiri di sampingnya kemudian mendongak dan mendapati Kai sedang menatapnya diam. Kyungsoo tersenyum manis dan menyuruh Kai duduk disampingnya.
"Chagi –
"Kau berkeringat Jongin. Habis berlarian? Kenapa harus berlari? Lihat keringatmu banyak sekali." Kyungsoo memotong perkataan Kai sambil mengusap dahi Kai yang penuh dengan peluh.
Kai memegang tangan Kyungsoo yang bekerja di dahinya dan memegangnya. Kyungsoo membalas tatapan Kai dan tersenyum seolah tidak ada hal yang sedang terjadi diantara mereka.
"Ah, aku membawakan bekal untukmu. Bukan hasil dari resep chef Byeon kemarin sih, tapi aku sudah terlanjur berjanji untuk membuatkanmu bekal kan? Chaa ayo dimakan" Kyungsoo melepas genggaman tangan Kai dan mempersiapkan bekal untuk dimakan Kai.
Kai menerima sumpit pemberian Kyungsoo dalam diam dan menuruti permintaan Kyungsoo untuk memakan bekal buatannya. Kyungsoo tersenyum manis dan kembali membaca bukunya sembari menunggu Kai makan.
"Terima kasih atas makanannya" ucap kai sambil membereskan kotak bekal Kyungsoo.
"Oh, sudah selesai? Cepat sekali." Ujar Kyungsoo sambil ikut membereskan kotak bekalnya.
Selesai membereskan kotak bekal Kai mengambil tangan Kyungsoo dalam genggamannya dan menatapnya dalam. Kyungsoo memandang Kai manis.
"Sayang.." panggil Kai
"Ya Jonginie?" jawab Kyungsoo imut.
"Aku… Aku ingin minta maaf. Aku minta maaf karena –
"Kumaafkan" potong Kyungsoo cepat.
Kai memandang Kyungsoo tak percaya. Setelah semalam Kyungsoo membentaknya karena kesalahannya sekarang tanpa pikir panjang Kyungsoo langsung memaafkannya. Kai memandang Kyungsoo bingung yang hanya dibalas oleh senyuman manis Kyungsoo.
Kai menghela nafas dan kembali memandang Kyungsoo serius, "Noona, kemarin itu –
"Arraseo. Aku mengerti Jongin. Aku benar-benar mengerti posisiku. Aku baik-baik saja. Maaf kemarin aku membentakmu. Sekarang aku sudah paham posisiku." Jelas Kyungsoo
"Ya noona kau bicara apa? Bukan seperti itu maksudku. Posisi apa yang kau maksudkan? Noona jebal dengarkan aku dulu ne?"
Kyungsoo balas menggenggam tangan Kai dan menggeleng, "Aku tau Jongin, aku tau. Aku Do Kyungsoo adalah kekasih Kim Jongin sedangkan Xi Luhan adalah sahabat Kim Jongin. Aku benar kan? Jadi berhenti meminta maaf karena aku sudah memaafkanmu."
"Noona …"
"Aku paham. Aku bisa apa hmm? Kau kan hanya pergi dengan sahabat kecilmu. Jadi untuk apa aku membuang energi untuk marah? Mau aku berbuat apapun kenyataannya tidak akan berubah. Selama aku masih menjadi kekasihmu dan selama kau masih ingat bahwa aku kekasihmu, aku akan selalu mengerti."
Kai perlahan maju mendekati Kyungsoo. Menghapus jarak diantara mereka dan perlahan mencium kening Kyungsoo lembut. Kedua mata Kyungsoo terpejam merasakan kehangatan kecupan Kai di keningnya. Kecupan Kai berpindah menuju kedua mata Kyungsoo yang terpejam. Kai tidak bodoh jika hari ini kedua mata Kyungsoo sedikit membengkak, Kyungsoo pasti semalam menangisinya yang sudah menyakiti hatinya. Kai mengusak hidungnya pada hidung Kyungsoo dan terdengar kikikan dari Kyungsoo. Kini Kai sudah menyatukan kedua kening mereka dan mata Kyungsoo pun sudah terbuka membalas tatapan hangat Kai.
"Sayangku, cintaku, my baby girl saranghae. Neomu saranghae. Kau tau kan? Apapun yang kau katakan tentang posisi posisi atau apapun itu yang perlu kau tau aku amat sangat begitu mencintaimu. Aku minta maaf karena telah melukai hatimu. Aku janji itu akan jadi yang terakhir baby. Kau bisa pegang janjiku. I love you."
Setelah mengatakan hal tersebut tanpa menunggu jawaban dari Kyungsoo Kai kembali mengikis jarak mereka dan mendekati bibir manis Kyungsoo. Kyungsoo hanya tersenyum dan kembali menyambut ciuman Kai. Bibir keduanya saling bertemu dan saling mengecap satu sama lain.
"Aku pegang janjimu Jongin….."
-INLH-
Kepala Chanyeol menyembul di pintu kelas Baekhyun yang langsung disambut lambaian tangan Baekhyun. Chanyeol membalas lambaian tangan Baekhyun dan berdiri di depan kelas.
"Ayo pulang Kyungie" ajak Baekhyun sambil membereskan mejanya
"Duluan saja Baek, aku menunggu Jongin menjemputku."
"Eeeiiyyy tumben, biasanya bertemu di depan. Yasudah aku duluan ya, bye bye" Kyungsoo melambaikan tangannya mengiringi kepergian Bakehyun. Didepan Chanyeol juga melambaikan tangannya pada Kyungsoo dan menggandeng Baekhyun berjalan keluar.
"Mau langsung pulang Bee?" Tanya Chanyeol sesampainya di dalam mobil.
Baekhyun mengangguk lucu dan dibalas oleh kekehan Chanyeol. Baekhyun menatap kedepan sambil sedikit bersenandung yang mengisi kekosongan mobil Chanyeol. Ketika Chanyeol sedang menikmati senandung merdu Baekhyun tiba-tiba Chanyeol dikejutkan dengan sebuah tepukan tangan Baekhyun.
"Ada apa Bee? Kau mengagetkanku"
"Ah mian, tapi aku baru saja dapat ide bagus." Jawab Baekhyun semangat
"Ide apa hmm?"
"Ayo kita belajar bersama dirumahku. Sudah lama bukan kita tidak belajar bersama dirumahku. Hitung-hitung sebagai ganti kencan kita yang batal. Ya ya ya, ayo belajar bersama." Baekhyun merengek sambil menggoyang-goyangkan lengan Chanyeol.
"Arraseo, arraseo. Kita belajar bersama dirumahmu. Sekarang bisa biarkan aku menyetir dengan tenang sayang?"
Baekhyun melepaskan goyangannya dan tersenyum malu. Chanyeol terkekeh dan mengusak lembut kepala Baekhyun lalu kembali melajukan mobilnya menuju rumah Baekhyun.
Saat ini Chanyeol sedang membaca buku di taman mini rumah Baekhyun sembari menunggu Baekhyun berganti pakaian. Chanyeol mengalihkan pandangannya dari buku ketika ada derap langkah kaki mendekatinya. Senyum manis terpasang diwajah Chanyeol ketika mendapati Baekhyun datang sambil membawa beberapa kudapan untuk teman belajar mereka.
"Jadi kita akan belajar tentang apa?" Tanya Chanyeol sambil membantu Baekhyun menaruh beberapa kudapan di meja. Baekhyun duduk disamping Chanyeol sambil bersandar di dada Chanyeol.
"Uhmmmm belajar mencintaimu?" goda Baekhyun
"Bee" tegur Chanyeol lembut
"Arraseo" Baekhyun beranjak dari dada Chanyeol sambil mengerucutkan bibirnya lucu. Chanyeol hanya tersenyum geli melihat Baekhyunnya yang merajuk imut.
Chanyeol dan Baekhyun mulai membuka bukunya lalu mulai belajar bersama. Diantara keduanya memang tidak ada yng lebih unggul dalam nilai, namun ada beberapa subjek pelajaran yang keduanya bisa saling melengkapi. Ketika Baekhyun tidak bisa ternyata Chanyeol bisa membantu Baekhyun begitu pula sebaliknya. Chanyeol dan Baekhyun paham bahwa kekayaan orang tua mereka tidak cukup berguna ketika mereka terjun di masyarakat. Sebanyak apapun harta peninggalan orang tua mereka kelak apabila mereka tidak bisa mengolah dengan baik maka hidup mereka pun tidak akan bisa berjalan sesuai dengan harapan mereka.
Chanyeol menghabiskan air didalam gelasnya dan berniat mengisi ulang kembali ketika menyadari sudah tidak ada lagi minuman yang tersisa. Baekhyun menyadari hal tersebut dan menawarkan Chanyeol tambahan minuman yang dibalas ucapan terima kasih oleh Chanyeol. Baekhyun bergegas membawa wadah minuman dan pergi menuju dapur untuk kembali membuatkan minuman untuk Chanyeol.
Sembari menunggu Baekhyun mengambilkan minuman untuknya, Chanyeol kembali mengerjakan beberapa soal yang tadi sempat tertunda, namun belum sempat menyelesaikan satu soal handphone Baekhyun yang tergeletak di meja berbunyi tanda pesan masuk. Awalnya Chanyeol menghiraukan bunyi handphone Baekhyun namun dering notifikasi terus berbunyi yang membuat Chanyeol mengambil handphone Baekhyun dan membuka pesan tersebut dengan pikiran bahwa itu adalah pesan yang penting yang harus segera Baekhyun ketahui.
Dunia Chanyeol seakan runtuh melihat pesan yang tertera di handphone Baekhyun. Manajer Baekhyun mengiriminya sebuah pesan gambar. Hasil pemotretannya akhir pekan kemarin. Baekhyun cantik sekali dalam foto tersebut. Tema foto tersebut sebuah pesta pernikahan. Tapi bukan hal tersebut yang membuat dunia Chanyeol runtuh, melainkan sosok disamping Baekhyun yang memeluk pinggang Baekhyun mesra menggunakan tuksedo hitam sebagai mempelai prianya. Begitu serasi.
Oh Sehun. Juniornya. Adik sepupu dari sahabatnya. Teman terdekatnya.
Chanyeol masih terpaku pada handphone Baekhyun ketika Baekhyun datang membawakan minuman tambahan untuk Chanyeol. Baekhyun mengeryit heran pada Chanyeol yang terdiam melihat handphonenya tanpa menyadari kedatangannya. Baekhyun duduk disamping Chanyeol sambil melihat apa yang dilihat Chanyeol di handphonenya. Baekhyun terbelalak dan refleks merebut handphonenya dari tangan Chanyeol.
Chanyeol tersentak dan memandang Baekhyun tajam, "Chanyeol, a-aku…" Baekhyun seketika tergagap ketika tatapan Chanyeol begitu menghujam dirinya. Chanyeol memandang tak percaya pada Baekhyun, sedangkan Baekhyun begitu berusaha merangkai kalimat untuk membuat Chanyeol percaya padanya.
"Kau harusnya bisa menghargai privasi orang lain Chanyeol" Oh crap! Apa yang baru saja kau katakan Baekhyun! Baekhyun merutuki mulut egoisnya yang muncul disaat yang tidak tepat. Chanyeol semakin memandangnya tak percaya atas apa yang dikeluarkan dari bibir manis seorang Byun Baekhyun.
Chanyeol tersenyum remeh pada Baekhyun dan menghela nafas panjang, "Kau marah Baek?" Baekhyun bungkam sambil meremas handphonenya. Kekehan Chanyeol terasa panas di kupingnya. Chanyeol memandang sinis kekasihnya yang menunduk ini, "Wah aku tidak percaya ini, aku memergokimu namun yang kudapat adalah kemarahanmu?" Baekhyun menatap Chanyeol terluka. Baekhyun tahu dirinya sepenuhnya salah disini tapi Baekhyun juga tidak bisa menahan untuk tidak terluka atas segala lontaran kalimat sinis dan tatapan tajam Chanyeol.
"Wae? Kau tidak terima dengan kata-kataku?" lanjut Chanyeol
"Geumanhae Chanyeol-ah" lirih Baekhyun
"Wae? Ada yang salah dengan perkataanku Baek? Kenapa aku harus berhenti? Kau tidak bisa menjawab? Ku ulangi pertanyaanku, kau marah padaku Baek?" ulang Chanyeol
"Chanyeol kumohon berhenti memojokkanku" geram Baekhyun
"Aku tidak Baekhyun. Aku sedari tadi hanya meminta penjelasanmu dan kau marah hanya karena aku bertanya padamu"
"Sekarang jelas kau marah padaku. Apa yang kau marahkan? Aku yang tanpa ijin membuka pesan di handphonemu atau aku memergoki foto itu?" lanjut Chanyeol. Ucapan Chanyeol barusan benar-benar menyentak Baekhyun dari pikirannya. Benar, apa yang sebenarnya dia permasalahkan jika memang sedari awal ini memang sudah salahnya? Apa yang menjadi titik sensitive Baekhyun kali ini? Chanyeol yang membuka privasinya tanpa izin atau Chanyeol memergoki dirinya pemotretan bersama Sehun?
"Jawab pertanyaanku Byun Baekhyun!" ucap Chanyeol tegas.
Baekhyun bungkam. Chanyeol menyandarkan tubuh lelahnya. Dia sungguh tak habis pikir dengan kekasihnya ini. Sebenarnya apakah dia dimata Baekhyun. Chanyeol tak habis fikir Baekhyun tega membohonginya seperti ini.
"Berhenti berfikir dan jawab pertanyaanku Baek!" ulang Chanyeol dingin.
"A-aku ..."
"JAWAB BAEK!"
"BERHENTI MEMBENTAKKU! AKU MEMBENCIMU PARK CHANYEOL!" Baekhyun terengah-engah. Chanyeol kembali tak percaya dengan reaksi Baekhyun. Cukup. Chanyeol tidak tahan lagi dengan Baekhyun kali ini. Chanyeol bergegas membereskan peralatan dan buku-bukunya. Demi Tuhan saat ini Chanyeol berada pada titik puncak kejengahannya pada Baekhyun. Nafas Chanyeol memburu. Disebelahnya Baekhyun mulai terisak. Sungguh Baekhyun pun tidak menyangka dirinya akan membentak Chanyeol. Sisi princess Baekhyun lebih menang dibandingkan oleh segala untaian kalimat penenang yang telah Baekhyun siapkan di otaknya untuk Chanyeol dan semuanya hancur lebur dengan 2 kalimat egoisnya.
Chanyeol sudah bersiap melangkah pergi sebelum Baekhyun menahannya, "Kajima"
Chanyeol menghela nafas berat, berbalik dan melepaskan tangan Baekhyun pada tangannya, "Kau membenciku. Untuk apa aku harus berada di hadapanmu? Aku lelah Baek. Aku harus pulang."
Baekhyun menggeleng keras namun Chanyeol tak menghiraukannya. Sedikit lagi dia bertahan di kondisi seperti ini entah hal buruk apa yang akan terjadi. Chanyeol tidak ingin membayangkannya jadi dia bergegas pergi dari rumah Baekhyun dan meninggalkan kekasihnya yang kini menangis terisak-isak. Para pelayan di rumah Baekhyun hanya diam menyaksikan pertengkaran nona mudanya dengan kekasihnya. Mereka tidak berani mendekat walaupun kini didepan mata mereka nona mudanya sedang menangis tersedu-sedu sambil memanggil nama Chanyeol yang sudah pergi.
Chanyeol mengemudikan Camaronya dengan kecepatan tinggi. Genggamannya pada kemudi semakin mengerat sepanjang jalan. Tidak berapa lama Chanyeol menepikan mobilnya.
"Aaaarrgghh!" teriak Chanyeol frustasi sambil memukul kemudinya. Nafasnya terengah-engah penuh emosi. Pandangannya nyalang kedepan mengingat hal yang baru saja terjadi dengan Baekhyun.
Demi apapun Chanyeol ingin menangis sekarang. Dia tak habis pikir kenapa Baekhyun tega melakukan hal ini padanya. Chanyeol merasa tidak pernah sedikitpun melarang Baekhyun melakukan kegiatannya yang memang Baekhyun ingin lakukan. Tapi hanya sekedar memberi tahu padanya tentang pemotretan tersebut. Apa karena Oh Sehun? Apa Baekhyun tidak percaya padanya? Ya, Chanyeol akui dia cemburu dengan segala skinship yang dilakukan oleh Baekhyun dan Sehun, apalagi saat ini banyak fans-fans yang mulai menyukai kedekatan mereka dan mendukungnya apabila Baekhyun dan Sehun adalah pasangan betulan di kehidupan nyata. Tapi bukan berarti kemudian Baekhyun bisa seenaknya seperti ini terhadap perasaan Chanyeol.
Chanyeol menarik nafas panjang dan kembali menatap ke depan. Raut wajahnya sudah lebih tenang dibandingkan sebelumnya tapi hal itu yang membuat apa yang saat ini dipikirkan oleh Chanyeol tidak dapat terbaca. Melirik sebentar pada handphonenya yang tenang sejak dia pulang dari tempat Baekhyun sampai sekarang membuat senyum sinis tersungging di wajah Chanyeol, lalu memasukkan gigi dan menginjak pedal melajukan mobilnya membelah heningnya jalan.
Esok paginya Chanyeol sudah berada di depan rumah Baekhyun untuk menjemputnya pergi ke sekolah. Ini tidak berarti kejadian sebelumnya terlupakan begitu saja oleh Chanyeol, sama sekali tidak, bahkan pagi ini ekspresi datar tersedia sedari tadi di wajah Chanyeol. Pintu kursi penumpang terbuka pelan dan Baekhyun terlihat memasuki mobil dengan perlahan.
"Pasang sabukmu dan segera berangkat." Ucap Chanyeol dingin.
"Uhm Chanyeolie tidak ingin berpamitan dengan eomma dan appa?" Tanya Baekhyun hati-hati sambil memasang sabuk pengaman.
"Lain kali saja." Jawab Chanyeol bersama dengan mobil yang mulai melaju meninggalkan halaman rumah Baekhyun dan Baekhyun sendiri hanya menggigit bibirnya menahan tangis yang sebentar lagi siap tumpah akibat sifat dingin Chanyeol.
Chanyeol mematikan mesin mobilnya setelah sampai di parkiran sekolah. Chanyeol sudah bersiap membuka pintu mobil ketika dia melirik Baekhyun yang setia duduk di kursi penumpang sambil sedikit meremat sabuk pengamannya yang belum dilepas.
"Kalau kau tidak ingin masuk sekolah aku tidak peduli tapi sebentar lagi bel masuk, kalau kau tidak keluar dari mobilku kau menghambatku Baek." Ucap Chanyeol dingin.
Remasan tangan Baekhyun pada sabuk pengamannya mengerat, dia takut terhadap Chanyeol saat ini tapi dia juga lebih takut menangis di depan Chanyeol saat ini.
Chanyeol menghela nafas sambil melirik Baekhyun yang sedang menahan tangis, "Kuberi waktu 5 menit untuk mengatakan apa yang ingin kau katakan, aku tidak ingin terlambat ujian Baek."
"Bisakah kau tidak bersikap dingin padaku?" lirih Baekhyun.
"Tidak." Tegas Chanyeol.
Gigitan bibir Baekhyun semakin dalam mendengar jawaban Chanyeol yang pedas. Baekhyun sedikit mengatur nafas yang mulai tidak beraturan karena dadanya mulai sesak oleh air mata yang ingin segera tumpah.
"Kau tidak ingin memaafkanku?" pinta Baekhyun sambil menoleh pada Chanyeol yang menatap lurus kedepan. Dingin.
"Apa kau sudah meminta maaf padaku?" Tanya balik Chanyeol.
Baekhyun menundukkan kepalanya dan menggeleng lemah walaupun dia ragu Chanyeol melihat gelengannya. Kembali Baekhyun menarik nafas panjang dan menatap Chanyeol yang sama sekali tidak meliriknya, "A-aku … aku menyesal Chanyeol-ah"
Chanyeol terdiam dan sedikit melirik Baekhyun yang menatapnya memohon, namun Chanyeol kembali memalingkan wajahnya dan mendengus sinis, "Oh benarkah? Aku terkejut Baek"
Isakan Baekhyun mulai terdengar lirih, bahunya bergetar menahan supaya tangisnya tak pecah. "Hiks.. mi-mianhe hiks mianhe Chanyeol-ah." Remasan Baekhyun pada sabuk pengamannya kembali menguat dan Chanyeol hanya menghela nafas lelah. Dia benci Baekhyun menangis tapi dia juga benci karena dirinya pun masih amat sangat kecewa pada Baekhyun.
"Waktumu habis Baek, hapus air matamu dan segera keluar." Final Chanyeol.
Baekhyun tidak tau lagi harus berbuat apa. Dadanya sungguh sesak. Air matanya berlomba-lomba keluar dari kelopak mata indahnya. Menatap Chanyeol yang sedang bersandar di pintu kemudi sambil bermain dengan handphonenya tidak sedikitpun meliriknya yang sedang bersedih di dalam. Baekhyun menarik nafas panjang dan merapikan kembali tampilannya lalu bergegas keluar sebelum Chanyeol kembali menegurnya. Ketika suara pintu yang tertutup oleh Baekhyun terdengar tanpa menoleh ataupun melirik Chanyeol mengunci mobilnya dan berjalan menuju kelas begitu saja tanpa menunggu Baekhyun untuk berjalan disampingnya seperti biasa. Dan sekali lagi Baekhyun hanya bisa menghela nafas sedih dan menguatkan diri untuk hal-hal yang akan terjadi selama Chanyeol masih marah padanya.
-INLH-
Lain Chanyeol lain pula dengan Luhan. Sehun cukup pintar dalam menyembunyikan pemotretannya dengan Baekhyun dari Luhan. Sepertinya Luhan belum mengetahui perilhal pemotretan tersebut karena saat ini ketika waktu istirahat tiba dua sejoli Sehun dan Luhan terlihat asik membaca sambil sesekali bercanda di perpustakaan sekolah.
"Kenapa mengajak bertemu di perpustakaan Sehunie?" Tanya Luhan ketika Sehun berhenti menggodanya.
"Hanya ingin. Lagipula sepertinya Kai sedang ada terlibat masalah karena 2 hari ini dia terus menempel pada Kyungsoo noona sampai Kyungsoo noona merasa risih pada Kai." Jawab Sehun santai sambil kembali membaca bukunya, tak menyadari raut wajah Luhan yang sedikit terkejut dan cemas mendengar jawaban Sehun.
Karena Luhan mendadak diam, Sehun melirik kekasihnya dan mendapati Luhan sedang menatap bukunya kosong. Sehun menatap Luhan dan mengelus pipi Luhan lembut, "Ada apa heum? Ada yang menganggu pikiranmu?"
Luhan tersentak merasakan tangan Sehun di pipinya dan mendapati mata tajam Sehun sedang menatapnya lembut. Tak ingin membuat kekasihnya khawatir Luhan tersenyum manis dan menggenggam tangan Sehun yang berada di pipinya, "Tidak apa-apa. Maaf sudah melamun."
Sehun ikut tersenyum dan mengecup kening Luhan lembut lalu melanjutkan kembali membaca sambil menggenggam tangan Luhan. Diperlakukan begitu manis Luhan hanya bisa tersenyum sambil memandang Sehun yang sedang membaca dan tak lama mengikuti Sehun membaca buku miliknya dengan tangan yang saling bertautan satu sama lain.
-INLH-
Baekhyun bergegas menuju parkiran ketika mendapat pesan bahwa Chanyeol menunggunya di mobil untuk pulang bersama. Langkah kaki Baekhyun semakin cepat ketika melihat Chanyeol sedang duduk di kap mobilnya sambil bersenda gurau bersama Kris dan Minho yang merupakan rekan satu tim basket sekolah. Baekhyun menyapa Kris dan Minho dan dibalas senyum tampan keduanya. Chanyeol hanya melirik singkat dan sedikit melanjutkan obrolannya lalu berpamitan dengan keduanya. Baekhyun melambaikan tangannya singkat dan bergegas masuk ke mobil Chanyeol ketika Chanyeol memasuki mobilnya tanpa membukakan pintu untuk Baekhyun seperti biasanya. Di dalam mobil pun Chanyeol hanya diam dan memilih melajukan mobilnya keluar dari halaman sekolah.
"Mereka sedang bertengkar, iya kan?" Tanya Minho pada Kris sambil memandang kepergian mobil Chanyeol.
"Aku tidak tahu, tapi melihat interaksi mereka tadi kupikir memang ada hal yang tidak beres dengan mereka." Jawab Kris tanpa menoleh kearah Minho. Kris mengeryit bingung dan berharap hal yang dia takutkan akhir akhir ini tidak benar-benar terjadi.
Dalam perjalanan pulang suasana mobil Chanyeol terasa sunyi. Hanya terdengar suara musik mengalun dari radio mobil Chanyeol. Baekhyun terlihat ingin mengungkapkan sesuatu namun selalu tertahan di tenggorokannya dan kemudian urung ia lakukan. Dan Chanyeol pun serasa di dalam mobil sendiri menikmati alunan musik sambil fokus terhadap kemudinya. Setelah mengumpulkan keberaniannya Baekhyun siap membuka mulutnya tapi kemudian dering handphonenya terdengar dan menghancurkan segala keberaniannya. Baekhyun menghela nafas dan merogoh tasnya untuk melihat siapa penelpon kurang ajar yang telah merusak segala momen yang sudah siap Baekhyun ciptakan dan sialnya penelpon kurang ajar tersebut adalah manajernya sendiri. Baekhyun melirik Chanyeol yang terlihat masih asyik mengacuhkannya, menghela nafas dan mengangkat panggilan dari manajernya.
"Yeoboseyo.. " chanyeol melirik Baekhyun yang sedang menerima panggilan dengan gugup.
"…"
"Ne eonni, aku sedang di jalan pulang, wae?" Baekhyun kembali melirik Chanyeol yang masih terlihat mengacuhkannya namun diam-diam menurunkan volume radio mobilnya.
"…"
"Haruskah sekarang eonni? Aku baru saja keluar belum sampai rumah."
"…"
"Bersama Chanyeol, tapi eonni –"
"…"
"Arraseo. Aku akan segera kesana." Baekhyun mematikan panggilannya dan meremat handphone nya gugup. Manajernya menelfon dia harus segera ke agensi karena ada hal penting yang ingin dibicarakan dengannya dan Baekhyun takut meminta tolong pada Chanyeol untuk mengantarnya ke agensi.
Chanyeol yang melihat Baekhyun terlihat gugup dan kebingungan kembali menghela nafas, "Kemana?"
"Eoh?" Baekhyun menoleh cepat terhadap Chanyeol yang bersuara.
"Aku harus mengantarmu kemana?" ulang Chanyeol datar.
"Oh, itu uhm manajer eonni ingin aku ke agensi sekarang. Aku juga tidak tau ada hal apa ta-tapi jika Chanyeolie tidak ingin mengantarku juga tidak apa-apa. Turunkan aku dihalte depan aku akan berangkat sendiri, sungguh." Terang Baekhyun. Sungguh jika saat ini mereka tidak bertengkar bisa dipastikan tawa renyah Chanyeol terdengar saat ini karena saat ini tingkah dan ekspresi Baekhyun sangatlah lucu dengan segenap keberanian memohon pada Chanyeol dengan hati-hati.
"Beri tau manajer noona kau akan tiba dalam 30 menit." Ujar Chanyeol sambil menambah kecepatan mobilnya. Baekhyun lebih memilih diam dan kembali menghela nafas. Saat ini dengan sekuat tenaga Baekhyun benar-benar menekan emosinya di titik paling rendah demi dapat berdamai dengan Chanyeol. Namun Baekhyun pikir hal ini akan amat sangat berat baginya dan tidak akan berlangsung sekejap saja mengingat seberapa besar Chanyeol begitu kecewa padanya.
Tepat 30 menit kemudian mobil Chanyeol sudah terparkir rapi di basement gedung agensi Baekhyun yang tidak lain adalah gedung kantor milik ayah Baekhyun. Chanyeol mematikan mesin mobilnya dan Baekhyun bersiap keluar tapi sebelum Baekhyun berhasil membuka pintu mobil Chanyeol mengaktifkan kunci otomatis. Baekhyun menoleh cepat kearah Chanyeol yang juga sedang menatapnya tajam.
"Wae geurae?"
Baekhyun mengeryit bingung pada Chanyeol. Tadi dia sendiri yang menawarkan untuk mengantar Baekhyun ke agensinya, dan sekarang Chanyeol sendiri yang menghalanginya untuk keluar. Baekhyun benar-benar bingung saat ini.
"1 jam"
"Ne?"
"Kuberi waktu satu jam untuk berada didalam. Tidak ada bantahan. Aku tidak peduli tentang karirmu atau segala tetek bengeknya. Jika dalam waktu satu jam kau tidak kembali kehadapanku maka aku sendiri yang akan menarikmu keluar dari dalam sana. Mengerti?"
Baekhyun mengangguk kaku mendengar kalimat Chanyeol. Tidak ada yang bisa Baekhyun lakukan ketika Chanyeol berada tepat di depan wajahmu dan berkata dengan wajah datarnya.
"Bagus, sekarang kau boleh keluar. Aku juga akan keluar sebentar lagi, aku akan menunggu di café gedung. Satu jam kedepan kita bertemu disini lagi. Arraseo?"
Kembali Baekhyun menganggukkan kepalanya dan Chanyeol me-non-aktifkan kunci otomatis pada mobilnya. Chanyeol sudah bersiap untuk keluar sebelum menyadari Baekhyun masih terdiam di kursinya.
"Tidak ingin turun?"
Baekhyun menoleh dan menggelengkan kepalanya cepat.
"Lalu? Apa yang kau tunggu?"
Baekhyun meremas kedua tangannya dan menunduk lesu, "Bisakah… bisakah kau memberikan aku satu buah ciuman Chan-ah? Ani, hanya kecupan saja. Kemarahanmu, ujian hari ini dan tiba-tiba pekerjaan datang, aku rasa… aku... ini terasa berat Chanyeol-ah apalagi hubungan kita yang masih dingin, terasa semakin berat, aku…aku…"
"Lalu apa ini salahku jika hubungan kita yang masih dingin? Dan apa salahku jika aku marah dan membuatmu lelah?"
"Bukan… bukan seperti itu maksudku Chanyeol-ah, ini semua salahku, aku sadar itu, hanya saja aku berat tanpamu Chanyeol-ah. Mian. Lupakan saja permintaanku, kupikir kau bersedia memberikanku walaupun hanya sekedar kecupan saja untuk memberiku semangat, tapi.. yah sudahlah. Maafkan aku. Aku akan masuk, satu jam lagi aku datang. Gomawo Chanyeol-ah."
Baekhyun bersiap membuka pintu mobil sebelum lengannya ditarik dan merasa bibir Chanyeol mendarat lembut di keningnya. Setelah beberapa detik Chanyeol menarik diri dari Baekhyun tanpa memandang Baekhyun sedikitpun. Entahlah, Chanyeol hanya tidak kuasa melihat wajah Baekhyun yang terlihat rapuh dan badannya tergerak secara otomatis tanpa dia sadari. Sedangkan Baekhyun, senyum lebar terkembang di wajahnya. Kecupan Chanyeol memiliki efek yang sangat hebat di tubuhnya. Setidaknya Baekhyun merasa memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Chanyeol.
"Pergilah, waktu terus berjalan Baek."
"Eum. Gomawo Chanyeol-ah. Saranghae."
Chanyeol berdehem pelan dan melirik Baekhyun yang meninggalkannya dengan senyuman. Ketika Baekhyun hilang dari jangkauannya Chanyeol mengusap wajahnya dan membuang nafas keras. Memilih untuk keluar dan mencari udara segar, Chanyeol berjalan menuju café gedung sambil sesekali menyapa beberapa staff. Chanyeol sudah sering datang kesini, entah bersama Baekhyun atau berurusan dengan Tuan Byun.
Sesampainya di café, Chanyeol memesan satu gelas Americano dan sepotong vanilla cake. Setelah mendapatkan pesanannya Chanyeol berjalan menuju kursi di samping jendela dan mulai menikmati hidangannya.
Ketika sedang asyik menikmati suasana Chanyeol dikejutkan dengan sesosok lelaki duduk di depannya sambil dengan seenaknya menyeruput Americanonya.
"Hongsik Hyung!"
"Wae? Kau marah minumanmu berpindah padaku? Aaahh aku lelah sekali Chanyeol-ah."
"Haha. Anio hyung, minum saja, apa perlu kupesankan yang lain juga?"
"Tidak perlu, aku hanya ingin menyapamu saja. Sudah lama aku tidak bertemu denganmu. Kekasihmu itu benar-benar sukses membuatku bekerja siang dan malam. Lihat kau saja baru pulang sekolah dan langsung mengantarnya kesini bukan?"
"Ya begitulah hyung. Ngomong-ngomong kau semakin lusuh saja hyung dan ada apa dengan tumpukan majalah ini?"
Hongsik melirik tumpukan majalah di depannya dan mendengus geli, "Byun Baekhyun itu benar-benar mengerikan. Aku tau Tuan Byun juga mengerikan dengan bukti bisa mendirikan agensi sebesar ini namun putri kesayangannya ternyata jauh lebih mengerikan. Kau tau majalah ini? Majalah Ace. Yang berhasil bekerjasama dengan majalah ini dari agensi rata-rata adalah artis senior dan Baekhyun mencetak rekor baru sebagai model rookie pertama yang masuk dalam majalah ini dan bukan hanya menjalani pemotretan dia bahkan di wawancarai. Haaahh entah karena bakatnya yang memang menakjubkan atau sokongan dari Tuan Byun aku tidak tau. Tapi kekasihmu itu benar-benar luar biasa Chanyeol-ah."
Chanyeol mendengarkan dengan seksama celotehan Hongsik sambil melirik majalah di depannya. Terlihat artis terkenal yang menjadi sampul majalah tersebut dan Chanyeol juga tidak memungkiri ada potongan foto Baekhyun dan Sehun disitu.
Dering telpon Hongsik membuyarkan pikiran Chanyeol dan Chanyeol melihat Hongsik sedang menerima telpon dengan wajah bersungut-sungut. Chanyeol melempar senyum maklum ketika melihat Hongsik menatapnya memelas.
"Pergilah hyung. Bawa saja kopiku. Fighting!"
"Ini bawalah. Tidak usah khawatir. Pihak percetakan memberikanku tambahan majalah kuberikan eksklusif untukmu. Majalah ini baru akan beredar lusa. Sudah ya Chan. Sampai bertemu lagi"
Chanyeol melambaikan tangannya mengiringi kepergian Hongsik. Senyumnya perlahan memudar seiring kepergian Hongsik. Melirik tajam pada majalah yang baru saja diberikan Hongsik. Setengah jam lagi waktu Baekhyun habis, Chanyeol memilih beranjak dari kursinya dan kembali menuju mobilnya sambil menenteng majalah pemberian Hongsik tadi.
-INLH-
Baekhyun bergegas keluar dari ruangan rapat ketika melirik arlojinya. Sebentar lagi waktunya habis dan Baekhyun tidak ingin membuang kesempatan untuk berbaikan dengan Chanyeol. Setelah berpamitan dengan manajernya Baekhyun langsung berlari menuju basement gedung.
Ketika sampai didekat mobil Chanyeol, Baekhyun menarik nafas panjang dan berjalan perlahan kearah mobil Chanyeol. Baekhyun melihat Chanyeol di dalam mobil dan langsung masuk kedalam.
"Maaf menunggu lama, aku tidak terlambat kan?" ucap Baekhyun sambil merapikan posisi duduknya.
Chanyeol hanya berdehem pelan sambil memasang safety beltnya lalu melajukan mobilnya keluar begitu saja. Baekhyun menghela nafas kecewa dan memilih untuk diam.
Sesampainya di depan rumah Baekhyun keheningan masih tercipta di dalam mobil Chanyeol. Baekhyun diam sambil menundukkan kepalanya sedangkan Chanyeol memilih fokus ke depan. Chanyeol berdehem pelan dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah majalah, lalu Chanyeol hempaskan ke pangkuan Baekhyun.
Baekhyun terbelalak melihat halaman yang terpampang di pangkuannya. Melirik Chanyeol yang menatapnya tajam Baekhyun diam-diam menelan ludahnya. Waktu itu dia benar-benar hanya memikirkan egonya dan tidak berfikir perasaan Chanyeol.
"Saling memahami satu sama lain huh? Merasa nyaman satu sama lain? Oh jadi selama ini hanya Sehun yang menghargaimu? Begitu model Byun Baekhyun?"
"Chanyeol, Chan, a-aku aku bisa jelaskan"
"Maka jelaskan!"
Chanyeol menatap Baekhyun tajam. Menyiutkan nyali Baekhyun. Hal yang baru saja diucapkan Chanyeol adalah beberapa potongan wawancaranya ketika ditanya mengenai sosok Sehun baginya.
"Aku hanya menjawab pertanyaan yang diajukan wartawan, tidak lebih. Aku melihat Sehun seperti itu bukan berarti aku memiliki perasaan yang sama seperti perasaanku padamu Chan-ah. Tolong mengerti posisiku."
Chanyeol terkekeh miris. Mendengar penjelasan Baekhyun yang begitu menggelikan membuat Chanyeol tidak tahan untuk tidak tertawa.
"Kau ingin aku mengerti posisimu? Baik. Baik Baekhyun, akan kulakukan apa yang kau mau. Jika kau ingin aku memahamimu maka mulai sekarang lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku tidak peduli dan tidak akan peduli dengan hal itu." Terang Chanyeol tajam.
Baekhyun tersentak kaget, "A-apa maksudmu Chanyeol?"
"Apa ucapanku kurang jelas nona Byun?" remeh Chanyeol.
"Demi Tuhan Chanyeol apa kau baru saja mencampakanku?" jerit Baekhyun.
"Terserah anggapanmu apa Baek sungguh aku tidak peduli. Aku lelah. Kau berfikir aku mencampakanmu itu hakmu. Kau berfikir aku tetap kekasihmu itu juga hakmu yang jelas aku benar-benar tidak peduli lagi. Aku lelah dengan tingkahmu Baek. Kau selalu ingin dimengerti tapi kau menjaga perasaanku saja tidak pernah. Sekali saja Baek, apa kau pernah mendengarkanku? Demi Tuhan Baek kau jelas-jelas tau aku tidak pernah suka kau terlalu dekat dengan laki-laki manapun. Kau dekat dengan Kris hyung yang notabenenya sahabatku sendiri saja aku tidak suka Baek dan sekarang kau seperti ini dengan Sehun yang sudah berulang kali kularang untuk dekat-dekat. Apa dengan hal itu kau sudah menjaga perasaanku Baek? Seperti itukah caramu menghargai perasaanku?" terang Chanyeol sambil menahan dirinya untuk tidak menangis di hadapan Baekhyun.
Baekhyun bungkam. Dia benar-benar tidak tau harus menjawab apa. Menatap wajah terluka Chanyeol saja Baekhyun tidak sanggup apalagi menjawab pertanyaan Chanyeol.
Chanyeol membuang nafas panjang dan menatap Baekhyun yang menundukkan kepalanya. Chanyeol tau kekasih mungilnya sedang menahan untuk tidak menangis tapi Chanyeol benar-benar sudah lelah dengan semua ini. Jika memang Baekhyun mencintainya seharusnya Baekhyun tau apa yang diinginkan Chanyeol.
"Turunlah. Hari sudah larut. Besok kau masih harus sekolah. Kau juga masih harus belajar untuk ujian. Mungkin besok aku sudah tidak bisa mengantar jemputmu lagi Baek. Aku akan membebaskanmu melakukan apapun yang ingin kau lakukan." Ucap Chanyeol pelan sambil membuka kunci otomatis pintu mobilnya.
"Mianhe Chanyeol-ah. Jinjja mianhe" lirih Baekhyun.
"Geumanhe Baek-ah."
"Chanyeol-ah…"
"Kumohon Baek, bisakah kau turun? Aku lelah. Aku ingin pulang. Sampaikan salamku pada orang tuamu hmm" pinta Chanyeol.
Hati Baekhyun benar-benar sakit sekali. Tapi Baekhyun juga tidak bisa berbuat banyak. Kali ini benar-benar murni kesalahannya dan Baekhyun juga tidak bisa mundur dari pekerjaannya. Maka kali ini Baekhyun lebih memilih diam dan perlahan keluar dari mobil Chanyeol. Ketika Baekhyun sudah sepenuhnya keluar dari mobil, Chanyeol langsung melajukan mobilnya pergi dari rumah Baekhyun dan Baekhyun sendiri hanya menatap kepergian Chanyeol dengan luruhan air dimatanya.
-INLH-
"…"
"Ne Sehunnie. Kau sedang sibuk?"
"….."
"Bisakah ke tempatku sekarang?"
"…."
"Hanya bisakah kau datang?"
"…"
"Eum. Arraseo. Kutunggu."
PIP
Setelah mematikan panggilannya, dia menatap keluar jendela mobilnya sambil meremat sebuah majalah ditangannya. Dia benar-benar kecewa.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC….
K/N:
Hehehehe dengan tidak bertanggung jawabnya kembali lagi bawa Chapter 8 buat temen temen semuaaaaahhhhh ...
Maaf banget karena lagi lagi dan lagi lagi SLOW UPDATE. Maaff banget yaah. Ini juga udah di sempat-sempetin nulis di sela-sela kesibukan rl. Mohon maafkan saya, heuheu.
Daaaaannn aku udah baca review dari kalian semuaaa yeeeayyyy sumpah happy banget ternyata masih ada yang inget sama INLH /hiks/ aku terharu loh sumpah deh. Ada yang bela-belain baca lagi dari awal biar mudeng lagi sama ceritanya karena aku saking lamanya update (Maaf sekali lagi). Pokoknya semua review kalian aku bacaaaa gak ada yang kelewat dan mohon maaf gak bisa bales karena buat nulis tiap chap aja aku kepikiran kalian TT makanya aku fokusin ngelanjutin cerita biar bisa baca review kalian lagi hehehe
Btw kenapa pada nangis baca chap sebelumnya? Emang sesedih itu ya? /watados/ wkwkwkw okee mian yang udah nangis di chap kemarin sekarang aku kabulin di chap ini, gimana? udah mendingan sedihnya? wkwk
Oh ya karena aku udah baca semuaaaaa review dari kalian semua otomatis yang request request udah aku tampung. Sebenernya plot sampe ending udah ada tinggal ketik aja (nah itu masalahnya wkwk) tapi karena aku sayang kalian para readers-nim jadi usul/request kalian aku tampung nanti aku bikinin aku sempilin di cerita yah mungkin walaupun engga 100% sesuai sama keinginan kalian tapi aku bakal berusaha buat ngabulin permintaan kalian. Aku usahain yaaah hehehe
Euumm apalagi ya? Sebenernya aku bisa sih fast update yaah 1 atau 2 minggu sekali update tapi ceritanya mungkin sepenggal-penggal doang. Ini aja sebenernya aku udah pengen nekat update pas selesai di bagian Baekhyun nangis abis belajar kelompok sama Chanyeol tapi kok kayaknya pendek banget yaa setelah aku PHP-in kalian jadinya aku panjangin lagi daaaan ternyata aku ngaret lagi hehehehe jadi mohon maklumin alesanku yah
Oke cukup kebanyakan ngomong nih aku haha jangan lupa tinggalin review kalian yaa, pokoknya jangan lupa review karena review kalianyang bikin aku semangat nulis /halah/ wkwk
Makasih yang udah review kemarin-kemarin maaf gak bisa sebutin satu-satu, yang udah follow and favorites too. OMG do u know that i love you all so much ...
Sampe ketemu di chap depan, next ada yang bisa nebak couple mana yang mau aku bikin termehek-mehek?
-XOXO-
