A/N: It has been long time, hasn't it? Terima kasih yang udah membaca dan me-review... saya sangat menghargai kalian. ^o^ Bagi yang sedang dan akan menjalani UAN, ganbatte ne~
Disclaimer: Kishimoto Masashi-sensei
Timeline: Random
Ch 10. Chief
Kisame and Pain
#
#
Jika ditanya Kisame menganggap Pain sebagai apa, hanya satu jawabannya:
"Ketua."
Ya, Kisame menganggap Pain sebagai ketuanya. Pemimpin di Akatsuki. Person in-charge. Leader. Chief.
Yang namanya organisasi, pastilah harus memiliki pemimpin. Dan di Akatsuki, pemimpin itu adalah Pain.
Sebagai organisasi kejahatan, yang anggotanya terdiri dari para kriminal kelas kakap, tentu saja masing-masing anggota tidak ingin dianggap lebih rendah daripada yang lain. Tetapi mereka semua mengakui kedudukan Pain sebagai ketua.
Tentu saja Kisame juga. Bahkan, bisa dibilang dia adalah yang paling bisa menunjukkan rasa hormatnya. Meskipun mungkin hal ini dikarenakan dirinya yang memang memiliki kesopanan tinggi. Berbeda dengan Hidan dan Orochimaru yang selalu bertingkah seenaknya saja.
Kisame berterima kasih kepada Pain, yang telah memasangkannya dengan Itachi. Walaupun tentu saja dia tak pernah mengatakannya. Dan dia juga berterima kasih karena Pain tidak membiarkan Orochimaru merebut partnernya.
Yah, sebagai anggota Akatsuki yang tidak pernah terlalu neko-neko, Kisame tidak mempunyai banyak masalah dengan ketuanya. Namun, bukan berarti dia dianakemaskan. Kisame pernah ditegur, tentu saja.
"Lama."
Pain berkata dengan suaranya yang tanpa emosi, ketika dia memanggil Kisame dan Itachi untuk berkumpul. Saat dipanggil itu, Kisame dan Itachi sedang beristirahat setelah Kisame menunaikan tugasnya memburu Yonbi.
"Kebetulan, kami sudah memburu Jinchuuriki. Kami terlambat karena harus mengikatnya supaya tidak lari," kata Kisame, memberikan alasan dengan sopan.
"Oke... dengan ini, semua sudah lengkap."
Pain tampak bersiap memulai ritualnya.
"Ng?" Kisame melihat sekeliling. "Hidan dan Kakuzu masih belum kelihatan."
Pain memandangnya dengan matanya—yang menurut Kisame—aneh.
"Keduanya sudah terbunuh," Pain menjawab setelah membiarkan suasana hening sejenak.
Dan setelah Pain mengatakan itu, suasanan hening lagi.
"Begitu... khu khu. Jadi, pasangan zombi itu bisa mati juga. Aku jadi ingin lihat bagaimana mereka mati," kata Kisame, menyeringai sambil menggaruk kepalanya.
"Jangan berkata begitu tentang teman sendiri," di sinilah Pain menegurnya. Kisame menghargai tegurannya itu, dan mengakui kesalahannya—meski tentu saja dia tidak memperlihatkannya.
Karena itu, Kisame bertanya lagi—sedikit-banyak untuk mengalihkan pembicaraan.
"Yang melakukannya?"
"Orang-orang Konoha. Lagi-lagi tim inti Kakashi dan Jinchuuriki Kyuubi," kali ini rupanya Zetsu yang menjawab.
Kisame menghargai betul kedudukan Pain sebagai ketua, karena selain tegurannya yang pada tempatnya seperti tadi, Pain adalah satu-satunya yang bisa meredam perseteruan konyol antara Deidara dan Tobi. Karena tidak ada orang lain yang bisa melakukannya, maka Kisame menghargai Pain. Deidara dan Tobi sudah terlalu sering berperang mulut yang, meski kocak, lama-lama menjengkelkan juga.
"Tobi! Coba saja kau bicara lebih daripada itu! Kantong kesabaranku bisa meledak, un!" bentak Deidara.
"Ahahahaha... kantong kesabaran itu kan untuk menahan diri... punya Deidara-senpai sih, kantong ledakan! Karena cepat sekali marah..."
"Tobiii, kaaau!"
"Deidara, jangan ribut! Kalau kau begitu, kata-kata Tobi memang benar!" kata Pain keras.
"Cih..." Deidara menggumam kesal, sementara Tobi hanya tertawa, "Ahahaha..."
"Dan Tobi, kau selalu banyak bicara. Hormati seniormu!" kini Pain menegur Tobi.
"Baiiik! Maaf~~!" balas Tobi riang.
Kisame memutar matanya.
"Apa bisa selesai mengumpulkan Jinchuuriki dengan yang seperti ini...!" katanya, setengah jengkel setengah geli. Tapi dia sepenuhnya menghargai kemampuan ketuanya untuk melerai dua orang rekannya yang terkadang kekanak-kanakkan itu.
Dan hal lain yang dihargai Kisame dari ketuanya itu adalah dia cukup peduli kepada anggotanya. Entah tulus atau tidak, tetapi Kisame menghargai sikapnya itu.
"Huh... boleh juga. Adik Itachi-san memang hebat," Kisame melirik Itachi setelah Pain menyampaikan bahwa Sasuke-lah yang membunuh Orochimaru.
"Saat ini, dia sedang mengumpulkan teman... semuanya shinobi yang merepotkan," kata Zetsu.
"Maksudnya?" tanya Kisame.
"Kau juga tahu kan... Hozuki bersaudara dari Kirigakure..." Pain yang menjawab dengan suara datarnya.
"Suigetsu, ya... rasanya jadi rindu," komentar Kisame tanpa emosi.
"Selain itu, ada Juugo si Neraca juga. Berhati-hatilah, Itachi, Kisame… kemungkinan besar, mereka mengincar kalian," ujar Pain seraya menatap duo kompak itu. Kemudian dia berpaling ke yang lain, "Yang lain juga… setidaknya, camkan nama Uchiha Sasuke di pikiran kalian. Kemungkinan Akatsuki jadi target kalau mereka berniat mendapatkan informasi tentang Itachi atau Kisame."
Ya, begitulah. Pain cukup peduli kepada anggotanya. Kisame yakin, sebenarnya hal ini dikarenakan jika semua anggota Akatsuki mati, maka Pain yang akan susah. Tapi setidaknya, kepedulian Pain ini patut untuk dihargai.
Bagi Kisame, Pain adalah sosok yang pantas dianggap sebagai ketua.
TBC
A/N: Percakapan di atas banyak dikutip dari Naruto 39, dengan sedikit perubahan. Next will be the last chapter; Kisame and Akatsuki. Thanks for reading and thanks more for reviewing. ^_^
