Konoha Gakuen no Akuma © HanRiver
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
SasukexSakura Alternate Universe Fanfiction
.
.
.
OOC, chara labil seperti author-nya, bad diction.
.
.
.
If you don't like, don't ever try to read.
.
.
.
Enjoy.
.
.
.
Chapter 10 : Can I?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bugh!
"Lemah! Dasar lemah! Hahahaha!"
Bugh! Duak!
"Lawan kami kalau kau bisa! Hahaha!"
Bugh!
"—ukh!"
Sasuke mencengkram dadanya yang terasa perih akibat serangan anak yang kira-kira dua tahun lebih tua darinya. Wajah bocah raven tersebut telah babak belur, dan sudut bibirnya terkelupas yang menyebabkan seberkas darah di sana.
Gerombolan anak tadi tertawa lantang saat melihat keadaan dan ketidakberdayaan dirinya. Ia ingin melawan mereka, tapi ia kalah dari segi jumlah dan kekuatan. Yang dapat ia lakukan hanya dapat menerima serangan mereka, menahan diri agar kesadarannya tetap terjaga. Ia sadar bahwa tak ada yang bisa menolongnya saat ini. Karena jika ia dihadapkan oleh situasi seperti ini, kakaknya yang akan melindunginya.
Namun tak ada lagi sosok kakak di dalam kehidupannya. Sosok itu telah pergi, meninggalkannya dengan rasa benci yang tertanam di dada kakaknya. Meninggalkannya sendirian. Sekarang tak ada lagi yang bisa melindunginya.
"Kakak …" Ia belirih, memanggil kakaknya walau ia tahu bahwa Uchiha Itachi tak akan datang membantunya.
"Haaahh?! Kau memanggil kakakmu, heh? Rasakan ini!"
Sasuke menutup matanya, menunggu satu pukulan kembali dilayangkan ke wajahnya. Tapi—
"HENTIKAAAANNNN!"
Salah satu anak yang tadi hendak memukulnya menghentikan pergerakannya, menoleh pada seorang gadis cilik yang memandang mereka dengan tatapan marah. "Apa yang kalian lakukan?! Hentikaaann!" teriak gadis itu dengan suara cemprengnya.
"Haahh!? Memangnya siapa kau berani menghentikan kami?! Kalau kau melangkah, akan kuhajar!"
Bukannya takut dengan gertakan gerombolan tadi, sang gadis maju dengan gagahnya. "Dasar tidak adil! Kau lebih besar, dan kau lebih banyak darinya! Kalian semua pengecut! Berani memukul seorang anak yang lebih muda dari kalian!" ujarnya dengan tatapan yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.
Gadis tadi segera mendekati Sasuke, berhenti di depan Sasuke dan merentangkan tangannya, melindungi Sasuke yang membuat bocah itu tercenggang. "Langkahi dulu mayatku sebelum kalian bisa memukulnya lagi!"
Gerombolan anak tadi mendecih. "Apa-apaan ini? Kau mau mencoba menjadi wonder woman yah? Dasar tidak seru." Anak-anak nakal tersebut memandang gadis tadi dengan tatapan bosan. "Ahh … sudahlah, kata nenek kita para lelaki tidak boleh memukul seorang wanita." Setelah berucap demikian, gerombolan anak tadi bubar.
Walau Sasuke tak dapat melihat wajah sang gadis, ia tahu bahwa bocah itu sedang tersenyum. Dengan gerakan perlahan, gadis itu membalikkan badannya dan tersenyum hangat, "kau tidak apa-apa?"
Sasuke kini dapat melihatnya. Sepasang emerald menyejukkan yang memancarkan keceriaan. "Y-ya … aku tidak apa-apa."
"Huh. Kau ini! Seharusnya kau melawan mereka!" Sekarang gadis itu malah menceramahinya, bibir ranumnya mengerucut sehingga membuatnya terlihat lebih manis.
"Mana bisa. Mereka lebih banyak dariku. Aku tidak akan bisa melawannya."
"Mana kau tahu kalau kau belum mencoba! Dasar lemah!"
Sasuke menunduk sedih. Lemah. Kata-kata itu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Ya, dia memang lemah. Semua orang berkata bahwa dia lemah dan ia tidak bisa mengelaknya.
Melihat perubahan raut wajah Sasuke, membuat gadis itu merasa bersalah. "M-maafkan aku," ujarnya dengan nada tidak enak.
"Tidak apa-apa," balas Sasuke dengan suara pelan, "sudah banyak yang berkata seperti itu padaku."
Sasuke terdiam. Ia baru saja membuat imej buruk di depan seorang wanita. Tapi apa boleh buat, itu memang kenyataannya.
"Kalau sudah banyak yang berkata seperti itu, berarti kau harus menjadikannya sebuah dorongan." Sasuke mendongak, melihat gadis yang kini menatapnya dengan senyum hangat. "Dorongan untuk menjadi lebih kuat. Lebih kuat sehingga kau bisa mengatasi semua masalah, dan melawan semua yang mencoba untuk menyakitimu!"
Gadis itu merentangkan tangannya dan tersenyum lebar. "Coba bayangkan jika kau bisa lebih kuat lagi. Bukankah akan menyenangkan?" Sasuke sekali lagi tercenggang. "Jangan biarkan seorang pun, yang menghalangi jalanmu. Aku yakin, suatu saat nanti kau akan tumbuh menjadi pria yang kuat. Dan jika itu telah terwujud, setelah kita bertemu lagi, maka kau akan menjadi pelindung bagiku!"
"Janji, ya?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sasuke membuka matanya dengan pelan saat ia rasa sinar matahari masuk melalui jendelanya. Ia lupa untuk menutup gorden tadi malam. Karena pikirannya sedang kacau, sangat kacau sampai tak memedulikan apapun di sekitarnya.
Pandangan sedih terpancar jelas di matanya. Setelah sekian lama, ia kembali memimpikan masa lalu yang baginya merupakan kenangan terpahit. Tentang Itachi, kakaknya yang kini telah menjadi orang yang akan menghancurkannya. Bahkan, kakaknya itu telah berani melibatkan orang-orang di sekitarnya, termasuk Haruno Sakura.
Haruno Sakura. Gadis yang telah ia putuskan begitu saja. Juga, gadis yang telah menyelamatkannya beberapa tahun yang lalu.
Saat pertemuan awalnya dengan Sakura, ia memang merasa gadis itu familiar. Apalagi warna mata yang sangat terasa tidak asing. Di pertemuan pertamanya, saat Sakura melayangkan pukulan padanya, ia menatap dalam mata gadis itu dan tersentak saat gadis itu punya kesamaan dengan gadis yang menyelamatkannya beberapa tahun yang lalu.
Mulailah ia mendekati Haruno Sakura, melindunginya dari Suigetsu, dan membelikannya obat saat ia sedang sakit. Tapi itu semua belum memecahkan rasa penasarannya. Ia masih belum tahu pasti apakah dia benar-benar gadis itu.
Sampai saat itu, ketika Sasuke sedang sakit dan Sakura mengantarnya pulang. Saat Sakura mencoba melindunginya dari serangan preman, ia merentangkan tangannya. Pergerakan yang sama dengan gadis kecil yang dulu, membuat Sasuke tercenggang melihatnya. Setelah Sakura berhasil menumbangkan sang preman, entah mengapa tangan Sasuke tergerak untuk memeluknya. Mungkin, pelukan itu adalah bentuk terimakasih untuk Sakura yang memberikannya dorongan untuk menjadi lebih kuat. Karena jika ia tidak bertemu Sakura, maka mungkin ia akan tetap menjadi Uchiha Sasuke yang lemah.
Drrttt … drrtt …
Sasuke menoleh, menatap ponselnya yang tengah berdering. Ia meraih benda segi empat tersebut dan membaca apa yang tertera di layarnya. Dua puluh empat pesan masuk, dan tiga belas panggilan tidak terjawab dari Sai, Naruto dan Gaara. Sasuke mulai membuka pesan-pesan yang belum sempat di bacanya itu satu-persatu.
From Uzumaki Naruto :
Temeee! Di mana kau sekarang?!
Sakura besok akan mengundurkan diri! Lakukanlah sesuatu!
Yesterday, at 13.00 p.m
Sasuke mengernyitkan keningnya. Mengundurkan diri? Sakura?
From Rei Gaara :
Ketua, kau tidak akan membiarkan ini terjadi, bukan?
Yesterday, at 18.47 p.m
From Shimura Sai :
Apakah kau akan diam saja?
Today, 06.39 a.m
Sasuke menghela napas. Memangnya apa yang bisa ia lakukan?
Ia belum bisa melupakan kemarahannya kemarin. Saat Sakura mengetahui kepingan tentang masa lalunya. Ia tidak ingin itu terjadi. Ia juga marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa mencegah hal itu. Kini, pemuda itu tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Pikirannya sangat kacau dan ia tidak bisa mengendalikan emosinya. Sikap tenang yang dari dulu telah ditanamnya sirna begitu saja.
Dan ia tidak tahu, kapan pikirannya bisa tenang kembali.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sakura-san, apakah kau sudah membulatkan keputusanmu? Kami mohon, jangan lakukan ini." Lee memandang Sakura dengan tatapan memohon, sedangkan Sakura menatap pemuda itu dengan tegas.
"Para murid akan lebih bahagia jika aku mundur, Lee." Gadis itu menyimpulkan senyum tegarnya. "Aku yakin, kalian akan bisa bekerja sama dengan lebih baik lagi bersama penggantiku."
"Ketua, apa kau yakin?" Neji bertanya dengan ragu, ekspresi pemuda itu hampir sama dengan Lee. Walau Sakura adalah ketua galak yang selalu memarahinya, namun tak bisa dielakkan bahwa gadis itu membuat perubahan signifikan ke arah yang lebih positif bagi sekolahnya.
Sakura menoleh pada Neji, masih dengan senyumannya. "Aku sudah mengatakannya, bukan? Aku yakin kau tidak tuli."
Ino dan Hinata berpandangan, keduanya memancarkan tatapan sedih dan tidak tahu harus berbuat apa. Mereka tahu bahwa Sakura adalah gadis yang keras kepala. Tapi, mereka sungguh tidak rela jika Sakura mengundurkan diri dari jabatannya.
"Sekarang, kalian pergilah ka aula dan urus persiapannya. Kumpulkan para murid di sana. Satu-satunya kandidat ketua selanjutnya adalah Shion, bukan?" Sakura merapihkan mejanya, membelakangi para anggota dewan murid yang menatapnya dengan tatapan sendu.
"Tapi, Ketua …"
Sakura menggebrak meja. "Ini adalah perintah terakhirku. Tidak bisakah kalian menurutinya?" Walau berucap dengan nada tegas, namun saat ini Sakura sedang menggigit bibirnya demi menahan suara serak akibat menahan isakannya.
Para anggota dewan murid terbungkam, akhirnya dengan gerakan pelan ia meninggalkan ruangan satu-persatu, menuruti perintah ketuanya. Setelah yakin bahwa semua orang telah pergi, Sakura mendudukkan tubuhya yang sedari tadi terasa lemas.
"Ini … akan menjadi ruanganku, bukan?" Shion memasuki ruang dewan murid dengan kedua tangan yang dilipat di depan dadanya.
Sakura menoleh, menatap gadis itu dan menjawab, "ya."
Shion menatap Sakura dengan pandangan yang sulit diartikan seraya berucap, "kau yakin keputusanmu yang menyerah kepadaku sudah tepat?"
Sakura menunduk sejenak, kemudian gadis berambut merah muda tersebut tertawa kecil, membuat Shion mengernyitkan alisnya. "Maaf saja, Shion," ucapnya disela-sela tawanya dan mengangkat kepalanya, menatap Shion dengan pandangan tegas dan berkata, "aku tidak mengundurkan diri karena menyerah terhadapmu. Aku hanya menuruti keinginan para murid, dan itu bukan berarti bahwa aku takut padamu."
Sakura berdiri, menatap Shion dengan pandangan tajam. "Jika kau melakukan hal buruk terhadap sekolah ini, aku tidak akan segan-segan padamu."
Shion tersenyum miring. "Ancaman, kah?"
Sakura berjalan melewati Shion seraya berucap, "terserah kau menganggap itu sebagai ancaman atau tidak." Setelah itu, sosok Sakura menghilang, meninggalkan Shion yang berdiri sendirian di ruangan dewan murid. Sesimpul senyum tercetak di wajah gadis cantik itu.
"Kau tersenyum karena 'kemenanganmu', atau karena kata-kata Sakura?"
Shion masih tersenyum, kemudian ia menoleh pada Gaara dan bertanya, "menurutmu?"
Gaara menyandarkan tubuhnya pada daun pintu. "Setelah berhasil menjabat, apa keuntunganmu?"
"Kebanggaan. Karena telah berhasil melakukan apa yang diperintahkan oleh Uchiha Itachi."
"Jawaban yang bagus." Perkataan Gaara membuat Shion tersenyum, namun perkataan selanjutnya membuat senyuman itu pudar. "Tapi kebanggaan seperti itu tak ada gunanya."
Shion menatap tajam pada Gaara, "apa maksudmu?"
"Kebanggaanmu itu memperjelas statusmu sebagai pion Uchiha Itachi." Gaara tersenyum sinis. "Kebanggaan sesaat, karena Uchiha Itachi akan membuangmu begitu saja. Apakah kau berharap dia akan menikahimu setelah ini? Atau kau akan diberikan puluhan persen dari harta Uchiha? Tidak sama sekali. Kau hanya mencoreng harga dirimu."
"Sebaiknya kau perhatikan ucapanmu, Rei Gaara!" Shion mengepalkan tangannya, emosi gadis itu tersulut mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Gaara.
"Dan kau, sebaiknya kau perhatikan langkahmu, Shion." Gaara menatap tajam pada Shion. "Jika kau masih punya sedikit kecerdasan untuk berpikir, atau sedikit harga diri yang tersisa, kau akan menghentikan semua ini."
Shion terdiam, gadis itu tetap bergeming sampai Gaara meninggalkan gadis itu sendirian.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Braaakk!
"Temeeee!"
Naruto mendobrak pintu atap dan menerjang Sasuke dengan tatapan marah. Pria berambut kuning tersebut mencengkram kerah seragam Sasuke dengan kuat. "Apa yang kau lakukan?!"
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke dengan pandangan tajam.
"Sakura-sama berkata bahwa dia tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi padamu." Sai yang berada di belakang Naruto menjawab pertanyaan Sasuke dengan nada dingin. "Kita langsung mengambil kesimpulan, bahwa kau memutuskannya."
Sasuke membuang wajahnya. Kebungkaman Sasuke membenarkan kesimpulan tiga pemuda itu, membuat mata mereka betiga semakin mengkilat marah.
Dengan cepat, Sai dan Gaara berlari ke arah Sasuke dan menyergap kedua tangan pemuda itu dengan kuat, membuat Sasuke tak bisa melepaskan diri dari mereka.
Bugh!
Naruto memukul wajah Sasuke dengan kuat, membuat pipi pemuda itu memar dan mengeluarkan setetes darah pada sudut bibirnya yang mengelupas. "Kau adalah satu-satunya pelindung bagi Sakura-chan! Tapi apa yang telah kau lakukan padanya?!"
Bugh!
Satu pukulan lagi mengenai wajah Sasuke, kali ini membuat setetes darah mengucur dari hidung pemuda itu, namun sepertinya Naruto masih belum puas meluapkan kekesalannya. "Dia saat ini sedang sangat lemah! Dan kau malah meninggalkannya! Kau tak pantas menjadi ketua kami!"
Bugh!
Pukulan Naruto kali ini mengenai perut Sasuke, membuat pemuda itu langsung mengerang.
"Sekarang kau sangat lemah! Kau bahkan tak bisa melawan kami bertiga! Ke mana perginya ketua kami!? Ke mana perginya Uchiha Sasuke yang kami kenal?!"
Bugh!
"DASAR PENGECUT!"
BUGH!
Sai dan Gaara melepaskan sergapannya, sehingga pukulan Naruto yang terakhir membuat Sasuke terpental jauh ke belakang. Napas Naruto ngos-ngosan, menatap Sasuke dengan pandangan geram, apalagi saat pemuda itu tak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Cih! Kau membuatku sangat kesal!" Naruto hendak maju lagi, namun Gaara memegang pundaknya.
"Cukup, Naruto."
Naruto menghentikan langkahnya dan menghela napas, kembali ia menatap Sasuke yang kini terduduk seraya menyeka darah di sudut bibirnya.
"… maaf."
Pupil Gaara, Sai dan Naruto sejenak mengecil saat mendengar satu kata dari mulut Sasuke yang diucap dengan nada pelan. Sasuke yang tadinya menunduk kini mendongakkan kepalanya dan tersenyum angkuh. "Berikan aku usul, di mana tempat yang bagus untuk mendarat di aula."
Naruto, Gaara dan Sai tersenyum mendengar perkataan Sasuke. "Baik, Ketua."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Terima kasih karena telah hadir di aula." Sakura membuka suara melalui mic di depannya, menatap semua murid dengan senyuman. "Kuharap, penggantiku akan bisa lebih baik lagi dari pada diriku, dan dalam setiap keputusannya akan membuahkan kenyamanan bagi kalian semua."
Semua murid hening, tak ada satu pun yang berbicara. "Maafkan aku, mungkin aku selalu memarahi kalian. Mungkin aku adalah ketua egois yang selalu bertingkah galak pada kalian. Tapi ketahuilah, dalam setiap perilakuku pada kalian, tak ada maksud jahat ataupun niat untuk menyudutkan kalian."
"Sakura-chan …" Hinata berlirih, di sampingnya Ino memegang pundak wanita itu.
Drap! Drap! Drap!
Ino dan Hinata menoleh pada Sai, Gaara dan Naruto yang berlari ke arah mereka dengan senyuman, membuat kedua gadis itu memandang mereka dengan heran.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Ino, namun ketiganya malah mengacuhkan pertanyaan gadis itu.
"Kuharap permintaan maafku akan kalian terima. Aku yakin Shion akan memimpin kalian dengan baik. Maka dari itu, dengan ini aku akan mengun—"
"KETUA! MIMBAR ADALAH TEMPAT YANG BAGUS UNTUKMU!" Naruto berteriak kencang, membuat Sakura menghentikan pidatonya dan menoleh heran pada pemuda itu. Semua murid juga menoleh heran pada Naruto yang mendongak ke atas, ke arah atap aula yang sedikit melengkung ke atas dengan lobang agak kecil di tengahnya.
Syuutt! Braaak!
Semua murid tercenggang kaget, apalagi Sakura saat melihat Sasuke tiba-tiba 'mendarat' di atas mimbar, tempat mic yang membuat benda malang itu terjatuh ke lantai. Ino cengo, sedangkan Hinata memekik kaget.
"S-Sasuke—" Sakura membulatkan matanya. Seketika gadis itu mendongak ke atas, mencari tempat dari mana pemuda itu bisa melompat. Ia menemukan lobang kecil itu, yang kiranya memang cukup untuk ukuran manusia.
Sasuke berdiri, membuat wajahnya bisa dipandang seluruh murid dengan jelas. "Katakan alasan kenapa kalian menuntut Sakura untuk mundur." Pemuda itu kemudian turun, mengambil posisi di samping Sakura. "Apakah karena gosip murahan? Kalian bilang Sakura hamil?"
Tatapan tenang Sasuke tadi berubah menjadi tatapan tajam nan mematikan. "JANGAN BERCANDA!"
PRAAAKKK!
Semua murid terkesiap kaget saat Sasuke menendang mimbar yang terbuat dari kayu tersebut sampai hancur. Para manusia yang berada di ruangan itu bergidik ngeri melihat sosok menyeramkan Sasuke, tak ada yang berani melawan ataupun menunjukkan pergerakan apapun.
"Atau … karena Sakura berpacaran denganku? Apakah kalian ada masalah dengan itu?" Sasuke menatap sekeliling. "Katakan langsung padaku. Siapa yang menentang kami."
Tak ada satu murid pun yang mengangkat tangan, nyali mereka semua menciut mendengar pertanyaan dingin Sasuke. Bahkan pertanyaannya terkesan datar, terdengar tak menuntut jawaban dan jika ada jawaban maka Sasuke akan melahap sang penjawab hidup-hidup.
"Sasuke … apa yang kau lakukan?" tanya Sakura dengan nada pelan sekaligus panik.
"Mereka menentang kalian, menuntut Sakura untuk mundur karena menerima suapan dariku." Sasuke dan Sakura, juga seluruh murid menatap Shion yang berjalan ke arah mereka dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada. "Aku selalu memberi mereka uang, karena itu mereka menuntut Sakura untuk mundur dan ingin jika aku yang menjadi ketua. Benar 'kan?" Shion memasang senyum manisnya, menatap seluruh murid yang kini menundukkan kepalanya.
"Mereka menunjukkan, betapa rendahnya mereka," ucap Shion, membuat Gaara yang menatapnya tersenyum.
"Shion—" Sakura termangu, ada apa dengan wanita itu? Bukannya dia sangat ingin jika Sakura lengser dari jabatannya?
"Nah, jika keadaannya seperti ini, angkat tangan lah bagi kalian yang ingin Sakura tetap pada jabatannya." Shion berucap seraya mengangkat tangannya sendiri, disusul para anggota dewan murid, Gaara, Sai dan Naruto. Secara perlahan, satu-persatu para murid mengangkat tangannya, membuat Shion tersenyum puas. "Nah, maka dari itu, pengunduran Sakura dibatalkan! Kembalilah ke kelas kalian!"
"E—eh? Apa yang terjadi? Kenapa seperti ini?" Sakura celingak-celinguk dengan tampang heran. Sasuke yang kemarin marah, kini membelanya. Shion yang ingin mengambil jabatannya, kini membelanya. Para murid yang kemarin hendak menuntutnya untuk mundur, kini ingin mempertahankannya. Ada apa iniiii?!
"Tch. Aku merasa sangat konyol. Aku yang memulainya, aku pula yang mengakhirinya." Shion mengumpat kesal.
"Kerja bagus." Gaara tersenyum seraya menghampiri gadis itu, membuat Shion membuang wajahnya. "Aku tahu sebenarnya kau adalah orang yang baik."
Shion tersenyum angkuh, "benarkah?" Kini gadis itu menatap pada Sakura. "Dengar, bukan berarti aku juga menyerah padamu, Haruno Sakura. Aku hanya membuktikan bahwa aku juga mempunyai sedikit harga diri."
"Terima kasih, Shion." Sakura tersenyum lembut, membuat Shion melunturkan senyum angkuhnya dan berubah menjadi senyum tulus.
"Dan kau, Rei Gaara." Shion menatap pada Gaara yang juga menatapnya. "Sebagai ucapan terimakasih, berkencanlah denganku."
"Bagaimana jika aku menolak?"
"Aku tak akan membiarkan itu terjadi." Shion menatap Gaara penuh arti, membuat Sai, Naruto, Sasuke, Sakura, Hinata dan Ino yang masih tersisa di aula menatap kedua orang itu dengan tatapan heran.
"Sasuke …?" Sakura berlirih seraya menundukkan kepalanya, namun emerald-nya mendongak menatap Sasuke dengan pandangan cemas.
Sasuke membalikkan badannya, menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Namun sedetik kemudian, bibir tipis pemuda itu menyimpulkan sebuah senyum tipis.
"A—aahh! K-kita akan pergi melihat gaun tunangan 'kan, Hinata?" Naruto segera menggandeng tangan Hinata, membuat gadis itu memandangnya dengan tatapan heran.
"E—eh? Bukannya kau menolak untuk melihatnya hari ini, Naruto-kun?"
"Aku berubah pikiran! Hahahaha! Ayo pergi!" Naruto segera menyeret Hinata dan meninggalkan kode pada Sai dan Gaara.
"Ino, kau bilang akan latihan melukis denganku, bukan?" Sai tersenyum pada Ino, Ino yang peka terhadap kode Naruto segera mengangguk.
"Ya. Ayo kita pergi."
Sai dan Ino juga pergi. Saat Gaara menoleh pada Shion, gadis itu langsung bertanya, "apa? Kau juga akan mengajakku pergi?"
"Kau ingin kencan, bukan?"
Shion tersenyum, "tentu saja."
Sepeninggal mereka, Sakura menunduk. Suasana canggung tercipta di antara mereka berdua. Sasuke juga bingung, dia bukanlah tipe orang yang senang membuka sebuah percakapan.
"Maafkan aku …" lirih Sakura dengan nada memohon. Sasuke menghela napas seraya mengangkat tangannya, mengusap kepala Sakura dengan lembut. Perilaku Sasuke membuat Sakura memberanikan dirinya untuk mendongak, menatap Sasuke dan seketika gadis itu terkesiap.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Sakura khawatir dan hendak menyentuh pipi Sasuke yang terlihat memar, namun tangannya segera ditahan oleh Sasuke.
Tangan Sakura diremas lembut, menjalarkan kehangatan pada hati gadis itu, apalagi saat melihat tatapan dalam Sasuke yang membuat wajahnya memerah. "Maafkan aku, Sakura," ucap Sasuke dengan pelan, membuat air mata jatuh di wajah Sakura secara refleks.
"Aku … tidak mengerti …" Sakura terisak pelan, ia balik meremas tangan Sasuke, menyalurkan emosinya yang dari kemarin tertahan. "… aku tidak mengerti dengan semua perubahan sikapmu … aku tidak mengerti apapun tentang dirimu … kau membuatku sangat hancur … kau membuatku sangat sedih …" Sakura terus terisak, membuat Sasuke memandang gadis itu dengan tatapan bersalah. Ia seharusnya tidak melakukan ini. Ia seharusnya tidak menyakiti wanita itu setelah beberapa tahun yang lalu ia berjanji akan melindungi gadis itu saat mereka bertemu kembali.
Dengan gerakan pelan, ia menuntun wanita itu ke dalam pelukannya. Ia tumpukkan dagunya pada ujung kepala wanita itu. "Maafkan aku. Aku menyesal," ulangnya lagi yang membuat Sakura membalas pelukannya.
"Bisakah aku memulainya lagi?" Sasuke memberi jeda pada kalimatnya. "Bisakah aku memulai hubungan kita kembali?"
Sakura mengeratkan pelukannya dan berlirih, "…kenapa?"
Sasuke terdiam sejenak. "Karena … kau pernah berjanji untuk menuruti kemauanku."
"Bagaimana jika aku menolak?"
Sasuke melepas pelukannya, menatap pada emerald Sakura yang juga menatapnya dengan dalam. "Lalu bagaimana jika alasannya adalah …" Sasuke mengangkat tangannya, menyentuh pipi Sakura dan menyeka air mata gadis itu dengan lembut, "… karena aku mencintaimu."
Sakura tersenyum haru. Ia kembali memeluk Sasuke, memeluknya dengan erat seakan tak mau melepas pemuda itu. "Jika itu alasannya, aku mau."
Sasuke tersenyum tipis. Sakura melepas pelukannya dan memandang pemuda itu dengan tatapan protes. "Tapi aku sungguh tak mengerti perubahan sikapmu. Perubahan sikap Shion. Semuanya! Apa yang terjadi?"
Sasuke menghela napas. "Shion adalah seseorang yang diutus Itachi untuk menghancurkanmu. Sebenarnya tujuan utamanya bukan menghancurkanmu, tapi menghancurkanku dengan menganggu hidup orang-orang di dekatku."
"I-Itachi? Siapa dia? Dan soal kehancuranku … orang di telepon juga berbicara seperti itu. Apakah dia orang yang bernama Itachi?" Sakura bertanya dengan nada menggebu-gebu, namun seketika ia tersentak. "A—ah, maafkan aku. Kau tak perlu menjawab pertanyaanku. Lagi-lagi aku melakukan kesalahan yang sama dengan ingin melewati batas privasimu. Maafkan aku."
"Sudahlah. Aku yang bodoh karena marah dengan hal sepele seperti itu. Aku bertingkah seperti seorang pengecut." Sasuke merasa ia adalah orang bodoh, dia benar-benar pengecut karena takut orang akan mengetahui tentang masa lalunya. Namun sekarang, ia tidak peduli lagi. Pemuda itu tahu bahwa tindakannya yang menyembunyikan semua itu adalah hal yang salah.
"Akan kuceritakan, tentang diriku padamu."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Terima kasih karena telah mengantarku pulang." Sakura tersenyum lembut pada Sasuke yang dibalas anggukan pelan dari pemuda itu.
"Baiklah. Sampai jumpa besok."
Sakura mengangguk. Kemudian gadis itu tertunduk sedih saat tahu bahwa Sasuke akan pulang ke apartemennya, dia akan sendirian di sana. Dada gadis itu serasa sesak setelah mendengar masa lalu Sasuke. Ia bahkan tak bisa menghentikan air matanya yang mengucur deras setelah mendengar saat dia diculik, saat ayahnya bunuh diri, dan bagaimana kakaknya mencampakkannya. Dia sungguh tidak tega.
Refleks, ia menarik baju pemuda itu, membuat langkah Sasuke terhenti. "A-aku akan menelponmu setelah kau sampai di rumahmu. Ah, aku akan menyuruh Sai, Gaara atau Naruto bermalam di rumahmu."
Sasuke menghela napas dan tersenyum tipis. "Kau berpikir bahwa aku akan kesepian?"
Sakura menundukkan kepalanya. "Tapi … kau kesepian, bukan?"
"Aku sudah terbiasa, Sakura. Jangan khawatirkan hal itu." Sasuke mengusap pelan pucuk kepala Sakura. "Kalau kau ingin membuatku tidak kesepian lagi, maka menikahlah denganku lima tahun mendatang."
Wajah Sakura memerah mendengar 'lamaran' Sasuke. "T-tidak usah menunggu lima tahun. K-kalau aku dan kau sudah tamat kuliah—"
Sasuke terkekeh. Ia mencondongkan tubuhnya dan mengecup pelan bibir Sakura. "Aku akan mengingat kata-katamu itu."
Sakura tertawa kecil, kemudian gadis itu menunjukkan wajah serius. "Dengarkan aku, Sasuke. Kau tidak bersalah. Apapun yang terjadi di masa lalumu, kau sama sekali tidak bersalah." Sakura menatap Sasuke dengan pandangan tegasnya. "Kau tidak melakukannya dengan sengaja. Kau tidak berniat untuk menghancurkan keluargamu. Jangan salahkan dirimu atas apa yang terjadi. Jangan bersikap lemah di depan kakakmu dan buktikan padanya bahwa kau tidak bersalah."
"Aku yakin, Ibu dan Ayahmu bahkan tak menyalahkanmu atas semua yang terjadi. Itu adalah takdir dan kau tidak bisa melawannya. Yang bisa kau lakukan, hanyalah meyakinkan kakakmu." Sakura tersenyum. "Walau kakakmu bersikap seperti itu, aku yakin, di lubuk hatinya yang paling dalam, ia pasti masih menyimpan rasa kasih sayangnya padamu. Aku yakin dia tidak bisa membenci orang yang begitu ia sayangi."
"Kuharap kau benar," ucap Sasuke dengan sungguh-sungguh. Setelah itu, ia kembali pamit pada Sakura yang terus melihatnya sampai punggungnya benar-benar menghilang dari pandangan gadis itu.
Sepanjang jalan, Sasuke terus terngiang oleh kalimat Sakura. Benarkah Itachi masih menyimpan rasa kasih sayang padanya?
Walaupun ada, mungkin hanya 0,1 persen yang tersisa.
Drrtt … drrtt …
Sasuke merasa ponselnya bergetar. Sakura kah?
Pemuda itu meraih ponselnya yang dari tadi terbenam di saku celananya. Ia melihat pada layar. Nomor asing dengan kode luar negeri. Ia tahu, satu-satunya orang yang akan menelponnya dari luar negeri adalah—
"Hai, adik yang tidak berguna," sapa sang penelpon dengan nada sinis. "Sepertinya kau berhasil membuat gadis itu gagal mundur dari jabatannya."
Sasuke tetap terdiam, menunggu ucapan Itachi selanjutnya, "tapi lihat saja selanjutnya. Kita lihat sejauh mana kau bertahan melihat orang-orang di sekitarmu hancur satu-persatu."
"Hei, Pengecut." Sasuke berucap dengan nada dingin dan sinis. "Berhentilah bertingkah seperti seorang pengecut dengan menganggu orang-orang di sekitarku. Jika kau mempunyai sedikit keberanian, datanglah ke Jepang dan hadapi aku secara langsung."
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hei, Pengecut." Itachi melebarkan onyx-nya, baru kali ini Sasuke mengatainya seperti itu. "Berhentilah bertingkah seperti seorang pengecut dengan menganggu orang-orang di sekitarku. Jika kau mempunyai sedikit keberanian, datanglah ke Jepang dan hadapi aku secara langsung."
Tuutt … tuuutt …
Itachi tercenggang. Keberanian Sasuke yang menantangnya secara terang-terangan begitu mengejutkannya. Tanpa sadar, ia tersenyum.
"Konan," panggilnya pada sekertarisnya.
"Ya, Tuan?"
"Pesankan aku tiket untuk ke Jepang. Carilah penerbangan yang paling cepat."
"…baik."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be Continued
Ini genre-nya bukan hurt/comfort, jadi saya gak mau hurt-hurt-nya banyak. Jadi masalah sasusaku selesai saat ini juga. #ketukpalutigakali
Aku lagi mau cepet-cepet namatin fic ini hiks publish-nya kalo ga salah 2013 kan yah, atau 2014? Pokoknya ini sudah 2016 dan aku merasa kasihan sama reader yang nunggu (kalo ada) :'( #waibarusekarang
Sankyu yang udah ripiu chapter kemarin :')
Walau aku rasa ketikanku tambah kacau balau #pusing
Dan chapter depan Itachi ke Jepaaang yey! Yey! Yey! #hebohsendiri
Sudahlah. Mind to review again?
Thanks.
Sign,
HanRiver
