Identity
Exonoir
Chanyeol x Baekhyun
Romance, Smut, Fantasy, GS
Warning YAOI area. Don't like, don't read.
.
.
Chapter 9. Lost and Found
.
.
Malam itu Chanyeol sengaja mematikan seluruh lampu di apartemen seperti biasanya. Dia berjalan melewati dapur dengan membawa secangkir darah hangat untuk membuatnya tetap tenang—tapi orang bodoh siapa yang Chanyeol bohongi?
Sejak Kris mengatakan identitas Baekhyun yang sebenarnya, Chanyeol tidak bisa berhenti memikirkannya—bukan karena ia tidak percaya dengan kata-kata Kris, melainkan karena ia tidak melihat Baekhyun sebagai ancaman. Chanyeol sangat mempercayai Kris, karena hanya dia lah satu-satunya orang yang tidak menganggapnya aneh karena kerap meminum darah gadis-gadis cantik sebagai pemuas nafsunya. Tapi sejak Baekhyun pergi dari apartemennya, entah kenapa ia merasa hampa.
Chanyeol menatap genangan darah didalam cangkir itu untuk sekali lagi sebelum ia memutuskan untuk meneguknya—tapi entah kenapa ia justru merasa sedang tidak berselera. Normalnya, ia pasti akan langsung meneguk darah itu tanpa berpikir dua kali. Namun kali ini? Sesuatu yang salah telah terjadi padanya.
Lelaki dengan telinga yang lebar itu mencoba untuk mengesampingkan seluruh asumsi tololnya, dan meminum secangkir darah itu dalam sekali teguk. Dan tepat seperti apa yang ia bayangkan, bukannya ia mendapat ketenangan batin, Chanyeol malah merasa ingin muntah.
Diletakkannya cangkir itu keatas konter, sementara ia memuntahkan seluruh darah yang ia minum ke wastafel dapur. Dia bahkan berkumur beberapa kali untuk menghilangkan sisa-sisa darah yang masih ada didalam mulutnya. Disaat itulah ia mulai menyadari jika sesuatu benar-benar terjadi padanya. "Fuck!" Chanyeol memaki dirinya sendiri sambil memukul konter marmer disamping wastafel dengan cukup keras.
Mungkinkah dia sakit karena jadwal konser yang terlalu padat? Chanyeol menempelkan telapak tangannya pada dahi untuk mengukur suhu tubuhnya sendiri. Tidak—ini bukan demam. Suhu tubuhnya normal seperti biasa. Denyut jantungnya pun juga tidak ada yang aneh. Nyaris tidak ditemukan kecacatan pada dirinya. Lantas, kenapa ia tiba-tiba tidak berselera terhadap darah?
Ketika Chanyeol mengusap wajahnya yang masih basah menggunakan kerah baju, ponselnya tiba-tiba berbunyi dari atas meja diruang tv. Tanpa mau melihat nama yang tertera pada layar ponselnya, Chanyeol langsung mengangkat telepon itu karena ia tahu persis siapa penelponnya.
"Hm?!" ia bergumam dengan gusar pada seseorang diseberang sana.
"Aku sudah melakukannya dengan gentle seperti yang kau perintahkan," seperti dugaannya, suara serak itu berasal dari Kris. Chanyeol tidak pernah mendapat telepon ditengah malam jika bukan ulah Kris-atau-dari-Adik-kesayangannya, Park Sooyoung.
Chanyeol tidak menjawab, ia sedang tidak berselera untuk berbicara kepada siapapun saat ini. "Ada yang harus kulakukan lagi?" Kris melontarkan pertanyaan masih dengan nada yang sama, datar-dan-dingin seperti mesin pembunuh.
"Tidak ada." Ucap Chanyeol dengan suara pelan yang nyaris dapat didengar. Ia kemudian menutup sambungan telepon secara sepihak setelah menyelesaikan perkataannya. Chanyeol membuang ponselnya ke sofa sementara dirinya kembali kedapur, untuk mencari apapun yang dapat dimakan. Tapi setelah ia melihat tumpukan sayuran dan buah-buahan yang dibelikan oleh Manager Kim sebagai diet hariannya—Chanyeol merasa tidak berselera.
Seminggu telah berlalu. Hingga detik ini Chanyeol selalu menolak untuk makan dan minum. Meski Manager Kim telah bersikeras membujuknya untuk makan sesuatu, ia tidak bergeming. Lelaki yang lebih tua itu heran karena ia tidak pernah melihat Chanyeol sekacau ini sebelumnya. Dia bahkan lebih memilih untuk mengunci dirinya didalam kamar ketika mereka tidak ada jadwal konser, variety show, photoshoot, dan yang lain sebagainya.
Tubuh Chanyeol mengalami penurunan badan karena ia menolak untuk makan; ia juga selalu terlihat lemas dengan tatapan mata yang kosong seperti tubuh tanpa jiwa. Dan tidak sedikit fans setianya yang menyadari ada keganjilan dari sang idola karena seolah ia telah kehilangan cahayanya.
Sesuatu pasti ada yang salah dengannya.
"Kau yakin akan baik-baik saja? Kita bisa batalkan jadwal konsernya jika kau tidak sehat, Yeol." Seperti biasa, Manager Kim tidak tega melihat Chanyeol memaksakan diri duduk ditepi ranjang dengan rambut yang acak-acakan dan wajah yang pucat seperti orang mati. Dia benar-benar terlihat sangat berantakan, bahkan Manager Kim tidak dapat mengenalinya lagi.
"Aku baik-baik saja." Chanyeol menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan. "Kau tidak perlu khawatir denganku, Hyung." Ia menambahkan, seolah itu akan membuat Manager Kim merubah pemikirannya—tapi tidak tentu saja. Manager Kim tidak se-tolol itu, belum.
"Kau sakit. Lebih baik kau istirahat. Aku sudah menyuruhmu makan berkali-kali, tapi kau tidak menyentuh makananmu sama sekali. Ada apa denganmu?" Lelaki yang lebih tua menyentuh bahu kiri Chanyeol dengan lembut. "Aku tidak ingin kau terlibat masalah yang besar, Yeol. Ingat, para fansmu akan mengkhawatirkan—" belum selesai ia bicara, Chanyeol tiba-tiba memotong perkataannya.
"Sudah kukatakan, aku baik-baik saja!" Chanyeol menghempas tangan Manager Kim dari bahunya dengan kasar. "Aku hanya kurang tidur, itu saja!" ia beralasan, meskipun ia sendiri yakin jika Manager Kim tidak akan mempercayainya.
Manager Kim menghela napas rendah. Dia tidak bisa berbuat banyak jika sudah berhadapan dengan sikap keras kepala Chanyeol. Lelaki yang lebih tua memilih untuk meninggalkan ruangan—memberi Chanyeol privasi untuk mandi dan juga mengganti bajunya, karena mereka harus tiba di Bandara pukul 9 pagi.
9
Flash kamera tertangkap oleh indera penglihatan Chanyeol dari kejauhan. Paparazi terus menerus mendekatinya seperti lebah yang mengelilingi sang ratu. Mereka tidak henti-hentinya melontarkan pertanyaan yang sama dan berulang-ulang seputar kematian gadis yang menjengkelkan itu—tapi Chanyeol memilih untuk membungkam mulutnya, tentu saja. Tidak ada yang perlu ia katakan karena pengacaranya telah mengatakan semuanya kepada media—meskipun alibinya itu tidak seutuhnya benar.
Suara teriakan fans menggema ditelinga Chanyeol ketika ia berjalan membelah lautan manusia yang memenuhi pintu keberangkatan internasional dikala itu. Mereka meneriaki namanya berulang kali seolah memberikan semangat untuknya—namun anehnya, itu tidak membuatnya bahagia seperti biasanya.
Chanyeol menutup wajahnya menggunakan masker dokter, kacamata hitam, dan juga topi—buah tangan dari Tao ketika lelaki itu pulang dari Paris tahun lalu. Dia benar-benar sedang tidak berselera memasang senyum palsu seperti yang biasa ia lakukan ketika berada didepan kamera. Yang ia inginkan saat ini hanyalah kesendirian, itu sudah lebih dari cukup.
Ketika Chanyeol melewati seseorang dengan hoodie hitam yang telah berdiri dibarisan paling depan dari lautan manusia itu, Chanyeol tiba-tiba mendengar sesosok misterius itu berbicara. "Aku tahu kau yang membunuhnya." suara serak itu terdengar sangat-sangat jelas di telinga Chanyeol hingga membuatnya membalikkan badan. Tapi ketika Chanyeol mencari keberadaan lelaki misterius itu, ia telah menghilang seolah tidak pernah ada disana.
Manager Kim yang menyadari jika Chanyeol menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, turut ikut berbalik kebelakang, kemudian menarik lengan Chanyeol untuk membuatnya kembali berjalan. "Kenapa kau? Bertemu dengan teman lamamu?" ia bertanya, tapi Chanyeol tidak menjawab.
Siapapun itu, yang jelas dia telah mengetahui rahasia Chanyeol.
"Hei, kau baik-baik saja?" Manager Kim kembali bertanya lagi ketika mereka berdua telah menjauh dari kerumunan para fans.
Chanyeol lagi-lagi tidak menjawab. Dia menatap lantai marmer bandara sementara seorang petugas wanita menyuruhnya untuk mengangkat kedua tangannya ke udara untuk diperiksa menggunakan alat pendeteksi metal.
Manager Kim kembali mendesah karena pertanyaannya tidak kunjung mendapat jawaban dari Chanyeol, "Pastikan kau banyak istirahat saat dipesawat nanti." Ucapnya pelan. "aku tidak ingin kau sakit, karena minggu ini kita akan memiliki banyak jadwal." Tambahnya.
Chanyeol menganggukkan kepala tanpa mengatakan apapun untuk membantah yang lebih tua. Ia memilih untuk mengikuti semua perkataan Managernya karena tidak ingin membuat keributan dibandara hingga mengundang paparazi. Ditambah, perhatian Chanyeol kini terpusat kepala lelaki dengan hoodie hitam itu. Apakah dia Sehun?—sepertinya tidak. Terakhir kali ia bertemu dengan Sehun adalah ketika dipelelangan waktu itu, bocah tengik itu juga masih memakai kursi roda. Lalu siapa dia?
Pemikiran yang memusingkan itu membuat Chanyeol semakin lelah. Ketika ia berada didalam pesawat, Chanyeol memutuskan untuk mengistirahatkan matanya sejenak sebelum tiba di negara tujuan mereka, Jepang.
9
"Maaf membuat anda datang secara mendadak, Mr dan Mrs Byun." Kepala Polisi Oh menjabat tangan kedua orangtua Baekhyun sebelum menyuruh mereka untuk duduk pada kursi didepan meja kantornya. "silahkan duduk," tambahnya dengan ramah.
Byun Jungsu tersenyum lembut ketika Kepala Polisi itu mempersilahkan mereka duduk. "Kami tidak keberatan, sir." ucapnya sembari menggenggam tangan istrinya untuk menyembunyikan kegugupan yang ia rasakan.
"Saya memiliki berita baik dan berita buruk untuk anda. Berita baiknya, beberapa saat yang lalu saya mendapat telepon dari bawahan saya jika Byun Baekhyun telah ditemukan." raut wajah kedua orang tua Baekhyun berubah ketika mendengar pernyataan dari Kepala Polisi Oh.
Jessica Jung menghapus air mata yang berlinang dikedua pipinya menggunakan saputangan, dengan wajah yang bersemu merah. "Syukurlah..." wanita itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, sementara Byun Jungsu mengusap kepala sang istri sambil menahan air matanya.
"...lalu, apa berita buruknya?" Byun Jungsu bertanya pada Kepala Polisi Oh dengan sedikit ketakutan dalam perkataanya.
"Berita buruknya, sepertinya Baekhyun-ssi menolak untuk pulang."
Kedua orangtua Baekhyun saling menatap dalam diam. Dosa apa yang telah mereka lakukan hingga membuat Baekhyun tidak ingin bertemu dengan kedua orangtuanya? Semua yang telah mereka lakukan selama ini untuk membuat Baekhyun tetap aman. Tapi siapa yang mereka bohongi? Mereka tidak pernah memikirkan perasaan Baekhyun—yang membuatnya selalu terbangun dalam mimpi buruk yang tiada berhenti. Mereka pantas untuk mendapat balasan yang menyakitkan seperti ini—karena mereka tidak pernah memberikan kasih sayang kepada putri kecilnya itu.
"Jika kalian ingin membujuknya sendiri, kami bisa mengantar kalian." ucap Kepala Polisi Oh, memberi solusi. "Saat ini dia berada di Rumah Sakit kecil di daerah Namwon karena mengalami hipoter—"
"Tunggu sebentar. Namwon? Putri kami berada di Namwon? Bagaimana bisa?" Byun Jungsu menyela pernyataan Kepala Polisi Oh. Mereka tidak pernah membawa Baekhyun ke Namwon sebelumnya, tapi kenapa tiba-tiba dia justru berada disana?
"Itu benar. Sejujurnya kami juga tidak mengerti kenapa dia bisa berada di Namwon. Tidak perlu khawatir, kami akan mencari tahu melalui CCTV di daerah setempat. Dan yang terpenting, untuk sekarang Baekhyun-ssi telah ditemukan dan berada dalam keadaan yang baik."
Itu benar. Mereka seharusnya tidak perlu mempermasalahkan yang lainnya karena putri kecil mereka telah ditemukan. Dan untuk masalah siapa-pelaku-dari-penculikan-tersebut, mereka akan menyerahkan semuanya pada pihak yang berwajib untuk ditelusuri lebih lanjut.
"Terima kasih banyak, Kepala Polisi Oh." sang musisi bangkit dari kursi untuk menjabat tangan pria paruh baya yang duduk dihadapan mereka. "kami sangat terbantu," lanjutnya.
"Tidak perlu sungkan, Mr Byun. Kami sangat senang dapat membantu anda." Kepala Polisi Oh turut ikut bangkit dari kursinya, kemudian beliau menjabat tangan Byun Jungsu.
9
Perjalanan dari Incheon International Airport menuju Narita International Airport tidak membutuhkan waktu yang lama. Ketika sampai ditujuan, mereka telah disambut oleh ratusan fans yang membawa poster lebar yang bertuliskan CHANYEOL IS LOVE berwarna-warni yang ditulis menggunakan Hangul.
Sama seperti ketika berada di Korea, Chanyeol tidak menyapa ataupun bersedia untuk membuka penutup wajahnya. Dia berjalan dibelakang Manager Kim dalam diam—meskipun pikirannya masih terbayang-bayang dengan sosok lelaki misterius hoodie hitam itu.
"Yeol, ayo masuk." Manager Kim membuyarkan lamunan lelaki itu ketika mereka tiba didepan sebuah mobil mercedes-benz hitam mengkilat—yang telah menunggu mereka didepan bandara sejak sejam yang lalu.
"Hmm..." Chanyeol bergumam rendah ketika sang Manager menahan pintu mobil untuknya. Ia memposisikan dirinya duduk didalam mobil jemputan itu agar mereka segera diantar menuju hotel. Sebelum mereka berangkat, Chanyeol menurunkan kaca mobil sedikit, kemudian melambaikan tangannya keluar untuk memberikan fanservice sedikit kepada para fansnya.
Tidak sampai 30 menit setelah perjalanan dari Narita International Airport, raungan mobil yang di naiki oleh Chanyeol berhenti didepan sebuah bangunan pencakar langit yang megah. Chanyeol berasumsi jika itu adalah hotel yang akan mereka tinggali selama mereka berada disana.
Tanpa menunggu sang Manager untuk membukakan pintunya, Chanyeol buru-buru keluar dari mobil dengan headphone wireless beats audio berwarna merah yang melingkar dilehernya. Dia tidak suka menunggu—apalagi kalau disuruh menunggu sang Manager yang sibuk menelpon seseorang dan berbicara Bahasa Jepang dengan cukup fasih.
Untuk satu detik itu, ia tiba-tiba teringat terhadap Baekhyun. Ia tidak mengerti kenapa hatinya terasa sesak setiap ia terbayang-bayang oleh sosok mungil yang selalu terlihat tegar meskipun ia berada dalam situasi yang sulit—berbanding terbalik dengan dirinya. Chanyeol tidak suka berpura-pura. Jika dia tidak menyukai sesuatu, ia pasti mengatakannya secara terang-terangan. Sementara Baekhyun? Ia tidak pernah mengeluh sekalipun ketika Chanyeol dengan buas menyiksanya secara bertubi-tubi. Baekhyun malah membuatnya merasa aman ketika berada disisi gadis itu. Tapi kenapa ia justru tega membuang gadis itu ke tempat yang antah berantah?
Chanyeol mengeluarkan koper keperakan miliknya yang dipenuhi dengan stiker nama negara-negara yang pernah ia kunjungi dari dalam bagasi mobil.
Benar, ia tidak pernah sekalipun melihat Baekhyun sebagai ancaman baginya. Dia bahkan masih tidak bisa mempercayai kata-kata Kris yang menuduh jika Baekhyun adalah seorang Hacker berbahaya. Apakah itu hanyalah strategi Kris untuk menyingkirkan Baekhyun dari apartemennya? Tidak. Itu tidak mungkin. Ia mengenal Kris lebih dari setahun. Dia tidak mungkin melakukan hal itu padanya. Kris adalah teman dekat dari Tao, jadi ia tidak mungkin berbohong.
Lalu, kira-kira apa yang sedang Baekhyun lakukan sekarang? Apakah dia masih hidup?—atau mati? Ia cukup yakin jika telah menyuruh Kris untuk membuang Baekhyun ditempat yang mudah di lihat orang. Tapi sampai detik ini ia tidak mendengar berita apapun di media jika Byun Baekhyun telah ditemukan oleh keluarganya. Apakah Kris berbohong?
Sial. Pemikiran yang memusingkan ini membuat Chanyeol sakit kepala. Ia menyernyitkan dahi sementara tangan kanannya menarik koper miliknya masuk ke dalam hotel itu.
Manager Kim menyusul Chanyeol masuk kedalam hotel sembari menarik dua buah koper berwarna hitam yang besar-besar dikedua tangannya. "Oh..." lelaki yang lebih tua kagum melihat ornamen-ornamen khas Natal-dan-Tahun-Baru yang dipajang didalam hotel itu.
Chanyeol memposisikan dirinya duduk pada sofa empuk yang dekat dengan resepsionis, sementara ia menunggu Manager Kim untuk check in. Lelaki itu menyilangkan kakinya dengan nyaman sambil menyandarkan punggungnya pada permukaan sofa. Ia menempelkan headphone wireless miliknya ke telinga, kemudian mendengarkan playlist favoritnya didalam spotify. Dan entah mengapa lagu pertama yang ia dengar justru menggambarkan perasaan Chanyeol saat ini, We The Kings - Sad Songs (ft. Elena Coats).
Apa mungkin dia merindukan Baekhyun?
"Jadi kau menyukainya?" Chanyeol terdiam ketika mendengar pertanyaan yang mendadak dari sang Manager yang kini telah berada didepannya.
Tunggu, apa maksudnya 'menyukainya?'. Mungkinkah pertanyaan itu mengaju pada... Baekhyun?
"T-tidak! Aku tidak menyukainya. Mungkin... sedikit. Entahlah! Jangan bertanya yang tidak-tidak!" Sahut Chanyeol dengan panik, ia bisa merasakan wajahnya memanas dibalik masker dokter yang dipakainya.
Manager Kim mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti, "Apa yang kau bicarakan? Jadi kau itu menyukai hotel ini atau tidak? Kenapa kau berbelit sekali."
Chanyeol menggigit bibir untuk menutupi rasa malunya. "Bukan apa-apa." Ia menjawab dengan ketus agar Manager Kim tidak bertanya macam-macam lagi padanya.
"Kau bersikap aneh dari hari ke hari, Yeol." Manager Kim menyipitkan matanya dengan tampang curiga. "Well, sudah kudapatkan kuncinya. Jadi, lebih baik kita masuk sekarang." Ia memamerkan kunci kartu hotel yang berwarna keemasan dengan garis berwarna biru berbentuk gelombang ditengah-tengah kartu itu.
9
"KONBANWA, TOKYOOOOOOOOOOOOO!" Teriakan Chanyeol yang menjulang disambut meriah oleh puluhan ribu manusia yang telah memenuhi Tokyo Dome sejak sore hari. Mereka mengangkat ponsel mereka tinggi-tinggi dengan flash yang dibiarkan menyala seperti selayaknya lightstick.
"It's so good to be here today!" Ia melanjutkan, masih dengan nada yang sama. Chanyeol telah berhasil membuat puluhan ribu manusia dibawah sana kegirangan ketika mendengar Chanyeol berbicara menggunakan Bahasa Inggris—mengingat kemampuan Bahasa Jepang-nya masih tidak terlalu bagus.
Ia menempelkan sebelah headphone-nya ke telinga, sementara tangannya yang lain memutar beberapa kenop pada alat CDJ miliknya. "TOKYO, ARE YOU READY!?" Ia berteriak sembari menempelkan microphone pada mulutnya. Kemudian ia memutar salah satu single miliknya yangia remix dengan lagu milik penyanyi lain—dan berhasil membuat teriakan para fansnya semakin memanas didalam Tokyo Dome. Mereka menggoyangkan ponselnya ke kanan-dan-kiri, membentuk seperti lautan cahaya berkelip yang sangat indah.
Chanyeol mengeluarkan ponsel miliknya, kemudian memotret wajahnya sendiri dengan background puluhan ribu cahaya dari fansnya. Ia kemudian memposting foto itu kedalam Instagram dengan membubuhi sebuah hastag #Tonight #TokyoDome.
Selama konser berlangsung, Chanyeol tiba-tiba merasa jika kepalanya semakin berat dari waktu ke waktu. Tapi ia berusaha untuk tidak terlalu memperdulikannya karena profesionalitasnya dalam bekerja—dia bahkan sampai berpegangan kepada meja untuk menahan tubuhnya agar tidak tumbang didepan seluruh fans yang datang malam itu.
Meski begitu, Chanyeol tetap mengajak para fansnya untuk berpartisipasi dalam mengangkat-dan-menurunkan ponsel sebelum ia melanjutkan lagu yang selanjutnya.
"Fuck." Chanyeol berbisik pada dirinya ketika sakit dikepalanya semakin menjadi. Parahnya, denyut jantung lelaki itu berdebar sangat kencang seperti sedang mengikuti pacuan kuda—dengan kedua tangan yang gemetaran dan juga keringat yang tidak berhenti menetes diwajah rupawannya. Semoga saja dia mampu menyelesaikan konser itu hingga satu jam kedepan; dan mengingat kondisi fisik Chanyeol yang sudah lemah sejak awal, sepertinya ia tidak akan mampu bertahan lama.
Benar saja, seluruh pandangan mata Chanyeol makin lama makin berbayang ketika lelaki jangkung itu sedang memutar beberapa kenop alat CDJ miliknya. Dia mencengkram meja menggunakan satu tangan untuk membuatnya bertahan—tapi siapa yang Chanyeol bohongi? Tubuhnya sudah tidak mampu lagi untuk berdiri.
Seketika itu juga, semuanya menjadi gelap.
9
Chanyeol merasakan ada sebuah telapak tangan 'seseorang' yang membelai pipi kanannya dengan lembut. Tanpa mau membuka kedua matanya, ia langsung menggenggam pergelangan tangan itu dengan erat—seolah ia tidak memperbolehkannya untuk pergi.
Awalnya Chanyeol mengira jika tangan 'seseorang' itu adalah milik Ibunya—tapi ternyata dia salah. Tangan itu adalah milik Baekhyun. Gadis yang lugu itu tersenyum lebar ketika Chanyeol pada akhirnya membuka kedua matanya. Pandangan mata mereka bertemu selama beberapa detik, sebelum akhirnya Chanyeol membuka mulut untuk bicara.
"Maafkan aku..." lelaki itu menempelkan telapak tangan Baekhyun pada hidungnya. Ia mengendus aroma jemari Baekhyun hingga membuat gadis itu terkikik kegelian. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Baekhyun-ah. Aku kehilangan arah..." tanpa ia sadari, air mata menetes dipelipis matanya. Gejolak rasa sakit yang tidak tertahankan itu membuat Chanyeol meringis. Dia tidak pernah merasakan perasaan kehilangan yang mendalam sejak kematian Ibunda tercinta bertahun-tahun yang lalu.
"Hei, katakan sesuatu..." ia kembali menatap mata Baekhyun, namun bukannya menjawab, gadis itu malah membuang pandangannya. Baekhyun terlihat begitu sedih meski ia tidak mengatakan apapun kepada Chanyeol. Ia menundukkan kepala dan menyembunyikan wajahnya menggunakan rambut panjangnya yang terurai.
"Baekhyun-ah..." Chanyeol menggapai rambut gadis itu, kemudian menyingkirkan poni rambut Baekhyun ke belakang telinganya dengan lembut. "Aku tahu kau tidak akan pernah memaafkan kesalahanku. Tapi tolong beri aku kesempatan sekali lagi..." Chanyeol menyentuh dagu Baekhyun agar membuat gadis itu menoleh kearahnya.
"Byun Baekhyun..." suara serak Chanyeol yang basah menggelitik telinga Baekhyun. Gadis dengan jemari yang lentik itu menatap Chanyeol untuk yang terakhir kalinya sebelum ia memutuskan pergi.
"Good bye, Chanyeol-ssi." Dan dalam sekejap mata, Baekhyun tiba-tiba menghilang dari hadapan lelaki itu seperti asap rokok yang tertiup angin. Chanyeol bangkit dari tidurnya, kemudian ia berlari dan terus berlari untuk mencari keberadaan Baekhyun. Tapi ia tidak menemukannya dimanapun. Gadis itu telah pergi dari sisinya dan tidak akan pernah kembali.
Kedua kaki Chanyeol terasa lemas karena sejak tadi tidak berhenti berlari. Ia kemudian tersandung oleh sebongkah batu—membuatnya terjatuh hingga kedua lututnya mengeluarkan darah. Mungkin ini adalah hukuman dari Tuhan karena meninggalkan Baekhyun dengan begitu mudah. Ia memang tidak pantas mendapat ampunan dari Baekhyun karena dosanya yang sudah terlampau besar.
"Shit!" Lelaki itu mengutuk dirinya sendiri sembari memukul tanah beberapa kali. Dia kecewa terhadap dirinya sendiri. Namun apa yang bisa dia lakukan sekarang? Baekhyun telah pergi dari kehidupannya. Dia sudah tidak memiliki siapapun lagi untuk bersandar.
9
Chanyeol membuka kedua matanya dan menatap langit-langit disuatu ruangan yang terasa sangat asing baginya. Ia mengangkat tangan kanannya, dan mendapati sebuah selang infus telah menancap dipunggung tangan itu.
Mimpi? Yang tadi hanyalah mimpi?
Chanyeol mengusap dahinya yang tidak keringatan menggunakan tangan yang lain. "Minseok Hyung..." ia memanggil sang Manager dengan suara yang lirih, namun tidak ada jawaban. "Minseok Hyung..." ia memanggilnya lagi. Tak lama berselang, pintu kamar VVIP milik Chanyeol tiba-tiba terbuka sedikit, dan memperlihatkan siluet seseorang masuk kedalam kamar itu.
"Hyung, kenapa aku disini...?" Masih dengan nada yang sama, Chanyeol memijat kedua pelipis matanya menggunakan ibu jari dan jari tengah secara bersamaan karena kepalanya yang masih terasa sedikit pusing. "Apa yang terjadi...?" Lanjutnya.
Tidak ada balasan.
Chanyeol menatap siluet itu didalam kegelapan, karena Manager Kim tahu Chanyeol tidak suka jika lampu didalam kamarnya menyala—terlebih ketika dia sedang tidur. Namun kali ini sepertinya ada yang aneh—seolah itu bukan Manager Kim.
"Hyung?" Ia memanggil lagi, tetap tidak ada jawaban.
Dengan hati-hati, Chanyeol meraih tombol bantuan berwarna merah untuk memanggil perawat, namun ketika ia hendak memencet tombol, seseorang telah mencengkram pergelangan tangannya dengan cukup kuat secara tiba-tiba.
"Kalau kau memencet itu, aku akan mematahkan tanganmu." Suara itu—itu adalah suara yang sama seperti yang ia dengar dibandara Incheon waktu itu. Si lelaki misterius dengan hoodie hitam.
Chanyeol menoleh ke sumber suara untuk menguatkan asumsinya, dan tepat seperti yang ia kira. Lelaki itu memakai hoodie berwarna hitam dan juga masker dokter untuk menutupi wajahnya.
"Siapa kau? Apa yang kau mau dariku!?" Itu adalah pertanyaan tolol yang selalu muncul ditengah-tengah adegan menegangkan didalam film horror.
"Kau tidak perlu mengetahui namaku. Karena kau akan mati hari ini, Park Chanyeol!" Lelaki itu mengeluarkan pisau dari saku celananya. Namun, untung saja, Chanyeol dengan refleks berhasil menahan tangan lelaki itu menggunakan tangan kirinya.
"MINSEOK HYUNG! MINSEOK HYUNG!" Chanyeol tidak berhenti memanggil nama sang Manager, tapi lelaki yang lebih tua itu tidak kunjung muncul. "TOLONG! SIAPAPUN!" Chanyeol menjauhkan pisau yang ada ditangan lelaki misterius itu dari wajahnya dengan sekuat tenaga, meski ia yakin jika itu masih belum cukup—mengingat ia masih terbaring lemah diatas ranjang Rumah Sakit.
"Lihat dirimu! Kau membunuh Yerim dengan tangan dingin! Dan sekarang kau meminta seseorang untuk membantumu?" Suara lelaki itu terdengar bergetar ketika ia mengucapkan nama seorang gadis yang Chanyeol yakini adalah korban dari kengerian Kris-dan-juga-dirinya. "Kau sungguh tidak tau malu, Park Chanyeol!" Ia mengerahkan seluruh tenaganya agar pisau itu dapat menembus leher Chanyeol.
"AKU TIDAK TAHU APA YANG KAU KATAKAN!" Chanyeol berpura-pura bodoh tentunya. Dia tidak ingin ada siapapun mengetahui rahasia terbesarnya, selain orang-orang yang ia percaya saja. Meski lelaki itu pada akhirnya akan mati ditempat seperti ini, ia akan mengubur rahasia itu bersamanya—jika itu yang diperlukan.
"Kau jangan berlagak polos, manusia tengik! Yerim menghubungiku ketika kau berada didepan kamar hotelnya! Dia mengatakan padaku jika akan pulang pagi-pagi sekali—tapi dia malah mati! Dan kau yang telah membunuhnya! Kau membunuh Adikku!"
Kedua mata Chanyeol membulat lebar ketika ia melihat lelaki misterius itu mengeluarkan air mata. Bukankah Kris telah menguntit gadis itu sebelum membunuhnya? Dia hanya membunuh gadis-gadis cantik putus asa yang menginginkan mati—tapi ketika mendengar ia pernyataan lelaki itu, ia tidak melihat keputusasaan dikehidupan mereka. Mereka malah terlihat seperti keluarga yang bahagia.
"MINSEOK HYUNG!" Chanyeol berteriak dengan suara tercekat sembari menghentak-hentakkan kedua kakinya pada ranjang Rumah Sakit untuk membuat kegaduhan. Kurang sedikit lagi, pisau itu akan benar-benar menancap ditenggorokannya jika tidak ada seorangpun yang menolongnya.
"Kau akan mati ditanganku, Park Chanyeol!" Lelaki misterius itu memperkuat tenaganya. Ia mendorong pisau itu hingga menempel pada leher Chanyeol.
"God dammit!" Chanyeol mengumpat sembari menutup kedua matanya erat-erat. Ia tidak ingin melihat darah yang memercik keluar dari tenggorokannya sendiri ketika pisau itu menancap nantinya.
Aku akan mati. Aku akan mati. Aku akan mati. Aku akan mati. Aku akan mati. Aku akan mati. Aku akan mati. Aku akan mati. Aku akan mati. Aku akan mati. Chanyeol mengulang-ulang kalimat itu didalam pikirannya seperti sebuah kaset yang rusak.
"WHAT THE—" sebuah suara seorang perempuan mengejutkan keduanya. Mereka menoleh kearah gadis berambut hitam legam yang membawa sebuah bouquet bunga raksasa dipelukannya. "NURSE!" Karena terkejut, bouquet bunga yang gadis itu bawa terlatuh ke lantai, sementara lelaki yang memakai hoodie hitam itu mendecakkan lidah dengan kesal karena aksinya gagal. Dia cepat-cepat berlari keluar dari kamar itu sebelum ada lebih banyak orang yang melihatnya.
Dua orang perawat datang terburu-buru karena teriakan dari gadis itu. Dan yang mengejutkan, gadis-yang-membawa-bouquet-bunga itu menceritakan dengan sangat jelas ciri-ciri lelaki misterius yang ia lihat menggunakan Bahasa Jepang dengan sangat fasih kepada kedua perawat itu.
"Arigatougozaimasu." Ia membungkukkan badannya sedikit ketika kedua perawat itu keluar dari kamar VVIP Chanyeol.
Gadis itu mengambil bouquet bunga yang terjatuh ke lantai sambil menghela napas lega, "Maaf kalau aku datang terlambat, sayang..." Ia lalu meletakkan bouquet itu kedalam pelukannya. "Agak susah untuk mencari florist didekat Rumah Sakit di Tokyo, jadi aku menyuruh Minseok Oppa yang mencarikannya untukku." Ia meletakkan bouquet itu diatas kursi disamping kiri ranjang. "Kau merindukanku?" Gadis itu mengusap poni rambut Chanyeol yang panjang dengan lembut.
"Apa yang kau lakukan disini, Moon Gayoung." Tatapan mata Chanyeol tampak tidak senang. Dia menyernyitkan dahinya sementara jemari gadis yang dipanggil Moon Gayoung itu menelusuri wajah rupawan Chanyeol yang sudah lama tidak ia lihat.
"Kenapa kau malah bertanya? Tentu saja aku sedang menjenguk kekasihku yang sakit..." ia mengusap bibir bawah Chanyeol menggunakan ibu jarinya.
9
To be continued . . .
