Miss Wuhan present

Tittle : True Love

Author : Miss Wuhan

Cast : Do Kyungsoo and Kim Jongin

Pair : Kaisoo

Genre : You will find it

Length : Chaptered

Rated : T

Warning : Typos, OOC, Boys love, It's just a fanfiction

Happy Reading and Don't forget to RCL

Chapter 10

Jongin hanya menuruti kemana Dokter Do mengajaknya pergi. Dia merasa senang dan tertarik dalam waktu bersamaan karena ini pertama kalinya bagi Jongin keluar dari rumah sakit tempat dimana dia biasa di rawat. Kedua netranya sedari tadi memandang takjub jajaran gedung pencakar langit yang tersebar di sekitar kota Seoul. Tangannya dia arahkan ke luar jendela mobil untuk merasakan angin yang menerpa tangannya. Jongin sudah akan mengeluarkan kepalanya dari jendela sebelum pekikan dari Dokter Do menghentikan kegiatannya.

"Jangan mengeluarkan kepalamu Jongin. Itu sangat berbahaya." Pekik Dokter Do sambil pandangannya bergantian melihat Jongin dan jalanan yang berada di hadapannya.

Jongin menundukkan kepalanya dalam ketika mendengar pekikan, atau yang lebih tepat dibilang bentakan dari Dokter Do. Dia merasa sangat bersalah kepada dokter yang selalu merawatnya tersebut.

Mobil dokter Do berhenti sesaat karena lampu merah yang menyala. Pria paruh baya tersebut mengarahkan pandangannya ke Jongin. Betapa terkejutnya dia melihat Jongin yang menundukkan kepalanya dalam dengan kedua tangan bergetar yang mencekeram erat celana yang dipakainya. Melihat pemandangan itu menimbulkan rasa bersalah di benaknya. Tangannya terulur untuk menepuk perlahan bahu bergetar Jongin. Dia tahu jika saat ini Jongin berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis di hadapannya.

Tepukan pelan tersebut mampu membuat Jongin mendongakkan kepalanya kemudian menoleh kea rah dokter Do. Dokter Do memasang senyum kebapakannya kepada Jongin, berusaha menenangkan pasiennya tersebut.

"Aku minta maaf Jongin. Bukan maksud hatiku untuk membentakmu. Kejadian tadi refleks karena aku merasa khawatir. Hal itu sangat berbahaya Jongin." ujar dokter Do dengan raut wajah penuh penyesalan.

Melihat hal itu Jongin menjadi tidak tega. Dengan tangan yang masih bergetar dia memberanikan diri untuk mengelus perlahan kepala ayah Kyungsoo. Hal yang selalu diajarkan oleh Kyungsoo ketika dia merasa bersedih. Tidak lupa Jongin mengeluarkan senyum yang seolah berkata "tidak apa – apa" kepada dokter tersebut. Senyum yang dikeluarkan Jongin seakan menular ke dokter Do. Dia juga ikut tersenyum riang dan menepuk perlahan bahu Jongin.

"Baiklah Jongin kita lanjutkan perjalanan kita." Ucap dokter Do semangat.

Destinasi pertama mereka adalah sebuah toko pakaian di kawasan Myeondong. Dokter Do memang sengaja mengajak Jongin kesini karena dia ingin membelikan Jongin baju. Selama ini Jongin hanya memakai pakaian pasien selama dirawat di rumah sakit. Kali ini pun dokter Do harus meminjamkan baju milik perawatnya kepada Jongin karena Jongin memang tidak mempunyai pakaian yang layak digunakan keluar. Tidak mungkin kan jika dokter Do mengajak Jongin keluar dengan pakaian pasien rumah sakit jiwa. Bisa – bisa orang mengira Jongin adalah orang gila yang kabur dari rumah sakit jiwa.

Jongin hanya pasrah saat dia ditarik kesana – kemari lalu mencoba banyak pakaian. Kelihaan jelas di sini bahwa yang bersemangat dalam berbelanja adalah dokter paruh baya tersebut. Sedangkan Jongin dia tampak tidak mengerti mengapa dia harus mencoba pakaian sebanyak itu. Baginya cukup pakaian pasien saja sudah cukup membuatnya nyaman, tidak perlu berbelanja pakaian sebanyak itu.

Setelah puas berbelanja tujuan selanjutnya mereka adalah sebuah barber shop. Dokter itu merasa jika rambutnya sudah memanjang sehingga tidak memberikan kesan rapi. Sebagai seorang dokter, kerapihan dan kebersihan menjadi faktor utama. Begitu mereka masuk, Jongin lagi – lagi terpana dengan banyaknya orang di hadapannya. Jongin yang masih belum terbiasa dengan keramaian hanya berdiri mematung di depan pintu barber shop. Dokter Do yang menyadari jika Jongin hanya berdiri mematung menarik tangan pemuda tersebut untuk ikut dengannya. Jongin melihat dokter berbicara kepada salah satu pegawai tersebut.

Tidak lama kemudian Jongin merasakan tangannya disentuh oleh orang asing. Tubuhnya bergetar hebat, dia merasa amat ketakutan. Dia tidak terbiasa dengan sentuhan ini. Dia hanya terbiasa dengan sentuhan yang berasal dari Kyungsoo dan ayah Kyungsoo.

"Tenanglah Jongin. Pria ini tidak bermaksud menyakitimu. Dia hanya akan merapikan rambutmu yang sudah mulai memanjang. Oh dan dia juga akan memotong kuku di jari tangan dan juga kakimu." Jelas dokter Do agar Jongin tidak merasakan ketakutan kembali.

Jongin mengangguk perlahan kemudian mengikuti pegawai barber shop tersebut. Jongin dipersilahkan duduk oleh pegawai tersebut kemudian memasangkan kain di tubuhnya. Jongin hanya memejamkan matanya erat dan meremas kedua tangannya. Dia takut jika pria ini akan menyakitinya. Apalagi Jongin melihat jika pegawai tersebut membawa sebuah gunting. Meskipun tadi dokter Do sudah mengatakan bahwa pria itu tidak akan menyakitinya. Namun hati Jongin masih saja merasakan ketakutan. Alhasil, selama dia mendapatkan perawatan potong rambut dan kuku Jongin hanya memejamkan kedua matanya.

Akhirnya setelah 20 menit yang bagi Jongin terasa seperti 20 tahun berakhir juga. Dia mulai membuka matanya kala dia merasakan kain yang menutup tubuhnya sudah diangkat. Dia terkejut melihat cermin yang berada di hadapannya. Benarkah ini dirinya? Itulah yang ada di benak Jongin. Penampilan Jongin sungguh berbeda. Rambutnya yang awalnya panjang hampir sebahu kali ini dipangkas pendek dengan poni yang dinaikkan ke atas. Jongin mengalihkan pandangannya dari refleksi dirinya di dalam cermin ketika mendengar suara dokter Do yang memanggil dirinya.

"Astaga Jongin benarkah ini dirimu?" tanya dokter Do tidak percaya yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Jongin. Dia berjalan ke arah Jongin kemudian memegang kedua bahunya.

"Kau terlihat berbeda Jongin. Aku yakin jika Kyungsoo akan kaget dan juga terpesona melihat penampilanmu sekarang. Kau terlihat luar biasa tampan Jongin."

Semburat merah tampak di pipi Jongin. Dia menundukkan kepalanya dalam karena merasa malu. Dokter Do yang merasa gemas dengan perbuatan Jongin yang bagaikan anak anjing baginya.

Jongin merasa sangat puas dengan acara jalan – jalan kali ini. Hal itu terbukti ketika sepanjang perjalanan Jongin terus saja mengembangkan senyum di wajahnya. Mereka sudah akan pulang ke rumah sakit sebelum tangan Jongin menarik pelan kemeja yang dikenakan oleh dokter Do. Setelah dokter Do menoleh ke arahnya, Jongin menolehkan kepalanya ke samping dimana terdapat café. Kening dokter Do mengerut karena dia belum paham dengan apa yang di inginkan Jongin. Dia akhirnya mengetahui apa yang diinginkan oleh Jongin setelah Jongin mengarahkan tangan ke perutnya.

"Apakah kau merasa lapar Jongin? Anggukkan kepalamu jika memang kau lapar." Tanya dokter Do yang dijawab anggukan semangat oleh Jongin. Mereka pun akhirnya memasuki café untuk menghilangkan rasa lapar mereka. Jongin merasakan ada yang aneh ketika dia akan memasuki café tadi. Dia seperti mengenal dua sosok pria yang tadi berjalan melewatinya. Namun pemikiran itu segera ditepis Jongin.

Dokter Do merasa harus mengucapkan terima kasih kepada Kyungsoo karena dia telah berhasil mengajarkan Jongin banyak hal sehingga Jongin mengalami banyak kemajuan. Seperti yang saat ini terlihat di depan matanya, Jongin sudah bisa makan secara mandiri, meskipun tidak selihai orang dewasa pada umumnya. Saat ini Jongin lebih terlihat seperti balita yang baru bisa makan secara mandiri. Jalan – jalan harus dihentikan karena dokter Do menerima telepon dari anaknya untuk segera kembali ke rumah sakit. Senyum tipis terukir di bibir ayah Kyungsoo ketika menyadari jika anaknya begitu mengkhawatirkan keadaan Jongin. Keduanya keluar dari café dan berjalan menuju mobil untuk kembali ke rumah sakit. Tanpa menyadari jika sebuah mobil hitam mengikuti mereka dalam diam.

.

.

.

.

.

.

.

Kyungsoo berjalan mondar – mandir di depan kamar rawat Jongin. Dia tidak lagi bisa menyembunyikan kekhawatirannya ketika melihat kamar Jongin kosong. Dengan panik, dia berlarian memutari rumah sakit untuk menemukan keberadaan Jongin. Namun nihil, dia tidak menemukan Jongin di manapun. Rasa khawatir semakin mengerogoti hati Kyungsoo, dia berjalan dengan pandangan kosong dan langkah yang terseok –seok. Bagaimanapun berlari mengelilingi rumah sakit seperti orang kesetanan menguras habis tenaga Kyungsoo. Ketika melewati ruang kerja ayahnya, Kyungsoo melihat perawat Yoon yang baru saja keluar dari dalam ruang kerja ayahnya.

"Apakah anda mengetahui dimana ayah saya?" tanya Kyungsoo mencegat perawat Yoon sebelum pergi.

"Aku tadi melihat Dokter Do keluar dengan pasien Kim Jongin. Tapi maaf Kyungsoo aku tidak tahu mereka pergi kemana."

Kyungsoo dapat merasa sedikit lega ketika mengetahui Jongin sekarang bersama dengan ayahnya. Dikeluarkannya ponsel dari dalam kantong jasnya dan menghubungi ayahnya.

"Halo. Apakah Jongin sekarang ada bersamamu, appa?"

"Ya Kyungie. Appa mengajak Jongin jalan – jalan sekalian refreshing. Jongin membuuthkan udara segar Kyung, sudah terlalu lama dia terkurung di rumah sakit."

"Kenapa appa mengajak Jongin ke luar? Hal itu sangat berbahaya untuk Jongin, appa?"

"Apakah kau mengkhawatirkan keadaan Jongin?"

"Tentu saja. Jika tidak mana mungkin aku berlari mengelilingi rumah sakit untuk mencari Jongin appa. Aku sangat mengkhawatirkannya appa."

"Baiklah sabar sebentar Kyungie. Sebentar lagi appa dan Jongin akan pulang."

Sudah dua puluh tujuh menit empat puluh tiga detik berlalu sejak sambungan telepon terputus namun Jongin dan ayah Kyungsoo belum juga menampakkan dirinya di rumah sakit. Kyungsoo menjadi semakin was – was. Sampai terdengar suara dari ayahnya yang berkata bahwa mereka sudah kembali. Kyungsoo sudah akan mengeluarkan uneg – unegnya kepada sang ayah. Namun hal itu urung dilakukan ketika dia melihat pemandangan yang berada di hadapannya. Mata Kyungsoo yang sudah bulat semakin membulat ketika melihat perubahan pada diri Jongin.

Rambut Jongin yang panjang tak terurus kini berubah menjadi pendek dengan poni yang menutupi dahinya. Baju pasien yang selama ini melekat di tubuh Jongin sekarang tergantikan oleh kaos hitam polos dan kemeja kotak – kotak yang kancingnya sengaja dibuka sebagai outernya. Ditambah dengan celana jeans yang membuat penampilan Jongin semakin modis. Kyungsoo berani bertaruh bahwa orang – orang akan menyangka jika Jongin adalah salah satu model daripada seorang pasien rumah sakit jiwa.

Dokter Do tersenyum penuh arti ketika mendapati putra tersayangnya memberikan tatapan penuh kekaguman kepada Jongin. bahkan dia sempat melihat pipi Kyungsoo yang berubah warna menjadi kemerahan. Dia pun berdehem cukup keras sehingga membuat Kyungsoo tersadar dari lamunannya. Kyungsoo langsung menundukkan kepala dalam saat ayahnya memergokinya melihat Jongin tanpa berkedip.

"Kau sudah tidak perlu khawatir lagi Kyungie. Bisa kau lihat sendiri bukan jika keadaan Jongin baik – baik saja." ucap dokter Do yang kontan saja membuat Kyungsoo semakin menundukkan kepalanya dalam menahan malu.

"Baiklah appa pergi dulu Kyung, masih ada pasien yang harus appa periksa."

Setelah kepergian ayahnya, suasana hening menyelimuti kamar rawat Jongin. tidak ada di antara mereka yang berbicara untuk memecah keheningan yang ada. Kyungsoo tidak berani menatap Jongin. Dia menjadi salah tingkah ketika melihat penampilan Jongin yang sungguh diluar prediksinya. Kyungsoo mengakui jika selama ini dia memang mengagumi jika Jongin itu tampan. Namun setelah melihat perubahan penampilannya kali ini, Jongin terlihat jauh labih tampan di mata Kyungsoo.

Jongin mendekat ke arah Kyungsoo lalu menuntunnya agar duduk di tepi tempat tidur Jongin. Jongin sedikit menundukkan kepalanya agar dia bisa melihat wajah Kyungsoo. namun, Kyungsoo semakin menundukkan kepalanya menghindari tatapan mata dengan Jongin. Dia mengarahkan jarinya ke arah dagu Kyungsoo lalu mengarahkan wajah Kyungsoo agar menghadapnya. Saat itulah kedua mata Kyungsoo bertemu dengan mata Jongin. Pandangan Kyungsoo langsung terkunci pada kedua mata indah yang saat ini sedang menantapnya intens. Pandangan mata Jongin seakan meluluhlantakkan seluruh persendian di tubuh Kyungsoo. Membuat Kyungsoo sukses lemah tak berdaya.

Senyum Jongin semakin menambah perasaan gelisah Kyungsoo. Bagaimana tidak, jika hanya dengan melihat Jongin tersenyum seperti itu jantung Kyungsoo langsung berdetak dua kali lipat.

"Ba… bagaimana penampilan baruku Kyungsoo? Apakah kau menyukainya?" tanya Jongin dengan tatapan polos.

Mulut Kyungsoo terkunci rapat. Seandainya bisa dia ingin berteriak memberitahu kepada dunia jika dia sangat menyukai penampilan Jongin saat ini. Namun perkataan tersebut tertahan di mulut Kyungsoo.

Senyum di wajah Jongin semakin lama semakin memudar ketika menyadari Kyungsoo belum juga menjawab pertanyaan darinya. Rasa kecewa memenuhi benak Jongin. Awalnya dia berfikir bahwa Kyungsoo akan menyukai perubahan penampilannya. Melihat tingkah Kyungsoo yang diam membuat Jongin mengambil kesimpulan bahwa Kyungsoo tidak menyukai pemampilan barunya.

"Apakah kau tidak menyukai penampilan baruku?"

"Tidak Jongin. Aku bahkan sangat menyukai penampilan barumu. Kau terlihat sangat tampan. Sedari tadi aku diam saja karena aku terlalu malu untuk mengatakan bahwa aku menyukai penampilan barumu."

Jongin terperangah mendengar jawaban yang dilontarkan Kyungsoo dengan sangat cepat. Di lain pihak, Kyungsoo sibuk membekap mulut dengan kedua tangannya yang baru saja keceplosan bicara. Kyungsoo mengumpat di dalam hati tentang tindakan refleks yang dilakukannya. Tadi Kyungsoo merasakan panik ketika Jongin bertanya ditambah ekspresi sendu Jongin yang membuat Kyungsoo tidak tega.

"Apa yang kau katakan tadi Kyungsoo?"

Kyungsoo menolehkan kepalanya kepada Jongin dan dia menemukan raut wajah kebingungan Jongin. Kyungsoo menghela nafas lega mengetahui Jongin tidak mengetahui maksud perkataannya tadi.

"Sudahlah tidak perlu kau pikirkan apa perkataanku tadi, yang pasti aku menyukai penampilanmu saat ini Jongin."

Kyungsoo berucap sambil kedua tangannya menggenggam tangan Jongin erat. Memberikan penegasan atas perkataan yang sudah dilontarkannya. Senyuman Kyungsoo berhasil mematahkan segala keraguan yang berada di benak Jongin. Jongin merasa bahagia ketika Kyungsoo menyukai penampilan barunya. Dengan kebahagiaan yang membuncah, Jongin membalas senyuman yang diberikan Kyungsoo. Kyungsoo terpana. Hal yang paling disukai Kyungsoo dari Jongin adalah senyumannya. Kini, Kyungsoo semakin terpesona dengan senyuman Jongin. Melalui penampilan barunya senyum Jongin tampak semakin bersinar. Kyungsoo merasa senyuman Jongin memberikan beribu energy positif kepadanya. Hari ini Kyungsoo menyadari jika senyuman Jongin berdampak maha dahsyat baginya. Sedangkan bagi Jongin, kali ini dia menyadari jika senyum Kyungsoo adalah segalanya baginya.

.

.

.

.

.

Sehun menjalankan audi biru metaliknya menuju tempat parkir di rumah sakit jiwa Seoul. Hari ini dia ingin memastikan apakah orang yang ditemuinya beberapa hari lalu memang benar – benar "binatang peliharaannya" yang telah lama hilang. Setelah sampai di tempat parkir, dia segera mengganti pakaiannya dengan jas dokter dan tidak lupa kacamata frameless yang semakin menyempurnakan penampilannya seperti dokter. Bukan hal yang sulit bagi Sehun untuk menyamar menjadi dokter. Keamanan di rumah sakit jiwa tidak seketat di rumah sakit biasa. Dia berjalan masuk ke dalam rumah sakit dan memasang mata waspada untuk menemukan orang yang dicarinya. Banyak mata yang memandang terkesima ke arah Sehun. Tak peduli, Sehun tetap memasang wajah dinginnya. Sikap dingin Sehun justru memancing kaum hawa untuk semakin menyanjung fisik sempurnanya. Sehun menggeretakkan giginya menahan amarah. Dia tidak pernah suka dengan perhatian yang diberikan orang-orang kepadanya. Mencoba menahan amarah karena tidak sedikit perempuan yang memekik karena ketampanannya, Sehun mencari tempat yang sepi. Dia berhenti di taman belakang yang tampak sepi dan duduk di salah satu bangku yang disediakan. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit jiwa terbesar di Seoul sehingga bukan hal yang mudah untuk menemukan Jongin diantara ratusan pasien rumah sakit jiwa. Suara dering telepon terdengar, lalu Sehun menerima telepon tang berasal dari Tao.

"Bagaimana? Apakah kau sudah menemukan anjing itu?"

"Belum."

"Belum? Kenapa kau lambat sekali Sehun? Apa saja yang kau lakukan di sana?"

"Kau kira mudah menemukan dia diantara ratusan orang gila disini. Lagipula mengapa harus aku yang melaksanakan misi ini? Kenapa bukan kau saja?"

"Karena kau yang melihat wajahnya pada saat kita keluar café dulu. Tentu saja kau yang harus melaksanakan misi ini. Bukankah ini misi yang sangat mudah? Kau hanya tinggal menemukannya dan habisi dia saat itu juga. Maka masalah akan selesai dan keberadaan kita tidak akan diketahui oleh siapapun."

Sehun semakin mengeraskan rahangnya ketika mendengar perkataan Tao yang merendahkan dirinya. Dia langsung mematikan ponselnya dengan cara membantingnya langsung ke tanah. Siapapun tidak ada yang boleh meremehkan seorang Oh Sehun itulah prinsip yang selama ini dipegang oleh Sehun. Sehun tidak akan membiarkan dirinya diremehkan lagi oleh orang lain. Dia akan segera melenyapkan Jongin dari muka bumi ini. Dan setelah Jongin, giliran Tao yang akan menyusulnya ke alam keabadian.

Dewi fortuna kali ini memihak kepada diri Sehun. Belum ada lima menit semenjak dia mengikrarkan tekatnya untuk membunuh Jongin kini dia sudah menemukan keberadaannya. Tak jauh dari tempat Sehun terlihat Jongin yang sedang duduk dengan gelisah. Dilihat dari gelagatnya, sepertinya Jongin tengah menunggu seseorang. Tak lama terlihat perubahan raut wajah Jongin yang sangat drastis. Wajahnya berubah menjadi sumingrah dan Sehun dapat melihat dengan jelas raut kemerahan di pipi Jongin setelah kehadiran sesosok namja berperawakan mungil yang menghampirinya. Melihat interaksi di antara mereka, Sehun dapat menyimpulkan bahwa hubungan di antara Jongin dan pria itu sangat dekat. Sebersit ide mendadak muncul di kepala Sehun ketika dia melihat interaksi kedua manusia di depannya. Dia akan menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan rencananya. Sehun menyeringai kejam. Dia yakin rencana kali ini akan berhasil. Sebuah rencana yang akan mengantarkan Sehun untuk mengetahui kelemahan terbesar Jongin.

Jongin duduk di bangku itu dengan gelisah. Dia terus saja menggerakkan badannya gelisah dan sesekali menolehkan kepalanya ke kanan atau ke kiri. Dia gelisah karena Kyungsoo belum juga datang untuk menemuinya. Tadi Kyungsoo berjanji pada Jongin akan menemuinya di taman belakang rumah sakit. Namun, sampai detik ini Jongin belum menemukan keberadaan Kyungsoo. Jongin sebenarnya ingin mencari Kyungsoo tetapi dia sudah terlanjur berjanji untuk menunggunya di sini. Sebuah tepukan di pundaknya membuat Jongin tersentak. Dia menolehkan kepalanya ke belakang dan menemukan Kyungsoo-lah orang yang menepuk pundaknya. Senyum yang sedari tadi enggan bersarang di wajah Jongin kini tercetak jelas di wajahnya.

"Maafkan aku Jongin. Aku datang terlambat tadi ada pekerjaan yang tidak bisa kutinggalkan."

"Tidak ma… masalah Kyungsoo. Aku senang kau datang dan menepati janjimu untuk datang."

"Tapi, Jongin aku datang terlambat. Kau pasti sudah lama menunggu kedatanganku."

Melihat raut murung di wajah Kyungsoo membuat Jongin tidak tega. Dia memperpendek jarak di antara mereka. Lalu tangan kanannya mengacak pelan rambut Kyungsoo. Dia melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh Kyungsoo ketika dia merasa bersedih. Jantung Kyungsoo sempat berhenti selama beberapa detik dan dia merasakan darahnya berdesir hebat ketika merasakan sensasi tangan lembut Jongin di kepalanya. Tanpa bisa dielakkan rona kemerahan mulai menjalar di wajah putih Kyungsoo.

Sial Jongin kenapa kau hobi sekali melakukan tindakan – tindakan yang membuat jantungku berdetak tak normal.

"Aku akan menunggumu sampai kapanpun Kyungsoo"

Perkataan tegas bagai sumpah seumur hidup yang dilontarkan Jongin membuat Kyungsoo seakan tak menepakkan kakinya di tanah. Dia terlena dan hatinya berbunga – bunga mendengar perkataan Jongin. Kyungsoo menundukkan kepalanya menahan malu. Dia mengutuk dirinya sendiri di dalam hati karena selalu terpana dengan segala tindakan Jongin kepadanya.

"Jong… em Jongin kau tunggu di sini dulu ya. Aku akan mengambilkan buku untukmu belajar membaca dan menulis bersama – sama."

Tanpa mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Jongin, Kyungsoo bergegas berlari meninggalkan Jongin. Kyungsoo meninggalkan Jongin agar dia tidak semakin banyak melakukan hal bodoh jika berhadapan dengan Jongin.

Kyungsoo semakin mempercepat cara berjalannya, bahkan hampir berlari. Karena di dalam benak Kyungsoo dipenuhi oleh Jongin, dia tidak memperhatikan jalan di sekitarnya. Akhirnya kaki Kyungsoo menyandung sesuatu sehingga dia terjerembab ke depan. Kyungsoo mencoba bangkit berdiri sambil sesekali meringis menahan sakit akibat ia yang terjatuh tadi. Seseorang mengulurkan tangannya bermaksud untuk membantu Kyungsoo berdiri. Kyungsoo menerima uluran tangan dari orang itu karena dia tidak mempu berdiri seorang diri karena luka di lututnya sudah mulai mengeluarkan darah segar.

"Apakah anda bisa berjalan sendiri? Ataukah saya perlu untuk memapah anda?" tanya orang itu kepada Kyungsoo setelah dia berhasil membantu Kyungsoo berdiri.

"Tidak perlu. Saya bisa berjalan sendiri. Lagipula saya tadi memang ceroboh sekali sampai – sampai terjatuh di depan anda. Terima kasih banyak atas bantuan anda. Saya permisi dahulu."

Kyungsoo berpamitan kepada orang yang telah menolongnya itu. Orang itu memandang kepergian Kyungsoo dengan pandangan yang sulit diartikan. Namun baru beberapa langkah, tubuh Kyungsoo sudah limbung. Dengan sigap orang itu memposisikan tangannya menarik pinggang Kyungsoo dan membawa tubuh itu ke dekapannya. Kejadian itu berlangsung sangat cepat sehingga membuat Kyungsoo masih berdiri terpaku di dalam dekapan orang asing. Sedangkan pria yang telah menolong Kyungsoo itu semakin merapatkan pelukannya terhadap Kyungsoo. Dia mengulum senyum menyembunyikan seringai mematikannya ketika melihat Jongin berjalan dengan raut kemarahan yang tergambar jelas di wajahnya.

I got you, Jongin

Sehun –pria yang telah menolong Kyungsoo- merasakan tarikan yang kuat di bajunya. Tubuhnya terhuyung ke belakang lalu gerakan Sehun terhenti ketika dia merasakan punggungnya menghantam tembok dengan keras. Sehun meringis menahan sakit yang mendera di seluruh punggungnya akibat hantaman tadi. Setelah merasakan sakit yang dideritanya sedikit mereda, Sehun ingin membalas perbuatan Jongin. Nafas Sehun tidak beraturan, tangannya mengepal erat, dan giginya bergelatuk menahan amarah. Selama ini belum pernah ada yang menumbangkannya dalam perkelahian. Dan kali ini karena kelengahannya, dia ditumbangkan begitu saja oleh orang yang berperilaku selayaknya anjing. Tentu saja harga diri Sehun yang tinggi tersebut tidak menerimanya. Sehun berjalan menghampiri Jongin dengan tangan terkepal yang siap melayangkan tinju di wajah Jongin. Tangan Sehun meraih bahu Jongin, membalikkan badan Jongin secara paksa agar menghadap ke arah Sehun. Belum sempat Jongin sepenuhnya menghadap Sehun sebuah kepalan tangan mendarat dengan mulus di wajahnya. Pukulan itu begitu kerasnya sehingga Jongin merasakan rahangnya sedikit bergeser.

Sehun pikir kali ini dia memenangkan pertandingan dengan kemenangan telak. Namun pemikiran itu harus ditepisnya jauh – jauh ketika melihat raut wajah Jongin saat ini. Kemarahan jelas terpancar dari raut wajah Jongin. Tetapi bukan itu yang membuat Sehun berdiri diam ditempatnya dengan raut ketakutan yang mulai menghiasi wajahnya. Kali ini Sehun bagaikan melihat sosok jelmaan iblis yang sedang murka kepadanya. Sepanjang dia mengenal Jongin, harus diakui bahwa Sehun tidak pernah melihat Jongin semarah dan semengerikan ini. Ingatannya kembali melayang kepada peristiwa beberapa tahun lalu di mana terjadi insiden telinga bosnya hampir terputus karena di gigit oleh Jongin. Waktu itu Sehun memang menyadari jika ada aura iblis dalam diri Jongin. Aura tersebut akan memancar semakin kuat ketika Jongin sedang marah. Sejak kejadian yang dialami oleh bosnya, Sehun bersumpah dia tidak akan membuat Jongin murka kepadanya. Berbeda dengan apa yang dilihatnya kali ini. Jongin terlihat jauh lebih mengerikan daripada yang terakhir kali Sehun lihat.

"Kyung… Kyungsoo" dengan lirih Jongin memanggil nama Kyungsoo. Kekhawatiran jelas tersirat dalam untaian kata yang dilontarkan Jongin.

Rahang Jongin mengeras ketika matanya menangkap aliran berwarna merah pekat yang keluar melalui lutut Kyungsoo. Tubuh Jongin bergetar hebat. Dalam benaknya berkecamuk ingatan – ingatan kelam pada masa lalunya. Jeritan ketakutan, erangan kesakitan, suara tembakan pistol yang memekkakkan telinga serta aliran berwarna merah pekat yang menggenang di sekujur tubuh orang tuanya. Keringat dingin meluncur deras di seluruh tubuhnya, wajahnya pucat pasi. Dengan nyalang ditatapnya wajah Sehun dan dalam waktu sepersekian detik Sehun harus merasakan hantaman keras di daerah dadanya sampai membuatnya seketika jatuh terhuyung. Seakan belum puas, Jongin kembali menghujani Sehun dengan pukulan – pukulan telak yang membuat Sehun tak mampu berkutik.

Baru tersadar dari lamunannya, Kyungsoo bergegas melerai pertengkaran yang tidak seimbang tersebut. Kyungsoo berusaha melerai kedua pria berbadan besar yang terlibat baku hantam tersebut tanpa memperdulikan rasa nyeri yang bersumber dari lututnya yang terluka. Tubuh mungil Kyungsoo tentu saja tidak mampu menghentikan perkelahian di antara mereka. Apalagi ketika mengetahui bahwa Jongin memukul Sehun dengan kemarahan yang luar biasa hingga membuat tubuh Kyungsoo bergidik menahan ngeri.

"Jongin hentikan." Teriak Kyungsoo lalu dia memeluk Jongin dari belakang.

Kyungsoo berharap dengan usahanya tersebut dia mampu untuk menahan perkelahian di antara Sehun dan Jongin. Tubuh Jongin menengang sesaat, namun dia berusaha meronta dari pelukan erat Kyungsoo. Kyungsoo yang tidak siap dengan rontaan yang dilakukan Jongin akhirnya melepaskan pelukannya. Lagi – lagi Jongin memukul Sehun secara bertubi – tubi. Jongin tidak membiarkan Sehun membalas setiap pukulan yang diberikannya.

"JONGIN KUMOHON HENTIKAN."

Teriakan Kyungsoo menimbulkan perhatian orang banyak. Namun orang – orang itu tidak berani melerai pertengkaran itu karena mereka terlalu takut dengan kemarahan Jongin. Kyungsoo mendesah frustasi karena orang – orang di sekitarnya hanya mampu melihat tanpa melakukan apapun untuk membantunya melerai pertengkaran itu. kyungsoo memutar otaknya, dia memikirkan bagaimana cara melerai pertengkaran. Sebuah ide yang menurut Kyungsoo gila mendadak muncul di kepalanya. Kyungsoo sebenarnya tidak yakin apakah ide gilanya ini akan berhasil. Namun dia tetap akan mencobanya.

Ya Tuhan semoga ini bisa menghentikan pertengkaran mereka

Kyungsoo melangkah dengan tegas menuju ke arah Jongin yang saat ini sedang memunggunginya. Saat sampai di belakang Jongin, tangan Kyungsoo menarik tangan Jongin sehingga Jongin kali ini berhadapan dengannya. Tangan kiri Kyungsoo diletakkan di tengkuk Jongin lalu dia mengerahkan wajah Jongin agar lebih dekat dengan wajahnya.

Tubuh Jongin membeku. Dia merasakan seluruh tubuhnya hampir mati rasa kecuali jantungnya yang berdetak tak terkendali seperti ingin keluar dari dadanya. Bibir Kyungsoo kini menempel erat dengan bibir milik Jongin. Pikiran Jongin mendadak blank ketika tubuhnya ditarik oleh Kyungsoo kemudian Kyungsoo mencium tepat di bibirnya. Jongin hanya bisa menatap Kyungsoo yang menempelkan bibirnya dengan kedua mata yang tertutup rapat. Tangan Kyungsoo semakin erat memeluk leher Jongin. Hal ini merupakan pengalaman baru bagi Jongin. sepanjang ekstitensi dirinya, Jongin tidak pernah merasakan seseorang mencium bibirnya.

Menuruti instingnya, Jongin mulai memejamkan matanya dan memeluk Kyungsoo lebih erat. Kyungsoo tersenyum di sela – sela ciumannya ketika menyadari kemarahan Jongin mulai mereda dan pria itu mulai membalas pelukannya. Kyungsoo merasa kali ini dirinya benar – benar gila. Jika dalam keadaan normal, Kyungsoo akan langsung melepaskan ciumannya dengan Jongin. Namun hal sebaliknya dilakukan oleh Kyungsoo. Dia mulai berani melumat bibir atas dan bawah milik Jongin secara perlahan, dan memasukkan lidahnya ke dalam mulut Jongin. Memang benar jika Kyungsoo sudah mulai gila karena berciuman dengan Jongin. Kyungsoo merasa hasratnya memuncak ketika dia berciuman dengan Jongin. Kyungsoo menggerakan kepalanya ke kiri atau ke kanan untuk lebih memperdalam lumatannya kepada bibir Jongin.

Kyungsoo membelalakkan matanya tidak percaya ketika Jongin mulai membalas ciumannya dengan melumat bibir Kyungsoo. Kyungsoo menjadi semakin gila hingga dia semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Jongin dan mengelus punggung tegap Jongin secara sensual. Hal yang sama juga dirasakan oleh Jongin. dia merasakan desiran hebat di tubuhnya ketika lumatan Kyungsoo terhadap bibirnya semakin dalam. Semakin lama, Jongin merasakan aliran darahnya berpacu lebih cepat dan jantungnya tidak mau berhenti berdetak dengan cepat. Jongin menyukai sensasi yang baru pertama kali ini dia rasakan. Maka dari itu, dia mulai memberanikan diri membalas apa yang sudah di lakukan Kyungsoo kepadanya.

Kyungsoo dengan terpaksa menghentikan pangutan di antara mereka ketika dia merasakan oksigen yang dihirupnya semakin menipis. Dengan semburat merah di kedua pipinya, Kyungsoo menatap Jongin dengan malu – malu. Tak berbeda dengan Kyungsoo, dengan nafas terengah – engah Jongin juga menatap Kyungsoo dengan malu – malu. Kyungsoo memutuskan kontak mata diantara mereka kemudian menyuruh salah seorang perawat untuk mengobati Sehun yang masih tergeletak tak berdaya. Dua orang perawat memindahkan sehun ke tandu kemudian di bawa ke ruang perawatan untuk diobati lukanya.

"Ayo Jongin kita kembali ke kamarmu. Sebentar lagi sudah saatnya untuk makan malam."

Kyungsoo berjalan dengan tertatih karena lututnya yang masih terluka. Jongin menghampiri Kyungsoo lalu meletakkan tangannya di tengkuk dan di lutut Kyungsoo. Dengan sekejap mata kini Kyungsoo sudah berada di dalam gendongan Jongin.

"Jongin kenapa ka menggendongku? Aku masih bisa jalan sendiri."

Jongin tidak menjawab pertanyaan Kyungsoo. Dia melangkahkan kakinya menuju ke ruang rawatnya. Sesampainya di ruang rawatnya dengan sangat hati – hati, Jongin membaringkan Kyungsoo di ranjangnya. Lalu dengan langkah tergesa dia keluar kemudian menyeret seorang dokter untuk masuk ke dalam ruang rawatnya.

"Jongin kenapa kau menarikku ke dalam kamarmu? Apakah ada yang kau perlukan?" tanya dokter Kang Chul kepada Jongin.

Jongin tidak menjawab, namun dia menunjukk ke arah lutut Kyungsoo yang terluka.

"Kau ingin aku mengobati Kyungsoo?"

Hanya anggukan singkat yang di berikan Jongin sebagai jawabannya. Kang Chul paham lalu dia berjalan menuju ke sebuah almari kaca yang menyimpan berbagai peralatan medis. Kang Chul dengan cekatan megobati dan memperban luka Kyungsoo. setelah menerima ucapat terima kasih dari Kyungsoo dokter itu pergi meninggalkan kamar Jongin.

"Kyungsoo kau baik – baik saja? Apakah masih sakit?"

Kyungsoo memberikan senyuman terbaiknya untuk menghilangkan raut khawatir di wajah Jongin.

"Aku baik – baik saja Jongin. Jadi jangan mengkhawatirkan aku lagi ne." jawab Kyungsoo sambil mengelus rambut Jongin perlahan.

.

.

.

.

.

.

Ruangan itu terasa sangat sunyi dan hanya terdengar suara dari gerakan kertas yang di bolak – balik saja yang terdengar di ruangan mewah tersebut. Ruangan mewah yang dipenuhi oleh dekorasi kemewahan emas dan marmer berbanding terbalik dengan keheningan yang tercipta. Sebenarnya ada lebih dari sepuluh orang yang berada di ruangan tersebut. Namun di antara mereka tidak ada yang berani mengeluarkan suara bahkan suara hembusan nafas sekalipun. Mereka begitu menyegani sosok yang saat ini duduk dengan angkuh di balik meja kantornya. Sosok yang terlihat begitu arogan ketika duduk di singgasananya. Meskipun dia terlihat serius dengan tumpukan berkas yang berada di hadapannya, namun dia sangatlah waspada. Dia tidak menyukai jika konsentrasinya terganggu dengan suara – suara yang mengganggu. Karena itulah anak buahnya tidak ada yang berani mengeluarkan suara selirih apapun.

Sebuah ketukan yang berasal dari pintu bagai suara lagu kematian. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu menahan nafas. Bersiap – siap untuk menerima luapan kemarahan dari sosok yang kini menatap tajam ke arah suara ketukan berasal. Mereka bergidik ngeri, jika sudah murka maka sosok di hadapan mereka lebih mengerikan daripada iblis sekalipun. Suara tegas sosok tersebut menyuruh orang yang mengetuk pintu untuk masuk ke dalam. Tanpa orang ketahui sosok itu mengambil pistol kesayangannya dari dalam laci. Dia akan mengeluarkan peluru dari pistolnya tepat ke dada orang yang berani merusak konsentrasinya. Dia melihat salah satu anak buahnya yang bernama Sehun masuk dengan langkah tertatih dan tubuh penuh dengan luka lebam. Sosok itu menatap heran mengapa anak buahnya yang terkenal lihat dalam berkelahi dapat babak belur seperti ini.

"Apa yang membuatmu berani menghadapku dan merusak konsentrasi bekerjaku? Kuharap itu adalah hal yang sangat penting. Jika tidak maka ucapkan selamat tinggal kepada dunia, Sehun." sosok itu berkata dengan dingin dan tegas tetapi membuat semua orang bergidik ngeri membayangkan apa yang setelah ini terjadi kepada Sehun. Dengan pistol yang mengarah ke dada Sehun, hampir semua orang di ruangan itu dapat memastikan jika Sehun tidak akan keluar dari ruangan ini dalam keadaan hidup – hidup.

"Aku menemukan Kai. Anjing kesayangan kita bos."

Sosok itu menurunkan pistolnya dan menatap tak percaya ke arah Sehun. Informasi yang diberikan Sehun membuatnya melupakan niatnya untuk melenyapkan Sehun.

"Ceritakan kepadaku bagaimana kau bisa menemukannya." Perintah sosok itu tegas.

Sehun akhirnya menceritakan kronologis pertemuan tidak sengajanya dengan Jongin sampai saat dia dihajar oleh Jongin.

"Dia sekarang di rawat di rumah sakit jiwa Seoul." kata Sehun.

"Rumah sakit jiwa Seoul?"

"Iya dan yang membuat permainan ini menjadi semakin menarik adalah aku sudah menemukan kelemahan anjing itu."

"Apa?"

"Dia mencintai dokternya yang bernama Kyungsoo. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana marahnya dia ketika aku memeluk Kyungsoo dan melihat Kyungsoo terluka. Jika kau tidak percaya luka di tubuhku ini bisa menjadi buktinya."

"Em Kyungsoo, rumah sakit jiwa Seoul. ini akan menjadi sesuatu yang menarik. Kyungsoo akan menjadi kartu as kita untuk melenyapkan anjing sialan itu dari muka bumi ini."

(TBC/END)

Anyeonggg

Setelah sekian lama akhirnya chapter 10 ini dapat di publish juga yeyeyeeyyy (tebar confeti). Maafkan saya yang lagi – lagi harus lama untuk mengupdate ff ini. jangan khawatir saya tidak akan menelantarkan setiap ff saya. Saking lamanya sampai-sampai exo sudah comeback beberapa kali. Well, ngomong-ngomong soal comeback aku suka banget sama lagu She's dreaming di album lotto. Lagu itulah yang terus saya putar selama menulis ff ini. kalau mendengar lagu itu saya jadi teringat ff kaisoo yang judulnya anterogade tomorrow. Ada yang setuju dengan pendapat saya? Sebelum berpisah sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih kepada yang sudah menfollow, favorite dan mereview setiap ff saya. Semoga saya menulis akan semakin baik kedepannya. Sampai jumpa di chap selanjutnya.

Big thanks to:

Song Soo Ri , TulangRusuknyaDyo, Rahmah736, dinadokyungsoo1, Sofia Magdalena, meyriza, ryaauliao, whenKmeetK, meliarisky7, EkaOkta3424 , Rina271, Nabila701, Kyubear9597 , Lovesoo, jongin bear, kyungie, ananda, alexa, ksxho, kaikasoo8812 ,

So main to review?

Bagi yang mau berteman denganku silahkan add id line saya dengan nama renzanira