I am Back for You

.

.

.

Summary : Setelah 17 tahun hidup di Cina, Kim Kibum kembali ke Korea Selatan demi

memenuhi janji semasa kecilnya.

Declaimer : Super Junior milik diri mereka sendiri, keluarga dan SMEnt.

Pairing : KiHae (Kibum Donghae) or KyuHae (Kyuhyun Donghae) ?

Other cast : HanChul (orang tua angkat Kibum), Leeteuk, YunJae, yang lain menyusul sesuai dengan kebutuhan cerita :D

Rating : T semi M

Genderswitch : Donghae, Heechul, Leeteuk, Jaejoong, maybe more.

Warning : ceritanya semakin aneh dan menyimpang.

Don't like don't read, don't flame the casts, just flame the author, no copas, review please.

^^ Saranghaeyo Super Junior ^^

Tanpa dikomando oleh otaknya, Donghae segera menghampiri Kyuhyun yang kehilangan kesadarannya tergeletak di lantai. Kadar kepanikan Donghae bertambah saat mendapati hidung Kyuhyun yang mengeluarkan darah.

"Kyuhyun-ah! Kyuhyun-ah! Ireona! Ya! jangan bercanda, Kyu!" Donghae meraih kepala Kyuhyun dan meletakkannya di pangkuannya seraya menepuk-nepuk pipinya guna mengembalikan kesadaran namja yang kerap kali menjahilinya tersebut, tidak ia hiraukan bajunya yang terkena noda darah. Kali ini Donghae berharap Kyuhyun tengah menjahilinya.

Donghae yang dilanda kepanikan dan kekhawatiran akan keadaan Kyuhyun meraih ponselnya yang tergeletak di meja tak jauh dari dirinya berada. Dengan segera ia menghubungi seseorang yang telah ia kenal, yang biasa ia mintai pertolongan di saat keadaan genting seperti ini.

"Shindong oppa, Kyuhyun pingsan!" Ucap Donghae ketika seseorang di seberang sana menerima panggilan darinya, tanpa adanya sapaan.

"Kalian di mana?" tanya namja yang bernama Shindong itu tak kalah gelisah dari Donghae.

"Hiks di apartemenku hiks, oppa." Jawab Donghae terisak, air matanya sudah membanjiri pipi porselennya.

"Aku akan segera mengirim ambulans ke sana. jangan panik, tetaplah tenang. Kyuhyun akan baik-baik saja." Ucap Shindong menenangkan Donghae walaupun ia tahu bahwa apa yang ia katakana tidak akan berhasil mengurangi kekhawatiran Donghae.

"Ne, oppa." Donghae mengangguk-anggukkan kepalanya yang tentu saja tidak bisa dilihat oleh Shindong.

'tut tut' dan sambungan telepon mereka pun terputus.

.

.

.

Tampak sesosok yeoja berparas bak malaikat tengah berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi, tangannya meremas rok selututnya, bibirnya terus bergerak-gerak memanjatkan doa dan jangan lupakan air mata yang tanpa henti mengalir dari kedua mata teduhnya. Yeoja itu tak lain adalah Donghae. Sudah satu jam lebih sejak Donghae tiba di rumah sakit bersama Kyuhyun dengan ambulans dan tim medis yang dikirimkan oleh Shindong, dan sampai saat ini Shindong yang merupakan dokter yang menangani Kyuhyun dan tim medis lain belum juga keluar dari ruang operasi.

'ceklek' pintu ruang operasi pun terbuka dan menampakkan sosok namja bertubuh agak tambun dengan pakaian operasinya yang lengkap.

"Eotteokhae, oppa? Operasinya berjalan lancar kan? Kyuhyun baik-baik saja kan?" Donghae segera memberondong namja tersebut yang tak lain adalah Shindong dengan pertanyaan yang telah membuncah di kepalanya.

Shindong tersenyum tipis dan memegang kedua pundak Donghae guna menenangkan yeoja yang telah ia anggap sebagai adiknya sendiri. "Dia berhasil melewati masa kritis."

Mendengar hal itu, air mata Donghae kembali jatuh. Namun bedanya kali ini itu bukalah air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. Donghae lega mendengar Kyuhyun yang berhasil melawan rasa sakitnya.

"Gomapseumnida. Gomapseumnida." Donghae membungkuk di hadapan Shindong dan tim media lain.

"Kami hanya melakukan tugas kami, Donghae-ah." Shindong menghentikan tindakan Donghae.

"Sekarang temuilah dia. Kau adalah alasan mengapa dia bertahan." Shindong kembali mengulas senyumnya.

"Eum." Donghae menganggukkan kepalanya, kemudian memasuki ruangan di mana Kyuhyun dirawat setelah melakukan operasi.

.

.

.

-four days later-

Tampak seorang namja dengan kacamata yang membingkai wajah tampannya tengah disibukkan dengan dokumen-dokumen yang bercecer di meja kerjanya. Terdapat sebuah identitas yang berasal dari kaca di meja kerja tersebut dengan sederet huruf bertuliskan 'Presdir Tan'.

'tok tok tok'

Sebuah ketukan dari pintu bercat light brown itu sedikit menginterupsi kesibukannya tapi tidak membuatnya mengalihkan perhatian dari dokumen-dokumen yang menenggelamkan dirinya.

"Masuk." Titahnya pada seseorang yang berada di seberang pintu.

Seorang namja berperawakan tinggi dengan mata rubahnya berjalan memasuki ruangan dan presdir dan menundukkan kepalanya memberi hormat.

"Rapat dengan Cho corp. ditunda, Presdir." Ujar namja dengan name tag 'Yunho, Jung' itu to the point.

"Wae?" tanya sang presdir tanpa mengalihkan pandangannya pada salah satu orang kepercayaannya itu.

Beberapa menit berlalu tanpa ada satu patah kata pun terucap dari bibir Yunho untuk menjawab pertanyaan atasannya.

Sang atasan yang tak lain adalah Tan Kibum menghentikan kegiatannya lalu mendongakkan kepalanya menatap Yunho. "Wae?" tanyanya lagi.

"Ada sesuatu yang terjadi." Jawab Yunho.

"Mwo?" Kibum kembali bertanya dengan singkatnya, mengingat presdir muda tersebut sangat hemat dalam berbicara.

Yunho kembali bungkam. Dirinya dilanda kebingungan apakah ia sebaiknya menyampaikan berita yang telah ia terima dari kekasihnya Jaejoong kepada Kibum ataukah ia tetap diam, karena Jaejoong menyuruhnya agar tidak memberitahu orang lain.

"Katakan, Jung Yunho!" perintah Kibum mutlak dengan nada tegasnya yang naik satu oktaf.

"Cho Kyuhyun…" Yunho memotong perkataannya.

"Cho Kyuhyun…" ulang Kibum penuh penekanan terselip nada memerintah.

"Dia dirawat di rumah sakit." Yunho menyerah, akhirnya ia beberkan juga sesuatu yang harusnya menjadi rahasia.

"Mwoya?" Kibum terbelalak kaget.

Cho Kyuhyun, client sekaligus rival kerjanya terbaring di rumah sakit sampai harus membatalkan rapat penting antara dua perusahaan besar, Kibum yakin pastilah sakit yang dideritanya serius.

"Antarkan aku ke sana." Kibum menutup dokumen-dokumen yang dikerjakannya lalu beranjak dari kursi.

"Tidak bisa." Tolak Yunho.

"Wae?" tanya Kibum yang sudah berada di hadapan Yunho.

"Berita sakitnya Cho Kyuhyun merupakan rahasia, sajangnim." Tutur Yunho.

"Apa salah kalau aku menjenguknya, Yunho-sii?"

"Anda tetap tidak bisa." Yunho tetap pada pendiriannya.

"Aku harus ke sana Jung Yunho!"

"Tidak bisa, sajangnim."

"Aku harus melihatnya! Donghae pasti merasa sangat buruk dan tertekan! Mengertilah Jung Yunho!" teriak Kibum.

Ya, sebenarnya Kibum tidak mengkhawatirkan Kyuhyun –walaupun sedikit rasa ibanya pada Kyuhyun. satu-satunya orang yang ia khawatirkan adalah Lee Donghae, pujaan hatinya, malaikatnya. Ia khawatir akan Donghaenya, apakah yeoja itu makan dengan baik, apakah yeoja itu mengurus dirinya dengan baik. Ia yakin Donghae pasti dilanda kegelisahan dan kesedihan, mengingat hati yeoja itu yang bak malaikat. Ditambah apa yang ia lakukan dengan Donghae di Mokpo akan menumbuhkan rasa bersalah yang teramat sangat di hati Donghae. Dan itu bukan sepenuhnya salah Donghae bukan? Kibum turut andil dan ia juga harus bertanggung jawab.

Entah mengapa Yunho tidak kaget sama sekali dengan penuturan Kibum bahwa dirinya mengkhawatirkan Lee Donghae yang tak lain adalah teman yeojachingunya –Jaejoong- merangkap kekasih namja lain –Cho Kyuhyun. Tanpa Kibum mengungkapkan apa yang ada di hatinya, Yunho sedikit banyak mengerti akan perasaan Kibum pada Donghae. dapat Yunho lihat dari sorot mata Kibum yang berbinar saat melihat Donghae dan sorot mata yang menggambarkan sakit dan kecewa saat mendapati Donghae dengan sang namjachingunya. Bukankah mata dapat bicara? Bukankah mata tidak dapat berbohong? Bukankah Jung Yunho dapat mengerti dengan baik seorang Tan Kibum?

"Donghae akan baik-baik saja, sajangnim, dia yeoja yang tangguh." Yunho tetap menghalangi Kibum pergi. Entah mengapa ia merasa tidak baik jika membiarkan Kibum menemui Donghae, akan memperkeruh masalah di antara mereka.

"Aku harus melihatnya. Jebal, hyung." Pinta Kibum dengan nada yang rendah, ia benar-benar memohon pada Yunho.

Yunho menatap ke dalam obsidian atasannya yang ia anggap sebagai dongsaengnya sendiri. Tersirat kesungguhan atas kekhawatiran Kibum yang begitu besar terhadap Donghae, membuat Yunho terenyuh. Yunho menghela napas pasrah.

"Baiklah."

"Gomawo, hyung." Kibum tersenyum tipis.

.

.

.

Di sebuah ruangan di mana warna putih dan bau obat-obatan mendominasi, tergeletak seorang namja jangkung bersurai coklat dengan beberapa alat medis yang mendukung kehidupannya. Sementara di samping ranjangnya terdapat seorang yeoja dengan mata sembabnya -walaupun tidak menguragi sedikitpun kecantikannya- tengah memandangi namja berkulit putih pucat itu dengan wajah yang tampak pucat pula.

"Kyuhyun-ah, sampai kapan kau akan terus memejamkan matamu, eoh?" tanya yeoja itu yang tak lain adalah Donghae pada Kyuhyun yang tidak bergeming sama sekali dari tidurnya.

"Apa kau begitu bencinya padaku, hm? Sampai melihatku saja kau tidak mau." Donghae tersenyum pedih.

"Jangan menghukumku dengan cara seperti ini, Kyu-ah." Donghae mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Kyuhyun yang tidak diinfus. "Jebal~" mohon Donghae diiringi air mata yang kembali menuruni pipi porselennya.

"Cepatlah bangun dan hukum aku. Kau boleh memakiku sepuasmu, memarahiku, membentakku, berteriak sekencang-kencangnya, memukulku, apapun yang akan aku lakukan padaku aku akan menerimanya." Donghae menundukkan kepalanya, terisak. Dia benar-benar merasa bersalah pada Kyuhyun. menyesali penghianatannya yang begitu menyakiti Kyuhyun.

"Mianhae." Air mata Donghae mengalir semakin deras.

"Aku bahkan tidak pantas mendapatkan maaf darimu."

Donghae berdiri dari duduknya, berjalan beberapa langkah menjauh dari ranjang yang Kyuhyun tempati. Donghae berlutut.

"Mianhae. Jeongmal mianhae. Aku yeoja jahat dan kejam, Kyu. Aku tidak pantas berada di sisimu." Isakan Donghae berubah menjadi tangisan pilu.

"Mianhae. Mianhae. Hiks hiks. Mianhae." Donghae memegang dadanya yang terasa sesak kala sekelebat bayangan menghampiri memorinya. Kenangan akan kebaikan Kyuhyun dan penghianatannya. Air matanya mengalir tanpa henti dari mata teduhnya.

.

.

.

Di balik pintu yang memisahkan kamar rawat Kyuhyun dan lorong rumah sakit, seorang namja yang pada awalnya akan memasuki ruangan tersebut mengurungkan niatnya saat mendengar monolog Donghae. Namja yang adalah Kibum tersebut meremas dada kirinya yang sakitnya bagaikan ditusuk sebilah pisau tajam. Kibum dapat merasakan kepedihan yang melanda Donghae. Sumpah demi apapun Kibum sangat tidak menyukai Donghae mengeluarkan air matanya, apalagi Donghae yang tersakiti karena dirinya. Kibum tidak akan memaafkan dirinya sendiri.

"Mianhae, Hae-ya. Semua salahku." Lirih Kibum yang diam-diam mengamati –menguping lebih tepatnya- Donghae sedari tadi.

Kibum mendongakkan kepalanya saat dirasa kedua matanya memanas, mencegah cairan bening yang hendak jatuh dari obsidiannya. Namun terlambat, bulir air matanya itu telah meluncur turun menuju pipinya.

Entah Kibum sadar ataupun tidak, orang yang ia percayai, orang yang ia anggap sebagai hyungnya, Jung Yunho, menatap penuh iba padanya. Siapa yang patut disalahkan? Dan siapa yang tersakiti di dalam kisah cinta rumit ini? Donghae? Kibum? atau Kyuhyun?

.

.

.

"Cukup, Kibum-ah." Pinta Yunho pada Kibum seraya merebut galas berisi wine yang hendak Kibum minum.

Entah sudah berapa banyak wine yang Kibum minum. Kibum yang notabenenya tidak mudah mabuk kini terlihat wajahnya yang sudah memerah dan duduknya yang tidak tegap, menandakan ia yang telah kehilangan kesadaran atas dirinya. Yunho tidak bisa menghitung berapa gelas wine yang telah Kibum teguk.

"Berikan." Titah Kibum hendak merebut kembali wine nya.

"Kau sudah mabuk, Kibum-ah." Yunho menjauhkan wine di tangannya dari jangkauan Kibum.

"Kau menyebalkan Jung Yunho." Umpatnya pada Yunho. "Berikan aku wine lagi!" teriak Kibum pada bartender.

Sang bartender pun menuruti permintaan pelanggannya. Disodorkannya segelas wine beserta botolnya di hadapan Kibum yang langsung ditolak Yunho.

"Ya! Jung Yunho!" teriak Kibum marah.

Tanpa berkata sepatah kata pun Yunho menyeret Kibum keluar dari bar, membawanya ke parkiran.

'Plak'

Sebuah tamparan keras Yunho layangkan pada Kibum, bermaksud menyadarkan namja yang lebih muda beberapa tahun darinya itu dari alam bawah sadarnya –mabuk.

"Inikah sosok sebenarnya dari Tan Kibum yang aku segani, eoh?" tanya Yunho sarkastik.

"Ternyata kau tidak lebih dari seorang pecundang yang melimpahkan semua masalah pada minuman keras." Yunho tertawa remeh.

"Di mana Tan Kibum yang hebat itu, hm? Presdir muda yang kompeten, seorang jenius, mampu memecahkan masalah pelik perusahaan, terkenal di seantero dunia bisnis." Cerocos Yunho, sementara Kibum hanya diam saja tidak berminat membela dirinya ataupun membalas perkataan Yunho.

"Jangan siksa dirimu seperti ini, Kibum-ah." Nada suara Yuno turun satu oktaf.

"Kau tahu? Donghae pasti akan bertambah sedih jika melihatmu seperti ini. Kau tidak ingin menambah bebannya bukan? Entah apa yang terjadi pada kalian aku tidak paham." Yunho memberi jeda, dipegangnya kedua bahu Kibum dan mengajak mata rubahnya bertemu dengan obsidian milik Kibum.

"Dia yeoja yang baik, jangan menorehkan luka di hatinya dengan sikapmu yang seperti ini. Seorang namja harus bersikap kuat dan gentle, jangan menjadi seorang pecundang. Kau mencintainya bukan?" tanya Ynho retoris.

"Sangat." Jawab Kibum tanpa ragu, membuat Yunho tersenyum mendengarnya.

"Kalau begitu ringankanlah bebannya, beri dia kebahagiaan. Cinta itu memberi kesejukan, bukan kesesakan. Cinta itu menyembuhkan, bukan menyakiti. Kadang apa yang kita inginkan tidak sejalan dengan kenyataan yang ada. Kadang apa yang menurut kita tidak baik, tidak sepenuhnya tidak baik, mungkin itu jalan yang terbaik." Ceramah Yunho panjang lebar.

"Tentukan pilihan yang akan kau ambil, Kibum-ah, pilihan terbaik yang tidak akan menorehkan luka pada banyak orang. Aku akan selalu mendukungmu." Yunho tersenyum tulus.

Kibum merasakan pandangannya buram dikarenakan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Yunho memeluk Kibum yang sudah ia anggap seperti namdongsaenya sendiri, namdongsaeng yang ia kasihi.

"Aku percaya kau bisa melewati semua ini." tutur Yunho.

"Gomawo, hyung."

.

.

.

Entah mengapa pagi ini Kibum tidak melajukan mobilnya ke perusahaannya, melainkan ke rumah sakit di mana Kyuhyun dirawat. Dia sudah berusaha keras menekan rasa rindunya untuk menemui yeoja yang sangat ia cintai. Sudah dua minggu semenjak Kyuhyun di rumah sakit dan terakhir kali Kibum melihat –mengintip- Donghae menangis, semenjak itu pun Kibum tidak pernah menemui Donghae ataupun sekedar melihatnya. Tentu saja dengan Yunho yang mencegah Kibum mati-matian untuk menemui Donghae, yang menurutnya akan memperkeruh keadaan.

Langkah kaki Kibum terhenti, obsidiannya menangkap sesosok yeoja yang terduduk di salah satu bangku taman rumah sakit, memandang lurus ke depan dengan tatapan kosongnya. Yeoja yang ia kenali sebagai Lee Donghae, malaikatnya. Perlahan, dengan keragu-raguan yang masih menyelimutinya, Kibum berjalan mendekatinya, duduk di ruang kosong di samping yeoja itu. Hening menyelimuti keduanya, hanya ada semilir angin yang menerbangkan lembut surai panjang Donghae dan sedikit menggoyang-goyangkan rambut cepak Kibum.

"Apa kabar, noona?" Kibum adalah orang pertama yang berinisiatif memecah kesunyian.

Donghae terkaget saat suara seseorang yang ia kenal menginterupsi lamunannya, bahkan dia tidak sadar ada seseorang yang duduk di sebelahnya, eoh?

"Ki-Kibum-ah?" bisik Donghae tidak percaya akan kehadiran namja dengan killer smilenya tersebut.

"Apa ini hobi baru nooona?" Kibum melempar senyumnya.

Donghae mengangkat alisnya sedikit tidak mengerti.

"Melamun." Kibum memperjelas.

"Mungkin." Balas Donghae tak kalah singkat.

Donghae kembali menerawang jauh ke depan, entah apa yang menarik perhatiannya di depan sana. keheningan kembali hadir.

"Kalian begitu mirip." Kali ini Donghae yang mulai membuka suara, membuat Kibum menolehkan kepala menatapnya. Kibum mengerutkan keningnya, bingung dengan apa yang dikatakan Donghae. Tapi ia tidak menyela Donghae karena tampaknya apa yang Donghae katakan masih akan berlanjut.

"Sangat jenius, sangat mencintai game, keras kepala, suka bertindak seenaknya, menggemari wine…" Donghae memberi jeda. Kibum mulai mengerti siapa yang tengah Donghae bicarakan –dia dan Kyuhyun.

'Dan sama-sama mencintaimu.' Imbuh Kibum dalam hati.

"Hanya saja bedanya dia sangat jahil dan menyebalkan." Donghae meneruskan.

"Cho Kyuhyun, dingin dan bergengsi tinggi. Tapi di balik topeng keangkuhannya itu tersimpan sifat childish dan kesepian. Ya, tuan muda yang kesepian." Donghae memejamkan matanya, membuka memorinya akan masa lalunya.

"Kau tahu, Kibum-ah? Aku bertemu dengan Kyuhyun satu minggu setelah kau pindah ke China. Waktu itu dia yang adalah murid pindahan dari Amerika yang sombong dan tertutup yang seharusnya dua tingkat di bawahku tapi menjadi satu tingkat di bawahku. Dia seorang yang jenius sepertimu." Kibum masih mendengarkan cerita Donghae dengan seksama, tidak berniat untuk menyela sedikit pun. Sepertinya hari ini Kibum akan menjadi pendengar yang baik.

"Namun aku pernah menemukannya dalam keadaan yang menyedihkan." Lanjut Donghae.

-flashback-

Seorang yeoja kecil dengan seragam sekolahnya dan dua rambut kucir kudanya yang menambah kadar manis dalam dirinya tengah menyibukkan diri dengan buku gambar dan pensil warnanya, sepertinya yeoja kecil tersebut yang tak lain adalah Donghae tengah menunggu Leeteuk untuk menjemputnya dari sekolah yang memang sudah tampak sepi karena sekolah telah usai satu jam yang lalu. Derasnya hujan mungkin menjadi salah satu penghambat terlambat datangnya sang eomma.

"Hiks.. hiks.." samar-samar Donghae mendengar suara tangis yang menurut perkiraannya tidak jauh dari tempatnya duduk. Donghae kecil bergidik ngeri, bukankah hanya ada dirinya di tempat itu. Donghae berusaha mengabaikannya dan kembali menenggelamkan diri dengan kesibukannya menggambar.

"Hiks.. hiks.." kembali suara tangisan menyambangi gendang telinga Donghae.

Dengan didorong rasa penasaran, Donghae menekan rasa takutnya, berjalan menyusuri koridor kelas di sekolah dasarnya. Hingga sampailah ia di depan kelas dengan papan nama 'second grade'. Donghae mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang, hingga ditemukannya seorang namja kecil yang meringkuk di pojok belakang kelas, menutupi kedua telinganya serta bergetar ketakutan.

Dengan segera kaki mungil Donghae melangkah menghampirinya. "Jangan takut, aku di sini." Donghae memeluk namja kecil yang tidak dikenalnya itu, yang mengenakan seragam yang sama dengan dirinya.

"Ssstt.. uljima, aku di sini." Donghae mengusap lembut punggung namja dalam pelukannya, mencoba memberi ketenangan. Beberapa saat kemudian usahanya membuahkan hasil, tangis namja itu terhenti, digantikan isakan-isakan kecil.

"Siapa namamu?" tanya Donghae saat dirasanya namja dalam dekapannya tenang.

"Kyu.. Kyuhyun."

-flashback end-

"Dia cengeng sekali bukan?" Donghae mengulas senyum. "Takut akan hujan deras dan petir."

Donghae kembali menerawang, mengingat kembali kenangannya bersama seseorang yang tengah terbaring di tempat tidur tak sadarkan diri.

"Selain dua hal itu, dia seakan tak takut akan apapun." Lanjut Donghae.

-flashback-

"Yack! apa yang kalian lakukan!" teriakan yang berasal dari seorang namja kecil bersurai ikal coklat madu mengalihkan perhatian tiga namja kecil yang berbadan lebih besar daripada dirinya dari keasyikan menertawakan seorang gadis kecil yang memunguti makanan yang dari kotak biru bergambar ikan nemo di tangannya, sepertinya itu adalah bekalnya yang tumpah.

"Kau siapa, huh?" tanya anak berbadan gembul.

"Aku Kyuhyun!" jawab namja kecil bersurai ikal coklat madu itu.

"Mau apa kau bocah tengil?" tanya teman dari anak gembul itu.

"Jangan ganggu Donghae noona lagi! Atau kalian akan kupukul." Ancam Kyuhyun.

"Ayo kita pergi, Kyunnie." Donghae yang telah membereskan –sedikit- bekalnya yang berantakan berdiri, menggenggam tangan Kyuhyun dan mengajaknya pergi. Kepalanya terus tertunduk menahan tangis, lihat saja kedua matanya yang berair, siap menangis, bukankah Donghae sudah terbbiasa dengan perlakuan teman-teman yang hobi mem-bully-nya?

"Aniya! Anak-anak nakal ini harus meminta maaf pada Donghae noona." Jawab Kyuhyun kekeh.

"Si jelek –Donghae- dan si kurus –Kyuhyun- cocok sekali." Ejek teman anak gembul lain.

"Sebelum kau memukulku, kau akan kupukul duluan anak bodoh!" ucap anak gembul, yang sepertinya merupakan ketua geng tersebut, dengan sombongnya.

Tanpa permisi anak gembul tersebut melayangkan pukulan pada Kyuhyun yang membuat Kyuhyun dan Donghae yang berdiri di belakangnya tersungkurdi tanah. Tidak puas, anak gembul itu mencengkram kerah Kyuhyun dan memaksanya bangkit, membuat leher Kyuhyun tercekik. Kembali Kyuhyun dihadiahi pukulan bertubi-tubi dari ketiga anak-anak nakal tersebut.

"Andwaeee! Kalian jahat! Jangan pukul Kyuhyun! Hentikaaaan!" jerit Donghae histeris melihat Kyuhyun yang dikroyok tiga anak yang sepertinya adalah senior Donghae dan Kyuhyun. Begitu kerasnya jeritan Donghae hingga sukses mendatangkan bala bantuan yang merupakan guru-guru yang memisah perkelahian sangat tidak imbang tersebut.

Beberapa saat kemudian di ruang kesehatan sekolah.

"Hiks hiks.." Donghae terus saja menangis melihat Kyuhyun yang selesai diobati oleh petugas kesehatan. Tampak luka-luka memar menghiasi wajah Kyuhyun.

"Yack! kenapa noona terus saja menangis?" tanya Kyuhyun sebal pada Donghae yang duduk di hadapannya, yang tidak henti-hentinya menangis.

"Hiks.. apa itu sakit, Kyunnie? hiks" tanya Donghae masih terisak.

Kyuhyun heran mendengar pertanyaan Donghae. Jadi Donghae menangis karena Kyuhyun terluka? Kenapa Donghae harus menangis? Bukankah Kyuhyun yang merasakan sakitnya?

"Mianhae.. hiks.. karena aku.. hiks.. mereka memukulmu." Sambung Donghae.

"Nan gwaenchana. Luka-luka ini tidak sakit sama sekali." Ucap Kyuhyun ingin menghibur Donghae. "Aku akan selalu melindungi noona mulai sekarang dan seterusnya." Janji terucap dari bibir mungil Kyuhyun, disertai cengirannya.

Mendengar janji Kyuhyun, Donghae makin tidak bisa menahan haru, air matanya menetes semakin deras. Donghae melombat dari kursi yang ia duduki.

"Gomawo, Kyunnie." Donghae menghambur memeluk Kyuhyun, memeluknya erat.

"A-aku ti-dak bi-bisa berna-pas" rancau Kibum sesah payah, tapi Donghae tidak mempedulikannya, ia masih mendekap Kyuhyun sangat erat.

"Aaaw! Kau menekan lukaku, noona!" seru Kyuhyun.

"Eh?" Donghae segera menarik mundur dirinya mendengar keluhan Kyuhyun. "Mianhae aku menyakitimu. Hiks hiks.. huweee~" tangis Donghae yang mulanya sudah mereda malah kembali terdengar.

"Aish! Mengapa noona kembali menangis?" dengus Kyuhyun frustasi menanggapi tingkah Donghae yang menurutnya terlampau cengeng. Kyuhyun yang terluka dan sakit tapi Donghae yang menangis dengan kencangnya.

Senior High School.

"Aww! Sakit, noona!" keluh Kyuhyun saat Donghae menekan lukanya agak keras.

"Salahmu sendiri mengapa berkelahi?" Donghae menghentikan sejenak aktivitasnya yang mengoleskan obat di pelipis Kyuhyun yang tampak memar, sebenarnya tidak hanya pelipisnya saja yang penuh luka lebam tapi hampir seluruh wajahnya, tak ketinggalan pula bajunya yang sudah lusuh tak berbentuk.

Kyuhyun memandangi Donghae di depannya yang hanya berjarak kurang dari 10 cm, bahkan Kyuhyun bisa merasakan deru hangat napas Donghae yang menerpa wajahnya. Donghae memanyunkan bibirnya pertanda kesal pada namja yang sedang dan sering ia obati lukanya karena berkelahi. Tingkah Donghae yang terlihat lucu di mata Kyuhyun membuat kedua sudut bibir namja jangkung itu terangkat ke atas.

"Aww." Rintih Kyuhyun kembali. Kali ini bukan karena Donghae yang menekan lukanya terlalu keras tapi karena perih di sudut bibirnya yang tampak sobek dan berdarah terlebih saat dirinya tersenyum.

Donghae yang tadinya terfokus mengobati pelipis Kyuhyun, beralih pada sudut bibir Kyuhyun, mengoleskannya obat dengan jari telunjuknya. "Apa yang membuatmu tersenyum, eoh?" tanya Donghae yang selanjutnya meniup-nuip luka di sudut bibir Kyuhyun, mempertipis jarak di antara mereka, sontak membuat jantung Kyuhyun berdegup makin kencang, mengingat Donghae yang berada sangat sangat dekat dengannya, terlebih saat pandangan mata Kyuhyun jatuh pada bibir plumb Donghae yang tipis dan lembut. Sumpah demi PSP kesayangannya, Kyuhyun sangat ingin merasakan bibir itu.

"AWW! APPO!" teriak Kyuhyun kalap saat Donghae dengan sengaja menekan lukanya untuk mengembalikan Kyuhyun dari alam bawah sadarnya. Donghae tertawa riang atas tindakannya pada Kyuhyun.

"Kau kejam, noona!" ucap Kyuhyun dengan sebal.

"Jangan berkelahi lagi. Jebal." Donghae tidak menggubris Kyuhyun, ia menatap kedua manic coklat Kyuhyun, memohon dengan sangat, mengubah suasana menjadi serius.

"Aku tidak mereka merendahkan noona. Jangan menuruti apa yang mereka perintahkan." Kyuhyun balas menatap Donghae tak kalah serius.

"Aku tidak apa-apa, Kyuhyun-ah. Jangan lukai dirimu seperti ini demi aku. Jangan membuatku semakin merasa bersalah padamu." Pandangan Donghae mulai mengabur, diikuti oleh kedua matanya yang berkaca-kaca.

"Aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika tidak bisa melindungimu, noona. Walaupun wajahku penuh luka tapi ketampananku tidak berkurang sedikit pun bukan?" ujar Kyuhyun diakhiri candaan.

"Aish, sama sekali tidak lucu, Kyu!" Donghae memukul pelan bahu Kyuhyun.

"Apa yang kau lakukan, noona? Mana boleh kau menyakiti pasien pribadimu, huh?" Kyuhyun berpura-pura sebal.

"Cho Kyuhyun pabbo." Air mata mengalir indah menuruni pipi mulus Donghae.

"Uljima." Kyuhyun menghapus air mata Donghae dengan kedua ibu jarinya, lalu menarik Donghae ke dalam pelukannya.

Someday.

"Hentikan! Cukup! Jangan pukuli dia! Hentikaaan!" teriakan histeris berasal dari seorang yeoja yang bergetar ketakutan di pojok sebuah ruangan gelap dan pengap, menyaksikan seorang namja yang sudah ia kenal dengan baik dikeroyok dan dipukuli oleh para berandalan. Lihat saja keadaan yeoja itu yang sudah sangat berantakan, pakaian lusuh dan luka di tangan dan lututnya.

Setelah puas menghajar namja yang sudah tergolek tak berdaya di lantai, para berandalan itu melenggang begitu saja disertai umpatan-umpatan yang ditujukan pada namja itu.

"Kyuhyun-ah!" pekik sang yeoja –Donghae- yang segera menghampiri Kyuhyun. Ketakutannya meningkat seketika saat didapatinya Kyuhyun yang telah kehilangan kesadarannya. Di tengah-tengah kepanikannya Donghae mengambil ponsel di saku roknya dengan tangan bergetar, berusaha menghubungi seseorang yang dapat ia andalkan untuk dimintai pertolongan.

At hospital.

"Donghae agassi." Donghae yang merasa namanya dipanggil oleh seseorang, mendongakkan kepalanya yang semula tertunduk. Air mata masih setia mengalir dari kedua pelupuk matanya, raut kekhawatiran dan ketakutan tak dapat disembunyikan dari paras cantiknya.

Donghae mengenali namja paruh baya yang memanggil dan menghampirinya. Kepala pelayan Seo. Itulah yang Donghae ketahui. Namja yang sudah sangat lama mengabdikan dirinya pada keluarga Kyuhyun, mengasuh Kyuhyun sedari kecil dan menjadi orang kepercayaan Kyuhyun di kediamannya.

"Apa yang terjadi, Agassi?" tanya kepala pelayan Seo yang sudah mendudukkan dirinya di samping Donghae.

"Kyuhyun hiks berkelahi dan hiks pingsan. Bahkan sangat sulit bagiku untuk hiks menemukan napasnya. Aku sangat takut, ahjussi." Begitulah Donghae mengadu, diiringi tangisnya.

"Tenanglah, Agassi, ceritakan kronologisnya kepada saya." Pinta kepala pelayang Seo mencoba tenang, padahal dirinya pun sama khawatirnya dengan Donghae akan keselamatan tuan mudanya.

"Gerombolan berandalan mengangguku dan mengunciku di kelas hiks, mereka ingin mencelakaiku. Tapi sebelum hal itu terjadi, Kyuhyun hiks datang dan terlibat perkelahian dengan mereka. Kyuhyun hiks terkena pukul di dadanya-"

"Mwoya?!" belum sempat Donghae menyelesaikanya, kepala pelayan Seo memotong cerita Donghae. Kecemasan sangat tampak pada raut wajahnya.

"Ada apa, ahjussi?" tanya Donghae heran, hati kecilnya mengatakan sesuatu yang buruk tengah terjadi.

Namun hanya bingung dan diam yang dilakukan oleh kepala pelayan Seo. Donghae sangat geram akan hal itu, pasti ada sesuatu yang disembunyikan darinya, sesuatu yang penting, tentang Kyuhyun mungkin.

"Ahjussi, katakan ada apa sebenarnya." Pinta Donghae tegas tapi tidak menggurangi kesopanannya.

Kepala pelayan Seo masih setia menutup mulutnya.

"Jebal, ahjussi. Pasti tentang Kyuhyun bukan? Aku harus mengetahuinya."

"Tuan muda Cho tidak akan memaafkan saya setelah ini." namja paruh baya itu menghela napas. Donghae dengan setia menanti kata-kata yang hendak terlontar dari bibir kepala pelayan Seo.

"Sebenarnya sejak kecil Tuan muda mengidap penyakit pneumothorax." Tutur kepala pelayan Seo membuat Donghae tersentak kaget, membulatkan kedua matanya.

"Mwoya?! Tidak mungkin! Jangan bercanda denganku, ahjussi!"

"Tuan muda tidak ingin orang-orang mengetahui tentang penyakit yang dideritanya, karena tidak ingin terlihat lemah di mata orang lain. Tuan muda pernah bilang, bagaimana mungkin dirinya bida melindungi Donghae Agassi jika orang lain memandang sebelah mata dirinya karena penyakit yang dideritanya."

Donghae membungkam mulutnya, berusaha meredam tangisnya agar tidak melesak keluar dan mengganggu penghuni rumah sakit. "Kyuhyun pabbo." Umpat Donghae yang bukan benar-benar sebuah umpatan.

Three hours later.

Kyuhyun mengerjap-ngerjapkan matanya saat dirasanya cahaya menyilaukan mengetuk-ngetuk kelopak matanya. Putih. Itulah kesan pertama yang ia lihat saat matanya setengah terbuka, perlahan Kyuhyun mulai bisa mencerna di mana ia berada. Rumah sakit. Kyuhyun menengokkan kepalanya ke samping kiri di mana ia merasakan seseornag yang menggengga tangannya dengan erat, sebuah tangan yang halus dan lembut. Senyum terpatri di bibirnya saat menyadari siapa gerangan pemilik tangan tersebut.

"Kyuhyun-ah. Kau sudah sadar? Bagaimana keadaanmu? Bagian mana yang terasa sakit, eoh? Aku akan memanggil dokter." Kyuhyun makin tersenyum cerah mendengar runtutan pertanyaan tersebut. Kyuhyun menahan tangan Donghae saat yeoja itu hendak beranjak keluar memanggil dokter.

"Noona cerewet sekali." Keluh Kyuhyun. "Aku baik-baik saja."

"Baik-baik saja kau bilang?" Donghae kembali mendudukkan dirinya di samping Kyuhyun, dirinya terpancing emosi akan perkataan santai Kyuhyun. "Aku hampir mati ketakutan mengkhawatirkanmu dan kau masih bisa bilang baik-baik saja, huh?" ucap Donghae marah namun disertai air matanya yang –kembali- menetes.

"Noona sangat mengkhawatirkanku, eoh? Kalau begitu aku rela sering dipukuli seperti itu." ucap Kyuhyun enteng serayua tersenyum.

"Pabbo! Apa yang kau katakana?! Mengapa kau begitu menyebalkan, Cho Kyuhyun?!" Donghae -semakin sebal akan tingkah Kyuhyun, memukul-mukul lengan namja yang masih terbaring di tempat tidur itu.

"Berhenti memukulku, noona, aku ini sedang sakit."

"Mengapa kau tidak mengatakannya, pabbo? Mengapa menyembunyikannya dariku? Mengapa membohongiku, hah? Mengapa menyiksa dirimu demi aku?" Donghae makin terisak.

"Mwo?" otak Kyuhyun dapat dengan cepat menangkap maksud Donghae. Apakah Donghae telah mengetahui rahasia terbesarnya?

"Kepala pelayan Seo?" tanya Kyuhyun entah pada siapa.

"Jadi kau sudah mengetahuinya dari kepala pelayan Seo, noona?" Donghae menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Kyuhyun.

"Kau pasti sangat khawatir padaku." Ucap Kyuhyun tersenyum lebar.

"Berhenti tersenyum bodoh, Cho Kyuhyun." pinta Donghae yang sebal akan tingkah Kyuhyun yang terbilang acuh dalam situasi penting seperti ini.

Kyuhyun menarik Donghae mendekat pada dirinya dan..

CHUUP~

Kyuhyun mengecup bibir Donghae yang ia idam-idamkan selama ini.

"Kalau begitu tetaplah di sampingku agar aku bisa menjagamu dengan mudah. Saranghae, Lee Donghae."

Tanpa menunggu jawaban Donghae, Kyuhyun kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Donghae. Melumat bibir manis itu tanpa terlewat seinchi pun. Menekan tengkuk Donghae untuk mempertahankan ciumannya. Ciuman pertamanya dengan Donghae, yeoja yang ia cinta. Dan Donghae hanya bisa memejamkan matanya menerima serangan Kyuhyun yang telah merebut first kiss nya. Entah mengapa hati Donghae terasa sakit, sangat sakit. Bibir Kyuhyun yang bermain dengan bibirnya, sesungguhnya bukan itu yang ia inginkan. Bukan seorang Cho Kyuhyun yang ia sayangi seperti dongsanengnya sendiri yang mendapatkan first kiss nya. Tanpa Kyuhyun sadari, setitik air mata mengalir dari kedua manic polos Lee Donghae.

.

.

.

T~B~C

.

.

.

Sudah cukup!

ff yang terlalu panjang tidak baik untuk kesehatan mata.

Mau protes?

Nggak ada NC?

Tunggu chap depan kalau ingat..

Wkwkwkwwk~

Mian baru bisa update.

Gomawo yang sudah bersedia review.

Mind to REVIEW again?