Summary: Sex friend, begitu yang Naruto katakan tentang hubungannya dengan Uchiha Sasuke, dan Sasuke sendiri tidak terlalu peduli Fuck buddy-nya itu menyebut hubungan mereka seperti apa. Selama itu menyenangkan, kenapa tidak. Begitu pikir mereka. Tapi, benarkah sesederhana itu?

Disclaimers: Naruto belongs to Kishimoto sensei!

Rate: M

Pairing: SasuFemNaru

Gendre: Friendship, romance, humor, drama, and hurt/comfort

Warning: Gender switch, Alternate universe-modern setting, OOC, typo(s), kata yang berulang dan kekurangan lainnya.

.

CRAZY STUPID LOVE

Kenozoik Yankie

.

Setelah membantu Naruto untuk memapah Gaara masuk, Sasuke berdiri bersandar di dinding tidak jauh dari tempat tidur, melipat kedua tangan di depan dada, mengamati Naruto yang terlihat sangat sibuk membersihkan luka pria merah itu. Setidaknya Sasuke merasa sedikit lega, karna Naruto tidak menempatkan Gaara di kamar tidurnya, tempat di mana mereka sering melakukan sesuatu yang menyenangkan. Naruto menyuruhnya menempatkan Gaara di kamar tamu satu-satunya yang ia punya. Namun kesabaran Sasuke yang memang sudah semakin sedikit, semenjak ia menginjakan kaki di depan pintu apartemen Naruto semakin tipis saja, ketika Naruto akan melepaskan pakaian milik Gaara.

"Ada apa?" Tanya Naruto tampak kebingungan saat Sasuke menahan tangannya yang akan membuka kancing kemeja milik Gaara.

"Apa yang akan kau lakukan padanya?" Tanya Sasuke, mengeraskan rahang. Suaranya terdengar seperti mendesis di telinga Naruto.

"Hanya ingin melepas pakaiannya, menjaganya agar hangat" Jawabnya masih menatap Sasuke.

"Kau!" Menghembuskan napas kasar. "Biar aku saja yang melakukannya" Katanya dengan nada yang kembali datar.

Naruto menatap Sasuke tanpa berkedip. Terus menatapnya sampai Sasuke merasa sedikit tidak nyaman di buatnya. Jadi dengan nada yang terdengar tidak suka, Sasuke bertanya pada Naruto. "Apa?" Satu alisnya terangkat melawan gravitasi.

"Wow, Sasuke!" Seru Naruto sambil tertawa, "Aku pikir, kau akan membiarkanku melepasnya sendiri" Kemudian menyingkirkan bokongnya dari atas tempat tidur.

Naruto memang berpikir seperti itu. Dan sesungguhnya, ia tidak begitu siap kalau harus melihat kembali tubuh Gaara yang tentunya sudah sangat jauh berbeda dengan terakhir kali ia melihatnya. Mungkin saja tangannya tadi gemetar, lantas Sasuke memperhatikan itu, kemudian menawarkan diri. Kalau memang sebuah cengkeraman di pergelangan tangannya bisa di artikan sebagai usaha menawarkan diri Sasuke untuk menggantikannya.

Mendengus, "Kau memang bodoh" Katanya dengan nada mencemooh.

Mendengar itu, Naruto merasakan sudut pelipisnya berkedut. "Sudah berapa kali aku mengatakan ini padamu, jangan mengataiku bodoh!" Katanya sambil berkacak pinggang.

Namun Sasuke mengabaikan protes Naruto. Ia membuang muka, "Keluar, dan buat dirimu berguna" Lantas berjalan ke arah ranjang.

"Brengsek!" Maki Naruto sambil membanting pintu.

Melupakan jika di dalam sana, ada seseorang yang tak sadarkan diri.

Ia lalu memilih hal yang berguna dengan menyiapkan air hangat dan mengambil alkohol di kotak P3K miliknya. Beberapa saat kemudian, Sasuke keluar dari kamar untuk memberitahunya jika pekerjaannya sudah Selesai. Naruto masuk ke dalam kamar setelahnya, lalu mulai membersihkan luka di sekitar wajah Gaara, dengan Sasuke yang terus mengawasinya seperti burung elang. Bahkan Naruto merasa jika tatapan itu mampu melubangi kepalanya.

"Sudah selesai?" Tanya Sasuke, masih dengan posisinya yang tadi.

"Um" Gumam Naruto sambil merapikan selimut yang Gaara kenakan.

"Kita perlu bicara kalau begitu" Kata Sasuke lagi.

"Apa tidak bisa di tunda dulu?" Tanya Naruto, nada suaranya terdengar lelah.

"Tidak. Aku ingin sekarang" Jawab Sasuke tegas.

Menghela napas, Naruto berkata. "Baiklah, kita bicara di luar"

Sasuke yang terlebih dahulu keluar dengan Naruto yang mengekorinya di belakang. Naruto menutup pintu dengan perlahan.

o0o

"Apa ada yang ingin kau katakan padaku?" Sasuke bertanya dengan nada suara yang menyelidik, sesaat mereka sudah ada di ruang tamu sekaligus ruang tengah.

"Kau bilang ingin membicarakan sesuatu. Kenapa malah bertanya padaku?" Tanya Naruto dengan heran, setelah itu menghempaskan dirinya di atas sofa empuk miliknya.

"Aku ingin tahu siapa dia dan apa hubungannya denganmu"

Dirinya sudah tahu apa masalah lalu kedua orang itu dari Jugo. Tetapi karna ia adalah seorang Uchiha, mendengarnya langsung dari sang tokoh utama akan lebih menarik. Dan akan menjadi lebih berkesan lagi jika Naruto menangis sambil menceritakan kisah dirinya dan pria merah itu. Karna Sasuke sangat ingin melihat bagaimana wajah wanita itu saat sedang menangis. Dan kalau sempat, ia mungkin akan memotretnya sebagai kenang-kenangan.

"Kami hanya teman" Kata Naruto cepat, tanpa memandang Sasuke.

"Aku tidak melihatnya begitu saat kau menatapnya" Sahutnya, melirik Naruto dengan curiga.

"Sasuke, tidak bisakah kita menundanya membicarakan ini?" Tanyanya merajuk.

"Tidak" Tolaknya, "Kau mengatakan kita harus menjadi teman. Jadi jika kau ingin aku menjadi temanmu dan jujur padamu, aku ingin kau melakukan hal yang sama. Teman itu saling percaya dan berbagi. Bukankah kau mengatakan itu padaku malam sebelumnya, Naruto?"

Dirinya ingat dengan apa yang ia ucapkan pada Sasuke malam sebelumnya. Dan Naruto sama sekali tidak mengharapkan Sasuke mengutipnya dalam waktu secepat ini, lalu menjadikannya senjata yang bagus untuk mengungkapkan beberapa hal pribadi tentangnya. Naruto menimbang, sebaiknya menceritakan hubungannya dengan Gaara di masa lalu atau tidak pada Sasuke. Dan apa akibat yang harus dirinya tanggung jika ia jujur atau tidaknya pada seks friend-nya itu. Namun Naruto kembali mendapat gagasan baru. Seperti; tidak ada untung dan ruginya memberitahukan masalahnya dengan Gaara di masa lalu pada Sasuke. Lagi pula alasan dirinya melakukan perjanjian itu, sangat berhubungan erat dengan masa lalunya bersama Gaara. Jadi, mungkin tidak apa-apa membuka semuanya pada Sasuke malam ini.

"Kau tahu, ini sangat rumit, dan membosankan. Kau pasti tidak akan menyukainya"

"Coba saja" Ucapnya dengan wajah pongah.

"Namanya Gaara, aku sudah mengenalnya hampir seumur hidupku. Aku tahu kebiasaannya. Aku tahu makanan, lagu, bahkan baju favoritnya. Aku mengenal dirinya hampir sama seperti aku mengenal diriku. Gaara juga tahu kebiasaanku, baik dan buruk. Kadang tanpa mengatakan apa pun, Gaara bisa tahu aku sedang kesal, bosan, maupun senang. Gaara bahkan tahu, jika aku sedang berbohong padanya. Namun aku-kami mengacaukan itu semua. Aku menyukainya, sangat. Awalnya, aku mengira Gaara tidak menyukaiku, dan menganggapku seperti aku menganggapnya layaknya aku yang terlihat di permukaan. Tetapi dugaanku selama ini salah, Gaara juga menyukaiku. Hanya saja, ia terlalu takut menyakitiku. Karna itulah Gaara menahan perasaannya padaku"

Naruto diam sejenak, menunggu Sasuke berkomentar seperti yang biasa ia lakukan. Tetapi, lama dirinya menunggu, Sasuke tak juga bersuara. Ia lantas melirik Sasuke yang kini menampilkan wajah kaku yang terkesan dingin, dan tatapan matanya tampak kosong. Naruto tidak begitu yakin, karna ia hanya melihatnya dari sudut yang tidak memungkinkan. Mereka duduk bersisian di atas sofa, dengan jarak yang cukup untuk menjejalkan dua orang di antara mereka.

Naruto memeluk bantal sofa dengan erat.

"Waktu itu musim dingin. Aku dan Gaara masuk di klub yang sama, dan klub kami mengadakan suatu kegiatan di luar lingkungan sekolah. Di sana kami bersenang-senang...jika kau mengerti maksudku"

"Hn, lanjutkan"

"Beberapa minggu setelahnya, aku mendapati diriku hamil. Saat itu usiaku lima belas tahun" Suara Naruto mulai pecah di bagian ini. Tapi ia mencoba bertahan. Sedikit lagi, begitu pikirnya. Dan ia tertawa. Tawa yang membuatmu tidak ingin ikut tertawa bersamanya.

"Waktu usia lima belas tahun, aku di vonis menderita kelainan mental dengan nama aneh yang bahkan aku tidak mengerti artinya oleh dokter sekolah yang juga tidak begitu terlihat waras di mataku" Ujar Sasuke tiba-tiba. Ia tidak tahu kenapa ia mengatakan hal itu pada Naruto. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya sebelum ia sadari. Apakah untuk menghiburnya? Mengatakan secara tersirat jika bukan dirinya saja yang mengalami hal gila sewaktu berusia belasan? Entahlah, Sasuke tidak yakin.

"Lalu aku sangat ketakutan. Kau bisa membayangkan seperti tersesat di tengah belantara saat malam hari dan tak ada seorang pun yang dapat menolongmu. Kemudian, aku teringat akan Gaara, dan aku memberitahunya. Suatu kejutan mendapati dirinya akan bertanggung jawab. Mengatakan hal-hal yang anak seusia kami katakan tentang tanggung jawab dan masa depan. Semuanya sangat indah di telingaku. Lantas, aku mendapati diriku tidak tersesat lagi. Seperti ada angin segar yang bertiup dari lembah, berbisik padaku tentang jalan keluar dari belantara. Membuatku berpikir, semuanya akan berjalan dengan baik..."

Jeda yang cukup panjang.

"Tidak ada yang menyuruhmu berhenti" Sahutnya.

"Ya, aku tahu. Setidaknya biarkan aku mengambil napas. Karna mungkin sebentar lagi aku akan menangis" Kata Naruto sambil membenamkan wajahnya di atas bantal sofa.

"Mendekatlah kalau begitu" Ujarnya dengan melirik Naruto.

"Apa boleh?" Tanyanya sambil menolehkan wajah yang sisi lainnya masih terbenam di atas bantas sofa yang ada di pangkuannya.

"Hn"

Tidak menunggu waktu lama, Naruto lantas menggeser tubuhnya untuk merapat ke Sasuke, sebelum pria itu kembali membuka mulut dan berkata dengan nada yang terdengar terganggu. "Asalkan tidak memenuhi bahuku dengan lendir yang berasal dari hidungmu, aku tidak begitu keberatan" Dan sebuah bantal sofa melayang ke wajah datar Sasuke dengan telak.

"Sebaiknya aku memang berada di sisi yang lainnya, tanpa harus bergabung denganmu" Kata Naruto dengan sinis.

"Tidak masalah, selama kau melanjutkan ceritamu" Ujar Sasuke, masa bodoh.

Naruto duduk sambil merebahkan tengkuknya di sandaran sofa, membuatnya mendongkak menatap langit-langit apartemennya. Ia menghirup oksigen, dan menghembuskannya perlahan. "Esoknya dia meninggalkanku tanpa mengatakan apa pun. Aku keguguran karna memaksakan diri mengejarnya ke bandara. Dan hari itu benar-benar seperti neraka. Bahkan hari-hari berikutnya"

"Neraka memang ada di mana-mana"

"Lalu dia kembali, dan aku tak tahu harus melakukan apa"

"Dia datang untuk menjelaskan sesuatu padamu"

"Um, aku juga berpikir begitu..."

"Sayang sekali, kau tidak menangis" Sasuke berkata jujur saat mengatakannya. Tidak ada tangisan di wajah itu, dan ia merasa sangat menyesal karnanya.

"Ya, itu juga mengejutkanku"

Terkejut. Karna ia selalu membayangkan jika dirinya menceritakan kisah itu pada orang lain, maka ia akan mendapati dirinya bertindak konyol. Menjelma kembali menjadi gadis belasan tahun yang kehilangan bayi dan di campakkan oleh orang yang ia cintai dalam satu hari. Menangis tersedu-sedu sambil meratapi nasib, lantas sering kali berpikir untuk membunuh diri sendiri. Berjalan bagai zombie, dan tidak peduli pada apa pun. Sedangkan orang terdekat tidak ada yang menyadari kecuali satu orang. Shikamaru. Di sebabkan saat itu, Shikamaru berada di tempat terjadinya tragedi dan drama itu berlangsung.

Namun nyatanya ia tidak menangis. Ia bahkan mengobrak-abrik dalam dirinya, mencari apa saja yang mungkin mirip dengan sesuatu jika dirinya bermimpi atau mengingat tentang hal itu. Tetapi tak ada. Tidak ada yang ia temukan. Dirinya hanya merasa lega, itu saja.

Nyatanya ia telah berubah, sama seperti yang Gaara katakan malam itu padanya.

o0o

Hitam putih, seperti pemutaran film lama yang penuh bercak dan tampak kabur. Berputar-putar dalam tidurnya semenjak ia berusia belasan tahun, menghantuinya sepanjang malam. Gadis belia memakai seragam sekolah dengan mantel jingga, dan ada syal merah di lehernya. Seragam yang sama, yang juga ia kenakan waktu itu, mantel jingga yang ia sangat hafal detailnya, dan syal merah miliknya yang ia berikan di saat pelatihan klub dekat gunung Hokage. Gadis belia yang sangat mencintainya, yang memberikannya kehidupan lain, gadis belia bersurai pirang dengan mata biru cerah yang selalu menatapnya dengan penuh binar, gadis belia yang ia tinggalkan dengan keadaan sekarat di tengah keramaian lalu lalang bandara...

"!"

Gaara terengah-engah hampir kehabisan napas. Ia meremas letak di mana jantungnya berada, rasanya sangat menyakitkan melihat pemandangan itu lagi, berulang-ulang selama hampir sepuluh tahun. Selalu terlihat begitu nyata, seperti baru terjadi kemarin. Suara serak yang memanggil namanya di kejauhan, wajah sewarna karamel cair yang di penuhi air mata, dan raut kesakitan. Lantas yang dia lakukan hanya berbalik. Ayahnya menyuruhnya untuk berbalik, kemudian ia memberi Naruto punggung dengan air mata yang juga mengalir.

Pintu terjebab terbuka, menampilkan sosok gadis dalam mimpi yang kini terlihat lebih dewasa. Namun Gaara tahu, jika sosok itu sudah berbeda. Tak seperti sepuluh tahun yang lalu. Tetapi ia masih terlihat bersinar, tak ada tanda bahwa sesuatu yang berat pernah di laluinya seorang diri. Namun apakah ia hanya menyembunyikannya, seperti yang biasa ia lakukan agar tidak menyusahkan orang-orang di sekelilingnya? Gaara berpikir harusnya ia terus melihat ke depan, bukannya ke masa lalu. Hanya saja, apakah itu mungkin? Jika setiap waktu, masa lalu itu selalu mengikutimu di setiap langkah yang akan kau ambil?

"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Gaara dengan cepat. Ia seperti akan melompat dari tempat tidur untuk menghampiri Naruto. Namun, Naruto lebih cepat datang untuk menghampirinya.

"Harusnya aku yang bertanya padamu, apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Tanya Naruto, mengambil duduk di depan Gaara. Terlihat khawatir.

"Aku baik-baik saja. Naruto, apa kau baik-baik saja?" Tanya Gaara lagi. Ia terlihat gelisah.

"Seperti yang kau lihat" Jawabnya, tersenyum lembut pada Gaara. "Kau mimpi buruk?" Tanyanya.

Gaara mengangguk, namun pandangannya tak fokus. "Aku bermimpi tentangmu. Apa sesakit itu? A...aku sungguh minta maaf"

Gaara terus saja meracau tentang sesuatu yang hanya sebagian yang Naruto mengerti.

"Hey, lihat aku" Naruto lalu meletakan kedua tangannya di kedua sisi wajah Gaara, memaksanya agar menatapnya "Aku baik-baik saja, tidak perlu ada yang di khawatirkan, oke?" Katanya meyakinkan, saat tatapan Gaara sudah berfokus padanya.

"Tapi..."

Ucapan Gaara tersangkut di ujung lidah, ketika Naruto meraihnya ke dalam pelukan hangat dan bersahabat, "Ssssttt...tidurlah" Kata Naruto pelan. "Tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Sungguh" Ia juga menepuk-nepuk punggung Gaara dengan lembut, membuatnya terlihat sedang menidurkan seorang anak kecil.

Dengan perlahan-lahan, Gaara mulai tenang dan memejamkan matanya kembali. Suara napasnya tampak mulai teratur, kemudian Gaara tertidur tanpa bermimpi.

Hanya saja, Naruto lupa. Seseorang berdiri di ambang pintu dengan tangan yang terkepal erat, menatap dengan mata yang menggelap dua orang di dalam sana.

Uchiha Sasuke, merasakan dirinya seperti seluruh oksigen di tarik dari sekitarnya.

Sesak tidak tertahankan.

o0o

Sasuke berjalan dengan langkah berat ke arah dapur setelah menutup pintu kamar dengan perlahan. Tidak! Dirinya tidak akan menutup pintu dengan cara membantingnya. Ia bukan seorang gadis yang akan merasa terluka saat melihat orang di sukainya memeluk orang lain. Lagi pula, ia tidak menyukai Naruto. Uchiha Sasuke tidak pernah menyukai siapa pun. Waktu yang ia miliki terlalu berharga untuk ia habiskan bersama orang lain sampai mati. Bukankah, yang paling banyak menghilangkan kepercayaanmu adalah orang-orang terdekatmu sendiri? Sama seperti Itachi, Ayahnya dan bahkan Ibunya.

Namun apa arti perasaan sesak, dan kesal yang ia rasakan sampai saat ini?

Ia merasakan ponselnya bergetar sesaat setelah mengambil bir di dalam lemari pendingin, membuka penutup botol, dan menenggaknya sampai setengah kosong. Baru kemudian menjawab panggilan telepon yang masuk.

"Apa yang kau inginkan?!" Tanyanya dengan kesal, ketika tahu yang meneleponnya adalah Itachi.

"Bukan aku. Tapi Ibu." Jawab Itachi dengan cepat.

"Sasuke?" Suara lembut wanita paruh baya terdengar setelahnya.

"Ya, Bu. Ini aku" Jawab Sasuke dengan ada suara yang sedikit melunak.

"Apa kau tidak datang kemari? Ini sudah beberapa bulan kau tidak datang berkunjung"

Sasuke meletakan botol birnya di atas meja konter, lalu mendudukkan diri di bar stool. "Aku sibuk" Jawabnya singkat.

"Setidaknya luangkan waktumu sedikit" Kata Mikoto dengan sabar. "Apa semuanya baik-baik saja? Kau terdengar berbeda. Ada apa?" Tanyanya, saat menyadari nada suara Sasuke yang berbeda dari biasanya. Ia merasa jika putra bungsunya itu sedang tidak tenang.

"Tidak ada apa-apa" Jawabnya berbohong pada Ibunya dan dirinya sendiri.

"Kau yakin?" Mikoto bertanya untuk memastikan.

"Hn"

Hening...

"Bu..."

"Ya, sayang?" Jawab Mikoto penuh perhatian. Ini pertama kalinya dirinya mendengar Sasuke memanggilnya dengan nada seperti itu, membuatnya semakin yakin jika sedang terjadi sesuatu pada Sasuke. Ia ingin bertanya, namun Sasuke orang yang tertutup, sangat jarang membagi apa pun pada orang lain. Bahkan padanya, Ibunya sendiri.

"Sepertinya aku tidak akan datang"

"Kenapa?"

"Aku berada di apartemen...temanku"

Teman? Sasuke memiliki seseorang yang di anggapnya teman?

Jujur, ini kejutan buat Mikoto. Sasuke tidak pernah sekalipun membicarakan tentang seorang teman selama bertahun-tahun semenjak kepergian Itachi. Tapi kali ini ia memilikinya dan mengakui orang itu sebagai teman. Mikoto jadi sangat penasaran dengan teman Sasuke ini.

"Apa temanmu baik-baik saja?" Tanyanya, berpikir mungkin saja teman Sasuke sedang sakit. Jadi dia memutuskan tidak datang untuk menjaganya.

"Hn, dia baik. Amat sangat baik"

"Syukurlah. Tapi besok kau akan mengantar Ibu ke tempat kelas merangkai bunga kan?"

"Hn, aku akan mengantar Ibu" Janjinya.

"Sampai jumpa besok kalau begitu. Dan salam buat temanmu" Kata Mikoto dengan riang.

"Hn, sampai jumpa"

Sasuke mematikan ponselnya sesaat setelah Ibunya mengakhiri pembicaraan telepon mereka. Sasuke sedikit ingin berterima kasih pada Ibunya atau mungkin Itachi karna sudah meneleponnya. Perasaan sesak yang tadi menderanya kini sedikit berkurang. Namun tidak dengan perasaan kesal yang ia rasakan. Api itu semakin membesar saja, dan mungkin sebentar lagi akan berubah menjadi amarah. Di tambah dengan Naruto yang belum menyingkirkan bokongnya dari dalam kamar, di mana Gaara berada. Semakin Sasuke memikirkan itu, semakin membuatnya sakit kepala, lelah dan mengantuk. Membuat Sasuke tanpa sadar merebahkan kepalanya di atas meja konter dan tak lama kemudian tertidur.

Tangan yang mendarat di bahunya mengejutkan Sasuke sehingga membuatnya terbangun. Sasuke lantas duduk tegak, masih di atas bar stool, lantas mengarahkan pandangannya pada Naruto yang kini menatapnya teduh. "Sasuke," Ujar Naruto, yang kini meletakan tangannya di lengan Sasuke. "Kenapa tidur di sini?"

Sasuke mengejapkan mata, masih setengah sadar. Dirinya tertidur begitu lelap, hingga hampir sulit menyadarkan diri. Sasuke merasa sedang melihat dapur-dengan kabinet yang menggantung di atas bak cuci piring dan lemari pendingin penuh pernah pernik warna-warni-dari dalam air.

"Naruto?" Tanyanya tidak yakin.

"Ya, ini aku" Jawab Naruto sambil memutar bola matanya. "Aku pikir kau sudah pulang" Ujarnya.

"Kau berharap begitu, atau berniat mengusirku?" Kata Sasuke, ia memandang Naruto dengan matanya yang setengah terpejam.

"Sensitif sekali" Cibirnya, "Aku hanya berpikir kau pulang. Karna kau tak terlihat di mana pun, padahal tadi kau bergegas bersamaku saat mendengar suara ribut-ribut di dalam kamar tamu" Katanya, mencoba menjelaskan.

Mood Sasuke tidak pernah baik saat di bangunkan. Naruto mencatat baik-baik hal ini di kepalanya.

Sasuke tidak mengatakan apapun lagi untuk membalas perkataan Naruto. Sasuke memutar bar stool, membuatnya berhadapan langsung dengan Naruto yang masih berdiri menatapnya sedikit bingung melihat tingkah Sasuke. Dan yang terjadi berikutnya adalah Sasuke yang memeluknya, membuat Naruto cukup merasa terkejut.

"Sasuke...?"

"Aku lelah" Sasuke berbisik di telinga Naruto sebelum menekan ciuman ke bahu Naruto dan mengambil napas dalam-dalam.

Sedangkan Naruto berpikir dengan keras. Apa sasuke sedang menciumnya?

"Istirahat dan pergilah tidur kalau begitu" Sahutnya sambil membalas pelukan Sasuke. Menepuk pelan punggungnya, seperti yang ia lakukan pada Gaara.

"Aku ingin denganmu" Bisiknya lagi dengan pelan.

"Oke, aku akan membantumu berjalan menuju tempat tidur" Ujarnya, memutuskan. Naruto merasa jika Sasuke mulai mengatakan hal-hal yang tidak perlu.

Sasuke benar-benar kelelahan rupanya.

Naruto lantas meletakkan lengan Sasuke di sepanjang bahunya, menariknya sekuat tenaga untuk menuruni bar stool tanpa terantuk atau terjebab jatuh bersamanya membentur lantai.

Sasuke lantas memalingkan wajahnya, menatap Naruto dengan pandangan samar. "Apa sekarang kau lebih kuat memapahku dari pada saat mencoba memapah Gaara?"

"Oh, Yeah. Aku lebih kuat sekarang, bahkan darimu" Gumamnya

"Kau membuatku melanggar semua aturan ketat yang aku buat untuk diriku sendiri"

"Huh?"

Mata Sasuke kembali tertutup, dan Naruto berpikir kalau ia sudah kembali tertidur. "Maaf, kalau sudah membuatmu melanggar semua aturan. Tapi aku juga pelanggar aturan, sama sepertimu. Aku membiarkanmu sering berkunjung ke apartemenku di luar dari isi perjanjian, aku membiarkanmu menginap dan tidur di ranjangku, dan yang lebih parah, aku membiarkanmu tahu bagaimana masa laluku"

Ya, benar. Mereka berdua pelanggar aturan. Dan begitu banyak aturan yang telah mereka langgar, baik itu aturan yang mereka terapkan untuk diri mereka sendiri atau aturan yang ada di dalam perjanjian mereka. Mungkin, memang sudah saatnya mereka merobek kertas sialan itu dan membuat peraturan baru. Atau, tidak usah ada perjanjian lagi dan mereka memulainya dengan berteman saja.

"Kau lebih menyusahkan dari biasanya" Keluhnya dengan berusaha tetap menjaga keseimbangan.

"Itu karena aku marah" Katanya, mata Sasuke kembali terbuka, melihat Naruto dengan ujung mata tidurnya.

"Marah? Kenapa?"

Ini cukup menyenangkan bagi Naruto, mendapati Sasuke yang di bangunkan dapat berubah menjadi seseorang yang cukup banyak bicara. Bahkan terbuka pada banyak hal. Naruto mencatatnya lagi dalam kepalanya; Sasuke yang di bangunkan, dapat berbicara normal seperti manusia pada umumnya.

"Kau memeluk orang lain selain diriku"

Naruto hampir saja membuat mereka terjebab di lantai karna ucapan Sasuke tadi. Ia ingin bertanya, apa yang salah dengan memeluk seseorang yang terbangun karna mimpi buruk? Bukankah itu wajar? Menenangkan mereka, dan dengan memeluknya, setidaknya bisa membuat mereka sedikit tenang dan melupakan mimpinya. Tetapi Naruto lebih memilih tidak bertanya, Sasuke terlalu berat baginya. Membuatnya teralihkah.

"Naruto"

"Hn" Naruto bergumam sebagai jawaban, mereka akhirnya sampai di tempat tidur. Bahunya terasa akan lepas dari tempatnya. Ya, wajar. Jika memapah orang sebesar Sasuke sendirian.

"Jangan menghancurkan hatiku" Sasuke menggumamkan itu sambil mengambil posisi tidur tengkurap, menyelinapkan kedua tangannya di sekeliling bantal yang ia pakai.

Naruto sudah bernapas dengan normal, ketika ia berkata. "Aku akan mencoba yang terbaik, Sasuke. Tapi aku tidak janji" Walaupun dirinya tahu kalau Sasuke tidak akan membalasnya lagi, Naruto tetap mengatakan itu.

Mematikan lampu, lantas menutup pintu. Setelah itu Naruto kembali ke sofa panjangnya, merenggangkan badan, merasakan betapa lelahnya dirinya.

Tidur adalah hal yang paling ia butuhkan saat ini.

o0o

Naruto terbangun pada pagi berikutnya dengan rasa tidak enak di perut yang langsung naik di mulutnya. Ia tahu bahwa dirinya tidak akan bisa menahannya secepat mungkin saat beranjak dari sofa. Perutnya memberikannya peringatan dua detik sebelum ia melompat dari atas sofa, dan hampir terantuk karnanya. Ia lantas bergegas, dan berusaha menahan refleks mualnya. Kemudian sesampainya di dalam kamar mandi, Naruto menyelesaikan semuanya. Namun dirinya tidak sempat menyingkirkan rambut pirang yang menghalangi pandangannya, membuat ia memuntahi sedikit bagian rambutnya. Baunya membuat Naruto kembali mual, dan ia kembali muntah sampai kehabisan napas. Air mata bercucuran di wajahnya, dahinya berkeringat, dan Naruto juga merasakan nyeri di sekitar perut bawahnya. Rasanya seperti nyeri saat ia mendapatkan menstruasi. Namun sedikit lebih berbeda.

Dengan kedua kaki yang goyah, Naruto berusaha bangkit menuju wastafel untuk berkumur, menyingkirkan rasa pahit yang ia rasakan di mulutnya. Setelah itu, ia mengambil handuk, mencoba untuk mandi setelahnya.

Naruto keluar dari kamar mandi, dan melirik sedikit pada jam digital di atas nakas. Pukul enam pagi, masih ada waktu untuk membuat sarapan dan membangunkan dua tamunya. Ia berpakaian dengan cepat, dan tidak mencoba untuk membuat keributan yang akan membangunkan Sasuke.

"Kau tidak apa-apa?" Suara serak bangun tidur terdengar dari belakangnya.

Naruto refleks menoleh, mendapati Sasuke yang berbaring miring menghadapnya, mengamatinya dengan mata hitam kelam miliknya yang masih berkabut. "Tentu" Jawabnya sambil meloloskan baju itu melewati puncak kepalanya.

"Aku mendengarmu mendobrak pintu dan muntah hebat di kamar mandi. Aku pikir, aku sedang bermimpi"

"Mungkin saja kau memang sedang bermimpi"

"Hn. kau akan mengecek Gaara?" Tanyanya, ketika melihat Naruto akan melangkah keluar.

"Gaara?" Tanyanya, sebelum teringat jika di sebelah kamarnya, ada Gaara di sana, demam sepanjang malam. Naruto hampir melupakannya. "Ah, ya. Aku akan mengeceknya, setelah itu membuat sarapan untuk kalian"

"Bodoh" Cibir Sasuke sesaat Naruto menghilang di balik pintu.

Membuka pintu kamar tamu dengan pelan, Naruto masuk tanpa suara. Ia mendekati tempat tidur di mana Gaara berbaring dengan posisi yang sama saat ia meninggalkannya semalam. Menatap wajah penuh lebam di hadapannya. Wajah itu terlihat lelah, dengan warna hitam yang mengelilingi matanya. Naruto mengetahui satu hal sekarang. Bukan hanya dirinya yang sering terbangun di tengah malam karna bermimpi buruk. Gaara juga mengalaminya, dan terlihat tidak jauh lebih baik darinya. Mungkin selama ini, bukan hanya ia yang sekarat. Tetapi Gaara pun begitu. Di hantui rasa bersalah selama bertahun-tahun pasti membuat hidupnya sangat berat. Gagasan seperti itu membuat Naruto sedikit bersimpati pada Gaara, sahabat masa kecilnya.

Naruto duduk di sisi tempat tidur, dan menggenggam tangan Gaara yang masih sehangat dulu. Namun rasa hangat itu hanya bisa ia rasakan di bawah kulitnya, bukan di hatinya. Naruto lantas bertanya-tanya, apakah perasaannya sudah lama hilang? Atau dirinya memang sudah lama berdamai dengan masa lalu? Lantas, apa arti dari mimpi buruk yang sering mengganggu tidur malamnya di tahun-tahun awal kepergian Gaara? Dan mimpi itu semakin berkurang semenjak ia bertemu Sasuke.

Uchiha Sasuke.

Nama itu menggema di dalam benaknya, layaknya seseorang yang sedang berteriak di dalam gua dan memantulkannya di setiap dinding. Naruto tersentak dan melepaskan genggamannya pada Gaara dan bergegas keluar dari dalam kamar.

Sepeninggal Naruto, mata yang di penuhi lingkaran hitam itu terbuka, menatap punggung ringkih itu dengan tatapan sendu. Ya, sebuah kesalahan besar memang. Karna telah menyakiti orang sebaik Naruto.

Gaara menutupi wajahnya dengan punggung tangan...

o0o

Ketika membuka pintu kamar untuk keluar dari sana, Sasuke bisa mendengar Naruto sedang bersenandung bersama dengan radio dapur. Sasuke berpikir, kalau suara Naruto terdengar seperti suara bebek yang terjepit, di telinganya. Membuat Sasuke sedikit menaikkan sudut bibirnya ke atas. Ia berjalan pelan, lantas mengintip di sudut dan menyaksikan dengan takjub ketika Naruto memasak sambil menggoyangkan pinggul mengikuti irama radio. Ia sudah beberapa kali melihat Naruto memasak, tetapi tidak pernah sekalipun Sasuke membayangkan hal-hal yang baru saja terlihat dalam benaknya. Pikiran itu membuatnya terkejut, sampai tidak ingin mengakuinya. Bahkan untuk dirinya sendiri.

Sasuke menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran ganjil itu lagi. Sangat konyol rasanya jika ia baru saja membayangkan jika Naruto adalah istrinya. Wanita itu terlalu bodoh untuknya, dan terlalu berisik untuk masuk menjadi bagian para Uchiha yang membosankan. Naruto pasti tidak akan bertahan lama. Di saat Sasuke mengalihkan kembali pandangannya pada wanita pirang bodoh yang sibuk menari, Naruto berputar mengikuti irama sambil mengangkat kedua tangan yang salah satunya memegang spatula. Tatapan mereka bertemu, dan suasana langsung terasa canggung.

Naruto berpikir kalau ia telah memberikan Sasuke salah satu bahan untuk mengejeknya, dengan melihatnya bernyanyi (Sasuke mengatakan kalau suaranya terdengar seperti bebek malam sebelumnya) sambil bergoyang ke sana kemari. Ya, ini akan menjadi cemoohan yang panjang untuknya. Sedangkan Sasuke sangat yakin, kalau Naruto akan berpikiran jika ia sedang mengamatinya dalam diam layaknya penguntit, sambil menatapnya seperti remaja yang sedang terangsang.

Menurunkan kedua tangan dengan gerakan kaku, Naruto menunggu dalam diam kata apa yang akan di keluarkan oleh Sasuke untuk menghinanya kali ini.

"Baunya enak" Sahut Sasuke setelah membuka dan menutup mulut cukup lama.

"Uh, ya" Ujar Naruto merasa tidak yakin dengan jawabannya sendiri. "Aku membuat omurice dan bacon untuk sarapan kita"

"Hn, terdengar bagus" Komentarnya sambil mengambil tempat di atas bar stool.

"Bagaimana dengan tidurmu?" Tanya Naruto yang kini kembali sibuk dengan masakannya.

"Seperti bayi" Jawab Sasuke sambil mengingat-ingat jika semalam, sepertinya ia mengatakan hal konyol pada Naruto dalam tidurnya.

"Omong-omong tentang bayi, sepertinya aku hamil" Sahut Naruto dengan nada ringan.

Sasuke menegang di tempatnya. "Kau yakin?" Tanyanya dengan penuh selidik.

"Tidak." Jawab Naruto, berbalik menatap Sasuke yang terlihat semakin kaku. "Aku juga belum memeriksanya" Katanya sambil mengangkat bahu.

"Kalau begitu jangan membahasnya" Sahutnya dengan dingin.

"Kenapa?" Tanya Naruto sambil memutar-mutar spatula yang ada di tangan kanannya.

"Aku tidak suka" Jawabnya dengan datar.

"Kau memang brengsek" Maki Naruto.

"Hn" Gumam Sasuke dengan membuang muka.

Naruto sedang mengatur piring di atas meja konter ketika Gaara masuk dengan memakai pakaian rumahan yang Naruto beli untuk Sasuke di swalayan dekat kawasan apartemennya. Ia tampak canggung, apalagi mengingat jika Sasuke juga berada di sana, dan Gaara bertanya-tanya, sejak kapan pria itu ada di sini? Ia juga sedikit mendengar pembicaraan mereka. Bukan maksudnya untuk menguping, dirinya bukan orang seperti itu. Namun pembicaraan Naruto dan pria itu semakin menegaskan kalau kedua orang tersebut punya hubungan khusus, dan ia akan semakin sulit untuk meminta Naruto untuk kembali padanya.

"Hey, kemarilah" Panggil Naruto ketika melihat Gaara hanya berdiri dan tampak bingung harus melakukan apa. "Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita bertiga" Kata Naruto, tersenyum pada Gaara.

"Maaf sudah merepotkanmu" Katanya sambil berdiri di balik meja konter, tidak jauh dari Sasuke.

"Tidak perlu sungkan" Ujarnya sambil mengibaskan tangan. "Bagaimana perasaanmu?"

"Cukup baik" Jawabnya. Gaara lantas mengalihkan perhatiannya pada Sasuke dan mengangguk padanya.

Sasuke hanya meliriknya tanpa mengatakan apa pun, kemudian kembali pada dunianya.

Dan Naruto terlalu sibuk untuk memperhatikan hal itu. "Kau membuatku sangat khawatir semalam. Sebenarnya apa yang terjadi?"

"Kecelakaan kecil." Bohongnya, dan buru-buru menambahkan. "Kau tahu, jalanan menjadi sangat licin jika hujan turun"

Naruto sedikit mengerutkan dahi saat mendengar jawaban Gaara. Ia tahu, Gaara bukanlah orang yang ceroboh seperti dirinya. Gaara hampir sama telitinya dengan Sasuke. Dan Naruto bisa menarik kesimpulan, kalau Gaara sedang berbohong padanya. Tapi karna ia menghormati alasan di balik Gaara tak berkata jujur padanya, Naruto memilih mengabaikannya. "Berhati-hatilah kalau begitu" Naruto mengingatkan dengan tulus.

"Terima kasih, aku akan mengingatnya." Gaara lalu mendapati Naruto yang tampak kerepotan menyiapkan semuanya, "Apa aku bisa membantumu sesuatu?" Tanyanya sambil menghampiri Naruto yang kini sedang kesulitan mengambil sebuah piring di kabinet.

Di lain pihak, Sasuke yang sedari tadi pura-pura tidak peduli dengan pembicaraan mereka tersentak, sesaat melihat Gaara yang sedang menghampiri Naruto. Namun harga diri Uchihanya yang begitu tinggi, menahannya untuk bergerak meninggalkan bar stool.

Naruto menoleh, mendapati Gaara yang berdiri di sebelahnya, tersenyum. Senyum itu mirip di masa lalu. Dan Naruto merasakan wajahnya sedikit menghangat. "Aku tidak bisa menggapainya. Bisa tolong ambilkan?"

"Tidak masalah" Jawab Gaara.

Ia lantas menyingkir untuk memberikan ruang pada Gaara. Tetapi sebelum ia mengucapkan terima kasih, suara Sasuke terdengar di telinganya.

"Naruto cepatlah" Serunya, "Aku lapar bodoh" Lanjutnya dengan menambahkan satu kata favoritnya untuk menyebut Naruto.

"Sabarlah sedikit lagi, ghez"

o0o

Naruto terlambat beberapa menit saat tiba di kantornya. Sangat sulit menghadapi Sasuke yang sedang rewel seperti balita yang mainannya di rebut oleh anak lain. Sepanjang sarapan mereka, Sasuke terus saja menatap Naruto dan Gaara dengan tatapan yang seakan-akan membuat Naruto ingin berlari dan bersembunyi di dalam lemari. Sasuke juga hanya diam, saat Naruto bertanya padanya ingin di buatkan jus tomat atau tidak. Belum lagi komentar sinis yang ia lontarkan jika Gaara sedang berbicara dengannya. Dan setelah itu, meninggalkan apartemen tanpa mengatakan apa pun dengan cara membanting pintu.

"Sepertinya kekasihmu cemburu" Komentar Gaara sesaat Sasuke sudah tidak berada di sana.

"Bukan seperti itu" Kata Naruto sambil mengibaskan tangan, ia juga tertawa dan melanjutkan. "Bisa di bilang kami hanya teman yang saling berbagi tempat tidur" Lalu Naruto tampak terkejut dengan ucapannya sendiri.

Oh, sial! Ia tidak sengaja mengatakannya.

"Maksudmu seks friend?" Tanya Gaara dengan hati-hati. Suaranya terdengar tidak yakin.

Ia membuka dan menutup mulutnya, mencari kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Gaara. "Ah, tidak. Bukan...maksudku kami hanya..." Tetapi hanya sampai di situ kata yang dapat keluar dari mulutnya. Naruto mendesah, lalu merutuki kebodohannya.

Oh, tidak! Sasuke pasti akan membunuhnya kali ini, jika ia tahu bahwa dirinya sudah membocorkan perihal hubungan tidak wajar mereka pada orang lain. Naruto berharap, Sasuke sudah agak menjauhi pintu ketika ia berkata keras-keras secara tersirat tentang hubungan mereka.

Naruto keluar dari kepanikan yang ia ciptakan di dalam kepalanya sendiri, ketika Gaara berkata. "Aku mengerti. Tidak perlu kau jelaskan"

Dan yang terjadi selanjutnya, Naruto menyelamatkan suasana antara dirinya dan Gaara dengan berkata bahwa ia akan bersiap untuk ke kantor dan mengusulkan pada Gaara untuk beristirahat saja di apartemennya. Namun Gaara menolak, dan mengatakan akan langsung kembali ke apartemennya. Yang mendapatkan anggukan setuju dari Naruto.

Begitulah cara mereka bertiga mengakhiri pagi hari ini di apartemen Naruto.

Saat tiba di ruangannya, Tenten telah berada di sana sedang menggigiti ibu jarinya mondar-mandir sambil menggumamkan sesuatu. Cemas.

"Aku pikir kau tidak akan datang, masih meringkuk di apartemenmu sambil meratapi Neji" Godanya pada Tenten. Ia lantas mendekati meja kerjanya dan meletakan tas jinjingnya di sana.

"Tidak, terima kasih. Aku sudah melakukannya sepanjang malam tadi" Kata Tenten, memutar bola matanya menanggapi sindiran humor Naruto.

"Lalu apa yang terjadi dengan wajahmu sekarang?" Tanyanya.

"Seperti saranmu kemarin, aku menelepon Neji dan dia ingin aku menemuinya di cafe tempat pertama kali kami bertemu" Jawab Tenten dengan gelisah. Ia sekarang mendudukkan diri di kursi yang ada di depan meja Naruto.

"Itu terdengar bagus" Komentarnya sambil mengangguk. "Lalu apa yang membuatmu cemas?"

"Bagaimana jika Neji menginginkan hal yang sama seperti yang aku katakan padanya, memutuskan pertemuan kami?" Desaknya pada Naruto.

"Aku rasa tidak" Katanya

"Kau harus menemaniku sore Nanti" Ujar Tenten, memohon.

"Aku tidak bisa. Apa kau tidak ingat? Hari ini jadwalku mengajar kelas ikebana"

"Lalu bagaimana?"

"Pergilah lebih dulu, aku akan menyusul setelah kelasnya selesai" Katanya, tersenyum menenangkan pada Tenten.

"Ya, itu lebih baik dari pada tidak sama sekali"

o0o

Sepanjang perjalanan menuju tempat di mana Ibunya mengikuti kelas merangkai bunga, wajah Ibunya terlihat begitu cerah. Rasanya sudah bertahun-tahun Sasuke tidak melihat ekspresi Ibunya yang seperti ini.

"Ibu terlihat senang" Katanya memecah keheningan

"Hari ini, giliran mentor favorit Ibu yang akan mengajar. Dia gadis yang baik dan sangat ramah" Sahutnya dengan riang.

"Hn" Gumam Sasuke.

"Dia seusiamu, Sasuke."

Sasuke menahan diri untuk tidak mendengus, ketika menyadari kalau Ibunya mulai ingin menjodohkannya dengan gadis Ikebana itu.

"Ibu tidak berniat untuk menjodohkanku dengannya kan?" Tanyanya dengan nada tidak suka.

"Tidak," Jawab Ibunya cepat, "Ibu hanya ingin mengenalkanmu padanya, itu saja"

"Aku pikir tidak perlu" Sahutnya datar.

"Sasuke, kau tidak seperti Itachi kan?" Tanya Ibunya, menatap Sasuke curiga.

"Terpikir pun, tidak pernah" Jawabnya, tetap berusaha fokus pada jalan di depannya.

"Tetapi kenapa selalu menolak jika Ibu ingin mengenalkanmu pada seorang gadis?"

"Aku tidak suka cara mereka menatapku dan betapa berisiknya mereka"

"Kau sangat mirip Ayahmu" Kata Mikota, tertawa kecil.

Sasuke mendengus sebagai jawaban. Karna ia tidak tahan untuk tidak melakukannya kali ini.

Mobil Sasuke terus melaju, membelah jalanan Kohona. Mereka memasuki kawasan rimbun yang di sisi kanan kiri jalan di tumbuhi pohon-pohon tinggi yang terlihat mirip dengan pohon cemara. Mereka lalu melewati beberapa cafe dan restoran, lalu berbelok dan Mikoto menyuruh Sasuke menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan berwarna putih dengan banyak jendela kaca di sekitarnya, yang terlihat mirip dengan rumah kaca. Beberapa untai tanaman rambat mengelilingi sebagian depan bangunan tadi.

Sasuke tahu tempat ini, ia pernah mengunjunginya sekali saat Ibunya memaksa dirinya untuk mengambil beberapa bunga segar untuk di letakan di vas-vas di rumah orang tuanya. Sasuke memandang di sekeliling, dan baru menyadari sebuah papan tulis besar di letakan di dekat pintu masuk, berisi tulisan "Florist Blodwyn" yang di tulis dengan kapur. Tidak salah lagi, ini toko bunga Naruto.

Sasuke menyeringai tanpa dirinya bisa mencegahnya.

-TBC-

Terima kasih untuk yang udah review; Habibah794, Ayanara47, Ame To Ai, Jasmine DaisynoYuki, Retvianputri12, Kyutiesung, Choikim1310, Hiori Fuyumi, Uzumaki Prince Dobe-nii, Za666, Okiniiri-Hime (Btw PHO itu apa?), Ringohanazono6, L casei Shirota Strain, Rin Haruna, Versetta, Anita Indah777, Lusy922, Kaname, Guest, Rin Naoko Uchinami, Revhanaslowfujosh, Namikaze Lucia, Sely, dan Aiko Vallery. Dan mereka yang udah follow dan favorit, silent reader juga, semuanya terima kasih.

Best Regards,

Kenozoik Yankie ^^v