Balasan Review
Natsu489
Ini sudah dilanjut. Selamat membaca..
RachelApriliaS
Gray punya rasa? Eum, mungkin saja..
Wildhan A
Ini sudah dilanjut. Selamat membaca..
Fic of Delusion
Benar. Insting Gray lebih bagus dibandingkan dengan Natsu. Hehe
Mihawk607
Iya, jalan ceritanya masih panjang. Maaf ya. Hehe. Dan terima kasih karna sudah setia mau membaca fic ku. Senang sekali rasanya. Selamat membaca.
Puja
Iya, NaLi. Hahaha maaf kalau mengecewakan. Tidak mungkin aku membuat NaLu terus, soalnya aku membuat ini berdasarkan canon di FT, ada NaLi dan NaLu. Selamat membaca..
Hrsstja
Kejamin aman? Menurutku enggak juga, karena orang-orang Ayah Lucy belum menunjukkan diri mereka yang sebenarnya. Hahaha.. Lucy masih di bully, jawabanku masih tapi gak separah kemarin-kemarin. *mungkin :v
Benar! Kemunculan dua karakter nanti sangat berpengaruh ke cerita, terutama ke Natsu. Hahaha, salah satunya bisa H-san tebak sendiri~
KuroNaLu
Yap! Pasti. Aku akan memunculkan Zeref versi dewasanya suatu saat nanti.
~ Based on Fairy Tail by Hiro Mashima ~
Genre : Romance, Friendship, etc
Pairing : Natsu Dragneel, Lucy Heartfilia
Rate : T
.
A Fairy Tail Fanfiction Story
-YOUR SMILE-
Chapter 10 : Pelampiasan
"Hari kematian kedua orang tuaku dan adik kecilku."
.
Magnolia, 10 tahun lalu
Kediaman Dragneel terlihat sangat tenang malam itu. Seluruh penghuni rumah tengah berkumpul di ruang makan menikmati santap makan malam mereka. Sampai suara kepala rumah tangga keluarga itu membuat seluruh mata membelalak menatapnya.
"Kita akan pindah ke Crocus." Ucap Igneel Dragneel, ayah Natsu dan Zeref.
Mata Natsu dan Zeref kompak menatap ayahnya tak percaya. Meski Natsu masih berumur 7 tahun dan Zeref berumur 11 tahun, kata pindah bukan lah sesuatu yang tak di mengerti keduanya. Apalagi dengan Crocus yang baru saja diucapkan sang Ayah. Kota yang cukup jauh dari Magnolia, tepatnya pusat bisnis jepang selain Tokyo saat ini.
"Jadi kau sudah memutuskannya?" Tanya Mama-Haruna Dragneel-yang membuat kedua anaknya beralih menatapnya. Sementara ayah hanya membalas dengan anggukan dan dehaman 'hm' sejenak.
"Apa maksudnya itu?" Protes Zeref bingung. Ia sama sekali tak berpikiran untuk pindah ke kota lain, apalagi harus meninggalkan sekolahnya, terutama Mira.
"Ayahmu harus memantau cabang perusahaannya di Crocus." Jawab Mama sambil menyodorkan segelas air putih ke samping meja ayahnya.
Natsu makin membelalakkan matanya. Ia menatapi ketiga orang disekitarnya dengan tak percaya.
"Kenapa tidak ayah saja yang kesana seperti biasa?" Protes Zeref lagi.
"Tidak bisa kali ini. Ayah hampir kehilangan seluruh saham ayah disana." Jelas Igneel yang jelas-jelas mengkerutkan dahi Zeref.
"Sampai kapan kita tinggal disana?" Tanya Zeref menajamkan matanya.
"Bisa dibilang kita akan menetap disana." Jawab Igneel tanpa melirik sedikit pun wajah putra sulungnya yang sudah berekspresi tak terima saat ini.
"Cih." Kesalnya sambil melempar pandang ke lengan kanannya.
"Jadi kita tidak akan tinggal dirumah ini lagi?" Tanya Natsu polos memecah suasana tegang antara kakak dan ayahnya barusan.
Ayah dan Mamanya kompak mengangguk. "Jadi, Natsu harus pindah sekolah?" Tanyanya lagi. Kali ini wajah Haruna berubah meski masih membalas pertanyaan putra bungsunya dengan anggukan.
"Kalau begitu, Natsu dan Zeref tidak bisa bertemu dengan Lisanna dan Mira-nee lagi?" Tanya Natsu. Wajah dan nada suaranya berubah pelan yang membuat Zeref makin mengkerutkan alisnya. Perkataan Natsu barusan jelas menggambarkan perasaannya. Meninggalkan Mira? Yang benar saja. Ayah pasti bercanda. Itu hal ketiga yang tak ingin dilakukannya selain meninggalkan adik terbodohnya dan meninggalkan kepercayaan sang ayah.
Haruna menatap kedua putranya bergantian. Jelas perasaan mereka bisa terasa direlung batinnya. Ia sudah membicarakan ini sebelumnya dengan Igneel. Tapi, mau bagaimana lagi, perusahaan adalah kunci utama hidup mereka. Apa yang terjadi jika ia menuruti perasaannya untuk tetap tinggal di Magnolia dan membiarkan perusahaan itu hancur. Hal itu sama saja merusak masa depan Natsu dan Zeref.
"Kalian bisa mengunjunginya kalau liburan musim panas atau hari-hari lain." Ujar Igneel. Ia tetap tak melihat wajah kedua putranya yang tengah menunduk menatap piring masing-masing. "Kita akan tetap pindah kesana." Lanjutnya yang membuat Zeref kali ini lompat dari kursinya dan meninggalkan meja makan.
.
Langit musim panas Magnolia terlihat lebih hitam malam ini, membuat beberapa bintang tampak jelas bersinar dari teras kamar bocah berkepala pink salmon. Angin menyambut wajah dan rambutnya lembut saat dirinya tengah menengadahkan kepala memandangi langit diatas sana. Kedua tangannya ia lipat di tepi tiang pembatas teras itu-memangku dagu melayangkan pikiran entah kemana.
"Kau belum tidur, Natsu?" Sapa suara khas yang sudah tak asing lagi ditelinganya. Natsu sedikit tersentak, meski tak ia perlihatkan.
"Hm. Aku tidak bisa tidur." Jawab Natsu yang disambut kuapan lebar dari pemilik suara yang berasal dari kamar disebrang sana.
"Kau tidak tidur Lisa?" Tanya Natsu seraya menggeser pandang menatap Lisanna yang perlahan berjalan mendekatinya sembari memeluk boneka kelinci putih dan sebelah tangan menutupi kuapan lebarnya.
"Mana bisa aku tidur kalau Natsu berdiri didepan terasku seperti itu." Balas Lisanna setelah sampai di tepi pembatas terasnya.
"Maaf." Ucap Natsu sambil tersenyum melihat Lisanna yang kini menampung kepalanya di tepi pembatas itu dengan sebelah tangan. Jelas sekali kalau Lisanna tengah mengantuk berat sekarang. Apalagi ini sudah jam 12 malam. Anak kecil mana yang masih melek saat ini? Minus Zeref yang tengah main game dan Mira yang tengah baca Manga Shoujo.
Tapi, Natsu tahu, disaat-saat seperti ini, Lisanna pasti akan menemani Natsu apapun kondisinya. Ya, melihat Lisanna seperti itu sudah cukup menenangkan hatinya.
"Tidurlah, Lisa." Seru Natsu masih saja tersenyum. Ia benar-benar tak tega melihat perilaku sahabat baiknya itu. "Aku juga mau ti.."
"Ne, Natsu." Potong Lisanna dengan suara lembut dari balik wajahnya yang masih rata dengan lengan. Natsu sedikit mengerjap dan tidak jadi melanjutkan perkataannya. Ia memilih diam menunggu Lisanna melanjutkan perkataannya barusan. "Ayah bilang, kami akan ke Kyoto lusa ini." Lanjut Lisanna yang membuat Natsu membelalak.
Kyoto? Lusa ini? "Liburan?" Tanya Natsu bingung.
Lisanna menggeleng. Ia masih enggan mengangkat kepalanya. "Aku tidak tahu. Ayah bilang kami akan tinggal cukup lama disana." Jelas Lisanna yang membuat Natsu teringat akan perkataan ayahnya di meja makan tadi.
"Lama? Mira-nee dan Elf-nii juga?" Tanya Natsu lagi.
"Tidak. Hanya aku, ayah dan mama." Jawabnya semakin menenggelamkan wajah dalam lengan. Natsu tersentak. Ia sempat berkata 'Eh' meski tidak sampai terdengar ditelinga Lisanna.
"Tidak adil 'kan?" Ucapnya kesal. "Aku jadi tidak bisa bertemu dengan Natsu selama beberapa bulan kedepan!" lanjutnya. Kali ini Lisanna mengangkat kepalanya dan meremat kedua telinga boneka kelincinya.
"Hanya beberapa bulan? Jadi kalian tidak pindah kesana?" Tanya Natsu yang kali ini mendapat tatapan dari Lisanna. "Natsu berharap kami pindah?" Cibir Lisanna tidak terima.
"Bukan begitu." Jawab Natsu seraya merunduk. "Kalau Lisanna pindah kesana, aku jadi tidak bisa melihat Lisanna lagi." Terlebih, aku dan Zeref benar-benar tidak akan bisa melihat kalian lagi. Jelas Natsu dalam tunduk.
"Ne, kenapa jadi sedih? Aku kan hanya ke Kyoto beberapa bulan Natsu. Haha." Tawa Lisanna yang membuat Natsu mendongakkan kepalanya.
"Aku takut Lisa akan meninggalkanku." Ucap Natsu. Lisanna meredakan tawanya dan menatap Natsu dalam senyuman hangat.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Natsu." Balas Lisanna dengan senyuman manis membuat kedua matanya menyipit sejenak. Mata Natsu membelalak. Entah kenapa, tubuhnya sedikit berderu mendengar kalimat Lisanna barusan. Terlebih lagi, ia tak pantas mengucapkan hal itu. Toh, dirinya lah yang akan meninggalkan Lisanna ke Crocus.
"Lisa.." Panggil Natsu. Ia menengadahkan kepalanya kembali menatap bintang diatas sana. "Bagaimana kalau aku yang pindah?" Tanyanya yang membuat Lisanna menatapnya bingung.
"Kenapa bicara begitu? Tentu saja tidak boleh." Cibir Lisanna sambil memeluk erat boneka kelincinya.
Natsu tersentak. Lagi-lagi deru tubuhnya datang begitu saja. "Aku tidak akan meninggalkan Natsu. Jadi Natsu juga harus begitu." Melihat Natsu merunduk, Lisanna berhenti mencibir dan menatapnya lekat.
"Ne, janji padaku, jangan pernah meninggalkan aku, oke? Karna aku tidak akan pernah meninggalkanmu Natsu." Ucap Lisanna meyakinkan lawan bicaranya. Natsu tersentak lagi. Mata Lisanna benar-benar mengharuskannya untuk menyetujui apa yang baru saja ia ucapkan.
Perlahan bibir Natsu tertarik, ia tersenyum simpul menatap Lisanna. Meski tubuhnya masih memburu tak jelas, tapi yang Lisanna katakan benar, tidak ada sedikit pun niat dihatinya untuk meninggalkan Lisanna. Meski apa yang dikatakan Ayah tadi menentang perasaannya. Mungkin Zeref juga berpikiran hal yang sama. Bukannya, dia menyukai Mira-nee? Tapi saat ini, Natsu benar-benar enggan meninggalkan sahabatnya ini.
Natsu mengangguk. Ia tersenyum puas sekarang. "Aku janji."
Lisanna balik tersenyum melihat grins khas yang tiba-tiba saja menyeruak diwajah lawan bicaranya. "Tapi Natsu, yang paling penting, jangan lupakan aku saat aku pergi nanti ya." Senyum Lisanna yang hanya mendapatkan anggukan dari kepala Natsu.
Mana mungkin aku melupakanmu, Lisa...
"Hoaam, aku ngantuk. Ayo tidur." Ajak Lisanna sambil membelokkan langkah menuju pintu kamarnya. Natsu memandanginya, berniat membiarkan Lisanna duluan melangkahkan kaki ke kamar, kemudian dia akan menyusul. Tapi, Lisanna mendadak kembali menolehkan kepalanya ke arah Natsu.
"Ne, Natsu, kau tidak akan benar-benar pindah kan?" Tanyanya yang membuat Natsu membelalak.
.
2 hari kemudian...
Natsu menghela napas setelah menatap layar PSP nya bertuliskan 'Game Over'. Ia melemparkannya ke sudut tempat tidur dan melompat beranjak untuk keluar kamar sebelum seseorang tiba-tiba saja membuka pintu kamarnya.
"Mana Happy?" Tanyanya lirih. Natsu menatap orang itu dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Zeref. Satu nama menggambarkan keseluruhan kakak kandungnya itu.
"Sama Lisa." Jawab Natsu sekenanya. Ia berjalan menghampiri pintu. Bukan bermaksud mendekati Zeref atau apa, ia memang berniat keluar kamar.
"Jadi, kau sudah mengatakan kalau kita akan pindah pada Lisanna?" Tanya Zeref yang membuat Natsu tersentak.
"Kau sendiri? Bukannya kau menyukai Mira-nee?" Kesal Natsu. Ia benci tiap kakaknya mengungkitkan hal itu lagi.
"Aku tidak akan bilang."
"Kenapa?" Spontan Natsu menatap tajam Zeref.
"Entah." Balas Zeref menyebalkan seperti biasanya. Kepala Natsu terasa panas saat itu juga. Zeref menggeser langkah keluar pintu diikuti tatapan Natsu yang semakin tak mengerti apa maksud kakak terbodohnya sedunia itu. "Aku takut makin tidak bisa meninggalkannya saat melihat wajahnya nanti." Jelas Zeref yang membuat Natsu memiringkan kepalanya. Ia benar-benar tidak mengerti sekarang.
Tak mendapat respon apapun, Zeref menoleh kebelakang menatap wajah adiknya yang sama sekali tak mengerti itu. Ia kontan tertawa lepas melihatnya.
"Hahahhaha.. Sudah tidak usah dipikirkan. Bocah sepertimu memang tidak akan mengerti." Seru Zeref sembari mendekati adiknya dan mengelus pucuk pink itu dengan kasar.
.
Pukul 19.00
Malam keberangkatan Lisanna. Halaman rumah kediaman Strauss terlihat berkumpul dua keluarga disana. Ada seluruh keluarga Dragneel dan seluruh keluarga Strauss berdiri didepan gerbang rumah itu. Kedua ibu keluarga itu tengah berbincang, kedua kepala rumah tangga sibuk menyusun barang bersama supir taxi di bagasi taxi itu, dan Mira, Zeref serta Elfman menatapi kedua orang tuanya sambil sibuk membahas sesuatu yang tidak penting. Sedangkan Natsu dan Lisanna terlihat berada diteras rumah sambil memberikan Happy makan malamnya.
"Mou, aku akan merindukanmu, Happy.." Keluh Lisanna sambil menciumi kepala kucing kesayangannya.
"Lisa.. Happy lagi makan." Balas Natsu merasa kasihan melihat Happy sekarang. "Aku tidak akan bisa melihatnya selama beberapa bulan, tahu!" Kesal Lisanna.
"Iya.. Iya.. Aku tahu. Sudah berapa kali kau mengatakannya." Hela Natsu. Benar juga, kalau aku pindah nanti, Bagaimana dengan Happy?
"Ne, jaga Happy baik-baik sampai aku kembali nanti ya.." Pinta Lisanna seraya mengkerucutkan bibir. "Aye sir!" Balas Natsu seraya tersenyum.
"Tapi, yang lebih penting..." Mendadak, Lisanna menghamburkan tubuhnya ke Natsu yang membuat Natsu sukses membelalak sangat lebar. Lisanna mendekapnya erat sampai Natsu tak mampu mengucapkan sepatah katapun. "Aku akan sangat merindukanmu, Natsu.." Ucap Lisanna dari balik pelukannya. Wajah Natsu bersemu merah sekarang.
"Li.. Lisa.. A.. Aku ti..dak bisa.. bernapas.." Kata Natsu seraya menepuk lengan sahabatnya. Lisanna dengan sigap melepas pelukannya dan tersenyum dua jari. Wajah Natsu lebih memanas melihat senyuman itu. Lagi-lagi Lisanna benar, ia akan sangat merindukannya juga. Saat Lisanna pergi nanti, siapa yang akan mengingatkannya memberi makan Happy? Belum saja Lisanna pergi, hati Natsu sudah terasa berat. Konon lagi ia harus pindah ke Crocus, apa yang harus ia lakukan?
"Ne, Natsu.." Ucap Lisanna. Suaranya berhasil menghalau rasa panas diwajah Natsu. Kali ini, wajah Lisanna berubah drastis, matanya menyendu, senyumnya terasa ambigu, entah kenapa melihat ekspresinya sekarang Natsu sedikit merasakan ada sesuatu yang menekan dadanya.
"Jangan lupakan aku, Natsu.." Katanya lirih. Lisanna tersenyum hangat padanya. "Kemana pun aku pergi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Lanjutnya yang langsung menusuk relung hati Natsu.
"Aku tidak akan pernah melupakanmu Lisa. Sejauh apapun aku pergi nanti, aku juga tidak akan pernah meninggalkanmu." Jawab Natsu dalam senyuman. Benar! Tidak akan pernah aku tinggalkan! "Kau juga jangan melupakan aku." Seru Natsu dengan grins andalannya.
"Tentu!" Balas Lisanna cepat. "Kita punya janji untuk menikah saat sudah dewasa nanti kan? Hihi." Lanjutnya menambah senyuman lebar diwajah Natsu.
"Lisanna.." Panggil suara parau Nyonya Narumi Strauss dari depan pagar sana sembari melambaikan tangan menyuruh putri bungsunya untuk segera kesana. Lisanna mengangguk. Ia kembali menoleh kearah Natsu, lebih tepatnya mengambil tas ransel yang berada tepat didekat kaki Natsu, mengenakannya dan segera berlari kearah sang ibu, seraya menoleh menatap Natsu dan tersenyum lebih manis dari biasanya.
"Natsu, aku pergi dulu. Ingat, aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Serunya sambil melambaikan tangan. Natsu tersenyum dan melepaskan lambayan pada Lisanna.
.
Pukul 21.15
Hujan terlihat mengguyur kota Magnolia. Awan kelabu menutupi seluruh bintang malam itu, membuat perasaan tiba-tiba terasa tak mengenak menjalar begitu saja. Natsu tak terlalu mengambil pusing hal itu. Hujan dimalam musim panas membuat udara sedikit terasa menyejuk baginya. Dengan riangnya, ia terus-terusan bermain bola karet bersama Happy. Entah kenapa udara ini membuatnya tak bisa tidur sama sekali.
"Happy, saat Lisanna pulang nanti, kau harus tumbuh lebih besar dari sekarang, kita akan mengejutkannya, oke?" Ucap Natsu dan hanya dibalas eongan dari Happy. Mendadak, suara derap langkah terdengar semakin kuat mendekati kamarnya. Ia tak mengacuhkannya dan tetap memainkan bola karet itu. Sampai suara parau terdengar memanggilnya kuat.
"Natsu.." Panggil seorang wanita berambut hitam diiringi dengan langkah kaki yang cepat. Ia sedikit mendobrak pintu dan seketika berlari memeluk Natsu yang sedang bermain dengan Happy.
"Mama?" tanyanya bingung.
"Lisanna..." kata wanita itu seraya meneteskan air mata. Natsu membelalak, air mata seketika keluar dari kedua pelipis matanya. Tubuh kecilnya yang masih berumur tujuh tahun itu pun ikut bergetar. Rasa tak percaya langsung merobek seluruh batinnya.
Zeref yang mendengar derap langkah aneh itu, langsung menuju kamar Natsu dan mendengar penjelasan yang baru saja dilontarkan wanita berambut senada dengannya, Mamanya, Haruna Dragneel. Dengan mata membelalak tak percaya, ia mematung didepan pintu menatap air mata Natsu yang menetes begitu saja ke pipinya dan getaran tubuh Mamanya yang semakin kuat. Sesuatu mendadak membuat dadanya tersengat. Dengan sigap, ia bergegas meninggalkan rumah menuju kediaman Strauss disebelah rumahnya.
Tak peduli hujan mengguyur diluar sana, Zeref tetap melangkah keluar. Dengan sigap, ia melompati pagar tanaman yang biasa menjadi tempat pelarian Lisanna dan Mira jika bertengkar dan segera menerobos halaman rumah keluarga Strauss. Napasnya memburu. Pitam. Hanya Mira yang ada dipikirannya. Bahkan tanpa sadar, ia tak mengenakan sealas kaki pun saat ini. Zeref terhenti sebentar menatap pintu rumah coklat keluarga Strauss. Tak ada waktu baginya untuk berteriak atau pun menekan bell pintu saat ini. Ia kembali melangkah dan mendobrak pintu rumah yang bahkan tak terkunci sama sekali.
Kali ini Zeref memutar pandang keseluruh penjuru rumah. Mencari keberadaan teman sekelas tercerewetnya itu dengan kebingungan. Dan akhirnya, ia bisa melihat Ayahnya tengah memeluk bocah lelaki berumur 10 tahun didekat sofa ruang keluarga diruangan sebelah, sampai manik matanya berhenti begitu menatap Mira tengah terduduk didepan telepon rumah yang gagangnya tergantung diudara. Gadis itu terlihat merunduk dengan tubuhnya yang bergetar hebat. Zeref langsung mengangkat kembali langkahnya dengan cepat. Tak memperdulikan tubuhnya basah, ia langsung membawa Mira kedalam pelukannya. Zeref mengkerutkan dahinya. Terasa jelas tubuh Mira bergetar hebat, isakan dadanya yang tak dapat Zeref jelaskan bahkan suaranya yang tercekat membuat tangis gadis itu menyakiti relung hatinya.
"Mira.." Lirih Zeref mengeratkan pelukannya.
Mira terisak. "Me..mere..mereka bilang.. bus.. Ayah.. Mama.. Lisa.. kecelakaan.."
"Aku tahu.. Aku tahu.." Tak sedikit pun Zeref berniat melepaskan pelukannya.
.
"Mereka bilang, jasad ayah, mama dan adik kecilku belum ditemukan. Bus yang mereka tumpangi masuk ke dalam jurang. Sekarang seluruh tim pencari sedang berupaya mencari jasad-jasad para korban. Semua penumpang bus itu di kabarkan meninggal dunia karna kedalaman jurang yang mencapai puluhan meter. Bus pun tidak terlihat tersangkut dimana pun. Jadi diperkirakan bus itu menerobos masuk sampai dasar jurang. Sekarang, aku harus bagaimana bibi?"
"Ne, Igneel, aku tidak mungkin meninggalkan mereka. Berhentilah berkata kita harus pindah, harus secepatnya, dan ini-itu. Kau tidak kasihan pada mereka? Mereka sudah tidak punya orang tua. Tidak punya siapa-siapa. Mana mungkin aku meninggalkan mereka! Mana mungkin aku membiarkan mereka hidup sendirian begitu! Mereka masih anak-anak. Aku juga sudah berjanji dengan Narumi akan menjaga mereka berdua!" Kata Haruna Dragneel lantang sambil berjalan mengikuti suaminya diruang kerja lantai dua rumahnya.
"Pekerjaanku juga tidak mungkin di tinggalkan, Haruna!" Balas Igneel.
"Kalau begitu, kau saja yang pergi ke Crocus. Aku akan tetap tinggal disini!"
"Apa? Kau itu istriku! Kau harus mengikutiku kemana pun aku pergi!"
"Yasudah kita pisah saja!"
"Apa?" Menatap mata istrinya yang keras kepala itu, Igneel menghela hebat. "Haaaah, baiklah.. akan aku pikirkan."
.
Dua minggu setelah kecelakaan itu..
Akhirnya jasad kedua orang tua Mira ditemukan. Mendengar kata 'telah ditemukan', Natsu langsung melompat dari kamarnya dan menerobos kediaman strauss yang saat ini sudah diisi dengan dua peti jenazah. Melihat hal itu Natsu langsung menyerbu Mira yang menatap kosong peti itu.
"Mira-nee? Ini siapa? Lisa? Bibi? Paman?" Tanyanya memburu sambil mengguncang-guncang tubuh Mira yang bahkan tak mengacuhkannya sama sekali.
"Itu paman dan bibi, Natsu.." Jelas Mamanya yang membuat matanya membelalak.
"Lisa? Bagaimana dengan Lisa?" Zeref menggeleng dari sebelah Mira. Cairan bening langsung menumpuk dipelipis Natsu. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Berhenti bercanda, Zeref!" Seru Natsu seraya menarik kerah baju kakaknya.
Zeref kontan tertarik kearahnya. Walau masih berumur tujuh tahun, jangan lupa kalau Natsu sudah memegang sabuk hijau karate sekarang ini. "Apa aku terlihat bercanda, ha?"
"Kau selalu mengerjaiku! Sekarang pun pasti begitu kan?"
Kelakuan mereka sontak menjadi sorotan beberapa orang. Termasuk Gray dan Erza diujung ruangan.
"Tidak bisa kau membedakan yang mana yang bercanda yang mana yang serius, ha? Dasar bodoh!"
"Kau yang bodoh! Jelas-jelas kau mengerjaiku lagi."
"Aku tidak ada ni.."
"BERHENTI BERKELAHI DI DEPAN JASAD ORANG TUA KU!" Pekik Mira akhirnya angkat suara dari terdiamnya ia sejak kedatangan jenazah itu. Natsu dan Zeref kontan berhenti dan menatap Mira dalam diam. Mereka saling melepaskan cengkraman masing-masing dan kembali tenang. Minus Natsu, ia langsung berlari keluar saat akhirnya menyadari Lisanna tidak ada disana.
.
Sudah sebulan sejak kejadian itu, Lisanna juga belum ditemukan. Hal itu makin membuat Natsu frustasi. Bahkan Mira pun sama. Tak segan ia memaki tim pencari jenazah itu dengan kasar. Dan tak jarang pula ia membentak keras para staf medis yang mengotopsi jenazah kecelakaan itu. Sungguh, ia benci ini. Jika memang Lisanna telah meninggal, maka jenazahnya harus sampai dirumahnya. Harus ada bukti, itu saja. Itu saja yang ia mau. Ia akan merelakan segala apapun kemungkinan terburuk yang tengah menimpah adiknya. Apapun, asalkan ia bisa melihat Lisanna untuk terakhir kali.
Hari ini, keluarga Dragneel akan pindah ke Crocus. Sudah dari seminggu yang lalu mereka semua membicarakan ini. Hati Mira rasanya semakin sakit. Rumah sudah terlalu sepi, apalagi harus ditinggalkan orang yang paling dekat dengan mereka saat ini. Sama saja seperti masuk kedalam lubang hitam tanpa dasar. Tapi, keputusan yang dijelaskan Bibi Haruna membuatnya bisa menghela napas lega. Ya, tidak semua anggota keluarga itu pindah. Bibi Haruna dan Natsu akan tetap disini. Meski awalnya, Haruna memaksa Natsu untuk ikut ayahnya, tapi bocah keras kepala itu tidak mau menuruti dengan alasan 'Aku akan tetap disini, aku akan menunggu Lisanna sampai dia pulang.'
Pulang katanya? Jelas-jelas Lisanna sudah meninggal. Mira muak mendengar ucapan bocah tengik itu. Dia selalu berkata "Lisanna masih hidup. Selama jasadnya belum ditemukan, aku akan tetap menganggapnya masih hidup." Hal itu benar-benar membuat kedua orang tua Natsu khawatir akan dirinya. Maka dari itu Haruna menyuruh Igneel membawanya. Tapi, tetap saja Natsu tidak mau ikut dengan Ayahnya. Dengan berat hati, akhirnya Natsu dipersilahkan tinggal bersama Mamanya.
Sementara Zeref, ia benar-benar kesal dengan keputusan yang diucapkan kedua orang tuanya. Kenapa harus dia sendiri yang ikut dengan ayahnya ke Crocus? Tidak adil. Bahkan sekarang dia benar-benar tidak tega meninggalkan kepentingan nomor tiganya itu. Melihat Mira yang sekarang, rasanya Zeref ingin sekali mengutuk dirinya sendiri. Tapi, kepercayaan orang tuanya lebih penting, apalagi Ayah selalu berkata kalau dirinya pewaris utama perusahaan. Apa jadinya jika ia merusak kepercayaan sang ayah? Dia tidak ingin menjadi anak durhaka. Tapi, Mira...
Zeref berjalan mendekati Natsu. "Kau beruntung." Ucap Zeref yang membuat Natsu menautkan alis. Andai dirinya bisa bertukar posisi dengan Natsu. Zeref tersenyum. "Jaga Mirajane untukku, oke?" Lirih Zeref yang membuat Natsu membelalak. Entah kenapa perasaan Zeref menerobos masuk ke relung hatinya begitu saja. Ternyata bukan dirinya saja yang kehilangan Lisanna, melainkan Zeref juga sudah jelas kehilangan Mira sekarang. Kenapa harus seperti ini? Natsu mengangguk lembut, dan melepas kepergian ayah dan kakaknya dari depan gerbang.
Sampai setahun terlewat, Mira dan Natsu benar-benar merasa kesepian sekarang. Tidak ada Zeref dan tidak ada Lisanna, termasuk kedua orang tua Mira. Sudah selama ini, Lisanna belum juga ditemukan. Karna sudah terlalu lama, kasus kecelakaan itu akhirnya ditutup juga. Mustahil menemukan jasad-jasad para korban yang belum ditemukan dalam keadaan utuh. Lagipula, seluruh tim pencari sudah melakukan kerja mereka semaksimal mungkin. Tapi tetap saja Lisanna tidak ditemukan dimana pun. Meski bus hijau itu ditemukan dalam kondisi parah, tapi didalamnya tetap tidak ada Lisanna. Bus jatuh ke dalam sungai yang cukup dalam. Upaya pencarian bahkan sampai pada bibir-bibir sungai, tapi Nihil. Hal itu benar-benar kabar terburuk bagi Mira dan Natsu.
Tapi, untuk hal itu, Mira sudah berupaya keras menguatkan hatinya. Tak ada alasan apapun lagi untuk menganggap adiknya masih hidup. Sudah setahun. Merelakan adalah jalan satu-satunya. Ya, dia ikhlas Lisanna pergi meski tanpa jasad yang bisa ia lihat. Namun berbeda dengan Natsu. Bocah keras kepala itu sudah berumur delapan tahun sekarang. Bukannya makin berpikiran lebih dewasa, malah ia makin keras kepala dari umurnya tahun lalu. Ia tetap dalam prinsipnya. Merelakan Lisanna? Persetan baginya! Tidak mungkin ia merelakannya begitu saja. Lisanna sudah meninggal? Mana buktinya? Ia tetap enggan menganggap Lisanna sudah tiada. Setiap Mira, Mama dan Elfman mengatakan padanya kalau Lisanna sudah tidak ada, relung hatinya terasa mengilu saat itu juga. Ia yakin, ia sangat yakin kalau Lisanna masih hidup di suatu tempat diluar sana. Bahkan tak ayal Mira memukul adik teman lamanya itu dengan sekuat tenaga sampai terkadang gigi Natsu mengeluarkan darah. Tapi, bocah itu tetap saja keras kepala. Ia tetap menunggu Lisanna walau kasus sudah ditutup. Dia tetap menunggu kabar walau tak ada satu pun orang yang memberikan kabar lagi tentang kecelakaan itu. Dia tetap menganggap Lisanna masih hidup, bahkan sampai 10 tahun kedepan.
End Flasback
Lucy merebahkan badannya ke atas kasur bersprai biru laut di kamar bername-tag 'Lisanna'. Pikirannya masih terbayang cerita Mira di Cafe Dreyar beberapa waktu lalu. Sungguh, masa lalu Mira dan Natsu bahkan sampai bisa membuat hatinya mengilu. Walaupun begitu, Mira tetap tak memasang tampang sedih saat menceritakannya. Lucy tahu, hati Mira sangat sakit saat memberitahukan hal itu. Tapi, disisi lain, ia juga bisa merasakan bahwa Mira sudah merelakan segalanya.
Ternyata, masih ada keluarga lain yang mengalami masa lalu lebih pahit daripada aku. Lucy menghela. Ia kembali teringat dengan mamanya, Layla Heartfilia. Sedikit banyak, memahami perasaan Mira bukanlah hal yang sulit untuknya. Lucy juga pernah mengalami hal yang sama. Merelakan seseorang itu sangat menyakitkan. Bahkan dibandingkan dengan dirinya yang hanya kehilangan sesosok Mama, Mira yang nyaris kehilangan segalanya jauh dan jauh lebih kuat darinya.
Seharusnya aku bersyukur masih punya Ayah. Kenapa aku malah kabur dari rumah?
Mata Lucy terpejam, ingatan samar kembali terngiang dikepalanya.
.
Setengah tahun lalu..
Magnolia, Kediaman Keluarga Heartfilia
Tok.. Tok.. Tok.. Suara ketukan pintu terdengar ringan dari luar pintu ruangan kerja Jude Heartfilia, Ayah Lucy. Pria paruh baya berjas coklat itu tak berhenti menggoreskan tinta pada kertas diatas meja kerjanya, tak sedikit pun ia mengeluarkan sepatah kata pun untuk menyahut ketukan pintu itu.
"Ayah, ini aku." Kata seseorang diluar sana.
Jude menggeser sedikit pandangnya ke pintu, mendengar suara barusan membuatnya berhenti menari-kan ballpoint.
"Masuklah." Ucapnya datar.
Pintu itu terbuka, seorang gadis berseragam sekolah Fairy Hills masuk dengan anggun ke dalam ruangan itu.
"Ayah memanggilku?" Rasanya seperti berhadapan dengan seorang Raja. Hal yang paling menyebalkan bagi gadis bernama Lucy Heartfilia. Bahkan dengan Ayahnya sendiri, ia merasa sangat canggung.
Jude meletakkan ballpoint dan menatap putrinya datar. Ia mengangguk dan kemudian mengatupkan kedua tangan dibawah dagu sebagai penyangga kepalanya.
"Kau sudah besar sekarang." Ucap sang Ayah yang membuat Lucy bingung. Perkataan itu seakan Ayah tak pernah melihatnya selama ini. Ah, ralat, ayahnya memang tak pernah memperhatikannya sedikit pun. "Berapa umurmu sekarang?"
"16 tahun." Jawab Lucy sekenanya. Ayahnya sendiri bahkan tak ingat umurnya berapa, apalagi tanggal ulang tahun gadis itu.
Kemudian Jude menghela yang membuat Lucy menautkan alisnya. Ingin sekali dia bertanya ada apa. Tapi, itu kata tabu dan tidak sopan bagi ayahnya. Benar-benar seperti didepan seorang Raja entah darimana.
"Enam bulan lagi, kita akan kembali ke London." Senyum sang Ayah yang terasa ketus bagi Lucy.
"Apa?" Tanyanya spontan.
Jude hanya mengangguk-anggukan kepala. "Kita baru saja kembali ke jepang tahun lalu. Kenapa secepat itu? Ayah bilang kita akan menetap di Jepang. Aku bahkan baru melihat makan Mama sejak 9 tahun lalu." Pekik Lucy tidak terima.
"Ada urusan bisnis yang harus aku kejar disana." Jelas Jude.
"Kalau begitu, Ayah saja yang kembali ke London."
"Kau harus ikut denganku! Bisnis ini demi menyatukan kedua keluarga dan juga untuk masa depan perusahaan."
Alis Lucy mengernyit seketika. "Apa maksud ayah?"
"Kau akan aku jodohkan dengan putra kolega Ayah." Mata Lucy kontan membelalak.
"Ayah tidak bisa mengambil keputusan sepihak. Aku menolak!" Pekik Lucy tak terima. "Apa-apaan itu? Aku tidak mau dijodohkan dengan siapapun!" Lanjutnya lantang. Jude sudah mengetahui putri tunggalnya itu akan menolak keputusannya. Tapi Lucy harus tetap menerimanya apapun yang terjadi.
"Kau tidak boleh membantah ayah. Perjodohan ini sudah kami rencanakan sejak kau masih kecil. Haaah, kau sama saja seperti Layla!"
"Mama juga tidak setuju, kan? Lalu kenapa Ayah memaksakan kehendak sendiri? Aku tidak mau menuruti segala perintahmu lagi. Aku ini anak mu! Bukan bawahanmu!" Kesal Lucy.
"Kau memang bawahanku!" Pekik Jude yang kontan saja membuat mata Lucy membelalak. Sebulir air mata entah kenapa mengalir begitu saja dari wajahnya.
"Bawahan?" Tanya Lucy tak percaya. "Kau memang gila, Ayah!" Tatap Lucy nanar dari balik genangan air matanya pada sang Ayah.
"Berani sekali kau berkata begitu pada Ayahmu sendiri!" Kesal Jude balik. Hampir saja suaranya menggelegar sampai keluar ruangan. Lucy tersentak. Bahkan dia punya pertanyaan yang sama kepada sang Ayah.
"Kau sendiri, tega sekali kau bilang aku ini bawahanmu!" Timpal Lucy balik. Kali ini wajahnya sangat datar dan tajam menatap Jude. Mendengar perkataan itu dari gadis didepannya, Jude kontan memukul meja keras dan berdiri menatap Lucy dengan sangat tajam.
"Kau!" Geram Jude sambil menggerutukan gigi. "Aku tidak pernah mengajarimu berkata kasar seperti itu!" Lanjutnya lantang.
"Kau memang tidak pernah mengajariku apapun! Jangan berkata seolah kau pernah memperhatikanku!" Balas Lucy. Matanya benar-benar tajam menatap Jude. Bahkan ia tak menyangka sudah sangat membenci Ayah kandungnya sendiri.
"Kau benar-benar mirip dengan Layla!"
"Ya! Aku putrinya! Seharusnya anda tahu itu, Tuan!" Cibir Lucy makin melantangkan suaranya.
Jude mendecak. "Terserah! Kau akan tetap ku bawa ke London dan akan ku jodohkan dengan putra Kolega ku!"
Lucy makin menatap Ayahnya penuh kebencian. "Sudah cukup! Aku selalu menuruti segala perintah darimu! Kali ini, aku tidak akan menurutinya lagi, Ayah!" Seru Lucy dengan menekan panggilan terakhir pada Jude Heartfilia itu. Ia dengan sigap mengangkat kaki keluar ruangan dan membanting pintu itu keras.
Lucy masih berada didepan pintu ruangan Ayahnya. Dengan sedikit terisak, ia menatap nanar lantai rumahnya yang bahkan sangat menjijikan untuk ia pijak sekarang.
"Apanya yang demi masa depan perusahaan? Bagaimana dengan masa depan putrimu sendiri!?" Gerutunya seraya menyeruakkan genangan cairan bening di kedua pelipis matanya.
End Flashback.
.
Lucy menghela napasnya untuk yang kesekian kali. Ia membuka mata menatap langit-langit kamar dalam keheningan. Apa aku benar-benar harus bersyukur punya ayah sepertimu? Lirihnya. Ia menggeser pandang ke arah lampu tidur diatas laci meja. Ada sebongkah frame photo disana. Photo yang salah satu wajahnya sudah tak asing lagi di matanya.
Dengan sigap, Lucy bangkit dari tidurnya dan mengambil photo itu.
"Yang disebelah Natsu ini, pasti Lisanna 'kan?" Tanya Lucy pada dirinya sendiri sambil memandangi photo dengan latar sungai, dua orang anak kecil dan seekor kucing berbaju biru dipelukan mereka. Manis sekali. Hahaha, entah kenapa aku jadi merasa iri.
Memperhatikan photo itu lebih dalam, entah kenapa rasanya Lucy seperti pernah melihat bocah laki-laki yang tadi disebutnya sebagai Natsu ini. Tapi, dimana? Tiba-tiba saja Lucy mengerjap. Ia baru teringat akan satu hal. Ia menarik tas yang tadi di campakkannya ke atas kasur, merogoh tas itu dan kemudian mengambil ponsel dari sana.
Ya ampun, Levy-chan pasti mengkhawatirkanku. Segera, Lucy mengaktifkan kembali ponselnya. Sejak keluar kelas, ponsel itu sengaja ia nonactive-kan agar orang-orang Ayah tidak bisa menghubunginya. Setelah layar itu hidup sepenuhnya, Lucy langsung menghubungi Levy.
Lantunan dering sempat terdengar sekali ditelinga Lucy. Namun dengan cepat suara decak terangkat menggantikannya.
"Hallo.." Sapa Lucy lembut sebelum suara tiga suara serempak nyaris memekakkan telinganya.
"Lu-chan.." "Lucy.." "Lucy.." Balas ketiga suara yang jelas sekali berasal dari Levy, dan kedua orang tuanya.
"Gyaaaa.. Lu-chaaan.. kau kemana sajaa.. aku sangat mengkhawatirkanmu.. huaaa.." Histeris suara Levy dari balik telepon itu disusul dua suara lainnya.
"Kau dimana Lucy? Astagaa, bibi tidak bisa berhenti memikirkanmu? Apa kau sudah dibawa pulang sama Ayahmu?"
"Luce.. kau dimana? Biar paman menjemputmu sekarang? Orang-orang ayahmu banyak sekali diluar rumah kami."
Lucy sampai terperangah mendengarnya. Ia sama sekali tak bisa menangkap jelas apa yang mereka bertiga katakan karna nyaris berbarengan.
"Kau baik-baik saja Lucy? Kau tidak di apa-apain kan?"
"Gyaaa.. Lu-chan.. maaf karna sudah membiarkanmu pulang sendirian.. Lu-chan.. maafkan aku.."
"Kau dimana? Paman akan menjemputmu sekarang!"
Lagi-lagi, suara-suara mereka membuat Lucy tiba-tiba saja meneteskan setitik air matanya. Ia tidak pernah menduga keluarga Levy akan memperlakukannya demikian. Sungguh, ini pertama kalinya Lucy merasa ada yang mengkhawatirkannya sampai seperti itu.
"Daijoubu, Levy-chan.. Paman.. Bibi.. Hahaha.. aku baik-baik saja." Senyum Lucy sembari menyeka kelopak matanya. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.."
"Kenapa kau malah berterima kasih Lu-chan.. Huaaaa.. Kau dimana? Jangan bilang kalau kau sudah kembali ke London." Levy terdengar menangis dari balik ponsel Lucy.
Lucy terkekeh. Sahabat mungilnya itu selalu saja bereaksi berlebihan seperti ini.
"Aku masih di Magnolia kok. Jangan menangis Lu-chan.. aku baik-baik saja loh." Ucapnya. Betapa bahagianya perasaan Lucy sekarang.
"Benarkah?" Tanya suara itu. Lucy hanya menggumamkan 'hm' dengan lembut.
"Kau tidak terluka 'kan sayang?"
"Tidak bibi. Aku tidak apa-apa." Balas Lucy. Ia kembali meneteskan airmata. Suara lembut itu mengingatkannya pada Mama.
"Kau dimana? Biar paman menjemputmu kalau begitu." Ucap ayah Levy dengan backsound helaan 'Syukurlah' dari ibu Levy dan tangisan Levy.
"Tidak usah, paman. Saat ini, aku berada di tempat yang aman kok. hehe.."
"Iya, tapi dimana? Biar paman menjemputmu pulang." Kata suara itu lagi. Sementara Levy dan ibunya sudah berhenti berbicara, meski Lucy masih bisa mendengar suara tangisan dibelakang sana.
Lucy terkekeh. Pulang? Bahkan mereka menganggap kalau rumah mereka adalah rumah Lucy juga. "Tidak usah." Senyum Lucy. "Sekarang, aku menginap dirumah temanku. Aku baik-baik saja. Aku akan pulang besok setelah sekolah." Lanjut Lucy.
"Teman?" Tanya Levy tak percaya. "Sejak kapan kau punya teman lain selain aku, Lu-chan?" Pekik Levy kesal. Tapi tiba-tiba ia berhenti terisak dan mengerjap begitu menyadari sesuatu.
"Jangan bilang, kau menginap dirumah Natsu?!" Tanya Levy makin meninggikan suaranya.
"Natsu?" Kompak suara orang tua Levy terdengar heran.
"Gyaaaa.. Ayah.. Jemput Lu-chan sekarang juga!" Pekik Levy kepada ayahnya. "Bagaimana mungkin kita membiarkan Lu-chan menginap dirumah laki-laki?!" Lanjut Levy yang membuat Lucy segera menghentikannya.
"Aku tidak menginap dirumah Natsu, Levy-chan!" Sanggah Lucy secepat kilat. Hal itu berhasil menenangkannya. Tapi perkataan Levy soal Natsu membuat Lucy kesal juga. Meski Levy menyukai berteman dengan Natsu, ia tetap saja belum bisa mempercayai Natsu sepenuhnya.
"Jadi kau dimana?" Tanya Levy lemas.
"Em, aku tinggal dirumah teman perempuannya Natsu."
Levy mngernyit. "Hn? Erza?" Lucy hanya menggeleng dan bergumam mendengarnya.
.
"Gray yang menolongmu?!" Pekik Levy dari balik genggaman telepon Lucy. Lucy tersentak, spontan ia langsung menjauhkan ponselnya dari telinga. Sekarang ini orang tua Levy sudah tidak ikut berbicara di telepon. Levy sudah berada di kamarnya sendirian dan hal itu menjadi kesempatan emas bagi Lucy untuk menceritakan banyak hal pada gadis mungil itu.
"Aku tidak menyangka. Kau serius?" Kata Levy kemudian setelah Lucy kembali meletakkan ponselnya ditelinga. "Hm. Aku juga tidak menyangka."
"Ah, tapi syukurlah kau baik-baik saja Lu-chan. Kali ini kau harus berterima kasih pada Natsu dan teman-temannya. Jangan marah-marah kayak nenek sihir seperti kemarin." Sindir Levy yang membuat Lucy menggaruk kepalanya.
"Iya.. Iya.. aku tahu.." Balas Lucy seraya berdiri dari kasur dan berjalan mengitari kamar Lisanna.
"Jadi, mereka sudah tahu soal ayahmu?" Tanya Levy pelan. Ia sedikit takut menanyakan hal itu pada Lucy.
Lucy diam sejenak, langkahnya sampai terhenti begitu Levy menanyakan hal itu. "Belum." Jawabnya kemudian.
Levy menghela. "Lalu, kebohongan apa lagi yang kau bilang pada mereka?" Tanya Levy masam.
Lucy tertawa mendengar nada suara itu. Seperti biasa, hal yang paling Levy banget rasanya.
"Rahasia." Cibir Lucy seraya berhenti tepat disebelah tirai teras kamar sambil tertawa pelan. Hal itu langsung saja membuat kepala gadis mungil disebrang sana di hantam tiga kerut siku. Lucy hanya tertawa menanggapi omelan dari lawan bicaranya. Perlahan ia menggeser-geser tirai itu sampai pintu kaca teras terlihat dan siluet seseorang dari rumah disebrang sana membuatnya terenyak.
Ini sudah pukul 11 malam, angin malam bahkan terasa lebih kencang dan dingin dari siang hari biasanya. Tapi, kenapa dia diluar? Lucy berhenti tertawa, ia terus memperhatikan sesosok siluet itu dari balik tirai. Angin menghembus suraian pinkishnya lembut. Matanya menyendu menatap langit hitam pekat diatas sana. Rahang tegasnya terlihat jelas tanpa sebuah syal ataupun kerah baju sekolah. Hanya dengan kaos merah yang bisa mencetak jelas bentuk tubuh itu. Natsu..
"Levy-chan, nanti aku telepon lagi." Ucap Lucy mengabaikan sepenuhnya omelan dari Levy. Bahkan ia tak memperdulikan sahabatnya yang sekarang marah karna Lucy hendak menutup teleponnya tiba-tiba. Setelah mematikan telepon itu, Lucy menurunkan tangan yang menggenggam ponsel sejajar tubuh, dan mengambil langkah pertama keluar pintu kaca itu sebelum sejerjak suara lewat dengan leluasa menyentak tubuhnya.
"Sejak peristiwa itu, Natsu menutup hatinya untuk berteman dengan orang lain, selain aku, Elfman, Erza dan Gray. Dia enggan berteman dengan orang lain. Apalagi perempuan. Katanya dia takut seseorang akan menggantikan posisi Lisanna dihidupnya. Karena itu aku kaget waktu Natsu menceritakan soal dirimu, Lucy. Kau tahu, sepertinya kau sudah mendapatkan hati Natsu."
Lucy terenyak mengingat perkataan Mira-nee padanya. Ia menarik kembali langkah kakinya dan menggenggam ujung tirai jendela itu kuat.
"Dulu, aku sempat sangat membenci Natsu. Dia selalu berteriak 'Lisa masih hidup', 'Lisa belum mati' dan lain sebagainya. Aku tidak suka mendengarnya. Adik ku sudah meninggal. Aku tidak mau membebankan kehidupannya di alam sana dengan sikap Natsu itu. Tapi lama-lama aku sadar, dibandingkan dengan aku dan Elfman, Natsu lah yang paling kehilangan Lisanna.."
Lucy terdiam. Kakinya tak bisa ia gerakkan sama sekali. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang menjalar didadanya. Kau tidak menganggapku sebagai pengganti Lisanna 'kan, Natsu?
"Ohayou, Lu-chan..." Sambar Levy tiba-tiba begitu Lucy menginjakkan kaki didalam kelasnya pagi ini.
"Ohayou.." Balas Lucy seraya tersenyum
"Aaaah, kamar ku sepi sekali tidak ada dirimu." Kata Levy masih dalam pelukan. Lucy terkekeh. Baru saja sehari dia tidak menginap di rumahnya, tapi kelakuan Levy seakan Lucy baru saja pergi bertahun-tahun.
"Hahaha.. bagaimana kalau aku benar-benar pulang ke London Levy-chan? Kau tidak akan menangisiku 'kan?" Goda Lucy yang membuat ujung bibir Levy mengerucut.
"Tidak kok. Aku senang kalau kau mau pulang ke rumah." Jawab Levy sembari melepaskan pelukannya.
"Eee.. Masa? Tadi malam saja kau nangis kan? Hahahahaha." Tawa Lucy diiringi semburat tipis di pipi Levy.
"Itu karna aku sangat mengkhawatirkanmu!" Timpal gadis mungil itu begitu Lucy berlalu melewatinya. Lucy hanya tertawa pelan sembari menyangkutkan tas nya kesamping meja dan duduk di bangkunya.
"Oh ya, Lu-chan, Kau dan Natsu sudah baikkan? Tadi aku melihatnya mengantarmu sampai tangga lantai tiga." Goda Levy setelah menggeser kursi ke depan Lucy.
Lucy menautkan alis. "Kau salah. Tadi aku berangkat kesekolah bareng Erza dan Gray juga. Lagian, aku dan Natsu belum bicara apapun dari kemarin." Yah, selain soal plester itu..
"Heee? Dia masih marah?" Tanya Levy yang hanya dibalas dengan kedikan bahu dari Lucy. "Aku tidak mengerti sama sekali soal dia. Kemarin sewaktu Gray menjelaskan tentang pria berjas aneh itu, Natsu spontan memarahiku seakan dia sangat khawatir. Berbeda sekali dengan kejadian di sekolah kemarin." Cibir Lucy.
"Aku juga tidak mengerti melihat kalian berdua." Timpal Levy setelah memangku wajahnya dengan sebelah tangan.
"Apa maksudnya itu?"
Levy hanya mengedik. Matanya memandangi ambigu wajah Lucy.
"Ah, yasudah lupakan soal Natsu. Setiap bicara denganmu kenapa ujung-ujungnya selalu membicarakan Natsu sekarang?" Hela Lucy.
Levy mengerjap. ia juga baru menyadari hal itu. "Ah, kau benar." Kerjapnya. "Kalau dipikir-pikir, terakhir kali kita membahas soal laki-laki itu sekitar 10 tahun yang lalu ya? Hahahaha." Lanjut Levy. Jelas sekali ia menyindir Lucy lagi.
"Sudah lah. Aku juga sudah lupa kejadian itu." Rengut Lucy. Ia malas mem-blushing malu akibat tingkah anehnya sewaktu kecil.
Levy hanya tertawa menanggapi ekspresi Lucy.
"Ne, kau tahu, Levy-chan, ada yang tidak bisa berhenti ku pikirkan dari kemarin malam."
"Apa?" Tanya Levy antusias setelah meredakan tawanya.
"Aaaa.. entah kenapa, aku tidak bisa berhenti memikirkannya sejak kemarin." Alis Levy terpaut. Ia sama sekali tak mengerti apa yang tengah membuat sahabat sedari kecilnya itu melting sampai memegangi kedua pipi.
"Siapa?" Tanya Levy langsung ke intinya.
"Gray." Senyum Lucy dengan kedua mata memicing. "Ha?" Kaget Levy spontan.
"Iya, kau tahu, kemarin waktu dia menolongku, sumpah aku gak bisa berhenti jantungan. Ternyata dia kalau diperhatikan lebih dekat keren juga. Waktu di dojo Ul lagi, tiba-tiba dia bilang dia akan menjagaku dari kejaran orang-orang ayah. Ya ampun, aku mau sekali kalau dia yang melindungiku lagi. Aaaa... apalagi, dia itu tidak terlalu bodoh seperti si pinkish menyebalkan itu. Dan lagi, aaaaa.. pokoknya aku jatuh hati padanya." Jelas Lucy yang membuat Levy terperangah.
"Eh? Aku kira kau menyukai Natsu." Timpal Levy masam. Ia sangat bingung menatap ekspresi Lucy yang sekarang.
Lucy tersentak. Ia berhenti bersikap melting dan menatap Levy datar. "Kenapa Natsu lagi?" Tanyanya kesal.
"Entah. Hanya berpikiran kesana dari kemarin-kemarin." Jawab Levy datar.
"Kau tahu 'kan aku membencinya." Ketus Lucy.
"Yakin? Yang kulihat malah kebalikannya." Timpal Levy.
"Apa maksudnya itu? Haaaah, kenapa pembicaraan kita beralih ke Natsu lagi?!" Kesal Lucy.
"Ah, iya. Maaf." Jawab Levy setelah tersadar.
Lucy menghela. Ia mensejajarkan kepala ke meja didepannya.
"Kau pulang ke rumah kami nanti 'kan, Lu-chan?"
"Mungkin. Kalau orang-orang ayah tidak mengejarku seperti kemarin." Jawab Lucy dari balik kepalanya.
Tiba-tiba saja ponsel Lucy bergetar dari dalam laci. Ia mengerjap dan segera membuka pesan yang baru saja masuk itu. Nomor yang kemarin. Batin Lucy. Tubuhnya sedikit bergetar takut membaca pesan itu. Dengan helaan napas, ia membuka pesan itu segera.
Tuan marah besar Nona. Dia membatalkan keberangkatannya ke London kemarin malam. Kumohon jangan membuat beliau tambah marah. Sekarang kami sedang mengurus ulang jadwalnya pekerjaannya. Mungkin anda suka ini, hari ini kami tidak akan mengawasi Nona. Tapi, bukan berarti kami berhenti bertugas membawa anda pulang. Hanya untuk hari ini. Itu saja. Jadi pulang lah Nona, sebelum kami semua menjemput anda dengan kasar.
-Glenn
Lucy menatap nanar ponselnya. Ia benci ini. Sangat benci. Aku tidak akan pernah pulang sebelum kau berubah, Ayah!
Istirahat pertama..
"Aku tidak salah lihat kan?"
"Eh? Bukannya mereka kemarin bertengkar hebat?"
"Bukannya kemarin si pisang itu bilang kalau dia membencinya? Apa-apaan sekarang?"
Lucy memutar bola matanya. Tak habis rasa kesalnya dengan pesan yang dikirim Glenn pagi tadi, malah sekarang peristiwa sebelum hari kemarin lusa terulang kembali. Dan ini benar-benar membuatnya frustasi.
"Eh, kalian tahu, kemarin juga, si Pirang jalang itu pulang bareng Gray."
"Astagaa.. benar-benar deh."
Lucy menggertakkan gigi, ia kontan memutar langkahnya kebelakang dengan satu hentakan.
"Berhenti mengikuti-" Lucy membungkam mulutnya saat itu juga. Ia membelalakkan mata begitu tersentak akan apa yang tengah dilihatnya. Seketika hawa panas menjalar diiringi semburat merah di kedua pipinya begitu melihat hal yang tak pernah terbayangkan di pikirannya.
"Tidak akan." Potong Natsu sesaat sesudah Lucy mematung tepat 5 cm didepan dadanya. Mendengar suara baritone lembut yang seakan berbisik itu membuat wajah Lucy semakin memerah. Aroma mint khas yang keluar dari tubuh Natsu menusuk indra penciumannya. Sampai rasa nyaman mendadak menggetarkan seluruh tubuh itu. Dekat sekali. Bahkan Lucy bisa mendengar suara napas Natsu. Entah apa, tapi sesuatu serasa mendorongnya untuk merentangkan tangan mendekap laki-laki beraroma mint ini kedalam hangat tubuhnya.
Begitu menggerakkan sedikit kedua lengannya, mendadak kesadaran menyentaknya hebat. Lucy dengan sigap mundur empat langkah menjauhi Natsu yang masih menatapnya dalam diam. Sial! Hampir saja dia melakukan suatu hal yang gila. Apalagi di koridor kantin ini. Semua, seluruh siswa sekolah pasti akan melihatnya jikalau Lucy mengikuti dorongan aneh itu.
Lucy mendecak. Kesal. Ada apa dengan dirinya? Dan kenapa juga Natsu harus sedekat itu dengannya? Sial! Sial! Sial!
Natsu masih menatap wajah gadis didepannya. Wajahnya sedikit bingung melihat Lucy yang tiba-tiba menarik langkah mundur dengan wajah yang masih membelalak tak percaya. Bahkan yang lebih membuat Natsu bingung, Lucy malah diam dan tak secerewet biasanya.
"Kau baik-baik saja, Luce?" Tanya Natsu seraya mendekatkan wajahnya hingga berjarak 10 cm di depan wajah Lucy. Lucy mengerjap. Kali ini wajahnya refleks menjauh dari wajah Natsu.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?!" Kesal Lucy seraya berbalik. Cih, kenapa jantungku masih berdegup kencang begini? Lirih Lucy sembari menggigit bibir bawahnya.
"Kenapa kau marah? Aku hanya bertanya, kau kenapa. Kau aneh sekali!" Kata Natsu seraya membenarkan posisi tubuhnya.
Lucy mendecak. "Bukan urusanmu." Balasnya seraya mulai kembali melangkahkan kaki. Ia sadar tengah menjadi tontonan beberapa orang disekitarnya. "Pokoknya berhenti mengikutiku!" Pekik Lucy setelah menghentakkan langkah kesal.
Natsu lagi-lagi mengelus belakang kepalanya dan menghela singkat. Dengan segera ia menyusul langkah gadis itu. Menurunkan tangan kanannya sejajar tubuh dan mengejar langkah kaki Lucy yang kian menjauh.
"Sudah kubilang tidak akan." Ucap Natsu sembari meraih ujung jari Lucy dengan ujung jarinya sebelum sebongkah kalimat menerpa kepalanya.
"Berhentilah menyakitinya!"
Natsu tersentak. Wajah Loke saat memukulnya dilapangan dua hari lalu mengalir begitu saja. Natsu mendecak. Tangannya yang sempat bersentuhan dengan ujung telapak tangan Lucy, segera ia tarik kembali. Dengan berat hati, Natsu meneruskan langkah ke depan mengurungkan niatnya untuk menggenggam jemari lembut gadis yang selalu membuatnya bisa melupakan sahabat kecilnya dan senyuman yang sampai sekarang masih membuatnya merasa sangat nyaman.
"Ayo.." Lirih Natsu sesaat dua langkah hendak berlalu.
Lucy terdiam. Ia berhenti berjalan begitu hangat tangan yang sempat menyetrum tubuhnya beberapa saat lalu hanya berlalu melewatinya begitu saja. Sikap Natsu barusan membuat dadanya kembali bergejolak dan jantung kian berdetak melebihi batas. Aku kira dia akan menggenggam tanganku. Batin Lucy seraya menatap punggung pucuk pink yang terus berjalan menuju bibir kantin sambil mengelus tengkung pink itu.
Lucy menarik tangan kanannya dan menggenggamnya erat didepan dada. Apa-apaan dia itu? Kemarin sikapnya dingin sekali padaku, sekarang kenapa jadi seperti ini? Lucy menggerutu. Perasaan didalam dadanya itu terasa sedikit menyiksanya. Dia membenci Natsu bukan? Tapi kenapa dia sempat berpikir ingin memeluknya? Apa-apaan ini? Ia makin menatap tajam punggung tak berjas sekolah itu. Dengan langkah cepat, Lucy bergegas menyusulnya dan secara tidak etis menarik syal yang melingkar di leher Natsu dengan paksa sampai membuat Natsu menoleh kebelakang.
"Apa maumu?!" Kesal Lucy lantang. Aku benci ini, semakin dia bersikap seperti ini semakin aku berpikir kalau aku benar-benar hanya pelampiasan untuknya! Tapi, Aaargh, kenapa aku marah?! Natsu tersentak saat mendengar suara nyaring tak menyenangkan barusan. Lagi-lagi, aksi kedua orang itu membuat seluruh orang disekitar menjadi penonton setia mereka.
Menatap mata Natsu kebingungan, Lucy makin menajamkan matanya. "Kemarin kau bersikap sok dingin padaku! Sekarang kau mengikutiku lagi! Apa maumu?!" Berhenti atau aku akan benar-benar membencimu!
"Dingin? Kemarin?" Tanya Natsu kebingungan.
"Jangan berlagak bodoh!" Seru Lucy kesal. Ia makin menarik kuat syal itu sampai hampir membuat Natsu tercekik. "Jelas-jelas kau berhenti mengikutiku kemarin. Tidak mengirimiku pesan, tidak mengantarku sampai sekolah dan tidak menjemputku saat pulang. Bahkan kau mengabaikanku di koridor lantai satu dan di kantin kemarin!" Lanjut Lucy menjelaskan segalanya. Natsu membelalak. Ia langsung teringat akan kejadian kemarin. Ya, dia memang melihat Lucy kemarin di koridor lantai satu. Tapi, dia tidak melihat Lucy di kantin. Dan yang lebih membuat Natsu bingung, bukannya tidak diikuti Natsu adalah keinginan terbesar Lucy? Penjelasan Lucy barusan membuat Natsu tak tahu harus menjawab apa.
"Ah, Maaf Luce. Bukan bermaksud dingin seperti yang kau bilang. Argh, bagaimana aku menjelaskannya ya?" Pusing Natsu sendiri seraya menimang-nimang kata yang ingin diucapkannya. Alis Lucy terpaut.
"Kemarin, aku tidak bisa kemana-mana karna Erza." Jelas Natsu yang membuat Lucy menurunkan tangannya dari syal Natsu. "Tugas komputer kami belum selesai. Jadi, Hibiki-sensei menyuruhku dan Erza mengerjakannya sampai jam makan siang berakhir. Waktu kau melihatku di koridor, gadis yang bersamaku itu Kana, teman sekelasku. Dia membantuku dan Erza menjalani hukuman dari Hibiki-sensei. Kemarin aku tidak sempat menyapamu karna Kana dan Erza sudah memanggilku. Dan kalau yang di kantin, aku tidak melihatmu sama sekali. Maaf. Mungkin saat kau melihatku, aku sedang buru-buru karna di panggil monster berambut merah itu." Jelas Natsu yang membuat mata Lucy membulat penuh.
Memalukan. Satu kata yang cocok menggambarkan perasaannya sekarang. Pertanyaannya barusan sungguh kekanak-kanakan. Apalagi, ternyata itu semua karena Erza. Terbesit perasaan lega begitu saja dihati Lucy. Tapi tunggu! Sejujurnya untuk apa gadis itu menanyakan ini sampai seperti itu? Seolah Natsu dan dia sungguh-sungguh berpacaran. Gyaaaa... Astaga.. lagi-lagi aku menyiram bensin ke dalam kobaran api.
"Dan kalau soal tidak mengirimimu pesan.."
"Sudah cukup! Tidak usah dijelaskan dan berhentilah mengikutiku!" Ketus Lucy seraya berlalu. Ia benar-benar ingin memasang topeng kedepan wajahnya sekarang.
"Aaaaaaargh! Ini menyebalkan!" Pekik Lucy seraya memukul lokernya di ruang ganti perempuan dengan sekuat tenaga. Levy yang tengah melepas kancing seragam sekolahnya kaget saat itu juga. Ia melirik Lucy sambil berdigik heran.
"Kau kenapa, Lu-chan?" Tanyanya kebingungan.
Lucy mendaratkan dahi tepat ke depan pintu lokernya sedikit kuat, sementara kedua tangan yang terkepal memukul loker tadi masih tak bergerak dari sana. "Dia mengikutiku kemana-mana lagi, Levy-chan." Jelas Lucy. "Aaaaargh! Si pinky itu benar-benar menyebalkan!" Teriaknya kesal.
Levy mendengus lucu, ia beralih kembali ke kancing kemeja dibawah dadanya dan melepaskannya dengan lihai. "Hahahaha.. dia sangat mengkhawatirkanmu, Lu-chan." Timpal Levy. Sekarang ini, ruang ganti hanya tinggal mereka berdua. Jadi melampiaskan kemarahan sekarang bukanlah hal yang membuatnya menjadi tontonan seperti biasa.
"Ugh!" Kesal Lucy. Tak sedikit pun ia menjauhkan dahi dari depan loker itu.
"Kau lucu, Lu-chan. Kemarin bukannya kau mencari-cari, Natsu ya? Sekarang dia sudah mengikutimu lagi, kau malah kesal begini." Ujar Levy yang membuat Lucy melempar pandang kearahnya.
"Kapan aku bilang aku mencarinya?" Sanggah Lucy tak terima dengan ujaran sahabatnya barusan.
Levy menghela. "Tidak usah mengelak. Aku bisa membaca perasaanmu." Timpal Levy lagi. Kali ini kerutan menjalar keatas dahi Lucy.
"Aku tidak mencarinya. Berhenti menganggap kalau aku benar-benar suka kalau Natsu bersamaku." Kata Lucy menarik manik matanya ke arah loker lagi.
"Haaah, sudah ku bilang tidak usah mengelak. Kau ini keras kepala sekali." Kesal Levy seraya memukul kepala Lucy dengan tepi telapak tangan.
"Aku bilang tidak ya tidak, Levy-chan!"
Levy menghela. "Yah, yah.. terserah saja."
"Tapi ini benar-benar menyebalkan!"
"Itu menyebalkan karena kau menutup perasaanmu, Lu-chan. Coba kau terima saja dengan tenang Natsu bersamamu. Lagipula, tidak ada ruginya dia bersamamu 'kan? Meldy juga sudah berhenti membully-mu. Orang-orang yang menatapmu tajam itu, abaikan saja. Mereka tidak tahu apa-apa. Kau tidak usah mengambil pusing kelakuan mereka." Omel Levy seraya melipat kemejanya dan beralih ke baju olahraga.
"Menerimanya sama saja dengan bunuh diri. Mereka semua akan menganggapku benar-benar pacaran dengan Natsu!"
"Sudah ku bilang jangan terlalu ambil pusing kelakuan mereka." Kesal Levy.
"Kau sendiri yang menyuruhku jangan terlalu dekat-dekat dengan Natsu dkk waktu itu. Tapi, kenapa kau sekarang berada di pihaknya?" Kesal Lucy balik.
"Aku tidak berada dipihak siapapun, Lu-chan. Ya ampun." Levy menoleh ke Lucy, berbicara dengan putri tunggal keluarga Heartfilia yang egois dan keras kepala ini sama saja rasanya seperti berbicara dengan tembok. Apapun dan sedikitpun ia tak mau mendengarkan. Dan itu sangat menyebalkan.
Levy menghela lagi. "Kalau begitu, kenapa tidak kau jelaskan saja yang sebenarnya pada Natsu. Mungkin dia akan berhenti bersikap overprotective padamu." Kata Levy sambil membenarkan baju olahraganya. Mendengar hal itu, Lucy langsung menyampakkan manik caramelnya ke gadis berbandana kuning itu. Wajah masam Lucy spontan membuat Levy terkekeh garing. Lagi-lagi reaksi menyebalkan itu. Sudah tahu Lucy tetap tidak akan menerima segala saran dari siapapun, tapi Levy tetap saja melakukannya.
"Iya.. Iya.." Balas Levy yang akhirnya mengalah juga. "Tapi kalau kau tidak mengatakannya, Natsu akan terus mengikutimu, kan?" Lanjutnya ketika berhasil meraih sepatu olahraga di laci atas lokernya.
Lucy menghela. Ia berhenti berkutat pada keras kepalanya dan mulai melepaskan kancing kemejanya. "Tetap saja, mana bisa aku bilang padanya."
Akhirnya bell istirahat makan siang berbunyi juga. Cacing di perut Lucy sudah mulai mendobrak-dobrak kelaparan sejak pelajaran Kinana-sensei sebelumnya. Dengan lemasnya, gadis bertubuh semok berambut kuning yang sangat mudah dikenali itu, berjalan keluar kelas berbarengan dengan Levy yang mengikuti disebelahnya.
"Kau mau makan apa, Lu-chan?"
"Apa saja, yang penting makan." Keluh gadis itu seraya menginjakkan kaki keluar kelas.
"Kau pulang ke rumahku nanti kan?" Tanya Levy untuk yang ketiga kalinya hari ini.
Lucy mengangguk. "Hm, hari ini aku bebas dari orang-orangnya ayah. Fuaah, akhirnya ada juga hari yang tenang untukku." Lega Lucy sembari mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Ah, tapi, ini belum cukup tenang. Si bodoh itu masih mengikuti ku terus." Masam Lucy yang membuat Levy terkekeh.
"Hidupmu menarik ya? Hahaha.." Sindir Levy.
"Menarik darimana?!" Timpal Lucy sebal.
Belum terlalu jauh mereka keluar dari pintu kelas, mendadak sebuah tangan menyentuh bahu Lucy yang membuat gadis itu sontak merinding dan tubuhnya bergetar bak tersengat listrik dengan volt tinggi.
"Gyaaa.. Natsu! Sudah kubilang berhenti mengi-" Suara Lucy langsung tercekat begitu kepalanya berhasil ia tolehkan ketempat pemilik tangan sialan itu.
"Cih, Natsu kepalamu!" Timpal kasar suara lembut yang membuat Lucy kaget. Ah, ternyata tangan itu pemilik surai pinkish lain. "Fuh, Berharap sekali kau, aku ini Natsu." Lanjutnya dengan cibiran menyebalkan.
"Ah, Meldy." Balas Lucy sama masamnya.
"Ini, daftar hukumanmu! Dari kemarin aku mau memberikannya, kau selalu mengabaikanku, dasar gadis jalang jelek!" Ketusnya seraya menunjukkan selembar kertas tepat kedepan wajah Lucy.
"Ah, iya, aku lupa." Balas Lucy sambil mengambil alih kertas itu.
"Hari ini, kau harus membantu Bisca-sensei mengoreksi tugas anak kelas dua. Jadi Bisca-sensei memintamu ke ruang guru saat bell pulang nanti. Sudah itu saja. Aku malas berhadapan lama-lama denganmu. Wajah cantikku bisa tertular kejelekanmu." Jelas menyebalkan Meldy sambil mengkerucutkan bibir dan kemudian berlalu begitu saja. Mendengarnya, Lucy sedikit menggerakkan ujung bibirnya berulang-ulang.
"Huoo.. banyak sekali hukumanmu, Lu-chan." Seru Levy sambil melirik kertas itu sebelum suara lain kembali mengagetkan Lucy.
"Ah, aku kira kau sudah di kantin, Luce."
Kali ini tidak salah. Lucy menoleh keasal suara itu dan benar dugaannya. "Natsu.." Ya ampun, sampai kapan dia akan mengikutiku..?
"Cepatlah, aku lapar." Seru Gray yang mendadak muncul dibelakang Natsu bersamaan dengan Erza.
"Hai, Luce." Sapa Erza dengan senyuman yang cukup menggetarkan hati siapapun.
Lucy mengerjap. Bukan karena senyuman Erza. Tapi, Ada Gray! Ia kembali melting gak jelas yang membuat Levy spontan menendang pangkal kaki Lucy.
"Oh ya, Luce." Panggil Erza begitu mereka baru saja mulai melangkahkan kaki ke tangga.
"Hari ini, Natsu yang mengantarmu pulang ya, aku dan Gray harus menemani Ul-sensei menjemput putrinya di bandara." Jelas Erza. Lucy membelalak. Kenapa harus dengan Natsu lagi? Bukannya seharian ini Natsu sudah mengikutinya kemana pun seperti ekor? Astagaaa, padahal Lucy berharap ia bisa pulang bareng Gray seperti kemarin. Tapi, tiba-tiba saja dirinya mengerjap, ia kembali teringat dengan perkataan Meldy tadi. Kemudian sebongkah ide mengalir begitu saja di atas kepalanya.
Setelah jam makan siang selesai. Waktunya pelajaran Bisca-sensei di kelas 1-A. Timing yang pas, yang membuat ide Lucy mudah untuk dijalankan. Sebelum bell berakhir, ia meminta Bisca-sensei untuk langsung membawanya ke ruangan guru demi mengerjakan hukuman yang dikatakan Meldy tadi. Dan dengan mudahnya Bisca-sensei meng-iya-kannya dengan alasan semangat Lucy membuatnya juga ikut semangat. Tapi, sejujurnya bukannya Lucy senang menjalani hukuman ini. Ia hanya ingin membuat ini sebagai pelarian dari Natsu yang pasti akan menjemputnya tepat didepan kelas seperti kemarin-kemarin. Lagipula, hari ini orang-orang ayah tidak mengawasinya. Rasanya Lucy tak perlu takut untuk pulang ke rumah Levy sendirian.
Sebelum melakukan hal ini, Lucy sudah memberitahukan Levy tentang ide gilanya. Meski ucapan Lucy membuat Levy memutar bola mata tapi gadis satu itu tetap menyetujuinya. Selama menunggu Lucy keluar dari ruang guru, Levy bisa mengunjungi klub sastra sebentar. Yah, tidak buruk juga idenya. Tapi, Levy sedikit tak suka menanggapi penjelasan Lucy itu. Hanya demi menjauh dari Natsu, Apa-apaan itu?
Dan disinilah Lucy sekarang, diruang guru dihadapan bertumpuk-tumpuk kertas yang membuatnya menelan ludah. Ia menghela. Tak apa ia menguras banyak tenaga demi kertas-kertas itu, asalkan ia tak bertemu dengan Natsu.
Dengan tarikan napas dalam, ia mulai menjalankan hukumannya.
Sudah hampir petang, bahkan cahaya keorangean menjalar masuk dari sela-sela jendela dan tirai disetiap kelas. Levy berlari secepat mungkin kembali ke kelasnya. Ia takut kalau sekarang malah Lucy yang menunggunya balik. Setelah berlari tunggang langgang meniti anak tangga, ia dengan sigap menghambur menuju kelasnya. Dan seketika berhenti tepat didepan pintu.
"Lu-chan." Panggilnya sedikit kuat. Tapi buru-buru ia membungkam mulutnya balik. Jendela-jendela kaca kelas mereka terbuka hampir keseluruhan, membuat angin dapat dengan leluasa mengibarkan tirai-tirai putih diantara cahaya mentari sore yang menyengat ke dalam ruangan membuat seluruh mata memandang tampak jingga indah. Siluet di jendela dekat mejanya dan Lucy membuatnya tak jadi melangkahkan kaki masuk. Sejerjak perasaan langsung menepiskan rasa lelah akibat lari maraton beberapa saat lalu. Siluet itu tak bergeming, walau angin mengibaskannya kuat dan cahaya jingga membenamkan seluruh tubuhnya. Perlahan ujung bibir Levy tertarik melengkung indah di pipinya.
Levy : Lu-chan, kalau kau sudah selesai, cepatlah kembali ke kelas. Aku menunggumu disana.
Sebulir pesan membuat Lucy menghentikan pekerjaannya yang sekarang tinggal beberapa lembar kertas saja. Lucy tersenyum dan segera membalas pesan itu dengan kalimat. Ya, sebentar lagi aku selesai. Pesan Levy entah kenapa membuatnya kembali bersemangat. Ia dengan sigap menyelesaikan pekerjaan itu tidak lebih dari 10 menit.
.
Lucy melirik jam di ponselnya. Sudah hampir pukul enam sore. Tak terasa ia melewati berjam-jam hanya untuk mengoreksi tugas kelas dua sendirian. Sementara Bisca-sensei hanya memantaunya sambil makan kue dan minum kopi. Sekarang Lucy tengah berjalan kembali kekelas sambil sedikit merengganggkan kedua lengannya yang terasa sangat lelah. Akhirnya, ia selesai meniti anak tangga terakhir lantai tiga. Ia sedikit menggeliatkan tubuhnya sebelum mengambil langkah cepat menuju pintu kelas 1-A yang belum tertutup sama sekali.
Begitu sampai tepat disamping pintu, Lucy bergegas mengangkat suaranya. "Levy-chan.. Maaf la-"
Suaranya tercekat saat matanya berhasil terbuka seutuhnya menatap alunan tirai dan cahaya matahari yang menutupi sebuah siluet didepan sana. Mata Lucy membelalak. Lidahnya sampai tak bisa ia gerakkan sama sekali. Perlahan tirai itu kembali merapatkan diri ke jendela, membuat hanya kini angin dan cahaya jingga yang menerpa sosok siluet didepan sana. Menampakkan rupa tegas dan rambut pink yang dibelai lembut semilir angin di frame jendela sana. Tubuhnya melengkuk, mempaskan posisi disela jendela yang terbuka itu. Ia terduduk tenang, menengadahkan kepala membuat angin leluasa membelai wajah dan rahangnya yang tegas. Angin mengibarkan syal kotak-kotak khasnya, disusul dengan earphone yang menaut di kedua telinganya.
Natsu..
Lucy menenggelamkan wajahnya dalam tunduk. Entah kenapa, hatinya sedikit mengilu menatap sosok yang seharusnya tak boleh ada disini itu.
Dia menungguku?
Padahal, padahal Lucy bermaksud menghindarinya tadi. Tapi, kenapa?
Lucy perlahan mulai mengangkat kakinya berjalan memasuki kelas. Meraih bangku mejanya yang masih tersangkut anggun tas biru miliknya. Bahkan sebelum meninggalkan kelas. Meja itu hanya tersangkut satu tas. Tapi kini, tas lain juga bertengger diatasnya. Hal itu semakin membuat dada Lucy tertekan.
Padahal aku selalu mengusirnya..
Akhirnya Lucy tiba di depan bangku mejanya. Di tatapnya nanar sosok laki-laki yang siluetnya masih membuat Lucy tak percaya.
Padahal aku selalu bilang membencinya..
Alunan suraian pink itu masih tersapu angin dengan lembut. Menutup dan memperlihatkan wajah tegasnya bergantian. Dia memejamkan mata. Bahkan demi menunggu si surai kuning ini, ia sampai tertidur dengan posisi seperti itu.
Natsu..
"Natsu.." Panggil Lucy lembut. Ia tak yakin akan suaranya barusan akan mencapai seseorang yang mengenakan earphone didepannya. Tapi, mendadak tubuh itu bergerak, matanya sedikit mengerjap. Begitu tersadar, laki-laki didepannya menyentak tubuhnya sendiri dengan pelan dan segera melepas sebelah earphone di telinganya. Dengan sigap ia menggeser pandang tepat ke manik mata Lucy.
"Luce?!" Tanyanya memastikan. Setelah menangkap utuh sosok gadis didepannya, Natsu tersnenyum hangat. "Haah, kau lama sekali." Keluhnya seraya mengelus-elus belakang kepala.
Sudah tahu lama, kenapa kau tetap menungguku? "Aku sampai ketiduran. Hahaha." Lanjutnya. "Teman-temanmu bilang kau membantu Bisca-sensei diruang guru. Jadi aku tidak tahu harus bagaimana. Hahaha.."
Kenapa kau tidak pulang saja?
Dada Lucy sedikit bergejolak sekarang. Ia hanya diam menatap Natsu yang kini menurunkan sebelah kakinya ke lantai.
"Kenapa kau menungguku?" Tanya Lucy akhirnya. Padahal aku melakukan ini agar aku bisa menjauhimu!
"Kau tanggung jawabku." Lagi-lagi Natsu berkata begitu, membuat Lucy makin menatap nanar wajahnya. Ia tersenyum manis menampilkan grins khas yang hanya miliknya. Dan grins itu entah kenapa membuat ingatan Lucy lagi-lagi dihantam sesosok bocah kecil dengan senyuman yang sama, pelataran jingga yang nyaris sama dan semilir angin yang juga mengibaskan rambutnya. Mata Lucy membelalak. Ingatan itu mengalir sekilas dan pergi begitu saja saat ia ingin tahu apa maksud ingatan itu.
Tapi perlahan suara Levy kembali terngiang di kepalanya.
"Itu menyebalkan karena kau menutup perasaanmu, Lu-chan. Coba kau terima saja dengan tenang Natsu bersamamu."
Perlahan mata Lucy menyendu, ia meraih tasnya di sangkutan meja dan kemudian kembali beralih menatap Natsu. Mungkin Levy benar.
"Maaf membuatmu lama menunggu, Natsu." Tidak apa-apa kan ini, Tuhan? "Ayo pulang." Ucap Lucy dengan senyuman yang entah kenapa terasa sangat tulus di mata lawan bicaranya.
Natsu membelalak. Dengan sigap ia menurunkan diri seutuhnya dari jendela, melepas langkah cepat dan segera mendekap erat gadis di hadapannya.
Lucy kontan membelalak. Hangat tubuh Natsu menjalar begitu saja ditubuhnya. Aroma mint khas yang sempat ia hirup di koridor kantin menyeruak masuk ke dalam lubang penciumannya lagi. Bukan semata hanya sekedar mencium wangi nan nyaman itu, malah entah kenapa Lucy merapatkan tubuhnya ke dada bidang Natsu dan menghirup aroma mint itu dalam-dalam. Membiarkan Natsu kali ini mendapatkan dirinya sejenak. Tapi, lagi-lagi kesadaran kembali menyentak tubuh gadis itu saat Natsu makin mendekapnya erat, semburat merah menjalar penuh keseluruh wajahnya.
"Natsu!" Seru gadis itu. Degup jantungnya tak beraturan seperti suara degup jantung Natsu yang kini tepat berada ditelinganya.
Natsu tersentak. Ia segera melepaskan pelukan itu dan menjauhkan tubuhnya dari Lucy.
"Maaf Luce." Ucapnya. Lucy bisa menangkap jelas semburat juga mengalir diwajah laki-laki itu.
Lucy hanya mengangguk tanpa membalas ucapan Natsu barusan. Kenapa dia memelukku? Lucy merunduk-membenamkan semburat merah wajahnya agar Natsu tidak ikut mengetahui kalau ia juga tengah merasakan perasaan yang sama dengan laki-laki itu. Hey, ada apa ini?
"Ayo pulang, Natsu." Ucap Lucy seraya berlalu ke pintu. Natsu mengangguk, ia meraih tasnya yang bertengger diatas meja Lucy seraya mengelus dahi dengan ujung jari. Ck. Sial! Lagi-lagi senyumannya membuatku hampir tak bisa mengendalikan diri. Apa jadinya kalau aku melihat senyumannya lagi?Aaaargh, Natsu! Kendalikan dirimu!
Natsu memandangi punggung Lucy dalam diam. Pertanyaannya saat pertama kali bertemu dengan Lucy kembali menjalar diingatannya. Luce, kau siapa? Apa kita pernah bertemu?
Lucy memutar kunci loker sepatunya. Sekarang sekolah benar-benar sepi, bahkan hanya tinggal dirinya dan Natsu di depan pintu utama saat ini. Saat lokernya terbuka, sebingkis plastik yang bertengger nyaman di ujung lokernya bergerak jatuh menutupi sepatu coklatnya, membuat Lucy mengerjap dan teringat akan satu hal. Bingkisan berwarna putih bercorak polkadot warna-warni yang sempat terjatuh di lantai kamar Levy saat mereka terburu-buru pergi kesekolah kemarin pagi. Lucy mengambil bingkisan itu seraya menoleh ke ujung deretan loker.
"Natsu." Panggilnya membuat Natsu yang tengah mengenakan sepatu beralih menatapnya. Lucy tak menggemingkan sepatah katapun dan hanya menyodorkan bingkisan itu ke arah Natsu.
Alis Natsu terpaut. "Apa itu?" Tanyanya datar.
"Jas sekolahmu." Jawab Lucy sekenanya. Natsu meng-oh-kan perkataan Lucy dengan helaan panjang napasnya. Ia tersenyum seraya berjalan menghampiri Lucy.
"Terima kasih." Katanya. Lucy mengkerutkan alisnya. "Salah!" Timpal Lucy cepat.
"Terima kasih sudah meminjamkannya waktu bajuku basah kemarin." Senyum Lucy lagi. Ia baru sadar belum mengucapkan kata terima kasih atas kebaikan orang bodoh didepannya ini. Senyum Lucy makin menyeruak manis. Wajahnya benar-benar berbeda dari saat-saat Natsu mengikutinya terus menerus. Senyuman itu lagi-lagi menyentak Natsu. Sesuatu mendadak bergejolak didalam tubuhnya yang entah kenapa terasa mendorongnya untuk mengambur ke gadis itu lagi. Tapi, Kali ini ia mengerjapkan tubuhnya dengan paksa. Dia tidak boleh sampai kehilangan kendali diri lagi, bukan? Lucy bukan siapa-siapanya.
"Oh ya, Natsu.." Ucap Lucy setelah meletakkan sepatu coklatnya ke lantai. "Tadi, kenapa kau memelukku?" Akhirnya Lucy mengeluarkan pertanyaan itu juga.
Natsu mengeluarkan jas merahnya dari plastik itu. "Entah. Aku juga tidak tahu. Sudah lama sekali rasanya aku tidak melihatmu tersenyum." Jelas Natsu sembari mengenakan jas itu.
Lucy mengernyit, ia menggeser pandang kembali menatap Natsu.
"Pfft.. Apa-apaan itu? Hahahha." Tawa Lucy pecah seketika. Ia tak mengerti sama sekali maksud dari perkataan Natsu barusan. Natsu yang sejak tadi sibuk mengurusi kantung plastik dan jas nya, sedikit menggeser pandang ke arah Lucy saat suara tawa yang sudah lama tak didengarnya itu kembali muncul. "Kau aneh sekali, Natsu." Ucap Lucy masih dalam tawa yang membuat matanya menyipit sejenak.
Natsu terenyak. Sungguh, senyuman itu makin menekan relung hatinya.
"Ne, Luce.." Panggil Natsu datar. "Kau siapa?" Tanya Natsu yang kontan menghentikan suara tawa Lucy. "Apa kita pernah bertemu?"
-to be continued-
Yo! Gomen gak tepat waktu banget updatenya..
Gimana chap kali ini? Ada Zeref x Mirajane disana. Wkwkwkw :v
Setelah ku pikir ternyata cocok juga, tapi tenang saja, aku sama sekali gak kepikiran untuk menyatukan mereka berdua. Zeref hanya milik Mavis seorang! :v Itu hanya masa lalu. Aku membuatnya ada biar sedikit greget. :v Lagipula masa lalu Zeref itu ada hubungannya dengan keputusan Natsu suatu saat nanti. Dan di chap-chap sebelumnya aku juga sudah menjelaskan kalau ada suatu hubungan Mira dengan cucu pemilik Cafe Dreyar itu kan? Yah, cukup menjelaskan kalau itu siapa. #Smirk.
Fic ini masih panjang. Bahkan aku pusing sendiri sama jalan ceritanya karena bakalan lebih dari target awalku. Astaga.. tapi aku harap cerita ini dapat diterima baik oleh reader sekalian. Maaf kalau ada scene yang mengecewakan. Ini hasil pemikiranku sendiri. Jadi yah, aku benar-benar minta maaf banget kalau ada scene ataupun pairing yang membuat reader kesal. Apalagi dengan genre rada Harem yang kubuat. Sejak awal aku memang berniat membuatnya Harem. Nista banget pemikiranku.. Hahahaha. Hountoni Gomennasai :')
Itu aja deh. Terima kasih sudah membaca.
Jangan lupa review ya.
See you next chap~
