Derek keluar dari kamarku lewat jendela, lalu aku langsung menutup dan mengunci jendela itu, serta menutup tirai. Pas setelahnya, pintu kamarku diketuk. Kubuka pintu kamar dan melihat mama di depan.
"Val, mama butuh bantuan," ujarnya sambil tersenyum gugup.
Aku menyerngit. "Mama tidak membuat dapur meledak, kan?"
Ia memutar bola matanya. "Kalau dapur meledak, kau bisa mendengar suara ledakannya. Tapi, tidak, mama bukan ingin bantuanmu di dapur. Mama ingin kau jadi penasihat fesyen pribadi mama malam ini."
"Penasihat fesyen?" tanyaku.
"Mama ada kencan malam ini," aku mama dengan tersenyum gugup. "Pokoknya mama butuh bantuanmu untuk memilihkan baju untuk mama."
"Sekarang?"
Mama mengangguk. "Sekarang."
.
.
Disclaimer: Jeff Davis
Warning: Tidak menjanjikan Lime / Lemon, rated M hanya untuk bahasa yang agak menjurus. Sayangnya ffn tak ada rate T+. Berusaha mengikuti alur canon. Agak Mary-sue. Seperti sinetron.
.
The Sister
Chapter 10
by Fei Mei
.
.
Aku tersenyum sendiri saat menyaksikan mama bercermin dengan baju yang kupilihkan, aku seakan melihat mama menjadi seorang gadis remaja. Kemudian mama memegang rambutnya dan jadi cemas lagi. Bukan cemas apa, sih, ia khawatir kalau ternyata tatanan rambutnya tidak akan disukai teman kencannya.
"Ma, kau sudah sangat sempurna," kataku berusaha menenangkannya. "Pria mana pun akan tertarik padamu, mereka buta kalau tidak tertarik."
Mama tersenyum dan membentuk cengiran. "Yah, dan sampai detik ini mama masih tidak mengerti kenapa kau tidak pernah mengajak mama mengobrol tentang anak laki-laki. Mama yakin banyak yang mengejar putri cantik mama."
Kuputar bola mataku. "Plis, Ma, tidak ada yang mengejarku. Lagi pula aku tidak mencolok, lebih sering di perpustakaan."
"Hmm?" goda mama. "Bagaimana dengan pemuda yang pernah mengantarmu belanja waktu itu?"
"Mengantarku belanja? Siapa?" tanyaku bingung.
"Yang memberi tanda pada lehermu di depan pintu rumah," kata mama masih menyengir.
Oh, astaga, maksudnya berarti Derek! "Dia hanya teman. Dan—ayolah, Ma, ini adalah malammu, seharusnya kita membicarakan tentangmu saja! Jadi, siapa teman kencanmu ini?"
Mama terkekeh. "Hm, dia adalah seorang pasien di rumah sakit. Tadi siang ia mendatangi meja Mama dan mengajak makan malam. Dan Mama langsung setuju."
"Berarti dia tampan?" tanyaku.
"Dia menawan," kata Mama.
"Mama suka dia?" tanyaku lagi sambil menyengir.
"Val, mama baru bertemu dengannya sekali tadi," jawab Mama.
Aku tersenyum padanya. Dalam hati aku bersyukur bahwa berarti teman kencannya bukanlah seseorang yang tidak kuinginkan: Sheriff Stilinski. Aku tidak ingin mama berkencan dengan papa Stiles. Jangan salah, aku sayang Sheriff, dan dia sepertinya sayang padaku dan Scott. Tapi aku tidak ingin ia menjadi papa tiriku. Kalau ia menikah dengan mama—oke, ini berlebihan, tapi siapa tahu, kan?—berarti Stiles dan aku akan jadi saudara, aku tidak mau itu, karena artinya aku tidak akan bisa berpacaran dengan Stiles sama sekali.
"Omong-omong, perlu riasan wajah?" tanya mama.
"Kau sudah cantik dengan seperti itu, Ma," ujarku.
Mama tersenyum dan mencium pipiku, bilang kalau aku sudah boleh kembali ke kamar, sementara dia akan bilang pada Scott bahwa ia akan keluar malam ini.
"Scott sudah pulang?" tanyaku.
"Ya, kau tidak mendengar dia masuk kamar?"
"Oh, eh, mungkin tadi aku ada di kamar mandi," jawabku.
"Dan Allison juga ada di kamarnya, dia baru datang dan bilang ingin bicara dengan kakakmu, jadi mama biarkan," tutur mama.
Aku mengangguk lalu keluar kamar, menuju kamarku sendiri.
Masuk kamar, aku langsung mandi dan pakai baju tidur. Baru bersiap naik ke atas ranjang, pintu kamarku diketuk lagi. Aku beranjak ke pintu dan berpikir itu mungkin mama yang ingin bilang kalau ia akan pergi. Hah, seriusan dia baru akan pergi?
Tapi waktu aku membuka pintu, aku tidak menemukan mama di depan kamar, yang ada adalah Allison.
"Hai, Val," sapanya gugup sambil tersenyum.
"Oh, Allison, kupikir kau sedang dengan kakakku?" tanyaku lalu mempersilakan dia masuk kamar.
Allison pun masuk juga ke kamarku. "Yah, dia keluar sekitar lima menit yang lalu."
"Oh, tidak, dia meninggalkanmu lagi? Dia pergi ke mana?" tanyaku.
Ia memberiku senyum kecil. "Aku tidak tahu. Ia bilang bahwa ia harus pergi sebentar dan janji akan kembali lagi. Lalu kupikir, aku bisa mengobrol denganmu sambil menunggunya. Boleh?"
"Tentu saja!" Kemudian kami berdua duduk di kursi. "Apa kakakku bersikap aneh waktu dia akan pergi meninggalkanmu?"
Allison mengangguk. "Yah, dia seperti ada urusan mendadak. Tadi mamamu memintanya untuk membuka pintu dan menemani teman kencannya sementara mamamu bersiap-siap di kamar. Setelah mamamu pergi dengan teman kencannya, Scott langsung membereskan barangnya dan bilang harus pergi."
Kunyerngitkan dahiku. Ada apa dengan Scott? Mungkinkah ada sesuatu yang salah dengan teman kencan mama? Coba pikir, Val, cari yang mana yang janggal! Teman kencan mama ... pasien ... rumah sakit ... Scott. Kugelengkan kepalaku, aku benar-benar tidak mengerti apa yang salah.
"Bisa aku cerita padamu? Maksudku, yah, aku butuh pendapat dari seorang anak perempuan," ujar Allison. Aku mengangguk dan ia tersenyum. "Oke, jadi aku berpikir bahwa mama, papa, dan tanteku sedang merahasiakan sesuatu padaku. Papa pernah bilang bahwa keluarga kami bisnis alat-alat berburu—makanya tadi aku bisa punya busur dan panah. Tapi ... aku jadi merasa jangan-jangan mereka bukannya bisnis, melainkan mereka yang menggunakannya untuk berburu."
"Berburu apa?" tanyaku, sebenarnya sudah tahu jawaban yang asli, tapi entah Allison tahu soal makhluk supranatural itu atau tidak.
"Entahlah," jawab Allison sambil mengangkat bahu. "Kau ingat panah yang kulepas tadi pagi? Itu meledak, ingat? Itu adalah milik tanteku. Kalau memang hobi, kupikir tidak semestinya ia punya yang seperti itu."
"Jadi kau berpikir bahwa keluargamu sedang merahasiakan suatu hal penting dan hal itu mungkin adalah hal yang ... ?"
"Berbahaya," kata Allison menyelesaikan kalimatku. "Bagaimana menurutmu? Kenapa mereka merahasiakan ini dariku? Apa yang mungkin ia rahasiakan?"
"Soal panah tantemu ... eh, mungkin, yah, kalau ia memang hobi, ia ingin menyimpan panah yang satu itu sebagai koleksi," kataku sambil mengepalkan tanganku dan menancapkan kuku-kukuku ke kulit telapak tangan, memutar otak sebisa mungkin untuk mengarang cerita. "Lalu, soal rahasia mereka ... aku tidak tahu. Maksudku, setiap keluarga pasti punya rahasia masing-masing. Keluargaku punya rahasia, keluargamu punya juga. Dan mungkin orangtuamu berpikir kalau belum saatnya kau tahu soal rahasia keluargamu."
Allison menyerngit. "Kau berpikir begitu?"
Dengan cepat aku mengangguk. "Itu pendapatku."
Ia tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia bangkit dan bilang kalau ia mendapat pesan dari tantenya, dan wanita itu ingin bicara dengan Allison sekarang. Jadi aku mengantar gadis itu keluar rumah. Setelah menutup pintu rumah, aku berjalan kembali ke kamar sambil berharap tidak ada hal buruk apa pun yang terjadi malam ini.
Aku berusaha menenangkan diriku sendiri. Entah kenapa dengan perginya mama kencan dengan seseorang yang tidak kukenal, kemudian Scott yang mendadak pergi, ditambah Allison yang bilang tantenya ingin bicara dengannya. Sungguh kuharap ketiga hal ini tidak berhubungan sama sekali.
Cemas, aku tidak akan bisa tidur. Baca buku, tidak konsentrasi. Menonton televisi, televisi masih rusak. Akhirnya aku mengecek ponsel sebentar-sebentar, maksudnya kalau mama atau Scott menghubungiku, bisa langsung kujawab. Tapi aku tidak berharap mereka menghubungiku, takutnya mereka meneleponku karena ada satu masalah. Mirisnya aku juga khawatir kalau mereka tidak menghubungiku—takutnya mereka sedang dalam masalah.
Namun, ponselku akhirnya berbunyi. Kulihat layarnya dan terpampanglah tulisan 'Dr Deaton'. Aku memang menyimpan nomor bos Scott, ia sendiri yang bilang untuk jaga-jaga. Sambil agak heran, aku menjawab panggilan telepon itu.
"Halo?"
"Valion, ini Dr Deaton. Kakakmu kutemukan terluka di hutan," ujar Dr Deaton.
"Ap-apa?! Apa yang terjadi?!" tanyaku.
"Aku sudah membawanya ke klinik hewan, mungkin kau ingin menyusul?" katanya.
Langsung saja kubilang kalau aku akan segera ke sana. Setelah memutuskan telepon, aku tidak mau repot-repot ganti baju, jadi hanya menyambar jaket dan langsung keluar kamar. Secepat mungkin aku mengayuh pedal sepeda menuju klinik hewan tempat Scott bekerja.
Sepanjang perjalanan, dalam dinginnya hembusan angin malam, banyak pertanyaan masuk ke dalam benakku, seperti: kenapa Scott sampai terluka? Apa yang ia lakukan di hutan? Bagaimana Dr Deaton bisa menemukan kakakku? Kenapa ia tidak membawanya ke rumah sakit, dan malah membawanya ke klinik hewan?
Kecemasanku pun jadi ikut bertambah.
Sampai di klinik, aku langsung turun dari sepeda dan tak peduli bahwa kendaraan roda dua itu tidak terparkir dengan benar di tempat parkir, aku langsung masuk ke dalam.
Melewati pintu depan klinik, aku langsung bisa mendengar suara Scott. "Tapi kau dokter hewan."
Lalu ada suara Dr Deaton. "Ya, sembilan puluh persen biasanya aku memang mengobati anjing atau kucing."
"Biasanya?" tanya Scott, bersamaan dengan pertanyaan dalam hatiku sendiri.
Masuk ke dalam ruang periksa, aku melihat Scott sedang setengah duduk di atas meja pemeriksaan, sedangkan Dr Deaton ada di sampingnya. Sambil agak mengisak aku langsung menghampiri kakakku dan memeluknya erat. Ia membalas pelukanku sambil mengelus pelan pundakku.
"Oh, ya, tadi aku sempat menelepon adikmu, Scott," ujar Dr Deaton.
Kulepas pelukanku. "Apa yang terjadi?"
"Wolfsbane, aku kena tembak," jawab Scott.
"Oleh siapa? Kate? Dan kenapa kau bisa ada di hutan? Kau meninggalkan Allison untuk pergi ke hutan?" tanyaku.
"Aku akan cerita di rumah," kata Scott sambil berusaha berdiri. "Kau bawa sepeda, kan?"
Kuanggukkan kepalaku. "Ayo, kubonceng."
"Yang benar saja, Val, aku yang akan membonceng," dengus Scott.
"Kau terluka," ucapku.
"Sudah mulai sembuh, Deaton sudah mengeluarkan Wolfsbane-nya," kata kakakku.
Jadi kami berpamitan dengan Dr Deaton dan tak lupa mengucapkan terimakasih, setelah itu Scott benar-benar memboncengku naik sepeda pulang ke rumah.
Sampai di rumah, aku ikut masuk kamar Scott dan kami berdua duduk bersampingan di sisi ranjang. Scott menceritakan tentang teman kencan mama, yang ternyata adalah Peter Hale. Aku terperanjat mendengarnya, aku sungguh tidak menyangka. Scott juga bilang ia cemas kalau Peter akan menggigit mama agar kakakku ini mau tak mau ikut bergabung dengan Pack Peter, makanya Scott meninggalkan Allison dan langsung menelepon Stiles.
Dengan jipnya, Stiles menyenggol mobil Peter dari belakang dan harus rela kena semprot amarah mama, sedangkan Scott sendiri sembunyi di belakang jip. Lewat pendengaran supernya, Scott mendengar Peter bilang bahwa ia akan melakukan sesuatu pada Jackson. Jadi kakakku pergi meninggalkan Stiles yang masih dimarahi mama dan pergi ke rumah Hale.
Ada Derek dan Jackson di rumah Hale, Scott langsung menyerang Derek. Tapi sebelum perkelahian berlangsung lebih lanjut, rumah itu diserang.
"Bagaimana dengan Derek dan Jackson?" tanyaku cemas.
"Dr Deaton bilang Jackson sudah pulang ke rumahnya, sedangkan Derek ... Dr Deaton bilang ia tertangkap."
"Derek tertangkap?!" pekikku pelan.
Aku jadi agak merasa bersalah. Kutahu tertangkapnya Derek itu bukan salahku, tapi entah kenapa aku jadi agak menyesal telah mengusirnya dari kamarku. Apa ia akan tetap tertangkap jika seandainya aku tidak memintanya pergi?
Kugelengkan kepalaku dengan pelan. Aku tidak boleh terlalu mencemaskan Derek, harusnya aku lebih memerhatikan orang yang secara nyata ada di sampingku, yakni kakakku. "Oh, aku sangat bersyukur kau selamat, Scott!" kataku, mengisak lagi, padahal sudah kutahan.
Kakakku tersenyum lembut dan menepuk puncak kepalaku. Ia mencium keningku dan memelukku erat. "Jangan khawatir lagi, Val. Derek dan Jackson pasti juga baik-baik saja—terutama Derek, dia tidak lemah. Deaton bilang ia ditangkap, tapi siapa tahu ia berhasil kabur dan sedang sembunyi sekarang."
Kuanggukkan kepalaku dalam pelukan Scott. Malam ini aku beristirahat bersama kakakku di ranjangnya.
.
.
Ketika pagi hari di sekolah, aku menemukan wajah Lydia yang sedang tersenyum lebar setelah aku menutup pintu lokerku. Semoga ia tidak tersenyum dan memaksaku ikut pesta dansa malam ini.
"Hei, Val," katanya manis.
"Hei, Lyds," balasku.
"Jadi untuk malam ini—"
"Aku tidak ikut pesta," potongku.
"Oh, ayolah, Val! Aku akan mencarikan pasangan dansamu—kali ini kupastikan ia tidak akan menyerangmu—"
"—menyerang?" tanya Allison memotong perkataan Lydia, tiba-tiba ia menghampiri kami. "Ada yang menyerangmu, Val?"
"Fred, anak Lacrosse, aku tidak menyangka ia begitu mesum," dengus Lydia. "Kali ini kucarikan anak baik-baik. Dari klub sains mungkin?"
"Ini bukan soal pasangan dansa, Lydia, aku memang tidak ingin pergi saja," desahku.
"Kalau soal gaun, aku sudah berencana mengajak kau dan Allison mencari gaun habis sekolah—aku akan membayar untuk kalian berdua," kata Lydia sambil menunjukku dan Allison bergantian.
"Tidak, tidak, bukan soal gaun juga. Aku hanya tidak ingin pergi. Kumohon jangan paksa aku?" pintaku.
Allison mengelus pundakku pelan sambil tersenyum. "Tapi kau akan ikut dengan kami belanja nanti, kan?"
"Tidak. Pulang sekolah aku akan langsung ke rumah, sudah janji pada mama, urusan dapur," jawabku.
"Kau tidak sedang bohong, kan?" selidik Lydia.
Kusodorkan ponselku. "Coba telepon mamaku."
"Lyds, kau pernah beritahu aku kalau setahumu Val adalah orang yang paling tidak bisa bohong, dan sekarang kau curiga dia bohong?" tanya Allison.
Lydia memutar matanya. "Oke, kau mau titip sesuatu untuk kubelikan?"
Aku menggeleng. "Tidak usah, terima kasih."
Allison tersenyum. "Baiklah, ayo ke kelas."
.
.
Sepulang sekolah, sesuai perkataanku, aku langsung pulang ke rumah. Tentu saja aku tidak pulang sendirian, Stiles dan Scott mengantarku dengan jip, setelah itu keduanya pergi ke Mall—entah apa yang ingin mereka lakukan di sana.
Sambil masuk ke dalam rumah, aku mengecek ponselku. Tidak ada telepon atau pesan masuk—kecuali pesan dari mama yang mengingatkan aku untuk segera pulang ke rumah siang ini untuk membantunya di dapur. Sejak Scott memberitahuku kalau Derek mungkin ditangkap, aku sudah beberapa kali menelepon ponselnya, tapi tak pernah diangkat. Berusaha sebisaku untuk berpikir positif, berpikir kalau mungkin ia sedang kehilangan ponselnya seperti Scott, atau mungkin ia tidak membawa ponselnya untuk bersembunyi, atau tidak menyalakan suara ponselnya. Setiap ada kesempatan, aku mengecek ponselku, berharap Derek memberi kabar padaku yang cemas.
"Hai, Ma," sapaku sambil menghampiri mama yang sudah siap di dapur, lalu kucium pipinya.
"Halo, Val," balas mama sambil tersenyum. "Kau mau ke kamar dulu atau kita langsung mulai?"
"Aku akan ganti baju dulu," ujarku sambil tersenyum tipis.
Mama mengangguk dan aku langsung naik ke lantai dua, masuk kamarku. Kutaruh tas dan buku-bukuku di atas meja belajar dan ganti baju. Kuikat rambutku dengan model ekor kuda. Setelah itu aku turun ke dapur lagi, siap masak dengan mama.
Hari ini mama minta diajari memasak fuyunghai, makanan kesukaanku. Jadi pertama kami memotong bahan-bahannya dulu. Sekitar lima belas menit berlalu di dapur, hanya ada suara pisau yang memotong bahan saja. Mungkin karena jenuh, mama mulai mengajakku mengobrol.
"Jadi, kenapa kau tidak mau ikut pesta dansa?" tanya mama sambil mengambil wortel yang masih utuh.
Aku menyerngit. "Siapa yang beritahu mama?"
"Allison," jawab mama. "Tadi sebelum kau sampai, Allison menelepon ke rumah, menanyakan soal kau. Katanya, ia cemas kalau kau sedang tidak enak badan sampai begitu menolak ikut pesta."
"Aku tidak ikut pesta karena aku ingin bantu mama masak hari ini," jawabku sambil mengangkat bahu.
"Val, pesta mulai jam tujuh, sekarang masih jam satu dan walau mama amatir tapi mama tahu memasak fuyunghai tidak akan sampai berjam-jam," ujar mama. "Beritahu mama, Val, ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, mama kan tahu aku tidak suka pesta," jawabku tanpa menoleh padanya.
"Tapi kau masih ke pestanya Lydia waktu itu," tutur mama.
"Beda," kataku.
Aku memang tidak senang pergi ke pesta-pesta—sebisa mungkin menghindarinya, kecuali pesta yang diadakan Lydia. Tapi yang kali ini, alasan aku tidak ingin pergi bukan hanya karena aku tidak suka pesta dan keramaian itu sendiri, tapi juga karena aku masih merasa cemas tentang Derek. Memang biasa aku juga sulit bisa menikmati pesta apa pun, termasuk pesta ulangtahunku sendiri. Tapi saat aku cemas begini, aku tidak akan bisa menikmati pesta dansa malam ini sama sekali.
"Apa tidak ada anak laki-laki yang mengajakmu? Anak yang kau suka?" tanya mama.
Aku tersenyum kecut. "Dia sudah punya orang yang dia sukai, Ma."
"Oh, Sayang ... " Mama meletakkan pisaunya di atas tatakan pisau, menghampiriku, mengambil pisau yang ada di tanganku dan menaruhnya juga, kemudian ia mengelus kedua lenganku. "Siapa orangnya? Mama kenal? Teman Scott dan Stiles?"
Kugigit bibirku. Dalam hati aku tertawa pada pertanyaan mama yang terakhir, tentang kalau yang kusukai itu teman Scott dan Stiles. Karena nyatanya, yang kusukai itu adalah Stiles sendiri.
"Oh, jadi, Stiles?" tanya mama pelan dengan nada terkejut.
Aku langsung mendongak. "Apa?"
"Raut wajahmu berubah saat mama menyebut nama Stiles," kata mama. "Jadi kau suka Stiles? Apa dia tahu? Scott juga?"
Kugigit bibirku lagi sambil mengangguk. "Scott menebak tentang siapa yang kusuka dan tebakannya benar, ternyata Stiles tidak sengaja mendengarnya. Tapi kami baik-baik saja—ia tetap menjadi Stiles yang kukenal."
Mama menggiringku ke meja makan dan kami duduk di kursi, ia masih terus memegang tanganku. "Berarti ... orang yang disukai orang yang kau suka adalah ... ?"
"Lydia," kataku sambil menggangguk dan tersenyum kecut. "Kalau dia sudah suka Lydia, ia akan turun level kalau sampai suka padaku."
"Ugh, jangan bilang begitu!" kata mama. "Kau cantik, pintar, baik. Kalau dia bisa suka pada Lydia, dia juga akan bisa suka padamu."
Aku menggeleng. "Dia tidak akan suka pada orang yang sudah dia anggap adiknya, Ma. Dan lagi, aku sedang belajar untuk berhenti menaruh harap pada Stiles."
"Hei, hei, tidak boleh begitu. Sekarang kau telepon anak itu, ajak dia jadi pasanganmu untuk ke pesta dansa," titah mama.
"Ma ..." erangku.
"Val ..." desis mama.
Aku mengalah dan kuambil ponselku yang kutaruh di atas meja makan ini sebelum tadi mulai memotong bahan dengan mama. Kucari nama Stiles dari daftar kontak ponselku, begitu dapat, langsung kutelepon. Di dering ketiga, Stiles menjawab.
"Hai, Stiles—"
"Val! Dengar, Lydia bilang 'ya'!" kata Stiles memotong perkataanku.
"Apa?" tanyaku tak mengerti.
"Jadi tadi Allison menyemangatiku untuk mengajak Lydia pergi dansa sama-sama, lalu aku nekad mengajaknya, dan Lydia setuju pergi denganku! Astaga, aku sudah sangat capek tersenyum lebar terus dari tadi, tapi setiap ingat tentang Lydia yang bilang 'ya', aku jadi tersenyum terus!" jelas Stiles.
"O-oh, eh, selamat, Stiles," gumamku sambil merasakan panas di bola mataku.
"Omong-omong, ada apa kau sampai meneleponku?" tanya Stiles.
"T-tidak ada apa-apa, tidak penting. Selamat sekali lagi, Stiles," kataku, lalu langsung memutus telepon.
Kurasakan tangan mama memegang tanganku lembut. Aku mendongak dan melihat wajahnya, mata mama seakan menanyakan tentang apa yang dikatakan Stiles di telepon tadi.
Aku menarik nafas dalam-dalam. "Stiles akan pergi ke pesta dansa dengan Lydia," kataku sambil berusaha tersenyum. Tapi tidak bisa, karena bulir-bulir air mata telah mengkhianati niatku yang ingin tersenyum.
"Oh, Sayang ... " gumam mama.
Mama memelukku, ia mengelus kepalaku. Aku menangis pelan di pelukan mama.
Heran, aku tahu aku cengeng, tapi aku tidak menyangka aku akan menangis untuk hal seperti ini. Stiles adalah temanku, bukankah harusnya aku turut senang saat ia bisa pergi dansa dengan gadis pujaannya? Aku suka Stiles, bukankah harusnya aku turut bahagia saat ia sedang bahagia? Tapi rasanya hatiku begitu sakit, dan air mataku tidak mau berhenti mengalir keluar.
"Val, putriku sayang, ssh ... ssh..." Mama masih mengelus kepalaku.
"Aku tidak mengerti, Ma, kenapa aku sampai menangis begini?" isakku.
"Kau begitu menyukainya, Sayang, tidak apa-apa, ini wajar," ujar mama lembut. "Begini, mama beritahu kau sesuatu. Kau akan suka pada seseorang lebih dari sekali dalam hidupmu, kau akan bisa suka orang lain setelah ini—semua orang begitu. Kau akan jatuh cinta pada orang lain lagi, mungkin akan semenyenangkan yang sebelumnya, atau semenyakitkan yang sebelumnya, tapi kau akan suka seseorang lagi."
"Aku tidak tahu, Ma, aku sudah suka Stiles sejak dulu, sebelum ia kenal Lydia. Aku tidak tahu apa aku bisa suka orang lain selain dia," kataku, masih terus menangis.
"Tidak akan ada yang tahu, Val, mama pun juga tidak tahu. Tapi kau harus percaya kalau kau bisa melewati rasa sedih ini," kata mama. Ia melepas pelukannya, lalu memegang wajahku dengan kedua tangannya. "Kau masih sangat muda, Sayang, kau masih punya amat banyak kesempatan untuk jatuh cinta lagi, berkali-kali. Mama yakin—dan kau harus percaya—kau akan bisa jatuh cinta pada seorang laki-laki yang lebih baik dari Stiles, laki-laki yang juga mencintaimu lebih dari apa pun, mencintaimu apa adanya."
Derek. Nama itu terlintas begitu saja saat mama berusaha menenangkanku, meyakinkanku untuk bisa jatuh cinta pada orang lain selain Stiles.
Kugelengkan kepalaku, berusaha untuk tersenyum. "Mama."
"Hm?"
"Kapan kita akan mulai masak fuyunghai-nya?" tanyaku, berusaha menyengir.
"Astaga!" pekik mama. "Oke, kau cuci muka sekarang, dan kita lanjutkan masaknya."
Aku tertawa kecil dan mengangguk. Mama tersenyum dan memelukku sebentar sekali lagi sebelum aku ke kamar mandi untuk cuci muka.
.
.
Menyiapkan semua makanan untuk disajikan di meja makan butuh waktu sampai sejam lebih. Duduk dan makan di meja hanya butuh sekitar dua puluh menit sambil mengobrol. Membersihkan dapur mungkin sampai tiga puluh menit lebih. Huh, kelamaan beres-beresnya dari pada menikmati makanannya!
Usai beres-beres di dapur dengan mama, aku kembali ke kamar. Pas aku masuk ke dalam kamar, ponsel di tanganku bergetar. Kulihat dari layar, ada tulisan bahwa Derek mengirimiku pesan. Akhirnya ia menghubungiku! Segera kubuka pesan itu.
'Dari Derek
Datanglah ke rumahku sendiri, penting, jangan beritahu siapa-siapa.'
Aku mengerutkan kening. Ke rumahnya? Rumahnya yang terbakar itu, yang Scott bilang terakhir kali rumah itu diserang dengan peluru Wolfsbane? Jadi selama ini Derek tetap ada di rumahnya?
Kuputuskan untuk segera mengambil jaketku dan keluar kamar lagi. Aku mengetuk pintu kamar mama, berbohong dan bilang bahwa aku akan ke rumah Allison untuk membantu gadis itu siap-siap ke pesta. Sebelum mama membuka pintu dan memberiku ijin, aku sudah langsung pergi keluar rumah. Secepat mungkin aku mengayuh sepeda Scott sampai masuk ke hutan, sampai ke depan rumah Hale.
Aku turun dari sepeda dan melihat sekitarku. Mobil Derek masih terparkir di depan rumahnya, tapi ada juga satu mobil yang lain yang entah milik siapa. Tiba-tiba aku jadi merasa curiga dan mulai berpikir bahwa aku kena jebakan lewat pesan ponsel lagi.
"Jadi kau yang bernama Val?" tanya sebuah suara wanita dari belakangku.
Dengan cepat aku menoleh ke belakang, melihat ada seorang wanita dengan rambut agak coklat terang—kupikir itu hasil cat—dan bergelombang. Ia menyengir lebar, dan sesungguhnya cengirannya itu membuat bulu kudukku berdiri. Seingatku dia bernama Kate, tante Allison.
Tiba-tiba kurasakan kedua tanganku dicengkeram. Aku menoleh ke kiri dan kananku, tanganku dipegang oleh dua pria yang memasang cengiran di wajah masing-masing. Kate mengangguk kepada kedua pria ini, dan aku diseret mereka ke suatu pintu. Bukan pintu rumah Hale, tapi menuju ke bawah rumah Hale.
Di bawah sana masih ada satu pintu besar lagi. Kate tersenyum bengis padaku sambil membuka pintu itu. Mataku terbelalak waktu melihat apa yang ada di dalam ruangan itu. Aku melihat Derek yang bertelanjang dada dan tangannya di rantai, pinggangnya ditempeli kabel. Aku memekik pelan dan Derek juga terkejut melihatku.
"Keparat, kau, Kate!" bentak Derek sambil menggerakkan tangannya.
"Apa yang kalian lakukan padanya?" tanyaku pada Kate.
"Jangan khawatir, Sayang, kami hanya perlu informasi darinya. Mungkin dengan adanya kau di sini akan membuatnya bicara," jawab Kate sambil menyengir.
Kedua pria yang menyeretku langsung melemparku ke sebuah kursi, mereka langsung mengikat tangan dan tubuhku. Walau aku meronta, tapi kedua pria ini jauh lebih kuat dariku.
"Kate, lepaskan dia, dia tidak ada hubungannya!" bentak Derek.
"Oh? Lalu kenapa dia menelepon dan mengirim pesan ke ponselmu sejak kemarin, Derek? Hanya dia satu-satunya nomor dengan foto perempuan yang menghubungi ponselmu sejak kau di sini," goda Kate.
Setelah itu Kate dengan kedua pria itu keluar dari ruangan dan menutup pintunya. Aku langsung menoleh pada Derek. "Jadi kau tertangkap olehnya?"
"Val, Val, kenapa kau bisa ke mari?" tanya Derek cemas. Kalau ia tak terantai seperti itu, ia pasti sudah memelukku sekarang.
"Aku cemas kau tidak menjawab panggilanku. Jadi waktu aku mendapat pesan atas namamu yang memintaku datang, aku langsung ke mari," jawabku jujur.
"Pasti Kate yang mengirim pesan itu," dengus Derek.
"Apa yang dia inginkan darimu?" tanyaku.
"Ia ingin tahu soal siapa Alpha, serta seorang Beta yang lain—kau tahu siapa yang kumaksud," jawab Derek.
"Dan kau tidak memberitahunya?"
"Tentu saja tidak. Tapi ... dia sudah berhasil menebak Beta yang satu lagi itu, tentang Scott. dia belum tahu tentang Alpha."
Pintu terbuka lagi dan Kate masuk lagi dengan pria yang lain. Pria itu menutup pintu dan berdiri tegap sambil melipat kedua tangannya di dada. Sedangkan Kate sambil tersenyum licik menghampiriku. Ia berjalan mengelilingiku yang terikat di kursi, sambil terus memerhatikanku.
Kemudian ia berhenti dan menunduk agar wajahnya ada di depanku. "Kau dapat pacar yang cantik, Derek. Kalian sudah sejauh mana, Non?"
Kutatap ia bingung. "Sejauh mana? Apanya?"
Ia terlihat kaget sedikit lalu tertawa, ia menoleh pada Derek. "Dia masih polos!" Lalu Kate menoleh padaku lagi. "Val, kutebak kau belum pernah dapat sentuhan laki-laki. Bagaimana kalau aku mengajarimu? Pria ini, namanya Jeff, dan ia ... yah, dia mengaku suka daun yang masih sangat muda. Dan kalau tidak mengerti, maksudnya adalah ia suka gadis-gadis muda sepertimu. Jeff bisa mengajarimu tentang sensasi disentuh laki-laki." Kemudian menoleh pada Derek lagi. "Kau setuju dia diajari Jeff, kan Derek?"
Aku ikut menoleh pada Derek. Wajahnya sudah berubah menjadi wajah manusia serigala, dia langsung menggeram dan berusaha menyerang Kate tapi tangannya dirantai. Derek marah.
Kate terkikik seperti nenek sihir yang ada di kartun animasi Disney, lalu ia mengangguk pada pria yang datang bersamanya, Jeff. Pria itu menghampiriku dengan seringai aneh, ia menjilat bagian bawah bibirnya. Kutatap ia dengan ngeri. Kudengar Derek semakin meronta-ronta.
Tangan Jeff terulur dan membelai pipiku, setelah itu menepuk pipiku. Ia berjalan ke belakangku. Aku tidak bisa menoleh ke belakang karena tubuhku diikat di kursi kayu, jadi aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Tapi kutahu ia akan melakukan hal menjijikan, aku sudah berfirasat begitu buruk.
Benar juga, ia mengagetkanku dengan tiba-tiba meremas kasar kedua buah dadaku yang masih terbalut baju dengan tangannya dari belakangku. Aku memekik kesakitan. Jeff tertawa kesenangan. Kudengar Derek menggeram lebih lagi, serta suara kerincing rantai begitu berisik karena Derek terus berusaha melepaskan tangannya.
"T-tolong, tolong hentika—Ahn!" pintaku sambil menangis.
Seakan tuli, Jeff tetap meremas keras buah dadaku. Tiba-tiba kurasakan jarinya memilin putingku—yang padahal masih tertutup baju dan bra—dengan kasar. Aku mengerang dan meringis kesakitan.
Kate tertawa. "Lihat, Derek? Tidak lama lagi mungkin ia akan mendesah kenikmatan. Tapi, tidakkah sebenarnya ia terlalu muda untukmu, Derek? Berapa umurnya? Enam belas?"
Aku terlalu sibuk meringis karena sentuhan Jeff, jadi Derek yang menjawab pelan. "Lima belas."
Tawa Kate hilang. Ia tidak tersenyum lagi. Dengan wajah menegang ia memelototi Jeff yang ada di belakangku, dan pria itu langsung melepas tangannya dariku. Kate menghampiriku lagi dan membungkuk agar bisa berhadapan denganku.
"Val, Cavalion?" tanya Kate.
"Cavalion McCall, namaku," cicitku.
"Huh," dengus Kate. "Val, kau mirip dengan mamamu."
Aku tercengang. "A—apa? Kau kenal mama?"
Ia menyengir. "Aku sangat mengenal mamamu, Val sayang. Jeff, lepas ikatannya, tapi jangan sampai ia lari."
Kate berjalan keluar ruangan, sedangkan Jeff melepas tali di tubuhku tapi tetap menahanku di kursi. Setelah tali lepas, ia buru-buru keluar dan menutup serta mengunci pintu dari luar.
Ada apa dengan Kate tadi? Ia kenal mama? Bagaimana mungkin mama mengenal seorang psikopat?
Karena aku sudah tidak diikat, aku langsung menghampiri Derek. Wajahnya begitu cemas.
"Val, kau baik-baik saja?" tanyanya.
Kuanggukkan kepalaku. "Apa ada kunci atau apa untuk membuka rantai tanganmu? Dan apa yang ia tempelkan di pinggangmu?"
"Sepertinya kuncinya tidak ada, aku tidak melihatnya sama sekali sejak di sini. Dan jangan sentuh yang di pinggangku ini, Val, kau bisa kena setrum," jawab Derek lirih.
"Ia menyetrummu?! Astaga, pasti ada yang bisa kuperbuat, apa pun!" erangku pelan sambil mengisak.
"Val, Val, jangan menangis, tidak apa-apa," ujarnya.
Aku menoleh ke sebelah kiri dan ke kanan, dengan inosennya aku berpikir pasti bisa mendapat sesuatu untuk menolong Derek. "Pasti ada yang bisa kulakukan ... "
Tiba-tiba aku teringat bahwa aku adalah Mate Derek. Aku ingat tentang ciuman dariku yang bisa membuat lukanya sembuh lebih cepat. Derek pasti kesakitan karena kena setrum, belum lagi tangannya pasti sakit karena tadi ia meronta-ronta. Jadi aku berjinjit, memegang bahu Derek, mencium bibirnya dengan cepat.
Setelah itu kulihat Derek mematung, ia menatapku heran. "Val?"
"Eh, aku ingat kalau kontak fisik dariku akan membuatmu lebih baik. Jadi, eh, kau sudah kena setrum, dan lagi tanganmu pasti sakit karena dirantai. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk melepas rantai itu, jadi kupikir setidaknya aku bisa mengurangi rasa sakitnya," tuturku.
Derek tersenyum kecil. "Kalau begitu ... boleh lagi?"
Kulumatkan bibirku pada Derek lagi. Kali ini tidak secepat tadi. Sekarang Derek membalas ciumanku. Saat aku berniat mundur, sepertinya ia malah memajukan wajahnya, kurasa ia belum mau melepaskan bibirku. Aku berusaha mengikuti irama gerakan bibir pemuda ini, sekalipun begitu sulit untukku.
Dari bibirku, Derek mulai mencium daguku, lalu turun ke leherku. Aku membiarkan ia menciumi leherku. Aku mendesah kecil sambil memanggil namanya saat kurasakan Derek menggigit pelan leherku kecil-kecil.
Tiba-tiba aku mendengar suara rantai keras, dan kurasakan satu tangan kekar melingkar di pinggangku. Derek agak terengah-engah sambil menempelkan dahinya di dahiku. Kulihat ternyata suara rantai tadi adalah suara rantai yang berhasil dilepas paksa oleh Derek, makanya satu tangan yang telah bebas itu bisa memeluk pinggangku. Tapi yang satu lagi masih tergantung di atas.
"Tanganmu yang satu lagi?" tanyaku.
Ia menggeleng. "Tidak apa." Derek tersenyum padaku. "Kau membuatku bisa melepaskan satu tanganku, Val, terimakasih."
"Tapi tanganmu pasti sakit," ujarku lirih.
"Akan segera sembuh," jawabnya, lalu ia agak terkekeh. "Kadang, aku lupa kalau kau adalah Mate-ku, aku lupa saking cintanya aku padamu."
Aku tercengang, nafasku tercekat, wajahku memanas.
"Aku mencintaimu, Val," katanya.
"Aku—"
"Kau masih suka Stiles, aku tahu," ujar Derek, memotong perkataanku. "Tidak apa-apa, aku paham."
Aku jadi teringat perkataan mama tadi di dapur.
" ... Mama yakin—dan kau harus percaya—kau akan bisa jatuh cinta pada seorang laki-laki yang lebih baik dari Stiles, laki-laki yang juga mencintaimu lebih dari apa pun, mencintaimu apa adanya."
Derek mencintaiku, ia tetap mencintaiku walau tahu aku suka Stiles. Berarti ... bisa dibilang laki-laki yang masuk kategori yang mama bilang sebagai yang lebih baik dari Stiles itu ... adalah Derek Hale, kan?
"Val, kau menangis lagi?" tanya Derek lembut sambil memerhatikan wajahku.
Langsung aku mengusap wajahku sendiri. "Aku baik-baik saja."
"Ada yang sakit, Val? Tanganmu yang bekas ikat? Kakimu, mungkin? Atau ... –" Derek diam sejenak sebelum melanjutkan, "—atau buah dadamu? Jeff meremasnya dengan kasar, kan?"
"O-oh, tidak ada yang sakit," jawabku gugup. Bohong besar.
"Val ... " gumam Derek.
Ini memalukan. "B-buah dadaku masih terasa sakit," gumamku, berusaha menutupi rona merah wajahku.
Tiba-tiba Derek mencium bibirku lagi. Ciumannya begitu lembut dan memabukkan. Tangannya yang tadi melingkar di pinggangku, perlahan mulai berpindah posisi, sekarang tangan itu mulai menjamah buah dadaku. Agak kaget, aku menarik kepalaku, melepaskan ciumannya. "Val, biar kau tidak sakit lagi, ya?"
"T-tapi—"
"Percaya padaku, oke?" tanya Derek lembut.
Akhirnya aku mengangguk. Derek meremas pelan buah dadaku. Sensasinya sungguh berbeda dengan sentuhan Jeff. Jeff mementingkan nafsunya. Sedangkan Derek menyentuhku dengan lembut dan hati-hati, seakan aku adalah barang rapuh yang bisa pecah berkeping-keping kalau tidak pelan-pelan.
Derek membenamkan kepalanya di leherku, mulai menciumi leher itu. Aku menutup mataku, meremas rambut kepalanya, begitu menikmati sentuhan tangan dan bibirnya. Lagi-lagi aku mendesah, dan aku bisa merasakan senyum Derek yang mengembang di leherku tiap kali aku mendesahkan namanya.
Tiba-tiba aku mendengar suara serigala yang cukup panjang. Derek menghentikan aktivitasnya, mendongakkan kepalanya ke arah ventilasi. Lalu ia mengeluarkan suara serigalanya juga, seakan membalas suara serigala yang terdengar dari luar itu.
"Apa itu tadi?" tanyaku pelan setelahnya.
"Kakakmu, Val, ia akan datang menyelamatkan kita, mengeluarkanmu dari sini," kata Derek sambil menyengir. "Kukatakan padanya tadi kalau kau juga ada di sini."
Kakakku. Scott. Astaga, kenapa aku tidak ingat kalau aku bawa ponsel?! Aku bisa pakai ponsel untuk menghubunginya sewaktu tali di tubuhku sudah lepas! Uh, kenapa dari tadi tidak kepikiran?! Tunggu dulu, tapi ponsel Scott juga ada di sini, berarti percuma kalau aku ingin menghubunginya. Yah, tapi harusnya aku bisa menelepon Stiles. Payah.
Sambil menunggu kedatangan Scott, Derek masih terus melingkarkan satu tangannya yang sudah tak terantai itu di pinggangku dan menempelkan dahinya pada dahiku. Matanya menatapku dengan lembut dan ia tersenyum kecil. Tubuhnya memang penuh peluh, tapi aku tidak merasa segan untuk memegang bahunya.
Kami terus ada di posisi itu sampai tiba-tiba Derek melepas dahinya dariku, melirik ke arah pintu yang tertutup. Ia bilang bahwa ada yang sedang ke mari. Kutanyakan kalau itu adalah kakakku, dia bilang ya, tapi juga ada seorang yang lain. Derek bilang, seorang yang lain ini adalah seorang pemburu.
Benar juga, pintu terbuka dan seorang pria yang tak kukenal masuk sambil membawa tongkat bisbol. Kusadari tangan Derek sudah tidak ada di pinggangku, ia memegang rantai di atasnya, seolah tangannya masih terantai.
"Siap untuk bersenang-senang lagi?" tanya pria itu.
Kutatap ia dengan ngeri dan semakin mendekatkan tubuhku ke Derek.
"Sejujurnya, tanganku sudah agak sakit, jadi aku bawa bantuan," kata pria itu sambil mengangkat tongkat bisbol yang dibawanya. "Tapi kuberitahu kau, aku jago memainkannya saat sekolah."
Pria itu mulai mengayunkan tongkat bisbolnya untuk memukul Derek. Dengan bodohnya aku agak maju ke depan Derek dan merentangkan tangan di depannya dan memejamkan mata rapat-rapat, seakan ingin melindungi pemuda di belakangku itu. Tapi aku tidak merasakan rasa sakit sama sekali, tidak merasa tongkat bisbol itu mendarat padaku. Kucoba buka mataku, dan melihat tangan Derek berhasil menangkap tongkat bisbolnya.
"Aku juga bawa bantuan," ujar Derek.
Mataku melayang ke arah pintu yang sudah terbuka, melihat Scott ada di sana. Dengan tangan Derek yang sudah bebas, ia menghajar si pemburu sampai terbang menabrak dinding dan pingsan.
Aku langsung beranjak dari depan Derek berlari kecil menghampiri kakakku. Scott juga langsung masuk ruangan, memeluk tubuhku erat.
"Val! Astaga aku mencemaskanmu!" seru Scott.
"Maafkan aku, Scott, aku tidak bermaksud membuatmu cemas," kataku.
Scott mengangguk dan mencium keningku. Ia melepas pelukannya, lalu menggenggam erat tanganku, seakan takut aku akan menghilang dari sisinya.
"Scott, bantu aku lepaskan ini," pinta Derek sambil agak menggerakkan satu tangannya yang masih dirantai.
"Tidak," jawab Scott.
Kutatap kakakku dari samping dengan agak bingung. Kenapa ia tidak mau membantu Derek? Bukankah ia datang ke sini karena ingin menolong Derek?
"Apa?" tanya Derek.
"Tidak sampai kau memberitahuku bagaimana cara menghentikan Peter," jawab Scott.
Derek mendengus. "Kau benar-benar ingin membicarakan soal ini sekarang?"
"Dia mengincar Allison dan keluarganya," kata Scott. "Dia akan membunuh mereka semua."
Allison? Jadi itu motivasi Scott mencari Derek? Jadi jika bukan tentang Allison, Scott tidak akan menanyakan keberadaan Derek, tidak akan datang, dan mungkin tidak akan tahu kalau aku juga terkurung di sini? Kugelengkan kepalaku cepat-cepat. Tidak, tidak, tidak, aku tidak boleh egois, tidak boleh iri, tidak boleh cemburu. Scott berhak mendapatkan kehidupan asmaranya tanpa diganggu rasa cemburu adiknya.
"Jadi memang kenapa?!" bentak Derek frustasi.
"Jadi beritahu aku bagaimana menghentikannya," pinta Scott, mengulangi perkataannya.
"Kau tidak akan bisa! Paham?!" bentak Derek lagi. "Sekarang, aku tidak tahu kapan Kate akan kembali ke sini, jadi segera keluarkan aku dari sini! Keluarkan aku dari sini sekarang!"
Scott masih tidak mengubah ekspresinya. "Berjanjilah kau akan menolongku."
Derek mendengus lagi. "Kau ingin aku untuk mengorbankan nyawaku untuk pacarmu, hah? Untuk rasa cinta monyetmu yang bodoh dan tidak penting sama sekali itu?! Kau tidak sedang jatuh cinta, Scott, kau masih enam belas tahun, kau hanya seorang anak kecil!"
Kurasakan tangan Scott menggenggam tanganku makin erat sebelum ia membalas perkataan Derek. "Mungkin kau benar," katanya perlahan. "Tapi aku mengetahui suatu hal yang tidak kau ketahui. Peter bilang dia tidak sadar kalau ia membunuh kakakmu, kan? Nah, dia bohong."
Masih tetap menggandeng tanganku, ia mengambil secarik kertas dari saku dengan tangannya yang lain, membuka lipatan kertas itu dan menunjukkannya pada Derek. Aku agak menoleh untuk melihat apa yang ada di kertas itu, ternyata itu adalah gambar rusa betina yang terbunuh, seperti gambar yang seseorang letakkan di kaca depan mobil Derek waktu kami mengunjungi Peter di rumah sakit.
"Ingat ini?" tanya Scott. "Inilah yang membuat kakakmu kembali ke Beacon Hills, kan?"
"Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Derek, suaranya terdengar lebih tenang dari tadi.
"Bosku memberitahu kalau tiga bulan lalu seseorang datang kepadanya untuk meminta kopian gambar ini. Kau mau tahu siapa orangnya? Susternya Peter. Mereka membawa kakakmu kemari supaya Peter bisa membunuhnya dan menjadi Alpha. Inilah sebabnya kau akan membantuku," jelas Scott.
Hening. Scott tidak berkata apa-apa lagi. Derek tidak berusaha membela pamannya. Akhirnya Scott menghela lalu menarikku untuk beranjak pergi. "Cukup bilang kalau kau akan menolongku dan aku akan membantumu melepaskan—"
Scott menghentikan perkataannya ketika kami mendengar suara rantai yang keras. Kami menoleh pada Derek. Kami menemukan ia sudah melepaskan rantainya sendiri dan sedang memegang lengannya yang baru bebas.
"Aku akan membantumu," kata Derek.
Beta yang lebih tua dari kakakku itu segera mengenakan kaos dan jaketnya, lalu kami berlari keluar dari ruangan. Sampai di hutan lagi, Scott setengah berlari sambil menggandeng tanganku.
"Tunggu dulu," kata Derek sambil berhenti melangkah. "Tunggu, tunggu. Rasanya ada yang tidak beres."
"Apa maksudnya?" tanyaku pelan, menoleh Scott dan Derek bergantian.
"Aku tidak tahu," aku Derek. "Rasanya ... ini rasanya—"
"—tidak," potong Scott. "Jangan bilang 'terlalu mudah'! Orang berkata 'terlalu mudah' dan tiba-tiba hal buruk akan terjadi."
Lalu kami mulai berjalan cepat lagi menyusuri hutan. Sesungguhnya aku jadi merasa bersalah di sini, karena aku menghambat Scott dan Derek. Harusnya mereka bisa berlari dengan cepat, tapi mereka harus bergerak lamban hanya karena aku paling tidak bisa berlari cepat.
Tiba-tiba kulihat sebuah panah terbang dengan cepat dan menancap bahu kiri Derek. Aku memekikkan namanya, melepaskan tanganku dari genggaman tangan kakakku, lalu menghampiri Derek cepat-cepat. Kemudian aku menoleh untuk melihat siapa yang melepaskan panah itu.
Allison. Aku melihat gadis itu sedang memegang memegang busurnya dan sedang membidik. Kate ada di sampingnya, terlihat wanita itu sedang memberi arahan pada keponakannya. Sekarang satu anak panah mendarat ke kaki Derek. Aku memekik lagi.
"Allison! Allison, apa yang kau lakukan?!" seruku sambil menangis.
Derek menarik panah yang ada di bahu dan kakinya. Kemudian kulihat Allison membidik dan bersiap memanah Scott dengan panah yang lain. Derek menoleh pada Scott dan berseru, "Scott, matamu!"
Pemuda yang baru saja kena tembak panah itu langsung bangun dan menarik lenganku. Panah Allison sudah meluncur dan malah mengenai pohon di belakang Scott, meledak di sana.
"Ayo, Scott!" seru Derek.
Derek menarik tubuh Scott. Aku membantu untuk menarik Scott sebisaku. Kami menuju ke depan rumah kediaman Hale. Untungnya tidak ada pemburu di sana.
Keponakan sang Alpha mendorong Scott dan menyuruhnya masuk dan sembunyi, ia juga memintaku ikut kakakku. Tapi ketika aku akan beranjak pergi dengan Scott, Derek menarik lenganku. Kulihat ternyata Allison datang, bersiap memanah Scott. Aku terjatuh dan terduduk di tanah, di sebelah Derek.
"Allison, aku bisa menjelaskan," ujar Scott.
"Berhenti berbohong. Untuk sekali saja, berhenti berbohong," kata Allison.
Nada suara Allison agak bergetar. Kuyakin ia ingin—atau malah sedang menahan tangisnya. Ia menganggap semua yang terjadi antara ia dan kakakku hanyalah pura-pura.
"Allison!" panggilku. "Kalau kau tidak percaya Scott, kau bisa percaya padaku! Aku tahu dia sangat sayang padamu!"
Gadis itu menoleh padaku. Ia tidak mengatakan apa-apa, tapi aku bisa melihat ekspresi sedihnya. Dan ia benar-benar berusaha untuk tidak menangis.
Tiba-tiba Kate datang, dengan santainya ia menembak kaki Derek lagi sambil berjalan menuju keponakannya. Derek meringis sambil memegangi kakinya. Aku ikut melihat kondisi kakinya yang terluka sambil terisak.
Derek memegang pipiku dengan lembut. "Val, Val, aku tidak apa-apa, jangan menangis, oke?" Ia mengusap pipiku sambil tersenyum lembut.
"Kau berdarah, ini tidak berarti kau 'tidak apa-apa', Derek," isakku.
"Aku akan segera sembuh, Val, ini peluru biasa, bukan Wolfsbane, aku tidak akan sekarat," ujarnya pelan. Ia menyelipkan rambutku ke belakang telinga, mengusap pipiku lagi, lalu ia memandang lekat mataku. "Kau sangat manis, Val, bahkan saat kau menangis pun kau tetap manis."
Aku tercengang mendengar perkataan Derek. Tuh, ia menyebutku manis lagi. "Hanya kau yang bilang aku manis," gumamku.
"Mereka tidak pernah memujimu seperti itu?" tanya Derek bingung.
"Mereka sering memujiku," jawabku. "Tapi mereka hanya bilang aku cantik. Mereka tidak pernah bilang aku manis. Hanya kau yang menyebutku manis. Dan ... rasanya berbeda saja."
"Kau ingin aku memujimu dengan kata cantik?" tanya Derek sambil tersenyum kecil.
Aku menggeleng. "Aku suka kau memujiku manis," gumamku pelan.
Derek mencium keningku dan aku meletakkan kepalaku di atas dada bidang Derek. Dengan posisi itu, aku baru sadar Mr Argent ada di dekat kakakku. Sejak kapan ia datang? Ia sedang menodong pistol pada adiknya sendiri, alias Kate, menyuruh wanita itu untuk menaruh pistolnya sebelum ia menembak. Bahkan Mr Argent sampai menembak ke arah hutan untuk memperlihatkan betapa ia serius meminta adiknya menyingkirkan pistol di tangannya.
Tiba-tiba aku melihat pintu rumah Hale yang tadi tertutup rapat sekarang mulai terbuka perlahan. Masakah ada seseorang yang daritadi menunggu dari dalam rumah? Atau itu hanya angin saja? Kurasakan tangan Derek melingkar di pinggangku dan menggenggam tanganku makin erat. Aku tahu pasti ada seseuatu yang buruk yang akan terjadi, makanya Derek sampai seperti itu.
Pintu terbuka makin lebar, sebuah banyangan yang agak besar bergerak dengan cepat dan membuat Mr Argent, Allison, dan Scott jatuh secara berurutan. Bayangan itu begitu cepat, aku tidak tahu apa itu, tapi kutebak itu adalah Peter.
Kini Kate berdiri seorang diri di depan rumah Hale. Wanita itu menodong pistol tanpa tahu dari mana makhluk itu akan datang menyerangnya. Tiba-tiba Peter Hale, dalam wujud manusia, menangkap tangan Kate. Diambil dan dilemparnya pistol dari tangan Kate, kemudian ia menarik wanita itu ke dalam rumah.
Allison bangun dari tanah dan berlari masuk, mengejar Peter yang membawa tantenya. Kulihat Scott juga perlahan bangun, mungkin tubuhnya sakit karena terjatuh. Aku ingin melepaskan diri dari Derek untuk menghampiri kakakku, tapi Derek menahanku.
Derek melepaskan tangannya dariku dan beranjak bangun, kuyakin ingin masuk ke rumahnya juga. "Tunggu di sini, Val, jangan masuk."
"T-tapi Allison juga ada di dalam! Peter bisa membunuh Allison juga!" kataku.
"Val ... "
"Ini bukan soal dia pacar Scott! Allison ... pikirannya dipengaruhi oleh Kate, makanya ia bisa seperti tadi. Allison gadis baik-baik dan tidak boleh sampai dibunuh Peter!" kataku lagi.
"Scott tidak akan membiarkan Allison mati, dan aku akan membantu Scott," ujar Derek akhirnya.
Aku mengangguk. Derek mencium pipiku sebentar sebelum pergi dari hadapanku, masuk ke dalam rumah dengan Scott. Begitu kedua pemuda itu masuk ke dalam rumah, aku menghampiri Mr Argent yang masih tidak sadarkan diri. Sepertinya Peter membuat Mr Argent terjatuh dan kepalanya terbentur, sehingga pria ini pingsan.
Tidak lama kemudian Allison berlari keluar, ia menghampiriku dan papanya. Gadis itu langsung memelukku yang sedang bertelut di samping papanya. Allison menangis dan meminta maaf padaku berkali-kali. Aku hanya mengangguk dan mengelus lembut punggungnya. Setelah ia melepaskan pelukannya, ia memegang lengan Mr Argent, berusaha membangunkan papanya.
Mr Argent masih belum kunjung sadar, Scott terlempar keluar dari rumah dalam wujud manusia serigala. Kemudian sebuah sosok mengerikan ikut keluar dari rumah dengan berjalan kaki. Itu adalah Peter versi monster. Tunggu dulu, kalau Scott dan Peter sudah keluar, mana Derek?
Aku beranjak untuk bangun, berniat masuk ke dalam rumah, tapi Allison menarik lenganku. Ia melarangku untuk pergi, bilang saat ini terlalu berbahaya untuk pergi seorang diri.
Kemudian kudengar suara mobil yang mengarah ke tempat ini. Aku menoleh ke asal suara mobil, dan melihat sebuah mobil melintasi hutan. Dari jauh, kuharap itu adalah mobil jip Stiles, tapi ternyata aku salah. Mobil yang datang itu terlalu keren untuk bisa disebut mobil jip. Berarti kemungkinan itu adalah mobil Jackson.
Mobil berhenti, dan turunlah Jackson dan Stiles. Stiles buru-buru melempar tabung reaksi dengan cairan entah apa ke arah Peter. Tetapi Peter berhasil menangkap tabung reaksi itu dengan mudahnya.
Oh, berarti harusnya cairan dalam tabung itu meledak kalau tabungnya pecah, kan? Tapi karena Peter berhasil menangkap tabungnya, cairan itu jadi tidak bereaksi. Berarti tinggal perlu memecahkan tabung yang terbuat dari kaca itu saja.
Dengan nekad, aku mengambil busur dan panah Allison, membidik ke arah tabung reaksi. Kulepaskan panah itu dan si anak panah berhasil memecahkan tabung reaksi.
Tangan Peter yang tadi memegang tabung reaksi langsung terbakar sesudahnya. Kemudian Jackson melempar satu tabung reaksi lagi. Kuduga itu berisi cairan yang sama, soalnya saat tabung itu pecah di Peter, api semakin besar dan membakar seluruh tubuh Peter. Tidak lama kemudian Peter terjatuh dan apinya perlahan padam. Apa dia sudah mati? Aku tidak tahu.
Allison langsung menghampiri kakakku, sedangkan aku masih bersama Mr Argent. Ketika pria ini akhirnya tersadar, aku membantunya untuk duduk. Ia mengucapkan terimakasih, tapi kemudian ia melihat ke arah rumah Hale. Aku ikut melihat objek pandangan Mr Argent.
Kulihat Derek berjalan menghampiri pamannya yang tak bisa bangun. Scott, yang sudah kembali menjadi manusia, buru-buru meninggalkan pacarnya, menghampiri Derek.
"Derek, kalau kau membunuhnya, bagaimana denganku?" tanya Scott cemas, tapi Derek tidak menoleh padanya sama sekali. "Papanya, keluarganya, apa yang harus kulakukan?"
Scott begitu mencintai Allison, makanya ia percaya pada rumor yang pernah Derek beritahu: tentang seorang Beta yang menjadi manusia serigala bisa kembali menjadi manusia biasa kalau si Beta membunuh Alpha yang menggigitnya. Scott ingin menjadi manusia biasa lagi agar bisa bersama dengan Allison tanpa khawatir akan diburu keluarganya.
Tapi aku sendiri tidak bisa membayangkan kalau kakakku akan melakukan pembunuhan. Memang, Peter adalah orang yang jahat, bukan manusia biasa, dan telah melakukan hal-hal yang sangat buruk. Tetapi membunuh tetaplah membunuh. Kalau Scott membunuh Peter ... memang ia akan menyelamatkan kita semua, tapi ia melakukannya dengan membunuh. Aku tidak ingin kakakku melakukannya sekalipun itu akan membuat ia menjadi manusia normal lagi.
Derek menoleh, tapi bukan kepada Scott, melainkan kepadaku. Apa dia bisa membaca hati dan pikiranku tadi? Kemudian Derek mengangkat satu tangannya, mengeluarkan kukunya, mencakar Peter. Setelahnya ia menghadap kami semua, dan aku bisa melihat warna matanya menjadi merah, bukan biru.
"Sekarang akulah yang jadi Alpha," kata Derek.
Aku tercengang melihat mata Derek. Dan aku bisa merasakan kedua bahuku dipegang seseorang. Kupikir itu tangan Mr Argent, ternyata bukan. Stiles ada di hadapanku, memanggil-manggil namaku. Begitu aku mulai tenang, Stiles langsung memelukku dengan erat dan membawaku masuk ke dalam mobil Jackson.
.
.
Stiles mengantarku sampai depan rumah dengan jipnya. Scott turun duluan dan membantuku turun dari mobil. Kakakku memelukku dengan erat.
"Kau masuk rumah, langsung istirahat, oke?" katanya sambil melepas pelukannya. "Tidak usah menungguku."
Aku menyerngit. "Memangnya kau mau ke mana? Kau dan Stiles mau ke mana?"
Dengan ragu Scott menoleh ke sahabatnya. Aku ikut melirik ke Stiles. Si pemilik jip hanya mengangguk pada kakakku. "Val, kami mau ke rumah sakit, melihat keadaan Lydia."
"Lydia? Ada apa dengannya?" tanyaku cemas.
"Dia kena gigit Peter waktu di sekolah, Val," jawab Scott.
"Lydia a—apa? Aku akan ikut dengan kalian!" kataku.
"Tidak!" seru Scott dan Stiles bersamaan. Kemudian Stiles turun dari jipnya dan menghampiri kami.
"Dengar, Val," ujar Scott. "Kau pasti sangat lelah. Istirahatlah, besok pagi aku akan memberitahumu keadaan Lydia."
"Tapi—"
"Val, aku tidak mau kau sampai pingsan tengah jalan karena kelelahan," ucap Stiles dan Scott mengangguk setuju.
Kupandang kedua pemuda ini bergantian. "Besok pagi, janji?"
"Janji," kata Scott sambil mengangguk padaku.
Scott memelukku lagi sebentar dan mencium pipiku. Setelah itu Stiles ikut memelukku dan mencium keningku. Lalu kedua pemuda itu naik jip lagi dan meninggalkanku.
Aku masuk ke dalam rumah seorang diri. Di dalam begitu gelap, hanya lampu tangga saja yang menyala. Ini berarti mama sedang tidak ada di rumah. Huh, untunglah, setidaknya berarti mama tidak akan tahu kalau putrinya habis disekap di bawah tanah.
Masuk ke dalam kamar, aku melihat jam dinding sudah menunjukkan lewat dari tengah malam, berarti sudah ganti hari. Aku menghela nafasku dan beranjak ke kamar mandi. Tapi belum sempat membuka pintu kamar mandi, jendela kamarku diketuk seseorang. aku langsung menoleh dan melihat ada Derek di luar jendela. Jadi aku langsung berjalan membuka jendela, membiarkan dia masuk ke dalam kamarku.
"Hei," sapanya pelan ketika ia sudah masuk kamar.
"Hei," balasku sambil duduk di pinggir ranjang.
Derek ikut duduk di pinggir ranjang di sebelahku. "Kau baik-baik saja?"
Aku mengangguk pelan. "Kau sendiri?"
"Aku baik-baik saja," jawabnya lembut. "Ada apa, Val? Kau ... seperti memikirkan sesuatu."
Tanpa menoleh kepadanya, aku bertanya, "kenapa kau membunuh Peter? Kau tahu kakakku ingin membunuhnya sendiri dengan harapan rumor itu benar—ia akan menjadi manusia biasa lagi. Kau pun sudah janji untuk membantu Scott membunuh Peter, tapi bukan dengan kau membunuhnya sendiri. Kenapa kau melakukannya?"
Tangan Derek menyelinap dan memegang tanganku, membuatku menoleh padanya. "Karena kau, Val. Aku bisa merasakan kalau kau tidak ingin kakakmu jadi pembunuh, maka aku yang membunuh Peter."
"Kau melakukan itu untukku?" tanyaku.
"Ya, tapi tidak juga," jawabnya. "Sejak awal aku memang ingin membunuhnya, balas dendam untuk Laura. Tapi aku masih ingat janjiku pada Scott, jadi tadi aku sempat ingin mundur dan membiarkan Scott yang membunuh Peter. Namun aku merasakan apa yang kau rasakan. Jadi kuputuskan untuk membunuhnya sendiri."
"Jadi ... sekarang Scott terjebak dan akan menjadi manusia serigala selamanya gara-gara aku?" tanyaku pelan.
"Tentu saja tidak, itu gara-gara aku. Aku bisa saja mengabaikan perasaanmu, tapi aku tidak mau, aku tahu kau tidak ingin tangan kakakmu menjadi tangan seorang pembunuh," tutur Derek lembut.
Aku melempar senyum tipis padanya. "Terimakasih, Derek, sungguh."
Pemuda itu membalas senyumku dengan senyuman lebar. Lalu ia memelukku, aku membenamkan kepalaku di dadanya. "Kau adalah Mate seorang Alpha sekarang, Val."
"Hm? Ada bedanya, ya?" tanyaku.
"Tentu saja. Dengan adanya seorang Mate, Alpha akan menjadi lebih kuat lagi. Belum kalau Alpha itu punya Pack," jawab Derek.
"Jadi sekarang kau akan mencari orang untuk dijadikan Beta?" tanyaku lagi.
Ia mengangguk. "Ya. Tapi aku tidak akan seperti Peter yang menggigit paksa orang lain untuk menjadikan mereka Beta untuk Pack-nya. Aku akan menawari mereka dulu. Kalau sudah kujelaskan tentang apa yang harus mereka hadapi soal menjadi manusia serigala dan mereka masih meminta gigitan itu, baru akan kugigit mereka."
Aku melepaskan pelukan Derek dan tersenyum padanya. "Kuharap kau akan jadi Alpha yang baik, Derek."
Derek tersenyum padaku juga lalu mencium keningku. "Baiklah, aku akan pergi sekarang. Kau beristirahalah, Val."
Aku mengangguk dan Derek bangkit dari ranjang, menuju jendela. Ia membuka jendela kamarku, menoleh padaku dan tersenyum lagi, lalu melompat keluar dari jendela.
.
.
~TBC~
Next: #HisGirlfriend
.
.
A/N: Tamat season 1, tapi season 2 dan seterusnya akan tetap gabung jadi satu dengan fict ini, tidak di fict terpisah, makanya tulisannya masih TBC. Chapter 11 baru akan di-publish ketika Fei sudah selesai mengetik semua chapter di season 2.
