Warn: AU, OOC, EYD gak bener.
Disclaimer: Chara belongs to Masashi Kishimoto.
.
.
My Lovely Teddy Sabaku
.
.
Sinopsis:
Ada satu hukum yang jelas-jelas berlaku dalam fic ini. Kalau Gaara sedang jatuh cinta, gak ada pembeda antara angan dan logika. Termasuk memimpikan gadis yang ia suka meski tak pernah mau mengakuinya.
.
-:- 10
Sayonara
.
.
"Ayah?"
"Ya?"
"Apa aku bisa selamat?"
Hiashi diam seribu bahasa. Dirinya sesak, juga ketakutan. Kelopak matanya terpejam, menyembunyikan optik pucat yang gelisah.
Di ruangan itu, suasana hening menyediakan teka-teki. Hinata berdebar, kalut.
"Ada satu jalan yang ditawarkan dokter."
Helaan nafasnya begitu lega. Jadi masih bisa tertolong? Harapannya yang meredup kembali menyala perlahan. Hinata tersenyum saat Hiashi berdiri dan mendekat, lalu mengelus kepalanya dengan sayang. Suara derit panjang hadir ketika kasur Hinata menerima beban tambahan.
"Apa?"
Jadi, Hiashi menceritakan semuanya. Dari awal dia sakit, operasinya waktu kecil, juga pilihan yang diberikan Tsunade saat ini. "Dokter, menyarankan untuk melakukan operasi."
"Baiklah. Aku akan operasi."
"Tapi… kemungkinannya, kecil."
Lalu, sunyi menguasai lagi, bersamaan dengan harapan yang langsung layu sebelum berbunga.
Hinata bergetar menahan tangis. "Aku harus bagaimana?" matanya menatap langsung Hiashi, seorang ayah yang terluka melihat anaknya menderita. Puteri kecilnya kehilangan arah dan kebingungan, si ayah berusaha untuk menuntunnya. Tangannya bergerak, meraih jemari anaknya, dan membungkusnya hangat. "Semuanya terasa berat," rintihan itu keluar bersama dengan air mata yang mengalir deras.
"Itulah sebabnya ayah di sini. Membantumu memikul beban itu."
.
.
Teriakan suporter di lapangan sepak bola SMU Suna membahana. Sebagian besar berisi suara siswi-siswi yang jadi penonton dadakan karena pangeran pujaan mereka akhirnya kembali bermain setelah libur selama 2 pertandingan di turnamen. Dari awal pertandingan, Gaara langsung menjadi bintang. Teriakan semakin terdengar ketika tendangannya berhasil menembus pertahanan terakhir tim lawan hingga menghasilkan nilai untuk mereka.
"KYAAA! GAARA-SAMAAA!"
"Gaara-kun~ we love you!"
"Sabaku-sama, izinkan aku mengandung anakmu!"
Yang terakhir terdengar menjijikan.
Tapi Gaara gak peduli.
Di tengah lapangan sekolah yang tandus siang itu, dia berdiri dengan gagah di antara butiran debu yang terbang rendah tersapu angin. Keringat keluar, menjalar dari kepala, menuruni ujung rambut hingga melekat di dahinya. Para siswi makin terdengar geregetan melihat pose Gaara yang kelelahan.
Nafas cowok itu mulai gak beraturan.
Wasit meniup peluit akhir pertandingan.
Gaara tersenyum.
Tepukan pelan mampir di bahunya. "Keren." Itu Kiba yang sumringah karena memang.
Usai pertandingan, Gaara mandi, memakai kaus berwarna marun serta jins selutut, kemudian melenggang pergi. Sampai di depan stasiun, dia berhenti. Berpikir sebentar sebelum meraih ponselnya dari dalam saku untuk memberitahu Temari bahwa dia akan pulang terlambat.
Dia akan menjenguk Hinata.
Di rumah sakit, Hinata menyambutnya dengan tatapan bingung.
"Hai."
Hinata melirik tas sandang Gaara yang besar, dan langsung menyadari satu hal. "Baru bertanding?"
"Hm," sahutnya. "Bagaimana keadaanmu?"
"Baik," Hinata menyahut cepat, "Bagaimana pertandingannya?"
"Membosankan."
"Apa itu artinya menang?"
Gaara mengangkat bahu.
Hinata berdiri dan bergerak maju, "Kalau begitu harus dirayakan." Serunya semangat dan meraih tangan Gaara.
"Ini bukan final," dia bergumam, tapi tetap ikut kemana gadis itu pergi.
.
.
"Miso?" Gaara tak bisa menahan dirinya untuk tak bertanya. Matanya melirik Hyuuga yang duduk di depannya, lalu punya satu pertanyaan lagi untuk dikemukakan. "Apa gak apa-apa kamu keluar dari kamar?"
"Ini kantin rumah sakit. Cuma itu yang paling enak. Dan aku bukan pasien penyakit menular."
Gaara berdecak, "Bukan itu maksudku."
"Oh…"
Tangannya meletakkan sumpit, lalu kembali bertanya, "Kamu, kenapa gak ikutan makan?"
Hinata mengangkat wajahnya yang semula tertunduk. Manik lavendernya terlihat begitu jelas dari sudut pandang Gaara. Oh, betapa dia rindu melihat mata itu melihatnya secara langsung seperti ini. "Aku baru menghabiskan menu yang diantarkan suster." Sahutnya pelan sebelum kembali melihat permukaan meja yang putih. Manik optiknya yang cerah kembali bersembunyi. Gaara ingin mata itu melihatnya lebih lama. Dia ingin gadis itu memperhatikannya. Jadi, untuk pertama kalinya dalam hidup, Sabaku Gaara yang pelit bicara berusaha membuka lagi obrolan mereka.
"Apa… makanan rumah sakit enak?"
"Tidak," Ah, ya, mata itu kembali terlihat, "Tapi mereka sehat."
Gaara merengut saat lagi-lagi Hinata menghindari pandangannya. Tangannya merangsek dan menyentuh wajah bulat itu di kedua sisi, "Kenapa kamu sering menunduk? Apa aku menakutkan?" Hinata menurut untuk mengangkat wajahnya, dan terkejut ketika jarak mereka begitu dekat. Gaara telah berdiri dari kursinya dan membungkuk dengan posisi tubuh condong ke depan. Nafas pemuda itu mengghantam wajahnya dengan telak. Aroma cendana berputar-putar di sekelilingnya, membawa Hinata melambung pada rasa nyaman. "Menunduk saat ada yang berbicara denganmu bukan hal yang sopan."
"A-ah, maaf."
"Wajahmu merah." Alis Gaara bertaut. Cowok itu benar-benar gak punya ide kalau penyebabnya adalah jarak sempit yang dia beri untuk Hinata. Dia justru buru-buru berdiri dan menarik Hinata kembali ke kamarnya, memaksanya untuk berbaring. Saat Hinata ingin bangkit, death-glare Gaara mengancamnya.
"Jangan berani-berani memaksa keluar."
Kakaknya Hanabi menghela nafas, "Aku bosan."
"Aku akan menemanimu."
"Aku sudah tidur seharian." Hinata masih berusaha membantah.
"Tidurlah."
"Tapi…" bantahan Hinata berhenti ketika tangan Gaara menekan bahunya, memaksanya mundur dan menyerah pada kenyamanan standar kasur rumah sakit. Hinata memperhatikan cowok itu menarik selimut hingga ke dagunya.
Ini Gaara. Pemuda keren yang terkenal sangar dan anti perempuan. Orang yang sama yang pernah menggendongnya, juga menggenggam tangannya dengan hangat. Bahkan rasa jemarinya yang baru saja menggenggamnya masih belum hilang. Gaara jarang memperhatikan orang lain, tapi dia begitu mempedulikan Hinata. Gadis itu merasa perutnya terlilit, tapi dengan campuran rasa senang yang memenuhi tiap rongga tubuhnya.
Hinata sadar, sepertinya dia jatuh cinta.
Tapi, mereka tidak punya kesempatan. Hinata dan waktu akhirnya semakin mendekat, sementara Gaara punya banyak hal yang harus dilalui. Dia kembali teringat pada apa yang ayah tawarkan padanya, lalu menghela nafas. Dia kembali melirik Gaara, lalu tersenyum. Setidaknya, biarkan sekali-kali Hinata menikmati hari-harinya.
Sebelum sepenuhnya menjauh, dia mengangkat kepalanya lalu memberikan kecupan ringan di pipi Gaara sebagai ucapan terima kasih. "Aku mengantuk. S-selamat tidur." Katanya buru-buru lalu berbalik arah untuk membelakangi si Sabaku dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Gaara membatu.
Yang tadi itu…
Bahkan untuk mencerna hal sederhana yang baru terjadi, seorang pemuda keren juga perlu waktu.
"Gaara?"
Itu suara Temari yang heran ketika melihat tatapan kosong adiknya waktu tiba di rumah.
.
.
Sepulangnya Gaara, Hinata membuka selimutnya.
Dia duduk, sambil melihat langit yang cerah. Ada bulan yang penuh, juga bintang yang terhampar indah. Sebuah awan besar bergerak, maju dan menutup sinar sang dewi malam. Untuk sesaat, langit terlihat redup, seperti kamar yang lampunya padam. Memberi kenyamanan, juga rasa aman.
Hinata merasa matanya panas dan berkabut.
Dia menarik kakinya mendekat, lalu menyandarkan dagunya di sana. Helaian rambut gelap menjadi tirai tebal yang menutupi ekspresi ketakutan yang muncul. Dalam hening, dia menangis.
Lalu, pintu terbuka.
Cahaya asing masuk dan merusak indahnya kegelapan yang memeluk tubuh mungil yang takut. Hinata buru-buru menyeka air mata dan memperbaiki ekspresinya. Ketika lampu menyala, seorang wanita cantik berjas putih telah berdiri di dekatnya.
"Hyuuga Hinata?" tanyanya memastikan. Hinata mengangguk, mengiyakan. "Bagaimana keadaanmu?"
"Baik."
Tsunade tertawa, pelan dan bersahaja. Suaranya hangat, seperti pelukan seorang ibu. "Tadi aku melihat pacarmu pulang seperti orang linglung. Memang apa yang terjadi?"
Hinata memerah mendengar kata 'pacar' yang diucapkan dokternya.
"Yah, si cowok berambut merah itu. Dia… pacarmu, kan?"
"T-tidak."
Dia tertawa lagi, "Tidak perlu malu," tangannya mengibas-ngibas di depan wajah Hinata, "Aku juga pernah muda, tahu."
"O-oh…"
Hinata mengamati wanita itu. Cantik, masih kelihatan muda, dan berambut pirang. Senyumnya memberi kesan menenangkan. Tangan itu menggenggam tangan Hinata, menyebarkan kehangatan. Hinata diam-diam berpikir, bertanya apakah genggaman tangan seorang ibu juga seperti milik wanita ini? Hangat? Atau masih bisa lagi lebih baik dari pada ini?
Hinata berharap ibunya hidup dan bisa menggenggam tangannya juga.
"Aku, punya seorang kekasih. Aku juga punya seorang adik." Dokter itu memulai ceritanya, Hinata diam mendengarkan. "Aku begitu menyayangi mereka."
Ketika usianya tiga tahun, Ibu sering mendongeng di jam-jam seperti ini. Suaranya lembut dan memenuhi setiap sudut kamar, suara itu juga memandu Hinata pada dunia lain yang hanya eksis di kepalanya.
Kenangan itu kembali terulang.
"Tapi mereka sudah tiada."
Hinata menoleh cepat dengan matanya yang membulat.
"Tidak perlu kasihan padaku." Tsunade tersenyum, "Aku senang pernah mengenal mereka dan punya hal indah yang akan terus kukenang."
Gadis itu mulai berpikir, hingga akhirnya bertanya-tanya. Untuk apa dokter menceritakan itu padanya? Tapi, secepat pertanyaan itu muncul, secepat itu pula dia menghilang ketika Tsunade memeluknya.
Hinata semakin tidak mengerti.
"Aku hanya ingin memberi keyakinan pada pasienku," dokter itu berkata.
"Apakah… seperti ini rasanya pelukan seorang ibu?"
"Tidak," Hinata merasakan kepala dokter bergerak di pundaknya, "Pelukan ibu jauh lebih baik dari ini."
Jauh lebih baik.
Saat itu, Hinata tahu pilihan apa yang akan dia ambil.
.
.
"Aku akan operasi, Ayah."
Suara itu mengalun di ruangan yang sepi.
Pagi hari, Hiashi berkunjung seperti biasa sebelum berangkat kerja. Mendengar ucapan puterinya, dia yang telah menarik kenop pintu segera berbalik. "K-kenapa?" pria itu terkejut, dan langsung kembali mendekat.
Hinata tersenyum. "Aku… di manapun aku nanti berakhir, akan selalu ada yang menerimaku dengan tangan terbuka."
"…"
"Kedua-duanya adalah akhir yang bahagia."
Hiashi masih belum bisa menyahut.
"Ibu akan menantiku di sana. Di sini, ada ayah yang juga selalu menemani. Aku tidak takut jika nanti aku akan pergi, atau tetap di sini. Semuanya menyambutku dengan tangan terbuka. Jadi, apa yang kutakuti?" mata besarnya yang bercahaya menatap sang Ayah yang tidak tahu harus bagaimana.
Tas hitam yang tergenggam jatuh. Hiashi maju dan memeluk puterinya erat.
Hinata membalas pelukan ayahnya.
.
.
Seharian itu, SMU Suna gempar karena teriakan para siswi yang ngelihat pangerannya tersenyum senang untuk pertama kalinya selama seharian penuh. Sabaku Gaara, tanpa mempedulikan dunia, menampilkan pesona 'devil' yang tersembunyi jauh di dalam dirinya. Ketika semua murid perempuan justru merasa senang, murid laki-laki mulai patah hati. Mereka mulai minder dan ngerasa tersisih. Gaara yang jutek aja udah ngebikin perempuan suka, apa lagi dia yang begini? Kesempatan kecil yang mereka punya untuk melancarkan pedekate ke gebetannya semakin kecil hingga tak bisa terlihat. Mereka jadi dengki dan iri, tapi takut untuk menghardik dan nyuruh Gaara untuk berhenti.
Kiba yang ternyata cukup berani untuk mengganggu Gaara dari lamunan indahnya bertanya. "Gaar, kenapa?"
"Apanya?"
"Kok senang banget?"
"Jadi gak boleh?"
"Ck, bukan gitu."
Gaara gak mendengar lebih. Dia tetap melangkah keluar, bersama dengan Kiba di sampingnya.
Raut penasaran Kiba berganti jadi seringai licik ketika pecinta anjing itu melihat Hinata, dengan t-shirt dan jins biru, berdiri resah di dinding gerbang. "Hinata?" ketika dia melirik Gaara, cowok itu udah gak ada di dekatnya.
"Kenapa kamu bisa di sini?"
"A-apa kamu gak suka?"
"Enggak, aku gak suka." Gaara menjawab, "Kamu seharusnya di rumah sakit."
Kiba mulai ngerasa dirinya lalat yang mengganggu di antara mereka.
Hinata mulai menggigit bibirnya, Gaara geregetan. "Jangan membuat hal yang bisa membuat kesehatanmu memburuk." Dia bilang, kali ini, dengan suara yang pelan. "Aku khawatir," akunya.
Hinata mendongak.
Pandangan mereka bertemu.
"Gaara?"
"Hm?"
Hinata tersenyum kecut. "Aku…"
"…"
"Aku…" dia ragu untuk bilang selamat tinggal, menyampaikan salam perpisahan karena mungkin, setelah operasi nanti, mereka gak akan bisa lagi ketemu. "… ingin pai apel." Akhirnya, dia jadi berbohong.
"Oke," tangannya kembali menemukan kenyamanan di sela-sela jemari Hinata, "Ada kafe di dekat stasiun yang menjual pai apel. Tapi, setelahnya, kita langsung kembali ke rumah sakit." Hinata bersumpah dia merasa angin siang hari mempermainkan wajahnya yang panas waktu itu.
"Baik."
Adakah yang menyadari arti dari 'kita' yang dimaksud Gaara adalah hanya dia dan Hinata?
"Gaar?"
Terus, kenapa Kiba ikut mengekor di belakang mereka?
"Kib, tolong jangan ikutin gua." Gaara menatapnya tajam. Kiba mundur teratur.
Begitu lebih baik.
.
.
Tempat itu bagus. Bersih, rapi, dan berdinding merah muda. Suara mesin pendingin jadi musik pengiring untuk Hinata menikmati painya. Gaara duduk sambil menikmati secangkir kopi pekat. Mereka menikmati waktu sambil tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Dentingan kecil muncul saat garpu bersentuhan dengan piring berisi potongan pai. Hinata mengangkat potongan kue itu dan mengamatinya agak lama. Gaara, yang perhatiannya teralihkan, melirik.
"Ada sesuatu?"
Suara beratnya membawa Hinata kembali ke realita.
"G-gak ada, kok."
Gaara meletakkan cangkirnya, lalu menghela nafas. "Kenapa kamu selalu menyembunyikan sesuatu?"
"T-tidak! Aku tidak begitu," Hinata menyangkal cepat.
"Pertama, kamu bohong tentang obat itu. Kamu bohong tentang penyakit itu. Sekarang, aku tahu kamu menyimpan sesuatu dan aku gak boleh tahu apa itu. Apa aku ini bukan orang yang bisa dipercaya?" Gaara mundur dan bersandar di punggung kursi, "Kamu bikin aku bingung."
"E-eh?"
"Jika aku tidak cukup penting hingga tidak bisa dipercaya untuk sebuah rahasia, kenapa malam itu kamu ngasih ciuman?"
Suara Gaara lumayan besar di kafe yang cukup sepi. Beberapa orang mulai menoleh ke arah mereka, Hinata langsung menunduk malu. Gaara gak seharusnya ngumbar hal itu di depan umum. Bagaimana jika mereka mengira bahwa Hinata adalah perempuan agresif yang mengerikan? Ini tidak seperti yang mereka pikirkan. Ciuman itu cuma ciuman ringan di pipi. Tidak lebih. Tidak ada yang tersakiti. Tapi…
Hinata melihat takut-takut dari balik poninya yang tebal.
… orang-orang mulai menghakiminya dengan tatapan menyebalkan.
"I-itukan cuma di pipi." Hinata mencoba mempertahankan harga dirinya yang tersisa.
"Jadi, karena di pipi itu jadi terlihat gak berharga?"
Komentar Gaara justru memperkeruh suasana.
"T-ti-tidak!" gadis itu hampir berdiri dari tempatnya, "Tidak begitu."
Tapi si Sabaku udah terlanjur salah paham. Dia sakit hati dan kecewa. Karena moodnya gak baik, Gaara langsung berdiri dan mengeluarkan dompetnya. "Tunggu di sini, aku mau bayar," katanya sambil berjalan menjauh. Hinata melihat punggungnya dengan sayu.
Saat Gaara kembali, mereka berjalan tanpa sepatah kata.
"Gaara…" Saat tiba di kamarnya di rumah sakit, Hinata mencoba untuk minta maaf, tapi pemuda itu justru cuek. Dia malah langsung berbalik dan pergi. Untuk pertama kalinya dalam hidup, puteri sulung Hiashi itu menggeram. Tepat saat Gaara melangkah melewati pintu, Hinata menariknya kuat hingga tubuh itu berbalik, dan…
Chu!
Lalu suara bedebam keras dari pintu yang dibanting menggema di koridor.
Gaara terpaku sambil memegang bibirnya.
Oke. Dia benar-benar butuh penjelasan, sekarang.
Tanpa banyak babibu, Gaara membuka pintu dan kembali masuk, meminta penjelasan dari Hinata yang menutupi seluruh tubuhnya dalam selimut. "Bagaimana sebenarnya perasaanmu? Jangan membuatku bingung."
"M-maaf."
"Aku tidak minta kata-kata itu." Adiknya Kankuro itu menarik selimut, menampakkan wajah takut yang memaksa matanya tertutup. "Hinata?" kedua tangannya meraih wajah yang telah merah padam, membingkainya dengan lembut. "Seperti apa kamu menganggapku?"
"A-aku…" mata itu pelan-pelan kembali terbuka, "… a-aku… s-su-suka."
Berhenti di situ. Hinata gak punya keberanian untuk lanjut lebih jauh. Lagi pula Gaara mengerti. Buktinya, cowok itu langsung menghadiahinya pelukan hangat. Hinata menyandarkan kepalanya di bahu Gaara, sementara dia menyandarkan dagunya di puncak kepala Hinata.
Momen itu berlangsung dalam suasana jingga sinar matahari yang ada di penghujung senja.
Pelukan ini terasa hangat. Untuk pertama kalinya, Hinata bisa merasakan pelukan dari seorang pria selain keluarga. Ini mendebarkan. Juga menyenangkan. Rasanya, mungkin semenarik naik roller-coaster. Takut, tapi membuatnya ingin berteriak sekaligus tertawa.
Kalau mengingat-ingat hidupnya yang ada di ujung tanduk, Hinata tiba-tiba merasa sepi. Tangannya mencengkram bahu Gaara dengan erat, menahan segala bentuk kesedihan yang memayunginya. Dia benar-benar ingin hidup. Cowok ini… Hinata masih ingin menjalani beberapa waktu ke depan dengannya.
Saat seperti ini, saat di mana hanya ada mereka berdua dengan sinar senja yang membingkainya, adalah hal yang tak akan pernah dilupakan gadis itu.
Dia menangis.
Lalu, detak jantungnya berhenti.
Mungkin, ini saat yang tepat untuk menyampaikan salam perpisahan.
Sayonara, Gaara-kun…
.
.
To be continue.
