'Keberuntungan Cancer berada di urutan ke-dua hari ini. Selamat! Walaupun begitu, jangan lupa untuk selalu membawa lucky item-mu! Lucky item untuk Cancer hari ini adalah sebuah boneka katak berwarna hijau.
Dan, hari ini, kau akan bertemu dengan seorang yang berharga. Orang ini memiliki Zodiak Aquarius, walaupun kalian tidak cocok tapi kali ini orang ini akan menjadi seseorang yang berpengaruh besar bagi hidupmu kelak!
Terakhir, untuk Cancer, selamat menjalani aktifitas!'
-xxxxx-
Mengikuti langkah kakinya, anak ini berjalan pelan. Dengan sabar memeriksa satu persatu tempat yang ada disana—mencari keberadaan teman sekamarnya, Murasakibara Atsushi.
Halaman belakang, kamar, ruang bermain. Semua tempat sudah diperiksanya. Tinggal satu ruangan lagi, Perpustakaan.
Dan sekarang dirinya sudah berada di depan ruangan itu.
Ia membuka sedikit pintu Perpustakaan perlahan dengan satu tangan, sementara tangan yang satu lagi sibuk memeluk boneka katak berukuran sedang di dadanya— boneka yang ia beri nama Kerosuke.
Surai hijau menyembul, mengintip keadaan di dalam. Kosong.
Midorima Shintarou menghela nafas. "Kalau bukan disini? Lalu dimana anak itu?"
Baru ingin menutup kembali pintu itu, telinganya menangkap suara sesuatu dari dalam Perpustakaan.
"Mn.. Mnn..!"
Eh? tapi Midorima yakin tidak ada orang didalam sana saat ia memeriksanya barusan.
Merasa kurang yakin, Midorima memeriksanya sekali lagi. Sepasang Emerald memperhatikan ruangan itu, masih kosong.
Dibukanya lebar-lebar kedua matanya sebisanya. Iris jade itu makin terlihat bulat saja di balik kacamata bingkai tebalnya.
Fokus. Lama-kelamaan bayangan seorang anak kecil yang sedang melompat-lompat di dekat rak buku dapat terlihat. Midorima hampir melompat kala itu kalau tidak menyadari surai biru muda milik anak itu.
Itu Kuroko Tetsuya, anak yang ditemuinya beberapa hari lalu di tempat ini juga.
"Tinggi sekali..! Mnn... sedikit lagi, aku bisa meraihnya...!"
Berjalan tanpa suara, Midorima mendekatinya. Kuroko belum menyadarinya.
Sekarang ia berada tepat di belakangnya. Midorima hanya perlu berjinjit untuk mengambil buku yang anak ini inginkan. Memang berada di rak yang lumayan tinggi. Mustahil untuk anak dengan tubuh pendek dan kecil seperti Kuroko untuk meraihnya.
"Apakah buku ini yang kau inginkan?"
Tubuh mungilnya berbalik menghadap Midorima. Sedikit mendongak karena perbedaan tinggi badan.
"Ah, Midorima-kun!"
"Ambil ini." Menyodorkan buku pada bocah biru langit. Sepasang aquamarine menatap datar buku-dengan cover anak kecil yang sedang tertidur di atas bulan sabit raksasa- di tangan Midorima kemudian beralih menatap wajah si anak berkacamata.
"Aku bisa mengambilnya sendiri."
"A-AP...?"
"Maksudku, Terimakasih banyak." Kuroko menerima buku itu dengan senyum lebarnya—Memeluk buku itu dengan kedua tangannya didadanya. Memerhatikan wajah Midorima dengan mulut yang sedikit terbuka dan kacamata yang sedikit melorot itu, Kuroko kemudian tertawa kecil, "Midorima-kun lucu sekali."
Tersadar dari lamunannya, Midorima buru-buru menarik tangannya yang masih menggantung di udara—kemudian membenahi letak kacamatanya. Wajahnya sedikit memerah.
"I-ini bukan karena aku peduli pada—
"Ya. Aku mengerti, tsunderima-kun."
"K-k-kau.. darimana kau tau istilah itu!? Dan jangan memanggilku seperti itu!"
Kuroko memiringkan kepalanya sedikit, "Eh? aku.. Murasakibara-kun bilang seperti itu padaku kemarin."
"Sejak kapan kau berteman dengannya?"
"Sejak aku berkenalan denganmu dan Murasakibara-kun. Midorima-kun juga temanku, kok,"
"Dan, Uhm.. Midorima-kun, bagaimana kalau kita duduk dulu disana?" Kuroko menunjuk pada meja panjang di dekatnya.
Mereka duduk saling berhadapan. Kuroko membaca buku yang baru didapatnya, Midorima menenggelamkan wajahnya pada bulu-bulu lembut boneka Katak-nya—sambil memerhatikan Kuroko.
"Darimana kau tahu buku itu?"
"Teman-temanku di sekolah banyak yang membicarakannya. Aku penasaran jadi aku membacanya."
"Begitu. Aku sudah membaca buku itu dan aku sangat merekomendasikannya. Ceritanya menarik. Mungkin ada kata-kata yang tidak kau mengerti nantinya, kalau ada yang tidak kau ketahui tanya saja padaku."
"Aku sudah tidak sabar untuk membacanya. Omong-omong, sedang apa Midorima-kun disini? Apakah Midorima-kun disini untuk membaca juga?"
"Tidak, aku mencari Murasakibara. Aku penasaran kemana dia seharian ini. Dari pagi aku tidak melihatnya. Apa kau melihatnya?"
Dibalas gelengan.
...
Setelah puas memandangi sosok mungil Kuroko yang sedang serius membaca buku, matanya kemudian melirik pada cover buku yang sedang di baca oleh anak itu.
Judulnya 'Fakery Tale'. Midorima sudah pernah membacanya beberapa bulan yang lalu dan jujur setelah selesai membacanya, ia masuk dalam mode galau selama dua hari.
Alasannya? Karena kisah dalam buku itu hampir sama dengan kisahnya.
Fakery Tale, buku yang bercerita tentang anak korban broken home. Bagaimana seorang anak yang masih berusia tujuh tahun harus menonton pertengkaran orang tuanya hari-demi-hari. Teriakan, barang jatuh atau pecah, Tangisan- adalah sesuatu yang menghiasi kehidupan anak itu sehari-hari.
Anak itu bermimpi ingin mempunyai keluarga yang bahagia, tapi ia sadar impiannya itu tak akan pernah terwujud, jadi ia membangun sangkar ilusi. Entah tahu darimana, ia meminum obat— semacam narkoba yang membuatnya berhalusinasi, setelah itu tidur. Dalam tidurnya ia bermimpi hidup dengan kedua orangtuanya yang damai, amat menyayanginya. Bahagia.
Selalu seperti itu setiap malam. Hingga tanpa sadar, anak itu tak pernah terbangun lagi.
Jangan kaget. Tapi kisah itu mirip sekali dengan kisah Midorima Shintarou. Hanya saja kisahnya ini belum selesai seperti cerita 'Fakery Tale' yang menurut Midorima berakhir happy-ending tapi entah mengapa tetap membuat dadanya sesak.
Midorima harus menulis ending nya sendiri. Ending seperti apa yang diinginkannya kelak?
Sesungguhnya ia sangat lelah. Lelah dengan semuanya. Ia masih terlalu kecil untuk memikirkan hidupnya, masa depannya, dan segala sesuatunya. Walaupun ia dijuluki anak terpintar di kelasnya, pemegang juara umum di sekolahnya, itu tidak mengubah fakta bahwa dirinya ini hanya anak kecil berusia sembilan tahun, pikirannya masih polos dan tidak mengerti apa-apa.
Orang dewasa bilang, jadi anak kecil itu enak, tidak memikirkan masalah dan tidak mempunyai beban pikiran yang berarti.
Kata siapa? Mungkin anak kecil yang lain iya. Tapi Midorima Shintarou tidak.
Otaknya dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Entah ia harus berterimakasih atau tidak telah diberikan ingatan yang kuat dan bagus. Saat umurnya lima tahun, ia ingat jelas bayangan kedua orang tuanya yang bertengkar. Ayahnya yang selalu pulang malam dengan keadaan mabuk dan kacau. Ibunya yang menangis dengan pipi yang memerah. Suara keramik pecah. Ayahnya yang berkata kasar, ibunya yang berteriak. Sementara Midorima kecil saat itu hanya bisa duduk meringkuk dikamarnya yang gelap sambil memeluk boneka Kerosuke-nya.
Hari dimana ia bisa tidur nyenyak adalah saat Ayahnya tidak pulang ke rumah malam itu. Damai. Tidak ada yang dipertengkarkan.
Oh ya, omong-omong, Kerosuke miliknya ini sudah menemaninya sejak berada dirumahnya itu. Ia menemukannya di pinggir jalan. Keadaannya masih bagus, hanya ada beberapa bagian yang robek. Midorima membawanya pulang, mencucinya sendiri, bahkan menjahitnya sendiri. Tangannya sempat terkena tusukan jarum beberapa kali. Wajarlah untuk bocah berusia lima tahun melakukan hal seperti itu mustahil, tapi Midorima bisa walaupun hasilnya tak sebagus jahitan penjahit di luar sana.
Midorima cepat dalam mempelajari sesuatu.
Dengan tuntutan Ia harus mengurus dirinya sendiri dan ibunya, usia enam tahun ia sudah bisa memasak air, nasi, dan telur rebus atau goreng untuk makannya sendiri. Bahkan setelah pertengkaran hebat semalam, ia yang harus membenahi sisa-sisa kekacauan ulah orang tuanya. Tak jarang tangannya terkena pecahan beling, makanya ditangannya selalu terlihat perban yang melilit.
Midorima mencuci baju miliknya dan ibunya sendiri. Walaupun tak sebersih Ibunya yang mencuci.
Di rumah ini tidak ada pembantu. Hanya ada Ayah, Ibu, dan Shintarou.
Ibunya diam tak mempedulikannya, seperti orang gila yang membuatnya ikut-ikutan gila. Apakah kedua orang tuanya sudah melupakan keberadaannya? Anak satu-satunya ini?
Usia tujuh tahun, Midorima yang tak kuat memutuskan untuk pergi dari rumah. Hari itu orang tuanya sedang hebat-hebatnya bertengkar. Ia kabur dengan hanya membawa Kerosuke dan baju yang melekat pada tubuhnya. Tidak tahu kabur kemana, hanya mengikuti kaki kecilnya yang berlari tanpa tujuan.
Ia keluar dari rumah sekitar pukul delapan malam. Ia tidak ingat sudah berlari sejauh mana, Midorima bahkan tidak tahu sedang berada dimana ketika dingin mulai menusuk kulitnya. Yang bisa dilakukannya hanya memeluk Kerosuke yang memiliki bulu-bulu tebal untuk menghangatkannya walau sedikit.
Lelah. Haus.
Ia menangis. Menangisi nasibnya yang sedemikian menyedihkannya. Suara anjing yang menggonggong membuatnya tersadar dan berlari lebih cepat, walaupun kaki kecilnya sudah tak kuat.
Ketika pandangannya mulai mengabur, Midorima pasrah. Kalau begini pada akhirnya..
Ingatannya terputus sampai situ. Yang ia tahu, selanjutnya dirinya sudah berada disini, Panti Asuhan milik Miyuki-san.
Midorima tidak mau mengingat neraka itu lagi. Ia tidak mau kembali kesana. Keadaan rumah itu.. ia bahkan sudah tak peduli lagi.
Midorima menggelengkan kepalanya cepat, mencoba menghilangkan ingatan tidak menyenangkannya. Kembali fokus mengamati Kuroko yang sedang membaca buku dengan mata yang berkaca-kaca.
Baru beberapa halaman, tapi anak ini sudah ingin menangis saja.
"Kalau tidak kuat lebih baik jangan diteruskan."
Kuroko mendongak, mengedipkan matanya beberapakali. Membuat air mata yang tadinya ingin keluar kembali masuk lagi, "Aku kuat, kok." Katanya polos.
'Dasar keras kepala.' "Terserah katamu, tapi kalau kau ingin menangis, jangan dihadapanku." 'Aku tidak tahu cara menenangkan anak kecil yang sedang menangis.'
Padahal dirinya sendiri masih anak kecil.
"Tentu saja. Aku tidak akan menangis dihadapan Midorima-kun. Ah ya, lebih baik aku simpan buku ini dan minta dibacakan oleh Miyuki-kaasan nanti malam."
"Ya, begitu lebih baik."
'—hari ini, kau akan bertemu dengan seorang yang berharga. Orang ini memiliki Zodiak Aquarius—'
"Hei, Zodiakmu apa?"
"Zodiak? Apa itu?"
'Bodoh, tentu saja dia tidak mengerti,' "Biar kuralat pertanyaanku. Kau lahir tanggal berapa?"
"Aku tidak tahu."
"Bagaimana bisa kau tidak tahu—
Ups. Sepertinya Midorima salah berbicara.
Miyuki-san pernah bilang pada Midorima kalau Kuroko adalah anak yatim piatu yang dibuang oleh orang tuanya. Tentu saja, dia tidak tahu kapan dirinya ini lahir.
"Maafkan aku.. aku benar-benar tidak tahu.." katanya sedikit menunduk, mata itu sarat akan kesedihan— membuat Midorima merasa bersalah telah menanyakan hal yangs epatutnya tak ditanyainya pada si anak biru muda.
"Tapi!" Seakan baru teringat sesuatu, Kuroko menggebrak meja cukup keras, "—Miyuki-kaasan pernah bilang padaku. Katanya aku ditemukan pada tanggal tiga puluh satu Januari. Kau bisa menganggap itu tanggal lahirku!"
Mengedipkan matanya beberapa kali, Midorima terkejut akan reaksi anak didepannya. Wajah sedihnya langsung berubah antusias, matanya berbinar. Kemana ekspresi sedih yang ia tunjukan tadi?
"T-tidak perlu bersemangat seperti itu, Kuroko."
"Eh..? Apa aku terlalu berlebihan? Aku hanya senang Midorima-kun mau mengobrol denganku. Selama ini Midorima-kun selalu menyendiri dari anak-anak yang lainnya. Paling kau hanya dekat dengan Murasakibara-kun. Padahal banyak anak-anak yang ingin berteman dengan Midorima-kun.."
"Memangnya, Midorima-kun tidak kesepian? Sendirian seperti itu. kalau aku.. aku sejujurnya tidak mau. Hawa keberadaanku tipis. Walaupun aku ada di dekat mereka, mereka tidak akan menyadari keberadaanku sebelum aku menyentuh mereka. Dan ketika aku melakukannya, mereka malah lari dan menganggapku hantu. Tapi aku beruntung masih ada yang mau menjadi temanku seperti Aomine-kun, Murasakibara-kun, dan Midorima-kun."
Midorima baru tahu kalau Kuroko Tetsuya anak yang gampang meluapkan isi hatinya, atau karena dia sedang terbawa suasana saja?
Dibilang kesepian.. Tidak juga. Asalkan ada Kerosuke dan buku ditangannya, Midorima akan duduk diam sambil membaca buku— seakan melupakan sekelilingnya.
Atau..
Midorima tidak tahu definisi dari kata 'Kesepian' itu sendiri?
Ke-sepi-an.
Nomina: 1. Keadaan sepi; kesunyian; kelengangan.
2. perasaan sunyi (tidak berteman dan sebagainya)
'Kau yang kesepian, Kuroko Tetsuya..'
"Tapi, hal seperti itu bukannya wajar? Tidak usah takut sendirian. Manusia terlahir sendirian ke dunia ini, dan ketika mati pun juga sendiri—" – Aku sudah terbiasa sendirian, tidak ada yang peduli padaku. Aku juga sudah tidak peduli lagi dengan semuanya. Aku pasrah—"Dunia ini.. memang kejam."
Jeda beberapa detik. Suasana terasa canggung diantara mereka—sebelum bibir mungil Kuroko menggumamkan sesuatu..
"Ya, memang kejam. Tapi walaupun kejam, tetap saja ada hal yang membuatnya tetap indah." Bangkit dari duduknya, Kuroko berjalan mendekati Midorima yang saat itu masih duduk diam.
Melingkarkan kedua tangannya pada leher Midorima—memeluknya dari belakang, "Salah satunya karena dunia ini telah mempertemukan aku dan Midorima-kun." Gantian, Kuroko yang sekarang menghibur Midorima.
"Terimakasih sudah mau menjadi temanku.."
Sepasang iris Emerald melebar akan pengakuan tersebut. Kuroko melepas pelukannya kemudian duduk disebelah Midorima.
"Midorima-kun, boleh aku pinjam boneka ditanganmu?"
"Kerosuke maksudmu? B-boleh saja, asal kau harus hati-hati.."
Kedua tangannya terulur—menyerahkan Kerosuke kepada bocah biru langit disampingnya.
"Ah, lembutnya. Jadi ini boneka yang tidak pernah lepas dari tangan Midorima-kun. Kerosuke, ya?" memeluknya sebentar, Kuroko mengangkat bonekanya tinggi-tinggi, memerhatikannya- "Halo, namaku Kuroko Tetsuya. Terimakasih sudah menemani Midorima-kun selama ini. Aku tahu kalian berdua sudah melewati hal-hal yang sulit.."
"Kau boleh memilikinya," kata Midorima tiba-tiba.
"E-eh?"
"Ya. Untukmu."
'Aku sudah menemukan orang itu. Tiga puluh satu Januari. Aquarius. Kuroko Tetsuya. Jadi.. orang itu adalah kau.'
"Tapi boneka ini kan sesuatu yang sangat berharga untuk Midorima-kun—
"Tidak apa-apa. aku sudah tidak butuh lagi." 'Aku sudah menemukan yang lebih berharga dari boneka itu. kau, Kuroko Tetsuya.'
.
.
...
.
.
"Kuro-chin—are? Ada Mido-chin juga."
Sosok Murasakibara muncul dari balik pintu dengan membawa sebuah nampan berisi beberapa cupcake. Ia mendekat ke arah mereka berdua.
"Kemana saja kau, Murasakibara?"
"Aku di dapur bersama Miyu-chin. Aku belajar memasak. Maaf tidak memberitahumu, Mido-chin. Ah ya, apakah kau mau mencicipinya? Kue buatanku dan Miyu-chin. Untuk Kuro-chin aku buat yang spesial!"
"Tentu saja."
"Karena Kuro-chin manis seperti vanilla dan Kuro-chin juga suka vanilla, jadi aku membuatkan khusus untuk Kuro-chin. Silahkan dicoba," Menyodorkan cupcake berwarna putih dengan taburan kismis diatasnya-tampak beda dengan cupcake lain yang tersusun di nampan.
"Terimakasih banyak, Murasakibara-kun!"
"Bagaimana.. rasanya?"
"Enak!"
"Benarkah?!"
"Hu'um!" Kuroko mengangguk mantap, buru-buru menghabisi sisa cupcake ditangannya, "Murasakibara-kun, boleh aku minta lagi?"
"Eh? tapi rasa Vanilla-nya aku hanya buat satu.."
"Tidak apa-apa. Apa saja asal buatan Murasakibara-kun pasti aku makan."
"Tentu saja, Kuro-chin! Makan lah sebanyak yang kau mau!"
Midorima yang penasaran ikut mencicipi cupcake buatan Murasakibara. Satu gigitan. Dahinya mengkerut. Mengunyahnya pelan ekspresi wajah Midorima jadi makin aneh saja.
Asin. Manis. Dan juga sedikit rasa gosong..?
Midorima memandang pada bocah biru langit yang sedang memakan kue buatan Murasakibara dengan lahapnya.
'Tch. Dasar. Kau itu terlalu baik, Kuroko Tetsuya.'
...
FROM YOU TO YOU
'Jika ada satu hal yang baru aku sadari, itu adalah kekuatanmu yang tidak pernah gagal mengejutkanku.' Koto no Uede kore kara mo~ Midorima-Kuroko.
-Kuroko no Basuke bukan milik saya, Cerita barulah milik saya-
...
Sungguh, tidak pernah terpikirkan bahwa dirinya akan kalah dengan seorang Aquarius di hari keberuntungannya.
Midorima Shintarou baru tau kalau kalah bisa membuat dadanya terasa sesak seperti ini.
Rasanya sulit sekali untuk bernafas.
Wajah itu menengadah keatas, Midorima membiarkan wajahnya yang tanpa kacamata itu di jatuhi oleh buliran air hujan yang mengalir cukup deras. Merasakan tetes demi tetes air yang menghujaninya, memaksanya agar sadar.
Langit ikut menangis, bersama dirinya.
Inikah yang Kise rasakan kemarin..? Midorima tidak tahu.
Sepulang dari pertandingannya melawan Seirin waktu itu, Kise mengunci dirinya dikamar. Tidak tahu apa yang dilakukannya. Dia bahkan melewatkan makan malam.
Tapi paginya, model pirang ini kembali ke dirinya yang semula. Ceria dan berisik. Ia bahkan bertengkar seperti biasa dengan Aomine di meja makan, memperebutkan makanan, padahal jelas makanan yang di sediakan sudah lebih dari cukup.
Sejujurnya, Midorima tidak begitu akrab dengan Kuroko. ingin dekat tapi dirinya terlalu malu.
Walaupun begitu. Midorima Shintarou sangat menyayangi Kuroko Tetsuya. Ia sangat menghargai dan menghormati orang itu. bisa dibilang, Midorima adalah fans terselubung Kuroko, mungkin.
Midorima mengagumi wajah polosnya, Midorima mengagumi senyum secerah mataharinya dan yang lebih penting, Midorima sangat mengagumi kegigihannya dalam segala sesuatu. Tidak menyerah, sekalipun itu tidak mungkin. Berusaha sekuat tenaga, semampunya. Bahkan sampai titik darah penghabisan.
Midorima ingat, sewaktu kecil, Kuroko lah yang menunjukannya jalan ketika dirinya sedang tersesat, tak punya tujuan hidup. Kemudian Tuhan menurunkan malaikat kecil untuk menunjukan arah sampai dirinya bisa sampai seperti ini.
Dunia ini.. tidak seburuk yang ia pikirkan. Itu semua berkat keberadaannya.
Sekali lagi, Midorima berterimakasih kepada Tuhan karena sudah menghadirkan sosok Kuroko Tetsuya di tengah kehidupannya—
Untuk sebuah keajaiban yang telah mempertemukan dirinya di dunia yang kotor dan jelek seperti ini-
.
.
Terimakasih.
.
.
.
Tetsuya merasa pernah melihat kejadian ini sebelumnya.
Itu—kalau tidak salah saat dirinya masih kecil. Saat pemakaman kedua orangtuanya, Shintarou-niisannya berdiri di tengah hujan dengan wajah terpejam memandang langit. Seperti sekarang.
Terlihat menderita. Sedangkan Tetsuya kecil hanya bisa melihat dari jauh tanpa melakukan apa-apa.
Ah ya, dia ingat, saat itu dirinya belum mengerti apa-apa. Belum tau kenapa para kakak-nya terlihat sedih, kenapa banyak orang datang ke rumahnya menggunakan pakaian hitam, kenapa Okaa-san dan Otou-sannya tak kunjung datang, padahal mereka sudah mempunyai janji di hari itu.
Akashi Tetsuya masih terlalu polos untuk mengerti semuanya saat itu.
Sekarang—saat hal sama terulang kembali, Tetsuya tidak akan membiarkannya. Sekalipun mereka adalah dua orang berbeda. Tapi, di mata Tetsuya keduanya terlihat sama- sama-sama rapuh.
Masih menggunakan seragam basket nya dengan nomor punggung sebelas, Tetsuya menerobos hujan. Berjalan dengan langkah yang hati-hati. Midorima masih belum menyadarinya.
Tetsuya merengkuh tubuh besar kakaknya dari belakang, menenggelamkan wajahnya pada punggung kakaknya yang terlihat basah, "Jangan sedih—"
"T-Tetsuya apa yang kau lakukan!?"
-Shintarou-niisan.
Kalau Midorima tidak menginterupsinya duluan, Tetsuya pasti akan memanggil kakak aslinya, Akashi Shintarou, Shintarou kakaknya dari dunianya sana.
Jeda beberapa detik. Midorima melepas pelukannya, dan berbalik berhadapan dengan Tetsuya, "Midorima-kun sendiri?"
Masih diam.
"Bukan urusanmu."
"Kalau begitu, bukan urusanmu juga, Midorima-kun."
"O-oi!"
"Maaf.."
"Maaf untuk apa?"
"Maaf sudah membuat Midorima-kun sedih.."
"Hah?"
Tetsuya merasa tidak enak, walaupun ini memang kewajibannya, misinya. Tapi tetap saja, melihat orang dengan wajah yang sama persis seperti kakaknya di depannya ini sedih membuat hatinya teriris. Yang ada home-sick nya kambuh lagi. Tetsuya sedang berusaha menahannya belakangan ini.
Tetsuya memang tidak begitu akrab dengan kakaknya itu dan sepertinya Kuroko dan Midorima disini juga mengalami hal yang sama. Walaupun begitu, itu tidak mengurangi rasa sayangnya padanya. Tetsuya sangat menyayangi kakaknya yang satu itu, yang selalu menghiburnya saat sedih dengan kepribadian malu-malunya.
Dan Tetsuya juga menyayangi Midorima Shintarou disini, sifat mereka tak jauh berbeda, sekalipun bukan yang asli.
"Bodoh. Jangan meminta maaf karena sesuatu yang jelas-jelas bukan salahmu."
"Tapi Midorima-kun sedih karena aku." Tetsuya menunduk.
Midorima Shintarou juga tidak mengerti dengan perasaannya ini.
"Aku tidak sedih. Aku hanya menyadari sesuatu.."
"Jika ini alasanmu untuk mengalahkanku. Aku.. tidak masalah,"
"Malah, aku bangga padamu."
Maju selangkah Midorima mendekat pada Tetsuya yang masih diam dengan wajah kagetnya. Tangan berbalut perban itu mengelus—bersentuhan dengan pipi Tetsuya yang dingin.
Kemudian tangannya itu bergerak ke belakang kepalanya, menarik kepalanya mendekat, Midorima menunduk—
Chu!
Mencium puncak kepala Tetsuya lembut. Tetsuya buru-buru mendongak, mendapati wajah Midorima yang sedang tersenyum padanya, membuat tubuh menggigilnya menghangat.
Itu—
Mendadak tubuhnya membeku, tidak bisa digerakkan. Tetsuya ingat pernah diperlakukan sama oleh orang yang sama pula.
Katakan orang di depannya ini adalah Shintarou-niisannya.
Ya.. katakan bahwa dirinya yang sudah mati itu hanyalah mimpi? Kalau memang begitu kenyataannya, atau jikalau ini hanya mimpi, tolong, jangan pernah bangunkan Tetsuya lagi, Tetsuya ingin tidur selamanya saja.
Bibir mungilnya bergetar hebat, ingin berbicara tapi tak keluar sepatah katapun.
Penglihatannya memudar. Terakhir yang dilihatnya adalah wajah khawatir kakaknya yang memanggil namanya.
Tubuh ringkih itu terjatuh tepat di pelukan Midorima.
.
...
.
Midorima lupa. Kalau adiknya yang satu ini memiliki tubuh yang lemah.
Dibilang lemah juga bukan, mungkin lebih seperti daya tahan tubuhnya yang kurang, cepat lelah.
Bermain dua pertandingan dalam satu hari, ditambah salah satu lawannya adalah Shuutoku—salah satu Raja—tentu tidak mudah. Tubuh kecil Kuroko Tetsuya tidak mampu menahan semuanya, hingga akhirnya di tengah hujan ia runtuh tepat dihadapan Midorima.
Sedikit panik, buru-buru Midorima menggendongnya menuju ruang kesehatan di gedung olah raga itu. Hari sudah malam, tidak ada siapa-siapa. Saat Midorima sampai disana si penjaga ruangan itu sudah mau pulang. Melihat Midorima yang membawa tubuh Kuroko yang saat itu tak sadarkan diri dengan wajah pucat, ia mengurungkan niatnya dan mempersilahkan Midorima untuk masuk.
Midorima dengan hati-hati membaringkan tubuh adiknya. Sementara perawat disana mulai memeriksa keadaan Kuroko. Ia juga diminta untuk menggantikan bajunya yang sudah basah.
Midorima kaget melihat tubuh adiknya yang dipenuhi memar kebiruan dan jahitan yang masih berbekas jelas. Ini.. bukannya bekas kecelakaan waktu itu? Sudah berbulan-bulan mengapa luka itu tak kunjung menghilang? Ada apa sebenarnya dengan tubuh Kuroko ini?
Midorima harus menanyakannya nanti, kalau perlu menyeretnya ke Rumah Sakit. Memeriksanya secara detil. Takut ada infeksi atau sesuatu yang serius.
Padahal Midorima sendiri juga dalam keadaan basah kuyup, tapi ia masih kukuh ingin menemani sang adik, sampai kondisinya bisa dikatakan baik-baik saja.
Si penjaga tadi—atau perawat itu berkata kalau adiknya tidak apa-apa, hanya kelelahan dan demam ringan. Ia kemudian undur diri untuk pulang karena ada urusan mendesak, meminta maaf tidak bisa menemani mereka. Ia juga menitipkan kunci ruangan itu pada Midorima.
Sekarang, hanya ada Midorima dan Kuroko diruangan itu. Ia mengganti seragam basketnya dengan kaos yang di pinjamkan penjaga itu. Setelah selesai, ia mengambil kursi terdekat dan menyeretnya ke dekat ranjang Kuroko, duduk menemani adiknya.
Mengamati keadaan di luar lewat jendela, hujannya masih deras saja.
Keadaan sunyi di ruangan dengan penerangan redup itu. Suara jarum jam yang berdetik dapat terdengar bercampur dengan suara hujan di luar. Sesekali kilat terlihat dan gemuruh berbunyi.
Bosan, Ia mengambil ponselnya dan memutuskan untuk mengabari tim nya dan Seirin. Mengabari Seirin kalau Kuroko sedang bersamanya dan tidak bisa ikut merayakan kemenangan bersama mereka— Midorima tidak memberitahukan keadaan Kuroko. Ketika ingin mengabari teman setimnya dan orang rumah, ponselnya tiba-tiba mati gara-gara kehabisan daya.
Oke, bagus. Bagaimana dengannya sekarang? Midorima takut kalau mereka akan salah paham dengannya dan berpikir yang aneh-aneh tentangnya. Misalnya, depresi karena kekalahan dan akhirnya memutuskan untuk melompat dari jembatan di dekat sini.
Tentu saja, Ia tidak akan melakukan hal sebodoh itu.
Ia harus mengisi daya baterainya. Charger hapenya ada di loker Shuutoku, dan Midorima harus mengambilnya.
Baru ingin beranjak, suara lemah menyapa gendang telinganya. Perhatiannya teralih pada pemuda biru langit yang sedang tertidur di ranjang dihadapannya.
"Ngh.."
"Tetsuya?" Midorima meletakan tangannya pada pipi Kuroko. Merasakan hangat kulit Kuroko yang menjalar ke tangannya.
Memperhatikan matanya yang mencoba terbuka—memperlihatkan sepasang aquamarine yang sedari tadi tertutup. Itu berkedip beberapa kali, "Midorima..kun?"
"Bagaimana perasaanmu, Tetsuya? Ada yang sakit?"
Alih-alih menjawab pertanyaannya, Kuroko malah balik bertanya, "Ini dimana Midorima-kun?"
Ia berusaha bangun. Sepertinya tubuhnya masih lemas, dilihat dari tangan kurusnya yang bergetar ketika menopang berat tubuhnya sendiri. Buru-buru Midorima membantu menegakan tubuh adiknya itu.
"Ruang kesehatan, kau pingsan tadi."
"Eh? Begitu.. maaf sudah merepotkan Midorima-kun.."
"Tidak. aku yang salah karena tidak peka dengan keadaanmu."
"Terimakasih, Midorima-kun." Midorima dapat melihat senyum tipis di bibirnya, memang terlalu memaksakan, tapi mau bagaimanapun keadaannya juga, senyumnya itu selalu membuat darah ditubuh Midorima berdesir hebat.
Dan belakangan ini, Midorima merasa Kuroko Tetsuya jadi sering tersenyum, setelah insiden itu. Padahal, sebelum kecelakaannya terjadi, mereka—para generasi keajaiban—sempat beradu argumen dengannya. Kuroko marah pada mereka, meneriaki mereka, bahkan mengatai mereka 'monster' seusai pertandingan final waktu itu.
Ah, mungkin kecelakaan itu menyebabkan Kuroko Tetsuya kehilangan beberapa ingatannya, kalau memang begitu, baguslah.
"J-jangan salah paham, aku bukannya—"
"Ya, ya, tsunderima-kun."
"O-oi!"
"Sudah jam berapa sekarang, Midorima-kun?"
Midorima mencari keberadaan sang penunjuk waktu di ruangan yang gelap itu, setelah menemukannya matanya memicing—memastikan jam berapa sekarang ini.
"Sepuluh lewat tiga puluh meni—"
"Eh!? sudah semalam itu? Midorima-kun harus cepat-cepat pulang, nanti bisa kehabisan kereta. Jarak dari sini ke rumah lumayan jauh."
"Aku akan pulang, setelah mengantarmu."
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri. Lebih baik Midorima-kun pulang sekarang juga, Aomine-kun dan Kise-kun pasti khawatir dengan keadaan—
"Aku lebih khawatir dengan keadaanmu!" suaranya meninggi, kesal juga niatnya ditolak seperti itu, padahal jelas tubuhnya itu masih lemas. Menyadari kedua iris biru muda itu membulat, Midorima menghela nafas, sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih halus— "Maaf, tapi untuk kali ini menurutlah denganku. Aku yakin jika mereka ada diposisiku, mereka akan melakukan hal yang sama."
"... Baiklah, kalau kau memaksa."
"Nah, seperti itu." Meletakkan tangannya di kepala Kuroko, Midorima tersenyum tipis, "Tunggu sini. Aku ingin mengambil barang-barangku dan kau."
Baru ingin berbalik, tangan Midorima ditahan oleh Kuroko, "Ada apa?"
"Karena aku menang hari ini.. sebagai penghargaan, bolehkan aku meminta sesuatu?"
Dahi Midorima mengkerut, sesaat kemudian wajahnya kembali seperti biasa lagi, "Tentu saja."
...
Tetsuya sendirian dikamarnya.
Tangannya masih berada di kepalanya, merasakan kehangatan yang tersisa dari tangan Midorima Shintarou barusan.
Rasanya..
Tetsuya kedinginan. Tetsuya kesepian. Tetsuya rindu—dengan mereka.
Memandang lantai, tatapannya kosong. Azzure nya mendadak meredup dan kehilangan sinarnya.
Disaat seperti, kenapa dirinya malah merasakan perasaan itu lagi?
Homesick—kangen rumah.
Bukan rumah apartemen kecilnya yang suram dan sempit itu, tapi rumahnya yang sesungguhnya.
Ingin pulang, tapi tidak bisa lagi.
Dan lagi, Tetsuya belum sempat meminta maaf kepada mereka. Apalagi selama ini dirinya sudah menjadi beban untuk kelima kakaknya. Tetsuya juga tidak bisa memberi apa-apa selama hidupnya.
Rasanya ingin mati, tapi dia ini kan sudah mati. Bukankah lucu merasakan mati sampai dua kali? Maaf, tapi Tetsuya bukan seorang masokis.
'Jangan memikirkan hal yang tidak mungkin, bodoh.' -memaki diri sendiri.
"Aku disini. Setidaknya aku harus menghargai apa yang aku miliki saat ini."
Lagi pula, tidak buruk juga ada disini. Kelima kakak Kuroko Tetsuya sangat baik padanya, bahkan lebih.
Sedikit banyak, Tetsuya senang dengan perlakuan mereka yang memperhatikannya sebegitu protektifnya. Lupakan perilaku arogan mereka kepada orang lain. Intinya mereka menyayangi dirinya yang ada di dunia ini, kan?
Kedua kakinya ditekuk, Tetsuya memeluk kedua lututnya, bibir pucatnya menyunggingkan senyum lemah.
Kalau sedang sendirian seperti ini, pikirannya memang suka melayang kemana-mana. Makanya, di rumah, Kuroko suka mengajaknya mengobrol. Tidak membiarkannya melamun, karena jika Tetsuya sudah sibuk dengan pikirannya sendiri, ekspresi wajahnya akan berubah suram katanya. Kadang, ketika tersadar, ia mendapati pipinya sudah basah dengan air matanya sendiri. Tetsuya juga bingung, memangnya apa sih yang dia pikirkan?
Kemudian ia merasakan sesuatu menyelimuti tubuhnya, Tetsuya menengadah. Mendapati Midorima Shintarou yang sedang menutupi tubuhnya dengan jaket.
"Apa kau kedinginan?"
Tetsuya mengangguk pelan.
"Kalau begitu, kita harus cepat pulang." Midorima membalikan tubuhnya membelakangi Tetsuya, mencondongkan tubuhnya sedikit, "Aku akan menggendongmu."
"Ja-jangan Midorima-kun. Aku berat."
"Cepatlah naik, aku ini kuat, tahu!"
.
...
.
Pukul sebelas lewat tiga menit—Midorima dan Tetsuya masih berada di jalan.
Hujan sudah mereda, tinggal gerimis kecil. Tapi, dilihat dari langitnya—yang berwarna kemerahan— sepertinya nanti malam akan hujan lagi.
Tetsuya melingkarkan kedua tangannya pada leher Midorima, kepalanya disandarkan pada pundaknya. Tetsuya dapat mencium aroma tubuh khas Midorima Shintarou.
'Bahkan baunya pun sama.'
Matanya memandangi jalanan sekitar. Masih ada beberapa pejalan kaki dan mobil yang berlalu lalang di jalanan kota Tokyo, bisa dihitung jari. Padahal biasanya jam segini masih ramai.
Mungkin akibat hujan yang tak kunjung berhenti tadi.
"Midorima-kun, bisa turunkan aku?"
"Ada apa?"
"Turunkan saja dulu."
Menuruti perintah sang adik, Midorima menurunkan Tetsuya sesuai permintaannya. Tangannya mencengkram erat lengan Tetsuya—seakan jika tubuh itu tidak dipegangi akan runtuh.
"Lepas, Midorima-kun. Aku sudah kuat, kok. Sekarang, Midorima-kun bisa pulang. Rumahku sudah tidak jauh dari sini."
"Tidak. kalau terjadi apa-apa padamu.. aku juga yang repot! Pokoknya kau harus kuantar sampai rumah."
"Di persimpangan jalan di depan Midorima-kun tinggal berbelok menuju stasiun. Delapan menit lagi kereta terakhir datang. Midorima-kun harus segera disana. Rumahku dekat dari sini, hanya tinggal beberapa meter saja. Dan aku tidak apa-apa."
"Tidak—
"Kalau Midorima-kun tidak menurut, aku akan benar-benar marah padamu."
"Aku tidak main-main," Tetsuya menatap serius wajah Midorima, takut-takut Midorima tidak menganggap sungguhan perkataannya.
Mungkin ini lebih seperti pengusiran. Tetsuya tidak bermaksud seperti itu juga, begini-begini ia tidak sekejam itu.
Kalau Midorima mengantarnya sampai rumah, ia akan mengetahui letak apartemen kecilnya dan Tetsuya tidak mau itu terjadi. Bisa gawat kalau generasi keajaiban tahu tempat tinggalnya apalagi kondisi apartemennya yang sumpek dan gelap itu. Bisa-bisa dirinya langsung diseret ke rumah atau yang lebih parah, mansion utama keluarga Akashi.
Lagi, sekarang sudah malam, Midorima harus pulang, yang lain pasti khawatir apalagi setelah kekalahannya melawan Seirin, yang lain pasti akan berpikir yang macam-macam kalau sampai sekarang ia tak ada di rumahnya.
"Mulai dari sini, jangan ikuti aku. Jaa ne, Midorima-kun." Berjalan dengan langkah gontai, Tetsuya meninggalkan Midorima yang masih mematung di tempat.
Setelah beberapa langkah menjauh- "Hati-hati, Tetsuya." samar, Tetsuya mendengar suara pelan dari belakangnya.
"Kau juga, Midorima-kun.." ia masih berjalan lurus, tanpa menengok kebelakang- bibir itu tersenyum tipis.
Setelah lumayan jauh, barulah ia menengok kebelakang, memastikan kalau Midorima Shintarou sudah pergi.
Sejujurnya tubuhnya ini masih lemah. Tetsuya bahkan menyeret kakinya. Lihat saja, setelah sampai rumah ia akan langsung melompat ke kasurnya, kemudian tidur sepuasnya.
Pertandingan hari ini sungguh hebat dan melelahkan. Melawan Seiho, kemudian melawan Shuutoku. Tetsuya bahkan tidak ingat kenapa tim nya bisa menang seperti ini.
Apapun itu, yang penting Seirin menang. Tetsuya menang melawan Midorima. Dua dari lima sudah terselesaikan. Masih ada tiga lagi. Untuk kedepannya, ia tidak yakin apakah masih bisa menang lagi seperti ini.
Tidak biasanya jalanan di sekitarnya sepi. Mungkin akibat hujan deras barusan, orang-orang jadi malas berkeliaran.
kemudian aquamarine menangkap objek bergerak di tengah jalan. Kecil, sedang meringkuk. Sedangkan di arah berlawanan dari tempat Tetsuya berdiri, terlihat truk yang sedang melaju kencang.
Itu— anjing kecll itu bisa tertabrak!
Memaksakan tubuhnya untuk bergerak, Tetsuya memacu dirinya agar berlari secepat mungkin menuju tengah jalan. Bunyi klakson berbunyi nyaring. Beruntun.
Satu meter jaraknya dengan mobil itu. Tetsuya buru-buru mengambil anjing itu, memeluknya di dadanya. Tubuhnya yang kehilangan keseimbangan terbanting sebelum pada akhirnya terguling di aspal jalanan.
Untungnya jalanan sepi.
Truk itu mengerem mendadak. Si Supir buru-buru keluar dengan wajah panik, "Dimana anjing itu?! Apa aku menabraknya? Tidak tidak. Tapi tadi seperti ada bayangan yang melintas.. Eh? Ha-Hantu!?"
Tidak ada yang menyadarinya.
Tubuhnya jadi kotor akibat terguling barusan. Mencoba bangun, Tetsuya memeriksa keadaan tubuhnya sendiri. Ada lecet di kedua siku tangannya dan lututnya, pakaiannya juga ikut robek. Untungnya hanya lecet, bukan luka serius.
Walaupun hanya lecet, Tetsuya ragu luka ini akan hilang nanti. Kalaupun hilang pasti membutuhkan waktu yang lama. Tubuhnya tidak bisa beregenerasi sekarang.
"Arf!"
Perhatiannya teralihkan oleh sesuatu yang baru diselamatkannya.
"Hei, tadi itu berbahaya, tahu." Tetsuya mengelus kepala si makhluk berbulu yang sedang memandanginya di depannya.
"Arf! Arf!" makhluk itu menggesekan kepalanya pada tangan Tetsuya. kemudian sepasang mata biru mudanya menatap penuh harap pada Tetsuya.
"Ah, Oke. Aku menyerah. Mari kita pulang."
Memasukkan anjing kecil itu ke dalam jaketnya, Tetsuya berjalan pulang. Apartemen kecilnya sudah tidak jauh lagi dari sini.
.
...
.
"Tadaima.."
Tidak ada jawaban.
Tetsuya cuek, dan lanjut menyalakan lampu apartemennya.
Terang. Kamar kecilnya yang rapih dapat terlihat. Anjing di dalam bajunya melompat keluar menuju kasur.
"T-tunggu!"
Telat.
Seprai putihnya kotor. Sedangkan Nigou dengan seenaknya menggaruk-garuk, berguling-guling, menyebabkan kasurnya bertambah kotor.
Ia menghela nafas. Tetsuya ingin marah, tapi tidak bisa. Tenaganya sudah habis.
Maka, ia mendekat kearah kasurnya dan ikut menjatuhkan tubuhnya yang kotor berlumpur, disamping anjing itu. Tubuhnya yang lemah sudah diambang batas.
Masa bodoh dengan kasur, ia akan menggantinya besok.
Tetsuya mengelus anjing itu. Diperlakukan seperti itu membuat si anjing memejamkan matanya sambil menikmati belaian dari penolongnya.
"Kau.. entah kenapa dirimu mengingatkanku pada sesuatu.."
'Ya. Itu dirimu, Tetsuya.'
Gerakannya terhenti sesaat, anjing di depannya memerhatikannya. Heran, kenapa Tetsuya berhenti mengelus bulunya.
"Kau mengagetkanku saja. Apanya yang mengingatkan padaku?" menyadari tatapan dari makhluk kecil dihadapannya, Tetsuya melanjutkan gerakannya yang sempat terhenti.
'Yo. Maaf baru muncul. Matanya. Matanya mirip sekali denganmu.'
"Kalau dia mirip denganku, berarti dia juga mirip denganmu, bodoh."
'Kau akan merawatnya?'
"Ya. Sepertinya dia tidak punya rumah."
'Aku tidak keberatan, dia bisa menemanimu saat aku tidak ada. Nah, akan di beri nama apa anjing itu? Um.. bagaimana kalau.. Nigou? Ya, Tetsuya Nigou!'
"Kenapa harus ada namaku?"
'Itu juga namaku. Lagi, dia mirip denganmu.'
"Oke. Kau dengar itu? Aku akan memanggilmu Nigou mulai dari sekarang." Tetsuya mengacak-acak bulu-bulu lembut milik anjing berjenis Siberian Husky di depannya, membuat si anjing menggonggong dan melompat kesana kemari. Terlalu senang dengan nama yang diberikan, mungkin.
"Arf! Arf! Arf!"
"Nigou! Diamlah! Kau bisa—
PRANG!
Terlambat.
Setelah mendengar sesuatu jatuh barulah si anjing diam.
Sesuatu yang jatuh itu, sesuatu yang pecah itu—adalah bingkai foto yang ada di nakas samping ranjangnya.
Bingkai itu berisi foto Kuroko bersama Kiseki no Sedai, itu diambil saat tahun kedua sekolah menengah pertama.
Kuroko berada di tengah-tengah. Disamping kanan ada Aomine yang sedang merangkulnya sambil tersenyum lebar. Di sebelah Aomine ada Kise yang tersenyum tampan sambil menunjukan dua jarinya. Midorima dan Murasakibara berada di belakangnya karena tubuh mereka yang tinggi. Terakhir, Akashi disamping kirinya sedang tersenyum percaya diri, kedua tangannya dilipat, terlihat sedikit angkuh. Tidak, wajahnya saat itu masih polos.
Kaca bingkai itu.. anehnya hanya retak di bagian tengahnya. Tepat di bagian dirinya dan Aomine.
Tetsuya berjongkok untuk memunguti pecahan beling itu.
"Ah!" ia mengaduh ketika merasakan sesuatu menusuk jarinya.
Nigou, buru-buru menghampiri sang majikan, menjilati jari telunjuk Tetsuya yang mengeluarkan cairan merah kental, merasa bersalah.
"Tidak apa-apa Nigou. Aku tahu kau tidak sengaja. "
Sambil melanjutkan memunguti pecahan beling itu, Tetsuya merasa sesuatu yang aneh- bergejolak di dadanya. Perasaannya tidak enak.
Ia melirik jendela kamarnya— memperlihatkan cahaya kilat yang menyala sedari tadi. Sepertinya, malam ini badai akan datang.
.
.
.
Malam itu, Tetsuya tidak bisa tidur dengan tenang.
Bibirnya terbuka-tertutup, keringat dingin. Matanya ingin terbuka tapi tidak bisa. Nigou yang menyadari keanehan pada Tuannya terbangun dan menjilati pipi Tetsuya—mencoba menenangkannya.
Suhu tubuhnya memang tinggi, tapi bukan itu yang membuatnya uring-uringan.
Malam itu dia mendapatkan mimpi buruk.
Kepalan tangan yang tak terbalas. Punggung yang berlari menjauh. Cahaya yang menyilaukan.
"Untuk apa kau mengoper? Aku sendiri bisa menang melawan semua musuh. Yang bisa mengalahkanku hanya aku."
.
.
.
xoxoxoxoxo
.
-Di lain dunia-
.
.
Dua.
Dua kali Seijuuro merasakan ditinggal orang yang paling berharga dihidupnya. Mengantar mereka ke tempat peristirahatan terakhir mereka. Menaburkan bunga diatas gundukan tanah yang didalamnya terbaring orang-orang yang disayanginya.
Rasanya masih tetap sama, menyakitkan. Tapi anehnya, yang ini jauh lebih sakit.
Apalagi pemakaman adiknya waktu itu. Seijuuro hanya bisa diam membisu saat melihat Akashi Tetsuya yang meninggal dalam keadaan seperti itu. Dalam peti berlapis kaca, dikelilingi bunga yang indah, tubuhnya yang sudah tak utuh itu terbaring. Seijuuro kagum pada mereka yang mengurus jasad adiknya, bisa-bisanya mereka menyusun anggota tubuh Tetsuya yang sudah terpisah sampai menjadi satu kesatuan—walaupun mungkin ada yang tertinggal. Tapi sungguh, itu luar biasa. Dan ajaibnya, kepalanya masih utuh—tanpa cacat. Seijuuro juga tidak mengerti kenapa bisa seperti itu. Pada wajahnya, Seijuuro melihat seutas senyum yang tersungging dibibir pucatnya, membuatnya ikut tersenyum miris.
Hei, Tetsuya—bisa-bisanya kau memasang ekspresi wajah seperti itu sementara kakakmu sedang berduka disini..
Seijuuro ingin menyentuhnya. Tapi apa daya, terhalang oleh penutup kaca. Terakhir kali dirinya bersentuhan dengan kulit pucat adiknya itu adalah beberapa hari sebelum tragedi itu terjadi. Seijuuro yang menampar adiknya pada saat itu karena sudah berkata lancang padanya. Dibilang lancang juga bukan, Seijuuro hanya tidak mau mengakui kenyataan pada saat itu. Kenyataan yang dilontarkan secara terang-terangan oleh Tetsuya.
.
.
Pernah,
Suata masa—yang ia juga lupa kapan itu, pernah Akashi Seijuuro berjanji kepada Ibunya.
.
.
'Sei-chan, lihat? Kau akan mempunyai adik lagi!'
'Waaah~ benarkah Kaa-chan? Aku akan menjadi kakak lagi?'
'Yap! Ah, tapi mungkin ini yang terakhir.'
'Eh? Kenapa?'
'Ada masalah dengan rahim Kaa-chan dan sepertinya setelah melahirkan adik Sei-chan yang ini, rahim Kaa-chan akan diangkat.'
'Diangkat? Apa maksudnya, Kaa-chan?'
'Itu artinya Kaa-chan tidak bisa melahirkan adik untuk Sei-chan lagi.'
'Heee? Kenapa begitu? Apa itu salahnya yang sekarang ada di perut Kaa-chan? Hei, kau—belum lahir saja sudah menyusahkan Kaa-chan. Bagaimana kalau nanti sudah lahir? Kalau kau hanya menyusahkan lebih baik tidak usah ada saja!'
'Hush! Sei-chan tidak boleh berkata seperti itu! Bukan salahnya. Salah Kaa-chan yang tidak menjaga kesehatan dengan baik, sekarang minta maaf.'
'Uhm.. gomen ne, Otouto-chan..'
'Nah, begitu. Ne, Sei-chan tahu? makin banyak adikmu, makin banyak pula tanggung jawabmu nanti.'
'Memangnya, tugas kakak itu apa, Kaa-chan? Aku.. ingin menjadi kakak yang baik bagi mereka.'
'Menyayangi, melindungi, mengasihi, saling mengerti dan peduli—tidak hanya menemani dan mengajaknya bermain saja.'
'Hanya itu? kalau begitu aku akan melakukan itu semua! Agar layak dan pantas menjadi kakak bagi mereka!'
'Berkata di mulut itu gampang, menjalaninya yang susah. Ah, tapi kalau Sei-chan sudah berkata seperti itu, Kaa-chan akan mempercayakan mereka padamu.'
'Tentu saja. Kaa-chan bisa memegang perkataanku!'
.
.
Sepasang iris delima terbuka perlahan, dan langsung disapa oleh setumpuk berkas-berkas yang berada diatas meja kerjanya. Berantakan.
Komputer yang masih menyala, pada layarnya terlihat sedang mengoperasikan program Microsoft Excel.
Akashi Seijuuro menegakkan tubuhnya dari kursi empuknya. Merenggangkan otot-ototnya yang sedikit kaku. Melirik pada jam kecil yang berada diatas mejanya, sudah pukul enam pagi. Ah, sepertinya dirinya ketiduran saat mengerjakan laporan keuangan perusahaan semalam.
Seijuuro menyandarkan kembali tubuhnya pada kursinya, menghela nafas panjang. Memejamkan matanya sekali lagi. Kesadarannya memang belum sepenuhnya kembali.
Lama-kelamaan telinganya dapat mendengar sesuatu dari lantai satu. Suara gaduh—yang pastinya disebabkan oleh adik-adiknya. Di bawah ruang kerjanya adalah ruang makan.
Biasanya Ryouta dan Daiki yang sering membuat ulah. Seperti sebelum-sebelumnya—
'Ini daging milikku! Mengalahlah pada kakakmu, Daikicchi!'
'Heee? Bukannya terbalik ya? Kakak yang seharusnya mengalah pada adik! Ini bagianku. Kau sudah punya bagianmu sendiri!'
'Kau juga—
Bibir itu tersenyum tipis, Seijuuro membuka mata, "Sudah saatnya.. ya?"
Mendengar adiknya berkelahi seperti itu, Seijuuro jadi ingin bergabung dan menenangkan mereka— seperti dulu.
Ya, seperti dulu, Seijuuro hanya ingin kembali seperti dulu.
-Dan ia sudah memutuskannya.
.
.
.
"Kau itu tidak sadar ya? Badan sudah sebesar itu masih saja rakus. Dasar tidak tahu diri!"
"Dai-chin, Ryou-chin.. sudahlah, dagingnya masih banyak." Atsushi angkat bicara—
"Pantas saja kau belum mendapatkan pacar. Tidak ada gadis yang mau mendekat padamu!"
-diabaikan. Kepala ungu memilih diam dan menyantap makanannya, "Itadakimasu."
"Apa kau bilang?!" Menggebrak meja, Akashi Daiki sepertinya terpancing dengan omongan kakaknya sendiri yang memang menyindir dirinya ini.
"Apa? Kau baru menyadarinya. Ckck, kenyataan itu memang pahit.. ya?"
"Daripada kalian berkelahi lebih baik salah satu dari kalian panggil Seijuuro!" Shintarou geram. Apa-apaan dua orang ini? bertengkar hanya karena daging? Padahal daging yang disediakan di meja makan sudah lebih dari cukup, kenapa masih di permasalahkan? Ambil bagiannya jika masih belum cukup. Shintarou rela bila bagiannya bisa membuat mereka tutup mulut.
Ryouta juga.. tidak ingat umur. Sudah tahu Daiki orangnya emosian, malah dipancing seperti itu.
Persetan. Shintarou sudah tidak peduli lagi.
Atsushi membawa makanan bagiannya pergi, sepertinya sudah mulai risih.
Sedangkan, Shintarou hanya bisa menghela nafas.
Dulu, waktu masih kecil, ketika hal seperti ini terjadi, hanya Seijuuro dan Tetsuya yang bisa membuat dua orang ini diam dan akur kembali.
Si bungsu, Tetsuya, akan menawarkan bagiannya kepada salah satu diantara mereka. Keduanya tentu tidak akan tega mengambil makanan si kecil yang memiliki tubuh mungil seperti itu.
Sementara Seijuuro akan memandang mereka dengan tatapan datarnya. Dan ketika itu terjadi, berarti sang kakak tertua sudah geram dengan tingkah mereka. Kalau Seijuuro sudah marah.. ia akan menahan uang jajan mereka atau yang terburuk mengurung mereka dalam satu kamar yang gelap berdua, agar keduanya bisa saling merenung (Seijuuro yang mengatur segalanya disana saat itu, termasuk keuangan mereka, karena kedua orang tua mereka jarang dirumah).
Ponselnya berdering tiba-tiba, ia merogoh sesuatu yang bergetar itu dari saku celananya, melihat siapa si pemanggil—
'Takao Kazunari calling'
Pagi-pagi begini.. kenapa Asitennya ini menganggunya?
Bukannya Shintarou sudah bilang pada para bawahannya ia akan libur setiap hari Minggu, dan ketika ia sedang berlibur, jangan pernah mengganggunya kalau mereka tidak ingin kehilangan pekerjaan mereka.
Tapi untuk Takao Kazunari, sepertinya orang ini memang dasarnya dungu.
Mencari tempat yang enak, Shintarou menjauh dari ruang makan, keluar dari ruangan itu. Setelah menutup pintu ruangannya, barulah Shintarou mengangkat panggilan itu. Tubuhnya tingginya bersandar pada tembok.
"Halo! Ohayou, Shin-chan!"
"Bagaimana harimu? Apakah kau sudah makan? Apa yang sedang kau lakukan? Ah, kalau, aku sudah makan dan—
"Berisik. Ada perlu apa kau meneleponku?" di waktu yang tidak tepat seperti ini, "Kalau tidak penting aku akan menutupnya sekaran—
"Tunggu, Shin-chan! Hidoii ne~ Aku membawa informasi tentang Tecchan!"
"Katakan, Takao."
"Aku sudah menyelediki orang-orang terdekat dan yang berhubungan terakhir kali dengannya. Ada empat. Sejauh informasi yang kudapat, adikmu itu katanya dingin dan tertutup disana. Orang-orang itu adalah Ogiwara Shigehiro, Momoi Satsuki, Haizaki Shougo, dan Hana—
"Shintarou?"
Berbalik, Shintarou dapat melihat surai merah kakaknya yang sedikit acak-acakan, ada handuk kecil yang tersampir dilehernya. Sepasang krimsonnya memandangnya penasaran—
.
.
.
"Panggilan dari siapa?"
.
.
.
chapter 8 end-
AN:
Ini panjang banget~ chapter terpanjang yang pernah saya buat (6k+). Semoga ga ngebosenin deh.. :'D
DAAAAN—Ini kok rasa-rasanya banyak MdKr nya.. ya? Belakangan ini lagi suka sama Midorin, jadi kebawa kesini~
Konfirmasi dikit yaa, fik ini ga menjurus ke Sho-ai. Walaupun ada hint-nya tapi itu gak bermaksud kok..
Untuk kalian yang sudah membaca dan mem-follow/fav apalagi review.. Terimakasih! :D *bow*
Ah ya, satu lagi. Chapter depan mari kita ganti dunia, masuk bagian 'Kimi no Shiranai Monogatari' bagian dua '-')/
Sign
-nameless pierrot-
