War Prisoner (AkaKuro ver.)
.
Disclaimer
War Prisoner © Li Hua Yan Yu
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki.
.
Cast
Akashi Seijuurou as Wanyan Xu
Kuroko Tetsuya as Su Yi
Warning : Yaoi
Cerita ini mungkin sedikit berbeda dengan cerita aslinya
Chapter 10
Kuroko sudah dalam mood yang buruk, setelah mendengar kata-kata Akashi moodnya bertambah buruk.
"Dari sudut mana kau mengatakan kami berteman dengan baik? Terima kasih padamu, kami berdua menjadi musuh sekarang. Jika kami tidak rukun seperti yang kau katakan, kenapa kau harus merasa khawatir?"
Akashi terkekeh, tapi tidak menjawab perkataan Kuroko. Ia menduga bahwa kekasihnya yang terlalu polos pasti tidak diuntungkan ketika bercakap-cakap dengan Seiya yang licik dan telah menderita kerugian dalam perang kata-kata dengan anak itu. Akashi menepuk puncak kepala anaknya.
Seiya hanya memutar matanya malas. "Ayah, aku masih mempertimbangkan apakah aku akan menyukainya atau tidak, tapi setidaknya sejauh ini, aku tidak merasa membencinya." Seiya terkekeh kecil. "He he, kau benar. Pria yang lebih suka mati daripada menyerah ini, kini mempertimbangkan kebaikan demi Rakuzan."
Setelah mengatakan itu, Seiya melanjutkan memberitahu ayahnya semua yang baru saja terjadi. Meskipun itu akan meningkatkan kemarahan Kuroko, dan pria itu benar-benar bingung. Hanya tetap berakar pada tempat duduknya, tidak tahu apakah ia harus menjelaskan dengan kata-kata atau tidak.
Setelah Seiya selesai makan, dia menatap Kuroko dengan senyum gembira. "Ayahku baru saja membuat pengumuman yang menghancurkan bumi, diluar mungkin masih terasa tegang. Kau harus merawat dirinya. Aku selalu menjadi orang yang bijaksana, aku tidak akan tinggal di sini dan akan segera pergi."
Beralih pada Akashi. "Ayah, aku tahu keputusan ini masuk akal. Ketika saatnya tiba untuk memindahkan ibukota, kau harus ingat untuk membawa semua hal yang telah kutentukan didalam daftarku." Setelah itu, Seiya berjalan angkuh keluar dari ruangan.
.
Akashi tidak bisa menahan tawanya, tapi Kuroko hanya memandang dingin kepadanya. "Ayah dan anak sama saja. Anakmu tumbuh sama menjengkelkan seperti dirimu."
Akashi menjawab sambil tersenyum. "Kau hanya mengatakan bahwa kau marah karena dia menang selama kalian berbincang. Apakah kau benar-benar tidak berpikir bahwa Seiya itu sangat cerdas dan lucu? Sejak kelahirannya dia telah menghadapi kesulitan, dia bahkan sudah kehilangan ibunya. Tapi dia tidak pernah membuatku merasa khawatir yang berlebihan, ketika dia naik tahta di masa depan Seiya pasti akan menjadi raja yang luar biasa."
Kuroko tidak bicara, dalam hatinya dia tahu bahwa apa yang Akashi katakan adalah benar. Meskipun mereka bersumpah sebagai musuh, Kuroko tetap saja menjadi sedikit tersentuh oleh hubungan yang hangat dan akrab antara ayah dan anak itu. Sangat luar biasa mengingat bahwa mereka begitu royal satu sama lain.
Renungan Kuroko menghilang ketika Akashi mendekatinya. Memerintahkan pelayan istana untuk menghidangkan makanan yang lain, dia melingkarkan lengannya pada tubuh Kuroko. Memeluk pria itu dari belakang.
"Tanggal keberuntunganmu telah diputuskan. Tidak lama lagi, kau akan kembali ke tanah airmu. Jika kau berperilaku baik, aku bahkan dapat membiarkanmu bertemu dengan teman-teman lamamu. Apakah kau bahagia, Tetsuya?"
"Hm... Aku pikir aku akan lebih bahagia jika kau memungkinkanku untuk bertemu dengan teman-teman lamaku bahkan jika aku tidak berperilaku baik." Kuroko menghela napas dan memandang keluar jendela, menatap kosong untuk sementara waktu.
"Gunung dan sungai akhirnya hancur berkeping-keping dan dibawa oleh angin. Akashi-san bahkan jika kau mengizinkanku bertemu teman-teman lamaku, apa yang berubah? Seirin bukan lagi Seirin. Bahkan jika kami bertemu, keadaan dan orang-orang telah berubah. Mengingat itu hanya akan menyebabkan lebih banyak penderitaan."
Akashi tidak membalas, hanya memeluk Kuroko semakin erat. Akashi terus berfikir, apakah ia harus lebih menekan Kuroko setelah mencapai mantan wilayah Seirin. Akashi merasa, ia telah bersikap tidak adil pada Kuroko. Lebih dari sebelumnya, yang telah ditutupi oleh bekas luka dari banyaknya kesengsaraan.
Beruntung sebelum ia berfikir lebih jauh, makanan mereka telah disajikan. Melepaskan Kuroko dari pelukannya, Akashi duduk seraya memaksakan seulas senyum.
"Baiklah, jangan terlalu banyak berpikir. Setelah kepindahan ibukota, aku akan membebaskan para tawanan dan membiarkan mereka kembali pada keluarga mereka masing-masing. Mereka juga akan kuberikan sebidang tanah pertanian subur. Jadi, mereka tidak harus terlibat dalam medan pertempuran kelak. Sehingga mereka dapat menikmati waktu bersama keluarga mereka. Bukankah itu lebih baik?"
Kuroko terdiam, beberapa kali melirik Akashi dari sudut matanya. "Jika kau benar-benar tulus, itu adalah hal yang baik. Aku akan berterimakasih atas nama mereka. Tetapi, aku ingin tahu. Berapa harga yang harus ku bayar atas tindakanmu itu?" Tanya Kuroko gusar.
Akashi hanya terdiam setelah mendengar kata-kata Kuroko. Pria bersurai biru itu menjadi cemas, khawatir jika mungkin Akashi akan menyusun rencana jahat lagi.
Kuroko tidak takut akan pukulan dan penyiksaan. Apa yang ia takutkan adalah keinginan tidak logis dan tidak tahu malu Akashi. Deklarasi tentang kasih sayang yang masih belum pasti benar atau salah telah digunakan untuk mengancam dirinya. Kuroko benar-benar takut, ia sudah tersiksa baik secara fisik maupun mental. Dia bahkan ragu, apakah ia bisa bertahan lebih dari cobaan ini.
Akashi tersenyum pada Kuroko, lalu berdiri untuk menuangkan secangkir anggur untuk Kuroko dan dirinya sendiri.
"Harganya, akan dibayar secara alami oleh waktu. Tidak saat ini. Ketika hari itu tiba, aku takut bahwa aku tidak tahu harus memanggilnya apa. Meski pada akhirnya aku yang akan keluar sebagai pemenangnya. Karena aku memiliki kendali atas semua kelemahan Tetsuya. Jika tidak, hal itu tidak akan mudah untuk di capai." Ucap Akashi serius.
Kuroko merasa takut. Sejak Akashi tidak membuat tuntutan nafsu pada Kuroko dua hari terakhir, ia berpikir bahwa Akashi secara bertahap melepaskan ide-ide tersebut. Mungkinkah Kuroko telah salah perhitungan?
Namun, jika pria itu punya. Mengapa ia tidak membuat gerakan selama dua hari terakhir.
Seirin telah menjadi miliknya. Karena kini ada sebuah permata lain dimahkotanya. Tak lama lagi, Akashi bahkan akan memindahkan ibukota kesana. Perlawanan Kuroko adalah satu-satunya hal yang tidak berjalan sesuai keinginan Akashi. Selain fakta itu, Kuroko tidak melihat hal lain lagi tentang dirinya yang membuat Kaisar Rakuzan itu merasa khawatir.
Akashi mengangkat tangan Kuroko, memaksakan pria itu menaikkan cangkirnya.
"Jangan terlalu banyak berpikir, Tetsuya. Karena itu tidak akan mengubah apapun. Nikmati saat ini, ada anggur. Temani aku minum. Karena mulai besok, kita harus membuat persiapan kepindahan ibukota. Dimasa depan seperti apa penampilan menjijikanku dimatamu tidak dapat diprediksi. Setelah malam ini kita mungkin tidak bisa lagi berbagi suasana seperti ini."
Kuroko mendorong Akashi menjauh, lalu pergi mencari buku untuk di baca. Namun dengan pikiran yang terpecah, ia tidak dapat berkonsentrasi pada buku yang ia baca.
.
.
.
Untuk negara seperti Rakuzan, memindahkan ibukota adalah hal yang paling penting yang pernah terjadi sejak sejarah mereka didirikan. Dibandingkan dengan memindahkn ibukota, kekalahan berat mereka sebelumnya ketika mereka telah digerogoti oleh Seirin bahkan tampak begitu sepele. Selama jangka waktu ini, seluruh negeri bergembira. Diskusi hangat terdengar di setiap jalan dan setiap gang. Meskipun tanah Rakuzan memiliki iklim yang keras dan tandus, itu masih dianggap rumah oleh banyak orang dan warga Rakuzan yang enggan untuk meninggalkan tanah asal mereka. Beruntungnya, Akashi selalu mengatur negara dengan baik. Rakyatnya memiliki keyakinan yang cukup kuat pada dirinya bahwa apa pun perbedaan pendapat yang populer di sana, keputusannya tidak pernah menimbulkan pemberontakan atau konspirasi.
Di istana, alun-alun yang biasanya digunakan untuk latihan senjata sekarang dipenuhi puluhan ribu tentara kekaisaran, dibagi menjadi sepuluh kelompok besar yang tersusun rapi. Berpakaian seragam lengkap mereka berdiri dengan bangga, mereka dibuat untuk memiliki rasa hormat. Ketika Akashi dalam seragam militer lengkap muncul dari istana dengan langkah tergesa-gesa, sorakan meriah langsung terdengar dari alun-alun. Saat dia berjalan, dia melihat sekeliling istana yang telah mengambil upaya besar dari beberapa generasi nenek moyangnya ketika dibangun. Menghilangkan nostalgianya, saat ini dia merasa punya ambisi besar.
Berpaling dari istana, Akashi menunjukkan ketidak ragu-raguan saat dia menaiki kudanya dan kasim yang menyertainya segera berteriak keras.
"Mulai prosesi!" Suara itu bergema panjang dan keras dalam batas-batas istana persegi.
Ketika mereka melakukan perjalanan ke selatan iklim begitu hangat, bunga liar dengan nama yang tidak mereka ketahui tumbuh dalam berlimpah sepanjang jalan, menghidupkan langkah sejauh mata memandang.
Akashi tidak lagi mengendarai kudanya, dia memilih untuk naik kereta dengan Kuroko, memaksanya untuk berkomunikasi dengan segala macam topik acak. Ini adalah upaya gangguan disengaja. Akashi takut bahwa karena sebentar lagi mereka akan mencapai tanah air Kuroko, pemandangan akrab akan menyebabkan pria itu lebih menderita.
Tentu saja, Kuroko tidak tahu apa-apa mengenai kekhawatiran Akashi dan tidak memiliki apresiasi untuk memikirkannya. Dia hanya merasa sangat gelisah dan suram. Kuroko mencoba untuk mengusir pria itu pergi beberapa kali, tetapi Akashi tetap menolak untuk pergi. Pada akhirnya, Kuroko hanya menolak untuk melanjutkan percakapan. Menutup matanya seakan beristirahat, secara bertahap, Akashi juga terdiam.
Sama seperti matahari terbenam, secara kebetulan mereka tiba di sebuah tempat tinggal sementara kekaisaran. Tempat ini awalnya digunakan oleh Raja Seirin sebagai istana rekreasi ketika dia ingin menghibur diri dari ibukota, oleh karena itu istana ini dibangun begitu mewah dan cantik. Tempat yang cocok untuk makan malam. Namun, Akashi enggan bergabung dengan para selir untuk makan malam saat ini, dia bergegas ke tempat Kuroko. Setelah masuk, matanya langsung tertuju ke makanan tidak tersentuh yang diletakkan di atas meja, hatinya berdenyut sakit. Merasakan jika di perutnya ada sesuatu yang salah, dia mencari- cari Kuroko. Menemukan pria mungil itu duduk disamping jendela, menatap kosong kearah luar dengan secangkir anggur ditangannya. Saat Akashi hendak mendekatinya, lamunan Kuroko lenyap.
"Mencari dan mencari, dingin dan muram, sedih dan berduka. Momen ketika kehangat telah hilang, sangat sulit untuk menemukan sisanya. Dengan dua atau tiga cangkir anggur lemah, bagaimana aku bisa menahan angin malam yang keras ini?" Sebelum suaranya memudar, dua aliran air mata mengalir dipipinya.
Entah kenapa, hati Akashi terasa nyeri. Kuroko adalah seorang pria yang sangat kuat. Akashi tidak bisa mengingat kapan pria itu menangis dihadapannya. Meskipun hatinya sakit, dia tidak tahu bagaimana untuk menghibur Kuroko. Setelah semua, dia tidak bisa sangat baik dan mengatakan. '
Tetsuya, karena kau begitu sedih, aku tidak imengnginkan kerajaan Seirin lagi.'
Kuroko mengangkat kepalanya, melihat bahwa Akashi berada di belakangnya, menatap Kuroko terpesona. Kuroko tidak tampak terkejut, hanya berbalik dan kembali menatap keluar jendela. Akashi berpikir bahwa Kuroko tidak ingin mengakui kehadirannya saat ini, hendak berbalik dan pergi diam-diam, Kuroko tiba-tiba berkata.
"Tahun lalu, ketika aku pertama kali menerima perintah untuk meninggalkan rumah dan pergi ke perbatasan. Aku melewati istana ini di jalan, tapi situasi militer sangat mendesak saat itu dan aku harus buru-buru. Aku hanya bisa menyisihkan istana megah ini beberapa lirikan, tapi aku berpikir bahwa ketika kemenangan telah tercapai, aku akan mengambil jalan yang sama kembali dan tur di tempat ini. Aku tidak pernah menduga bahwa situasi akan berubah begitu banyak, dimana aku tidak pernah meninggalkan perbatasan. Sekarang aku kembali ke sini, dengan status yang berbeda. Selanjutnya, negaraku telah hancur dan orang-orangnya telah hilang, tanah ini memiliki Raja baru sekarang. Tempatnya tetap sama sementara orang-orang dan keadaan telah berubah."
Akashi mengalami berbagai emosi yang tercampur di dalam hatinya, tapi ia berhasil mengatakannya walau dengan kesulitan. "Sudah terlambat, kau tidak harus menangisinya. Jika dengan menidurimu saat ini kau bisa melupakan kesedihanmu, maka aku akan dengan senang hati untuk membantumu. Aku telah menahan diri begitu lama dan itu menjadi sangat tidak nyaman sekarang."
Mendengar kata-kata itu, semua kekhawatiran dan kesedihan dalam hati Kuroko langsung digantikan oleh kemarahan serta tatapan sengit yang ia berikan pada Akashi. Suara dengusan yang sarat dengan cemoohan. Selain itu, Kuroko tidak punya cara lain untuk protes.
Akashi melihat bahwa kesedihan Tetsuya-nya telah hilang dan berubah menjadi kemarahan, pria itu memasang ekspresi yang disukainya. Dalam hati Akashi bersyukur bahwa kesedihan itu telah hanyut. Tertawa riang, Akashi menggendong Kuroko ketempat tidur dan berkata dengan lembut.
"Tidurlah. Kita masih harus bangun pagi besok untuk melanjutkan perjalanan kita."
.
.
Mereka berangkat saat matahari terbit dan beristirahat saat matahari terbenam, pola ini berlangsung selama tiga bulan sebelum akhirnya mereka mencapai tujuan mereka. Teiko, kota yang dulunya menjadi ibukota Seirin.
Akashi menghentikan pasukan yang menyertainya, hanya Momoi. Midorima, Murasakibara dan Kise yang diizinkan untuk menemani mereka lebih lanjut. Dia mengendarai kudanya, sementara Kuroko masih di kereta. Tanpa gembar-gembor, mereka memasuki kota. Jalan-jalan penuh dengan orang, tetapi tidak satupun dari mereka tahu bahwa mereka sekarang di hadapan tuannya, raja baru negeri ini.
Melihat melalui jendela kereta, Kuroko melihat bahwa spanduk dari Rakuzan tergantung di mana-mana. Tentara yang ditempatkan di atas tembok kota mepakai armor khas Rakuzan. Berdiri tegak dan bangga di sepanjang benteng. Pemandangan yang mengesankan. Tetapi bagi Kuroko, semua itu terasa seperti api yang membakar dadanya.
Akashi mendekati kereta, dan seolah-olah mencari persetujuan Kuroko.
"Tetsuya, seperti yang kau lihat. Aku tidak mengganggu rakyatmu, juga tidak tidak memaksa mereka untuk mengadopsi pakaian dan kebiasaan Rakuzan. Kota ini berkembang lebih dari sebelumnya, tapi masih terlihat sama. Apakah kau merasa lebih baik sekarang bahwa kau dapat melihat bahwa negaramu masih familiar? Juga, orang-orang terlihat bahagia dan tertawa seperti biasa, rasa sakit apa pun yang mereka rasakan akibat jatuhnya negara mereka, jauh lebih ringan daripada dirimu. Aku tidak membual, tapi selama masa pemerintahan Raja Seirin, orang-orang tidak pernah menikmati kebahagiaan dan keamanan sebanyak yang mereka rasakan sekarang. Seperti kata pepatah 'rakyat adalah yang paling penting, negara kedua, dan monarki yang terakhir'. Selama rakyat dapat menikmati perdamaian dan kemakmuran, spesifikasi siapa yang ada di atas tahta tidaklah penting. Apakah itu benar-benar penting bagimu untuk membenciku begitu banyak?"
Kuroko mengabaikannya, masih memfokuskan perhatian pada adegan di luar jendela. Akashi tidak putus asa, setelah sedikit tertawa. Dia dengan berani melanjutkan, menyanyikan puji-pujian sendiri ketika Kuroko berbalik menatapnya dengan wajah serius.
Akashi belum pernah melihat tatapan seperti itu di mata Kuroko dan dia tidak bisa tidak merasa cemas. Tidak mengetahui ekspresi apa yang dikeluarkan Kuroko kali ini. Untuk keheranannya, Kuroko tersenyum tipis.
"Terima kasih."
.
.
.
.
To be Continue
.
.
.
Terima kasih bagi yang sudah review. Maaf saya tidak bisa membalas review untuk sementara.
