SLEEPLESS NIGHT
Chanyeol memeriksa jam pada pergelangan tangannya untuk kesekian kalinya hari ini. Ia berdecak dalam hati, kesal sedang rahang kaku menahan emosi dalam dirinya. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan dewan direksi dan lihat bagaimana ia malah terjebak macet sedang pesta penyambutan akan di lakukan dalam waktu kurang satu jam ke depan.
Chanyeol memiliki image sebagai pemimpin tepat waktu, tau waktu dan Korea malah membuat pribadinya itu tercoreng dalam sekejab mata. Chanyeol si professional, benar mengutuk negara itu. Bahkan di hari kepulangan kali pertama dalam hidupnya.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Chanyeol bertanya pada sopir di depannya dengan kesal.
"Sepertinya terjadi kecelakaan, Tuan." Sopir itu menjawab takut-takut. Ia bahkan tak berani melirik sebentar saja spion di depannya—menghindari betul amukan amarah yang mungkin dilakukan oleh si Tuan Besar di belakangnya itu.
"Apa tidak ada jalan pintas?" Chanyeol bertanya lagi.
"Beberapa ratus meter ke depan terdapat persimpangan, saya akan mengambil jalan pintasnya disana."
Chanyeol mendengus dan melempar tubuhnya kembali pada punggung jok. Arah pandangannya ia bawa keluar jendela, melihat tak peduli pada sekumpulan remaja sekolah menengah yang berada di atas trotoar. Jumlah mereka banyak, ketika Chanyeol perhatikan lagi, nyatanya mobil yang ia tumpangi berhenti tak jauh dari sebuah gedung sekolah.
Pantas saja.
Namun Chanyeol tak ambil peduli. Matanya hanya terlempar kosong pada luaran sana—membunuh kesal akan kemacetan yang nyatanya tak jua berakhir.
Di dekat gedung sekolah itu terdapat sebuah kedai es krim yang di penuhi oleh para siswa berseragam. Canda tawa mereka tanpa sadar menarik mata Chanyeol dan berganti memperhatikan kuruman kecil itu. Matanya terpaku, terarah sejurus pada salah satu siswa yang ada disana.
Dia seorang remaja laki-laki. Tubuhnya mungil, tidak kurus—dia berisi, rambutnya berwarna hitam bergoyang mengikuti setiap pergerakan yang ia lakukan. Anak lelaki itu mengenggam es krim di tangannya. Warnanya merah muda—es krim stroberri yang mulai meleleh dan cepat-cepat ia jilati.
Beberapa mengotori wajahnya tapi dia malah tertawa untuk dirinya sendiri.
Itu menarik perhatian Chanyeol, tanpa sadar mulai menularinya dalam sebuah kedutan samar senyum.
Cantik. Chanyeol berguman dalam hati. Senyumannya begitu cantik. Begitu mempesona.
Lelaki yang beberapa jam lagi akan di angkat sebagai direktur Licth Group itu tak sadar bagaimana detakan jantungnya perlahan mulai berdegup kencang, bergemuruh dengan irama tanpa beban memenuhi seisi rongganya.
Chanyeol terpaku. Hazel tajamnya bahkan tak berkedip menatap remaja itu. Itu aneh, rasanya sedikit konyol. Namun entah mengapa Chanyeol malah menyenangi sensasi itu, sensasi rasa yang merupakan kali pertama menyusupi dirinya. Kali pertama dalam hidupnya.
Chanyeol tanpa sadar menurunkan kaca jendela—seolah tak cukup hanya dengan melihat sosok itu di balik kaca tebal hitam yang menghalangi. Ia menurunkan kaca jendela itu, menatap lebih leluasa sosok asing yang menarik perhatiannya, menarik rasa menyenangkan dalam dirinya.
"Baekhyun hyung!"
Baekhyun. Namanya adalah Baekhyun.
"Kau disini? Aku mencarimu kemana-mana."
"Oh, Sehunie urusanmu sudah selesai?"
Suaranya… mengalun lembut sekali. Chanyeol bahkan tak menangkap suara piruk riuh pada jalanan, Pendengarannya seolah hanya menyedot suara itu. Suara pemilik senyum menawan itu.
"Sudah. Ayo kita pulang sekarang."
"Ayo!" Serunya.
Keduanya menarik langkah bersama, menelusuri trotoar tanpa menyadari Chanyeol yang berada pada badan jalan, memperhatikannya tanpa berkedip—melewatinya begitu saja, tanpa sisa, tanpa ingatan yang sama… hanya Chanyeol.
Chanyeol yang memiliki degup jantungnya, hanya dirinya sendiri. Hanya dia seorang diri.
…
"Papa…" Suara Jackson mengalun pelan di depan pintu kamar orangtuanya. Tangan kecilnya terkepal mengetuk daun pintu itu sembari memanggil Baekhyun yang jelas terlelap di dalam sana.
"Papa bolehkah aku tidur bersama Papa malam ini?" Bocah berumur 5 tahun itu bertanya. Ia menunggu sesaat namun tak mendapati balasan apapun. "Papa?" Panggilnya lagi. Pintu itu ia ketuk lagi, lebih kuat namun hanya kekosongan yang ia dapati.
"Hujannya deras sekali, aku takut." Anak itu melirih pelan. Ia berjinjit, mencoba meraih kenop pintu namun di detik selanjutnya ia dirudung kecewa kala mendapati pintu kamar itu nyatanya terkunci.
"Papa…"
"Jackson?" Jackson menoleh segera pada ujung lorong dan mendapati Chanyeol berdiri disana. "Apa yang kau lakukan disini?" lelaki yang menjadi orangtuanya itu mendekati dirinya.
"Aku ingin tidur dengan Papa." Jawab anak itu. "Papa tidak keluar."
"Apa kau mendapat mimpi buruk?" Chanyeol bertanya, menerka pada kebiasaan Jackson. Anak itu menganggukan kepalanya.
"Papa mengunci pintunya." Adunya. Tangannya menunjuk pintu dan Chanyeol ikut mengalihkan pandangannya kepada bagian datar itu. Nafasnya ia hela pelan lalu ia bawa Jackson ke dalam gendongannya.
"Daddy akan menemanimu tidur." Kata Chanyeol sembari mengambl langkah menuju kamar Jackson.
"Apa Papa sakit?" disana Jackson bertanya lagi. Matanya masih menatap pintu kamar yang ditempati oleh Baekhyun juga Chanyeol yang perlahan mulai menjauh dari pandangannya.
"Ya, Papa sakit." Jawab Chanyeol.
"Apakah parah?"
Chanyeol menggeleng. "Papa baik-baik saja, Papa hanya harus beristirahat."
Chanyeol mendorong pelan pintu kamar Jackson dan menutupnya kembali. Tubuh anaknya itu ia baringkan di atas tempat tidur sedang ia menempatkan dirinya duduk pada pinggiran tempat tidur.
"Tidurlah," katanya. "Daddy akan menemanimu malam ini." Selimut Jackson ia tarik sampai batas dada dan memberikan sebuah usapan pada puncak kepalanya sesaat.
Jackson tak memberikan sahutan apapun. Ia memejamkan matanya dan berguman pelan.
"Selamat malam Daddy."
"Selamat malam Baby."
Sepanjang malam itu, Chanyeol membiarkan dirinya terjaga di dalam kamar Jackson. Berdiam diri ditemani oleh serangkaian resah ketakutan dalam dirinya.
…
Chanyeol memperhatikan chip di tangannya sejurus, datar tanpa ekspresi menghunus tajam kepingan itu. Ia lalu melemparkannya ke lantai dan menginjak benda itu kuat. Hancur, tak lagi berbentuk.
Bibirnya menarik satu sudut; tersenyum miring sembari merenggangkan otot lehernya yang terasa kaku.
…
Baekhyun pikir, saat ia membuka matanya ia akan kembali dalam ingatan sebagai Park Baekhyun. Park Baekhyun yang menjadi suami Park Chanyeol, Park Baekhyun yang hanya hidup untuk Park Chanyeol.
Namun tidak. Ia nyatanya terbangun dengan ingatan sebagai Byun Baekhyun. Baekhyun ingat semuanya. Mengenai pembicaraannya dengan Sehun dan semua kebenaran akan kebohongan yang Chanyeol lakukan, Baekhyun mengingatnya.
Langit-langit kamarnya seperti rol film, memutar semua ingatan 2 tahun yang ia jalani. Semuanya tentang Chanyeol, tentang pernikahan mereka, hari yang mereka jalani, setiap pelukan, ciuman juga percintaan menyenangkan—semuanya berputar tanpa sisa sedikitpun. Baekhyun seperti melihat dirinya berada disana, di dalam kebohongan Chanyeol. tenggelam seorang diri yang nyatanya mengisi harinya dengan damba luar biasa.
Namun entah mengapa semuanya terlihat mengerikan kini. Baekhyun menyadari betul jika ia tak lebih seperti tawanan dengan Chanyeol yang mengukung seperti itu. Tanpa alasan… Baekhyun berubah membenci semua itu, Baekhyun benci kenyataan jika semua itu hanyalah rekayasa. Bahkan cintanya pun terhadap lelaki itu… tak lebih hanya rekayasa semata. Tidak nyata, tidak pernah ada sebelumnya.
Rasanya entah mengapa menyakitkan. Rongga dadanya masih bertalu, menyentak dirinya dan tak sadar bagaimana susupan benci itu perlahan tumbuh di dalam dirinya, semakin kuat, semakin kokoh sampai Baekhyun tak tau harus bagaimana menggunakan maaf untuk semua itu.
Chanyeol gila, dia tak lebih seperti psikopat yang mengukung dirinya seperti itu.
Membunuh orangtuanya, membuat dirinya amnesia lalu mempermainkan hidupnya—penjelasan apa yang Baekhyun butuhkan selain gila dengan obsesi aneh yang menjadi kesimpulannya.
Lalu sekarang, apa yang harus Baekhyun lakukan?
…
Deritan suara pintu menyadarkan Baekhyun dalam dunia pikirnya, ia menoleh namun tak beranjak dari posisinya sama sekali. Pada bibir pintu Baekhyun menemukan sosok Chanyeol berdiri disana. Ini masih siang, matahari terlihat terik di luar sana tapi sayangnya Baekhyun tak memiliki rasa penasaran apapun tentang Chanyeol berada di rumah, ini bahkan bukan akhir pekan.
Lelaki itu memakai pakaian santainya, membawa senampan makanan dan menutup pintu kembali sebelum melangkah masuk. Baekhyun dengan segera memalingkan wajahnya, tak ingin bertemu pandang dengan lelaki itu lebih lama.
Chanyeol melihatnya, melihat bagaimana Baekhyun menolak kehadirannya. Namun taunya itu tak menghentikan langkah Chanyeol sama sekali. Ia menempatkan diri pada pinggiran tempat tidur, memangku nampan yang ia bawa dan mengulas senyum seperti biasa. Bertingkah seperti biasa.
"Kau sudah bangun?" lelaki itu bahkan melontar tanya, tanpa beban dan benar bertingkah seolah tak ada hal besar yang terjadi sebelumnya.
Satu tangannya terangkat di udara, menuju Baekhyun dan menapak di atas kening lelaki itu. Baekhyun berjengit dan reflek menekan kepalanya semakin dalam pada bantal. Chanyeol lagi terlihat tak peduli, ia menahan telapak tangannya pada kening Baekhyun, merasakan suhu lelaki itu kemudian menghela nafasnya lega.
"Demammu sudah turun." Ucapnya kemudian. "Kau dehidrasi dan sampai pingsan kemarin. Dokter bilang lambungmu juga kosong," Chanyeol mendesah pelan. "apa kau lupa jika kau sedang hamil Baek? Mengapa malah tidak makan dan mengabaikan kesehatanmu?" Chanyeol merengut.
Baekhyun berdecih dalam hati tanpa sadar mendengar penuturan itu.
Pingsan karena dehidrasi—omong kosong. Baekhyun bahkan masih bisa merasakan sisa nyeri pada tengkuknya. Chanyeol memukulnya dengan keras sampai membuatnya pingsan.
Namun lagi, carrier itu memilih untuk diam dan memejamkan kedua matanya kini.
"Nah, sekarang makan dan minum obatmu setelah ini." Chanyeol meletakkan nampannya di atas nakas, bangkit dari duduknya dan menarik Baekhyun bangkit dengan lembut. Baekhyun terkesiap, matanya terbuka cepat, membola dan bertanya apa yang hendak lelaki itu lakukan padanya.
Chanyeol menyimpan beberapa bantal tambahan pada punggung Baekhyun—membuat lelaki itu setengah duduk lalu menempatkan dirinya duduk kembali pada pinggiran tempat tidur. Chanyeol lantas meraih mangkuk berisikan bubur untuk Baekhyun dan memulai satu suapan pertama.
"Nah," Chanyeol menyodori sendok pada Baekhyun. "Aaa~" Pintanya.
Baekhyun menatap Chanyeol dengan colosan hati tak percaya. Mata sipitnya mengarah kepada lelaki itu dengan seribu artian berbaur di dalam sana. Chanyeol lagi mengabaikan hal itu, bertingkah sama seperti hari lalu dan itu taunya menciptakan muak dalam diri Baekhyun.
"Apa kau akan terus seperti ini?" Baekhyun bertanya dengan suara nyaris tak terdengar. Tenggorokannya kering dan sedikit perih ketika ia merangkai kalimat miliknya. "Apa kau masih akan terus memberlakukanku seperti bonekamu?"
"Sayang apa yang kau katakan?"
"2 tahun…" Gumannya, "tidakkah itu cukup bagimu?" Baekhyun menyela dangan suara bergetar kini. Matanya kembali terasa panas, tanpa alasan membuatnya kembali ingin menangis.
Chanyeol tak menjawab, perlahan meletakkan sendoknya kembali di atas mangkuk lalu beralih meletakkan wadah itu di atas pangkuan Baekhyun.
"Habiskan buburmu, oke? Aku ada di ruanganku jika kau membutuhkan sesuatu." Ia bangkit dari duduknya dan hendak mengusap wajah Baekhyun seperti yang selalu ia lakukan ketika si mungil itu dengan cepat memalingkan wajahnya.
Baekhyun menolaknya, lagi dan lagi.
Chanyeol menghela nafasnya pelan, menarik tangannya kembali dan memasukkan keduanya ke dalam saku celana yang ia kenakan.
"Jangan lupa minum obatmu setelah itu." Chanyeol mengingatkan kembali sebelum menarik langkah menjauhi tempat tidur dan meraih kenop hendak membuka pintu.
PRANG
Suara pecahan keramik terdengar keras. Baekhyun menghempaskan mangkuknya begitu saja pada lantai dan membiarkan makanan yang belum di sentuhnya itu berbaur satu dengan beling keramik di atas lantai. Chanyeol sontak menghentikan langkah, namun ia tidak berbalik untuk sekedar melihat kekacauan yang baru saja Baekhyun lakukan.
"Cukup! Hentikan semua ini Chanyeol!" Ucap Baekhyun keras. "Biarkan aku pergi."
Chanyeol tanpa sadar menggenggam kenop di tangannya semakin kuat seolah hendak meremukkan logam itu di dalam telapak tangannya. Emosi membuncah dan ia benar menahan diri untuk tidak meluapkan semua itu. Tidak, Chanyeol bahkan tak pernah berkeinginan untuk memperlihatkan sisi liarnya itu kepada Baekhyun.
"Aku akan meminta Kyungsoo untuk membuatkanmu bubur yang baru, tunggulah sebentar." Maka hanya itu yang Chanyeol katakan. Ia memutar kenop bersaman dengan bantingan benda lain yang Baekhyun lakukan.
Isi nampannya tumpah ruah, pecah dengan suara keras memenuhi seisi kamar.
"Biarkan aku pergi!" Baekhyun berteriak kalap. "Lepaskan aku, kau bajingan sialan! Lepaskan aku!" Raungnya.
Namun sekali lagi Chanyeol mencoba mematikan emosinya, ia menutup pintu pelan seolah itu dapat meredam semua raung makian Baekhyun di dalam sana. Langkahnya ia bawa ringan menuju dapur, menemui Kyungsoo untuk menyiapkan makanan yang baru untuk Baekhyun, tak benar menyadari Jackson yang sedari tadi berada disana. Pada pilar pembatas dan mendengarkan semuanya.
…
Baekhyun pikir dirinya sudah gila. Benar-benar gila, ia berteriak, meraung namun nyatanya semua sia-sia ia lakukan. Chanyeol bahkan tidak berbalik, sedikitpun untuk sekedar peduli alih-alih malah membiarkannya seperti itu.
Baekhyun lelah menangis, ia lelah meraung dan ia lelah menyesal dalam dirinya.
Seharusnya ia mendengarkan Sehun, seharusnya ia tak kembali dan ikut adiknya pergi dan menghilang dari kehidupan Park Chanyeol selamanya. Bukan seperti ini, membiarkan dirinya terperangkap lagi dan tak tau harus bagaimana membuka celah kesempatan untuk pergi kembali.
Malam telah larut. Baekhyun membiarkan perutnya kosong tanpa menyentuh sedikitpun makanan yang tersaji untuknya. Mualnya kambuh sedang tendangan bertubi dari bayinya membuat ia pusing dan Baekhyun bahkan tak bisa menopang tubuh lemasnya karena itu.
Ia tak memiliki pilihan, perlahan dengan tertatih keluar dari kamar. Menuju dapur dan tak bertenaga membuat susu hamilnya tengah malam itu. Baekhyun bisa mengabaikan kesehatan dirinya sendiri tapi tidak dengan bayinya. Ia memiliki sesuatu yang hidup dalam dirinya, ia memiliki nyawa lain yang harus ia lindungi di dalam dirinya.
Maka setidaknya, Baekhyun pikir jika ia mati, biarlah ia mati seorang diri, tidak bersama dengan bayinya, setidaknya jika ia mati kelaparan bayinya masih bisa diselamatkan. Pemikiran seperti itu, taunya menyadarkan Baekhyun lagi… jika nyatanya ia tak terlepas semaunya dari Chanyeol.
Kenyataannya ia memiliki bayi lelaki itu di dalam rahimnya. Seolah menyadarkan dirinya jika 2 tahun itu bukanlah ilusi semata, jika 2 tahun benar terjadi dalam hidupnya.
Baekhyun perlahan meneguk susunya sampai separuh, kemudian menarik nafasnya sesaat sebelum menghabiskan seisi gelas sampai tak bersisa.
"Papa…"
Baekhyun menyentak kepalanya cepat ketika panggilan pelan itu memenuhi pendengarannya. Ia menemukan Jackson disana, berjalan menuju dirinya dan Baekhyun bertanya dalam hati kapan terakhir kali ia melihat bocah itu.
"Junnie mengapa belum tidur?" Baekhyun cepat berlutut di lantai menyamai tingginya dengan Jackson, bertanya dalam kerutan samar.
Jackson tak menjawab. Mata yang merupakan warisan Chanyeol itu menatap Baekhyun sendu dan Baekhyun mulai menerka tentang mimpi buruk yang mungkin menghampiri tidur malam anak itu. Mungkin itu pula yang membuat ia terjaga dan mencari keberadaan Baekhyun seperti hari lalu.
"Apa Papa akan pergi?" Namun taunya bukan mimpi buruklah yang menganggu tidurnya, itu merupakan hal nyata yang tertangkap inderanya. Jackson tak menjawab pertanyaan Baekhyun, alih-alih balik bertanya, melontarkan pertanyaan di dalam kepalanya. "Apa Papa akan meninggalkan aku dan Daddy?"
"Apa?" Baekhyun terperangah, terkejut bukan main atas apa yang menjadi pertanyaan bocah itu.
"Apa Papa akan meninggalkan aku dan Daddy seperti yang Mommy lakukan?" Jackson bertanya lagi. Bibir tipisnya bergetar, siap menangis kapan saja.
Baekhyun tertegun sedang hatinya ia rasakan tercubit atas lontaran Jackson. Rasanya menyakitkan namun ia bodoh terdiam tanpa penyangkalan apapun dalam dirinya.
"Junnie…"
"Apa karena aku nakal?" Jackson bertanya lagi. "Apa karena aku selalu meminta muffin?" suaranya perlahan berubah serak.
Baekhyun menggeleng. "Junnie tidak nakal, Junnie tidak pernah nakal." Kata Baekhyun.
"Lalu mengapa Papa ingin pergi?"
"Papa tidak—" Baekhyun menelan kalimatnya tiba-tiba. Ia teringat betapa kerasnya ia berteriak pada Chanyeol siang tadi, mungkin Jackson mendengarnya dan itulah mengapa anak itu berada disini sekarang, bertanya langsung padanya dan Baekhyun malah membuat seolah apa yang di dengar anak itu bukanlah ungkapan emosi semata. Itu benar merupakan keinginannya.
"Papa sudah berjanji untuk tidak pergi." Ungkap Jackson. "Papa berjanji untuk tidak meninggalkanku seperti Mommy."
Baekhyun tertegun sedang ia lagi hilang dalam kalimatnya. Jackson menatap Baekhyun tak sabaran, bibirnya bergetar semakin hebat dan ia mulai menangis disana.
"Apa Papa sudah tidak sayang padaku lagi?" Jackson terisak. "Apa karena Papa akan memiliki adik bayi dan tidak sayang padaku lagi?"
Baekhyun terkesiap, benar terkejut. Ia buru-buru membawa tubuh kecil itu masuk ke dalam pelukannya. Namun Jackson menahannya disana, mata basahnya menatap Baekhyun lagi dan menuntut jawabannya disana.
"Tidak Baby, itu tidak benar." Baekhyun menggeleng dua kali dengan cepat. "Papa sayang padamu. Bahkan saat adik bayi lahir, Papa akan tetap menyayangimu." Jemari lentiknya menyapa pipi Jackson, menyeka aliran itu dengan lembut.
Namun nyatanya penuturan itu tak membuat Jackson puas.
"Aku berjanji tidak akan nakal lagi, aku berjanji tidak akan meminta muffin lagi, aku berjanji tidak akan meninggalkan makananku lagi. Papa juga bisa mamanggilku Junnie, aku takkan marah, aku sungguh tidak malu, aku suka nama Junnie." Isakan Jackson beriak dalam tangis. "Papa juga harus berjanji padaku untuk tidak akan meninggalkanku dan Daddy seperti Mommy."
Baekhyun tak bisa menahan dirinya pecah dalam tangis juga. Pandangannya buram dipenuhi oleh bening miliknya, menetes membasahi pipinya.
Baekhyun seharusnya tidak bertingkah seperti itu. Ia seharusnya menenangkan Jackson dan melalukan apapun untuk menghentikan tangis anak itu, namun tidak… Baekhyun tidak bisa melakukannya. Baekhyun tidak bisa—
"Berjanjilah padaku Papa." Jackson menuntut. Kelingking kecilnya mengarah pada Baekhyun sedang tangan yang lain mencari kelingking milik lelaki yang ia panggil Papa itu. Namun Baekhyun lagi menahan dirinya, ia tidak bisa melakukan hal itu.
Baekhyun tidak bisa membuat janji yang ia tau takkan bisa ia tempati.
Baekhyun ingin pergi, ia tak ingin berada disana lebih dalam lagi. Berada dalam plot skenario Chanyeol, Baekhyun tak ingin melakukannya lagi.
Jackson menatap Baekhyun hancur. Ia menangis lebih keras menyadari betul penolakan Baekhyun. Untuk kedua kalinya, anak berusia 5 tahun itu tau jika ia akan ditinggalkan kembali.
Oleh orangtuanya, oleh tumpuan hidupnya.
Cocot: untuk kalian yang bener-bener jeli nangkap tiap that kalimat tersirat *eakkk* kalian debes lah :D
Makasih udah mampir, main2 lagi di chap depan ya~
