Sex Dreams

Chapter 10

Author : Lady Ze

Tittle : Sex Dreams

Main Cast :

Jung Yunho

Kim Jaejoong

Warning : Genderswitch for Uke, NC – 18

Summary :

Kim Jaejoong berharap Jung Yunho menjadi miliknya seorang setelah dia berhasil bercinta dengan Jung Yunho


Umma terlihat senang sekali ketika aku datang mengunjunginya. Apalagi aku membawa seorang namja. Aku memilih pergi ke dapur kecil rumahku ini beralasan membuat teh ginseng, membiarkan umma dan Yunho mengobrol berdua di ruang keluarga yang sebenarnya letaknya bersebelahan dengan dapur dan meja makan. Intinya, aku bisa mendengarkan percakapan antara umma dan Yunho.

"Jadi, apa pekerjaanmu, Jung Yunho?"

Yeah, umma mulai mengintrogasi Yunho. Dulu, dia pernah melakukan hal yang serupa, ketika aku masih SMA. Dia mengintrogasi Kim Hyunjoong, mantan kekasihku yang lebih tua dua tahun dariku dan semuanya berakhir buruk. Umma termasuk tipe pemilih dalam menentukan pasangan hidupku. Tapi, aku rasa Yunho bisa membuatnya bungkam.

"Saya berkerja di Hotel Hilton, Nyonya Kim." Jawab Yunho dengan suara tegas.

"Oh, kau berkerja di tempat yang sama dengan putriku rupanya. Lalu, apa hubunganmu dengan Joongie? Apa kalian berpacaran?"

Tanganku berhenti menuang teh ginseng dari teko ke cangkir. Aku belum berbicara tentang hal ini kepada Yunho, betapa besar keingintahuan ummaku. Hal ini membuatku gugup.

"Ya, kami berpacaran, Nyonya Kim. Saya harap anda tidak keberatan." kata Yunho lagi.

Mendengar jawaban Yunho, aku hanya bisa menghela nafas panjang.

"Dia tidak pernah bercerita kepadaku kalau memiliki kekasih setampan kau, Yunho."

"Umma, berhentilah bertanya-tanya seperti itu. Umma membuat Yunho merasa tidak nyaman." kataku menghampiri umma dan Yunho dengan membawa teh ginseng.

"Umma hanya bertanya saja. Tidak ada yang salah menurut umma."

"Ha—ah, sebaiknya umma kembali ke toko saja. Sepertinya ada pelanggan yang mencari."

"Ck, anak ini." Umma mendengus kesal, tapi ia kembali ke toko kelontongan milik keluarga kami yang sudah ada sejak aku kecil. Tokonya terletak tepat di depan rumahku dan menyambung dengan rumah kecilku ini.

"Maafkan ummaku, Yunnie. Ummaku termasuk kuno, disini tidak sama dengan Seoul. Anak perempuan masih dibatasi pergaulannya, apalagi menyangkut namja. Jadi, umma bersikap seperti itu."

"Ya, tapi yeoja sepertimu menjadi sangat pervert ketika pindah ke Seoul." katanya sambil tertawa.

"Menyebalkan!" kataku sambil memukul lengannya.

"Walaupun aku menyebalkan, tapi kau tetap mencintaiku, kan?"

"Aku membencimu!" kataku lagi sambil memukul lengannya lagi. Ketika aku hendak menarik tanganku, Yunho menahan lenganku dan menariknya hingga tubuhku merapat dengan tubuhnya.

Kepalaku mendongak ke atas, menatap matanya seolah menantangnya.

"Aku sangat mencintaimu, Boo."

Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Ia menciumku dengan lembut. Melumat bibirku dan menekan bibirku semakin dalam. Lidahnya menyapu permukaan bibirku, menjilat bibirku. Aku membalas setiap lumatan yang ia berikan, membuat Yunho tersenyum di tengah-tengah ciuman ini.

Ketika lidahnya berusaha masuk ke dalam rongga mulutku,aku melepas tautan ciuman kami. Yunho mengerutkan alisnya.

"Aku tidak ingin umma melihatnya, Yunnie. Dia bisa menceramahiku."

"Gara-gara ciuman saja?"

"Sudah aku katakan, bukan? Ummaku orangnya kuno."

"Baiklah, aku mengerti. Menurutku ummamu tidak masalah dengan hubungan kita, Boo."

"Ye—ah, dia tidak akan mungkin menolak namja kaya sepertimu menjadi kekasihku."

"Benarkah? Berarti tidak masalah kalau kita menikah, kan?" tanyanya dengan pandangan berbinar-binar.

"Dasar gila! Aku tidak mau menjadi istri keduamu!" kataku tanpa melihatnya. Memang mudah mengatakan menikah. Tapi tidak dengan keadaan yang rumit seperti aku dan Yunho.

"Kau terlalu berlebihan, sayang. Hanya kamu yang akan menjadi istriku nanti, Boojae."

BRUUK

Aku menghempaskan tubuhku di sofa panjang bermotif kotak-kotak yang mungkin seumuran denganku ini dengan paha Yunho sebagai bantal. "Aku harap begitu." gumamku dengan mata terpejam.

"Dimana appamu, Boo?" tanyanya sambil mengelus rambutku.

"Appa mungkin sedang mengantar sayuran ke pasar. Appaku memiliki kebun sayur, tidak terlalu besar."

"Oh, orangtuamu pekerja keras sama sepertimu, Boo."

"Dari kecil aku selalu diajarkan untuk mandiri. Jadi, aku sudah terbiasa untuk berkerja keras."

"Kau benar-benar istimewa, Boo." katanya sambil tersenyum. Ia membungkukkan sedikit tubuhnya hingga wajahnya mendekat dengan wajahku. Kemudian mencium sekilas bibirku.

Aku terkejut ketika tiba-tiba saja Yunho mengangkatku dan mendudukkanku dipangkuannya. Dan aku lebih terkejut lagi ketika dia melumat bibirku.

"Y—yun..." Aku berusaha menghentikannya, mengingat ini masih di rumah orangtuaku dan ummaku ada di toko. Kalau aku berada di apartementnya saja, aku pasti akan pasrah saja.

Yunho mengerang, masih mencium bibirku. Menarik tengkuk leherku untuk membuat ciuman ini semakin dalam dan panas disertai dengan bibirnya yang menari dengan lembut menyentuh permukaan bibirku.

"Hentikan, Yunnie." kataku di sela-sela ciuman.

"Hmmm..." Yunho semakin menikmati ciuman yang sudah membuat gairahnya meningkat. Tangan kanannya membuka kancing pertama blouse yang kupakai, tangannya masuk dan mengelus payudaraku yang masih terbungkus bra-ku.

Ah, sial! Sesuatu yang begitu menggebu-gebu dari dalam diriku mulai memberontak menginginkan lebih. "Y—yunnie...aah..."

Yunho melepas bibirnya dari bibirku. Dia tersenyum memandangku yang terengah-engah. "Kau cepat sekali terangsang, Boo."

Aku mendengus kesal. "Dasar! Aku mau istirahat dulu di kamarku. Kau disini saja, Yunnie!" kataku dengan nada kesal.


Ketika makan malam selesai, aku bermaksud untuk membantu umma mencuci piring kotor. Tapi umma melarangku dan menyuruhku mengupas buah persik untuk Yunho dan appa yang sedang mengobrol di ruang keluarga. Mereka berdua terlihat akrab sekali, Yunho sangat sopan kepada appaku. Aku tersenyum dari meja makan melihat keakraban Yunho dan appa.

Setelah selesai mengupas buah persik dan memotongnya menjadi empat bagian, aku mendatangi mereka.

"Appa, ini buah persik kesukaan appa. Tadi aku membelinya." kataku sambil duduk di sebelah Yunho.

"Gomawo, Joongie."

"Apa yang kalian bicarakan? Kalian terlihat senang sekali." kataku lagi.

"Tidak ada, sayang. Hanya obrolan antar lelaki." jawab Yunho memanggilku sayang padahal ada appaku disini.

"Aigo...sepertinya kalian romantis sekali, ne? Menikahlah, tunggu apa lagi?" ucap appa dengan wajah berbinar-binar.

Aku hanya bisa tersenyum kaku mendengar penuturan appa yang menyuruh kami menikah. Aku tahu appa akan senang sekali bila aku menikah, apalagi usianya yang sudah memasuki kepala lima itu. Dia pasti iri dengan teman-temannya yang sudah memiliki cucu.

"Apabila Tuan Kim mengijinkannya, saya akan menikah dengan Jaejoong secepatnya." jawab Yunho.

Aku tercengang dengan jawabannya. Apa dia sudah gila?

"Yun—nie." lirihku dengan suara kecil. Aku harap Yunho sadar dengan apa yang ia katakan.

"Tentu saja aku mengijinkanya, Yunho. Kau namja yang baik dan mapan. Kau pasti bisa menjaga Joongie kecilku dengan baik."

"Umma juga setuju." sambung umma yang masih mengelap piring di dapur.

Aku menjadi panik sendiri. Keadaan akan semakin rumit mulai sekarang.

"Terimakasih Tuan dan Nyonya Kim telah mempercayakan Jaejoong kepada saya." jawab Yunho dengan tenang seolah tidak ada beban yang ditanggungnya.


"Yun, apa kau gila?!" kataku kepada Yunho. Aku cukup frustasi dengan sikapnya tadi.

"Ya, gila karena kamu, Boo." ucapnya sambil mencium leherku.

"Kau sadar, Yun? Kau memberi harapan kepada orangtuaku." kataku lagi mulai tidak nyaman. Yunho mulai menghisap leherku dengan kuat. Lagi-lagi dia membuat kissmark.

"Aniya, aku akan menikah denganmu. Aku sudah berjanji kepada orangtuamu, Boo."

"Engh...Y—yunnie..." Aku memejamkan mata ketika dia terus menghisap leherku, berpindah-pindah tempat dengan kedua tangannya meremas payudaraku dengan kuat. Aku rasa puting payudaraku telah menegang sempurna.

"Kau sudah selesai, kan?"

"Y—ya, aah..." jawabku dengan suara bergetar. Gairahku telah meledak. Aku membutuhkan Yunho sekarang.

"Bagus." katanya terdengar senang.

Aku hanya mampu mendesah ketika Yunho membuka pakaianku satu per satu hingga aku telanjang. Aku sama sekali tidak pernah membayangkan akan bercinta di mobil Yunho.

"Cepat sekali kamu basah, Boo."

"Yun—nie."

Aku sudah pasrah, biarkanlah Yunho yang mendominasi permainan saat ini. kulihat Yunho berlutut di kursi penumpang. Dia membuka celananya hingga terlihat kejantanannya yang telah menegang.

"Buka yang lebar kakimu, sayang." ujarnya dengan suara mendesah tepat di telingaku.

Aku membuka kakiku dengan lebar yang tentu saja terhalang oleh kursi kemudi di depan, sungguh ruang gerakku sangat terbatas mengingat aku dan Yunho berada di mobil.

"Mmm..." Yunho menciumku sedikit kasar. Aku bisa merasakan gairahnya yang menggebu-gebu.

Aku mengerang di tengah-tengah ciuman ketika kejantanan Yunho menembus kewanitaanku, masuk ke dalam, sangat dalam ke tubuhku. Yunho langsung menggerakkan tubuhnya dengan cepat.

Dapat aku rasakan bulir-bulir keringat yang menembus dari kaus yang ia pakai menjadi satu dengan keringat yang membasahi tubuh telanjangku.

"Lebih cepat, Yunnie...kumohon..."

Dia menggertakkan giginya mendengar permintaanku. Dengan penuh semangat ia bergerak dengan cepat, membuat kejantanannya tenggelam seutuhnya di dalam diriku.

"Jaejoongie..." Dia mengerang, memejamkan matanya, menyusupkan kepalanya dileherku, merasakan dinding kewanitaanku yang berdenyut menjepit kejantanannya.

"A—ah, Yunnie!" Aku berteriak dan meremas rambutnya ketika orgasme pertamaku datang. Nafasku menjadi terengah-engah. Yunho memperlambat gerakan tubuhnya.

"Berbaliklah, Boo."

Yunho memegang pinggangku lalu membantuku memutar tubuhku. Ah, posisi ini biasa disebut doggy style. Ini adalah pertama kalinya aku mencoba posisi ini dengan Yunho. Katanya Junsu, dia sangat menyukai posisi ini.

Yunho mencium pundakku dengan lembut dan perlahan, menyusuri pundak hingga punggungku. Memberikan getaran yang sangat nikmat. Kemudian dia kembali menggerakkan pinggulnya.

"Aah.." Aku mendesah ketika Yunho menyentuh titik kenikmatanku. Benar kata Junsu, posisi ini lebih menyenangkan.

"Boo..."

Aku kembali memejamkan mataku ketika Yunho memegang pinggangku dan menggerakkannya berlawanan dengan tubuhnya, membuat kejantanannya berulang kali menyentuh titik kenikmatanku.

Bulir-bulir keringat semakin menetes di sekujur tubuh, ini akibat Yunho tidak menyalakan ac mobilnya. Memang udara malam ini sedang dingin dan bersalju, tapi tidak mampu menembus kegiatan panasku dengan Yunho.

"Aah, Boo!"

Kejantanan Yunho berkedut-kedut ketika orgasme menyerangnya. Spermanya terhambur di dalam tubuhku.

"Aku lelah, Yunnie." gumamku dengan nafas yang terengah-engah dan jantungku yang berdetak kencang.

Rencanaku membicarakan masalah menikah yang Yunho katakan kepada orangtuaku di mobil malah berakhir dengan aku yang bercinta dengan Yunho di mobil. Dasar beruang pervert!


"Umma, aku dan Yunho harus pulang pagi ini. Kami mungkin sampai di Seoul sore hari. Titip salam untuk apa, ya." kataku kepada umma yang sudah duduk manis menjaga toko kelontongannya. Appaku tentu saja sedang berada di perkebunannya, memeriksa sayur-sayurannya.

Setelah semalam menginap, aku dan Yunho harus pulang. Tentu saja karena besok, hari Senin, kami kembali berkerja.

"Ya, sering-seringlah kunjungi ummamu ini, Joongie. Kau tahu, hanya kamu yang umma punya sekarang."

"Umma." Aku langsung memeluk ummaku dengan erat. Aku tahu perasaan umma. Dia takut kehilanganku.

"Nyonya Kim, saya pamit pulang dulu. Salam untuk Tuan Kim."

"Ya, Yunho. Suatu hari kau akan memanggilku umma. Aku tidak sabar menunggu hari itu." kata umma dengan suara senang. Umma benar-benar mengharapkan aku menikah dengan Yunho. Jangan kalian pikir aku tidak ingin menikah dengan Yunho, aku sangat menginginkannya. Statusku diakui, tidak seperti saat ini.

"Sampai jumpa, umma." kataku mengecup pipi ummaku lalu pergi dari rumah kecilku. Rumah yang telah membesarkanku dari kecil.

Aku dan Yunho berjalan menuju mobilnya yang menjadi saksi bisu kegiatan panasku dengan Yunho tadi malam. Ketika membuka pintu mobil, aku masih bisa mencium bau tidak sedap, yah kalian tahulah.

"Tidak usah pakai ac, Yun! Buka saja jendelanya."

"Nanti salju bisa masuk, Boo."

"Biar saja. Apa kau tidak mencium baunya, eoh?"

"Mwo? Aku menciumnya. Tidak masalah untukku. Atau jangan-jangan kau terangsang karena mencium bau sperma yang menempel di kursi belakang, eoh?" tanyanya dengan nada menggoda.

"Yunnie! Jalankan saja mobilnya, huh!" kataku dengan kesal. Dia hanya tertawa melihatku.

Yunho mulai menjalankan mobilnya meninggalkan rumahku. Aku memilih menghadap ke jendela yang kubuka sedikit, mengamati salju yang turun.

"Boo, aku melihat foto keluargamu. Siapa anak laki-laki yang berdiri di sebelahmu itu? Kakakmu?" tanyanya memecah keheningan kepadaku.

Ternyata Yunho menanyakan foto keluarga yang ditempel di ruang keluarga, foto ketika aku masih kelas lima sekolah dasar.

"Iya, dia kakak kandungku. Namanya Kim Kibum."

"Oh, apa dia tinggal di luar kota juga, Boo?" tanya Yunho lagi.

Aku memejamkan mataku. Mengingat kembali peristiwa yang sebenarnya sudah kulupakan. Tapi, biarlah Yunho mengetahuinya.

"Liburan musim panas, ketika aku kelas lima dan kakakku kelas satu sekolah menengah pertama, keluargaku berlibur ke danau. Saat itu aku dan kakakku ke danau, berdiri di pinggir jembatan. Aku mengamati kakakku yang memancing. Appa dan umma sedang berada di bawah pohon, menyiapkan makan siang." Aku berhenti sebentar, memejamkan mataku dengan kepalaku yang bersender di kaca mobil.

"Umpan kakakku dimakan oleh ikan, dia sangat senang sekali. Dia berusaha menarik ikannya, tapi...kaki kakakku tersandung oleh kayu jembatan hingga dia tercebur di danau. A—aku saat itu berteriak histeris melihat kakakku yang tenggelam. Appa dan ummaku terlambat datang, dan kakakku...hiks...dia...hiks..." Sial! Aku selalu menangis bila mengingat hal ini. kakakku tenggelam di depan mataku sendiri.

Yunho menghentikan mobilnya, dia menarik pundakku dan memelukku dengan erat. "Sudahlah, boo...maafkan aku yang bertanya." Ucapnya dengan lembut.

"Foto itu diambil sehari sebelum kita pergi memancing." kataku dengan suara serak.

"Kakakmu sudah tenang di surga. Apa kau mau mengunjungi makamnya?"

Aku menggelengkan kepalaku. "Kakakku dikremasi, guci abunya ada di rumah. Tadi pagi aku sudah menyapanya."

Yunho mencium keningku cukup lama, menekan bibirnya dikeningku. "Mianhe." ucapnya.


Ketika hari sudah sore, aku dan Yunho sudah sampai di gedung apartementku.

"Terima kasih sudah menemaniku, Yunnie." ucapku.

"Ya, Boojaejoongie." ucapnya dengan tersenyum dan mengelus kepalaku.

"A—apa setelah ini kau akan melepaskan cincin itu, Yun?" tanyaku gugup.

"Tidak, aku akan terus memakainya."

"Be—benarkah?" tanyaku terkejut.

Yunho menghela nafas panjang. "Boo, ingin mendengar ceritaku?" tanyanya dengan menahan tangan kananku. Aku menoleh kearahnya.

"Apa?"

"Aku ingin bercerita tentang makan malam di rumah Kyuhyun." ucapnya.

Jantungku menjadi berdetak sangat cepat. Ada apa ini? Kenapa perasaanku menjadi tidak enak? A—pa dia akan menikah dengan Kyuhyun?

"A—ada apa?"


Flashback

Yunho datang bersama kedua orangtuanya ke kediaman mewah milik orangtua Kyuhyun. Appa Kyuhyun adalah pengusaha pabrik rokok.

Kyuhyun yang berkerja sebagai sekretaris Yunho hanyalah alibi orangtua mereka semata. Mereka bertujuan agar Kyuhyun dan Yunho menjadi dekat satu sama lain. Mereka berdua ditunangkan dengan tujuan agar hubungan bisnis appa mereka tidak terputus, dimana Tuan Cho menanam saham di Hotel Hilton. Begitu juga dengan Tuan Jung yang menanam saham di pabrik rokok Tuan Cho. Yunho tahu akan hal tersebut.

"Selamat datang di gubuk kami, Tuan dan Nyonya Jung." ucap Tuan Cho merendah. "Dan Jung Yunho, kau semakin tampan. Masuklah!" ucap Tuan Cho lagi dengan nada gembira.

Tuan Cho mengajak Tuan dan Nyonya Jung serta Yunho menuju ruang makan mereka. Disana sudah ada Kyuhyun dan Nyonya Cho yang menyiapkan makanan dibantu dua orang pelayan.

"Silahkan duduk." ucap Tuan Cho mempersilahkan tamunya untuk duduk.

Tuan Cho mengatur agar Tuan Jung duduk di ujung meja berseberangan dengannya, di sisi kanan Tuan Cho, istri mereka duduk berdampingan. Tentu saja Yunho dan Kyuhyun menjadi duduk berdampingan.

"Selamat menikmati hidangan makan malam yang sederhana ini Tuan dan Nyonya Jung."

"Anda terlalu merendah, Nyonya Cho." ujar Nyonya Jung sembari menyentuh pundak Nyonya Cho dengan gaya elegan, gaya khas yeoja kelas atas.

Mereka memulai acara makan malam dengan tenang. Terlihat sekali kemesraan yang ditunjukkan oleh Tuan dan Nyonya Jung, sesekali Nyonya Jung menyuapkan potongan steak kepada Tuan Jung layaknya remaja yang baru jatuh cinta.

Yunho terlihat jengah melihat sikap ummanya yang menurutnya berlebihan itu, ia tahu ummanya mengejeknya. Dibalik gerakan elegan sang umma, Yunho tahu bahwa ia bisa seromantis itu dengan Kyuhyun. "Di dalam mimpimu, umma." umpatnya dalam hati.

Setelah selesai makan malam, kedua keluarga itu berkumpul di ruang keluarga.

"Kyuhyun, bisakah kau mengambil pudingnya? Umma rasa pudingnya sudah dingin." ujar Nyonya Cho menyuruh Kyuhyun.

"Ne, umma."

"Kau temani Kyuhyun, Yunho. Jangan biarkan tunanganmu sendirian." ujar Nyonya Jung yang semakin membuat Yunho jengah.

Mau tidak mau Yunho mengikuti Kyuhyun ke arah dapur, membiarkan yeoja berambut gelombang itu jalan mendahuluinya.

Yunho hanya berdiri di depan meja counter memperhatikan Kyuhyun yang memotong puding.

"Oppa bisa kembali kesana, aku bisa membawanya sendiri." gumam Kyuhyun.

"Ummaku pasti akan marah denganku, Kyu."

"Ternyata oppa takut dengan Nyonya Jung, eoh?" ujar Kyuhyun disertai kekehan kecil.

"Dia mengerikan bila marah."

"Orangtua kita terlalu memaksakan kehendak mereka, dia tidak pernah memikirkan perasaan kita, bukan?" kata Kyuhyun sambil mengangkat potongan puding dan menaruhnya di piring kecil.

Perkataan Kyuhyun membuat Yunho tertarik. Selama dua tahun ini dia bertunangan dengan Kyuhyun, tidak pernah yeoja ini berkata seperti itu. Kyuhyun selalu menurut kepada orangtuanya.

Yunho mengangkat dirinya dan duduk di atas meja counter yang terbuat dari keramik berwarna abu-abu itu. "Kau juga berpikiran seperti itu, Kyuhyun? Aneh sekali rasanya baru ini kau memprotes pertunangan ini."

"A—aku memiliki orang yang kucintai." lirihnya.

"Jinja? Siapa dia?" tanya Yunho.

Kyuhyun menghentikan kegiatannya, ia menatap Yunho dengan matanya yang terlihat gelisah.

"A—aku tidak bisa memberitahunya."

"Kau mau membatalkan pertunangan ini, Kyuhyun?" tanya Yunho lagi dengan wajah tersenyumnya.

"A—apa oppa sudah gila? Kita sudah dua tahun bertunangan. Orangtua kita pasti akan marah sekali."

"Aku bisa menjelaskan kepada mereka bahwa kita tidak saling mencintai dan kita sama-sama memiliki seseorang yang kita cintai." ujar Yunho sambil mengangkat pundaknya.

"Oppa mencintai seseorang?" tanya Kyuhyun mengerutkan keningnya.

"Ya, aku sangat mencintainya. Aku berniat untuk menikah dengannya."

Kyuhyun diam tidak menanggapi ucapan Yunho. Ia kembali menaruh piring kecil di dalam nampan. "Ayo, oppa. Aku sudah selesai." ujarnya sambil mengangkat nampan bulat.

"Biar aku yang bawa, Kyuhyun."


Mereka berdua kembali ke ruang keluarga. Yunho meletakkan nampan bulat di atas meja, Kyuhyun kembali duduk manis di sebelah ummanya.

"Kalian lama sekali. Kalian tidak macam-macam di dapur, kan?" tanya Nyonya Jung dengan nada menggoda.

"Itu tidak mungkin, umma." jawab Yunho dengan nada geram. Matanya menatap tajam kepada ummanya. Nyonya Jung hanya menyeringai menanggapi kemarahan tersembunyi dari Yunho.

"Sudahlah, tidak masalah bila mereka berciuman atau lebih. Mereka sudah tunangan dan sebentar lagi mereka akan menikah."

Kyuhyun sangat terkejut mendengar ucapan dari Tuan Jung begitu juga dengan Yunho. Yunho tidak bisa membiarkan hal tersebut terjadi. Membiarkan Jaejoongnya terluka.

"Appa, sebenarnya sudah lama aku ingin menyampaikan suatu hal kepada appa. Aku rasa saat ini adalah waktu yang tepat." kata Yunho, matanya melirik sekilas ke Kyuhyun, ia melihat Kyuhyun terlihat gelisah.

"Ada apa, Yunho?" tanya Tuan Jung terlihat bingung, begitu juga dengan istrinya.

"Aku dan Kyuhyun sama-sama memiliki orang yang dicintai, aku rasa sebaiknya pertunangan ini dihentikan saja. Percuma saja, tidak akan ada rasa cinta yang tumbuh antara aku dan Kyuhyun. Aku hanya menganggap Kyuhyun sebagai adik perempuanku." kata Yunho dengan tenang. Yunho berkata layaknya namja dewasa yang sangat jantan.

"Yunho!"

Tanpa sadar, Tuan Jung berdiri dari duduknya, jari telunjuknya menunjuk Yunho yang duduk di sebelah ummanya.

Tuan dan Nyonya Cho hanya diam melihat Tuan Jung yang terbalut emosi.

"Aku berbicara sesuai kenyataan appa. Appa hanya gila kehormatan! Appa menyuruhku bertunangan dengan Kyuhyun hanya karena dia dari keluarga terpandang, kan?" ujar Yunho lagi. Ia membuat appanya bungkam dan menurunkan tangannya. Sudah lama Yunho tahu, ia ditunangkan dengan Kyuhyun, anak dari pemilik pabrik rokok yang terkenal hanya karena Kyuhyun berasal dari keluarga terpandang. Yunho tahu, appanya hanya gila kehormatan. Appanya merasa kehormatannya terinjak-injak bila anaknya menikah dengan yeoja dari kalangan biasa.

"Yeobo, duduklah. Kita masih di kediaman Cho. Kita bicarakan hal ini di rumah saja, ya?" kata Nyonya Jung dengan lembut. Ia menuntun Tuan Jung untuk duduk kembali. Tangannya mengelus pundak suaminya.

"Kyuhyun, apa benar kau mencintai orang lain?" kali ini Tuan Cho berbicara dengan Kyuhyun.

Kyuhyun menundukkan kepalanya ketika semua mata mengarah kepadanya. Ia menarik nafas sangat dalam. "Ne, appa."

"Kau tahu kalau kau telah bertunangan, kan? Appa rasa kau harus menghapus perasaanmu itu, Kyuhyun." ujar Tuan Cho lagi.

Dari seberang, Yunho bisa melihat tubuh Kyuhyun yang menegang, meremas rok yang dipakainya, yeoja itu menahan nangis. Sudah sejak lama juga Yunho tahu kalau Tuan Cho hanya gila uang. Disini ia benar-benar memanfaatkan appanya agar menanam lebih banyak investasi untuk pabrik rokoknya. Benar-benar manusia brengsek yang saling membutuhkan. Begitulah pemikiran Yunho.

"Kalian tidak bisa memaksa kami untuk terus bertunangan, apalagi menikah. Maafkan aku, appa. Aku tidak bisa. Mulai hari ini, aku tidak bertunangan lagi dengan Kyuhyun!" ujar Yunho dengan suara yang tegas. "Kyuhyun, kau bisa melepas cincin itu."

Kyuhyun mendongak kepalanya, ia terlihat bingung.

"Jangan berani melepaskan cincin itu, Kyuhyun!" geram Tuan Cho.

Kyuhyun menutup matanya, tangannya bergerak menarik cincin yang selama dua tahun ini ia pakai.

TRING

Cincin itu terlepas dari jari manisnya dan jatuh ke lantai.

"Bagus, Kyuhyun. Tidak ada yang bisa memaksa kita. Kita sudah dewasa, seharusnya orangtua kita membiarkan kita sendiri memilih pasangan hidup kita."

"Yunho! Hentikan!" Kembali Tuan Jung tenggelam dalam emosinya. Daritadi ia hanya diam memperhatikan tingkah anaknya itu.

"Aku benar, kan? Aku sudah dewasa, appa. Aku bukan anak kecil lagi." ujar Yunho meremehkan appanya sendiri. Entah ia mendapat keberanian darimana melakukan hal ini. Mungkin besarnya cintanya kepada Jaejoong membuatnya berani menentang appanya.

"Ya, kau benar Yunho. Kau sudah dewasa. Tapi, kau sudah gila!"

"Yeobo." Nyonya Jung berusaha menenangkan Tuan Jung kembali.

"Jangan melarangku! Lihatlah anak laki-laki yang selalu kau manjakan itu, ia sekarang berani menantangku!"

"Tu—tuan Jung, saya tidak keberatan bila Yunho menolaknya. Saya juga tidak bisa memaksa kehendak anak saya." ucap Tuan Cho berusaha meredam emosi Tuan Jung. Jujur saja, Tuan Cho terlihat ketakutan saat ini.

Kyuhyun tersenyum dalam hati, setidaknya appanya yang diakuinya gila uang ini mengerti dirinya.

"Kau dengar, yeobo. Biarkanlah, Yunho."

Yunho mulai jengah melihat ummanya. Ummanya terlalu plin-plan menurutnya.

"Jung Yunho! Appa tidak akan memaafkanmu! Kau telah membuat nama baik keluarga Jung tercemar!"

End of Flasback


Mulutku terbuka lebar, jantungku berdetak sangat cepat. Aku seperti habis menonton film horror.

"Ja—jadi, kau dan Kyuhyun?"

"Aku tidak bertunangan dengan Kyuhyun lagi."

Jantungku semakin berdetak dengan cepat. Tanpa sadar, airmataku jatuh membasahi pipiku. Aku merasa lega dan senang sekali.

"Hei, kenapa menangis?" tanya Yunho. Ibu jarinya mengusap permukaan wajahku yang basah.

"Aku sangat lega, Yunnie. Kau tahu, betapa sakitnya hatiku hanya menjadi selingkuhanmu."

"Aku juga, Boo. Malam itu, aku mulai merasa sangat muak. Mungkin bisa dibilang aku sangat panik karena tiba-tiba saja orangtuaku membicarakan pernikahan."

"Y—ya, aku mengerti perasaanmu, Yunnie. Tapi, bagaimana dengan appamu?"

"Appa marah kepadaku. Aku tidak masalah bila menikah denganmu tanpa adanya orangtuaku."

"Aku tidak mau, Yunnie. Kau itu Direktur Hotel Hilton. Masalah tentangmu dan keluargamu pasti menyebar sangat cepat di hotel. Aku yakin, beberapa karyawan sudah tahu kalau kau tidak bertunangan dengan Kyuhyun lagi. Dan, kau tahu maksudku? Aku tidak ingin disebut-sebut sebagai yeoja pengganggu hubungan kalian. Aku ingin diakui secara resmi, Yunnie. Aku ingin appamu merestui hubungan kita."

"Hal itu akan sangat susah, Boo. Appaku itu orangnya gila kehormatan. Aku sangat takut ia akan menolakmu." gumam Yunho.

"Kita harus berusaha, Yunnie. Demi kita." kataku dengan tersenyum.

Yunho memelukku dengan erat. Dari cerita Yunho, hatiku berdenyut sakit sekali. Yunho memang membatalkan pertunangan dengan Kyuhyun. Tapi, apakah hal tersebut mampu membiarkan perjalanan cintaku dengan Yunho berjalan mulus?

Aku masih harus menjalani sesuatu yang lebih besar di luar sana. Tuan Jung.


To be continued.

Berniat untuk review?


Big thanks to :

kikikyunjunmyun, lee Chunnie, Dee chan – tik, maichannie26, YunHolic, mita changmin, zhe, haruko2277, yoon HyunWoon, 6002nope, Vic89, FiAndYj, YunjaeDDiction, Chassipper Jung, Hana – Kara, myyunyun, rieneka . sianturi, akiramia44, NaraYuuki, shanzec, snow . drop . 1272, Ayankdie . cintanya, Keybin, joongmax, dzdubunny, ShinjiWoo920202, Nee–chan CassieBigEast, cindyshim07, cminsa, Dipa Woon, Angel Park, alwaysyunjae, iche . cassiopeiajaejoong, Rly . C . JaeKyu, followers, favoriters and guest.


ZE