~ Anything For You ~
.
.
.
YeWook Drabble Fic © R'Rin4869
.
.
.
Rated : T
Pairing : Yesung x Ryeowook
Genre : Romance, Humour, Family
Diclaimer : God, Their Family, Fans, but the story is Mine
Warning : OOC, YAOI, Typos, M-Preg, etc, because my fic isn't perfect~
Don't Like Don't Read!
This fic is dedicated for my beloved OTP - The Turtle & The Giraffe
.
.
.
Ten : Tears
.
.
.
Pintu dorm yang semula tenang di tempatnya tiba-tiba saja terbuka oleh satu tarikan kasar yang terburu. Langkah kaki menyusul setelahnya. Derapnya tidak teratur, kalut, bagai gambaran si pemilik langkah itu yang kini membanting pintu itu kembali ke posisi tertutup dengan suara keras. Tak peduli jika itu membuat beberapa orang di dalam dorm terlonjak kaget.
Dia membuka sepatunya asal-asalan tanpa merapikannya. Lalu hanya dengan sekelebat gerakan cepat, dia sampai di depan kamarnya. Lagi-lagi mengulangi perbuatannya tadi, membuka kemudian membanting pintu.
Eunhyuk, yang mau melihat sebentar apa yang terjadi sehingga suara-suara keras tak wajar itu ditimbulkan, langsung berjengit. Sadar betul jika barusan pintu kamar si eternal maknaelah yang terbanting, dikunci dengan suara keras. Pria muda yang memiliki posisi rapper dalam grup itu menghela napas berat. Bingung sekaligus lelah dengan keadaan.
Donghae yang berada di samping Eunhyuk dan sedang mengganti-ganti channel sejak tadi menoleh padanya. Sama-sama membisu dan tak lagi fokus dengan remote televisi.
"Ryeowook, dia kenapa?" Tanya Donghae. Ada sedikit nada panik sebelum akhirnya dia melompat berdiri, berniat mengetuk kamar Ryeowook dan mencari penjelasan langsung.
Namun Eunhyuk lebih gesit, menangkap tangan Donghae sebelum sempat mencapai pintu.
"Jangan, Hae!"
"Kenapa?" Donghae terlihat tak terima dengan larangan itu.
"Biarkan Ryeowook sendirian, dia pasti sedang punya masalah berat." Eunhyuk menatapnya, meminta pengertian.
"Tapi aku harus tahu apa masalahnya, Hyuk!"
Kekeraskepalaan Donghae sama sekali tak membantu. Semua tahu jika dia peduli sekali dengan dongsaeng kesayangannya itu.
"Jangan, Hae." Suara lain dibelakang kedua orang itu terdengar. Agak terengah. "Ryeowook butuh sendirian dulu sebelum bisa bicara tenang."
Sungmin berdiri hanya dua meter jauhnya, masih memegangi dadanya dan bernapas dengan susah payah. Hasil dari pengejarannya terhadap Ryeowook yang pulang ke dorm menggunakan taksi tadi, jadi dia terpaksa mengemudi sendirian secepatnya ke sini. Beruntung Ryeowook kembali ke dorm. Sungmin sempat berpikir jika Ryeowook akan pergi ke tempat lain dalam keadaan seperti itu.
Dia mendesah pelan. Mengingat kembali beberapa uraian kejadian yang baru saja terjadi.
"Ada apa sebenarnya, Sungmin hyung?" Donghae bertanya tak sabaran. Melirik berkali-kali ke pintu kamar Ryeowook.
"Biar aku yang jelaskan!"
.
.
.
Ryeowook merasa sakit. Tidak persis begitu. Bahkan rasanya dia tak bisa mengenali perasaan apapun yang kini berkecamuk di batinnya. Terlalu banyak. Terlalu mengerikan untuk dapat dijelaskan olehnya.
Hatinya mati rasa.
Dia...kecewa.
Dengan kasar Ryeowook menghapus setitik air yang terjatuh dari matanya. Tak mau terlihat lemah sama sekali. Tapi gagal total. Karena dari tetes pertama, kemudian matanya malah mulai memgeluarkan cairan asin itu tanpa henti. Menganak sungai di pipinya yang tirus.
Rasanya sudah cukup buruk, saat dia terkurung di dorm sendirian tanpa Yesung. Mungkin bisa lebih dari itu. Dia kesepian, dan kurang diperhatikan lagi. Ryeowook sudah kecewa.
Tapi satu-satunya hal yang bisa dilakukannya hanyalah mengerti. Ya, dia mencoba mengerti dengan apa yang diinginkan oleh kekasihnya. Mengerti dengan keadaan yang mengharuskannya terlihat tak memiliki masalah dengan itu. Mengerti dengan segala ketidakmengertiannya.
Haruskah itu diperparah lagi?
Setidaknya, Ryeowook sudah mencoba!
Kepedihan yang dirasakannya semakin dan semakin menusuk ke ulu hati. Ini membuatnya menangis lebih keras dibanding sebelumnya. Tak peduli jika kepalanya sendiri sudah mengklaimnya sebagai orang bodoh yang cengeng.
Suasana kamar itu mencekam. Bukan dengan kegelapannya atau kesendiriannya saat ini. Tapi lebih ke kenangan yang pernah ada di sana.
'Di sini semuanya dimulai'
Dia merenung. Dan sesaat kemudian tertawa bodoh. Hanya tawa kecil penuh ejekan.
Bagaimana dia bisa percaya pada seseorang sampai seperti itu? Karena dia mengenalnya bertahun-tahun? Karena orang itu kekasihnya? Atau kepercayaan dengan jenis yang berupa loyalitas saja? Status? Keinginan pribadinya untuk menaruh kepercayaan itu?
Tentu, dia mengenal Yesung, Kim Jongwoon. Pria itu adalah sebagian dari dirinya. Ryeowook mengenalnya dengan baik. Atau mungkin Ryeowook berpikir jika DIA MENGENALNYA DENGAN BAIK?
Batinnya tertawa lebih sinis, lebih membuat sakitnya tak terperihkan lagi.
Jongwoon yang dikenalnya adalah seorang pria yang perhatian.
'Tapi dia sama sekali tidak memperhatikan perasaanku ketika pergi dari sini'
Jongwoon yang dikenalnya adalah orang yang bertanggung jawab.
'Tentu, tanggung jawab sosial maksudnya? Cuma sekedar penjaga image?'
Jongwoon yang dikenalnya adalah pria yang berjanji setia untuknya.
'Jika selingkuh bisa disebut dalam kesetiaan, perlu perombakan besar-besaran akan arti dari apakah cinta itu sesungguhnya'
Dan Jongwoon yang dikenalnya, tak akan membuatnya seperti ini. Kecewa. Marah. Menangis. Putus asa...
.
.
.
Yesung merasa jika dunianya agak miring sekarang ini. Kepalanya terasa berat dalam usahanya untuk tetap bergerak cepat ke dorm. Tak peduli lagi jika dia tetap berlari di koridor apartemen mewah itu. Pasti memalukan jika menemukan dirinya yang notabene seorang artis terkenal berlarian seperti ini dari rekaman kamera CCTV yang terpasang. Tapi masa bodoh, urusan terpentingnya sekarang bukan itu.
Suara-suara di dalam dorm menyadarkannya. Kembali pada dunia yang seharusnya dia berikan perhatian ketimbang lamunannya itu.
Napas Yesung pendek-pendek. Dia menekan dadanya. Berusaha bernapas dengan benar saat suara-suara itu mulai tertangkap sebagai satu pembicaraan yang utuh.
"Ryeowook butuh sendirian dulu sebelum bisa bicara tenang."
Suara itu, Sungmin. Yesung mengenalinya.
"Ada apa sebenarnya, Sungmin hyung?"
Dan itu adalah pertanyaan, dari Donghae.
Yesung selesai dengan napasnya, menerobos masuk ke dalam dorm dengan suara agak keras yang berusaha dia ucapkan.
"Biar aku yang jelaskan!"
.
.
.
"Babo!"
"Payah!"
"Menyebalkan!"
"Idiot!"
Komentar demi komentar mengakhiri penjelasan Yesung barusan. Pria dengan mata sipit itu menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang benar-benar memerah. Bukan hanya karena ejekan yang diberikan rekan-rekan satu grupnya, tapi juga karena malu dengan pengungkapan rahasia yang baru saja dia ucapkan.
Apa itu sebegitu buruknya?
"Bisakah kalian diam?" Yesung memohon dengan wajah menderita. "Aku sudah cukup pusing beberapa waktu belakangan ini, dan sekarang masalah malah bertambah."
Kyuhyun mendengus. "Kau terlalu payah merencanakannya, hyung!"
"Terserah katamu, Kyu." Yesung pasrah.
"Diamlah, Kyu." Sungmin sedikit menghardik.
"Aku tak akan mengejek lagi, aku janji, hyung." Rengut Kyuhyun.
Sementara Eunhyuk menggeleng-geleng tak percaya, menatap Yesung dengan sorot mata peduli.
"Aku tidak mengerti kenapa Ryeowook tak mau langsung menanyakannya padamu tadi, hyung. Sebelum dia berlari pergi begitu saja."
"Itu dramatis kan?" Donghae menyindir. "Keadaannya kan benar-benar seperti drama, dipergoki selingkuh, lalu kekasihnya pergi begitu saja."
"Hae." Eunhyuk memandangnya tak suka. "Jangan memojokkan Yesung hyung begitu."
"Lagipula Yesung hyung bukan selingkuh." Sungmin mendukung Eunhyuk. "Hanya saja keadaan tidak bisa mulus untuk rencananya."
Donghae menghela napas.
"Lain kali berhentilah menonton drama, hyung. Lama-lama itu bisa jadi kenyataan di hidupmu." Saran Donghae.
Yesung mengeluh dengan nada putus asa yang lirih.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" Kyuhyun memutar bola matanya.
"Apa?" Sungmin menatapnya skeptis. "Tentu saja melanjutkan rencananya. Jangan buat ini jadi sia-sia, hyung."
"Aku tahu."
.
.
.
Karamel itu terbuka dengan kerjapan lemah. Tubuh mungilnya menggeliat sedikit. Kelelahan yang amat sangat menderanya. Tentu saja wajar, mengingat dia semalaman menangis tak karuan. Matanya agak berat, pastinya bengkak.
Gelombang rasa sakit menghantam tepat di kepalanya saat Ryeowook mencoba memposisikan dirinya untuk duduk. Dia mengerang keras. Rasanya sakit, dan dia tak yakin jika dirinya bisa berkata jika dia baik-baik saja. Berani bertaruh kalau dia demam sekarang ini. Semalam dia tidur meringkuk di lantai, itu pasti penyebabnya.
Namun Ryeowook terkejut saat mengingatnya. Berusaha memandang tempatnya sekarang ini, dan bayangan samar motif jerapah itu dikenalinya. Kasurnya sendiri.
Linglung, dia kemudian melihat ke sekeliling. Kepalanya tidak lebih baik, tapi Ryeowook memaksakan untuk berkonsetrasi. Ada bayangan samar di sana. Duduk di kasur yang bersebrangan dengannya. Sejenak dia takut. Pintu kamar semalam sudah dikuncinya, dan dia praktis sendirian di sini. Jadi siapa bayangan itu?
"Tidurlah. Kau demam, Ryeowookie."
Suara bariton itu merdu. Semerdu yang biasanya dia dengar. Dalam dan halus, memiliki nada penuh kelembutan dan perhatian saat kata-kata itu diucapkan.
Sayang efeknya malah berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya terjadi.
Ryeowook mengenalinya. Itu pasti Yesung. Kenapa dia tak berpikir jika kamar ini punya kunci cadangan?
Dengan acuh Ryeowook menjatuhkan kepalanya ke kasur. Keras, walaupun dia merasa langsung menyesal karena sakitnya bertambah. Ringisannya terdengar secara tak sengaja oleh Yesung, yang langsung bangkit menghampirinya.
Obsidian itu sempat bertemu pandang dengan karamelnya. Ryeowook langsung memejamkan mata. Tatapan itu adalah yang paling ditakutinya. Takut karena hanya dalam sedetik, tatapan itu bisa membuatnya...
"Kau menangis."
Benar!
Ryeowook mengumpat sepuas hati tanpa suara.
"Ryeowook. Jangan menangis."
Suara Yesung terasa sarat, dengan kepedulian yang menyiksa batin Ryeowook. Tubuh kekasihnya terus mendekat, ke tubuhnya yang kini masih tergolek lemah.
"Jangan mendekatiku!" Ryeowook membentak. Serak dan tak bertenaga.
Yesung mengabaikannya, seolah Ryeowook tak pernah mengucapkan hal itu. Tangannya terulur untuk menghapus airmata Ryeowook, yang segera saja ditepis oleh tangan Ryeowook yang gemetar.
"Aku minta maaf." Yesung berujar. Intonasinya lirih sekali, seperti permohonan dan penyesalan yang berusaha dia satukan dalam satu frasa itu.
Ryeowook diam. Masih memejamkan matanya, pura-pura tidak mendengar padahal itu adalah hal yang mustahil.
Beberapa saat keduanya diliputi suasana hening. Waktu berdetak dengan begitu cepat, tak terhentikan. Hingga akhirnya pada menit ketiga Yesung kembali bicara.
"Aku berani bersumpah kalau aku tidak mengkhianatimu. Aku tidak berselingkuh dengan Tiffany, dan kau salah paham kemarin." Yesung memulai penjelasannya. "Jadi, jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihatnya."
Sekalipun pengakuan itu membuatnya merasa jauh lebih ringan, Ryeowook tetap tertawa kering.
"Kau tidak merasakan sepertiku, hyung. Kenapa aku bisa menangis seperti ini."
"Karena aku pergi?"
Ryeowook diam. Menolak mengakui jika tebakan Yesung mengenai persis di sasaran.
"Aku tahu."
"Dan kau bahkan tidak peduli!" Nada suara Ryeowook boleh saja marah, tapi ada kekecewaan yang jelas tertera di sana.
Yesung menghela napas berat. "Jika aku mau bicara setelah ini, apakah kau akan memaafkanku?"
Ryeowook mulai kalut.
"Sesukamu."
"Kalau begitu lihat aku sekarang." Yesung memberanikan diri untuk menyentuh tangan Ryeowook, meremasnya dengan lembut.
Ryeowook enggan, tapi rasa penasarannya mengalahkan segalanya. Berpura-pura untuk tak suka melakukannya, Ryeowook menatap pada Yesung. Berusaha duduk sekali lagi agar penglihatannya semakin jelas.
Yesung mendadak gugup dalam keraguannya sendiri. Bingung bagaimana dia harus memulai semuanya. Tak mungkin dia bisa meminta bantuan pada saat-saat ini. Tangannya merogoh saku celananya, melirik ke arah Ryeowook yang masih menatapnya, lagi-lagi gugup.
'Lakukan sekarang!'
Dia merubah posisinya sekarang. Turun ke lantai dan berlutut di depan Ryeowook.
"Kau tak tahu kenapa aku sering sibuk belakangan ini, benar kan? Aku sadar kau kesepian karena itu, maafkan aku." Yesung berusaha bertanya, namun menjawabnya lebih dulu sebelum Ryeowook sempat mengeluarkan suaranya. "Aku menyiapkan ini untukmu. Dan menyiapkan segalanya juga. Kau bahkan tidak ingat ini hari apa ya?" Dia tersenyum samar.
Ryeowook mengernyit. Mengkalkulasi tanggal di kepalanya.
"Dua puluh satu Juni. Selamat ulang tahun." Yesung berucap lembut, dan tersenyum. Kemudian mengecup pipi Ryeowook.
Namja itu tersentak. Kenapa dia begitu bodoh karena tak mengingatnya?
Yesung terkekeh. "Kau lupa?" Dia membaca ekspresi wajah Ryeowook. "Tapi aku tidak."
Wajah Ryeowook merona tanpa keinginannya sendiri. Masih bertahan untuk tidak merespon kata-kata Yesung. Membuat kekasihnya itu seakan bermonolog.
"Sekarang," tatapan mata Yesung berubah serius. "Hadiah." Dia menyodorkan sebuah kotak kecil yang sedari tadi tersembunyi di genggamannya. Membukanya.
Ryeowook tersentak kali ini. Matanya melebar. Tak percaya.
"H-Hyung...apa maksudnya?" Terbata-bata Ryeowook mencoba bertanya.
"Aku melamarmu hari ini." Jawab Yesung dengan yakin. Menyunggingkan senyum terbaiknya untuk Ryeowook. Calonnya.
"Ini yang kau lihat kemarin, Kim Ryeowook. Yang sedang kukerjakan dengan Tiffany di toko itu. Membeli barang ini untukmu, karena aku tidak percaya diri jika harus memilih sendiri." Yesung mengakui dengan agak malu.
Segala macam gundahnya, perasaan marah yang meledak dalam dirinya, bahkan kesedihan menyakitkan itu seakan sudah tersapu bersih dari diri Ryeowook sekarang. Jantungnya sudah memompa darah semakin cepat. Mengirimkan desiran-desiran hangat bercampur rasa kebahagiaan tak terkatakan untuknya. Airmatanya tumpah lagi.
Tatapan Yesung berubah panik.
"Ryeowook. Kenapa? Ada apa lagi?"
Kepala Ryeowook menggeleng pelan. "Tidak...Tidak ada apapun."
"Jangan menangis, jebal." Yesung menghapus jejak-jejak airmata itu dengan jari-jarinya.
"Bagaimana kalau aku menangis karena bahagia? Apa hyung akan menghapusnya juga? Menyuruhku agar tak menangis?"
"Eh? Tentu saja tidak. Tapi aku tidak suka melihatmu menangis, itu membuatku merasa sedih juga."
Ryeowook tersenyum pada Yesung. Untuk pertama kalinya di hari itu, akhirnya dia tersenyum. Kemudian menjatuhkan diri ke pelukan Yesung dengan cepat. Tidak lagi berusaha menahan-nahan dirinya lebih lama.
Tangan Yesung dengan sigap menahan beban tubuh Ryeowook. Memeluk namja itu erat.
"Jadi, Kim Ryeowook, nawa gyeorhonjullae?"
"Tergantung." Ujar Ryeowook. Sedikit melepaskan pelukannya.
Yesung menaikkan sebelah alisnya, bertanya tak langsung.
"Tergantung kapan hyung mau menikahiku." Nada suara Ryeowook kini menggoda. Dan pada saat selanjutnya derai tawa Ryeowook terdengar.
Kelegaan yang meliputi Yesung sungguh tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Melihat Ryeowook tertawa seperti ini lagi.
"Satu bulan?" Tawar Yesung, terdengar bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Aku menerimanya! Tentu saja aku menerimamu, Jongwoon hyung."
Ryeowook kembali memeluk Yesung. Kali ini lebih erat. Mudah. Sangat mudah untuknya kembali pada Yesung, kembali mempercayai pria itu seperti saat-saat sebelumnya. Ya, inilah Kim Jongwoon yang dikenalnya.
"Gomawo~" Bisik Yesung, membalas pelukan itu tak kalah eratnya.
.
.
.
- Fin -
.
.
.
Kemaleman (lagi) :( Mian~
Tenang, drabble ini masih berlanjut kok ^^ chapter ini panjang -_- bukan drabble memang...apalagi alurnya jelas ada dan sambungan dari chapter kemarin.
Segala bentuk review yang berisi saran, kritik, semangat, dan komentar dari chapter lalu sangat Rin hargai ^^b Terima kasih karena telah berlaku sebagai reader yang baik, karena meninggalkan sedikit komentar di review agar Rin tau kalau kalian menikmati cerita ini~
So, selamat menikmati~ ^^
.
.
.
- 10 Sept '13 -
.
.
.
- Ye & Wook -
.
.
.
