Disclaimer: Masashi Kishimoto(Naruto)

Ichie Ishibumi(DxD)

Genre: Adventure, Supranatural, a bit of Romance

Pair: Naruto x ...

Warning: Gaje, jelek, non-EYD, dan banyak lageh...

o

~oOo~

o

Nafas Grayfia terdengar begitu berat dan memburu. Dia tak memperdulikan sepatu heels-nya yang sudah rusak akibat dipaksa berlari. Dia tak perlu menoleh untuk sekedar memastikan keberadaan sosok itu, telingannya dengan jelas mendegar suara derap kaki yang seakan mampu membelah tanah dengan tekanannya. Itu sudah cukup untuk menggambarkan seberapa dekat dia dengan sosok yang sejak tadi mengejarnya.

Sosok pria botak tinggi besar yang bertelanjang dada, mempertontonkan tubuh kekarnya yang dipenuhi otot. Seringai lebar tercetak erat dibibirnya, begitu kontras dengan tatapan merah menyalanya yang tampak begitu kosong dan beku. Tubuhnya basah dipenuhi cairan kental berwarna kemerahan yang menetes hingga membasahi celana panjang hitamnnya.

"Mati!. Mati!. Mati!."

Grayfia menutup telinganya rapat-rapat, mencoba menghalau suara penuh terror itu untuk merusak gendang telingannya. Dia sudah putus asa ketika merasakan setiap sendi geraknya sudah mulai mati rasa.

Air matanya menetes membasahi pipinya. Seumur hidup dia tak pernah merasakan takut sehebat ini. Perasaan ngeri yang membuatnya tak mampu untuk sekedar berteriak mengharap pertolongan.

*Brugh!.*

Gadis malang itu jatuh tersungkur. Seluruh tubuhnya bergetar hebat karna nyeri dan kelelahan. Tenaganya sudah habis, bahkan untuk sekedar bangkit dia sudah tak mampu. Sepasang netranya yang nampak sembab menatap tampa berkedip seringai lebar sosok itu. Lampu penerangan yang memancarkan cahaya remang-remang dapat merefleksikan rupanya.

Detik-demi detik berlalu, namun Grayfia masih terdiam kaku. Dia tak menunjukan reaksi apapun terhadap mahkluk besar yang kini mendekatinya dengan frontal.

"Ahhhk!." Gadis itu mengerang kesakitan saat tangan kekar itu menggengam lehernya dengan kuat. Tulang leher Grayfia terdengar bergemeletuk akibat tekanan hebat yang diterima. Sang korban hanya bisa menggelepar tampa memberikan perlawanan berarti.

Penciuman Grayfia menangkap aroma yang begitu busuk ketika pria itu membuka mulutnya lebar-lebar. Yang terjadi berikutnya adalah sesuatu yang begitu mengerikan. Sebuah objek yang mirip seperti selang pemadam kebakaran muncul dari dalam mulut sosok itu. Benda berlendir berwarna putih yang menari layaknya seekor ular. Diujung kepala objek mengerikan itu, terdapat banyak sekali gigi yang tumbuh dirahangnya yang berbentuk bulat, mengingatkan Grayfia pada hewan bernama lintah.

"Ghhh! Ghhh!." Grayfia menggeliat hebat sembari menendang-nendang tubuh pria itu sekuat tenaganya. Ketakutannya semakin menjadi saat benda berlendir itu mulai bergerak pelan mendekati mulutnya. Gadis malang itu hanya mampu menggelengkan kepala pelan disetiap nafasnya yang kian menipis.

"Shiii~." Benda itu mengeluarkan suara desisan yang mencipratkan tetesan kecil lendir yang memenuhi tubuhnya. Lambung Grayfia serasa diaduk-aduk karna jejalan aroma mengerikan yang menyerang penciumannya terus-menerus. Kepalanya merasakan sensasi kembang-kempis, hanya masalah waktu sebelum dia kehilangan kesadarannya.

"Lepaskan dia!."

*Sraaak!.*

"Oaaarggg!."

Gadis itu terpaksa kembali harus merasakan kerasnya permukaan tanah. Tangan yang semula mencengkram lehernya secara tiba-tiba terlepas. Terlepas dalam artian putus akibat dipotong oleh sesuatu. Pengelihatannya yang masih buram belum mampu untuk mengidentifikasi apa yang terjadi sebelumnya.

"Ughhh!." Kepalanya mendongak, berusaha melihat sosok lain yang berdiri kokoh didepannya. Bola matanya membulat kaget saat mengetahui sosok itu, pemuda berambut pirang yang tengah memunggunginya. Tangannya menggenggam erat sebuah Katan dengan gagang berwarna ungu. Air mata langsung tumpah dengan hebat disertai isakan pelan.

"Ayo cepat!." Gadis itu hanya pasrah saat pemuda yang dia kenali sebagai Naruto itu menariknya lalu memapahnya. Dia menoleh sejenak kepada sosok pria besar yang terus berguling ditanah sembari memegang tangannya yang buntung dan berteriak kesakitan.

"Hooeeek!." Grayfia memuntahkan semua isi perutnya saat melihat objek lain yang tengah menggeliat didekat pria mengerikan itu. Benda mirip lintah dengan bau yang mampu membuat siapapun memuntahkan makannya seketika. Pelan namun pasti, monster itu mulai beregenerasi, menumbuhkan tangan baru yang penuh lendir.

"Bertahanlah kakak!." Naruto berujar dengan panik melihat kondisi menyedihkan sang kakak. Begitu Grayfia yang telah selesai dengan muntahnya, Naruto dengan cekatan menyarungkan Katana-nya pada sarung yang tersampih di pinggang, lalu mengangkat tubuh ringkih gadis itu dalam pelukannya, layaknya sepasang pengantin dan mulai berlari.

"Oaaarggg!." Naruto menghentikan larinya saat mendengar teriakan keras dari pria tadi. Matanya menangkap getaran-getaran hebat yang terjadi pada sosok itu.

*Crach!. Crash!.* Tubuh pria itu terbelah dengan seketika, membuat semua organ dalamnya terburai keluar. Tulang punggungnya secara ajaib memanjang diikuti dengan munculnya benda mirip kaki kelabang disetiap ruas tulangnya. Mulutnya menganga lebar tampa suara disertai bola mata yang berputar kebelakang layaknya orang mati.

Keduanya memandang ngeri sosok yang perlahan mulai bangkit tersebut. Suara mendesing muncul dari kuku jarinya yang memanjang serentak. Mahkluk itu berjalan gontai dan terhuyung-huyung mendekati Naruto dan Grayfia yang mematung.

"S-sialan!." Naruto berteriak lantas berlari sekencang mungkin dengan Grayfia yang makin menyembunyikan kepalanya dalam dekapan pemuda itu. Dari jauh, telinga Naruto mendengar suara benda basah yang berjatuhan di aspal. Dirinya cukup yakin bahwa itu adalah suara organ tubuh monster itu yang kehilangan tempatnya sehingga jatuh berceceran.

"Oaaarggg! Oaaarggg!." Mahkluk itu terus meraung-raung kesetanan. Gerakan larinya begitu cepat, namun terlihat tak seimbang karna ukuran kaki yang tak mampu menyokong tubuh super tinggi itu.

"Naruto-chan, turunkan saja aku." Naruto mendelik kepada gadis itu, dia tidak menjawabnya, melainkan menambah kecepatan berlarinya. Mengabaikan tatapan berkaca-kaca Grayfia. Dia sadar, Naruto saat ini pasti sangat kelelahan. Tubunya ikut basah akibat keringat yang membanjiri sekujur tubuh Naruto.

"Sialan jalan buntu!." Naruto mengutuk nasib sialanya. Dia menghabsikan semua tenaganya untuk berlari, dan hanya menemukan jalan buntu. Pemuda itu benar-benar ingin memukul seseorang saat ini.

"Oaaarggg!." Teriakan garang itu memupuskan keinginannya untuk berbalik. Sosok itu sudah berdiri tegak memblokade jalan kekuar mereka. Naruto terdiam sebentar, lalu menurunkan Grayfia di ujung gang buntu itu.

"N-naruto-chan, aku mohon jangan." Grayfia berucap lirih dengan suara parau. Kakinya dia paksakan untuk berdiri, tapi terpaksa jatuh kembali akibat tenaga yang benar-benar habis. Dia memejam sejenak saat merasakan elusan pelan pada pucuk kepalanya. Wajahnya mendongak, pandangannya terkunci pada ekspresi teduh yang Naruto tebarkan.

"Jangan khawatir, aku pasti mengalahkannya."

"Berjanjilah, berjanjilah untuk tetap hidup."

"Aku berjanji dengan seluruh nyawaku." Ucap Naruto lembut. Pemuda itu lantas bangkit berdiri, menatap nyalang monster yang kian mendekat. Wajah sosok itu tak menunjukan raut kehidupan, hanya mulut yang menganga lebar serta mata yang berputar kebelakang, sehingga hanya menunjukan bagian putihnya saja.

"Saa! Kita mulai!." Seru Naruto sebelum menarik Katana ungu itu dari sarungnnya. Dalam sekali sentak, pemuda itu melesat kencang kearah monster yang seolah hendak memeluknya. Kembali, Grayfia harus menatap terkejut adik angkatnya itu. Dia cukup yakin matanya saat ini dalam kondisi normal, tapi kenapa dia melihat sesuatu yang menguar dari tubuh Naruto.

"Naruto-chan, bercahaya..."

o

~oOo~

o

"Saa~ kita mulai!."

Azazel dengan kecepatan penuh melesat kencang kearah serigala jadi-jadian itu.

*Buagh!.*

Sebuah tendang Roundhouse Azazel sarangkan kearah kepala sang serigala, namun dengan sigap dapat ditahan dengan lengan kanannya. Wajah seirgala itu tampak mengerinyit kesakitan, rupanya serangan yang Azazel berikan terlalu kuat.

"Woy! Kalian berdua! Apa kalian akan diam menonton atau membantu?." Kedua orang yang tadinya terdiam terlonjak kaget, bangkit dari lamunannya. Mereka lantas mengangguk dengan cepat. Azazel menyeringai, sebelum merentangkan kedua tangannya.

Rias dan Issei terpaksa menutup matanya rapat-rapat akibat kilatan cahaya yang menari dengan liar dari kedua tangan Azazel. Rikala cahaya itu meredup, dua buah senjata sudah ada dikedua genggamannya. Ditangan kanannya, Azazel membawa sebuah Rapier dengan gagang keemasan. Ditangan kirinya, sebuah Claymore dengan warna perak penuh muncul.

"Tangkap!." Rias menangkap sempurna Rapier itu, lantas mengayunkannya beberapa kali layaknya saorang profesional. Sepertinya dia memiliki kecocokan dengan senjata ini. Namun itu berbeda dengan yang terjadi pada Issei, dia tampak begitu kesulitan untuk mengangkat Claymore miliknya. Sepertinya otot lengannya belum cukup kuat untuk menahan beban senjata itu.

"Gunakan senjata itu dengan baik." Ujar Azazel dengan senyumnya yang biasa. Keduanya lantas mengangguk singkat dan melesat penuh percaya diri, mengabaikan Azazel yang terdiam dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Heyaaah!." Issei mengerang ganas sambil mengayunkan Claymore ditangannya sekuat tenaga. Menjadikan leher monster itu sebagai sasaran tebasannya.

*Clank!.*

Serangan itu dapat dipatahkan dengan mudah. Kini, bilah tajam senjata Issei malah dipegang layaknya sebuah mainan. Issei bergetar takut saat menyaksikan senyum mengerikan serta tataoan maut yang Youkai itu berikan.

*Crash!.*

Bahu monster itu mencipratkan darah saat ditebas oleh Rias dengan Rapier miliknya. Pegangannya serigala itu pada senjata Issei seketika terlepas, meninggalkan kelegaan dalam diri Issei. Keduanya pun mulai menjauh dari sang predator.

"Aku lupa memberitahu kalian, jangan pernah coba-coba menyerang seperti tadi. Hanya karna baru menumbuhkan sepasang tanduk, rusa kecil seperti kalian tak akan mampu menumbangkan seekor serigala." Azazel menatap bosan kedua remaja yang tengah menunduk dalam-dalam.

"Lalu, kenapa kau memberikan kami ini? Sedangakan kau tau bahwa kami tak akan bisa menggunakannya."

"Apa kalian ingin terus menjadi rusa kecil?." Issei memandang terkejut senyum tipis yang Azazel lemparkan. Genggamannya pada sang senjata kian mengerat, begitupula Rias yang telah siaga, menunggu kalau-kalau Azazel memberikan komando.

"Berikan perintah!."

"Sebenarnya aku mampu menangani anjing itu sendiri, tapi baiklah. Ikuti aku!." Azazel melesat kearah serigala yang telah siap dengan bilah tajam dia tangannya itu. Kedua tangan berbulu itu diayunkan, mengincar kepala Azazel yang sedikit condong kedepan.

"Cih!." Kembali, monster itu harus mendecih kesal akibat serangannya hanya mengenai udara kosong. Dirinya harus dikagetkan akibat sebuah tebasan dari Rapier milik Rias yang mencoba mengenai punggungnya.

"Heyaaaa!." Meskipun dapat menghindari serangan Azazel dan Rias dengan baik, tapi dia harus merelakan bahunya kembali tergores cukup dalam akibat sabetan Claymore yang Issei layangkan. Dia melompat lumayan jauh untuk menjaga jarak. Dari segi manapun, dia sama sekali tidak diuuntungkan bila bertarung seperti ini.

"Kurang ajar! Baiklah, bila itu yang kalian inginkan." Senyum licik terukir jelas di rahang penuh gugi taring itu. Secara tiba-tiba, tekanan angin yang sangat kuat meledak dari tubuh sang monster. Udara bercampur debu secara perlahan mulai mengikis tubuhnya, hingga hilang secara sempurna.

"Berbanggalah! Kalian bisa merasakan kekuatanku ini!." Mereka yang menjadi sasaran ancaman sang monster sontak meningkatkan kewaspadaanya. Kecuali Azazel yang tampak santai sembari mengupil.

"Azazel-san, seriuslah!." Rias menegur Azazel yang masih tak berkelit dari kegiatannya. Manik ungunya terpaku pada gerakan angin ganas yang menyapu sekitar mereka.

*Sraaak!.*

"Argghhh!." Sebuah luka sayatan muncul dipunggung Issei. Darah terciprat dari sana, membasahi sebagaian seragam yang Issei kenakan. Pemuda itu tampak berlutut sembari menahan perih dipunggungnya.

"Hahahahahaha! Bagaimana?."

*Sraaak!.* Kembali, Issei menjadi korban dari ketajaman angin itu. Beberapa luka lecet kecil bermunculan disekujur tubuhnya. Begitupula yang terjadi dengan Rias, kondisinya juga kurang baik dan dipenuhi luka lecet yang mengalirkan darah.

Berbeda dengan kedua orang yang terus mengerang akibat sakit, Azazel nampak berdiri kokoh meskipun pakaian yang dia pakai sudah robek disana-sini. Anehnya, tubub Azazel tak menujukan sedikitpun goresan. Semua serangan itu tak mempan kepadanya.

"Apa yang harus kita lakukan Azazel-san?." Rias bertanya dengan wajah meringis akibat sensasi perih disekujur tubuhnya yang lecet.

"Sebenarnya aku menunggu kalimat itu sejak tadi. Baiklah akan kuselesaikan sekarang." Tatapan kesal kedua orang itu layangkan kearah Azazel yang masih tampak santai. Cih, bisa-bisanya dia begitu santai saat kami menderita seperti ini, begitulah kira-kira yang dipikirkan Rias dan Issei.

Kembali ke Azazel, saat ini dia tengah merentangkan tangan kanannya kedepan, lalu meregangkan kelima jarinya lebar-lebar. Sayap dipunggung Azazel mendadak terburai menjadi serpihan cahaya dan bergerak mengitari tangan Azazel tadi. Sebuah pedang cahaya keemasan muncul digenggaman pria itu.

*Syutt!.*

Dia menyabetkan pedang cahaya itu kearah gelombang angin yang terus bergerak liar. Hal mengejutkan terjadi, ketika gelombang keemasan buah serangan pedang Azazel berbenturan dengan angin itu. Secara ajaib, semua angin beserta debu dan serpihan kecil lainnya musnah tampa sisa, meninggalkan sang monster serigala yang menatap nyalang mereka sambil terengah-engah.

"Sialan! Kalian beruntung lepas kali ini. Dipertemuan berikutnya akan kuhabisi kalian." Dia masih tetap memaksakan dirinya untuk berbicara dengan congkak. Padahal dirinya pun menyadari perbedaan kekuatan yang sangat besar antara dia dan pria yang kedua siswa itu panggil sebagai Azazel-san. Lalu, dalam sekali lompatan, monster itu tiba-tiba musnah menjadi hembusan angin

"Saa~ satu tumbang." Celetuk Azazel, lantas mengambil langkah panjang dan cepat. Sepasang sayap merpati mencuat dari punggung lebarnya, lalu beberapa bola cahaya keluar dari sana.

"I-ini!." Rias berseru dengan terkejut ketika semua lukanya mendadak hilang saat bersentuhan dengan bola cahaya yang muncul dari sayap Azazel.

"Ano, bagaiman dengan Naruto? Aku takut dia dalam bahaya sekarang." Benar, pertempuran tadi membuat Issei dan Rias lupa akan keberadaan Naruto. Mereka ingat, beberpa menit lalu Naruto pergi menuju komplek Azaku untuk menyelamatkan kakaknya.

"Kinpatsu-sama?." Azazel hanya menggumam tak jelas, lalu memasukan kudua tangannya dalam saku celana. Kepalanya mendongak, menatap langit yang kini tampak cerah berbintang. Dia menundukan kepalanya, sebelum menatap kedua muda-mudi itu satu-persatu.

"Kalian tak perlu mengkhawatirkan dia, aku yakin Kinpatsu-sama mampu menanganinya sendiri."

o

~oOo~

o

"Kau lihat Yang Mulia, sesuai dengan yang aku katakan. Kamaitachi sama sekali tak bisa diandalkan. Mulutnya terlalu lebar untuk seekor luwak kecil." Sosok manusia berkepala gagak tengah menggerutu sembari menatap kesal sedalam sebuah cermin yang menunjukan dimana seekor serigala yang melarikan diri dari pertempuran.

"Aku tak pernah bilang mempercayai dirinya, Tengu. Tapi setidaknya dia memberikan sedikit gambaran tentang Namikaze dan rekan-rekannya." Jawabnya dengan suara yang terdengar tenang. Mata dinginnya lantas teralih kearah langit yang berwarna keuunguan, sebelum kembali menatap Tengu yang juga turut menatapnya.

"Dan, bagaimana dengan Kuchisake? Apa dia sudah berhasil lepas dari segel-segel itu?." Tengu menggeleng singkat menanggapi pertanyaan sang tuan. Pikirannya melayang kearah sosok wanita menyeramkan yang bersenjatakan sebuah gunting besar. Saat ini, dia sedang sakit akibat segel kutukan yang muncul saat menyerang Naruto.

"Kondisinya buruk. Kita harus menghancurkan Nisan Merah Terang untuk menyelamatkannya." Wanita itu tertunduk sejenak dengan pandangan yang kalut. Wajahnya yang terbiasa menunjukan raut bengis, untuk sesaat tampak begitu sendu.

"Baiklah! Aku tak ingin kebangkitan kita ini gagal. Apapun yang terjadi, kita harus berhasil. Tanganku sudah gatal ingin mencabik-cabik menusia keparat itu." Tengu lantas mengangguk patuh atas ucapan sang tuan. Dirinya juga merasakan hal yang sama. Kebencian terhadap kaum Namikaze itu sudah mencemari darahnya.

"Jadi, apa rencana kita sekarang Yang Mulia?."

"Hingga kebangkitan sempurna kita, aku harap kau tak melakukan tindakan yang gegabah. Untuk saat ini, aku hanya akan mengutus para Youkai tingkat bawah untuk menyerang mereka."

"Tapi Yang Mulia, itu hanya akan membuat mereka mati sia-sia." Jawab Tengu kurang setuju dengan usulan wanita itu. Seperti yang dia lihat tadi, para Youkai rendahan tak akan sanggup menghadapi Namikaze dan antek-anteknya itu.

"Memang itulah tujuanku." Manik merah terang Tengu seketika membulat mendengar penuturan bercampur nada kejam dan raut bengis itu. Untuk sesaat, dia tak berani menatap sang tuan.

"Kau tau, kadangkala kita harus mencabuti rumput-rumput liar untuk membuat tanaman lain tumbuh subur. Kita akan rubah tatanan kaum kita. Aku tak ingin ada Youkai lemah yang akan merendahkan kaum kita." Dia kembali melanjutkan.

"B-baiklah, Yang Mulia."

o

~oOo~

o

"Heaaaa!." Naruto dengan gerakan kilat berguling cepat kearah samping guna menghindari sabetan kuku panjang pria berwujud abnormal itu. Pandangannya tak jua lepas dari wajah sang lawan yang tengah menganga dengan amat lebar.

Merasa sudah cukup, Naruto kembali melesat mendekati sang monster yang tengah membelakanginya. Katana itu segera dia tebaskan kearah pinggang sang monster.

*Crashh!.*

Tak ada raungan kesakitan yang muncul dari mulut sang monster. Dia yakin tebasan yang dia lakukan sudah cukup dalam, buktinya tulang itu sudah byaris putus. Akibatnya tubuh yang sedari dulu tak proposional itu tampak seperti bambu yang ditiup angin topan, terhantuk-hantuk amat kuat seakan ada tangan tak kasat mata yang menggoyang-goyangkannya.

*Crash!.*

Kembali, tebasan kilat Naruto sarangkan ke dearah yang nyaris putus itu. Dan benar saja, tubuh super panjang itu jatuh ketanah akibat kehilangan penompangnya. Namun, seringai senang Naruto mendadak hilang, dan berubah menjadi gestur waspada.

Pasalnya, tubuh sang monster yang Naruto kira sudah tak berkutik lagi, kembali bergetar dengan hebat, layaknya yang terjadi sebelum pria ini berubah. Tampak dipunggungnya, muncul empat buah tonjolan yang lumayan besar. Itu seperti saat seseorang menusukan sebuah sumpit keselaput jarinya.

*Crash!.*

Benar saja, dari dua pasang tonjolan besar itu muncul benda yang mirip seperti kaki kepiting. Meskipun benda itu nampak begitu kotor akibat darah, Naruto yakin benda itu sangat-sangat tajam. Perlahan namun pasti, sosok itu mulai bangkit dengan menggunakan tangannya yang panjang sebagai tumpuan.

*Hop!.*

Naruto terlonjak kebelakang saat monster itu meloncat dengan cepat kearah tembok didekatnya. Lalu dengan kedua tangan kekarnya, dia melakulan tumpuan sebelum kembali melompat dengan tubuh Naruto sebagi sasarannya.

*Brughh.* Naruto yang tak siap dengan semua itu harus rela tubuhnya membentur tanah dengan amat keras, menghasilkan suara debuman yang membuat mata Grayfia membulat lebar.

"N-naruto!." Gadis itu mencoba bangkit untuk menyelamatkan sang adik, tapi tubuhnya menolak semua tekadnya. Dia kembali harus jatuh terduduk sembari menangisi ketidak berdayaannya. Untuk saat ini, dia merasa ingin mati saja.

"Argggg! Argghhh! Lepaskan sialan! Kakak! Lari cepat!." Naruto berteriak amat histeris akibat tubuhnya yang serasa dicabik-cabik oleh kuku tajam mahkluk itu. Sebagian besar kaos yang dikenakannya sudah dibasahi darahnya sendiri. Di terus meronta-ronta, mencoba menendang tubuh yang lebih besar darinya itu.

Naruto merasa dirinya mendengar suara mendesing saat keempat benda tajam yang ada dipunggung monster itu memgembang, siap memberikan tusukan kepada tubuhnya. Grayfia dilanda pekanikan hebat melihat pemandangan mengerikan itu. Gadis itu kembali memaksakan tubuhnya untuk berdiri.

*Brughh.*

Dia kembali tersungkur dengan linangan air mata di wajahnya yang kacau balau. Teriakannya tersangkut ditenggorokan, pita suaranya hanya mampu menghembuskan udara berat yang menimbulkan rasa nyeri.

"Hu-huaaaa!." Naruto menggelinjang dengan panik sebelum keempat benda tajam itu menghujam cepat kearah dadanya. Udara berat tertahan ditenggorokannya, membuat kesadaran semakin menipis bagi Naruto.

*Buagh!.*

"Kupikir kau tak akan kalah dari mahkluk menjijikan ini. Tapi harusnya aku tau, masih terlalu dini untuk itu. Nee, Namikaze-sama." Pemuda membuka terburu-buru kelopak matanya. Dia terkaget saat mendapati tubuh monster yang tadi hendak menghabisinya, sudah digantikan oleh sosok pemuda yang dia tau bernama 'Vali'. Matanya bergulir cepat, dan segera membola saat mendapati sang monster tampak kacau, tertempel didinding yang retak bagaikan sarang laba-laba.

"K-kau..." Naruto berucap pelan dengan penuh kekaguman. Cukup mudah untuk menarik kesimpulan bahwa pemuda inilah yang 'menerbangkan' sang lawan hingga tersangkut didinding.

"Kau beristirahatlah. Aku yang menangani ini."

"Gaaggh!."

Semua pasang mata menoleh pada sang monster yang mulai bangkit dan merangkak cepat kearah mereka. Naruto bergidik ngeri sembari memaksa tubuhnya bangkit hingga nyaris terjungkal kebelakang. Meski cukup kesulitan, Naruto berhasil mendapatkan kembali keseimbangannya.

"Tenang saja. Kau beristirahatlah." Dia mendelik kesal kearah Vali yang mengatakan sesuatu yang membuatnya tersinggung. Namun, dia terlambat menyadari, bahkan dia belum memberikan ocehannya pada Vali, pemuda itu sudah hilang dari posisinya.

*Buagh!.*

Dia kembali memandang kagum sosok pemuda itu. Dalam sekali kedipan mata, dia sudah muncul didepan tubuh merangkak sang monster, lalu memberikan tendangan pada kepala yang membuat sosok itu terlempar amat jauh. Melihat kesempatan itu, Naruto berlari cepat menghampiri sang kakak yang menatapnya penuh haru.

"Vali-san! Aku akan segera kembali!. Ayo kakak!."

"U-ummu." Naruto cukup kesulitan mengangkat tubuh Grayfia. Mungkin karna faktor lelah akibat perjibakuannya dengan sang lawan. Dengan sedikit usaha lebih, Naruto berhasil menggendong Bridal gadis itu, lalu berlari menjauh dengan cepat.

"Pergilah!."

o

~oOo~

o

Kembali, Naruto harus berhutang budi pada Azazel dan Vali tentunya. Meskipun agak kesal karna Vali sempat membiarkannya diamuk oleh monster itu, pemuda ini cukup paham dengan maksud tak langsung dari tindakan Vali. Dia hanya ingin meneliti, sejauh mana kemampuan Naruto saat ini.

Tapi lupakan sejenak semua itu. Tujuannya hanya satu, taman tempat Azazel berada. Sebetulnya dia kurang yakin Azazel masih ada disana. Tapi biarlah dia mempercayakan semuanya pada insting kali ini. Lagipula, sejauh yang Naruto rasakan instingnya belum pernah melenceng

"Azazel-san!."

Tepat sekali. Seperti yang dia pikirkan, Azazel masih berada disana. Tepatnya sedang bersandar santai dibawah sebuah pohon dengan Rias dan Issei yang duduk dibawahnya. Kedua orang temannya tampak lumayan lelah. Itu ditandai dengan nafas yang tampak berat dan seragam yang kelihatan lembab.

"Yo." Pria itu menjawab santai dengan melambaikan pelan jari telunjuk dan tengahnya. Naruto lantas menghentikan lajunya beberapa meter dihadapan Azazel.

"Yo Kinpatsu-sama, bagaimana kencan kalian." Kembali, Naruto mendelik garang kepada Azazel. Ocehan tak tau tempat itu malah semakin memperburuk suasana hati Grayfia yang sudah hancur. Pria dengan rupa paling dewasa itu lantas menghela nafasnya berat.

"Maafkan aku. Jika kedatanganku lebih cepat, aku yakin anda tak akan begini." Dia mencoba meminta maaf setulus mungkin. Setitik penyesalan muncul dihatinya saat mendapati kondisi menyedihkan Grayfia. Gadis ini pasti akan mengalami trauma berat.

"Kita lanjutkan pembicaraan nanti, kita harus menyelamatkan Vali-san." Azazel mengangkat sebelah alisnya menganggapi. Dia melirik sejenak kearah pinggang Naruto. Mendapati Katana pemberiannya sudah tak ada dan hanya menyisakan sarungnnya.

"Maksudmu, dia?." Ujarnya sembari menunjuk kearah jalan yang cukup gelap. Dari kejauhankejauhan tampak siluet manusia ramping yang tengah menenteng sesuatu yang terlihat seperti pedang. Lama-kelamaan, rupa sosok itu makin terlihat jelas.

"Vali-san!." Naruto berseru lumayan kencang kepada pemuda bersurai abu yang tengah berjalan santai sembari menenteng Katana Naruto yang tampak dibasahi darah. Dia tampak kelelahan.

"Bagaimana?." Tanya Azazel ambigu.

"Keadaannya memburuk bahkan sebelum kekuatan Namikaze-sama keluar. Aku hanya mampu melumpuhkannya sejenak. Kita harus segera pergi dari sini." Jawab Vali sambil melemparkan Katana bergagang Ungu itu. Ajaibnya, senjata itu langsung berubah menjadi serpihan cahaya saat jaraknya tinggal beberapa senti dari tubuh Azazel.

"Hey! Beritahu aku, kalian sedang membicarakan apa 'sih?." Tanya Naruto jengah. Begitupula dengan Issei serta Rias yang mengangguk setuju.

"Bukan apa-apa. Sebaiknya kita lekas pergi dari sini." Sepertinya mereka harus menahan rasa penasarannya hingga nanti. Bukan ide bagus untuk melangsungkan pembicaraan ditempat ini. Mereka pun mulai melangkah cepat mengekori Azazel.

Maafkan aku kakak. Karna aku, kau harus mengalami hal seperti ini." Naruto bergumam lirih saat mengamati raut damai Grayfia yang terlelap dalam gendongannya.

o

~oOo~

o

"Cih! Mereka berhasil lolos. Kalian cepat tarik kembali monster gagal itu!. Sepertinya aku harus turun tangan sendiri memperbaikinya." Freed tampak begitu kesal saat ini. Kemarahannya meledak saat salah satu anak buahnya datang dan memberitahu bahwa, Monster buatannya itu gagal mengeliminasi target utama dan malah melakukan hal yang tidak perlu pada orang biasa.

"Bagaimana Freed-sama? Jika terus seperti ini, pihak keamanan akan mengendus semua rencana kita." Pria dengan topeng gas itu berujar dengan nada khawatir. Perasaanya itu bukan tampa alasan, serangkaian pembunuhan sipil yang dilakukan mahkluk buatan itu akan membuat peningkatan keamanan di Kuoh. Tentu itu akan menghalangi rencana mereka.

"Bodohnya aku menggunakan mahkluk tak berotak itu untuk melakukan ini. Aku tak menyangka bahwa teman Namikaze sialan akan setangguh itu." Ujarnya dengan mata terpejam. Jemari tangannya mengetuk-ngetuk meja kayunya pelan.

"Apa perintah anda?."

"Untuk saat ini, kita rahasiakan dulu tentang kesalahan ini. Jika sampai Kokabiel-sama tau, aku akan dalam bahaya." Tersirat nada kecemasan dalam kalimat yang Freed ucapkan. Melafalkan nama sang tuan sejenak membuat bulu kuduknya berdiri.

Begitupula dengan pria bertopeng itu. Dia tampak sedikit bergetar mendengar nama itu. Mereka semua tau, Kokabiel adalah orang yang sangat licik lagi kejam. Dia tak akan segan-segan mengotori tangannya bila itu dapat membantu rencananya.

"S-saya mengerti. Saya undur diri." Pria itu lantas bangkit lalu meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Freed yang dilingkupi kebingungan.

o

~oOo~

o

"Malam ini, kembali terjadi sebuah pembunuhan di komplek perumahan Azaku. Kejadian itu diperkirakan terjadi pukul tujuh malam tadi. Saat ini, polisi masih melakukan pemeriksaan kepada saksi-saksi yang menemukan mayat tersebut. Diperkirakan, kejadian ini masih berkaitan dengan pembunuhan yang terjadi tempo hari. Masyarakat dihimbau agar mengurangi kegiatan diluar rumah ataupun bepergian pada malam hari."

"Haaaah, aku tak habis pikir. Apa untungnya bagi mereka membunuh orang-orang malang itu." Azazel mengerinyit bingung menyaksikan siaran berita tadi. Dirinya sudah mendengar tentang pertemuan Grayfia dengan monster tadi. Dan dia menangkap banyak sekali kejanggalan.

"Hmm, mungkin itu salah satu bentuk balas dendam mereka terhadap manusia." Azazel menggeleng pelan atas atas tanggapan Issei.

"Tidak-tidak, aku tahu pasti tentang Youkai. Mahkluk-mahkluk angkuh lebih 'prefer' untuk memperbudak dibanding membunuh, kecuali Namikaze dan kalian tentunya. Selain itu, aku tau orang-orang yang menjadi korban dari pembunuhan itu hanya masyarakat sipil biasa." Terjadi keheningan sehabis itu. Mereka larut dalam fikiran masing-masing, yah~ tidak untuk Azazel yang masih sibuk dengan botol sake-nya.

"Jadi Azazel-san, apa anda mencurigai adanya pihak lain?." Kini Rias yang membuka suaranya. Pria itu tampak memberikan senyum miring.

"Yah, bisa dibilang begitu."

"Entah bagaimana. Aku merasakan perbedaan pada Youkai serigala itu dengan monster yang menyerang kakak dan Issei."

"Berbeda?." Rias tampak begitu tertarik dengan pembicaraan ini. Begitu terlihat raut antusias diwajahnya yang ayu. Naruto mengangguk pelan menanggapi itu.

"Yang menyerang Issei dan Kakak terlihat begitu menjijikan dan, jauh lebih mencekam." Pemuda itu bergidik ngeri sesaat. Semua ingatan tentang mahkluk yang dia hadapi seakan memutari otaknya, memberikan sensasi mual dan pusing.

"Aku setuju denganmu, Namikaze-sama. Energi yang dipancarkan oleh monster yang menyerang Grayfia-san jauh lebih gelap dibandingkan Kamaitachi." Mereka menoleh kearah Vali yang mulai ikut serta dalam pembicaraan mereka. Untuk sesaat, Azazel berfikir cukup keras. Saat ini dia tampak mencubit dagunya dengan serius.

"Begitu~. Aku akan menyelidikinya nanti. Yang pasti, aku ingin kalian tetap waspada kapanpun dimanapun." Mereka mengangguk dengan nada perintah itu. "Bagaimana dengan keadaan kakak-mu?." Pria itu melanjutkan.

"Dia sudah mau beristirahat setelah aku memberikan dosis kecil obat penenang dan obat tidur. Tapi yang kukhawatirkan adalah dampak selanjutnya dari kejadian tadi. Aku takut kondisi psikologi kakak terganggu."

"Disinilah, aku harap kalian, terutama kau." Azazel mengarahkan telunjuk kannnya kearah Naruto, sontak pemuda itu sedikit tersentak lalu menunjuk dirinya semdiri."Jangan pernah lepaskan pandanganmu padanya." Lanjutnya.

"Hmm, pasti."

"Untuk sekaranang, sebaiknya kalian bermalam disini."

Tak ada satupun yang memberikan penolakan terhadap usul yang Azazel berikan. Mereka cukup waras untuk memahami tentang bahaya yang kemungkinan masih mengincar mereka sekarang. Dan sepertinya, bermalam disini, dirumah Naruto adalah pilihan terbaik.

"Um, Rias-chan." Gadis merah itu menoleh sejenak kearah Naruto yang menatapnya. "Kau bisa tidur dikamarku. Azazel-san, Vali-san kalian sebaiknya memilih kamar tamu, ukurannya lumayan besar."

"Lalu, bagaimana denganmu Naruto-kun?."

"Aku dan Issei akan tidur diluar." Usulan itu mendapat delikan kesal dari Issei. Ayolah, Issei-sama ini sedang kelelahan. Masa harus tidur diluar.

"Kau kejam Naruto, kenapa aku harus tidur diluar bersamamu?." Ujarnya dengan nada memelas. Naruto memutar bola matanya bosan melihat tingkah Issei yang menurutnya tak layak dilihat.

"Kau sebenanya tak ingin tidur diluar atau tidur bersamaku?."

"Keduanya." Semuanya Sweatdrop seketika mendengar celetukan bernada polos itu.

"Kalau begitu tidurlah dengan Azazel-san dan Vali-san. Mereka pasti takkan leberatan berbagi denganmu." Issei melirik sekilas Vali dan Azazel yang menatapnya penuh arti. Seolah-olah mengisyaratkan sesuatu yang entah membuat Issei memucat seketika.

"B-baiklah! Aku akan tidur diluar." Diapun akhirnya pasrah. Tampa diketahui, Azazel dan Vali melakukan toss kecil. Entah untuk apa mereka melakukan selebrasi itu.

"Saa~ ikuti aku."

o

~oOo~

o

Malam terasa begitu sunyi dan damai. Memberikan kesan berbeda, berbeda dari suasana mencekam beberapa jam lalu. Disebuah rumah yang ber-papan nama 'Lucifuge', beberapa orang tengah tertidur amat pulas. Wajah mereka mengisyaratkan keletihan akibat beberapa hal yang tak terduga. Namun sepertinya itu tak berlaku pada seorang pemuda pirang yang sedang duduk bersandar didepan pintu.

Mulutnya menghembuskan gumpalan asap dengan pelan, berusaha menikmati rasa yang muncul ditiap hisapan rokoknya. Sesekali pemuda itu tampak memijit keningnya dengan frustasi. Udara musim gugur yang dingin seakan tak lagi berarti untuknya.

"Naruto-kun?." Dia lantas menoleh kearah sumber suara yang terdengar familiar. Sosok gadis menawan yang memiliki surai panjang berwana merah. Mata Naruto minyipit, mencoba mengenali warna dress tidur yang tengah dikenakan.

"Rias-chan, kau belum tidur?." Dia bertanya dengan ramah, sementara tangannya melempar rokoknya yang masih tersisa setengah. Namun, sepertinya gerak-gerik Naruto dapat ditangkap dengan baik oleh mata Rias. Gadis itu lantas melangkah anggun mendekati Naruto, lalu duduk disampinya sesaat setelah Naruto memindahkan sedikit bokongnya.

"Kau perokok?." Naruto melirik sejenak Rias yang menatapnya penuh tanya, sebelum menggeleng pelan.

"Kadang-kadang saja 'kok." Rias mengangguk sejenak, sebelum bangkit dan meraih putung rokok yang masih menyala dari tanah. Naruto hanya memandang tingkah Rias dalam kesunyian.

"Kau tau, kau tak memiliki kecocokan sedikitpun dengan benda ini." Tunjuknya pada batang rokok yang sudah tak menyala lagi.

"Hehehe, maaf-maaf bila itu mengganggumu." Jawabnya sembari menggaruk belakang kepala dengan gugup. Senyum lembut terukir manis dibibir gadis cantik itu. Dia mengerti dengan kondisi batin Naruto, dia pasti tertekan saat ini.

Pemandangan rembulan dan hamparan bintang terasa menarik minat mereka. Entah sudah berapa ribu kali manusia memandang panorama itu, namun tak sedikitpun tersirat saat melangsungkan kegiatan minim tenaga itu.

"Maaf Rias-chan, aku ikut menyertmu dalam masalah ini." Ucapan lirih itu seketika mengalihkan perhatian Rias dari sang rembulan. Dapat dilihat raut wajah yang begitu sendu Naruto pancarkan. "Sekarang, kalian harus ikut menghadapi bahaya yang sama." Lanjutnya.

"Itu bukan salahmu Naruto-kun. Aku tau kau juga tak menginginkannya bukan? Yang hanya bisa kita lakukan sekarang adalah terus melangkah maju dan berusaha. Selain itu, aku yakin kau pasti bisa melindungi kami dan menyelesaikan masalah ini." Hati Naruto berdesir nyaman. Meski dia tau, itu hanya beberapa untaian kata sederhana yang begitu naif. Namun setidaknya itu memberikan setitik perasaan nyaman.

"Hahahaha! Memang benar, berbicara denganmu jauh lebih baik daripada rokok itu." Naruto tertawa renyah sembari menelenggadah, menatap langit malam yang menyejukan matanya. Rias hanya terkekeh pelan melihat tingkah Naruto.

"Dan Naruto-kun, apa kau ingin sesuatu yang lebih baik dari berbicara denganku?." Gadis itu menangkap jelas antusiasme dari Naruto. Kedua jemari lentik itu meraup pelan wajah Naruto, membuat dirinya tergugu.

"R-Rias-chan?."

*Pluk.*

'I-ini! Ini! Bantal paha yang melegenda itu!'

Mata Naruto membola kaget saat merasakan sensasi empuk yang begitu nyaman dan hangat. Aroma harum yang menari-nari dia hidungnya semakin membuatnya betah berlama-lama dalam momen ini. Senyum girang tampa sadar muncul diwajah Rias. Menurutnya, tingkah Naruto saat ini seperti hiburan yang lainnya lucu.

'Aku harap, kami bisa menikmati ini selamanya.' Batinnya disertai rona pink.

*TBC*

Yo! Reader-san, bagaiman kabar kalian? Baka-Oda kembali lagi dangan fanfic gaje-nya. Terlebih dahulu, sorry bila fic ini bikim otak kalian semua semraut, bikin mata kalian iritasi atau bahkan gejala kesehatan lain.

Author merasa sangat tersanjung saat ada dari kalian yang meminta Fic ini untuk dilanjutkan. Untuk alur, saya usahakan bikin semenarik mungkin.

Jangan ragu untuk memberikan review serta kritikan yang membangun bagi saya, Author bau bawang ini. Akhir kata, Baka-Oda undur diri.

Ciaoooww...

*Travia*

A. Kamaitachi, Youkai berbentuk musang yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan angin tajam. Konon, mahkluk ini hidup sebagai tiga bersaudara. Namun, untuk kepentingan cerita, author sedikit sabotase menjadi Warewolf yang mengendalikan angin serta memiliki cakat dan bilah pisau tajam.

B. Tengu, Youkai berbentuk manusia gagak yang hidup digunung. Di Fic ini, saya gambarkan dia sebagai mahkluk setinggi 2 meter dengan kepala, sayap, kaki gagak. Tangannya seperti manusi biasa, hanya kebih panjang dan dipunggung tangannya ditumbuhi bulu hitam. Pakaiannya adalah zirah Ashigaru (Google *Plak!*).

C. Kuchisake-Onna, Hantu jepang yang katanya memiliki bibir yang robek hingga sebatas telinga. Dia selalu membawa senjata berupa gunting yang besar. Gambarannya disini adalah sosok wanita lusuh, berdaster putih yang kucel. Wajahnya putih pucat dengan seringai hingga telinga serta rambut kusut.

D. Claymore, Pedang khas Scotlandia yang berbentuk seperti pedang eropa pada umumnya. Hanya saja lebih besar dan berat.

E. Rapier, pedang eropa yang memiliki bilah lebih tipis. Dikhususkan untuk menusuk dibandingkan menebas.

F. Bitores Mandes, monster yang menyerang Grayfia. Saya ambil dari boss Resident Evil 4.