previous..

"Berhenti menangis." Katanya mengusap wajah Luhan dengan wajah datar miliknya.

"Aku antar kau pulang." Sehun kembali menggenggam tangannya sampai akhirnya Luhan kembali melepas genggaman tangannya.

"Kenapa?" Sehun bertanya tak mengerti pada sikap Luhan.

Luhan menggeleng lemah dan tersenyum lirih menghapus air matanya "Aku rasa ini waktunya." Katanya memberitahu Sehun yang terlihat menegang saat ini.

"Aku sudah menyelesaikan yang harus aku selesaikan, Aku akan pergi." katanya menggenggam erat tangan Sehun dan kembali menatap pria yang mungkin sebentar lagi tidak akan pernah ia lihat lagi.

"Aku akan berada di sekitarmu hanya sampai pernikahan Kai dan Kyungsoo, setelahnya aku akan pergi. tapi sampai pernikahan Kai dan Kyungsoo kita tidak akan bertemu. Aku tidak akan mengganggumu sehingga kita berdua tak perlu merasa sakit lagi." Katanya mengecup kedua tangan Sehun bergantian.

"Aku ingin sekali melupakanmu, aku ingin mempunyai rasa benci yang sama denganmu. Tapi…" Luhan bergetar menatap Sehun dengan frustasi, dia kemudian mendekat dan sedikit berjinjit melumat lembutbibir Sehun yang terasa dingin dan selalu ia rindukan.

"Tapi aku tidak bisa. Aku masih sangat mencintaimu. Tapi aku lelah bertahan karena kau terlalu membenciku" Katanya tercekat melepas kecupan singkatnya untuk Sehun.

"haah…..Mungkin dengan saling melepaskan kita berdua akan lebih baik. Benarkan?" Luhan menghela nafasnya berat tersenyum memberitahu Sehun dia kemudian menghapus cepat air matanya dan kembali menatap Sehun, berusaha tertawa sebelum air mata kembali menguasai dirinya "Jaga dirimu baik-baik. Dan terimakasih karena pernah menjadi seseorang yang sangat mencintaiku." Ujarnya mengerling Sehun sambil menunjukan liontin pemberiannya.

"Aku pergi."

Itu adalah Senyuman terakhir yang mungkin bisa Sehun lihat dari wajah Luhan. Karena saat ini pria yang mungkin sampai hari ini masih menempati sudut terdalam didalam hatinya sedang berjalan menjauh. Semakin lama semakin samar tak terlihat. Membuatnya menyadari satu hal

Aku melakukan kesalahan lagi dengan melepasmu untuk yang kedua kalinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Life is the only game which has no pause, no resume and no restart. You have to be careful enough to never fail and not to be hurt

.

.

.

.

.

.

Triplet794 present new story

Restart

Main Cast : Oh Sehun & Xi Luhan

Genre : Romance, Friendship, Hurt/Comfort

Rate : M

Length : Chapter

YAOI. Typo (s)

HUNHAN STORY!

.

.

.

.

.

Terhitung sudah lima hari sejak Luhan mengatakan tidak akan mengganggu Sehun lagi, Luhan melakukannya dengan caranya, Pria yang sudah mencapai batas seseorang untuk bertahan itu akhirnya benar-benar menyerah. Luhan sudah tidak masuk bekerja dan benar-benar menghilang dari pandangan Sehun . Membuat Sehun yang tanpa sengaja melewati meja kerja Luhan hanya tersenyum lirih. Dia tahu benar dia menginginkan hal ini, dia harusnya senang Luhan benar-benar menghilang dari pandangannya. Namun sekelibat wajah Luhan yang terlihat terluka saat dia bertemu dengan pamannya membuat bagian terdalam dari hati Sehun merasa sedikit sakit mengkhawatirkan pria yang sejak pertama kali ia mengenalnya selalu menjalani hidup yang sulit.

Sehun sedikit menghela nafasnya, menyadari kalau ini adalah saatnya dirinya dan Luhan berpisah-...benar-benar berpisah dan tidak ada yang bisa ia lakukan lagi setelah semua kejadian menyakitkan yang keduanya rasakan

Sehun melanjutkan langkahnya ke ruangannya, sedikit memikirkan Luhan yang terlihat terluka dengan kenyataan tentang ibu dan pamannya. Sehun masih berjalan ke ruangannya sampai sekilas matanya melihat Seulgi yang sedang berbicara dengan ayahnya. Sehun berusaha mengabaikannya dan terus berjalan ke ruangan sampai samar-samar dia mendengar apa yang dibicarakan oleh anak dan ayah tersebut.

"Beritahu aku alamat rumah Luhan Oppa. Aku ingin bertemu dengannya."

"araseo….araseo… appa akan memberikannya padamu." Sekertaris Kang terlihat menuliskan sesuatu di atas kertas dan kemudian tersenyum memberikan kertas itu pada putrinya "Dia tinggal disini. Jangan pulang terlalu malam jika ingin bertemu dengannya, oke?"

Seulgi mengambil kertas itu dengan wajah senang dan memeluk ayahnya sekilas "Oke. Aku pergi."

Sehun sedikit terdiam melihat Seulgi yang tidak bisa menyembunyikan wajah senangnya saat mendapatkan alamat dimana Luhan berada. Menyadari benar kalau harusnya dia juga pergi menemui Luhan. Dia tahu dimana Luhan berada tapi dia memutuskan untuk benar-benar berkomitmen dengan keputusannya untuk tidak berhubungan lagi dengan Luhan.

Tok...tok..

"Masuk."

Sehun memberi instruksi dan tak lama pintu terbuka menampilkan sekertaris Kang yang terlihat membawa dokumen.

"Ada apa paman?"

"Maaf mengganggu waktu anda wakil direktur. Tapi ada beberapa dokumen yang harus kau tanda tangani untuk mewakili direktur mengingat direktur Oh sedang sibuk mempersiapkan pernikahan adik iparnya."

"Ah begitukah…. Baiklah."

Sehun terlihat sibuk menandatangani setumpuk dokumen, namun tiba-tiba dirinya teringat Seulgi yang sangat bersemangat pada Luhan. Karena penasaran Sehun memutuskan bertanya pada sekertaris Kang mengenai jenis hubungan seperti apa yang dimiliki Seulgi dan Luhan.

"Aku lihat Seulgi seperti tertarik pada Luhan."

Sehun membuka suaranya membuat Sekertaris Kang sedikit bingung dan kemudian tersenyum mengetahui Luhan masih tak bisa dilupakan oleh Sehun.

"Sepertinya begitu wakil direktur." katanya terlihat tersenyum memberitahu Sehun.

"Dan kau mengijinkannya?"

Sekertaris Kang kembali mengernyit arah pembicaraan Sehun "Apa maksud anda?"

"Kau mengijinkan Seulgi berhubungan dengan seseorang seperti Luhan?"

"Apa maksud anda dengan seseorang seperti Luhan? Kenapa anda berbicara seperti itu? Apa karena ayah Luhan melakukan hal keji pada kedua orang tua anda?"

Sehun menoleh sekilas dan tersenyum meremehkan pada Sekertaris Kang "Pria itu membunuh kedua orang tuaku."

"Ya saya tahu. Lalu apa hubungannya dengan Luhan?"

"Tentu saja karena dia anak dari seorang pembunuh. Dia bisa saja menuruni sifat dan perilaku ayahnya kan? Putrimu jika berhubungan dengan Luhan."

Sekertaris Kang tertawa tak percaya dan kemudian mengambil dokumen yang sudah selesai Sehun tanda tangani.

"Kita berdua sama-sama mengenal Luhan untuk waktu yang lama dan kita berdua juga tahu Luhan tidak akan melakukan hal kotor seperti itu. Satu-satunya hal yang benar tentang Luhan hanya satu ,hampir seumur hidupnya Luhan dikelilingi orang-orang yang begitu membencinya tanpa alasan yang jelas. Jadi saya sarankan jangan terlalu membencinya jika anda tidak bisa, karena anda akan menyesal nantinya."

Sekertaris Kang berjalan meninggalkan ruangan Sehun sampai kemudian dia berhenti dan kembali menatap ke arah Sehun. "Dan jika putriku menyukai Luhan aku hanya berharap Luhan membalas perasaanya. Karena jika mereka memutuskan untuk menjalin hubungan aku akan merestuinya dan meminta Luhan untuk segera menikahi putriku. Kau tahu kenapa direktur? Karena melepaskan seseorang seperti Luhan adalah kesalahan besar." ujarnya menyindir Sehun yang tampak tertohok

"Lagipula aku merasa sangat mempercayai Luhan untuk menjaga putri tunggalku. Jadi saya mohon jangan menyesal dan jangan mengusik hubungan mereka jika hal itu benar-benar terjadi. Permisi direktur."

Sekertaris Kang benar-benar meninggalkan ruangan Sehun kali ini, Mengabaikan wajah Sehun yang mengeras dan tanpa sadar sedang mencengkram erat bolpoint yang ia gunakan tanda kalau dirinya sedang sangat marah saat ini. Entah marah karena apa tapi Sehun mulai mencengkram erat bolpoinnya saat Sekertaris Kang mengatakan akan merestui hubungan Luhan dan Seulgi.

..

..

..

Sehun sama sekali tidak bisa fokus bekerja hari ini. entah kenapa semua ucapan sekertaris Kang yang mengatakan dia akan menyesal terus menghantuinya membuatnya menggeram kesal karena saat ini seluruh pikirannya tertuju pada Luhan. Entah apa yang terjadi, tapi sedikit banyak ketidakhadiran Luhan di sekelilingnya membuatnya sedikit kesal dan merasa ada yang hilang dari pandangannya.

Ckit….!

Saat ini Sehun memutuskan untuk pulang kerumahnya. Tempat dimana keponakan kecilnya berada, Sehun butuh hiburan saat ini dan dia tahu benar satu-satunya yang bisa membuatnya sangat terhibur adalah Haowen, dirinya pun memutuskan untuk sekedar makan siang bersama dengan keponakannya dan kembali ke kantor jika dia menginginkannya.

Cklek…

Sehun perlahan membuka pintu rumahnya dan sedikit mengernyit menyadari kalau rumahnya terlihat sangat ramai entah kenapa, membuatnya sedikit kesal karena tidak ada yang menyadari kedatangannya sampai akhirnya dia mendengar suara Jaejoong yang sedang menginstrusikan sesuatu pada orang-orang yang sepertinya sedang mengerjakan sesuatu dirumahnya.

"Hyung kenapa ramai sekali."

Sehun mendekati Jaejoong dan sedikit mencium pipi kakak iparnya yang terlihat sangat sibuk.

"Oh syukurlah adikku yang tampan datang."

"Memang kau membutuhkan kedatanganku?"

Jaejoong mengangguk dengan antusias sambil menunjukkan ponselnya yang sudah hampir menghubunginya "Aku butuh kau untuk menjaga Haowen sampai jam makan malam nanti."

"Aku? Menjaga Haowen?" Sehun bertanya bingung sambil menunjuk wajahnya sendiri.

"Iya…Kau bisa kan?"

"Tentu saja bisa. Tapi aneh saja-….selama ini kau tidak membiarkan Haowen bersamaku, kau akan bilang Haowen bisa sakit karena aku terlalu banyak mmberikan coklat padanya. Haowen bisa ini…Haowen bisa itu."

Sehun menjabarkan dan mengingatkan semua larangan yang Jaejoong berikan untuknya karena setelah enam bulan berlalu ini pertama kalinya Jaejoong meminta dirinya menjaga Haowen mengingat tepat enam bulan yang lalu Sehun bersama Kai dan Kyungsoo pernah sangat memanjakan Haowen dan membiarkan bocah tiga tahun itu memakan apa saja hingga keponakan mereka harus berakhir dirawat di rumah sakit karena Haowen keracunan minuman bersoda. Dan sejak hari itu Jaejoong sama sekali tidak mempercayakan putranya pada ketiga adiknya karena tahu benar Sehun, Kai dan Kyungsoo sangat memanjakan Haowen untuk hal apapun.

"Sudah tenang saja aku percaya padamu. Bawa dia kekafe milikku. Aku sudah berpesan pada salah satu karyawanku untuk memberikan makanan sehat pada Haowen."

"Tapi aku ingin makan masakanmu." Sehun memprotes Jaejoong yang terlihat terkekeh.

"Nanti kalau aku sudah tidak sibuk aku akan memasak yang banyak untuk adik tampanku."

"Memangnya kau sibuk apa?"

"Ayolah Sehun…. Seminggu lagi Kai dan Kyungsoo akan menikah, jadi mana mungkin aku tidak sibuk." Katanya mencubit pelan lengan Sehun dan sedikit tertawa karena tampaknya Sehun kembali kesal karena setiap pernikahan Jongin dan Kyungsoo dibicarakan, dia merasa dikhianati oleh kedua temannya itu.

"Tapi mereka kan sudah menyewa Wedding Organizer. Jadi kenapa kau masih saja sibuk?"

"Astaga Oh Sehun…Kau cerewet sekali!" Jaejoong bertolak pinggang didepan Sehun yang masih saja bertanya ini dan itu.

"Dengar…Nanti kalau kau yang menikah aku pasti akan jauh lebih sibuk dari saat ini. Jadi tidak usah iri pada Kai dan Kyungsoo."

"Aku tidak iri….dan tentu saja kau harus sesibuk saat ini. Aku ingin kau yang sepenuhnya mengatur dekorasi pernikahanku kelak."

Jaejoong tampak memicingkan matanya dan sedikit menggoda Sehun "Tergantung dengan siapa kau akan menikah. Jika aku menyukai calon istrimu, aku akan mati-matian membuat pernikahanmu menjadi sangat indah. Tapi jika aku tidak menyukai calon istrimu maka aku tidak akan repot-repot mengurusinya. Dan kau tahu benar satu-satunya orang yang sangat aku inginkan menjadi pendampingmu adalah dia. Jadi selain dia, aku tidak akan mengurusi pernikahanmu."

Sehun tertawa sengit menyadari "dia" yang dimaksud oleh Jaejoong adalah Luhan, membuatnya sedikit tertawa dan memijat kasar dahinya menatap kakak iparnya "Itu tidak akan terjadi hyung."

"Jangan terlalu yakin Sehunna… kita tidak tahu bagaimana akhir dari kisah cinta seseorang kan?."

"Hyung-..Kau-…"

"Samchooon… "

Sehun otomatis menoleh dan tersenyum melihat keponakannya yang sedang berada dalam gendongan Yunho. Dia kemudian berjalan mendekati Haowen dan mengambil Haowen dari ayahnya.

"Aku merindukanmu anak nakal."

Sehun langsung menciumi wajah Haowen tampan ampun, membuat Haowen tertawa sementara Yunho hanya menatap adiknya rindu, berfikir kapan terakhir kali dia benar-benar melihat adiknya tertawa lepas tanpa beban "Kau baik-baik saja?" Yunho bertanya saat keduanya bertatapan. Keduanya sama-sama menyadari terakhir mereka bertemu adalah lima hari yang lalu saat Luhan dan paman mereka bertemu, setelahnya tak ada yang membahas hari itu karena tahu benar semua luka akan kembali terasa jika kejadian yang lalu terus diulang. Sehun hanya menatap kakaknya ragu, dia ingin sekali mengatakan kalau ada banyak hal yang mengganggunya tapi dia tidak sampai hati membuat kakaknya kembali mencemaskan dirinya.

"Aku baik." Katanya tersenyum dan kembali fokus pada Haowen.

"Nah aku rasa waktunya kau mengajak Haowen berjalan-jalan. Tapi kau harus membawanya ke kafe milikku terlebih dulu. Anakku harus makan siang."

Jaejoong sedikit mendorong Sehun yang sedang menggendong Haowen ke pintu keluar, membuat Sehun tak punya pilihan lain selain menuruti kata kakak iparnya untuk sedikit bersenang-senang dengan keponakannya.

"Aku akan sibuk hari ini. Jaga Haowen dengan baik. Oke?"

"Oke aku mengerti." Sehun yang sedang memasangkan seatbelt pada Haowen hanya tertawa menjawab Jaejoong yang begitu cerewet.

"Dan kembalikan Haowen saat jam makan malam. Dan jangan membuatnya menangis Sehunna. Oke?"

"Oke Hyung." Ujarnya membalas malas Jaejoong yang begitu cerewet dan tak lama memasuki mobilnya dan berjalan menuju kafe milik Jaejoong yang terletak tak jauh dari rumahnya.

"Baby…kau membiarkan Sehun membawa Haowen? Lagipula bukankah kau sudah memasak? Kenapa meminta Sehun membawa Haowen makan diluar?" Yunho yang sedari tadi tak mengerti tingkah laku istrinya bertanya pada Jaejoong yang terlihat memandang kepergian Sehun tak berkedip.

"Aku harus punya alasan kan? " Jaejoong bergumam sangat pelan membuat Yunho samar mendengarnya

"Kau bicara apa hmmm?"

Jaejoong kemudian menggeleng cepat dan mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya "Aku tidak bicara apapun. Dan ya…aku memang sudah memasak. Tapi aku hanya ingin suamiku yang menghabiskan makananku. Jadi ayo kita makan."

Jaejoong merangkul mesra suaminya dan mengabaikan wajah Yunho yang terlihat kebingungan. Sedikit berharap kalau dirinya mendapat kabar baik malam nanti dari Sehun.

"Aku berharap setelah Kai dan Kyungsoo adikku juga akan segera menikah." Yunho memeluk erat istrinya dan berujar penuh harap sambil melihat kepergian Sehun dan putranya

"Kalau begitu jangan biarkan Luhan pergi. Sehun membutuhkan Luhan." Jaejoong merasa tubuh suaminya menjadi tegang saat nama Luhan disebutkan, membuatnya tersenyum lirih menyadari kalau Yunho belum sama sekali bisa bersikap seperti semula pada Luhan.

"Sehun tidak menginginkan Luhan."

"Kau yang tidak menginginkan Luhan." Jaejoong membalas dengan nada kecewa pada suaminya.

"Kita berdua tahu benar siapa yang bisa membuat Sehun bahagia. Kau terlalu egois sayang."

Yunho berhenti membalas ucapan Jaejoong karena tahu benar saat ini Jaejoong sudah terbawa emosi dan akan berakhir bertengkar dengannya jika topik tentang Luhan terus dibahas oleh keduanya.

"Aku merindukan Yunho yang selalu menyayangi adik-adiknya. Aku menyukai Yunho yang dulu sangat berterimakasih pada Luhan karena Luhan kita berdua bisa bersama sampai saat ini. Aku merindukan Yunho yang sangat menyayangi Luhan melebihi dia menyayangi adiknya sendiri. Aku-….."

"ssst…Jongie tenanglah. Aku bersalah dan aku minta maaf karena menyakitimu. Tapi tentang Luhan-…aku rasa cerita tentang dirinya telah berakhir untukku maupun Sehun. Aku ingin Sehun melupakannya dan berbahagia dengan seseorang yang mencintainya dengan tulus."

"Luhan tulus terlalu tulus dan terlalu baik untuk Sehun."

Terlambat…..Yunho sudah membuat Jaejoong begitu marah, saat ini istrinya terlihat begitu marah dan kecewa pada seluruh ucapannya. Yunho segera memeluk erat istrinya tak mau terjadi pertengkaran yang lebih pelik dari ini "Maafkan aku sayang. Maaf." Yunho terus mengucapkan ucapan maaf sementara Jaejoong hanya bisa mendengus penuh kekecewaan karena Yunho masih terus membenci Luhan dengan hebatnya.

..

..

..

Tak beberapa lama kemudian Sehun menghentikan mobilnya didepan kafe sederhana milik kakak iparnya. Dia kemudian memandang Haowen yang masih sibuk berceloteh lalu kemudian tiba-tiba mengernyit saat keponakannya berteriak

"Lulu!"

"eh? Kau memanggil siapa jagoan?"

Haowen hanya tertawa kecil melihat Sehun dan kemudian tertawa menunjukkan beberapa giginya yang baru tumbuh "Lu-lu…"

Wajah Sehun tiba-tiba mengeras saat menyadari kalau ternyata yang sedari tadi di panggil Lulu oleh keponakannya adalah Luhan. Membuatnya meringis menyadari kalau kehadiran Luhan bukan hanya mempengaruhi Jaejoong dan Sekertaris Kang. Tapi kehadiran pria yang pernah menjadi segalanya untuknya itu telah mempengaruhi bocah tiga tahun didepannya ini yang begitu antusias saat memanggil namanya.

"Aku dulu juga pernah menyukai Lulu. Tapi sekarang tidak-…Jadi kau tidak boleh menyukainya jagoan." Sehun berbicara pada Haowen dengan perasaan bersalah karena mengajarkan bayi kecil sepertinya untuk membenci seseorang. Bukan-….Sehun merasa bersalah karena mengatakan terus menerus pada dirinya sendiri untuk membenci Luhan, dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri namun terlalu egois untuk mengakui kalau saat ini dia sangat mengkhawatirkan Luhan.

"cake….Haowennie Cake.."

Lamunan Sehun tersadar saat keponakannya menunjuk kue yang terlihat lezat yang terdapat di dalam kafe milik Jaejoong. Dia kemudian sedikit tertawa dan mencubit gemas hidung keponakannya "Kalau begitu ayo kita makan cake."

Sehun melepas seatbelt milik Haowen membawa keponakannya yang sedang sangat lucu ke pangkuannya dan tak lama keluar dari mobil mereka untuk makan siang di kafe milik kakak iparnya.

Sehun terus berjalan menuju ke dalam kafe dengan santainya. Sementara Haowen yang berada di gendongan Sehun terlihat sangat berbeda dengan pamannya yang sangat dingin. Bocah tiga tahun itu terus berceloteh dan melambai pada nona-nona muda yang memperhatikan keduanya. Dan tak ada yang bisa dilakukan Sehun selain tertawa gemas sambil menciumi bibir Haowen sementara dirinya membuka pintu kafe dan masuk kedalam kafe. Sedikit mengernyit karena keadaan kafe yang begitu sepi.

Sehun berjalan ke tempat pemesanan untuk bertanya siapa pegawai yang diminta Jaejoong untuk menyiapkan makan siang Haowen dan sedikit tak suka saat melihat para pegawai kakak iparnya berkumpul sedang tertawa dan membicarakan hal penting. Dia memutar malas bola matanya berniat untuk menegur mereka semua sampai suara yang terlalu familiar kembali ia dengar, membuat jantungnya berdegup kencang dan langkahnya berhenti seketika.

"Aniya-…. Aku tidak akan datang ke acara pernikahan adik ipar Direktur Oh."

Sehun mengernyit saat suara Luhan yang mengatakan tidak akan datang ke pernikahan Kai dan Kyungsoo sangat mengganggunya.

"Kenapa kau tak datang? Bukankah Manager Kim mengatakan kau harus datang."

"Tidak apa. Aku tidak punya pakaian bagus seperti milikmu Lay." Luhan sedikit tertawa menunjuk belanjaan Yixing yang merupakan pegawai kepercayaan Jaejoong di kafe miliknya.

"ish… Ini murah Lu. Sedang ada potongan harga. Aku akan mengantarmu jika kau mau."

"Aku bercanda. Jangan dianggap serius." Luhan tertawa cukup kencang merasa lucu dengan wajah Lay yang terlihat sangat kesal.

Sementara Sehun hanya semakin diam mendengarkan seluruh ucapan Luhan pada Asisten Manager Jaejoong di kafe miliknya. Sedikit berdegup saat mendengar Luhan tertawa begitu lepasnya. Jika dipikir lebih jauh ini adalah kali pertamanya Sehun mendengar Luhan tertawa dan terlihat sangat bahagia hanya karena berbicara dengan seseorang.

"Hey Kenapa wajahmu pucat?" Luhan yang masih sibuk tertawa bertanya pada Lay yang terlihat diam dan salah tingkah menatap ke arah dibelakangnya. Merasa penasaran pun, dia kemudian perlahan menoleh dan seketika membeku mendapati Sehun yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya dengan Haowen yang terus memanggilnya dengan sebutan favoritnya.

"Lulu!"

Haowen meronta di pelukan Sehun dan meminta Luhan untuk menggendongnya. Namun tentu saja Luhan hanya diam di tempatnya tak berani melakukan apapun karena merasa ingin menangis saat ini.

"Siapa diantara kalian yang diminta untuk menyiapkan makan siang keponakanku?"

Sehun bertanya namun tidak ada satupun baik Lay maupun Luhan menjawab karena wajah menakutkan Sehun saat ini.

"Siapa?" Katanya kembali bertanya kali ini dengan nada sedikit membentak membuat Lay menepuk pelan bahu Luhan, seolah meminta Luhan untuk bersuara. Luhan menatap frustasi ke arah Lay dan kemudian kembali menatap ragu Sehun yang kini menatapnya tak berkedip dia kemudian menghela nafasnya dan menjawab.

"Aku."

..

..

..

"Jadi kau berhenti bekerja di kantorku hanya untuk mengemis meminta pekerjaan pada Jae Hyung. Ck. Licik sekali."

Luhan ingin sekali menampar Sehun yang terus menerus menghinanya sedari awal kedatangannya. Namun dia terus menerus menghela nafasnya menahan seluruh rasa marahnya karena saat ini Haowen berada di sampingnya dan dia sedang menyuapi keponakan pria yang sedang terus menerus menghinanya saat ini.

"Kita berdua sama-sama tahu kalau Jaejoong hyung yang melakukan ini. Jadi sebaiknya berhenti menyalahkan diriku." Luhan berusaha membalas setenang mungkin tak mau membuat Haowen yang kini berada di pangkuannya menangis karena Sehun dan dirinya terus menerus bertengkar.

"Kau terlihat semakin menyedihkan."

"Terimakasih untukmu kalau begitu."

"Aku? Kau yang menghancurkan semuanya dari awal. Bukan aku. Kau yang berbohong dan pergi meninggalkan aku."

"SEHUN CUKUP!"

Haowen sedikit tersentak saat Luhan berteriak dan saat ini bocah tiga tahun itu sudah berkaca-kaca dan hendak menangis sebelum akhirnya Luhan membawa Haowen ke dalam gendongannya dan berdiri sedikit berputar sambil menepuk bahu Haowen yang sudah terisak pelan.

"Maafkan aku Haowen, jika pamanmu tidak dihentikan aku yang akan menangis. Maafkan Lulu hmm." Suara Luhan juga sudah bergetar saat menenangkan Haowen mengabaikan tatapan Sehun yang entah mengapa ingin sekali berdiri dan memeluk kedua pria yang sama-sama terlihat ingin menangis saat ini.

Luhan teru berjalan mondar-mandir, sambil menenangkan Haowen sampai matanya menangkap kehadiran seorang wanita diikuti oleh pria dibelakangnya, dia tersenyum lirih dan tak lama kembali menghampiri Sehun "Aku akan membawakan jus untuk Haowen, pangku dia sebentar." Katanya menyerahkan Haowen pada Sehun dan tak lama meninggalkan Sehun bersamaan dengan suara wanita yang memanggilnya memasuki kafe.

"Oppa! Ternyata benar kau disini."

Sehun sedikit menoleh dan tersenyum miris menyadari kepergian Luhan karena dia melihat Sulli datang bersama dengan seorang pria di belakangnya.

"Tahu darimana aku disini?"

"Yunho oppa yang memberitahuku."

"Ah-…kalau begitu duduklah."

Sulli mengangguk dan tak lama menggenggam pria yang sedari tadi bersamanya "Baby…kenalkan ini Seughyun oppa. Dia kakakku."

"Oh Sehun."

"Choi Seunghyun."

"Lulu…!"

Kedua pria yang sedang berkenalan itu pun otomatis menoleh saat Haowen memanggil seseorang dengan bersemangat. Luhan yang masih sibuk menyiapkan minuman untuk Haowen hanya menoleh sekilas dan matanya hanya fokus pada Haowen mengabaikan hal-hal yang bisa membuatnya sakit hati sebentar lagi.

"Luhan?"

Merasa namanya dipanggil, Luhan pun menoleh dan seketika berhenti melangkah saat pria yang dua tahun lalu sempat membantu dirinya bertahan hidup kini sedang berdiri di hadapannya.

"Seung-Seunghyun?"

"Astaga aku tak percaya ini." Seunghyun berjalan cepat ke arah Luhan dan

Grep….!

Dia memeluk erat Luhan membuat sepasang mata yang tak mengerti apa yang sedang terjadi cukup terkejut dan terlihat menggeram mengepalkan tangannya erat.

"Aku mencarimu Luhan. Aku-..Aku hampir putus asa mengira kau sudah pergi jauh. Syukurlah kau masih disini. Astaga aku senang sekali." Seunghyun kembali memeluk Luhan dan mencium sayang keningnya membuat sepasang mata elang itu tersenyum getir dan mengalihkan pandangannya ke arah lain masih mengepalkan erat tangannya.

"Oppa kau mengenalnya."

Sama seperti Sehun, gadis yang merupakan adik kandung dari Seunghyun itu pun bertanya dengan nada tak suka melihat kakak lelakinya terlihat begitu merindukan Luhan.

Seunghyun menoleh sambil merengkuh erat pinggang Luhan, dia kemudian tersenyum menatap adik perempuannya yang terlihat penasaran. "Dia adalah pria yang ingin aku kenalkan pada keluarga kita malam itu. Pria yang selalu aku rindukan dan pria yang selalu aku cintai. Aku pernah gagal menjadikannya kekasihku. Kali ini aku tidak akan gagal aku akan menjadikannya kekasihku."

Luhan bersumpah ingin menghilang saat ini juga. Pengakuan Seunghyun yang begitu terbuka membuatnya merasa sangat ketakutan karena saat ini Sehun sedang menyeringai mengerikan ke arahnya dengan mata yang begitu berkilat seolah bisa membunuhnya hanya dengan memandangnya seperti itu.

"LUHAAN!"

Luhan harus kembali memejamkan matanya saat melihat Seulgi memasuki kafe dan berlari cepat ke arahnya "Ah ternyata Jae oppa benar memberitahuku bahwa kau disini. Hey…siapa kau? Kenapa kau memeluk Luhan?"

Seunghyun terlihat mengernyit saat Seulgi melepaskan pelukannya pada Luhan dan kini berdiri didepan Luhan "Kau yang siapa?" Seunghyun tak mau mengalah menantang Seulgi.

"Aku-…Aku kekasihnya tentu saja. Iya kan Lu?" Seulgi bertanya pada Luhan yang terlihat memucat tak berbicara.

"Bagaimana mungkin dia kekasihmu? Cepat lepaskan dia!"

Brak….!

Terdengar suara gebrakan meja membuat kedua orang yang sedang memperebutkan Luhan otomatis menoleh. Luhan sendiri mau tak mau melihat ke asal suara dan semakin memelas ketika melihat Sehun yang sudah membawa Haowen ke pelukannya berdiri dan menatapnya tajam tak berkedip.

"Menjijikan sekali."

Itu adalah ucapan terakhir Sehun yang dilontarkan untuk Luhan, sebelum akhirnya dia berjalan keluar meninggalkan Sulli yang tampak kesal karena Sehun meninggalkannya.

Sungguh, Luhan tak bermaksud apa-apa. Dirinya tidak menyangka akan kembali bertemu , dengan Seunghyun ditambah kedatangan Seulgi yang entah mengapa semakin memperburuk keadaan, karena jika boleh meminta. Luhan mengiginkan pria yang sedang berjalan pergi itu yang kembali datang kepadanya. Memeluknya dan mengatakan kalau dia mencintai dirinya. Namun hal itu tentu saja hanya impian Luhan, karena pria yang punggungnya semakin tak terlihat itu sudah berjalan terlalu jauh meninggalkannya dan akan sulit untuk keduanya bisa bersama kembali.

..

..

..

BRAK!

Sehun membuka kasar pintu mobilnya dan berjalan memasuki rumahnya mengabaikan tangisan Haowen yang sepanjang perjalanan menjadi korban kekesalan Sehun.

"Astaga Haowen sayang kenapa kau menangis?"

Jaejoong langsung berlari saat mendengar suara tangisan Haowen yang terdengar marah, membuatnya menatap cemas ke arah Haowen dan menatap Sehun yang juga terlihat sangat marah.

"Kau keterlaluan hyung." Katanya mendesis dan menyerahkan Haowen agak kasar pada Jaejoong.

"Aku kenapa?" Jaejoong menebak sesuatu yang buruk terjadi karena saat ini adik iparnya terlihat begitu marah.

"KENAPA ADA LUHAN DISANA? APA MAKSUDMU MEMINTAKU KESANA HAH!"

"Sehun kenapa berteriak?" Yunho menghampiri Jaejoong yang terlihat terkejut dan mengambil putranya yang masih terisak di pelukan Jaejoong

"Dengarkan aku hyung. Ini terakhir kalinya kau mencampuri urusanku? Apa kau tidak bisa melihat aku sedang berusaha keras melupakannya? Jika kau terus seperti ini kau bisa membunuhku perlahan." Sehun masih memperingatkan Jaejoong, lalu kemudian bergegas pergi mengabaikan Yunho yang menatapnya dengan peringatan untuk tidak mencari masalah dengan Jaejoong.

"Aku melakukan semua ini untukmu Sehunna."

Sehun menghentikan langkahnya dan mendengarkan suara Jaejoong yang terdengar tersinggung dengan ucapan Sehun.

"Bagaimana bisa aku membunuhmu kalau semua yang aku lakukan untuk menolongmu? Apa kau tahu setiap malam saat aku masuk kekamarmu dan membenarkan selimutmu kau akan selalu mengigau dan memanggil nama Luhan di tidurmu."

"Kedatangn Luhan membuatku sadar untuk pertama kalinya setelah tiga tahun aku melihatmu berekspresi, entah kau marah atau berteriak. Tapi seluruh suaramu merindukan Luhan. aku tahu itu Sehunna. Aku pernah berpisah dengan kakakmu cukup lama. Aku berpikir akan baik-baik saja tanpanya tapi ternyata aku salah. Aku selalu merindukannya terus menerus. Aku tidak bisa hidup dengan baik, dan setiap kali aku merindukannya aku menangis. Aku tahu kau juga merasakan hal yang sama denganku." Jaejoong mulai bergetar memberitahu semua yang ia rasakan pada Sehun.

"Tapi maaf jika kau mengira aku terlalu egois memaksakan kehendakku padamu untuk bersama Luhan. Aku tidak bermaksud seperti itu. Sungguh. Aku minta maaf Sehunna. Aku -menyayangimu. Aku sangat menya-…"

Sehun menghela kasar nafasnya dan kembali berbalik arah berjalan cepat menuju Jaejoong dan memeluk kakak iparnya dengan erat.

"Maafkan aku Sehunna. Aku janji tidak akan memaksakan keinginanku lagi, tapi jangan membenciku."

Sehun menggeleng cepat dan semakin memeluk erat kakak iparnya "Aku yang meminta maaf karena membentakmu hyung. Maafkan aku…Maafkan aku membuat Haowen menangis, aku sedang kacau." Gumamnya menyesal membuat satu-satunya keluarga yang ia miliki terlihat kecewa.

"Samchon.."

Haowen memanggil Sehun membuat Sehun menoleh dan menatap menyesal pada Haowen karena sepanjang perjalanan tadi Sehun membentaknya. "Maafkan paman sayang. Paman menyesal." Sehun mengambil Haowen dari kakaknya dan menciumi seluruh wajah keponakannya.

"Maaf hyung." Dia pun kembali memeluk Jaejoong membuat Yunho tersenyum lega karena keluarga kecilnya terlihat baik-baik saja.

"Jika kau tak bisa bersama Luhan, tak bisakah kau membuatnya tinggal? Dia akan pergi jauh. Dia sudah memberitahuku kapan dan kemana dia pergi. Tidak bisakah kalian membiarkannya untuk menetap disini?"

"baby…Kita bicarakan tentang Luhan nanti saja. Sekarang lebih baik kita semua bersiap untuk makan malam. Kau mau kan?"

Jaejoong menatap cemas ke suami dan adik iparnya, merasa tak ingin membuat keduanya kembali marah. Jaejoong hanya mengangguk tanda ia mengerti dan menyetujui untuk tidak membahas Luhan saat ini.

"Baiklah. Aku akan menyiapkan makan malam." Katanya terdengar kecewa namun tersenyum melihat keluarga kecilnya.

..

..

..

Malam harinya terlihat seorang pria yang begitu resah sambil membolak balikan badannya tak beraturan di ranjang super nyaman miliknya.

Ya…. Saat ini Sehun sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Karena setiap memejamkan matanya bayangan wajah Seunghyun yang memeluk dan mencium kening Luhan masih teringat jelas padanya, membuatnya mendengus dan memutuskan untuk mendinginkan hatinya yang panas dengan sekedar berjalan-jalan keluar pada malam hari yang dingin seperti saat ini.

Dia pun memakai jaket tebal seadanya, lalu mengambil kunci mobilnya dan pergi untuk menyegarkan pikirannya. Tujuan Sehun awalnya adalah rumah Kai. Dia ingin bertemu dengan calon pengantin yang sudah hampir seminggu tak bertemu karena sibuk mempersiapkan banyak hal.

Namun entah mengapa Sehun menghentikan mobilnya tepat didepan department store yang sepertinya buka 24 jam dan melihat sepasang jas beserta kemeja yang menarik perhatiannya. Merasa tak ingin melewatkan apapun, Sehun akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam dan membeli satu pasang kemeja beserta jasnya dan kembali menjalankan mobilnya untuk pergi ke suatu tempat.

Dan suatu tempat yang dimaksud Sehun adalah disini. Di depan flat kecil tempat dimana pria cantik yang selalu ia hina dan ia rendahkan itu menetap. Dirinya masih menimbang-nimbang apakah harus masuk kedalam atau hanya diam seperti orang bodoh sepanjang malam. Sehun mengetukan jarinya di stir mobil sambil melihat pakaian yang ia beli beberapa saat lalu dan tak lama tersenyum bodoh.

"Kenapa aku bisa ada di tempat ini." Katanya bergumam dan menyalakan kembali mobilnya berniat untuk pergi sebelum pemandangan yang membuatnya kembali kehilangan kontrol atas dirinya sedang ia saksikan.

Sehun mencengkram erat kemudi mobilnya karena saat ini melihat Seunghyun yang baru keluar dari flat Luhan. Keduanya tersenyum senang membuat pikiran yang tidak-tidak meracuni otak Sehun yang kembali merasa kehilangan akal sehatnya saat ini.

Sehun semakin mencengkram erat kemudi mobilnya saat Seunghyun mengecup kening Luhan dan merasa semakin memanas saat Luhan sama sekali tak menolaknya melainkan tersenyum sambil melambai ke arah mobil Seunghyun yang kini menjauh pergi dengan mobilnya.

Sehun melihat Luhan menutup pintu flat nya dan masih dengan nafas memburu dia melihat ke arah flat Luhan dengan berkilat. Dia tersenyum menakutkan, merasakan sesuatu dari dalam tubuhnya bereaksi berlebihan karena terus berdenyut sakit. dia pun kemdian menyadari kalau dirinya belum siap untuk melihat Luhan bersama dengan orang lain. Dan dengan dikuasai emosinya, Sehun keluar dari mobilnya dengan mencengkram erat pakaian yang ia memang sengaja ia belikan untuk Luhan dengan marah.

Dor dor….Dor Dor…

Sehun menggedor pintu flat Luhan dengan cepat dan tak sabar. Dia terus melakukannya hingga pintu itu akhirnya terbuka.

Cklek…!

"Sia…"

Hmphhhhhh…

Luhan yang baru saja membuka pintu begitu dikejutkan saat tiba-tiba mulutnya dilumat kasar dan begitu cepat. Dia berusaha meronta dan menyadari kalau saat ini Sehun sedang berbuat kasar padanya.

"A-apa yang kau lakukan Sehun? kenapa kau disini?"

Luhan yang berhasil membuat Sehun berhenti menciumnya bertanya begitu ketakutan karena melihat Sehun yang sangat mengerikan saat ini.

"KENAPA PRIA ITU ADA DISINI? APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN?"

Luhan sedikit mengernyit dan kemudian mengerti apa yang Sehun katakan. Dia kemudian tersenyum menyeringai menantang ke arah Sehun "Kenapa? Apa kau cemburu? Bukankah tadi siang kau mendengarnya? Kami berdua sepasang kekasih."

"K-KAU!"

"Aku kenapa? Ah-….apa aku perlu memberitahukan ini padamu? KAMI BARU SAJA BERCINTA DAN PERCINTAAN KAMI BEGITU MENGGAIRAHKAN." Luhan berteriak begitu marah pada Sehun, dia juga kehilangan kendalinya dan terpaksa mengatakan kebohongan ini untuk membuat Sehun merasakan sakit hati yang sama dengan yang dia rasakan.

"Sialan!" Terlihat ekspresi Sehun yang begitu marah dan tak lama

BRAK!

Sehun menarik kasar lengan Luhan dan membanting Luhan sedikit kasar ke ranjang kecil miliknya, dia langsung menindih kasar Luhan dan tak perlu waktu yang lama sampai Sehun kembali melumat kasar bibirnya.

Tangan kirinya mengunci pergerakan tangan Luhan yang meronta di atas kepalanya. Sementara tangan kananya bergerak kurang ajar membelai seluruh bagian privasi Luhan, mengusapnya kasar tanpa menghentikan lumatannya pada bibir dan kini beralih pada leher Luhan.

Dia sedikit tersenyum menyadari liontin pemberiannya yang selalu menggantung indah di leher Luhan, namun bayangan Seunghyun yang mencium kening Luhan membuatnya sangat marah dan sangat membenci pria yang sepertinya pernah memiliki hubungan dengan Luhan.

Sehun pun semakin kasar menciumi leher Luhan, dia menggigit dan menghisap dengan kuat, meninggalkan beberapa bercak keunguan disana. Luhan sendiri masih berusaha untuk mendorong Sehun menjauh, ia menggigit bibir bawahnya dengan kuat, tapi Sehun dengan sengaja menggesekan penis mereka membuat Luhan merasa sangat lemas karena sensasi yang sudah lama tak ia rasakan.

"A-ahhh! Sehun. H-hentikan! " Luhan mendesah semakin keras saat Sehun mulai menghisap nipple miliknya secara bergantian dengan kasar, tangannya yang bebas begerak untuk menurunkan celana piyama Luhan beserta celana dalamnya. Air mata sudah membasahi pipi Luhan yang sudah tak bisa berbuat apapun hanya bisa menggigit kencang bibirnya untuk tidak mendesah saat Sehun mulai semakin berbuat kasar dan saat ini Sehun mulai mengocok cepat juniornya.

"Kau ingin dipuaskan hmm…Aku akan melakukannya untukmu."

"Arghhh.."

Luhan memekik saat tiba-tiba jari telunjuk Sehun memasuki holenya dengan cepat, dan tanpa rasa iba pada Luhan. Sehun menambahkan jari tengahnya dan dengan cepat mengeluar masukan kedua jarinya menghentak kasar hole Luhan dengan kedua jarinya secara bergantian.

Sehun sangat marah menyadari Luhan menahan desahannya dengan menggigit kuat bibirnya. Mereka sering bercinta saat keduanya bersama, dan jika Sehun sedang menjamah Luhan. Luhan akan selalu mendesahkan namanya dan Sehun menyukai suara desahan Luhan yang selalu ia rindukan.

Dia kemudian kembali melumat kasar bibir Luhan. Memaksa Luhan untuk berhenti menggigit bibirnya sementara tangannya membuka zipper celananya. Luhan sedikit membelalak merasakan kembali jari Sehun bermain dengan kasar di lubangnya dan tak lama

"Arghh! Sehun sakit. Keluarkan hmphhh."

Luhan merasakan nyeri yang teramat hebat di bagian bawahnya saat jemari Sehun yang sedang menghentaknya kasar digantikan dengan sesuatu yang lebih besar dan memenuhi hampir seluruh lubangnya dibawah sana. Sementara Sehun terus mencumbu kasar bibirnya sehingga tak bisa mengeluarkan suara penolakannya

Air mata Luhan sudah menetes dengan kencang menahan rasa sakitnya, namun seolah dibutakan oleh kemarahannya sendiri Sehun mengabaikannya, dia semakin gencar melumat kasar bibir Luhan sementara bagian bawahnya yang terasa sudah nyaman mulai ia gerakan secara kasar pula.

Sehun terus menghentak kasar hole Luhan. Dan setiap hentakan kasar Sehun yang berulang, Luhan selalu meringis merasa sangat sakit hati pada perbuatan Sehun. Luhan menyadarinya-….mereka memang sering bercinta. Tapi percintaan yang mereka lakukan diwaktu lampau terasa sangat menggairahkan dan dipenuhi rasa saling mencintai, berbeda dengan malam ini yang dibutakan oleh kemarahan dan nafsu sesaat.

"Kau menikmatinya kan?"

Suara itu begitu mengejek saat menyadari Luhan tak lagi meronta melainkan pasrah memejamkan matanya namun masih menolak untuk mendesah. Hal itu kembali membuat Sehun marah dan berniat menemukan sesuatu yang bisa membuat Luhan menyebutkan namanya. Dia mengeluarkan penisnya sebatas kepala dan kemudian.

Jleb!

Dia menghentakan kasar membuat Luhan refleks membuka matanya.

"Ah disitu rupanya." Sehun menyeringai dan kembali menghentakan kasar Juniornya ke tempat yang sama membuat Luhan menggelinjang tak bisa menahan diri karena saat ini Sehun sedang menumbuk kuat sweet spot nya dengan tepat dan kencang.

Sehun terus melakukan hal itu secara berulang, hentakannya semakin kuat seiring pergerakannya yang cepat. Peluh sudah membasahi keduanya. Kali ini Luhan sudah mencengkram erat bahu Sehun.

Sehun kemudian mengeluarkan juniornya dan merubah posisinya berada di belakang Luhan. dia sedikit melebarkan paha Luhan dan kemudian kembali memasukkan juniornya ke hole Luhan menumbuk cepat tempat yang sama yang masih membuat Luhan menggelinjang.

"Sehun kumohonmphh…..hkss.."

"Kau menangis bercinta denganku tapi tersenyum saat bercinta dengannya. Kau benar-benar membuatku marah."

Sehun kembali merubah posisinya dia berada dia atas Luhan dan membuka lebar-lebar paha Luhan, sedikit menyeringai melihat lubang kecil disana yang sudah memerah, dia kemudian mengurut sedikit juniornya dan kembali memasuki hole Luhan dengan kasar.

"Sehun henti…arghhh.."

Luhan kembali mencengkram erat bahu Sehun, membiarkan pria yang tampak kehilangan kendalinya kini menguasai dirinya. Sementara Sehun terus menumbuk bagian yang sama yang membuat Luhan menggelinjang, membuat Luhan berada di luar kemampuannya untuk menahan hasrat yang begitu kasar yang dilakukan oleh Sehun.

"Sehun..hmphhhhh."

Sehun menyeringai saat merasakan cairan Luhan membasahi perutnya, dia semakin bersemangat untuk menghentak Luhan karena sensasi yang begitu menyenangkan yang sedang ia rasakan dibawahnya sampai akhirnya

"nghhhhh.."

Sehun memejamkan erat matanya dan membiarkan dirinya mengeluarkan orgasmenya tepat di hole Luhan yang membuat dirinya merasa sangat hangat.

Selesai mengeluarkan seuruh cairannya. Sehun mengeluarkan kasar juniornya dari hole Luhan lalu kemudian kembali menaikkan zipper nya. Menatap tubuh polos Luhan yang terlihat sangat berantakan.

Sehun berjalan ke arah lemari dan mengambil selimut, dia kemudian memakaikan asal selimut untuk menutupi tubuh polos Luhan.

"Berhenti menangis. Kau menikmatinya." Sehun memperingatkan Luhan yang terus terisak pelan saat ini.

"Jangan biarkan dia datang di malam hari lagi seperti ini atau-.."

"ATAU APA? KAU BRENGSEK OH SEHUN!" Luhan melemparkan buku yang berada di meja kecilnya ke arah Sehun namun tentu saja meleset karena gerakan Sehun menghindar sangat cepat.

"Aku tidak ingin bertengkar denganmu." Sehun mengambil bungkusan kecil yang tergeletak didepan pintu dan kembali berjalan menghampiri Luhan dan duduk disampingnya, mengelus dahi Luhan yang berkeringat namun tentu saja Luhan menolaknya.

"Pakai kemeja dan jas ini ke pernikahan Kai dan Kyungsoo. Jika kau tidak hadir Jae hyung dan Kyungsoo akan mengacau, jadi jangan sampai aku tidak melihatmu sabtu nanti di pernikahan Kai dan Kyungsoo." Sehun meletakkan bingkisan itu disamping Luhan sementara tangannya membuka selimut yang menutupi tubuh bagian bawah Luhan. Dia sedikit memaksa Luhan membuka pahanya dan memeriksa hole Luhan yang terlihat merah dan seperti lecet.

"Aku tidak suka kalau kau berbohong padaku. Kau tidak pernah bercinta dengan pria manapun selain aku. Jadi jangan membuatku menyakitimu."

Sehun kembali mengelus hole Luhan membuat Luhan kembali menutup rapat pahanya.

"Bagian bawahmu terlihat merah dan lecet. Aku akan datang lagi untuk melihat kau baik-baik saja atau tidak. Jadi jangan melawan dan jangan keras kepala padaku."

Luhan terlihat semakin terisak dan menyembunyikan wajahnya diselimut, membuat Sehun kembali membuka paksa selimutnya dan memaksa Luhan menatapnya.

"Aku pergi."

Sehun kembali mencium Luhan, namun Luhan menggunakan seluruh sisa tenaganya untuk mendorong Sehun menjauh.

"PERGI KAU!"

Sehun sedikit menyeringai dan tak lama memakai jaket dan mengambil kunci mobilnya, meninggalkan Luhan yang terlihat sangat marah dan merasa sangat kotor saat ini.

"BRENGSEK KAU OH SEHUN…..ARGHHHHHH!"

Sehun yang sudah berada diluar flat Luhan hanya bisa tersenyum pahit mendengar Luhan kembali memakinya penuh kemarahan dan melempar barang apapun yang berada didekatnya. Dia hanya menghela nafasnya kasar dan berniat untuk datang melihat Luhan esok hari.

Sehun hanya mencari alasan dengan mengatakan untuk melihat apakah Luhan baik-baik saja atau tidak setelah percintaan mereka beberapa menit lalu. Tujuan utamanya datang sesering mungkin ke tempat Luhan adalah untuk membuat Seunghyun dan Luhan tidak menjadi dekat seiring berlalunya hari.


tobecontinued...


update..!

.

Gue niat kan apdet jam 5 pagi? iyalah...orng lagi ga bisa tidur... ane lagi baver :p tapi abis itu smangat liat cecans liburan ke seoul kangen sama cogan nya kayanya\/... suka excited sendiri deh klo bayangin Luhan ngmg korea lagi #eyaa

.

okeeeyyy happy reading n revieew :*

.

tdf next update ;)